PELAKSANAAN KEGIATAN MAGANG
Aspek Teknis
Kegiatan teknis lapangan yang dilakukan penulis sebagai karyawan harian lepas (KHL), pendamping mandor serta sebagai pendamping asisten adalah mengikuti dan melakukan beberapa kegiatan di divisi dan di kebun pembibitan. Kegiatan yang dilakukan di divisi meliputi kegiatan yang berhubungan dengan produksi dan pemeliharaan seperti : Pemupukan, Penunasan (Pruning), pengendalian gulma, sensus hama (ulat), pengendalian hama, sensus buah dan pemanenan. Selama di kebun pembibitan, penulis melakukan kegiatan seperti penanaman kecambah, pemeliharaan, pengangkutan pembibitan awal atau pre
nursery (PN) yang secara khusus dijual dan kegiatan pemindahan pembibitan
utama ke lahan.
Pembibitan
Kegiatan yang ada di pembibitan awal seperti : penanaman kecambah, konsolidasi, penyiraman, pengendalian gulma, pemupukan, pengendalian hama dan penyakit serta seleksi bibit, sedangkan kegiatan yang ada di pembibitan utama seperti : persiapan dan pengolahan tanah, pembuatan instalasi penyiraman, pemancangan (pengajiran), pengisian tanah ke polibag, pelangsiran polibag, pembuatan lubang tanam pada polibag, penanaman bibit, penyiraman, pengendalian gulma (penyiangan), pemberian mulsa, pemupukan, pengendalian hama dan penyakit, serta persiapan bibit untuk transplanting ke lapangan.
Pada umumnya, kondisi dan kegiatan teknis yang diterapkan pada kebun pembibitan PT. Socfindo ini dilaksanakan sesuai dengan standar atau norma-norma yang berlaku. Akan tetapi, masih terdapat beberapa perbedaan dan penyimpangan dalam pelaksanaannya guna untuk mengejar target dalam melaksanakan pekerjaan. Perbedaan dan penyimpangan yang terjadi dapat mengakibatkan permasalahan dan menimbulkan kerugian bagi perusahaan tersebut.
Pemilihan lokasi kebun. Areal kebun pembibitan pre nursery dan main
nursery kebun Bangun Bandar PT. Socfindo dipilih suatu tempat yang terletak di
pusat areal (strategis). Areal yang rata dan terbuka namun tidak akan terkena banjir dan erosi. Lokasi untuk bibitan dipilih lokasi yang dekat dengan sumber air yang permanen untuk penyiraman dan aman dari gangguan binatang liar.
Bahan tanam. Unit produksi kecambah kelapa sawit sebagai bahan
tanaman di produksi oleh Pusat Seleksi Bangun Bandar (PSBB) yang berlokasi di kebun Bangun Bandar, kecamatan Dolok Masihul, kabupaten Serdang Bedagai, Provinsi Sumatera Utara dibawah pengawasan langsung bagian tanaman yang bekerjasama dengan konsultan dari CIRAD CP (Centre de Cooperation
International en Recherche Agronomique pour le Development Departement des Cultures Perennes) dari Perancis.
PT. Socfindo hanya melepas 2 (dua) varietas bahan tanaman kelapa sawit unggul yaitu DxP Unggul Socfindo(L) dan DxP Unggul Socfindo(Y) yang sudah
terdaftar dan diakui oleh pemerintah Republik Indonesia, sesuai surat keputusan Menteri Pertanian RI No. 440/KPTS/LB.320/7/2004. Dalam memproduksi kedua varietas tersebut PT. Socfindo menggunakan sistem kategori. Pengelompokan berdasar kategori ini bertujuan untuk mendapatkan tanaman dengan fenotype (penampilan fisik) yang sama dan pertumbuhan tinggi yang relatif homogen. Pada saat pelaksanaan magang, penulis hanya diperbolehkan melakukan kegiatan magang di lapangan, tidak diperbolehkan untuk mengetahui informasi tentang pembuatan bahan tanam di PSBB.
Pemberian naungan. Pemberian naungan di pembibitan awal berfungsi
untuk mencegah bibit kelapa sawit terhadap sinar matahari secara langsung serta untuk menghindari terbongkarnya tanah di polibag akibat terpaan air hujan. Sinar matahari langsung dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan pada kecambah muda tersebut. Naungan di pembibitan awal merupakan naungan yang bersifat permanen terbuat dari paranet dengan ketinggian ± 2 m dari tanah dengan naungan 30 % serta merupakan areal yang sudah dibersihkan dari gulma.
Penanaman kecambah. Pembibitan pre nursery ini hanya dikhususkan
untuk bibit yang dijual. Saat pelaksanaan penanaman kecambah, pekerja harus dapat membedakan antara bakal daun (plumula) dan bakal akar (radikula). Bakal daun (plumula) ditandai dengan bentuknya yang agak menajam dan berwarna kuning muda, sedangkan bakal akar (radikula) berbentuk agak tumpul dan berwarna lebih kuning terang dari bakal daun. Pada saat penanaman juga harus memperhatikan posisi dan arah kecambah, plumula menghadap ke atas dan radikula menghadap ke bawah. Proses penanaman harus dilakukan dengan hati-hati dikarenakan bakal daun dan bakal akar mudah patah. Di lapangan masih ditemukan beberapa kecambah dengan bakal daun atau bakal akar yang patah serta kesalahan dalam penanaman. Hal ini tentunya akan merugikan pihak perusahaan. Biasanya untuk penanaman 5 000 kecambah dilakukan oleh 4 HK. Pada saat penanaman kecambah, penulis mendapat prestasi kerja menanam 500 kecambah dari 5 000 kecambah. Jumlah penanaman kecambah akan banyak jika permintaan banyak.
Gambar 2. a) Posisi kecambah/polibag , b). Penanaman kecambah
Seleksi bibit pre nursery dan main nursery. Kegiatan seleksi sangat
terealisasi dengan baik. Kegiatan ini dilakukan oleh 2 orang pekerja. Seleksi dimaksudkan untuk mengidentifikasi dan mengeliminasi (memusnahkan) semua
bibit yang abnormal dan mempertahankan bibit yang benar-benar sehat, normal dan bermutu baik. Oleh karena itu, seleksi harus dilakukan secara ketat dan hati-hati agar memperoleh bibit yang terbaik untuk ditanam di lapangan, serta dilaksanakan oleh pekerja yang terlatih dan berpengalaman. Setelah dilakukan penyeleksian bibit, selanjutnya dilakukan pemusnahan bibit abnormal oleh audit dengan cara di cincang secara satu per satu. Waktu pemusnahan dilakukan secara bersama-sama setiap sebulan sekali. Seleksi di pre nursery dilakukan pada 2 (dua) tahap yaitu pada saat umur 4 MST - 6 MST dan sebelum pengangkutan bibit. Bibit yang biasanya terdapat pada saat penyeleksian antara lain: daun yang berputar (Twisted leaf), daun sempit seperti rumput (grass leaf), daun berkerut (Crinkle leaf) dan bibit terkena penyakit seperti Curvularia. Apabila dijumpai bibit pre nursery abnormal yang disebabkan oleh faktor genetik dan faktor lingkungan maka bibit harus dipisahkan hingga audit datang untuk dilakukannya pemusnahan.
Seleksi pada main nursery dilakukan dalam 4 (empat) tahap yaitu pada
saat umur 4 bulan, 6 bulan, 8 bulan dan sesaat bibit akan ditransplanting ke lapangan. Pada saat magang, penulis mengikuti seleksi pada tanaman berumur 8 bulan dan pada saat bibit akan dipindahkan ke lapangan. Pada saat main nusery, penulis mengikuti audit untuk menghitung banyaknya bibit yang diseleksi dan dicincang secara satu per satu, hanya bibit yang kerdil dan bibit pelepah tegak yang mendominasi pada saat seleksi di kebun pembibitan main nursery. Data program pembibitan main nursery dapat dilihat pada Lampiran 5.
Penyiraman. Penyiraman pre nursery dilakukan secara manual dengan
kebutuhan tenaga kerja 2 orang untuk seluruh bibit ± 100 000 bibit. Bibit di siram dengan menggunakan selang, sumber air diperoleh dari sungai yang berada di dekat lokasi pembibitan. Penyiraman dilakukan 2 kali dalam sehari yaitu pada pagi hari (07.00 – 10.00) dan sore hari (16.00 - 18.00) terkecuali jika hari hujan dengan curahan hujan minimal 10 mm/hari. Untuk itu, di areal pembibitan harus dipasang tabung penakar hujan.
Penyiraman main nursery juga dilakukan berdasarkan curah hujan harian
yang diukur dengan alat pengukur hujan. Jika curah hujan di kebun lebih dari 10 mm/hari maka penyiraman pada hari tersebut ditiadakan. Penyiraman main
nursery dilakukan 2 kali dalam sehari menggunakan sprinkle dengan ketinggian
1.5 m dan jarak jangkau 12 m.
Gambar 3. a). Penyiraman pada pre nursery, b). Penyiraman pada main nursery
Pemupukan. Pemberian pupuk urea dan pupuk majemuk dalam bentuk
larutan dilakukan setelah bibit berumur 1 bulan dengan interval waktu setiap minggu (Tabel 2). Minggu ganjil menggunakan pupuk urea dan minggu genap menggunakan pupuk majemuk dengan konsentrasi 0.2% (2 g/l air). Cara pemupukan yaitu pupuk dilarutkan dalam gembor, 10 g Urea atau 10 g pupuk majemuk dalam 5 liter air (1 gembor) untuk 1 000 bibit. Selanjutnya, setiap 2 minggu sekali dilakukan pemupukan Bayfolan yang berfungsi untuk penghijauan daun, konsentrasi yang biasanya digunakan adalah 30 cc/15 L. Umumnya pekerja dapat melakukan pemupukan 10 000 bibit/HK. Pada saat magang, prestasi kegiatan pemupukan Urea yang didapat penulis adalah 2 000 bibit yang dilakukan untuk bibit berumur 2 bulan.
Tabel 2. Standar pemupukan di bibitan awal kelapa sawit PT. Socfindo
Umur Konsentrasi & Jenis Pupuk Volume Rotasi
Minggu
Ganjil Minggu Genap Siraman Penyiraman
1 – 3 Bulan 0.2% Urea 0.2% NPK 50 cc larutan/ pokok disiramkan ke tanah dalam polibag 1 x seminggu Sumber : Socfindo, 2012
Penyiangan gulma. Pembibitan harus dijaga bebas dari gulma.
secara manual, termasuk pekerjaan penambahan tanah dalam kantong bagi bibit-bibit yang terbuka dasar bonggol akarnya. Pada saat di lapang, penyiangan gulma dalam kantong dan pada areal pembibitan pre nursery biasanya dilakukan tidak sesuai dengan waktu yang ditetapkan, jika terdapat waktu kosong sering kali waktu pekerjaan dihabiskan untuk penyiangan gulma. Umumnya, 1 HK dapat menyiangi 4 000 bibit. Selama periode itu, hanya diperlukan maksimal 4 orang karyawan untuk menyelesaikan program penyiangan.
Penyiangan pada pembibitan main nursery dapat menyiangi 2 000 bibit/HK dengan rotasi 2 kali per bulan. Penyiangan di dalam kantong dimaksudkan untuk mencabut rumput-rumput yang ada di dalam kantong. Gulma yang tumbuh diluar polibag dapat disemprot menggunakan herbisida dan penyemprotan harus lebih rendah dari permukaan polibag. Pada saat magang dilaksanakan, semua penyiangan gulma di pembibitan dilaksanakan secara manual.
Pengendalian Hama dan Penyakit. Pengendalian hama dan penyakit
tanaman kebun PT. Socfindo bertindak preventif, hal ini untuk mencegah terjadinya serangan hama dan penyakit yang berat. Pencegahan dilakukan dengan menggunakan cara kimia yaitu dengan menyemprot bibit setiap 2 minggu sekali. Walaupun demikian, pemeriksaan terhadap bibit dilakukan setiap hari untuk mengetahui ada atau tidak serangan hama dan penyakit. Saat ini konsentrasi yang digunakan oleh pembibitan kebun Bangun Bandar PT. Socfindo adalah Decis 2 cc/liter dan Dithane 2 g/liter yang diaplikasikan secara bersamaan. Dalam pelaksanaannya pekerja menggunakan knapsack sprayer yang mampu menampung air hingga 15 liter. Decis dan Dithane yang dibutuhkan untuk satu
knapsack sprayer (15 L) adalah 30 cc. Umumnya, prestasi kerja pengendalian
hama dan penyakit pre nursery yang dihasilkan adalah 10 000 bibit/HK, sedangkan pada main nursery 2 000 bibit/HK. Pada saat kegiatan ini, penulis memperoleh prestasi kerja menyemprot 2 000 bibit/HK pre nursery dan 100 bibit/HK main nursery.
Peremajaan Tanaman
Peremajaan (Replanting) adalah menggantikan tanaman tua yang sudah tidak produktif dan tidak menguntungkan lagi dengan tanaman baru yang mudah dikelola dan memberikan keuntungan yang setinggi-tingginya. Peremajaan merupakan salah satu tindakan manajemen untuk mempertahankan rata-rata umur tanaman tetap optimal bagi perusahaan. Beberapa kriteria yang perlu diperhatikan sebelum dilakukan peremajaan tanaman kelapa sawit yaitu kerapatan (density) tanaman sudah sangat jarang, kerapatan tanaman per hektar sekitar 80 - 90 tanaman terutama oleh serangan penyakit Ganoderma boninense, tanaman kelapa sawit sudah terlalu tinggi sehingga menyulitkan pemanen untuk mengambil buah karena harus menggunakan galah bambu yang panjang (± 15 m), sehingga mudah patah dan menyebabkan terhambatnya pekerjaan pemanenan dan umur tanaman kelapa sawit yang sudah melewati umur ekonomis untuk berproduksi (8 - 25 tahun), namun apabila kerapatan tanaman masih bagus, tanaman yang telah berusia diatas 25 tahun masih tetap dipertahankan dan dipanen walaupun jumlah buah dan berat janjang rata-rata per hektar sudah berkurang.
Program peremajaan tahun 2012 yang dilakukan di kebun Bangun Bandar meliputi Divisi I Blok 48 (61.36 ha), Blok 52 (34.75 ha), Blok 53 (25.42 ha) dan Blok 54 (35.23 ha) dengan tahun tanam 1985, sedangkan Divisi III Blok 12 (50.82 ha) dan Divisi IV Blok 2 (16.87 ha) serta Blok 22 (53.30 ha). Hampir seluruh kegiatan peremajaan seperti ripping (cakar), cangkul, tumbang pokok, ciping (cincang), dipancang dan pembuatan lubang tanam dilakukan dengan cara mekanis, yaitu dengan menggunakan bulldozer dan excavator.
Penanaman bibit di lapangan dilakukan setelah lubang tanam dipersiapkan 3 bulan – 6 bulan sebelum tanam. Cara tanamnya ialah sebagai berikut: 1) bibit di ecer sesuai dengan jumlah lubang tanam yang tersedia, 2) bibit diletakkan disebelah lubang tanam, 3) lubang tanam dibersihkan dahulu dari kacangan dan rumput lain, 4) lubang tanam ditimbuni sepertiganya (agar daun pertama tanaman sejajar dengan permukaan tanah dan tidak tertutupi tanah), 5) polibag dibuka lalu bibit dimasukkan ke lubang tanam, 6) pupuk rock phospat (RP) diberikan sebanyak 0.5 kg/pokok, dengan cara ditaburkan di sekeliling tanaman dan mengenai akar, 7). Arah barisan bibit disejajarkan agar lurus satu sama lain, 8)
lubang tanam ditimbun dan padatkan agar bibit tidak mudah goyang atau miring, 9) ditaburkan abu janjang disekeliling permukaan lubang tanam sebanyak 50 kg/pokok. Tenaga kerja yang digunakan adalah buruh harian lepas (BHL). Pada saat kegiatan penanaman, dilakukan oleh 15 orang karyawan untuk menanam 200 tanaman, sehingga tenaga kerja mendapatkan prestasi kerja 14 tanaman/HK. Pada saat kegiatan penanaman ini penulis berperan sebagai pendamping mandor.
Gambar 4. Penanaman bibit / Replanting
Penanaman legume cover crop (LCC)
Penanaman LCC sangat diperlukan untuk areal tanaman baru karena LCC ini memiliki fungsi yaitu memperbaiki sifat kimia tanah dengan mengikat nitrogen bebas (N2) dari udara kemudian melepaskan ke dalam tanah melalui bintil akar
dan mengurangi erosi sehingga dapat mengurangi kehilangan hara akibat pencucian, mengurangi penguapan air tanah sehingga kelembaban tanah dan kandungan air tanah akan dipertahankan, dapat menyimpan air dan mengurangi suhu tanah, mempercepat dekomposisi bahan organik di dalam tanah serta memperbaiki struktur tanah sehingga dapat meningkatkan kesuburan tanah.
Penanaman LCC dilakukan setelah pembuatan lubang tanam dengan menggunakan stek berumur 2 minggu dari pembibitan. Hal ini dilakukan untuk menghindari kerusakan yang ditimbulkan oleh alat mekanis saat membuat lubang tanam kelapa sawit. LCC yang ditanam ialah jenis Mucuna bracteata (MB) dalam gawangan tanaman dengan tujuan agar rumpukan cepat tertutupi oleh kacangan. MB merupakan jenis kacangan berdaun lebar dan cepat menjalar sehingga dapat mengendalikan pertumbuhan hama terutama Oryctes. Penanaman LCC ini
dilakukan searah baris tanaman sehingga tidak tumbuh di piringan karena akan menyulitkan pemeliharaan pokok yang akan datang. Kacangan ini ditanam 5 titik pada setiap antar pokok dalam barisan sehingga populasi kacangan tiap pokok ialah 5, maka dalam 1 ha terdapat 5 x 142 = 710 tanaman kacangan MB ditambah dengan 8% kematian sehingga didapat ±750 stek. Penanaman kacangan ini menggunakan tenaga anemer atau buruh harian lepas (BHL), dengan prestasi kerja 3 orang/ha. Pada saat pelaksanaan kegiatan ini, penulis berperan sebagai pendamping mandor.
Gambar 5. Penanaman LCC
Pemeliharaan Kacangan
Pemeliharaan tanaman penutup tanah dari famili Legume merupakan salah satu kegiatan yang cukup penting karena dengan adanya tanaman kacangan ini maka keberadaan gulma dapat ditekan, tanaman tidak mengalami kompetisi yang berat dengan gulma dalam memperoleh hara dan air sehingga pertumbuhan tanaman dapat optimal. Jenis leguminosa yang dianjurkan di PT. Socfindo ialah
Mucuna bracteata (MB). Tujuan penanaman LCC ini selain dapat menekan
pertumbuhan gulma juga dapat memperbaiki sifat kimia tanah, dengan jalan mengikat nitrogen bebas dari udara dan melepaskannya ke dalam tanah melalu bintil akar, mengurangi erosi, mempertahankan kelembaban tanah, serta dapat memperbaiki struktur tanah.
Pemeliharaan kacangan ini dilakukan 2 minggu sekali, dengan cara memurnikan kacangan ini dari gulma. Perawatan kacangan ini menggunakan tenaga anemer atau karyawan harian lepas (KHL), dengan prestasi kerja 3 orang/ha.
Gambar 6. Perawatan kacangan/ LCC
Pemupukan TBM
Kelapa sawit merupakan tanaman penghasil minyak yang tertinggi dibandingkan dengan tanaman minyak yang lainnya sehingga tanaman ini sangat membutuhkan banyak unsur hara untuk dapat berproduksi. Dosis pemupukan yang dilakukan sesuai dengan hasil analisa daun dan analisa tanah. Pemupukan ini harus dapat memenuhi kebutuhan hara tanaman, jika salah satu hara atau unsur tidak tersedia maka produksi tidak optimal. Pemupukan ini harus dilakukan teratur menurut rekomendasi pemupukan.
Penaburan pupuk harus merata dan tepat dosis karena produksi yang tinggi diperoleh dari tanaman yang utuh dan pertambahannya seragam sehingga produktivitasnya akan sama. Produksi per hektar yang tinggi dari suatu blok diperoleh dari partisipasi setiap pokok di blok tersebut.
Waktu aplikasi harus tepat waktu dan cara penaburan pupuk berbeda untuk setiap jenis pupuk. Pupuk borate ditabur merata dipinggiran pada jarak 20 cm dari pangkal pokok. Pupuk Rock Phospat (RP) ditaburkan papa pinggiran pokok. Pupuk NPK / Urea / Za / KCl / Dolomite dan abu janjang ditabur merata secara broadcast. Pelaksanaan pemupukan harus benar-benar diperhatikan agar tidak terjadi kehilangan pupuk akibat pencurian, pemupukan yang asal cepat tanpa menggunakan cara kerja yang benar akan mengakibatkan hasil yang tidak baik.
Pupuk tunggal yang akan diaplikasikan di lapangan dilakukan penguntilan dahulu di pabrik dengan satu untilan beratnya 15 kg dan penaburan di lapangan menggunakan takaran. Pupuk yang diuntil tersebut bermaksud agar karyawan tidak keberatan dan mencegah adanya pencurian pupuk. Takaran yang digunakan sebanding dengan besarnya dosis per pokok, Jenis dan dosis pupuk tertulis dalam
setiap takaran. Oleh karena itu, sangat dianjurkan untuk tidak mengganti takaran masing-masing pupuk karena antar takaran pupuk satu dengan yang lainnya akan sangat berbeda dosisnya. Penguntilan ini dilakukan sehari sebelum pelaksanaan pemupukan dimulai dan untilan pupuk ini diharapkan tidak terlalu lama dari waktu aplikasi karena pupuk dapat rusak dan menguap.
Tenaga pemupuk yang ada di kebun Bangun Bandar disatukan dalam satu unit pemupuk dan dikepalai oleh dua orang mandor, pada setiap divisi sudah di pilih tenaga kerja yang terampil dan dipercayai dalam memupuk sehingga kualitas pemupukan dapat selalu terjaga. Kebutuhan tenaga pemupuk ini dengan norma 4 ha/HK. Prestasi magang dalam pemupukan adalah 15 kg Urea dengan takaran dosis 1.5 kg/pokok dan 15 kg KCl dengan menggunakan takaran dosis 1.3 kg/pokok.
Saat pengaplikasian di lapangan harus sesuai dengan jadwal dan memenuhi kriteria kondisi di lapangan seperti piringan harus bersih, tidak tergenang air dan waktu aplikasi yang tepat sangat dianjurkan yaitu apabila tanah dalam keadaan lembab atau terjadi hujan sehari sebelum pemupukan. Pelaksanaan pemupukan ialah sebagai berikut, pupuk yang telah diuntil di pabrik diangkut ke lapangan kemudian di ecer di lapangan sesuai dengan jumlah pokok yang ada per pasar rintis, setelah itu karyawan mengambil untilan tersebut lalu diaplikasikan. Pemupukan dimulai dari pasar tengah menuju ke arah luar barisan (Utara-Selatan). Hal ini bertujuan agar pemupukan yang dilakukan dosisnya merata pada setiap pokok artinya pokok di bagian pasar tengah mendapatkan dosis yang sama dengan pokok yang berada di tepi jalan. Jika dimulai dari tepi jalan, pupuk yang di langsir akan habis sebelum sampai ke pasar tengah dan biasanya pekerja malas untuk mengambil pupuk yang berada di tepi jalan sehingga dosis pada pokok terakhir akan sangat sedikit. Untuk kualitas hasil yang maksimal maka diperlukan pengawasan mandor di pasar tengah dan di pinggir jalan.
Permintaan pupuk di divisi dan permintaan pengangkutan serta kebutuhan tenaga pemupuk harus sudah disampaikan ke kantor pengurus (ADM), minimal sehari sebelum pelaksanaan pemupukan. Rekomendasi pemupukan dapat dilihat pada Lampiran 6.
Pengendalian gulma secara kimiawi
Pengendalian gulma di perkebunan kelapa sawit berfungsi sebagai sanitasi, memudahkan taksasi dan panen. Gulma yang dominan tumbuh di areal perkebunan kebun Bangun Bandar PT. Socfindo diantaranya Ottocholoa nodosa, Teki-tekian, Eleusine indica. Kegiatan yang termasuk dalam pengendalian secara kimiawi dilakukan dengan menggunakan dua alat yaitu knapsack sprayer (TBM) dan Micronherby (TM). Rotasi pengendalian semprot knapsack sprayer yang digunakan untuk menyemprot gawangan dan piringan TBM berumur N1, N2, N3 dilakukan setiap sebulan sekali dan N4 setiap 2 (dua) bulan sekali. Gulma yang dominan adalah jenis gulma rumput-rumputan dan teki-tekian, maka untuk pengendaliannya menggunakan herbisida sistemik dengan merek dagang Gulmaron 80 WP dengan bahan aktif diuron. Pada saat di gudang, herbisida sudah dicampur air dengan perbandingan 30 g : 200 cc air per tangki, sedangkan Round up juga dilakukan pengenceran dengan perbandingan Round up : air adalah 100 cc : 100 cc air. Hal ini ditujukan untuk mencegah penyimpangan dari orang yang tidak bertanggung jawab terhadap penggunaan Gulmaron dan Round up yang digunakan.
Teknis kegiatan semprot gawangan dan piringan Knapsack sprayer dimulai dari pengambilan pestisida yang telah dicampur di gudang divisi oleh mandor dan pembantu kantor (opas). Kegiatan semprot gawangan ini dilakukan oleh 7 (tujuh) orang, dengan rincian 1 orang membawa tempat air untuk pelarut dan 6 orang lainnya bertugas sebagai penyemprot gawangan. Prestasi kerja untuk perawatan adalah 2.5 ha/HK. Teknik penyemprotannya dimulai dari gulma yang ada di pinggir parit, jalan, dan seluruh gulma yang ada di gawangan. Air yang digunakan adalah air yang berada di dalam parit. Kegiatan ini akan disurvey ulang oleh asisten pada waktu seminggu setelah penyemprotan, jika masih terdapat sisa rumput yang belum mengalami kematian akan dibersihkan secara manual oleh pekerja BHL yang bertugas membersihkan piringan.
Semprot micronherby adalah menyemprot piringan dan rintis yang
dilakukan setiap dua bulan sekali pada tanaman menghasilkan (TM) yang berumur N5 keatas. Teknis kegiatan micronherby yang diikuti penulis merupakan kegiatan penyemprotan pada Divisi II yang dilakukan untuk pengendalian gulma
yang ada pada piringan dan rintis. Perbedaan yang dilakukan pada penyemprotan piringan dan rintis dengan menggunakan knapsack sprayer adalah pengendalian
micronherby ini hanya digunakan pada tanaman yang berumur 6 tahun atau N5
keatas. Hal ini dilakukan karena aplikasi ini menggunakan alat dinamo yang berukuran besar, sehingga tidak dilakukan pada tanaman yang masih kecil atau pendek. Jika dilakukan pada priringan pokok yang pendek akan mengenai pokok tanaman itu sendiri sehingga menyebabkan kematian.
Pengendalian gulma pada piringan dan rintis menggunakan herbisida sistemik merek dagang Round Up dengan bahan aktif glifosat. Dosis yang adalah 350 cc/ha dengan konsentrasi 3.5 ml/liter air untuk setiap divisi. Setiap 1 tangki hanya berisi 10 L air dengan 350 cc Round Up dan dapat menyemprot 143 pokok. Norma setiap pekerja adalah 4 ha/HK dengan premi tetap Rp. 4 000. Pekerja akan mendapatkan premi Rp. 8 000/ha jika dapat melebihi standar kerja, sehingga pada saat di lapang mandor menetapkan setiap pekerja harus mendapatkan 6 ha/HK. Kendala pada penyemprotan ini adalah alat semprot yang sangat rentan rusak seperti baterai dan nozel dynamo.
Gambar 7. a) Aplikasi micronherby ,b).APD semprot knapsack sprayer
Penyemprotan Apogonia
Semprot Apogonia merupakan pengendalian hama sejenis kumbang
malam. Semprot Apogonia bertujuan untuk pencegahan hama yang dapat merusak daun. Penyemprotan ini dilakukan dengan rotasi 2 (dua) kali dalam sebulan. Insektisida yang digunakan adalah Santador 25 EC yang berbahan aktif Lamna
sihalotrin dengan konsentrasi 25 g/L. Dosis yang digunakan untuk aplikasi ini
yaitu Agrestik yang bertujuan sebagai perekat. Penambahan perekat ini dilakukan agar penyemprotan yang dilakukan sesudah turunnya hujan dapat efektif. Dosis yang digunakan untuk penambahan perekat ini sebesar 10 cc/ha (2 tangki).
Aplikasi kegiatan semprot Apogonia ini dilakukan pada tanaman tahun tanam 2011 dan dilakukan pada sore hari, dikarenakan hama ini mulai muncul atau menyerang tanaman pada awal malam hari dengan penyemprotan pada seluruh daun terutama pada daun yang belum terserang oleh hama ini. Tanaman yang disemprot biasanya adalah tanaman yang berada pada pinggir jalan utama, tanaman yang dekat dengan tanaman tua. Pada kegiatan ini tanaman yang disemprot adalah tanaman 5 baris pokok pada seluruh tanaman yang berada di dekat pasar utama. Jumlah tenaga kerja untuk kegitan ini sebanyak 6 (enam) orang dengan 1 orang pengisi air. Tenaga kerja ini mempunyai prestasi kerja 6 tangki/HK untuk pengendalian hama Oryctes dan Apogonia. Rotasi penyemprotan hama Oryctes adalah seminggu sekali, sedangkan penyemprotan hama Apogonia adalah 2 (dua) minggu sekali. Jika sudah masuk rotasi untuk pelaksanaan kegiatan ini, setiap pekerja memisahkan 2 tangki untuk aplikasi semprot Apogonia. Prestasi kerja yang didapatkan adalah 1 ha/orang. Pada saat kegiatan ini dilakukan, penulis berperan sebagai pendamping asisten.
Pengendalian Hama dan Penyakit
Pengendalian hama dan penyakit pada tanaman kelapa sawit sangat perlu mendapat perhatian agar tanaman dapat tumbuh dan dapat berproduksi secara optimal. Hama yang sering menyerang adalah ulat api, ulat kantong, ulat callietra dan kumbang, sedangkan penyakit yang sering menyerang tanaman kelapa sawit di kebun Bangun Bandar ialah Ganoderma.
Hama ulat yang sering menyerang kelapa sawit adalah dari ordo lepidoptera antara lain adalah ulat api yang terdiri dari jenis Setora nitens, Thosea
asigna, Thosea vetusta, Thosea bisura, Darna trimadan Ploneta deducta.
Sedangkan ulat kantong yang banyak menyerang adalah dari jenis Mahasena
Serangan ulat dapat diketahui berkat adanya monitoring secara berkala dan terus menerus terhadap perkembangan ulat api dan ulat lainnya yang terdapat di lapangan dengan cara menyensus kerapatannya per pelepah daun. Hasil sensus ini harus dapat memberikan informasi mengenai tingkat serangan, luas serangan dan jenis hama yang menyerang. Klasifikasi tingkat rata-rata ulat/pelapah daun dapat dilihat pada Tabel 3 berikut.
Tabel 3. Klasifikasi tingkat serangan ulat daun
Kelas serang an
Ulat api Ulat kantong
S. nitens B. bisura D. trima M. corbetti M. Plana C. Pendula S. asgna P. diducta P. bradleyi
C. horsfieldii B. chara D. inclusa S. malayana A. Phidippus T.monolonch a A. rafflesi T. vetusta TB M TM TB M TM TBM TM TBM TM TBM TM TBM TM Ringan <3 <7 <7 <15 <15 <35 <3 <7 <7 <25 <50 <65 Sedang 3-4 7-9 7-9 15-19 15-24 35-49 3-4 7-9 7-9 25-34 50-69 65-89 Berat ≥5 ≥10 ≥10 ≥20 ≥25 ≥50 ≥5 ≥10 ≥10 ≥35 ≥70 ≥90
Pelaksanaan sensusnya dengan cara memotong satu pelepah yang ditaksir terdapat banyak ulatnya atau kalau tidak ada ulat diambil pelepah nomor 25. Semua ulat, kepompong dan tumpukan telur yang masih hidup, jenis dan ukuran ulat dihitung. Untuk populasi ulat yang tinggi (100 – 200 ulat per pelepah) sensus dibatasi pada sebelah sisi pelepah saja dan hasilnya dikali dua. Kegiatan sensus ulat ini dapat dilihat pada Gambar 8.
Gambar 8. a). Pengendalian ulat manual, b). Ulat kantung
Pemberantasan ulat api dan ulat yang masih dianggap tidak terlalu banyak hanya dikendalikan secara manual. Selama penulis melaksanakan kegiatan
magang pemberantasan hanya dengan manual karena pertumbuhannya tidak terlalu banyak. Tetapi jika pada sensus terdapat banyak ulat yang menyerang tanaman, pengendalian ulat pada tanaman dewasa sulit untuk dijangkau dengan penyemprotan, maka pengendaliannya dengan cara penyuntikan (injeksi) batang dengan cara mengebor batang kemudian insektisida dimasukkan ke dalam lubang hasil pengeboran tersebut. Insektisida yang digunakan untuk pelaksanaan penyuntikan ini adalah Hypolax 400 SL dengan dosis 20 cc/pokok. Aplikasi dilakukan pengeboran ± 15 cm - 30 cm ke dalam batang. Kebutuhan tenaga kerjanya ialah 1 ha/HK. Prestasi kerja penulis pada saat kegiatan ini adalah 10 pokok. Kegiatan injeksi batang dapat dilihat pada Gambar 9.
Gambar 9. a). Pengeboran/ injeksi batang, b). Aplikasi insektisida
Hama lain juga perlu mendapat perhatian ialah oryctes. Pengendalian
Oryctes ini menggunakan insektisida Santador 25 EC dengan konsentrasi 45
cc/tangki. Pada umur N0 dan NI disemprot 100 cc/ pokok, sedangkan umur tanaman N2 disemprot 200 cc/pokok. Kebutuhan tenaga kerjanya ialah 6 ha/HK. Cara aplikasinya ialah dengan cara menyemprotkan Santador tersebut ke titik tumbuh (pupus) tanaman sawit. Cara pencegahan lain juga dilakukan dengan cara pengumpulan larva dari Oryctes (gendon) yaitu dengan cara mengorek permukaan tanaman kelapa sawit yang sudah mati. Tenaga kerjanya merupakan enemer/buruh harian lepas. Kegiatan pengendalian hama oryctes secara manual dapat dilihat pada Gambar 10.
Gambar 10. a) Larva Oryctes, b). Pengendalian manual larva Oryctes
Pemupukan abu janjang (Composting)
Abu janjang merupakan limbah padat dari kegiatan produksi CPO yang berupa janjang kosong buah yang dicampur dengan solid dan dapat dimanfaatkan untuk menyediakan hara bagi tanaman. Pemupukan ini digunakan karena mengandung unsur hara penting yang berguna bagi tanaman kelapa sawit, selain itu juga dapat membantu memperkecil biaya perusahaan karena hanya memenuhi biaya operasional dan pengangkutan saja.
Aplikasi pemupukan dimulai dengan mengangkut pupuk menggunakan gerobak sorong dengan berat sekitar 55 kg yang diambil dari tumpukan pupuk dijalan koleksi, dosis 1 (satu) pokok sebanyak 110 kg, sehingga pupuk yang diaplikasikan untuk satu pokok sebanyak 2 gerobak sorong. 1 HK dapat mengerjakan 32 pokok.
Pemupukan dimulai dari pasar tengah menuju ke arah luar barisan (Utara-Selatan). Hal ini bertujuan agar pemupukan yang dilakukan dosisnya merata pada setiap pokok, yang artinya pokok di bagian pasar tengah mendapatkan dosis yang sama dengan pokok yang berada di tepi jalan. Jika dimulai dari tepi jalan, pupuk yang di langsir dengan gerobak akan habis sebelum sampai ke pasar tengah, dan biasanya pekerja malas untuk balik dan mengambil pupuk yang berada di tepi jalan sehingga dosis pada pokok terakhir akan sangat sedikit. Untuk kualitas hasil yang maksimal maka diperlukan pengawasan mandor di pasar tengah dan di jalan koleksi. Kegiatan pemupukan dapat dilihat dari Gambar 11.
Gambar 11. Pemupukan abu janjang (composting)
Penunasan
Penunasan adalah kegiatan memotong cabang yang tidak perlu dan hanya dibiarkan cabang yang menyonggo tandan (songgoh dua atau songgoh satu). Kegiatan penunasan ini sangat penting karena akan mempengaruhi pekerjaan panen. Tujuan penunasan yang paling utama adalah untuk mempermudah pekerjaan potong buah (melihat dan memotong buah masak). Disamping itu, tujuan dari kegiatan ini adalah menghindari tersangkutnya brondolan di ketiak pelepah, memperlancar proses penyerbukan alami, menjaga kebersihan tanaman sehingga menciptakan lingkungan yang tidak sesuai bagi perkembangan hama dan penyakit dan untuk memperindah kondisi lapangan. Penunasan dilakukan 9 bulan sekali dengan memperhatikan jumlah pelepah harus tinggal di pokok. Tanaman dengan umur 3 tahun sudah dilakukan penunasan yang biasanya menyisakan 3 pelepah dibawah buah (songgoh 3). Aplikasi penunasan dengan songgoh 3 dilakukan hingga umur tanaman mencapai 5 tahun. Sedangkan untuk tanaman yang berumur 6-10 tahun menggunakan songgoh 2 dan tanaman berumur 11 dan seterusnya menggunakan songgoh 1. Kegiatan ini bertujuan untuk mempertahankan produksi buah yang maksimum, sehingga harus dihindari terjadinya over pruning. Over pruning adalah terbuangnya sejumlah pelepah yang produktif secara berlebihan yang akan mengakibatkan penurunan produksi.
Aplikasi dalam kegiatan penunasan ini terdiri dari pemotong, pembersih gulma yang menempel di batang sekaligus membersihkan piringan, dan penyusunan pelepah yang berjarak 2 m dari batang. Karyawan tunas ini jika sudah melebihi borong atau basis tunasnya, maka akan diberi premi sesuai dengan
pekerjaannya. Tenaga kerja kegiatan penunasan pada PT. Socfindo dilakukan dengan family pruning, yang berarti setiap 1 (satu) karyawan dinas membawa 2 kenek yang dipertanggungjawabkan oleh 1 (satu) karyawan dinas gaji per harinya. Kenek adalah orang yang membantu selama kegiatan penunasan berlangsung, hal ini bertujuan untuk memperoleh premi yang banyak. Kegiatan penunasan dapat dilihat pada Gambar 12. Prestasi kerja yang ditetapkan untuk kegiatan ini dilihat berdasarkan umur tanaman. Di mulai dari tanaman yang berumur 3 tahun adalah 70 pokok/HK. Kemudian semakin tua umur tanaman maka basisnya akan menurun. Hal ini disebabkan dari tingkat kesulitan yang dialami oleh karyawan.
Gambar 12. Penunasan
Pemanenan
Pemanenan merupakan kegiatan memotong tandan buah yang termasuk dalam kriteria panen dan mengangkut buah ke tempat pengumpulan hasil (TPH). Setiap tiga pasar terdapat satu TPH yang terletak di bagian pinggir jalan koleksi. Keberhasilan panen dan produksi sangat bergantung pada bahan tanam yang digunakan, tenaga pemanen, keterampilan pemanen, sistem panen yang digunakan, kelancaran sarana transportasi serta faktor pendukung lainnya seperti organisasi panen yang baik, keadaan areal dan intensif yang diberikan.
Kriteria dan Cara Pelaksanaan Panen
Kriteria panen yang ditetapkan PT. Socfindo ialah minimal 4 brondolan per janjang atau minimal 3 brondolan di priringan. Untuk TBM satu brondolan per janjang dengan ketentuan brondolnya masih baru dan bukan bekas terkena
hama. Kriteria panen 4 brondolan per janjang ini diterapkan untuk seluruh tanaman menghasilkan.
Pelaksanaan panen yang baik adalah tidak ada buah mentah (buah S) yang dipanen, tidak ada buah matang yang tertinggal pada piringan, tidak ada buah yang tertinggal pada pasar panen dan TPH. Janjang kosong tidak ada yang terbawa ke pabrik, ganggang janjang dipotong dengan bentuk cangkam kodok serta mepet ke buah, pelepah atau cabang diletakkan pada rumpukan dan jika terdapat parit maka pelepah tersebut arus dipotong menjadi tiga bagian lalu diletakkan di rumpukan, susunan cabang ini harus lurus agar tidak menghalangi atau menutupi piringan dan tidak berserakan, potongan cabang harus mepet ke pokok agar tidak ada brondolan yang tersangkut pada pelepah.
Tandan yang telah dipanen dihadapkan ke arah pasar panen atau pasar rintis dan brondolan dikumpulkan, lalu pemanen dengan menggunakan gerobak sorong membawa janjang dan brondolan yang telah dipanen tersebut ke TPH, lalu ganggang diberi nomor sesuai dengan nomor pemanen.
Asisten dan mandor I produksi setiap harinya wajib memeriksa minimum 10 TPH dari hasil panen dan minimum 10 orang pemanen. Pemeriksaan ini mencakup mutu buah (A, N, E), kebersihan berondolan dipiringan, TPH dan mutu buah. Hasil pemeriksaan ini harus diadu dengan hasil pemeriksaan krani buah untuk mencegah manipulasi krani buah.
Target harian divisi adalah minimal satu seksi panen harus dapat diselesaikan. Bila pada hari pertama seksi A tidak selesai dipotong semua, maka pada hari berikutnya pengaturan tenaga kerja harus diselesaikan sehingga pada hari kedua minimal dapat diselesaikan seksi B dan seksi A.
Mutu Hanca
Kriteria mutu hanca yang baik adalah tidak ada cabang sengkleh yaitu pelepah yang tidak dijatuhkan dari pokok, rumpukan cabang tertata rapi, tidak buah S atau buah tinggal dan brondolan tidak ada yang tertinggal. Pada tanaman yang umur tanamnya tua (mendekati Replanting) digunakan hanca tetap. Dengan adanya hanca ini selain disiplin kerja dan mempunyai tanggung jawab sendiri
maka akan mempermudah pengontrolan serta dapat mempermudah pekerja dalam persiapan alat panen misal persiapan panjang galah yang dibutuhkan, sedangkan pada tanaman yang umur tanaman masih muda digunakan hanca giring agar mendapatkan produksi tinggi, tetapi pada hanca ini karyawan kurang bertanggung jawab.
Organisasi Panen
Satu mandoran pada hanca giring ini terdiri dari 7-20 orang pemanen, satu orang mandor dan satu orang krani buah. Tenaga kerja kegiatan pemanenan pada PT. Socfindo dilakukan dengan family harvest, yang berarti setiap 1 (satu) karyawan dinas membawa 2 kenek yang dipertanggungjawabkan oleh 1 (satu) karyawan dinas gaji per harinya. Mandor bertugas untuk mengontrol pemanen agar bekerja dengan baik dan benar,hancanya bersih, tidak ada buah tinggal (buah S) pada pokok tanaman yang dapat mengakibatkan buah tersebut menjadi buah busuk (E), tidak memanen buah mentah (A) yaitu buah yang belum memberondol minimal 3 brondolan dipiringan.
Krani buah bertugas untuk memeriksa mutu buah, yaitu memeriksa mutu buah dengan kriteria buah normal (N), buah mentah (A), buah mentah (E) dan semua itu di catat pada buku krani buah beserta dengan nama pemanennya. Pemeriksaan ini dilakukan pada saat buah berada di tempat pemungutan hasil (TPH), jumlah buah yang telah dipanen dicatat oleh karyawan potong buah untuk mengetahui apakah karyawan tersebut telah memperoleh basis borongnya dan berapa lebih borongnya. Lebih borong ialah jumlah janjang yang dipanen setelah dikurangi basis borongnya, jika karyawan panen tersebut mendapat lebih borong, maka akan mendapat premi, tetapi jika karyawan tersebut tidak memenuhi borongnya maka akan dikenai sanksi.
Asisten divisi dan mandor I atas (produksi) bertugas untuk memeriksa pelaksanaan panen dan berperan aktif dalam menciptakan iklim kerja yang harmonis dan serasi untuk mencapai keberhasilan kegiatan panen.
Penentuan Basis dan Premi
Basis panen adalah jumlah buah minimum yang harus dipanen oleh keryawan potong buah. Basis borong ini berbeda-beda menurut tahun tanam (umur tanaman), berat janjang rata-rata (BJR) dan jumlah jam kerja.
Tanaman tua jumlah basis borongnya lebih rendah daripada tanaman yang dewasa karena faktor kesulitan dalam panen, tanaman tua lebih besar dibandingkan dengan tanaman dewasa karena tanaman tua lebih tinggi dari tanaman dewasa dan bisa mencapai ketinggian 15 m sehingga memerlukan galah, egrek yang lebih panjang dan memerlukan orang yang ahli. Berat janjang rata-rata suatu blok juga menentukan basis borong potong buah dengan norma standar potong buah bagi seorang karyawan sehingga untuk BJR yang tinggi maka basis borongnya lebih rendah dibandingkan dengan BJR yang rendah.
Jika terjadi buah kurang dan apabila pemanen kehabisan hanca di blok pertama sedangkan pemanen belum siap borong dan diberikan hanca di blok kedua yang berbeda basis borongnya, maka untuk mencukupi kekurangan borongnya pada hari itu perhitungannya sebagai berikut :
Kekurangan borong janjang hanca I × Jumlah janjang siap borong hanca II Jumlah janjang siap borong hanca I
Jika karyawan potong buah berpindah ke hanca berikutnya atau ke seksi berikutnya, basis borongnya berubah sesuai dengan basis borong pada seksi yang akan dimasukinya. Misalnya, seorang pemanen yang sedang memanen pada suatu seksi dengan basis borong pada seksi tersebut 70 janjang tetapi hanya mendapatkan 55 janjang maka ia pindah ke seksi berikutnya dengan basis borong pada seksi tersebut sebanyak 60 janjang, untuk dapat memenuhi basis borongnya pada hari itu maka pemanen tersebut harus mendapatkan janjang pada seksi tersebut sebanyak 15/70 x 60 = 13 janjang, sehingga karyawan tersebut pada hari itu harus memotong buah dengan basis borong sebanyak 55 + 13 = 68 janjang.
Hari yang mempunyai jam kerja pendek seperti hari jumat yang mempunyai jam kerja hanya 5 jam, sedangkan pada hari biasa jam kerjanya 7 jam, maka basis borong pada hari jumat lebih rendah dibandingkan pada hari biasa. Cara menghitung basis borong pada hari jumat yaitu seperti 5/7 x basis borong.
Contohnya suatu blok yang mempunyai basis borong 70 pada hari biasa, maka pada hari jumat basis borongnya berubah menjadi 5/7 x 70 = 50 janjang.
Sanksi-sanksi
Sanksi potong buah diberikan kepada karyawan potong buah dengan tujuan agar tidak terjadi pelanggaran dari ketentuan potong buah yang berlaku terutama mengenai kriteria buah dan kualitas buah. Denda karyawan potong buah adalah sebagai berikut: 1) buah mentah (A) tidak memberondol brondol maka dikenakan denda Rp. 3 000/janjang. 2) cabang sengkleh (C) atau pelepah tidak dijatuhkan oleh anggota potong buah maka dikenakan denda Rp. 1 000/pokok. 3) B1 adalah brondolan yang tidak dikutip bersih dikenakan denda Rp. 1000/pokok. 4) Rumpukan yang tidak disusun (R), sebesar Rp. 1 000/pokok. 5) B2 adalah brondolan yang dibuang, sama sekali tidak dikutip dikenakan denda sebesar Rp. 3 000/pokok. 6) M3 adalah brondolan yang terikut diganggang buah dikenakan denda sebesar Rp. 1 000/janjang. 7) Buah G adalah ganggang yang tidak dipotong rapat/cangkam kodok dikenakan denda Rp. 1 000/janjang. 8) M2 adalah buah yang tinggal pada piringan atau hanca dikenakan denda Rp. 2 000/janjang. 9) M1 adalah buah mentah yang sengaja diperam dihanca dikenakan denda Rp. 3 000/janjang. 10) Buah S adalah buah matang yang tinggal atau tidak dipanen dikenakan denda Rp. 2 000/janjang.
Sanksi ini akan diberikan pada anggota potong buah yang tidak sesuai dengan aturan, sebelum menjatuhkan denda, tenaga kerja akan diberi peringatan langsung pada hari kegiatan panen dilaksanakan, jika masih terdapat yang tidak sesuai dengan aturan maka sanksi-sanksi akan di sah kan. Jika sudah terlalu sering melakukan kesalahan maka akan diberikan surat peringatan yang akan mengakibatkan pemecatan tenaga kerja.
Ramalan Produksi
Ramalan produksi perlu dilakukan dan ketepatan dalam peramalan yang akan meningkatkan efisiensi pemakaian tenaga kerja pemanen dan angkutan panen. Perhitungan peramalan produksi yang dilakukan di PT. Socfindo setiap 4
(empat) bulan sekali sehingga dikenal dengan sistem kwartal, jadi dalam 1 (satu) tahun diadakan 3 kali sensus buah.
Ramalan produksi ini dilakukan dalam 4 bulanan dan harian. Kwartal pertama dimulai dari bulan Januari hingga April, kwartal kedua dimulai dari bulan Mei sampai Agustus dan kwartal ketiga dimulai dari bulan September sampai Desember. Perhitungan ramalan produksi pada seluruh blok untuk setiap divisi sudah dijadwalkan. Perhitungan ramalan produksi pada kwartal yang akan datang akan dilakukan pada akhir kwartal berjalan sebelum dimulai pembukuan kwartal yang akan datang. Jadi, untuk meramal produksi kwartal pertama akan dilakukan pada bulan Desember, meramal untuk produksi kwartal kedua akan dilakukan pada bulan April dan untuk meramal produksi kwartal ketiga akan dilakukan pada bulan Agustus. Aplikasi dilapangan dilakukan satu bulan penuh untuk semua Blok dari divisi.
Tandan buah segar yang dihitung pada saat sensus buah ialah yang telah berumur 1 bulan yaitu dengan kriteria buahnya berwarna hitam dan berukuran kira-kira sebesar telunjuk. Pohon yang dihitung jumlah tandan buah segarnya ialah sama dengan yang digunakan sensus ulat yaitu setiap titik sensus terdapat 7 (tujuh) pohon sensus, satu titik sensus mewakili 1 (satu) hektar.
Pelaksanaan sensus buah adalah sebagai berikut. Karyawan sensus terdiri dari 6 (enam) orang, dibagi menjadi 2 (dua) kelompok sehingga menjadi tiga orang dan satu mandor, dengan rincian pencatat dan pengecekan tandan, dua orang menulis pada pokok. Alat yang digunakan ialah pisau atau lempengan logam untuk mengorek (mengikis) agar mudah ditulis dan tulisannya tampak jelas, serta pada setiap kwartal diberi tanda pada warna tinta, misal kwartal pertama diberi warna merah, kwartal kedua diberi warna biru dan kwartal ketiga diberi warna kuning. Data yang ditulis pada pokok adalah nomor pokok sensus, nomor kwartal, tahun sensus dan jumlah janjang pokok tersebut. Prestasi kerja karyawan adalah 15 ha/HK.
Aspek Manajerial
Pendamping Mandor
Mandor merupakan karyawan tingkat non staf yang bertugas membantu asisten dalam menjalankan pekerjaan kebun baik secara teknis maupun administratif. Mandor merupakan orang yang berhubungan langsung dengan karyawan dan bertugas langsung di lapangan serta bertanggung jawab kepada asisten. Mandor yang ada pada setiap divisi terdiri dari : mandor I (perawatan), mandor produksi, mandor panen, krani buah, krani transport dan krani divisi, sedangkan di kebun pembibitan mempunyai 1 orang mandor yang sering disebut mantri pembibitan. Selama penulis berstatus sebagai pendamping mandor, penulis pernah bertugas di kebun pembibitan awal, pembibitan utama, mandor penanaman, mandor pemeliharaan kacangan, krani buah. Mandor mempunyai beberapa peranan seperti : membantu tugas-tugas asisten dalam perencanaan, pelaksanaan dan pengontrolan, bertanggung jawab terhadap mutu pekerjaan, mengawasi dan mengorganisasi pelaksanaan teknis di lapangan serta membuat laporan hasil pekerjaan yang dilakukan dan menganalisanya. Jurnal harian kegiatan penulis selama menjadi pendamping mandor dapat dilihat pada Lampiran 8.
Mandor di Kebun Pembibitan
Mandor di kebun pembibitan berjumlah hanya 1 orang yang dikhususkan untuk kebun pembibitan. Semua pekerjaan yang ada pada kebun pembibitan diawasi hanya dengan 1 mandor, semua pekerjaan yang dimaksudkan juga seperti mengerjakan laporan yang bersangkutan dengan pembibitan.
Mandor I
Jabatan mandor I langsung berada di bawah asisten untuk mengontrol semua jenis pekerjaan yang dilakukan. Mandor I berkewajiban membuat rencana kerja harian dan bertanggung jawab secara langsung terhadap pekerjaan
mandor-mandor dan karyawan. Seperti halnya asisten, mandor-mandor I juga mengawasi seluruh pekerjaan yang dilakukan dan memastikan kegiatan yang dilakukan telah sesuai dengan standar kerja yang telah ditetapkan. Mandor I harus aktif menyelesaikan permasalahan yang terjadi di lapangan dan harus dapat mencari solusinya.
Mandor Produksi
Mandor produksi merupakan orang yang membantu tugas-tugas asisten dalam perencanaan, pelaksanaan dan pengontrolan kerja potong buah dengan mengarahkan pekerjaan ke mandor-mandor potong buah secara lebih terperinci khususnya dalam pembagian tenaga kerja. Tugas dan tanggung jawab seorang mandor produksi adalah mengikuti kegiatan antrian pagi setiap harinya, memeriksa kelengkapan dan keadaan alat kerja potong buah, memastikan pekerjaan yang dilaksanakan telah sesuai dengan instruksi yang di tetapkan, bertanggung jawab terhadap mutu buah dan mutu hanca potong buah, mengatur pusingan potong buah agar tetap pada kondisi normal dan melaporkan kondisi/ keadaan maupun penyimpangan yang terlihat di blok (lapangan) termasuk potensi bahaya. Umumnya mandor I lebih difokuskan untuk pengawasan kegiatan potong buah, menjaga kualitas buah serta melakukan pengawasan untuk kegiatan administratif divisi.
Mandor Panen
Mandor panen adalah orang yang bertanggung jawab dalam kegiatan panen yang dibantu oleh krani buah dan krani transport. Tugas mandor panen adalah mengawasi kegiatan panen agar dapat berjalan dengan baik. Mandor panen juga mempunyai tugas untuk menetukan hanca panen dan jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan. Mandor panen juga secara tidak langsung bertanggung jawab terhadap kualitas TBS yang dipanen seperti tingkat kematangan buah, buah busuk, buah matang yang tertinggal di pokok, brondolan yang tertinggal serta memastikan tangkai buah TBS pendek.
Mandor panen harus aktif mengawasi ke dalam hanca untuk memastikan tidak terjadi penyimpangan oleh pemanen. Mandor panen mempunyai tugas dan
tanggung jawab yaitu mengikuti antrian pagi dengan asisten dan mandor-mandor lainnya, kemudian melaksanakan briefing pagi bersama karyawan di lapangan untuk pembagian hanca sekaligus mengabsen, melakukan pengecekan mutu buah dan hanca, memeriksa apakah setiap pemanen telah mendapatkan basis borong dan hancanya telah selesai. Bila basis borong belum tercapai sedangkan waktu kerja masih ada, maka oleh mandor panen dipindahkan hancanya untuk memenuhi basis borongnya. Selain itu mandor panen juga memeriksa peralatan yang digunakan sebelum dilakukan pengancakan dan memastikan pekerja telah menggunakan APD. Kemudian pada sore harinya mandor panen melakukan perhitungan persentase kematangan panen yang bertujuan menentukan rencana jumlah tenaga kerja potong buah dan taksasi produksi untuk esok hari dan memastikan semua seksi telah habis di panen pada 1 hari. Selama menjadi pendamping mandor potong buah, penulis mengikuti kegiatan persentase kematangan yang diambil dari sebagian atau mewakili seluruh wilayah yang akan di panen untuk esok hari.
Krani Buah
Tugas dari krani buah adalah mencatat jumlah buah normal (N), nuah mentah (A) dan buah busuk (E) yang telah terkumpul dari TPH dari masing-masing pemanen di buku pemeriksaan tanda buah segar (TBS). Memberi tanda A pada tangkai buah mentah yang di periksa. Mencatat jumlah TBS yang telah d panen yang kemudian menginformasikannya ke pabrik (sore hari). Hal ini bertujuan untuk mempermudah dalam proses pengolahan TBS di pabrik. Mengisi buku notes potong buah (notes kuning) yang berisi laporan hasil potong buah setiap pemanen yang akan dibagikan esok hari kepada para pemanen. Mengisi buku penerimaan TBS (collection sheet) dan mengisi data papan panjang.
Mandor Pemupukan
Mandor pemupukan bertanggung jawab terhadap jumlah untilan pupuk yang diangkut dari gudang pupuk sampai diaplikasikan ke pokok berdasarkan dengan dosis yang telah di tetapkan dalam booklet pemupukan. Pada pagi hari
mandor pupuk harus mengikuti kegiatan antrian pagi untuk menerima instruksi dan pengarahan dari asisten divisi yang kemudian disampaikan kepada para karyawan. Setelah selesai pemupukan, mandor pemupukan bertanggung jawab terhadap karung untilan untuk sampai di gudang penyimpanan dan membandingkannya dengan jumlah karung sebelum di lakukan aplikasi. Hal ini bertujuan untuk mengurangi kecurangan yang akan terjadi pada saat aplikasi. Kemudian mandor pupuk juga bertanggung jawab terhadap kualitas penaburan pupuk di lapangan dan melaporkan kondisi/ keadaan maupun penyimpangan yang terjadi di lapangan. Dalam hal ini penulis melakukan kegiatan pengecekan kualitas penaburan pupuk di lapangan dan menjadi pendamping asisten dalam menjaga untilan pupuk agar tidak terjadi kecurangan.
Mandor Semprot
Setiap harinya mandor semprot bertugas ikut antrian pagi di divisi untuk mendapat tugas-tugas harian dari asisten divisi. Menyiapkan dan memeriksa bahan-bahan dan peralatan kerja untuk keperluan semprot termasuk mengatur tenaga kerja. Bertanggung jawab terhadap penggunaan APD dilokasi kerja. Memberikan intruksi/arahan kerja kepada pekerja. Bertanggung jawab terhadap jumlah bahan yang dipakai untuk keperluan semprot sesuai intruksi Asisten. Memastikan tidak terjadinya ceceran pada saat menuangkan larutan ke dalam alat semprot. Bertanggung jawab terhadap mutu dan output pekerjaan. Melaporkan prestasi kerja harian semprot kepada Asisten. Melaporkan kondisi/ keadaan maupun penyimpangan yang terjadi di lapangan termasuk potensi bahaya LK3, serta memastikan penggunaan pestisida dilakukan dengan aman dan benar. Melaksanakan pekerjaan yang ditunjuk asisten, Askep, dan Pengurus.
Pendamping Asisten Divisi
Tugas dan tanggung jawab seorang asisten divisi adalah memberikan instruksi kerja kepada mandor-mandor, mantri-mantri dan krani-krani setiap pagi (antrian pagi), mengkoordinir mandor-mandor sesuai instruksi dan rencana kerja yang dibuat, menjamin terlaksananya sistem manajemen mutu dan lingkungan
divisi, menyelenggarakan dan memastikan administrasi divisi terlaksana sesuai ketentuan. Selain itu seorang asisten divisi juga bertugas untuk mengawasi disiplin tenaga kerja baik tenaga kerja sendiri maupun pihak-III (buruh harian lepas). Asisten bertanggung jawab penuh terhadap kegiatan operasional kebun selama 24 jam yang meliputi kegiatan di kebun maupun lingkungan masyarakat. Pada saat penulis menjadi pendamping asisten, penulis membantu asisten divisi IV dalam hal kegiatan pemanenan. Tujuannya adalah untuk melihat kedisiplinan kerja tenaga kerja dan semua kegiatan yang ada dilapangan. Kegiatan lain yang diikuti oleh penulis dengan asisten adalah mengawasi kegiatan pemupukan abu janjang (composting). Penulis bersama Asisten melakukan penghitungan terhadap untilan pupuk yang di kirim dari pabrik dan melihat langsung aplikasi terhadap penebaran pupuk di lapangan. Hal ini bertujuan untuk memperkecil terjadinya kehilangan pupuk di lapangan atau pun terjadinya penebaran pupuk yang tidak merata. Selanjutnya penulis juga mengikuti asisten dan kegiatan yang ada pada Divisi II dengan tujuan penulis dapat menyempurnakan kegiatan magang. Jurnal harian kegiatan penulis selama menjadi pendamping asisten dapat dilihat pada Lampiran 9.