MODUL
PENGEMBANGAN KEPROFESIAN BERKELANJUTAN PENGAWAS SEKOLAH
KELOMPOK KOMPETENSI F
PEMANTAUAN PEMENUHAN PELAKSANAAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
Pengarah
Sumarna Surapranata, Ph.D.
Penanggung Jawab Dra. Garti Sri Utami, M. Ed.
Penyusun
Iden Rusdi, ST. M.Ed.; 08562200369; [email protected]
Suheldina Krisniwana, S.Pd., MA 0817550122 [email protected] Penelaah
Prof. Dr. Arismunandar, M.Pd. 0811464813; [email protected] Dr. Edi Rahmat Widodo. 081315493001; [email protected]
Prof. Dr. Husaini Usman, M.Pd., M.T. 081328368888; [email protected]
Diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Copyright @ 2017
Edisi ke-1: Juli 2017
Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
Dilarang menyalin sebagian atau keseluruhan isi buku ini untuk kepentingan individu maupun komersial tanpa izin tertulis dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia
JENJANG SEKOLAH DASAR
DAFTAR ISI
SAMBUTAN DIREKTUR JENDERAL GURU DAN TENAGA KEPENDIDIKAN ... i
KATA PENGANTAR ... iii
DAFTAR ISI ... iv
DAFTAR GAMBAR ... vii
DAFTAR TABEL... viii
DAFTAR LAMPIRAN ... ix
PETUNJUK PENGGUNAAN MODUL ... x
PETA KEDUDUKAN MODUL ... xiii
BAGIAN I PENDAHULUAN ... 1
A. Pengantar ... 1
B. Target Kompetensi ... 5
C. Tujuan Pembelajaran ... 5
D. Peta Kompetensi Pengawas Sekolah ... 6
E. Ruang Lingkup dan Pengorganisasian ... 7
F. Penilaian ... 9
BAGIAN II KEGIATAN PEMBELAJARAN...11
TAHAP IN SERVICE LEARNING 1 (In 1) ...11
Pengantar ...11
Kegiatan Pembelajaran 1: Menyusun Instrumen Pemantauan Pelaksanaan Pemenuhan SNP (5 JP) ...11
A. Tujuan Pembelajaran ...11
B. Indikator Pencapaian Tujuan ...11
C. Uraian Materi ...12
D. Aktivitas Pembelajaran ...30
E. Latihan/Kasus/Tugas...34
F. Rangkuman ...37
G. Umpan Balik ...38
H. Refleksi dan Tindak Lanjut ...38
I. Kunci Jawaban ...39
Kegiatan Pembelajaran 2: Pelaksanaan Pemantauan Pemenuhan SNP (7 JP) ...40
A. Tujuan Pembelajaran ...40
B. Indikator Pencapaian Tujuan ...40
C. Uraian Materi ...40
D. Aktivitas Pembelajaran ...43
E. Latihan/Kasus/Tugas...50
F. Rangkuman ...52
G. Umpan Balik ...52
H. Refleksi dan Tindak lanjut ...53
I. Kunci Jawaban ...54
Kegiatan Pembelajaran 3: Pengolahan dan Penyusunan Hasil Evaluasi Pemantauan Pelaksanaan Pemenuhan SNP (8 JP) ...55
A. Tujuan Pembelajaran ...55
B. Indikator Pencapaian Tujuan ...55
C. Uraian Materi ...55
D. Aktivitas Pembelajaran ...64
E. Latihan/Kasus/Tugas...70
F. Rangkuman ...73
G. Umpan Balik ...74
H. Refleksi dan Tindak lanjut ...74
I. Kunci Jawaban ...75
Kegiatan Pembelajaran 4: Penyusunan Rekomendasi Pemenuhan Standar Nasional Pendidikan ...76
A. Tujuan Pembelajaran ...76
B. Indikator Pencapaian Tujuan ...76
C. Uraian Materi ...76
D. Aktivitas Pembelajaran ...80
E. Latihan/Kasus/Tugas...85
F. Rangkuman ...88
G. Umpan Balik ...88
H. Refleksi dan Tindaklanjut ...89
I. Kunci Jawaban ...89
Rencana Tindak lanjut ...90
TAHAP ON THE JOB LEARNING (On) (20 JP)...91
Pengantar ...91
Kegiatan Pembelajaran 1: Perencanaan Pemantauan Pelaksanaan Pemenuhan Standar Nasional Pendidikan ...91
A. Tujuan Pembelajaran ...91
B. Indikator Pencapaian Tujuan ...91
C. Aktivitas Pembelajaran ...92
Kegiatan Pembelajaran 2: Praktik Pemantauan Pelaksanaan Pemenuhan Standar Nasional Pendidikan ...93
A. Tujuan Pembelajaran ...93
B. Indikator Pencapaian Tujuan ...93
C. Aktivitas Pembelajaran ...93
Kegiatan Pembelajaran 3: Menyusun Laporan Hasil Pemantauan Pelaksanaan Pemenuhan Standar Nasional Pendidikan dan Rekomendasi (5 JP) ...94
A. Tujuan Pembelajaran ...94
B. Indikator Pencapaian Tujuan ...94
C. Aktivitas Pembelajaran ...94
Refleksi On the Job Learning ...97
TAHAP IN SERVICE LEARNING 2 (In 2) (10 JP) ...98
Pengantar ...98
Kegiatan 1: Penilaian Hasil On The Job Learning ...98
Kegiatan 2: Penguatan ...99
Kegiatan 3: Menyusun Rencana Tindak lanjut ...99
BAGIAN III EVALUASI ... 100
BAGIAN IV PENUTUP ... 114
DAFTAR ISTILAH ... 115
DAFTAR PUSTAKA ... 117
LAMPIRAN ... 119
SUPLEMEN ... 126
Suplemen 1: Supervisi Pengawas Dalam Pelaksanaan PPK ... 126
Suplemen 2: Pengantar Pendidikan Inklusif dan Perlindungan Kesejahteraan Anak .... 136
Suplemen 3: Panduan Penilaian Hasil Belajar Untuk Pengawas Sekolah dan Kepala Sekolah ... 150
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Peta Kedudukan Modul ... xiii
Gambar 2. Peta Kompetensi Modul Pelaksanaan Pemenuhan SNP ... 7
Gambar 3. Indikator mutu sesuai SNP ...16
Gambar 4. Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan Terintegrasi ...17
Gambar 5. Diagram Pelaksanaan Pemantauan Pelaksanaan Pemenuhan SNP ...42
Gambar 6. Grafik Pemenuhan SNP...62
Gambar 7. Grafik Pemenuhan Standar PTK ...63
Gambar 8. Grafik Pemenuhan SNP SD Pasanggarahan 1 ...63
DAFTAR TABEL
Tabel 1. Kegiatan Pembelajaran dan Alokasi Waktu ... 8
Tabel 2. Strategi Pembelajaran. ... 9
Tabel 3. Kriteria Kelulusan ...10
Tabel 4. Rambu–Rambu Pemilihan Instrumen. ...14
Tabel 5. Kriteria Penilaian Pemenuhan SNP ...58
Tabel 6. Rambu-rambu Pengisian Laporan Evaluasi Pemantauan Pelaksanaan Pemenuhan SNP ...61
Tabel 7. Contoh Laporan Evaluasi Pemantauan Pelaksanaan Pemenuhan SNP ...61
Tabel 8. Contoh Daftar Pemenuhan SNP ...62
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1: Kunci Jawaban Bagian Evaluasi ... 119 Lampiran 2: Rubrik Skor Instrumen Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan ... 120 Lampiran 3: Rubrik Skor Instrumen Standar Sarana dan Prasarana ... 123
PETUNJUK PENGGUNAAN MODUL
PEMANTAUAN PELAKSANAAN PEMENUHAN SNP
1. Modul Pemantauan Pelaksanaan Pemenuhan Standar Nasional Pendidikan memuat tentang penyusunan instrumen, pelaksanaan, evaluasi, dan penyusunan rekomendasi hasil pemantauan pelaksanaan pemenuhan Standar Nasional Pendidikan (SNP) yang terintegrasi dengan lima nilai utama (religious, nasionalis, mandiri, gotong royong, dan integritas) penguatan pendidikan karakter.
2. Modul Ini terdiri dari 4 (empat) bagian yaitu: (1) Pendahuluan, (2) Kegiatan Pembelajaran yang terdiri dari In Service Learning 1 (In 1), On The Job Learning (On),In Service Learning 2 (In 2) , dan (3) Evaluasi
3. Modul Ini dilaksanakan melalui tiga tahap pembelajaran yaitu In 1, On, dan In 2. Pada tahap In 1, Saudara akan dipandu oleh fasilitator untuk mempelajari modul Ini secara umum dan menyiapkan dasar pengetahuan serta pengalaman Saudara sebagai bahan menyusun rencana tindak lanjut untuk On. Pada tahap On, Saudara melaksanakan rencana tindak lanjut yang dibuat pada saat In 1 melaksanakan kegiatan pengawasan di sekolah binaan. Pada tahap In 2, Saudara bersama pengawas sekolah lain melaporkan tagihan On dan mempresentasikan berbagai keberhasilan dan kendala, serta solusi yang Saudara lakukan selama On.
4. Sebelum mempelajari modul ini, Saudara harus memiliki dan membaca dokumen- dokumen sebagai berikut:
a. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak.
b. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
c. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 34 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.
d. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas.
e. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan sebagaimana telah diubah dalam PP Nomor 32 Tahun 2013 dan PP Nomor 13 Tahun 2015
f. Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 21 Tahun 2010 tentang Jabatan Fungsional Pengawas Sekolah dan Angka Kreditnya
g. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2007 tentang Standar Pengawas Sekolah/Madrasah;
h. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 70 tahun 2009 tentang Pendidikan Inklusif Bagi Peserta Didik yang Memiliki Potensi Kecerdasan Dan/Atau Bakat Istimewa.
i. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 24 tahun 2007 tentang Standar Sarana dan Prasarana SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA
j. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 19 tahun 2007 tentang Standar Pengelolaan oleh Satuan Pendidikan
k. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 69 tahun 2009 tentang Standar Pembiayaan Pendidikan
l. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2016 tentang Penjaminan Mutu Pendidikan Dasar dan Menengah
m. Peraturan menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 002/H/AK/2017 Tahun 2017 tentang Kriteria dan Perangkat Akreditasi Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah
5. Modul ini berkaitan dengan modul Pelaksanaan Supervisi Manajerial dan modul Laporan Hasil Pengawasan
6. Waktu yang dipergunakan untuk mempelajari modul ini diperkirakan 60 Jam Pembelajaran (JP), yang terdiri atas 30 JP untuk In 1, 20 JP untuk On, 10 JP untuk In 2.
Satu JP setara dengan 45 menit. Perkiraan waktu Ini sangat fleksibel sehingga bisa disesuaikan dengan keadaan dan kebutuhan. Penyelenggara pembelajaran bisa menyesuaikan waktu dengan model pembelajaran di Kelompok Kerja Pengawas Sekolah (KKPS), Musyawarah Kerja Pengawas Sekolah (MKPS), Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota, Dinas Pendidikan Provinsi, Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PPPPTK), Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Kepala Sekolah (LPPKS), Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan bidang Kelautan Perikanan Teknologi Informasi dan Komunikasi (LPPPTK KPTK), atau model pembelajaran lain dengan pemanfaatan teknologi lain.
7. Untuk melakukan kegiatan pembelajaran, Saudara sebaiknya mulai dengan membaca petunjuk dan pengantar modul Ini, menyiapkan dokumen yang diperlukan, mengikuti tahap demi tahap kegiatan pembelajaran secara sistematis dan mengerjakan kegiatan pembelajaran pada Lembar Kerja (LK). Selama kegiatan pembelajaran akan dilakukan penilaian berbasis kelas oleh fasilitator. Setiap menyelesaikan kegiatan pembelajaran di
masing-masing modul, Saudara akan mengerjakan latihan soal dan penugasan lainnya.
Untuk melengkapi pemahaman, Saudara dapat membaca sumber-sumber lain yang relevan.
8. Setelah mempelajari modul Ini, Saudara dapat mengimplementasikan hasil belajar tersebut disekolah binaan dengan mengembangkan berbagai potensi peserta didik melalui bidang pengembangan atau mata pelajaran dengan menghargai perbedaan dan potensi peserta didik guna membangun kreatifitas. Pengembangan juga didasarkan pada prinsip pendidikan Inklusif yaitu (1) kehadiran; (2) penerimaan; (3) partisipasi; dan (4) pencapaian baik akademik maupun non-akademik untuk semua anak termasuk anak berkebutuhan khusus sebagai langkah terbaik untuk memastikan pelaksanaan perlindungan kesejahteraan anak. Pendidikan Inklusif mengakomodasi semua kebutuhan anak dengan tidak mempersoalkan keadaan fisik, kecerdasan, sosial, emosional, gender, dan kondisi-kondisi lain.
9. Dalam melaksanakan setiap kegiatan pada modul Ini, Saudara harus mengintegrasikankan nilai-nilai utama Penguatan Pendidikan Karakter (PPK), yang terdiri dari: 1) religius, 2) nasionalis, 3) mandiri, 4) gotong royong, dan 5) Integritas, serta mempertimbangkan aspek Inklusi sosial tanpa membedakan suku, agama, ras, golongan, jenis kelamin, status sosial ekonomi, penyandang HIV/AIDS dan yang berkebutuhan khusus. Inklusi sosial ini juga diberlakukan bagi pendidik, tenaga kependidikan dan peserta didik.
PETA KEDUDUKAN MODUL
Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan Pengawas Sekolah terdiri dari 10 modul yakni Modul A sampai Modul J. Saat ini Saudara sedang mempelajari modul F, Pemantauan Pelaksanaan Pemenuhan Standar Nasional Pendidikan.
Modul J Pedoman Pengawasan
Modul I Karya Tulis Ilmiah
Modul H
Penilaian Kinerja KepalaSekolah, Guru,dan Tenaga Kependidikan Sekolah
Modul G
Penilaian dan Pemantauan Pembelajaran
Modul F
Pemantauan Pelaksanaan Pemenuhan SNP
Modul E
Pelaksanaan Supervisi Manajerial Modul D
Laporan Hasil Pengawasan Modul C
Program Pengawasan Supervisi Manajerial
Modul B
Konsep Supervisi Manajerial
Modul A Supervisi Akademik PENELITIAN DAN
PENGEMBANGAN
EVALUASI PENDIDIKAN
SUPERVISI MANAJERIAL
SUPERVISI AKADEMIK
D I M E N S I K O M P E T E N S I
Gambar 1. Peta Kedudukan Modul
BAGIAN I PENDAHULUAN
A. Pengantar
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) menyatakan bahwa Standar Nasional Pendidikan (SNP) terdiri atas standar isi, proses, kompetensi lulusan, tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, pembiayaan, dan penilaian pendidikan yang harus laksanakan secara berencana dan berkala. Pengembangan SNP serta pemantauan dan pelaporan pencapaiannya secara nasional dilaksanakan oleh suatu badan standarisasi, penjaminan, dan pengendalian mutu pendidikan. Pasal 3 Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan sebagaimana telah diubah dalam PP Nomor 32 Tahun 2013 dan PP Nomor 13 Tahun 2015 menyatakan bahwa Standar Nasional Pendidikan berfungsi sebagai dasar dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan pendidikan dalam rangka mewujudkan pendidikan nasional yang bermutu.
Dalam kaitan dengan tujuan kepengawasan Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi nomor 21 tahun 2010 tentang Jabatan Fungional Pengawas Sekolah dan Angka Kreditnya menyatakan bahwa salah satu tugas pokok dan fungsi pengawas sekolah adalah memantau pelaksanaan Standar Nasional Pendidikan (SNP).
Pengawas Sekolah Dasar (SD) memiliki peran yang sangat strategis dalam membantu sekolah meningkatkan kualitas dan kuantitas pemenuhan Standar Nasional Pendidikan (SNP). Pengawas SD merupakan mitra kerja SD dalam meningkatkan mutu pendidikan di sekolah binaannya oleh karena itu pengawas sekolah harus mempunyai wawasan dan pemahaman yang komprehensif tentang SNP.
Modul ini terintegrasi dengan lima nilai utama penguatan pendidikan karakter yaitu:
religius, nasionalis, mandiri, gotong royong, dan integritas. Dalam nilai religius mencerminkan keberimanan terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang diwujudkan dalam perilaku untuk melaksanakan ajaran agama dan kepercayaan yang dianut; menghargai perbedaan agama; menjunjung tinggi sikap toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama dan kepercayaan lain; hidup rukun dan damai dengan pemeluk agama lain.
Nilai karakter religius ini meliputi tiga demensi relasi sekaligus, yaitu: relasi individu dengan Tuhan, individu dengan sesama, dan individu dengan alam semesta (lingkungan). Nilai karakter religius ditunjukkan dalam perilaku mencintai dan menjaga
keutuhan ciptaan. Subnilai religius: cinta damai, toleransi, menghargai perbedaan agama, teguh pendirian, percaya diri, kerja sama lintas agama, anti-bullying dan kekerasan, persahabatan, ketulusan, tidak memaksakan kehendak, melindungi yang kecil dan tersisih.
Nilai karakter nasionalis merupakan cara berpikir, bersikap, dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik bangsa, menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya. Subnilai nasionalis:
apresiasi budaya bangsa sendiri, menjaga kekayaan budaya bangsa, rela berkorban, unggul dan berprestasi, cinta tanah air, menjaga lingkungan, taat hukum, disiplin, menghormati keragaman budaya, suku dan agama. Nilai karakter mandiri merupakan sikap dan perilaku tidak bergantung pada orang lain dan mempergunakan segala tenaga, pikiran, waktu untuk merealisasikan harapan, mimpi dan cita-cita. Subnilai kemandirian:
etos erja (kerja keras), tangguh, tahan banting, daya juang, profesional, kreatif, keberanian, dan menjadi pembelajar sepanjang hayat.
Nilai karakter gotong royong mencerminkan tindakan menghargai semangat kerja sama dan bahu membahu, menyelesaikan persoalan bersama, memperlihatkan rasa senang berbicara, bergaul, bersahabat dengan orang lain, dan memberi bantuan pada mereka yang kurang beruntung dari segi ekonomi , tersingkir, dan membutuhkan pertolongan.
Subnilai gotong royong: menghargai, kerja sama, Inklusif, komitmen atas keputusan bersama, musyawarah mufakat, tolong menolong, solidaritas, empati, anti deskrimInasi, anti kekerasan, sikap kerelawanan.
Nilai karakter Integritas merupakan nilai yang mendasari perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tIndakan , dan pekerjaan, memiliki komitmen dan kesetiaan pada nilai-nilai kesetiaan dan moral (Integritas moral). Karakter Integritas meliputi sikap tanggung jawab sebagai warga negara, aktif terlibat dalam kehidupan sosial, melalui konsistensi tIndakan dan perkataan yang berdasarkan kebenaran. Sub nilai integritas: kejujuran, cInta pada kebenaran, setia, komitmen moral, anti korupsi, keadilan, tanggung jawab, keteladanan, menghargai martabat Individu (tanpa diskrimInasi dan menghargai perbedaan Individu).
Implementasi nilai-nilai PPK dan PIPKA pada modul ini diharapkan dapat menjadi inspirasi untuk menghalau radikalisme, terorisme, vandalisme, penyalahgunaan obat terlarang, dan perilaku hidup bebas sehingga dapat merajut kehidupan damai dan
sejahtera dalam bingkai NKRI. Urgensi pokok permasalahan ini dapat dijelaskan pada bagian berikut ini.
Sebagai bangsa yang besar NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) merupakan suatu Negara kepulauan yang terdiri dari ribuan pulau dan diapit oleh dua samudra dan dua benua, didiami oleh ratusan juta penduduk, memiliki iklim tropis, memiliki keanekaragaman budaya dan adat istiadat agama dan keyakinan yang berlainan satu sama lain bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Keseluruhannya tercemin dalam satu ikatan kesatuan lambang negara yaitu Bhinneka Tunggal Ika. Pada dasarnya keberagaman masyarakat Indonesia menjadi modal dasar dalam pembangunan bangsa.
Oleh karena itu, sangat diperlukan rasa persatuan dan kesatuan yang tertanam di setiap warga negara Indonesia. Pembentukan sikap nasionalis terhadap bangsa yang besar perlu dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari sebagai generasi penerus bangsa Indonesia.
Namun demikian, dalam kenyataanya masih ada konflik yang terjadi dengan mengatasnamakan suku, agama, ras atau antar golongan tertentu. Hal ini menunjukkan bahwa sikap nasionalis bangsa yang ada seharusnya bisa menjadi modal bagi bangsa ini untuk menjadi bangsa yang kuat. Untuk mendukungnya, diperlukan rasa persatuan yang kokoh dan kuat. Persatuan bangsa merupakan syarat yang mutlak bagi kejayaan Indonesia. Jika masyarakatnya tidak bersatu dan selalu memprioritaskan kepentingannya sendiri, maka cita-cita Indonesia yang terdapat dalam sila ketiga Pancasila yaitu Persatuan Bangsa akan hanya menjadi mimpi yang tak akan pernah terwujud. Sehingga semboyan “Bhinneka Tunggal Ika” yang berarti berbeda-beda tetapi tetap satu, hanya sebatas slogan. Komitmen seluruh unsur negara menentukan sikap yang persisten untuk kesatuan bangsa perlu ditindaklanjuti di berbagai tingkat masyarakat. Keberagaman dalam berbagai aspek (adat, budaya, agama, bahasa) merupakan kondisi yang dapat membentuk masyarakat Indonesia yang memiliki toleransi dan rasa saling menghargai untuk menjaga perbedaan tersebut. Untuk itu perlu nilai komitmen persatuan bangsa Indonesia dalam keberagaman nasional.
Kata kata bijak mengatakan: "Bila anda ingin memperbaiki dunia, mulailah terlebih dulu dengan diri sendiri." Walaupun terkesan kuno, tetapi tetap berlaku untuk kita simak dan diterapkan dalam perjalanan hidup. Kita semuanya berharap Indonesia bisa berubah menjadi lebih baik dalam segala hal. Menjadi lebih baik dalam pendidikan anak bangsa, kesehatan masyarakat, perekonomian, sandang pangan, keamanan, kesejahteraan, dan seterusnya. Salah satunya adalah agar tercipta keharmonisan, kedamaian dan
ketenangan dalam hidup keberagaman antar berbagai suku bangsa yang ada di tanah air kita tercinta.
Perbuatan-perbuatan negatif yang dapat merusak keutuhan suatu bangsa perlu dihindari sedini mungkin, seperti radikalisme, vandalisme dan penyalahgunaan obat terlarang narkoba serta kehidupan bebas melalui penguatan nilai-nilai luhur Pancasila. Untuk mencegah lahirnya radikalisme maka perlunya penguatan pada cara pandang pendidikan agama dan budi pekerti yang berlaku di Indonesia yang lebih berorientasi pada hukum yang kaku dan eksklusif tetapi lebih pada cinta yang moderat dan inklusif. Oleh karena itu, pembelajaran Pendidikan Agama dan Budi Pekerti dan Pendidikan Pancasila harus dilakukan secara berkesinambungan untuk menangkis masuk dan berkembangnya paham radikalisme di Indonesia terutama pada generasi muda.
Generasi muda adalah tulang punggung bangsa, yang diharapkan di masa depan mampu meneruskan tongkat estafet kepemimpinan bangsa ini agar lebih baik. Dalam mempersiapkan generasi muda juga sangat tergantung kepada kesiapan masyarakat yakni dengan keberadaan budayanya. Termasuk di dalamnya tentang pentingnya memberikan filter tentang perilaku-perilaku yang negatif, yang antara lain; minuman keras, mengkonsumsi obat terlarang, pergaulan bebas, dan lain-lain yang dapat menyebabkan terjangkitnya penyakit HIV/AIDS. Generasi muda saat ini harus diselamatkan dari era globalisasi karena banyak pengaruh luar yang masuk dan tidak sesuai dengan kebudayaan luhur bangsa Indonesia, seperti memandang orang lain lebih rendah, individualis, dan mementingkan sekelompok golongan yang merasa paling benar.
Penyalahgunaan obat terlarang selalu menjerat generasi muda untuk menjadi adiktif/kecanduan. Para pengedar dan pembuat barang-barang terlarang tersebut akan melakukan berbagai promosi bujuk rayu menjebak orang-orang yang lemah iman dan tidak memiliki akal sehat untuk menjadi budak obat-obat terlarang. Oleh karena itu, generasi muda perlu dibekali pengetahuan tentang obat-obat terlarang dan segala akibatnya. Pergaulan yang salah dapat menyebabkan generasi muda terperosok ke dalam jurang kesesatan. Penguatan nilai religius melalui penguatan iman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa melalui kesadaran bahwa penggunaan narkoba itu dosa karena hanya menyakiti dan merusak tubuh dan pikiran manusia. Penggunaan narkoba juga menjauhkan kita dari agama yang kita anut dan merusak fungsi tubuh.
Pembentukan karakter generasi penerus bangsa perlu dimulai sejak dini melalui perbuatan-perbuatan kebajikan sesuai dengan nilai-nilai luhur bangsa yang ada dalam nilai-nilai Pancasila. Melalui Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) diharapkan generasi penerus bangsa yang besar ini dapat merajut kedamaian dalam bingkai negara kesatuan
Republik Indonesia dan terlepas dari sisi negatif dampak globalisme yang dapat merusak peradaban bangsa dan negara melalui perbuatan-perbuatan radikalisme bangsa, vandalisme, penyalahgunaan obat-obatan terlarang serta kehidupan bebas di abad super modern ini.
Penanaman lima nilai utama melalui enam tahapan yaitu diajarkan, dibiasakan, dilatihkan secara konsisten, menjadi kebiasaan, menjadi karakter dan akhirnya menjadi budaya.
Dengan berbekal pemahaman isi modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan Pengawas Sekolah yang terintegrasi dengan lima nilai penguatan pendidikan karakter, diharapkan dapat meningkatkan kompetensi pengawas SD dalam melakukan pemantauan pelaksanaan pemenuhan Standar Nasional Pendidikan (SNP), sehingga akan menjadi pengawas sekolah yang profesional dan berkarakter dalam melaksanakan tugas pengawasan di sekolah.
Modul ini dilaksanakan melalui tiga tahap pembelajaran yaitu
1. In Service Learning 1(In 1), Pada tahap kegiatan In 1, Saudara bersama dengan pengawas sekolah laIn akan dipandu oleh fasilitator untuk menyiapkan dasar pengetahuan dan pengalaman Saudara sebagai bahan untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran di sekolah binaan saat kegiatan On.
2. On The Job Learning (On), Pada tahap On Saudara melaksanakan kegiatan di tempat kerja Saudara.
3. In Service Learning 2 (In 2).. Pada tahap In 2 Saudara bersama pengawas sekolah laIn melaporkan tagihan dan mempresentasikan berbagai temuan, tantangan, kendala yang Saudara hadapi, serta solusi yang Saudara lakukan pada saat On The Job Learning.
B. Target Kompetensi
Memantau pelaksanaan Standar Nasional Pendidikan dalam Peningkatan Mutu Pendidikan dan memanfaatkan hasil-hasilnya untuk membantu kepala sekolah dalam mempersiapkan akreditasi sekolah.
C. Tujuan Pembelajaran
Setelah mempelajari modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan Pengawas Sekolah, Saudara diharapkan mampu:
1. Menyusun instrumen pemantauan pelaksanaan pemenuhan SNP di sekolah dengan mengintegrasikan nilai-nilai religius, nasionalis, mandiri, gotong royong, dan integritas.
2. Melakukan pemantauan pelaksanaan pemenuhan SNP di sekolah dengan mengintegrasikan lima nilai utama.
3. Mengolah dan menyusun laporan hasil pelaksanaan pemenuhan SNP di sekolah dengan mengintegrasikan nilai-nilai religius, nasionalis, mandiri, gotong royong, dan integritas.
4. Menyusun rekomendasi hasil pemantauan untuk penyusunan program sekolah dalam upaya pemenuhan SNP dengan mengintegrasikan lima nilai utama pendidikan karakter.
D. Peta Kompetensi Pengawas Sekolah
Regulasi yang dijadikan rujukan dalam pemetaan kompetensi modul pengembangan keprofesian berkelanjutan pengawas sekolah ini yaitu Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 12 Tahun 2007 tentang Standar Pengawas Sekolah.
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 12 Tahun 2007
Tentang Standar Pengawas Sekolah
Dimensi Manajerial
Memantau pelaksanaan Standar Nasional Pendidikan dan memanfaatkan hasil-hasilnya untuk membantu
kepala sekolah dalam mempersiapkan akreditasi sekolah
2.8.1 Menyusun Instrumen pemantauan pelaksanaan pemenuhan 8 Standar Nasional Pendidikan di sekolah
dengan mengintegrasikan nilai-nilai karakter
2.8.2.Melakukan pemantauan pelaksanaan pemenuhan 8 SNP di sekolah dengan
mengintegrasikan nilai-nilai karakter
2.8.4 Menyusun rekomendasi hasil pemantauan untuk penyususan program sekolah dalam upaya pemenuhan 8 SNP dengan mengintegrasikan nilai-nilai
karakter
2.8.3.Mengolah dan menyusun laporan pemantauan pelaksanaan pemenuhan 8 Standar Nasional Pendidikan di sekolah dengan mengintegrasikan nilai-nilai karakter
PEMANTAUAN PELAKSANAAN PEMENUHAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
Gambar 2. Peta Kompetensi Modul Pelaksanaan Pemenuhan SNP
E. Ruang Lingkup dan Pengorganisasian
1. Ruang Lingkup
Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan Pengawas Ini membahas tentang penyusunan instrumen, pelaksanaan, pelaporan, dan penyusunan rekomendasi hasil pemantauan pelaksanaan pemenuhan Standar Nasional Pendidikan yang terintegrasi dengan lima nilai utama Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) dan Pendidikan Inklusi, Perlindungan dan Kesejahteraan Anak (PIPKA).
2. Pengorganisasian Pembelajaran
a. Kegiatan Pembelajaran dan Alokasi Waktu
Kegiatan In 1, On, dan In 2 pada modul Ini akan Saudara lakukan secara bertahap dan berkelanjutan. Pada tahap In 1, Saudara akan melakukan simulasi menyusun
Instrumen Pemantauan Pelaksanaan Pemenuhan SNP, simulasi memantau Pelaksanaan Pemenuhan SNP, simulasi mengolah dan menyusun Laporan Hasil Evaluasi Pemantauan Pelaksanaan Pemenuhan SNP, dan simulasi menyusun rekomendasi pemenuhan SNP.
Pada tahap On, saudara akan menyusun Instrumen pemantauan pelaksanaan pemenuhan SNP, melakukan pemantauan pelaksanaan pemenuhan SNP, mengolah dan menyusun laporan hasil pemantauan pelaksanaan pemenuhan Standar nasional Pendidikan, dan menyusun rekomendasi, serta mendokumentasikan bukti pelaksanaan kegiatan.
Pada tahap In 2 Saudara mengumpulkan dokumen portofolio hasil On serta melakukan presentasi dan diskusi. Selanjutnya Saudara menyusun rencana tIndak lanjut pasca In 2
Kegiatan pembelajaran dan alokasi waktu terinci seperti Tabel 1 di bawah Ini.
Tabel 1. Kegiatan Pembelajaran dan Alokasi Waktu
No Kegiatan Pembelajaran Alokasi Waktu
In 1 On In 2 1 Menyusun instrumen Pemantauan
Pelaksanaan Pemenuhan Standar Nasional Pendidikan
Nilai karakter yang terintegrasi; Religius, Nasionalis, Mandiri, Gotong Royong, dan Integritas.
5 JP 3JP 2JP
2 Memantau Pelaksanaan Pemenuhan Standar Nasional Pendidikan.
Nilai karakter yang terintegrasi; Religius, Nasionalis, Mandiri, Gotong Royong, dan Integritas.
7 JP 10JP 2JP
3 Mengolah dan Penyusunan Laporan Hasil Evaluasi Pemantauan Pelaksanaan Pemenuhan Standar Nasional Pendidikan.
Nilai karakter yang terintegrasi; Religius, Nasionalis, Mandiri, Gotong Royong, dan integritas.
8 JP 5JP 2 JP
4 Menyusun Rekomendasi Pemenuhan Standar Nasional Pendidikan.
Nilai karakter yang terintegrasi; Religius, Nasionalis, Mandiri, Gotong Royong, dan integritas.
7 JP 2JP 2 JP
5 Menyusun Rencana Tindak LAnjut 1 JP -
Jumlah 28 JP 20JP 8 P
b. Strategi Pembelajaran
Kegiatan pembelajaran modul pemantauan pelaksanaan pemenuhan SNP menggunakan berbagai strategi yang ditunjukan pada Tabel 2.
Tabel 2. Strategi Pembelajaran.
No Strategi Pembelajaran In-1 On In-2
1 Refleksi V V
2 Curah Pendapat V
3 Diskusi V V
4 Simulasi V
5 Tugas Mandiri V V
6 Praktik V
7 Presentasi V V
F. Penilaian
Aspek penilaian dalam program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan dengan moda Tatap Muka In 1, On, In 2 adalah sebagai berikut.
1. Nilai Sikap (NS)
Penilaian aspek sikap untuk mengetahui sikap peserta pada unsur kerjasama, disiplin, tanggungjawab, dan keaktifan. Sikap-sikap tersebut dapat diamati pada saat menerima materi, melaksanakan tugas individu dan kelompok, mengemukakan pendapat dan bertanya jawab, serta saat berinteraksi dengan narasumber dan peserta lainnya.
Penilaian sikap dilakukan sejak awal sampai akhir kegiatan baik In 1 maupun In 2 secara terus menerus yang dilakukan oleh narasumber untuk setiap materi. Namun, penetapan nilai akhir aspek sikap dilakukan pada akhir kegiatan. Penilaian aspek sikap sebagaimana unsur yang ditetapkan di atas merupakan kesimpulan narasumber terhadap sikap peserta. Hasil penilaian sikap dituangkan dalam format Lembar Penilaian Sikap diserahkan kepada kepada operator Sistem Informasi Manajemen (SIM).
2. Nilai Keterampilan (NK)
Penilaian keterampilan bertujuan mengetahui perubahan keterampilan peserta setelah melalui proses pembelajaran In 1, On dan In 2. Penilaian keterampilan menggunakan pendekatan penilaian autentik mencakup tes dan non tes berupa penyelesaian tugas pengisiaan LK, portofolio, laporan On, dan presentasi hasil On.
Penilaian aspek keterampilan tidak hanya dilakukan pada saat pembelajaran
berlangsung, namun juga melalui kumpulan portofolio hasil penugasan individu dan/atau kelompok. Komponen penilaian terhadap aspek keterampilan khususnya portofolio hasil On yakni Kelengkapan (semua tagihan terpenuhi), Keaslian (dibuat sendiri, tidak ada indikasi meniru milik/dikerjakan orang lain), Kualitas (kebenaran isi sesuai kriteria/rubrik). Hasil penilaian aspek keterampilan dituangkan dalam format Lembar Penilaian Keterampilan pada In 1 dan In 2 diserahkan kepada operator SIM.
3. Nilai Pengetahuan (NP)
Penilaian aspek pengetahuan disebut dengan Tes Akhir dilakukan oleh peserta di akhir kegiatan pelatihan program PKB moda Tatap Mukauntuk kegiatan In 1, On, In 2.
Peserta tes akhir adalah peserta yang telah mengikuti pelatihan PKB secara tuntas untuk seluruh kegiatan pembelajaran dan dinyatakan layak berdasarkan kriteria yang ditetapkan. Pelaksanaan tes akhir dilakukan secara Daring di TUK (Tempat Uji Kompetensi) yang telah ditentukan. Nilai tes akhir akan menjadi nilai UKPS tahun 2017 dan digunakan sebagai salah satu komponen nilai akhir peserta.
Selanjutnya, Nilai Akhir (NA) peserta pelatihan PKB moda tatap muka In 1, On, In 2 diperoleh dengan formula sebagai berikut :
Keterangan : NA = Nilai Akhir NS = Nilai Sikap
NK = Nilai Keterampilan NP = Nilai Pengetahuan
4. Kriteria Kelulusan Peserta Tabel 3. Kriteria Kelulusan
Skor Keterangan Predikat
95 – 100 Sangat Baik A
85 - 94 Baik B
70 - 84 Cukup C
51 – 69 Kurang D
≤ 50 Sangat Kurang E
Sertifikat dan Surat Keterangan bagi Peserta Pelatihan Program PKB PS
Peserta program PKB PS yang memperoleh Nilai Akhir ≥70 diberikan Sertifikat.
Sedangkan peserta yang memiliki Nilai Akhir <70 hanya menerima surat keterangan keikutsertaan dalam pelatihan.
NA = [{(NS x40%)+(NK x60%)}x60%] + [NPx 40%]
BAGIAN II
KEGIATAN PEMBELAJARAN
TAHAP IN SERVICE LEARNING 1 (In 1)
Pengantar
Pada Tahap In 1, Saudara bersama dengan pengawas sekolah lain untuk mempelajari penyusunan instrumen yang meliputi konsep, menganalisis Instrumen dan membuat instrumen yang akan digunakan untuk On the Job Learning (On). Pemantauan Pelaksanaan Pemenuhan SNP di Sekolah.
Dalam kegiatan ini, Pengawas menggunakan Instrumen untuk mensimulasikan pemantauan pelaksanaan pemenuhan SNP di sekolah binaan. Pengawas sekolah dibekali cara menggunakan instrument yang ada dan mensimulasikan visitasi/observasi ke sekolah sebagai bentuk pemantauan. (mencatat data kuantitatif/kualitatif yang diperlukan sebagai rekam kegiatan pemantauan). Simulasi evaluasi hasil Pemantauan Pelaksanaan Pemenuhan SNP.
Melakukan agregasi data yang digunakan dalam laporan sebagai bahan penyusunan rekomendasi. (menyusun Peta Mutu). Latihan menyusun laporan dan rekomendasi.
Berdasarkan data yang diperoleh saat pemantauan/peta mutu SNP, Pengawas sekolah menyusun rekomendasi. Pada akhir pembelajaran In Service Learning 1, pengawas SD menyusun Rencana Tindak Lanjut /Rencana Kegiatan On the Job Learning (On) 20 JP.
Kegiatan Pembelajaran 1: Menyusun Instrumen Pemantauan Pelaksanaan Pemenuhan SNP (5 JP)
A. Tujuan Pembelajaran
Setelah menyelesaikan kegiatan pembelajaran 1, Saudara diharapkan mampu menyusun instrumen pemantauan pelaksanaan pemenuhan SNP di sekolah dengan mengintegrasikan nilai-nilai relijius, nasionalis, mandiri, gotong royong, dan integritas.
B. Indikator Pencapaian Tujuan
Setelah menyelesaikan kegiatan pembelajaran 1, Saudara diharapkan mampu:
1. Menjelaskan konsep instrumen pemantauan pelaksanaan pemenuhan SNP dengan teliti dan percaya diri.
2. Menjelaskan uji validitas dan reliabilitas instrumen pemantauan pelaksanaan pemenuhan SNP dengan percaya diri.
3. Menjelaskan langkah-langkah penyusunan instrumen pemantauan pelaksanaan pemenuhan SNP.
4. Menyusun instrumen pemantauan pelaksanaan pemenuhan SNP dengan teliti.
C. Uraian Materi
Pemantauan pelaksanaan pemenuhan SNP untuk memastikan keterlaksanakan SNP di sekolah. Dalam pemantauan SNP diperlukan Instrumen yang valid dan reliabel.
Pengawas sekolah dapat menyusun sendiri instrumen pemantauan atau menyadur instrumen pemantauan yang sudah ada. Untuk menghasilkan instrumen pemantauan yang berkualitas terdapat beberapa tahapan-tahapan penyusunan yang harus dilaksanakan.
1. Instrumen Pemantauan Pelaksanaan Pemenuhan Standar Nasional Pendidikan Instrumen pemantauan pelaksanaan pemenuhan SNP dapat diartikan sebagai alat yang digunakan untuk mengumpulkan data pelaksanaan kegiatan, mengidentifikasi, dan atau mengukur pengaruh dari kegiatan pemenuhan Standar Nasional Pendidikan.
Penyusunan instrumen pemantauan pelaksanaan pemenuhan SNP sangat tergantung pada tujuan yang akan dicapai dan langkah-langkah pemantauan yang akan dilakukan.Semakin baik instrumen yang disusun, maka akan semakin valid data pengawasan sekolah yang terkumpul. Melalui instrumen pemantauan pelaksanaan pemenuhan SNP akan terdeteksi standar mana yang masih perlu mendapat perhatian lebih lanjut. Indikator pencapaian dalam setiap standar dirumuskan berdasarkan regulasi yang berlaku.
2. Validitas dan Realibilitas Instrumen
Instrumen yang baik harus memenuhi dua syarat pengujian yaitu uji validitas dan uji reliabilitas. Uji validitas instrumen dimaksudkan sebagai upaya untuk mengetahui apakah Instrumen yang telah disusun tepat sebagai alat pengumpul data atau tidak.
Dalam konteks Pemantauan Pemenuhan SNP, instrumen hendaknya sesuai dengan regulasi yang berlaku. Validitas Instrumen setidaknya dapat dikelompokkan ke dalam empat jenis seperti berikut.
a. Construct Validity
Construct validity, menunjuk kepada asumsi bahwa alat ukur yang dipakai mengandung satu definisi operasional yang tepat, dari suatu konsep teoritis.
b. Content Validity
Content validity (validitas isi) menunjuk kepada suatu Instrumen yang memiliki kesesuaian isi dalam mengungkap atau mengukur yang akan diukur.
c. Face Validity
Face validity (validitas lahir atau validitas tampang) menunjuk dua arti berikuti:
Menyangkut pengukuran atribut yang konkret.
Menyangkut penilaian dari para ahli maupun konsumen alat ukur tersebut.
d. Predictive Validity
Predictive validity menunjuk kepada Instrumen peramalan. Meramal sudah menunjukkan bahwa kriteria penilaian berada pada saat yang akan datang, atau kemudian.
Reliabilitas lebih mudah dimengerti dengan memperhatikan tiga aspek dari suatu alat ukur (Instrumen), yaitu (1) kemantapan; (2) ketepatan, dan (3) homogenitas. Suatu Instrumen dikatakan mantap apabila dalam mengukur sesuatu berulang kali menghasilkan hal yang sama.
Kemantapan mengandung makna instrumen dapat diandalkan. Ketepatan menunjuk kepada instrumen yang tepat atau benar mengukur dari sesuatu yang diukur.
Instrumen yang tepat adalah instrumen yang memiliki pernyataan jelas, mudah dimengerti, dan rinci. Pernyataan yang tepat, menjamin interpretasi tetap sama dari responden yang lain, dan dari waktu yang satu ke waktu yang lain. Homogenitas adalah instrumen yang mempunyai kaitan erat satu sama lain dalam unsur-unsur dasarnya.
3. Penyusunan Instrumen Pemantauan Pelaksanaan Pemenuhan Standar Nasional Pendidikan
Terdapat dua cara dalam mengembangkan instrumen pemantauan yang dapat dilakukan oleh pengawas sekolah yaitu: mengembangkan sendiri dan mengadaptasi Instrumen pemantauan yang sudah ada.
Tahapan langkah penyusunan Instrumen sebagai berikut.
a. Menentukan masalah pemantauan (bidang yang akan dipantau) b. Menentukan variabel (yang dipantau)
c. Menentukan Instrumen yang akan digunakan d. Menjabarkan bangun setiap variabel
e. Menyusun kisi-kisi.
f. Penulisan butir-butir Insrtrumen
g. Mengkaji ulang Instrumen tersebut yang dilakukan oleh peneliti (pengawas) sendiri dan oleh ahli (melalui judgement)
h. Penyusunan perangkat Instrumen sementara
i. Melakukan uji coba dengan tujuan untuk mengetahui: (a) apakah instrumen itu dapat diadministrasikan; (b) apakah setiap butir Instrumen itu dapat dipahami oleh subjek penelitian (pemantauan); (c) mengetahui validitas; dan (d) mengetahui reliabilitas
j. Perbaikan instrumen sesuai hasil uji coba
k. Penataan kembali perangkat instrumen yang terpakai untuk memperoleh data yang akan digunakan
Bila pengawas sekolah ingin mengembangkan instrumen dengan prosedur adaptasi (menyadur), maka langkah-langkah yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut.
a. Penelaahan instrumen asli dengan mempelajari panduan umum (manual) Instrumen dan butir-butir Instrumen. Hal itu dilakukan untuk memahami (a) bangun variabel; (b) kisi-kisInya; (c) butir-butirnya; (d) cara penafsiran jawaban.
b. Penerjemahan setiap butir Instrumen ke dalam bahasa Indonesia. Penerjemahan dilakukan oleh dua orang secara terpisah.
c. Memadukan kedua hasil terjemahan oleh keduanya.
d. Penerjemahan kembali ke dalam bahasa aslinya. Hal Ini dilakukan untuk mengetahui kebenaran penerjemahan tadi.
e. Perbaikan butir instrumen bila diperlukan.
f. Uji pemahaman subjek terhadap butir instrumen.
g. Uji validitas Instrumen.
h. Uji reliabilitas Instrumen.
Pemilihan Instrumen pemantauan pelaksanaan pemenuhan Standar Nasional Pendidikan harus didasarkanpada rambu-rambu yang tepat. Oleh sebab itu, jenis Instrumen yang dipilih harus benar-benar sesuai untuk mengumpulkan data pemantauan pelaksanaan pemenuhan Standar Nasional Pendidikan secara tepat.
Adapun rambu-rambu yang dapat digunakan sebagai acuan dalam pemilihan Instrumen pengumpulan data pemantauan pelaksanaan pemenuhan Standar Nasional Pendidikan di sekolah dapat dilihat pada tabel di bawah Ini (Arikunto, 1988).
Tabel 4. Rambu–Rambu Pemilihan Instrumen.
No Metode Instrumen Data
1 Angket Angket a. Pendapat responden
b. Keadaan diri sendiri atau keadaan luardiri
No Metode Instrumen Data
c. Kejadian yang sudah lampau atau terus menerus Skala sikap Sikap diri responden
2 Wawancara (Interviu)
Pedoman wawancara
a. Pendapat responden
b. Keadaan diri sendiri atau keadaan luardiri c. Kejadian yang sudah lampau atau terus menerus 3 Pengamatan
(observasi)
Check list a. Keadaan (diam), banyak aspek, sudah diketahui jenis objeknya, tidak memerlukan penjelasan.
b. Kejadian (berproses), banyak aspek sudah diduga pemunculannya, tidak memerlukan penjelasan urutan.
Pedoman pengamatan
a. Keadaan atau kejadian yang baru diketahui kerangka garis besarnya.
b. Keadaan atau kejadian yang garis besar latarnya diketahui
4 Dokumentasi Check list Keadaan atau kejadian bagi hal-hal masa lalu 5 Tes Soal tes Prestasi belajar,minat, aspek-aspek keprbadian,
serta aspek-aspek psikologis yang lain, yang dikumpulkan dalam kondisi tertentu.
Pemilihan instrumen pemantauan pelaksanaan pemenuhan Standar Nasional Pendidikan harus didasarkan pada rambu-rambu yang tepat. Oleh sebab itu, jenis instrumen yang dipilih harus benar-benar sesuai untuk mengumpulkan data pemantauan pelaksanaan pemenuhan Standar Nasional Pendidikan secara tepat.
Instrumen pemantauan tidak harus membidik per Standar, misalnya untuk memperoleh data pemenuhan Standar Isi dan Standar Proses, maka instrumen yang dipakai dapat berupa instrumen pengamatan.
Jika data pencapaian standar sudah tersedia misalnya dari hasil Evaluasi Diri Sekolah, maka pengawas sekolah dapat memanfaatkan data tersebut dengan membuat tabel Rekapitulasi Pencapaian SNP. Data pelaksanaan Pemenuhan SNP dapat diperoleh dari hasil Supervisi Akademik dan Supervisi Manajerial
4. Lingkup Standar Nasional Pendidikan
Standar Nasional Pendidikan terdiri atas Standar Kompetensi Lulusan (SKL), Standar Isi, Standar Proses, Standar Penilaian, Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan, Standar Pembiayaan, Standar Sarana dan Prasarana, dan Standar Pengelolaan yang menjadi acuan peyelenggaraan pendidikan di sekolah yang harus dilaksanakan secara berencana dan berkala.
Indikator dari masing-masing SNP seperti gambar berikut:
Gambar 3. Indikator mutu sesuai SNP
Sebelum menyusun instrumen dan melakukan pemantauan, perlu diingat kembali bahwa pemantauan yang dilakukan oleh Pengawas Sekolah pada hakekatnya untuk memastikan keterlaksaan pemenuhan SNP di Sekolah Dasar. Sekolah menjalankan siklus Sistem Penjaminan Mutu Internal dengan gambaran berikut Ini:
INDIKATOR MUTU SESUAI STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
Standar Kompetensi Lulusan 1. Beriman, berakhlak
mulia, percaya diri, dan bertanggung jawab.
2. Memiliki pengetahuan factual, konseptual dan procedural serta metakognitif tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni dan budaya dalam wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban
3. Memiliki kemampuan piker dan tindak yang produktif dan kreatif dalam ranah abstrak dan konkret
Standar Penilaian
1. Proses penilaian sahih, objektif, terbuka, otentik, sistematis, akuntabel, dan edukatif 2. Satuan
Pendidikan menerapkan penilaian otentik 3. Bentuk
dokumen penilaian sesuai dengan aturan yang berlaku
Standar Proses
1. Mendorong peserta didik mencari tahu
2. Berbasis aneka sumber belajar
3. Pengutan penggunaan pendekatan ilmiah 4. Berbasis kompetensi 5. Terpadu lintas disiplin 6. Kebenaran multi dimensi 7. Menuju keterampilan
aplikatif
8. Keseimbangan antara softskill dengan hardskill 9. Mengutamakan
pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik
10. Menerapkan nilai dengan keteladanan, membangun kemauan dan
mengembangkan kreativitas
11. Berlangsung di rumah, di sekolah dan di masyarakat 12. Semua pendidik sekaligus
peserta didik 13. Memanfaatkan TIK 14. Mengakui perbedaan
individu Standar Isi
1. Muatan sesuai dengan rancangan kurikulum nasional 2. Mengembangkan
berbagai sikap, pengetahuan, dan keterampilan 3. Kurikulum Tingkat
Satuan Pendidikan (KTSP) sesuai dengan kurikulum nasional.
Standar PTK 1. Jumlah dan
kualifikasi Pendidikan sesuai standar 2. Kualifikasi
kepala satuan Pendidikan sesuai standar 3. Tenaga
kependidikan tersedia sesuai standar 4. Kompetensi
PTK sesuai Standar
Standar Sarana dan Prasarana 1. Kapasitas dan
daya tampung satuan pendidikan sesuai dengan standar 2. Jumlah dan
kondisi sarana dan prasarana Pendidikan sesuai standar
Standar Pengelolaan 1. Perencanaan sesuai
standard an melibatkan pemangku kepentingan 2. Pelaksanaan sesuai
standard an melibatkan pemangku kepentingan 3. Pengawasan dan
evaluasi terhadap pelaksanaan program secara berkala 4. PTK berkinerja baik 5. Memanfaatkan dan mengelola sIstem informasi
Standar Pembiayaan
1. Tidak memungut biaya dari peserta didik
2. Biaya operasional non personil minimal
3. Pengelolaan dana dilakukan secara transparan dan akuntabel
Visi-Misi
Kebijakan Sekolah Kebijakan, Pemerintah, Kurikulum, SNP, dll.
Quality Review
Dokumen Evaluasi Diri
Dokumen Perencanaan, Pengembangan sekolah
dan Rencana Aksi
Output:Capaian Kualitas Sekolah Sesuai 8 SNP Laporan Hasil Evaluasi
Pemenuan 8 SNP Implementasi dari
Rencana aksi
Perencanaan
Implementasi
Monitoring Evaluasi
Gambar 4. Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan Terintegrasi
Pengawas sekolah melakukan pemantauan pelaksanaan pemenuhan SNP sehingga memiliki peta mutu sekolah binaannya. Berdasarkan peta mutu tersebut, pengawas sekolah menyusun rekomendasi yang digunakan sebagai pijakan pengambilan keputusan peningkatan mutu sekolah. Pemantauan dilakukan setiap tahun direncanakan dalam Program Pengawasan. Hal tersebut sejalan dengan Permendikbud No. 28 Tahun 2016 tentang Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan Dasar dan Menengah, pasal 6 butir (d) disebutkan bahwa dalam siklus Penjaminan Mutu Pendidikan salah satu kegiatannya adalah “memonitoring dan mengevaluasi terhadap proses pelaksanaan pemenuhan mutu…”
Elemen Perubahan terkait implementasi Kurikulum 2013 yaitu Standar Nasional Pendidikan pada jenjang Sekolah Dasar meliputi Standar kompetensi Lulusan, Standar Isi, Standar Proses, dan Standar Penilaian. Salah satu karakteristik pada jenjang Sekolah Dasar dalam elemen tersebut adalah Pembelajaran Tematik dan Penilaian Autentik.
a. Standar Kompetensi Lulusan
Berdasarkan Permendikbud No. 20 tahun 2016 tentang Standar Kompetensi Lulusan Pendidikan Dasar dan Menengah, rincian setiap dimensi adalah sebagai berikut:
1). Dimensi Sikap
Memiliki perilaku yang mencerminkan sikap beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME, berkarakter jujurdan peduli, bertanggungjawab, pembelajar sejati sepanjang hayat dan sehat jasmani rohani sesuai dengan perkembangan anak di lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat dan lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat dan lingkungan alam sekitar, bangsa dan Negara.
2). Dimensi Pengetahuan
Memiliki pengetahuan faktual, konseptual, dab metakognitif pada tingkat dasar berkenaan dengan ilmu pengetahuan, tehnologi, seni dan budaya. Mampu mengaitkan pengetahuan di atas dalam konteks diri sendiri, keluarga, sekolah, masyarakat, dan lingkungan alam sekitar, bangsa dan Negara.
3). Dimensi Keterampilan
Memiliki keterampilan berpikir dan bertindak kreatif, produktif, kritis, mandiri, kolaboratif, kritis, mandiri, kolaboratif dan komunikatif melalui pendekatan ilmiah sesuai dengan tahap perkembangan anak relevan dengan tugas yang diberikan.
b. Standar Isi
Pelaksanaan Kurikulum Sekolah Dasar dilakukan melalui pembelajan dengan pendekatan Tematik terpadu kecuali mata pelajaran Agama dan Budi Pekerti.
Kompetensi Inti dan Tingkat Kompetensi tertuang dalam Permendikbud No. 21 tahun 2016 tentang Standar Isi Pendidikan Dasar dan Menengah. Sedangkan Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar diatur dalam Permendikbud No. 24 tahun 2016 tentang Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar. Alokasi waktu Jam Tatap muka Pembelajaran untuk SD adalah 35 menit. Beberapa hal yang harus diperhatikan pada pemenuhan Standar Isi adalah:
Guru mengembangkan perangkat pembelajaran pada Kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan.
Sekolah mengembangkan perangkat pendidikan Agama dan Budi Pekerti sesuai dengan ruang lingkup materi pembelajaran pada setiap tingkat kelas
Sekolah mengembangkan perangkat pembelajaran Tematik Terpadu sesuai dengan tingkat kompetensi dan ruang lingkup materi pada setiap tingkat kelas.
c. Standar Proses
Proses pembelajaran diamati mulai dari perencanaan, pelaksaan, sampai pada evaluasi. Desain pembelajaran (silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) disusun berdasarkan prinsip dan karakteristik pada masing- masing Tema dengan
menggunakan pendekatan scientific. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dikembangkan dari silabus untuk mengarahkan kegiatan pembelajaran peserta didik sesuai dengan Kompetensi Dasar. Dalam pendekatan Tematik Terpadu, tema yang dipilih berkenaan dengan alam dan kehidupan manusia yang dijabarkan dalam kegiatan pembelaajran yang interaktif, inspiratif, menyenangkan, aktif dan memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreatifitas, dan kemandirian.
Pada pelaksanaan pembelajaran meliputi kegiatan Pendahuluan, Inti, dan Penutup menurut Permendikbud No. 22 tahun 2016 tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah menggugah siswa agar memiliki rasa ingin tahu yang tinggi dan berpikir secara kritis. Kegiatan pembelaajaran dikemas dalam tema dilaksanakan secara menyenangkan dan membuat siswa tertantang untuk mengamati, menanya, menalar, mengasosiasi, dan mengkomunikasikan.
d. Standar Penilaian
Regulasi terkait Standar Penilaian yaitu Permendikbud No. 23 Tahun 2016 tentang Standar Penilaian Pendidikan.
Penilaian dilakukan secara Otentik dengan berdasarkan pada aspek yang dinilai yaitu
1). Penilaian Sikap
Secara umum, nilai sikap diperoleh dari hasil pengamatan. Guru mengamati siswa di setiap kegiatan pembelajaran dan memberikan catatan setiap perkembangannya. Penilaian sikap bertujuan untuk mengembangkan sikap/karakter yang baik dan membantu siswa yang belum menampakkan karakter positif. Misal, Guru menumbuhkan sikap toleransi dan sportif dalam suatu kegiatan pembelajaran, setiap kemajuan belajar dan sikap siswa dicatat dengan detail dalam lembar pengamatan. Jika pengamatan dianggap belum bisa menggambarkan sikap siswa, maka guru bisa melakukan penilaian antar teman dan jurnal.
2). Penilaian Pengetahuan
Aspek pengetahuan bisa dinilai dengan cara tes tertulis, tes lisan dan penugasan. Semuanya harus mengarah kepada Higher Order Thinking Skills 3). Penilaian Keterampilan
Penilaian bisa dilakukan melalui penilaian kinerja, Proyek, dan Portofolio.
Dalam modul Ini, Standar yang menjadi Fokus yaitu Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan, Standar Sarana dan Prasarana, Standar Pengelolaan, dan Standar Pembiayaan. Berikut Ini akan dijelaskan masing-masing SNP:
e. Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan
Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan adalah kriteria pendidikan prajabatan dan kelayakan fisik maupun mental, serta pendidikan dalam jabatan (PP 32 tahun 2013 Pasal 1, ayat 8). Pendidik adalah tenaga kependidikan yang berkualifikasi sebagai guru, dosen, konselor, pamong belajar, widyaiswara, tutor, Instruktur, fasilitator dan sebutan lain yang sesuai dengan kekhususannya, serta berpartisipasi dalam menyelenggarakan pendidikan. Sedangkan, tenaga kependidikan adalah anggota masyarakat yang mengabdikan diri dan diangkat untuk menunjang penyelenggaraan pendidikan (UU No. 20 Tahun 2003 Bab I, Pasal 1 ayat 5 dan ayat 6). Tenaga kependidikan bertugas melaksanakan administrasi, pengelolaan, pengembangan, pengawasan, dan pelayanan teknis untuk menunjang proses pendidikan pada satuan pendidikan (UU No. 20 2003, Bab XI, Pasal 39, ayat 1). Tenaga kependidikan meliputi pengelola satuan pendidikan, penilik, pamong belajar, pengawas, peneliti, pengembang, pustakawan, laboran, dan teknisi sumber belajar (UU no. 20, Tahun 2003, Penjelasan Pasal 39, ayat 1).
Di dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005, tentang Guru dan Dosen dijelaskan bahwa guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan usia dini jalur pendidikan formal,pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rokhani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Kompetensi yang harus dimiliki guru adalah kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional melalui pendidikan profesi.
Guru Sekolah Dasar (SD) memiliki kualifikasi akademik minimal Sarjana (S1) PGSD atau Diploma empat (D4) program studi yang sesuai dengan mata pelajaran yang diajarkan, diperoleh dari lembaga dan program studi yang terakreditasi. Guru Kelas berlatarbelakang PGSD/Psikologi sedangkan guru mata pelajaran (Agama, Pendidikan Jasmani, Olahraga, Kesehatan) mengajar sesuai dengan latar belakang pendidikan. Khusus untuk guru muatan lokal memiliki keahlian di bidang yang diampu.
Kompetensi adalah seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dan dikuasai oleh pendidik dalam melaksanakan tugas keprofesionalan. Kompetensi pendidik sebagai agen pembelajaran pada jenjang pendidikan dasar dan menengah serta pendidikan anak usia dini meliputi: (a) kompetensi pedagogik, (b) kompetensi kepribadian, (c) kompetensi sosial, dan (d) kompetensi profesional. Kompetensi pedagogik adalah kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik yang meliputi pemahaman terhadap peserta didik, perancangan, dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.
Kompetensi kepribadian adalah kemampuan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik, dan berakhlak mulia. Kompetensi sosial adalah kemampuan pendidik sebagai bagian dari masyarakat untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar. Kompetensi profesional adalah kemampuan penguasaan materi secara luas dan mendalam yang memungkinkannya membimbing peserta didik memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan dalam Standar Nasional Pendidikan
f. Standar Sarana dan Prasarana
Standar sarana dan prasarana adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan kriteria minimum tentang ruang belajar, tempat berolahraga, tempat beribadah, perpustakaan, laboratorium, bengkel kerja, tempat bermain, tempat berkreasi dan berekreasi, serta sumber belajar lain, yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran, termasuk penggunaan teknologi Informasi dan komunikasi. Standar sarana dan prasarana mencakup: (1) pengadaan satuan pendidikan. Pada saat membuat analisis kebutuhan sarana prasarana sekolah, sekolah harus menganalisis berdasarkan data faktual tidak mengada ngada, tidak me-markup harga dan melibatkan seluruh stakeholder sekolah. (2) kelengkapan prasarana yang terdiri dari lahan, bangunan gedung, ruang-ruang, dan Instalasi daya dan jasa yang wajib dimiliki oleh setiap satuan pendidikan, dan (3) kelengkapan sarana yang terdiri dari perabot, peralatan pendidikan, media pendidikan, buku dan sumber belajar laInnya, teknologi informasi dan komunikasi, serta perlengkapan lain yang wajib dimiliki oleh setiap satuan pendidikan.
Pasal 42 PP Nomor 19 Tahun 2005, Bab VII tentang Standar Sarana dan Prasarana Pendidikan, menyatakan: (1) Setiap satuan pendidikan wajib memiliki sarana yang meliputi perabot, peralatan pendidikan, media pendidikan, buku dan sumber belajar lainnya, bahan habis pakai, serta perlengkapan lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan, dan (2) Setiap satuan pendidikan wajib memiliki prasarana yang meliputi lahan, ruang kelas, ruang pimpinan satuan pendidikan, ruang pendidik, ruang tata usaha, ruang perpustakaan, ruang laboratorium, ruang bengkel kerja, ruang unit produksi, ruang kantin, instalasi daya dan jasa, tempat berolahraga, tempat beribadah, tempat bermain, tempat berkreasi, dan ruang/tempat lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan.
Selanjutnya, dalam pasal 43 PP Nomor 32 Tahun 2013 tentang perubahan atas PP 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan dijelaskan sebagai berikut.
(1) Standar keragaman jenis peralatan laboratorium ilmu pengetahuan alam (IPA), laboratorium bahasa, laboratorium komputer, dan peralatan pembelajaran lain pada satuan pendidikan dinyatakan dalam daftar yang berisi jenis minimal peralatan yang harus tersedia.
(2) Standar jumlah peralatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dInyatakan dalam rasio minimal jumlah peralatan per peserta didik.
(3) Standar buku perpustakaan dinyatakan dalam jumlah judul dan jenis buku di perpustakaan satuan pendidikan.
(4) Standar jumlah buku teks pelajaran di perpustakaan dinyatakan dalam rasio minimal jumlah buku teks pelajaran untuk masing-masing mata pelajaran diperpustakaan satuan pendidikan untuk setiap peserta didik.
(5) Kelayakan isi, bahasa, penyajian, dan kegrafikaan buku teks pelajaran dinilai oleh BSNP dan ditetapkan dengan Peraturan Menteri.
(5a)Dalam hal pengadaan Buku Teks Pelajaran dilakukan Pemerintah, Menteri menetapkan buku tersebut sebagai sumber utama belajar dan Pembelajaran setelah ditelaah dan/atau dinilai oleh BSNP atau tim yang dibentuk oleh Menteri.
(6) Standar sumber belajar lainnya untuk setiap satuan pendidikan dinyatakan dalam rasio jumlah sumber belajar terhadap peserta didik sesuai dengan jenis sumber belajar dan karakteristik satuan pendidikan.
Penjelasan lebih lanjut mengenai lahan sekolah, dituangkan pada pasal 44.
(1) Lahan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42 ayat (2) untuk bangunan satuan pendidikan, lahan praktek, lahan untuk prasarana penunjang, dan lahan pertamanan untuk menjadikan satuan pendidikan suatu lingkungan yang secara ekologis nyaman dan sehat.
(2) Standar lahan satuan pendidikan dinyatakan dalam rasio luas lahan per peserta didik.
(3) Standar letak lahan satuan pendidikan mempertimbangkan letak lahan satuan pendidikan di dalam klaster satuan pendidikan sejenis dan sejenjang, serta letak lahan satuan pendidikan di dalam klaster satuan pendidikan yang menjadi pengumpan masukan peserta didik.
(4) Standar letak lahan satuan pendidikan mempertimbangkan jarak tempuh maksimal yang harus dilalui oleh peserta didik untuk menjangkau satuan pendidikan tersebut.
(5) Standar letak lahan satuan pendidikan mempertimbangkan keamanan, kenyamanan, dan kesehatan lingkungan
Yang perlu diperhatikan pada lingkungan sekolah adalah:
Potensi bahaya yang mengancam kesehatan dan keselamatan jiwa
Ketersediaan akses untuk penyelamatan dalam keadaan darurat.
Pencemaran air
Kebisingan
Pencemaran udara
Dalam pasal 45, dijelaskan tentang rasio ruang kelas dengan jumlah siswa.
(1) Standar rasio luas ruang kelas per peserta didik dirumuskan oleh BSNP dan ditetapkan dengan Peraturan Menteri.
(2) Standar rasio luas bangunan per peserta didik dirumuskan oleh BSNP dan ditetapkan dengan Peraturan Menteri.
(3) Standar kualitas bangunan minimal pada satuan pendidikan dasar dan menengah adalah kelas B.
(4) Pada daerah rawan gempa bumi atau tanahnya labil, bangunan satuan pendidikan harus memenuhi ketentuan standar bangunan tahan gempa.
(5) Standar kualitas bangunan satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (3), (4), dan (5) mengacu pada ketetapan menteri yang menangani urusan pemerintahan di bidang pekerjaan umum.