PENGEMBANGAN INSTRUMEN PENILAIAN PEMBELAJARAN MEMBACA KELAS VII SMP
Nila Maulana
1Imam Agus Basuki
2Bustanul Arifin
3Universitas Negeri Malang Jalan Semarang No. 5 Malang Email: [email protected]
Abstrac: This research purpose to develop leraning instrumen assessment of reading to junior class VII a valid, reliable, and practical. The method used in the development of research method. The result of this research are instrumen assessment to learning read scan the dictionary, to leraning read 200 word perminute, to learning read the teks of the ceremony, to learning recounted children’s story, and leraning comment on a children’s book.
Key word: instruments assessment, leraning to read.
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan instrumen penilaian pembelajaran kelas VII SMP yang valid, reliabel, dan praktis.
Metode penelitian yang digunakan ialah metode penelitian pengembangan. Hasil penelitian ini ialah instrumen penilaian untuk mengukur keterampilan membaca kamus, membaca cepat, membaca teks upacara, menceritakan kembali cerita anak, dan mengomentari buku cerita anak.
Kata kunci: pengembangan instrumen penilaian, pembelajaran membaca.
Untuk mengukur keterampilan membaca siswa satu-satunya langkah yang diambil oleh guru ialah dengan mengadakan penilaian. Dengan melakukan penilaian, guru dapat mengetahui sejauh mana pengetahuan dan penguasaan siswa terhadap materi yang telah disampaikan. Seringkali dalam proses belajar mengajar aspek evaluasi hasil belajar diabaikan (Uno, 2008:92). Guru terlalu memfokuskan apa yang akan diajarkan kepada siswanya. Akibatnya proses belajar mengajar berjalan dengan baik dan rapi tetapi alat-alat penilaian yang digunakan tidak lagi melihat sasaran yang akan dinilai. Dalam praktik di sekolah, seringkali guru membuat instrumen tanpa mengikuti aturan-aturan tertentu (Arifin, 2009:68). Ada guru yang menyusun soal ulangan langsung mengambil dari buku sumber.
Dengan demikian, soal tersebut belum tentu sesuai indikator apa yang akan diukur. Sementara itu, soal yang baik adalah soal yang memiliki kualitas baik.
Soal dikatakan berkualitas baik apabila mengukur apa yang hendak diukur dan soal tersebut harus sejajar dengan sasaran belajar yang ingin dicapai (Uno, 2008:95). Bila dikaitkan dengan hasil wawancara dengan salah seorang guru mata pelajaran, maka kebiasaan buruk dalam menyusun soal tes adalah kebiasaan membuat soal secara tergesa-gesa sehingga soal dibuat apa adanya dengan mencuplik materi dari buku tanpa disadari terdapat pokok-pokok bahasan yang
1
Nila Maulana adalah mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM), Malang. Artikel ini diangkat dari Skrispsi Sarjana Pendidikan, Program Sarjana Universitas Negeri Malang, 2012.
2
Imam Agus Basuki adalah Dosen Sastra Indonesia Universitas Negeri Malang.
3