BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Tidak dapat dipungkiri bahwa jumlah orang miskin yang note bene adalah pemeluk agama Islam, baik yang ada dilingkungan persyarikatan Muhammadyah maupun yang terbesar di masyarakat masih cukup banyak.
Mereka perlu mendapatkan perhatian dari berbagai pihak tidak saja oleh pemerintah tapi juga oleh persyarikatan Muhammadiyah agar mereka memperoleh jalan keluar dari ketidakberdayaan ekonomi. Salah satu cara yang mungkin dilakukan adalah memberikan akses permodalan yang dibutuhkan mereka secara luas, mudah,dan murah.
Akses terhadap permodalan ini sangat diperlukan karena kegiatan usaha mereka tidak bankable.Mereka biasanya mengalami kesulitan untuk memperoleh fasilitas kredit dari lembaga perbankan. Hal itu, antara lain disebabkan oleh ketidakmampuan mereka untuk memenuhi persyaratan tersebut dan akan menggiring mereka dengan terpaksa mencari alternatif permodalan dari sumber-sumber informal yang relatif mudah, namun berbiaya tinggi. Dengan demikian, keuntungan yang mereka peroleh hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, sehingga peluang untuk melakukan usaha pemupukan modal nyaris tertutup. Akibatnya, mereka terjebak dalam kondisi ketidakberdayaan secara permanen.
Lembaga perbankan sendiri pada kenyataannya juga tidak dapat diandalkan untuk memenuhi kebutuhan modal golongan ekonomi lemah, karena berdasarkan pertimbangan efisiensi tidak mungkin lembaga perbankan akan membuka kantor pelayanan yang bisa menjangkau ke seluruh pelosok dimana mereka berada. Disamping itu, lembaga perbankan juga akan mengalami kesulitan dalam melayani mereka karena kecilnya skala kredit, serta jumlahnya yang sangat besar dan menyebar. Penyaluran kredit program skala kecil secara massal juga tidak bisa diandalkan sebagai model pembiayaan untuk seluruh usaha mikro dimasa depan, karena pada program tersebut volume dana yang tersalur relatif kecil dibandingkan dengan jumlah pengusaha mikro yang ada.Jenis usaha mikro yang sangat beragam dan prospek serta dinamika jenis usaha yang diprogramkan seringkali berubah lebih cepat dari perubahan kebijakan kredit yang diberlakukan , sehingga resiko kredit menjadi besar dan penguatan lembaga lokal tidak dapat diandalkan.
BTM sebagai lembaga keuangan mikro syariah yang mewakili visi sebagai lembaga tajdid dan pemberdayaan ekonomi ummat, serta mempunyai misi mewujudkan gerakan dakwah di bidang ekonomi serta mengembangkan dan memberdayakan potensi ekonomi ummat harus bertindak responsif terhadap usaha pemberdayaan golongan masyarakat yang tidak beruntung tersebut sesuai dengan kemampuan yang dimiliki BTM baik secara finansial, personal maupun manajemen.
Terwujudnya perkembangan lembaga keuangan syariah, selain karena ada kebutuhan di masyarakat juga karena berlakunya dual banking system dalam perbankan nasional. Sistem perbankan nasional telah menempatkan subsistem syariah sebagai alternatif dari subsistem konvensional, khususnya dalam pelayanan baik dalam untuk memenuhi kebutuhan (permintaan) dana maupun memanfaatkan kelebihan (penawaran) dana di masyarakat.
Sebagai suatu sistem syariah, perbadaannya terletak pada kaidah dan prinsip syariah yang digunakan sebagai landasan transaksinya. Mudahnya dalam sistem syariah tidak dikenal transaksi yang memakai dasar “perkiraan”
maupun perhitungan “bunga” (yang umunya menjadi dasar perhitungan dalam bisnis keuangan –simpan pinjam secara konvensional). Konsep bunga dalam ajaran Islam dianggap mengandung aspek (riba) yang diharamkan . dengan demikian pula di larang untuk mengaplikasikan perlakuan transaksi yang sifatnya mengandung spekulasi dan juga ketidakjelasan.
Dengan demikian, dalam konsep syariah semua aplikasi transaksi yang berkaitan atau berhubungan dan bersinggungan dengan komponen “bunga”
dihindari, dan sebagai gantinya dalam rangka memperoleh pendapatan melalui transaksi keuangan, harus dilakukan berdasarkan kesepakatan perjanjian (akad) yang umumnya bertumpu pada konsep “bagi hasil”.
Berbagai produk layanan syariah itu didefinisikan dan diatur oleh Dewan Syariah Nasional melalui sejumlah fatwanya. Aplikasinya harus didukung oleh pemahaman kedua belah pihak yang bekerja sama, dan hasilnya
diwujudkan melalui keputusan yang tercantung dalam “akad keuangan syariah”.
Dalam kelembagaannya, koperasi jasa keuangan syariah secara rasional juga dituntut untuk bertindak hati-hati (prudent), karena mereka mengemban amanah pengelolaan “milik anggotanya”, melalui penyelenggaraan berbagai upaya memanaj usahanya dengan efektif.
Mengapa harus demikian, karena mereka dapat menghadapi masalah.Sebagai dampak kondisi lingkungan yang tidak menguntungkan,Untuk itu para pengelola koperasi jasa keuangan Syariah atau Unit Jasa keuangan Syariah, perlu menyedari dan memberikan perhatian secara cukup dan cermat terhadap pola manajemen usahanya.
Pola yang harus dapat membantu mereka untuk peka dan sekaligus dapat mengarahkan pada terwujudnya prinsip kehati-hatian, itu berarti bahwa pola manajemennya harus dapat mengendalikan dan mengarahkan setiap pelaku dalam lembaga koperasi jasa keuangan syariah untuk bertindak berdasarkan prinsip dan tata aturan yang ditetapkan.
Evaluasi terhadap efektifitas pola manajemen usahanya perlu pula dilakukan dengan konsisten, karena mereka sangat tergantung pada ketepatan dan “kepekaan” keputusan dan tindakan dalam memanfaatkan berbagai peluang yang tersedia serta akad yang dibuatnya.
Koperasi Jasa Keuangan Syariah (KJKS) BTM Bligo Buaran Pekalongan yang terletak di JL. Raya Bligo No. 7 Buaran Pekalongan, memberikan pelayanan yang mudah dan proses cepat dengan menggunakan
sistem jemput bola dalam pelayanannya dan memberikan margin bagi hasil yang menarik dan kompetitif.
Berdasarkan uraian diatas, maka judul yang diambil dalam Tugas Akhir ini adalah “ANALISIS SISTEM DAN PROSEDUR PEMBIAYAAN SISTEM MURABAHAH dan IJARAH PADA KJKS BTM BLIGO”
1.2. Tujuan dan Manfaat 1.2.1. Tujuan
a. Untuk mengetahui pembiayaan yang ada di KJKS BTM Bligo b. Untuk menerapkan aplikasi ilmu yang dipelajari di bangku kuliah
dan relasinya dengan masyarakat dilapangan serta mencari titik temu antara yang didapat dari perkuliahan dengan prakteknya dilapangan.
c. Untuk mencari dan menambah pengalaman yang tidak didapat dibangku kuliah.
d. Untuk pengalaman melalui pengematan langsung dalam bentuk laporan tertulis.
e. Untuk menganalisis prosedur pembiayaan pada KJKS BTM Bligo Buaran Pekalongan.
1.2.2. Manfaat
a. Bagi Mahasiswa
1) Sebagai bahan untuk mencari data dalam penyusunan laporan.
2) Mahasiswa mengembangkan kemampuan dan daya pikirnya terutama dalam bidang akuntansi.
3) Menambah wawasan dan pengalaman mengenai lingkungan instansi khususnya dan dunia kerja pada umunya.
b. Bagi Kampus
1) Untuk mengatahui sejauh mana daya serap mahasiswa dalam mengikuti kuliah.
2) Untuk memberikan kesempatan kepada mahasiswa dalam proses kerja yang sebenarnya.
3) Untuk mengetahui kemampuan mahasiswa dalam menyelesaikan masalah-masalah yang timbul selama praktek.
c. Bagi Perusahaan
1) Sebagai perwujudan, pengabdian kepada masyarakat khususnya dalam bidang pendidikan.
2) Sebagai sarana masukan bagi perusahaan apabila diperoleh suatu kerja yang lebih efisien.
1.3. Metode Pengumpulan Data
Pengumpulan data – data yang diperlukan untuk mendukung kelancaran penyusunan Tugas Akhir adalah mutlak diperlukan dan dapat dijadikan indikator keberhasilan karya ilmiah.
Untuk mendapatkan data-data yang akurat sebagai langkah awal penulisan dan penelitian serta penyusunan data dapat dilakukan dengan berbagai cara dan metode-metode pengumpulan data dalam laporan ini adalah.
1.3.1. Metode Observasi
Observasi merupakan penelitian yang dilakukan dengan cara mengadakan pengamatan terhadap obyek, baik secara langsung maupun tidak langsung. Metode observasi yang dilakukan adalah denagn melakukan pengamatan dan pencatatan dengan segala sesuatu yang berhubungan dan terlibat langsung dengan obyek, sehingga diperoleh data yang sistematis dan berkualitas dengan data-data yang sesungguhnya.
1.3.2. Metode Wawancara
Wawancara merupakan salah satu tekhnik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara mengadakan tanya jawab, baim secara langsung maupun tidak langsung dengan sumber data. Metode wawancara yaitu dengan melakukan tanya jawab untuk memperoleh data yang dibutuhkan.
Tanya jawab dilakukan dengan karyawan BTM yang mengetahui tentang sistem dan prosedur pembiayaan yang ada di BTM.
1.4. Sistematika Penulisan
Sistematika ini digunkan agar lebih memudahkan untuk mengetahui isi dan uraian-uraian dalam setiap bab penulisan laporan ini. Adapun sistematika penulisan Tugas Akhir ini meliputi :
BAB I PENDAHULUAN
Dalam bab ini menguraikan tentang latar belakang masalah, tujuan dan manfaat penelitian, serta sistematika penulisan laporan.
BAB II LANDASAN TEORI
Dalam babini manguraikan teori-teori yang berhubungan dengan pokok permasalahan yang dipilih dan dijadikan landasan dalam penyusunan Laporan Tugas Akhir. Pokok permasalahan meliputi pengertian koperasi jasa keuangan syariah, pengertian dan fungsi pembiayaan, ketentuan umum BTM Bligo, kebijakan BTM Bligo dll.
BAB III HASIL PENELITIAN DAN PEBAHASAN
Dalam bab ini menguraikan tentang Gambaran umum perusahaan, produk dan jasa, hasil penelitian dan pembahasan.
BAB IV PENUTUP
Dalam bab ini menguraikan tentang kesimpulan mengenai pembahasan Tugas Akhir yang penulis buat serta saran-saran yang bermanfaat untuk BTM dimana penulis melakukan survei.