• Tidak ada hasil yang ditemukan

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 3. Biomassa dan Karbon Biomassa Atas Permukaan di Kebun Panai Jaya, PTPN IV Tahun 2009

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 3. Biomassa dan Karbon Biomassa Atas Permukaan di Kebun Panai Jaya, PTPN IV Tahun 2009"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

 

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Stok Karbon 4.1.1 Kebun Panai Jaya

Data stok karbon yang digunakan pada kebun Panai Jaya berasal dari penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Yulianti (2009) dan Situmorang (2010) yang merupakan kerja sama penelitian antara Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) dengan Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan (DITSL IPB) dan Balingtan pada tahun 2008-2009. Pada penelitian tersebut karbon atas permukaan dibagi menjadi karbon biomassa tegakan hutan (pohon), semak dan tanaman kelapa sawit. Biomassa kelapa sawit diperoleh sesuai dengan tahun tanamnya. Tabel 3 menunjukkan di kebun Panai Jaya tanaman kelapa sawit yang memiliki biomassa dan karbon biomassa terbesar adalah kelapa sawit dengan tahun tanam 2006 dan yang terkecil adalah kelapa sawit dengan tahun tanam 2007. Sementara Tabel 4 menunjukkan total karbon tersimpan yang hilang (Total Carbon Loss) selama pembukaan hutan dari tahun 2002 hingga 2007 untuk areal perkebunan kelapa sawit Panai Jaya.

Tabel 3. Biomassa dan Karbon Biomassa Atas Permukaan di Kebun Panai Jaya, PTPN IV Tahun 2009

Plot Biomassa

(ton/ha) Karbon Biomassa

(ton C/ha) Karbon Biomassa (ton CO2/ha) Tegakan Hutan Sekunder 95,00 45,47 166,72

Semak 3,80 1,49 5,46

Tanaman Bawah 3,28 1,28 4,69

TBM TT 2006 1,83 1,00 3,66

TBM TT 2007 1,28 0,70 2,56

Total 105,19 49,94 183,09

Sumber : Yulianti (2009) dan Situmorang (2010)

Keterangan : - Biomassa dan karbon biomassa kelapa sawit meningkat sejalan dengan meningkatnya umur tanaman.

- Biomassa dan karbon biomassa pada tegakan hutan merupakan nilai akumulasi dari umur tegakan hutan sendiri, sedangkan nilai riap karbon biomassa tahunannya hanya sebesar 3,5 ton C/tahun atau 12,83 ton CO2/tahun (Bahruni, 2010)

(2)

 

Tabel 4. Perubahan Karbon Biomassa Tersimpan Atas Permukaan pada Setiap Penggunaan Lahan Kebun Panai Jaya Tahun 2009

Penggunaan Lahan

Tahun 2002 Tahun 2007

Total Perubahan Karbon (Total Loss Carbon) Luas

(ha)

Karbon Biomassa Tersimpan

Luas (ha)

Karbon Biomassa Tersimpan

(ton C) (ton C/ha) (ton C) (ton C/ha) (ton C) Tegakan Hutan

Sekunder 2.502 113.767 45,47 55 2.501 45,47 Tanaman Bawah 2.502 3.211 1,28 55 71 1,29 Semak 151 225 1,49 250 373 1,49

TBM TT 2006 - - - 567 568 1,00

TBM TT 2007 - - - 1.366 961 0,70

Total 117.203 48,24 4.474 49,95 - 112.729

Sumber : Situmorang (2010) dan Analisis Data Sekunder

Data pada Tabel 4 menunjukkan dalam kurun waktu 5 tahun antara tahun 2002 hingga 2007, pembukaan hutan sekunder menjadi areal perkebunan kelapa sawit untuk keseluruhan luasan mengalami penurunan karbon tersimpan (Total Loss Carbon) sebesar 112.729 ton C yang ditunjukkan dengan nilai negatif. Akan tetapi, kelapa sawit yang ditanam pada hutan sekunder yang telah dikonversi tersebut secara simultan (seiring bertambahnya umur tanaman kelapa sawit) dapat meningkatkan kembali karbon tersimpan sebagai ganti dari tegakan (pohon) hutan sekunder yang ditebang.

4.1.2. Kebun Meranti Paham

Stok/cadangan karbon biasa disebut dengan istilah karbon biomassa (C- biomassa), dimana tahun tanam sangat berpengaruh terhadap biomassa dari tanaman kelapa sawit. Biomassa merupakan bahan organik hasil dari proses fotosintesis, dimana biomassa bertambah karena tumbuhan menyerap CO2 dari udara dan mengubahnya menjadi senyawa organik dan dinyatakan dalam satuan bobot kering. Hasil fotosintesis tersebut digunakan oleh tumbuhan untuk melakukan pertumbuhan ke arah horisontal dan vertikal. Pada penelitian ini, data biomassa dari penelitian sebelumnya (Tabel 5) dilakukan penyempurnaan berupa penambahan data pelepah prunning dan tandan kosong (tankos) yang ditunjukkan oleh Tabel 6.

(3)

 

Batang 67%

Pelepah 18%

Daun 15 %

Tabel 5. Biomassa Kelapa Sawit pada Berbagai Umur Tanaman Kebun Meranti Paham, PTPN IV

Umur Tanam (tahun)

Biomassa Kering (kg/pohon) Biomassa Kering (ton/ha) Batang Pelepah Daun Total

18 149,09 32,85 25,99 207,93 27,03

17 175,51 27,52 26,77 229,80 29,87

13 123,59 30,68 22,93 177,20 23,04

11 120,76 31,50 33,11 185,37 24,09

9 90,58 46,51 32,83 169,92 22,09 Sumber : Yulianti (2009)

Biomassa kering kelapa sawit terdapat paling besar pada bagian batang yaitu 67 % diikuti pelepah kemudian daun, masing-masing adalah 18 % dan 15 % (Gambar 2). Hasil serupa juga ditunjukkan pada agroekosistem kelapa sawit yang berada di Nigeria pada lahan berpasir yang masam, biomassa kelapa sawit antara umur 10 sampai 17 tahun terakumulasi pada batang yaitu berkisar antara 57-69 %, kemudian diikuti pada pelepah berkisar antara 14-20 % dan daun berkisar antara 8-10 % (Hartley, 1967 dalam Yulianti, 2009). Berdasarkan kedua hasil penelitian tersebut maka dapat disimpulkan bahwa pola ini adalah umum untuk kelapa sawit meskipun ditanam pada tipe lahan yang berbeda.

Gambar 2. Persentase Rata-Rata Biomassa Berbagai Dimensi Kelapa Sawit (Yulianti, 2009)

(4)

 

Tabel 6. Biomassa dan Karbon Biomassa Kelapa Sawit pada Berbagai Umur Tanam dengan Penambahan Data Pelepah Prunning dan Tandan Kosong (Tankos) Kebun Meranti Paham Tahun 2009

Umur Tanaman

(tahun) a

Biomassa Kering (kg/pohon) Karbon Biomassa Pokok

Destruktif b

Pelepah Prunning**

c

Tandan Kosong**

d

Total

(ton C/ha) g

(ton CO2/ha) h kg/pohon ton/ha

f e

9 169,92 42,53 107,21 319,66 41,56 24,12 88,44 11 185,37 65,89 148,28 399,54 51,94 30,25 110,91 13 177,20 92,23 182,97 452,40 58,81 34,19 125,36 17 229,80 114,98 297,15 668,05 86,85 50,49 185,13 18 207,93 134,86 304,56 647,35 84,16 48,96 179,52

Total 323,32 188,01 689,36

* Asumsi terdapat 130 pohon kelapa sawit dalam 1 ha (PPKS, 2010)

** Akumulasi sesuai umur tanaman kelapa sawit (PPKS, 2010) Sumber : Yulianti (2009) dan Analisis Data Sekunder Keterangan : e = b + c + d

f = (e x 130) : 1000

g = f x % C-organik, ketetapan % C-organik = 58% (Walkey and Black Methode) h = g x (BM CO2/BA C) = g x (44/12)

Data pelepah prunning pada Tabel 6 menunjukkan kenaikan berat biomassa kering terjadi seiring dengan kenaikan usia tanaman. Tanaman dengan umur 18 tahun memiliki berat biomassa pelepah prunning paling besar yaitu 134,86 kg/pohon dan yang terkecil yaitu umur 9 tahun yaitu 42,53 kg/pohon.

Sementara itu, biomassa kering yang berasal dari tandan kosong (tankos) juga mengalami peningkatan seiring dengan bertambahnya umur tanaman, berturut- turut dari yang terbesar dan terkecil adalah sebesar 304,56 kg/pohon pada tanaman umur 18 tahun dan 107,21 kg/pohon pada tanaman umur 9 tahun.

Dengan kata lain, semakin tua suatu tanaman kelapa sawit maka semakin besar pula pelepah prunning dan tandan kosong (tankos) yang dihasilkan.

4.2. Emisi Karbon

Respirasi akar memiliki peran nyata terhadap besarnya emisi CO2 di lahan gambut. Selain respirasi akar, pemupukan yang intensif di sekitar pokok sawit meningkatkan kandungan nutrisi esensial seperti nitrogen yang secara nyata juga berpengaruh terhadap besarnya pembentukan CO2 di sekitar pokok sawit (Barchia, 2006).

(5)

 

Selain respirasi oleh akar, dekomposisi bahan organik tanah dan suhu juga sangat mempengaruhi besarnya fluks CO2 di lahan gambut. Dekomposisi bahan organik tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor penting, diantaranya adalah ketersediaan air dan suhu. Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat dekomposisi tersebut juga berpengaruh terhadap respirasi akar, selain itu kepadatan akar juga sangat berpengaruh terhadap besarnya CO2 yang diemisikan dari lahan gambut (Barchia, 2006).

Penelitian ini sejalan dengan penelitian-penelitian yang telah dilakukan Tsusutki dan Ponnamperuma (1987 dalam Barchia, 2006) yang menunjukkan bahwa perbedaan suhu harian maksimum dan minimum karena adanya drainase gambut berkorelasi positif dengan pelepasan CO2. Dengan kata lain pelepasan CO2 di lahan rawa sangat ditentukan oleh suhu.

Pengukuran dan perhitungan emisi karbon ini dilakukan pada kebun Panai Jaya dan Meranti Paham. Pengukuran dilakukan pada plot-plot yang telah ditentukan sebelumnya. Tabel 7 merupakan hasil perhitungan emisi CO2 pada kebun Panai Jaya dan Meranti Paham, sedangkan perhitungan secara rinci disajikan pada Tabel Lampiran 1,2,3,4, dan 6.

Tabel 7. Emisi CO2 pada Berbagai Umur Tanaman Kelapa Sawit di Kebun Panai Jaya (TBM) dan Meranti Paham (TM) Tahun 2009

Penggunaan Lahan Emisi CO2

(ton CO2/ha/tahun) Kedalaman Air (cm)

Hutan Sekunder 42,31 71

Bukaan Baru 25,48 45

Tanaman Belum Menghasilkan (TBM) 39,61 46

Tanaman Menghasilkan Umur 9 Tahun (TM 6) 37,73 52 Tanaman Menghasilkan Umur 11 Tahun (TM 8) 48,00 61 Tanaman Menghasilkan Umur 13 Tahun (TM 10) 48,00 61 Tanaman Menghasilkan Umur 17 Tahun (TM 14) 44,01 55 Tanaman Menghasilkan Umur 18 Tahun (TM 15) 49,94 68 Sumber : PPKS (2010)

Berdasarkan data yang diperoleh pada Tabel 7, diketahui hubungan antara kedalaman air tanah terhadap besarnya emisi CO2 yang dihasilkan. Hal ini relatif sejalan dengan persamaan Hoooijier (2006) yang menyatakan bahwa semakin

(6)

 

dalam muka air tanah maka semakin besar pula emisi CO2 yang dilepaskan (Gambar 3). Ini dapat dilihat pada hutan sekunder yang memiliki nilai emisi CO2

yang lebih besar dari pada bukaan baru yang disebabkan kedalaman air pada hutan sekunder jauh lebih tinggi, walaupun pada hutan sekunder masih terdapat tegakan (pohon) dibandingkan lahan terbuka pada bukaan baru. Emisi CO2 hutan sekunder adalah sebesar 42,31 ton CO2/ha/tahun, sedangkan bukaan baru hanya 25,48 ton CO2/ha/tahun yang diperoleh dari rataan lima kali pengukuran di lapang pada waktu berbeda. Sementara emisi CO2 pada TBM dan TM bervariasi pada kisaran 37,73 – 49,94 ton CO2/ha/tahun yang juga sangat terkait pada kedalaman air tanah.

Nilai emisi CO2 pada kebun-kebun tersebut masih termasuk dalam kategori wajar. Berdasarkan studi literatur, nilai emisi gas rumah kaca yang realistis dari lahan gambut yang terdrainase adalah sebesar 25 – 55 ton CO2- e/ha/tahun (Jiwan et al., 2009 dalam PPKS, 2010). Sementara hasil penelitian Handayani (2009) di kebun kelapa sawit di Meulaboh, Aceh Barat menunjukkan bahwa rata-rata emisi CO2 berkisar antara 10 – 40 ton CO2/ha/tahun.

Pada perhitungan neraca karbon, nilai emisi yang digunakan memiliki satuan berupa CO2-e (CO2 ekuivalen), yaitu penjumlahan dari CO2 dengan CH4. Akan tetapi, nilai CH4 sangat kecil dan tidak berpengaruh nyata terhadap hasil akhir perhitungan sehingga dapat diabaikan sepenuhnya. Nilai CH4 selengkapnya dapat dilihat pada Tabel Lampiran 5. Disisi lain, nilai emisi CO2 TM 8 dan TM 10 yang seragam sebesar 48 ton CO2/ha/tahun diperoleh dari persamaan Hooijier (2006) yang menghubungkan nilai rata-rata kedalaman muka air tanah kebun Meranti Paham dengan emisi CO2 (Gambar 3). Nilai rata-rata kedalaman muka air tanah tersebut sebesar 61 cm yang diperoleh dari pengukuran langsung di lapang pada penelitian ini (Tabel Lampiran 7).

(7)

 

Gambar 3. Persamaan Hooijier (2006) yang Menunjukkan Hubungan antara Kedalaman Drainase dengan Emisi

4.3. Neraca Karbon Kebun (Emisi Neto) Panai Jaya dan Meranti Paham Cadangan/stok dan emisi harus memiliki satuan sama yang dinyatakan dalam CO2. Dalam perhitungan emisi neto CO2 (emisi tanpa nekromasa), cadangan karbon yang semula dalam bentuk karbon (C) dikonversikan atau diubah menjadi CO2. Perhitungan yang dilakukan hanya pada cadangan atas permukaan yaitu cadangan karbon pokok tanaman kelapa sawit dan tanaman bawah/semak tanpa pohon tumbang yang melapuk (nekromasa). Selain itu, data emisi karbon yang diperoleh pada penelitian ini berasal dari emisi CO2 dan CH4, namun karena nilai CH4 yang diperoleh sangat kecil maka dapat diabaikan karena tidak berdampak nyata pada hasil akhir perhitungan. Kebun Panai Jaya memiliki luas total sebesar 2.586 ha, dimana hanya 55 ha yang tersisa masih hutan sekunder. Sementara itu, Kebun Meranti Paham seluas 4.811 ha merupakan kebun kelapa sawit yang sudah sangat tua, dimana sudah terdapat lahan yang telah ditanami ulang atau replanting. Perhitungan emisi neto/neraca karbon di kebun Panai Jaya dan Meranti Paham disajikan pada Tabel 8 dan 9.

Subsiden (cm/tahun)

Drainase (cm)

Emisi (Ton CO2/ha/tahun)

0 1 2 3 4 5 6 7

-120 -100 -80 -60 -20 0

subsidence [cm a-1]

0

Assumed emission

[t CO2ha-1a-1] 8

9 10

10 20 30 40 50 60 70 80 90

-40 drainage depth [cm]

0 1 2 3 4 5 6 7

-120 -100 -80 -60 -20 0

subsidence [cm a-1]

0

Assumed emission

[t CO2ha-1a-1] 8

9 10

10 20 30 40 50 60 70 80 90

-40 drainage depth [cm]

(8)

 

Tabel 8. Emisi Neto Karbon (CO2) Kebun Panai Jaya Tahun 2009

a = Luas Areal (ha), PPKS (2010)

b = Data pada Tabel 3, Yulianti (2009) dan Situmorang (2010) c = Data pada Tabel 3, Yulianti (2009) dan Situmorang (2010) d = ((c-b)a)/5, (5 = penggunaan lahan antara 2002 hingga 2007)

e = c/umur tanaman, *asumsi riap hutan sekunder dan bukaan baru oleh Bapenas f = Kehilangan karbon tahunan akibat masyarakat sekitar seperti illegal logging g = (e-f)a

h = Data pada Tabel 7 (PPKS, 2010) i = (h)a

j = d+g+i

-152.343,63 ton CO2/tahun Emisi Neto Kebun Panai Jaya Tahun 2009 =

2.238 ha

= -68,07 ton CO2/ha/tahun

Penggunaan Lahan

Luas

Karbon Biomassa

Awal

Karbon Biomassa

Akhir Carbon Loss

Peningkatan Biomassa

Tahunan

Pengurangan Biomassa

Tahunan Carbon Gain Emisi (Dekomposisi Gambut) 2009

Total Emisi (Dekomposisi

Gambut) 2009 Neraca Karbon 2002 2007 (ha) (ton CO2/ha) (ton CO2/tahun) (ton CO2/ha/tahun) (ton CO2/tahun) (ton CO2/ha/tahun) (ton CO2/tahun) (ton CO2/tahun)

a b c d e f g h i j

Hutan Sekunder

Hutan

Sekunder 55 166,72 166,72 0,00 12,83* 42,31 -302,50 -42,31 -2.327,05 -2.629,55 Hutan

Sekunder

Bukaan

Baru 250 166,72 5,46 -8.063,00 0,36* 25,48 90,00 -25,48 -6.370,00 -14.343,00 Hutan

Sekunder TBM

2006 567 166,72 3,66 -18.491,00 1,83 39,61 1.037,61 -39,61 -22.458,87 -39.912,26 Hutan

Sekunder TBM

2007 1.366 166,72 2,56 -44.848,51 2,56 39,61 3.496,96 -39,61 -54.107,26 -95.458,81

Total 2.238 -71.402,52 4.322,07 -152.343,63

21

(9)

 

   

Tabel 9. Emisi Neto Karbon (CO2) Kebun Meranti Paham Tahun 2009

a = Luas Areal (ha), PPKS (2010)

b = Karbon biomassa tahun 2003 diasumsikan sama dengan tahun 2008 c = Data pada Tabel 6, Yulianti (2009)

d = 0, karena kebun sawit merupakan sumber/penghasil karbon (Ghani, 2011) e = c/umur tanaman

f = 0, asumsi tidak terjadi pengurangan karbon tahunan pada perkebunan g = (e-f)a

h = Data pada Tabel 7 (PPKS, 2010) i = (h)a

j = d+g+i

-86.091,86 ton CO2/ tahun Emisi Neto Kebun Meranti Paham Tahun 2009 =

2.443 ha

= -35,24 ton CO2/ha/tahun

Penggunaan Lahan Luas

Karbon Biomassa

Awal

Karbon Biomassa

Akhir Carbon Loss

Peningkatan Biomassa

Tahunan

Pengurangan Biomassa

Tahunan Carbon Gain Emisi (Dekomposisi Gambut) 2009

Total Emisi (Dekomposisi

Gambut) 2009 Neraca Karbon 2003 2008 (ha) (ton CO2/ha) (ton CO2/tahun) (ton CO2/ha/tahun) (ton CO2/tahun) (ton CO2/ha/tahun) (ton CO2/tahun) (ton CO2/tahun)

a b c d e f g h i j

Kebun 1999

Kebun

1999 707 88,44 88,44 0 9,82 0 6.942,74 -37,73 -26.675,11 -19.732,37 Kebun

1997

Kebun

1997 333 110,91 110,91 0 10,08 0 3.356,64 -48,00 -15.984,00 -12.627,36 Kebun

1995

Kebun

1995 538 125,36 125,36 0 9,64 0 5.186,32 -48,00 -25.824,00 -20.637,68 Kebun

1991

Kebun

1991 216 185,13 185,13 0 10,89 0 2.352,24 -44,01 -9.506,16 -7.153,92 Kebun

1990

Kebun

1990 649 179,52 179,52 0 9,97 0 6.470,53 -49,94 -32.411,06 -25.940,53

Total 2.443 0 24.308,47 -86.091,86

22

(10)

 

Perhitungan Tabel 8 dan 9 menunjukkan bahwa nilai emisi neto karbon kebun Panai Jaya dan Meranti Paham tahun 2009 bernilai negatif yang menunjukkan bahwa pada kebun-kebun tersebut memiliki total emisi yang lebih besar dari pada total cadangan karbonnya. Emisi neto CO2 pada kebun Panai Jaya dan Meranti Paham berturut-turut sebesar -68,07 dan -35,24 ton CO2/ha/tahun.

Dari hasil tersebut diketahui bahwa kebun sawit berusia tua mampu menghasilkan karbon yang lebih besar daripada kebun sawit berusia muda, sehingga mempertegas bahwa umur tanaman kelapa sawit berkorelasi positif terhadap stok CO2 yang dihasilkan. Dengan kata lain semakin tua suatu tanaman kelapa sawit maka semakin besar pula stok CO2 yang dihasilkannya.

Perhitungan pada Tabel 8 menunjukkan bahwa konversi hutan rawa sekunder menjadi areal perkebunan menyebabkan terjadinya kehilangan karbon (carbon loss) sebesar -71.402,52 ton CO2/tahun pada awal penanaman kelapa sawit. Namun, selama 2 tahun pertama penanaman kelapa sawit tersebut telah terjadi peningkatan karbon (carbon gain) sebesar 4.322,07 ton CO2/tahun.

Sementara itu pada kebun Meranti Paham yang lebih tua dari Panai Jaya tidak terjadi carbon loss sama sekali, sebaliknya mengalami peningkatan secara simultan dari tahun ke tahun (carbon gain), seperti yang ditunjukkan pada Tabel 9. Ini berarti bahwa kebun kelapa sawit terbukti telah menjadi sumber karbon baru ditengah krisis karbon yang terjadi karena luasan hutan yang terus berkurang.

Berdasarkan data yang diperoleh dari penelitian ini, diketahui bahwa stok karbon tahunan yang dihasilkan oleh perkebunan kelapa sawit memang tidak sebesar yang dihasilkan oleh hutan sekunder, akan tetapi masih lebih baik dari pada lahan gambut tersebut dibiarkan terbuka begitu saja (semak). Hal ini dapat dilihat dari banyaknya lahan rawa gambut yang pemanfaatannya belum maksimal yang merupakan bagian dari ekosistem rawa hutan. Ini disebabkan rawa tersebut hanya ditumbuhi tumbuhan kecil seperti semak dan rumput liar, dimana emisi yang dihasilkan sangat besar tanpa adanya stok karbon yang dihasilkan dari tegakan/pohon. Pada tahun 2005 dari total luas hutan 131, 65 juta ha, hutan primer hanya tersisa 35,85%, sedangkan hutan sekunder mencapai 32,37% dan tidak

(11)

 

Kehilangan karbon yang terjadi pada hutan rawa sekunder semakin sulit dihindari karena berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Bapenas peningkatan karbon tahunan secara alami hutan rawa sekunder sebesar 12,83 ton CO2/ha/tahun (riap) jauh lebih kecil dibandingkan pengurangan karbon tahunannya yang sebesar 18,33 ton CO2/ha/tahun (Tabel 8). Pengurangan karbon tahunan pada hutan rawa sekunder tersebut sebagian besar disebabkan penebangan hutan secara liar oleh masyarakat sekitar sebagai sumber mata pencarian dan pengusaha dalam rangka mencari keuntungan (illegal logging).

Faktanya budidaya kelapa sawit di Indonesia telah mengimplementasikan kaidah lingkungan, karena tegakan pohon kelapa sawit dapat menjadi penghasil karbon baru yang secara simultan terus meningkat dengan penambahan umurnya ditengah krisis karbon yang terjadi terutama pada lahan-lahan terbuka. Sayangnya kesan cemburu terhadap komoditas ini terus terlihat dengan maraknya isu lingkungan yang kerap memojokan disaat negara-negara berkembang sedang berjuang untuk perekonomian dan perbaikan taraf hidup masyarakatnya. Lebih ironis lagi jika isu yang dikembangkan adalah demi kelestarian “orang utan”

(Ghani, 2011).

Tanpa menafikkan bahwa biodiversity kebun kelapa sawit yang rendah dan pentingnya konservasi satwa lokal yang dilindungi, sangat tidak bijaksana jika untuk kepentingan “orang utan” justru kesejahteraan umat manusia yang dikorbankan. Masih banyak alternatif lain yang dapat didiskusikan bersama sebagaimana implementasi prinsip dan kriteria RSPO/ISPO (Rountable/Indonesia Sustainable Palm Oil), yang menerapkan best management practices dengan menjalankan proses bisnis yang memperhatikan prinsip kelestarian alam (Ghani, 2011).

Oleh karena itu, tidaklah masalah untuk mempertahankan perkebunan kelapa sawit dan/atau mengembangkannya selama kondisi lingkungan tetap terjaga. Hal ini juga terlihat dari kenyataan bahwa kelapa sawit cukup ramah lingkungan dan dapat menjadi sumber energi terbarukan, dengan hasil turunan dari CPO berupa biofuel yang dapat mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, sehingga dapat menurunkan emisi yang dihasilkan.

Gambar

Tabel 3. Biomassa dan Karbon Biomassa Atas Permukaan di Kebun Panai Jaya,  PTPN IV Tahun 2009
Tabel 4. Perubahan Karbon Biomassa Tersimpan Atas Permukaan pada Setiap  Penggunaan Lahan Kebun Panai Jaya Tahun 2009
Tabel 5. Biomassa Kelapa Sawit pada Berbagai Umur Tanaman Kebun Meranti  Paham, PTPN IV
Tabel 6. Biomassa dan Karbon Biomassa Kelapa Sawit pada Berbagai Umur  Tanam dengan Penambahan Data Pelepah Prunning dan Tandan  Kosong (Tankos) Kebun Meranti Paham Tahun 2009
+5

Referensi

Dokumen terkait

Tipe paling umum dari mesin ini adalah mesin pembakaran dalam putaran empat stroke yang membakar bensin. Pembakaran dimulai oleh sistem ignisi yang membakaran spark

Emisi karbon dioksida dari penggunaan minyak tanah terbesar berada di Kecamatan Bukit Raya yaitu dengan total konsumsi 65.528.055,84 liter serta karbon dioksida

Berdasarkan teori Christaler yang dimaksud tempat yang sentral dapat berupa: kota-kota besar, pasar (pusat perbelanjaan), rumah sakit, dan sebagainya yang memiliki kekuatan

Tingkat persaingan radio di stasiun radio dikota-kota besar cukup tinggi dalam merebut hati audiens.Salah satu usaha yang dilakukan yakni dengan membawakan acara

PERKEBUNAN NUSANTARA IV KEBUN ADOLINA untuk mesin boiler adalah cangkang dan serabut kelapa sawit yang dihasilkan dari limbah padat pengolahan TBS oleh pabrik

Standar kualitas kimia air dan yang diperkenankan bagi berbagai parameter kimia, karena pada konsentrasi yang berlebihan kehadiran unsur-unsur tersebut di dalam

a) Fungsi informatif, yaitu organisasi dipandang sebagai suatu sistem proses informasi. Bermakna seluruh anggota dalam suatu organisasi berharap dapat memperoleh informasi yang

Berdasarkan hasil penelitian tersebut, dapat dijelaskan bahwa orientasi pasar yang berupa sumber daya mengenai kondisi pasar tentang kebutuhan konsumen, tindakan