2 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Hukum pidana diartikan berbeda oleh para ahli atau para pakar hukum diantaranya menurut Algranjanssen Pidana atau straf sebagai alat yang dipergunakan oleh penguasa (hakim) untuk memperingatkan mereka yang telah melakukan suatu perbuatan yang tidak dapat dibenarkan. Reaksi dari penguasa tersebut telah mencabut kembali sebagaimana dari perlindungan yang seharusnya dinikmati oleh terpidana atas nyawa, kebebasan, dan harta kekayaan, yaitu seandainya ia telah melakukan suatu tindak pidana.
1Menurut Simons Pidana adalah suatu penderitaan yang oleh undang-undang pidana telah dikaitkan dengan pelanggaran terhadap suatu norma, yang dengan suatu putusan hakim yang telah dijatuhkan bagi seorang yang bersalah. Apeldoorn dalam buku Teguh Prasetyo yang berjudul Hukum Pidana mengatakan hukum pidana dibedakan dan diberikan arti sebagai berikut :
Hukum Pidana materiil yang menunjuk pada perbuatan pidana dan yang oleh sebab perbuatan itu dapat dipidana, dimana perbuatan pidana itu mempunyai dua bagian, yaitu:
a. Bagian objektif merupakan suatu perbuatan atau sikap yang bertentangan dengan hukum pidana positif, sehingga bersifat melawan hukum yang menyebabkan tuntutan hukum dengan ancaman pidana atas pelanggarannya.
b. Bagian subjektif merupakan kesalahan yang menunjuk kepada pelaku untuk dipertanggungjawabkan menurut hukum.
Hukum pidana formal yang mengatur cara bagaimana hukum pidana materiil dapat ditegakkan.
21
Prasetyo Teguh, Hukum Pidana, Raja Gravindo Persada, Jakarta,2010, hlm.6
2
Ibid., hlm.5
3
Menurut Pasal 10 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) pidana terdiri atas:
a. Pidana pokok:
1. Pidana mati.
2. Pidana penjara.
3. Pidana kurungan.
4. Pidana denda.
5. Pidana tutupan.
b. Pidana tambahan
1. Pencabutan hak-hak tertentu 2. Perampasan barang-barang tertentu 3. Pengumuman putusan hakim
Penegakan hukum adalah proses dilakukannya upaya untuk tegaknya atau berfungsinya norma-norma hukum secara nyata sebagai pedoman perilaku dalam lalu lintas atau hubungan-hubungan hukum dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Ditinjau dari sudut subjeknya, penegakan hukum dapat dilakukan oleh subjek yang luas dan dapat pula diartikan sebagai upaya penegakan hukum oleh subjek dalam arti yang terbatas atau sempit. Dalam arti luas, proses penegakan hukum melibatkan semua subjek hukum dalam setiap hubungan hukum. Siapa saja yang menjalankan aturan normatif atau melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu dengan mendasarkan diri pada norma aturan hukum yang berlaku, berarti dia menjalankan atau menegakkan aturan hukum. Dalam arti sempit, dari segi subjeknya, penegakan hukum hanya diartikan sebagai upaya aparatur penegakan hukum tertentu untuk menjamin dan memastikan bahwa suatu aturan hukum berjalan sebagaimana seharusnya. Dalam memastikan tegaknya hukum, apabila diperlukan, aparatur penegak hukum diperkenankan untuk menggunakan daya paksa.
33
JimlyAsshiddiqie, “Penegakan Hukum”,
http://www.jimly.com/makalah/namafile/56/Penegakan_Hukum.pdf, dikunjungi pada tanggal 14
Desember 2020 pukul 15.50, hlm.1
4
Pengertian penegakan hukum dapat pula ditinjau dari sudut objeknya, yaitu dari segi hukumnya. Dalam hal ini, pengertiannya juga mencakup makna yang luas dan sempit. Dalam arti luas, penegakan hukum mencakup pula nilai-nilai keadilan yang terkandung di dalamnya bunyi aturan formal maupun nilai-nilai keadilan yang hidup dalam masyarakat. Tetapi, dalam arti sempit, penegakan hukum hanya menyangkut penegakan peraturan yang formal dan tertulis saja.
4Sekarang ini berbagai macam permasalahan hukum semakin marak terjadi seiring dengan perkembangan zaman, sebagai contoh adalah perkembangan teknologi. Teknologi pada saat ini berkembang sangat pesat mengakibatkan pola tingkah laku masyarakat ikut berubah menjadi semakin kompleks.Dengan perkembangan teknologi yang berkembang sangat pesat membuat sekelompok masyarakat berbondong-bondong mendapatkan produk teknologi terbaru.Salah satu teknologi yang terus berkembang sangat pesat dan sangat dibutuhkan oleh semua orang adalah telepon seluler atau yang sering disingkat dengan ponsel.
Telepon Selular (ponsel) adalah perangkat telekomunikasi elektronik yang mempunyai kemampuan dasar yang sama dengan telepon konvensional saluran tetap, namun Telepon Seluler dapat dibawa kemana-mana, dan tidak perlu disambungkan dengan jaringan telepon menggunakan kabel. Ponsel merupakan pengembangan teknologi telepon yang dari masa ke masa mengalami perkembangan, yang di mana perangkat handphone tersebut dapat digunakan sebagai perangkat mobile atau berpindah-pindah sebagai sarana komunikasi, penyampaian informasi dari suatu pihak kepihak lainnya menjadi semakin efektif dan efesien.
Ponsel kini menjadi barang yang wajib dimiliki oleh setiap orang, masyarakat saat ini memang sangat antusias untuk menggunakan telepon pintar sebagai alat untuk berkomunikasi dengan sesama. Para pengguna telepon seluler atau ponsel hadir dari latar belakang yang beragam seperti, pegawai kantoran, ibu-ibu rumah tangga, pelajar dan tidak terkecuali mahasiswa.Hal resebut membuat para produsen telepon seluler berlomba membuat produk mereka sebagai produk yang
4
Ibid.
5
memiliki teknologi paling canggih dengan menyajikan idea atau design yang mengikuti tren bermasyarakat yang membuat masyarakat tertarik untuk membeli produk-produk telepon seluler terbaru.Namun hal ini dimanfaatkan oleh beberapa orang untuk melakukan penjualan telepon seluler secara illegal.
Dalam kamus besar bahasa indonesia (KBBI) ilegal diartikan sebagai sesuatu yang tidak legal atau tidak sah menurut hukum atau perundang-undangan yang berlaku. Jika merujuk pada terjemahan yang ada dalam kamus besar bahasa indonesia tersebut, ponsel ilegal dapat diartikan sebagai telepon seluler yang tidak legal atau tidak sah menurut hukum atau perundang-undangan yang berlaku.
Ponsel ilegal mempunyai beberapa jenis diantaranya adalah Rekondisi dan Black Market.
Menurut pengamat gadget Herry SW ponsel rekondisi adalah ponsel bekas yang telah melalui proses perbaikan sehingga terlihat seperti ponsel baru. Proses perbaikan tersebut tak dilakukan oleh mitra resmi pabrikan, melainkan oleh oknum-oknum tidak resmi.
5Sedangkan Black Market bisa juga dibilang sebagai barang yang dikirim atau diselundupkan secara ilegal yang mana barang tersebut tidak tercantum dalam daftar barang niaga yang dimuat dalam sarana pengangkut atau yang biasa disebut manifest sebagaimana diatur dalam Pasal 7A ayat (2) Undang-undang Kepabeanan.
6Sebuah barang akan dianggap sebagai barang Black Market apabila transaksi dilakukan di pasar gelap. Artinya ponsel Black Market adalah ponsel yang dipasarkan di Indonesia tanpa lebih dulu
memenuhi ketentuan yang ditetapkan oleh penerintah, seperti persyaratan lolos uji Tingkat Kandungan Dalam Negeri dan Direktorat Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika. Ponsel Black Market pun tidak memiliki Tanda Pendaftaran Produk (TPP) Impor, sehingga tidak melakukan proses pembayaran pajak kepada pemerintah.
5
Wahyunanda Kusuma, “Ini Bedanya Ponsel Rekondisi, Refurbished, dan Black Market,”
29 Juli 2020, https://tekno.kompas.com , dikunjungi pada 28 Desember 2020 pukul 18.04.
6
Sulaiman Alfin, Tanya Jawab Seputar Permasalahan Hukum: Persoalan dan Solusi
Permasalahan Hukum Sehari-hari. PT. Warta Aksara Sakti, Jakarta, 2018,hlm.125
6
Penjualan telepon seluler ilegal ini sangat lah merugikan Negara karena telepon seluler (ponsel) yang masuk ke dalam Indonesia dikirim tidak melalui jalur resmi melainkan melalui jalur yang illegal.Asosiasi Ponsel Seluruh Indonesia (APSI) sempat menyebut negara merugi Rp2,8 triliun akibat peredaran ponsel ilegal. Kerugian ini dihitung berdasarkan jumlah ponsel black market dengan potensi pemasukan pajak dari ponsel black market, bahkan saat ini penjualan ponsel illegal di Indonesia sudah mencapai tingkat 20 persen dari total penjualan.
7Pemerintah melalui Bea Cukai sedang gencar melakukan pemberantasan terhadap barang-barang black market dengan mengeluarkan Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika (Permen Kominfo) Nomor 11 Tahun 2019 tentang Pengendalian Alat dan/atau Perangkat Telekomunikasi yang Tersambung ke Jaringan Bergerak Seluler Melalui Indentifikasi International Mobile Equipment Identity (IMEI). Pemberantasan tersebut dilakukan dengan cara melakukan pemblokiran dengan cara memblokir IMEI yang dimiliki masing-masing ponsel.
IMEI (International Mobile Equipment Identity) merupakan sederetan nomer unik yang dimiliki semua perangkat yang terkoneksi ke jaringan seluler. Tidak hanya ponsel yang dapat terkoneksi ke jaringan seluler, tetapi ada juga notebook, smartwatch dan modem. Apabila sebuah ponsel memiliki dua slot kartu, maka ponsel tersebut juga memiliki dua nomor IMEI.
8Dalam upaya pemberantasan ini pemerintah memberikan wewenang kepada Direktorat Jendral Bea dan Cukai sesuai dengan Pasal 112 ayat (1) dan ayat (2) Undang-undang Kepabeanan yang berbunyi :
(1). Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai diberi wewenang khusus sebagai penyidik sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum
7
Safir Makki, “Kerugian Negara Akubat HP Ilegal Usai Bos PS Store Ditangkap”, 29 Juli 2020, https://www.cnnindonesia.com/teknologi , dikunjungi pada 07 Oktober 2020.
8
Wing Wahyu Winarno, “Rencana Blokir Ponsel Ilegal”, Kedaulatan Rakyat, 2 Agustus,
2019, hlm. 1
7
Acara Pidana untuk melakukan penyidikan tindak pidana di bidang Kepabeanan.
(2). Penyidik sebagaimana dimaksud ayat (1) karena kewajibannya berwenang :
a. Menerima laporan atau keterangan dari seseorang tentang adanya tindak pidana di bidang Kepabeanan;
b. Memanggil orang untuk didengar dan diperiksa sebagai tersangka atau saksi;
c. Meneliti, mencari, dan mengumpulkan keterangan dengan tindak pidana di bidang Kepabeanan;
d. Melakukan penangkapan dan penahanan terhadap orang yang disangka melakukan tindak pidana di bidang Kepabeanan;
e. Meminta keterangan dan bukti dari orang yang sangka melakukan tindak pidana di bidang Kepabeanan;
f. Memotret dan/atau merekam melalui media audiovisual terhadap orang, barang, sarana pengangkut, atau apa saja yang dapat dijadikan bukti adanya tindak pidana di bidang Kepabeanan;
g. Memeriksa catatan dan pembukuan yang diwajibkan menurut Undang- undang ini dan pembukuan lainnya yang terkait;
h. Mengambil sidik jari orang;
i. Menggeledah rumah tinggal, pakaian, atau badan;
j. Menggeledah tempat atau sarana pengangkut dan memeriksa barang yang terdapat di dalamnya apabila dicurigai adanya tindak pidana di bidang Kepabeanan;
k. Menyita benda-benda yang diduga keras merupakan barang yang dapat dijadikan sebagai bukti sehubungan dengan tindak pidana di bidang Kepabeanan;
l. Memberikan tanda pengaman dan mengamankan apa saja yang dapat dijadikan sebagai bukti sehubungan dengan tindak pidana di bidang Kepabeanan;
m. Mendatangkan tenaga ahli yang diperlukan dalam hubungannya
dengan pemeriksaan perkara tindak pidana di bidang Kepabeanan;
8
n. Menyuruh berhenti orang yang disangka melakukan tindak pidana di bidang Kepabeanan serta memeriksa tanda pengenal diri tersangka;
o. Menghentikan penyidikan;
p. Melakukan tindakan lain yang perlu untuk kelancaran penyidikan tindak pidana di bidang Kepabeanan menurut hukum yang bertanggung jawab.
Direktorat Jendral Bea dan Cukai mempunyai peranan yang penting untuk dapat menghentikan praktek penjualan telepon seluler yang berpotensi merugikan Negara sekitar 2,8 Triliun Rupiah dalam satu tahun. Angka tersebut diketahui lewat perhitungan kisaran peredaran ponsel black market yang menyentuh 20%
dari total pasar. Kemudian dikalikan dengan total pasar smartphone dalam setahun sebesar 45 juta unit yang hasilnya ada 9 juta unit ponsel black market.
Direktorat Jendral Bea dan Cukai juga menargetkan para penjual yang dengan sengaja melakukan tindakan pengangkutan, pembongkaran, dan penyembunyian barang-barang yang berasal dari pasar gelap atau black market. Tindakan seseorang melakukan tindakan pengangkutan, pembongkaran, dan penyembunyian barang-barang yang berasal dari pasar gelap atau black market sangat jelas melanggar peraturan yang ada di Indonesia.
Selain Direktorat Jendral Bea dan Cukai pihak kepolisian juga berhak melakukan penindakan terhadap pelaku penjualan ponsel ilegal. Hal tersebut tercantum pada Pasal 1 ayat (5) UU Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia yang bunyinya :
“Keamanan dan ketertiban masyarakat adalah suatu kondisi dinamis
masyarakat sebagai salah satu prasyarat terselenggaranya proses pembangunan
nasional yang ditandai oleh terjaminnya tertib dan tegaknya hukum serta
terbinanya ketentraman yang mengandung kemampuan membina serta
mengembangkan potensi dan kekuatan masyarakat dalam menangkal, mencegah,
dan menanggulangi segala bentuk pelanggaran hukum dan bentuk-bentuk
gangguan lainnya dapat meresahkan masyarakat.”
9
Tindakan memperdagangkan Telepon Seluler Ilegal atau Black Market telah melanggar Pasal 52 jo Pasal 32 ayat (1) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi yang berbunyi :
“Barang siapa memperdagangkan, membuat, merakit, memasukkan atau menggunakan perangkat telekomunikasi di wilayah Negara Republik Indonesia yang tidak sesuai dengan persyaratan teknis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 ayat (1), dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan atau denda paling banyak Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah).”
Menurut Lampiran I Permendag 19/M-DAG/PER/5/2009 ponsel atau telepon seluler atau yang lebih dikenal masyarakat luas dengan sebutan handphone (HP) merupakan salah satu produk yang wajib dijual dengan disertai kartu jaminan/garansi purna jual dalam Bahasa Indonesia. Hal ini juga tertuang dalam Pasal 2 ayat (1) Permendag 19/M-DAG/PER/5/2009, sedangkan barang-barang yang dijual di pasar gelap tidak memberikan kartu jaminan/garansi purna jual dalam bahasa Indonesia bahkan ada penjual yang sama sekali tidak memberikan kartu jaminan/garansi terhadap barang yang diperjual belikan. Oleh karena itu penjual yang melanggar aturan maka diberlakukan Pasal 2 ayat (1) Permen 19/M- DAG/PER/5/2009 berlaku ketentuan Pasal 22 Permen 19/M- DAG/PER/5/2009 yang menyatakan bahwa:
“Pelaku usaha yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1), dikenakan sanksi sebagaimana diatur dalam Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen”.
Pasal 8 ayat (1) huruf j UUPK menyatakan bahwa “Pelaku usaha dilarang
memproduksi dan/atau memperdagangkan barang dan/atau jasa yang: tidak
mencantumkan informasi dan/atau petunjuk penggunaan barang dalam bahasa
Indonesia sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku”. Kepada
pelanggaran ini pelaku penjualan telepon seluler bisa dikenai pidana penjara
paling lama 5 (lima) tahun atau pidana denda paling banyak Rp2 miliar sesuai
dengan Pasal 62 ayat (1) Undang-Undang Perlindungan Konsumen.
10
Tindakan seseorang menjual ponsel secara illegal juga bisa dikenai dengan Pasal 480 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Berdasarkan pasal tersebut disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan penadah adalah orang yang membeli, menyewa, menerima tukar, menerima gadai, menerima sebagai hadiah, atau karena hendak mendapatkan untung, menjual, menukarkan, menggadaikan, membawa, menyimpan, atau menyembunyikan suatu barang yang orang tersebut sudah mengetahui bahwa barang tersebut barang yang diperoleh dari hasil kejahatan. Sesuai dengan Pasal 480 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana maka seseorang yang terbukti melanggar Pasal 480 ayat (1) KUHP akan dikenai hukuman penjara selama-lamanya 4 (empat) tahun atau denda sebanyak- banyaknya Rp. 900 (sembilan ratus rupiah).
Pada tahun 2015 Pengadilan Negeri Salatiga mengadili perkara penjualan telepon seluler atau handphone black market dengan nomor perkara 24/Pid.Sus/2015/PN Slt yang dilakukan oleh TEGUH WIYONO Bin SOEHARI pemilik toko Maju Mapan yang beralamat di Jl. Pemotongan No. 49 Rt.02 Rw.02 Kel. Kalicacing Kec. Sidomukti Kota Salatiga. Dalam dakwaan penuntut umum, TEGUH WIYONO Bin SEOHARI didakwa telah memperdagangkan, membuat, merakit, memasukkan atau menggunakan perangkat telekomunikasi di wilayah Negara Republik Indonesia yang tidak sesuai dengan persyaratan teknis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 ayat (1) UURI No. 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi yang menyatakan perangkat telekomunikasi yang diperdagangkan, dibuat, dirakit, dimasukkan dan atau digunakan di wilayah Negara Republik Indonesia wajib memperhatikan persyaratan teknis dan berdasarkan izin sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
Kasus ini berawal ketika petugas dari Sat Reskrim Polres Salatiga
mendapatkan informasi bahwa di Toko / Counter Maju Mapan yang beralamat di
Jl. Pemotongan No. 49 Rt.02 Rw.02 Kel. Kalicacing Kec. Sidomukti Kota
Salatiga telah memperdagangkan alat komunikasi Black Market petugas langsung
menindaklanjuti informasi tersebut dan ternyata benar bahwa ditempat tersebut
petugas mendapatkan alat komunikasi berupa I Phone Black Market yang
terpajang di etalase toko tersebut. Ketika ditanya oleh petugas TEGUH WIYONO
11
Bin SEOHARI mengakui bahwa handphone tersebut adalah miliknya yang dibeli dari seseorang di Toko GMT yang terletak di Plaza Simpang Lima Semarang.
Ponsel yang dijual dan yang telah disita tersebut merupakan ponsel Black Market tidak memiliki label sertifikasi dari Postel baik di doznya maupun di perangkatnya sertatidak dilengkapi dengan buku petunjuk penggunaan manual dalam bahasa indonesia melainkan dalam bahasa inggris saja.
Dalam dakwaan penuntut umum mendakwa TEGUH WIYONO Bin SEOHARI telah memperdagangkan, membuat, merakit, memasukkan atau menggunakan perangkat telekomunikasi di wilayah negara Republik Indonesia yang tidak sesuai dengan persyaratan teknis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 ayat (1) UURI No. 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi yang menyatakan perangkat telekomunikasi yang diperdagangkan, dibuat, dirakit, dimasukkan dan atau digunakan di wilayah Negara Republik Indonesia wajib mmemperhatikan persyaratan teknis dan berdasarkan izin sesuai dengan peraturan perundang- undangan.
Pada kasus ini pihak kepolisian menyita 3 buah handphone atau ponsel yaitu:
1. 1 (satu) buah Hand Phone I Phone Type 4 S warna hitam No. Imei 013002001733535;
2. 1 (satu) buah Hand Phone I Phone Type 5 warna putih No. Imei 013327006931275;
3. 1 (satu) buah Hand Phone I Phone Type 5 S warna Gold No. Imei 013849004717240.
Dalam amar putusannya hakim yang mengadili perkara ini memutuskan : 1. Menyatakan Terdakwa TEGUH WIYONO Bin SOEHARI terbukti
secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana Memperdagangkan perangkat telekomunikasi di wilayah Negara Republik Indonesia tidak sesuai persyaratan teknis”.
2. Menjatuhakan pidana kepada Terdakwa tersebut diatas dengan pidana
penjara selama 3 (tiga) bulan.
12
3. Menetapkan pidana yang dijatuhkan dikurangkan seluruhnya dari masa penangkapan dan penahanan yang telah dijalani terdakwa.
4. Memerintahkan terdakwa tetap ditahan.
5. Menetapkan barang bukti berupa:
1 (satu) buah Hand Phone I Phone Type 4 S warna hitam No.
Imei 013002001733535,
1 (satu) buah Hand Phone I Phone Type 5 warna putih No.
Imei 013327006931275, dan
1 (satu) buah Hand Phone I Phone Type 5 S warna Gold No.
Imei 013849004717240, Terhadap barang bukti dirampas untuk Negara.
6. Membebankan biaya perkara kepada terdakwa sejumlah Rp.2.500,- (dua ribu lima ratus rupiah).
Selain perkara nomor 24/Pid.Sus/2015/PN Salatiga yang dilakukan oleh TEGUH WIYONO Bin SOEHARI, pada tahun 2015 Pengadilan Negeri Salatiga juga menangani perkara yang sama dengan nomor perkara 23/Pid.Sus/2015/PN Slt yang dilakukan oleh EDDY IRAWAN Bin IRAWAN CAHYADI pemilik toko Graha Cell yang beralamat di Jl. Sukowati 2 b Kota Salatiga. Dalam dakwaan penuntut umum, EDDY IRAWAN Bin IRAWAN CAHYADI di dakwa telah memperdagangkan, membuat, merakit, memasukkan, atau menggunakan perangkat telekomunikasi di wilayah negara Republik Indonesia yang tidak sesuai dengan persyaratan teknis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 ayat (1) UURI No. 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi yang menyatakan “perangkat telekomunikasi yang diperdagangkan, dibuat, dirakit, dimasukkan dan atau digunakan di wilayah Negara Republik Indonesia wajib memperhatikan persyaratan teknis dan berdasarkan izin sesuai dengan peraturan perundang- undangan”.
Kasus ini berawal ketika petugas petugas dari Sat Reskrim Polres Salatiga mendapatkan informasi dari masyarakat bahwa di Toko Handphone Graha Cell Jl.
Sukowati 2 b Kota Salatiga, telah memperdagangkan alat komunikasi Ponsel
merk i Phone Type 4 S dan merk Xiaomi type Red mi 2, Replika dan BM (Black
13
Market) / yang diduga illegal. Kemudian atas informasi tersebut, petugas menindaklanjuti dengan melakukan penyelidikan di Toko Handphone Graha Cell Jl. Sukowati 2 b Kota Salatiga tersebut dan benar bahwa ditempat tersebut petugas mendapati alat komunikasi berupa I Phone Replika dan BM (Black Market) yang dipajang di etalase Toko tersebut
Saat dilakukan penggeledahan di toko yang beralamat di Jl. Sukowati 2 b Kota Salatiga terdakwa EDDY IRAWAN Bin IRAWAN CAHYADI mengakui bahwa Ponsel yang ditemukan pada toko tersebut adalah miliknya dan Ponsel tersebut didapatkan tidak melalui distributor resmi melainkan membeli melalui agen Hand Phone yang bernama TRITEK alamat Surabaya. Pada Ponsel yang disita tidak memiliki label sertifikasi dari Postel baik di Doznya maupun di perangkatnya serta tidak dilengkapi dengan buku petunjuk penggunaan manual, dalam bahasa Indonesia melainkan dalam bahasa Inggris saja dan EDDY IRAWAN Bin IRAWAN CAHYADI menjualnya kepada konsumen yang datang ke toko.
Dalam dakwaan penuntut umum mendakwa EDDY IRAWAN Bin IRAWAN CAHYADI telah memperdagangkan, membuat, merakit, memasukkan, atau menggunakan perangkat telekomunikasi di wilayah negara Republik Indonesia yang tidak sesuai dengan persyaratan teknis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 ayat (1) UURI No. 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi yang menyatakan perangkat telekomunikasi yang diperdagangkan, dibuat, dirakit, dimasukkan dan atau digunakan di wilayah Negara Republik Indonesia wajib memperhatikan persyaratan teknis dan berdasarkan izin sesuai dengan peraturan perundang- undangan
Pada kasus ini pihak kepolisian menyita 11 buah handphone atau ponsel yaitu:
1. 1 (satu) buah Hand Phone merk i Phone Type 4 S warna putih No Imei 012939000781786;
2. 1 (satu) Buah Hand Phone merk Xiaomi type Red mi 2 warna Grey No imei 866048025153950;
3. 1 (satu) Buah Hand Phone merk Xiaomi type Red mi 2 warna Grey
No imei 866048025133408;
14
4. 1 (satu) Buah Hand Phone merk Xiaomi type Red mi 2 warna Grey No imei 866048025171093;
5. 1 (satu) Buah Hand Phone merk Xiaomi type Red mi 2 warna Grey No imei 866048025169766;
6. 1 (satu) Buah Hand Phone merk Xiaomi type Red mi 2 warna Grey No imei 866048025100076;
7. 1 (satu) Buah Hand Phone merk Xiaomi type Red mi 2 warna white No imei 866048023161773;
8. 1 (satu) Buah Hand Phone merk Xiaomi type Red mi 2 warna white No imei 866048023158167;
9. 1 ( satu) Buah Hand Phone merk Xiaomi type Red mi 2 warna white No imei 866048023289525;
10. 1 (satu) Buah Hand Phone merk Xiaomi type Red mi 2 warna white No imei 866048023161070;
11. 1 (satu)Buah Hand Phone merk Xiaomi type Red mi 2 warna white No imei 866048023292198.
Dalam amar putusannya hakim yang mengadili perkara ini memutuskan : 1. Menyatakan bahwa Terdakwa : EDDY IRAWAN Bin IRAWAN
CAHYADI terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana “Memperdagangkan Perangkat Telekomunikasi di Wilayah Negara Republik Indonesia Tidak Sesuai Persyaratan Teknis”.
2. Menjatuhkan pidana terhadap Terdakwa oleh karena itu dengan pidana penjara selama 2 (dua) bulan dan 15 (lima belas) hari.
3. Menetapkan bahwa masa lamanya Terdakwa ditahan dikurangkan seluruhnya dari pidana yang dijatuhkan.
4. Menetapkan agar terdakwa tetap berada dalam tahanan 5. Menetapkan agar barang bukti berupa :
1 (satu) buah Hand Phone merk i Phone Type 4 S warna putih
No Imei 012939000781786 ;
15
1 (satu) Buah Hand Phone merk Xiaomi type Red mi 2 warna Grey No imei 866048025153950;
1 (satu) Buah Hand Phone merk Xiaomi type Red mi 2 warna Grey No imei 866048025133408;
1 (satu) Buah Hand Phone merk Xiaomi type Red mi 2 warna Grey No imei 866048025171093;
1 (satu) Buah Hand Phone merk Xiaomi type Red mi 2 warna Grey No imei 866048025169766;
1 (satu) Buah Hand Phone merk Xiaomi type Red mi 2 warna Grey No imei 866048025100076;
1 (satu) Buah Hand Phone merk Xiaomi type Red mi 2 warna white No imei 866048023161773;
1 (satu) Buah Hand Phone merk Xiaomi type Red mi 2 warna white No imei 866048023158167;
1 ( satu) Buah Hand Phone merk Xiaomi type Red mi 2 warna white No imei 866048023289525;
1 (satu) Buah Hand Phone merk Xiaomi type Red mi 2 warna white No imei 866048023161070;
1 (satu)Buah Hand Phone merk Xiaomi type Red mi 2 warna white No imei 866048023292198;
Dirampas untuk dimusnahkan.
6. Membebankan kepada Terdakwa untuk membayar biaya perkara sebesar Rp. 2.000,- (dua ribu rupiah).
B. Rumusan Masalah
Dari penjelasan Latar Belakang Masalah diatas, maka permasalahan yang akan diteliti adalah:
1. Bagaimana pengertian tindak pidana memperdagangkan perangkat
telekomunikasi tidak sesuai persyaratan teknis?
16 C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan permasalahan yang sudah tertulis diatas, tujuan penelitian ini adalah:
1. Menganalisa dan memahami tindak pidana memperdagangkan perangkat telekomunikasi tidak sesuai persyaratan teknis.
D. Manfaat Penelitian
Dalam melakukan penelitian ini, manfaat yang akan diperoleh dari penelitian ini terbagi atas 2 (dua) kategori, yaitu manfaat teoritis dan manfaat praktis.
Penjabarannya adalah sebagai berikut:
1. Manfaat Teoritis
a) Penelitian ini diharapkan dapat memberikan konstribusi pemikiranbagi perkembangan ilmu hukum.
b) Hasil penelitian ini menambah pengetahuan tentang pengaturan hukum mengenai tindak pidana penjualan ponsel illegal.
2. Manfaat Praktis
Dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat dijadikan jawaban atas berbagai permasalahan hukum mengenai ponsel illegal dan diharapkan dengan adanya penelitian ini diharapkan akan memberikan manfaat terhadap kesadaran hukum kepada masyarakat luas.
E. Metode Penelitian 1. Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian hukum. Menurut Peter Mahmud dalam bukunya yang berjudul “Penelitian Hukum”, Penelitian hukum adalah suatu proses untuk menemukan aturan hukum prinsip-prinsip hukum, maupun doktrin-doktrin hukum guna menjawab isu hukum yang dihadapi.
9Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian hukum normatif dimana penelitian hukum normatif adalah penelitian hukum yang
9
Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum, Jakarta, Kencana, 2005, hlm.35.
17
meletakkan hukum sebagai sebuah bangunan sistem norma. Sistem norma yang dimaksud adalah mengenai asas-asas, norma, kaidah dari peraturan perundangan, (ajaran).
102. Pendekatan Penelitian
Dalam Penelitian ini, Pendekatan yang hendak digunakan yaitu : a) Pendekatan Perundang-undangan (statute approach)
Penulis menggunakan pendekatan ini untuk melihat secara komprehensif dan sistematis norma-norma hukum yang berlaku. Norma-norma hukum yang berlaku dilihat kaitannya satu dengan yang lain yang tersusun secara hierarkis
11.
b) Pendekatan Kasus (case approach)
Pendekatan kasus dilakukan dengan menelaah kasus yang berkaitan dengan isu hukum yang menjadi topik pembahasan dalam sebuah penulisan.
123. Bahan Hukum
Pada penelitian ini bahan hukum yang digunakan adalah:
a) Bahan Hukum Primer
1) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP).
2) Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika (Permen Kominfo) Nomor 11 Tahun 2019 tentang Pengendalian Alat dan/atau Perangkat Telekomunikasi yang Tersambung ke Jaringan Bergerak Seluler Melalui Indentifikasi International Mobile Equipment Identity (IMEI).
3) Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2006 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan.
10
Mukti Fajar ND. Yulianto Achmad, Dualisme Penelitian Hukum Normatif & Empiris, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2010, hal. 34
11
Johny Ibrahim, Teori dan Metodologi Penelitian Hukum Normatif, Bayumedia Publishing, Malang, 2006, hlm. 303.
12
Peter Mahmud Marzuki, Op.Cit., hlm.134.
18
4) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi.
5) Peraturan Mentri Perdagangan Nomor 19/M- DAG/PER/5/2009.
6) Undang-Undang No. 9 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.
7) UURI Nomor 36 tahun 1999 tentang Telekomunikasi.
8) Peraturan Mentri Komunikasi dan Informatika Nomor 29/PER/M.KOMINFO/09/2008.
9) Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia.
10) Putusan Pengadilan Negeri Salatiga Nomor 24/Pid.Sus/2015/PN Slt.
11) Putusan Pengadilan Negeri Salatiga Nomor 23/Pid.Sus/2015/PN Slt
b) Bahan Hukum Sekunder.
Bahan yang memberikan penjelasan mengenai bahan hukum primer. Menurut Marzuki bahan penelitian hukum sekunder adalah bahan-bahan berupa semua publikasi tentang hukum yang bukan merupakan dokumen-dokumen resmi, meliputi buku-buku teks, kamus-kamus hukum, jurnal-jurnal hukum, dan komentar-komentar atas putusan pengadilan.
13Bahan Hukum Sekunder yang digunakan yaitu :
1. Buku buku dibidang hukum.
2. Makalah.
3. Jurnal Ilmiah.
4. Artikel Ilmiah.
5. Hasil penelitian lain yang berhubungan dengan penelitian ini.
13