• Tidak ada hasil yang ditemukan

2. TINJAUAN PUSTAKA 2.2. Tinjauan Aspek Teknis

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "2. TINJAUAN PUSTAKA 2.2. Tinjauan Aspek Teknis"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

2.1. Pendahuluan

Investasi merupakan usaha menanamkan faktor- faktor produksi langka dalam proyek tertentu. Proyek itu sendiri dapat bersifat baru sama sekali atau perluasan proyek yang sudah ada. Tujuan utamanya adalah memperoleh ma nfaat finansial dan non finansial yang layak di kemudian hari. Dalam kenyataan yang ada tidak semua proyek yang dibangun baik oleh pihak swasta maupun pemerintah dapat mencapai hasil seperti yang diharapkan. Penyebab kegagalan suatu proyek antara lain:

a) Pemilik atau pelaksana pembangunan tidak memahami dengan jelas syarat teknis apa yang harus dipenuhi

b) Pimpinan pelaksana kurang ahli, tidak jujur dan kurang bertanggung jawab.

c) Rencana pembangunan tidak cukup matang, desain teknis kurang sempurna.

d) Salah dalam penentuan bahan, peralatan, dan tenaga kerja.

e) Kebutuhan biaya pembangunan lebih tinggi dari yang dianggarkan.

f) Timbul perubahan ekonomi keuangan, sosial, atau politik yang tidak menguntungkan.

g) Timbul bencana alam di daerah lokasi proyek.

2.2. Tinjauan Aspek Teknis

Aspek teknis merupakan suatu aspek yang berkenaan dengan proyek pembangunan atau perluasan proyek secara teknik dan pengoperasiannya setelah proyek tersebut selesai dibangun. Berdasarkan pada analisa ini pula dapat diketahui rancangan awal penaksiran biaya investasi termasuk biaya eksploitasinya. Pada aspek teknis dibahas mengenai:

a) Proses produksi, dengan mengetahui teknik dan aliran prosesnya dapat menjadi pertimbangan pada pemilihan mesin dan penataan lay out pabrik

(2)

b) Lokasi, yaitu apakah ada lokasi yang sesuai untuk pendirian atau perluasan pabrik.

c) Kondisi infrastruktur, sebelum melakukan perluasan proyek perlu diperhatikan kesiapan infrastruktur pabrik seperti pasokan air, jaringan listrik, dan sarana jalan yang ada.

d) Sumber Daya Manusia, perlu diperhatikan mengenai ketersediaan tenaga kerja yang terdidik dan terlatih.

e) Pemilihan mesin, dipertimbangkan faktor-faktor proses produksi, derajat mekanisasi, dan anggaran yang tersedia. Untuk pengambilan keputusannya dipergunakan metode Analytic Hierarchy Process (AHP).

f) Tata letak pabrik, penting untuk diperhatikan mengingat suatu pabrik dipakai dalam jangka panjang, karena itu kesalahan tata letak akan menimbulkan ongkos yang banyak.

2.3. Tinjauan Aspek Finansial

Dalam analisa aspek finansial diperhitungkan berapa jumlah dana yang dibutuhkan untuk membangun dan kemudian mengoperasikan proyek. Dana untuk membangun proyek lazim disebut dana modal tetap, yaitu untuk membiayai pra-investasi, pengadaan tanah, gedung, mesin, peralatan, dan biaya-biaya lain.

Dana yang dibutuhkan untuk memutar roda operasi proyek setelah selesai dibangun disebut dana modal kerja. Laporan keuangan yang diperlukan dalam aspek finansial antara lain:

• Sales plan

• Manufacturing plan

• General & administrative plan

• Cash flow

Kemudian dilakukan analisa penilaian investasi suatu proyek dengan beberapa metode, yaitu:

• Net Present Value

• Internal Rate of Return

• Analisa payback period

(3)

• Analisa sensitivitas.

2.4. Analytic Hierarchy Process (AHP)

AHP adalah suatu teknik pengambilan keputusan yang memasukkan kriteria ganda baik yang bersifat nyata, tidak nyata, kuantitatif, maupun kualitatif.

Teknik ini memperhitungkan adanya konflik kepentingan yang seringkali membuat seseorang sulit menentukan bobot dari faktor- faktor keputusan.

Langkah- langkah metode AHP:

a. Membuat struktur hierarki dengan memecah permasalahan ke dalam kriteria-kriteria dan alternatif yang menunjukkan elemen-elemen utama permasalahan dan hubungan elemen-elemen tersebut

b. Mengumpulkan data untuk kriteria-kriteria keputusan dan mengkodekan dalam skala AHP atau dengan kata lain menggunakan pairwise comparison. Dalam pairwise comparison digunakan skala rasional untuk mengkuantifikasikan faktor yang subyektif. Skala yang digunakan adalah skala 1-9 yang secara sistematik menggambarkan preferensi pengambil keputusan sebagai berikut:

1 = equal important è 2 kriteria memberikan kontribusi yang sama 3 = moderate importance è sedikit lebih diunggulkan daripada yang lain 5 = essential, strong importance è lebih diunggulkan

7 = demonstrated importance è jauh lebih diunggulkan/lebih penting 9 = extreme importance è keunggulan yang tidak dapat dipertanyakan lagi

(2,4,6,8) = grey area è nilai-nilai antara pada saat diperlukan suatu kompromi.

Jika ada n kriteria, maka akan terdapat n(n-1)/2 pairwise comparison

Contoh perbandingan berpasangan kriteria A dan B

9 8 7 6 5 4 3 2 1 2 3 4 5 6 7 8 9 A

Υ

B

Berarti kriteria A lebih diunggulkan dibandingkan kriteria B

(4)

Kemudian hasil dari pairwise comparison disusun dalam matriks. Matriks ini bersifat resiprokal (berbalikan). Jika {C1,C2,...,Cn} adalah himpunan kriteria-kriteria atau alternatif-alternatif maka nilai- nilai perbandingan dalam matriks adalah sebagai berikut:

C1 C2 ... Cn









= Α

ann an

an

n a a

a

n a a

a

Cn C C

...

2 1

2 ...

22 21

1 ...

12 11 2 1

(2.1)

a11 = a22 = ... = ann = 1

Jika aij = a maka aji = 1/a, a ? 0

Jika Ci dinyatakan “equally importance” terhadap Cj, maka aij = aji = 1 Matriks A dapat ditulis sebagai berikut:









= Α

1 ....

2 / 1 1 / 1

2 ...

1 12 / 1

1 ....

12 1

n a n a

n a a

n a a

(2.2)

c. Menentukan bobot untuk setiap kriteria dan alternatif untuk mendapatkan prioritas elemen dalam hierarki. Yaitu dengan melakukan normalisasi jumlahan elemen – elemen baris.

Jumlahan elemen2 baris =

= n

i

aij

1

(2.3)

baris elemen

Jumlahan Total

baris elemen

Jumlahan kriteria

Bobot

2

= 2 (2.4)

d. Mengecek konsistensi

Penting untuk mengetahui apakah seseorang konsisten dalam melakukan pairwise comparison, tetapi konsistensi ini tidak boleh dipaksakan. Parameter untuk menentukan apakah seseorang konsisten atau tidak adalah Consistency Ratio (CR). CR merupakan ukuran seberapa

(5)

besar variasi yang diijinkan atau dengan kata lain seberapa besar derajat inconsistency dari penetapan nilai perbandingan antar kriteria yang telah dibuat, CR dapat dihitung dari:

x RandomInde

yIndex Consistenc

CR= (2.5)

Dimana RI diperoleh dari tabel berikut:

Tabel 2.1. Random Index

n 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

RI 0 0 0.58 0.9 1.12 1.24 1.32 1.41 1.45 1.49

n 11 12 13 14 15 RI 1.51 1.53 1.56 1.57 1.59

CI diperoleh dari perhitungan sebagai berikut:

1 max

= − n CI λ n

(2.6) Penilaian konsistensinya atas perbandingan antar kriteria yang telah dibuat

adalah sebagai berikut:

• Nilai CR = 0.1, berarti masih dapat ditoleransi.

• Nilai CR > 0.1, maka perlu direvisi.

• Nilai CR = 0, berarti perfectly consistent

e. Menyatukan (synthezise) bobot tersebut untuk menentukan overall outcome dan mengambil keputusan berdasarkan bobot terbesar yang dihasilkan dari setiap alternatif.

2.5. Computerized Relationship Layout Planning (Corelap)

Sebelum melakukan perancangan tata letak fasilitas dengan metode corelap, harus dianalisa terlebih dahulu data-data yang ada pada Activity Relation Chart (ARC). ARC menyatakan hubungan kedekatan kualitatif antar stasiun kerja atau departemen yang menggunakan huruf-huruf sebagai berikut:

(6)

Tabel 2.2. Simbol, Hubungan dan Nilai- nilai dalam ARC

Simbol Hubungan Nilai

A Absolutely Important 10.000 E Especially Important 1.000

I Important 100

O Ordinary Important 10

U Unimportant 0

X Undesirable -10

ARC sangat berguna dalam perencanaan dan analisa hubungan aktivitas antar masing- masing departemen. Sebagai hasilnya maka data yang didapat selanjutnya akan dimanfaatkan untuk penentuan letak masing- masing departemen tersebut.

Corelap merupakan algoritma pembangunan/constructtion algorithm ,merupakan suatu algoritma untuk menghasilkan rancangan layout baru yang tidak bergantung/tidak memerlukan initial layout. Corelap menggunakan Total closenes rating/TCR (perangkat hubungan kedekatan) dalam pemilihan penempatan stasiun kerja.

Secara matematis:

TCR (i) =

= m

i j

i j

r , i = 1,2,....,m (2.7) ij

Dimana :

m = jumlah departemen dalam rancangan

rij = nilai hubungan kedekatan dari stasiun kerja i terhadap stasiun kerja j.

Langkah- langkah algoritma corelap:

a) Penentuan urutan pengalokasian

1. Pilih salah satu departemen dengan TCR yang maksimum. Jika terdapat lebih dari 1, pilih sembarang departemen. Departemen terpilih akan dialokasikan pertama kali.

(7)

2. Departemen yang dialokasikan kedua dipilih dengan cara mengambil departemen lain yang mempunyai hubungan A dengan departemen terpilih.

3. Ulangi proses kedua sampai semua departemen terpilih

b) Cara pengalokasian dengan menggunakan metode sisi barat (western edge)

2.6. Analisa Net Present Value (NPV)

Metode ini menghitung selisih nilai sekarang investasi dengan nilai sekarang penerimaan-penerimaan kas bersih (operasional maupun terminal cash flow) dimasa yang akan datang. Untuk menghitung nilai sekarang tersebut perlu ditentukan terlebih dahulu tingkat suku bunga yang dianggap relevan / MARR (Minimum Attractive Rate of Return), biasanya menganut tingkat suku bunga deposito. Apabila nilai sekarang penerimaan-penerimaan kas bersih di masa yang akan datang lebih besar daripada nilai sekarang investasi, maka proyek ini dikatakan menguntungkan, dan layak untuk dilakukan apabila terjadi, sebaliknya (disebut NPV negatif), proyek ditolak karena dinilai tidak menguntungkan.

P(i) = n t

(

P F i t

)

t

%, , /

0

=

Α (2.8) Dimana:

P(i) = Nilai sekarang dari keseluruhan aliran kas pada tingkat bunga i % At = Aliran kas pada akhir periode t

i = MARR

n = Jumlah periode penerimaan

2.7. Internal Rate Of Return (IRR)

IRR adalah tingkat bunga yang bilamana dipergunakan untuk mendiskonto seluruh selisih kas masuk pada tahun-tahun operasi proyek akan menghasilkan jumlah kas yang sama dengan jumlah investasi proyek Metode ini menghitung tingkat bunga yang menyamakan nilai sekarang investasi dengan nilai sekarang penerimaan kas bersih dimasa- masa mendatang. Apabila tingkat bunga ini lebih besar daripada tingkat bunga ya ng relevan, maka investasi dikatakan menguntungkan, kalau lebih kecil dikatakan merugikan. Dalam perhitungan IRR

(8)

ini perlu dilakukan sistem trial and error dan interpolasi untuk mendapatkan presentase laba senyatanya yang dihasilkan proyek.

( ) ∑ ( )

= =

n

t n

t

t i F P Et t

i F P Rt

0 0

%, , /

%, ,

/ =0 (2.9) NPW = PWr - Pwe = 0

Dimana:

NPW = Net Present Worth

PWr = Nilai present worth dari semua pemasukan (aliran kas positif) Pwe = Nilai present worth dari semua pemasukan (aliran kas negatif) Rt = Penerimaan Netto yang terjadi pada periode t

Et = Pengeluaran Netto yang terjadi pada periode t termasuk investasi awal

2.8. Payback Period

Metode ini mencoba mengukur seberapa cepat suatu investasi bisa kembali. Satuan hasilnya berupa waktu seperti tahun, bulan. Kalau periode pengembalian lebih pendek dari yang disyaratkan maka proyek dikatakan layak, sebaliknya kalau lebih lama maka proyek ditolak.

0 = -P +

∑ ( )

=

Α

n

t

t i F P t

1

%, ,

/ (2.10) Dimana:

At = Aliran kas yang terjadi pada periode t t = Periode pengembalian

2.9. Analisa Sensitivitas

Kemampuan proyek beroperasi dengan baik dan menghasilkan laba sering dipengaruhi oleh berbagai faktor, misal harga jual produk, jumlah hasil penjualan, Nilai tukar rupiah terhadap dolar, dan lain- lain. Apabila selama studi kelayakan proyek diketahui ada satu atau beberapa faktor yang besar pengaruhnya terhadap kelangsungan hidup proyek maka perlu dikaji seberapa jauh kepekaan proyek terhadap perubahan faktor- faktor tersebut.

Gambar

Tabel 2.2. Simbol, Hubungan dan Nilai- nilai dalam  ARC

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, dapat ditarik beberapa kesimpulan. 1) Perubahan genetik yang terjadi dalam suatu perkawinan antar ras dapat diidentifikasi

Daya lekat hasil lapis difusi juga sangat baik karena terjadi gradasi fasa dan kekerasan antara lapisan putih (khrom), lapisan difusi hingga ke logam dasar, sedangkan pada hasil

rahmat dan karunia-Nya, penulis masih diberi kesempatan untuk menyelesaikan skripsi yang berjudul “ Pengaruh Product Bundling dan Price Bundling Terhadap

Bukaan pada dinding bangunan yang berupa jendela kaca dapat dimanfaatkan sebagai sarana pencahayaan alami untuk diteruskan ke dalam ruang dalam (ruang baca) di area

Yang menjadi landasan peneliti untuk melakukan penelitian pengembangan di PTM Tri Dharma adalah pedoman yang terdapat pada visi misi FIK yaitu “menyelenggarakan

Jenis data yang dikumpulkan dari pengamatan aktivitas berkubang diantaranya waktu, suhu, jumlah individu yang berkubang dalam satu waktu dan jenis kegiatan dari

melahirkan produk-produk tehnologi baru seperti alat transporrasi modern, senjata kimia, sistem ekonomi baru, lahirnya berbagai inovasi baru, maka masyarakat semakin