• Tidak ada hasil yang ditemukan

SKRIPSI OLEH RIZKY HARTAWAN NATANAEL PURBA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "SKRIPSI OLEH RIZKY HARTAWAN NATANAEL PURBA"

Copied!
97
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

ANALISIS PENGARUH DERAJAT DESENTRALISASI FISKAL, ALOKASI BELANJA MODAL, KETERGANTUNGAN KEUANGAN

DAERAHTERHADAP INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA PADA PEMERINTAHAN KABUPATEN/KOTA

DI PROVINSI JAWA BARAT

OLEH

RIZKY HARTAWAN NATANAEL PURBA 120503140

PROGRAM STUDI STRATA 1 DEPARTEMEN AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN 2016

(2)

PERNYATAAN

Saya yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi saya yang berjudul “ANALISIS PENGARUH DERAJAT

DESENTRALISASI FISKAL, BELANJA MODAL DAN

KETERGANTUNGAN DAERAH TERHADAP INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA PADA PEMERINTAHAN KABUPATEN/KOTA DI PROVINSI JAWA BARAT’ adalah benar hasil karya tulis saya sendiri yang disusun sebagai tugas akademik guna menyelesaikan beban akademik pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.

Bagian atau data tertentu yang saya peroleh dari lembaga, dan/atau saya kutip dari hasil karya orang lain telah mendapat izin, dan/atau dituliskan sumbernya secara jelas sesuai dengan norma, kaidah dan etika penulisan ilmiah.

Apabila kemudian hari ditemukan adanya kecurangan dan plagiat dalam skripsi ini, saya bersedia menerima sanksi sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Medan, ...2016 Yang Membuat Pernyataan

RIZKY H. NATANAEL PURBA NIM : 120503140

(3)

ABSTRAK

ANALISIS PENGARUH DERAJAT DESENTRALISASI FISKAL, BELANJA MODAL DAN KETERGANTUNGAN KEUANGAN DAERAH

TERHADAP INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA PEMERINTAHAN KABUPATEN/KOTA

DI PROVINSI JAWA BARAT

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh Derajat Desentralisasi Fiskal, Belanja Modal dan Ketergantungan Keuangan Daerah terhadap Indeks Pembangunan Manusia pada Pemerintahan Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Barat baik secara parsial maupun simultan.. Populasi dari penelitian ini adalah Pemerintahan kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Barat yang mempublikasikan Laporan APBD dan Laporan Realisasi APBD periode 2011- 2013.Sampel penelitian diambil dengan menggunakan teknik purposive sampling.

Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah Derajat Desentralisasi Fiskal, Belanja Modal dan Ketergantungan Keuangan Daerah sebagai variabel independen, Indeks Pembangunan Manusia sebagai variabel dependen. Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis statistik deskriptif, uji asumsi klasik, analisis regresi berganda dan uji hipotesis dengan bantuan software SPSS 16.0 for windows.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara simultan, Derajat Desentralisasi Fiskal, Belanja Modal dan Ketergantungan Keuangan Daerah berpengaruh signifikan terhadap Indeks Pembangunan Manusia. Secara parsial, Belanja Modal dan Ketergantungan Daerah berpengaruh signifikan negatif terhadap Indeks Pembangunan Manusia, sedangkan Derajat Desentralisasi Fiskal berpengaruh signifikan positif terhadap Indeks Pembangunan Manusia.

Kata kunci :Derajat Desentralisasi Fiskal, Belanja Modal, Ketergantungan Keuangan Daerah, Indeks Pembangunan Manusia (IPM)

(4)

ABSTRACT

ANALYZING THE INFLUENCE OF DEGREE OF

FISCALDECENTRALIZATION, CAPITAL EXPENDITURE AND LOCAL FINANCIAL DEPENDENCY TO HUMAN

DEVELOPMENT INDEX AT DISTRICTS OR CITIES ADMINISTRATION

OF WEST JAVA

The purpose of this research isdetermine whether the effect of degree of fiscal decentralization, capital expenditure and local financial dependency to human development index partially or simultaneously. The population of this research is the government at the west java province which published the general revenues and expenditure budget report and the general revenues and expenditure report realization report in the 2011-2013 period. The sample on this research taken with the purposive sampling technique. The variable that being used in this research are Degree of Fiscal Decentralization, Capital Expenditure, Local Financial Dependency as the independent variable, Human Development Index as dependent variable. The data analysis method in this research are the descriptive statistic analysis, the classic assumption test, the double regression analysis and hypotethical test with the use of SPSS 16.0 for windows software. The result of this research shows that Degree of Fiscal Decentralization, Capital Expenditure, and Local Financial Dependency are significantly giving a simultaneous effect at human development index. Partially, Capital Expenditure and Local Financial Dependency giving a significant negative effect on the Human Development Index, but Degree of Fiscal Decentralization giving a significant positive effect on the Human Development Index.

Keyword :Degree of Fiscal Decentralization, Capital Expenditure, and Local Financial Dependency, Human Development Index

(5)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur pada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan kasih karunia- Nya yang melimpah sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini tepat pada waktu-Nya.Penulisan skripsi ini berguna untuk memperoleh gelar sarjana dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.

Penulis juga banyak mendapat bimbingan, arahan dan motivasi dari berbagai pihak yang mendukung penulisan skripsi ini. Untuk itu penulis berterima kasih kepada :

1. Bapak Prof. Dr Ramli, MS., selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara

2. Bapak Dr. Syafruddin Ginting Sugihen, M.A.F.I.S., Ak., selaku Ketua Departemen S1 Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara dan Bapak Drs. Hotmal Jafar, M.M., Ak., selaku Sekretaris Departemen S1 Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara

3. Bapak Firman Syarif, S.E., M.Si, Ak., selaku Ketua Program Studi S1 Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara dan Ibu Mutia Ismail, S.E., M.M., Ak., selaku Sekretaris Program Studi S1 Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.

Terima kasih untuk bimbingan dan pembelajaran selama ini.

4. Bapak Drs. Hasan Sakti Siregar, MSi, Ak. selaku Dosen Pembimbing, Bapak Drs. Rustam, M.Si., Ak, CA selaku Dosen Penguji, Bapak Firman

(6)

Syarif, S.E., M.Si, Ak. selaku Dosen Pembanding. Terimakasih yang sedalam-dalamnya atas pembelajaran, bimbingan, motivasi dan kasih sayang kepada penulis selama penyelesaian penulisan skripsi ini.

5. Terima kasih yang tak terhingga untuk kedua orang tua penulis, Ayah Sabarmen Purba dan Mama Heriaty Sintauli Sumbayak yang sudah membesarkan, mendidik, mengayomiserta tidak pernah berhenti untuk selalu mendoakan setiap langkah kehidupan penulis. Untuk adik penulis, Rendy Hisar Anggaraya Purba, terima kasih untuk setiap doa, motivasi, dan kasih sayang kepada penulis.

6. Terima kasih untuk Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Komisariat FEB USU beserta seluruh anggota yang ada didalamnya, sahabat-sahabat penulis, Ariel, Arnold, Afendry, Handi, Ichan,James, Jekson, Pedro Rey dan Siska yang telah memberikan semangat dan doa untuk penulis khususnya selama penyelesaian skripsi ini. Dan untuk teman-teman S1 Akuntansi FEB USU angkatan 2012, terima kasih untuk kebersamaan, pembelajaran dan semangat selama tahun-tahun terakhir penyelesaian tugas akhir kita. Semoga kita sukses!

Penulis sudah berusaha semaksimal mungkin untuk penyelesaian skripsi ini.Walaupun begitu penulis menyadari masih terdapat ketidaksempurnaan dalam penulisan skripsi ini yang merupakan keterbatasan penulis. Akhir kata, terima kasih penulis sampaikan kepada semua pihak yang telah mendukung proses

(7)

penyelesaian skripsi ini. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi pembaca.

Medan, Juli 2016 Penulis,

RIZKY H. NATANAEL PURBA NIM. 120503140

(8)

DAFTAR ISI

PERNYATAAN ... i

ABSTRAK ... ii

ABSTRACT ... iii

KATA PENGANTAR ... iv

DAFTAR ISI ... vii

DAFTAR TABEL ... x

DAFTAR GAMBAR ... xi

DAFTAR LAMPIRAN ... xii

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Perumusan Masalah ... 7

1.3 Tujuan Penelitian ... 7

1.4 Manfaat Penelitian ... 7

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Landasan Teori ... 9

2.1.1 Teori Agensi ... 9

2.1.2 Teori Otonomi Daerah ... 10

2.1.3 Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah ... 12

2.1.4 Laporan Realisasi Anggaran ... 15

2.1.5 Konsep Pembangunan Manusia ... 21

2.2 Tinjauan Penelitian Terdahulu ... 27

2.3 Kerangka Konseptual ... 30

2.4 Hipotesis Penelitian ... 33

BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian... 34

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian ... 34

3.3 Definisi Operasional dan Skala Pengukuran Variabel ... 34

3.3.1 Variabel Dependen ... 35

3.3.1.1 Indeks Pembangunan Manusia ... 35

3.3.2 Variabel Independen ... 35

3.3.2.1 Derajat Desentralisasi Fiskal ... 35

(9)

3.3.2.2 Belanja Modal ... 36

3.3.2.3 Ketergantungan Keuangan Daerah ... 36

3.4 Populasi dan Sampel Penelitian ... 38

3.4.1 Populasi Penelitian ... 38

3.4.2 Sampel Penelitian ... 39

3.5 Jenis dan Sumber Data ... 39

3.6 Metode Pengumpulan Data ... 40

3.7 Teknik Analisis Data... 40

3.7.1 Statistik Deskriptif ... 41

3.7.2 Uji Asumsi Klasik ... 41

3.7.2.1 Uji Normalitas ... 41

3.7.2.2 Uji Multikolinearitas ... 42

3.7.2.3 Uji Heteroskedastisitas ... 43

3.7.2.4 Uji Autokorelasi ... 44

3.7.3 Analisis Regresi Berganda ... 45

3.7.4 Uji Hipotesis ... 46

3.7.4.1 Uji Koefesien Determinasi (R2) ... 46

3.7.4.2 Uji Signifikansi Simultan (Uji-F) ... 47

3.7.4.3 Uji Signifikansi Parsial (Uji-t) ... 48

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian ... 49

4.1.1 Analisis Statistik Deskriptif ... 49

4.1.2 Uji Asumsi Klasik ... 51

4.1.2.1 Uji Normalitas ... 52

4.1.2.2 Uji Multikolinearitas ... 54

4.1.2.3 Uji Autokorelasi ... 56

4.1.2.4 Uji Heterokedastisitas ... 57

4.1.3 Analisis Regresi Linear Berganda ... 58

4.1.4 Pengujian Hipotesis ... 60

4.1.4.1 Uji Koefesien Determinasi (R2) ... 60

4.1.4.2 Uji Signifikansi Simultan (Uji-F)... 61

4.1.4.3 Uji Signifikansi Parameter Individu (Uji-t) ... 62

4.2 Pembahasan Hasil Penelitian ... 64

4.2.1 Pengaruh Derajat Desentralisasi Fiskal terhadap IPM ... 64

4.2.2 Pengaruh Belanja Modal terhadap IPM ... 65

4.2.3 Pengaruh Ketergantungan Keuangan Daerah terhadap IPM ... 66

4.2.4 Pengaruh Derajat Desentralisasi Fiskal, Belanja Modal dan Ketergantungan Keuangan Daerahsecara simultan terhadap IPM ... 67

(10)

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan ... 68

5.2 Keterbatasan Penelitian ... 68

5.3 Saran ... 69

DAFTAR PUSTAKA ... 71

LAMPIRAN... 73

(11)

DAFTAR TABEL

No. TabelJudul Halaman

1.1 Perbandingan Komponen IPM Provinsi Jawa Barat dengan

Komponen IPM secara Nasional tahun 2011-2013 ... 5

2.1 Peringkat Kinerja IPM ... 26

2.2 Penelitian Terdahulu ... 27

3.1 Skala Pengukuran Variabel dan Definisi Operasional ... 37

4.1 Statistik Deskriptif ... 49

4.2 Hasil Uji Statistik K-S (Uji Normalitas) ... 54

4.3 Hasil Uji Multikolinearitas ... 55

4.4 Hasil Uji Autokorelasi ... 56

4.5 Hasil Uji Regresi Linear Berganda ... 58

4.6 Hasil Uji Koefesien Determinasi (R2) ... 60

4.7 Hasil Uji Signifikansi Simultan (Uji-F) ... 61

4.8 Hasil Uji Signifikansi Parameter Individual (Uji-t) ... 62

(12)

DAFTAR GAMBAR

No. Gambar Judul Halaman

1.1 Perbandingan IPM Provinsi Jawa Barat dengan IPM secara

Nasional tahun 2011-2013... 4

2.1 Kerangka Konseptual ... 31

4.1 Grafik Histogram ... 52

4.2 Grafik Normal Probability Plot ... 53

4.3 Grafik Scatterplot ... 57

(13)

DAFTAR LAMPIRAN

No. Lampiran Judul Halaman

1 Daftar Populasi dan Sampel Penelitian ... 73

2 Hasil Perhitungan Variabel Independen dan Variabel Dependen pada Pemerintahan Kabupaten/Kota Provinsi Jawa Barat tahun 2011 ... 74

3 Hasil Perhitungan Variabel Independen dan Variabel Dependen pada Pemerintahan Kabupaten/Kota Provinsi Jawa Barat tahun 2012 ... 75

4 Hasil Perhitungan Variabel Independen dan Variabel Dependen pada Pemerintahan Kabupaten/Kota Provinsi Sumatera Utara tahun 2013 ... 76

5 Tabel-t ... 77

6 Tabel-F ... 78

7 Hasil Statistik Deskriptif Data ... 79

8 Hasil Pengujian Asumsi Klasik ... 80

9 Hasil Pengujian Hipotesis ... 83

(14)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Setiap pembangunan yang dilakukan bertujuan untuk mensejahterakan masyarakat. Sejak era tahun 1990-an UNDP menyatakan bahwapembangunan manusia adalah menempatkan manusia sebagai titik sentral dari setiaptahapan dan proses pembangunan. Mahbub ul Haq, pendiri the Human DevelopmentReport, menyatakan bahwa tujuan pembangunan adalah untuk menciptakan lingkunganyang memungkinkan bagi orang untuk menikmati kehidupan lebih lama, sehat dankreatif. Pembangunan didasari untuk memperbesar pilihan atau akses rakyat dalammemperoleh ilmu pengetahuan, mendapatkan gizi dan nutrisi yang lebih baik,mendapatkan pelayanan kesehatan, keamanan, mata pencaharian, perlindungan darikejahatan dan kekerasan fisik, kepuasan berlibur, kebebasan berbudaya dan berpolitikserta berpartisipasi dalam pemerintahan. Manusia tidak lagi hanya sebagai objekpembangunan, melainkan juga sebagai subjek dari pembangunan itu sendiri.

Seluruhupaya pembangunan ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan manusiaberdasarkan pada ukuran kualitas kehidupan dan lingkungan, yang pada akhirnyamewujudkan manusia sebagai makhluk yang bermartabat.Indeks Pembangunan Manusia(IPM) merupakan salah satu tolak ukur yang dapat digunakan dalam menilai kinerja pemerintah daerah, kinerja tersebut dapat diukur dalam pengalokasian Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Derajat Desentralisasi Fiskal, Alokasi Belanja Modal dan Ketergantungan Keuangan

(15)

Daerah merupakan beberapa instrumen yang termasuk dalam APBD. Derajat Desentralisasi merupakan kemampuan pemerintah daerah dalam rangka meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) untuk membiayai pembangunan.Melalui rasio derajat desentralisasi dapat diketahui seberapa besar kemampuan pemerintah daerah menyelenggarakan desentralisasi dengan cara meningkatkan PAD.Semakin tinggi PAD yang diperoleh maka semakin tinggi pula dana yang dapat digunakan pemerintah dalam membangun layanan publik bagi masyarakat. Jika layanan publik dapat terpenuhi dengan baik diharapkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) juga dapat meningkat.

Alokasi belanja modal merupakan pengeluaran anggaran untuk perolehan aset tetap dan aset lainnya yang memberi manfaat lebih dari satu periode akuntansi (Halim, 2007:101).Menurut peraturan pemerintah No. 25 Tahun 2005 belanja modal adalah pengeluaran anggaran untuk perolehan aset tetap dan aset lainnya yang memberi manfaat lebih dari satu periode akuntansi.Belanja modal meliputi belanja modal untuk perolehan tanah, gedung dan bangunan, peralatan, dan asset tak berwujud.Secarateoritis ada tiga cara untuk memperoleh aset tetap tersebut, yakni dengan membangun sendiri,menukarkan dengan aset tetap lainnya, atau juga dengan membeli. Namun, untuk kasus dipemerintahan, biasanya cara yang dilakukan adalah membangunsendiri atau membeli.

Ketergantungan Keuangan Daerah yang merupakan perbandingan antara pendapatan transfer dengan total pendapatan yang diperoleh suatu daerah menunjukkan semakin tinggi rasio ketergantungan daerah semakin tinggi pula tingkat ketergantungan pemerintah provinsi terhadap pemerintah pusat (Mahmudi,

(16)

2007: 128).Apabila pemerintah daerah memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap pemeritah pusat maka dapat dikatakan bahwa pemerintah daerah memiliki kondisi keuangan yang kurang baik, sehingga pelaksanaan penyediaan layanan publik tidak dapat maksimal dan akan menghambat Indeks Pembangunan Manusia (IPM).

Provinsi Jawa Barat merupakan provinsi dengan jumlah penduduk terbanyak di Indonesia berdasarkan hasil Sensus Penduduk oleh BPS pada tahun 2010 dengan jumlah penduduk 43.053.732 jiwa. Pada tahun 2014 jumlah penduduk di Provinsi Jawa Barat meningkat hingga mencapai 46.497.175 jiwa, Kenaikan jumlah penduduk ini secara otomatis meningkatkan kebutuhan masyarakat terhadap sumber daya. Pertambahan jumlah penduduk yang tidak sebanding dengan jumlah sumber daya yang tersedia dapat menghambat produktivitas suatu daerah.Hal tersebut menyebabkan banyak kebutuhan penduduk yang tidak terpenuhi, sehingga berpengaruh terhadap kesejahteraan masyarakat dan menurunnya Indeks Pembangunan Manusia. Pada Provinsi Jawa Barat terjadi kenaikan Indeks Pembangunan Manusia secara konstan setiap tahunnya akan tetapi sebagai salah satu provinsi dengan jumlah penduduk terbanyak Provinsi Jawa Barat masih dibawah rata-rata Indeks Pembangunan Manusia (IPM) nasional.

(17)

Sumber : BPS

Ket : Perhitungan Menggunakan Metode Baru

Gambar 1.1

Perbandingan IPM Provinsi Jawa Barat dengan IPM secara Nasional Tahun 2011-2013

Dari gambar tersebut terlihat jelas terjadi kecenderungan peningkatan IPM di Jawa Barat dan di Indonesia dari tahun 2011 hingga tahun 2013.Kecenderungan peningkatan IPM dari tahun ke tahun menunjukkan adanya kemajuan pembangunan di Jawa Barat setiap tahunnya. Peningkatan IPM tersebut tidak terlepas dari meningkatnya Angka Harapan Hidup, Angka Harapan Lama Sekolah, Angka Rata-rata Lama Sekolah, dan Pengeluaran per Kapita (Purchasing Power Parity)di Jawa Barat. Angka Harapan Hidup di Jawa Barat tahun 2013 mencapai 72,09 tahun 2013. Angka tersebut masih berada di atas angka Harapan Hidup secara nasional yang hanya mencapai 70,40.

Namun, permasalahan yang dihadapi di Jawa Barat saat ini adalah pencapaian kesejahteraan masyarakat dari segi pendidikan dan ekonomi yang relatif belum lebih baik secara nasional. Pada tahun 2013, Angka Harapan Lama Sekolah di Jawa Barat (11,81 tahun) masih dibawah Harapan Lama Sekolah

2011 2012 2013

JAWA BARAT 66,67 67,31 68,25

INDONESIA 67,09 67,70 68,31

65,50 66,00 66,50 67,00 67,50 68,00 68,50

Indeks Pembangunan Manusia

(18)

secara nasional yaitu 12,10 tahun. Untuk itu masih dibutuhkannya peningkatan pembangunan sistem pendidikan di berbagai jenjang yang ada di Jawa Barat.Begitu juga dengan Pengeluaran per kapita Jawa Barat juga masih di bawah Pengeluaran per kapita secara nasional. Pada tahun 2013, PPP Jawa Barat sebesar Rp 9.421.000,- per tahun masih dibawah Pendapatan per kapita nasional yaitu Rp 9.858.000,- per tahun. Tabel 1.1 menunjukan perbandingan komponen-komponen IPM di Jawa Barat dengan komponen IPM secara nasional mulai dari tahun 2011 hingga tahun 2013.

Tabel 1.1

Perbandingan Komponen IPM Provinsi Sumatera Utara dengan Komponen IPM secara Nasional tahun 2012-2014

Uraian

Jawa barat Indonesia

2011 2012 2013 2011 2012 2013 AHH (tahun) 71,56 71,82 72,09 70,01 70,20 70,40 HLS (tahun) 10,91 11,24 11,81 11,44 11,68 12,10 RLS (tahun) 7.46 7,52 7,58 7,52 7,59 7,61 PPP ( Rp.000) 9.249 9.325 9.421 9.647 9.815 9.858

IPM 66,67 67,32 68.25 67,09 67,70 68,31

Sumber :BPS (data diolah)

Dalam penelitian yang dilakukan oleh Gusi Bagus dan Dewa Nyoman (2015) yang menganalisis pengaruh belanja modal terhadap Indeks Pembangunan Manusia (IPM) pada Kabupaten/Kota di Provinsi Bali menunjukkan hasil analisis yang menunjukkan bahwa belanja modal berpengaruh positif dan signifikan terhadap indeks pembangunan manusia. Sejalan dengan penelitian yang dilakukan

(19)

oleh Priambodo (2015) tentang analisis pengaruh belanja pemerintah daerah terhadap Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten/Kota di Pulau Jawa, belanja modal merupakan output yang paling dapat mempengaruhi pembangunan khususnya pembangunan manusia. Belanja modal yang memiliki sifat berupa aset tetap dan bermanfaat jangka panjang menjadikan belanja modal sebagaimodal atau pondasi untuk meningkatkan pembangunan dalam sektor kesehatan, pendidikan, dankemampuan daya beli masyarakat karena manfaatnya yang dapat mempercepat akses hubunganantar pelaku ekonomi sehingga biaya transaksi dapat diminimalkan.

Pada penelitian yang dilakukan oleh Dewi dan Supadmi (2016) terjadi perbedaan dengan penelitian sebelumnya belanja modal berpengaruh negatif dan tidak signifikan pada IPM.Kegagalan belanja modal memengaruhi IPM ini menurut peneliti terjadi karena masih rendahnya alokasi belanja modal dalam upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat serta alokasi belanja modal belum dilaksanakan dengan tepat sasaran.

Berdasarkan penjelasan tersebut penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan mengaitkan berbagai variabel untuk mengetahui pengaruhnya terhadap Indeks Pembangunan Indonesia pada pemerintah provinsi Jawa Barat.

Variabel-variabel tersebut terdiri dari variabel bebas dan variabel terikat.

Sehubungan dengan hal tersebut, judul penelitian ini adalah :“Analisis Pengaruh Derajat Desentralisasi Fiskal, Belanja Modal dan Ketergantungan Keuangan Daerah terhadap Indeks Pembangunan Manusia pada Pemerintahan Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Barat”

(20)

1.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan uraian mengenai latar belakang masalah, maka yang menjadirumusan masalah dalam penulisan ini adalah :

“apakahDerajat Desentralisasi Fiskal, Belanja Modal dan Ketergantungan Keuangan Daerah berpengaruh terhadap Indeks Pembangunan Manusiapada Pemerintahan Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Barat baik secara simultan maupun parsial ?”

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh Derajat Desentralisasi Fiskal, Belanja Modal dan Ketergantungan Keuangan Daerah terhadap Indeks Pembangunan Manusia pada Pemerintahan Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Baratbaik secara simultan maupun secara parsial.

1.4 Manfaat Penelitian

Setiap penelitian tentu memiliki manfaat. Manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut :

a) Bagi penulis, penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan dan pengetahuan peneliti mengenai pengaruh Derajat Desentralisasi Fiskal, Belanja Modal dan Ketergantungan Keuangan Daerah terhadap Indeks

(21)

Pembangunan Manusia pada Pemerintahan Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Barat.

b) Bagi Pemerintah Daerah, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumbangan pemikiran bagi pemerintah daerah dalam menentukan kebijakan-kebijakan yang dapat meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia di daerah masing-masing pada masa yang akan datang.

c) Bagi peneliti sejenis, sebagai bahan acuan atau referensi bagi yang berminat melakukan penelitian sejenis berikutnya.

(22)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Landasan Teori

Dalam landasan teori ini akan dibahas lebih lanjut mengenai teori yang melandasi penelitian ini dan beberapa peneliti terdahulu yang telah diperluas dengan referensi atau keterangan tambahan yang diperoleh selama penelitian.

2.1.1 Teori Agensi

Jensen dan Meckling mendefinisikan hubungan keagenan sebagai kontrak dimana satu orang atau lebih (principal) terlibat dengan orang lain (agent) untuk melakukan pelayanan kepada mereka yang melibatkan beberapa otoritas pengambilan keputusan kepada agent. Sejak otonomi daerah berlaku di Indonesia, perspektif keagenan (agency theory) dapat digunakan disektor publik.Undang-Undang tersebut memisahkan dengan tegas antara fungsi pemerintah daerah (eksekutif) dengan fungsi perwakilan rakyat (legislatif).

Berdasarkan pembedaan fungsi tersebut, eksekutif melakukan perencanaan, pelaksanaan, dan pelaporan atas anggaran daerah, yang merupakan manifestasi dari pelayanan kepada publik, sedangkan legislatif berperan aktif dalam melaksanakan legislasi, penganggaran, dan pengawasan.Pemerintah bertindak sebagai agent yang menerima amanah dari rakyat untuk menjalankan roda pemerintahan dan masyarakat yang

(23)

diwakili oleh DPR bertindak sebagai principal dalam mengawasi aktivitas pemerintah pusat maupun pemerintah daerah.Principalmemberikan sumber daya dan wewenang pengaturan kepada agent (dalam bentuk pajak dan lain- lain). Sebagai wujud pertanggungjawaban atas wewenang yang diberikan, agent memberikan laporan pertanggungjawaban terhadap principal.

(Santoso dan Pambelum, 2008 : 4).

2.1.2 Teori Otonomi Daerah

Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 dan Undang-Undang No. 33 Tahun 2004 dikenal dengan Undang-Undang Otonomi Daerah, merupakan pijakan hukum atas implementasi desentralisasi fiskal di Indonesia. Dengan ditetapkannya Undang-Undang No. 32 Tahun 2004, maka akan terjadi perluasan wewenang pemerintah daerah. Sedangkan Undang-Undang No.

33 Tahun 2004 akan tercipta peningkatan kemampuan keuangan daerah.

Oleh karena itu, otonomi daerah diharapkan bisa menjadi jembatan bagi pemerintah daerah untuk mendorong efisiensi ekonomi, efisiensi pelayanan publik sehingga mampu mendorong pertumbuhan ekonomi daerah serta meningkatkan kesejahteraan penduduk lokal

Desentralisasi fiskal adalah konsekuensi logis dari otonomi daerah.Bowman dan Hawton (1983) menyatakan bahwa tidak satupun pemerintah dari suatu negara dengan wilayah yang luas dapat menentukan secara efektif ataupun dapat melaksanakan kebijaksanaan dan program- programnya secara efisien melalui sistem sentralisasi. Oleh karena itu perlu

(24)

ada distribusi atau pelimpahan wewenang dari pemerintah pusat kepada daerah dan pihak lain yang berkepentingan atau biasa disebut dengan sistem desentralisasi. Dengan sistem ini, daerah akan mengalami proses pemberdayaan yang optimal sehingga kemampuan prakarsa dan kreativitas pemerintah daerah akan terpacu dan berdampak pada kemampuan daerah dalam mengatasi berbagai masalah yang terjadi di daerah akan semakin kuat.

“Perangkat yang digunakan untuk mendukung berjalannya desentralisasi lembaga-lembaga publik tersebut secara ekonomis, efisiensi, efektif, transparan, dan akuntabel sehingga cita-cita reformasi yaitu menciptakan good governance benar-benar tercapai” (Mardiasmo, 2004 : 3).

Good Governance tersebut akan mencerminkan kinerja pemerintah daerah

yang lebih maksimal, sehingga berpengaruh positif terhadap peningkatan pembangunan daerah.

Ciri utama suatu daerah mampu melaksanakan otonomi (Halim, 2001:167) adalah sebagai berikut.

1. Kemampuan keuangan daerah, artinya daerah harus memiliki kewenangan dan kemampuan untuk menggali sumber-sumber keuangan, mengelola dan menggunakan keuangan sendiri yang cukup memadai untuk membiayai penyelenggaraan pemerintahannya.

2. Ketergantungan kepada bantuan pusat harus seminimal mungkin agar pendapatan asli daerah (PAD) dapat menjadi bagian sumber keuangan terbesar. Dengan demikian, peranan pemerintah daerah menjadi lebih besar.

(25)

2.1.3 Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD)

Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) merupakan dasar pengelolaan keuangan daerah dalam satu tahun anggaran. APBD merupakan rencana pelaksanaan semua pendapatan daerah dan semua belanja daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi dalam tahun anggaran tertentu.

Menurut Mardiasmo (2011) anggaran merupakan “pernyataan mengenai estimasi kinerja yang hendak dicapai selama periode waktu tertentu yang dinyatakan dalam ukuran financial ”.

Sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 yang diubah terakhir kali dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 21 Tahun 2011 ada enam fungsi APBD yang wajib diterapkan dalam setiap penyusunan APBD yaitu:

a. Fungsi Otorisasi

Anggaran daerah menjadi dasar untuk melaksanakan pendapatan dan belanja pada tahun yang bersangkutan. Otorisasi sendiri mempunyai makna

“pemberian kekuasaan”, hal ini jika dikaitkan dengan APBD, seseorang atau satuan kerja diberi kekuasaan untuk melaksanakan setiap anggaran, pendapatan, belanja dan pembiayaan yang telah dianggarkan dalam APBD.

Bagi SKPD yang mengaggarkan pendapatan dan telah ditampung dalam APBD, sudah seharusnya mengupayakan seoptimal mungkin untuk merealisasikan pendapatan yang menjadi tanggung jawab SKPD tersebut.

(26)

b. Fungsi Perencanaan

Anggaran daerah menjadi pedoman bagi manajemen dalam merancanakan kegiatan pada tahun yang bersangkutan. Ketika APBD telah ditetapkan, menjadi kewajiban setiap penggunan anggaran untuk membuat anggaran kas agar kegiatan yang telah dianggarakan dalam APBD dapat dilaksanakan sesuai dengan rencana yang telah dibuat. Dalam hal ini tentu saja dengan memperhatikan cash inflow dan ketersediaan uang kas di kas daerah.

c. Fungsi Pengawasan

Anggaran daerah menjadi pedoman untuk menilai apakah kegiatan penyelenggaraan pemerintah daerah sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan. Dokumen perda tentang APBD memuat program dan kegiatan yang akan dilaksanakan dalam satu tahun anggaran. Terhadap program dan kegiatan yang dianggarkan dalam APBD tersebut merupakan implementasi dan pelaksanaan atas urusan pemerintahan yang telah diserahkan dari pusat kepada daerah baik itu urusan wajib maupun urusan pilihan.

d. Fungsi Alokasi

Anggaran daerah harus diarahkan untuk menciptakan lapangan kerja untuk mengurangi pengangguran dan pemborosan sumber daya, serta meningkatkan efisiensi dan efektivitas perekonomian. Seyogyanya, ketika menyusun program dan kegiatan yang akan dianggarkan dalam APBD, pemerintah lebih menekankan pada kegiatan-kegiatan yang dapat menyerap

(27)

tenaga kerja, sehingga pada akhirnya secara signifikan akan mengurangi pengangguran di daerah yang bersangkutan.

e. Fungsi Distribusi

Kebijakan anggaran daerah harus memperhatikan rasa keadilan dan kepatutan. Dalam penerapan fungsi distribusi perancangan APBD harus lebih mengutamakan kegiatan-kegiatan yang output-nya dapat dinikmati oleh masyarakat. Kata kuncinya: masyarakat harus mempunyai kesempatan yang sama dalam mengakses manfaat output dari proses kegiatan yang didanai dari ‘uang rakyat’ tersebut.

f. Fungsi Stabilisasi

Anggaran pemerintah daerah menjadi alat untuk memelihara dan mengupayakan keseimbangan fundamental perekonomian daerah. Dengan fungsi stabilisasi ini, APBD sejatinya dapat digunakan untuk menciptakan stabilitas ekonomi pada tingkat lokal. Pengimplementasian fungsi stabilisasi dapat melalui kebijakan pengalokasian belanja subsidi dalam APBD.

Alokasi anggaran belanja subsidi diberikan kepada lembaga / perusahaan yang memproduksi barang / jasa yang dibutuhkan oleh masyarakat setempat. Subsidi ini pada dasarnya diberikan untuk bantuan biaya produksi pada lembaga / perusahaan. Dengan diberikannya subsidi tersebut keuntungan perusahaan tidak akan berkurang namun harga barang / jasa yang dihasilkan dapat terjangkau oleh masyarakat. pengalokasian belanja subsidi dalam APBD maka daya beli masyarakat akan semakin baik dan penghasilannya dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhannya.

(28)

2.1.4 Laporan Realisasi Anggaran

Menurut Dedi Nordiawan (2010:122) Laporan realisasi anggaran adalah : “ Laporan yang menyajikan ikhitsar sumber, alokasi dan pemakain sumber daya ekonomi yang dikelola oleh pemerintah (pusat atau daerah), dalam satu periode pelaporan.”. Unsur yang dicakup secara langsung oleh LRA terdiri dari pendapatan, belanja, transfer, dan pembiayaan.

Pendapatan daerah adalah semua hak daerah yang diakui sebagai penambah nilai kekayaan bersih dalam periode anggaran tertentu (UU.No 32 Tahun 2004 tentang pemerintahan daerah), pendapatan daerah berasal dari penerimaan dari dana perimbangan pusat dan daerah, juga yang berasal daerah itu sendiri yaitu pendapatan asli daerah serta lain-lain pendapatan yang sah.. Sebaliknya, semua pengeluaran dari rekening kas umum daerah yang mengurangi ekuitas dana merupakan kewajiban daerah dalam satu tahun anggaran dan tidak akan diperoleh pembayarannya kembali merupakan definisi dari belanja daerah. Transfer adalah penerimaan atau pengeluaran uang oleh suatu entitas pelaporan dari/kepada entitas pelaporan lain, termasuk dana perimbangan dan dana bagi hasil. Pembiayaan daerah adalah seluruh transaksi keuangan pemerintah daerah, baik penerimaan maupun pengeluaran, yang perlu dibayar atau akan diterima kembali, yang dalam penganggaran pemerintah daerah terutama dimaksudkan untuk menutup defisit dan atau memanfaatkan surplus anggaran.

Menurut Permendagri No. 13 Tahun 2006, pendapatan daerah terdiri atas:

(29)

a. Pendapatan asli daerah (PAD) b. Dana perimbangan

c. Lain-lain pendapatan daerah yang sah mencakup hibah (barang atau uang dan/atau jasa), dana darurat, dana bagi hasil pajak dari provinsi kepada kabupaten/kota, dana penyesuaian dan dana otonomi khusus, serta bantuan keuangan dari provinsi atau pemda lainnya.

Tidak jauh berbeda, menurut Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 71 Tahun 2010, pendapatan daerah terdiri atas:

a. Pendapatan asli daerah (PAD)

b. Pendapatan transfer, termasuk dana perimbangan dan pendapatan transfer lainnya

c. Lain-lain pendapatan yang sah, merupakan pendapatan yang tidak dapat diklasifikasikan ke dalam PAD dan pendapatan transfer. Yang termasuk dalam pendapatan jenis ini adalah hibah, dana darurat, dana bagi hasil pajak dari provinsi kepada kabupaten/kota, dana penyesuaian dan dana otonomi khusus, serta bantuan keuangan dari provinsi atau pemda lainnya.

Dana perimbangan termasuk dari pendapatan transfer yang merupakan pendapatan yang bersumber dari transfer pemerintah pusat dalam rangka pelaksanaan otonomi daerah. Dana perimbangan terdiri atas:

1) Dana bagi hasil (DBH) yang merupakan dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada daerah dengan angka persentase tertentu didasarkan atas daerah penghasil

(30)

untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi. DBH terdiri atas DBH pajak dan bukan DBH bukan pajak (sumber daya alam).

2) Dana alokasi umum (DAU) yang merupakan dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan dengan tujuan pemertaan kemampuan keuangan antardaerah untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi.

3) Dana alokasi khusus (DAK) yang merupakan dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan pada daerah tertentu untuk membantui mendanai kegiatan khusus daerah dan menjadi prioritas nasional.

Ketergantungan fiskal daerah juga dapat dilihat dari laporan realisasi anggaran. Dengan membandingkan PAD dan dana perimbangan dengan total pendapatan, dapat diketahui apakah pemerintah daerah sudah dapat mandiri atau masih bergantung pada pemerintah pusat.

Belanja dibedakan menjadi 2 (dua) yaitu :

a. Belanja pegawai yang tidak langsung yang seringkali disebut dengan belanja pegawai merupakan pengeluaran rutin yang dilakukan oleh instansi pemerintah yang ada di daerah yang dinyatakan dalam satuan rupiah untuk membiayai kebutuhan pegawainya.

b. Belanja langsung, terdiri dari :

(31)

1. Belanja Barang

Belanja barang adalah pengeluaran untuk pembelian barang jasa dan jasa yang habis pakai dalam kurun waktu 1 (satu) tahun anggaran.

2. Belanja Modal

Belanja modal adalah pengeluaran yang dilakukan dalam rangka pembentukan modal, antara lain pembangunan, peningkatan dan pengadaan serta kegiatan non fisik yang mendukung pembentukan modal. Belanja modal, terdiri dari :

a. Belanja Modal Tanah

Dalam belanja modal tanah diisi jumlah biaya yang diperlukan baik pengadaan,pembeliaan, pembebanan, penyelesaian, balik nama dan sewa tanah.

b. Belanja Modal Peralatan dan Mesin

Jumlah biaya yang digunakan untuk pengadaan alat-alat dan mesin yang dipergunakan dalam pelaksanaan kegiatan sampai siap untuk digunakan. Dalam jumlah belanja ini termasuk biaya untuk penambahan, penggantian, dan peningkatan kapasitas peralatan dan mesin dan diharapkan dapat meningkatkan nilai aktiva, serta seluruh biaya pendukung yang diperlukan.

(32)

c. Belanja Modal Gedung dan Bangunan

Belanja modal gedung dan bangunan termasuk jumlah biaya yang digunakan untuk perencanaan, pengawasan dan pengelolaan kegiatan pembangunan gedung dan bangunan.

d. Belanja Modal Jalan, Irigasi dan Jaringan

Biaya yang digunakan untuk pengembalian penggantian, peningkatan pembangunan, pembuatan prasejarah dan sarana yang berfungsi atau merupakan bagian dari jaringan pengairan (termasuk jaringan air bersih), jaringan instalasi distribusi listrik dan jaringan telekomunikasi serta jaringan lain yang berfungsi sebagai prasarana dan sarana fisik distribusi instalasi.

e. Belanja Modal Fisik Lainnya

Biaya yang digunakan untuk perolehan melalui pengadaan/pembangunan belanja fisik lainnya yang tidak dapat diklasifikasikan dalam perkiraan belanja modal tanah, peralatan dan mesin, gedung dan bangunan, jaringan (jalan, dan irigasi) dan belanja modal non fisik, yang termasuk dalam belanja modal ini antara lain: kontrak sewa beli (leasehold), pengadaan/pembelian barang-barang kesenian (art pieces), barang-barang purbakala dan barang-barang museum, serta hewan ternak, buku-buku dan jurnal ilmiah.

Untuk belanja daerah, sesuai dengan Permendagri 13 Tahun 2006, belanja daerah terdiri atas:

(33)

a. Belanja tidak langsung, merupakan belanja yang dianggarkan tidak terkait secara langsung dengan pelaksanaan program dan kegiatan.

b. Belanja langsung, merupakan belanja yang diaggarkan terkait secara langsung dengan pelaksanaan program dan kegiatan.

Sedangkan menurut PP Nomor 71 Tahun 2010, belanja terdiri atas:

a. Belanja operasi, merupakan pengeluaran anggaran untuk kegiatan sehari-hari pemerintah pusat / daerah yang memberi manfaat jangka pendek.

b. Belanja modal, merupakan pengeluaran anggaran untuk perolehan aset tetap dan aset lainnya yang memberi manfaat lebih dari satu periode akuntansi.

c. Belanja lain-lain/tak terduga adalah pengeluaran anggaran untuk kegiatan yang sifatnya tidak biasa dan tidak diharapkan berulang seperti penanggulangan bencana alam, bencana sosial, dan pengeluaran tidak terduga lainnya yang sangat diperlukan dalam rangka penyelenggaraan kewenangan pemerintah pusat / daerah.

Secara ideal, belanja operasi dan belanja modal harus seimbang. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya keserasian belanja suatu daerah. Jika keserasian tidak tercapai, berarti suatu daerah lebih berfokus pada kegiatan rutin atau kegiatan fisik.

(34)

2.1.5 Kosep Pembangunan Manusia

Todaro dan Smith (2006 : 109-132) menjelaskan bagaimana paradigma pembangunan telah banyak mengalami pergeseran, yaitu dari pembangunan yang berorientasi pada produksi (production centered development) pada tahun 1960-an ke paradigma pembangunan yang berorientasi pada distribusi (distribution growth development) pada tahun 1970-an. Selanjutnya, pada tahun 1980-an muncul paradigma pembangunan yang berorientasi pada pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat (basic need development), dan akhirnya pada tahun 1990-an paradigma pembangunan terpusat pada pembangunan manusia (human centered development).

United Nations Development Programme merumuskan bahwa pembangunan manusia sebagai perluasan pilihan bagi penduduk (a process of enlarging people’s choice), yang dapat dilihat sebagai proses ke arah

“perluasan pilihan” dan sekaligus taraf yang dicapai dari upaya tersebut.

Definisi pembangunan manusia tersebut pada dasarnya mencakup dimensi pembangunan yang sangat luas. Definisi ini lebih luas dari definisi pembangunan yang hanya menekankan pada pertumbuhan ekonomi. Dalam konsep pembangunan manusia, pembangunan seharusnya dianalisis serta dipahami dari sisi manusianya, bukan hanya dari sisi pertumbuhan ekonominya.

Sebagaimana laporan UNDP tahun 1995, dasar pemikiran konsep pembangunan manusia meliputi aspek-aspek sebagai berikut :

(35)

a) Pembangunan harus mengutamakan penduduk sebagai pusat perhatian;

b) Pembangunan dimaksudkan untuk memperbesar pilihan-pilihan bagi penduduk, bukan hanya untuk meningkatkan pendapatan mereka. Oleh karena itu, konsep pembangunan manusia harus berpusat pada penduduk secara komprehensif dan bukan hanya pada aspek ekonomi semata;

c) Pembangunan manusia memperhatikan bukan hanya pada upaya meningkatkan kemampuan/kapasitas manusia, tetapi juga pada upaya-upaya memanfaatkan kemampuan/kapasitas manusia tersebut secara optimal;

d) Pembangunan manusia didukung empat pilar pokok, yaitu:

produktifitas, pemerataan, kesinambungan dan pemberdayaan;

e) Pembangunan manusia menjadi dasar dalam penentuan tujuan pembangunan dan dalam menganalisis pilihan-pilihan untuk mencapainya.

Konsep pembangunan manusia yang diprakarsai oleh UNDP ini mengembangkan suatu indikator yang dapat menggambarkan perkembangan pembangunan manusia secara terukur dan representatif, yang dinamakan Indeks Pembangunan Manusia (IPM).IPM diperkenalkan pertama sekali pada tahun 1990.IPM mencakup tiga komponen yang dianggap mendasar bagi manusia dan secara operasional mudah dihitung untuk menghasilkan suatu ukuran yang merefleksikan upaya pembangunan manusia.Ketiga komponen tersebut adalah peluang hidup (longevity), pengetahuan (knowledge) dan hidup layak (living standards).Peluang hidup dihitung berdasarkan angka harapan hidup ketika lahir; pengetahuan diukur

(36)

berdasarkan rata-rata lama sekolah dan harapan lama sekolah; serta hidup layak diukur dengan pengeluaran per kapita yang didasarkan pada paritas daya beli (purchasing power parity).

Badan Pusat Statistik (BPS) sudah melakukan penyempurnaan IPM dengan metodologi baru pada tahun 2014 dengan perubahan pada indikator dan metode perhitungan yang digunakan.IPM yang awalnya menggunakan Angka Melek Huruf sebagai indikator untuk kesejahteraan di bidang pendidikan, kini berubah menjadi Angka Harapan Lama Sekolah.Begitu juga dengan PDB per kapita sebagai indikator standar hidup yang layak diganti dengan PNB per kapita.Dalam metode perhitungan, IPM dengan metode lama yang menggunakan metode agregasi, kini diubah menjadi metode rata-rata geometrik.

Alasan yang dijadikan dasar perubahan metodologi penghitungan IPM adalah karena beberapa indikator sudah tidak tepat untuk digunakan dalam penghitungan IPM.Angka melek huruf sudah tidak relevan dalam mengukur pendidikan secara utuh karena tidak dapat menggambarkan kualitas pendidikan.Selain itu, karena angka melek huruf di sebagian besar daerah sudah tinggi, sehingga tidak dapat membedakan tingkat pendidikan antar daerah dengan baik.Begitu juga dengan PDB per kapita tidak dapat menggambarkan pendapatan masyarakat pada suatu wilayah. Penggunaan rumus rata-rata aritmatik dalam penghitungan IPM saat ini menggambarkan bahwa capaian yang rendah di suatu dimensi dapat ditutupi oleh capaian tinggi dari dimensi lain.

(37)

Setiap komponen IPM distandardisasi dengan nilai minimum dan maksimum sebelum digunakan untuk menghitung Indeks Pembangunan Manusia.Dimensi dan rumus yang digunakan dalam perhitungan IPM sebagai berikut :

• Dimensi Kesehatan :

Pada metode baru dalam penghitungan Indeks Pembangunan Manusia untuk dimensi kesehatan terdapat variabelAngka Harapan Hidup saat Lahir yang didefnisikan sebagai rata-rata perkiraan banyak tahun yang dapat ditempuh oleh seseorang sejak lahir.AHH mencerminkan derajat kesehatan suatu masyarakat.AHH dihitung dari hasil sensus dan survei kependudukan.

• Dimensi Pendidikan :

Pada dimensi pendidikan terdapat dua variabel yang mempengaruhi perhitungan Indeks Pendidikan yaitu, Angka Harapan Lama Sekolah dan Angka Rata-rata Lama Sekolah. Angka Harapan Lama sekolah didefinisikan sebagai lamanya sekolah (dalam tahun) yang diharapkan akan dirasakan oleh anak pada umur tertentu di masa mendatang. Diasumsikan bahwa peluang anak tersebut akan tetap bersekolah pada umur-umur berikutnya sama dengan peluang penduduk yang bersekolah per jumlah penduduk untuk umur yang sama saat ini. Angka Harapan Lama Sekolah dihitung untuk penduduk berusia 7 tahun ke atas.HLS dapat digunakan untuk

(38)

mengetahui kondisi pembangunan sistem pendidikan di berbagai jenjang yang ditunjukkan dalam bentuk lamanya pendidikan (dalam tahun) yang diharapkan dapat dicapai oleh setiap anak.

Salah satu variabel yang lainnya yaitu, Rata-rata Lama Sekolah didefinisikan sebagai jumlah tahun yang digunakan oleh penduduk dalam menjalani pendidikan formal. Diasumsikan bahwa dalam kondisi normal rata-rata lama sekolah suatu wilayah tidak akan turun. Cakupan penduduk yang dihitung dalam penghitungan rata-rata lama sekolah adalah penduduk berusia 25 tahun ke atas.

Dari dua variabel yang terdapat pada dimensi pendidikan tersebut maka Indeks pendidikan dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut:

• Dimensi Pengeluaran :

Pengeluaran per kapita yang disesuaikan ditentukan dari nilai pengeluaran per kapita dan paritas daya beli (Purcashing Power Parity atau PPP).Rata-rata pengeluaran per kapita setahun dihitung dari level provinsi hingga level kabupaten/kota.Rata-rata pengeluaran per kapita dibuat konstan/riil dengan tahun dasar 2012 = 100.Perhitungan paritas daya beli

(39)

pada metode baru menggunakan 96 komoditas dimana 66 komoditas merupakan makanan dan sisanya merupakan komoditas non makanan.

Dari indeks pendidikan, kesehatan dan peneluaran tersebut, maka dapat dihitung rata-rata geometriknya untuk menghitung nilai IPM. Rumus yang digunakan sebagai berikut :

Untuk melihat capaian IPM dapat dilihat melalui pengelompokkan IPM pada tabel dibawah ini :

Tabel 2.1

Peringkat Kinerja IPM

Indeks Pembangunan Manusia (IPM)

Angka Kategori

< 60 Rendah

60 < IPM< 70 Sedang

70 < IPM < 80 Tinggi

IPM > 80 Sangat Tinggi

Sumber :Badan Pusat Statistik (BPS)

(40)

2.2 Tinjauan Penelitian Terdahulu

Dasar atau acuan yang merupakan teori-teori atau temuan-temuan melalui hasil berbagai penelitian sebelumnya merupakan hal yang sangat perlu dan dapat dijadikan sebagai data pendukung.Penelitian terdahulu adalah salah satu data pendukung yang masih relevan dan dapat dijadikan acuan dalam penelitian ini.

Hal tersebut dapat dilihat pada tabel 2.2 berikut:

Tabel 2.2 Penelitian Terdahulu Nama

Peneliti

Tujuan

Penelitian Variabel Penelitian Hasil penelitian Anggraini

dan Sutaryo (2015)

Untuk menguji pengaruh rasio keuangan (Rasio Derajat

Desentralisasi, Rasio

Ketergantungan Keuangan Daerah, Rasio Kemandirian Keuangan Daerah, Rasio Efekivitas Pendapatan Asli Daerah (PAD), dan Rasio Efektivitas Pajak Daerah terhadap Indeks Pembangunan Manusia (IPM)

Variabel Dependen:

IPM

Variabel Independen:

Rasio Derajat

Desentralisasi, Rasio Ketergantungan Keuangan Daerah, Rasio Kemandirian Keuangan Daerah, Rasio Efekivitas Pendapatan Asli Daerah (PAD), dan Rasio Efektivitas Pajak Daerah

Rasio Derajat Desentralisasi berpengaruh secara parsial terhadap Indeks Pembangunan Manusia (IPM)

Rasio ketergantungan keuangan daerah berpengaruh negatif terhadap Indeks

Pembangunan Manusia (IPM).

Rasio kemandirian keuangan daerah, Rasio efektivitas Pendapatan Asli Daerah (PAD), Rasio efektivitas pajak daerah berpengaruh positif terhadap Indeks Pembangunan Manusia (IPM).

(41)

Setiawan dan Budiana

(2015)

Untuk menguji pengaruh belanja modal terhadap indeks

pembangunan manusia melalui pertumbuhan ekonomi sebagai variabel

intervening pada kabupaten/kota di Provinsi Bali periode 2008-2013

Variabel Dependen:

IPM

Variabel Independen:

Belanja Modal

Variabel Intervening:

Pertumbuhan Ekonomi

Belanja modal

berpengaruh positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi,

Pertumbuhan ekonomi berpengaruh positif dan Belanja Modal

berpengaruh signifikan terhadap indeks

pembangunan manusia

Belanja modal

berpengaruh secara tidak langsung terhadap indeks pembangunan manusia melalui mediasi pertumbuhan ekonomi Ida dan

Firda (2014)

Untuk menguji pengaruh kemandirian keuangan daerah dan keserasian alokasi belanja terhadap IPM di kabupaten/kota di Provinsi Bali tahun 2008-2012

Variabel Dependen:

IPM

Variabel Independen:

1. Kemandirian Keuangan Daerah 2. Keserasian Alokasi Belanja Modal

Kemandirian keuangan daerah dan Keserasian Alokasi Belanja secara simultan dan parsial berpengaruh signifikan terhadap IPM.

Kemandirian keuangan daerah dan keserasian alokasi belanja secara parsial berpengaruh positif dan signifkan terhadap IPM.

(42)

Panggabean (2012)

The Influence of Private Investment, Human

Development Index (HDI) and Local Government Capital Expenditure (LGCE) on the Economic Growth and Original Local Government

Revenue (OLGR) in the

Regency/City of West Kalimantan Province

Variabel Dependen:

1. Economic Growth 2. Original Local

Government Revenue (OLGR) Variabel Independen:

1. Private Investment 2. Human

Development Index (HDI) 3. Local Government

Capital Expenditure (LGCE)

Investasi Pribadi, Indeks Pembangunan Manusia dan Pengeluan Asli Daerah berpangaruh positif secara simultan dan parsial terhadap Pertumbuhan Ekonomi dan Pendapatan Asli Daerah

Hasil dari beberapa penelitian terdahulu akan dijadikan bahan referensi dan perbandingan dalam penelitian ini, antara lain sebagai berikut :

1. Anggraini dan Sutaryo (2015), telah melakukan penelitian mengenai Pengaruh Rasio Daerah terhadap Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Pemerintah Provinsi di Indonesia. Hasil dari penelitian tersebut menyimpulkan bahwa Rasio Derajat Desentralisasi berpengaruh secara parsial terhadap Indeks Pembangunan Manusia, sedangkan Rasio Ketergantungan Keuangan Daerah berpengaruh negatif terhadap IPM. Rasio Kemandirian Keuangan Daerah, Rasio efektivitas pajak daerah berpengaruh positif terhadap IPM.

2. Setiawan dan Budiana (2015), melakukan penelitian mengenai Pengaruh Belanja Modal terhadap Indeks Pembangunan Manusia melalui Pertumbuhan Ekonomi sebagai variabel Intervening Provinsi Bali. Hasil dari penelitian

Referensi

Dokumen terkait

Dengan diketahuinya pengaruh belanja modal dan belanja pegawai terhadap pertumbuhan ekonomi daerah, di mana belanja pegawai berpengaruh negatif dan signifikan

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa profitabilitas berpengaruh negatif tidak signifikan terhadap struktur modal pada perusahaan otomotif yang terdaftar di

Hasil dari penelitian ini adalah belanja modal berpengaruh negatif terhadap pertumbuhan kinerja keuangan, sedangkan secara tidak langsung belanja modal berpengaruh terhadap

Hasil dari penelitian yang dilakukan adalah Unconditional Grants dan PAD berpengaruh signifikan positif terhadap Belanja Daerah, sedangkan PDRB berpengaruh signifikan

Pada penelitian Mirry, dkk (2016) menyatakan bahwa struktur modal berpengaruh negatif dan signifikan pada nilai perusahaan ini berarti struktur modal meningkat

Terdapat penelitian yang menyatakan bahwa belanja modal berpengaruh dan signifikan negatif terhadap kemandirian keuangan daerah [6].. Selain itu terdapat juga

Penelitian tersebut juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan Wati & Sajiarto 2019,“IPM dan PDRB berpengaruh negatif dan signifikan terhadap kemiskinan di 35 kabupaten/kota Provinsi

Matriks Penelitian Terdahulu Hubungan Tiap Variabel Peneliti Hasil Penelitian CR terhadap DPR Dewi 2016 CR berpengaruh negatif tidak signifikan terhadap DPR pada perusahaan