• Tidak ada hasil yang ditemukan

1. Penjelasan Ambien di Dokumen ANDAL

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "1. Penjelasan Ambien di Dokumen ANDAL"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

1. Penjelasan Ambien di Dokumen ANDAL

(2)

2. Matriks RKL

2.a Rencana Pengelolaan Dampak Penurunan Kualitas Udara No Jenis

Dampak Sumber Dampak Tolok Ukur Dampak Tujuan Pengelolaan

Lingkungan Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup

Lokasi Pengelolaan

Lingkungan

Periode Pengelolaan Lingkungan

Institusi Pengelolaan Lingkungan

No Jenis Dampak PENGELOL

AAN TAHAP OPERASI

1) Operasi unit industri -unit industri PT. Krakatau Posco

a) Kegiatan Industri Baja Terpadu PT KRAKATAU POSCO.

b) Pembangkit listrik CAPTIVE POWER PLANT pada PT.

KRAKATAU POSCO menggunakan bahan bakar minyak residu dan gas alam, dan proses pembakaran bahan bakar ini akan menghasilkan emisi yang mengandung gas- gas, CO2, SOx dan NOx,. Adanya Gas- gas ini akan menambah pada beban pencemaran di Udara.

c) Kegiatan PT.

KRAKATAU POSCO dengan peningkatan kegiatan bongkar muat pelabuhan akan

meningkatkan gas dan debu.

d) Kegiatan transportasi bahan baku, produk dan karyawan akan menghasilkan emisi gas buang kendaraan berupa

Sebelum Dikelola : Penurunan kualitas udara dengan parameter H2S, NH2, NO2, SO2, Debu dan Pb di lingkungan unit industri , wilayah industri dan lingkungan sekitar wilayah industri berpotensi melebihi baku mutu kualitas udara menurut PP- RI No. 41/1999.

Sesudah Dikelola :

 Temperatur udara di tempat kerja (lingkungan unit industri ) tidak melebihi nilai ambang batasnya menurut Keputusan Menteri Tenaga Kerja No.

51/Men/1999 tentang Nilai Ambang Batas Faktor Fisika di Lingkungan Kerja

 Bahan-bahan kimia di udara tempat kerja tidak melebihi nilai ambang batas menurut Surat Edaran No. SE- 01/Men/1997 tentang Nilai Ambang Batas Bahan-bahan Kimia di Udara Tempat Kerja

 Kualitas udara

 Mengendalika n/meminimalis asi penurunan kualitas udara yang disebabkan kegiatan pengoperasian unit industri dan unit kegiatan penunjang dari sumber dampaknya.

 Meminimalisas i penyebaran dispersi polutan gas dan debu dari sumber dampak kegiatan operasi unit industri dan unit kegiatan penunjang ke lingkungan sekitar baik pada skala kawasan maupun skala regional.

1) Melakukan sosialisasi rencana operasi unit industri dan unit kegiatan yang dibangun yang diduga akan menimbulkan pencemaran kualitas udara kepada pengelola unit industri dan pengelola unit kegiatan lain yang berdampingan dan/atau masyarakat sekitar.

2) Mewajibkan perusahaan pengembang unit industri dan unit kegiatan lain untuk menyusun dan melaksanakan K3 di perusahaan bersangkutan sesuai Undang-undang Keselamatan Kerja No. 1 Tahun 1970, beserta dengan peraturan pelaksanaan dan peraturan perubahannya.

3) Mensyaratkan kepada pengelola unit industri dan unit kegiatan untuk melaksanakan PP No 41 tahun 1993 tentang Angkutan Jalan dan Kepmen Perhubungan No. KM.69 tahun 1993 tentang Penyelenggaraan Angkutan Barang di Jalan;

4) Mensyaratkan kepada pengelola industri dan unit kegiatan lain untuk mengendalikan iklim dan bahan-bahan kimia di udara tempat kerja tidak melebihi nilai ambang batas menurut Surat Edaran No.SE- 01/Men/1997 tentang Nilai Ambang Batas Bahan-bahan Kimia di Udara Tempat Kerja 5) Membuat persyaratan-persyaratan kerja

bagi pengembang unit industri dan unit kegiatan lain di wilayah Industri Baja Terpadu PT Krakatau Posco, untuk mengendalikan pencemaran udara baik yang disebabkan emisi dalam proses produksi maupun mobilisasi bahan baku dan produksi, misalnya :

 Mewajibkan pengembang unit industri dan/atau unit kegiatan di wilayah Industri Baja Terpadu PT Krakatau Posco yang menghasilkan emisi gas buang untuk melengkapinya dengan cerobong gas buang dengan dimensi cerobong sesuai dengan volume dan karakteristik gas yang dibuang.

 Mewajibkan pengembang unit industri /unit kegiatan agar merawat peralatan/mesin yang menghasilkan gas buang secara berkala dengan

Lokasi pengelolaan yaitu masing- masing Industri Baja Terpadu PT Krakatau Posco di masing-masing unit industri dan/atau unit kegiatan yang dibangun.

Sedangkan pengelolaan lingkungan di luar wilayah Industri Baja Terpadu PT Krakatau Posco yaitu kegiatan penghijauan dilakukan pada tepi jalan dan taman/hutan Kota Cilegon yang difungsikan sebagai penyerap cemaran kegiatan industri Industri Baja Terpadu PT Krakatau Posco.

Pengelolaan dilakukan selama tahap operasi unit industri dan unit kegiatan di wilayah industri Industri Baja Terpadu PT Krakatau Posco.

Pelaporan hasil pengelolaan dilakukan setiap 6 (enam) bulan sekali.

Pelaksana pengelolaan dampak penurunan kualitas udara yaitu masing- masing Industri Baja Terpadu PT Krakatau Posco (EHS Mgt. Team) yang berkoordinasi dengan masing- masing pengembang industri dan unit kegiatan di wilayah Industri Baja Terpadu PT Krakatau Posco (EHS Mgt.

Team).

BLH Kota Cilegon

Laporan hasil pengelolaan lingkungan disusun oleh masing-masing Industri Baja Terpadu PT Krakatau Posco dan diserahkan kepada Pemko Cilegon c/q BLH Kota Cilegon.

(3)

gas CO2, SOx dan NOx dan debu.

e) Kegiatan Sarana dan Prasarana Industri Baja Terpadu PT KRAKATAU POSCO.

3) Pada skala kawasan secara bersamaan akan terjadi pengurangan luas lahan terbuka hijau sehingga menyebabkan kemampuan alam untuk mendaur dan mengasmilasi emisi gas menjadi berkurang.

Selain itu juga dispersi dari polutan gas dan debu kegiatan industri dan unit kegiatan lain yang telah beroperasi.

4) Skala Regional (Kota Cilegon) Emisi gas dan debu dari proses produksi pada unit industri -unit industri yang dibangun dan unit-unit kegiatan akan terakumulasi dengan kegiatan industri dan penunjang yang sudah beroperasi di wilayah industri Industri Baja Terpadu PT Krakatau Posco serta kegiatan domestik, transportasi dan industri di luar dan/atau sekitar wilayah industri Industri Baja Terpadu PT Krakatau Posco.

dengan parameter H2S, NH3, NO2, SO2, Debu dan Pb di lingkungan unit industri , wilayah industri dan lingkungan sekitar wilayah industri diharapkan tidak melebihi baku mutu kualitas udara ambien menurut PP-RI No. 41/1999, yaitu : NO2 = 150 ug/m3, SO2 = 365 ug/m3, TSP = 230 ug/m3 dan Pb = 2 ug/m3.

tujuan selain untuk menghemat bahan bakar juga mengurangi emisi gas buang yang dihasilkannya;

6) Mensyaratkan kepada pengembang industri dan unit kegiatan penunjangnya untuk segera melakukan penghijauan pada ruang terbuka hijau yang terdapat di lingkungan unit industri dan unit kegiatan penunjangnya dengan jenis-jenis tanaman penghijauan yang sesuai. Lokasi-lokasi yang perlu dihijaukan yaitu buffer zone (perbatasan) kapling unit industri bersangkutan dengan unit industri lainnya yang bersebelahan, pekarangan kantor, tepi jalan dan ruang terbuka hijau lain sesuai dengan tata letak/lay out unit industri yang telah disepakati.

7) Melengkapi Ruang Terbuka Hijau (RTH) Wilayah Industri Baja Terpadu PT Krakatau Posco dengan melakukan penanaman tanaman penghijauan yang dapat berfungsi sebagai pengendali pencemaran terhadap kualitas udara.

8) Bekerjasama dan/atau mendukung program penghijauan RTH Kota Cilegon yang diprakarsai BLH bidang Konservasi Kota Cilegon untuk melakukan penghijauan di Kota Cilegon, terutama pada RTH Kota Cilegon yang berbatasan dengan wilayah industri Industri Baja Terpadu PT Krakatau Posco.

9) Membuat larangan / aturan untuk tidak idle vehicle pada saat parkir dan/atau menunggu muatan agar tidak menambah beban pencemaran udara.

10) Memasang asesoris yang berguna untuk menangkap debu dan/atau partikel-partikel lainnya dari cerobong sehingga mengurangi emisi gas buang cerobong.

11) Merekayasa bahan bakar dengan cara subsitusi / recycle off gas / mencampur dengan bahan bakar lainnya agar dapat mengurangi emisi gas buang.

(4)

3. Matriks RPL

2.a Rencana Pemantauan Dampak Penurunan Kualitas Udara No

Komponen Lingkungan

yang Dipantau

Sumber Dampak

Parameter Lingkungan

yang Dipantau

Tujuan Pemantauan

Lingkungan

Rencana Pemantauan

Lingkungan

Institusi Pemantauan

Lingkungan

No

Komponen Lingkungan

yang Dipantau

Sumber Dampak

Parameter Lingkungan

yang Dipantau

Tujuan Pemantauan

Lingkungan Tahap

Operasi

(a) Coke Oven Plant (COP) Coke Oven Plant ini akan menghasilkan FlyAsh adalah debu yang terbang bersama- sama udara, angin dengan asumsi kebutuhan batu bara sekitar 2.600.000 ton/tahun (stage I) dan menjadi sekitar 5.200.000 ton/tahun (stage I dan II) diperkirakan jumlah debu sekitar 2 % dari konsumsi batubara, maka menjadi sekitar 142,46 ton/hari (stage I) dan 284.92 ton/hari (stage I dan II).

Sedangkan bottom Ash 5% x konsumsi batubara, maka menjadi sekitar 356,16 ton/hari (stage I) dan 712,32 ton/hari (satge I dan II).

Sedangkan SO2 diperkirakan 0.5% x konsumsi batubara, maka menjadi 35,61 ton/hari (stage I) dan 71,22 ton/hari (stage I dan II). Volatile Matter (VM) adalah zat organic yang dapat terbakar pada suhu sekitar 300oC, berbau menyengat dan menyebabkan pusing pada tenaga kerja. Moisture adalah tingkat kebasahan batubara artinya semakin tinggi akan rendah nilai kalor coke yang akan dihasilkan. Dengan perkiraan di atas

menunjukkan bahwa proses ini relatif memiliki tingkat

Gas Nitrogen Dioksida (NO2), Gas Sulfur Dioksida (SO2), Gas Dihidrogen Sulfur (H2S), Gas Total Oksidan (O3), Gas Karbon Monoksida (CO), Gas Amonia (NH3), Partikel Debu, Debu Timah Hitam (Pb), Suhu Udara, Kebisingan : Maksimum Minimum dan Rata-rata, Total Hidrokarbon (HC) dan Debu Fluorida (F) dengan baku mutu kualitas udara menurut PPRI No.

41/1999

Untuk mengetahui keberhasilan pelaksanaan pengelolaan lingkungan dalam rangka meminimalisasi penurunan kualitas udara yang disebabkan kegiatan pengoperasian pabrik dan unit kegiatan penunjangnya.

Pengumpulan data primer dilakukan melalui pengukuran kualitas udara langsung di lapangan terhadap kualitas udara ambient.

Metode analisis dan peralatan yang digunakan tersaji pada Tabel 2.13.

i. Industri Baja Terpadu meliputi : (a) Coke

Oven Plant (COP), (b)

Sinterin g Plant (SP), (c) Blast

Furnac e (BF), (d) Steel

Making Plant (SMP), (e)

Continu ous Casting Plant (CCP), (f) Plate

Mill (PM) dan (g) Hot

Strip Mill (HSM).

ii. Pelabuhan iii. Captive

Power Plant (CPP) iv. Utilitas dan

Sarana

Pemantauan dilakukan selama kegiatan industri dan penunjangnya beroperasi.

Periode pemantauan setiap enam bulan sekali.

Hasil pengukuran kualitas udara ambient skala kawasan dan regional dibandingkan dengan Baku Mutu Udara Ambient Nasional Berdasarkan PPRI No. 41 TAHUN 1999 tentang Pengendalian Pencemaran Udara.

Pelaksana pemantauan kualitas udara yaitu Pengelola Lingkungan PT KRAKATAU POSCO (EHS Mgt. Team).

Badan Lingkungan Hidup Kota Cilegon

Laporan hasil pemantauan kualitas udara disusun oleh Pengelola Lingkungan PT KRAKATAU POSCO dan diserahkan kepada Pemko Cilegon c/q Badan Lingkungan Hidup Kota Cilegon.

(5)

polutan yang sangat tinggi.

Kehati-hatian dalam memilih teknologi akan menentukan kemungkinan akan terjadinya kebocoran-kebocoran pada pintu coke battery. Daerah dengan tingkat keboran yang tinggi sebagaimana hasil uji EPA 2005 (explore internet) adalah di bagian dinding pintu dorong yang akan menyebabkan tingkat kebocoran yang tinggi.

(b) Sintering Plant (SP) Sintering Plant, walaupun pabrik ini berdasarkan rencananya akan dilengkapi EP pada gas yang keluar dari cerobongnya sehingga gas yang dikeluarkan bisa dipastikan relatif bersih, namun demikian akibat proses aglomerasi dengan bahan bakar cair akan menyebabkan

terjadi/terbentuknya gas CO, H2S, NO2, dan NH3. (c) Blast Furnace (BF)

Pabrik baja cair blast furnace (BF) pabrik ini diperkirakan akan menghasilkan gas hasil pembakaran seperti gas Carbon Dioksida (CO2), Carbon Monoksida (CO), Hidrogen H2 dan Nitrogen N2.

Adapun cemaran dari emisi cerobong yang dihasilkan oleh Industri Baja Terpadu PT KRAKATAU POSCO dapat dilihat seperti tabel berikut.

Prasarana Penunjang meliputi : (a) Lime

Calcinat ion Plant (LCP), (b)

Industri al Gas Plant, (c) WWTP dan (d) Incinerator.

(6)

4. Peta Lokasi Pengukuran Ambien Sesuai AMDAL

(7)

5. Peta Lokasi Pengukuran Kebisingan Eksisting Saat Ini

 Jumlah titik pengukuran lebih banyak dari yang tercantum di AMDAL agar hasil yang didapat lebih representatif terutama untuk lokasi-lokasi yang kegiatannya menimbulkan kebisingan.

1. Area KP

(8)

2. Area Masyarakat

Referensi

Dokumen terkait

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa tidak ada pengaruh interaksi antara model pembelajaran Teams Games Tournaments dan Numbered Head Together dengan motivasi

Bahwa dalam rangka meningkatkan pembangunan di Kabupaten Buleleng khususnya pada sektor penerangan jalan dan sektor pembangunan lainnya guna dapat lebih

In the area of language learning and teaching, a new reference framework has been published that aims at a kind of language learning in which learners are able to enhance their

Akan tetapi, perubahan dan perkembangan secara ekternal akan ditelaah melalui kajian sosiolinguistik dengan menelaah dan mencermati perubahan dan perkembangan bahasa yang

Partai politik (Partai Komunis Indonesia) juga memberikan andil yang besar dalam perkembangan sastra kiri saat itu dengan memberikan ruang yang luas bagi

(1) Setiap penanggungjawab perusahaan daerah dan/atau perusahaan swasta yang tidak memenuhi kuota 1% (satu persen) tenaga kerja Penyadang Disabilitas sebagaimana

Penyusunan Rencana Strategis Satuan Kerja Perangkat Daerah (Renstra – SKPD) Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Bandung Tahun 2013-2018 pada

telah dilakukan dapat disimpulkan sebagai berikut: hubungan pengetahuan ibu yang mempunyai balita tentang gizi balita dengan status gizi balita berdasarkan Berat