i
TINGKAT PENYESUAIAN DIRI SISWA DI SEKOLAH
(Studi Deskriptif Pada Siswa Kelas X SMA Santo Mikael Sleman Tahun Ajaran 2016/2017 dan Implikasinya Terhadap Usulan Topik-topik Bimbingan
Pribadi-Sosial)
SKRIPSI
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
Program Studi Bimbingan dan Konseling
Oleh :
Margaretha Liberti Nona 121114069
PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING JURUSAN ILMU PENDIDIKAN
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA
iv
MOTTO
“Hidup
adalah sebuah perjuangan bukan pengasihan
”
(Bapak Linus Lawang)
“Kesuksesan itu membutuhkan sebuah proses”
(Margaretha Liberti Nona)
“All
the impossible is possible for those who b
elieve”
v
PERSEMBAHAN
Karya ini kupersembahkan untuk :
1.
Tuhan Yesus Kristus.
2.
Kedua orangtua tercinta, bapak Linus Lawang dan Ibu
Agustina M. Kartini.
3.
Ketiga kakak tersayang, Mimi, Lilis, Yoris, dan semua
adik-adik angkat tercinta.
4.
Seluruh keluarga yang saya sayangi.
5.
seluruh sahabat dan teman-teman dekat yang saya kasihi.
6.
Teman-teman seperjuangan angkatan 2012.
7.
Almamaterku Universitas Sanata Dharma Yogyakarta
Khususnya Program Studi Bimbingan dan Konseling Terima
viii
ABSTRAK
SKRIPSI
TINGKAT PENYESUAIAN DIRI SISWA DI SEKOLAH
(Studi Deskriptif Pada Siswa Kelas X SMA Santo Mikael Sleman Tahun Ajaran 2016/2017 dan Implikasinya Terhadap Usulan Topik-topik Bimbingan Pribadi
Sosial)
Margaretha Liberti Nona Universitas Sanata Dharma
Yogyakarta 2016
Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran mengenai tingkat penyesuaian diri siswa kelas X SMA Santo Mikael Sleman tahun ajaran 2016/2017. Pertanyaan yang dijawab adalah: 1) Seberapa tinggi tingkat penyesuaian diri siswa kelas X SMA Santo Mikael Sleman Tahun Ajaran 2016/2017? 2) Berdasarkan capaian skor item yang teridentifikasi sedang, topik-topik bimbingan manakah yang bisa diusulkan sebagai topik-topik-topik-topik bimbingan pribadi sosial bagi para siswa kelas X SMA Santo Mikael Sleman Tahun Ajaran 2016/2017?
Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif deskriptif dengan metode survei. Subjek penelitian adalah siswa kelas XA dan XC SMA Santo Mikael Sleman tahun ajaran 2016/2017 yang berjumlah 38 siswa. Pemilihan subjek dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan simple random sampling.
Instrumen pengumpulan data dalam penelitian ini adalah kuesioner penyesuaian diri yang terdiri dari 84 item pernyataan. Teknik analisi data dalam penelitian ini adalah kategorisasi tingkat penyesuaian diri siswa berdasarkan norma katergorisasi menurut Azwar (2012). Hasil uji reliabilitas menunjukan reliabilitas sebesar 0,844 hasil ini termasuk tinggi, sehingga kuesioner ini reliabel atau dapat dipercaya.
ix
ABSTRACT
THESIS
STUDENTS’ SELF ADJUSTMENT LEVEL AT SCHOOL
(A Descriptive Study on Class X Students of SMA Santo Mikael Sleman Batch 2016/2017 and Its’ Implications towards Proposed Social Personal Guidance
Topics)
Margaretha Liberti Nona Sanata Dharma University
Yogyakarta 2016
This study aims to obtain an overview of the self-adjustment level of class X students of SMA Santo Mikael Sleman batch 2016/2017. Questions to answer are: 1) How high is the self-adjustment level of class X students of SMA Santo Mikael Sleman batch 2016/2017? 2) Based on the item score achievements that are identified as moderate, which guidance topics can be proposed as social personal guidance topics for class X students of SMA Santo Mikael Sleman batch 2016/2017?
This study is a descriptive quantitative study employing survey method. The research subjects are 38 students from class XA and XC of SMA Santo Mikael Sleman batch 2016/2017. Selecting the subjects of the study was conducted using simple random sampling. Data collection instrument in this study was a questionnaire about self-adjustment consisting of 84 statement items. Data analysis technique in this research is the categorization of the students' self-adjustment level based on the categorization norms by Azwar (2012). Reliability test results show the reliability of 0.844. This is categorized as high, meaning that the questionnaire is reliable or trustworthy.
x
KATA PENGANTAR
Puji Syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan anugerah dan rahmat perlindungan, pendampingan, serta kesehatan kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi berjudul Tingkat Penyesuaian Diri Siswa Di Sekolah (Studi Deskriptif Pada Siswa Kelas X SMA Santo Mikael Sleman Tahun Ajaran 2016/2017 dan Implikasinya Terhadap Usulan Topik-topik Bimbingan
Pribadi Sosial).
Penulis menyadari bahwa skripsi ini dapat tersusun atas bantuan, dorongan, dan bimbingan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini dengan segala kerendahan hati, penulis ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada:
1. Dr. Gendon Barus, M.Si., sebagai Ketua Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma yang telah memberikan ijin, dan semangat untuk penulis dalam penulisan skripsi ini.
2. Prias H. Purbaning Tyas, M.Pd., selaku dosen pembimbing yang dengan penuh kesabaran membimbing dan memberikan masukan kepada penulis guna meningkatkan kualitas skripsi ini.
3. Para dosen Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma yang ikut mendukung kelancaran kegiatan perkuliahan saya selama ini dan ikut membimbing saya ketika mengalami kesulitan.
4. Kepala sekolah, guru BK dan para guru SMA Santo Mikael Sleman yang telah mengijinkan saya untuk melakukan penelitian.
xii DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ……… i
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ………... ii
HALAMAN PENGESAHAN ……….. iii
HALAMAN MOTTO ………... iv
HALAMAN PERSEMBAHAN ………... v
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ………... vi
HALAMAN PERNYATAAN PUBLIKASI ……… vii
ABSTRAK ……… viii
ABSTRACT ……….. ix
KATA PENGANTAR ……….. x
DAFTAR ISI ………... xii
DAFTAR TABEL ………. xv
DAFTAR GAMBAR ……… xvi
DAFTAR LAMPIRAN ………. xvii
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ………...……… 1
B. Identifikasi Masalah ……….. 5
C. Pembatasan Masalah ………. 6
D. Rumusan Masalah ………. 6
E. Tujuan Penelitian ……….. 7
F. Manfaat Penelitian ……… 7
xiii BAB II KAJIAN PUSTAKA
A. Hakikat Penyesuaian Diri ………. 9
1. Pengertian Penyesuaian Diri ………. 9
2. Ciri-ciri Penyesuaian Diri di Sekolah ………... 12
3. Aspek-aspek Penyesuaian Diri ………. 16
4. Foktor-faktor Penyesuaian Diri ………. 20
5. Penyesuaian Diri di Sekolah ………….……… 22
B. Siswa Sebagai Remaja ……….………. 25
1. Pengertian Remaja………..………... 24
2. Karakteristik Siswa Usia Remaja ……….….……… 25
3. Perkembangan Sosial Remaja Awal ………….……… 26
C. Bimbingan Pribadi-Sosial ………...……….………. 27
1. Pengertian Bimbingan Pribadi-Sosial ……..………. 27
2. Unsur-unsur Bimbingan Pribadi-Sosil ……….…………. 28
3. Tujuan Bimbingan Pribadi-Sosial ……..………..……. 29
4. Fungsi Bimbingan Pribadi-Sosial ……..…………..………. 30
D. Penelitian yang Relevan ………..….. 32
BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian ……….. 33
B. Tempat dan Waktu Penelitian ………... 34
C. Subjek Penelitian ……….. 34
D. Teknik dan Instrumen Penilitian ………... 35
xiv
F. Pengumpulan Data ……… 44
G. Teknik Analilis Data ………. 45
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian ………. 49
1. Tingkat Penyesuaian Diri Siswa Kelas X SMA Santo Mikael Sleman Tahun Ajaran 2016/2017 ………. 49
2. Item Terendah dari Instrumen Penelitian Penyesuaian Diri ………. 51
B. Pembahasan ………... 52
C. Usulan Topik-Topik Bimbingan ………... 55
BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ………... 58
B. Keterbatasan ………... 59
C. Saran ………. 59
xv
DAFTAR TABEL
Tabel 3.1 Tabel Jumlah Siswa Kelas X SMA Santo Mikael Sleman ……… 34
Tabel 3.2 Penentuan Skor Alternatif Jawaban ……….. 36
Tabel 3.3 Kisi-kisi Kuesioner Tingkat Penyesuaian Diri Siswa (Uji Coba) ………….. 37
Tabel 3.4 Hasil Uji Validitas Instrumen Penelitian ……… 40
Tabel 3.5 Kisi-kisi Instrumen Setelah Uji Validitas (Penelitian) ……… 41
Tabel 3.6 Kriteria Guilford ……….. 43
Tabel 3.7 Pedoman Kategorisasi Tingkat Penyesuaian Diri Siswa SMA Santo
Mikae Sleman Tahun Ajaran 2016/2017 ……….. 46
Tabel 3.8 Kategori Skor Subjek Penelitian ………... 47
Tabel 3.9 Kategori Skor Item Penelitian ……….. 48
Tabel 4.1 Kategori Tingkat Penyesuaian Diri Siswa Kelas X SMA Santo
Mikael Sleman Tahun Ajaran 2016/2017 ……… 49
Tabel 4.2 Kategori Item dan Instrumen Penyesuaian Diri Siswa Kelas X SMA
Santo Mikael Sleman Tahun Ajaran 2016/20 ……….. 51
Tabel 4.3 Item-item Pernyataan yang Tergolong dalam Kategori
Cukup Tinggi dan Rendah ……… 52
xvi
DAFTAR GAMBAR
Gambar 4.1 Grafik Tingkat Penyesuaian Diri Siwa Kelas X SMA Santo
xvii
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Koesioner Penyesuaian Diri ……… 63
Lampiran 2 Tabulasi Data ……….. 69
Lampiran 3 Surat Ijin Penelitian ………. 75
1 BAB I
PENDAHULUAN
Pada bab ini berisi uraian tentang latar belakang masalah, identifikasi masalah, pembatasan masalah, rumusan masalah penelitian, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan definisi operasional.
A. Latar Belakang Masalah
Masa remaja merupakan masa transisi dari masa anak-anak menuju masa dewasa. Masa remaja ditandai dengan adanya berbagai macam perubahan, baik fisik maupun psikis yang mungkin saja dapat menimbulkan problem pada dirinya terutama dalam rangka penyesuaian diri terhadap lingkungannya. Pada saat remaja memasuki lingkungan baru, dia dituntut untuk dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan yang bersangkutan, agar ia tumbuh dan berkembang serta dapat melangsungkan hidupnya. Demikian pula siswa yang memasuki lingkungan sekolah yang baru, siswa akan dihadapkan pada berbagai keadaan yang berbeda dengan sekolah yang sebelumnya. Siswa akan dituntut untuk mampu menyesuaiakan diri dengan baik.
mata pelajaran baru, guru-guru baru, teman-teman baru, lingkungan sekolah yang baru (Desmita, 2009). Pada saat seorang siswa memasuki lingkungan sekolah yang baru, dia harus mengenal dan menyesuaikan diri dengan lingkungan sekolah tersebut. Maka setiap tahun ajaran baru sekolah selalu mengadakan program pengenalan sekolah atau biasanya disebut masa orientasi sekolah kepada siswa baru. Dengan adanya masa orientasi sekolah, siswa diharapkan bisa atau mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan sekolah yang baru. Oleh karena itu penyesuaian diri sangat dibutuhkan ketika seorang siswa memasuki lingkungan sekolah yang baru, karena dengan menyesuaikan dirilah siswa bisa saling mengenal lebih dekat satu sama lain, memiliki banyak teman untuk saling berbagi, mengetahui karakter dari masing-masing siswa, dan juga siswa bisa saling bertukar pikiran dan berbagi satu sama lain. Dengan begitu siswa merasa bahwa dia diterima dengan baik di lingkungan sekolah yang baru.
3
keterlibatan dalam partisipasi sosial di sekolah dan lingkungan sekitar, kesediaan kerja sama, sikap toleransi, dan juga mampu menjalin keakraban dalam pergaulan di lingkungan sekolah. Aspek tanggung jawab yang mencakup sikap produktif dalam mengembangkan diri, melakukan perencanaan dan melaksanakannya secara fleksibel, sikap empati, bersahabat dalam hubungan interpersonal, kesadaran akan etika dan hidup jujur serta kemampuan bertindak independen. Apabila siswa berkembang berdasarkan keempat aspek tersebut, maka siswa akan merasa puas, senang dan menganggap dirinya berhasil menyesuaikan diri dengan baik di lingkungan sekolah. Begitu juga sebaliknya jika siswa tidak berkembang dalam keempat aspek diatas, maka dia akan kesulitan dalam menikmati proses penyesuaian diri yang ada di sekolah.
Ketidakberhasilan siswa melakukan penyesuaian diri akan mengakibatkan proses belajar siswa terhambat sehingga mendapatkan hasil belajar yang kurang baik. Ketidakberhasilan siswa menyesuaikan diri pada umumnya disebabkan karena ketidaktahuan siswa bagaimana cara menyesuaikan diri dengan baik, tidak tahu cara menjalin relasi dengan teman sebaya, belum mampu mengambil keputusan, dan ada juga yang disebabkan oleh latar belakang budaya yang berbeda, karena kenyataanya di sekolah ini sendiri sekitar 50% siswanya sendiri berasal dari luar daerah, yaitu dari papua, sulawesi, kalimantan, dan beberapa daerah lainnya di sekitar pulau jawa. Penyebab lainnya adalah siswa yang mempunyai latar belakang keluarga yang kurang mampu. Siswa yang berasal dari keluarga kurang mampu biasanya lebih sering menyendiri dan malu untuk bergaul dengan siswa yang berasal dari kelurga yang mampu.
5
Berdasarkan hasil observasi peneliti dan wawancara kepada guru BK serta beberapa siswa yang dilakukan di SMA Santo Mikael Sleman, diperoleh informasi bahwa siswa kelas X masih kurang mampu dalam menyesuaikan diri dengan situasi baru yang ada di sekolah, gejalanya antara lain: siswa yang berasal dari SMP yang sama lebih sering berkumpul dan kurang mau berinteraksi dengan siswa yang berasal dari SMP yang berbeda, ada beberapa siswa yang dijauhi karena berasal dari SMP yang berbeda. Banyak siswa yang sulit menyesuaikan diri dengan kehidupan di sekolah seperti, sering melanggar tata tertib sekolah, adanya kelompok/”geng” antar siswa misalnya dalam memilih teman belajar untuk mengerjakan tugas kelompok, dan juga dalam memilih teman bermain ada yang hanya bermain dengan teman satu daerah atau yang dekat saja, dll. Bertolak dari kenyataan ini timbul pertanyaan tentang bagaimanakah penyesuaian diri siswa kelas X SMA Santo Mikael Sleman Tahun ajaran 2016/2017? Untuk menjawab pertanyaan inilah diadakan penelitian ini.
B. Identifikasi Masalah
Berangkat dari latar belakang masalah diatas yang terkait dengan penyesuaian diri siswa di sekolah, maka dapat diidentifikasi berbagai masalah seperti:
2. Ada beberapa siswa yang hanya mau berteman dengan teman yang berasal dari satu daerah saja.
3. Ada siswa yang dijauhi karena berasal dari SMP yang berbeda.
4. Ada siswa yang kurang mau berinteraksi dengan siswa yang berasal dari SMP yang berbeda.
5. Ada beberapa siswa yang menutup diri dan tidak mau berbaur dengan teman-teman lain.
6. Ada beberapa siswa yang kurang mampu mengenal lingkungan sekolah dengan baik.
C. Pembatasan Masalah
Dalam penelitian ini, fokus kajian adalah penyesuaian diri siswa kelas X SMA Santo Mikael Sleman Tahun Ajaran 2016/2017.
D. Rumusan Masalah
Pertanyaan yang dijawab adalah:
1. Seberapa tinggi tingkat penyesuaian diri siswa kelas X SMA Santo Mikael Sleman Tahun Ajaran 2016/2017?
7
E. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk :
1. Memperoleh gambaran tentang seberapa tinggi tingkat penyesuaian diri siswa kelas X SMA Santo Mikael Sleman tahun ajaran 2016/2017 di sekolah.
2. Mengidentifikasikan item-item penyesuaian diri yang terindetifikasi sedang untuk diusulkan sebagai topik-topik bimbingan pribadi-sosial dalam meningkatkan penyesuaian diri siswa kelas X SMA Santo Mikael Sleman tahun ajaran 2016/2017.
F. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat penelitian terbagi menjadi dua yaitu manfaat teoritis dan praktis.
1. Manfaat Teoritis
Penelitian ini dapat memberikan informasi dan sumbangan bagi pengembangan pengetahuan dalam bidang bimbingan dan konseling, khususnya yang berhubungan dengan penyesuaian diri.
2. Manfaat Praktis
b. Bagi guru pembimbing di sekolah, dapat digunakan untuk pengembangan topik-topik pelayanan bimbingan khususnya mengenai penyesuaian diri di sekolah.
c. Bagi peneliti, dapat memberikan pengalaman dan pengetahuan mengungkapkan penyesuaian diri siswa.
G. Definisi Operasional
1. Penyesuaian diri adalah perilaku yang menunjukan bahwa siswa mampu mencapai kematangan emosional, kematangan intelektual, kematangan sosial, dan tanggung jawab sesuai dengan harapan masyarakat sehingga siswa mampu menjalani hidupnya secara harmonis seperti yang dimaksud dalam butir-butir kuesioner.
2. Siswa adalah semua peserta didik yang terdaftar pada kelas X SMA Santo Mikael Sleman Tahun Ajaran 2016/2017.
3. Bimbingan pribadi-sosial adalah bimbingan dalam menghadapi keadaan batinnya sendiri dan mengatasi berbagai pergumulan dalam batinnya sendiri.
9 BAB II
KAJIAN PUSTAKA
Pada bab ini berisi uraian tentang pengertian penyesuaian diri, aspek-aspek yang mempengaruhi penyesuaian diri, faktor-faktor penyesuaian diri, ciri-ciri penyesuaian diri, penyesuaian diri di sekolah, tingkat perkembangan siswa sebagai remaja, dan bimbingan pribadi-sosial.
A. Penyesuaian Diri
1. Pengertian Penyesuaian Diri
Setiap individu dituntut untuk menyesuaiakan diri dengan lingkungannya. Hartinah (2008) mengatakan bahwa penyesuaian diri merupakan salah satu bentuk interaksi yang didasari oleh adanya penerimaan atau saling mendekatkan diri. Tuntutan-tuntutan kenyataan dari luar akan diselaraskan dengan tuntutan-tuntutan motivasi dari dalam sehingga terbentuklah proses penyesuaian diri (Semiun,2006).
Ada berbagai rumusan pengertian penyesuaian diri. Penyesuaian diri dalam bahasa aslinya dikenal dengan istilah adjusment atau personal adjusment. Penyesuaian diri dapat ditinjau dari tiga sudut pandang Schneiders
(2005) yaitu:
lebih mengarah pada penyesuaian diri dalam arti fisik, fisiologis atau biologis.
b. Penyesuaian diri sebagai bentuk konformitas (conformity), penyesuaian diri juga diartikan sama dengan penyesuaian yang mencakup konformitas terhadap suatu norma. Pemaknaan penyesuaian diri sebagai suatu usaha konformitas, menyiratkan bahwa disana individu seakan-akan mendapat tekanan kuat untuk harus selalu mampu menghindarkan diri dari penyimpangan perilaku baik secara moral, sosial, maupun emosional. c. Penyesuaian diri sebagai usaha penguasaan (mastery), penyesuaian diri
diartikan sebagai usaha penguasaan, yaitu kemampuan untuk merencanakan dan mengorganisasikan respons dalam cara-cara tertentu sehingga konflik-konflik, kesulitan dan frustasi tidak terjadi.
Selain itu Schneider dalam (Yusuf, 2011: 210) mengemukakan bahwa penyesuaian diri adalah proses yang melibatkan respon-respon mental dan perbuatan individu dalam upaya untuk memenuhi kebutuhan, dan mengatasi ketegangan, konflik dan frustrasi secara sukses, serta keseuaian antara kebutuhan dirinya dengan norma atau tuntutan lingkungan tempatnya hidup.
11
penyesuaian diri terbentuk sesuai dengan hubungan individu dengan lingkungan sosialnya. Individu dituntut untuk tidak hanya mengubah kelakuannya dalam menghadapi kebutuhan-kebutuhannya dan keadaan lingkungan tempat di hidup, tetapi juga dituntut untuk menyesuaiakan diri terhadap orang lain dan macam-macam kegiatan mereka.
Kartono (2000) mengatakan bahwa Pada dasarnya manusia senantiasa berusaha menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Penyesuaian diri yang baik ditandai dengan kematangan emosional yang baik yang akan mempermudah siswa dalam menyesuaikan diri, dan kematangan emosional yang kurang baik akan menghambat siswa dalam menyasuaikan diri di lingkungan sekolah Desmita (2009).
2. Ciri-ciri Penyesuaian Diri di Sekolah
Ciri-ciri penyesuaian diri di sekolah dibedakan menjadi dua yaitu penyesuaian diri yang baik dan penyesuaian diri yang salah. Kedua ciri tersebut sebagai berikut:
a. Ciri-ciri Penyesuaian Diri yang Baik di Sekolah
Penyesuaian diri yang baik berati orang yang bersangkutan dapat memenuhi hasrat, keperluan, keinginan, serta tuntutan dari lingkungan secara wajar dan dapat mendekatkan orang tersebut pada tujuan dan maksud yang sebenarnya.
Ciri-ciri penyesuaian diri siswa yang baik (Hartinah, 2008: 186; Yusuf, 2011: 130) adalah sebagai berikut :
1) Relasi interpersonal yang baik
Siswa mampu menjalin hubungan yang baik dengan teman sebaya, guru dan para pegawai yang ada di lingkungan sekolah. Misalnya mau berbagi dan mau membantu teman yang kesusahan, mau terbuka pada guru soal masalah yang dimiliki, mau menyapa guru, satpam, dan para karyawan sekolah ketika berpapasan.
2) Mampu belajar
13
3) Bertanggung jawab
Siswa mampu melaksanakan tugas sebagai siswa di sekolah seperti mematuhi peraturan dan norma yang berlaku di sekolah dan mengerjakan tugas-tugas sekolah yang diberikan dengan penuh tanggu jawab.
4) Kemandirian
Siswa memiliki sikap madiri dalam berfikir, bertindak, dan mengambil keputusan tanpa mendengarkan orang lain, serta mengembangkan diri sesuai dengan norma yang berlaku di lingkungan sekolah.
5) Kepedulian
Siswa mampu bersikap respek, empati terhadap orang lain, mempunyai kepedulian terhadap lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat tempat individu berada.
6) Penerimaan sosial
b. Ciri-ciri Penyesuaian Diri yang Salah di Sekolah
Kegagalan dalam melakukan penyesuaian diri secara positif, dapat mengakibatkan individu melakukan penyesuaian diri yang salah. Menurut Hartinah (2008) ada tiga bentuk reaksi dalam penyesuaian diri yang salah, yaitu:
1) Reaksi Bertahan (defence reaction), sebuah reaksi dimana individu berusaha untuk mempertahankan dirinya, seolah-olah tidak mengahdapi kegagalan. Ia selalu berusaha menunjukkan bahwa dirinya tidak mengalami kegagalan. Bentuk reaksi bertahan antara lain;
a) Rasionalisasi, yaitu bertahan dengan mencari alasan untuk membenarkan tindakannya
b) Resepsi, yaitu berusaha melupakan pengalaman yang kurang baik atau kurang menyenangkan ke alam tidak sadar
c) Proyeksi, yaitu melempar sebeb kegagalan dirinya kepada orang lain untuk mencari alasan sehingg dapat diterima
d) Sour grapes, yaitu suka memutarbalikan fakta.
15
a) Selalu membenarkan diri b) Berkuasa dalam setiap situasi c) Mau memiliki segalanya d) Senang mengganggu orang lain
e) Menunjukan sikap permusuhan secara langsung f) Bersikap balas dendam.
g) Marah secara sadis
3) Reaksi Melarikan Diri (escape reaction), sebuah reaksi dimana orang yang mempunyai penyesuaian diri yang salah akan melarikan diri dari situasi yang menimbulkan kegagalannya. Reaksi yang muncul antara lain:
a) Memuaskan keinginan yang tidak tercapai dalam bentuk angan-angan (seolah-olah sudah tercapai)
b) Banyak tidur
c) Suka minum-minuman keras
3. Aspek-aspek Penyesuaian Diri
Penyesuaian diri yang baik dapat dilihat dari empat aspek kepribadian yaitu kematangan emosi, kematangan intelektual, kematangan sosial, dan kematangan moral atau tanggung jawab (Desmita, 2009) :
a. Kematangan Emosional
1) Kemantapan suasana kehidupan emosional
Kemantapan suasana kehidupan emosional mencakup; pengelolaan emosi baik emosi positif maupun emosi negatif.
2) Kemantapan suasana kehidupan bersama dengan orang lain
Kemantapan suasana kehidupan bersama dengan orang lain mencakup: percaya diri, berani, dan mampu menerima kelebihan serta kekurangan yang ada dalam diri.
3) Kemampuan untuk santai, gembira, dan menyatakan kejengkelan mencakup: mampu bersikap santai dalam belajar dan mengerjakan tugas tanpa adanya paksaan dari orang lain, senang dalam memalakukan sesuatu yang berhubungan dengan belajar (mengerjakan tugas), berani menggungkapkan rasa kesal atau marah kepada orang lain.
17
dengan sikap rasioanl, dengan mampu mengatasi masalah yang terjadi dengan baik tanpa menyebabkan stres.
b. Kematangan Intelektual
1) Kemampuan mencapai wawasan diri
Kemampuan mencapai wawasan diri sendiri yang mencakup; kemampuan memahami dan mengenal diri sendiri (kondisi fisik), kecerdasan, serta minat dan bakat yang ada dalam diri.
2) Kemampuan memahami orang lain dan keragamannya
Kemampuan memahami orang lain dan keragamannya yang mencakup, mampu mengenal dan memahami sikap, sifat, dan watak orang lain yang berbeda-beda.
3) Kemampuan mengambil keputusan
Kemampuan mengambil keputusan mencakup, memikirkan akibat dari apa yang akan dilakukan sebelum mengambil keputusan, mampu memecahkan masalah dan mencari alternatif saat menghadapi masalah.
4) Keterbukaan dalam mengenal lingkungan sekolah
c. Kematangan Sosial
1) Keterlibatan dalam partisipasi sosial
Keterlibatan dalam partisipasi sosial mencakup; kemampuan dalam bersosialisasi dengan warga sekolah dan kegiatan-kegiatan sosial di sekolah seperti, menjalin relasi yang baik dengan teman, guru, dan karyawan yang ada di sekolah, terlibat dalam kegiatan bakti sosial di sekolah, ekstrakurikuler, pensi, dan pramuka.
2) Kemampuan kepemimpinan antara lain, berani tampil dan berbicara di depan umum baik dikelas maupun kelompok, terlibat dalam OSIS. 3) Kesediaan kerjasama
Kesediaan kerjasama antara lain: mampu bekerjasama dengan teman-teman dalam kelompok, menghargai pendapat teman-teman lain dan berperan aktif dalam mengerjakan tugas-tugas kelompok.
4) Sikap toleransi antara lain, menghormati dan menghargai teman-teman yang beragama lain.
5) Keakraban dalam pergaulan
19
d. Tanggung jawab
1) Sikap produktif dalam mengembangkan diri
Sikap produktif dalam mengembangkan diri yang mecakup; mampu menjaga dan memelihara hidup dengan baik, dan melakukan kegiatan yang sesuai dengan kemampuan yang ada dalam diri (Fisik).
2) Melakukan perencanaan dan melaksanakannya secara fleksibel antara lain, membuat jadwal harian, dan melaksanakan tugas sebagai seorang pelajar dengan baik.
3) Sikap altruisme, empati, bersahabat dalam hubungan interpersonal yang mencakup, memahami perasaan orang lain, dan peduli dengan keadaan orang lain.
4) Kesadaran akan etika dan hidup jujur antara lain ramah, menghargai orang lain, dan jujur tehadap diri sendiri.
5) Melihat perilaku dari segi konsekuensi atas dasar sistem nilai antara lain, membuat keputusan dengan melakukan segala pertimbangan terlebi dahulu dan bersikap sesuai nilai-nilai yang diyakini.
6) Kemampuan bertindak independen antara lain, berprilaku dan bertindak sesuai dengan norma yang berlaku.
4. Faktor-faktor yang mempengaruhi Proses Penyesuaian Diri
Menurut Desmita (2009) Faktor-faktor penyesuaian diri dapat dilihat dari konsep psikogenik dan sosiopsikogenik.
Psikogenik memandang bahwa penyesuaian diri dipengaruhi oleh riwayat kehidupan sosial individu, terutama pengalaman yang membentuk perkembangan psikoligi. Pengalaman ini lebih berkaitan dengan latar belakang kehidupan keluarga, terutama menyangkut aspek:
a. Hubungan orangtua-anak seperti penerimaan-penolakan orangtua terhadap anak, perlindungan dan kebebasan yang diberikan kepada anak, sikap dominatif-integratif, dan pengembangan sikap mandiri-ketergantungan. b. Hubungan intelektual keluarga seperti, kesempatan untuk berdialog dan
bertukar pendapat, kegemaran membaca dan minat kultur, pengembangan kemampuan memecahkan masalah, pengembangan hobi, dan perhatian orangtua terhadap kegiatan belajar anak.
c. Iklim emosional dalam keluarga juga dibutuhkan karena dalam ikatan emosional orangtua dan anak akan terjalin komunikasi yang baik yang mencakup, identitas kehadiran orangtua dalam keluarga, hubungan persaudaraan dalam keluarga, dan kehangatan hubungan ayah-ibu.
21
a. hubungan guru-siswa seperti penerimaan dan penolakan guru terhadap siswa, sikap dormatif atau integratif, dan hubungan bebas ketegangan atau penuh ketegangan.
b. Hubungan intelektual sekolah yang mencakup, perhatian terhadap perbedaan individu siswa, intensitas tugas-tugas belajar, kecenderungan untuk mandiri atau berkonformitas pada siswa, sistem penilaian, kegiatan ekstrakurikuler, dan pengembangan inisiatif siswa.
Menurut Schneiders (1964) faktor-faktor yang mempengaruhi penyesuaian diri adalah :
a. Keadaan Fisik, Kondisi fisik individu merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi penyesuaian diri, sebab keadaan sistem-sistem tubuh yang baik merupakan syarat bagi terciptanya penyesuaian diri yang baik. b. Keadaan Psikologis, yang termasuk dalam keadaan psikologis adalah
pengalaman, pendidikan, konsep diri, dan keyakinan diri.
c. Keadaan lingkungan, keadaan lingkungan yang baik, damai, tenteram, aman, penuh penerimaan dan pengertian, serta mampu memberikan perlindungan bagi anggota-anggotanya merupakan lingkungan yang akan memperlancar proses penyesuaian diri.
laku individu untuk menyesuaikan diri dengan baik atau justru membentuk individu yang sulit menyesuaikan diri.
5. Penyesuaian Diri di Sekolah
Sekolah memegang peranan penting dalam proses penyesuaian diri bagi para siswa, hal ini karena sekolah sebagai lembaga formal yang bertanggung jawab atas pendidikan anak selain keluarga. Mahmud (2005) mengatakan bahwa sekolah merupakan lembaga pendidikan formal yang secara sistematis melaksanakan program pendidikan dan membantu siswa dalam mengembangkan potensi yang dimilikinya.
23
a. Penyesuaian Diri dengan Guru
Penyesuaian diri siswa dengan guru tergantung pada sikap guru dalam menghadapi murid-muridnya yang mecakup; mampu bersahabat dengan siswa, menunjukan sikap yang terlalu keras, dan juga pilih kasih. Selain itu menurut peneliti termaksud juga bagaimana cara guru dalam mengatasi masalah yang berkaitan dengan siswa, dan sikap siswa terhadap guru yang sopan, dan hormat. Interaksi yang terjalin bukan hanya dengan wali kelas, guru mata pelajaran saja, tetapi juga dengan guru pembimbing atau konselor yang ada di sekolah.
b. Penyesuaian diri Dengan Teman Sebaya
c. Penyesuaian diri dengan karyawan sekolah
Selain guru dan teman-teman, penyesuaian diri juga dapat dijalin dengang karyawan sekolah. Siswa dapat bersikap ramah dan sopan terhadap satpam, karyawan TU, petugas kebersihan, dan petugas perpustakaan.
d. Penyesuaian Diri terhadap Lingkungan Sekolah
Siswa dapat mengenal dengan baik keadaan dan fasilitas yang ada di sekolah seperti: ruang kelas, WC, perpustakaan, halaman dan lapangan sekolah yang mendukung proses belajar mengajar, sehingga siswa merasa nyaman dan tenang pada saat proses belajar mengajar berlangsung. e. Penyesuaian Diri dengan Mata Pelajaran
Kurikulum hendaknya disesuaikan dengan usia siswa, hal ini disebabkan karena tingkat kecerdasan dan kebutuhan siswa yang berbeda-beda. Dengan demikian siswa dapat dengan mudah menyesuaikan diri dengan mata pelajaran. Dalam melaksanakan kegiatan belajar-mengajar, siswa diharapkan mampu mengikuti mata pelajaran dengan baik.
f. Penyesuaian Diri terhadap Tata Tertib Sekolah
25
perhiasan yang berlebihan dan siswa tidak bolen mewarnai rambut. Tata tertib hal-hal yang dilarang sekolah, seperti dilarang kerjasama dengan teman pada saat ulangan, meminta ijin pada saat keluar kepada guru piket dan memberikan surat keterangan tidak masuk kepada guru piket.
B. Siswa sebagai Remaja 1. Pengertian Remaja
Masa remaja menurut Mappiare (Hartinah 2008) berlangsung antara umur 12 sampai dengan 21 tahun bagi wanita dan 13 sampai 22 tahun bagi pria. Rentang usia remaja tersebut dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu usia 12/13 sampai 17/18 tahun adalah masa remaja awal dan usia 17/18 sampai 21/22 tahun adalah masa remaja akhir. Siswa kelas X SMA termaksud remaja awal. Pada masa remaja terjadi perkembangan dalam berbagai aspek, seperti: perkembangan fisik, perkembangan kognitif, dan perkembangan kepribadian sosial.
2. Karakteristik Remaja
a. Mencapai hubungan yang matang dengan teman sebaya.
b. Dapat menerima dan belajar peran sosial sebagai pria atau wanita dewasa yang dijunjung tinggi oleh masyarakat.
c. Menerima keadaan fisik dan mampu menggunakannya secara efektif. d. Mencapai kemandirian emosional dari orangtua dan orang dewasa efektif. e. Memilih dan mempersiapkan karir di masa depan sesuai dengan minat dan
kemampuan yang dimilikinya.
f. Mengembangkan keterampilan intelektual dan konsep-konsep yang diperlukan sebagai warga negara.
g. Mencapai tingkah laku yang bertanggung jawab secara sosial.
h. Memperoleh seperangkat nilai dan sistem etika sebagai pedoman bertingkah laku.
i. Mengembangkan wawasan keagamaan dan meningkatkan religius.
3. Perkembangan Sosial Remaja Awal
27
Santrock dalam (Desmita, 2007) menyatakan bahwa studi-studi kontemporer tentang remaja menunjukan bahwa hubungan yang positif dengan teman sebaya diasosiasikan dengan penyesuaian sosial yang positif. Kelly dan Hansen (Desmita 2007) menyebutkan 6 fungsi positif dari hubungan remaja dengan teman sebaya, yaitu:
a. Mengontrol impuls-impuls agresif.
b. Memperoleh dorongan emosional dan sosial serta menjadi lebih independen.
c. Meningkatkan keterampilan-ketrampilan sosial. d. Memperkuat penyesuaian moral dan nilai-nilai. e. Meningkatkan harga diri.
C. Bimbingan Pribadi-Sosial
1. Pengertian Bimbingan Pribadi-Sosial
kerohanian, perawatan jasmani, pengisian waktu luang, penyaluran nafsu seksual, dll.
2. Unsur-unsur Bimbingan Pribadi-Sosial di Jenjang Pendidikan Menengah Atas
Bimbingan pribadi-sosial yang di berikan di jenjang pendidikan menengah atas sebagian disalurkan melalui bimbingan kelompok dan sebagian lagi melalui bimbingan individual, serta mengandung unsur-unsur sebagai berikut (Winkel & Hastuti, 20014: 118):
a. Informasi tentang fase atau tahap perkembangan yang sedang dilalui oleh siswa remaja, antara lain tentang konflik batin yang dapat timbul dan tentang cara bergaul yang baik.
b. Penyadaran akan keadaan masyarakat dewasa ini, yang semakin berkembang kearah masyarakat modern, antara lain ciri-ciri kehidupan modern, dan makna ilmu pengetahuan serta tegnologi bagi kehidupan manusia.
29
d. Pengumpulan data yang relevan untuk mengenal kepribadian siswa, misalnya sifat-sifat kepribadian yang tampak dalam tingkah laku, latar belakang kelurga dan keadaan kesehatan.
3. Tujuan Bimbingan Pribadi-Sosial
Juntik (2005), merumuskan beberapa tujuan bimbingan dan konseling yang terkait dengan spek-aspek pribadi-sosial sebagai berikut:
a. Memiliki komitmen yang kuat dalam mengamalkan nilai-nilai keimanan dan ketakwaan terhadap TUhan Yang Maha Esa, baik dalam kehidupan pribadi, keluarga, pergaulan dengan teman sebaya, sekolah, tempat kerja, maupun masyarakat pada umumnya.
b. Memiliki sikap toleransi terhadap umat beragama lain, dengan saling menghormati dan memelihara hak dan kewajibannya masing-masing. c. Memiliki pemahaman tentang irama kehidupanyang bersifat fluktuatif
antara yang menyenangkan dan tidak menyenangkan, serta mampu meresponnya secara positif sesuai dengan ajaran agama yang dianutnya. d. Memiliki pemahaman dan penerimaan diri secara objektif dan konstruktif,
baik yang terkait dengan keunggulan maupun kelemahan, baik fisik maupun psikis.
g. Bersikap respek terhadap orang lain, menghormati atau menghargai orang lain, tidak melecehkan martabat atau harga dirinya.
h. Memiliki rasa tanggung jawab yang diwujudkan dalam bentuk komitmen terhadap tugas dan kewajibannya.
i. Memiliki kemampuan berinteraksi sosial (human relationship), yang dijuwudkan dalam bentuk persahabatan, persaudaraan, atau silaturahmi dengan sesama manusia.
j. Memiliki kemampuan dalam menyelesaikan konflik (masalah) baik bersifat internal (dalam diri sendiri) maupun orang lain.
k. Memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan secara efektif.
4. Fungsi Bimbingan Pribadi-Sosial
Totok (Puspita, 2007) mengungkapkan ada beberapa fungsi dalam bimbingan pribadi-sosial, antara lain:
a. Berubah menuju pertumbuhan. Pada bimbingan pribadi-sosial, konselor secara berkesinambungan memfasilitasi individu agar mampu menjadi agen perubahan (agent of change) bagi dirinya dan lingkungannya. Konselor juga berusaha membantu individu sedemikian rupa sehingga individu mampu menggunakan segala sumber daya yang dimilikinya untuk berubah.
31
yang ada diluar dirinya. Pada dasarnya melalui bimbingan pribadi sosial diharapkan individu mampu mencapai tingkat kedewasaan dan kepribadian yang utuh dan penuh seperti yang diharapkan, sehingga individu tidak memiliki kepribadian yang terpecah lagi dan mampu mengintegrasi diri dalam segala aspek kehidupan secara utuh, selaras, dan seimbang.
c. Belajar untuk berkomunikasi yang lebih sehat. Bimbingan pribadi sosial dapat berfungsi sebagai media pelatihan bagi individu untuk berkomunikasi secara sehat dengan ligkungannya.
d. Berlatih tingkah laku baru yang lebih sehat. Bimbingan pribadi-sosial digunakan sebagai media untuk menciptakan dan berlatih prilaku baru yang lebih sehat.
e. Untuk mengungkapkan diri secara penuh dan utuh. Melalui bimbingan pribadi-sosial diharapkan individu dapat dengan spontan, kreatif, dan efektif dalam mengungkapkan perasaan, keinginan, dan inspirasinya. f. Individu mampu bertahan. Melalui bimbingan pribadi-sosial diharapkan
individu dapat bertahan dengan keadaan masa kini, dapat menerima keadaan dengan lapang dada, dan mengatur kembali kehidupannya dengan kondisi yang baru.
D. Kajian Penelitian yang Relevan
Maria (2012) mengadakan penelitian mengenai tingkat penyesuaian diri siswa kelas VII. Penelitian ini melibatkan seluruh siswa kelas VII SMP Pangudi Luhur 1 Yogyakarta tahun ajaran 2011/2012. Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini adalah 4 orang memiliki tingkat penyesuaian diri dengan kategori sangat tinggi yaitu 1,78%, 50 orang memiliki tingkat penyesuaian diri dengan kategori tinggi yaitu 22,32%, 12 orang memiliki tingkat penyesuaian diri dengan ketegori rendah yaitu 5,35%, dan tidak terdapat siswa SMP Pangudi Luhur 1 Yogyakarta yang memiliki tingkat penyesuaian diri sangat rendah.
33
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
Bab ini berisi uraian tentang jenis penelitian, tempat dan waktu penenlitian, subjek penelitian, instrumen penelitian, validitas dan reliabilitas, teknik pengumpulan data, dan analisis data.
A. Jenis Penelitian
Penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif deskriptif dengan metode survei karena tujuan dari penelitian ini untuk memberikan penjelasan mengenai tingkat penyesuaian diri siswa. Menurut Sugiyono (2000) penelitian deskriptif adalah penelitian yang dilakukan untuk memberikan gambaran terhadap satu objek yang diteliti melalui data sampel dan populasi sebagaimana adanya dengan melakukan analisis dan membuat kesimpulan yang berlaku secara umum. Sugiyono (2012) juga menjelaskan bahwa penelitian deskriptif yaitu, penelitian yang dilakukan untuk mengetahui nilai variabel mandiri, baik satu variabel atau lebih (independen) tanpa membuat perbandingan, atau menghubungkan dengan variabel yang lain.
B. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SMA Santo Mikael Sleman, tepatnya dilaksanakan pada tanggal 19 dan 28 November 2016.
C. Subjek Penelitian
Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah simple random sampling, yang merupakan jenis teknik sampling probability
sampling. Menurut Sugiyono (2009) simple random sampling adalah suatu teknik sampling melalui pengambilan anggota sampel dari populasi yang dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam populasi tersebut. Dengan menggunakan teknik simple random sampling, Dalam penelitian ini peneliti mengambil 2 kelas dari kelas X SMA Santo Mikael Sleman dengan jumlah 38 siswa. Setelah melakukan pemilihan pada sampel, maka hal pertama yang peneliti lakukan adalah, peneliti membuat angket dan melakukan uji coba terlebih dahulu, uji coba peneliti lakukan di kelas XB
dengan jumlah 36 siswa. Rincian jumlah siswa masing-masing kelas disajikan
dalam tabel 3.1 berikut:
Tabel 3.1
Tabel Jumlah Siswa Kelas X SMA Santo Mikael Sleman
Kelas Jumlah Siswa
X A 20
X C 18
35
D. Teknik dan Instrumen Pengumpulan DataPenelitian
Teknik pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan angket atau kuesioner. Angket merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawabnya (Sugiyono, 2014). Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa kuesioner penyesuaian diri siswa kelas X SMA Santo Mikael Sleman dengan berdasarkan keempat aspek yang sudah dipaparkan.
Jenis kuesioner yang digunakan adalah kuesioner langsung tertutup, artinya responden menjawab pernyataan yang berhubungan dengan dirinya. Dalam kuesioner ini sudah disediakan alternatif jawaban yang sesuai dengan keadaan yang sedang mereka alami, sehingga responden tinggal memilih alternative jawaban yang sesuai dengan memberikan tanda check (√).
Kuesioner yang peneliti susun mengacu pada prinsip-prinsip skala Likert. Skala Likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi
Sedangkan pernyataan yang negatif atau unfavorable adalah pernyataan yang menunjukan kurang baiknya penyesuaian diri.
Alternatif jawaban hanya dibuat empat dengan maksud untuk menghilangkan kecenderungan responden untuk memilih alternatif yang di tengah. Jika ada lima alternatif jawaban maka pemilihan alternatif yang ditengah menunjukan bahwa responden masih merasa ragu-ragu atau belum dapat menentukan pilihan jawaban yang sesuai dengan pengalamannya. Dalam penelitian ini, alternatif jawaban yang dibuat adalah berdasarkan persepsi atau pikiran siswa tentang bagaimana proses penyesuaian diri yang akan mereka alami di sekolah. Sehingga peneliti mencoba untuk menggunakan 4 alternatif jawaban berikut ini, Sangat Sesuai (SS), Sesuai (S), Tidak Sesuai (TS), dan Sangat Tidak Sesuai (STS). Normal skoring yang dikenakan terhadap pengelolaan data yang dihasilkan instrumen ini dapat dilihat pada tabel berikut ini:
37
Tabel 3.3
Kisi-kisi Kuesioner Tingkat Penyesuaian Diri Siswa (Uji Coba)
Aspek Indikator Item Jumlah
Fav Unfav 1. Emosional a. Kemantapan suasana
kehidupan dengan orang
d. Kemampuan dalam memiliki arti sejauhmana ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam melakukan fungsi ukur. Suatu tes mempunyai validitas yang tinggi apabila memberikan hasil ukur yang tepat dan akurat. Instrumen yang valid berarti alat ukur yang dapat digunakan untuk memperoleh data yang valid. Instrumen tersebut dapat digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya diukur (Sugiyono, 2008). Validitas instrumen penelitian ini menggunakan validitas isi. Menurut Azwar (2009:45) validitas isi tidak dapat dinyatakan dengan angka, namun pengesahannya perlu melalui tahap pengujian terhadap isi dengan analisis rasional atau lewat expert judgment. Expert judgment pada angket penyesuaian diri ini peneliti mengkonsultasikannya
39
Uji coba dilakukan untuk mendapatkan perbedaan atau diskriminasi sampai dengan mendapatkan pernyataan-pernyataan final.
Pengujian menggunakan analisis statistika dengan menggunakan program SPSS. Biasanya syarat minimun untuk dianggap memenuhi syarat yaitu r = 0,30. Bila nilai korelasi dibawah 0,30 maka dapat disimpulkan bahwa butiran instrumen tidak valid, sehingga harus diperbaiki atau dibuang (Sugiyono, 2008).
Menurut Arikunto (2002), suatu instrumen yang valid mempunyai tingkat validitas yang tinggi, dikatakan valid apabila dapat mengungkapkan data dari variabel yang diteliti secara tepat. Selanjutnya Arikunto (2002) menjelaskan bahwa untuk menguji tingkat validitas dari kuesioner dengan taraf signifikan (α = 5%) digunakan rumus koefisien
korelasi product moment sebagai berikut :
∑ ∑ ∑
√ ∑ ∑ ∑ ∑
Keterangan:
= Korelasi produk moment
= Nilai setiap butir = Nilai dari jumlah butir = Jumlah responden
dianggap memuaskan. Berdasarkan ketentuan tersebut dapat dikatakan bahwa item yang valid adalah item yang memiliki nilai korelasi ≥ 0,30. Sementara itu, suatu item dikatakan tidak valid jika memiliki nilai korelasi < 0,30.
Hasil perhitungan uji coba yang telah dilakukan dalam penelitian ini menunjukkan bahwa dari 99 item yang dikembangkan terdapat 15 item yang koefisien validitasnya < 0,30. Ke 15 item tersebut dieliminasi atau tidak disertakan dalam pengambilan data selanjutnya. Dengan demikian masih terdapat 84 item yang memiliki koefisien validitas ≥ 0,30. Sehingga dinyatakan valid dan digunakan untuk pengambilan data penelitian sesungguhnya. Adapun item-item yang valid dan gugur dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 3.4
Hasil Uji Validitas Instrumen Penelitian
Aspek Indikator Item
Valid Gugur 1. Emosional a. Kemantapan suasana kehidupan
dengan orang lain.
41
c. Kemampuan berempati 91,92,97,95 88 d. Kemampuan dalam memiliki
Setelah diadakan pengujian validitas maka didapat kisi-kisi kuisioner penelitian sebagai berikut ini :
Tabel 3.5
Kisi-kisi Instrumen Setelah Uji Validitas
Aspek Indikator Item
Fav Unfav
1. Emosional a. Kemantapan suasana
kehidupan dengan orang lain.
sendiri
c. Kemampuan berempati 71,73 70,72
43
2. Reliabilitas
Setelah dilakukan uji validitas, hal selanjutnya yang dilakukan adalah melakukan uji reliabilitas. Reliabilitas diartikan dari kata reliability yang mempunyai asal kata rely dan ability (Azwar, 2009). Pengukuran kuesioner yang memiliki reliabilitas tinggi berarti menghasilkan data yang reliabel. Inti dari reliabitas adalah konsistensi sejauh mana hasil suatu pengukuran dapat dipercaya. Perhitungan reliabilitas penelitian ini dihitung menggunakan rumus Cronbach’s alpha. Adapun rumus Cronbach’s alpha sebagai berikut :
[ ]
Keterangan rumus :
: Varian skor belahan 1 dan 2 : Varian skor skala
Hasil perhitungan indeks realibilitas dikonsultasikan dengan kriteria Guilford (Masidjo, 1995) dapat dilihat dalam tabel berikut ini:
Tabel 3.6 Kriteria Guilford
No Koefisien Korelasi Kualifikasi
1. . 0,91 – 1,00 Sangat Tinggi
2. 0,71 – 0,90 Tinggi
3. 0,41 – 0,70 Cukup
4. 0,21 – 0,40 Rendah
Reliability Statistics
Cronbach's Alpha N of Items
0,844 84
Berdasarkan hasil hitung SPSS menunjukan reliabilitas sebesar 0,844 yang termasuk kategori tinggi, sehingga kuesioner penelitian ini reliable atau dapat dipercaya.
F. Pengumpulan Data
a. Uji Coba Kuesioner Penyesuaian Diri
Pada tanggal 19 November peneliti melakukan uji coba instrumen yang suda peneliti buat kepada kelas XB dengan jumlah 36 Siswa. Uji coba ini dilakukan untuk mengetahui validitas dan reliabilitas isi kuisioner.
b. Pengumpulan Data Penelitian
45
G. Teknik Analisis Data
Analisis data merupakan kegiatan mengelompokkan data berdasarkan variabel dan jenis responden, mentabulasi data, menyajikan data dari tiap variabel yang diteliti, dan melakukan perhitungan untuk menjawab rumusan masalah (Sugiyono, 2010).
Langkah-langkah teknik analisis data pada penelitian ini sebagai berikut:
1. Menentukan skor
Penentuan skor mengacu pada pedoman skoring yang telah dibuat.Peneliti melihat pertanyaan favorable maupun unfavorable dengan memberi angka 1 sampai 4 berdasarkan jawaban dari responden. Setelah itu peneliti memasukan hasil dalam tabulasi data dan menghitung total jumlah skor item serta jumlah skor subjek.
2. Menentukan kategori
sangat rendah, rendah, sedang, tinggi dan sangat tinggi yang dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut:
Tabel 3.7
Pedoman Kategorisasi Tingkat Penyesuaian Diri Siswa SMA Santo Mikael Sleman Tahun Ajaran 2016/2017
Kriteria Skor Kategori
µ+1,5σ <X Sangat Tinggi µ+0,5σ< X ≤µ+1,5σ Tinggi
µ-0,5σ<X≤µ + 0,5σ Cukup Tinggi µ-1,5σ<X≤µ - 0,5σ Rendah
X≤µ - 1,5σ Sangat Rendah
Keterangan:
Skor maksimum empiris : Skor tertinggi yang diperoleh subyek penelitian berdasarkan data nyata lapangan
Skor minimum empiris : Skor terendah yang diperoleh subyek penelitian berdasarkan data nyata lapangan
Standar deviasi (σ) : Luas jarak rentangan yang dibagi dalam 6 satuan deviasi sebaran
47
Kategori diatas menjadi patokan dalam pengelompokan tinggi rendah tingkat penyesuaian diri siswa/I kelas X Sam Santo Mikael Sleman. Kategorisasi subjek penelitian diperoleh melalui perhitungan (dengan jumlah item 84) sebagai berikut:
X maxsimum teoritik : 84 x 4 = 336 X minimum teoritik : 84 x 1 = 84 Luas Jarak : 336 – 54 = 282
σ : 282 : 6 = 47
µ : (336 + 84) : 2 = 210
Jadi, karena dalam penelitian ini subjek digolongkan ke dalam lima kategori, maka keenam satuan deviasi standar dibagi dalam lima bagian sebagai berikut:
Tabel 3.8
Kategori Skor Subjek Penelitian
Kriteria Skor Rerata Skor Kategori
X> µ+1,5σ X>253,5 Sangat Tinggi
µ+0,5σ< X ≤µ+1,5σ 214,5<X≤253,5 Tinggi µ-0,5σ<X≤µ + 0,5σ 175,5≤X≤214,5 Cukup Tinggi
µ-1,5σ<X≤µ - 0,5σ 136,5≤X≤175,5 Rendah
X≤µ - 1,5σ X≤136,5 Sangat Rendah
Selanjutnya kategorisasi butir-butir item penelitian diperoleh melalui perhitungan (dengan jumlah Subjek 38) sebagai berikut:
X maxsimum teoritik : 38 x 4 = 152 X minimum teoritik : 38 x 1 = 38 Luas Jarak : 152 – 38 = 114
σ : 114 : 6 = 19
µ : (152 + 38) : 2 = 95
Jadi Penentuan kategorisasi item-item setelah dilakukan penghitungan dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel 3.9
Kategori Skor Item Penelitian
Kriteria Skor Rerata Skor Kategori
X> µ+1,5σ X>123,5 Sangat Tinggi
µ+0,5σ< X ≤µ+1,5σ 104,5<X≤123,5 Tinggi µ-0,5σ<X≤µ + 0,5σ 85,5≤X≤104,5 Cukup Tinggi
µ-1,5σ<X≤µ - 0,5σ 66,5≤X≤85,5 Rendah
49 BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Bab ini memuat hasil penelitian dan pembahasan, penyajian hasil penelitian didasarkan pada rumusan masalah atau pertanyaan-pertanyaan penelitian.
A. Hasil Penelitian
1. Tingkat penyesuaian diri siswa kelas X SMA Santo Mikael Sleman Tahun Ajaran 2016/2017.
Tabel 4.1
Kategori Tingkat Penyesuaian Diri
Siswa Kelas X SMA Santo Mikael SlemanTahunAjaran 2016/2017
Norma Skor Frekuensi Persentase (%) Kategori
X>253,5 32 84,21% Sangat Baik
214,5<X≤253,5 6 15,79% Baik
175,5≤X≤214,5 - 0% Cukup Baik
136,5≤X≤175,5 - 0% Kurang Baik
X≤136,5 - 0% Sangat Kurang
Baik
Total 38 100% -
Grafik 4.1
Tingkat Penyesuaian Diri
Siwa Kelas X SMA Santo Mikael SlemanTahunAjaran 2016/2017
Berdasarkan data dari Tabel 4.1 dan garfik 1 diperoleh gambaran bahwa:
a. Tidak ada siswa (0%) yang penyesuaian dirinya sangat kurang baik. b. Tidak ada siswa (0%) yang penyesuaian dirinya kurang baik. c. Tidak ada siswa (0%) yang penyesuaian dirinya cukup baik.
d. Sebanyak 6 siswa (15,79%) yang penyesuaian dirinya dirinya baik, artinya siswa mampu menyesuaiakan diri.
e. Sebanyak 32 siswa (84,21%) yang penyesuaian sangat baik, artinya siswa sangat mampu menyesuaiakan diri.
0 0 0
15.79
84.21
Sangat Kurang Baik
Kurang Baik Cukup Baik Baik Sangat Baik
51
Berdasarkan hasil penelitian diatas maka dapat disimpulkan bahwa sebagian besar siswa kelas X SMA Santo Mikael Sleman Tahun Ajaran 2016/207 memiliki penyesuaian diri sangat baik.
2. Item Terendah dari Instrumen Penelitian Penyesuaian Diri Siwa Dari keseluruhan 84 butir item instrumen penelitian tingkat penyesuaian diri siswa kelas X SMA Santo Mikael Sleman Tahun Ajaran 2016/2017, telah dilakukan pengujian dan didapatkan hasil seperti pada tabel berikut :
Tabel 4.2
Kategori Item Instrumen Penyesuaian Diri Siswa Kelas X SMA Santo Mikael Sleman Tahun Ajaran 2016/2017 Rerata Skor Frekuensi Kategori No. Item
sajikan dalam table 4.3. butir-butir item inilah yang akan peneliti jadikan sebagai dasar usulan topik-topik bimbingan klasikal seperti dalam tabel berikut:
Tabel 4.3
Item-item pernyataan yang tergolong dalam kategori sedang
No Pernyataan Skor
1 Saya malu mengungkapkan perasaan kepada orang lain 100 2 Saya berani mencalonkan diri untuk menjadi pejabat
kelas (ketua,wakil,bendahara,sekertaris)
94
3 Saya suka menolak ketika dipilih untuk mewakili teman-teman kelas dalam berpidato di depan kelas
102
4 Saya tidak aktif mengikuti kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan OSIS
102
5 Saya membuat jadwal harian dengan terperinci 96
B. Pembahasan
53
sesuai dengan dugaan awal peneliti, faktor-faktor tersebut adalah; karena setiap individu atau siswa memiliki karakter dan sifat yang berbeda dan susah ditebak, suasana kelas dan teman-teman yang mendukung siswa dalam menyesuaikan diri, dan juga bisa disebabkan oleh cara bergaul dan cara berinteraksi setiap siswa yang berbeda-beda.
Ada 6 siswa (15,79) siswa yang memiliki tingkat penyesuaian diri baik. Menurut Desmita (2009) penyesuaian diri yang baik ditandai dengan kematangan emosional yang baik yang akan mempermudah siswa dalam menyesuaiakan diri, dan kematangan emosional yang kurang baik akan menghambat siswa dalam menyasuaikan diri di lingkungan sekolah. Contohnya jika ada siswa yang merasa kurang nyaman dengan lingkungan sekolah yang baru dan tidak mampu bersosialisasi dengan semua orang, maka proses penyesuaian dirinya akan terhambat.
Ada 32 siswa (84,21%) siswa yang memiliki tingkat penyesuaian diri sangat baik. Hasil ini menandakan bahwa sebagian besar siswa mampu menyesuaikan diri di sekolah, baik dalam aspek emosional, intelektual, social, dan moral atau tanggung jawab.
kesempatan kepada anak untuk berbagi tentang masalah yang dialaminya, kurangnya minat siswa dalam membaca, dan kurang mengembangkan kemampuan memecahkan masalah yang dialami yang berakibatkan siswa kurang mencapai wawasan diri yang dimiliki. Perkembangan intelektual secara optimal akan membantu siswa untuk mengenal diri sendiri, kecerdasan, dan bakat dalam diri, dan mamapu memahami tentang orang lain dan lingkungan sekitar.
Kematangan sosial juga sangat mempengaruhi siswa dalam proses penyesuaian diri. Karena disini siswa harus memilik kemampuan untuk beriteraksi dengan orang-orang disekitar atau orang-orang yang ada di lingkungan sekolah (guru, teman-teman, dan karyawan sekolah). Relasi yang baik antara guru, siswa, dan teman-teman akan menumbuhkan rasa penerimaan timbal balik, bukan sebuah penolakan atau merasa tidak diterima dengan baik di lingkungan tersebut. Ketika aspek sosial yang dimiliki siswa tidak berkembangan dengan baik maka siswa tersebut akan mengalami hambatan dalam pergaulan dengan teman sebaya dan para guru di sekolah.
55
apabila sisiwa tidak mampu bertanggung jawab dengan apa yang dilakukan maka akan menghambat proses penyesuaian dirinya.
Setiap orang memiliki tahap perkembangan yang berbeda dan juga kemampuan penyesuian diri yang berbeda-beda, ada yang dapat menyesuikan diri dengan mudah dan ada juga yang sulit untuk menyesuikan diri. Apabila sesorang mampu menyesuiakan diri dengan baik maka salah satu tugas perkembangannya sebagai remaja awal akan terpenuhi yaitu mencapai hubungan baik dengan semua orang di sekitarnya. Misalnya ketika seorang siswa di sekolah mampu menyesuaikan diri dengan segala perubahan dan tuntutan-tuntutan di setiap tahap perkembangannya maka siswa tesebut mampu melalui tahap perkembangan dalam dirinya dengan baik.
C. Usulan Topik-Topik Bimbingan
Berdasarkan item-item kuesioner yang terdapat pada tabel 4.3, topik-topik bimbingan pribadi-sosial yang diusulkan untuk meningkatan penyesuaian diri pada siswa Kelas X SMA Santo Mikael Sleman Tahun Ajaran 2016/2017 disajikan pada tabel 4.4.
57
Tabel 4.4
Usulan Topik-topik Bimbingan Klasikal untuk Meningkatkan Penyesuaian Diri Siswa Kelas X SMA Santo Mikael Sleman Tahun Ajaran 2016/2017.
No Pernyataan /Item Topik
Bimbingan
Bidang Bimbingan
Tujuan Materi Kegiatan Sumber
1. Saya malu mengungkapkan perasaan kepada orang lain
untuk menjadi pejabat kelas (ketua,wakil,bendahara,sekert
3. Saya suka menolak ketika dipilih untuk mewakili teman-teman
58 BAB V
PENUTUP
Pada bab ini disajikan kesimpulan, keterbatasan dalam penelitian dan saran-saran. Kesimpulan disajikan berdasarkan hasil analisi data dan pembahasan. Saran yang diberikan dalam penelitian ini didasarkan pada hasil penelitian yang ditujukan kepada pihak yang terkait dan usulan untuk peneliti lain.
A. Kesimpulan
Kesimpulan berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan adalah:
1. Tidak ada siswa yang penyesuaian dirinya rendah dan sangat rendah. Karena sebagian besar siswa kelas X SMA Santo Mikael Sleman Tahun 2016/2017 tergolong memiliki penyesuaian diri yang baik dan sangat baik. Artinya disini adalah siswa sudah mampu menyesuaikan diri.
59
B. Keterbatasan
1. Peneliti menyadari bahwa kuesioner penyesuaian diri yang disusun masih jauh dari sempurna, dalam hal ini bahasa masih sulit untuk dipahami dan diperlukan waktu untuk mengulang dalam membaca kuesioner tersebut.
2. Item-item kuesioner cenderung lebih mengungkapkan persepsi siswa, sehingga kurang mampu mengukur penyesuaian diri siswa secara objektif.
C. Saran
1. Bagi SMA santo Mikael Sleman
Sekolah sebaiknya bisa menyediakan tambahan guru BK sehingga tidak hanya satu guru saja yang menangani semua permasalahan siswa dari kelas X, XI, dan XII. Selain itu, para guru yang ada di sekolah juga harus mendukup setiap proses perkembangan para siswa sehingga dapat menyesuaian diri dengan baik di lingkungan sekolah.
2. Guru BK
Guru BK diharapkan hendak membahas topik-topik bimbingan yang disajikan dalam skripsi ini.
a. Sebaiknya memperluas landasan teori yang berkaitan dengan penyesuaian diri.
b. Dalam pembuatan kuesioner diharapkan untuk menggunakan bahasa yang mudah dimengerti dan dipahami oleh subjek.
c. Hendaknya teliti dalam mengembangkan indikator dari setiap aspek, agar item-item yang dibuat seimbang dalam dalam setiap aspek.
61
DAFTAR PUSTAKA
Ali, M. (2005). Psikologi Remaja Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: Bumi Aksara
Alimoi. (2005). Deskripsi Penyesuian Diri Siswa Kelas X SMA Pangudiluhur Sedayu Yogyakarta Tahun Ajaran 2004/2005 Terhadap Kehidupan Di Sekolah Dan Implikasinya Pada Topik-Topik Bimbingan (Skripsi tidak diterbitkan). Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma.
Arikunto, S. (2006). Prosedur Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta. Arifin, Z. (2011). P enelitian Pendidikan. Bandung: Rosdakarya.
Azwar, Saifuddin.(2009). Validitas Dan Reliabilitas. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Azwar, Saifuddin. 2012 Reliabilitas dan Validitas. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Djamarah, S.B. (2008). P sikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Desmita. (2009). Psikologi PerkembangannP eserta Didik.
Bandung; Remaja Rosdakarya
Flaviana, Maria. (2012). Tingkat Penyesuaian Diri Siswa Kelas VII SMP Pngudi Luhur 1 Yogyakarta Tahun Ajaran 2011/2012 Terhadap Kehidupan Di Sekolah Serta Implikasinya Terhadap Usulan Topik-Topik Bimbingan Kelompok. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma.
Hartinah, Sitti. 2008. Pengembangan Peserta Didik. Bnadung: PT Refika Aditama
Hurlock, E. B. (1980). Psikologi Perkembangan. Jakarta: Erlangga
Juntika, Yusuf. 2005. Landasan Bimbingan dan Konseling. Yogyakarta: Andi.
Kartono. (1980). Teori Kepribadian. Bandung: Alumni.
Mahmud, H. 2012. Sosiologi Pendidikan. Bandung: Pustaka Setia.
Prayitno dan Amti. (1999). Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Rineke Cipta.
Puspita, Rima. 2007. Program bimbingan Pribadi-Sosial untuk Mengembangkan Kecerdasan Interpersonal Siswa. Skripsi. Bandung:
Santoso, Djoko Budi. 2011. Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling. Malang:
Semiun, Y. (2006). Kesehatan Mental I: Pandangan Umum Mengenai Penyesuaian Diri da n Kesehatan Mental serta Teori-teori yang terkait.Yogyakarta: Kanisius.
Sugiyono. (2009). P enelitian Kuantitatif dan Kualitatif R& D. Bandung:
Alfabeta
Sukardi. (2003). Metodologi Penelitian Pendidikan: Kompetensi dan Praktikanya. Jakarta: Bumi Aksara.
Sudrajat, Akhmad. 2008. Tujuan Pelayanan Bimbingan dan Konseling.
Wilis, Sofyan, 1981. Remaja dan Permasalahannya. Bandung: Alfabeta
Winkel, dan Sri Hastuti. (2004). Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan. Yoyakarta: Media Abadi.
Winkel, dan Sri Hastuti. (2006). Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan. Yoyakarta: Media Abadi.
63
KUISIONER PENYESUAIAN DIRI
A. Pengantar
Teman-teman, di bawah ini ada sejumlah pernyataan yang berkaitan dengan penyesuaian diri teman-teman ketika berada di sekolah. Teman-teman diharapkan untuk mengisi berdasarkan keadaan yang teman alami. Jawaban yang teman-teman berikan tidak akan mempengaruhi nilai raport teman-teman-teman-teman semua. Jawaban yang teman-teman berikan akan diolah dan hasilnya digunakan untuk pengembangan Bimbingan dan Konseling di sekolah.
B. Identitas Diri
1. Nama :... 2. Jenis kelamin :... 3. Kelas :... 4. Hari/tanggal :...
C. Petunjuk Pengisian
1. Bacalah setiap butir-butir pernyataan dengan baik dan teliti. 2. Isilah sesuai dengan keadaan diri anda
3. Berilah tanda ( ) pada alternatif jawaban yang sesuai dengan pilihanmu.
Sangat Sesuai (SS) Tidak Sesuai (TS)
No Pernyataan SS S R STS
1. Saya diterima dengan baik oleh teman-teman di kelas
2. Saya merasa nyaman belajar dengan teman-teman tanpa merasa
canggung
3. saya kurang percaya diri ketika berinteraksi dengan teman-teman
4. Saya merasa senang hidup bersama-sama dengan orang lain yang ada
di sekitar saya (teman-teman,guru,karyawan sekolah)
5. Saya merasa diacuhkan atau tidak dipedulikan oleh teman-teman
disekitar saya
6. Saya malu mengungkapkan perasaan kepada orang lain
7. Saya senang ketika mendapat teman baru di sekolah
8. Saya malas untuk mengerjakan PR yang diberikan oleh guru
9. Saya mengerjakan PR dengan senang dan santai tapi teliti
10. Saya memahami dan menerima perubahan fisik yang terjadi pada diri
saya
11. Saya berbohong apabila melakukan suatu kesalahan supaya tidak
dimarahi
12. Kegagalan yang saya alami membuat saya patah semangat
13. Saya menerima kelebihan dan kekurangan dalam diri saya apa adanya
14. Saya kurang memahami potensi yang saya miliki
15. Saya mengetahi bakat dan minat yang saya miliki
16. Saya kurang memiliki minat untuk mengikuti kegiatan-kegiatan yang