MENGAPA HARUS GURU id. docx

Teks penuh

(1)

MENGAPA HARUS GURU?

Oleh : Sri Wah yuni Nasution, S.Pd.I (

SWN

)

Bismillah...

Saya bukanlah sosok ideal yang memiliki ciri-ciri yang serba ada, baik sebagai guru masa kini maupun masa depan. Awal menjadi guru pun adalah sikap paksaan dari seorang pahlawan yang sangat berjasa dalam hidup saya, berkedudukan sebagai seorang Raja, permaisuri, dokter, akuntan, chef bahkan rela menjadi cleaning service di syurga yang kami namakan rumah. Ibunda tercinta yang awal karirnya memang sebagai guru memaksa kami khususnya saya dan saudara-saudara saya yang perempuan agar menjadi guru. Alasannya sangat sederhana dan awalnya sangat tidak masuk akal, yaitu “Guru pulangnya cepat, ada liburnya ketika libur sekolah jadi waktu untuk keluarga sangat banyak”. Betapa anehnya alasan ini, karena seorang guru profesional akan selalu mengusahakan agar jam terbangnya ketika mengajar jauh lebih banyak dan lebih hebat daripada teman sejawatnya, agar income

(2)

saya sangat menyukai Fisika dan Kimia bahkan agak membenci pelajaran Matematika. Karena alasan ini saya berharap bisa masuk kuliah bidang kesehatan, atau kebidanan yang jelas bukan kedokteran karena kemampuan saya hanya rata-rata perut bukan kepala. Tetapi yang terjadi adalah ibunda sangat memaksa untuk menjadikan saya sebagai guru. Pertanyaan pertama yang muncul di kepala saya adalah....Mengapa harus Guru?

Bukan hanya jurusan yang membuat saya tidak ikhlas menerima bahkan saya pun harus mengambil jurusan Matematika agar bisa bertahan di sebuah perguruan tinggi negeri. Dari sekolah umum harus melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi negeri Islam, tantangan yang sangat luar biasa. Pada semua bagian yang terpenting adalah proses kerasnya perjuangan untuk mendapatkan ijazah dan Akta 4 sebagai seorang guru secara administratif, akhirnya pertanyaan di kepala saya pada waktu itu sedikit demi sedikit mulai terjawab. Mungkin karena itu prinsip yang Allah berikan kepada kita, bahwa Allah lebih mencintai proses dari hasil.

Mengapa harus guru, ini karena :

1. Allah mengajarkan kita melalui profesi guru bahwa Mulailah menyukai, mencintai dan menyayangi. Pengalaman yang sangat berharga, ketika SMA saya tidak tuntas nilai Matematika, ibunda bukan menyuruh saya les tambahan lagi atau belajar lebih giat. Beliau hanya berpesan “Mulailah menyukai dan mencintai matematika”. Hanya itu solusinya, dan akhirnya hal ini membawa saya sebagai seorang guru Matematika dan akhirnya saya mencintai matematika. Profesi saya ternyata bertugas untuk “menyukai, mencintai dan menyayangi bukan hanya sekedar menjadikan anak-anak didik memiliki nilai Matematika yang tinggi.

2. Setelah menjadi guru saya semakin memahami bahwa pendidikan itu adalah proses belajar, proses perbaikan bukan hanya untuk anak didik dan terutama bagi pribadi guru. Ibarat sebuah power bank bagaimana bisa seorang guru bisa mencharge kepala dan hati seorang siswa jika baterai pengetahuan dan kebaikan hanyalah sebuah kekosongan. Istarani di dalam bukunya yang berjudul (Sosok Guru Handal-Tangguh Berkepribadian Selamat Dunia-Akhirat) bahwa ciri guru masa kini adalah guru yang berprinsip bahwa satu keteladanan lebih baik dari seribu nasehat. Sedangkan ciri guru masa depan adalah

(3)

sudah terlebih memilikinya. Sedangkan bagi saya guru itu jika ingin didemgar maka ia harus mendengar jika ingin anak didiknya soleh maka pribadinya yang terlebih dahulu disolehkan. Mendidik itu kepada siswa atau guru?ini mungkin adalah pertanyaan teraneh yang sempat berterbangan di kepala saya. Ternyata kalimat itu tidak cocok dengan penghubung kata atau karena yang benar bahwa True Teacher adalah Guru yang mendidik dirinya dan siswanya menjadi pribadi yang luar biasa di hadapan Allah.

3. Guru itu multi talenta. Guru yang sepantasnya memenangkan sebuah acara Indonesia good Talent, karena hanya profesi gurulah yang menuntut banyak talenta. Guru bisa jadi pelawak, jadi pendongeng, jadi dokter bahkan jadi hakim yang adil. Sungguh profesi yang membuat kita banyak belajar.

4. Saya adalah seorang guru. Saya bukan guru ideal bukan karena saya tidak mau tapi

karena saya menilai bahwa diri saya memiliki banyak kekurangan, karena penilaian ini membuat saya termotivasi untuk mau merubah diri saya, walau tidak berhasil dan walau jutaan kali mengalami kegagalan. Tapi semua alasannya karena saya adalah seorang guru.

5. Saya melihat drama dengan Film terupdate ada di kelas saya. Saya melihat bahwa siswa saya sangat pintar untuk memainkan peran Protagonis, Antagonis, bahkan peran pendukung. Inilah yang membuat saya banyak belajar, karena dari cerita drama yang mereka mainkan selalu ada ibroh yang dapat saya petik hikmahnya.

6. Saya lelah dalam memberikan alasan yang jelas saya sangat bersyukur bisa menjadi guru karena saya memiliki banyak teman yaitu anak didik saya. Kali ini Umilah(panggilan saya sebagai guru di sekolah) yang mengucapkan banyak terimakasih karena kalian adalah Insipirasi umi untuk berubah menjadi lebih baik.

Untuk ibunda tercinta, terimakasih sudah menjadikan anak ibunda ini sebagai manusia yang berguna, sudah memberikan pilihan yang terbaik dari hidup ini. Sekarang saya tidak akan bertanya “mengapa saya harus menjadi guru?” Allah sudah mengingatkan saya melalui ibunda agar bisa menjadi orang tua, teman, pengusaha yang berinvestasi di akhirat jika tetap istiqomah merubah diri dan melanjutkan sketsa keindahan akhlak anak-anak dari madrasah rumahnya masing-masing.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...