WidyaSwarA
JURNAL
Badan Pendidikan dan Pelatihan
Provinsi Kalimantan Timur
ISSN : 2088-1096
Pengarah:
Dra. Hj. Farida Widiawati, M.Si
Penanggungjawab:
Ir. H. Maksum Abdullah, MS
Pemimpin Redaksi:
Ery Arifullah, ST, MT
Anggota Dewan Redaksi:
Deny Syahroni, SThI, MM
Muchamad Awaludin, SE, MM
Ady Akhmad Ghazali, ST, MM
Zuhriah, Spt, M.Si
H. Fitiransyah, ST, MM
JURNAL
WidyaSwara
ISSN 2088-1096
Pengarah :
Kepala Badan DIKLAT Provinsi KALTIM
Dra. Hj. Farida Widiawati, M. Si
Penanggung Jawab :
Ir. H. Maksum Abdullah, M., MS
Pemimpin Redaksi :
Ery Arifullah, ST, MT
Anggota Dewan Redaksi :
M. Deny Syahroni, S.Th.I, MM
Muchamad Awaludin, SE, MM
Ady Akhmad Ghazali, ST, MM
Zuhriah, S.Pt, M.Si
H. Fitriansyah, ST, MM
Hernawaty, Amd.Kep, SE, MM
Imbran, S.Sos, M.Si
Diterbitkan oleh :
Badan Pelatihan dan Pendidikan Provinsi Kalimantan Timur
Jl. H.M. Riffadin Samarinda Seberang Telp. (0541) 7270208
E-mail : [email protected]
Web : www.jurnalwidyaswara.blogspot.com
Duapuluh itu angka yang istimewa; gabungan antara angka 2 dan 0 yang mendasari sistem binari sebagai basis pengembangan teknologi komputasi yang memacu ledakan revolusi teknologi informasi. Secara historis, tepat pada Hari Jum’at tanggal 11 Maret tahun 2011 ini genaplah duapuluh tahun usia kami sebagai sebuah institusi resmi; Badan Pendidikan dan Pelatihan Propinsi Kalimantan Timur. Untuk memaknai momentum ini agar tidak lewat begitu saja tanpa makna, kamipun meluncurkan edisi pertama jurnal
WidyaSwarA ini. Proses pematangan kelahirannya memang relatif cepat, namun jurnal ini tidaklah lahir prematur, karena proposal penerbitannya telah digagas sejak 2006, lima tahun lalu.
Branding jurnal anak kandung Badan Diklat Kaltim ini diperkenalkan dengan nama yang sederhana dalam satu kata, WidyaSwarA, yang secara
hariah berarti Suara Pendidikan. Secara
maknawi, WidyaSwarA ini ditulis dengan tiga huruf kapital; W untuk Widya
(pendidikan) sebagai core bisnis kami, S
untuk Sains sebagai karakter utama jurnal ini sebagai media ilmiah, dan A untuk
Aktual, mereleksikan upaya kami untuk
mengaktualisasikan diri menjadi lembaga kediklatan profesional. Sajian utama jurnal
WidyaSwarA adalah perkembangan dan pengembangan berbagai aspek sistem kediklatan aparatur pemerintah, dalam empat kelompok penyajian; substansi, metode dan teknik, manajemen kediklatan, dan complementary.
Sebagai menu pelengkap, jurnal triwulanan WidyaSwarA ini juga berusaha menyajikan berbagai rubrik dan artikel ilmiah yang relevan dan dapat menunjang pengembangan kediklatan. Sajian pelengkap itu antara lain artikel tentang psikologi, pendidikan, kebijakan publik, teknologi informasi, dll. Keragaman menu itu kami sajikan untuk memperluas cakrawala,
perspektif dan kedalaman pemahaman kita tentang berbagai dimensi kediklatan tanpa kehilangan fokus pada kediklatan aparatur pemerintah.
WidyaSwarA dilahirkan untuk menjadi wacana yang ditunjang dan menunjang jalinan sinergi yang ”mengakar” di kalangan para pembaca kami. Sebagai konsekuensinya, kami berusaha memenuhi kebutuhan pembaca kami; widyaiswara dan personil Badan Diklat Kaltim maupun dari berbagai institusi kediklatan di Kalimantan Timur. Kami berusaha agar jurnal WidyaSwarA ini diterima serta bermanfaat bagi semua mitra kami dalam kediklatan, serta siapapun yang peduli pada kediklatan. WidyaSwarA terbit untuk menumbuhkembangkan sinergi profesional dalam dunia kediklatan, demi ”Membangun Kaltim untuk Semua”, menuju Kaltim Bangkit tahun 2013, sebagai bagian integral dari NKRI tercinta.
Memasuki tahun ke 21 Badan Diklat Kaltim pada tanggal 11 Maret tahun 11 millenium ini kami lahir bersama saudara kembar kami WidyaKaltiM sebagai Bulletin Badan Diklat Kaltim yang mewadahi aspek kehumasan Badan Diklat Kaltim. Kami berdua ingin berperan serta mewujudkan
Kaltim Green secara nyata melalui edisi virtual dalam dunia maya. Kami ingin berperan tidak hanya dalam teriakan slogan dan acungan kepalan, namun berperan secara nyata melalui pengurangani penggunaan kertas dalam edisi konvensional, demi kelestarian lingkungan hidup kita. Doakan dan dukunglah kami agar senantiasa eksis menyapa anda dalam edisi-edisi mendatang. Selamat menikmati sajian perdana kami.
(@S@)
Beserta salam hangat kami semua,
Redaksi WidyaSwarA
JURNAL
WidyaSwara
Daftar Isi
Substansi Kediklatan
TINGKAT PENGETAHUAN PEGAWAI NEGERI SIPIL DI KALIMANTAN
•
TIMUR TERHADAP VISI DAN MISI INSTANSI
H. Fitriansyah, ST, MM 1 – 8
MEMAHAMI PERAN DAN MAKNA
•
PEGAWAI NEGERI SIPIL
SEBAGAI ABDI NEGARA DAN PELAYAN PUBLIK
Ady Akhmad Ghazali, ST, MM 9 – 16
Metode, Teknis dan Kiat Kediklatan
KIAT PRAKTIS KEDIKLATAN•
Pendekatan “AFDHAL” dalam Andradogi
Ir. H. Maksum Abdullah Marhamah M., MS 17 – 22
Complementary Kediklatan
MANAJEMEN & PENERAPANNYA
•
DILINGKUNGAN PEMERINTAHAN DAERAH DALAM PERSPEKTIF REFORMASI BIROKRASI
H. Diddy Rusdiansyah A, SE, MM 23 – 29
NASIB KEDAULATAN EKONOMI INDONESIA
•
Ery Arifullah, ST, MT
30 – 34
PENGARUH PENEMPATAN KERJA
•
TERHADAP PENINGKATAN KINERJA PEKERJA
Hernawaty Amd.Kep, SE, MM 35 – 41
SYARAT USULAN JURNAL WidyaSwarA
• 42 – 47
JURNAL
TINGKAT PENGETAHUAN PEGAWAI NEGERI SIPIL DI KALIMANTAN TIMUR TERHADAP VISI DAN MISI INSTANSI
TINGKAT PENGETAHUAN PEGAWAI NEGERI SIPIL DI KALIMANTAN TIMUR TERHADAP VISI DAN MISI INSTANSI
Oleh: H. Fitriansyah, ST, MM
Widyaiswara Muda Badan Diklat Prov. Kaltim
Abstrak
Sebuah fenomena unik terjadi pada organisasi pemerintah, dimana banyak para Pegawai Negeri Sipil (PNS) tidak mengetahui atau tidak hafal pada visi dan misi di instansinya. Riset ini men-coba untuk menggambarkan fakta yang terjadi dikebanyakan instansi pemerin-tah, khususnya dilingkungan Pemerin-tah Daerah Kalimantan Timur. Riset ini menggunakan teknik survei deskriptif untuk menggambarkan fakta yang ada dengan menggunakan metode kuesioner dengan sampel diambil secara random sampling. Hasil riset menunjukkan bah-wa hanya 8,9% PNS di Kalimantan Timur yang mengetahui visi di instansinya dan hanya 6,1% PNS yang mengetahui misi di instansinya masing-masing. Riset ini juga mencoba memberikan beberapa saran dan cara agar bagaimana visi dan misi instansi pemerintah dapat disosialisasikan secara baik.
Kata kunci: visi, misi, survei deskriptif, Pegawai Negeri Sipil, Pemerintah Daerah Kalimantan Timur.
Latar Belakang
Salah satu masalah budaya kerja pada kebanyakan organisasi pemerintah yang telah diindikasi oleh Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara Re-publik Indonesia (KEMENTERIAN PAN RI) adalah sangat rendahnya komunitas dan konsistensi terhadap visi dan misi organisasi pada institusi pemerintah. Hal ini memang benar-benar terjadi pada ke-banyakan organisasi pemerintah dan te-lah menjadi sebuah fenomena tersendiri. Cara yang paling mudah untuk mengeta-hui fenomema tersebut adalah menanya-kan kepada seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) secara random apa visi dan misi
organisasi di instansinya masing-masing. Hasilnya dapat ditebak, kebanyakan mer-eka kesulitan dalam menjawab pertan-yaan tersebut.
Memang sangat mengejutkan bahwa terjadi fenomena yang sangat me-narik dikalangan aparatur pemerintah yang seharusnya tidak boleh terjadi, di-mana banyak aparatur pemerintah yang tidak mengetahui atau tidak hafal visi dan misi di instansinya masing-masing. Hal ini tidak hanya terjadi dilevel staf atau bawahan saja, bahkan banyak aparatur pemerintah yang mempunyai kedudukan atau jabatan di eselon IV maupun eselon III yang tidak tahu atau tidak hafal atau bahkan tidak mau tahu akan visi dan misi di instansinya.
Padahal secara visual, visi organ-isasi dapat mudah diketahui dan dihafal karena pada umumnya hanya berisi satu kalimat pendek saja, sedangkan misi mungkin agak sulit dihafal karena berisi beberapa poin kalimat. Keadaan yang ses-ungguhnya tidak boleh terjadi dan dibiar-kan berlarut-larut begitu saja karena adibiar-kan mempengaruhi motivasi dan kinerja para aparatur pemerintah.
Visi dan misi dalam suatu or-ganisasi, khususnya instansi pemerintah, merupakan suatu pedoman (guideline) arah dan tujuan kemana masa depan atau cita-cita dari organisasi tersebut beserta cara-cara (secara garis besar) untuk men-capainya. Jika seorang aparatur pemerin-tah (PNS) tidak mengepemerin-tahui visi dan misi di instansinya menunjukkan bahwa PNS tersebut hanya bekerja secara rutinitas belaka, tidak mempunyai keinginan dan motivasi untuk maju menggapai cita-cita organisasi yang tergambar didalam visi.
Berdasarkan uraian di atas, maka
TINGKAT PENGETAHUAN PEGAWAI NEGERI SIPIL DI KALIMANTAN TIMUR TERHADAP VISI DAN MISI INSTANSI
dipandang perlu untuk membuat suatu reset ilmiah untuk menggambarkan bera-pa besar tingkat pengetahuan abera-paratur pemerintah terhadap visi dan misi di in-stansinya masing-masing. Riset ini juga mencoba untuk mendapatkan masukan dari para aparatur pemerintah bagaimana cara mensosialisasikan visi dan misi in-stansi dengan baik, agar setiap aparatur minimal dapat mengetahui dan hafal visi di instansinya masing-masing.
Rumusan Masalah
Latar belakang di atas dapat di-uraikan menjadi 2 (dua) besar rumusan masalah utama, yakni:
Berapa banyak aparatur pemerintah 1.
dilingkungan Pemerintah Daerah Kal-imantan Timur (Pemerintah Provinsi/ Kabupaten/Kota) yang mengetahui visi di instansinya masing-masing? Berapa banyak aparatur pemerintah 2.
dilingkungan Pemerintah Daerah Kal-imantan Timur (Pemerintah Provinsi/ Kabupaten/Kota) yang mengetahui misi di instansinya masing-masing? Bagaimana seharusnya cara menso-3.
sialisasikan visi dan misi dengan baik menurut para responden (aparatur pemerintah)
Tujuan Dan Manfaat
Riset ini bertujuan untuk mengeta-hui seberapa banyak aparatur pemerintah (Pegawai Negeri Sipil) yang mengetahui visi dan misi di instansinya masing-mas-ing. Disamping itu, riset ini juga bertujuan untuk menjaring masukan dari aparatur pemerintah bagaimana sebaiknya upaya untuk mensosialisasikan visi dan misi in-stansi secara baik.
Manfaat yang didapatkan dengan adanya penelitian ini adalah sebagai beri-kut:
Dapat menggambarkan secara ilmiah 1.
seberapa banyak aparatur pemerin-tah, khususnya Pemerintah Daerah Kalimantan Timur, yang mengetahui visi dan misi di instansinya masing-masing.
Dapat memberikan saran atau masu-2.
kan bagi para pengambil keputusan dan pihak-pihak yang berkepentin-gan lainnya, khususnya dalam hal cara mensosialisasikan visi dan misi instansi pemerintah.
Dasar Teori Visi dan Misi
Sebuah visi menggambarkan arah tujuan yang ingin dicapai oleh suatu or-ganisasi, yakni gambaran masa depan yang lebih baik dan lebih sukses yang din-ginkan daripada keadaan masa sekarang (Bennis, Mason, Mitroff; 1992). Secara umum visi merupakan gambaran masa de-pan suatu organisasi yang realistik, kredi-bel dan atraktif, sedangkan misi merupa-kan suatu pengaturan komprehensif dan singkat mengenai tujuan suatu organisasi, program ataupun sub program.
Visi mempunyai peranan yang sangat penting, tidak hanya ditahap awal sebuah organisasi, tetapi juga pada kese-luruhan siklus hidup organisasi ( organiza-tion’s life-cycle). Sebuah visi menunjukkan suatu titik perjalanan dimana organisasi tersebut ingin menuju ke arah tersebut. Dan cepat atau lambat, waktu akan datang dimana sebuah organisasi ingin merubah arah atau ingin melengkapi perubahan yang telah dijalankan demi terwujudnya kesempurnaan tujuan akhir organisasi.
Misi yang dirumuskan dengan
tepat mengidentiikasikan secara umum
hal-hal yang ingin dicapai dan memung-kinkan penerjemahan hal-hal tersebut sedemikian rupa sehingga operasional-isasi berbagai kegiatan dan hasilnya dapat diukur dan dikendalikan berdasarkan ber-bagai kriteria yang rasional dan obyektif seperti kriteria biaya, waktu, tenaga dan sarana serta prasarana yang dimanfaatkan (Siagian, 2007). Oleh karena itu, meskipun misi cukup dinyatakan secara umum, ia
harus pula memberi arah yang spesiik
serta ”rambu-rambu” yang perlu diperha-tikan dalam pengelolaan organisasi.
Secara spesiik, pemerintah mend
-einisikan misi sebagai suatu yang harus
TINGKAT PENGETAHUAN PEGAWAI NEGERI SIPIL DI KALIMANTAN TIMUR TERHADAP VISI DAN MISI INSTANSI
pemerintah, sesuai yang ditetapkan agar tujuan organisasi dapat terlaksana dan berhasil dengan baik (sesuai INPRES No. 7/1999).
Dengan adanya pernyataan visi dan misi disetiap organisasi pemerintah diharapkan seluruh pegawai pemerintah dari instansi yang bersangkutan dapat mengenal instansinya dan mengetahui peranan dan program-programnya serta hasil yang akan diperoleh diwaktu yang akan datang.
Pegawai Negeri Sipil di Kalimantan Timur
Pegawai Negeri Sipil (PNS) se-bagai salah satu unsur Aparatur Negara dan mempunyai peranan yang sangat strategis dalam penyeleggaraan tugas-tugas umum pemerintahan dan pemban-gunan. Pegawai Negeri Sipil yang mam-pu memainkan peranan tersebut antara lain dapat dilihat sikap dan perilakunya yang memiliki mental baik, berwibawa, kuat, berdaya guna, berhasil guna, bersih, berkualitas tinggi dan sadar akan tang-gung jawab sebagai abdi negara dan abdi masyarakat.
Pegawai Negeri Sipil harus memi-liki kepribadian dan sikap dasar sebagai aparatur pemerintah yang berdisiplin, berjiwa pengabdian, berdedikasi, dan mempunyai etos kerja serta profesional dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Disamping itu, PNS juga dituntut untuk dapat meningkatkan wa-wasannya mengenai sistem adminstrasi negara, administrasi perkantoran, serta keterampilan operasional, kepemimpinan dan manajerial.
Bagi daerah Kalimantan Timur sebagai salah satu provinsi yang terluas setelah Papua dan berbatasan langsung dengan negara tetangga Malaysia tentu harus dapat mempersiapkan sumber daya manusianya, khususnya sumber daya aparatur pemerintahnya. Keberhasilan sumber daya aparatur dalam menjalank-an roda pemerintahmenjalank-an tidak hmenjalank-anya tergmenjalank-an- tergan-tung dari jumlah aparaturnya, tetapi yang lebih penting adalah kualitas sumber daya aparatur yang bersangkutan.
Keterampilan operasional sum-ber daya aparatur, khususnya PNS dil-ingkungan Pemerintah Daerah Kaliman-tan Timur yang terdiri dari 1 Pemerintah Provinsi dan 14 Pemerintah Kabupaten/ Kota, tidak akan berhasil jika tidak dii-kuti dengan pengetahuan atau wawasan sistem administrasi negara dan manaje-rial. Hal ini dikarenakan wawasan sistem administrasi negara dan manajerial dapat membentuk budaya kerja yang baik pada organisasi atau instansi pemerintah.
Berdasarkan data akhir tahun 2008, Pegawai Negeri Sipil yang bekerja dilingkungan Pemerintah Daerah Kalim-antan Timur (Provinsi/Kabupaten/Kota) berjumlah sekitar 60.212 orang. Angka ini dapat berubah-rubah sesuai kondisi yang terjadi, misalnya pensiun, mutasi, pen-gadaan PNS baru, dan lain sebagainya. Tingkat pendidikan PNS dilingkungan Pemerintah Daerah Kalimantan Timur pun didominasi oleh lulusan Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah. Hal ini tentu akan sangat mempengaruhi kualitas dari PNS dilingkungan Pemerintah Daer-ah Kalimantan Timur.
Metodologi Penelitian Jenis dan Variabel Penelitian
Penelitian ini menggunakan me-tode kuantitatif dengan jenis meme-tode survei deskriptif. Jenis riset ini bertujuan membuat deskripsi secara sistematis, fak-tual, dan akurat tentang fakta-fakta dan sifat-sifat populasi atau obyek tertentu.
Jenis survei ini digunakan untuk menggambarkan (mendeskripsikan) pop-ulasi yang sedang diteliti. Fokus riset ini adalah perilaku yang sedang terjadi (what exist at the moment) dan terdiri dari satu variabel. Dalam penelitian ini, variabel yang ingin digambarkan adalah tingkat pengetahuan aparatur pemerintah terh-adap visi dan misi pada instansinya mas-ing-masing.
Metode Pengumpulan Data dan Sampel
TINGKAT PENGETAHUAN PEGAWAI NEGERI SIPIL DI KALIMANTAN TIMUR TERHADAP VISI DAN MISI INSTANSI
teknik pengumpulan data dengan cara penyebaran kuesioner, sedangkan data sekunder didapatkan dengan cara studi kepustakaan untuk mendukung analisis dan pembahasan penelitian ini.
Kuesioner (angket) adalah daftar pertanyaan yang harus diisi oleh respon-den. Tujuan penyebaran angket ini adalah untuk mencari informasi yang lengkap mengenai suatu masalah dari responden tanpa merasa khawatir bila responden memberikan jawaban yang tidak sesuai dengan kenyataan dalam pengisian daftar pertanyaan. Penelitian ini menggunakan gabungan antara dua jenis angket, yakni angket terbuka dan angket tertutup.
Jenis angket tertutup dalam pene-litian ini menggunakan kuesioner dengan skala Guttman (skalogram), yang meru-pakan skala kumulatif. Artinya skala ini disusun secara kontinum sedemikian rupa sehingga seseorang yang setuju/ menerima sebuah item pertanyaan akan setuju/menerima item pertanyaan selan-jutnya. Skala ini biasanya digunakan un-tuk jawaban yang bersifat jelas (tegas) dan konsisten. Misalnya: Ya-Tidak, Pernah-Tidak Pernah, Benar-Salah, dan lainnya. Sedangkan jenis angket terbuka diguna-kan untuk menjaring saran atau masudiguna-kan dari para responden mengenai cara yang paling efektif untuk mensosialisasikan visi dan misi instansi.
Dalam penelitian ini, jumlah sam-pel yang merupakan respresentasi dari populasi dihitung dengan menggunakan Rumus Yamane. Rumus ini digunakan untuk populasi yang besar yang didapat dari pendugaan proporsi populasi.
dimana: n NdN2 1
n = ukuran sampel N = ukuran populasi
d = kelonggaran ketidaktelitian karena kesalahan pengambilan sampel yang dapat
Berdasarkan rumusan di atas, jumlah sampel minimal yang harus
di-ambil berjumlah 397 sampel atau respon-den (jumlah populasi PNS di Kalimantan Timur adalah kurang lebih 60.212 orang). Dalam penelitian ini, ditetapkan jumlah sampel (responden) adalah 550 orang agar hasil penelitian lebih dapat mendekati pe-rilaku populasi.
Karena keterbatasan sumber daya yang ada dalam penelitian ini, maka ditetapkan Pemerintah Daerah yang akan dijadikan obyek penelitian adalah:
Pemerintah Kota Balikpapan
Pemerintah Kabupaten Penajam Paser 6.
Utara
Pemerintah Kabupaten Kutai Timur 7.
Pemerintah Kabupaten Kutai Barat 8.
Pemerintah Kabupaten Berau 9.
Pemerintah Provinsi Kalimantan 10.
Timur.
Alat Analisis
Alat analisis dalam penelitian ini menggunakan statistik deskriptif. Tabel dan diagram pie (pie-chart) dipilih untuk menggambarkan seberapa banyak Pe-gawai Negeri Sipil yang mengetahui visi dan misi instansinya. Diagram ini dipi-lih agar lebih memudahkan dalam meng-gambarkan hasil penelitian.
TINGKAT PENGETAHUAN PEGAWAI NEGERI SIPIL DI KALIMANTAN TIMUR TERHADAP VISI DAN MISI INSTANSI
Hasil Penelitian Dan Pembahasan Tingkat Pengetahuan PNS Terhadap Visi Instansi
Jumlah responden yang berasal dari ber-bagai instansi dan daerah yang mengem-balikan kuesioner berbeda-beda, hal ini dikarenakan berbagai hambatan yang ada dalam penelitian ini terutama
ham-batan geograis.
Hasil jawaban kuesioner menun-jukkan bahwa jumlah responden yang mengetahui visi di instansinya dengan pasti berjumlah 49 orang (8,9%), sedan-gkan yang tidak mengetahui berjumlah 501 orang (91,1%). Sedangkan perincian-nya hasil jawaban responden berdasarkan daerah adalah sebagai berikut:
Tabel 1. Tingkat Pengetahuan Respon-den Terhadap VISI Berdasarkan Daerah
No Prov/Kab/Kota Jumlah Responden
Jawaban
TAHU TIDAK TAHU
1 Balikpapan 40 16 24
2 Bontang 99 13 86
3 Bulungan 70 2 68
4 Malinau 80 2 78
5 Nunukan 34 8 26
6 Penajam Paser Utara 83 4 79
7 Kutai Timur 40 1 39
8 Kutai Barat 40 0 40
9 Berau 40 0 40
10 Provinsi 24 3 21
Sumber: data diolah
Secara keseluruhan tingkat penge-tahuan Pegawai Negeri Sipil di Kaliman-tan Timur terhadap Visi InsKaliman-tansi digam-barkan dalam diagram berikut.
Gambar 1. Tingkat Pengetahuan PNS di Kalimantan Timur Terhadap VISI
Instansi
TAHU 8.9% TIDAK TAHU
91.1%
Sumber: data diolah
Tingkat Pengetahuan PNS Terhadap Misi Instansi
Selanjutnya, jawaban para respon-den yang mengetahui misi di instansinya adalah 34 orang (6,1%), sedangkan yang tidak mengetahui misi instansi adalah 516 orang (93,9%). Rincian tingkat penge-tahuan misi instansi berdasarkan daerah adalah sebagai berikut:
Tabel 2. Tingkat Pengetahuan Respon-den Terhadap MISI Berdasarkan Daerah
No Prov/Kab/Kota RespondenJumlah
Jawaban
TAHU TIDAK TAHU
1 Balikpapan 40 5 35
2 Bontang 99 9 90
3 Bulungan 70 0 70
4 Malinau 80 5 75
5 Nunukan 34 8 26
6 P e n a j a m
Paser Utara 83 4 79
7 Kutai Timur 40 1 39
8 Kutai Barat 40 0 40
9 Berau 40 0 40
10 Provinsi 24 2 22
TINGKAT PENGETAHUAN PEGAWAI NEGERI SIPIL DI KALIMANTAN TIMUR TERHADAP VISI DAN MISI INSTANSI
Secara keseluruhan tingkat penge-tahuan Pegawai Negeri Sipil di Kaliman-tan Timur terhadap Misi InsKaliman-tansi digam-barkan dalam diagram berikut.
Gambar 2. Tingkat Pengetahuan PNS di Kalimantan Timur TerhadapMISI
Instansi
TAHU 6.1% TIDAK TAHU
93.9%
Sumber: data diolah
Cara Sosialisasi Visi dan Misi Instansi
Hasil penelitian juga berhasil menjaring beberapa pendapat respon-den mengenai cara mensosialisasikan visi dan misi di instansi pemerintah. Semua pendapat responden kemudian disusun dalam sebuah tabel dan dirangking ber-dasarkan frekuensi terbanyak (tersering) dijawab oleh responden. Pada penelitian ini diambil 10 (sepuluh) besar pendapat responden yang dianggap dapat mewak-ili PNS dmewak-ilingkungan Pemerintah Daerah Kalimantan Timur.
Tabel berikut menunjukkan pendapat responden mengenai cara so-sialisasi visi dan misi.
Tabel 3. Cara Sosialisasi VISI dan MISI Instansi Pemerintah
Menurut Responden
No Pendapat Responden Jumlah Responden
1
Menuliskan VISI dan MISI di depan instansi (berbentuk baliho)
163
2
Menuliskan VISI dan MISI instansi pada dinding di setiap ruangan kantor
143
3
VISI dan MISI selalu diingatkan oleh pimpinan puncak instansi pada setiap kesempatan (apel, rapat, dll)
112
4
Menuliskan VISI dan MISI instansi disetiap meja kerja masing-masing pegawai
89
5 Mewajibkan PNS agar hafal
VISI dan MISI instansi 7
6 Ditulis pada map instansi 3
7 Menuliskan di buku agenda atau buku kerja 3
8 Dituliskan pada leaflet atau brosur instansi 2
9
Lembaran VISI dan MISI instansi dibagikan ke setiap PNS bersangkutan
2
10 Dituliskan pada ID Card PNS bersangkutan 1
Sumber: data diolah
Berdasarkan tabel di atas, ternya-ta menurut responden cara terbaik untuk melakukan sosialisasi Visi dan Misi In-stansi adalah dengan menuliskan Visi dan Misi di depan instansi (berbentuk baliho), kemudian disusul dengan menuliskan Visi dan Misi Instansi pada dinding di set-iap ruangan kantor, serta selanjutnya Visi dan Misi selalu diingatkan oleh pimpinan puncak instansi pada setiap kesempatan.
Pembahasan
TINGKAT PENGETAHUAN PEGAWAI NEGERI SIPIL DI KALIMANTAN TIMUR TERHADAP VISI DAN MISI INSTANSI
oleh suatu instansi. Dengan demikian be-rarti banyak PNS dilingkungan Pemerin-tah Daerah Kalimantan Timur yang tidak tahu kemana arah tujuan instansinya mas-ing-masing.
Untuk mengatasi hal tersebut me-mang tidak mudah, harus ada perhatian khusus dari para pimpinan di masing-masing instansi yang bersangkutan. Un-tuk itulah diperlukan suatu komitmen dari para pimpinan instansi, terutama komitmen pimpinan puncak (top manage-ment) untuk mensosialisasikan atau meng-komunikasikan mengenai visi dan misi in-stansinya kepada segenap jajarannya, baik di level middle management sampai pada level lower management (staf yang paling bawah). Karena proses mensosialisasikan dan memberikan fokus yang sama men-genai visi dan misi kepada seluruh staf merupakan bagian yang tak terpisahkan dari proses penciptaan nilai-nilai atau norma-norma budaya kerja yang bersifat positif.
Hasil penelitian juga menunjuk-kan bahwa salah satu cara yang paling mudah dan efektif untuk mensosialisasi-kan Visi dan Misi Instansi adalah mem-buat tulisan besar (baliho) di setiap in-stansi yang memuat tentang visi dan misi instansi yang bersangkutan. Jika misi or-ganisasi terlalu panjang, mungkin hanya visi saja yang dicantumkan disana. Hal ini terlihat sepele, tetapi mungkin efeknya dapat sangat luar biasa karena penulisan visi dan misi di depan kantor atau instansi dapat memberikan pengaruh yang sangat positif. Tidak hanya bagi seluruh pegawai di instansi tersebut, akan tetapi juga ber-fungsi bagi pihak-pihak luar (stakeholders) yang berkepentingan terhadap instansi tersebut, dimana pihak-pihak eksternal pun dapat mengetahui kemana arah tu-juan organisasi atau instansi tersebut me-langkah.
Bagi para pegawai, penulisan visi didepan kantor mereka dapat ber-fungsi sebagai pedoman, penunjuk arah, motivator, pemicu, penggerak semangat dan sarana pengingat terhadap pencapa-ian tujuan organisasi. Sedangkan bagi in-stansi yang bersangkutan dapat berfungsi sebagai bentuk pertanggungjawaban atas
kinerja yang sedang dan akan dilakukan dimasa mendatang.
Di beberapa daerah di pulau Jawa ataupun didaerah lainnya sudah banyak menerapkan hal ini, memang kebanyakan mereka hanya mencantumkan visinya saja dengan tulisan yang besar (berbentuk baliho) di depan kantornya masing-mas-ing. Kondisi ini sedikit berbeda di daerah provinsi Kalimantan Timur, dimana be-berapa instansi pemerintah hanya menu-liskan slogan pembangunan. Seyogyanya tulisan tersebut juga dibarengi dengan penulisan visi dan misi dari instansi yang bersangkutan.
Alternatif lain untuk mensosial-isasikan Visi dan Misi adalah menuliskan Visi dan Misi Instansi dibeberapa tempat seperti pada dinding setiap ruangan kan-tor, di meja kerja PNS, map instansi, dan lain-lainnya yang mudah untuk dilihat oleh para PNS. Disamping itu juga, pimpi-nan instansi juga seharusnya dapat terus mengingatkan Visi dan Misi Instansinya pada berbagai kesempatan dan terus me-motivasi bawahannya agar dapat menca-pai Visi dan Misi tersebut.
Kesimpulan Dan Rekomendasi Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat ditarik dalam penelitian ini adalah:
Prosentase tingkat pengetahuan Pe-1.
gawai Negeri Sipil (PNS) di Kalim-antan Timur yang mengetahui Visi Instansinya adalah 8,9%, sedangkan PNS yang tidak mengetahui visi in-stansinya adalah 91,1%.
Prosentase tingkat pengetahuan PNS 2.
di Kalimantan Timur yang mengeta-hui Misi Instansinya adalah 6,1% dan yang tidak mengetahui adalah 93,9%. Beberapa cara terbaik mensosialisasi-3.
TINGKAT PENGETAHUAN PEGAWAI NEGERI SIPIL DI KALIMANTAN TIMUR TERHADAP VISI DAN MISI INSTANSI
Visi dan Misi selalu diingatkan oleh c.
pimpinan puncak instansi pada setiap kesempatan (apel, rapat, dan lain-lain).
Menuliskan Visi dan Misi instansi d.
disetiap meja kerja masing-masing pegawai.
Mewajibkan PNS agar hafal Visi dan e.
Misi instansi.
Menuliskan Visi dan Misi pada map f.
instansi.
Menuliskan Visi dan Misi pada buku g.
agenda atau buku kerja.
Menuliskan Visi dan Misi lealet atau
h.
brosur instansi.
Lembaran Visi dan Misi instansi diba-i.
gikan ke setiap PNS bersangkutan. Menuliskan Visi dan Misi pada ID j.
Card PNS bersangkutan.
Rekomendasi
Rekomendasi atau saran-saran yang dapat diajukan dalam penelitian ini adalah:
Para pimpinan instansi harusnya sa-1.
dar akan pentingnya sosialisasi Visi dan Misi Instansinya agar para bawa-hannya dapat fokus dan termotivasi untuk mencapai cita-cita organisasi. Berdasarkan saran dari responden, 2.
para pemimpin instansi dapat menso-sialisasikan Visi dan Misi Instansinya dengan cara membuat atau menulis-kan Visi dan Misi di depan instansi masing-masing, sebaiknya berbentuk baliho.
Daftar Pustaka
Adair, J. 2007. Cara Menumbuhkan Pemimpin, Gramedia Pustaka Uta-ma, Jakarta.
Bennis, W., Mason, RO., and Mitroff, II., 1992. Visionary Leadership: Creat-ing a CompellCreat-ing Sense of Direction for Your Organization, Jossey-Bass Publishers, San Francisco.
Gibson JL., Ivancevich JM., and Donnel-ly JH. 1994. Organisasi: Perilaku, Struktur, Proses, Erlangga, Jakar-ta.
Gitosudarmo I. and Sudita IN., 1994. Peri-laku Keorganisasian, BPFE, Yogya-karta
Ivancevich, JM. 1998. Human Resource Management Seventh Edition, Irwin McGraw-Hill, New York.
Kast, FE. and Rosenzweig, JE., 2002. Or-ganisasi dan Manajemen Jilid 1, Bumi Aksara, Jakarta.
Kriyantono, Rachmat, 2006. Teknik Prak-tis Riset Komunikasi, Kencana, Ja-karta.
Robbins, SP., 2007. Perilaku Organisasi, Edi-si Kesepuluh, Prentice-Hall, New Jersey.
Siagian, SP., 2007. Manajemen Stratejik, Edisi Ketujuh, Bumi Aksara, Jakarta. Sunarto, 2005. MSDM Strategik, Amus, Yogyakarta.
Supriyadi G, and Guno T. 2006. Budaya Kerja Organisasi Pemerintah, Bahan Ajar Diklat Prajabatan Golongan III, LAN RI, Ja-karta.
_______________ , 2009. Himpunan Pera-turan Perundang-undangan Pegawai Negeri Sipil (PNS), Fokusmedia, Bandung.
http://www.bkn.go.id
http://www.kalimantan-timur.go.id http://www.kaltimbkd.info
MEMAHAMI PERAN PEGAWAI NEGERI SIPIL SEBAGAI ABDI NEGARA DAN PELAYAN PUBLIK
Pegawai Negeri Sipil adalah abdi negara dan pelayan publik. Hal ini perlu dipahami agar seorang pegawai negeri sipil dapat melakukan tugas dan tanggung jawabnya dalam mewujudkan cita-cita besar negara yaitu terwujudnya masyarakat yang adil dan. Karya tulis ini mencoba untuk mengulas peran pegawai negeri serta hal-hal yang membuat seorang pegawai negeri melupakan perannya.
Kata Kunci : Pegawai Negeri Sipil, Abdi Negara, Pelayan Publik
Pendahuluan
Indonesia sudah memasuki 3 era diusianya yang ke 66 tahun, yaitu orde lama, orde baru dan era reformasi. Terlepas dari semua kritik dan segala penyimpangan yang terjadi, ketiga era tersebut sebenarnya memiliki tujuan yang mulia, yaitu peningkatan kesejahteraan masyarakat dan terciptanya masyarakat yang adil dan makmur.
Orde lama dan orde baru telah gagal mewujudkan tujuan tersebut dan di era reformasi pun pemerintah mulai kehilangan arah dan langkah yang perlu diambil. Ketiga era ini memiliki satu kelemahan yang sama yaitu belum maksimalnya peran pegawai negeri sipil sebagai abdi negara dan pelayan publik.
Pegawai negeri sipil memiliki peran yang vital dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat dan terciptanya masyarakat yang adil dan makmur melalui posisinya sebagai abdi negara dan pelayan masyarakat. Sebab pegawai negeri sipil adalah perancang, penggerak dan pelaku roda pemerintahan, serta melayani masyarakat. Kata melayani bukan berarti pegawai negeri sipil sebagai pelayan tetapi lebih kepada pemenuhan
MEMAHAMI PERAN PEGAWAI NEGERI SIPIL SEBAGAI ABDI NEGARA DAN PELAYAN PUBLIK
Oleh : Ady Akhmad Ghazali, ST, MM Calon Widyaiswara
Abstrak
kebutuhan dasar masyarakat seperti kesehatan, pendidikan, perumahan, transfortasi, listrik, air bersih.
Pada era orde lama dan orde baru, pegawai negeri sipil diposisikan sebagai pemegang kekuasaan atau orang yang berkuasa sehingga sering bertindak otoriter. Pada era reformasi, posisi pegawai negeri sipil diarahkan untuk kembail ke hakekat yang sebenarnya. Tetapi ada hal-hal yang membuat strategi tersebut belum maksimal. Oleh karena itu tulisan ini mencoba mengupas peran dan makna pegawai negeri sipil sebagai abdi negara dan pelayan masyarakat, kemudian hal-hal yang membuat pegawai negeri sipil melupakan peran dan maknanya, serta solusi untuk memecahkan masalah tersebut. Agar era reformasi tidak mengulangi kesalahan di orde lama dan orde baru serta bisa kembali lagi ke arah dan langkah yang sebenarnya.
Peran Pegawai Negeri Sipil
Undang Undang Nomor 8 Tahun 1974 jo Undang Undang Nomor 43 Tahun 1999 tentang pokok-pokok kepegawaian menjelaskan beberapa hal, antara lain :
Pegawai negeri adalah
1. pegawai
yang telah memenuhi syarat yang ditentukan, diangkat oleh pejabat yang berwenang dan diserahi tugas dalam suatu jabatan negeri, atau diserahi tugas negara lainnya, dan digaji berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Pegawai negeri terdiri dari: 2.
Pegawai Negeri Sipil (PNS)
•
Anggota
• Tentara Nasional Indonesia (TNI)
Anggota
• Kepolisian Negara
MEMAHAMI PERAN PEGAWAI NEGERI SIPIL SEBAGAI ABDI NEGARA DAN PELAYAN PUBLIK
Republik Indonesia (POLRI) Pegawai Negeri Sipil (PNS) terdiri 3.
dari:
Pegawai Negeri Sipil Pusat
•
Pegawai Negeri Sipil yang
gajinya dibebankan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan bekerja pada Departemen, Lembaga Non Departemen, Kesekretariatan Lembaga tertinggi/Tinggi Negara, dan kepaniteraan pengadilan. Pegawai Negeri Sipil
Pusat yang bekerja pada perusahaan jawatan.
Pegawai Negeri Sipil Pusat
yang diperbantukan atau dipekerjakan pada daerah otonom.
Pegawai Negeri Pusat Pusat
yang berdasarkan suatu peraturan perundang-undangan diperbantukan atau dipekerjakan pada badan lain, seperti perusahaan umum, yayasan, dan lain-lain.
Pegawai Negeri Sipil Pusat
yang menyelenggarakan tugas negara lain, seperti hakim pada pengadilan negeri, pengadilan tinggi, dan lain-lain.
Pegawai Negeri Sipil Daerah
•
Pegawai Negeri Sipil yang bekerja di daerah otonom seperti daerah provinsi/kabupaten/ kota dan gajinya dibebankan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dan dipekerjakan pada pemerintah daerah maupun dipekerjakan di luar instansi induknya.
Jabatan kepemerintahan berstatus 4.
Pegawai Negeri Sipil Jabatan struktural
•
Jabatan struktural adalah suatu kedudukan yang menunjukkan
tugas, tanggung jawab, wewenang, dan hak seorang Pegawai Negeri Sipil dalam rangka memimpin suatu satuan organisasi negara. Seperti : sekretaris jenderal, direktur jenderal, kepala biro, staf ahli, sekretaris daerah, kepala dinas/badan/kantor, kepala bagian, kepala bidang, kepala seksi, camat, sekretaris camat, lurah, sekretaris lurah, dll.
Jabatan fungsional
•
Jabatan yang tidak secara tegas disebutkan dalam struktur organisasi pemerintah, tetapi dari sudut pandang fungsinya diperlukan oleh organisasi pemerintah. Pangkat Pegawai Negeri Sipil dalam jabatan fungsional berorientasi pada prestasi kerja, sehingga tujuan untuk mewujudkan Pegawai Negeri Sipil sebagai aparatur negara yang berdaya guna dan berhasil guna dalam melaksanakan tugas umum pemerintahan dan pembangunan dapat dicapai. Seperti : guru, dokter, widyaiswara, bidan, perawat, bidan, apoteker, auditor, statistisi, pranata laboratorium pendidikan, pranata komputer, arsiparis, pustakawan, dll.
Dalam sambutannya saat menyerahkan Piala Citra Pelayanan Prima (CPP) 2008 kepada 80 unit pelayanan publik terbaik di Istana Negara, Jumat (31/10) sore. Bapak Presiden Susilo Bambang yudhoyono berpidato bahwa birokrasi dan jajaran pemerintahan pada hakikatnya memiliki dua peran. Pertama, berperan sebagai abdi negara dan abdi untuk menjalankan kehidupan bernegara ini sesuai dengan tatanan yang berlaku serta Undang Undang Dasar. “Yang kedua, sebagai abdi rakyat memberikan pelayanan terbaik bagi rakyat,” kata Presiden SBY.
MEMAHAMI PERAN PEGAWAI NEGERI SIPIL SEBAGAI ABDI NEGARA DAN PELAYAN PUBLIK
juga harus meningkat. ”Perlu diingat bahwa pelayanan publik yang baik juga membantu rakyat kita, terutama golongan ekonomi lemah dan komunitas rakyat kita yang belum sejahtera. Katakanlah pendapatan mereka belum terlalu besar, pendapatannya pas-pasan. Dengan program bantuan langsung kepada masyarakat di bidang kesehatan, pertanian, dan sebagainya hal itu bisa mengurangi pengeluarannya karena sebagian diambilalih pemerintah melalui
kebijakan iskal APBN sehingga hidupnya
relatif layak,” Bapak Presiden Susilo Bambang yudoyono menjelaskan.
”Kalau disumbang lagi oleh kita melalui pelayanan yang lebih baik, sehingga mengurus KTP tidak berhari-hari, tidak mondar-mandir, keluar uang untuk naik oplet atau untuk yang lain, maka pengeluaran itu makin sedikit lagi. Sehingga kita bisa mengurangi beban hidupnya. Ini adalah keadilan,” Bapak Presiden Susilo Bambang yudoyono menegaskan.
Memberikan pelayanan yang terbaik kepada rakyat bisa menjadi sarana untuk mengukur dedikasi dalam tugas. ”Saya sering mengatakan bahwa di negeri ini kita pelit mengucapkan terimakasih, pelit untuk memberikan apresiasi, pelit untuk memberikan penghargaan bagi mereka yang sudah berjuang keras berusaha sekuat tenaga. Mari kita bangun etika dan etiket yang baik, memberikan penghargaan dan ucapan terimakasih bagi yang patut menerimanya,” kata Bapak Presiden Susilo Bambang yudoyono.
Sejak tahun 2004 akhir Bapak Presiden Susilo Bambang yudoyono telah menyampaikan kepada Gubernur, Bupati dan Walikota bahwa dari sekian banyak tugas pimpinan, baik pusat maupun daerah, ada tujuh hal yang harus digarisbawahi. Pertama, setiap pemimpin harus mengurangi angka kemiskinan. Kedua, mengurangi pengangguran. Ketiga, meningkatkan kualitas pendidikan. Keempat, meningkatkan pelayanan kesehatan. Kelima, terus berikhtiar dengan kemampuan yang ada membangun dan merawat infrastruktur. Keenam, membangun tata pemerintahan
yang baik, birokrasi yang baik, mencegah dan memberantas korupsi. Ketujuh, meningkatkan kualitas pelayanan publik.
Herman Musakabe Gubernur NTT periode 1993 – 1998 mengatakan “Menjadi pegawai negeri sipil (PNS) merupakan pilihan dan panggilan hidup seseorang. Setiap profesi atau pekerjaan memiliki “roh”nya masing-masing yang menyebabkan profesi itu dihargai dan bermanfaat bagi masyarakat. Rohnya PNS adalah sebagai Abdi Negara yang berarti juga sebagai pelayan masyarakat. Roh melayani masyarakat tidak boleh luntur atau hilang karena masalah karier atau penggajian PNS yang belum sepenuhnya dapat memenuhi kebutuhan hidup, karena kemampuan pemerintah yang masih terbatas. Beberapa indikasi yang menunjukkan berkurangnya roh pelayanan ditandai dengan kasus-kasus indisipliner pegawai, disiplin yang merosot, penyalahgunaan waktu kerja, pelayanan publik yang kurang memuaskan,
ineisiensi penggunaan keuangan negara
sampai tindak korupsi, penyalahgunaan kekuasaan dan sebagainya. Sebagian PNS bahkan harus berurusan dengan aparat penegak hukum. Era Reformasi harusnya dibarengi dengan reformasi mental di kalangan Abdi Negara”.
Faktor Yang Membuat Pegawai Negeri Sipil Melupakan Perannya
MEMAHAMI PERAN PEGAWAI NEGERI SIPIL SEBAGAI ABDI NEGARA DAN PELAYAN PUBLIK
Ali Sudahri Ketua PC IPNU dan IPPNU Sumenep berpendapat dalam konteks ini, perekrutan PNS, di satu sisi merupakan peluang yang sangat strategis bagi masyarakat, karena hal itu merupakan momentum bagi masyarakat untuk bekerja dalam struktur pemerintahan untuk mengabdi dan memberikan yang terbaik bagi bangsa dan negara. Menjadi PNS pada hakekatnya adalah menjadi abdi negara dengan tujuan luhur untuk berkorban dan memberikan yang terbaik bagi perjalanan negara, dengan cara memberikan pelayanan yang baik kepentingan masyarakat. Dengan kata lain, menjadi PNS juga berkmakna peluang kerja dan mengabdikan diri untuk memperbaiki dinamika pemerintahan.
Sehingga dalam setiap momentum rekruitmen CPNS, para peminatnya kadangkala jauh lebih besar dari jatah yang dibutuhkan oleh pemerintah. Masyarakat berlomba-lomba untuk merebut untuk memberikan yang terbaik bagi negara, dengan cara bekerja sebagai abdi negara dalam pemerintahan. Hal itu sekaligus menunjukkan kalau minat masyarakat dalam menjadi PNS sangat luar biasa, tetapi jika dilihat dari sisi lain, bisa juga karena faktor masih besarnya jumlah pengangguran di tengah-tengah masyarakat, sehingga rekruitmen CPNS, dianggap sebagai solusi mencari pekerjaan, bukan bagaimana mengabdi dan menjadi abdi negara yang baik, dimana komitmen dan keikhlasan menjadi bagian penting dalam diri mereka. Menurut Ali Sudahri Ketua PC IPNU dan IPPNU Sumenep.
Herman Musakabe Gubernur NTT periode 1993 – 1998 berpendapat bahwa ada faktor-faktor yang mempengaruhi gaya hidup manusia masa kini antara lain berkembangnya faham materialisme
yang mengutamakan kebendaan,
hedonisme atau hidup untuk bersenang-senang, dan konsumerisme yang selalu ingin memuaskan naluri konsumtif. Konsumerisme sudah begitu merasuk kehidupan, sehingga orang merasa tak terpuaskan jika belum mengikuti arus iklan, memenuhi diri dengan tawaran produksi dan memuaskan naluri konsumtifnya. Dimensi ‘having’ lebih
berperan daripada dimensi ‘being’. Orang cenderung berlomba-lomba ‘memiliki lebih’ (materi/uang) ketimbang menjadi ‘pribadi lebih’ atau ‘lebih bermartabat’. Akibatnya, dalam bekerja orang cenderung mengabaikan semangat pelayanan.
Abbot Lawrence Lowell, Presiden Harvard University (1930), mengatakan hal yang menarik tentang hubungan antara pekerjaan, uang dan pelayanan, sebagai berikut :
“Siapa pun yang memandang pekerjaannya sebagai cara untuk menciptakan uang, sesungguhnya ia mendegradasikan pekerjaannya sendiri. Tetapi seseorang yang melihat pekerjaannya sebagai pelayanan kepada umat manusia, sesungguhnya ia memuliakan pekerjaan dan dirinya sendiri”.
Jati Diri yang Perlu Dimiliki Seorang Pegawai Negeri Sipil
Komitmen Mengabdi
Ali Sudahri Ketua PC IPNU dan IPPNU Sumenep menulis pada dasarnya menjadi PNS adalah untuk mengabdi pada masyarakat dan negara. Menjadi PNS bukan mencari kewibawaan dan kharisma posisi atau bahkan mencari peluang untuk memperdaya masyarakat, tapi diarahkan untuk mengabdi dan siap berkorban pada masyarakat, bangsa dan negara. Semangat pengabdian inilah yang melandasi pemikiran mereka yang mengincar posisi sebagai PNS, sehingga posisi yang nanti berhasil diraihnya akan bisa dilaksanakan sesuai dengan visi dan misi luhur sebagai PNS.
MEMAHAMI PERAN PEGAWAI NEGERI SIPIL SEBAGAI ABDI NEGARA DAN PELAYAN PUBLIK
gilirannya bisa menghambat proses kinerja dan sudah tentu akan sangat merugikan terhadap masyarakat bangsa dan negara. Menurut Ali Sudahri Ketua PC IPNU dan IPPNU Sumenep.
Dalam memenuhi kebutuhan masyarakat sebenarnya pegawai negeri sipil sedang memenuhi kebutuhannya sendiri atau dengan kata lain dalam mensejahterakan orang lain sebenarnya pegawai negeri sipil sedang mensejahterakan dirinya sendiri, sebab pemerintahan demokrasi adalah pemerintahan yang berasal dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat.
Akhir-akhir ini persaingan dalam dunia usaha telah mendorong perusahaan-perusahaan berlomba-lomba meningkatkan pelayanan untuk menarik pelanggan atau konsumen. Beberapa perusahaan swasta mulai menerapkan standar pelayanan tertentu untuk meningkatkan kinerja lembaga dan perusahaan. Tidak hanya pada kualitas pelaksanaan jasa pelayanan kepada pelanggan tetapi juga menentukan waktu yang lebih singkat untuk suatu jasa pelayanan. Misalnya, beberapa rumah sakit berstandar internasional telah menetapkan waktu maksimal untuk suatu jenis pelayanan dan bila melebihi waktu tersebut maka pasien/penderita dapat menyampaikan laporan pengaduan.
Sebaliknya, pelayanan yang buruk seringkali menghambat pembangunan dan kemajuan daerah. Pelayanan yang buruk antara lain terlihat pada urusan birokrasi yang berbelit-belit, tidak ada kepastian waktu, serta pelayanan yang berorientasi mendapat imbalan tertentu
Martabat
Herman Musakabe Gubernur NTT periode 1993 – 1998 menulis sikap mental yang harus dimiliki sebagai seorang Abdi Negara adalah menjunjung tinggi martabat diri dengan bekerja untuk melayani masyarakat. Martabat atau harga diri seseorang tergantung dari apa yang diperbuat untuk orang lain, bukan karena apa yang dimilikinya. Dimensi “being” atau menjadi lebih bermartabat
lebih utama daripada dimensi “having” atau apa yang dimiliki. Sikap mental untuk selalu memelihara martabat diri harus dilandasi keimanan dan moralitas yang luhur. Sebagai orang beriman kita percaya bahwa dengan melayani sesama menjadikan seseorang lebih bermartabat di hadapan sesama dan Tuhan. Lebih baik melakukan pekerjaan-pekerjaan kecil yang bisa meningkatkan martabat diri Anda daripada berusaha memiliki banyak materi dengan cara-cara yang merendahkan martabat diri. Tidak sedikit Abdi Negara yang mengakhiri masa tugas dengan kehilangan martabat diri karena kasus-kasus hukum. Semua yang dimilikinya tidak berarti dibandingkan dengan penderitaan karena kehilangan harga diri. Sebaliknya, tidak sedikit Abdi Negara yang dapat mengakhiri masa tugas dengan baik karena mengabdi tanpa cela, walaupun mereka tidak memiliki banyak harta. Kebaikan, keutamaan dan pelayanan yang ditanam pada masa pengabdian Anda, akan menuai kebahagiaan pada masa purnatugas. Sebaliknya bila menanam keburukan selama bertugas, akan menuai akibat buruk pada masa purnatugas.
Kepemimpinan yang Melayani (Servant Leadership)
Mereka yang diberi talenta untuk menjadi pemimpin harus menyadari bahwa ia adalah hamba Tuhan dan pelayan bagi rakyat yang dimpimpinnya. Orientasi pemimpin-pelayan (Servant leader) adalah melayani dan bekerja dengan standar moral-spiritual. Ia lebih mengutamakan terciptanya followership (kepengikutan) daripada mengejar kekuasaan. Profesor Robert E Kelley, pelopor pengajar
MEMAHAMI PERAN PEGAWAI NEGERI SIPIL SEBAGAI ABDI NEGARA DAN PELAYAN PUBLIK
memelihara kontak dengan Tuhan, setia pada misi, memiliki sauh batiniah, tahu bersyukur, membentuk dan bekerja dengan tim, melatih dan mendidik pengganti, memberdayakan kaum perempuan, memberi tanggungjawab, memberi teladan, melayani sesama dalam bekerja untuk kemuliaan nama Tuhan.
Berpikir Positif
Setiap orang pasti ingin berhasil dalam pekerjaannya dan mencapai tujuan dalam hidupnya. Kebanyakan orang yang berhasil adalah orang-orang yang berpikir positif. Berpikir positif adalah kunci untuk meraih sukses. Pikiran adalah asal-usul atau “nenek moyang” nya perbuatan. Dengan berpikir positif maka banyak masalah bisa dipecahkan, karena orang yang berpikir positif selalu berusaha mengatasi masalah dan berbuat konstruktif. Sebaliknya orang yang berpikir negatif berusaha menghindari beban kerja, membuat masalah baru dan cenderung destruktif. Berpikir positif jalan menuju sukses, berpikir negatif jalan menuju kegagalan. Menurut Herman Musakabe Gubernur NTT periode 1993 – 1998.
Bersyukur/Berterima Kasih
Sikap tahu berterima kasih adalah sikap yang harus dimiliki Abdi Negara karena sikap tahu berterima kasih adalah bagian dari mentalitas Abdi Negara. Ungkapan terima kasih bisa dilakukan dengan ucapan dan melalui perbuatan dengan bekerja lebih baik. Orang yang tahu berterima kasih akan berusaha melakukan tugasnya dengan lebih baik dari waktu ke waktu karena ia meyakini bahwa dengan itu ia memuliakan dirinya, organisasi dan Tuhan. Sebaliknya orang-orang yang tidak tahu bersyukur / berterima kasih selalu merasa tidak puas dan lebih banyak menuntut hak daripada melakukan kewajibannya.
Menjadi Teladan
Sikap keteladanan harus dimiliki seorang Abdi Negara karena ia adalah “pemimpin” bagi keluarga,
lingkungan masyarakat dan orang-orang dalam tanggungjawab pekerjaannya. Pemimpin di daerah adalah Gubernur, Bupati/Walikota, dan di bawahnya ada pemimpin-pemimpin dinas, unit kerja, kecamatan, desa sampai RT/RW. Menjadi teladan sangat penting bagi seorang pemimpin agar ia bisa memiliki pengaruh pada para pemimpin bawahannya. Hakikat memimpin adalah cara, seni (art) untuk mempengaruhi orang-orang yang dipimpinnya untuk melaksanakan apa yang dikehendakinya. Untuk menjadi teladan maka ia harus meneladankan
perilaku yang baik kepada sekitarnya,
menganjurkan kebaikan itu, dan setelah itu baru bisa mengharuskan orang lain untuk melakukan misi yang diinginkan.
Disiplin
Disiplin adalah faktor penunjang dalam keberhasilan dalam pelaksanaan tugas dan fungsi organisasi. Sulit untuk membayangkan suatu lembaga dengan kewenangan mengelola anggaran/dana, atau memiliki peralatan senjata untuk perang, atau kewenangan memutuskan kebijakan penting tetapi tanpa didukung oleh displin aparatnya. Penyalahgunaan kekuasaan selalu diawali dengan merosotnya disiplin dan peraturan dengan mudahnya dilanggar, atau dicari celah-celahnya untuk dilanggar. Disiplin adalah nafasnya suatu organisasi. Tanpa disiplin maka anggota dalam organisasi hanya kumpulan orang-orang yang hanya mencari keuntungan pribadi dan organisasi itu hanya menunggu waktunya untuk runtuh.
MEMAHAMI PERAN PEGAWAI NEGERI SIPIL SEBAGAI ABDI NEGARA DAN PELAYAN PUBLIK
lebih ringan.
Menjadi Agen Pembangunan
Program pembangunan yang direncanakan oleh Pemprov atau Pemkab/ Pemkot tidak akan mencapai hasil maksimal apabila tidak didukung oleh partisipasi para PNS untuk menyukseskan program-program tersebut. Selain program-program yang bersifat sektoral, ada kegiatan-kegiatan lintas sektoral yang bisa dilakukan dengan melibatkan para PNS. Keterlibatan para PNS bisa dalam bentuk perorangan, relawan, satuan tugas, kepanitiaan, atau bentuk lain yang telah ditentukan. Dalam hal ini para PNS menjalankan misinya sebagai Abdi Negara/pemerintah, agen pembangunan dan pelopor dalam bidang-bidang kehidupan tertentu.
Hal-Hal Yang Dapat Menunjang Peningkatan Kinerja Pegawai Negeri Sipil
Diklat
Upaya yang apat dilakukan pemerintah dalam memperbaiki kinerja aparaturnya adalah pendidikan dan pelatihan (Diklat) pegawai), dan sistem remunerasi di lingkungan kerja instansi pemerintah. Dalam upaya peningkatan profesionalitas pegawainya, pemerintah menggalakkan pendidikan dan pelatihan (diklat) pegawai. Diklat dapat berupa diklat prajabatan dan diklat dalam jabatan antara lain diklat kepemimpinan, diklat fungsional dan diklat teknis.
Remunerasi
Remunerasi adalah pemberian imbalan kerja yang dapat berupa gaji, honorarium, tunjangan tetap, insentif, bonus atau prestasi, pesangon dan/ atau pensiun. Dengan remunerasi diharapkan adanya sistem penggajian pegawai yang adil dan layak. Besaran gaji pokok didasarkan pada bobot jabatan. Penggajian PNS juga berdasar pada pola keseimbangan komposisi antara gaji pokok dengan tunjangan dan keseimbangan
skala gaji terendah dan tertinggi. Dengan remunerasi pula, peningkatan kesejahteraan pegawai dikaitkan dengan kinerja individu dan kinerja organisasi.
Menciptakan Rancangan Kerja Yang Menyenangkan
Selain kebutuhan ekonomi setiap manusia juga perlu memenuhi kebutuhan psikologi, salah satu caranya dengan menciptakan rancangan kerja yang menyenangkan seperti, membuat pekerjaan lebih berarti, lebih menarik dan lebih memberikan tantangan. Memberikan otonomi dan tanggung jawab lebih besar untuk membuat perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan sendiri. Memberikan tambahan tugas pada pegawai agar pekerjaan lebih bervariasi tanpa menuntut kemampuan yang lebih tinggi.
Penutup
Karya tulis ini dibuat oleh penulis dalam kapasitasnya sebagai calon pegawai negeri sipil untuk memahami arti dari menjadi seorang pegawai negeri sipil dan tindakan yang harus dilakukan. Semoga karya tulis ini dapat bermanfaat.
Daftar Pustaka
http://id.wikipedia.org/wiki/Pegawai_ negeri
http://tabloid_info.sumenep.go.id/ index.php?option=com_content&task=vi ew&id=317&Itemid=27
http://www.presidenri.go.id/index. php/fokus/2008/10/31/3655.html http://hermanmusakabe.nttprov. go.id/?p=22
http://www.scribd.com/doc/2523600/ PENINGKATAN-KINERJA-PEGAWAI-NEGERI-SIPIL
KIAT PRAKTIS KEDIKLATAN PENDEKATAN “AFDHAL” DALAM ANDRADoGI
Metode, Teknis dan Kiat Kediklatan
KIAT PRAKTIS KEDIKLATAN Pendekatan “AFDHAL” dalam Andradogi
Oleh : Ir. H. Maksum Abdullah MarhamahM., MS *)
Widyaiswara MadyaBadan Diklat Prov. Kaltim
disusun berdasarkan pendekatan empiris kualitatif. Sebagai konsekuensinya, pendekatan ini bersifat tentatif, dan
tidak inal, sehingga konsep pendekatan
AFDHAL dalam andragogi ini masih terbuka untuk diuji validitas,
perumusannya serta efektiitas dan eisiensi penerapannya. Namun
kemungkinan penerapannya tidaklah tertutup sepenuhnya. Selama tahun 2010, konsep pendekatan pembelajaran ini sudah penulis terapkan dengan menggunakan beberapa metode dan instrumen, terutama dalam diklat Prajabatan dan Kepemimpinan. Secara umum, menurut para pembelajar (peserta diklat), penerapan konsep pendekatan AFDHAL ini cukup membantu mereka mengatasi beberapa masalah yang sering mereka hadapi ketika mengikuti proses pembelajaran dalam diklat tersebut ; antusiasme, penguasaan materi, serta internalisasi dan aktualisasi materi pembelajaran.
Secara empiris, beberapa masalah yang sering dihadapi dalam proses pendidikan dan pelatihan aparatur pemerintah antara lain adalah sebagai berikut ;
Kurang antusiasnya pembelajar mengikuti proses pembelajaran,
Tidak optimalnya penguasaan
•
pembelajar terhadap materi pembelajaran,
Lemahnya internalisasi
• dan
aktualisasi esensi materi pembelajaran,
Pendahuluan
Andragogi adalah pembelajaran bagi insan dewasa, yang antaralain dicirikan sebagai proses pembelajaran yang bersifat partisipatif, karena setiap pelaku proses pembelajaran ini, baik fasilitator/ pelatih/ tutor/ widyaiswara maupun peserta pembelajaran (pembelajar) dapat berperan sebagai narasumber. Sebagai konsekuensinya, andragogi memerlukan pendekatan pembelajaran yang berpusat pada pembelajar (learner oriented). Tulisan ini mengeksplorasi ”AFDHAL”
sebagai sebuah alternatif pendekatan tersebut.
Secara tekstual, AFDHAL adalah kata dari bahasa Arab, yang berarti lebih baik. Secara maknawi, pengertian ini disematkan pada konsep pendekatan dalam andragogi ini disertai asa dan semangat mewujudkan proses dan hasil pembelajaran yang lebih baik.
Konsep dasar pendekatan AFDHAL meliputi Aku Fahami, Dalami,
Hayati, Amalkan dan Lestarikan. Konsep ini disusun berdasarkan pengalaman praktis penulis dalam tahun pertama (2009) sebagai widyaiswara pada Badan Pendidikan dan Pelatihan Propinsi Kalimantan Timur di Samarinda. Konsep ini juga disusun sebagai tindaklanjut dari evaluasi mandiri terhadap berbagai masalah aktual yang sering dihadapi dalam berbagai jenis dan tingkatan pendidikan dan pelatihan (diklat) aparatur pemerintah, baik diklat Prajabatan dan Kepemimpinan, maupun diklat Fungsional dan Teknis.
Sebagai sebuah konsep yang baru dalam tahapan eksploratif, setiap
tahapannya (identiikasi, analisis,
KIAT PRAKTIS KEDIKLATAN PENDEKATAN “AFDHAL” DALAM ANDRADoGI
Identiikasi Permasalahan
Kurang Antusiasnya Pembelajar 1.
Mengikuti Proses Pembelajaran
Kurang antusiasnya pembelajar pada proses pembelajaran bisa terjadi pada proses pembelajaran dalam kelas maupun dalam penyelesaian tugas–tugas mandiri di luar kelas. Di dalam kelas, hal ini dapat ditengarai dari berbagai gejala yang terlihat secara kasat mata, antara lain ; kurangnya minat para pembelajar untuk bertanya maupun berdiskusi. Hal inipun terlihat dari banyaknya pembelajar yangnmelamun, berbisik-bisik, bermain alat tulis dan handphone, saling berkirim “surat”, bolak-balik minta izin ke luar kelas dll.
Dalam kelompok, hal ini dapat ditengarai dari ekstrimnya performance kelompok menyelesaikan tugas ; baik terlalu cepat (asal-asalan), maupun sebaliknya, terlalu lambat. Kurang antusiasnya pembelajar juga dapat ditengarai dalam keterlambatan penyelesaian tugas - tugas mandiri (tugas baca, observasi lapangan, penyusunan kertas kerja, dll),. Di sisi lain, kurangnya antusiasme pembelajar ini juga juga terlihat dari tampilan tugas yang dihasilkan ; kuantitas tugas yang tidak memadai, disajikan secara copy and paste, tidak sistematis, dengan kualitas paparan, analisis dan penyimpulan seadanya.
Tidak optimalnya Penguasaan 2.
Pembelajar terhadap Materi Pembelajaran,
Indikasi tidak optimalnya penguasaan pembelajar terhadap materi pembelajaran dapat dilihat dari pemahaman mereka terhadap materi pembelajaran yang lebih bersifat tekstual, belum banyak pembelajar yang mencapai pemahaman secara kontekstual. Pemahaman secara tekstual
saja membuat para pembelajar hanya mampu memahami materi secara terbatas
pada hal-hal yang bersifat supericial (di
permukaan), tanpa kedalaman, sehingga tak mampu menggali substansi materi pembelajaran yang disajikan, apalagi menyerap esensinya.
Di sisi lain, pemahaman secara tekstual saja juga menyebabkan para pembelajar hanya mampu memahami materi pembelajaran secara fragmental (terpisah-pisah) sehingga tidak mampu memahaminya secara sistematis dalam kaitan kerangka keterkaitan yang logis dan relevan. Keterbatasan pemahaman seperti ini juga membatasi kemampuan para pembelajar membangun pemahaman masalah secara holistik (utuh).
3. Lemahnya Internalisasi dan Aktualisasi Esensi Materi Pembelajaran,
Internalisasi esensi materi pembelajaran adalah proses penghayatannya sebagai nilai-nilai (values) yang dapat digunakan dalam pembentukan karakter para pembelajar. Sedangkan aktualisasi esensi materi pembelajaran adalah proses pengamalan nilai-nilai itu dalam berbagai aspek kehidupan. Indikasi lemahnya internalisasi dan aktualisasi nilai-nilai tersebut bisa dilihat dari tidak
signiikannya perubahan perilaku para
pembelajar. Beberapa indikatornya adalah ; kemauan dan kemampuan menyimak
gejala dan fenomena, mengidentiikasi
dan menganalisis masalah, berkomunikasi dan berdiskusi, serta menyelesaikan tugas, baik secara mandiri maupun secara sinergis dalam kelompok. Kelemahan ini bisa dilihat dalam perspektif substansi maupun dalam perspektif waktu.
KIAT PRAKTIS KEDIKLATAN PENDEKATAN “AFDHAL” DALAM ANDRADoGI
lemahnya internalisasi dan aktualisasi ini bisa menurunkan kemampuan seseorang untuk berkomunikasi, berinteraksi, berkordinasi & bersinergi dalam kelompok.
Dalam perspektif waktu, hal ini dapat dilihat melalui pengamatan atas perilaku mereka pada berbagai aspek proses pembelajaran selama mengikuti proses pembelajaran dalam diklat, maupun dalam berbagai aspek pelaksanaan tugas-tugas mereka setelah kembali ke lembaga mereka pasca diklat. Dalam perspektif waktu, kelemahan ini juga menggambarkan kelemahan pembelajar melestarikan dan mengembangkan nilai-nilai yang diserapnya dalam setiap tahap pembelajaran, baik selama maupun sesudah diklat.
Analisis Penyebab Permasalahan Kurang Antusiasnya Pembelajar 1.
Mengikuti Proses Pembelajaran
Penyebab kurang antusiasnya pembelajar mengikuti proses pembelajaran dapat ditelusuri dari tiga sisi ; sisi pembelajar, pengajar, serta proses pembelajaran itu sendiri. Ketiga sisi tersebut bisa ditemukan secara terpisah, namun lebih sering terjadi secara bersamaan, sehingga memperparah permasalahan yang dihadapi.
Dari sisi pembelajar, ada beberapa penyebab yang mungkin ditemukan ; rendahnya motivasi pembelajar untuk mengikuti diklat, atau minimnya rasa ingin tahu pembelajar. Rendahnya motivasi pembelajar untuk mengikuti diklat bisa berpangkal dari persepsi pembelajar terhadap diklat yang diikutinya ;
sekedar memenuhi persyaratan untuk pengangkatan (diklat Prajabatan),
sekedar memenuhi perintah (diklat teknis/fungsional), ketidakyakinan akan manfaat diklat pada diklat kepemimpinan bagi peserta yang belum menduduki jabatan (”dik-duk”), atau sebaliknya bagi peserta yang telah menduduki jabatan (”duk-dik”).
Dari sisi pengajar, kurang antusiasnya pembelajar dapat disebabkan kurangnya pengenalan kebutuhan
pembelajar, penguasaan substansi materi pembelajaran, serta metoda dan teknik pembelajaran yang kurang memadai. Sayangnya, ketiga kekurangan ini sering kali diperparah oleh kekurangan yang keempat ; banyak pengajar yang kurang menyadari ketiga kekurangan ”laten” tersebut di atas. Hal ini berpangkal dari ”penyakit” laten yang sering kali mewabah secara kronis tanpa disadari ; rutinitas. Rutinitas semacam ini kian merebak seiring meningkatnya frekuensi pelaksanaan diklat, sehingga menimbulkan fenomena ”kejar tayang” di kalangan para pengajar, yang pada gilirannya berpengaruh negatif baik terhadap performance mereka sendiri, proses pembelajaran, serta antusiasme para pembelajar dalam berbagai aspek proses pembelajaran tersebut.
Proses pembelajaran yang amat berpotensi menurunkan antusiasme pembelajar adalah proses pembelajaran yang monoton, tunggal nada tanpa rangsangan keragaman. Penyebabnya terutama bersumber pada interaksi antara pembelajar dan pengajar yang kurang baik, serta situasi lingkungan pembelajaran yang kurang mendukung interaksi itu. Interaksi antara pembelajar dan pengajar yang kurang baik berpangkal dari kurangnya pengenalan diri (AKU) pembelajar dan pengajar, pemahaman mendasar tentang asas-asas andragogi dalam diklat, serta penghayatan peran keduanya dalam proses pembelajaran. Situasi lingkungan pembelajaran yang kurang mendukung interaksi positif pembelajar dan pengajar bisa disebabkan prasarana dan sarana (fasilitas dasar) pembelajaran yang kurang memadai serta ”gangguan” dari lingkungan sekitar, termasuk dari kelas yang lain.
Tidak optimalnya Penguasaan 2.
Pembelajar terhadap Materi Pembelajaran
KIAT PRAKTIS KEDIKLATAN PENDEKATAN “AFDHAL” DALAM ANDRADoGI
disebabkan oleh beberapa kelemahan umum yang sering ditemukan dalam proses penguasaan materi pembelajaran ; lebih bertumpu pada kemampuan menghafal, bukan memahami ; pemahaman secara tekstual, bukan pada kontekstual ; pemahaman secara
supericial, bukan pada pendalaman ;
pemahaman secara fragmental, bukan integral ; serta pemahaman secara linier, bukan pemahaman secara sistematis.
Berbagai kelemahan tersebut diperparah lagi oleh berbagai keterbatasan materi pembelajaran yang disajikan dalam proses pembelajaran. Beberapa keterbatasan materi pembelajaran yang sering kali ditemukan adalah ; format materi, volume materi, serta substansi dan aktualitas materi yang disajikan dalam proses pembelajaran suatu diklat. Format materi yang umum disajikan berupa modul, yang seringkali ”kering” dan tidak ”merangsang”, dengan volume yang terkadang terlalu banyak dibandingkan dengan alokasi waktu penyajian, serta substansi dan aktualitas yang sering ketinggalan zaman.
Lemahnya Internalisasi dan 3.
Aktualisasi Esensi Materi Pembelajaran
Akumulasi dari kedua kelemahan tersebut bermuara pada lemahnya internalisasi dan aktualisasi nilai-nilai (values) yang bisa diserap dan diolah para pembelajar dari proses pembelajaran yang mereka ikuti dalam diklat. Kelemahan ini mungkin disebabkan oleh ; kurang kondusifnya ”atmosfer” pendukung internalisasi dan aktualisasi nilai-nilai tersebut, baik selama proses pembelajaran, maupun ketika mereka kembali bertugas pada instansinya masing-masing setelah proses pembelajaran.
Kurang kondusifnya ”atmosfer” pendukung dalam proses pembelajaran sering kali terjadi akibat dominannya upaya menghabiskan materi pembelajaran ketimbang pendalaman dan pengembangan (behind & beyound) nya, sehingga kurang menyediakan rangsang dan ruang bagi pembelajar mengeksplorasi
esensinya secara aktif dan kreatif. Kurang kondusifnya ”atmosfer” pendukung pasca proses pembelajaran sering kali terjadi akibat budaya kerja birokrasi yang cenderung rutin, mapan dan ”feodalistik” sehingga kurang kondusif bagi perbedaan
pendapat, kreatiitas serta inovasi dan
pembaharuan.
Alternatif Pemecahan Permasalahan
Pendekatan AFDHAL diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai alternatif pendekatan untuk memecahkan tiga kelemahan yang sering dhadapi oleh para pelaku pembelajaran (pembelajar dan widyaiswara) dalam diklat aparatur pemerintah tersebut di atas melalui pengoptimalan penerapan prinsip-prinsip pembelajaran dalam andragogi. Secara tekstual, AFDHAL merupakan akronim dari Aku (Fahami, Dalami, Hayati,
Amalkan dan Lestarikan). Konsep dasar pendekatan ini merupakan pengembangan prinsip pembelajaran yang berorientasi pada pembelajar (learner oriented) menjadi pembelajaran yang berorientasi pada pemenuhan kebutuhan pembelajar.
Keenam aspek pendekatan tersebut merupakan suatu kesatuan proses yang dapat dllaksanakan secara simultan dan berkelanjutan. Proses penerapannya dilakukan dalam enam tahapan ; penemukenalan AKU (jatidiri) para pelaku pembelajaran, pemahaman materi, substansi dan esensi materi pembelajaran, pendalaman nilai-nilai dalam materi, substansi dan esensi pembelajaran, penghayatan nilai-nilai tersebut oleh para pelaku pembelajaran, serta pengamalan dan pelestariannya dalam berbagai aspek kehidupan.
Penerapannya dilaksanakan secara simultan melalui pengoptimalan peranserta dan kerjasama antara pembelajar dan widyaiswara dalam enam aspek pendekatan AFDHAL berikut ini:
AKU
1. . Penemukenalan (identiikasi)