• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penggunaan Teknologi Informasi di Usaha

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Penggunaan Teknologi Informasi di Usaha"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

Penggunaan Teknologi Informasi di Usaha Kecil dan Menengah

(Studi Pada Usaha Kecil Menengah di Wilayah Gedong Meneng)

Wheny Khristianto

Dosen Jurusan Administrasi Bisnis, Universitas Lampung Email: [email protected]

Abstract

Significant role of SMEs and has been proven as a driver of economic growth needs to be developed in order to have competitiveness. SME competitiveness can be achieved either with the use of IT to enhance business transformation, the accuracy and efficiency of the information exchange. This study is aimed to: determine the adoption of IT by SMEs, determine the reason for SMEs to adopt or not adopt of IT, and knowing factor inhibitors of IT adoption by SMEs. The study was conducted in 33 SMEs in the region Gedong Meneng, Bandar Lampung. The results of this study indicate that the level of computer adoption among SMEs is proved high enough. However, the rate of Internet adoption among SMEs is still very low. Used of computer technology by SMEs is still not optimized for the things that gives value to the business development and other strategic things. Constraints of computer and Internet adoption in SMEs is dominated by internal problems, such as: they do not need the internet, funding for technology investment, and limited human resources capable who can run the technology.

Key words: SMes, adoption, IT

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Saat ini, prioritas pembangunan ekonomi diarahkan kepada upaya untuk mempercepat pemulihan ekonomi disertai upaya untuk mengatasi kemiskinan dan pengangguran yang meningkat, serta upaya untuk peningkatan daya saing usaha skala kecil dan menengah. Hal tersebut tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2005-2025, yaitu kebijakan memperkuat perekonomian domestik berbasis keunggulan wilayah menuju keunggulan kompetitif.

(2)

mempunyai peluang ekspor yang sangat besar karena mempunyai keunikan tersendiri yang menjadi ciri khas dari produk-produk tersebut.

Pada tahun 2007, The Hongkong and Shanghai Banking Cororation (HSBC) melaporkan bahwa UKM di Indonesia sangat optimis untuk terus dikembangkan karena sekitar 64% pengusaha UKM mempunyai niat untuk menambah investasi pengembangan bisnis dan sekitar 44% pengusaha UKM di Indonesia mempunyai rencana untuk menambah tenaga kerja (Rahmana, 2009). Kontribusi UKM terhadap penyediaan lapangan kerja terbukti cukup tinggi. Tahun 2009, tercatat ada lebih dari 587 ribu unit UKM di Indonesia yang telah memberi lapangan pekerjaan bagi lebih dari 6 juta masyarakat lokal yang ada di sekitar lokasi usaha (Depkop, 2010).

Kendati demikian, kondisi UKM tetap rawan karena keberpihakan bank yang rendah, pasar bebas yang mulai sudah dibuka dan terbatasnya kebijakan yang mendukung sektor usaha kecil menempatkan UKM pada posisi yang kurang menguntungkan. Di Indonesia, infrastruktur yang kurang memadahi (Sheth&Sharma, 2005; Wood, 2004), masih rendahnya pendapatan rata-rata masyarakat (Hawk, 2004), dan kendala budaya (Hawk, 2004; Paul, 2002) menjadi faktor yang menyebabkan lambatnya adopsi teknologi di UKM. Stoeken dan Couman (1998) dalam Wahid (2007) menyatakan bahwa kurangnya pemahaman terhadap peran strategis yang dapat dimainkan oleh teknologi informasi (TI) terkait dengan pendekatan baru pemasaran, hubungan dengan konsumen, dan pengembangan produk dan layanan diduga sebagai sebab rendahnya adopsi TI oleh UKM. Tetapi, terdapat fakta menarik yang terjadi di Indonesia, yaitu adanya pertumbuhan pengguna internet yang cukup tinggi. Hal ini diharapkan dapat menjadi indikasi adanya kemauan pelaku bisnis dan pemerintah untuk mendorong pertumbuhan

electronic commerce (e-commerce), terutama di UKM.

Peran UKM yang signifikan dan sudah terbukti sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi rakyat tentunya perlu ditingkatkan agar dapat berkembang secara lebih luas dan mempunyai daya saing. Daya saing UKM dapat diwujudkan salah satunya dengan penggunaan TI untuk meningkatkan transformasi bisnis, ketepatan dan efisiensi pertukaran informasi (Rahmana, 2009), memperluas jaringan pemasaran dan memperluas market share.

Peningkatan daya saing UKM ini sangat diperlukan agar UKM mampu bertahan dan bersaing dalam kancah perdagangan global.

(3)

Perumusan Masalah

Berdasarkan uraian di latar belakang penelitian, maka rumusan masalah yang akan diambil pada penelitian ini adalah:

1. Bagaimana adopsi TI oleh UKM di wilayah Gedong meneng, Bnadar Lampung

2. Apakah faktor-faktor penghambat adopsi TI yang dihadapi oleh UKM di wilayah Gedong Meneng, Bandar Lampung.

TINJAUAN PUSTAKA

Difusi Inovasi

Difusi adalah proses dimana sebuah inovasi diadopsi oleh anggota pada suatu komunitas (Hasyim, 2007). Ada empat faktor yang mempengaruhi adopsi sebuah inovasi oleh anggota atau bagian dari sebuah organisasi, yaitu: (1) inovasi itu sendiri, (2) saluran komunikasi yang digunakan untuk menyebarkan inovasi, (3) waktu, dan (4) dimana tampat inovasi tersebut diperkenalkan (Roger, 1995). Adopsi inovasi mempunyai arti yang kompleks, karena hal ini menyangkut proses pengambilan keputusan yang dipengaruhi oleh banyak faktor untuk menerima ide-ide baru. Adopsi inovasi merupakan bagian dari strategi perusahaan, sehingga dalam proses adopsi inovasi diperlukan informasi yang cukup. Selanjutnya, calon adopter (pelaku adopsi) akan mencari informasi dari sumber informasi yang relevan dan sesuai dengan kebutuhan perusahaan.

Ada empat tahapan dalam adopsi inovasi, yaitu: tahap kesadaran, tahap menaruh minat, tahap evaluasi, dan tahap mencoba. Tahap kesadaran adalah tahapan dimana calon adopter

belajar tentang sesuatu yang baru. Pengetahuan calon adopter terhadap hal yang akan diadopsi biasanya masih bersifat umum. Tahap menaruh minat, dimana calon adopter mulai mengembangkan informasi yang diperoleh pada tahap pertama. Calon adopter mulai mempelajari secara lebih rinci tentang ide baru tersebut. Lebih dari itu, calon adopter bahkan tidak merasa puas jika hanya mengetahui saja, akan tetapi mereka ingin berbuat yang lebih banyak lagi. Sebagai contoh, calon adopter akan menggali informasi dari berbagai media cetak maupun media elektronik. Tahap evaluasi merupakan tahap ketiga. Setelah calon adopter

mempunyai informasi yang banyak dan bukti-bukti yang sudah terkumpul, maka calon adopter

akan melakukan penilaian untuk menentukan apakah teknologi baru tersebut akan diadpsi atau tidak.

(4)

calon adopter menyimpulkan bahwa teknologi atau hal baru akan memberikan dampak yang baik bagi kelangsungan organisasi atau individu yang terkait dengan teknologi atau hal baru tersebut. Tahap mencoba ini dapat dilakukan secara perseorangan atau berkelompok.

Adopsi biasanya terjadi pada unit yang lebih kecil, seperti individu atau perusahaan. Hal ini tentunya berbeda dengan difusi yang umumnya terjadi pada tingkat yang lebih luas. Roger (1995) membedakan orang yang mengadopsi inovasi berdasarkan atas waktu menjadi 5, yaitu: (1) innovator, mereka adalah pengambil resiko dan pionir yang merupakan kelompok awal yang melakukan adopsi, (2) early adopter, adalah kelompok kedua yang melakukan interkasi dengan inovasi dan berperan membantu menyebarluaskan inovasi tersebut kepada pihak lain, (3) early majority, adalah kelompok yang dipengaruhi oleh innovator dan early adopter, (4) late majority

adalah mereka yang melakukan pendekatan secara seksama terhadap inovasi sampai mempunyai keyakinan bahwa adopsi yang dilakukan tersebut memberikan hasil yang terbaik, dan (5) laggard, adalah individu yang sangat skeptis dan mempunyai sikap menolak untuk melakukan adopsi sampai mereka merasa sangat memerlukan untuk melakukan adopsi.

Adopsi TI Oleh UKM

Adeosun, et al (2009) berpendapat bahwa penggunaan TI memberikan nilai positif bagi strategi manajemen yang terkait dengan aspek komunikasi, akses informasi, pengambilan keputusan, manajemen data dan knowledge management pada sebuah organisasi. TI dapat menjadi kekuatan strategi dan alat bagi organisasi yang memberikan keuntungan pada aspek promosi dan kekuatan daya saing (Buhalis, 2003). Hengst dan Sol (2001) berpendapat bahwa TI memberikan keuntungan bagi organisasi bisnis untuk mengurangi biaya dan meningkatkan kemampuan organisasi bisnis dalam melakukan koordinasi dengan pihak luar. Namun, beberapa peneliti dengan penelitian yang telah dilakukan mengungkapkan fakta bahwa adopsi TI di UKM masih sangat rendah dari yang diharapkan (Pavic, et al., 2007; Yu, 2006).

(5)

Tujuan Penelitian

Berdasarkan kenyataan yang telah diuraikan di atas, maka pada penelitian ini dimaksudkan untuk:

a. mengetahui adopsi TI oleh UKM, dan

b. mengetahui alasan mengapa UKM mengadopsi TI atau tidak mengadopsi TI c. mengetahui faktor penghambat adopsi TI yang dihadapi oleh UKM.

METODE PENELITIAN Pendekatan Penelitian

Kegiatan penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan tipe penelitian deskriptif. Menurut Bogdan dan Taylor (dalam Moleong, 2002:3), metode penelitian kualitatif sebagai suatu prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif, yaitu kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan prilaku yang diamati. Penelitian kualitatif memandang obyek yang diteliti secara holistik. Jadi dalam hal ini tidak mengisolasi individu atau organisasi ke dalam variabel atau hipotesis tetapi memandangnya sebagai bagian dari suatu keutuhan. Sedangkan jenis penelitian deskriptif, menurut Nawawi (2001:44) dapat diartikan sebagai penelitian yang berusaha untuk menuturkan pemecahan masalah yang ada sekarang berdasarkan data-data yang ada. Jadi ia juga menyajikan data, menganalisis, dan menginterpretasi.

Daerah Penelitian

Penelitian ini akan dilakukan di Kota Bandar Lampung, tepatnya di Kelurahan Gedong Meneng, karena kelurahan ini merupakan wilayah dimana kampus Universitas Lampung berada. Pemilihan wilayah ini juga mempertimbangkan asumsi bahwa semakin dekat lokasi UKM yang akan diteliti dengan kampus, maka interkasi UKM dengan TI juga dimungkinkan sangat tinggi. Namun, berdasarkan hasil pengamatan, pada UKM photocopy dan percetakan di wilayah Gedong Meneng, terdapat permasalahan-permasalahan baik pada level individu maupun organisasi sesuai dengan permasalahn yang diangkat pada penelitian ini.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Tinjauan Kondisi Umum UKM di wilayah Gedong Meneng

(6)

dan photocopy. Usaha ini merupakan usaha yang berada dalam kelompok ILMEA (industri logam, mesin, elektronika, dan aneka) di Kota Bandar Lampung. Cabang usaha lain yang termasuk dalam kelompok ILMEA selain usaha jasa percetakan dan photocopy adalah industri logam dan mesin, misalnya: jasa pertukangan emas, pengolahan /perakitan alumunium, jasa pengelasan dan pembubutan, industri pembuatan logam dasar dan barang dari logam, kerajinan kuningan. Selain itu ILMEA juga meliputi cabang industri alat angkut, seperti: jasa perbengkelan (service mobil dan motor); cabang industri tekstil, misalnya industry pakaian jadi dan jasa penjahitan; cabang elektronika dan aneka, misalnya jasa reparasi, kerajinan tapis, sulaman/border, industri optic/kacamata dan aneka hiasan/manik-manik (Rifa’i, 2007).

Penelitian ini dilakukan pada 33 UKM yang ada di wilayah Gedong Meneng, Bandar Lampung . Jenis usaha photocopy dan percetakan yang dijalankan oleh UKM yang menjadi obyek penelitian ini dapat dikelompokan dalam 3 kategori, yaitu: usaha yang dijalankan antara 0 sampai dengan 5 tahun, usaha yang dijalankan antara 5 sampai dengan 10 tahun, dan usaha yang dijalankan lebih dari 10 tahun. Untuk memberikan gambaran yang lebih jelas, pengelompokkan tersebut dapat diihat pada Tabel 1 di bawah ini.

Tabel 1. Kategori Jangka Waktu Umur UKM

Umur UKM

0-5 Tahun 5-10 Tahun >10 Tahun

16 UKM 10 UKM 7 UKM

Sumber: Data Primer yang diolah

Menurut data yang disajikan pada Tabel 1 di atas, dapat diketahui bahwa usaha yang dijalankan paling banyak berada pada kategori umur 0-5 tahun dengan jumlah UKM sebanyak 16. Untuk kategori umur usaha yang dijalankan antara 5-10 tahun terdapat 10 UKM, sedangkan usaha yang berjalan sudah lebih dari 10 tahun hanya terdapat 7 UKM.

Adopsi Teknologi Komputer di UKM

(7)

Tabel 2. Pemakaian atau Tidak Pemakaian Komputer di UKM

Alasan pemakaian atau tidak pemakaian

Jumlah UKM

Pemakai Bukan Pemakai

Membuat laporan keuangan 5 -

Membuat laporan kerja 2 -

Mengakses internet 3 -

Keperluan lain 11 -

Tidak membutuhkan - 6

Harga mahal/keterbatasan dana - 3

Minim sumber daya manusia - 2

Sumber: Data Primer yang diolah (2012)

Berdasarkan Tabel 2 di atas, dapat diketahui bahwa sebanyak 5 UKM menggunakan komputer sebagai alat untuk membantu membuat laporan keuangan usahanya, sebanyak 2 UKM menggunakan teknologi komputer sebagai sarana untuk membantu dalam membuat laporan kerja usahanya. Kemudian 3 UKM menjadikan komputer sebagai sarana untuk mengakses internet, sedangkan 11 UKM menggunakan komputer untuk keperluan lain, misalnya: mencetak kertas atau foto, memindai, dan sebagai usaha untuk memberikan jasa pengetikan kepada pelanggan.

Tabel 2 di atas menujukkan pula bahwa pemakaian komputer dari UKM lebih banyak digunakan untuk hal-hal yang berkaitan dengan internal pekerjaan dan mengoptimalkan pekerjaan yang berkaitan dengan jenis usaha. Hal ini dapat dilihat dari prosentase yang sangat besar dari alasan-alasan mengapa mereka menggunakan perangkat komputer, seperti untuk membantu membuat laporan keuangan, membuat laporan kerja, dan untuk keperluan pekerjaan mencetak, mimandai, memberikan layanan pengetikan. Bahkan separuh dari UKM yang menggunakan komputer (11 UKM) memberikan alasan bahwa kegunaan komputer dalam usahanya adalah benar-benar untuk mendukung jenis usaha mereka. Berdasarkan data pada Tabel 2 di atas, dapat diketahui bahwa UKM di bidang photocopy dan percetakan di wilayah Gedung Meneng menggunakan komputer sebagai alat untuk melakukan akses ke luar melalui internet masih sangat minim.

(8)

sehingga hal inilah yang menjadikan pemilik UKM tidak membeli komputer untuk membantu kinerja perusahaan yang dikelolanya.

Dari 11 UKM yang tidak memakai komputer, didapatkan sejumlah 7 UKM yang mempunyai keinginan memiliki komputer untuk mendukung kinerja bisnis yang dijalankan. Adapun 4 UKM menyatakan tidak berkeinginan untuk membeli komputer karena alasan tidak membutuhkan perangkat tersebut. Sejumlah 7 UKM yang ingin memiliki komputer terdiri dari 3 UKM berencana akan membeli komputer dalam waktu satu tahun ke depan, 2 UKM berencana akan membeli komputer dalam waktu enam bulan ke depan, dan 2 UKM merencanakan akan membeli perangkat komputer dalam kurun waktu dua tahun ke depan.

Adopsi Internet di UKM

Dari kuesioner yaang direspon oleh 33 UKM di wilayah Gedong Meneng dan sekitarnya, terdapat 9 UKM yang memakai internet untuk membantu bisnis yang dijalankan dan 24 UKM yang tidak memakai atau tidak terhubung dengan internet. Berdasarkan data penelitian, sejumlah alasan dikemukakan oleh UKM yang memakai internet dan yang tidak memakai internet. Alasan-alasan yang dikemukakan oleh UKM yang dijadikan objek penelitian dapat dilihat dari Tabel 3 berikut.

Tabel 3. Pemakaian atau Tidak Pemakaian Internet di UKM

Alasan pemakaian atau tidak pemakaian

Jumlah UKM

Pemakai Bukan Pemakai

Menjaga hubungan dengan pelanggan 4 -

Menginformasikan usaha/bisnis 1 -

Mencari informasi 3 -

Alasan lain 1 -

Tidak membutuhkan internet - 18

Minimnya sumber daya manusia - 2

Beaya internet mahal/keterbatasan dana

- 4

Sumber: Data Primer yang diolah (2012)

(9)

pemasok baru, dan yang lainnya. Adapun 1 UKM menyatakan bahwa mereka memakai internet karena alasan lain yang sifatnya pribadi.

Menurut Tabel 2 di atas, jumlah UKM yang tidak memakai internet justru lebih banyak, yaitu 24 UKM. Sebanyak 18 UKM tidak memakai internet dengan alasan bahwa usaha/bisnis mereka saat ini tidak membutuhkan internet, 2 UKM mengemukakan bahwa mereka tidak memakai internet karena minim sumber daya manusia yang dapat mengoperasikan internet untuk kebutuhan usaha/bisnis mereka. Biaya yang mahal atau terbatasnya dana ternyata juga menjadi kendala bagi UKM untuk mengadopsi internet. Hal ini dibuktikan dengan adanya 4 UKM yang mengemukakan alasan tersebut.

Penelitian ini juga mengungkapkan bahwa dari 24 UKM yang tidak melakukan adopsi internet untuk mendukung usaha/bisnis yang mereka jalankan, terdapat 14 UKM yang menyatakan keinginan untuk melakukan adopsi internet di masa yang adakan datang dengan cara berlangganan internet. Dari 14 UKM tersebut terdapat 6 UKM yang menyatakan bahwa mereka akan berlangganan internet dalam kurun waktu enam bulan ke depan, 6 UKM mengemukakan keinginan bahwa mereka akan berlangganan internet dalam kurun waktu 1 tahun ke depan, sedangkan 2 UKM akan berlangganan internet dalam waktu 2 tahun ke depan. Selain 14 UKM yang menyatakan keinginan untuk melakukan adopsi internet, terdapat 10 yang menyatakan tidak ingin melakukan adopsi. Hal ini dikarenakan menurut mereka, usaha/bisnis yang saat ini dijalankan masih belum membutuhkan internet.

Pengetahuan Tentang TI

Pada penelitian ini, pengetahuan tentang TI yang dimiliki oleh UKM dapat ditampilkan pada Tabel 4 di bawah ini.

Tabel 4. Distribusi Responden Tentang Pengetahuan TI

No. Jawaban Jumlah

1. Ya 23

2. Belum 7

Sumber: Data primer yang diolah, 2012

Sesuai dengan data di atas, terdapat 23 pemilik UKM yang sudah memiliki pengetahuan tentang TI. Kemudian, hanya 7 pemilik UKM yang belum memiliki pengetahuan tentang TIK. Terdapat 3 UKM yang tidak didapatkan jawabannya terkait dengan pertanyaan tentang pengetahuan TIK ini. Pengetahuan tentang TI ini meliputi: pengetahuan tentang perkembangan teknologi komputer, perkembangan teknologi internet, dan sejenisnya.

(10)

membutuhkan internet untuk mendukung kinerja pekerjaan dan usahanya masih dominan (lihat Tabel 3).

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan hasi penelitian, kesimpulan penelitian ini dapat dikemukakan sebagai berikut:

1. Tingkat adopsi komputer di kalangan UKM di wilayah Gedong Meneng terbukti sudah cukup tinggi. Hal ini dibuktikan dari 33 UKM yang diteliti, terdapat 21 UKM yang sudah menggunakan komputer, sedangkan 12 UKM menyatakan belum menggunakan komputer. Kemudian, dari jumlah UKM yang belum menggunakan komputer terdapat 7 UKM yang ingin memiliki komputer untuk menunjang kinerja bisnis yang dijalankan saat ini.

2. Tingkat adopsi internet di kalangan UKM di wilayah Gedong Meneng terbukti masih sangat rendah. Hal tersebut dibuktikan dengan data bahwa dari 33 UKM yang diteliti, terdapat 24 UKM yang belum melakukan adopsi internet dengan berbagai alasan, sedangkan hanya 9 UKM yang sudah melakukan adopsi internet. Meskipun tingkat adopsi internet di kalangan UKM masih rendah, namun UKM tersebut telah menyadari peran dan manfaat teknologi informasi untuk mendukung usaha atau bisnis mereka. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya jumlah UKM yang tertarik untuk melakukan adopsi internet. Dari 24 UKM yang belum melakukan adopsi, terdapat 16 UKM yang berencana untuk melakukan adopsi internet di masa yang akan datang.

3. Pemanfaatan teknologi komputer oleh UKM di wilayah Gedong Meneng masih belum dioptimalkan untuk hal-hal yang memberikan nilai yang lebih strategis bagi perkembangan usaha. Sejumlah UKM yang mengadopsi teknologi komputer memanfaatkan komputer masih sebatas sebagai alat untuk membantu mencetak obyek pada kertas, mimindai, dan memberikan layanan pengetikan kepada pelanggan.

4. Pemanfaatan teknologi internet oleh UKM yang memakai internet di wilayah Gedong Meneng sudah bervariasi, walaupun jumlah UKM pemakai internet masih sangat sedikit. Hal ini menunjukkan bahwa sebenarnya, pelaku bisnis sudah mempunyai pandangan yang lebih strategis dalam upaya memanfaatan teknologi internet, seperti menjaga hubungan dengan pelanggan, menginformasikan usaha/bisnis kepada pihak lain, mencari informasi.

(11)

Sebanyak 6 UKM menyatakan tidak butuh teknologi komputer dan sebanyak 18 UKM tidak membutuhkan internet, walaupun kedua hal tersebut mempunyai potensi yang sangat besar untuk memberikan nilai ekonomis bagi UKM. Kendala kedua adalah mahalnya harga perangkat teknologi informasi seperti komputer dan langganan internet. Hal ini berkaitan dengan keterbatasan dana yang dimiliki oleh UKM. Adapun yang menjadi kendala ketiga adalah minimnya sumber daya manusia pada UKM yang dapat mengoperasikan komputer dan internet.

Saran

Berdasarkan hasil analisis, pembahasan dan kesimpulan dari penelitian ini, terdapat beberapa saran yang dapat dikemukakan sebagai berikut:

1. Bagi regulator (pemerintah), hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan masukan agar pemerintah memberikan edukasi tentang pentingnya teknologi informasi bagi UKM dan memberikan akses penggunaan internet lebih mudah. Akses tersebut dapat berupa jaringan yang lebih luas dan harga yang lebih terjangkau untu kalangan UKM. Akses ini digunakan untuk meningkatkan nilai tambah bagi UKM untuk dapat melakukan kegiatan ekonomi berbasis teknologi informasi.

2. Bagi UKM, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan masukan bahwa pada kondisi yang riil, adopsi teknologi informasi di kalangan UKM masih sangat rendah. Bagi UKM yang terkendala masalah sumber daya manusia yang minim pengetahuannya tentang penggunaan teknologi informasi, maka UKM perlu memperbaiki kualitas sumber daya manusianya agar dapat menggunakan teknologi informasi. Selain itu, UKM juga memperluas pengetahuannya tentang bagaimana teknologi informasi dapat dioptimalkan untuk hal-hal yang mempunyai nilai strategis dan nilai ekonomi yang lebih tinggi bagi usaha.

3. Bagi para peneliti, pada penelitian berikutnya dapat ditambahkan variabel dan atau indikator baru untuk memperkaya dan memperluas instrumen kuesioner, dapat memperluas area cakupan penelitian, misalnya untuk responden dari berbagai daerah di Bnadar Lampung.

DAFTAR PUSTAKA

Apulu, I., Latham, A. Driver for Information and Communication Technology Adoption: A Case Study of Nigerian Small and Medium Sized Enterprises. International Journal of Business and Management, Vol. 6, No. 5, May 2011.

(12)

Berisha-Namani, M. The Role of Information Technology in Small and Medium sized Enterprises in Kosovo. Fullbright Academy Conference Small Places Can Change The World, 2009. Buhalis, D. eAirlines: Strategic and Tactical Use of ICTs in the Airlines Industry. Information and

Management, 41, 805-825, 2003.

Hasyim, J. Information Technology Adption Among SME Owners in Malaysia. International Journal of Business and Information, Vol.2, No. 2, Desember 2007.

Hawk, S. A Comparison of B2C e-commerce in Developing Countries. Electronic Commerce Research, 4, 181-199, 2004.

Hengst, M., Sol, H.G. The Impact of Information and Communication Technology on Interorganizational Coordination: Guidelines from Theory. Informing Science, Special Series on Information Exchange in Electronic Markets, 4, 3, 2001. A Special Series on Information Exchange in Electric Markets, 2001.

Iacovou, C.L., Benbazat, I., Dexter, A.S., Electronic Data Interchange and Small Organizations: Adoption and Impact of Technology, Management Information System Quarterly, 1995. Kartiwi, M., MacGregor, R.C., Electronic Commerce Adoption Barriers in Small to Medium-Sized

Enterprises (SMEs) in Developed and Developing Countries: A Cross-Country Comparison. Journal of Electronic Commerce in Organization, Vo 5, Issue 3. 2007. Maldeni, H.M.C.M., Jayasena, S. Information and Communication Technology Usage and Bank

Branch Performance. The International Journal on Advances in ICT for Emerging Regions (ICTer), 2(2), 29-37, 2009.

Paul, J. Narrowing the Digital Devide: Initiatives Undertaken by the Association of South-East Asia Nation (ASEAN). Program: Electronic Library and Information Systems, 36(1), 13-22, 2002.

Pavic, S., Koh, S.C.L., Simpson, M., Padmore, J. Could e-Business Create a Competitive Advantage in UK SMEs? Benchmarking: An International Journal 14(3), 320-351. 2007 Rahmana, A. Peranan Teknologi Informasi Dalam Peningkatan Daya Saing Usaha Kecil

Menengah. Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Informasi (SNATI), ISSN: 1907-5022, Yogyakarta, 2009.

Roger, E.M. Diffusion of Innovation (4th Edition). New York: The Free Press. 1995.

Seth, J.N., Sharma, A. International e-marketing: Opportunities and Issues. International Marketing Review, 22(6), 611-622. 2005.

Wahid, F., Iswari, L. Adopsi Teknologi Informasi Oleh Usaha Kecil dan Menengah Di Indonesia. Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Informasi (SNATI), ISSN: 1907-5022, Yogyakarta, 2007.

Wood, C.M. Marketing and e-Commerce as tools of Development in the Asia-Pasific: A Dual Path. International Marketing Review, 21(3), 301-320, 2004.

Gambar

Tabel 2. Pemakaian atau Tidak Pemakaian Komputer di UKM
Tabel 3. Pemakaian atau Tidak Pemakaian Internet di UKM

Referensi

Dokumen terkait

Kesimpulan yang kita dapatkan adalah, dengan menggunakan teori momentum yang cukup sederhana ini, kita dapat mendapatkan informasi mengenai kinerja dari

Penelitian ini berjudul FAKTOR - FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRICE BOOK VALUE (PBV) KELOMPOK PERUSAHAAN MANUFAKTUR DI BURSA EFEK INDONESIA TAHUN 2005 - 2007 dan bertujuan

Fakta yang menunjukan bahwa pemulihan ini merupakan satu dari pada tujuan asas dalam sistem pemidanaan Islam ialah pandangan-pandangan fuqaha tentang hukum pengasingan

Dalam perspektif pengelolaan hutan kolektif untuk mendapatkan manfaat lindung hutan bagi masyarakat luas pengelolaan hutan rakyat di lokasi penelitian belum memenuhi

Dalam pelaksanaan penyimpanan dan  penjajaran dokumen rekam medis baik rawat  jalan, rawat inap, maupun gawat darurat yang selesai digunakan pelayanan untuk  pasien atau

Gambaran hiperkontraksi serabut otot jantung tikus wistar yang terpapar arus listrik bolak balik (alternating current) 31-60 mA secara langsung dengan mikroskop cahaya.. Olympus

Gambar 4- 1 Proses Bisnis Usulan Penjualan Bahan Kain Tujuan dari proses bisnis ini yaitu untuk mengetahui suatu proses penjualan bahan kain. Aktor dari proses bisnis input

Metode yang digunakan adalah BSC , untuk mengukur kinerja bisnis / industri dengan 4 perspektif, yaitu perspektif keuangan, pelanggan, proses bisnis dalam perusahaan, dan