• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perencanaan Pembangunan Partisipatif studi kasus

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Perencanaan Pembangunan Partisipatif studi kasus "

Copied!
40
0
0

Teks penuh

(1)

PARTISIPASI MASYARAKAT

DALAM PERENCANAAN

PEMBANGUNAN DAERAH

oleh:

(2)

Definisi Perencanaan

Pembangunan

Menurut UU No. 25 tahun 2004, perencanaan adalah

suatu proses untuk menentukan tindakan masa depan

yang tepat, melalui urutan pilihan, dengan

memperhitungkan sumber daya yang tersedia.

Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional adalah

satu kesatuan tata cara perencanaan pembangunan

untuk menghasilkan rencana-rencana pembangunan

dalam jangka panjang, jangka menengah, dan

tahunan yang dilaksanakan oleh unsur penyelenggara

negara dan masyarakat di tingkat pusat dan daerah.

Perencanaan pembangunan di daerah sebetulnya

tidak terpisah dari perencanaan pembangunan di

(3)

Sinkronisasi Perencanaan dan

Penganggaran (2)

Dalam skema di atas, dapat dilihat keterkaitan antara

beberapa tingkatan perencanaan, serta keterkaitan

antara perencanaan dan penganggaran.

Perencanaan

terkait dengan menentukan prioritas

tindakan untuk mencapai tujuan tertentu.

Penganggaran

menggambarkan bagaimana alokasi

sumber daya yang diperlukan untuk mencapai tujuan

tersebut.

Dilihat dari agenda waktu (

time line

), proses

perencanaan dilakukan sepanjang bulan Januari-April,

sedangkan proses penganggaran dilakukan antara

(4)

Sejak bergulirnya era reformasi 1998, Indonesia telah memulai berbagai inisiatif yang dirancang untuk memperbaiki sistem tata pemerintahan dan desentralisasi, akuntabilitas dan partisipasi yang lebih luas.

Inovasi-inovasi dalam penyelenggaraan tata pemerintahan dan kebijakan publik dalam mendukung sebuah bentuk demokrasi partisipatorik sangat diperlukan

Setidaknya ada lima paradigma baru yang menyebabkan perubahan dan perkembangan pola pikir dalam perencanaan yang juga

menyebabkan perubahan pada produk-produk rencana di Indonesia, yaitu :

Pertumbuhan perekonomian global Orientasi pembangunan

Kemitraan pemerintah dan masyarakat (Public-Private Partnership) Perkembangan sistem dan teknologi informasi

Pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan Bandul pembangunan telah bergerak ke arah tradisi partisipasi.

Prakarsa-prakarsa baru mulai berkembang dalam masyarakat seiring dengan mulai dibukanya ruang-ruang partisipasi bagi masyarakat dan desentralisasi kewenangan dari pemerintah pusat ke pemerintah

daerah.

(5)

Reposisi Peran Pemerintah

Peranan pemerintah pada

masa lalu :

1. Penentu utama arah

pembangunan

2.

“Pakar” yang paling

mengetahui dan “berhak”

menentukan arah

pembangunan

Peranan yang dituntut dari

pemerintah saat ini:

1.

“manajer” perubahan

(menjalankan fungsi

manajerial dan koordinasi)

2. Fasilitator dan katalisator

terciptanya sinergi antar

stakeholders p

embangunan

(6)

Terminologi Pembangunan Partisipatif

Partisipasi merupakan proses anggota masyarakat

sebagai individu maupun kelompok sosial dan

organisasi, mengambil peran serta ikut mempengaruhi

proses perencanaan, pelaksanaan dan pemantauan

kebijakan-kebijakan yang langsung mempengaruhi

kehidupan mereka (Sumarto, 2004)

• “Perencanaan tidak dapat efektif, kecuali bila dilakukan

dengan pengenalan, pemahaman, dan pemanfaatan

struktur kekuatan pemerintah dan non-

pemerintah”

(7)

Kekuatan dan Kelemahan

Perencanaan Partisipatif

Kekuatan (Adams, 2004; Layzer, 2002)

:

Berperan memelihara sistem demokrasi lokal

Menunjukkan dukungan

Mengkritisi isu kebijakan

Menyusun agenda kebijakan

Menunda pengesahan/pemberlakuan suatu kebijakan

Mengembangkan jaringan antar dan antara warga dengan

pejabat terpilih

Menghasilkan solusi lestari dan peduli lingkungan

Kelemahan (Irvin & Stansbury, 2004)

:

Pemborosan sumber daya dalam pembuatan kebijakan

(dalam masyarakat kurang ideal)

Tidak efektif sebagai persuasi rasional (dalam kondisi tertentu)

(8)

Oleh karena itu, Perencanaan Pembangunan

• Dimulai dengan data dan informasi tentang

realitas sosial, ekonomi, budaya dan politik

yang terjadi di masyarakat, ketersediaan

sumberdaya dan visi/arah pembangunan

Critical point-nya adalah

• Menyusun hubungan optimal antara masukan

(input), proses, dan keluaran (output), hasil

(outcome) dan dampak (impact)

Daftar Usulan - “Shopping List”

• Sebanyak-banyaknya

• Seindah-indahnya

• Tidak terbatas

PERENCAAAN DULU PERENCANAAN YANG DIINGINKAN

Rencana Kerja - “Working Plan”

• Input (Rp., Tenaga Kerja, Fasilitas, dll.) • Kegiatan (Proses)

• Hasil nyata: Output, Outcome, Dampak

Tantangan dan Kendala Sinkronisasi

Pembangunan Teknokratis dan Partisipatif

Sinergikan Teknokrasi dan

Partisipasi !!

SPPN

(9)

SPPN

- Tahapan dalam Perencanaan -

Perencanaan pembangunan terdiri dari empat tahapan yakni: (1)

penyusunan rencana; (2) penetapan rencana; (3) pengendalian

pelaksanaan rencana; dan (4) evaluasi pelaksanaan rencana. Keempat

tahapan diselenggarakan secara berkelanjutan sehingga secara

keseluruhan membentuk satu siklus perencanaan yang utuh.

Tahap penyusunan rencana

. Tahap inidilaksanakan untuk

menghasilkan rancangan lengkap suatu rencana yang siap untuk

ditetapkan yang terdiri dari 4 (empat) langkah:

1. Langkah pertama adalah penyiapan rancangan rencana

pembangunan yang bersifat teknokratik, menyeluruh, dan terukur.

2. Langkah kedua, masing-masing instansi pemerintah menyiapkan

rancangan rencana kerja dengan berpedoman pada rancangan

rencana pembangunan yang telah disiapkan.

3. Langkah berikutnya adalah menjaring aspirasi semua pihak yang

berkepentingan (

stakeholders

) dan menyelaraskan rencana

pembangunan yang dihasilkan masing-masing jenjang

pemerintahan melalui musyawarah perencanaan pembangunan

(MUSRENBANG).

(10)

Musyawarah Perencanaan

Pembangunan (Musrenbang)

Forum antar pemangku kepentingan dalam rangka

menyusun rencana pembangunan daerah.

Bentuk pendekatan partisipatif dalam proses

perencanaan pembangunan.

Dilaksanakan dalam kerangka perencanaan jangka

panjang, menengah maupun tahunan.

Dilaksanakan oleh Bappeda dengan mengikutsertakan

pemangku kepentingan.

Dilaksanakan dengan rangkaian kegiatan

penyampaian, pembahasan dan penyepakatan

rancangan awal dokumen perencanaan

(11)

NO REGULASI ASPEK YANG DIATUR

1 UU 25/2004

“SPPN”Tentang Musrenbang untuk penyusunan RPJP Nas dan Daerah, RPJM Nas dan Daerah serta RKP Nas dan Daerah

Koordinasi antar pelaku pembangunan, menjamin keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, dan pengawasan serta mengoptimalkan partisipasi masyarakat

2 UU 23/2004

“Pemerintahan Daerah” Tentang Esensi RPJPD, RPJMD, RKPD, Renstrada Tentang Tahapan, tata cara penyusunan, pengendalian, dan evaluasi pelaksanaan rencana pembangunan daerah

3 SEB 008/M.PPN/01/2007 050/254-A/SJ

Tentang penyelenggaraan Musrenbang yang meliputi persiapan, input, proses, output Musren tahunan

4 PP 8/ 2008 Tentang Musrenbang Penyusunan RPJPD, RPJMD, RKPD

Tentang tahapan tata cara penyusunan, pengendalian, dan evaluasi pelaksanaan rencana pembangunan daerah

5 Permendagri 54/2010 Tentang perencanaan pembangunan desa

LANDASAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH

(12)

12

Fungsi Musrenbang Tahunan

Pemerintah dan Pemerintah Daerah wajib menyusun dokumen

RKP dan

RKPD

sebagai landasan penyusunan RAPBN/RAPBD.

Penyusunan rancangan RKP dilakukan melalui proses

pembahasan yang terkoordinasi antara Kementerian

Perencanaan Pembangunan Nasional/BAPPENAS dengan

seluruh Kementerian/Lembaga dan Pemerintah Daerah melalui

penyelenggaraan Rapat Koordinasi Pusat (Rakorpus)

Penyusunan RKP dan Musrenbang Nasional.

Penyusunan rancangan RKPD dilakukan melalui proses

pembahasan yang terkoordinasi antara Bappeda dengan seluruh

satuan kerja perangkat daerah (SKPD) melalui penyelenggaraan

Musrenbang Daerah

Musrenbang berfungsi sebagai forum untuk menghasilkan

kesepakatan antar pelaku pembangunan tentang rancangan RKP

dan RKPD, yang menitikberatkan pada pembahasan untuk

(13)

13 Forum SKPD

Kab/ Kota

Musrenbang Kab/ Kota Forum SKPD

Provinsi Awal Renja -KL Moneter – BI Renja -SKPD

Provinsi

Renja -SKPD Kab/ Kota

RKP Provinsi

Renja SKPD Provinsi

RKP Kab/ Kota

Renja SKPD Kab/ Kota

Januari Februari Maret April Mei

Proses Penyusunan RKP dan RKPD (Januari – Mei) Provinsi - Desa

Mekanisme Penyelenggaraan Musyawarah Perencanaan Pembangunan dalam Rangka Penyususunan Rencana Kerja Pemerintah (RKP) dan RKP Daerah

Rancangan Interm RKP

(14)

Proses Penyusunan RKP dan RKPD (Januari – Mei) Kecamatan

Mekanisme Penyelenggaraan Musyawarah Perencanaan Pembangunan dalam Rangka Penyususunan Rencana Kerja Pemerintah (RKP) dan RKP Daerah

RPJM Forum SKPD

Kab/ Kota

Renja -SKPD Kab/ Kota

RKP Kab/ Kota

Renja SKPD Kab/ Kota

Januari Februari Maret April Mei

D

(15)

3

Kesepakaan KUA

Keputusan tentang PPAS

Penyusunan RKA-SKPD

Pembahasan Rancangan APBD

Penetapan Perda APBD

Penyusunan RKPD

Musrenbang Kab/ Kota

Forum SKPD

Musrenbang Kecamatan

Musrenbang Desa

Tahapan Perencanaan dan Penganggaran Daerah

(16)

Ruang Partisipasi dalam Proses Perencanaan Reguler

Mekanisme (proses): Tahap Persiapan (1) Masyarakat di tingkat dusun/RW dan kelompok-kelompok masyarakat (seperti misalnya kelompok-kelompok tani, kelompok-kelompok nelayan dan lain-lain)

melakukan musyawarah/rembug, (2)…; Tahap Pelaksanaan: …. (f) Pemaparan masalah utama

yang dihadapi oleh masyarakat desa/kelurahan oleh beberapa perwakilan dari masyarakat, misalnya: ketua kelompok tani, komite sekolah, kepala dusun, dan lain-lain, …..

M

Peserta (who): komponen masyarakat (individu atau kelompok) dari desa/ kelurahan, dan kelompok masyarakat yg beroperasi dalam skala kecamatan seperti: ketua adat, kelompok

perempuan, kelompok pemuda, organisasi masyarakat, pengusaha, kelompok tani/nelayan, dll.

M

Peserta (who): Delegasi kecamatan dan delegasi dari kelompok-kelompok masyarakat di tingkat kabupaten/kota yang berkaitan dengan fungsi/SKPD atau gabungan SKPD al: Dewan

Pendidikan, IDI, dll

Forum SKPD

Peserta (who): Peserta Musrenbang Kabupaten/Kota adalah delegasi dari Musrenbang Kecamatan dan delegasi dari Forum SKPD

M

Peserta (who): Wakil Iainnya dari Kabupaten/Kota yang disepakati Musrenbang Kabupaten/Kota (bila ada)

M

Peserta (who): komponen masyarakat (individu atau kelompok), seperti: ketua RT/RW; kepala dusun, Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM), ketua adat, kelompok perempuan,

kelompok pemuda, organisasi masyarakat, pengusaha, kelompok tani/nelayan, komite sekolah,..

(17)

Isu Umum Perencanaan Partisipatif di Daerah

1. Praktek koordinasi perencanaan mulai desa ke kecamatan

selanjutnya ke kabupaten/kota dan provinsi belum berjalan

baik

2. Program/kegiatan yang dibahas dalam forum koordinasi

perencanaan masih bersifat parsial/belum terintegrasi

3. SEB MPPN/Mendagri tentang Tata Cara Musrenbang Tahun

2007 sudah memberikan landasan perlunya keterlibatan

masyarakat dan legislatif

dalam koordinasi perencanaan, tapi

sejauh ini belum signifikan

4. PP 8/2008 tentang Tata Cara Perencanaan dan Pengendalian

Perencanaan di Daerah telah diterbitkan, sebagai pengaturan

sistem perencanaan pembangunan di daerah

5. Turunan PP 8/2008 yang mengatur

detail mekanisme

Musrenbang

mulai dari desa/kelurahan s/d provinsi,

termasuk

mandat agar daerah mengatur tata cara perencanaan di

daerah, masih dalam proses finalisasi

.

(18)

18

Isu Partisipatif dalam Musrenbang Desa/Kel

1) Belum dilaksanakan Musrenbang desa/kel, jikapun ada masih bersifat ad

hoc/administratif dan outputnya sangat minim dari perencanaan komprehensif (biasanya hanya usulan fisik saja)  tidak ada pelatihan kepada Pemda Desa/ Kel, Kecamatan, Kab (SKPD).

2) Peserta musrenbang yang tidak mewakili kepentingan masyarakat banyak 3) Pertemuan dusun, kelompok warga, adat belum dimanfaatkan sebagai forum

untuk masukan musrenbang desa

4) Belum tersedia dokumen perencanaan (RPJM Desa) sebagai dasar penyusunan RKP melalui Musrenbang

5) Partisipasi masyarakat sangat rendah apatis karena tidak ada ketidakjelasan pendanaan

6) Seringkali usulan desa tidak didanai tetapi masyarakat tidak mendapat informasi alasannya

7) Banyak kegiatan yang menggunakan mekanisme perencanaan yg terpisah-pisah (PPK, P2KP, PPIP, P2DTK), dan sebenarnya dapat menjadi pra

musrenbang desa

(19)

19

Isu Partisipatif dalam Musrenbang Kecamatan

1) Penyelenggaraan musrenbang kecamatan masih bersifat ad hoc, dan masih jauh dari output yang komprehensif dan berkualitas

2) Belum ada dokumen perencanaan jangka menengah (Renstra Kecamatan) sebagai dasar musrenbang kecamatan dan penyusunan Renja Kecamatan 3) Peserta kurang mewakili masyarakat secara luas

4) Partisipasi masyarakat masih rendah

5) Isu-isu pembangunan yang dibahas hanya dalam batas desa, kurang menimbulkan kebutuhan antar desa (wilayah kecamatan)

6) Output masih sebatas mengumpulkan usulan desa. 7) Belum disusun prioritas-prioritas pembangunan

8) Hasil Musrenbang Kecamatan belum diinformasikan kepada masyarakat

Isu Partisipatif dalam Forum SKPD Kab/Kota

1) Forum SKPD (Forum Gabungan SKPD) tidak diselenggarakan dengan baik 2) Forum ini diharapkan bisa membahas isu-siu menonjol di daerah misalnya

tentang ketahanan pangan, penanggulangan kemiskinan, pendidikan, kesehatan dll

3) Dalam forum ini bisa diselenggarakan Forum SKD Bidang Penanggulangan Kemiskinan, SKPD yang berkaitan dengan isu ini bisa membentuk Forum SKPD untuk Penanggulangan kemiskinan

(20)

20

Isu Partisipatif dalam Musrenbang Kab/Kota

1) Peserta masih dari unsur pemerintah, unsur masyarakat belum dihadirkan, jikapun ada sangat terbatas dan tidak aktif memberikan pendapat/ masukan. 2) Usulan kecamatan belum diakomodir dengan baik. Seharusnya sudah ada

pematangan pada forum SKPD Kab/Kota dimana seharusnnya dari unsur masyarakat/ pemerintah kecamatan yang berkaitan dengan SKPD tersebut diundang)

3) Tidak adanya ancar-ancar alokasi SKPD Prov pada kab/kota tersebut sebagai bahan untuk kab/kota melakukan sinkronisasi

4) Hasil Musrenbang belum diinformasikan kepada masyarakat

Isu partisipatif dalam Musrenbang Provinsi

1) Peserta musrenbang provinsi masih terbatas pada unsur pemerintah 2) Pembahasan kurang transparan

3) Tidak tersedia bahan ancar-ancar alokasi K/L pada provinsi tersebut

4) Kurang terjadi sinkronisasi secara baik antara usulan/kepentingan kab/kota, provinsi dan pusat

(21)

21

Perencanaan pembangunan daerah merupakan bagian yang tidak

terpisahkan dari sistem perencanaan pembangunan nasional yang diatur

dalam UU No. 25 Tahun 2004.

Menurut UU ini, ada dua entitas penyusun rencana pembangunan, yaitu:

Pemerintah Daerah (Provinsi, Kabupaten, dan Kota), yang dikoordinasikan oleh Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah – Bappeda (UU25-Pasal 33 ayat (2)).

Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) sesuai dengan tugas dan kewenangannya (UU25 Pasal 33 ayat (3))

DPRD

memegang peranan penting dalam proses perencanaan

pembangunan, baik sebagai Representasi Suara Rakyat maupun

sebagai fungsi Regulator pembangunan.

 Sebagai Representasi Suara Rakyat, DPRD wajib memastikan bahwa

aspirasi rakyat terakomodir dalam pembangunan; termasuk dlm RKP, Renja SKPD

 Sebagai Regulator Pembangunan, DPRD berkewajiban menyusun

Peraturan-Peraturan Daerah yang mencerminkan kebutuhan dan aspirasi masyarakat.

(22)

Peran dan Fungsi DPRD

1) Pentingnya keterlibatan DPRD dalam Musrenbang khususnya

dan semua tahapan proses perencanaan pada umumnya

jadual waktu reses perlu disinkronkan

dengan jadual

Musrenbang dan kalender perencanaan dan penganggaran

daerah

2) Keterlibatan aktif dari komisi, komite DPRD yang relevan

dalam

diskusi, peninjauan, dan evaluasi usulan masyarakat

dalam musrenbang

3) Kebutuhan dan aspirasi

masyarakat disuarakan dalam

Musrenbang dan memberikan masukan atas prioritas program

berdasarkan prioritas kebutuhan masyarakat

4) Memastikan terdapatnya konsistensi dan keseimbangan antara

program dan anggaran tahunan daerah dengan

penanggulangan kemiskinan

(23)

Peran dan Fungsi Lembaga Non-Pemerintah

1) Pengembangan koalisi strategis dan jaringan yang efektif untuk

mempengaruhi pengambilan keputusan dalam proses perencanaan dan penganggaran di daerah untuk menerapkan penganggaran partisipatif 2) Menjadi fasilitator Musrenbang

3) Memberikan advokasi, pelatihan, pendampingan, penelitian dan analisis anggaran

4) Menyediakan dan meningkatkan akses masyarakat pada informasi perencanaan dan penganggaran agar mereka lebih peduli dan aktif berkontribusi dalam prosesnya

5) Menciptakan forum publik untuk mendorong pembahasan APBD sebelum APBD disetujui dan disahkan

6) Melakukan kampanye untuk mendorong tranparansi anggaran

7) Memantau dan mengevaluasi anggaran dan kinerja pelayanan publik

8) Membantu DPRD untuk melakukan tinjauan dan penilaian terhadap dampak anggaran yang diusulkan oleh pemerintah daerah, terutama dampak

anggaran terhadap usaha pengentasan kemiskinan dan penerapan SPM

9) Bekerjasama dengan media untuk memastikan tujuan perencanaan dan penganggaran partisipatif, proses, dan hasilnya dipublikasikan lebih baik

(24)

Integrasi Proses Perencanaan Reguler Musrenbang

ke dalam Perencanaan Tahunan Daerah

2. Rencana Program Masyarakat:

Integrasi dari:

• Program Swadaya Murni (skala kecil)

• Program Swadaya + Program Khusus Penanggulangan Kemiskinan berbasis

pemberdayaan(skala menengah, lingkup desa/kel)

• Program Swadaya + Pemda, swasta dll (skala besar atau minimal skala lintas desa/kel)

1. Identifikasi Masalah, Potensi dan Kebutuhan Masyarakat

3. Rencana Program Desa/Kel:

Integrasi dari:

• Rencana Masyarakat

• Rencana Pemerintah Desa/Kel

• Rencana Kelompok Peduli (Swasta, LSM, dll) tingkat desa/kel

4. Rencana Program Kecamatan:

Integrasi dari:

• Rencana Masyarakat lintas desa.

• Rencana Pemerintah Kec.

• Rencana Kelompok Peduli (Swasta, LSM, dll)

• Jaring Asmara (Legislatif)

5. Rencana Program Kota/Kabupaten:

Integrasi dari:

• Rencana Masyarakat lintas kec.

• Rencana Pemerintah kota/kabupaten

• Rencana Kelompok Peduli (Swasta, LSM, dll) tkt kota/kab

• Rencana Legislatif

Review Berkala

(25)

Integrasi Perencanaan PNPM dalam Perencanaan

Reguler Musrenbang

MUSRENBANG

(PRA – PASCA)

Perencanaan

Partisipatif

Perencanaan

Teknokratis

Kegiatan Dana

APBD/N

Kegiatan yang

didanai sumber

lain

Proses Musrenbang yang sensitif konflik

Hasil Musrenbang/ kegiatan yang sensitif konflik

Proses Perencanaan

Tahunan dari sumber lain

Hasil Perencanaan

Partisipatif dari sumber

(26)

1) Pemerintah Daerah diamanatkan untuk menyusunan Perda tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Daerah sesuai pasal 27 ayat 2 UU 25/2004, untuk memperkuat mekanisme perencanaan partisipatif dalam Proses Musrenbang 2) Proses Musrenbang perlu disepakati sebagai tulang punggung (backbone)

perencanaan partisipatif di daerah, melalui pelibatan berbagai stakeholders

secara luas (utamanya DPRD), yang tidak hanya project-oriented planning process

3) Proses Musrenbang reguler perlu diletakkan dalam konteks yang dinamis, melalui pengembangan berbagai konten khusus yang dibahas, misalnya Pro-poor Planning (PNPM), Conflict Sensitive Planning (di daerah pascakonflik), Disaster Risk Sensitive Planning (di daerah rawan bencana)

4) Perencanaan partisipatif yang bersumber dari sumber pendanaan khusus (seperti PNPM), perlu diintegrasikan dengan proses perencanaan reguler Musrenbang, secara harmonis dan sinergis, dengan mengoptimalkan unsur masukan, proses dan keluaran dari proses perencanaan partisipatif yang difasiltasi bersama

Diperlukan Regulasi yang Progresif dalam Mengatur

Mekanisme Perencanaan Partisipatif di Daerah

(27)

27

PENGANGGARAN PARTISIPATIF

Penganggaran Partisipatif dapat diartikan

sebagai: “

mekanisme (atau proses)

melalui mana penduduk secara langsung

memutuskan atau berkontribusi terhadap

keputusan yang dibuat mengenai semua

atau sebagian sumber daya publik

(anggaran) yang tersedia” (UNDP, 2000)

.

(28)

28

Karakteristik:

– fokus pada masalah yang spesifik dan terukur (tangible),

– pelibatan orang kebanyakan dan

– pengembangan wahana musyawarah untuk memecahkan masalah, merencanakan program investasi dan mengalokasikan anggaran.

Reformasi kelembagaan yang dibutuhkan

– devolusi dalam pengambilan keputusan kepada unit/kelembagaan lokal yang akan diperkuat –ini adalah salah satu strategi praktis dalam

pendalaman demokrasi,

– distribusi sumber daya dan komunikasi yang menghubungkan unit-unit satu sama lain kepada pihak yang memiliki otoritas formal, dan

– pemanfaatan lembaga-lembaga pemerintahan untuk mendukung dan membimbing pemecahan masalah secara terdesentralisasi.

(Sumber: Fung, Archun and Erik Olin Wright. (2000).

Thinking about Empowered Participatory Governance)

(29)

29

PENGANGGARAN PARTISIPATIF

Justifikasi:

• Ahli dan birokrat tidak memiliki seluruh informasi yang memadai untuk membuat kebijakan, karena itu optimasi sumber daya publik (pareto optimum) hanya terjadi dalam proses-proses sosial yang adil (Majone, 1989; Kooiman, 1993).

• Partisipasi dalam pembuatan kebijakan publik –termasuk kebijakan anggaran- merupakan cara untuk meningkatkan kualitas demokrasi

(deepening democracy) (Utzigh, 2003).

– Demokrasi langsung sebagai pelengkap demokrasi tidak langsung (pemilihan umum)

• Kepemilikan pemerintahan (Hillary Wright, 2004).

– Dapat terjadi jika pemerintah terus-menerus menjalin kontak langsung dengan masyarakat ketika harus menentukan alternatif pilihan hidup.

• Partisipasi dapat meningkatkan kinerja pemerintahan.

– Asimetri informasi merupakan penyebab utama terjadinya korupsi

(30)

30

PENGANGGARAN PARTISIPATIF

Studi Empirik

• Menguatnya fenomena warga aktif (active citizen) dan terjadinya pembelajaran publik

• Alokasi anggaran yang berorientasi pada masyarakat miskin

• Peningkatan kesadaran warga untuk membayar pajak

• hubungan antara pemerintah dan komunitas pengusaha jadi makin transparan

Kritik

• Karena terfokus pada proyek-proyek pekerjaan umum, banyak partisipan yang tidak tertarik pada kebijkan sosial yang lebih luas

• Terlalu berorientasi pada pembangunan jangka pendek atau paling jauh jangka menengah

• Terlalu menekankan pada isu-isu lokal

(31)

31

PERAN WARGA, PEMERINTAH DAN DPRD DALAM

PENGANGGARAN PARTISIPATIF

Eksekutif

• Penyediaan data dan

Informasi

• Asistensi Teknis

• Pelaksanaan & Monev

Legislatif

• Regulasi

• Pengawasan

Masyarakat Sipil/Komunitas

Konsolidasi partisipan

Agregasi kepentingan

Memilih preferensi

Memilih delegasi

Monev

• Nota Kesepatakan

• Pembahasan RAPBD

• Penetapan APBD

• Pengambilan

keputusan

• Kesepatakatan

• Komunikasi politik

- Penetapan Matrik Prioritas (berdasarkan tujuan yang akan dicapai)

- Rencama Investasi

(32)

32

PELUANG DAN TANTANGAN PERENCANAAN DAN

PENGANGGARAN PARTISIPATIF DI DAERAH

Peluang:

Adanya kerangka regulasi yang mengatur tentang: (1) desentralisasi; (2) pilkada langsung; (3) perencanaan; dan (4) penganggaran.

Adanya inisator partisipasi masyarakat, baik dari NGO, forum warga bahkan dari pemerintah.

Di beberapa daerah telah terdapat pemerintah yang progresif.

Daerah memiliki peluang untuk menyusun sistem perencanaan dan penganggaran melalui Perda.

Adanya peluang bagi terbentuknya jaringan kerja antara masyarakat,

pemerintah dan DPRD dalam pengembangan perencanaan dan penganggaran.

Sistem Pergantian kepala daerah yang dapat mengubah komitmen terhadap partisipasi publik dalam perencanaan dan penganggaran.

Tantangan:

Terdapatnya hambatan struktural bagi partisipasi masyarakat, khususnya masyarakat miskin.

Birokrasi cenderung memblok partisipasi masyarakat karena dapat mengancam kepentingan mereka untuk memboroskan anggaran.

(33)

33

PROSES PERENCANAAN & PENGANGGARAN DAERAH MENURUT UU 17/03 & UU 25/04

Bulan Bappeda SKPD W alikota DPRD

Februari

RKPD Renja SKPD

RKPD membahas RKA

-SKPD

KUA, Prioritas, & Plafon

(34)

34

PENGANGGANGARAN PARTISIPATIF:

MUNGKINKAH?

Musrenbang merupakan wahana yang

disediakan UU untuk perencanaan

RKA-SKPD merupakan wahana potensial

untuk penganggaran

Dengan melibatkan delegasi yang telah dipilih

dalam Musrenbang untuk terlibat dalam

proses penyusunan anggaran

– Atau melembagakan „Komite/Dewan

(35)

35

PRAKTEK MUSRENBANG

• Musrenbang lebih dianggap sebagai „event‟.

Jumlah program yang diusulkan melebihi estimasi anggaran.

Program yang diusulkan dalam perencanaan partisipatif bersifat

mikro (skala desa/komunitas).

Proses perencanaan banyak fokus pada kegiatan yang bersifat

teknis dialog yang bersifat substantif antar partisipan tidak terjadi.

Banyak SKPD tidak berpartisipasi dalam forum-forum

forum

dianggap tidak strategis.

SKPD sektor lebih merujuk pada rencana yang telah disusun secara

top-down.

Tidak terjadi pelembagaan delegasi -

delegasi dibajak oleh

birokrasi

Informasi, monitoring, dan evaluasi di tingkat komunitas tidak

berjalan.

Proses dan dokumen perencanaan tumpang tindih (redundan).

Lembaga perencanaan tidak terintegrasi dengan penganggaran

(36)

36

REKOMENDASI

SKPD

Renstra/

Renja Kerangka Regulasi

Kerangka

Anggaran RKA APBD

Mekanisme Partisipasi:

1 Forum Komunitas, 2 Dewan/Komite

Sektoral.

3 lembaga-lembaga adat, dll

Bappeda

DPRD

Aspirasi Konstituen

Catatan: Untuk pembangunan skala desa dialokasikan ADD

Kesepakatan Kesepakatan

(37)

37

BEBERAPA SYARAT PERLU

Isu Kondisi Perlu

Informasi anggaran

 Harus ada informasi mengenai prioritas dan perkiraan alokasi

anggaran untuk pembangunan pada tahun perencanaan (spasial dan sektoral).

Alur proses  Harus ada hubungan yang langsung antara proses perencanaan

dan proses penganggaran. Perencanaan partisipatif juga dilaksanakan untuk perencanaan jangka menengah.

Waktu  Sekuens penyusunan dokumen perencanaan, penganggaran,

dan politik (jadwal pertemuan DPRD dengan konstituen ) sinkron.

Komitmen Pejabat

 Proses perencanaan harus berdampak langsung pada sektor,

sehingga pejabat berwenang hadir dalam proses-proses penting perencanaan dan penganggaran.

Metode konversi

 Harus ada diskusi yang mendalam dan verifikasi antara

(38)

38

BEBERAPA SYARAT PERLU

Isu Kondisi Perlu

Format yang digunakan

 Harus ada format dan sistem informasi mengenai proses

konversi usulan dari wilayah ke sektor untuk menjamin kelancaran proses perencaanaan berikutnya dan meningkatkan akuntabilitas.

 Proses pendokumentasian perencanaan dan penganggaran

kalau bisa dilakukan secara digital dan tidak menyebabkan terjadinya interpretasi yang berbeda antar para pelaku.

Kapasitas Masyarakat

• Masyarakat memiliki kemampuan membaca data dan

informasi mengenai prioritas pembangunan dan anggaran.

• Mampu mengkonsolidasi diri untuk segera masuk dalam

proses-proses pembuatan kebijakan.

• Kepemimpinan masyarakat sipil yang berorientasi pada

komunitas pemilihnya Representasi

dan kontrol masyarakat

 Partisipan dapat memilih delegasi yang berasal dari

kelompoknya,

 Delegasi harus terlibat dalam proses penganggaran.

Kapasitas  Fasilitator harus mampu membedakan program yang relevan

(39)

PROSES / ALUR PERENCANAAN DAN PENGANGGARAN

musdus musdus

Penjaringan

Musdes Musyawarah BPD

APB Desa Perubahan

APB Desa Perhitungan

APB Desa

PELAKSANAAN APB Desa

LKPJ

SEKALA DESA

Penyusunan draf APB Desa

SKALA KABUPATEN

RAPBD EKS+

DPRD PENGELOMPOKAN

(40)

Referensi

Dokumen terkait

[r]

Tentukan suku-suku yang sejenis pada bentuk aljabar berikut inia. Tentukan koefisien, variable dan konstanta dari bentuk

Membuat Website Toko Online dengan PHP dan MYSQL.. Aplikasi Bisnis dengan PHP dab

Kemudian, penulis mengkontraskan kalimat imperatif dalam bahasa Inggris dan bahasa Saluan dengan menggunakan teori Lado (1971), ia mengatakan bahwa analisis kontrastif

Dari beberapa masalah yang telah diuraikan diatas, peneliti lebih tertarik meneliti tentang kemampuan membaca nyaring Siswa Disleksia Sekolah Luar Biasa Pelita

Ketika sebuah switch menerima paket, switch menempatkan paket tersebut ke dalam antrian paket di port masuk. Kemudian switch akan mengecek paket pertama dan mencocokan

Karena Indonesia adalah sebuah negara dan sebuah negara memerlukan sebuah ideologi untuk menjalankan sistem pemerintahan yang ada pada negara tersebut, dan masing-masing negara

Dengan menggunakan tiga indikator status kesehatan, angka kematian bayi, angka kematian dibawah 5 tahun dan angka harapan hidup, Mohanoe (2004) menemukan bahwa