Memprediksi Tingkat Obligasi Perusahaan Manufaktur yang Listing di BEI
Luky Susilowati1 dan Sumarto2 1Progdi Manajemen Fakultas Ekonomi, UPN “Veteran” Jatim 2Pascasarjana Magister Manajemen
UPN “Veteran” Jatim Email: [email protected], [email protected]
Abstract: All investor that will invest in capital market shall own the investment planning which effective started from existence of attention to balance of risk and result to be obtained. One of way of to see the risk in obligation attend to obligation grade of the company which have been publicized by institute which giving the grade of national share like PT. PEFINDO.This research aim to analyze the Profitability, Liquidity And Size Company influence as well as analyzing the difference of the Obligation time (Maturity) to predict obligation grade in the future at manufacturing business enlisted in BEI. Data used is secondary data by using sample as much 11 manufacturing business which enlist in BEI in period 2002 – 2006. To fulfill research target, hypothesis tested with the analysis of regression Logistics. From wald test that from fourth of the independent variable, only one variable which significant with significant value 0,05 that is Liquidity. While other independent variable do not significant.
Key works: Obligation grade, profitability, liquidity, size, maturity. PENDAHULUAN
Perusahaan yang memasuki pasar modal bertujuan untuk mendapatkan dana yang berasal dari para investor agar mampu meningkatkan kinerja perusahaan. Investor menanamkan modal dengan harapan dapat memperoleh manfaat atau hasil dari penanaman modalnya di masa yang akan datang. Dalam hal melakukan investasi ada beberapa alternatif yang dapat dilakukan investor, salah satu alternatif yang ditawarkan oleh perusahaan dalam pasar modal adalah obligasi.
sisi yaitu dari sisi emiten/perusahaan maupun dari sisi investor. Dari sisi emiten, diterbitkannya obligasi pada dasarnya adalah untuk mendapatkan dana dalam menunjang aktivitas perusahaan, karena obligasi merupakan salah satu alternatif pendanaan yang relatif lebih murah dibandingkan dengan pinjaman dari pihak lain. Sedangkan dari sisi investor, investasi pada obligasi merupakan alternatif yang aman, karena obligasi memberikan penghasilan tetap berupa kupon bunga yang dibayar secara tetap dengan tingkat bunga yang kompetitif serta pokok utang yang dibayar secara tepat waktu pada saat jatuh tempo yang telah ditentukan.
Sebelum ditawarkan obligasi dianalisis dengan menggunakan peringkat obligasi oleh agen pemeringkat obligasi (Rating Agency). Agen pemeringkat obligasi adalah lembaga independen yang memberikan informasi peringkatan skala risiko yang dapat menunjukkan keamanan
suatu obligasi bagi investor. Keamanan tersebut ditunjukkan oleh kemampuan suatu perusahaan dalam membayar bunga dan melunasi pokok pinjaman. Proses peringkatan ini dilakukan untuk menilai kinerja perusahaan, sehingga pemeringkat obligasi dapat menyatakan layak tidaknya obligasi tersebut diinvestasikan.
Pemilik modal yang berminat membeli obligasi seharusnya memperhatikan peringkat obligasi karena peringkat obligasi akan memberikan informasi dan signal tentang probabilitas kegagalan utang suatu perusahaan dan menggambarkan kemampuan perusahaan dalam menyelesaikan kewajibannya dimasa yang akan datang. Peringkat obligasi merupakan skala resiko dari semua obligasi yang diperdagangkan. Selain itu investor juga memerlukan pengetahuan yang cukup tentang obligasi dan mempunyai daya analisis yang baik dalam memperkirakan faktor-faktor yang bisa mempengaruhi investasi pada obligasi.
Di Indonesia terdapat dua lembaga pemeringkat sekuritas utang, yaitu PT. PEFINDO (Pemeringkat Efek Indonesia) dan PT. Kasnic Credit Rating Indonesia. Penelitian mengenai obligasi masih jarang dilakukan di Indonesia terutama mengenai penggabungan kemampuan faktor-faktor akuntansi dan non akuntansi dalam memprediksi peringkat obligasi. Padahal akhir-akhir ini penerbitan obligasi mulai marak dan mulai banyak obligasi perusahaan yang secara konsisten terdaftar dalam peringkat obligasi perusahaan yang dikeluarkan oleh agen PEFINDO.
Gejolak pasar finansial yang kian tak menentu di tengah perlambatan laju ekonomi global membuat nyali investor dan pelaku usaha ciut. Tak terkecuali para manajemen korporasi yang berniat menerbitkan surat utang (obligasi) tahun ini. Minat obligasi yang memuncak di awal tahun pun perlahan berkurang. Akibatnya, prediksi pasar obligasi bakal booming tahun ini terancam tidak tercapai. Sampai saat ini memang tidak ada yang bisa secara tepat memprediksi penerbitan obligasi. Minat investor akan obligasi memang cenderung menurun, namun masih tetap ada. Hal ini tergantung pada arus keluar masuk modal dipasar keuangan.
pada tahun 2005 yang hanya mencapai 5,6% dari target semula membawa berita buruk bagi pasar obligasi. Empat emiten obligasi menyatakan default (gagal bayar). Keempat emiten tersebut adalah PT. Great River Internasional Tbk (GRI) dan anak perusahaannya, PT. Inti Fasindo Internasional Tbk (IFI), PT. Bahtera Adimina Samudera Tbk (BAS), dan PT. Barito Pasifik Timber Tbk (BPT). Nilai obligasi keempat perusahaan tersebut mencapai Rp 900 miliar. BAS dianggap default karena tak sanggup membayar penyisian dana untuk sinking fund atas obligasi Rp 10 miliar. Dana cadangan untuk membayar pokok obligasi itu seharusnya disisihkan pada 5 Juni 2004. GRI gagal membayar kupon obligasi Great River I Tahun 2003 senilai Rp 11 miliar pada 13 Januari 2005. Sementara IFI belum membayar sinking fund senilai Rp 17 miliar atas obligasi Inti Fasindo Internasional I Tahun 2002 pada 6 Januari 2005. Sedangkan BPT tidak mampu membayar kupon obligasi atas Barito Pasifik Timber I Tahun 2002 senilai Rp 33 miliar sesuai yang telah ditetapkan yaitu pada 10 Januari 2005.
Akibatnya, dua lembaga peringkat nasional, PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) dan PT Kasnic Kredit Rating Indonesia (Kasnic) menurunkan rating keempat emiten obligasi ini. Rating IFI menjadi CCC dari BB+, BPT menjadi D (default) dari CCC, BAS dari BB menjadi B- dengan outlook negatif, dan GRI menjadi BB dari sebelumnya BBB+. Sebagai perusahaan yang go public harus menerima kenyataan bahwa gagalnya pertumbuhan industri akan memperlemah kondisi likuiditas perusahaan yang akibatnya akan menurunkan peringkat obligasi perusahaan tersebut.
Berdasarkan data yang didapat dari ICMD (Indonesia Capital Market Directory) pada tahun 2002-2006 terbukti bahwa pada tahun 2005 likuiditas beberapa perusahaan manufaktur yang dilihat dari rasio lancar mengalami penurunan. Adanya penurunan likuiditas pada tahun 2005 akan berpengaruh terhadap peringkat obligasi pada tahun 2005 yang diterima oleh perusahaan manufaktur.
Beberapa variabel yang diduga dapat mempengaruhi peringkat obligasi mengacu beberapa model penelitian terdahulu. Beberapa penelitian sebelumnya menggunakan faktor-faktor rasio keuangan diantaranya: Horigan (1996); Pinches & Mingo (1973; 1975); Kaplan & Urwitz (1979); Chan & Jagadeesh (2003); Nurhasanah (2003) dan Kesumawati (2003), Maylia (2004). Peneliti termotivasi melakukan penelitian karena menurut Burton (2003) size/ukuran perusahaan, likuiditas yang diukur menggunakan rasio lancar dan profitabilitas yang di ukur dengan ROA, juga merupakan faktor yang mempengaruhi prediksi peringkat obligasi belum pernah diteliti di indonesia. Penelitian Andry (2005) yang menggunakan variabel non akuntansi seperti maturity/umur obligasi akan mempengaruhi prediksi peringkat obligasi dan menyimpulkan bahwa perusahaan yang memiliki umur obligasi kurang dari 5 tahun akan berada pada peringkat obligasi investment grade (posisi obligasi dimana kemampuan emiten obligasi tinggi sehingga mempunyai resiko kegagalan atau resiko gagal bayar kecil).
Berdasarkan beberapa uraian di atas, dan adanya faktor-faktor profitabilitas, likuiditas, ukuran perusahaan dan umur obligasi maka menarik minat peneliti untuk melakukan penelitian dengan tujuan : a. Menganalisis pengaruh profitabilitas dalam prediksi peringkat
obligasi perusahaan
manufaktur listing di BEI. b. Menganalisis pengaruh likuiditas dalam prediksi peringkat obligasi perusahaan manufaktur
listing di BEI. c. Menganalisis pengaruh ukuran perusahaan (size) dalam prediksi peringkat obligasi
perusahaan manufaktur listing di BEI. d. Menganalaisis pengaruh umur obligasi (maturity) dalam prediksi peringkat obligasi
Peringkat Obligasi
Menurut Foster (1986) dalam Andry (2005) rating atau peringkat obligasi merupakan sebuah pernyataan tentang keadaan pengutang dan kemungkinan apa yang bisa dan akan dilakukan sehubungan dengan utang yang dimiliki. Dan dapat dikatakan bahwa rating mencoba mengukur resiko default, yaitu peluang emiten atau peminjam akan mengalami kondisi tidak mampu memenuhi kewajiban keuangan.
Menurut Darmadji & Fakhruddin (2001) pemeringkat obligasi adalah perusahaan swasta yang melakukan peringkat/rangking atas efek yang bersifat utang (obligasi). Tujuan pemeringkatan adalah untuk memberikan pendapat (independent, obyektif, dan jujur) mengenai resiko suatu efek utang. Di Indonesia terdapat dua lembaga yang berperan sebagai Pemeringkat Efek yaitu PT PEFINDO dan PT Kasnic Duff & Phelps Credit Rating Indonesia (DCR).
Luky S. & Sumarto
Menurut PT. PEFINDO peringkat obligasi dikategorikan dan
didefinisikan sebagai berikut: a. AAA→Efek utang yang peringkatnya paling tinggi dan beresiko paling rendah yang didukung oleh
kemampuan obligor yang superior relatif dibanding entitas Indonesia lainnya untuk memenuhi kewajiban jangka panjangnya sesuai dengan perjanjian. b. AA→Efek utang yang memiliki kualitas sedikit
dibawah peringkat tertinggi, didukung oleh kemampuan obligor yang sangat kuat untuk memenuhi kewajiban financial jangka panjangnya sesuai dengan perjanjian, dan tidak mudah dipengaruhi oleh
perubahan keadaan. c. A→Efek utang yang beresiko investasi rendah dan memiliki kemampuan dukungan obligor yang kuat dibanding entitas Indonesia lainnya untuk memenuhi kewajiban financialnya sesuai dengan perjanjian namun cukup peka terhadap perubahan yang merugikan. d. BBB→Efek utang yang beresiko investasi cukup
rendah didukung oleh kemampuan obligor yang memadai untuk memenuhi kewajiban financialnya sesuai dengan perjanjian namun kemampuan tersebut dapat diperlemah oleh perubahan keadan bisnis dan perekonomian yang merugikan. e. BB→Efek utang yang
menunjukkan dukungan obligor yang agak lemah relatif dibanding entitas Indonesia lainnya untuk memenuhi kewajiban financial jangka panjangnya sesuai dengan perjanjian serta peka terhadap keadaan bisnis dan perekonomian yang tidak menentu dan merugikan. f. B→Efek utang yang menunjukkan parameter perlindungan yang sangat lemah. Walaupun obligor masih memiliki kemampuan untuk memenuhi kewajiban financial jangka panjangnya, namun adanya perubahan keadaan bisnis dan perkonomian yang merugikan akan memperburuk kemampuan tersebut untuk memenuhi kewajiban
financialnya. g. CCC→Efek utang yang tidak mampu ladi memenuhi kewajiban financialnya serta hanya
bergantung kepada perbaikan keadaan eksternalnya. h. D→Efek utang yang macet atau emitennya sudah berhenti berusaha.
Profitabilitas
Menurut Sugiyarso & Winarni (2005), profitabilitas adalah
(profitabilitas) pada tingkat penjualan, asset, dan modal saham tertentu. Menurut Darsono dan Ashari (2004) ada tiga rasio yang sering digunakan untuk menghitung rasio profitabilitas yang sering dibicarakan, yaitu : a. Net Profit Margin, Return on Asset (ROA), Return on Equity (ROE)
Salah satu indikator penting diperhatikan untuk menilai peringkat obligasi di masa datang adalah dengan melihat sejauh mana pertumbuhan profitabilitas perusahaan. Indikator ini sangat penting diperhatikan untuk mengetahui investasi yang akan dilakukan investor di suatu perusahaan mampu memberikan return yang sesuai dengan tingkat yang disyaratkan investor, salah satunya dengan menggunakan ROA (Tandelilin, 2001). Selain itu Burton (2003) menyatakan bahwa tingkat profitabilitas yang lebih tinggi menurunkan resiko insolvency (ketidakmampuan membayar hutang), akibatnya rating obligasi perusahaan
tersebut akan semakin baik. Pengukuran dari profitabilitas yang diinterpretasikan dengan ROA memberikan pandangan manajemen untuk mengendalikan pengeluaran secara efektif. b. Likuiditas Menurut Sugiyarso & Winarni (2005), likuiditas adalah kemampuan perusahaan untuk membayar kewajiban financial jangka pendek tepat pada waktunya. Sedangkan menurut Mamduh & Halim (2000), rasio likuiditas mengukur kemampuan likuiditas jangka pendek perusahaan dengan melihat aktiva lancar perusahaan terhadap hutang lancarnya (hutang dalam hal ini merupakan kewajiban perusahaan). Analis
keuangan dapat menggunakan beberapa rasio likuiditas untuk menilai apakah perusahaan mempunyai kemampuan untuk membayar
kewajiban-kewajibannya yang segera jatuh tempo, (Tandelilin, 1991). Dua rasio likuiditas jangka pendek yang sering digunakan adalah : c. Rasio Lancar (Current Ratio), Rasio Quick (Quick Ratio)
Rasio likuiditas merupakan kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Salah satu alat yang dipakai untuk mengukur likuiditas adalah dengan menggunakan rasio lancar (current ratio). Menurut Arifin (2005) menyatakan bahwa perusahaan yang
variabel total asset pada saat mengemisi obligasi. Semakin besar total asset maka semakin tinggi peringkat obligasi perusahaan tersebut. Umur Obligasi (Maturity)
Jatuh tempo (maturity) adalah tanggal dimana pemegang obligasi akan mendapatkan pembayaran kembali pokok atau nilai yang dimilikinya. Periode jatuh tempo obligasi bervariasi mulai dari 365 hari sampai dengan diatas 5 tahun. Obligasi yang jatuh tempo dalam waktu 1 tahun akan lebih mudah untuk di prediksi, sehingga memiliki resiko yang lebih kecil dibandingkan dengan obligasi yang memiliki periode jatuh tempo dalam waktu 5 tahun.
Diamond (1991) Menemukan bukti kuat adanya hubungan antara struktur debt maturity dan kualitas kredit untuk perusahaan yang tercantum dalam pengumuman rating. Perusahaan yang rating obligasinya tinggi menggunakan term debt yang lebih pendek, sebaliknya perusahaan yang ratingnya rendah menggunakan term debt yang lebih lama.
Menurut Mark & David (1996) dalam penelitian Andry (2005) menyatakan bahwa perusahaan yang peringkat obligasinya obligasinya tinggi menggunakan umur obligasi yang pendek. Sedangkan menurut Rahardjo (2003) menyatakan bahwa suatu obligasi yang
mempunyai masa jatuh tempo yang lama akan meningkatkan resiko investasi karena dalam periode yang cukup lama, risiko kejadian buruk atau peristiwa yang menyebabkan kinerja perusahaan menurun bisa saja terjadi. Oleh karena itu obligasi dengan umur jatuh tempo yang lebih pendek mempunyai peringkat yang lebih baik dibanding dengan obligasi dengan umur jatuh tempo yang lama.
Profitabilitas dan Prediksi Peringkat Obligasi
Salah satu indikator penting diperhatikan untuk menilai peringkat obligasi di masa datang adalah dengan melihat sejauh mana pertumbuhan profitabilitas perusahaan. Indikator ini sangat penting diperhatikan untuk mengetahui investasi yang akan dilakukan investor di suatu perusahaan mampu memberikan return yang sesuai dengan tingkat yang disyaratkan investor, salah satunya dengan menggunakan ROA (Tandelilin, 2001)
Selain itu Burton (2003) menyatakan bahwa tingkat profitabilitas yang lebih tinggi menurunkan resiko insolvency (ketidakmampuan membayar hutang), akibatnya rating obligasi perusahaan tersebut akan semakin baik.
Pengukuran dari profitabilitas yang diinterpretasikan dengan ROA memberikan pandangan manajemen untuk mengendalikan pengeluaran secara efektif. Dengan demikian perusahaan diharapkan memperoleh rating yang baik untuk meningkatkan profil perusahaan dan mengamankan bisnis baru mereka dimasa mendatang (Brotman, 1989 ; Bouzouita & Young, 1998 dalam Burton, 2003).
Dapat disimpulkan sesuai penelitian Mark, Peter; & Kin (2001) mengatakan bahwa rasio profitabilitas yang diukur dengan ROA mempunyai pengaruh positif terhadap peringkat obligasi karena rasio ini mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba bersih berdasarkan tingkat asset tertentu. Apabila laba perusahaan tinggi maka akan memberikan peringkat yang baik pula sehingga variabel ini dikatakan dapat mempengaruhi prediksi peringkat obligasi. H1: Profitabilitas berpengaruh positif terhadap prediksi peringkat obligasi .
Likuiditas dan Prediksi Peringkat Obligasi
untuk mengukur likuiditas adalah dengan menggunakan rasio lancar (current ratio). Menurut Arifin (2005) menyatakan bahwa perusahaan yang mampu memenuhi kewajiban keuangannya tepat pada waktunya berarti perusahaan tersebut dalam keadaan likuid dan mempunyai aktiva lancar lebih besar dari hutang lancarnya. Hal tersebut akan membawa perusahaan untuk memperoleh peringkat obligasi yang lebih baik.
Sedangkan menurut Rahardjo (2003) menyatakan bahwa apabila obligasi yang mempuyai likuiditas cukup tinggi maka harga obligasi cenderung tinggi, sehingga peringkat obligasi perusahaan tersebut juga akan meningkat. Sehingga dapat disimpulkan sesuai dengan penelitian Burton (2003) bahwa tingkat likuiditas yang tinggi akan menunjukkan kuatnya kondisi keuangan perusahaan sehingga secara financial akan mempengaruhi prediksi peringkat obligasi. H2:
Ukuran Perusahaan (Size) dan Prediksi Peringkat Obligasi variabel total asset pada saat mengemisi obligasi. Semakin besar total asset maka semakin tinggi peringkat obligasi perusahaan tersebut.
Bouzouita & Young (1998) dalam Burton (2003) menyatakan bahwa ukuran perusahaan mempunyai korelasi yang positif terhadap peringkat obligasi.
Hal tersebut sesuai dengan pendapat Ogden (1987) dalam
penelitian Andry (2005) yang menyatakan bahwa karena total utang dan ukuran perusahaan mempunyai korelasi yang kuat dan positif, ukuran perusahaan juga bisa digunakan sebagai proksi untuk
mengukur likuiditas. H3: Ukuran perusahaan (size) berpengaruh positif terhadap prediksi peringkat obligasi.
Umur Obligasi (Maturity) dan Prediksi peringkat Obligasi
Mark & David (1996) dalam penelitian Andry (2005) menyatakan bahwa perusahaan yang peringkat obligasinya obligasinya tinggi menggunakan umur obligasi yang pendek. Rahardjo (2003) menyatakan bahwa suatu obligasi yang mempunyai masa jatuh tempo yang lama akan meningkatkan resiko investasi karena dalam periode yang cukup lama, risiko kejadian buruk atau peristiwa yang menyebabkan kinerja perusahaan menurun bisa saja terjadi. Oleh karena itu obligasi dengan umur jatuh tempo yang lebih pendek mempunyai peringkat yang lebih baik dibanding dengan obligasi dengan umur jatuh tempo yang lama.
Hal tersebut sesuai dengan pendapat Diamonds (1991) yang menyatakan bahwa terdapat hubungan nonmonotonik antara struktur umur obligasi dan kualitas kredit untuk perusahaan yang tercantum dalam peringkat obligasi. Investor tidak menyukai umur obligasi yang panjang karena resiko yang akan didapat juga semakin besar.
Sehingga dapat disimpulkan umur obligasi akan mempengaruhi
Model Konseptual Profitabilitas
Likuiditas
Ukuran Perusahaan Umur Obligasi
Luky S. & Sumarto
Definisi Operasional a. Peringkat Obligasi (Y)
Peringkat obligasi dalam penelitian ini merupakan variabel dependen. Variabel ini dilihat berdasarkan peringkat yang dikeluarkan oleh
PEFINDO yang secara umum terbagi menjadi dua yaitu investment grade (AAA, AA, A, BBB) dan non-investment grade (BB, B, CCC, D).Skala pengukurannya adalah skala nominal, pengukuran dilakukan dengan memberikan nilai 1 untuk obligasi yang investment grade dan 0 untuk yang non-investment grade karena variabel dependennya merupakan variabel dummy. b. Profitabilitas
Penelitian ini menggunakan return on asset (ROA) sebagai proksi dari variabel profitabilitas yang merupakan rasio dari laba setelah pajak terhadap total aktiva. Skala ukur dari variabel profitabilitas adalah skala rasio. Secara sistematis formulasi tersebut ditulis sebagai berikut :
c. Likuiditas
Proksi dari variabel likuiditas ini menggunakan rasio lancar perusahaan yang diukur dengan membagi antara aktiva lancar terhadap hutang lancar. Skala ukur dari variabel likuiditas adalah skala rasio. Secara sistematis formulasi tersebut dapat ditulis sebagai berikut:
d. Ukuran Perusahaan (Size)
Proksi dari variabel ukuran perusahaan (size) ini menggunakan total asset, hal ini sesuai dan konsisten dengan penelitian yang dilakukan oleh Andry (2005) yaitu dengan menggunakan total asset pada saat mengemisi obligasi. Skala ukur dari variabel ukuran perusahaan adalah skala rasio. e. Umur Obligasi (Maturity)
sampai lima tahun dan 0 jika obligasi mempunyai umur lebih dari lima tahun.
Populasi
Populasi merupakan himpunan individu/unit/unsur elemen yang memiliki ciri atau karakteristik yang sama. Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang terdaftar di PT. Bursa Efek Indonesia.
170
Teknik yang digunakan untuk menentukan sampel adalah
purposive sampling yaitu penentuan sampel dengan menggunakan kriteria-kriteria yang ditentukan oleh peneliti. Adapun kriteria yang digunakan adalah perusahaan-perusahaan manufaktur yang
menerbitkan obligasi dan terdaftar di PT. Bursa Efek Indonesia serta diperingkat oleh lembaga pemeringkat obligasi yaitu PT. PEFINDO selama tahun 2002-2006 (dalam tahun). Secara umum kriteria dari perusahaan sampel penelitian adalah: a. Obligasi perusahaan
manufaktur yang diperingkat oleh lembaga pemeringkat obligasi yaitu PT. PEFINDO.. b. Obligasi perusahaan manufaktur yang terdaftar di PT. Bursa Efek Indonesia sampai tahun
2006. c. Obligasi perusahaan manufaktur terbitan tahun 2000 yang terdaftar di PT. Bursa Efek
Indonesia dari tahun 2002. d. Memiliki laporan keuangan selama periode penelitian.
Berdasarkan kriteria diatas maka jumlah sampel yang diperoleh sebanyak 11 perusahaan manufaktur yang menerbitkan obligasi serta terdaftar di PT. Bursa Efek Indonesia pada tahun 2002-2006.
Teknik Analisis
Teknik analisis yang digunakan adalah Analisi Regresi Logit. Bentuk persamaan yang digunakan sebagai berikut:
(Takarini, 2003)
Dimana: P = Probabilitas variabel dependen yang mampu dijelaskan oleh variabel
independen. Y = 1, Jika Peringkat Obligasi termasuk Investment Grade. Y = 0, Jika Peringkat Obligasi termasuk Non Invesment Grade βo = Konstanta. β
1 - β 4
= Koefisien Regresi. Log (P/1-P) = Peringkat Obligasi. X 1
2
= Likuiditas. X 3
= Size / Ukuran Perusahaan. X 4
= Maturity / Umur Obligasi. X 4
= 1, Jika Obligasi mempunyai umur antara satu sampai lima tahun. 0 = Jika Obligasi mempunyai umur lebih dari lima tahun. ε = merupakan error term.
Memprediksi Tingkat Obligasi Perusahaan Manufaktur yang Listing di BEI
Luky S. & Sumarto
Hasil analisis selengkapnya mengenai koefisien model regresi logistic seperti yang tercantum dalam tabel sebagai berikut:
Tabel 1. Koefisien Regresi Logistik Metode Enter B S.E Wald df Sig. Exp (B)
Step X 1
-0,024 0,103 0,054 1 0,816 0,976 1a X
2
1,237 0,591 4,384 1 0,036 3,444 X
3
0,000 0,000 1,328 1 0,249 1,000 X
4
-18,486 17030,689 0,000 1 0,999 0,000
Constant 17,311 17030,689 0,000 1 0,999 32956339
Berdasarkan pada tabel di atas, dapat diketahui persamaan regresi logistik sebagai berikut:
Dari persamaan regresi logistik di atas dapat dijelaskan sebagai berikut: a. Konstanta (β
0
) = 17,311 Artinya tanpa pengaruh Profitabilitas, Likuiditas, Ukuran Perusahaan (Size), dan Umur Obligasi (Maturity) maka
tingkat prediksi peringkat obligasi adalah 17,311. b. Koefisien Regresi X
1 (β 1
) mengalami kenaikan sebesar 1%, maka peringkat obligasi akan mengalami penurunan sebesar 0,024 point dengan asumsi variabel Likuiditas (X
2
) tetap. c. Koefisien Regresi X 2
(β 2
) = 1,237. Artinya jika Likuiditas (X 2
) mengalami kenaikan sebesar 1%, maka peringkat obligasi akan mengalami kenaikan sebesar 1,237 point dengan asumsi variabel Profitabilitas (X
) tetap d. Koefisien Regresi X 3
(β 3
) mengalami kenaikan sebesar 1%, maka peringkat obligasi akan mengalami kenaikan yang sangat kecil atau tidak naik dengan asumsi variabel Profitabilitas (X
1
) = - 18,486 Artinya jika Umur Obligasi atau Maturity (X 4
) mengalami kenaikan sebesar 1%, maka peringkat obligasi akan mengalami perbedaan sebesar 18,486 point dengan asumsi variabel Profitabilitas (X
1
Untuk pengujian masing-masing koefisien regresi (pengujian parsial) digunakan uji wald dengan melihat nilai probabilitas masing-masing variabel. Dengan kriteria nilai probabilitas harus lebih kecil dari tingkat signifikan (£). Dari hasil analisis data diperoleh bahwa : a. Profitabilitas (X
1
2