PENGARUH KETERSEDIAAN WAKTU LUANG TERHADAP INDEKS
KEBAHAGIAAN PEKERJA DAN MAHASISWA
DI DKI JAKARTA
B. Ari Kuncoro (NIM. 1412410771)Tugas Mata Kuliah Research & Methodology - 2014
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1Latar Belakang
DKI Jakarta sebagai pusat bisnis dan pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia menghadapi masalah utama dalam bidang transportasi, yaitu tingginya angka kemacetan. Rata-rata pertumbuhan kendaraan meningkat 24 persen tiap tahunnya, tetapi perkembangan ruas jalan hanya tumbuh 0,01 persen tiap tahun. Pertumbuhan ruas jalan sangat tidak sebanding. Panjang jalan di Jakarta hanya 7.650 km dan luas jalan 40,1 km atau hanya 0,26% dari luas wilayah DKI. Perubahan jam kemacetan di Jakarta juga sudah terjadi selama satu tahun belakangan ini. Bila tahun 2013 pukul 21.00 WIB sudah mencair, tahun 2014 kemacetan terjadi hingga pukul 22.00 WIB (Setiadi, B. et. al, 2014, p2).
Salah satu imbas dari kemacetan adalah menjadi semakin lamanya perjalanan rutin yang dibutuhkan oleh para pengguna jalan, sehingga mengurangi ketersediaan waktu luang mereka. Berdasarkan referensi hasil penelitian Erik Hansson (2011) dari Lund University, Swedia, yang melibatkan 21 ribu orang yang bekerja penuh waktu dan berusia antara 18 hingga 64 tahun, semakin lama perjalanan rutin, semakin buruk kesehatan seseorang. Aspek kesehatan seseorang ini merupakan salah satu aspek yang mempengaruhi indeks kebahagiaan (BPS, 2014, pp 1-2).
kebahagiaan merupakan indeks komposit yang disusun oleh tingkat kepuasan terhadap 10
aspek kehidupan yang esensial, yang mencakup kesehatan, pendidikan, pekerjaan,
pendapatan rumah tangga, keharmonisan keluarga, ketersediaan waktu luang, hubungan sosial, kondisi rumah dan aset, keadaan lingkungan, dan kondisi keamanan.
BPS telah menyatakan bahwa ketersediaan waktu luang merupakan salah satu dari 10 aspek kehidupan yang mempengaruhi indeks kebahagiaan. Dalam penelitian ini penulis melakukan uji korelasi antara dua variabel tersebut. Penulis menyoroti salah satu aspek di atas sebagai independent variable, yaitu aspek ketersediaan waktu luang. Semakin lama perjalanan rutin, diasumsikan ketersediaan waktu luang semakin sedikit. Sementara itu dependent variable dalam penelitian ini adalah indeks kebahagiaan. Indeks kebahagiaan dalam penelitian ini diukur subyektif dengan menanyakan responden dengan pertanyaan: “Dari skala 1-100, seberapa bahagiakah Anda?”.
1.2Rumusan Masalah
Apakah ketersediaan waktu luang mempengaruhi indeks kebahagiaan pekerja dan mahasiswa di DKI Jakarta?
1.3Hipotesis
H0 = Ketersediaan waktu luang tidak mempengaruhi indeks kebahagiaan pekerja dan mahasiswa di DKI Jakarta.
1.4Tujuan
1.5Manfaat
Manfaat dari penelitian ini adalah:
1. Mengetahui apakah ketersediaan waktu luang berpengaruh terhadap tingkat kebahagiaan pekerja dan mahasiswa di DKI Jakarta.
2. Menjadi referensi para pekerja dan mahasiswa untuk memperhatikan jumlah ketersediaan waktu luang.
1.6Ruang Lingkup
1. Indeks kebahagiaan seorang pekerja dan mahasiswa diukur dengan menanyakan responden seberapa bahagiakah mereka dari skala 1 s.d. 100. Semakin bahagia, semakin tinggi skor-nya.
2. Diasumsikan semakin lama perjalanan rutin ke tempat kerja, maka semakin sedikit ketersediaan waktu luang.
3. Survey dilakukan secara online di Jajakpendapat.net.
1.7Kepentingan Penelitian
BAB 2
LANDASAN TEORI
2.1 Ketersediaan Waktu Luang
Sukadji (2000, pp 5-6) melihat arti istilah waktu luang dari 3 dimensi. Dilihat dari dimensi waktu, waktu luang dilihat sebagai waktu yang tidak digunakan untuk “bekerja”; mencari nafkah, melaksanakan kewajiban, dan mempertahankan hidup. Dari segi cara pengisian, waktu luang merupakan waktu yang dapat diisi dengan kegiatan pilihan sendiri atau waktu yang digunakan dan dimanfaatkan sesuka hati. Dari sisi fungsi, waktu luang adalah waktu yang dimanfaatkan sebagai sarana mengembangkan potensi, meningkatkan mutu pribadi, kegiatan terapeutik bagi yang mengalami gangguan emosi, sebagai selingan dan hiburan, sarana rekreasi, sebagai kompensasi pekerjaan yang kurang menyenangkan, atau sebagai kegiatan menghindari sesuatu.
Menurut Chris Bull dalam bukunya yang berjudul “An introduction to leisure studies” menjelaskan pengertian waktu luang adalah jika seseorang sedang tidak bekerja,
maka ia memiliki waktu luang. Dengan kata lain, waktu luang=tidak bekerja. Berdasarkan teori yang dikemukakan oleh Tolrkildsen Gorge (1992) dalam bukunya “Leisure and Recreation Management”, waktu luang tercatat dalam beragam defenisi, antara lain:
1. Waktu luang sebagai waktu 2. Waktu luang sebagai aktivitas
3. Waktu luang sebagai suatu suasana hati atau sikap mental yang positif 4. Waktu luang sebagai sesuatu yang memiliki arti yang luas
Dalam paper ini, ketersediaan waktu luang berdasarkan berapa lama para pekerja dan mahasiswa melakukan perjalanan rutin diukur. Diasumsikan perjalanan rutin mereka berangkat ke kantor lebih dari 1 jam, maka ketersediaan waktu luang sedikit. Sebaliknya apabila perjalanan rutin mereka berangkat ke kantor kurang dari 1 jam, maka ketersediaan waktu luang mereka banyak. Data awal rentang waktu rata-rata lamanya berangkat ke tempat kerja setiap hari. Adapun pilihan jawaban dalam kuesioner adalah 0-30 menit, 30-60 menit, 60-90 menit, 90-120 menit, 120-150 menit, dan di atas 180 menit, sehingga nanti tabel akan ditabulasi ulang oleh penulis menjadi dua kategorikal saja, yaitu ketersediaan waktu luang banyak dan ketersediaan waktu luang sedikit.
2.2 Indeks Kebahagiaan
Indeks kebahagiaan penduduk Indonesia pada 2014 (BPS, 2014, p2) tercatat 68,28 (skala
0-100) atau meningkat dibandingkan dengan tahun 2013 yang tercatat 65,11. Hasil ini
menunjukkan bahwa secara umum penduduk negeri ini relatif berbahagia dibandingkan tahun
sebelumnya. Indeks Kebahagiaan merupakan indikator subyektif yang diperlukan sebagai bentuk konfirmasi masyarakat terhadap kinerja pembangunan yang telah terukur oleh berbagai indikator obyektif seperti pertumbuhan ekonomi, inflasi, morbiditas, literasi, pengangguran, kriminalitas, dan sebagainya.
BPS menyebutkan bahwa indeks kebahagiaan merupakan indeks komposit yang disusun
oleh tingkat kepuasan terhadap 10 aspek kehidupan yang esensial. Ke-10 aspek tersebut
secara substansi dan bersama-sama merefleksikan tingkat kebahagiaan yang meliputi
kepuasan terhadap:
-kesehatan
-pendidikan
-pekerjaan
-keharmonisan keluarga
-ketersediaan waktu luang
-hubungan sosial
-kondisi rumah dan aset
-keadaan lingkungan
-kondisi keamanan
BAB 3
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Pendahuluan
Penelitian ini menggunakan data kategorikal untuk variabel independent dan data kontinu untuk variabel dependent. Variabel independent dari penelitian ini adalah ketersediaan waktu luang, sedangkan variable dependent adalah tingkat kebahagiaan. Karena kita menggunakan data kategorikal yang berupa dua kelompok dan data kontinu, teknik yang cocok untuk menguji keterkaitan antara dua variabel tersebut adalah dengan uji t (Borden, 2008, p.426). Jika uji t kurang mendapatkan hasil yang memuaskan, maka diperlukan analisis non-parametrik dengan uji chi-square. Untuk melakukannya, peneliti perlu mengkategorikan data tingkat kebahagiaan menjadi dua kategori terlebih dahulu.
3.2 Desain Penelitian
Gambar 1. Diagram Alir Desain Penelitian 3.3 Populasi dan Sampel
Populasi dari penelitian ini adalah pekerja dan mahasiswa yang sehari-harinya bertugas di DKI Jakarta. Adapun sampel dari penelitian ini adalah sebanyak 52 responden. Usia responden berada di antara 16 s.d. 40 tahun. Responden tinggal di wilayah Jakarta, Bogor, Tangerang, Depok, Tangerang, dan Bekasi. Demografi yang lebih rinci dapat dilihat pada bagian peserta jajak pendapat di Bab 4.
3.4 Metode Pengumpulan Data dan Instrumen
3.5 Metode Analisis Data
Dalam penelitian ini digunakan analisis kuantitatif parametrik dan non-parameterik. Metode parametrik yang digunakan adalah uji t, untuk menguji dua kelompok yang memiliki ketersediaan waktu luang banyak dan sedikit dengan variabel tingkat kebahagiaan mereka yang diukur secara kontinu dari skala 1-100. Jika uji t tidak menghasilkan kesimpulan yang baik, maka metode non parametrik chi square diperlukan dengan membagi terlebih dahulu tingkat kebahagiaan menjadi dua kategori, yaitu kategori bahagia untuk skala >= 60, dan tidak bahagia untuk skala < 60. Untuk membantu menganalisis data, penulis menggunakan Rstudio versi 0.98.1091 yang merupakan perangkat lunak open source untuk statistik.
3.6 Keterbatasan Penelitian
BAB 4
HASIL PENELITIAN
4.1 Pendahuluan
Data penelitian yang sudah dioleh dapat dilihat pada appendix 2A dan 2B. Dari data tersebut, akan disajikan (1) peserta jajak pendapat dan (2) analisis deskriptif di bab ini. Hipotesis null (H0) yang 1 menyatakan bahwa ketersediaan waktu luang tidak berpengaruh terhadap indeks kebahagiaan seseorang akan dibuktikan dalam bab ini.
4.2 Peserta Jajak Pendapat
Sebelum data diolah, perlu dipetakan terlebih dahulu demografi responden. Berikut ini adalah tabel yang menggambarkan demografi peserta jajak pendapat.
Tabel 4.1 Demografi Peserta Survey Sebelum dan Sesudah Disaring
Jumlah keseluruhan peserta jajak pendapat adalah 52 responden, dengan 55,77% laki-laki dan 44,23% perempuan. Dari jumlah tersebut sebanyak 46,15% tinggal di Jakarta, sisanya tinggal di Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Bodetabek). Sejumlah 84,61% adalah mahasiswa dan pekerja, sisanya tidak bekerja. Kelompok yang tidak bekerja ini akan dikeluarkan dari data input, karena tidak sesuai dengan topik pembahasan. Dari 52 responden, yang menjawab lengkap untuk pertanyaan tingkat kebahagiaan hanya sebanyak 40 orang atau 76,92% dari total responden, sehingga data juga perlu disaring kembali. Akhirnya didapatkan data yang valid setelah disaring, yaitu sebanyak 33 data. Nilai dan persentase data dapat dilihat pada Tabel 4.1 kolom 4 dan 5. Setelah data disaring, terlihat bahwa data tempat tinggal, tingkat pendidikan, dan jenis pekerjaan hampir berimbang (50:50).
4.3 Analisis Deskriptif
Gambar 2 Grafik Box plot untuk Tingkat Kebahagiaan vs Waktu Luang
Setelah melakukan uji t (lihat Appendix 1), dihasilkan nilai t, df, dan p value yang terlihat pada Tabel 4.2.
Tabel 4.2 Tabel Hasil Uji t untuk Ketersediaan Waktu Luang dan Jarak
Parameter Kategori Mean Tingkat
Bahagia t df p value
Waktu Luang
Banyak 71.8
2.194 19.385 0.04061 Sedikit 53.3
Jarak Dekat 68.88 1.1026 29.303 0.2792
Jauh 59.875
Tabel 4.2 menunjukkan bahwa untuk kelompok dengan ketersediaan waktu luang banyak memiliki Mean indeks kebahagiaan sebesar 71,8. Sementara itu Mean tingkat kebahagiaan pada kelompok waktu luang sedikit adalah 53,3. Nilai t yang dihasilkan sebesar 2,194, pada p value 0,04061 atau kurang dari alpha yang telah ditentukan sebesar 0,05. Dengan hasil demikian dapat disimpulkan bahwa H0 ditolak, atau ada korelasi positif antara ketersediaan waktu luang dengan tingkat kebahagiaan seseorang. Dengan kata lain, kelompok yang memiliki waktu luang banyak cenderung lebih berbahagia dibandingkan dengan yang memiliki waktu luang sedikit.
pekerja dari tempat tinggak ke tempat kerja tidak mempengaruhi tingkat kebahagiaan mereka, maka H0 diterima.
Guna lebih memastikan lagi hasil dari uji t ini, peneliti melakukan uji chi square. Karena uji chi square kedua data harus berupa data kategorikal, maka diperlukan proses pengelompokan variabel kontinu tingkat kebahagiaan. Peneliti mengasumsikan bahwa seseorang bahagia jika skor >= 60, dan seseorang tidak bahagia jika skor < 60. Berikut hasil chi square dari data yang didapatkan.
Tabel 4.3 Tingkat Kebahagiaan ditinjau dari Kondisi Banyak Sedikitnya Waktu Luang
Waktu Luang Banyak Waktu Luang Sedikit Jumlah
Bahagia 14 6 20
Tidak Bahagia 3 10 13
Jumlah 17 16 33
Dengan menggunakan Rstudio, uji chi square dilakukan. Adapun hasil X-squared sebesar 5,1937 dan p-value = 0,02267 (lihat Appendix 1). Terlihat bahwa dengan X-squared 5,1937, p value < 0,05. Hal ini berarti H0 ditolak dan semakin memantapkan kelompok yang memilik waktu luang banyak memeliki kecenderungan bahagia. Sebagai perbandingan, berikut ini adalah tabel tingkat kebahagiaan ditinjau dari kondisi jauh dekatnya jarak antara tempat tinggal dan tempat kerja.
Tabel 4.4 Tingkat Kebahagiaan ditinjau dari Kondisi Kondisi Jauh Dekatnya Jarak
Jarak Dekat Jarak Jauh Jumlah
Bahagia 11 6 17
Tidak Bahagia 6 10 16
Jumlah 17 16 33
BAB 5
DISKUSI PENELITIAN
5.1 Ringkasan
Berlatar belakang permasalahan angka kemacetan di kota DKI Jakarta yang semakin tinggi, rumusan masalah pengaruh antara ketersediaan waktu luang terhadap tingkat kebahagiaan pekerja dan mahasiswa di DKI Jakarta diangkat dalam penelitian ini. Tujuannya adalah untuk mengetahui apakah ketersediaan waktu luang berkolerasi signifikan dengan tingkat kebahagiaan pekerja dan mahasiswa di DKI Jakarta. Adapun hipotesis null dari penelitian adalah ketersediaan waktu luang tidak mempengaruhi tingkat kebahagiaan pekerja dan mahasiswa di DKI Jakarta.
Untuk membuktikan hipotesis tersebut, dalam penelitian ini digunakan uji t dan uji chi square. Dari hasil uji t, nilai t yang dihasilkan sebesar 2,194 dengan nilai p = 0,04061 atau kurang dari alpha (0,05). Karena nilai p kurang dari alpha, hipotesis null ditolak dan dapat disimpulkan bahwa ketersediaan waktu luang memiliki pengaruh signifikan terhadap tingkat kebahagiaan. Hasil dari uji chi square juga memperkuat kesimpulan yang sama, yaitu H0 ditolak, di mana hasil X square 5,1937, nilai p = 0,02267. Sementara itu ditinjau dari jauh dekatnya jarak pekerja atau mahasiswa ke tempat pekerjaannya, dari hasil uji t maupun chi square, faktor tersebut tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap tingkat kebahagiaan.
5.2 Diskusi
apabila ketersediaan waktu banyak, tingkat kebahagiaan cenderung tinggi (Mean skor 71.3 dari 100).
Seperti yang telah dibahas secara rinci pada bagian Analisis Deskriptif di Bab 4, hasil penelitian ini selaras dengan dasar teori yang dipakai oleh Badan Pusat Statistik (BPS, 2014, p2) yang menyatakan bahwa ketersediaan waktu luang merupakan salah satu positif dari sepuluh faktor indeks kebahagiaan seseorang, di mana semakin lama ketersediaan waktu luang, semakin bahagialah orang tersebut. Hal ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Erik Hannson (2011), dari Lund University, Swedia, yang melibatkan 21 ribu orang yang bekerja penuh waktu dan berusia antara 18 hingga 64 tahun, semakin lama perjalanan rutin, semakin buruk kesehatan seseorang. Secara logis, semakin buruk kesehatan seseorang juga berdampak buruk pada tingkat kebahagiaan orang tersebut.
5.3 Keterbatasan Penelitian
Keterbatasan penelitian dari segi desain telah dibahas pada bab 3. Dalam bab 5 ini keterbatasan penelitian diuraikan dari segi hasil penelitian. Berikut ini adalah keterbatasan-keterbatasan penelitian yang telah diidentifikasi.
- Analisis data hanya dapat diuji dengan uji t dan atau uji chi square, karena tipe datanya kategorikal dan kontinu.
- Variabel tingkat kebahagiaan kurang ditambahkan lagi dengan variabel-variabel lainnya - Variabel ketersediaan waktu luang juga kurang ditambah dengan variabel-variabel
lainnya
5.4 Rekomendasi Penelitian
- Menggunakan data kontinu untuk variabel ketersediaan waktu luang
- Menambahkan variabel tingkat kebahagiaan dengan beberapa variabel seperti tingkat penghasilan, keharmonisan keluarga, hubungan sosial, keadaan lingkungan, dsb. - Menambahkan variabel ketersediaan waktu luang dengan variabel lainnya yaitu jumlah
DAFTAR PUSTAKA
BPS Document. (2014). Indeks Kebahagiaan Indonesia Tahun 2014. Berita Resmi Statistik: No. 45/06/Th. XVII, 2 Juni 2014, from http://bps.go.id/brs_file/ik_02juni14.pdf
Setiadi, B. et. al. (2014). Isu-isu Negara Berkembang. Program Studi Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Brawijaya, from
https://www.academia.edu/7911872/Desain_Solusi_Kemacetan_Jakarta
Hansson, Eric et. al. (2011). Relationship between commuting and health outcomes in cross-sectional population survey in southern Sweden. BMC Public Health Journal Vol. 11, from http://www.biomedcentral.com/1471-2458/11/834
Sabatini, F et. al. (2011). The relationship between happiness and health: evidence from Italy. Health Economic and Data Group May 2011, from
http://www.york.ac.uk/media/economics/documents/herc/wp/11_07.pdf Bordens, K. S., Bruce B. Abbott. (2008). Research Design and Methods, a Process
Approach. 7th ed. McGraw Hill.
Bjørnskov, C. (2008). Healthy and happy in Europe? On the association between happiness and life expectancy over time. Social Science & Medicine 66, 1750-1759.
Sukadji, Soetarlinah. (2000). Psikologi Pendidikan dan Psikologi Sekolah (Direvisi dan Dilengkapi). Depok: Universitas Indonesia.
Standford GSB Document. (2010). The Psychology of Happiness. Case M-330, from
http://faculty-gsb.stanford.edu/aaker/pages/documents/ThePsychologyofHappiness.pdf Helliwell, J. et al. (2013). World Happiness Report 2013. From
Appendix 1
1. Uji t dengan RStudio
> t.test(bahagia$Bahagia ~ bahagia$Waktu, mu = 0, conf.level = 0.95) Welch Two Sample t-test
data: bahagia$Bahagia by bahagia$Waktu t = 2.194, df = 19.385, p-value = 0.04061
alternative hypothesis: true difference in means is not equal to 0 95 percent confidence interval:
0.8745171 36.1100983 sample estimates:
mean in group 0 mean in group 1 71.80000 53.30769
> t.test(bahagia$Bahagia ~ bahagia$Jarak, mu = 0, conf.level = 0.95) Welch Two Sample t-test
data: bahagia$Bahagia by bahagia$Jarak t = 1.1026, df = 29.303, p-value = 0.2792
alternative hypothesis: true difference in means is not equal to 0 95 percent confidence interval:
Pearson's Chi-squared test with Yates' continuity correction data: bahagiachichi2
X-squared = 5.1937, df = 1, p-value = 0.02267
> bahagiajarakchi <- select(bahagiachi, Jarak, bahagia60an) > bahagiajarakchi2 <- table(bahagiachichi)
> chisq.test(bahagiajarakchi2)