• Tidak ada hasil yang ditemukan

HUBUNGAN PENGGUNAAN GARAM BERYODIUM DENG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "HUBUNGAN PENGGUNAAN GARAM BERYODIUM DENG"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

52

DENGAN PERTUMBUHAN LINIER ANAK

Mazarina Devi

Jurusan Teknologi Industri Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang e-mail: [email protected]

Abstract: In developing countries, the stunted prevalence happened to children is very high. The malnutrition discussion based on body height according to age showed that there are still 30-40% of infants in Indonesia is classified into short. The poor nutrition during infantile will continue to disorder on school-age children’s growth. About 36.1% of school-age children experience malnutrition. The study result showed that the growth of elementary school-age children in the endemic area of Disorder from Sodium Deficiency (Gangguan Akibat Kurang Iodium/GAKI) tends to be worse than the same age in non-endemic are. The purpose of this study was to identify the relation of salted with sodium consumption toward the linear growth of children. The design of this study was Cross Sectional. Factors which became independent variables in this analysis were: children’s age, children’s sex, mother’s age, father’s length of education, mother’s length of education, father’s occupation, mother’s occupation, numbers of family member, as well as the usage of salt with sodium and dependent factor of children’s linear growth. The result of the analysis showed that the insufficient consumption of salt with sodium contributed to children’s growth. On the families who did not consume sufficient salt with sodium, the growth of stunted children is bigger than the families who consumed enough salt with sodium, but it is not significant. The consumption of milk and egg contributed more significantly to children’s growth.

Abstrak: Pada negara berkembang, prevalensi stunted yang terjadi pada anak-anak sangat tinggi. Kajian gizi kurang berdasarkan tinggi badan menurut umur masih sekitar 30-40% anak balita di Indonesia diklasifikasikan pendek. Keadaan gizi yang tidak baik pada usia balita akan berlanjut pada gangguan pertumbuhan anak usia sekolah, sekitar 36,1% anak usia sekolah menderita gizi kurang. Berdasarkan hasil studi menunjukkan bahwa pertumbuhan anak baru sekolah dasar di daerah endemik Gangguan Akibat Kurang Iodium (GAKI) cenderung lebih buruk dari pada usia yang sama di daerah non-endemik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan penggunaan garam beryodium terhadap pertumbuhan linier anak. Design penelitian ini adalah

Cross sectional. Faktor yang menjadi variabel independent dalam analisis ini masing masing terdiri: umur anak, jenis kelamin anak, umur ibu, lama pendidikan ayah, lama pendidikan ibu, pekerjaan ayah, pekerjaan ibu, jumlah anggota keluarga, serta penggunaan garam beryodium dan faktor dependent pertumbuhan linier anak. Hasil analisis menunjukkan bahwa penggunaan garam beryodium tidak cukup memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan anak. Pada keluarga yang menggunakan garam tidak cukup mengandung yodium, maka pertumbuhan anak stunted lebih besar daripada yang menggunakan garam cukup beryodium, tetapi tidak signifikan. Konsumsi susu dan telur memberikan hubungan yang signifikan terhadap pertumbuhan anak.

Kata kunci: anak, pertumbuhan linier, garam beryodium, susu, telur

Kebutuhan gizi yang berperan dalam tumbuh kembang anak secara garis besar mencakup kebutuhan akan air, kalori, karbohidrat, protein, lemak, mineral dan vitamin. Salah satu mineral

yang penting di dalam laju pertumbuhan linier anak adalah Yodium (Handayani,M., 2003).

(2)

pertumbuhan dan perkembangan mahluk hidup. (Lopriore dkk, 2004). Yodium diperlukan untuk membentuk hormon tiroksin yang diperlukan oleh tubuh untuk mengatur pertumbuhan dan perkembangan mulai dari janin sampai dewasa. (Waterlow JC. 1998). Yodium diperoleh dari mengkonsumsi makanan dan minuman berada dalam bentuk ion Yodium, dan besarnya bergantung dari kadar yodium dalam tanah.

Menurut WHO (1997) , kebutuhan harian akan yodium adalah 50 mg/hari pada umur 0 – 12 bulan, 90 – 120 mg/hari pada umur sampai 11 tahun, 150 mg/hari pada remaja dan dewasa dan 200 mg/hari pada ibu hamil / laktasi (Budiman, 1993). Perilaku ibu dalam memiih garam akan menentukan onsumsi yodium pada rumah tangga.

Hipotiroidisme pada anak merupakan salah satu dampak GAKI. Makin tinggi kadar TSH makin berat masalah hipotiroid yang diderita anak.Akibatnya makin sedikit jumlah hormon tiroksin yang diproduksi kelenjar tiroid. Tiroksin berperan dalam metabolisme semua zat gizi yang dibutuhkan tubuh. Di masa kanak-kanak buhan kelenjer tiroid paralel dengan pertum-buhan badan (Juan A R dkk, 2001).

Berdasarkan hasil studi yang dilakukan disimpulkan bahwa pertumbuhan anak baru sekolah dasar di daerah endemik Gangguan Akibat Kurang Iodium (GAKI) cenderung lebih buruk dari pada usia yang sama di daerah non-endemik (Aritonang, 2005). Namun bila dilihat hasil survai konsumsi garam beryodium yang dilaksanakan Badan Pusat Statistik (BPS) sejak tahun 1996 - 2002 menunjukkan bahwa kenaikan persentase rumah tangga yang mengkonsumsi garam ber-Iodium dengan kadar yodium cukup (= 30 ppm) belum begitu berarti, yaitu dari 58.1% pada tahun 1996 sampai 68.53% pada tahun 2002. Berdasarkan survey nasional , garam beryodium sampai dengan tahun 2003 dikon-sumsi oleh 73,2% rumah tangga secara adekuat.

METODE

Penelitian ini adalah penelitian survey dengan disain penelitian crossectional. Penelitian ini dilakukan di 7 propinsi di Indonesia dimana jumlah penduduk di propinsi-propinsi tersebut mencakup 70% dari total penduduk Indonesia yaitu propinsi Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat (Lombok) dan Sulawesi Selatan. Data dari

daerah pedesaan, setiap propinsi dibagi menjadi 3-6 zone (wilayah).

Data dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner yang telah diberi kode yang meliputi status sosial ekonomi dan status gizi balita. Kegiatan yang dilakukan untuk mengetahui faktor faktor yang berhubungan dengan penggu-naan garam ber-Iodium, maka data yang dikum-pulkan pada studi ini meliputi umur anak, usia orang tua, tingkat pendidikan ayah dan ibu, pekerjaan ayah dan ibu, jumlah anggota keluarga, dan selanjutnya dilihat hubungan peng-gunaan garam ber-Iodium dengan pertumbuhan linier anak.

Analisa data dilakukan secara bertahap mulai dari cara sederhana (distribusi dan tabel silang) sampai pada penyusunan model regresi ganda (regresi logistik) menggunakan program SPSS Data.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Karakteristik Anak

Jenis kelamin anak yang dianalisis sebagian besar berjenis kelamin laki-laki yaitu mencapai sekitar 51,4% di kota dan 50,8% di desa dengan usia 18 bulan sampai 36 bulan dimana di desa sebesar 53,5% dan di kota 53,2%. Penggunaan garam beryodium cukup dan tidak cukup pada rumah tangga di desa dan di kota yang memiliki anak balita laki laki relatif sama. Begitu juga dengan jenis kelamin perempuan baik di desa maupun di kota relatif sama (Tabel 1).

Berdasarkan usia anak, penggunaan garam tidak cukup (<30 ppm) di desa lebih besar daripada penggunaan garam beryodium cukup (≥30 ppm) yakni 53,6 % sedangkan yang cukup 53,0%, untuk anak usia 18 sampai 36 bulan. Pada anak usia di atas 36 bulan, penggunaan garam tidak cukup mengandung yodium juga lebih kecil daripada penggunaan garam cukup mengandung yodium (terlihat pada Tabel 1)

Tidak berbeda dengan di desa, di kota penggunaan garam tidak cukup (<30 ppm) lebih besar daripada beryodium cukup (≥30 ppm) yakni 53,7% sedangkan yang cukup 53% pada anak usia 18 sampai 36 bulan. Pada anak usia di atas 36 bulan, penggunaan garam tidak cukup mengandung yodium juga lebih kecil daripada penggunaan garam cukup mengandung yodium, yaitu 46,3% dan 47%.

(3)

beryodium atau tidak cukup mengandung yodium baik di kota maupun di desa. Begitu juga dengan usia di mana penggunaan garam cukup mengandung yodium maupun tidak cukup mengandung yodium juga tidak menunjukkan adanya hubungan.

Tabel 1. Karakteristik Subjek Penelitian

Variabel

Jumlah anggota keluarga terbesar berjumlah lebih dari 4 orang baik di desa maupun di kota. Di desa pada keluarga yang jumlah anggotanya 4 atau kurang, penggunaan garam beryodium tidak cukup lebih kecil daripada cukup daripada yang menggunakan garam cukup beryodium, sedang-kan untuk keluarga yang jumlah anggota kelu-arganya lebih dari 4 orang, penggunaan garam tidak cukup beryodium lebih besar daripada yang menggunakan garam beryodium cukup.

Di kota, keluarga yang jumlah anggota keluarganya 4 orang atau kurang, penggunaan garam tidak cukup mengandung yodium lebih besar daripada yang cukup, sedangkan pada keluarga yang jumlah anggota keluarganya lebih dari 4 orang, yang mengkonsumsi garam tidak cukup mengandung yodium lebih kecil diban-dingkan daripada keluarga yang menggunakn garam cukup mengandung yodium (Tabel 2).

Tabel 2. Karakteristik Keluarga

Variabel dibandingkan dengan keluarga yang menggu-nakan garam cukup beryodium pada rumah tangga dengan usia ibu di bawah 25 tahun. baik di desa maupun di kota (Tabel 2). Sedangkan pada usia ibu 25 tahun atau lebih, penggunaan garam yang tidak cukup menggandung yodium baik di kota maupun di desa lebih kecil daripada penggunaan garam cukup mengandung yodium.

Tinggi ibu terbesar terdapat pada tinggi dibawah 150 cm untuk di desa, sedangka di kota terbesar terdaapt pada tinggi di atas 150 cm. Tinggi ibu tidak memberikan hubungan yang sig-nifikan terhadap penggunaan garam beryodium.

Pekerjaan dan Pendidikan Orang Tua

Jenis pekerjaan ayah pada umumnya adalah sebagai buruh, baik di desa maupun di kota sebagai buruh dan petani, memperlihatkan penggunaan garam yang tidak cukup mengan-dung yodium lebih besar dibandingkan dengan keluarga yang menggunakan garam cukup beryo-dium, baik di desa maupun di kota. Bagi ayah yang bekerja sebagai pedagang dan PNS/ABRI, penggunaan garam cukup mengandung yodium lebih besar daripada yang tidak cukup mengan-dung yodium.

Hal tersebut juga terlihat pada jenis pekerjaan ibu, dimana ibu yang memiliki jenis pekerjaan sebagai buruh dan petani, memper-lihatkan penggunaan garam yang tidak cukup mengandung yodium lebih besar dibandingkan dengan keluarga yang menggunakan garam cukup beryodium, baik di desa maupun di kota, sedangkan ibu yang bekerja sebagai pedagang dan PNS/ABRI, penggunaan garam cukup mengandung yodium lebih besar daripada yang tidak cukup mengandung yodium.

(4)

Tabel 3. Pekerjaandan Pendidikan Orang Tua pada tingkat SD yaitu sebesar 48,5%, sedangkan pendidikan ayah di kota terbesar pada tingkat SMA atau sampai perguruan tinggi yaitu sebesar 41,7%. Pada pendidikan ibu, baik di desa maupun di kota tertinggi adalah sampai SD. Bila dilihat dari Tabel 3, penggunaan garam tidak cukup mengandung yodium pada ayah yang pendidikkannya sampai SD atau kurang lebih besar dari pada penggunaan cukup garam beryodium. Sedangkan pada tingkat pendidikan SMP dan SMA, penggunaan garam cukup beryodium lebih besar daripada yang tidak cukup mengandung yodium (desa).

Pendidikan ayah di kota, yang pendidikkan SD dan SMP, penggunaan garam cukup mengandung lebih kecil dari pada penggunaan garam yang tidak cukup mengandung yodium. Sedangkan pada tingkat pendidikan SMA, penggunaan garam cukup beryodium lebih besar daripada yang tidak cukup yodium. Hal tersebut juga terjadi pada tingkat pendidikan ibu, dimana ibu yang tingkat pendidikannya sampai SD, penggunaan garam yang tidak cukup mengan-dung yodium di desa lebih besar daripada yang cukup mengandung yodium. Sedangkan pada tingkat pendidikan SMP dan SMA, penggunaan garamcukupberyodiumlebihbesardaripada yang tidak cukup mengandung yodium.

Di kota, ibu yang pendidikannya SD, penggunaan garam cukup mengandung yodium lebih kecil dari pada penggunaan garam yang tidak cukup mengandung yodium. sedangkan pada tingkat pendidikan SMP dan SMA, penggunaan garam cukup beryodium lebih besar daripada yang tidak cukup yodium. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan ibu cenderung berhubungan dengan penggunaan garam cukup mengandung yodium.

Dari hasil satu studi diketahui bahwa ada hubungan antara tingkat pendidikan responden dengan ketersediaan garam beryodium di rumah tangga. Studi tersebut menunjukkan bahwa makin tinggi tingkat pendidikan responden makin baik pula ketersediaan garam beryodium di rumah tangga. Sebaliknya semakin rendah tingkat pendidikan responden maka ketersediaan garam beryodium makin tidak baik. Pendidikan ibu mempunyai hubungan yang positif dengan mutu gizi makanan keluarga ( Handayani, 2003).

Pendidikan yang rata-rata masih rendah khususnya di kalangan wanita merupakan salah satu masalah pokok yang berpengaruh terhadap masalah kesehatan. Pendidikan akan memudah-kan seseorang mendapatmemudah-kan informasi yang berguna untuk memperoleh kemudahan-kemu-dahan. Karena itu seseorang yang berpendidikan di samping dapat memahami maksud dan tujuan dilaksanakannya suatu kegiatan, juga dapat menganalisis kegiatan yang lebih mendatangkan manfaat, sedangkan masyarakat berpendidikan rendah karena ketidaktahuannya menyebabkan mereka tidak selektif (Neumann CG , 1994).

Hubungan Penggunaaan Garam Beryodium dan Pertumbuhan Anak

Dari hasil tabulasi silang diperoleh bahwa status gizi berdasarkan TB/U pada keluarga yang penggunaan garam beryodium tidak cukup (<30 ppm), status gizi kurang lebih besar dari-pada gizi baik. Sedangkan untuk keluarga yang mengkonsumsi garam cukup beryodium (≥ 30 ppm), status gizi baik lebih besar baik di desa maupun di kota ( Tabel 4 ).

(5)

kadar senyawa T3 kurang akibat kebutuhan yodium yang tidak tercukupi, maka laju metabolisme basal sel akan rendah, sehingga proses tumbuh kembang menjadi terganggu dan terhambat.

Tabel 4. Hubungan antara Status Gizi dan Penggunaan Garam

Variable

Status Gizi (TB/U)

Desa Kota > - 2SD < -2 SD

Desa (%)

Kota (%)

Desa (%)

Kota (%)

Tidak <30 ppm 36,6 29,8 46,4 31,8 168,6 2,1

Ya ≥30 ppm 63,4 68,2 53,6 66,1

Dari beberapa studi dikemukakan bahwa kekurangan yodium dapat berakibat antara lain pada gangguan pertumbuhan fisik dan keterbe-lakangan mental (Zahraini, 2009). Pada penderita GAKY bukan kretin akan mengalami penurunan poin sebesar 10 dibawah normal sedangkan pada penderita gondok akan mengalami penurunan sebesar 5 dibawah normal. Dengan demikian jumlah seluruh defisit mental di Indonesia disebabkan GAKY adalah 122,5-130 juta IQ poin (Jalal,1998). Penderita GAKY akan mengalami gangguan metabolisme sehingga badannya merasa dingin dan lesu akan berat rendahnya produktivitas kerja (Aritonang E dan Evinaria (2004).

Menurut gangguan yang terjadi akibat kekurangan yodium antara lain gangguan pertumbuhan fisik dan keterbelakangan mental. Gangguan fisik meliputi pembesaran kelenjar tiroid (gondok) dan kreatin (kerdil), sedangkan gangguan keterbelakangan mental termasuk berkurangnya kekurangan tingkat kecerdasan anak Zahraini, 2009). Gangguan kekurangan yodium selanjutnya dapat berakibat pada rendah-nya prestasi belajar anak usia sekolah, rendahrendah-nya produktifitas kerja pada orang dewasa serta tim-bulnya berbagai permasalahan sosial ekonomi masyarakat yang dapat menghambat pemba-ngunan (Depkes, 2005).

Analisis Multivariat

Analisis multivariat dilakukan pada penggu-naan garam beryodium dengan karakteristik anak, karakteristik ibu, pekerjaan orangtua serta pendidikan orangtua. Dari variabel tersebut, yang memberikan hasil yang berbeda signifikan

adalah pendidikan ibu, pekerjaan ayah dan pekerjaan ibu di perkotaan kumuh dan miskin.

Tabel 5. Hasil Analisis Regresi Logistik

Faktor Nilai P OR 95% Cl

Pendidikan Ibu 0.000 1.202 1.130-1.278 Pekerjaan Ayah 0.001 1.101 1.041-1.165 Pekerjaan Ibu 0.176 1.034 0.985-1.085

Konstanta 0.000

Dari Tabel 5 terlihat bahwa pendidikan ibu yang tinggal di daerah kota kumuh dan miskin memberikan peluang 1,201 kali menggunakan garam cukup mengandung yodium. Pekerjaan ayah yang tinggal di daerah kota kumuh dan miskin memberikan peluang 1,101 kali menggu-nakan garam cukup mengandung yodium, begitu juga dengan pekerjaan ibu memberikan peluang 1,034 kali menggunakan garam cukup mengan-dung yodium.

SIMPULAN

Penelitian ini memberikan beberapa kesim-pulan yaitu:

Jenis pekerjaan ibu dan ayah berhubungan dengan penggunaan garam mengandung cukup yodium, begitu pula dengan tingkat pendidikan ibu dan ayah baik yang tinggal di desa maupun di kota.

Penggunaan garam mengandung cukup yodium berhubungan dengan pertumbuhan linier anak. Pada anak yang konsumsi garam mengan-dung tidak cukup yodium, akan mengalami pertumbuhan linier yang tidak normal. Tinggi anak lebih pendek dibandingkan dengan anak yang mengkonsumsi garam cukup mengandung yodium.

Pendidikan ibu, pekerjaan ayah dan peker-jaan ibu adalah faktor yang berhubungan dengan penggunaan garam cukup beryodium. Rendah-nya pendidikan ibu mempengaruhi pengetahuan gizi dalam penggunaan garam beryodium.

(6)

DAFTAR RUJUKAN

Aritonang, E. dan Evinaria. Pola Konsumsi Pangan, Hubungannya Dengan Status Gizi Dan Prestasi Belajar Pada Pelajar Sd Di Daerah Endemik Gaki Desa Kuta Dame Kecamatan Kerajaan Kabupaten Dairi Propinsi Sumatera Utara. Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Suma-tera Utara. 2005.

Budiman, B. Growth determinant for children 6-8 year old in IDD area. Food and nutrion researc Bogor. Centre Pusat Penelitian dan Pengembangan Gizi 1993.

Camilla H, T R Udam, L. Lauritzen, C. Møl-gaard, A. Juul and Kim Fleischer Michaelsen. Animal protein intake, serum insulin-like growth factor I, and growth in healthy 2.5-y-old Danish children. American Journal of Clinical Nutrition, Vol. 80, No. 2, 447-452, August 2004. Hariyanto. Family behavior make use of iodized

salt in Iodine deficiency disorders (Case studi in Kelurahan Kejawan Putih Tambak Kecamatan Mulyorejo). Skripsi, Surabaya: FKM UNAIR. 2001.

Handayani,M., D Boediman, E.P. Prawiroharto .Linier growth of schoolchildren who stunted and no stunted with factors of influence. Tambo Gizi. 2003.

Jalal, F. 1996. Gizi dan kualitas hidup. Makalah disampaikan pada Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi VI. Serpong, 17-20 February 1998.

Juan A R., Teresita G.C., Mario F., Minerva R., Marta Rivera, Martha M Téllez-Rojo, Jorge L R and Kenneth H B . Multiple micronutrient supplementation increases the growth of Mexican infants. American Journal of Clinical Nutrition, Vol. 74, No. 5, 657-663. 2001.

Jelliffe, D and E.F.P Jelliffe, A. Zerfas and C.G. Neumann. Community nutritional assess-ment. New York; Tofyo: Oxford. Press. 1989.

Lopriore, Yamina Guidoum, André Briend and Francesco Branca . 2004. Spread fortified with vitamins and minerals induces catch-up growth and eradicates severe anemia in stunted refugee children aged 3–6 y . American Journal of Clinical Nutrition, Vol. 80, No. 4, 973-981, October 2004

Martorell R, Rivera J, Kaplowitz H. Conse-quences of stunting in early childhood for adult body size in rural Guatemala. Ann Nestle [Fr] 1990.

Neumann CG, Harrison GG. Onset and evolution of stunting in infants and children. Examples from the Human Nutrition Collaborative Research Support Program. Kenya and Egypt studies. Eur J Clin Nutr ;48:S90–120. 1994.

Pudjiadi, S. . Ilmu Gizi Klinis Pada Anak. Fakultas Kedokteran Universitas Indo-nesia. 2003.

Rusminah, S. dan I .R Gunanti. Factors where association with salt availability in household . IDD-Indonesia.Net, Centre of control something considered superior Iodine deficiency disorders in Indonesian . 2005.

Satoto. Growth and development of children . Unpublished disertasi, Universitas of Diponegoro. Semarang.1990.

Sujudi. Pengarahan Menteri Kesehatan. Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi VIII. 2004.

Waterlow JC. Observations on the natural history of stunting. In: Waterlow JC, ed. Linear growth retardation in less developed countries. New York: Vevey/ Raven Press, :1–16. (Nestle Nutrition Workshop Series, vol 14.) 1988.

WHO – EAO – IAEA, Iodine. In Trace Elements in Human Nutrition and Health. Geneva : WHO, 1997.

Gambar

Tabel 2.  Karakteristik Keluarga
Tabel 5. Hasil Analisis Regresi Logistik

Referensi

Dokumen terkait

Anemia dalam kehamilan sama seperti yang terjadi pada wanita yang.

Dengan perkataan lain, hak konsumen dalam arti yang luas ini dapat disebut sebagai dimensi baru hak asasi manusia yang tumbuh dan harus dilindungi

Hasil uji t diperoleh nilai t hitung variabel kualitas pelayanan sebesar 0,689 dengan p value (0,493) &gt; 0,05, maka Ho diterima berarti bahwa kualitas

Berkaitan dengan pentingnya hal tersebut, maka perlu diperhatikan oleh perusahaan Hello Tours and Travel Manado, yakni sebuah perusahaan yang bergerak dibidang

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh Motivasi dan Kepuasan Kerja terhadap kinerja karyawan PT Hexindo Adiperkasa Tbk Cabang

PElYULUHAN TENTANG PEWANAMAN KONSEP DAlAM MATEMATIKA KEPADA GURU-GURU KELAS V DAN Vl SEKOLAH DASAR.. Dl KECAMLTAW PADAWG BARAT KODYA

Hasil penelitian tanaman obat di Desa Semandang Kiri Kecamatan Simpang Hulu Kabupaten Ketapang, ditemukan 56 spesies dari 38 family yang dimanfaatkan sebagai

RKPD Tahun 2016 sebagai pedoman penyusunan RAPBD, perlu dijabarkan dalam Kebijakan Umum Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (KU-APBD) Provinsi Kalimantan Timur