ACARA 1
BUDIDAYA JAMUR TIRAM
Disusun oleh:
Werdi Nur Solihah
1401070029
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO
A. Tujuan
1. Mengetahui cara budidaya jamur tiram
2. Mengetahui komposisi berbagai macam media jamur tiram 3. Mengetahui cara pembuatan media jamur tiram
4. Mengetahui cara perawatan jamur tiram 5. Mengetahui cara inokulasi jamur tiram
6. Mengetahui pengaruh jenis pupuk terhadap kesuburan jamur tiram
B. Dasar Teori
Jamur tiram atau dalam bahasa latin disebut Pleurotus sp. Merupakan salah satu jamur konsumsi yang bernilai tingi. Beberapa jenis jamur tiram yang biasa dibudidayakan oleh masyarakat Indonesia yaitu jamur tiram putih (P.ostreatus), jamur tiram merah muda P.flabellatus), jamur tiram abu-abu (P. sajor caju), dan jamur tiram abalone (P.cystidiosus). Pada dasarnya semua jenis jamur ini memiliki karateristik yang hampir sama terutama dari segi morfologi, tetapi secara kasar, warna tubuh buah dapat dibedakan antara jenis yang satu dengan dengan yang lain terutama dalam keadaan segar.
Di alam liar, jamur tiram merupakan tumbuhan saprofit yang hidup dikayu-kayu lunak dan memperoleh bahan makanan dengan memanfaatkan sisa-sisa bahan organik. Jamur tiram termasuk termasuk tumbuhan yang tidak berklorofil (tidak memliliki zat hijau daun) sehingga tidak bisamengolah bahan makanan sendiri. Untuk memenuhi kebutuhan hidup, jamur tiram sangat tergantung pasa bahan oranik yang diserap untuk keperluan pertumbuhan dan perkembangan. Nutrisi utama yang dibutuhkan jamur tiram adalah sumber karbon yang dapat disediakan melalui berbagai sumber seperti sebuk kayu gergajian dan berbagai limbah organik lain.
matahariyang dibutuhkan untuk pertumbuhan jamur sangat sedikit berkisar antara 50-300 lux atau masih terbacanya huruf dikoran dalam jarak sedepa.
Beberapa jenis jamur yang telah dikenal petani Indonesia seperti Jamur merang, jamur kuping, jamur shitake, jamur tiram, jamur merang dan jamur lingzhi mempunyai nilai ekonomi yang tinggi untuk dikembangnkan karena cara budidaya relatif mudah,tidak memerlukan lahan yang luas, prospeknya menjanjikan. Sebagai Sebagai bahan pangan jamur menjadi salah satu sumber protein seperti thiamine 2 (vitamin B1), riboflavin (vitamin B2), niasin, biotin dan vitmin C serta mineral. Sebagai bahan fungsional jamur mengandung bahan aktif yang terdiri dari senyawa polisakarida (glikan), triterpen, nukleotida, monitol, alkoloid dan lain-lain yang bermanfaat untuk kesehatan tubuh. MenurutCrisan dan Sands (1978) rata-rata kandungan protein (% berat kering) dari jamur kuping adalah 4-9%, jamur kancing 24-44%, jamur shitake 10-17%, jamur tiram 10-30%, jamur merang 21-30%. Daya cerna tubuh terhadap protein yang dikandung jamur pun sangat tinggi berkisar antara 71-90%.
Selain mengandung kandungan senyawa yang penting bagi tubuh jamur juga telah memerankan peranan penting dalam upaya pengobatan masyarakat sejak berabad-abad yang lampau. Seorang ahli fisika dari dinasti Ming, Wu Shui, dalam abad ke-15 telah melaporkan manfaat obat dari jamur shitake. Dilaporkan bahwa jamur ini dapat meningkatkan fitalitas dan energi, meningkatkan seksualitas dan mencegah penuaan (Jones, 1990). Akhir-akhir ini produk kesehatan dari ekstrak jamur lingzhi murni dalam bentu tablet maupun kapsul dengan nama Reishi di Amerika dan Daxen di Malaysia dan Indonesia telah menjadi primadona yang dapat menyembuhkan banyak penyakit terutama kanker dan penyakit gula. Secara umum manfaat jamur Bagi pengobatan dan penyembuhan.
Jamur jenis ini banyak dikembangkan didaerah dataran tinggi seperti propinsi Jawa Barat (Kabuapten Bandung, Garut, dan Bogor), Propinsi Jawa Tengah (Kabupaten Wonosobo, Kab.Magelang, Kab. Solo), Propinsi DIY (Kabupaten Sleman), Propinsi Bali (Kab. Badung) dan Propinsi Jawa Timur (Kota Batu). Kondisi disetiap lokasi sangat berbeda tergantng kebiasaan petani setempat. Namun demikian yang paling penting adalah diperlukannya penguasaan teknik dan metde produksi terutama dalam pengaturan iklim mikro di dalam rumah
2. Alat Pengadukan, ayakan, cangkul, sekop, ember, selang.
3. Alat inokulasi: lampu bunsen, masker, jas lab, spatula/pinset, alkohol/spritus, hand Sprayer
4. Alat angkut: keranjang 5. Alat penyiraman 6. Alat Panen
Bahan
Formula 1
1. Serbuk gergaji kayu 10.000 g 2. Bekatul 1000 g
3. Gipsum 150 g 4. Kapur 50 g 5. TSP 50 g
Formula 2
1. Serbuk gergaji kayu 10.000 g 2. Bekatul 50 g
Formula 3
1. Serbuk gergaji kayu 10.000 g 2. Sisa kapas atau sisa kertas 100 g 3. Bekatul 50 g
4. pH media 5,0
Formula 4
1. Serbuk gergaji kayu 50% 2. Bekatul 5%
3. Tepung jagung 4% 4. Gips 1%
5. Air bersih 50-60% 6. pH media 4,5-5,5
D. Cara Kerja
1. Mencampurkan semua bahan sampai merata
2. Memberi sedikit air sampai media dapat dibentuk kepalan, namun air tidak sampai menetes
3. Memasukan kedua ujung plastik kedalam sehingga permukaan bawah plastik rata
4. Memasukan media kedalam plastik/polybag sambil memadatkannya dengan menggunakan kayu kurang lebih 1 kg plastic
5. Mensterilkan media tanam menggunakan autoklaf Menanam bibit jamur yaitu dengan cara :
Mengambil bibit 6 butir, lalu menutupnya dengan kapas 6. Mengikubasi di ruang inkubasi atau ruang budidaya
DAFTAR PUSTAKA
Cahyana YA. Muchordji, M. Bakrun. 2001. Pembibitan, Pembudidayaan, analisa Usaha Jamur Tiram. Penebar Swadaya. Jakarta.
Direktorat Budidaya Tanaman Sayuran dan Biofarmaka. Jamur Tiram. Direktorat Jenderal Bina Jenderal Hortikultura. Jakarta.
Basuki Rahmat. 2000. Dasar-dasar Usaha Budidaya Jamur. MAJI publikasi. Bandung.