2015
AMTeQ
PENGUKURAN KINERJA KELOMPOK PENELITIAN DALAM LEMBAGA PEMERINTAH
(STUDI KASUS: SEBUAH KELOMPOK PENELITIAN LEMBAGA X)
Sih Damayanti1,*, Medi Yarmen1,**
1Pusat Penelitian Sistem Mutu dan Teknologi Pengujian – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia
Kawasan Puspiptek Gedung 417 Tangerang Selatan 15314, Banten korespondensi: [email protected]*
INTISARI
Tulisan ini bertujuan untuk membuat rerangka (framework) pengukuran kinerja untuk kelompok penelitian dan mengukur sebuah kinerja kelompok penelitian di Lembaga X dalam periode 2014. Data penelitian diperoleh berdasarkan studi dokumen yang terkait kelompok penelitian, studi literatur pengukuran kinerja organisasi penelitian, dan diskusi dengan peneliti kelompok penelitian obyek pengukuran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rerangka (framework) pengukuran kinerja untuk kelompok penelitian terdiri atas 4 perspektif dengan 8 indikator. Lebih lanjut, berdasarkan hasil pengukuran yang dilakukan dengan menggunakan framework tersebut, kinerja kelompok penelitian obyek pengukuran berada pada kategori cukup, yaitu level 3 dari 5 level dengan nilai 3.050.
Kata Kunci: Pengukuran Kinerja, Kelompok Penelitian, framework
ABSTRACT
This paper aims to develop a research group performance measurement framework and to measure the performance of research group at Institute X in 2014. The research data were obtained by the study of documents related research group, literature study of performance measurement of research organizations, and discussions with researchers of research group measurement object. The research results showed that the performance measurement framework for the research group consists of 4 perspectives with 8 indicators. Furthermore, based on the results of the measurements using the framework, the performance of research group measurement object is in the category of standard performance, which is 3rd level of 5 levels with the value of 3,050.
Keywords: Performance Measurement, Research Group, Framework
1. PENDAHULUAN
Pengukuran kinerja dilakukan untuk mengetahui sejauh mana pencapaian kinerja seorang pekerja, sebuah unit kerja ataupun sebuah organisasi [1]. Pengukuran kinerja digunakan untuk mengevaluasi apakah proses kerja yang dilakukan individu, unit kerja, atau organisasi sudah efektif dan efisien dalam menjalankan tugas dan fungsi yang telah ditetapkan sebelumnya [1]. Berdasarkan hal tersebut, pengukuran kinerja organisasi dapat dijadikan sebagai pedoman organisasi dalam upaya peningkatan proses bisnis (business proses improvement) organisasi untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi untuk mendukung daya saing organisasi.
Pengukuran kinerja dalam bidang penelitian saat ini belum dilakukan secara optimal. Sekarang ini tidak banyak data yang tersedia yang dapat digunakan untuk mengevaluasi
336
efisiensi kinerja peneliti dan organisasi penelitian [2]. Selain itu tidak banyak alat yang dapat digunakan untuk mengukur dan mengevaluasi proses bisnis dalam suatu organisasi penelitian [2]. Beberapa penelitian tentang pengukuran kinerja pada organisasi penelitian memang telah dilakukan [2,3,4,5]. Akan tetapi hasil dari penelitian-penelitian tersebut tidak mudah untuk diterapkan dalam organisasi penelitian pemerintah [5]. Hal tersebut disebabkan oleh perbedaan karakteristik kunci pada setiap organisasi [5].
Pengukuran kinerja organisasi harus objektif sesuai dengan tujuan dan alasan dibentuknya suatu organisasi [5]. Indikator atau kriteria yang digunakan dalam pengukuran harus sesuai dengan proses bisnis dan kriteria capaian organisasi [5]. Tidak hanya itu, pengukuran kinerja harus dapat menggambarkan kinerja organisasi secara keseluruhan dan dapat dibandingkan dengan organisasi sejenis dengan tujuan benchmarking [6].
Pengukuran kinerja pada organisasi penelitian milik pemerintah di Indonesia harus mulai mendapatkan perhatian yang lebih. Kinerja organisasi menjadi acuan bagi pemerintah dalam memberikan dana kegiatan. Seperti yang tertuang dalam ADIK [7], bahwa pemerintah mentransformasi sistem penganggaran yang berdasarkan pada jenis belanja atau berbasis pada input menjadi penganggaran yang berbasis pada kinerja dengan orientasi pada outcome yang akan dimulai pada tahun 2016. Sistem penganggaran berbasis outcome tersebut diatur dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara [7]. Mengingat hal itu, membahas pengukuran kinerja dalam konteks organisasi penelitian di Indonesia menjadi penting dan menarik untuk dilakukan.
Secara lebih spesifik, seiring geliat reformasi birokrasi, salah satu isu yang harus dipertimbangkan dalam Lembaga Penelitian Pemerintah di Indonesia adalah munculnya pola kelompok penelitian untuk menggantikan struktur bidang teknis. Pada Pusat Penelitian, kelompok penelitian ini bersifat fungsional dan langsung bertanggung jawab kepada Pimpinan Tertinggi Lembaga. Lebih lanjut, kelompok penelitian ini dapat disebutkan sebagai core player Pusat Penelitian. Mengingat hal itu, kinerja kelompok penelitian menjadi penting untuk diperhatikan. Sayangnya, literatur-literatur yang ada umumnya membahas kinerja pada level individu peneliti atau level lembaga. Oleh karena itu, menjadi penting untuk menjawab pertanyaan bagimanakah pengukuran kinerja kelompok penelitian yang terdapat pada organisasi penelitian pemerintah?
Berdasarkan hal itu, penelitian ini bertujuan untuk membuat rerangka (framework) pengukuran kinerja untuk kelompok penelitian dengan studi kasus dilakukan pada sebuah kelompok penelitian di Lembaga X. Lebih lanjut, penelitian ini juga bertujuan untuk mengukur kinerja kelompok penelitian tersebut berdasarkan framework yang telah dibuat. Secara praktis, hasil penelitian ini akan bermanfaat karena dapat dijadikan referensi dalam melakukan pengukuran kinerja yang terkait kelompok penelitian.
2. DASAR TEORI
Kinerja merupakan konsep yang digunakan oleh suatu organisasi untuk menilai seberapa besar hasil yang telah dicapai dalam upaya untuk mencapai tujuan organisasi
[8]. Kinerja menggambarkan seberapa besar kinerja yang dihasilkan oleh sebuah
organisasi dibandingkan dengan kinerjanya terdahulu (previous performance) dan dibandingkan dengan organisasi lain (benchmarking) dan berapa besar pencapaian organisasi terhadap tujuan dan target yang telah ditetapkan sebelumnya [6].
Pengukuran kinerja didefinisikan sebagai proses perhitungan efisiensi dan efektivitas sebuah kinerja dari suatu pekerjaan [8]. Pengukuran kinerja dapat memberikan dampak pada lingkungan dimana kinerja tersebut diukur [8]. Bagaimana keadaan awal pengukuran, keputusan mengenai apa yang akan diukur, bagaimana mengukurnya, dan apa yang menjadi target dari proses yang diukur akan berpengaruh terhadap pekerja baik secara individu atau kelompok dalam organisasi [8]. Untuk dapat mengukur kinerja organisasi, terlebih dahulu harus dipahami apa yang menjadi tujuan organisasi [9]. Tujuan organisasi tersebut didefinisikan dan dikonversi menjadi angka yang kemudian dijadikan pembanding atau target pengukuran kinerja organisasi [9].
Proses perancangan sistem pengukuran kinerja harus melibatkan akademisi maupun praktisi, mempertimbangkan teori tentang model dengan studi kasus dimana sebuah pengukuran tersebut telah diaplikasikan dan dilakukan percobaan [10]. Dalam proses perancangan sistem pengukuran kinerja harus mempertimbangkan strategi bisnis sebuah organisasi, target apa yang akan dicapai dan bagaimana dapat mencapainya yang kemudian dirinci lagi menjadi model kinerja organisasi [1].
2.2. Kinerja Organisasi Penelitian
Pengukuran kinerja pada organisasi penelitian berbeda-beda sesuai dengan karakteristik organisasi [2]. Pada dasarnya pengukuran kinerja pada organisasi penelitian terdiri dari 5 elemen utama [11] yaitu tujuan, dimensi kinerja, indikator, struktur dan proses pengukuran. Dimana kelima elemen tersebut saling berkaitan satu sama lain.
Kinerja pada organisasi penelitian menurut Coccia [12] dapat diukur berdasarkan pada 2 hal yaitu, input dan output. Input penelitian terdiri dari dana penelitian, gaji pegawai dan biaya tenaga kerja, sedangkan output penelitian terdiri dari swadana dari kegiatan transfer teknologi pelatihan, jumlah program yang diselenggarakan oleh peneliti, publikasi internasional dan nasional, prosiding konferensi internasional dan nasional
[12]. Disamping itu, output utama dalam sebuah penelitian adalah pengetahuan.
Pengetahuan tersebut bisa dituangkan dalam beberapa bentuk, misalnya artikel, buku, prototype, paten, metode dan juga training terhadap orang lain [13].
Output penelitian tersebut diharapkan memiliki dampak positif pada masyarakat luas, memberikan kemajuan dalam teknologi dan dunia ilmiah dan dapat menjadi penggerak kekuatan nasional [12]. Dampak sebuah hasil penelitian diasumsikan sama dengan frekuensi sebuah hasil penelitian berupa karya tulis atau paten disitasi oleh masyarakat
[2]. Seberapa besar jumlah sitasi terhadap hasil penelitian dapat dijadikan sebagai indikator kinerja peneliti [2].
Pengukuran kinerja pada organisasi penelitian dapat memberikan beberapa manfaat, antara lain untuk memberikan motivasi kepada peneliti, mengevaluasi kegiatan penelitian, memberikan pertimbangan dalam proses pembuatan keputusan, dan untuk merangsang pembelajaran bagi organisasi [2].
338
3. METODE DAN TEKNIK PENGUKURAN
Penelitian ini bertujuan untuk merancang rerangka (framework) pengukuran kinerja untuk kelompok penelitian pada sebuah organisasi penelitian dan mengukur kinerja kelompok penelitian tersebut berdasarkan framework yang dibuat. Penelitian ini dilakukan pada sebuah kelompok penelitian di Lembaga X. Lebih lanjut, penelitian ini akan melakukan pengukuran kinerja pada kelompok penelitian tersebut. Tahapan yang dilakukan dalam penelitian ini dapat dilihat pada Gambar 1. Tahap 1 hingga tahap 5 merupakan tahap perancangan rerangka (framework) pengukuran kinerja kelompok penelitian untuk menjawab tujuan pertama penelitian. Hasil dari tahapan 1 dan tahapan 4, berupa framework pengukuran kinerja kelompok penelitian, ditampilkan secara langsung pada bagian 3 tulisan ini (Metode dan Teknik Pengukuran). Framework tersebut meliputi perspektif, indikator, bobot, maupun kategorisasi indeks kinerja kelompok penelitian. Framework tersebut diperoleh berdasarkan studi dokumen yang terkait kelompok penelitian, studi literatur pengukuran kinerja organisasi penelitian, dan diskusi dengan peneliti personel informan kunci yang ada pada kelompok penelitian obyek pengukuran dan ditunjuk oleh koordinator kelompok peneliti sebagai pihak yang berkompeten terkait kegiatan pengukuran kinerja selanjutnya disebut sebagai peneliti kelompok penelitian obyek pengukuran saja. Pelibatan peneliti kelompok penelitian obyek pengukuran, sesuai saran [10], dalam pembuatan framework ini untuk memastikan bahwa framework yang dibuat sesuai dengan konteks obyek pengukuran dan juga untuk memvalidasi framework.
Tahap 5 dan tahap 6 merupakan tahap pengukuran kinerja kelompok penelitian. Tahapan ini untuk menjawab tujuan penelitian kedua. Lebih lanjut, pada tahap ini, pengumpulan data dijelaskan secara tersendiri pada bagian pengumpulan data untuk pengukuran kinerja. Pengukuran kinerja pada penelitian ini dibatasi pada periode tahun 2014.
3.1. Memahami konteks Kelompok Penelitian
Pada tahap ini dilakukan identifikasi terhadap proses bisnis organisasi untuk mengetahui karakteristik organisasi dan stakeholder yang berhubungan dan berpengaruh terhadap kinerja organisasi. Lebih lanjut dilakukan identifikasi terhadap peraturan perundangan, keputusan kepala LIPI serta Surat Keputusan lainnya yang berhubungan dengan kegiatan organisasi. Hal tersebut bertujuan agar indikator yang nantinya yang ditetapkan sebagai kinerja organisasi sesuai dengan tugas dan fungsi organisasi dan tidak bertentangan dengan peraturan perundangan yang ada. Konteks kelompok penelitian obyek pengukuran dituliskan dalam bagian Hasil dan Pembahasan sub bagian Mengenal Kelompok Penelitian Obyek Pengukuran.
3.2. Mengidentifikasi Perspektif Pengukuran Kinerja
Tahap 1: Memahami konteks kelompok penelitian
Tahap 2: Mengidentifikasi perspektif Pengukuran Kinerja
Tahap 3: Mengidentifikasi indikator pada setiap perspektif Pengukuran Kinerja
Tahap 4: Membangun indeks kinerja
Tahap 5: Mengumpulkan data
Tahap 6: Mengukur kinerja
Gambar 1. Metodologi penelitian
3.3. Mengidentifikasi Indikator Pada Setiap Perspektif pengukuran Kinerja
Pada tahap ini dilakukan identifikasi indikator terhadap setiap perspektif pengukuran kinerja kelompok penelitian. Pada tahap sebelumnya telah ditetapkan bahwa pengukuran kinerja kelompok penelitian menggunakan 4 perspektif yaitu input, aktivitas, output, dan outcome, sehingga pada tahap ini akan diidentifikasi indikator pada setiap perspektif tersebut. Indikator diperoleh berdasarkan studi literatur dan divalidasi oleh peneliti kelompok penelitian obyek pengukuran.
Pada perspektif pertama, input, ada beberapa indikator yang mengindikasikan kinerja kelompok penelitian pada Lembaga X yaitu tingkat pendidikan SDM, jabatan fungsional peneliti SDM, dan serapan anggaran penelitian DIPA. Pemilihan indikator ini disebabkan pertimbangan bahwa kelompok penelitian obyek pengukuran bergerak pada bidang penelitian manajemen mutu. Hal ini berimplikasi input yang paling penting bagi kelompok ini adalah kualitas sumber daya peneliti dan anggaran. Berdasarkan diskusi dan kesepakatan dengan peneliti kelompok penelitian obyek pengukuran, ketiga indikator tersebut merepresentasikan kualitas sumber daya peneliti dan anggaran.
Pada perspektif kedua, aktivitas/proses bisnis, indikatornya adalah efisiensi, perbandingan output dengan dana terkait penelitian. Output dalam indikator ini akan dikonversi dalam bentuk rupiah dengan output utama berupa Karya Tulis Ilmiah (KTI) mengingat kelompok penelitian berada di Lembaga yang memiliki tugas melakukan riset dasar. Dana terkait penelitian ini meliputi jumlah anggaran tematik yang diperoleh oleh kelompok penelitian dan jumlah anggaran untuk gaji dan tunjangan anggota kelompok penelitian.
Pada perspektif ketiga yaitu output terdapat beberapa indikator yang diacu berdasarkan PERKA LIPI nomor 2 tahun 2014 [14]. Indikator tersebut meliputi jumlah KTI yang dihasilkan dan kualitas KTI yang dihasilkan. KTI yang dihasilkan dapat mencakup KTI yang terbit dalam bentuk buku oleh penerbit internasional, KTI yang terbit dalam
340
bentuk buku oleh penerbit nasional, KTI yang menjadi bagian dari buku oleh penerbit internasional, KTI yang menjadi bagian dari buku oleh penerbit nasional, KTI yang terbit dalam majalah ilmiah internasional, KTI yang terbit dalam majalah ilmiah nasional terakreditasi, KTI yang terbit dalam prosiding pertemuan ilmiah internasional, dan KTI yang terbit dalam prosiding pertemuan ilmiah nasional. Jumlah KTI mencakup jumlah seluruh jenis KTI yang mungkin dihasilkan menurut PERKA LIPI No. 2 tahun 2014. Sementara itu, kualitas KTI dilihat dari persentase antara jumlah KTI yang dihasilkan berupa KTI yang terbit dalam Publikasi Internasional berindeks Googlescholar dengan total jumlah KTI. Pemilihan indeks googlescholar sebagai batas kualitas dengan pertimbangan bahwa PERKA LIPI No. 2 tahun 2014 juga mengakui indeks googlescholar untuk jurnal dan sitasi diperoleh berdasarkan sitasi googlescholar.
Perspektif keempat adalah perspektif outcome. Outcome merupakan keadaan yang dicapai sebagai efek dari pemanfaatan hasil penelitian oleh masyarakat atau komunitas ilmiah dalam periode waktu tertentu. Indikator perspektif outcome adalah jumlah sitasi pada setiap KTI yang terbit dan juga jumlah download yang dilakukan terhadap KTI. Kedua indikator outcome tersebut dihitung secara akumulasi mengingat pemanfaatan suatu KTI dapat terjadi dalam waktu yang panjang. Secara ringkas, indikator kinerja beserta ukuran yang digunakan dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Perspektif dan Indikator Kinerja
Perspektif Indikator Ukuran
Input Tingkat
pendidikan SDM
Persentase jumlah SDM dengan pendidikan minimal S2 bidang ilmu sesuai dengan bidang kelompok penelitian
Jabatan fungsional peneliti SDM
Persentase jumlah SDM yang jabatan fungsional penelitinya minimal peneliti madya dengan bidang kepakaran sesuai dengan bidang kelompok penelitian
Serapan anggaran penelitian tematik DIPA
Persentase penyerapan anggaran penelitian Tematik DIPA
Aktivitas/ proses bisnis
Efisiensi Persentase perbandingan output dengan dana terkait penelitian. Keterangan:
• Output dinilai berdasarkan jumlah KTI dikalikan nilai KTI dalam rupiah. Dalam hal ini, ditentukan bahwa nilai KTI sebuah publikasi ilmiah dalam prosiding internasional bernilai Rp. 50 Juta sebagai
baseline. Nilai KTI lainnya disesuaikan berdasarkan perbandingan
bobot angka kredit
• Input mencakup jumlah anggaran tematik yang diperoleh oleh kelompok penelitian dan jumlah anggaran untuk gaji dan tunjangan anggota kelompok penelitian.
Output Jumlah KTI Jumlah seluruh jenis KTI yang mungkin dihasilkan menurut PERKA LIPI No. 2 tahun 2014
Kualitas KTI Persentase antara jumlah KTI yang dihasilkan berupa KTI yang terbit dalam Publikasi Internasional berindeks Google scholar dengan total jumlah KTI
Outcome Jumlah sitasi Jumlah sitasi pada setiap KTI yang terbit dihitung secara akumulasi Jumlah download Jumlah download pada setiap KTI yang terbit dihitung secara
akumulasi
3.4. Membangun Indeks Kinerja
terhadap seluruh indikator. Indeks kinerja diperoleh dengan mengalikan bobot dari setiap indikator dengan nilai kinerja dari setiap indikator. Berdasarkan kesepakatan dengan peneliti kelompok penelitian obyek pengukuran, bobot dari setiap indikator ditetapkan sebagai berikut. Indikator perspektif output dan outcome masing-masing diberi bobot 0.35. Sedangkan indikator perspektif aktivitas diberi nilai 0.2 dan indikator perspektif input diberi nilai 0.1. Perbedaan nilai bobot ini didasari pertimbangan bahwa tingkat kepentingan yang tertinggi pada organisasi penelitian Pemerintah diyakini terletak pada output dan outcome disusul efisiensi dan input. Apabila dalam satu perspektif terdapat lebih dari satu indikator, bobot tiap indikator dihitung dengan cara bobot perspektif dibagi jumlah indikator.
Adapun nilai untuk setiap indikator dikelompokkan berdasarkan ketentuan sebagai berikut. Untuk nilai yang berupa persentase, nilai yang diberikan dapat dilihat pada
Tabel 2. Nilai ini diadaptasi berdasarkan tata cara pengukuran yang ada dalam
Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: KEP/25/M.PAN/2/2004.
Tabel 2. Nilai untuk indikator berdasarkan persentase
Persentase Nilai
0-24,99 1
25 – 43,75 2 43,76 – 62,50 3 62,51 – 81,25 4
≥ 81,26 5
Adapun nilai untuk indikator yang diukur berdasarkan jumlah (jumlah KTI, jumlah sitasi, dan jumlah download), ditetapkan berdasarkan data yang pernah dicapai oleh Lembaga Pemerintah Non Kementerian (LPNK) dimana Lembaga X bernaung. Ukuran penilaian pada jumlah KTI didapatkan berdasarkan pada capaian tertinggi Lembaga yang berada pada LPNK dimana Lembaga X bernaung pada tahun 2014 dibagi 5 dengan asumsi terdapat 5 kelompok penelitian pada Lembaga X, kemudian diturunkan lagi menjadi 5 level penilaian. Pada jumlah sitasi, ukuran penilaian didasarkan pada jumlah sitasi tertinggi dari sivitas LPNK dimana Lembaga X bernaung dalam google scholar yang kemudian diturunkan ke dalam 5 level. Untuk jumlah download, penilaian didasarkan pada target jumlah pengguna akses informasi dan pengetahuan LPNK dimana Lembaga X bernaung pada tahun 2014 dibagi jumlah Lembaga yang bernaung pada LPNK kemudian dibagi 5, dengan asumsi terdapat 5 kelompok penelitian pada setiap Lembaga pada LPNK kemudian diturunkan lagi ke dalam 5 level penilaian.
Tabel 3 menunjukkan nilai untuk indikator tersebut.
Tabel 3. Nilai untuk indikator berdasarkan jumlah
Jumlah KTI Jumlah Sitasi Jumlah Download Nilai
≤ 15 ≤ 6.972 ≤ 2.000 1
16 – 30 6.973 – 13.944 2.001 – 4.000 2 31 – 45 13.945 – 20.916 4.001 – 6.000 3 46 – 60 20.917 – 27.888 6.001 – 8.000 4
≥ 61 ≥ 27.889 ≥ 8.001 5
Berdasarkan perkalian bobot dari setiap indikator dengan nilai kinerja dari setiap indikator, diperoleh indeks kinerja Kelompok Penelitian. Secara ringkas, kategorisasi indeks kinerja kelompok penelitian dapat dilihat pada Tabel 4.
342
Tabel 4. Kategori indeks kinerja
Indeks Kategori
1 Sangat Tidak Baik
2 Tidak Baik
3 Cukup
4 Baik
5 Sangat Baik
3.5. Pengumpulan Data untuk Pengukuran Kinerja
Setelah diperoleh indikator pengukuran kinerja, tahap selanjutnya adalah mengumpulkan data yang terkait kriteria kinerja kelompok penelitian. Dalam hal ini, data yang dikumpulkan adalah data peneliti yang tergabung dalam kelompok penelitian Lembaga X yang meliputi tingkat pendidikan masing-masing peneliti dan tingkat jabatan fungsionalnya sebagai peneliti, data serapan dana penelitian DIPA, jumlah publikasi ilmiah, jenis publikasi ilmiah, jumlah sitasi dan data pembelian dan jumlah download KTI yang telah diterbitkan. Data dikumpulkan dengan sumber data berasal dari kelompok penelitian dan data sekunder. Untuk jumlah sitasi, acuan yang digunakan adalah jumlah sitasi berdasarkan Google scholar. Untuk jumlah download, diperoleh berdasarkan data jumlah download yang dipublikasikan oleh website penerbit tempat peneliti kelompok penelitian menerbitkan KTI. Data yang diambil adalah data tahun 2014. Mengingat kelompok penelitian dibentuk pada saat tahun 2014 telah berjalan, beberapa data kelompok penelitian diperoleh berdasarkan data personel anggota kelompok penelitian.
3.6. Mengukur Kinerja
Data yang telah dikumpulkan kemudian dilakukan pengukuran kinerja. Langkah-langkah dalam pengukuran kinerja adalah sebagai berikut:
Lankah pertama: Menghitung kinerja
Pada langkah ini dilakukan perhitungan kinerja terhadap data yang telah dikumpulkan. Perhitungan kinerja dilakukan dengan mengkonversi data berdasarkan ketetapan ukuran pada setiap indikator yang telah ditetapkan dalam framework.
Langkah kedua: Menilai kinerja
Penilaian terhadap kinerja dilakukan dengan membandingkan kinerja hasil perhitungan dengan data standar nilai ukuran kinerja yang telah ditetapkan pada setiap indikator. Terdapat 5 nilai dalam setiap indikator yaitu 1 untuk nilai terendah sampai dengan 5 untuk nilai tertinggi.
Langkah ketiga: Menghitung Indeks kinerja
Pengukuran indeks kinerja dilakukan dengan menggunakan rumus:
Indeks kinerja= (Bobot Indikator 1 X Nilai Kinerja Indikator 1) + (Bobot Indikator 2 X Nilai Kinerja Indikator 2) + ...+ ((Bobot Indikator 8 X Nilai
4. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Mengenal Kelompok Penelitian Obyek Pengukuran
Kelompok penelitian obyek pengukuran merupakan kelompok penelitian yang tergabung dalam sebuah Lembaga Penelitian pemerintah yang memiliki tugas melakukan penelitian di bidang manajemen mutu. Secara umum, kelompok penelitian memiliki fokus pada empat kluster riset, meliputi pengukuran mutu, perancangan dan peningkatan mutu, mega tools mutu, dan data dan variabilitas. Kelompok penelitian obyek pengukuran mengarahkan risetnya untuk memahami fenomena manajemen mutu terkait empat kluster tersebut dan memperoleh pengetahuan yang dapat memperkaya khasanah ilmu manajemen mutu. Dengan kata lain, Kelompok penelitian tersebut lebih mengarahkan kepada penemuan pengetahuan manajemen mutu ketimbang invensi soft teknologi manajemen mutu.
Kelompok penelitian tersebut dibentuk pada 2014 berdasarkan surat keputusan Kepala Lembaga X. SDM yang bergabung dalam kelompok penelitian berjumlah 7 orang dengan tingkatan jabatan fungsionalnya terdiri dari 2 orang peneliti madya, 3 orang peneliti pertama dan 2 orang kandidat peneliti. Dari segi tingkat pendidikan, terdapat 2 orang dengan tingkat pendidikan S2 yang sesuai dengan bidang keilmuan kelompok penelitian.
Dalam melakukan kegiatan penelitian, kelompok penelitian mendapatkan dana penelitian dari pemerintah berupa dana penelitian DIPA dengan besaran dana ditentukan oleh pejabat Lembaga dimana kelompok penelitian bernaung. Pada praktreknya, penggunaan atau penyerapan dana dilakukan secara berkala sesuai kebutuhan penelitian dan diatur berdasarkan peraturan yang berlaku.
4.2. Pengukuran Kinerja Kelompok Penelitian
Berdasarkan data yang telah dikumpulkan, dapat dihitung kinerja kelompok penelitian. Perhitungan pencapaian kinerja Kelompok Penelitian pada Lembaga X tahun 2014 dapat dilihat pada Tabel 5.
Tabel 5: Perhitungan pencapaian kinerja kelompok penelitian Lembaga X
Perspektif Indikator Ukuran
Kinerja
Data
(untuk indikator kinerja dalam %) Kinerja Nilai
Proses Efisiensi
658,807,200 1,483,333,333 225.2% 5
Output
Setelah diperoleh nilai kinerja, indeks kinerja kelompok penelitian obyek pengukuran dapat diperoleh. Lebih lanjut, perhitungan indeks kinerja kelompok penelitian obyek pengukuran dapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel 6: Perhitungan indeks kinerja kelompok penelitian Lembaga X
Indikator Bobot Kinerja Nilai Kinerja Bobot * Nilai
1 0.033 28.6% 2 0.067
Indeks Kinerja 3.050 (Cukup)
4.3. Pembahasan
dihasilkan dalam 1 tahun. Dengan demikian, indikator-indikator ini perlu mendapat perhatian khusus dari kelompok penelitian obyek pengukuran.
Apabila dikaitkan dengan kelompok penelitian konteks obyek pengukuran, rendahnya pencapaian kinerja pada empat indikator tersebut sebenarnya dapat dipahami. Rendahnya keempat indikator tersebut berhubungan dengan kelompok penelitian yang baru saja berdiri, dengan jumlah personel yang terbatas dan mayoritas personel yang berkarir sebagai peneliti dan bahkan menjadi PNS pada Lembaga X kurang dari lima tahun. Rendahnya indikator jumlah sitasi dapat dipahami mengingat perolehan sitasi memerlukan waktu yang tidak sebentar. Akan tetapi, mengingat kualitas KTI yang dihasilkan berada pada kategori kinerja baik, seiring berkembangnya waktu, jumlah sitasi ini kemungkinan akan meningkat.
Rendahnya indikator tingkat pendidikan SDM dan tingkat jabatan fungsional SDM terjadi karena mayoritas personel kelompok penelitian memang baru bekerja pada Lembaga X kurang dari lima tahun dan merupakan rekrutmen dengan tingkat pendidikan S1. Saat ini, terdapat tiga anggota kelompok penelitian yang masih tugas belajar untuk melanjutkan pendidikan sesuai bidang ilmu. Oleh karena itu, untuk meningkatkan kinerja pada indikator ini, kelompok penelitian perlu untuk mendorong anggotanya untuk melanjutkan pendidikan sesuai bidang ilmu kelompok penelitiannya.
Untuk indikator ke 5 yaitu jumlah KTI, rendahnya nilai kinerja disebabkan oleh jumlah peneliti yang kurang memadai yaitu Lima peneliti dan Dua kandidat peneliti. Dan tiga diantaranya tengah tugas belajar. Jumlah tersebut sangat rendah dibandingkan dengan kelompok penelitian lain di luar Lembaga X tapi masih dalam naungan LPNK yang sama. Hal tersebut menyebabkan adanya perbedaan yang signifikan pada jumlah KTI yang dihasilkan.
Pencapaian kinerja tertinggi terdapat pada indikator 3 dan 4 yaitu indikator serapan anggaran penelitian DIPA dan efisiensi pada nilai tertinggi yaitu 5 dengan nilai kinerja 81,8% dan 225,2%. Tingginya nilai kinerja pada indikator 3 mengindikasikan bahwa pada kelompok penelitian ini penggunaan dana penelitian telah dilakukan dengan optimal walaupun belum maksimal mencapai 100%. Pada indikator kinerja yang ke 4 yaitu efisiensi, tingginya nilai kinerja mengindikasikan bahwa output hasil penelitian yaitu KTI yang dihasilkan oleh kelompok penelitian lembaga X lebih besar dari hasil yang diharapkan oleh LPNK dibandingkan dengan jumlah investasi yang telah diberikan kepada kelompok penelitian.
5. KESIMPULAN
Sekarang ini, perlu dilakukan pengukuran terhadap kinerja kelompok penelitian untuk mengetahui tingkat capaian kinerja kelompok penelitian sesuai dengan tugas dan fungsinya sebagai organisasi penelitian. Pengukuran kinerja organisasi penelitian dapat digunakan untuk mengevaluasi aktivitas atau proses bisnis organisasi [1]. Hasil evaluasi ini nantinya dapat digunakan untuk memberikan motivasi kepada SDM organisasi unuk lebih optimal dalam menjalankan tugas dan fungsinya dalam organisasi [1]. Pada tingkat selanjutnya pengukuran ini dapat digunakan sebagai media benchmarking antar organisasi penelitian satu dengan yang lainnya untuk meningkatkan daya saing organisasi.
346
Dalam kaitan itu, tulisan ini bertujuan untuk membuat rerangka (framework) pengukuran kinerja untuk kelompok penelitian dan mengukur kinerja sebuah kelompok penelitian di Lembaga X dalam periode 2014. Sesuai tujuan penelitian, dapat disimpulkan beberapa hal. Pertama, rerangka (framework) pengukuran kinerja untuk kelompok penelitian terdiri atas 4 perspektif dengan 8 indikator yang digunakan dalam pengukuran kinerja kelompok penelitian. Indikator-indikator tersebut adalah tingkat pendidikan SDM, tingkat jabatan fungsional SDM dan serapan dana tematik DIPA pada perspektif input, efisiensi pada perspektif aktivitas, jumlah KTI dan kualitas KTI pada perspektif output dan jumlah sitasi dan jumlah download terhadap KTI hasil penelitian pada perspektif outcome. Kedua, Berdasarkan hasil pengukuran yang dilakukan, kinerja kelompok penelitian obyek pengukuran berada pada kategori cukup yaitu level 3 dari 5 level dengan nilai 3.047.
Mengacu pada temuan tersebut, disarankan bagi Manajemen Lembaga X untuk membuat kebijakan yang dapat meningkatkan kinerja kelompok penelitian. Peningkatan kinerja kelompok penelitian dapat dilakukan dengan beberapa hal antara lain peningkatan jumlah SDM peneliti yang berkualitas dari tahun ke tahun untuk meningkatkan output penelitian dengan kuantitas dan kualitas yang tinggi. Sedangkan untuk meningkatkan jumlah sitasi dan jumlah download, manajemen dapat mendorong peneliti untuk menghasilkan hasil penelitian dengan kualitas yang bagus sehingga dapat mempublikasikannya pada media publikasi internasional yang terindeks minimal googlescholar yang diikuti dengan penghargaan terhadap kelompok penelitian karena perannya dalam meningkatkan penggunaan layanan informasi dan pengetahuan Lembaga dan juga mengenalkan Lembaga dalam dunia internasional demi terwujudnya visi dan misi Lembaga.
UCAPAN TERIMAKASIH
Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada Sik Sumaedi, Medi Yarmen, Tri Widianti, Tri Rakhmawati, M. Azwar Massijaya dan I Gede Mahatma Yuda Bakti dari kelompok penelitian Manajemen Mutu dan juga kepada Dewi Indah dan Sri Supadmi atas kerjasama, dukungan dan bantuannya dalam proses penelitian ini.
DAFTAR PUSTAKA
[1] Bourne, M. Neely, A. Mills, J. dan Platts K, Implementing performance measurement systems: a literature review, 2003, International journal business performance management, Vol.5 No.1.
[2] Altmann, J. Abbasi A. Dan Hwang J., Evaluating the productivity or researhers and their comunities: the RP-indec and CP-index, 2009, International Journal of Computer science and aplications, Vol.6 No.2, Hal 104-118.
[3] Bremser, W.G. dan Barsky, N.P, Utilizing the balanced scorecard for R&D performance measurement, 2004, R&D Management 34 (3), Hal.229-238.
[4] Bigliardi, B. Dkk, A balanced scorecard approach for R&D: evidence from a case study, 2010, Facilities, Vol. 28 No. 5/6, Hal 278-289.
research centres, 2012, International Journal of Business Science and Applied Management, Vol.7 Iss.1.
[6] Keban, Y.T. Enam Dimensi Strategis Administrasi Publik: Konsep, Teori dan Isu, 2004, Yogyakarta:Gaya Media.
[7] Kemenkeu, Pedoman Penataan Arsitektur Dan Informasi Kinerja Dalam Rencana Kerja Dan Anggaran Kementerian Negara/Lembaga, 2014, Kementerian Keuangan, Jakarta.
[8] Neely, A. Bourne, M. dan Kennerley, M., Performance measurement system design: developing and testing a process-based approach, 2000, International journal of operations & production management, Vol.20 No.10, Hal 1119-1145. [9] Varcoe, B. J.,Facilities performance measurement, 1996, Facilities, Vol.14 Iss
10/11, Hal.46 – 51
[10] Neely, A., Measuring Business Performance: why, what, and how, 1998, The Economist Books, London.
[11] Chiesa, V. dan Frattini, F. Performance measurement of research and development activities, 2009, European Journal of Innovation Management, Vol.12 No.1, Hal. 25-61.
[12] Coccia, M., R&D performance and identifying the productivity of public research institutes, 2004, National Research Council of Italy.
[13] Coccia, M., Models for Measuring the Research Performance and management of the public labs, 2003, National Research Council of Italy.
[14] LIPI, Peraturan Kepala LIPI No.2 Tahun 2014, tentang Petunjuk Teknis Jabatan Funsional Peneliti, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Jakarta.
DISKUSI
Penanya : Hermawan
Instansi : PTICMR-BATAN Pertanyaan :
1. Berapa perkiraan prosentasi kinerja indikator: jumlah download terhadap KTI hasil penelitian?
Jawaban :
1. Presentase indikator jumlah download terhadap KTI hasil penelitian terhadap kinerja Keltian adalah sebesar 17.5% sesuai dengan nilai bobotnya. Dan pada hasil pengukuran keltian (3,05) indikator jumlah download terhadap KTI hasil penelitian mempunyai porsi sebesar 5,73%.
348