• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pertumbuhan dan Perkembangan dan OROFACIAL

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Pertumbuhan dan Perkembangan dan OROFACIAL"

Copied!
104
0
0

Teks penuh

(1)

GIGI GELIGI

SISTEM OROFASIAL

(2)
(3)

Dilihat Secara Makroskopis

1. Mahkota/korona ialah bagian gigi yg dilapisi jaringan enamel/email dan normal terletak diluar jaringan gusi/gingiva.

2. Akar/radix ialah bagian gigi yg dilapisi jaringan sementum dan ditopang oleh

tulang alveolar dari maksila dan mandibula. 3. Garis servikal/semento-enamel junction

ialah batas antara jaringan sementum dan email, yg merupakan pertemuan antara

(4)

4. Ujung akar/apeks ialah titik terujung dari akar gigi.

5. Tepi insisal (insisal edge) ialah suatu tonjolan kecil dan panjang pd bagian korona dari gigi insisivus yg merupakan sebagian dari

permukaan insisivus dan yg digunakan utk memotong/mengiris makanan.

6. Tonjolan/cusp ialah tonjolan pada bagian korona gigi kaninus dan gigi posterior, yg

merupakan sebagian dari permukaan oklusal.

(5)

1. Jaringan keras ialah jaringan yg

mengandung bahan kapur, terdiri dari jaringan email/enamel, jaringan

dentin/tulang gigi, dan jaringan sementum.

Email dan sementum ialah bagian/bentuk

luar yg melindungi dentin.

Dentin, merupakan bagian terbesar dari

gigi dan merupakan dinding yg membatasi dan melindungi rongga yg berisi jar. pulpa.

(6)

2. Jaringan lunak

yaitu jaringan pulpa ialah jaringan yg terdapat dalam rongga pulpa sampai foramen apikal

Mengandung bahan dasar, bahan perekat, sel saraf, jaringan limfe, jaringan ikat, dan pembuluh darah.

(7)

3. Rongga pulpa, terdiri dari :

Tanduk pulpa, yaitu ujung ruang pulpa.

Ruang pulpa, yaitu ruang pulpa di korona

gigi.

Saluran pulpa, yaitu saluran di akar gigi,

kadang2 bercabang, dan ada saluran tambahan (supplemental pulp canal).

Foramen apikal, yaitu lubang di apeks

gigi, tempat masuknya jaringan pulpa ke rongga pulpa.

(8)
(9)

1. Inisiasi

(JANIN 5-6 MINGGU I.U)

Merupakan permulaan

terbentuknya benih gigi dari epitel mulut.

Sel-sel tertentu pada

lapisan basal dari epitel mulut berproliferasi lebih cepat daripada sel sekitarnya

Hasilnya adalah lapisan

epitel yang menebal di regio bukal lengkung gigi dan meluas sampai seluruh bagian maksila dan mandibula.

2.

Proliferasi

• (JANIN 9-11 MINGGU I.U) • Lapisan sel-sel mesenkim

yang berada pada lapisan dalam membentuk papil gigi yang kemudian membentuk dentin dan pulpa

• Sel-sel mesenkim yang berada di sekeliling organ gigi dan papila gigi memadat dan fibrous, disebut kantong gigi

• (McDonald dan Avery, 2000; Finn, 2003)

(10)

3.

Histodiferensias i

(JANIN 18 MINGGU I.U) Sel pembentuk gigi tersusun sedemikian rupa dan dipersiapkan untuk menghasilkan bentuk dan ukuran gigi selanjutnya.

Proses ini terjadi sebelum deposisi matriks dimulai.

4.

Morfodiferensia si

• (JANIN 14 MINGGU I.U)

• Terjadi diferensiasi seluler pada tahap ini. Sel-sel epitel email dalam menjadi semakin panjang dan silindris, disebut sebagai ameloblas yang akan

• berdiferensiasi menjadi

email dan sel-sel bagian tepi dari papila gigi menjadi odontoblas

yang akan berdiferensiasi menjadi dentin.

(11)

4. Aposisi

Terjadi

pembentukan

matriks keras gigi baik pada email, dentin, dan

sementum.

Matriks email

terbentuk dari sel-sel ameloblas yang bergerak ke arah tepi dan telah

terjadi proses

kalsifikasi sekitar 25%-30%

(12)

Siklus hidup gigi.

(A-D)Tahap perkembangan gigi. (A) Inisiasi (bud stage),

(B) Proliferasi (cap stage), (C) Histodiferensiasi,

Morfodiferensiasi (bell stage),

(D) Aposisi dan dilanjut dengan tahap kalsifikasi,

(13)
(14)
(15)

GIGI SULUNG

Tanduk pulpa lebih tinggi dan ruang lebih lebar.

Ukuran mesio-distal korona gigi sulung lebih lebar daripada ukuran serviko-insisalnya, kecuali incisivus sentral, lateral, kaninus bawah, dan incisivus lateral atas.

Ukuran mesio-distal akar-akar gigi susu depan sempit

Pada gigi susu tidak ada gigi premolar atau gigi

yang menyerupai

premolar.

GIGI PERMANEN

Tanduk pulpanya lebih

rendah dan ruang pulpanya lebih sempit.

Ukuran mesio-distal

korona gigi permanen lebih sempit daripada

ukuran

serviko-insisalnya.

Ukuran mesio-distal

akar-akar gigi permanen depan lebar.

Pada gigi permanen

(16)

GIGI SULUNG

• Akar-akar dan korona molar susu mesio-distal dan sepertiga servikal lebih sempit

• Akar-akar molar susu relatif lebih sempit/ramping, panjang dan lebih divergen (memancar).

• Akar-akar gigi susu mengalami resorpsi.

• Gigi geligi susu lebih putih.

• Pada gigi susu tidak terbentuk sekunder dentin.

• Permukaan fasialnya lebih licin.

GIGI PERMANEN

• Akar-akar dan korona molar permanen mesio-distal dan sepertiga servikal lebih lebar.

(17)
(18)

1. Jumlah gigi

1. Benih tidak ada (anodonsia /hipodonsia) Definisi :

*Anodonsia yaitu tidak dijumpainya seluruh gigi geligi dalam rongga mulut.

*hipodonsia atau disebut juga oligodonsia yaitu tidak adanya satu atau beberapa elemen gigi. Kedua keadaan ini dapat terjadi pada gigi sulung maupun gigi tetap. Gigi yang sering mengalami hipodonsia yaitu gigi insisivus lateralis atas,

(19)
(20)
(21)

2. Supernumerary Teeth (Jumlah gigi yang berlebih)

Definisi Hiperdonsia atau dens

supernumerary atau supernumerary teeth yaitu

adanya satu atau lebih elemen gigi melebihi jumlah gigi yang normal, dapat terjadi pada

(22)
(23)

2. UKURAN GIGI

1. Makrodonsia

Definisi : Makrodonsia yaitu suatu keadaan yang menunjukkan ukuran gigi lebih

besar dari normal, hampir 80 % lebih besar (bisa mencapai 7,7-9,2 mm). Keadaan ini

jarang dijumpai, sering di DD (Diferensial Diagnosa/Diagnosa Banding) dengan Fusion Teeth. Gigi yang sering mengalaminya

(24)
(25)

2. Mikrodonsia

Definisi : Yaitu suatu keadaan yang

menunjukkan ukuran gigi lebih kecil dari normal. Bentuk koronanya (mahkota)

seperti conical atau peg shaped. Sering diduga sebagai gigi berlebih dan sering dijumpai pada gigi insisivus dua atas

(26)
(27)

Faktor – faktor yang

mempengaruhi erupsi gigi

(28)

Faktor – faktor yang mempengaruhi

erupsi gigi

1. Faktor Keturunan (genetik) 2. Faktor Ras

3. Jenis Kelamin

4. Faktor Lingkungan - Sosial ekonomi - Nutrisi

(29)

Faktor Keturunan (genetik)

(30)

Faktor Ras

Perbedaan ras dapat menyebabkan

(31)

Jenis Kelamin

(32)

Faktor Lingkungan

• Pertumbuhan dan perkembangan gigi dipengaruhi oleh faktor lingkungan tetapi tidak banyak mengubah sesuatu yang telah ditentukan oleh faktor keturunan. Pengaruh faktor lingkungan terhadap waktu erupsi gigi adalah sekitar 20%. Faktor-faktor yang termasuk ke dalam faktor lingkungan antara lain:

• Sosial ekonomi

Tingkat sosial ekonomi dapat mempengaruhi keadaan nutrisi, kesehatan seseorang dan faktor lainnya yang berhubungan. Anak dengan tingkat ekonomi rendah cenderung menunjukkan waktu erupasi gigi yang lebih lambat dibandingkan anak dengan tingkat ekonomi menengah.

• Nutrisi

(33)

Faktor penyakit

Gangguan pada erupsi gigi permanen

dapat disebabkan oleh penyakit

sistemik dan beberapa sidroma, seperti

down syndrome, cleidocranial

dysostosis, hypothyroidism,

hypopituitarism, beberapa tipe dari

craniofscial synostostosis dan

(34)

Faktor lokal

Faktor-faktor lokal yang dapat

(35)
(36)

Gigi Natal

Merupakan gigi

yang telah erupsi atau telah ada

dalam mulut pada waktu bayi

(37)

Teething

Merupakan suatu

proses fisiologis dari waktu erupsi yang terjadi pada masa bayi, anak dan remaja

(sewaktu gigi molar tiga akan

(38)

Kista Erupsi

Suatu kista yang

terjadi akibat rongga folikuler disekitar mahkota gigi sulung atau tetap yang akan erupsi

mengembang karena

(39)

Submerged Teeth

Merpakan gangguan erupsi yang

menunjukkan gagalnya gigi molar sulung

mempertahankan posisinya akibat

perkembangan gigi

disebelahnya sehingga gigi molar sulung

tersebut berubah

(40)

Erupsi Ektopik Gigi Molar Pertama

Tetap

Suatu erupsi gigi

molar pertama

(41)

Faktor yang

(42)

Resorbsi menurut etiologinya terbagi atas 2 tipe :

1. Resorbsi Internal : Resorbsi internal radang dan resorbsi internal idiopatik

2. Resorbsi eksternal : Resorbsi permukaan. Resorbsi akibat inflamasi, resorbsi penggantian, resorbsi

(43)

Resorbsi internal :

1. Resorbsi internal yang disebabkan oleh trauma

Trauma yang dimaksud bisa berupa kecelakaan yang apabila mengalami

(44)

2. Resorbsi Internal Idiopatik

Resorbsi internal idiopatik adalah resorbsi internal dengan etiologi yang tidak diketahui. Pada sejumlah kasus berdasarkan anamneses tidak dapat ditunjukkan bahwa suatu kondisi tertentu sebagai penyebab

kerusakan internal. Mungkin penyebabnya adalah

(45)

Resorbsi eksternal :

1. Resorbsi permukaan

Resorbsi permukaan merupakan temuan patologis yang umum terjadi pada permukaan akar. Aktivitas osteoklas merupakan respon terhadap injuri pada ligamen

periodontal atau sementum. Resorpsi permukaan biasanya dapat dilihat melalui Scanning Electron Microscopy (SEM). Kondisi ini dapat mengalami

(46)

2. Resorbsi Akibat inflamasi

Resorbsi akibat inflamasi diduga terjadi karena infeksi jaringan pulpa. Daerah yang terinfeksi biasanya berada disekitar foramen apikal dan canalis lateralis.

(47)

3. Resorbsi Penggantian

Resorbsi penggantian biasanya terjadi pada trauma yang berat. Resorbsi penggantian sering terjadi setelah

(48)

4. Resorbsi Akibat tekanan

tekanan pada akara gigi dapat menyebabkan resorbsi yang merusak jaringan ikat diantara dua permukaan. Tekanan dapat disebabkan oleh gigi yang erupsi atau impaksi, pergerakan ortodonti, trauma karena oklusi, atau jaringan patologis seperti kista dan neoplasma. Resorbsi akibat tekanan, misalnya akibat perawatan ortodonti dapat terjadi pada apeks gigi, dengan cedera berasal dari tekanan pada sepertiga apeks sewaktu

(49)

5. Resorbsi sistemik

resorbsi sistemik adalah resorbsi yang diakibatkan

(50)

6. Resorbsi Idiopatik

Resorbsi idiopatik sampai saat ini masih belum

diketahui secara jelas. Pada beberapa kasus dapat terjadi resorpsi akar yang penyebabnya bukan karena faktor

(51)

Indikasi dan Kontraindikasi

Ekstraksi Gigi

1. Indikasi

Tujuan dokter gigi adalah menciptakan rongga mulut yang sehat dan dapat berfungsi dengan baik sampai akhir pertumbuhan gigi. Walaupun demikian, ekstraksi gigi penting dilakukan

dengan berbagai alasan (Itjiningsih, 1991). a. Karies Besar

(52)

b. Nekrosis Pulpa

Gigi dengan pulpitis irreversible yang perawatan endodonti tidak dapat dilakukan lagi atau merupakan kegagalan setelah dilakukan perawatan endodonti.

c. Penyakit Periodontal

Periodontitis dewasa yang berat dan luas akan menyebabkan kehilangan tulang berlebihan dan mobiliti gigi yang menetap.

d. Gigi Retak

Gigi yang retak atau mengalami fraktur akar yang biasanya menyebabkan nyeri hebat dan tidak dapat dikendalikan dengan perawatan endodonti.

e. Gigi Malposisi

(53)

f. Gigi Terpendam

Apabila gigi terpendam menimbulkan masalah dan menyebabkan gangguan fungsi normal dari

pertumbuhan gigi, maka gigi terpendam ini diekstraksi.

g. Gigi Berlebih

Dapat mengganggu pertumbuhan gigi geligi normal atau menyebabkan gigi berjejal berat dan estetis yang kurang pada gigi anterior.

h. Gigi yang berkaitan dengan lesi patologis

Ekstraksi gigi dengan lesi patologis harus

dilakukan bersamaan dengan pembuangan lesinya.

i. Gigi Persistensi

(54)

j. Keperluan Orthodonti

Ekstraksi gigi premolar dilakukan untuk perawatan orthodonti dengan

pertumbuhan gigi yang berjejal.

k. Ekstraksi Preprostetis

Untuk keperluan pembuatan protesa dilakukan ekstraksi gigi.

l. Preradioterapi

Pasien yang akan mendapatkan

(55)

2. Kontraindikasi

Walaupun gigi memenuhi persyaratan untuk dilakukan ekstraksi, pada beberapa keadaan tidak boleh dilakukan ekstraksi gigi karena beberapa faktor atau merupakan kontraindikasi ekstraksi gigi (Itjiningsih, 1991).

a. Penderita penyakit jantung, hipertensi,

arteriosklerosis, dan diabetes mellitus kontraindikasi pada pemberian adrenalin.

b. Penderita Trombositopenia

(56)

c. Penderita Leukemia

Penderita leukemia memiliki jumlah leukosit yang lebih banyak dari normal dalam darah sehingga mudah mengalami perdarahan.

e. Penderita Hemofilia

Merupakan penyakit atau kelainan susunan darah yang bersifat herediter dan hanya terdapat pada laki-laki. Apabila penderita mendapatkan luka, maka darahnya tidak dapat membeku.

f. Kehamilan

Ekstraksi gigi merupakan kontraindikasi pada

trimester pertama, karena keadaan umum ibu hamil pada trimester pertama sering sangat lemah dan dalam masa pembentukan janin.

g. Peradangan di sekitar Gigi

(57)

Pertumbuhan dan

(58)

Pertumbuhan dan Perkembangan Orofasial

Perkembangan Wajah , meliputi :

1. Mata (neuro-ektoderm, ektoderm permukaan dan mesoderm)

• Mula-mula tampak adanya gelembung ke lateral dari

bagian otak depan yang disebut gelembung optic

(optic vesicle).

• Gelembung optic membentuk lapisan baru sehingga

menjadi dua lapisan yang disebut mangkuk mata (optic cup).

Gelembung optic tersebut akan berpisah dengan

lapisan di dinding otak, tetapi masih dihubungkan oleh tangkai optic (optic stalk).

• lapisan ektoderm makin menebal, bundar dan padat

yang disebut gelembung lensa (lens vesicle).

• Antara gelembung lensa dan mangkuk optic

(59)

2. Hidung

Mula-mula tampak olfactory palacode yaitu penebalan ectoderm di daerah ventro-lateral kepala embrio.

Placode berkembang menjadi lesung olfactory hidung (olfactory pit).

Di sekitar lubang hidung tepinya terdapat tonjolan medial dan tonjolan lateral yang dekat dengan proc. maksila. jaringan di antara tonjolan medial sebelah kanan dan kiri disebut septum nasi.

tonjolan medial hidung bergabung dengan proc. maksila yang terletak di sebelah lateralnya, terbentuklah rongga hidung.

(60)

3. Rongga mulut

setelah pembuahan (hari ke 25) cavum oris primitivum (stomatodeum) berkembang

dikelilingi oleh :

1. Capsul otak di bagian atas

2. Pericardium di bagian bawah

3. Proc. Mandibula : meluas ke medial membentuk mandibula primitiv dan memisahkan stomatodeum dari pericardium.

4. Proc. maksila di bagian samping : terbentuk dari proc. mandibularis dari sudut mulut dan tumbuh ke bawah pada kedua sisi wajah di balik mata

(61)

4. Palatogenesis

Pada sekitar minggu perkembangn ke-6, dua

perluasan proc. Maksilaris akan tumbuh ke arah dalam dan ke bawah sebagai proc. palatinus.

Palatum terbentuk dari proc. maksilaris kanan dan kiri serta proc. nasal medial.

Maksila propium (kecuali premaksila) terbentuk berupa proc. maksilaris dari arcus mandibularis. Penulangan pada maksila berlangsung pada

minggu ke-9.

Proc. Nasal medial membentuk jaringan yang

meliputi area incisivus maksila sentral dan lateral dan sebuah proc. kecil berbentuk segi 3 yang

(62)
(63)

5. Mandibula

Pertumbuhan mandibula didahului dengan

pertumbuhan cartilago Meckel. Pada embrio manusia cartilago Meckel

berkembang ke bentuk sempurna pada minggu ke-6.

Pada mandibula terdapat 3 daerah

pembentukan cartilago sekunder yang utama.

cartilago condylaris (minggu ke-12 )

berperan penting pada pertumbuhan

(64)

Pada bulan ke-5 masa kehidupan fetus, semua cartilago sudah

digantikan sebagian besar oleh trabekula tulang.

Selama periode ini penebalan zona cartilago akan berkurang perlahan-lahan karena aktifitas proliferasi dari sel-sel fibro-sellular tumbuh lebih

(65)

6. Lingua

lingua terbentuk dalam dua bagian.

Pars anterior lingua (oral) (3 tonjolan). -> tonjolan

mesoderma arkus mandibularis, terletak di dalam cavum oris. Tonjolan ini terdiri :

1. tonjolan lingua lateral

2. struktur garis median dasar mulut (tuberculum impar). 3. tonjolan gabungan terletak di dalam sulkus di antara

arcus mandibularis dan arcus hyoideus (Dixon, 1993).

Pars posterior (pharingeus). Berasal dari arcus

pharingeus tertius dan akan bertumbuh ke depan, ke atas arkus pharingeus secundus (hyoid) pada dasar mulut untuk bergabung dengan ujung belakang pars

(66)

7.Glandula salivari

• Glandula salivari terbentuk dari pita sel-sel padat dari stomadeum pada minggu ke-6 dan 7.

• Glandula parotis adalah organ yang terbnetuk pertama kali ke luar batas sktoderma stomadeum pada permukaan dalam pipi yang berkembang di dekat sudut mulut.

• Glandula submandibularis terbentuk dari endoderma yang menyelubungi dasar stomadeum, tumbuh ke

belakang pada aspek lateral lingua yang berkembang.

• Glandula sublingualis terbentuk pada minggu ke-8, dan terbentuk dengan cara yang sama seperti glandula

(67)

8. Perkembangan Saraf Kranial

Nuklei diperlukan untuk membentuk saraf kranial

sudah ada pada minggu keempat perkembangan mudigah.

Pada otak belakang, proliferasi pusat-pusat di

neuroepitelium membentuk delapan segmen terpisah yang disebut rhombomere.

Pasangan rhombomere membentuk nuklei motorik

saraf kranial IV, V, VI, VII, IX, X, XI, dan XII . Ganglia sensorik untuk saraf kranial berasal dari plakoda

ektoderm dan sel neural krista.

Plakoda ektoderm mencakup plakoda hidung, telinga,

(68)

9. Perkembangan Otot Fasial

Otot terbentuk dari kelompok sel otot primitif (myoblastus) yang terbelah sampai masa

pertengahan kehidupan fetus.

Hubungan syaraf dengan serabut sedang

berkembang terbentuk pada awal perkembangan tetapi gerakan refleks dan aktifitas fungsional yang normal baru akan terjadi pada akhir masa

kehidupan fetus.

Otot-otot pengunyahan, wajah, alatum molle,

pharing dan laring terbentuk dari arkus pharingeus (branchialis).

(69)
(70)

1. Perkembangan Wajah

(71)
(72)

2. Perkembangan Labium Oris Superius

Perkembangan labium oris superius pada manusia sampai

sekarang ini masih belum diketahui dengan jelas dan bahkan ada dua pendapat yang saling berlawanan tentang apa peranan mesoderma maxillaris pada pembentukan labium oris ini.

Salah satu pendapat tersebut diformulasi berdasarkan hasil

penelitian klasik dari Frazer yaitu labium oris terbentuk seluruhnya dari processus maxillaris.

Pendapat lain yag sudah diterima kalangan luas tentang

(73)

3. Perkembangan Palatum

Pada tahap perkembangan ini, celah nasalis akan meluas ke belakang dan

membentuk orifisium posterior

sekunder yang mengarah ke

(74)

Diagram regio atas wajah pada embrio

(75)
(76)

Faktor-faktor yang

(77)

1. Herediter

faktor heriditer sebagai penyebab maloklusi.

Kerusakan genetik mungkin akan tampak setelah lahir atau mungkin baru tampak beberapa tahun setelah lahir.

2. Lingkungan

Pengaruh lingkungan pada pertumbuhan dan

perkembangan akan terjadi terus menerus selama individu masih bertumbuh dan berkembang.

Ada beberapa pengaruh lingkungan yang dapat menyebabkan kelainan pada pertumbuhan dan perkembangan kraniofasial :

(78)

1. Trauma

Trauma prenatal

Hipoplasia mandibula dapat disebabkan oleh tekanan

intrauterin atau trauma selama kelahiran.

“Vogelgesicht” pertumbuhan mandibula terhambat

berhubungan dengan ankilosis persendian

temporomandibularis, mungkindisebabkan karena cacat perkembangan oleh trauma.

Trauma postnatal

Fraktur rahang atau gigi

Trauma pada persendian temporomandibularis

(79)

2. Agen Fisik

Ekstraksi prematur gigi susu

Bila gigi susu hilang sebelum gigi permanen pengganti

mulai erupsi, tulang akan diatas gigi permanen,

menyebabkan erupsi terlambat,terlambatnya erupsi gigi yang lain bergeser ke arah ruang yang kosong.

Jenis makanan

Pada masyarakat primitif diet yang berserat

merangsang otot mastikasi bekerja keras, menambah beban fungsi pada gigi. Diet semacam ini mencegah karies, mempertahankan lebar lengkung gigi tetapi menyebabkan atrisi pada gigi.

Pada masyarakat moderndiet berubah menjadi lunak dan kurang berserat, menyebabkan beberapa maloklusi dan kariogenik. Berkurang fungsi penguyahan dan menyebabkan kontraksi lengkung gigi, tidak

(80)

3. Kebiasaan Buruk

Beberapa kebiasaan merangsang pertumbuhan rahang secara normal misalnya gerakan bibir dan penguyahan yang fisiologis. Kebiasaan abnormal mempengaruhi

pola pertumbuhan fasial yang akan mempengaruhi fungsi orofasial yang mempunyai pengaruh penting pada pertumbuhan kraniofasial dan fisiologi oklusal. • Mengisap jempol dan mengisap jari

Menjulurkan lidah

Mengisap dan menggigit bibirPosture

(81)

4. Penyakit

Penyakit sistemik

Contoh penyakit yang dapat menimbulkan maloklusi : – Rachit is

Sifilis

TBC tulang

(82)

Lanjutan

• Penyakit-penyakit lokal

– Penyakit nasopharingeal dan gangguan pernapasan

– Penyakit periodontal• Tumor

– Karies

– Prematur loss gigi susu

– Gangguan urutan erupsi gigi permanen

– Hilangnya gigi permanen

• Malnutrisi

(83)
(84)

Persyarafan orofacial

Terdiri atas :

- N.trigeminus (N. V) - N.facialis (N. VII)

(85)

a. N. Trigeminus (NV) : saraf

otak yang terbesar

Syaraf otak terbesar dan keluar berupa radix motoria dan sensoria (mempunyai ganglion besar) yang terpisah.

Fungsi : sensasi umum pada wajah, bagian

depan kepala, mata. Cavum nasi, sinus paranasal, sebagian telinga luar dan

membran timpani, membran mukosa

cavum oris termasuk anterior lingual gigi dan periodontal.

(86)

N. Opthalmicus (N.v1)

• Merupakan divisi paling kecil dari N V

• Memasuki rongga tengkorak

melalui fisura orbitalis superior

• Cabang-cabang : N. Lacrimalis, N. Nasociliaris, N. Supraorbitalis,

N. Supratrochlearis, N.

(87)

berjalan melalui sinus cavernosus dalam hubungan eratnya dengan n.cranialis III,IV dan VI serta a.carotis interna.

bersifat sensoris murni

(88)

• N.lacrimalis

a. berjalan di sepanjang dinding lateral orbita dan bergabung dg serabut

communicans parasympaticus

sekretomotoris dari ramus zygomaticus. b. Mensyarafi kulit dan konjunctiva bagian lateral palpebra superior.

• N.supra orbitalis

a. berjalan lurus ke depan keluar dari orbita melalui incisura orbitalis

(89)

N.Supratrochlearis

a. berjalan lebih ke medial dan keluar dari orbita pada angulus medius, di atas jaringan fibrosus dr m.obligue sup.

b. mensyarafi kulit dan konjunctiva bag

medial palpebra sup, kulit dahi bagian bawah.

N.infratrochlearis

a. berjalan ke bawah obligue sup

b. mensyarafi kulit dan konjunctiva

R.nasalis externa

(90)

N. Maxillaris (N.v2)

• Ukuran dan posisi berada di tengah-tengah N. opthalmicus dan

N.Mandibularis

• Keluar dari rongga tengkorak melalui foramen rotundum

• Cabang-cabang: N. infraorbitalis, N zygomaticofacialis,

(91)

dipercabangkan dari bag.tengah ganglion

trigeminale

keluar dari rongga tengkorak melalui foramen

rotundum fossa pterygo palatina

Cabang-cabang dibagi atas 2 kelompok :

I. Di dalam cavum cranii r.meningicus

II. Di fossa pterygo palatina n.infra orbitalis

cabang terbesar.

ke facial muncul melalui foramen infra orbitalis

dan bercabang-cabang utk kulit : kelopak mata bag.bawah, bibir atas, sisi hidung, n.Infra

(92)

1. N.alveolaris anterior sup

a. berjalan melalui saluran halus di dinding depan sinus maxilaris untuk mensyarafi : RA, insisivus, caninus

b. memberikan cabang-cabang kecil utk mukosa nasi dan beranastomose dengan n.alveolaris post sup

2. N.alveolaris posterior sup a.muncul dari n. Maxillaris.

b. memberikan cabang-cabang utk gingiva, M, P, mucosa sinus

maxilaris, periosteum alveolaris

3. N. Zygomaticus

Dipercabangkan dari n.maxilaris di dalam fossa pterigopalatina. Setelah keluar dr foramen stylomastoideus , N.fascialis bercabang:

a. N.auricularis post > otot auricula , kulit kepala belakang telinga

b. R.digastricus > venter post.M.digastricus

(93)

N. Mandibularis (N.V3)

• Merupakan cabang terbesar dari NV

(94)

b. N. Facialis (N.VII)

• Merupakan syaraf otak yang mengurus otot-otot muka

• Keluar dari basis cranii foramen stylomastoideum

(95)

c. N. Glossopharyngeal (NIX)

• Keluar dari basis cranii melalui foramen yugulare.

• Terdiri atas neuron motorik dan sensorik

• Cabang-cabang: N. tympanicus, N.

(96)

N.glossopharingeal (N.IX)

Cabang-cabang: a. N.tympanicus

-serabut sensorik mensyarafi mukosa tengah b. N. Carotid

c. N.pharyngicus

d. R.muscularis > mensyarafi M.stylopharyngeus

(97)
(98)

1. Mastikasi

Otot mastikasi meliputi:

a. M. Temporalis : Origo luas pada permukaan lateral cranii, dan menguncup menuju insersio pada processus coronoideus mandibula. Fungsi utamanya menarik rahang bawah ke atas (gerakan seperti gunting).

(99)

c. M. Pterygoideus : Otot ini berada di sisi medial mandibula. Otot ini terbagi dua yaitu bagian lateral (kecil) dan bagian medial (lebih besar). fungsi utama otot pterygoideus adalah mengangkat rahang bawah dan menarik ke dalam dengan sedikit gerakan ke depan secara bersamaan.

(100)

2. Delugtasi

Proses penelanan adalah aktivitas terkoordinasi yang melibatkan beberapa macam otot-otot dalam mulut, otot palatum lunak, otot faring, dan otot laring.

a. otot-otot di dalam kavum oris proprium

Otot yang termasuk dalam kelompok ini adalah otot-otot lidah dan otot-otot palatum lunak. Otot lidah terdiri dari otot-otot instrinsik dan ekstrinsik

B. Otot-otot faring

(101)

C. Otot laring

(102)

C. Berbicara

Dalam hal ini ada organ –organ yang berperan yaitu bibir, lidah dan palatum. Oto-otot pada organ ini akan membantu dalam proses pengucapan atau artikulasi. .

1. Artikulasi

Dalam hal ini ada organ –organ yang berperan yaitu bibir, lidah dan palatum. Oto-otot pada organ ini akan membantu dalam proses pengucapan atau artikulasi.

Otot-otot pada lidah :

a) M. Genioglosus e) M. Palatoglosus

(103)

Otot-otot pada palatum :

a) M. Uvula

b) M. Levatior veli palatini c) M. Tensor palatini

2. Resonansi

Organ yang berpan di resonansi ini yaitu mulut, hidung, laring dan rongga dada. Dibantu otot-otot pada organ ini

(104)

Otot pada Laring :

a) M. Krikotiroideus b) M. Krikotenoideus

c) M. Krikotenoideus lateral

d) M. Aritenoideus transversus e) M. Aritenoideus pbligues

f) M. Vokalis

Gambar

Gambar yang menunjukkan bagian-bagian eksternal yang penting dari wajah sedang berkembang pada minggu kelima (Dixon, 1993).

Referensi

Dokumen terkait

 Organisme yang cukup gizi akan tumbuh dengan baik sedangkan yang kekurangan gizi mengalami gangguan pertumbuhan... Nutrien dan air Nutrien

Karena kesalahan dalam pemberian perhatiap pada tahap pertumbuhan dan perkembangan awal akan mempengaruhi tahap perkembangan selanjutnya, jika gagal maka proses tumbuh

Kurang gizi dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan anak terlambat yaitu tidak dapat mencapai berat dan panjang maksimal, daya tahan tubuh anak rendah, anak mudah

1,3,5,23 Sedangkan menurut kriteria Rome II seorang anak dikatakan mengalami konstipasi fungsional bila tidak ada bukti kelainan anatomi, endokrin atau metabolik dan terdapat

Kelainan pertumbuhan hasil konsepsi dapat menyebabkan kematian janin dan cacat bawaan yang menyebabkan hasil konsepsi dikeluarkan. Gangguan pertumbuhan hasil konsepsi dapat

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui angka kejadian gangguan pertumbuhan serta dugaan keterlambatan perkembangan dari anak di TPA Werdhi Kumara 1, juga bertujuan

Gangguan kelenjar tiroid memberikan manifestasi klinis tersering dibandingkan dengan organ sistem endokrin lainnya.1 Tumor tiroid merupakan pertumbuhan abnormal dari kelenjar tiroid,

Mekanisme pengaruh alelokimia terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman melalui serangkaian proses kompleks, mulai dari gangguan struktur membran plasma hingga hambatan sintesis