PT BERLINA Tbk
DAN ANAK PERUSAHAAN
LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI
DAN INFORMASI TAMBAHAN
UNTUK PERIODE ENAM BULAN
YANG BERAKHIR
30 JUNI 2011 DAN 2010,
Halaman
SURAT PERNYATAAN DIREKSI
LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI - Pada tanggal 30 Juni 2011 dan 2010 serta untuk periode-periode yang berakhir pada tanggal tersebut
Laporan Posisi Keuangan Konsolidasi 1-2
Laporan Laba Rugi Komprehensif Konsolidasi 3
Laporan Perubahan Ekuitas Konsolidasi 4
Laporan Arus Kas Konsolidasi 5
Catatan Atas Laporan Keuangan Konsolidasi 6
Rp Rp Rp ASET
ASET LANCAR
Kas dan setara kas 3c, 3f, 4 30,837,952,330 41,505,927,942 48,390,657,594 Investasi dalam efek yang tersedia untuk dijual - bersih 3h, 5 26,134,584,864 5,103,620,557 10,221,818,059 Piutang usaha - setelah dikurangi penyisihan piutang
ragu-ragu sebesar Rp Nihil (2011 dan 2010),
dan Rp 12.394.635 (2009) 3c, 3i, 6 122,676,530,753 136,491,258,082 139,858,642,286 Piutang lain-lain 3c, 3i, 7 3,649,880,268 5,327,212,384 5,646,700,748 Persediaan - setelah dikurangi penyisihan persediaan
usang dan lambat bergerak sebesar
Rp 600,000,000 (2011), Rp 115,000,000 (2010),
dan Rp 318,693,183 (2009) 3k, 3i, 8 87,487,238,212 78,682,423,959 67,051,716,483 Uang muka pembelian 11,785,468,682 22,355,847,447 6,583,609,093 Pajak dibayar dimuka 3q, 9 192,356,262 656,871,686 1,070,086,375 Biaya dibayar dimuka 3l 6,226,752,464 4,163,122,506 4,806,163,829
Jumlah Aset Lancar 288,990,763,835 294,286,284,563 283,629,394,467
ASET TIDAK LANCAR
Piutang kepada pihak hubungan istimewa - setelah dikurangi penyisihan piutang ragu-ragu sebesar Rp 3.003.135.047 (2011 dan 2010), dan
RP 2.236.860.635 (2009) 3d, 10 2,254,700,001 2,254,700,001 3,020,974,413 Aset pajak tangguhan 3q, 27 1,776,850,238 2,367,785,607 1,290,403,719 Beban tangguhan 27 1,539,345,445 1,539,345,445 1,539,345,445 Aset tetap - setelah dikurangi akumulasi
penyusutan sebesar Rp 287.535.536.575 (2011),
Rp 269.281.464.812 (2010), 3m, 3n,
dan Rp 235.357.199.663 (2009) 11, 17, 31 288,020,136,806 246,845,964,857 214,233,768,452 Goodwill 3b, 12 1,597,299,409 1,597,299,409 2,129,732,545 Uang jaminan dan aset lain-lain 2,321,946,244 2,016,097,051 1,173,348,844 Uang muka pembelian mesin - - 209,434,795
Jumal Aset Tidak Lancar 297,510,278,143 256,621,192,370 223,597,008,213
JUMLAH ASET 586,501,041,978 550,907,476,933 507,226,402,680
Catatan (TIDAK DIAUDIT) (AUDIT) (AUDIT)
Rp Rp Rp
LIABILITAS DAN EKUITAS
LIABILITAS JANGKA PENDEK
Hutang bank 3c, 14, 31 60,347,287,730 60,080,202,603 52,234,903,098 Hutang usaha 3c, 15 85,434,026,808 70,986,042,548 70,184,514,538 Hutang pajak 3q, 16 6,791,752,639 9,117,826,931 10,248,532,201 Hutang lain-lain 3c 6,130,313,895 4,492,931,559 2,399,973,243 Hutang pembelian aset tetap 3c, 13 27,243,749,380 29,493,017,312 16,868,304,128 Uang muka penjualan 4,343,212,106 4,371,802,576 2,609,328,784 Biaya yang masih harus dibayar 8,632,287,036 6,827,086,086 6,427,624,344 Hutang yang jatuh tempo dalam satu tahun:
Hutang bank 3c, 14 29,131,333,792 29,393,999,041 23,400,000,000 Hutang sewa guna usaha 3c, 17 8,576,394,794 6,239,522,069 3,206,792,661
Jumlah Liabilitas Jangka Pendek 236,630,358,180 221,002,430,725 187,579,972,997
LIABILITAS JANGKA PANJANG
Hutang jangka panjang setelah dikurangi bagian yang jatuh tempo dalam satu tahun:
Hutang bank 3c, 14 73,114,898,797 77,193,000,559 93,600,000,000 Hutang sewa guna usaha 3c, 17 21,772,294,856 14,547,717,985 10,229,435,714 Liabilitas pajak tangguhan 3q, 27 1,592,063,298 2,421,063,783 3,209,630,044 Liabilitas imbalan pasca kerja 3p, 18 12,255,345,756 11,779,649,324 11,353,794,283
Jumlah Liabilitas Jangka Panjang 108,734,602,707 105,941,431,651 118,392,860,041
EKUITAS
Modal saham - nilai nominal Rp 250 per saham Modal dasar - 300.000.000 saham
Modal ditempatkan dan disetor - 138.000.000 saham
pada 30 Juni 2011, 31 Desember 2010 dan 2009 19 34,500,000,000 34,500,000,000 34,500,000,000 Tambahan modal disetor 20 575,000,000 575,000,000 575,000,000 Saldo laba:
Ditentukan penggunaannya 6,900,000,000 5,290,411,041 3,114,462,565 Belum ditentukan penggunaannya 169,139,632,933 154,286,664,834 133,707,746,876 Komponen ekuitas lainnya 2, 3c, 3h, 21 5,434,361,591 6,767,832,791 7,832,489,405
216,548,994,524
201,419,908,666 179,729,698,846 Kepentingan nonpengendali 3b, 22 24,587,086,567 22,543,705,891 21,523,870,796
Jumlah Ekuitas 241,136,081,091 223,963,614,557 201,253,569,642
JUMLAH LIABILITAS DAN EKUITAS 586,501,041,978 550,907,476,933 507,226,402,680
Tambahan Ditentukan Belum ditentukan direalisasi dari karena penjabaran Kepentingan Total Catatan Modal disetor modal disetor penggunaannya penggunaannya pemilikan efek laporan keuangan Total nonpengendali ekuitas
Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp
Saldo per 1 Januari 2010 34,500,000,000 575,000,000 3,114,462,565 133,707,746,876 166,096,881 7,666,392,524 179,729,698,846 21,523,870,796 201,253,569,642 Perubahan kebijakan akuntansi 164,369,195 164,369,195 (164,369,195) -Saldo yang disajikan kembali 34,500,000,000 575,000,000 3,114,462,565 133,707,746,876 330,466,076 7,666,392,524 179,894,068,041 21,359,501,601 201,253,569,642 Perubahan Ekuitas pada tahun 2010:
Pembentukan cadangan 23 2,175,948,476 (2,175,948,476) - -Laba (rugi) komprehensif tahun berjalan 21,22 15,686,088,656 633,373,223 (1,571,457,006) 14,748,004,873 1,910,085,575 16,658,090,448 Saldo per 30 Juni 2010 34,500,000,000 575,000,000 5,290,411,041 147,217,887,056 963,839,299 6,094,935,518 194,642,072,914 23,269,587,176 217,911,660,090 Saldo per 1 Januari 2011 34,500,000,000 575,000,000 5,290,411,041 154,286,664,834 (248,306,766) 6,949,704,402 201,353,473,511 22,610,141,046 223,963,614,557 Perubahan kebijakan akuntansi 66,435,155 66,435,155 (66,435,155) -Saldo yang disajikan kembali 34,500,000,000 575,000,000 5,290,411,041 154,286,664,834 (181,871,611) 6,949,704,402 201,419,908,666 22,543,705,891 223,963,614,557 Perubahan Ekuitas pada tahun 2011:
Pembentukan cadangan 23 1,609,588,959 (1,609,588,959) - -Laba (rugi) komprehensif tahun berjalan 21,22 16,462,557,058 (96,243,803) (1,237,227,397) 15,129,085,858 2,043,380,676 17,172,466,534 Saldo per 30 Juni 2011 34,500,000,000 575,000,000 6,900,000,000 169,139,632,933 (278,115,414) 5,712,477,005 216,548,994,524 24,587,086,567 241,136,081,091
Rp Rp ARUS KAS DARI AKTIVITAS OPERASI
Penerimaan kas dari pelanggan 332,802,250,181 296,472,710,079 Pembayaran kas kepada pemasok dan karyawan (252,327,787,102) (248,635,956,438)
Kas dihasilkan dari operasi 80,474,463,079 47,836,753,641
Pembayaran bunga dan beban keuangan (12,127,533,012) (10,900,111,616) Pembayaran pajak penghasilan (9,327,909,865) (3,910,001,785)
Kas Bersih Diperoleh Dari Aktivitas Operasi 59,019,020,202 33,026,640,240
ARUS KAS DARI AKTIVITAS INVESTASI
Pembelian Efek (21,631,617,400)
-Penjualan Efek 828,512,780 6,056,306,355
Pendapatan bunga 97,328,669 324,112,896 Hasil penjualan aset tetap 251,010,909 9,090,909 Perolehan aset tetap (33,014,514,292) (17,567,511,060) Kenaikan uang muka pembelian aset tetap (8,287,878,456) (5,919,466,266)
Kas Bersih Digunakan Untuk Aktivitas Investasi (61,757,157,790) (17,097,467,166)
ARUS KAS DARI AKTIVITAS PENDANAAN
Penerimaan pinjaman bank 225,193,571,562 118,080,487,006 Pembayaran pinjaman bank (228,019,445,366) (128,585,091,952) Pembayaran hutang sewa guna usaha (3,983,738,893) (2,171,542,175) Pembayaran manfaat pensiun (750,000,000)
-Kas Bersih Digunakan Untuk Aktivitas Pendanaan (7,559,612,697) (12,676,147,121)
KENAIKAN (PENURUNAN) BERSIH KAS DAN SETARA KAS (10,297,750,285) 3,253,025,953
KAS DAN SETARA KAS AWAL TAHUN 41,505,927,942 48,390,657,593 Perubahan kurs mata uang asing (370,225,327) (1,173,385,922) TOTAL KAS DAN SETARA KAS AKHIR TAHUN 30,837,952,330 50,470,297,624
PENGUNGKAPAN TAMBAHAN
Penambahan aset tetap melalui:
Hutang pembelian aset tetap 11,859,526,240 10,483,097,033
Hutang sewa guna usaha 325,227,640
-Kapitalisasi bunga hutang - 174,930,829
Uang muka tahun lalu 16,177,302,817
-Penambahan investasi sementara melalui bunga dan dividen 101,847,871 13,943,130 Kenaikan (penurunan) investasi sementara melalui:
Keuntungan (rugi) belum realisasi (56,116,147) 594,861,034 Rugi selisih kurs yang belum terealisasi (36,887,528) (22,224,202) Penurunan hutang bank melalui laba selisih kurs belum terealisasi (1,247,808,079) (4,262,663,165)
Kenaikan (penurunan) hutang sewa guna usaha melalui
laba selisih kurs belum terealisasi (1,083,116,367) (706,784,294)
1. U M U M
a. Pendirian dan Informasi Umum
PT Berlina Tbk. (Perusahaan) didirikan dalam rangka Undang-undang penanaman Modal Dalam Negeri No. 6 tahun 1968 jo. Undang-undang No. 12 tahun 1970 dan perubahan yang terakhir Undang-Undang No.25 tahun 2007, berdasarkan akta No. 35 tanggal 18 Agustus 1969 dari Julian Nimrod Siregar Gelar Mangaradja Namora SH., notaris di Jakarta. Akta pendirian ini disahkan oleh Menteri Kehakiman Republik Indonesia dalam Surat Keputusannya No. Y.A. 5/423/18 tanggal 12 Desember 1973 serta diumumkan dalam Lembaran Berita Negara No. 37 tanggal 10 Mei 1977. Anggaran Dasar Perusahaan telah mengalami beberapa kali perubahan, terakhir dengan akta notaris No. 14 tanggal 4 Juli 2008 dari Dyah Ambarwaty Setyoso, S.H., notaris di Surabaya, mengenai perubahan seluruh Anggaran Dasar Perseroan untuk disesuaikan dengan UU No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas. Akta perubahan ini telah memperoleh persetujuan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia dengan surat keputusannya No. AHU-93754.AH.01.02.Tahun 2008 tanggal 5 Desember 2008 serta diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia No. 92 tanggal 16 Nopember 2010.
Kantor pusat Perusahaan beralamat di Gedung Tifa Lt. 5, Jl. Kuningan Barat 26, Jakarta Selatan 12710. Berdasarkan akta notaris No. 9 tanggal 24 Juni 2011, keputusan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa, kantor pusat Perusahaan mengalami perpindahan alamat menjadi Jl. Jababeka Raya No 12-16, Kawasan Industri Jababeka, Cikarang, Kabupaten Bekasi. Sampai dengan diterbitkannya Laporan Keuangan Tengah Tahunan 2011, proses perpindahan kantor pusat sedang dalam tahap pengurusan administrasi dan legalitasnya. Perusahaan mempunyai pabrik yang berlokasi di Pandaan (Jawa Timur), Tangerang (Banten) dan Cikarang (Jawa Barat).
Sesuai dengan pasal 3 Anggaran Dasar Perusahaan, ruang lingkup kegiatan Perusahaan meliputi industri plastik dan industri lainnya yang menggunakan bahan pokok plastik dan fiber glass. Perusahaan mulai berproduksi secara komersial pada tahun 1970. Hasil produksi Perusahaan dipasarkan didalam dan luar negeri. Jumlah karyawan Perusahaan rata-rata 685 karyawan tahun 2011 dan 752 karyawan tahun 2010.
Perusahaan tergabung dalam kelompok usaha (grup) yang dimiliki PT. Dwi Satrya Utama.
Sesuai dengan hasil Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa tertanggal 19 Nopember 2010 yang mana telah di notarialkan oleh Notaris Dyah Guntari, SH dengan akte No. 8, maka susunan pengurus Perusahaan pada tanggal 30 Juni 2011 dan 2010 adalah sebagai berikut:
2011 2010
Presiden Komisaris : Lisjanto Tjiptobiantoro Lisjanto Tjiptobiantoro
Komisaris : Oei Han Tjhim Antonius Hanifah Komala
Oei Han Tjhim Komisaris Independen : Tjipto Surjanto Tjipto Surjanto
Antonius Hanifah Komala
Presiden Direktur : Lim Eng Khim Antonius Rudy Sugiarto
Direktur : Lukman Sidharta Lukman Sidharta
Pada tanggal 19 Juni 2009, Dewan Komisaris telah menyetujui susunan Komite Audit dengan susunan sebagai berikut:
2011 2010
Ketua : Tjipto Surjanto Tjipto Surjanto
Anggota : Oei Wahyu Soetjahya Kusuma Rudy Kurniawan
Maria Sari Liana Maria Sari Liana
Pada tanggal 31 Agustus 2010, Rudy Kurniawan telah mengundurkan diri sebagai anggota Komite Audit Perusahaan. Pada tanggal 1 April 2011, Maria Sari Liana telah mengundurkan diri sebagai anggota Komite Audit Perusahaan.
b. Anak Perusahaan
Perusahaan memiliki saham Anak Perusahaan sebagai berikut :
Tahun
Operasi Persentase
Anak Perusahaan Domisili Jenis Usaha Komersial Pemilikan Jumlah Aset Sebelum Eleminasi 2011 2010 30 Juni 2011 31 Desember 2010
Rp Rp PT Lamipak Primula Sidoarjo, Jawa Industri laminasi plastik 1986 70% 70% 140,457,137,530 131,097,520,069
Indonesia (LPI) Timur dan kemasan
Hefei Paragon Plastic Hefei, China Industri botol & cap plastik 2004 100% 100% 137,511,773,996 96,699,360,216 Packaging Co. Ltd. (HPPP) dan sikat gigi
Berlina Singapore Pte. Ltd. Singapura, Industri plastik dan - 100% 100% 415,259,120 546,679,030 Singapura perdagangan umum
Pada tanggal 20 Januari 2009, Perusahaan mendirikan Berlina Pte Ltd. Singapura (BPL) dengan kepemilikan 100%.
c. Penawaran Umum Efek Perusahaan
Saham
Pada tanggal 12 September 1989 Perusahaan memperoleh persetujuan dari Menteri Keuangan dengan surat No. SI-048/SHM/MK-10/1989, untuk melakukan penawaran atas saham Perusahaan kepada masyarakat. Pada tanggal 15 Nopember 1989 saham-saham tersebut telah dicatatkan pada Bursa Efek Indonesia.
Pada tanggal 21 Juni 1993, Perusahaan memperoleh pernyataan efektif dari Ketua Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam) dengan suratnya No. 0154/PM/1993 untuk melakukan Penawaran Umum Terbatas Dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu sebesar 17.250.000 saham. Saham-saham tersebut dicatatkan pada Bursa Efek Indonesia pada tanggal 22 Juli 1993.
2. PENERAPAN STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN BARU DAN REVISI (PSAK) DAN INTERPRETASI STÁNDAR AKUNTANSI KEUANGAN (ISAK)
a. Standar yang berlaku efektif pada tahun berjalan
Pada tahun berjalan, Perusahaan dan anak perusahaan menerapkan PSAK revisi berikut ini yang berlaku efektif untuk laporan keuangan yang dimulai pada atau setelah 1 Januari 2011:
• PSAK 1 (revisi 2009), Penyajian Laporan Keuangan
• PSAK 2 (revisi 2009), Laporan Arus Kas
• PSAK 3 (revisi 2010), Laporan Keuangan Interim
• PSAK 4 (revisi 2009), Laporan Keuangan Konsolidasian dan Laporan Keuangan
Tersendiri
• PSAK 5 (revisi 2009), Segmen Operasi
• PSAK 7 (revisi 2010): Pengungkapan pihak-pihak berelasi
• PSAK 8 (revisi 2010), Peristiwa Setelah Periode Pelaporan
• PSAK 12 (revisi 2009), Bagian Partisipasi dalam Ventura Bersama
• PSAK 15 (revisi 2009), Investasi pada Entitas Asosiasi
• PSAK 19 (revisi 2010): Aset Takberwujud
• PSAK 57 (revisi 2009), Provisi, Liabilitas Kontinjensi, dan Aset Kontinjensi
• PSAK 58 (revisi 2009), Aset Tidak Lancar yang Dimiliki untuk Dijual dan Operasi yang
Dihentikan
• ISAK 7 (revisi 2009), Konsolidasi Entitas Bertujuan Khusus
• ISAK 9, Perubahan atas Liabilitas Aktivitas Purnaoperasi, Restorasi, dan Liabilitas Serupa
• ISAK 10, Program Loyalitas Pelanggan
• ISAK 11, Distribusi Aset Nonkas Kepada Pemilik
• ISAK 12, Pengendalian Bersama Entitas: Kontribusi Nonmoneter oleh Venturer
• ISAK 14, Aset Tak Berwujud – Biaya Situs Web
• ISAK 17, Laporan Keuangan Interim dan Penurunan Nilai
Penerapan PSAK 1 (revisi 2009) menghasilkan perubahan signifikan dalam penyajian laporan keuangan diantaranya:
• Untuk menyajikan dalam laporan perubahan ekuitas, seluruh perubahan pemilik dalam
ekuitas. Semua perubahan non-pemilik dalam ekuitas diminta untuk disajikan dalam satu laporan pendapatan komprehensif atau dalam dua laporan terpisah (laporan laba rugi dan laporan pendapatan komprehensif).
• Untuk menyajikan laporan posisi keuangan pada permulaan dari periode komparatif
terawal dalam suatu laporan keuangan lengkap apabila entitas menerapkan kebijakan akuntansi secara retrospektif atau membuat penyajian kembali retrospektif sesuai dengan PSAK 25.
• Untuk menyajikan kepentingan nonpengendali sebagai bagian dari ekuitas (sebelumnya
disebut hak minoritas)
b. Standar dan interpretasi telah diterbitkan tapi belum diterapkan
Efektif untuk periode yang dimulai pada atau setelah 1 Januari 2012:
• PSAK No. 10 (Revisi 2010), Pengaruh Perubahan Nilai Tukar Valuta Asing
• PSAK No. 18 (Revisi 2010), Akuntansi dan Pelaporan Program Manfaat Purnakarya
• PSAK No. 24 (Revisi 2010), Imbalan Kerja
• PSAK No. 34 (Revisi 2010), Kontrak Konstruksi
• PSAK No. 46 (Revisi 2010), Pajak Penghasilan
• PSAK No. 50 (Revisi 2010), Instrumen Keuangan:Penyajian
• PSAK No. 53 (Revisi 2010), Pembayaran Berbasis Saham
• PSAK No. 60, Instrumen Keuangan: Pengungkapan
• PSAK No. 61, Akuntansi Hibah Pemerintah dan Pengungkapan Bantuan Pemerintah
• ISAK No. 13, Lindung Nilai Investasi Neto dalam Kegiatan Usaha Luar Negeri
• ISAK No. 15, Batas Aset Manfaat Pasti, Persyaratan Minimum dan Interaksinya
• ISAK No. 18, Bantuan Pemerintah – Tidak Ada Relasi Spesifik dengan Aktivitas Operasi
• ISAK No. 20, Pajak Penghasilan – Perubahan dalam Status Pajak Entitas atau Para
Pemegang Sahamnya
Standar dan interpretasi baru/revisi ini merupakan hasil konvergensi StandarPelaporan Keuangan Internasional (International Financial Reporting Standards).
Sampai dengan tanggal penerbitan laporan keuangan konsolidasi, manajemen sedang mengevaluasi dampak dari standar dan interpretasi terhadap laporan keuangan konsolidasi
3. KEBIJAKAN AKUNTANSI
Kebijakan akuntansi utama yang diterapkan dalam penyusunan laporan keuangan konsolidasi adalah seperti dijabarkan di bawah ini:
a. Penyajian Laporan Keuangan Konsolidasi
Laporan keuangan konsolidasi disusun sesuai dengan menggunakan prinsip dan praktek pelaporan akuntansi yang berlaku umum di Indonesia, yaitu Standar Akuntansi Keuangan, Peraturan Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam) No. VIII.G7. tanggal 13 Maret 2000, dan Pedoman Penyajian Laporan Keuangan yang ditetapkan oleh Bapepam bagi perusahaan manufaktur yang menawarkan sahamnya kepada masyarakat.
Dasar penyusunan laporan keuangan konsolidasi, kecuali untuk laporan arus kas konsolidasi adalah dasar akrual. Mata uang pelaporan yang digunakan untuk penyusunan laporan keuangan konsolidasi adalah mata uang Rupiah (Rp), dan laporan keuangan tersebut disusun berdasarkan nilai historis, kecuali untuk beberapa akun tertentu disusun berdasarkan pengukuran lain sebagaimana diuraikan dalam kebijakan akuntansi masing-masing akun tersebut.
Laporan arus kas konsolidasi disusun dengan menggunakan metode langsung
(direct-method) dengan mengelompokkan arus kas dalam aktivitas operasi, investasi dan
pendanaan.
Dalam penyusunan laporan keuangan konsolidasi sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia, dibutuhkan estimasi dan asumsi yang mempengaruhi :
- Nilai aset dan liabilitas dilaporkan, dan pengungkapan atas aset dan liabilitas kontinjensi
pada tanggal laporan keuangan konsolidasi.
Walaupun estimasi ini dibuat berdasarkan pengetahuan terbaik manajemen atas kejadian dan tindakan saat ini, hasil yang timbul mungkin berbeda dengan jumlah yang diestimasi semula.
b. Prinsip Konsolidasi
Laporan keuangan konsolidasi menggabungkan laporan keuangan Perusahaan dan entitas yang dikendalikan oleh Perusahaan (anak perusahaan). Pengendalian dianggap ada apabila Perusahaan mempunyai hak untuk mengatur dan menentukan kebijakan finansial dan operasional dari investee untuk memperoleh manfaat dari aktivitasnya. Pengendalian juga dianggap ada apabila induk Perusahaan memiliki baik secara langsung atau tidak langsung melalui anak perusahaan lebih dari 50% hak suara.
Pada saat akuisisi, aset dan liabilitas anak perusahaan diukur sebesar nilai wajarnya pada tanggal akuisisi. Selisih lebih antara biaya perolehan dan bagian Perusahaan atas nilai wajar aset dan liabilitas yang dapat diidentifikasi diakui sebagai goodwill dan diamortisasi dengan mengunakan metode garis lurus selama 10-20 tahun karena aset anak perusahaan dapat memberikan manfaat kepada Perusahaan selama masa tersebut.
Sesuai dengan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 22 (Revisi 2010) “Kombinasi bisnis”, goodwill yang diperoleh dari kombinasi bisnis sebelum 1 Januari 2011 untuk dihentikan amortisasinya sejak awal tahun buku yang dimulai pada atau setelah 1 Januari 2011.
Kepentingan nonpengendali (dahulu disebut Hak minoritas) terdiri dari jumlah kepemilikan pada tanggal terjadinya penggabungan usaha dan bagian minoritas dari perubahan ekuitas sejak tanggal dimulainya penggabungan usaha. Kerugian yang menjadi bagian minoritas yang melibihi hak minoritas dialokasikan kepada bagian induk perusahaan.
Penyesuaian dapat dilakukan terhadap laporan keuangan anak perusahaan agar kebijakan akuntansi yang digunakan sesuai dengan kebijakan akuntansi yang digunakan oleh Perusahaan.
Seluruh transaksi, saldo, penghasilan dan beban antar perusahaan dieliminasi saat konsolidasi.
c. Transaksi dan Penjabaran Laporan Keuangan Dalam Mata Uang Asing
Pembukuan Perusahaan dan LPI, diselenggarakan dalam mata uang Rupiah. Transaksi-transaksi selama tahun berjalan dalam mata uang asing dicatat dengan kurs yang berlaku pada saat terjadinya transaksi. Pada tanggal neraca, aset dan liabilitas moneter dalam mata uang asing disesuaikan untuk mencerminkan kurs yang berlaku pada tanggal tersebut. Keuntungan atau kerugian kurs yang timbul dikreditkan atau dibebankan dalam laporan laba rugi tahun yang bersangkutan.
d. Transaksi dengan Pihak-pihak yang Mempunyai Hubungan Istimewa
Dalam menjalankan aktivitas operasinya. Perusahaan dan Anak Perusahaan melakukan transaksi dengan pihak-pihak yang mempunyai hubungan istimewa.
Sesuai dengan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 7 (Revisi 2010) “Pengungkapan pihak-pihak berelasi”, yang dimaksud dengan pihak-pihak yang mempunyai hubungan istimewa sebagai berikut:
1) Perusahaan baik langsung maupun melalui satu atau lebih perantara, mengendalikan, atau dikendalikan oleh, atau berada di bawah pengendalian bersama, dengan Perusahaan (termasuk holding companies, subsidiaries dan fellow subsidiaries);
2) Perusahaan asosiasi;
3) Perorangan yang memiliki baik secara langsung maupun tidak langsung, suatu kepentingan hak suara di perusahaan pelapor yang berpengaruh secara signifikan, dan anggota keluarga dekat dari perorangan tersebut (yang dimaksud dengan anggota keluarga dekat adalah mereka yang dapat diharapkan mempengaruhi atau dipengaruhi perorangan tersebut dalam transaksinya dengan Perusahaan);
4) Karyawan kunci, yaitu orang-orang yang mempunyai wewenang dan tanggung jawab untuk merencanakan, memimpin dan mengendalikan kegiatan Perusahaan, yang meliputi anggota dewan komisaris, direksi dan manajer dari perusahaan serta anggota keluarga dekat orang-orang tersebut; dan
5) Perorangan yang memiliki, baik secara langsung Perusahaan dimana suatu kepentingan substansial dalam hak suara dimiliki baik secara langsung maupun tidak langsung oleh setiap orang yang diuraikan dalam butir (3) dan (4), atau setiap orang tersebut mempunyai pengaruh signifikan atas perusahaan tersebut. Ini mencakup perusahaan-perusahaan yang dimiliki anggota dewan komisaris, direksi atau pemegang saham utama dari Perusahaan dan perusahaan-perusahaan yang mempunyai anggota manajemen kunci yang sama dengan Perusahaan.
Semua transaksi dengan pihak-pihak yang mempunyai hubungan istimewa, baik yang dilakukan dengan atau tidak dengan tingkat harga, persyaratan dan kondisi yang sama sebagaimana dilakukan dengan pihak ketiga, diungkapkan dalam laporan keuangan konsolidasi.
e. Aset Keuangan dan Liabilitas Keuangan
Efektif mulai tanggal 1 Januari 2010, Perusahaan menerapakan PSAK No. 50 (Revisi 2006), “Instrumen Keuangan: Penyajian dan Pengungkapan”, PSAK No. 55 (Revisi 2006) “Instrumen Keuangan: Pengakuan dan Pegukuran”, yang menggantikan PSAK 50, “Akuntansi Investasi Efek Tertentu” dan PSAK 55 (Revisi 1999), “Akuntansi Instrumen Derivatif dan Aktivitas Lindung Nilai”.
PSAK 50 (Revisi 2006), berisi persyaratan penyajian dari instrument keuangan dan mengidentifikasikan informasi yang harus diungkapkan. Persyaratan pengungkapan berlaku terhadap klasifikasi instrumen keuangan, dari perspektif penerbit, dalam aset keuangan liabilitas keuangan dan instrumen ekuitas; pengklasifikasian yang terkait dengan suku bunga, dividen, kerugian dan keuntungan; dan keadaan dimana aset keuangan dan liabilitas keuangan akan saling hapus. PSAK ini mensyaratkan pengungkapan, antara lain informasi mengenai faktor yang mempengaruhi jumlah, waktu dan tingkat kepastian arus kas masa datang suatu entitas yang terkait dengan instrument keuangan dan kebijakan akuntansi yang diterapkan untuk instrumen tersebut.
1. Aset Keuangan
Pengakuan awal
Aset keuangan dalam lingkup PSAK 55 (Revisi 2006) diklasifikasikan sebagai aset keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi (FVPL), pinjaman yang diberikan dan piutang, investasi dimiliki hingga jatuh tempo (HTM), atau aset keuangan tersedia untuk dijual (AFS), mana yang sesuai.
Perusahaan dan Anak Perusahaan menentukan klasifikasi aset keuangan tersebut pada pengakuan awal dan, jika diperbolehkan dan diperlukan, mengevaluasi kembali pengklasifikasian aset tersebut pada setiap akhir periode keuangan.
Aset keuangan pada awalnya diakui sebesar nilai wajarnya ditambah, dalam hal investasi yang tidak diukur pada FVPL, biaya transaksi yang dapat diatribusikan secara langsung.
Pembelian atau penjualan aset keuangan yang memerlukan pengiriman aset dalam kurun waktu yang ditetapkan oleh peraturan atau kebiasaan yang berlaku dipasar (perdagangan yang lazim) diakui pada tanggal perdagangan, yaitu tanggal Perusahaan dan Anak Perusahaan berkomitmen untuk membeli atau menjual aset tersebut.
Aset keuangan Perusahaan dan Anak Perusahaan meliputi kas dan setara kas, piutang lainnya dan aset keuangan lancar dan tidak lancar lainnya.
Pengakuan setelah pengakuan awal
Pengukuran aset keuangan setelah pengakuan awal tergantung pada klasifikasinya sebagai berikut:
- Pinjaman yang diberikan dan piutang
Pinjaman yang diberikan dan piutang adalah aset keuangan non derivatif dengan pembayaran tetap atau telah ditentukan, yang tidak mempunyai harga di pasar aktif. Aset keuangan tersebut diukur sebesar biaya perolehan diamortisasi (amortized cost) dengan menggunakan metode suku bunga efektif (effective interest rate). Keuntungan dan kerugian diakui dalam laporan laba rugi konsolidasi pada saat pinjaman yang diberikan dan piutang dihentikan pengakuannya atau mengalami penurunan nilai, demikian juga pada saat proses amortisasi.
Kas dan setara kas, piutang usaha dan piutang lainnya, piutang hubungan istimewa, aset keuangan lancar lainnya, piutang jangka panjang dan aset keuangan tidak lancar lainnya perusahaan termasuk dalam kategori ini.
2. Liabilitas Keuangan
Pengakuan awal
Liabilitas keuangan dalam lingkup PSAK 55 (Revisi 2006) dapat dikategorikan sebagai liabilitas keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi, pinjaman dan hutang, atau derivatif yang ditetapkan sebagai instrument lindung nilai dalam lindung nilai yang efektif, mana yang sesuai. Perusahaan dan Anak Perusahaan menentukan klasifikasi liabilitas keuangan mereka pada saat pengakuan awal.
Liabilitas keuangan diakui pada awalnya sebesar FVPL dan, dalam hal pinjaman dan hutang, termasuk biaya transaksi yang dapat diatribusikan secara langsung.
Liabilitas keuangan Perusahaan dan Anak perusahaan meliputi hutang bank, hutang usaha, hutang pajak, hutang pembelian aset tetap dan hutang lainnya, biaya yang masih harus dibayar, hutang jangka panjang, hutang hubungan istimewa, instrumen keuangan derivatif dan liabilitas keuangan lancar dan tidak lancar lainnya.
Pengukuran liabilitas keuangan tergantung pada klasifikasinya sebagai berikut : - Pinjaman dan hutang
Setelah pengakuan awal, pinjaman dan hutang yang dikenakan bunga selanjutnya diukur pada biaya perolehan diamortisasi dengan menggunakan metode suku bunga efektif.
Keuntungan dan kerugian diakui dalam laporan laba rugi konsolidasi pada saat liabilitas tersebut dihentikan pengakuannya serta melalui proses amortisasi.
3. Saling hapus dari instrument keuangan
Aset keuangan dan liabilitas keuangan saling hapus dan nilai bersihnya dilaporkan dalam laporan neraca konsolidasi jika, dan hanya jika, saat ini memiliki hak yang berkekuatan hukum untuk melakukan saling hapus atas jumlah yang telah diakui dan terdapat niat untuk menyelesaikan secara neto, atau untuk merealisasikan aset dan menyelesaikan kewajibannya secara simultan.
4. Nilai wajar instrument keuangan
Nilai wajar instrument keuangan yang diperdagangkan secara aktif di pasar keuangan yang terorganisasi ditentukan dengan mengacu pada kuotasi harga penawaran di pasar aktif pada penutupan bisnis pada akhir periode pelaporan. Untuk instrumen keuangan yang tidak memiliki pasar aktif, nilai wajar ditentukan dengan menggunakan teknik penilaian. Teknik penilaian mencakup penggunaan transaksi pasar terkini yang dilakukan secara wajar oleh pihak-pihak yang berkeinginan dan memahami (recent arm’s length market transactions); penggunaan nilai wajar terkini instrument lain yang secara substansial sama; analisa arus kas yang didiskonto; atau model penilaian lain.
Penyesuaian Risiko Kredit
Perusahaan dan Anak Perusahaan menyesuaikan harga di pasar yang lebih menguntungkan untuk mencerminkan adanya perbedaan risiko kredit pihak lawan antara instrumen yang diperdagangkan di pasar tersebut dengan instrumen yang dinilai untuk posisi aset keuangan. Dalam menentukan nilai wajar posisi liabilitas keuangan, risiko kredit Perusahaan dan Anak Perusahaan terkait dengan instrument harus diperhitungkan.
5. Biaya perolehan diamortisasi dari instrumen keuangan
Biaya perolehan diamortisasi dihitung dengan menggunakan metode suku bunga efektif dikurangi dengan penyisihan atas penurunan nilai dan pembayaran pokok atau nilai yang tidak dapat ditagih. Perhitungan tersebut mempertimbangkan premium atau diskonto pada saat perolehan dan termasuk biaya transaksi dan biaya yang merupakan bagian yang tak terpisahkan dari suku bunga efektif.
6. Penurunan nilai dari aset keuangan
Pada setiap akhir periode pelaporan Perusahaan dan Anak Perusahaan mengevaluasi apakah terdapat bukti yang objektif bahwa aset keuangan atau kelompok aset keuangan mengalami penurunan nilai.
- Aset keuangan dicatat pada biaya perolehan diamortisasi
secara kolektif. Aset yang penurunan nilainya dinilai secara individual, dan untuk itu kerugian penurunan nilai diakui atau tetap diakui, tidak termasuk dalam penilaian penurunan secara kolektif.
Jika terdapat bukti objektif bahwa kerugian penurunan nilai telah terjadi, jumlah kerugian tersebut diukur sebagai selisih antara nilai tercatat aset dengan nilai kini estimasi arus kas masa datang (tidak termasuk ekspektasi kerugian kredit masa datang yang belum terjadi). Nilai kini estimasi arus kas masa datang didiskonto menggunakan suku bungan efektif awal dari aset keuangan tersebut. Jika pinjaman yang diberikan dan piutang yang memiliki suku bungan variabel, tingkat diskonto untuk mengukur kerugian penurunan nilai adalah suku bunga efektif terkini.
Nilai tercatat aset tersebut berkurang melalui penggunanaan akun penyisihan dan jumlah kerugian diakui dalam laporan laba rugi konsolidasi. Pendapatan bunga tetap diakui berdasarkan nilai tercatat yang telah dikurangi, berdasarkan suku bunga efektif aset tersebut. Pinjaman yang diberikan dan piutang, bersama-sama dengan penyisihan terkait, akan dihapuskan pada saat tidak terdapat kemungkinan pemulihan di masa depan yang realistik dan semua jaminan telah terealisasi atau telah dialihkan kepada Perusahaan dan Anak Perusahaan. Jika, pada periode berikutnya, jumlah kerugian penurunan nilai bertambah atau berkurang karena suatu peristiwa yang terjadi setelah penurunan nilai tersebut diakui, maka kerugian penurunan nilai yang sebelumnya diakui ditambah atau dikurangi dengan menyesuaikan akun penyisihan. Jika penghapusan kemudian dipulihkan, maka pemulihan tersebut diakui dalam laporan laba rugi konsolidasi.
7. Penghentian pengakuan aset dan liabilitas keuangan
Aset Keuangan
Aset keuangan (atau nama yang lebih tepat, bagian dari aset keuangan atau bagian dari kelompok aset keuangan serupa) dihentikan pengakuannya pada saat:
(1) hak untuk menerima arus kas yang berasal dari aset tersebut telah berakhir; atau (2) Perusahaan telah mentransfer hak mereka untuk menerima arus kas yang berasal
dari aset atau berkewajiban untuk membayar arus kas yang diterima secara penuh tanpa penundaan material kepada pihak ketiga dalam perjanjian “pass-through”; dan baik (a) Perusahaan telah secara substansial mentransfer seluruh risiko dan manfaat dari aset, atau (b) Perusahaan secara substansial tidak mentransfer atau tidak memiliki seluruh risiko dan manfaat suatu aset, namun telah mentransfer kendali atas aset tersebut.
Liabilitas Keuangan
Liabilitas keuangan dihentikan pengakuannya pada saat liabilitas tersebut dihentikan atau dibatalkan atau kadaluwarsa.
Ketika suatu liabilitas keuangan yang ada digantikan oleh liabilitas keuangan lain dari pemberi pinjaman yang sama dengan persyaratan yang berbeda secara substansial, atau modifikasi secara substansial persyaratan dari suatu liabilitas yang saat ini ada, pertukaran atau modifikasi tersebut diperlakukan sebagai penghentian pengakuan liabilitas awal dan pengakuan liabilitas baru, dan selisih antara nilai tercatat masing-masing liabilitas diakui dalam laporan laba rugi.
f. Kas dan Setara Kas
g. Penggunaan Estimasi
Penyusunan laporan keuangan konsolidasi sesuai dengan prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia mengharuskan manajemen membuat estimasi dan asumsi yang mempengaruhi jumlah aset dan liabilitas yang dilaporkan dan penggungkapan aset dan liabilitas kontijensi pada tanggal laporan keuangan konsolidasi serta jumlah pendapatan dan beban selama periode pelaporan. Realisasi dapat berbeda dengan jumlah yang disetimasi.
h. Investasi
Investasi dalam efek yang tersedia untuk dijual dinyatakan sebesar nilai wajarnya. Keuntungan dan kerugian yang timbul dari perubahan nilai wajar diakui langsung dalam ekuitas sampai pada saat efek tersebut dijual atau telah terjadi penurunan nilai. Pada saat itu, keuntungan atau kerugian kumulatif yang sebelumnya telah diakui dalam ekuitas dibebankan dalam laba rugi konsolidasi tahun berjalan.
Efek yang tersedia untuk dijual yang dimiliki sementara disajikan sebagai investasi sementara.
Untuk menghitung laba atau rugi konsolidasi yang direalisasi, biaya perolehan efek ditentukan berdasarkan metode rata-rata tertimbang.
i. Piutang Usaha
Piutang usaha disajikan sebesar jumlah bersih setelah dikurangi dengan penyisihan piutang tidak tertagih, yang diestimasi berdasarkan penelaahan atas kolektibilitas saldo piutang. Piutang dihapuskan pada saat piutang tersebut dipastikan tidak akan tertagih.
j. Penyisihan Piutang Ragu-Ragu
Penyisihan piutang ragu-ragu ditetapkan berdasarkan penelahaan terhadap masing-masing akun piutang pada akhir tahun.
k. Persediaan
Efektif tanggal 1 Januari 2009, PSAK No. 14 (Revisi 2008) atas “Persediaan” menggantikan PSAK No. 14 (1994). Berdasarkan PSAK No.14 tersebut, Barang jadi, bahan baku dan supplies dan pekerjaan dalam proses diakui sebesar nilai yang lebih rendah antara harga perolehan dan nilai realisasi bersih. Harga perolehan ditentukan dengan menggunakan metode rata-rata bergerak. Harga perolehan barang jadi dan pekerjaan dalam proses terdiri dari biaya bahan baku, tenaga kerja langsung, biaya-biaya langsung lainnya dan biaya
overhead yang terkait dengan produksi (berdasarkan kapasitas operasi normal).
Nilai realisasi bersih adalah estimasi harga penjualan dalam kegiatan usaha normal dikurangi estimasi biaya penyelesaian dan estimasi biaya penjualan. Biaya perolehan ditentukan dengan menggunakan metode masuk pertama keluar pertama, sedangkan HPPP (anak perusahaan) menggunakan metode rata-rata tertimbang.
l. Biaya Dibayar Dimuka
m. Aset Tetap - Pemilikan Langsung
Efektif tanggal 1 Januari 2008, Perusahaan dan Anak Perusahaan menerapkan PSAK No. 16 (Revisi 2007), “Aset Tetap”, yang menggantikan PSAK No. 16 (1994), “Aset Tetap dan Aset Lain-lain” dan PSAK No. 17 (1994), “Akuntansi Penyusutan”. Perusahaan dan anak perusahaan yang telah melakukan revaluasi aset tetap sebelum penerapan PSAK No. 16 (Revisi 2007) dan memilih model biaya, maka nilai revaluasi aset tetap tersebut dianggap sebagai biaya perolehan dan biaya perolehan tersebut adalah nilai pada saat PSAK No. 16 (Revisi 2007) diterbitkan. Seluruh saldo selisih nilai revaluasi aset tetap yang masih dimiliki pada saat penerapan pertama kali PSAK No. 16 (Revisi 2007) yang disajikan sebagai bagian dari ekuitas dalam neraca konsolidasi sebesar Rp 43.680.800 telah direklasifikasi ke saldo laba konsolidasi pada tahun 2008.
Aset tetap dinyatakan sebesar biaya perolehan dikurangi akumulasi penyusutan dan rugi penurunan nilai. Biaya perolehan termasuk biaya penggantian bagian aset tetap saat biaya tersebut terjadi, jika memenuhi kriteria pengakuan. Selanjutnya, pada saat inspeksi yang signifikan dilakukan, biaya inspeksi itu diakui ke dalam jumlah tercatat aset tetap sebagai suatu penggantian jika memenuhi kriteria pengakuan. Semua biaya pemeliharaan dan perbaikan yang tidak memenuhi kriteria pengakuan diakui dalam laporan laba rugi pada saat terjadinya.
Perusahaan
Aset tetap, kecuali tanah, digolongkan dan disusutkan dengan menggunakan metode dan taksiran masa manfaat ekonomis aset tetap sebagai berikut :
Masa Metode Persentase
Golongan Manfaat Penyusutan Penyusutan
Bangunan 20 tahun Garis lurus 5%
Bukan bangunan :
Golongan I Tidak lebih dari 4 tahun Saldo menurun ganda 50%
(double declining balance method).
Golongan II 4-8 tahun Saldo menurun ganda 25%
(double declining balance method).
Golongan III 8-16 tahun Saldo menurun ganda 12,5%
(double declining balance method).
Anak Perusahaan
Aset tetap, kecuali tanah, disusutkan dengan menggunakan metode garis lurus berdasarkan taksiran masa manfaat ekonomis aset tetap sebagai berikut :
Jumlah tercatat aset tetap dihentikan pengakuannya pada saat dilepaskan atau saat tidak ada manfaat ekonomis masa depan yang diharapkan dari penggunaan atau pelepasannya. Laba atau rugi yang timbul dari penghentian pengakuan aset (dihitung sebagai perbedaan antara jumlah neto hasil pelepasan dan jumlah tercatat dari aset) dimasukkan dalam laporan laba rugi konsolidasi pada tahun aset tersebut dihentikan pengakuannya.
Aset dalam penyelesaian dinyatakan sebesar biaya perolehan. Biaya perolehan tersebut termasuk biaya pinjaman yang terjadi selama masa pembangunan yang timbul dari hutang yang digunakan untuk pembangunan aset tersebut. Akumulasi biaya perolehan akan dipindahkan ke masing-masing aset tetap yang bersangkutan pada saat selesai dan siap digunakan.
n. Sewa
Sebelum tanggal 1 Januari 2008, transaksi sewa guna usaha diakui dengan menggunakan metode financial lease jika memenuhi seluruh kriteria sebagai berikut :
1) Penyewa guna usaha memiliki hak opsi untuk membeli aset yang disewa guna usaha pada akhir masa sewa guna usaha dengan harga yang telah disetujui bersama pada saat dimulainya perjanjian sewa guna usaha.
2) Seluruh pembayaran berkala yang dilakukan oleh penyewa guna usaha ditambah dengan nilai sisa dapat menutup pengembalian biaya perolehan barang modal yang disewa guna usaha beserta bunganya sebagai keuntungan perusahaan sewa guna usaha.
3) Masa sewa guna usaha minimum dua tahun.
Transaksi sewa yang tidak memenuhi salah satu kriteria tersebut di atas dibukukan dengan menggunakan metode sewa menyewa biasa (operating lease method) dan pembayaran sewa diakui sebagai beban dalam laporan laba rugi konsolidasi dengan dasar garis lurus selama masa sewa guna usaha.
Efektif tanggal 1 Januari 2008, PSAK No. 30 (Revisi 2007), “Sewa” menggantikan PSAK No. 30 (1990) ”Akuntansi Sewa Guna Usaha”. Berdasarkan PSAK No. 30 (Revisi 2007), penentuan apakah suatu perjanjian merupakan perjanjian sewa atau perjanjian yang mengandung sewa didasarkan atas substansi perjanjian pada tanggal awal sewa dan apakah pemenuhan perjanjian tergantung pada penggunaan suatu aset dan perjanjian tersebut memberikan suatu hak untuk menggunakan aset tersebut. Menurut PSAK revisi ini, sewa yang mengalihkan secara substansial seluruh risiko dan manfaat yang terkait dengan kepemilikan aset, diklasifikasikan sebagai sewa pembiayaan. Selanjutnya, suatu sewa diklasifikasikan sebagai sewa operasi, jika sewa tidak mengalihkan secara substansial seluruh risiko dan manfaat yang terkait dengan kepemilikan aset.
Berdasarkan PSAK No. 30 (Revisi 2007), dalam sewa pembiayaan, Perusahaan mengakui aset dan liabilitas dalam neraca konsolidasi pada awal masa sewa, sebesar nilai wajar aset sewaan atau sebesar nilai kini dari pembayaran sewa minimum, jika nilai kini lebih rendah dari nilai wajar. Pembayaran sewa dipisahkan antara bagian yang merupakan beban keuangan dan bagian yang merupakan pelunasan kewajiban sewa. Beban keuangan dialokasikan pada setiap periode selama masa sewa, sehingga menghasilkan tingkat suku bunga periodik yang konstan atas saldo liabilitas. Rental kontinjen dibebankan pada periode terjadinya. Beban keuangan dicatat dalam laporan laba rugi. Aset sewaan (disajikan sebagai bagian aset tetap) disusutkan selama jangka waktu yang lebih pendek antara umur manfaat aset sewaan dan periode masa sewa, jika tidak ada kepastian yang memadai bahwa Perusahaan akan mendapatkan hak kepemilikan pada akhir masa sewa.
Dalam sewa operasi, Perusahaan dan anak Perusahaan mengakui pembayaran sewa sebagai beban dengan dasar garis lurus (straight-line basis) selama masa sewa.
Transaksi jual dan sewa-balik harus diperlakukan sebagai 2 (dua) transaksi yang terpisah. Selisih lebih antara harga jual dan nilai tercatat aset harus diakui sebagai keuntungan atau kerugian selama periode berjalan jika sewa-balik adalah sewa operasi. Apabila sewa-balik adalah sewa pembiayaan, keuntungan ditangguhkan dan diamortisasi selama masa sewa atau jika kerugian akan diakui pada periode berjalan.
o. Pengakuan Pendapatan dan Beban
Penjualan diakui pada saat penyerahan barang dan hak kepemilikannya berpindah kepada pelanggan. Beban diakui sesuai manfaatnya pada tahun yang bersangkutan (accrual basis).
p. Imbalan Pasca Kerja.
Perusahaan dan anak perusahaan (LPI) memberikan imbalan pasca kerja imbalan pasti untuk karyawan sesuai dengan Undang Undang Ketenagakerjaan No. 13/2003. Pendanaan untuk imbalan ini dilakukan melalui sebuah perusahaan asuransi.
Perhitungan imbalan pasca kerja menggunakan metode Projected Unit Credit. Akumulasi keuntungan dan kerugian akturial bersih yang belum diakui yang melebihi jumlah yang lebih besar diantara 10% dari nilai kini imbalan pasti dan 10% nilai wajar aset program diakui dengan metode garis lurus selama rata-rata sisa masa kerja yang diprakirakan dari para pekerja dalam program tersebut. Biaya jasa lalu dibebankan langsung apabila imbalan tersebut menjadi hak atau vested, dan sebaliknya akan diakui sebagai beban dengan metode garus lurus selama periode rata-rata sampai imbalan tersebut menjadi vested.
Jumlah yang diakui sebagai liabilitas imbalan pasti di neraca merupakan nilai kini liabilitas imbalan pasti disesuaikan dengan keuntungan dan kerugian aktuarial yang belum diakui, biaya jasa lalu yang belum diakui dan nilai wajar aset program.
q. Pajak Penghasilan
Beban Pajak kini ditentukan berdasarkan laba kena pajak dalam periode yang bersangkutan yang dihitung berdasarkan tarif pajak yang berlaku.
Aset dan liabilitas pajak tangguhan diakui atas konsekuensi pajak periode mendatang yang timbul dari perbedaan jumlah tercatat aset dan liabilitas menurut laporan keuangan dengan dasar pengenaan pajak aset dan liabilitas. Liabilitas pajak tangguhan diakui untuk semua perbedaan temporer kena pajak dan aset pajak tangguhan diakui untuk perbedaan temporer yang boleh dikurangkan, sepanjang besar kemungkinan dapat dimanfaatkan untuk mengurangi laba kena pajak pada masa datang.
Pajak tangguhan diukur dengan menggunakan tarif pajak yang berlaku atau secara substansial telah berlaku pada tanggal neraca. Pajak tangguhan dibebankan atau dikreditkan dalam laporan laba rugi, kecuali pajak tangguhan yang dibebankan atau dikreditkan langsung ke ekuitas.
Aset dan liabilitas pajak tangguhan disajikan di neraca, kecuali aset dan liabilitas pajak tangguhan untuk entitas yang berbeda, atas dasar kompensasi sesuai dengan penyajian aset dan liabilitas pajak kini.
r. Laba (Rugi) per Saham Dasar
s. Informasi Segmen
Informasi segmen disusun sesuai dengan kebijakan akuntansi yang dianut dalam penyusunan dan penyajian laporan keuangan konsolidasi. Bentuk pelaporan segmen adalah segmen operasi yang disajikan secara terpisah mengenai informasi tentang produk dan jasa, wilayah geografis, dan pelanggan utama.
Segmen operasi adalah komponen perusahaan:
1. Yang terlibat dalam aktivitas bisnis yang mana memperoleh pendapatan dan menimbulkan beban (termasuk pendapatan dan beban terkait dengan transaksi dengan komponen lain dari entitas yang sama);
2. Hasil operasinya dikaji secara reguler oleh pengambil keputusan operasional untuk membuat keputusan tentang sumber daya yang dialokasikan pada segmen tersebut dan menilai kinerjanya; dan
3. Tersedia informasi keuangan yang dapat dipisahkan.
Aset dan liabilitas yang digunakan bersama dalam satu segmen atau lebih dialokasikan kepada setiap segmen jika, dan hanya jika, pendapatan dan beban yang terkait dengan aset tersebut juga dialokasikan kepada segmen-segmen tersebut.
4. KAS DAN SETARA KAS
30 Juni 2011 31 Desember 2010 31 Desember 2009
Rp Rp Rp
Kas 327,068,358 404,161,932 214,123,818
Bank Rupiah
PT Bank Central Asia, Tbk. 5,606,591,400 5,475,300,367 3,166,379,823 Deutsche Bank AG 3,321,251,590 4,693,372,657 1,418,219,511 PT Bank Mandiri, Tbk. 802,029,382 243,102,892 238,821,825 PT Bank CIMB Niaga, Tbk 639,293,144 1,237,359,936 275,561,657 PT Bank Overseas Chinese Banking
Corporation - Indonesia 445,633,592 274,318,443 26,598,798 PT Bank DBS Indonesia 80,635,695 296,746,506 174,051,348 PT Bank Syariah Mandiri - 27,575,052 27,254,897 PT Bank Danamon Indonesia, Tbk - 2,139,940 2,870,944
PT Bank Permata, Tbk - - 351,775,523
Citibank N.A. - - 137,633,765
PT Bank Industrial and Commercial
Bank of China - Indonesia - - 119,795,473
The Hongkong and Shanghai Banking Corporation Limited,
Indonesia (1,158,117,271) 11,012,446,195 12,497,289,744
30 Juni 2011 31 Desember 2010 31 Desember 2009
Tingkat suku bunga per tahun Deposito Berjangka
Renminbi Cina 0.65% 0.65%
-Rupiah - 6.25%
-Dollar AS - 0.25% 0.01%
Tidak terdapat saldo kas dan setara kas kepada pihak hubungan istimewa
5. INVESTASI SEMENTARA
30 Juni 2011 31 Desember 2010 31 Desember 2009
Rp Rp Rp
Investasi melalui manajer investasi 2,683,642,460 3,288,879,458 8,509,344,674 Investasi langsung 23,450,942,404 1,814,741,099 1,712,473,385
Jumlah 26,134,584,864 5,103,620,557 10,221,818,059
Investasi melalui Manajer Investasi
Merupakan investasi yang dilakukan melalui manajer investasi sebagai berikut :
30 Juni 2011 31 Desember 2010 31 Desember 2009
Rp Rp Rp
Perusahaan
PT Samuel Sekuritas Indonesia 2,519,296,348 2,611,714,082 -PT Lautandhana Securindo 1,037,156 1,016,551 509,897,191 PT Samuel Aset Manajemen - - 1,055,294,030
Anak Perusahaan (LPI)
PT Samuel Aset Manajemen - 839,080,139 5,823,320,392 PT Lautandhana Securindo 380,040,206 1,016,551 509,841,065
Jumlah 2,900,373,710 3,452,827,323 7,898,352,678 Keuntungan (kerugian) yang
belum direalisasi (216,731,250) (163,947,865) 610,991,996
Jumlah 2,683,642,460 3,288,879,458 8,509,344,674
Perusahaan dan LPI menunjuk PT Samuel Aset Manajemen sebagai manajer investasi dengan wewenang penuh pada obligasi Surat Utang Negara dan saham-saham yang diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia. Masa investasi adalah satu (1) tahun dan diperpanjang kembali secara otomatis, kecuali bila ada pembatalan secara tertulis oleh Perusahaan dan LPI.
Pada tahun 2009, Perusahaan dan LPI menunjuk PT Lautandhana Securindo untuk mengelola dana dalam bidang investasi surat berharga di pasar modal.
Investasi Langsung
30 Juni 2011 31 Desember 2010 31 Desember 2009
Rp Rp Rp
Perusahaan
Saham - - 217,368,500
Anak Perusahaan (LPI)
Surat Berharga 21,678,934,067 -
-Obligasi
Obligasi NISP Subordinasi II
tahun 2008 1,000,000,000 1,000,000,000 1,000,000,000 Reksadana
DBS Investec GEF 859,700,000 899,100,000 940,000,000
Jumlah 23,538,634,067 1,899,100,000 2,157,368,500 Keuntungan (kerugian) yang
belum direalisasi (87,691,663) (84,358,901) (444,895,115)
Nilai wajar 23,450,942,404 1,814,741,099 1,712,473,385
Mutasi keuntungan pemilikan efek yang belum direalisasi :
30 Juni 2011 31 Desember 2010 31 Desember 2009
Rp Rp Rp
Saldo awal (248,306,766) 166,096,881 (725,128,656) Keuntungan (kerugian) bersih nilai efek (56,116,147) (414,403,647) 891,225,537
Saldo akhir (304,422,913) (248,306,766) 166,096,881
6. PIUTANG USAHA
30 Juni 2011 31 Desember 2010 31 Desember 2009
Rp Rp Rp
a. Berdasarkan pelanggan: Pihak ketiga
Pelanggan dalam negeri 107,571,255,567 128,812,119,207 134,936,253,209 Pelanggan luar negeri 15,105,275,186 7,679,138,875 4,934,783,712
Jumlah 122,676,530,753 136,491,258,082 139,871,036,921 Penyisihan piutang ragu-ragu - - (12,394,635)
Jumlah - bersih 122,676,530,753 136,491,258,082 139,858,642,286
b. Berdasarkan umur (hari):
Belum jatuh tempo 86,067,460,110 107,115,835,851 108,011,176,970 Sudah jatuh tempo
1 s/d 30 hari 29,285,943,858 22,573,841,878 21,402,782,238 31 s/d 60 hari 5,041,201,071 3,482,356,728 5,801,418,297 61 s/d 90 hari 1,710,669,710 1,821,370,248 2,046,509,532 > 90 hari 571,256,004 1,497,853,377 2,609,149,884
Jumlah 122,676,530,753 136,491,258,082 139,871,036,921 Penyisihan piutang ragu-ragu - - (12,394,635)
30 Juni 2011 31 Desember 2010 31 Desember 2009
Rp Rp Rp
c. Berdasarkan mata uang:
Rupiah 107,235,647,542 128,713,376,447 130,128,059,209 Renminbi Cina 12,050,344,486 6,658,881,468 2,253,907,301 Dollar AS 3,390,538,725 1,119,000,167 7,026,433,950
Euro - - 462,636,461
Jumlah 122,676,530,753 136,491,258,082 139,871,036,921 Penyisihan piutang ragu-ragu - - (12,394,635)
Jumlah - bersih 122,676,530,753 136,491,258,082 139,858,642,286
Mutasi penyisihan piutang ragu-ragu
Saldo awal - 12,394,635
-Penghapusan - (12,394,635)
-Penambahan - - 12,394,635
Saldo akhir - - 12,394,635
Perusahaan tidak memiliki piutang usaha kepada pihak hubungan istimewa.
Manajemen berpendapat bahwa seluruh piutang tersebut diatas dapat ditagih sehingga tidak dibentuk penyisihan piutang ragu-ragu atas piutang usaha.
Sebagian piutang Perusahaan dan anak perusahaan digunakan sebagai jaminan sehubungan dengan fasilitas hutang bank jangka pendek yang diperoleh dari The Hongkong and Shanghai Banking Corporation Limited, Indonesia. PT. Mandiri (Persero), Tbk, PT. Bank CIMB Niaga, Tbk.(2010), Citibank N.A., China (Catatan 14) dan Deutsche Bank AG (Catatan 32g).
7. PIUTANG LAIN-LAIN
30 Juni 2011 31 Desember 2010 31 Desember 2009
Rp Rp Rp
Piutang uang muka mould 970,315,889 943,973,519 6,877,000
Piutang rebate pemasok 582,391,151 -
-Piutang klaim 227,332,440 -
-Piutang karyawan 102,026,681 282,935,349 219,955,672 Piutang klaim asuransi 31,254,933 28,425,708 69,235,964 Piutang lainnya 1,736,559,174 4,071,877,808 5,350,632,112
Jumlah 3,649,880,268 5,327,212,384 5,646,700,748
8. PERSEDIAAN
30 Juni 2011 31 Desember 2010 31 Desember 2009
Rp Rp Rp
Barang jadi 21,903,951,869 17,887,177,613 15,847,237,871 Bahan baku 25,848,642,146 22,466,339,146 18,967,892,010 Barang dalam proses 11,807,111,685 16,274,746,866 11,432,859,944 Barang teknik, bahan bakar dan mould 8,494,827,314 11,505,569,507 9,270,045,930 Bahan pembantu dan pembungkus 16,787,410,211 8,622,380,219 9,023,246,908 Barang dalam perjalanan 3,245,294,987 2,041,210,608 2,829,127,003 Dikurangi:
Penyisihan penurunan nilai persediaan (600,000,000) (115,000,000) (318,693,183)
Jumlah - bersih 87,487,238,212 78,682,423,959 67,051,716,483
Mutasi penyisihan penurunan nilai persediaan
Saldo awal 115,000,000 318,693,183 321,951,833 Penghapusan (115,000,000) (318,693,183) (321,951,833) Penambahan 600,000,000 115,000,000 318,693,183
Saldo akhir 600,000,000 115,000,000 318,693,183
Sebagian persediaan di atas, milik HPPP masing-masing sebesar Rp 13.077.889.015 untuk tahun 2011, Rp 11.532.394.341 tahun 2010 dan Rp 4.257.555.745 tahun 2009, ditentukan dengan metode rata-rata tertimbang.
Seluruh persediaan milik Perusahaan dan anak perusahaan telah diasuransikan terhadap risiko kebakaran, pencurian dan risiko lainnya dengan jumlah pertanggungan rata-rata sebesar Rp 67.180.394.104 dan Rmb 5.000.000 untuk tahun 2011 dan Rp 57.493.155.663 dan Rmb 1.500.000 untuk tahun 2010, serta Rp 48.676.880.045 dan Rmb 1.500.000 untuk tahun 2009 yang merupakan 75% dari nilai rata-rata persediaan dan akan disesuaikan setiap akhir tahun berdasarkan nilai persediaan aktual. Manajemen berpendapat bahwa nilai pertanggungan tersebut cukup untuk menutupi kemungkinan kerugian yang dialami Perusahaan dan Anak Perusahaan.
Sebagian persediaan Perusahaan dan anak perusahaan digunakan sebagai jaminan sehubungan dengan fasilitas hutang bank jangka pendek yang diperoleh dari The Hongkong and Shanghai Banking Corporation Limited, Indonesia, PT Bank Mandiri (Persero), Tbk dan PT. Bank CIMB Niaga, Tbk.(2010) (Catatan 14).
9. PAJAK DIBAYAR DIMUKA
30 Juni 2011 31 Desember 2010 31 Desember 2009
Rp Rp Rp
Perusahaan:
Pajak Pertambahan Nilai 113,054,550 243,713,902 -Pajak Penghasilan Badan lebih bayar 79,301,712 -
-Anak Perusahaan:
Pajak Pertambahan Nilai - 413,157,784 1,070,086,375
10. PIUTANG PADA PIHAK YANG MEMPUNYAI HUBUNGAN ISTIMEWA
Merupakan piutang kepada PT Samolin Surya (SS) sejak tahun 1989 yang timbul dari pemberian pinjaman modal kerja dan pembayaran biaya terlebih dahulu. Piutang tersebut tidak dikenakan bunga serta tanpa jaminan dan tidak ditentukan jadual pengembaliannya (Catatan 29).
Rincian Piutang adalah sebagai berikut :
30 Juni 2011 31 Desember 2010 31 Desember 2009
Rp Rp Rp
PT Samolin Surya 5,257,835,048 5,257,835,048 5,257,835,048 Dikurangi:
Penyisihan piutang ragu-ragu (3,003,135,047) (3,003,135,047) (2,236,860,635)
Jumlah - bersih 2,254,700,001 2,254,700,001 3,020,974,413
Mutasi penyisihan piutang ragu-ragu
Saldo awal 3,003,135,047 2,236,860,635 1,470,586,223 Penambahan penyisihan - 766,274,412 766,274,412
Saldo akhir 3,003,135,047 3,003,135,047 2,236,860,635
Perusahaan juga mempunyai penyertaan saham pada SS sejumlah 48% dengan harga perolehan sebesar Rp 360.000.000, yang telah bersaldo nihil karena investasinya telah mengalami akumulasi kerugian di atas biaya perolehannya. Saat ini manajemen Perusahaan (sebagai pemegang saham SS) sedang mempelajari berbagai alternatif yang tepat untuk menyelesaikan piutang SS. Adapun aset tetap SS saat ini yang berupa tanah, bangunan, mesin dan kendaraan telah dikuasai oleh Perusahaan.
Piutang kepada PT Samolin Surya (SS) merupakan piutang yang timbul sejak tahun 1989 sehubungan dengan pemberian pinjaman modal kerja dan pembayaran beban terlebih dahulu. Piutang tersebut tidak dikenakan bunga sejak tahun 2002 serta tanpa jaminan dan tidak ditentukan jadual pengembaliannya.
11. ASET TETAP
Selisih kurs penjabaran laporan
1 Januari 2011 Penambahan Pengurangan keuangan Reklasifikasi 30 Juni 2011
Rp Rp Rp Rp Rp Rp
Biaya perolehan: Pemilikan langsung
Hak atas tanah 16,849,693,313 3,687,000,511 - 129,643,628 12,558,082,482 33,224,419,934 Bangunan dan prasarana 26,088,488,425 12,430,781,765 - 195,894,922 13,419,655,079 52,134,820,191 Mesin dan perlengkapan 362,018,433,759 36,220,966,702 (158,250,000) (1,513,470,966) (9,910,656,441) 386,657,023,054 Kendaraan bermotor 4,636,612,786 107,200,000 (645,000,000) (9,955,472) - 4,088,857,314 Peralatan 32,615,062,218 1,759,841,718 (90,007,125) (27,176,974) 37,693,812 34,295,413,649 Aset sewa
Mesin dan perlengkapan 37,590,421,889 - - - 15,677,851,988 53,268,273,877 Kendaraan bermotor - 404,359,640 - - - 404,359,640 Peralatan 81,464,520 - - - (37,693,812) 43,770,708 Aset dalam penyelesaian
Bangunan dan prasarana 26,650,323,827 397,576,120 - 179,471,309 (25,445,729,356) 1,781,641,900 Mesin dan perlengkapan 9,386,298,797 4,814,405,168 - - (5,767,195,547) 8,433,508,418 Peralatan 210,630,135 1,554,439,364 - (9,476,598) (532,008,205) 1,223,584,696 Jumlah 516,127,429,669 61,376,570,988 (893,257,125) (1,055,070,151) - 575,555,673,381
Akumulasi penyusutan: Pemilikan langsung
Bangunan dan prasarana 11,362,162,877 998,783,918 - 2,259,027 - 12,363,205,822 Mesin dan perlengkapan 220,080,868,369 14,880,202,851 (158,250,000) (722,428,270) 1,532,885,310 235,613,278,260 Kendaraan bermotor 3,904,986,102 90,877,994 (447,251,244) (4,593,516) - 3,544,019,336 Peralatan 25,989,753,369 1,101,231,823 (90,007,125) (10,619,055) (2,651,922,784) 24,338,436,228 Aset sewa
Mesin dan perlengkapan 7,889,776,517 2,568,648,493 - - 1,147,307,834 11,605,732,844 Kendaraan bermotor - 37,742,184 - - - 37,742,184 Peralatan 53,917,578 7,474,683 - - (28,270,360) 33,121,901
Jumlah 269,281,464,812 19,684,961,946 (695,508,369) (735,381,814) - 287,535,536,575
Selisih kurs
Jumlah tercatat 214.233.768.452 246.845.964.857
Selisih kurs Mesin dan perlengkapan 312.443.160.330 37.438.785.338 (831.376.286) (10.468.295.693) (14.793.472.885) 323.788.800.804 Kendaraan bermotor 3.937.786.194 427.689.477 - (98.296.333) 100.550.000 4.367.729.338 Jumlah 406.884.638.966 54.220.525.700 (1.187.377.274) (10.326.819.277) - 449.590.968.115
Akumulasi penyusutan:
Beban penyusutan dialokasikan sebagai berikut :
30 Juni 2011 30 Juni 2010 31 Desember 2010
Rp Rp Rp
Pemilikan langsung:
Biaya pabrikasi 16,494,497,957 14,654,398,004 30,281,890,485 Beban usaha 517,156,623 471,014,288 964,437,447
Aset sewa guna usaha:
Biaya pabrikasi 2,629,006,342 1,539,142,853 3,513,616,984 Beban usaha 44,301,024 17,630,718 28,820,200
Jumlah 19,684,961,946 16,682,185,863 34,788,765,116
Penjualan aset tetap sebagai berikut:
30 Juni 2011 30 Juni 2010 31 Desember 2010
Rp Rp Rp
Nilai tercatat pengurangan aset tetap 197,748,756 11,214,667 132,717,379
Reklasifikasi ke aset lain-lain - - (121,500,000)
Nilai tercatat 197,748,756 11,214,667 11,217,379 Harga jual (251,010,909) (9,090,761) (268,009,018)
Keuntungan penjualan aset tetap 53,262,153 (2,123,906) 256,791,639
Mesin dan perlengkapan dalam penyelesaian sedang dalam tahap instalasi yang dimiliki oleh Perusahaan dan diperkirakan akan selesai sekitar kuartal 3 dan kuartal 4 tahun 2011. Pada tanggal 30 Juni 2011 tingkat penyelesaian aset dalam penyelesaian tersebut rata-rata sekitar 30% - 50%.
Pada tanggal 30 Juni 2011, sebagian aset tetap Perusahaan dan anak perusahaan berupa tanah dan bangunan, mesin, dan peralatan digunakan sebagai jaminan sehubungan dengan fasilitas hutang bank jangka pendek maupun jangka panjang yang diperoleh dari The Hongkong and Shanghai Banking Corporation Limited, Indonesia, PT Mandiri (Persero), Tbk, PT Bank Overseas Chinese Banking Corporation Indonesia (Catatan 14), dan Bank International Ningbo, China (Catatan 31f).
Aset sewa digunakan sebagai jaminan untuk hutang sewa guna usaha yang diperoleh dari PT Chandra Sakti Utama Leasing dan PT Tifa Finance (Catatan 17).
Perusahaan dan LPI (anak perusahaan) memiliki beberapa bidang tanah yang terletak di Pandaan, Tangerang, Cikarang dan Sidoarjo dengan Hak Legal berupa Hak Guna Bangunan yang berjangka waktu 20 (dua puluh) tahun sampai dengan 30 (tiga puluh) tahun yang akan jatuh tempo pada tahun 2013 sampai dengan 2034. Manajemen berpendapat tidak terdapat masalah dengan perpanjangan hak atas tanah karena seluruh tanah diperoleh secara sah dan didukung dengan bukti yang memadai.
Aset tetap kecuali tanah telah diasuransikan terhadap risiko kebakaran, pencurian dan risiko lainnya dengan jumlah pertanggungan masing-masing sebesar Rp 46.991.829173, US$ 62.469.575, dan Rmb 79.943.855 untuk tahun 2011, dan Rp 29.849.400.000, US$ 49.566.174 dan Rmb 87.135.644 untuk tahun 2010 dan Rp 43.761.442.804, US$ 43.734.489 dan Rmb 86.642.991 untuk tahun 2009.
Manajemen berpendapat bahwa nilai pertanggungan tersebut cukup untuk menutupi kemungkinan kerugian atas aset yang dipertanggungkan.
12. GOODWILL - BERSIH
Akun ini merupakan selisih antara biaya perolehan dan bagian Perusahaan atas nilai wajar aset bersih LPI (anak perusahaan) (Catatan 1b dan 3b)
30 Juni 2011 31 Desember 2010 31 Desember 2009
Rp Rp Rp
Biaya perolehan 11,878,145,205 11,878,145,205 11,878,145,205 Akumulasi amortisasi (10,280,845,796) (10,280,845,796) (9,748,412,660)
Jumlah tercatat 1,597,299,409 1,597,299,409 2,129,732,545
Beban amortisasi goodwill sebesar Rp 532.433.136 dicatat pada laporan laba rugi komprehensif untuk tahun yang berakhir 31 Desember 2010 dan sebesar Rp 266.216.568 dicatat pada laporan laba rugi komprehensif untuk tahun yang berakhir 30 Juni 2010.
Sesuai dengan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 22 (Revisi 2010) “Kombinasi bisnis”, goodwill yang diperoleh dari kombinasi bisnis sebelum 1 Januari 2011 untuk dihentikan amortisasinya sejak awal tahun buku yang dimulai pada atau setelah 1 Januari 2011.
13. HUTANG PEMBELIAN ASET
30 Juni 2011 31 Desember 2010 31 Desember 2009
Rp Rp Rp
Kai Mei Plastic Machinery Co., Ltd. 10,338,899,530 7,796,419,776 3,385,203,200 KraussMaffei Technologies GmbH 6,654,965,248 8,799,461,440 2,010,241,128 Taiyo Kikai Ltd 3,612,924,700 3,682,031,650
-Engel Austria GmbH 2,437,524,168 2,338,552,524
-ARBURG GmbH + Co KG 1,315,963,968 -
-Combitool Ltd - 6,528,095,200
-PackSys Global Ltd - - 8,413,774,410
Wutung Engineering Co. Ltd. - - 1,533,521,640
Mori Seiki Co., Ltd. - - 1,525,563,750
Toshiba Machine Co., Ltd. 1,768,654,676 - -Lain-lain (dibawah Rp 300 juta) 1,114,817,090 348,456,722
-Jumlah 27,243,749,380 29,493,017,312 16,868,304,128
Perusahaan dan LPI (anak perusahaan) melakukan pembelian sebagian besar mesin dengan menggunakan fasilitas L/C yang akan jatuh tempo dalam waktu 180 sampai dengan 360 hari.
14. HUTANG BANK
Pada tanggal 23 Maret 2011, Perusahaan telah menandatangani perjanjian dengan PT Bank Mandiri (Persero), Tbk untuk pembiayaan kembali seluruh fasilitas pinjaman yang diperoleh Perusahaan pada PT Bank CIMB Niaga, Tbk. Fasilitas yang diperoleh Perusahaan antara lain:
- Pinjaman Modal Kerja Revolving sebesar Rp 10.000.000.000 dengan jangka waktu 1 tahun
- Pinjaman Tetap sebesar Rp 87.750.000.000 yang jatuh tempo pada 19 Desember 2014
- Pinjaman Tetap Khusus / PTK (untuk pembiayaan belanja modal) sebesar Rp
Fasilitas ini dijamin dengan dengan jaminan yang sama dengan yang semula diberikan kepada PT Bank CIMB Niaga, Tbk terkecuali untuk fasilitas PTK dan Pinjaman Tetap dan L/C pembelian mesin akan dijamin dengan mesin atau aset yang dibiayai.
The Hongkong and Shanghai Banking Corporation, Indonesia (HSBC)
Pada tanggal 8 Juni 2011, Perusahaan dan HSBC telah menyepakati untuk perubahan Perjanjian Fasilitas Perusahaan untuk pembiayaan kembali seluruh fasilitas pinjaman yang diperoleh Perusahaan melalui PT Bank Industrial and Commercial Bank of China (ICBC) Indonesia, dimana Perusahaan memperoleh beberapa fasilitas pinjaman sebagai berikut :
- Limit kombinasi import sebesar US$ 3.500.000 dengan jangka waktu sampai dengan
31 Desember 2011;
- Pembiayaan piutang domsetik sebesar Rp 12.500.0000.0000 dengan jangka waktu sampai
dengan 31 Desember 2011;
- Fasilitas cerukan (”overdraft”) sebesar Rp 10.000.000.000 dengan jangka waktu sampai
dengan 31 Desember 2011;
- Fasilitas treasuri sebesar US$ 500.000 dengan jangka waktu sampai dengan 31 Desember 2011;
- Fasilitas kartu kredit Perusahaan dengan jumlah sebesar Rp 500.000.000 dengan jangka
waktu sampai dengan 31 Desember 2011;
- Fasilitas hutang berjangka sebesar US$ 1.166.666,60 dengan jangka waktu sampai dengan
28 Pebruari 2013 dan sebesar US$ 1.200.000 dengan jangka waktu sampai dengan 16 Mei 2014 (termasuk periode tenggang (”grace periode”) selama 1 tahun).
Fasilitas pinjaman di atas dijamin dengan:
- Persediaan dan piutang usaha masing-masing sebesar US$ 1.100.000 dan US$ 1.000.000
(Catatan 6 dan 8);
- Mesin sebesar US$ 2.940.000 dan Rp 4.750.000.000(Catatan 11).
- Tanah dan bangunan sebesar Rp 25.000.000.000 dengan rincian sebagai berikut:
• SHGB No. 1425, berlokasi di Desa Periuk Jaya, Kecamatan Jati Uwung, Kota
Tangerang, Jawa Barat seluas 12.732 m2 atas nama PT Berlina, Tbk.
• SHGB No. 1427, berlokasi di Desa Periuk Jaya, Kecamatan Jati Uwung, Kota
Tangerang, Jawa Barat seluas 54.033 m2 atas nama PT Berlina, Tbk.
• SHGB No. 2513, berlokasi di Desa Periuk Jaya, Kecamatan Jati Uwung, Kota
Tangerang, Jawa Barat seluas 2.120 m2 atas nama PT Berlina,Tbk; dan
Sehubungan dengan perjanjian kredit. Perusahan memiliki kewajiban untuk mempertahankan :
- Rasio lancar pada tingkat minimum 1 : 1 setiap saat;
- Rasio Gearing pada tingkat maksimum 1,25 : 1 setiap saat;
- Menyerahkan laporan manajemen setiap 6 (enam) bulan;
- EBITDA terhadap beban bunga pada tingkat minimum 3 : 1;
- Total external finance terhadap EBITDA maksimum 3 : 1; dan
- Rasio net debt terhadap ekuitas maksimum 1,7 : 1
- Rasio EBITDA terhadap beban bunga, pinjaman jangka panjang jatuh tempo dalam satu
tahun, pajak, dan dividen minimum 1,25:1