• Tidak ada hasil yang ditemukan

MEMBANGUN IKLIM PEMBELAJARAN YANG INSPIR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "MEMBANGUN IKLIM PEMBELAJARAN YANG INSPIR"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

MEMBANGUN IKLIM PEMBELAJARAN MATEMATIKA YANG INSPIRATIF

Devi Gusmarina(2010121039) Abstrak

”Belajar matematika itu sulit...menyeramkan...” Begitulah anggapan beberapa siswa. walaupun tidak semua orang berpendapat seperti itu. Disinilah peran seorang guru yang inspiratif dalam membangun iklim pembelajaran matematika yang inspiratif. Pembelajaran matematika sangat penting untuk bekal siswa ketika dia lepas dari pendidikan formal. Seorang guru matematika yang inspiratif menjadi salah satu faktor untuk keberhasilan siswanya dimasa depan, selain dari usaha dari siswa sendiri untuk meraih keberhasilan tersebut.Iklim pembelajaran yang inspiratif yang dibangun oleh seorang guru juga merupakan factor penting. Penciptaan iklim dan suasana pembelajaran yang inspiratif akan semakin memperkukuh karakter dan sifat inspiratif yang ada pada diri guru. Perpaduan antara guru inspiratif dan iklim pembelajaran matematika yang inspiratif akan menjadikan siswa semakin menemukan momentum untuk membangun energi perubahan positif dalam dirinya.

Kata Kunci : Matematika, Guru, Pembelajaran, Inspiratif, Iklim PENDAHULUAN

Mengajar adalah suatu pekerjaan yang rumit dan seharusnya guru menyadari bahwa mengajar adalah suatu pekerjaan yang tidak sederhana dan mudah. Menurut Naim (2009:15)Mengajar itu bersifat kompleks, melibatkan berbagai aspek diantaranya aspek pedagogiis, psikologis, dan didaktis secara bersamaan. Aspek pedagogis menunjukkan pada kenyataan bahwa mengajar disekolah berlangsung dalam suatu lingkungan pendidikan. Aspek psikologis menunjukkan pada kenyataan bahwa para siswa yang belajar pada umumnya memiliki taraf perkembangan yang berbeda satu dengan yang lainnya,sehingga menuntut materi, metode, dan pendekatan yang berbeda antara satu siswa dengan siswa yang lainnya dan aspek psikologis ini menunjukkan proses belajar itu mengandung variasi.

(2)

guru. Selain itu seorang guru bukan hanya mengajar tapi juga mendidik. Mendidik bukan saja hanya pada memberikan pengetahuan kepada siswa, tetapi juga membimbing mereka untuk mempunyai kepribadian yangbaik dan selalu beriman kepada kepada Sang Pencipta.

Guru inspiratif tidak hanya melahirkan daya tarik dan spirit perubahan terhadap diri siswanya dari aspek diri pribadi semata, tetapi ia juga harus mampu mendesain iklim dan suasana pembelajaran yang juga inspiratif.

Ketika seorang guru sudah mampu membangun iklim pembelajaran yang inspiratif tujuan pembelajaran akan tercapai dan mampu memperkuat peran kita sebagai guru yang inpiratif. Guru yang inspiratif sangat berperan penting dalam kesuksesan siswanya dimasa depan.

PEMBAHASAN

(3)

pembelajaran matematika sedemikian rupa sehingga dapat membantu siswa dalam mengembangkan sikap dan kemampuan intelektualnya, sehingga dapat menjadi inspirasi bagi siswa untuk kehidupannya dimasa depan.

Makna Pembelajaran Yang Inspiratif

Guru inspiratif tidak hanya melahirkan daya tarik dan spirit perubahan terhadap diri siswanya dari aspek diri pribadi semata, tetapi ia juga harus mampu mendesain iklim dan suasana pembelajaran yang juga inspiratif. Penciptaan iklim dan suasana pembelajaran yang inspiratif akan semakin memperkukuh karakter dan sifat inspiratif yang ada pada diri guru. Perpaduan keduanya akan menjadikan dimensi inspiratif semakin menemukan momentum untuk mengkristal dan membangun energi perubahan positif dalam diri setiap siswa.

Dalam usaha untuk menciptakan iklim pembelajaran yang inspiratif, aspek paling utama yang harus diperhatikan oleh guru adalah bagaimana guru mampu untuk menarik dan mendorong minat siswa untuk enang dan menyukai pelajaran. Rasa senang terhadap pelajaran ini akan menjadi modal penting dalam diri siswa untuk menekuni pelajaran secara lebih maksimal. Rasa senang juga akan menghilangkan rasa jenuh, acuh, dan rasa yang membebani pikiran.

(4)

Pembelajaran Matematika Yang Menyenangkan

Istilah pembelajaran tentu sering kita dengar. Menurut Suprijono (2013:13) Pembelajaran merupakan terjemahan dari learning. Secara leksikal berarti proses, cara, perbuatan mempelajari. Istilah pembelajaran mengacu pada dua aktivitas yaitu mengajar dan belajar. Aktivitas mengajar berkaitan dengan apa yang dilakukan oleh guru dan aktivitas belajar berkaitan dengan siswa. Hal ini seperti yang diungkap oleh Munib Chatib bahwa pembelajaran adalah proses transfer ilmu dua arah, antara guru sebagai pemberi informasi dan siswa sebagai penerima informasi(Muhammad Abduh, 2013, hlm. 2).

Salah satu tema penting yang diangkat adalah bagaimana melaksanakan pembelajaran yang menyenangkan. Jika disebut kata belajar, kesan umum yang berkembang adalah sebuah aktivitas yang serius, tegang, dan menjenuhkan. Akibat konsepsi semacam itu para siswa cenderung merasa tertekan dan kurang semangat untuk belajar. Menurut Naim(2009;175) salah satu usaha penting yang dapat dilakukan untuk membangkitkan semangat belajar adalah mendesain pembelajaran dalam suasana yang menyenangkan. Menurut Indrawati dan Wawan(dalam Abduh, 2013 ;3) Pembelajaran dikatakan menyenangkan apabila di dalamnya terdapat suasana yang rileks, bebas dari tekanan, aman, menarik, bangkitnya minat belajar, adanya keterlibatan penuh, perhatian peserta didik tercurah, lingkungan belajar yang menarik, bersemangat, perasaan gembira, konsentrasi tinggi. Sementara sebaliknya pembelajaran menjadi tidak menyenangkan apabila suasana tertekan, perasaan terancam, perasaan menakutkan, merasa tidak berdaya, tidak bersemangat, malas/tidak berminat, jenuh/bosan, suasana pembelajaran monoton, pembelajaran tidak menarik siswa.

(5)

angka-angka saja. Matematika akan jadi menyenangka-angkan jika kita sebagai seorang guru kreatif dalam mendesain proses belajar mengajar, kreatif dalam menghubungkan materi dengan kehidupan nyata, kreatif dalam membuat soal yang membuat siswa tertarik untuk mengerjakan.

Menurut Naim (2013;180) Ada beberapa komponen pembangunan suasana pembelajaran yang menyenangkan:

a. Bangkitnya minat

b. Adanya keterlibatan penuh si pembelajar dalam mempelajari sesuatu.

c. Terciptanya Makna

d. Pemahaman atas materi yang dipelajari

e. Nilai yang membahagiakan

Menurut Dewi Gustini (2009:1) Belajar matematika itu menyenangkan merupakan salah satu aspek yang ingin diwujudkan melalui metode PAIKEM (Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan). Agar proses belajar matematika dapat berlangsung menyenangkan, ada beberapa pemikiran untuk mengurangi ketakutan atau persepsi negatif terhadap matematika yaitu:

1. Pembelajaran matematika dikemas dengan berorientasi pada lingkungan sekitar. Salah satu pendekatan yang dapat dilakukan adalah RME (Realistic Mathematic Education) yaitu dengan mengaitkan dan melibatkan lingkungan sekitar, pengalaman nyata peserta didik dalam kehidupan sehari-hari, serta menjadikan matematika sebagai aktivitas peserta didik. Peserta didik diajak berpikir cara menyelesaikan masalah yang pernah dialaminya, misalnya tentang uang jajannya, jadwal keberangkatan kereta api, dan lain-lain.

(6)

Pembelajaran di luar ruangan merupakan variasi strategi pembelajaran yang berhubungan dengan kehidupan dan lingkungan sekitar secara langsung, sekaligus menggunakannya sebagai sumber belajar. Pilihlah topik yang sesuai, misalnya mengukur tinggi pohon, diameter pohon, panjang daun, menghitung jumlah kendaraan yang lewat dan lain sebagainya.

3. Menuntaskan materi.

Ada keyakinan sebagian filosof dan pakar pendidikan bahwa “peserta didik lebih baik mempelajari sedikit materi sampai tuntas daripada belajar banyak namun dangkal”. Jadi, pendidik harus berupaya menuntaskan peserta didik dalam belajar sebelum ke materi selanjutnya agar tidak terjadi miskonsepsi yang akan membelenggu peserta didik dalam belajar matematika.

4. Belajar sambil bermain.

Bagi kebanyakan peserta didik, belajar matematika merupakan beban berat dan membosankan, sehingga mereka kurang termotivasi, cepat bosan, dan lelah. Untuk mengatasi hal tersebut pendidik dapat melakukan berbagai inovasi pembelajaran, misalnya memberikan kuis atau teka-teki yang harus ditebak baik secara berkelompok ataupun individu, membuat puisi matematika dan peserta didik mendeklamasikannya di depan kelas secara bergantian, membuat syair lagu tentang materi matematika, memberikan permainan di kelas, dan sebagainya tergantung kreativitas pendidik.

5. Mensinergikan hubungan pendidik, peserta didik dan orangtua.

(7)

berkonsultasi dengan pendidik secara rutin. Sebaliknya pendidik menginformasikan perkembangan peserta didik yang sebenarnya kepada orangtua.

Pembelajaran Kontekstual

Menurut Suprijono (2013:79) Pembelajaran Kontekstual merupakan konsep yang membantu guru mengaitkan beberapa materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata dan mendorong peserta didik membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki dengan penerapannyadalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Menurut A. Chaedar Alwasih(dalam Elaine B.Johnson,2011;21) Untuk menerapkannya ada tujuh strategi yang harus ditempuh, yaitu : belajar berbasis masalah (problem based learning), menggunakan konteks yang beragam, mempertimbangkan kebhinekaan siswa, memberdayakan siswa untuk belajar sendiri, belajar melalui kolaborasi, menggunakan penilaian authentic, mengejar standar tinggi.

Pembelajaran Kuantum

Pembelajaran kuantum adalah pengubahan belajar yang meriah dengan segala nuansanya. Kata quantum berarti interaksi yang mengubah energy menjadi cahaya, dengan demikian quantum teaching adalah pengubahan bermacam-macam interaksi yang ada di dalam dan di sekitar momen belajar. Komponen-komponen Pembelajaran Kuantum (Quantum Teaching):

(8)

menyediakan kesempatan bagi siswa untuk dapat menunjukkan kemampuannya. Ulangi berarti guru menunjukkan kepada siswa cara -cara mengulang materi dan menegaskan bahwa mereka benar-benar tahu akan apa yang dipelajari. Rayakan berarti guru memberikan pengakuan atas upaya yang telah dilakukan siswa dalam menampilkan penyelesaian, partisipasi, pemerolehan keterampilan, dan ilmu pengetahuannya.

b. Prinsip Reaksi: Dalam pembelajaran kuantum ada lima prinsip dasar yang mempengaruhi terciptanya lingkungan belajar yang kondusif .Adapun kelima prinsip dasar tersebut adalah: (1) Prinsip segalanya berbicara berarti seluruh lingkungan kelas membawa pesan ke pebelajar. (2) Prinsip segalanya bertujuan berarti semua pembelajaran haruslah mempunyai tujuan -tujuan yang jelas. (3) Prinsip pengalaman sebelum pemberian nama berarti sebelum mendefinisikan, membedakan, siswa terlebih dahulu telah memiliki atau telah diberikan pengalaman informasi yang terkait dengan upaya pemb erian nama tersebut. (4) Prinsip akui setiap usaha berarti apapun usaha yang telah dilakukan siswa haruslah mendapat pengakuan dari guru maupun siswa lainnya. (5) Prinsip jika layak dipelajari maka layak dirayakan berarti setiap usaha belajar yang dilakukan layak untuk dirayakan untuk memberi umpan balik dan meningkatkan asosiasi emosi positif dengan belajar.

c. Sistem Sosial : Pembelajaran kuantum dibangun berdasarkan asas “Bawalah Dunia Mereka ke Dunia Kita, dan Antarkan Dunia Kita ke Dunia Mereka” ,memberikan pengertian bahwa hubungan antara guru dengan siswa harus saling mendukung. Guru memasuki dunia siswa sebagai upaya memperoleh ijin untuk memimpin, menuntun, dan memudahkan siswa untuk memahami ilmu pengetahuan. Untuk mendukung terciptanya komunitas belajar yang efektif dan menyenangkan, maka dalam penerapan model pembelajaran kuantum diperlukan beberapa alat atau media seperti kartu pengharga an, dan Lembar Keja Siswa (LKS).

(9)

Menurut Gagne media adalah berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsangnya untuk belajar. Menurut Briggs, media adalah segala alat fisik yang dapat menyajikan pesan serta merangsang siswa untuk belajar(Lilik Wahyu Utomo : 2006).

Perkembangan media telah berlangsung dengan sangat cepat, dan membentuk budaya baru secara signifikan. Budaya baru ini, secara langsung dan tidak langsung mempegaruhi bagaimana siswa mengikuti sebuah proses pembelajaran.

Bagi seorang guru yang inspiratif, kehadiran budaya baru ini selayaknya ditempatkan sebagai potensi dan tantangan untuk mengembangkan model pembelajaran yang lebih inspiratif. Pada zaman sekarang ini seorang guru jangan sampai “gagap teknologi ”, karena akan berakibat kurang positif bagi pengembangn tugas dan profesinya. Pada kondisi seperti inilah, merespons secara kreatif terhadap perkembangan teknologi dan memanfaatkannya sebagai media pembelajaran untuk memaksimalkan hasil belajar. Untuk penerapannya ada dua pendekatan dalam proses pembelajaran, yaitu : pertama, pendekatan visual-auditif. Pendekatan ini digunakan untuk mengajak siswa mendalami materi dengan menggunakan berbagai sarana visul-auditif,seperti gambar,poster, lukisan,karikatur,film-film animatif, lagu- lagu, da lain – lain. Kedua pendekatan popular. Pendekatan ini digunakan untuk mengajak iswa mendalami materi dengan berbagai teknik yang popular. Guru membuat prosesnya seperti model acara televisi, misalnya talk show.

Untuk mendukung pendekatan tersebut, kita perlu mengupayakan sarana – sarana. Adapun jenis-jenis media pendidikan dapat dikelompokkan menjadi beberapa jenis :

a. Media asli dan tiruan : dapat berupa benda – benda asli ataupun tiruan

b. Media grafik : semua media yang berupa grafik (tulisan/gambar)

(10)

i. Proyeksi diam (still proyection): gambar – gambar yang diproyeksikan diam (slide, flip film)

ii. Proyeksi gerak (movie proyection): dapat berupa film

atau gambar yang hidup(bergerak)

e. Media dengar (audio media): media bisa berupa kaset, radio, dll.

f. Media pandang dengar(audio visual aids): media yang bisa dilihat dan dengar seperti televisi.

g. Media cetak (printedmaterials): media yang berupa hasil cetakan.

Agar pemberdayaan media pendidikan ini efektif dan berhasil seorang guru harus memilih secara tepat media yang akan digunakan untuk materi pembelajarannya. Seorang guru harus tahu tujuan dalam menggunakan media tersebut, mengenal ciri – ciri dan sifat media tersebut, dan seorang guru harus melihat/menyediakan media lain sebagai perbandingan.

PENUTUP

Dalam usaha untuk menciptakan iklim pembelajaran matematika yang inspiratif, aspek paling utama yang harus diperhatikan oleh guru adalah bagaimana guru mampu untuk menarik dan mendorong minat siswa untuk senang dan menyukai pelajaran matematika dengan menggunakan model – model pembelajaran dan memberdayakan media secara tepat. Rasa senang terhadap pelajaran akan menjadi modal penting dalam diri siswa untuk menekuni dan menggeluti pelajaran matematika secara lebih optimal. Siswa akan bergairah dan senantiasa penuh semangat dalam belajar.

(11)

desain pembelajaran yang mendukung, akan menjadikan dimensi inspiratif menancap lebih kuat dalam diri para siswa. Dengan demikian para siswa akan dapat merubah dirinya menjadi lebih bermutu dan berkualitas.

DAFTAR PUSTAKA

Johnson, Elaine B.2011.CTL(Contextual Teaching & Learning).Bandung:Kaifa

Naim, Ngainun.2009.Menjadi Guru Inspiratif.Yogyakarta:Pustaka Pelajar

Suprijono, Agus.2013.Cooperative Learning (Teori & Aplikasi Paikem).Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Abduh, Muhammad.2013.Menciptakan Pembelajaran Yang Menyenangkan. www.google.com(http://sumsel.kemenag.go.id/file/file/TULISAN/jgri133

1699416.pdf).Diakses pada tanggal 07 Desember 2013

Gustini, Dewi.2009.Belajar Matematika Melalui Permainan itu Menyenangkan. www.google.com(http://www.bppaudnireg1.com/buletin/read.php?

(12)

Jumadi.2003. Pembelajaran Kontekstual Dan Implementasinya.www.google.com

(http://www.google.com/url?

sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=3&cad=rja&ved=0CDcQFjAC &url=http%3A%2F%2Fstaff.uny.ac.id%2Fsystem%2Ffiles

%2Fpengabdian%2Fjumadi-mpd-dr%2Fpembelajaran kontekstual.pdf &ei=9tiiUrnmIYSurAff6oHICA&usg=AFQjCNE7rx1S2LYRCb1eszoTv

HI6CwSO7g). Diakses pada tanggal 07 Desember 2013

Oktamarini, Dwi Rai dan I Gusti Indrayani.2008.Penerapan Model Pembelajaran Kuantum ( Quantum Teaching) dengan Teknik Mind Mapping untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Matematika Pada Siswa Kelas v sd no 2 Bongan.www.google.com(http://oktapunkpink.files.wordpress.com/2011/0

2/artikel-pembelajaran-kuantum.pdf). Diakses pada tanggal 07 Desember

2013

Utomo,Lilik Wahyu.2006.Pendayagunaan Media Pendidikan Dalam Meningkatkan Kualitas Belajar Mengajar.www.google.com(http://ejourna l.umpwr.ac.id/index.php/limit/article/view/192/203). Diakses pada tanggal 15 Desember 2013

Ziaulhaq,Zulva.2013.Peran Guru Dalam Mengoptimalkan Pembelajaran. www.google.com(

Referensi

Dokumen terkait

Model Perencanaan Strategis Line Solusi Bisnis Kerjasama Laboratorium di Rumah Sakit Pemerintah dengan pendekatan Blue Ocean Strategy-Balanced Scorecard (BOS-BSC) menjawab

Penambahan bubuk bunga mawar dengan konsentrasi yang berbeda pada cookies diharapkan dapat berpengaruh terhadap karakteristik cookies dan memberikan sifat fungsional

yang dilengkapi dengan simulator pengontrolan PID (Proportional Integral Derivative), general state-space dan Fuzzy Logic Control juga sudah dikembangkan [3]. Terdapat

[r]

Partisipasi masyarakat yang dilakukan dalam perencanaan pembangunan desa wisata di Desa Lubuk Dagang dapat berjalan dengan lancar dan telah menghasilkan rencana

Penelitian mengenai pengaruh 2,4-D dan frekuensi subkultur terhadap perubahan genetik kultur apikal bud kelapa sawit ( Elaeis guineensis Jacq.) pada media MS telah

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas rahmat, hidayah, kemudahan, kelancaran dan pertolongan-Nya sehingga peneliti dapat menyelesaikan penyusunan skripsi dengan judul

matematika siswa kelas VIII MTsN Jambewangi Selopuro Blitar tahun