PERUBAHAN SOSIAL DAN BUDAYA PADA PENGARUH
KOLONIALISME
Makalah Ini Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Perubahan Sosial Budaya Dosen pengampu : Cut Dhien Nourwahida, MA
Disusun Oleh :
Melinda Saraswati 11140150000036 Niken Kesuma Wardani 11140150000032
Nasrudin 11140150000063
Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial
Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Perubahan Sosial dan Budaya Pada Pengaruh Kolonialisme” dengan upaya untuk memenuhi tugas mata kuliah Perubahan Sosial Budaya.
Dengan selesainya makalah yang penulis buat ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada Ibu Cut Dhien Nourwahida, MA selaku dosen pengampu dalam mata kuliah Perubahan Sosial Budaya yang penuh pengabdian memberikan bimbingan kepada penulis sehingga penulis dapat menulis, menyusun dan menyelesaikan tugas ini. Namun semua ini kembali pada pembelajaran dan penulis menyadari akan kelemahan dan kekurangan dalam penyusunan makalah ini. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran dari semua pihak yang sifatnya membangun. Mudah-mudahan makalah ini dapat bermanfaat khususnya bagi penulis dan umumnya bagi para pembaca.
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ...i
DAFTAR ISI ...ii
BAB I: PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah ...1
1.2 Rumusan Masalah ...2
1.3 Tujuan Penulisan ...2
BAB II: PEMBAHASAN 2.1 Definisi Kolonialisme ...3
2.2 Zaman Kolonial ...4
2.3 Dampak Adanya Kolonial Yang Bersifat Positif dan Negatif ...8
2.4 Dampak Kolonialisme Dalam Tatanan Sistem Sosial dan Budaya...9
2.5 Pengaruh Western...10
2.6 Berubahnya Persepsi Masyarakat Terhadap Budaya Sendiri...12
BAB III: PENUTUP A. Kesimpulan...15
B. Saran...15
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Kolonialisme mulai berkembang sekitar abad ke-15 yang diawali dengan adanya gejala pembaruan di Eropa di bidang ekonomi, politik, sosial, maupun budaya dalam bentuk gerakan Renaisans dan Humanisme yang berpikiran maju. Renaisans adalah hasrat dan semangat untuk berpikiran maju dari kondisi atau masa sebelumnya. Sementara humanisme adalah suatu doktrin yang menekankan pada kepentingan kemanusiaan dan idealisme. Adapun pusat-pusat perkembangan Renaisans pada awalnya terdapat di kota-kota pelabuhan Italia, seperti Florence, Genoa, dan Venesia. Kemampuan berpikir yang maju inilah yang kemudian menghasilkan banyak penemuan-penemuan baruseperti perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, ekonomi, sosial dan budaya.
Masa kolonial adalah masa awal penjajahan Indonesia. Pada masa kolonial Indonesia di datangi oleh beberapa negara diantaranya Portugis, Inggris, Jepang dan Belanda. Bangsa Portugis yang berkuasa didaerah Maluku menerapkan sistem imperalisme modern. Semboyan Gold, Gospel, Glory tetap dipegang teguh. Artinya mereka melakukan perjanjian dengan sistem ekonomi, agama, dan politik. Namun, karena kekurangan tenaga pegawai, maka Portugis hanya menduduki tempat-tempat yang strategis untuk perdagangan. Sisa pengaruh Portugis di Indonesia adalah :
1. Agama Katolik yang disiarkan oleh Franciscus Xaverius dan Alfonso de castro memberikan pengaruh cukup luas di wilayah Asia.
2. Di Maluku dan timor-timur serta Larantuka (Flores Timur) banyak penduduk yang mempergunakan nam-nama Portugis, seperti Parera, Monteiro, Fernandez, da Silva, da Lopes, Dona, Peransa dan Senyora.
4. Seni musik merupakan salah satu peninggalan yang berpengaruh cukup besar, seni musik keroncong merupakan pengaruh peninggalan yang telah meresap dan sampai sekarang masih banyak penggemarnya.
Pada masa kolonial Inggris sistem sewa tanah yang diperkenalkan oleh Raffles membawa perubahan besar. Unsur-unsur paksaan diganti dengan unsur kebebasan, sukarela dan hubungan perjanjian atau kontrak. Dan dalam bidang sosial budaya, adat isitiadat yang telah berjalan secara turun temurun menjadi semakin longgar karena pengaruh budaya barat.
Di satu pihak tampak makin meluasnya kekuasaan kolonial dan imperialiasme Belanda; sedangkan di lain pihak terlihat makin merosotnya kekuasaan tradisional milik pribumi. Meluasnya kolonialisme dan imperialisme Belanda di Indonesia membawa akibat terhadap perubahan dalam berbagai segi kehidupan, seperti, politik, ekonomi, sosial, dan budaya.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa pengertian dari kolonialisme?
2. Bagaimana dampak adanya kolonial yang bersifat positif dan negatif? 3. Apa saja dampak kolonialisme dalam tatanan sistem sosial dan budaya? 4. Apa yang disebut Pengaruh Western?
5. Bagaimana persepsi masyarakat terhadap budaya sendiri setelah adanya Pengaruh Western?
1.3 Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui Definisi dari kolonialisme, dampak positif dan negatif dari kolonial, dampak kolonialisme dalam tatanan sosial dan budaya dan bagaimana persepsi masyarakat terhadap budaya sendiri.
BAB II
2.1 Definisi Kolonialisme
Koloni berasal dari kata Colonia (bahasa latin) yang artinya tanah pemukiman (jajahan). Jadi koloni berarti pemukiman suatu negara di luar wilayah negaranya yang kemudian dinyatakan sebagai bagian wilayahnya. Adapun kolonialisme mengandung arti upaya penguasaan atas suatu daerah atau wilayah oleh negara penguasa untuk memperluas daerahnya atau wilayahnya. Penguasaan daerah tersebut umumnya dilakukan secara paksa untuk mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya bagi negara induk (motherland).
Sementara menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Kolonial berarti ; berhubungan dengan sifat jajahan. Dan kolonialisme memiliki arti ; paham tentang penguasaan suatu negara atas daerah atau bangsa lain dengan maksud untuk memperluas negara itu1.
Kolonialisme berkembang pesat setelah perang dunia I. Sejarah kolonialisme Eropa dibagi dalam tiga peringkat. Pertama, dari abad ke-15 hingga Revolusi industri (1763) yang memperlihatkan kemunculan kuasa Eropa seperti Spanyol dan Portugis. Kedua, setelah Revolusi Industri hingga tahun 1870-an. Ketiga, dari tahun 1870-an hingga tahun 1914 ketika meletusnya Perang Dunia I yang merupakan puncak pertikaian kuasa-kuasa imperialis.
Adapun macam-macam bentuk kolonialisme :
a. Koloni Eksploitasi, yaitu penguasaan suatu daerah untuk dikuras habis kekayaan alam dan tenaga penduduknya (kerja paksa) untuk kepentingan negara penguasa.
b. Koloni Penduduk, yaitu penguasaan suatu daerah baru, dengan cara menyingkirkan atau memusnahkan penduduk asli atau pribumi yang digantikan oleh pendatang yang menyebabkan kedudukan penduduk asli terbaikan.
c. Koloni Deportasi, yaitu daerah atau wilayah koloni yang dipakai sebagai tempat buangan para narapidana yang sudah tidak dapat ditangani oleh pemerintah. Mereka kebanyakan para kriminal yang
dihukum seumur hidup. Dari pada pemerintah harus memberi makam mereka seumur hidup lebih baik mereka dijadikan tenaga buruh yang tidak dibayar.
d. Koloni Defensi, yaitu daerah koloni berupa pulau-pulau untuk kepentingan pertahanan.
e. Koloni Netral, yaitu pendudukan sebuah wilayah untuk tempat tinggal tanpa ada pretense lain.
2.2 Zaman Kolonial
Di zaman perekonomian Asia yang telah maju, perekonomian Eropa justru masih tertinggal jauh. Dunia islam merupakan pusat perkembangan ekonomi dan politik dunia dalam abad ke -14 sampai dengan abad ke-15, khususnya imperium Turki Usmani (Ottoman) yang telah menguasai wilayah-wilayah strategis yang pada awalnya telah dikuasai Romawi-Byzantium. Penguasaan tersebut menyebabkan jalur perdagangan dari Timur ke Barat tersekat seperti barang dagangan rempah-rempah menjadi langka dan harganya melambung tinggi. Meskipun demikian, pada masa itu masyarakat Eropa masih berminat pada barang tersebut. Oleh karena itu, para penguasa dan pedagan Eropa berupaya mencari jalan alternatif ke daerah penghasil komoditi tersebut. Melihat keadaan seperti itu secara tidak langsung telah mendorong para produsen di kepulauan Nusantara, khususnya kepulauan Maluku memperluas tanaman ekspornya terutama pala dan cengkeh.
Pada awalnya, kedatangan Bangsa asing di Indonesia bertujuan untuk berdagang rempah-rempah. Namun, kekayaan alam Indonesia yang berlimpah membuat Bangsa asing mengubah tujuan awalnya menjadi ingin menjajah Indonesia. Berikut beberapa tujuan Bangsa Eropa menguasai Indonesia, yaitu:
a. Menguasai wilayah strategis di Indonesia guna menjalankan misi perdagangan dan basis militer.
b. Mengambil sebanyak-banyaknya kekayaan alam di wilayah tersebut.
c. Menguasai perdagangan rempah-rempah langsung dari daerah penghasilnya dengan menerapkan monopili perdagangan.
d. Mencampuri urusan politik wilayah tersebut. A. Kedatangan Bangsa Portugis
sebagai Abad Kekuatan Maritim Eropa, karena otoritasnya didasarkan pada perairan dan melulu dilakukan oleh bangsa barat2.
Melalui tanjung harapan, portugis dengan cepat memperlihatkan kekuatan maritimnya di Laut Arabia dan menaklukkan armada dagang musuhnya yang paling utama, bangsa Moor di Dice, serta menjarah kapal-kapal dagang mereka dan menduduki sejumlah negeri di kawasan teluk. Pada dekade selanjutnya, pengaruh portugis makin meluas dan perdagangannya tumbuh dengan pesat. Alfonso d’Albuquerque, yang kelak menjadi raja muda (Vice Roy) di Goa (1509-1515), merupakan figure Revolusioner Ekspansionis diwilayah Asia timur. Ia memperoleh pengaruh simultan Raja portugis dan menjadi eksekutif pemerintahan, merangkap kepala perdagangan, yang dengan semangat tinggi melakukan pendekatan untuk menguasai perdagangan rempah-rempah3.
Selain agama Katholik, Portugis juga meninggalkan beberapa pengaruh budaya, seperti balada keroncong yang romantis, dan kosa kata yang terserap ke dalam bahasa Indonesia seperti kata “pesta”, “sabun”, “sepatu”, “bendera”, “kemeja”, “meja”, “minggu” dan lain-lain. Hal ini membuktikan bahwa di samping bahasa Melayu yang menjadi lingua franca, bahasa Portugis banyak pula dipergunakan di Kepulauan Indonesia, paling tidak sampai akhir awal abad ke-19. Kini di daerah kepulauan Maluku masih banyak nama keluarga yang berasal dari masa Portugis, seperti: da Costa, Dias, de Fretes, Gonsalves, Mendoza, da Silva, dan Rodrigues.
B. Kedatangan Bangsa Spanyol
Dengan demikian, di Kepulauan Maluku terjadi persaingan dagang antara Bangsa Portugis dengan Bangsa Spanyol. Untuk menghindari persaingan tersebut maka pada tahun 1528 Masehi di Kota Saragosa (Spanyol) diadakan perjanjian. Isi perjanjian tersebut mengatakan bahwa Bangsa Portugis tetap melanjutkan perdagangannya di Kepulauan Maluku. Sedangkan Spanyol melanjutkan kegiatan dagangnya di Kepulauan Massava di Filiphina. Akhirnya, pada tahun 1663 Bangsa Spanyol mundur dari wilayah tersebut karena protes dari pihak Bangsa Portugis sebagai bentuk pelanggaran terhadap Perjanjian Tordesillas 1494.
C. Kedatangan Bangsa Inggris
Kedatangan Bangsa Inggris ke Indonesia dirintis oleh Francis Drake dan Thomas Cavendish. Dengan mengikuti jalur yang dilalui Magelhaens, pada tahun 1579 Masehi Francis Drake berlayar ke Indonesia. Armadanya berhasil membawa rempah-rempah dari Ternate dan kembali ke Inggris melewati Samudera Hindia. Perjalanan berikutnya dilakukan pada tahun 1586 Masehi oleh Thomas Cavendish dengan melewati jalur yang sama.
Pengalaman kedua pelaut tersebut mendorong Ratu Elizabeth I meningkatkan pelayaran internasionalnya. Hal ini dilakukan dalam rangka menggalakan ekspor wol, menyaingi perdagangan spanyol dan mencari rempah-rempah. Kemudian Ratu Elizabeth I member hak istimewa kepada EIC (East Indian Company) untuk mengurus perdagangan dengan Asia. EIC kemudian mengirim armadanya ke Indonesia. Armada EIC yang dipimpin James Lancester berhasil melewati jalan Portugis (melewati Afrika). Namun mereka gagal mencapai Indonesia karena diserang Portugis dan bajak laut Melayu di Selat Malaka.
Awal abad ke-17, Inggris telah memiliki jajahan di India dan terus berusaha mengembangkan pengaruhnya di Asia Tenggara, khususnya di Indonesia. Kolonialisme Inggris di Hindia Belanda dimulai tahun 1604 Masehi. Menurut catatn sejarah, sejak pertama kali tiba di Indonesia tahun 1604 Masehi, EIC mendirikan kantor-kantor dagangnya. Di antaranya ialah di Ambon, Aceh, Jayakarta, Banjar, Japara, dan Makassar. Walaupun demikian, armada Inggris tidak mampu menyaingi aramada dagang barat lainnya di Indonesia, seperti Belanda. Mereka akhirnya memusatkan aktivitas perdagangannya di India. Mereka berhasil membangun kota-kota perdagangan seperti Madras, Kalkuta, dan Bombay.
Masa kolonial masih relevan untuk generasi Indonesia sekarang dengan ingatan langsung kali ini, dan untuk kaum muda Indonesia yang bekerja di bidang warisan budaya sejarah. Ketidak cocokan mencolok dengan segera4.
Indonesia dijajah belanda selama 350 tahun adalah pengetahuan sejarah yang umum diketahui orang. Pandangan ini tidak saja dikenal di kalangan politisi, tetapi juga diantara para sejarawan, seperti von Arx dan Kahin.5 Pengetahuan sejarah ini
tentu tidak terbentuk begitu saja. Awal mulanya disebabkan oleh pernyataan para sejarawan kolonial asal Belanda karena pemerintah kolonial di Hindia Belanda pada awal ke-20 memerlukan pandangan demikian.6
Armada Belanda yang pertama berusaha mencapai Indonesia dipimpin oleh Jacob van Neck, namun ekspedisi ini gagal. Kemudian pada tahun 1595 masehi armada Belanda yang dipimpin oleh Cornelis de Houtman dan Pieter de Kaizer berangkat menuju Indonesia. Mereka menyusuri pantai barat Afrika lalu sampai ke Tanjung Harapan. Dari daerah tersebut, mereka mengarungi Samudera Hindia dan masuk ke Indonesia melalui Selat Sunda lalu tiba di Banten.
Armada ini tidak diterima oleh rakyat karena Belanda bersikap kasar. Selain itu hubungan antara rakyat Banten dengan Portugis masih baik. Kemudian dari Banten , armada ini bermaksud menuju Kepulauan Maluku untuk membeli rempah-rempah namun ternyata gagal mencapai Kepulauan Maluku. Cornelis de Houtman tiba kembali di negerinya pada tahun 1597 masehi dan Ia disambut sebagai penemu jalan ke Indonesia.
Setelah de Houtman, armada Belanda dating ke Indonesia susul-menyusul. Hal ini mengakibatakan lalu lintas Indonesia dengan Blanda menjadi ramai. Armada Belanda yang pertama mencapai Kepulauan Maluku adalah armada kedua. Mereka berhasil melakukan pembelian rempah-rempah di daerah tersebut.
Pada awalnya, Belanda memang gagal menghadapi persaingan dengan Portugis, baik di Maluku maupun di pelabuhan-pelabuhan lain di Indonesia. Namun, karena armada Belanda semakin hari semakin bertambah, maka sedikt demi sedikit armada Portugis mulai terdesak. Akhirnya, Portugis terusir dari Kepulauan Maluku dan itu menandakan bahwa era kolonialisme Belanda di Indonesia telah dimulai. Sejak saat itu, pedagang-pedagang Belanda semakin banyak yang datang ke Maluku.
4 Oostindie, gert, Dutch colonialism, migration, and cultural heritage. KITLV Press. Leiden : 2008. Hlm. 69 5 Tulisan ini pertama kali diterbitkan dalam majalah Indonesië, VIII, 1 (februari, 1955), hlm. 1-26 denga judul “Veronachtzaamde uitsprake”
2.3 Dampak Adanya Kolonial Yang Bersifat Positif Dan Negatif A. Dampak Positif :
a. Pola pikir masyarakat yang berubah, dan menuju masyarakat yang modern.
b. Tingkat kehidupan yang lebih baik.
c. Menambah kosakata baru (banyak Bahasa asing yang selanjutnya diserap ke Bahasa Indonesia)
d. Berkembangnya ilmu pengetahuan dan juga teknologi, sehingga masyarakat bisa mengetahui informasi yang ada di Indonesia dan di dunia. e. Dapat memperkaya keberagaman budaya Indonesia bila dimanfaatkan akan meninggalkan budaya Indonesia yang dianggapnya sudah kuno. d. Minat terhadap budaya Indonesia semakin berkurang karena beralih ke
budaya barat, sebagai contoh anak muda akan lebih minat dengan tarian modern (dance) dari pada tari-tarian tradisional (misal tari jaipong).
e. Menggunakan busana yang tidak sesuai dengan norma yang berlaku di Indonesia.
2.4 Dampak Kolonialisme Dalam Tatanan Sosial Dan Budaya A. Perubahan dalam dalam Bidang Sosial :
a. Pembentukan status sosial dimana yang tertingi adalah Eropa lalu Asia dan Timur yang terakhir kaum Pribumi.
b. Terjadinya penindasan dan pemerasan secara kejam. Tradisi yang dimiliki oleh bangsa Indonesia, Seperti upacara dan tata cara yang berlaku dalam lingkungan istana menjadi sangat sederhana, bahkan cenderung dihilangkan. Tradisi tersebut secara perlahan-lahan digantikan oleh tradisi pemerintah Belanda.
c. Daerah Indonesia terisolasi di laut sehingga kehidupan berkembang ke pedalaman. Kemunduran perdagangan di laut secara tak langsung menimbulkan budaya feodalisme di pedalaman. Dengan feodalisme rakyat pribumi dipaksa untuk tunduk atau patuh pada tuan tanah Barat atau Timur Asing sehingga kehidupan penduduk Indonesia mengalami kemerosotan.
a. Tindakan pemerintah Belanda untuk menghapus kedudukan menurut adat penguasa pribumi dan menjadikan mereka pegawai pemerintah, merutuhkan kewibawaan tradisional penguasa pribumi.
b. Upacara dan tata cara yang berlaku di istana kerajaan juga disederhanakan dengan demikian ikatan tradisi dalam kehidupan pribumi menjadi lemah.
c. Dengan merosotnya peranan politik maka para elit politik baik raja maupun bangsawan mengalihkan perhatiannya ke bidang seni budaya. Contoh Paku Buwono V memerintahkan penulisan serat Centhini, R.Ng Ronggo Warsito menyusun Kitab Pustakaraya Purwa, Mangkunegara IV menyusun kitab Wedatama dan lain-lain.
d. Budaya Barat berkembang secara meluas, bahkan merusak sendi-sendi kehidupan budaya tradisional yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Sebagai contohnya, kebiasaan minum minuman keras yang dilakukan oleh golongan bangsawan. Kebiasaan tersebut bukan milik asli bangsa Indonesia, tetapi kebiasaan yang berlaku di kalangan bangsa Barat yang dibawa oleh para penjajah (Westernisasi menyebar lewat jalur pendidikan dan pemerintahan).
e. Birokrat menggunakan bahasa Belanda sebagai simbol status mereka.
2.5 Pengaruh Western
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Western memiliki arti berkiblat ke barat ; berhaluan ke Barat ; terkena pengaruh Barat. Sedangkan Westernisasi adalah pemujaan terhadap barat yang berlebihan ; dan pembaratan7.
Berikut adalah beberapa pengaruh budaya barat terhadap kehidupan masyarakat di Indonesia :
A.
Gaya HidupGaya hidup orang sekarang yang lebih mementingkan gengsi dan kepraktisan tanpa mengetahui dampak buruk yang akan dirasakan selanjutnya. Misalnya, sekarang orang lebih memilih makanan cepat saji atau istilahnya adalah fast food seperti: burger, fried chicken, minuman kaleng dan sebagainya. Makanan diatas merupakan salah satu makanan dengan kategori junk food. Junk food adalah kata ’slang’ untuk makanan dengan kandungan nutrisi yang rendah. Biasanya junk food ini mengandung kadar garam, gula, lemak atau kalori yang tinggi, tetapi renda nutrisinya rendah vitamin, mineral dan juga serat.
B. Cara Berpakaian
Misalnya thank top yang diluar negeri digunakan pada musim panas, akan tetapi di Indonesia malah digunakan untuk bergaya di depan umum. Hal ini terjadi karena masyarakat Indonesia latah terhadap perubahan. Mereka menganggap pakaian produksi negara Barat tersebut sesuai dengan budaya Timur yang dianut oleh bangsa kita Indonesia.
C.
Pergaulan RemajaGenerasi muda adalah tulang punggung bangsa, yang diharapkan di masa depan mampu meneruskan tongkat estafet kepemimpinan bangsa ini agar lebih baik. Dalam mempersiapkan generasi muda juga sangat tergantung kepada kesiapan masyarakat yakni dengan keberadaan budayanya. Termasuk didalamnya tentang pentingnya memberikan filter tentang perilaku-perilaku yang negatif, yang antara lain; minuman keras, mengkonsumsi obat terlarang, sex bebas, dan lain-lain yang dapat menyebabkan terjangkitnya penyakit HIV/AIDS.
Pada saat ini, kebebasan bergaul sudah sampai pada tingkat yang menguatirkan. Para remaja dengan bebas dapat bergaul antar jenis. Tidak jarang dijumpai pemandangan di tempat-tempat umum, para remaja saling berangkulan mesra tanpa memperdulikan masyarakat sekitarnya. Mereka sudah mengenal istilah pacaran sejak awal masa remaja. Pacar, bagi mereka, merupakan salah satu bentuk gengsi yang membanggakan.
Akibatnya, di kalangan remaja kemudian terjadi persaingan untuk mendapatkan pacar. Pengertian pacaran dalam era globalisasi informasi ini sudah sangat berbeda dengan pengertian pacaran 15 tahun yang lalu. Akibatnya, di jaman ini banyak remaja yang putus sekolah karena hamil. Oleh karena itu, dalam masa pacaran, anak hendaknya diberi pengarahan tentang idealisme dan kenyataan. Anak hendaknya ditumbuhkan kesadaran bahwa kenyataan sering tidak seperti harapan kita, sebaliknya harapan tidak selalu menjadi kenyataan. Demikian pula dengan pacaran. Keindahan dan kehangatan masa pacaran sesungguhnya tidak akan terus berlangsung selamanya.
D.
Lunturnya nilai luhur budaya daerah di Indonesiacoraknya masing-masing sesuai dengan daerahnya. Seperti halnya tarian, lagu, baju adat dan bahasa daerah. Akan tetapi dengan berkembangnya jaman, budaya tradisi daerah yang mulai luntur nilai dan makna. Generasi muda saat ini lebih memilih untuk mengikuti trend yang ada. Seolah-olah sudah tidak ada lagi greget untuk melestarikan budaya luhur. Mereka lebih memilih tarian modern seperti break dance daripada tarian-tarian tradisional seperti tari kuda lumping, tari bedoyo dan sebagainya. Selain itu mereka lebih senang menyanyikan lagu dengan aliran pop, rock, metal daripada lagu-lagu tradisional Indonesia ataupun aliran seperti keroncong, campursari dan sebagainya.
2.6 Perubahan Persepsi Masyarakat Terhadap Budaya Sendiri
Perubahan sosial budaya telah merambah hampir pada semua lapisan masyarakat dunia. Masyarakat dunia sengaja atau tidak telah terpengaruh oleh perubahan ini. Perubahan sosial budaya yang dialami masyarakat dunia menimbulkan berbagai perilaku, baik yang positif maupun negatif (anonym:2015)8.
A. Perilaku Positif
perilaku positif dalam menghadapi perubahan sosial budaya yang demikian cepat ini antara lain sebagai berikut
a. Munculnya sikap lebih menghargai waktu. Dengan cepatnya arus informasi dapat diperoleh, masyarakat (terutama di negara berkembang) mulai menghargai waktu. Sikap ini tampak dari semakin tingginya etos kerja di negara berkembang karena persaingan bidang ekonomi yang semakin ketat.
b. Munculnya kesadaran akan hak dan kewajiban dalam bermasyarakat. Kesadaran akan hak dan kewajiban dalam masyarakat dapat dilihat dari semakin tingginya penghargaan masyarakat terhadap Hak Asasi Manusia (HAM). Masyarakat mulai menyadari sejauh mana sikap dan perbuatan yang dilakukannya berkaitan dengan orang lain yang termasuk pelanggaran HAM
c. Munculnya sikap menghargai bangsa-bangsa lain di dunia. Semakin cepatnya arus informasi diperoleh dari berbagai media informasi sehingga batas-batas territorial seolah tidak ada aritnya sehingga akan menumbuhkan sikap penghargaan terhadap bangsa lain di dunia. Masyarakat yang ada di lingkungan sekitar kita ternyata hanyalah bagian kecil dari masyarakat dunia yang sangat luas dan kompleks. d. Munculnya kesadaran akan nasionalisme yang semakin tinggi. Dengan
berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin cepat di era global ini semakin menumbuhkan rasa kebanggaan terhadap negara sendiri.
e. Munculnya inovasi baru dalam berbagai aspek kehidupan. Penemuan-penemuan baru dilakukan oleh orang lain di berbagai belahan dunia segera dapat diketahui sehingga memunculkan inovasi-inovasi baru dari berbagai penemuan tersebut.
B. Perilaku negatif
Selain menimbulkan perilaku positif, perubahan sosial budaya yang demikian juga menimbulkan perilaku negatif. Bahkan bagi negara-negara berkembang, perilaku negatif yang muncul akibat perubahan sosial budaya lebih banyak dibandingkan dengan perilaku positifnya. Perilaku negatif tersebut antara lain : a. Sikap konsumerisme. Konsumerisme merupakan sikap ingin mengkonsumsi produk-produk buatan luar negeri yang hanya mengedepankan gengsi semata. Gejala ini tampak dari semakin bnyaknya mall atau toko swayalan yang berdiri dengan pengunjung yang juga banyak jumlahnya. Masyarakat mulai terbiasa dengan produk bangsa lain, bahkan masyarakat bawahpun sudah mulai terkena dampaknya.
b. Sikap westernisasi. Bangsa Indonesia yang memiliki adat timur sudah mulai terpengaruh dengan budaya barat. Cara berpakaian sudah banyak terpengaruh. Cara mengisi waktu luang yaitu dengan hura-hura. Padahal, perilaku tersebut belum tentu sesuai dengan budaya bangsa sendiri.
(bersosialisasi) berdasarkan tingkat kepentingan semata. Di desa pun sikap individualism sudah mulai tampak terutama pada generasi muda, sikap gotong royong yang menonjol di desa sudah mulai pudar.
d. Sikap tidak menghargai nilai tradisional. Bagi kalangan muda, sikap tradisional dianggap ketinggalan jaman dan menghambat kemajuan. Hal ini tampak dari mulai pudarnya nilai-nilai tradisional di kalangan masyarakat.
e. Sikap Teodonisme dan Materialisme. Teodonisme adalah sikap ingin hidup enak dan mewah. Sementara Materialism adalah sikap hiudp yang lebih mementingkan kecukupan secara material atau kebendaan sehingga menomorsatukan kehidupan di dunia. Masyarakat yang menganut paham ini hanya mementingkan kehidupan keduniaan semata. Mereka sudah tidak menghargai lagi nilai-nilai agama yang penting kehidupan mereka di dunia serba enak dan tercukupi, meskipun untuk memperolehnya harus dilakukan dengan cara yang curang.
Sementara untuk perilaku atau respon masyarakat Indonesia terhadap masuknya budaya asing sebagian ada yang menerima dan sebagian lagi menolak. Kebanyakan dari mereka menerima kebudayaan asing tersebut. Contoh respon masyarakat yang menolak kebudayaan asing seperti :
a. Perilaku masyarakat yang bersifat tertutup atau kurang membuka diri untuk berhubungan dengan masyarakat lain
b. Masih memegang teguh tradisi yang sudah ada
c. Berpegang teguh terhadap ideologinya dan bernaggapan sesuatu yang baru bertentangan dengan idiologi masyarakat yang sudah ada
Sementara respon masyarakat yang menerima kebudayaan asing seperti : a. Mengikuti trend yang ada
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Perubahan itu menimbulkan akibat positif dan negatif. Akibat positif perubahan sosial budaya antara lain, perubahan tata nilai dan sikap, ilmu pengetahuan, dan tekhnologi serta tingkat kehidupan yang lebih baik. Akibat negatif perubahan sosial budaya, antara lain sikap individu, hidup konsumtif, gaya hidup kebarat-baratan, dan munculnya kesenjangan sosial.
Oleh sebab itu kita selaku warga negara kesatuan republik Indonesia khususnya para generasi muda dituntut agar dapat menanggapi dan merespon segala bentuk pengaruh-pengaruh yang masuk dan berkembang di Indonesia, terlebih dizaman post modern seperti ini ditambah semakin berkembang pesatnya perkembangan tekhnologi, sehingga bagaimana caranya agar pengaruh tersebut menjadi pengaruh dan dampak yang positif bagi bangsa Indonesia terlebih terhadap perubahan sosial dan berbagai macam bentuk kebudayaan yang ada di Indonesia yang harus terus dijaga dan dilestarikan sebagai bentuk warisan bagi generasi selanjutnya.
3.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA
Soelaman, Munandar. 2005. Ilmu Budaya Dasar. Bandung : Refika Aditama.
http://atariqb.blogspot.com/2014/11/dampak-dan-faktor-terjadinya.html
Kbbi.web.id/western, westernisasi
Resink, G, bukan 350 Tahun dijajah. Depok : Komunitas Bambu, 2013
Oostindie, gert, Dutch colonialism, migration, and cultural heritage. KITLV Press. Leiden : 2008.
majalah Indonesië, VIII, 1 (februari, 1955), denga judul “Veronachtzaamde uitsprake” C.R. Boxer, The Portuguese Seaborne Empire 1415-1825, London : Hatchinson & Co, 1969 Amal, Muhammad Adnan, Portugis dan Spanyol di Maluku. Jakarta : Komunitas Bambu. 2009