• Tidak ada hasil yang ditemukan

Remaja dan Perubahan Sosial di Indonesia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Remaja dan Perubahan Sosial di Indonesia"

Copied!
26
0
0

Teks penuh

(1)

CYBER VOLUNTEERS-INDONESIAN FUTURE

LEADERS SEBAGAI AGEN PERUBAHAN

SOSIAL DI INDONESIA

Untuk :

CALL FOR PAPERS dan SEMINAR NASIONAL “Remaja Digital (Learn, Play, Socialize, Participate)”

Universitas Muhammadiyah Surakarta

Oleh

Prida Ariani Ambar Astuti, S.Sos., M.Si Dosen Ilmu Komunikasi

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Pelita Harapan Jakarta

(2)

CYBER VOLUNTEERS-INDONESIAN FUTURE LEADERS SEBAGAI AGEN PERUBAHAN SOSIAL DI INDONESIA

Kata kunci: cyber volunteers, perubahan sosial, media baru, internet, speak up

Perubahan adalah suatu kegiatan atau proses yang membuat sesuatu atau

seseorang berbeda dengan keadaan sebelumnya. Terdapat 4 tingkatan perubahan yaitu pengetahuan, sikap, perilaku, individual, dan perilaku kelompok. Perubahan pengetahuan cenderung merupakan perubahan yang paling mudah dibuat karena bisa merupakan akibat dari membaca buku atau mendengarkan. Sedangkan perubahan sikap biasanya digerakkan oleh emosi, baik yang positif maupun yang negatif. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa orang akan berperilaku

berdasarkan sikap mereka, oleh karena itu perubahan perilaku sangat ditentukan oleh sikap yang dimiliki oleh individu tersebut dan sesudah berperilaku dengan cara tertentu yang menjadi perilaku individu, orang tersebut kemudian akan berupaya untuk mempengaruhi perilaku orang lain sesuai dengan yang diharapkannya. Dari sini akan terjadi perubahan perilaku kelompok.

Perubahan yang terjadi pada lembaga-lembaga sosial dalam suatu masyarakat disebut perubahan sosial. Perubahan pada lembaga sosial tersebut selanjutnya akan memberikan pengaruh pada sistem sosial, termasuk di dalamnya nilai, pola perilaku atau sikap dalam masyarakat. Perubahan sosial dapat disebabkan oleh 3 unsur yaitu: 1) faktor alam, 2) faktor teknologi, dan 3) faktor kebudayaan. Jika terdapat perubahan pada salah satu atau kombinasi di antara faktor-faktor tersebut, maka akan menyebabkan terjadinya perubahan sosial.

Teknologi diyakini sebagai alat pengubah. Teknologi telah mengubah segalanya, atau setidaknya teknologi memiliki kekuatan dan potensi untuk mengubah segalanya. Diakui atau tidak, munculnya teknologi komunikasi, seperti Internet, telah mengubah hal yang sangat fundamental dalam kehidupan manusia. Internet memiliki kemampuan untuk menghubungkan antar individu secara real time, dan tidak dapat dipungkiri Internet saat ini pun telah mampu menjadi penghubung antar komunitas, mampu memberdayakan manusia bahkan masalah kebebasan pun berubah akibat kemunculan Internet. Internet menjadi sesuatu yang revolusioner karena kemampuannya untuk mengubah aktivitas dalam

berkomunikasi secara alamiah hingga berkomunikasi sebagai aktivitas komersial.

Indonesia Future Leaders (IFL) merupakan lembaga swadaya masyarakat dari pemuda, oleh pemuda, dan untuk pemuda yang didedikasikan untuk

mengembangkan kualitas dan kapabilitas pemuda dalam menciptakan perubahan sosial untuk Indonesia yang lebih baik. Lembaga ini ingin menjadikan generasi muda Indonesia generasi yang kompeten pada bidang yang ditekuninya, dapat membawa perubahan positif dan menjadi inspirasi bagi lingkungannya. Terdapat 3 Pilar Aksi IFL yaitu: 1) Pembangunan Kapasitas (Capacity Building) yang

(3)

akar rumput (grass root) secara langsung, dan 3) Promosi dan Advokasi

(Promotion and Advocacy) yang bergerak untuk mendapatkan dukungan dari kebijakan pemerintah, perubahan holistik akan sulit untuk dicapai. IFL mencoba melakukan advokasi mengenai kebijakan-kebijakan yang terkait dengan kaum muda, kepada seluruh stakeholders terkait.

Di era globalisasi yang menyebabkan lemahnya solidaritas antar sesama manusia, kehadiran IFL yang memiliki komitmen untuk memberdayakan sesama manusia dirasakan sebagai angin segar terhadap perubahan sosial di Indonesia, apalagi mereka memiliki dedikasi untuk mengembangkan kualitas dan kapabilitas pemuda dalam menciptakan perubahan sosial untuk Indonesia yang lebih baik. Sebagai generasi digital, IFL juga memberdayakan media baru sebagai alat untuk melakukan perubahan sosial di masyarakat, yaitu melalui program SPEAK UP! Program ini merupakan program cyber volunteers yang memungkinkan remaja yang tidak berada di lokasi program IFL untuk tetap dapat berkontribusi dan menjadi bagian dari future leaders.

Revolusi sebagai bentuk perubahan sosial secara cepat, hanya akan terjadi jika ada keinginan umum untuk mengadakan perubahan, ada seorang pemimpin atau sekelompok orang yang dianggap mampu memimpin masyarakat tersebut, pemimpin tersebut dapat menampung keinginan-keinginan masyarakat, dapat menunjukkan suatu tujuan pada masyarakat, dan harus ada momentum untuk melakukan revolusi. IFL sebagai sebuah lembaga swadaya masyarakat yang berupaya untuk mendedikasikan diri untuk sesama remaja, diharapkan dapat mencetak para future leaders yang nantinya dapat melakukan perubahan terhadap bangsa ini.

Prida Ariani A., S.Sos, M.Si.

(4)

Pendahuluan

Pemuda dan mahasiswa sama-sama diidentikkan dengan agent of change.

Kata-kata perubahan selalu menempel dengan erat sebagai identitas para

mahasiswa yang juga dikenal sebagai kaum intelektual muda. Dari mahasiswalah

ditumpukan harapan besar untuk perubahan dan pembaharuan dalam berbagai

bidang yang ada di negeri ini. Tugasnyalah melaksanakan dan merealisasikan

perubahan positif, sehingga kemajuan di dalam sebuah negeri bisa tercapai dengan

membanggakan.

Peran sentral perjuangannya sebagai kaum intelektual muda memberi

harapan untuk bisa memperbaiki dan memberi perubahan-perubahan positif di

negeri ini. Dari mahasiswa dan pemudalah muncul berbagai gerakan-gerakan

perubahan positif yang luar biasa dalam lembar sejarah kemajuan sebuah bangsa

dan negara.

Sejarah telah mencatat bahwa pemuda khususnya mahasiswa selalu

berperan dalam perubahan di negeri kita, berbagai peristiwa besar di Indonesia

selalu identik dengan peran mahasiswa di dalamnya. Sebut saja berawal dari

gerakan organisasi mahasiswa Indonesia di tahun 1908, Boedi Oetomo merupakan

sebuah gerakan yang telah menetapkan tujuannya untuk “kemajuan yang selaras

buat negeri dan bangsa” ini telah lahir dan mampu memberikan warna perubahan

yang luar biasa positif terhadap perkembangan gerakan kemahasiswaan untuk

kemajuan bangsa Indonesia.

Gerakan mahasiswa berkembang semakin subur karena kemudian

(5)

Soetomo (Indonesische Studie-club), Soekarno (Algemeene Studie-club), dan

tokoh-tokoh pemuda lainnya membentuk Persatuan Pelajar-Pelajar Indonesia

(PPPI) yang merupakan prototipe organisasi seluruh gerakan mahasiswa di tahun

1928, gerakan mahasiswa angkatan 1928 memunculkan sebuah ideologi dan

semangat persatuan dan kesatuan di seluruh pelosok Indonesia untuk meneriakkan

dengan lantang bahwa “kami putra putri Indonesia mengaku bertanah air satu, atu

yaitu Indonesia, berbangsa satu yaitu bangsa Indonesia, dan menjunjung bahasa

Indonesia” suatu bukti kebulatan tekad yang dikenal sebagai sumpah pemuda.

Gerakan perjuangan mahasiswa sebagai kontrol pemerintahan dan kontrol

sosial terus tumbuh dan berkembang, berbagai peristiwa terjadi sebagai akibatnya

seperti peristiwa Tritura yang digalang kaum intelektual muda untuk mengganti

rezim Soekarno hingga terjadinya tragedi tahun 1998 dimana saat itu mahasiswa

gusar melihat kondisi masyarakat yang semakin tertekan akibat naiknya bahan

kebutuhan pokok mendorong terjadinya gerakan untuk melengserkan Soeharto.

Sejarah panjang gerakan mahasiswa merupakan salah satu bukti, kontribusinya,

eksistensinya, dan peran serta tanggungjawabnya sebagai mahasiswa dalam

memberikan perubahan dan memperjuangkan kepentingan rakyat.

Teknologi diyakini sebagai alat pengubah. Teknologi telah mengubah

segalanya, atau setidaknya teknologi memiliki kekuatan dan potensi untuk

mengubah segalanya. Diakui atau tidak, munculnya teknologi komunikasi, seperti

Internet, telah mengubah hal yang sangat fundamental dalam kehidupan manusia.

Internet memiliki kemampuan untuk menghubungkan antar individu secara real

(6)

penghubung antar komunitas, mampu memberdayakan manusia bahkan masalah

kebebasan pun berubah akibat kemunculan Internet. Internet menjadi sesuatu yang

revolusioner karena kemampuannya untuk mengubah aktivitas dalam

berkomunikasi secara alamiah hingga berkomunikasi sebagai aktivitas komersial.

Menurut Toffler peradaban yang pernah dan sedang dijalani oleh umat

manusia terbagi dalam tiga gelombang dan saat ini kita berada di gelombang

peradaban yang didukung oleh kemajuan teknologi informasi, pengolahan data,

penerbangan, aplikasi luar angkasa, bioteknologi, dan komputer. Berdasarkan

realitas yang ada, kita hidup di zaman yang ditopang oleh kemajuan teknologi

informasi yang memicu terjadinya ledakan informasi. Ledakan informasi yang

terjadi membawa perubahan besar dalam kehidupan umat manusia (Hakim, 2006).

Hakim (2006) lebih lanjut menyatakan bahwa ledakan informasi dan

perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) yang terjadi membawa

perubahan dalam masyarakat. Perubahan itu meliputi perubahan sikap masyarakat

dalam interaksi sosial sehari-hari atau perubahan yang terjadi pada pranata sosial

yang ada dimasyarakat saat ini. Perubahan sosial yang terjadi dalam konteks sikap

masyarakat dapat dilihat dari pola interaksi masyarakat dan bagaimana

masyarakat bersikap dengan informasi yang ada. Saat ini masyarakat semakin

kritis, cerdas dan berani. Kritis yang dimaksudkan disini adalah sikap kritis untuk

mengkritisi berbagai persoalan yang ada disekitarnya mulai itu dalam bidang

(7)

Tinjauan Pustaka Karakteristik Remaja

Periode remaja adalah masa transisi dari periode anak-anak ke periode

dewasa. Periode ini dianggap sebagai masa-masa yang amat penting dalam

kehidupan seseorang khususnya dalam pembentukan kepribadian individu.

Menurut Hurlock (1981) remaja adalah mereka yang berada pada usia

12-18 tahun. Monks, dkk (2000) memberi batasan usia remaja adalah 12-21 tahun.

Menurut Stanley Hall (dalam Santrock, 2003) usia remaja berada pada rentang

12-23 tahun. Berdasarkan batasan-batasan yang diberikan para ahli, bisa dilihat

bahwa mulainya masa remaja relatif sama, tetapi berakhirnya masa remaja sangat

bervariasi.

Secara umum, periode remaja merupakan klimaks dari periode-periode

perkembangan sebelumnya. Dalam periode ini apa yang diperoleh dalam

masa-masa sebelumnya diuji dan dibuktikan sehingga dalam periode selanjutnya

individu telah mempunyai suatu pola pribadi yang lebih mantap.

Ciri-ciri perilaku yang menonjol pada usia-usia ini terutama terlihat pada

perilaku sosial. Dalam masa-masa ini teman sebaya mempunyai arti yang amat

penting. Mereka ikut dalam berbagai klub, klik atau geng sebaya yang perilaku

dan nilai-nilai kolektifnya sangat mempengaruhi perilaku serta nilai-nilai

individu-individu yang menjadi anggotanya. Inilah proses dimana individu

membentuk pola perilaku dan nilai-nilai baru yang pada gilirannya bisa

(8)

Remaja adalah seorang idealis, ia memandang dunianya seperti apa yang

ia inginkan, bukan sebagaimana adanya. Ia suka mimpi-mimpi yang sering

membuatnya marah, cepat tersinggung atau frustasi. Selain itu, oleh keluarga dan

masyarakat ia dianggap sudah menginjak dewasa, sehingga diberi tanggung jawab

layaknya seorang yang sudah dewasa. Ia mulai memperhatikan prestasi dalam

segala hal, karena ini memberinya nilai tambah untuk kedudukan sosialnya di

antara teman sebaya maupun orang-orang dewasa.

Periode remaja adalah periode pemantapan identitas diri. Pengertiannya

akan “siapa aku” yang dipengaruhi oleh pandangan orang-orang sekitarnya serta

pengalaman-pengalaman pribadinya akan menentukan pola perilakunya sebagai

orang dewasa. Pemantapan identitas diri ini tidak selalu mulus, tetapi sering

melalui proses yang panjang dan bergejolak. Oleh karena itu, banyak ahli

menamakan periode ini sebagai masa-masa stormand stress.

Perubahan Sosial

Perubahan sosial dialami oleh setiap masyarakat yang pada dasarnya tidak

dapat dipisahkan dengan perubahan kebudayaan masyarakat yang bersangkutan.

Perubahan sosial dapat meliputi semua segi kehidupan masyarakat, yaitu

perubahan dalam cara berpikir dan interaksi sesama warga menjadi semakin

rasional; perubahan dalam sikap dan orientasi kehidupan ekonomi menjadi makin

komersial; perubahan tata cara kerja sehari-hari yang makin ditandai dengan

pembagian kerja pada spesialisasi kegiatan yang makin tajam; Perubahan dalam

(9)

dalam tata cara dan alat-alat kegiatan yang makin modern dan efisien, dan

lain-lainnya.

Atkinson, (1987 dan Brooten, 1978), menyatakan definisi perubahan

adalah kegiatan atau proses yang membuat sesuatu atau seseorang berbeda dengan

keadaan sebelumnya dan merupakan proses yang menyebabkan perubahan pola

perilaku individu atau institusi. Ada empat tingkat perubahan yang perlu diketahui

yaitu pengetahuan, sikap, perilaku, individual, dan perilaku kelompok.

Hersey dan Blanchard (1972), menyebutkan empat tingkatan perubahan.

Perubahan pertama dalam pengetahuan cenderung merupakan perubahan yang

paling mudah dibuat karena bisa merupakan akibat dari membaca buku, atau

mendengarkan dosen. Sedangkan perubahan sikap biasanya digerakkan oleh

emosi dengan cara yang positif dan atau negatif. Karenanya perubahan sikap akan

lebih sulit dibandingkan dengan perubahan pengetahuan. Bila kita tinjau dari

sikap yang mungkin muncul maka perubahan bisa kita tinjau dari dua sudut

pandang yaitu perubahan partisipatif dan perubahan yang diarahkan. Perubahan

partisipatif akan terjadi bila perubahan berlanjut dari masalah pengetahuan ke

perilaku kelompok. Siklus perubahan partisipatif dapat digunakan oleh pemimpin

dengan kekuasaan pribadi dan kebiasaan positif. Perubahan ini bersifat lambat

atau secara evolusi, tetapi cenderung tahan lama karena anak buah umumnya

menyakini apa yang merekan lakukan. Perubahan yang terjadi tertanam secara

instrinsik dan bukan merupakan tuntutan eksterinsik. Perubahan yang diarahkan,

bertolak belakang dengan perubahan partisifatif, perubahan ini dilakukan dengan

(10)

tentang arah dan perilaku untuk sistem dari masalah aktualnya seluruh organisasi

dapat menjadi fokus.

Dari beberapa pendapat ahli ilmu sosial, dapat disinkronkan bahwa

perubahan sosial adalah suatu proses perubahan, modifikasi, atau

penyesuaian-penyesuaian yang terjadi dalam pola hidup masyarakat, yang mencakup nilai-nilai

budaya, pola perilaku kelompok masyarakat, hubungan-hubungan sosial ekonomi,

serta kelembagaan-kelembagaan masyarakat, baik dalam aspek kehidupan

material maupun nonmateri.

Dalam kelompok teori-teori perubahan sosial klasik telah dibahas empat

pandangan dari tokoh-tokoh terkenal yakni August Comte, Karl Marx, Emile

Durkheim, dan Max Weber. August Comte menyatakan bahwa perubahan sosial

berlangsung secara evolusi melalui suatu tahapan-tahapan perubahan dalam alam

pemikiran manusia, yang oleh Comte disebut dengan Evolusi Intelektual.

Tahapan-tahapan pemikiran tersebut mencakup tiga tahap, dimulai dari tahap

Theologis Primitif; tahap Metafisik transisional, dan terakhir tahap positif

rasional. setiap perubahan tahap pemikiran manusia tersebut mempengaruhi unsur

kehidupan masyarakat lainnya, dan secara keseluruhan juga mendorong

perubahan sosial.

Karl Marx pada dasarnya melihat perubahan sosial sebagai akibat dari

perubahan-perubahan yang terjadi dalam tata perekonomian masyarakat, terutama

sebagai akibat dari pertentangan yang terus terjadi antara kelompok pemilik

modal atau alat-alat produksi dengan kelompok pekerja. Di lain pihak Emile

(11)

ekologis dan demografis, yang mengubah kehidupan masyarakat dari kondisi

tradisional yang diikat solidaritas mekanistik, ke dalam kondisi masyarakat

modern yang diikat oleh solidaritas organistik. Sementara itu, Max Weber pada

dasarnya melihat perubahan sosial yang terjadi dalam masyarakat adalah akibat

dari pergeseran nilai yang dijadikan orientasi kehidupan masyarakat.

Internet Sebagai Manifestasi New Media

Teknologi telah mengubah segalanya, atau setidaknya teknologi memiliki

kekuatan dan potensi untuk mengubah segalanya. Diakui atau tidak, munculnya

teknologi komunikasi, seperti Internet, telah mengubah hal yang sangat

fundamental dalam kehidupan manusia. Internet memiliki kemampuan untuk

menghubungkan antar konsumen secara real time, dan tidak dapat dipungkiri

Internet saat ini pun telah mampu menjadi penghubung antar komunitas, mampu

memberdayakan manusia bahkan masalah kebebasan pun berubah akibat

kemunculan Internet. Internet menjadi sesuatu yang revolusioner karena

kemampuannya untuk mengubah aktivitas dalam berkomunikasi secara alamiah

hingga berkomunikasi sebagai aktivitas komersial. Dan saat ini pun Internet telah

diakses oleh lebih dari 1 triliun pengguna di seluruh dunia

(http://www.clickz.com/showPage.html?page=stats/web_worldwide).

Internet seringkali dikaitkan dengan new media, karena Internet

merupakan manifestasi dari new media. New media sendiri memiliki pengertian

those forms that combine the three Cs: computing and information technology

(12)

arising out of another process beginning with a „C”, that of convergence (Flew,

2005, h.2).

Konvergen disini memiliki pengertian bahwa komunikasi yang terjadi

adalah bentuk komunikasi yang diperantarai (mediated communications), yang

bergabung menjadi satu bentuk yaitu media digital elektronik, yang dijalankan

oleh komputer dan difasilitasi oleh teknologi jaringan atau network (Pavlik, 1998,

h.134).Internet dan World Wide Web merupakan hasil dari penggabungan ketiga

‘C’ tersebut. Flew (2005, h.xv) lebih lanjut menyatakan bahwa Internet

merupakan suatu teknologi yang menggambarkan secara jelas mengenai

konvergen, digital networking, global reach, interaktivitas, dan many-to-many

communication, serta suatu bentuk media yang mengizinkan penggunanya

menjadi pencipta maupun pengguna isi atau pesan. Sementara Spurgeon (2008,

h.4) menganggap Internet sebagai media komunikasi yang paling interaktif karena

diciptakan untuk mendukung semua model komunikasi, yaitu: komunikasi

interpersonal, komunikasi massa, dan computer mediated communication.

Definisi lain terkait new media seperti yang dikemukakan oleh Lievrouw

& Livingstone menyatakan bahwa new media adalah teknologi-teknologi

informasi dan komunikasi dan konteks-konteks sosial yang terkait, serta

infrastruktur yang terdiri dari tiga komponen, yakni: alat-alat yang digunakan

untuk berkomunikasi atau menyampaikan informasi, aktivitas-aktivitas dimana

orang-orang terlibat untuk berkomunikasi atau membagikan informasi, dan

pengaturan sosial atau bentuk-bentuk organisasional yang berkembang melalui

(13)

seringkali juga dipahami sebagai media digital yang merupakan suatu bentuk

media yang menggabungkan data, teks, suara, dan gambar dalam bentuk digital

dan didistribusikan melalui network (Flew, 2005, h.2).

New media adalah suatu konsep yang muncul sejalan dengan

perkembangan media. Istilah new media muncul dan mengalami perkembangan

yang cukup pesat pada akhir tahun 1980. Meskipun demikian kemunculan new

media tidak akan menggantikan keberadaan old media. Marshall McLuhan (1964)

menyatakan bahwa older media seringkali menjadi isi bagi media yang lebih baru

(Lievrouw & Livingstone, 2006, h.1). Lebih lanjut McLuhan menambahkan

bahwa media merupakan perpanjangan pikiran manusia, dan terlepas dari apa pun

isi yang disampaikannya, media berpengaruh terhadap individu maupun

masyarakat (Littlejohn & Foss, 2009, h.410-411).

Sebagai media komunikasi yang paling interaktif karena diciptakan untuk

mendukung semua model komunikasi, Internet yang menggunakan komputer

sebagai mediumnya, telah mengalami perkembangan yang makin cepat. Setiap

harinya semakin banyak orang yang menggunakan komputer untuk

berkomunikasi. Bahkan berdasarkan pernyataan Tubb & Moss yang dilandasi dari

hasil suatu survei menyatakan, as August 2001 there were 513.41 million people

online throughout the world, and of these over 180 million were from United

States and Canada – and this figure increases everyday. Although the world’s first

completely electronic computer was developed in the 1940s, it is only over the last

decade that communication by means of computer has become so all

(14)

Internet sebagai sebuah bentuk computer mediated communication

(CMC), ini berarti memiliki pengertian bahwa proses komunikasi yang dilakukan

menggunakan komputer, melibatkan manusia, terjadi pada konteks tertentu

dimana di dalamnya melibatkan proses pembentukan media untuk berbagai tujuan

(Thurlow, Lengel & Tomic, 2007, p.15). Definisi lain menyatakan bahwa CMC

adalah studi yang mempelajari bagaimana perilaku manusia itu dijaga dan diubah

dengan pertukaran informasi melalui mesin (Wood & Smith, 2005, h.4). Dan

pandangan lain menyatakan bahwa computer mediated communication tidak

mengacu pada komunikasi tatap muka tetap lebih pada aktivitas komunikasi yang

dilakukan melalui media (Guinn, Allen & Semenik, 2009, h.14). Dari

pandangan-pandangan tersebut maka dapat dikatakan bahwa CMC adalah suatu proses

komunikasi atau pertukaran informasi yang dilakukan melalui medium, dalam hal

ini komputer. Dalam prakteknya, CMC biasanya dikaitkan dengan komunikasi

manusia pada, melalui, atau menggunakan Internet dan Web (Thurlow & Tomic,

2007, h.16).

New media sendiri memiliki beberapa karakteristik. Menurut Lister et al.

new media memiliki 6 karakteristik, yakni: digital, interactive, hypertextual,

virtual, networked, dan simulated (Lister, Dovey & Giddings, 2003, h.130). Dari

keenam karakteristik tersebut, interaktivitas merupakan konsep utama dalam new

media (Flew, 2005, h.13). Interactivity is a central concept in understanding new

media, but different media forms possess different degrees of interactivity, and

some forms of digitised and converged media are not in fact interactive at all. Dan

(15)

bagi new media. Interaktivitas inilah yang menjadi kata kunci yang membedakan

antara „old” media dan „new” media (Spurgeon, 2008, h.4).

Selain itu interaktivitas memiliki pengertian sebagai the extent to which

communication reflects back on itself, feed on and responds to the past (Flew,

2005, h.13). Jadi interaktivitas adalah tingkatan dimana komunikasi itu kembali

kepada kita sendiri serta adanya tanggapan terhadap komunikasi sebelumnya.

Interaktivitas dalam konteks new media ini menunjukkan adanya kemampuan

bagi para penggunanya (media) untuk terlibat secara langsung dan mengubah

gambar atau teks yang mereka akses. Hal ini juga sesuai dengan pernyataan Pavlik

bahwa interaktivitas dalam new media akan memberikan peluang kepada

konsumen media untuk menjadi partisipan yang lebih aktif dalam dunia

komunikasi yang diperantarai (Pavlik, 1998, h.137). Di sini pengguna new media

ini bukan hanya menjadi viewer tetapi user (Lister, Dovey & Giddings, 2003,

h.21).

Pembahasan

Perubahan bisa terjadi setiap saat serta merupakan proses yang dinamis

serta tidak dapat dielakkan. Berubah berarti beranjak dari keadaan yang semula

kemudian menciptakan perbedaan kondisi dengan keadaan semula tersebut. Tanpa

berubah tidak ada pertumbuhan dan tidak ada dorongan, namun perubahan juga

dapat menyebabkan ketakutan, kebingungan, kegagalan serta kegembiraan. Setiap

orang dapat memberikan perubahan kepada orang lain. Merubah orang lain bisa

(16)

Menurut Toffler peradaban yang pernah dan sedang dijalani oleh umat

manusia terbagi tiga gelombang. Gelombang pertama adalah gelombang dimana

tahapan manusia ditandai dengan peradaban agraris dan pemanfaatan energi

terbarukan (8000 sebelum masehi – 1700). Gelombang kedua ditandainya dengan

munculnya revolusi industri (1700–1970-an). Dan gelombang terakhir adalah

peradaban yang didukung dengan kemajuan teknologi informasi, pengolahan data,

penerbangan, aplikasi luar angkasa, bioteknologi dan computer. Saat ini,

berdasarkan realitas yang ada, sudah jelas bahwa kita berada pada gelombang

ketiga, dimana kita hidup di zaman yang ditopang oleh kemajuan teknologi

informasi yang memicu terjadinya ledakan informasi. Ledakan informasi yang

terjadi membawa perubahan besar dalam kehidupan umat manusia. Kita telah

mengalami masa peralih dari masyarakat industri menjadi masyarakat informasi

(Hakim, 2006).

Hakim (2006) lebih lanjut menyatakan bahwa ledakan informasi dan

perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) yang terjadi membawa

perubahan dalam masyarakat saat ini. Perubahan itu meliputi perubahan sikap

masyarakat dalam interaksi sosial sehari-hari atau perubahan yang terjadi pada

pranata sosial yang ada dimasyarakat saat ini. Perubahan sosial yang terjadi dalam

konteks sikap masyarakat dapat dilihat dari pola interaksi masyarakat dan

bagaimana masyarakat bersikap dengan informasi yang ada. Saat ini masyarakat

semakin kritis, cerdas dan berani. Kritis yang dimaksudkan disini adalah sikap

kritis untuk mengkritisi berbagai persoalan yang ada disekitarnya mulai itu dalam

(17)

Perubahan yang terjadi dalam konteks pranata sosial dapat dilihat dengan

berubahnya format pranata sosial serta munculnya lembaga-lembaga baru

dibidang pengelolaan informasi. Sekarang lembaga-lembaga pelayanan public

atau banyak lembaga sosial lainnya mulai berubah dengan menerapkan teknologi

e-government dalam rangka mewujudkan pemerintahan yang informatif dan

akuntable. Lembaga-lembaga tersebut mulai menerapakan automasi dalam

layanannya. Hal ini dilakukan sejalan dengan tuntutan masyarakat akan

pemerintahan yang cepat, informatif dan transparan. Informasi memang

membawa perubahan dalam masyarakat mulai dari gaya hidup sampai pola

berpikir. Perubahan ini akan terus terjadi sejalan dengan dinamika informasi dan

teknologi yang terjadi.

Setiyadi (2005), Perubahan sosial masyarakat selalu terjadi setiap saat

secara terus menerus. Perubahan sosial tersebut terjadi karena diinginkan atau

sebagai dampak dari perubahan pada sektor lain yang terkait dengan masalah

sosial. Perubahan itu sendiri dapat menjadi tujuan dan sekaligus sebagai alat untuk

mencapai tujuan. Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) terbukti berperan

sebagai salah satu faktor pengubah tatanan sosial. Perubahan sosial yang

diakibatkan oleh pemanfaatan TIK terjadi di lingkungan ekonomi, bisnis, politik,

pemerintahan, dan terutama dalam pergaulan antar anggota masyarakat. Dampak

dari perubahan yang bersifat positif menjadikan faktor pengubah beralih peran

dari yang semula sebagai alat menjadi tujuan agar dapat dimiliki untuk mengubah

kondisi pemiliknya. Implikasi dari interaksi semacam ini menuntut dukungan

(18)

untuk memiliki TIK menjadi berkesempatan memanfaatkannya, perubahan sosial

yang terjadi dari pemanfaatan TIK dapat terkendali sehingga dampak negatifnya

minimal, serta adanya perlindungan bagi pengguna TIK dari tindak kejahatan

yang dilakukan sesama pengguna TIK. Netralitas dan fleksibilitas TIK

menjadikan peran sosial TIK sangat tergantung pada pengendalinya.

Internet New media sendiri memiliki beberapa karakteristik. Menurut

Lister et al. new media memiliki 6 karakteristik, yakni: digital, interactive,

hypertextual, virtual, networked, dan simulated (Lister, Dovey & Giddings, 2003,

h.130). Dari keenam karakteristik tersebut, interaktivitas merupakan konsep utama

dalam new media (Flew, 2005, h.13). Interactivity is a central concept in

understanding new media, but different media forms possess different degrees of

interactivity, and some forms of digitised and converged media are not in fact

interactive at all. Dan sebagai karakteristik utama new media, interaktivitas ini

menjadi nilai tambah bagi new media. Interaktivitas inilah yang menjadi kata

kunci yang membedakan antara „old” media dan „new” media (Spurgeon, 2008,

h.4).

Selain itu interaktivitas memiliki pengertian sebagai the extent to which

communication reflects back on itself, feed on and responds to the past (Flew,

2005, h.13). Jadi interaktivitas adalah tingkatan dimana komunikasi itu kembali

kepada kita sendiri serta adanya tanggapan terhadap komunikasi sebelumnya.

Interaktivitas dalam konteks new media ini menunjukkan adanya kemampuan

bagi para penggunanya (media) untuk terlibat secara langsung dan mengubah

(19)

bahwa interaktivitas dalam new media akan memberikan peluang kepada

konsumen media untuk menjadi partisipan yang lebih aktif dalam dunia

komunikasi yang diperantarai (Pavlik, 1998, h.137). Di sini pengguna new media

ini bukan hanya menjadi viewer tetapi user (Lister, Dovey & Giddings, 2003,

h.21).

Dalam bukunya yang berjudul Growing Up Digital: The Rise of the Net

Generation, Tapscott’s (1998) menyatakan bahwa mereka yang lahir di tahun

1980-an layak untuk disebut sebagai digital generation karena mereka

menggunakan media baru ini hampir di setiap aktivitas yang mereka lakukan

(Buckingham, 2009). Sebagai pengguna media baru sekaligus mereka adalah

masuk dalam kategori remaja, digital generation ini memiliki ciri-ciri perilaku

yang menonjol pada perilaku sosial. Dalam masa-masa ini teman sebaya

mempunyai arti yang amat penting. Mereka ikut dalam berbagai klub, klik atau

geng sebaya yang perilaku dan nilai-nilai kolektifnya sangat mempengaruhi

perilaku serta nilai-nilai individu-individu yang menjadi anggotanya.

Remaja adalah seorang idealis, ia memandang dunianya seperti apa yang

ia inginkan, bukan sebagaimana adanya. Ia suka mimpi-mimpi yang sering

membuatnya marah, cepat tersinggung atau frustasi. Selain itu, oleh keluarga dan

masyarakat ia dianggap sudah menginjak dewasa, sehingga diberi tanggung jawab

layaknya seorang yang sudah dewasa. Ia mulai memperhatikan prestasi dalam

segala hal, karena ini memberinya nilai tambah untuk kedudukan sosialnya di

(20)

Karena teman sebaya memiliki arti yang sangat penting bagi remaja

termasuk di dalamnya klik, grup atau kelompok yang diikuti, oleh karena itu

perubahan yang dilakukan oleh sekelompok remaja diharapkan dapat berpengaruh

terhadap perubahan pada remaja yang lebih luas. Indonesia Future Leaders (IFL)

merupakan lembaga swadaya masyarakat dari pemuda, oleh pemuda, dan untuk

pemuda yang didedikasikan untuk mengembangkan kualitas dan kapabilitas

pemuda dalam menciptakan perubahan sosial untuk Indonesia yang lebih baik.

Lembaga ini ingin menjadikan generasi muda Indonesia sebagai generasi yang

kompeten pada bidang yang ditekuninya, dapat membawa perubahan positif dan

menjadi inspirasi bagi lingkungannya. Terdapat 3 Pilar Aksi IFL yaitu: 1)

Pembangunan Kapasitas (Capacity Building) yang memberikan pembekalan

kepada kaum muda agar dapat mengembangkan potensi diri, 2) Kegiatan Layanan

Masyarakat (Community Service) untuk memberdayaan masyarakat dengan

harapan, dapat memberikan dampak kepada masyarakat di akar rumput (grass

root) secara langsung, dan 3) Promosi dan Advokasi (Promotion and Advocacy)

yang bergerak untuk mendapatkan dukungan dari kebijakan pemerintah,

perubahan holistik akan sulit untuk dicapai. IFL mencoba melakukan advokasi

mengenai kebijakan-kebijakan yang terkait dengan kaum muda, kepada seluruh

stakeholders terkait.

Pembangunan kapasitas (capacity building) merupakan pilar IFL yang

melakukan pembangunan kapasitas dan skills di berbagai bidang kepada anak

muda di berbagai daerah di Indonesia dengan melakukan kunjungan ke sekolah/

(21)

konferensi atau pelatihan, menyelenggarakan kompetisi untuk mengasah

kemampuan, dll. Melalui capacity building, IFL juga memberikan pembekalan

kepada kaum muda tentang bagaimana mengelola proyek sosial dan juga

pembekalan pengetahuan tentang berbagai isu yang sedang berkembang di

Indonesia saat ini.

Pilar yang kedua adalah Kegiatan Layanan Masyarakat (community

service) yang berisi kegiatan-kegiatan sosial, dan pemberdayaan masyarakat

dengan harapan, dapat memberikan dampak kepada masyarakat di akar rumput

(grass root) secara langsung. Melalui kegiatan ini, IFL juga berharap dapat

menumbuhkan kepedulian dan kesadaran generasi muda atas tantangan sosial

yang ada di sekitarnya, dan dapat melakukan sesuatu guna menyelesaikan

persoalan-persoalan tersebut. Misalnya melalui: program belajar mengajar (peer

mentoring system), fundraising, pembinaan terhadap anak-anak di panti asuhan,

pemberian bantuan dana proyek untuk proyek-proyek sosial yang digagas anak

muda (mini grants), dll.

Promosi dan Advokasi (promotion and advocacy) merupakan pilar yang

ketiga yang percaya bahwa bagaimanapun, jika hanya mereka saja yang bergerak

tanpa adanya dukungan dari kebijakan pemerintah, perubahan holistik akan sulit

untuk dicapai. Untuk itu, IFL mencoba melakukan advokasi mengenai

kebijakan-kebijakan yang terkait dengan kaum muda, kepada seluruh stakeholders terkait.

Termasuk: Wakil Presiden RI, Ketua DPR RI, dll. Selain itu, kami juga

memanfaatkan social networks untuk menyebarkan isu yang menjadi concern

(22)

IFL terbuka bagi seluruh pemuda berkewargenagaraan Indonesia berusia

di bawah 30 tahun. Meskipun begitu, bagi rekan-rekan berusia di atas 30 tahun,

tetap dapat berkontribusi membantu IFL baik secara materil maupun non materil.

Anggota adalah setiap pemuda berkewargenagaraan Indonesia yang telah

melakukan pendaftaran melalui website IFL dan disahkan keanggotaannya oleh

pengurus IFL. Anggota berhak berpartisipasi dan juga menjadi relawan pada

proyek-proyek yang diselenggarakan oleh IFL, termasuk mengajukan pendirian

cabang/ pengusulan proyek kepada IFL.

Di era globalisasi yang menyebabkan lemahnya solidaritas antar sesama

manusia, kehadiran IFL yang memiliki komitmen untuk memberdayakan sesama

manusia dirasakan sebagai angin segar terhadap perubahan sosial di Indonesia,

apalagi mereka memiliki dedikasi untuk mengembangkan kualitas dan kapabilitas

pemuda dalam menciptakan perubahan sosial untuk Indonesia yang lebih baik.

Sebagai generasi digital, IFL juga memberdayakan media baru sebagai alat untuk

melakukan perubahan sosial di masyarakat, yaitu melalui program SPEAK UP!

Program ini merupakan program cyber volunteers yang memungkinkan remaja

yang tidak berada di lokasi program IFL untuk tetap dapat berkontribusi dan

menjadi bagian dari future leaders.

Program dengan memanfaatkan keunggulan dan kelebihan media baru

sangat tepat digunakan bagi mendorong remaja untuk menyuarakan pendapat dan

opininya terhadap situasi dan kondisi di Negara ini. Jika remaja masih takut untuk

menyuarakan opininya dengan menggunakan media tradisional karena memang

(23)

mereka dapat menjadi produsen sekaligus konsumen untuk bersuara (speak up).

Wadah opini remaja melalui media baru dapat menolong mereka yang prihatin

terhadap kondisi negeri tapi tidak tahu harus menyampaikannya ke mana. Karena

dengan media tradisional, mereka harus melalui prosedur yang rumit dan tidak

mudah ditembus sekaligus mereka hanyalah kondumen atau pengguna media ini,

sementara dengan media baru remaja dapat menjadi prosumer, produsen sekaligus

consumer yang akhirnya memampukan mereka untuk beropini. Adanya media

baru ini diharapkan dapat lebih bermanfaat dalam menciptakna perubahan pada

negeri ini terutama dapat mendorong kaum muda untuk lebih berperan dalam

menyampaikan opini dan pendapatnya yang sekarang ini, mayoritas dikuasai oleh

mereka yang lebih senior dari sisi usia.

Kesimpulan

Revolusi sebagai bentuk perubahan sosial secara cepat, hanya akan terjadi

jika ada keinginan umum untuk mengadakan perubahan, ada seorang pemimpin

atau sekelompok orang yang dianggap mampu memimpin masyarakat tersebut,

pemimpin tersebut dapat menampung keinginan-keinginan masyarakat, dapat

menunjukkan suatu tujuan pada masyarakat, dan harus ada momentum untuk

melakukan revolusi. IFL sebagai sebuah lembaga swadaya masyarakat yang

berupaya untuk mendedikasikan diri untuk sesama remaja, diharapkan dapat

mencetak para future leaders yang nantinya dapat melakukan perubahan terhadap

(24)

Daftar Referensi

Buckingham, David and Revekah Willett (2006). Digital Generations: Children, Young People, and New Media. New York: Lawrence Erlbaum Associates.

Burachman Hakim, H. A. (2006). Sosiologi Informasi: Suatu Kajian Tentang Dinamika Informasi dan Dampaknya Bagi Masyarakat.

http://www.heri_abi.staff.ugm.ac.id.

Choate, L.H. (2007). Counseling Adolescent Girls for Body Image Resilience: Strategi for School Counselors. Profesional School Counseling.

Alexandria: Feb 2007. Vol. 10, Iss. 3; pg. 317, 10 pgs. Diakses melalui http://ezproxy.match.edu/menu pada 9 Mei 2008

Craib, Ian (1986). Teori-teori Sosial Modern: Dari Parsons sampai Habermas. Jakarta: CV. Rajawali.

Etzioni, Eva and Amiatai Etzioni (1967). Social Change: Sources, Pattern, and Consequences. New York: Basic Books, Inc, Publishers.

Fagan, R. (2006). Counseling and Treating Adolescents with Alcohol and Other Substance Use Problems and their Family. The Family Journal:

Counseling therapy For Couples and Families. Vol.14. No.4.326-333. Sage Publication diakses melalui

http://tfj.sagepub.com/cgi/reprint/14/4/326 pada 18 April 2008

Flew, Terry (2005), New Media: An Introduction, 2nd ed, New York, Oxford.

Global use of the Web statistic obtained from Clickz at http://www.clickz.com/showPage.html?page=stats/web_worldwide, diakses 13 Juli 2007.

Gunarsa, S. D. (1989). Psikologi Perkembangan: Anak dan Remaja. Jakarta: BPK Gunung Mulia.

Hersey, P. and Blanchard, K. H. (1972). Management of Organizational Behavior: Utilizing Human Resources (2nd ed.) New Jersey/Prentice Hall

(25)

Hurlock, E.B. (1991). Psikologi Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan (Terjemahan oleh Istiwidayanti dan Soedjarwo). Jakarta : Penerbit Erlangga.

Lievrouw, Leah A. dan Sonia Livingstone (2006), The Handbook of New Media: Updated Student Edition, California, SAGE.

Littlejohn, Stephen W. dan Karen A. Foss (2009), Teori Komunikasi : Theories of Human Communication, 9th ed., Jakarta, Salemba Humanika.

Mongks, F. J. , Knoers, A. M. P. , & Haditono, S. R. (2000). Psikologi Perkembangan: Pengantar dalam berbagai bagiannya. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Muss, R. E. , Olds, S. W. , & Fealdman (2001). Human Development. Boston: McGraw-Hill Companies.

O’Guinn, Thomas C., Chris T. Allen, dan Richard J. Semenik (2009), Advertising and Integrated Brand Promotion, 5th ed., Mason, USA, South Western

Cengage Learning.

Pavlik, John V. (1998), New Media Technology: Cultural & Commercial Perspectives, 2nd ed., New York, Allyn & Bacon.

Rey, J. (2002). More than Just The Blues: Understanding Serious Teenage Problems. Sydney: Simon & Schuster.

Rini, J.F. (2004). Mencemaskan Penampilan. Diakses dari e-psikologi.com pada tanggal 22 April 2006.

Santrok, J. W. (2003). Adolescence (Perkembangan Remaja). Terjemahan. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Seifert, K.L. & Hoffnung, R.J. (1987). Child and Adolescent Development. Boston : Houghton Mifflin Co.

Setiono, L.H. (2002). Beberapa Permasalahan Remaja. Diakses dari www.e-psikologi.com pada tanggal 22 April 2006.

Setiyadi, Roes, M.W. (2005). Teknologi Informasi Komunikasi dan Peranannya dalam Proses Perubahan Sosial. http://maswig.blogspot.com.

Soekanto, Soerjono (1987). Sosiologi, Suatu Pengantar. Jakarta: CV Rajawali.

(26)

Suwarsono, dan Alvin Y. (1991). Perubahan Sosial dan Pembangunan di Indonesia. Jakarta: LP3S.

Tambunan, R. (2001). Diakses dari www.e-psikologi.com pada tanggal 22 April 2006.

Taneko, Soleman B. (1993). Struktur dan Proses Sosial. Cetakan II. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Thurlow, Crispin, Laura Lengel dan Alice Tomic (2007), Computer Mediated Communication: Social Interaction and The Internet, London, SAGE Publication.

Tubb, Stewart L. dan Sylvia Moss (2003), Human Communication: Pricipal and Contexts, New York, McGraw Hill.

Wood, Andrew F. dan Matthew J. Smith (2005), Online Communication: Linking Technology, Identity, & Culture, 2nd ed., New Jersey, Lawrence Erlbaum

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan dari perancangan ini adalah memperkenalkan kembali dan menginformasikan tokoh Pahlawan Nasional Indonesia pada masyarakat kota Bandung khususnya kalangan generasi

Menurut Selo Soemardjan, perubahan sosial adalah perubahan yang terjadi pada lembaga kemasyarakatan di dalam suatu masyarakat yang mempengaruhi sistem sosial,

Menurut Selo Soemardjan, perubahan sosial adalah segala perubahan- perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan di dalam suatu masyarakat, yang mempengaruhi sistem

sungguh bertentangan dengan tujuan bangsa Indonesia yang ingin menghasilkan generasi-generasi muda terbaik untuk dapat mewujudkan cita-cita bangsa Indonesia di

Selo Soemardjan dalam Soerjono Soekanto (2007: 263) mendefinisikan perubahan sosial sebagai perubahan-perubahan pada.. lembaga-lembaga kemasyarakatan di dalam suatu

Pengaruh Globalisasi terhadap Minat Generasi Muda dalam Melestarikan Kesenian Tradisional di Indonesia.. Pengaruh Globalisasi terhadap Minat Remaja Generasi Muda dalam Melestarikan

Perubahan Sosial Pada Masyarakat Perubahan sosial merupakan perubahan yang terjadi pada individu dalam masyarakat dan juga lembaga-lembaga kemasyarakatan dalam suatu masyarakat yang

Dokumen ini membahas perubahan pada kurikulum dasar dan menengah di Republik Indonesia untuk memenuhi kebutuhan dasar siswa dalam mengembangkan kemampuan mereka di era