• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hubungan Kualitas Tidur dengan Kejadian

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Hubungan Kualitas Tidur dengan Kejadian"

Copied!
117
0
0

Teks penuh

(1)

HUBUNGAN KUALITAS TIDUR DENGAN KEJADIAN

HIPERTENSI DI DESA YORDAN KELURAHAN

AIRMADIDI BAWAH

Skripsi

Diajukan guna memenuhi persyaratan Untuk Meraih Gelar Sarjana Keperawatan (S. Kep)

Disusun oleh : Megawati Chyntya Tebo

NIM: 106011210006

FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN UNIVERSITAS KLABAT

AIRMADIDI

MANADO

(2)
(3)
(4)
(5)

’’But thanks be to God! He give us the victory through our

Lord Jesus Christ’’ 1 Corinthians 15:57

DEDICATION

Thanks to my beloved parents and family

Tebo

Mamahit

My father, my mother, and my brother

My teacher and to all my friends

Thank you for praying, supporting and motivate me until now.

And expecially to GOD that guide me through all the day that

(6)

KATA PENGANTAR

Segala puji syukur dan terima kasih peneliti panjatkan kepada Tuhan yang Maha Esa atas berkat dan kasih-Nya serta tuntunan-Nya yang selalu nyata dalam

kehidupan ini sehingga penulisan skripsi dengan judul ’’Hubungan Kualitas Tidur

dengan Kejadian Hipertensi di Desa Yordan Kelurahan Airmadidi Bawah’’ bisa diselesaikan dengan baik. Peneliti juga mengucapkan terima kasih banyak kepada pihak-pihak yang turut berperan dalam pembuatan skripsi ini, yang diantaranya adalah:

1. Nova Langingi, MSN, selaku Dekan Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Klabat, terima kasih atas semua bimbingan, saran, nasihat, serta ilmu

pengetahuan yang telah diberikan selama di Universitas Klabat.

2. Ivanna Manoppo S.Kp, MPH, selaku Ketua Program Studi Ilmu Keperawatan, terima kasih atas segala bantuan, bimbingan, nasihat, saran, dan ilmu

pengetahuan yang telah diberikan.

3. Ailine Y. Sanger, MSN, sebagai dosen pembimbing,terima kasih untuk bimbingan, bantuan, saran, nasihat serta waktu yang telah diberikan dalam menyelesaikan penyusunan skripsi ini.

4. Sinjo J. Laoh, PhD, sebagai ketua penguji, terima kasih telah meluangkan waktu dan memberikan saran serta masukan sehingga penulisan skripsi ini bisa terselesaikan dengan baik.

5. Priscillia M. Saluy, MSN, sebagai anggota penguji, terima kasih telah

meluangkan waktu dan banyak memberikan saran sehingga penulisan skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik.

6. Amelia Tanasale, MSi, sebagai statistician consultant, terima kasih telah memberikan bimbingan kepada peneliti dalam hal penggunaan rumus dan penulisan rumus,

(7)

8. Dr. Elsine A. Towoliu, selaku Kepala Puskesmas Airmadidi dan seluruh pegawai Puskesmas Airmadidi yang telah membantu peneliti dalam pengumpulan data awal.

9. Maykel Parengkuan, S,STP, selaku Kepala Kelurahan Airmadidi Bawah yang telah mengijinkan peneliti untuk membuat penelitian.

10. Kepala Asrama Bougenville dan teman-teman Asrama Bougenville, terima kasih untuk dukungan dan doa yang selalu diberikan sehingga penulisan skripsi ini berjalan dengan baik.

11. Seluruh responden yang bersedia berpartisipasi dan bekerja sama dalam penelitian ini.

12. Teman-teman seperjuangan angkatan VII Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Klabat yang selalu memberikan motivasi dan semangat.

Airmadidi, Maret 2016

(8)

ABSTRAK

Kualitas tidur merupakan suatu keadaan dimana saat terbangun menghasilkan kesegaran dan kebugaran. Kurangnya kualitas tidur memberikan dampak yang buruk bagi kesehatan tubuh. Salah satu penyakit yang muncul akibat kualitas tidur yang buruk ialah hipertensi karena dapat meningkatkan hormon kortisol yang berfungsi untuk mempertahankan tekanan darah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kualitas tidur dengan kejadian hipertensi di Desa Yordan Kelurahan Airmadidi Bawah. Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini ialah deskriptif korelasi dengan pendekatan Cross-sectional yang menekankan waktu pengukuran hanya pada satu saat tertentu dengan teknik pengambilan sampel secara Purposive Sampling. Penelitian ini dilakukan dengan cara mengukur kualitas tidur responden dengan menggunakan kuesioner PSQI yang dilakukan dengan wawancara langsung kemudian hasilnya dikategorikan menjadi kualitas tidur baik dan kualitas tidur buruk serta mengukur tekanan darah

responden dan dikategorikan menjadi hipertensi atau prehipertensi. Rumus statistik yang digunakan dalam penelitian ini ialah Chi-Square dan Coefficient Contingency, dengan angka signifikan (α < 0.05).Hasil uji statistik dari penelitian ini menunjukan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara kualitas tidur dan kejadian hipertensi p value 0.912 > 0.05, serupa bila faktor usia dan jenis kelamin diikutsertakan. Direkomendasikan kepada peneliti selanjutnya yang akan melakukan penelitian dengan hal yang sama dapat menambahkan faktor lain seperti makanan, konsumsi garam, obesitas, genetik, dan kurang olahraga serta jumlah responden ditambah.

(9)

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ... i

LEMBAR PERNYATAAN KEASLIAN ... ii

LEMBAR PERSETUJUAN PUBLIKASI ... iii

LEMBAR PENGESAHAN ... iv

Pernyataan masalah penelitian ... 5

Tujuan penelitian ... 6

Kegunaan penelitian ... 6

Bagi masyarakat ... 6

Bagi institusi pendidikan... 6

Bagi peneliti ... 6

Cakupan dan batasan ... 7

Definisi operasional yang digunakan dalam penelitian ... 7

Kualitas tidur ... 7

Hipertensi ... 7

Desa Yordan... 8

Kelurahan Airmadidi Bawah ... 8

PSQI ... 8

BAB II - TINJAUAN PUSTAKA Hipertensi ... 9

Penyebab hipertensi ... 10

Klasifikasi hipertensi ... 11

Faktor-faktor yang mempengaruhi hipertensi ... 12

Tanda dan gejala ... 15

Patofisiologi ... 16

Komplikasi hipertensi ... 16

Kualitas tidur ... 17

Tidur ... 19

Fisiologi tidur ... 19

Irama sirkadian dan kelenjar pineal ... 20

(10)

Tidur stadium satu... 22

Tidur stadium dua ... 22

Tidur stadium tiga ... 23

Tidur stadium empat ... 23

Kebutuhan tidur manusia ... 23

Gangguan tidur ... 24

Hubungan kualitas tidur dengan kejadian hipertensi ... 25

Usia ... 27

Jenis kelamin ... 28

Sintesis penelitian ... 29

Kerangka konseptual ... 31

Pernyataan hipotesa ... 32

BAB III - METODE PENELITIAN Desain penelitian ... 33

BAB IV – PRESENTASI, INTERPRETASI & ANALISA Karakteristik demografi responden ... 42

Kualitas tidur individu di Desa Yordan Kelurahan Airmadidi Bawah ... 44

Kejadian hipertensi pada individu di Desa Yordan Kelurahan Airmadidi Bawah ... 45

Hubungan antara kualitas tidur dengan kejadian hipertensi ... 46

Hubungan usia dengan kejadian hipertensi ... 48

Hubungan jenis kelamin dengan kejadian hipertensi ... 50

(11)

DAFTAR GAMBAR

(12)

DAFTAR TABEL

(13)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran A Korespondensi ... 62

Lampiran B Instrumen penelitian ... 72

Lampiran C Prosedur pengumpulan data ... 82

Lampiran D Statistik ... 84

Lampiran E Lembar konsultasi ... 97

Lampiran F Anggaran biaya ... 100

(14)

BAB I PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

Dewasa ini ada berbagai macam penyakit yang muncul di dunia karena pengaturan pola hidup yang buruk, salah satunya penyakit hipertensi yang

merupakan suatu keadaan dimana tekanan darah sistolik >120 mmHg dan tekanan darah diastolik >80 mmHg. Hipertensi menyebabkan perubahan pada pembuluh darah yang menyebabkan makin tinggi tekanan darah seseorang (Muttaqin, 2009).

Ada banyak faktor penyebab terjadinya hipertensi yang terbagi menjadi dua bagian yaitu faktor yang tidak dapat dikontrol dan faktor yang dapat dikontrol. Faktor yang tidak dapat dikontrol contohnya usia dan jenis kelamin. Seiring

bertambahnya usia seseorang semakin tinggi resiko untuk hipertensi karena semakin berkurangnya elastisitas arteri sehingga menjadi lebih keras dan kaku (Kadulli, 2011). Untuk jenis kelamin, prevalensi hipertensi pada pria hampir sama dengan wanita. Sebelum menopause wanita dilindungi oleh hormon estrogen yang berperan dalam meningkatkan kadar High Density Lipoprotein (HDL) untuk mencegah terjadinya proses arterosklerosis sehingga wanita terlindung dari penyakit kardiovaskuler (Anggraini, Waren, Situmorang, Asputra, & Siahaan, 2009).

(15)

Prevention, Detection, Evaluation, and Treatment on High Blood Pressure VII

(JNC-VII) dan WHO mengatakan secara global hampir satu milyar orang menderita hipertensi. Di Amerika Serikat pada tahun 2010 prevalensi hipertensi pada orang dewasa berusia 18 tahun ke atas yang menderita hipertensi yaitu 28,6 % (Asmarita, 2014 & Girsang, 2013).

Prevalensi hipertensi di Indonesia pada individu berusia 18 tahun ke atas berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (2013), menunjukkan 9,5 % penderita hipertensi berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan dan 25,8 % berdasarkan

pengukuran tekanan darah (Kemenkes RI, 2014). Provinsi Sulawesi Utara pada tahun 2013 merupakan provinsi yang memiliki prevalensi hipertensi tertinggi untuk usia 18 tahun ke atas yaitu 15,2 % (Kemenkes RI, 2013).

National Heart, Lung, and Blood Institute dari United State Department of Health and Human Service (2009) menginformasikan bahwa kualitas tidur yang buruk meningkatkan resiko tekanan darah tinggi, penyakit jantung, dan kondisi medis lainnya. Selain itu Javaheri, Isser, Rosen, & Redline (2008) dari Case Western Reserve School of Medicine, Cleveland, melakukan sebuah penelitian mengenai hubungan kualitas tidur dan peningkatan tekanan darah pada remaja dengan kesimpulan bahwa kualitas tidur yang buruk berhubungan dengan kejadian prehipertensi dan hipertensi pada remaja yang sehat.

Tidur merupakan hal yang paling penting bagi manusia karena saat tidur terjadi proses pemulihan. Proses ini bermanfaat untuk mengembalikan kondisi tubuh yang mengalami kelelahan menjadi segar kembali. Ketika proses pemulihan

(16)

(Hidayat, 2012). Dengan adanya tidur, manusia dapat memelihara kesegaran, kebutuhan, dan metabolisme tubuh sepanjang masa (Mardjono, 2009).

Kualitas tidur adalah kepuasan dan kesegaran seseorang terhadap tidur ketika terbangun. Kualitas tidur berbeda dengan jumlah waktu tidur. Individu yang tidur 8-12 jam sehari tidak selalu mendapatkan kesegaran dan kebugaran ketika bangun. Kualitas tidur di katakan buruk ketika bangun dari tidur tapi tetap saja merasa mengantuk, tidak bersemangat, sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari (Nadzifah, 2014).

Kurangnya kualitas tidur memberikan berbagai dampak yang buruk bagi kesehatan tubuh. Ketika kualitas tidur baik, segala aktivitas tubuh dan aktivitas sehari-hari akan berjalan normal dan lancar (Fikri, 2011). Kualitas tidur yang buruk dicirikan dengan kurang tidur dan adanya gangguan tidur seperti mendengkur

ataupun hal-hal yang dapat mengganggu tidur seseorang (Nadzifah, 2014). Penelitian yang di lakukan oleh Redline & Foody (2008) di Amerika mengatakan bahwa

gangguan tidur dianggap sebagai salah satu faktor resiko terjadinya hipertensi. Tahun 2011 peneliti yang sama melalui jurnal yang di terbitkan oleh Circulation Journal

mengatakan bahwa gangguan tidur sudah saatnya untuk masuk ke dalam 10 faktor resiko yang dapat dimodifikasi untuk mencegah kejadian penyakit jantung.

Tidur merupakan aktivitas rutin manusia yang berguna untuk

(17)

seperti insomnia. Bagi pria saat prostat membesar dapat menyebabkan keseringan untuk pergi ke kamar kecil yang tentunya hal tersebut akan mengganggu tidur dan bagi wanita, perubahan biologis yang terjadi seperti siklus menstruasi, kehamilan, dan menopause dapat mempengaruhi seberapa baik tidur seseorang (JPNN, 2015).

Salah satu penyakit yang muncul akibat kualitas tidur yang buruk ialah hipertensi. Menurut Aphiin (2012) kualitas tidur yang buruk dapat meningkatkan hormon kortisol. Salah satu fungsi hormon kortisol ialah mempertahankan tekanan darah (Biomedika, 2012). Ketika kualitas tidur buruk, sistem tidur dan bangun akan terganggu sehingga terjadi ketidakseimbangan dan peningkatan hormon kortisol yang akan memicu terjadinya peningkatan tekanan darah (Fitri, 2012). Hasil

penelitian dari Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta yang di lakukan oleh Fitri (2013) tentang Hubungan Kualitas Tidur dengan Kejadian Hipertensi menyimpulkan bahwa 36 responden penelitian (64,3%) yang memiliki kualitas tidur buruk menderita hipertensi.

Berdasarkan pengambilan data awal dari Puskesmas Airmadidi tentang penderita hipertensi di Kecamatan Airmadidi dari bulan Januari 2015 sampai dengan bulan September 2015 ada 1.203 jiwa. Desa Yordan memiliki populasi individu dengan riwayat hipertensi ada 173 individu. Peneliti juga melakukan wawancara dengan masyarakat di Desa Yordan Kelurahan Airmadidi Bawah, hasilnya

(18)

menunjukan adanya gangguan tidur dan hal tersebut merupakan faktor yang menyebabkan kualitas tidur seseorang menjadi buruk.

Sehubungan dengan pernyataan diatas maka peneliti tertarik untuk melakukan

penelitian dengan judul ’’Hubungan Kualitas Tidur dengan Kejadian Hipertensi di

Desa Yordan Kelurahan Airmadidi Bawah’’.

Pernyataan Masalah Penelitian

Berdasarkan uraian latar belakang masalah, maka perumusan masalah yang dapat diambil adalah sebagai berikut :

1. Bagaimanakah kualitas tidur individu di desa Yordan Kelurahan Airmadidi bawah?

2. Bagaimanakah kejadian hipertensi pada individu di desa Yordan Kelurahan

Airmadidi bawah?

3. Apakah ada hubungan yang signifikan antara kualitas tidur dengan kejadian

hipertensi di desa Yordan Kelurahan Airmadidi bawah?

4. Apakah ada hubungan yang signifikan antara kualitas tidur dengan kejadian hipertensi di desa Yordan Kelurahan Airmadidi bawah bila faktor usia diikutsertakan?

5. Apakah ada hubungan yang signifikan antara kualitas tidur dengan kejadian

(19)

Tujuan Penelitian

Setelah meninjau latar belakang dan pernyataan masalah yang ada, maka tujuan dari penelitian ini ialah untuk mengetahui hubungan antara kualitas tidur dengan kejadian hipertensi di Desa Yordan Kelurahan Airmadidi Bawah.

Kegunaan Penelitian

Adapun kegunaan penelitian ini dibagi dalam tiga bagian yaitu: bagi masyarakat, bagi institusi pendidikan dan bagi peneliti.

Bagi Masyarakat

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan dan wawasan masyarakat terhadap kejadian hipertensi akibat kualitas tidur yang buruk dan dapat menjadi acuan bagi masyarakat untuk menjaga kualitas tidur.

Bagi Institusi Pendidikan

Dengan hasil penelitian ini dapat menambah pengetahuan bagi dosen dan mahasiswa Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Klabat tentang hubungan kualitas tidur dengan kejadian hipertensi.

Bagi Peneliti

Hasil penelitian ini kiranya dapat berguna dan menjadi pengalaman yang berharga, serta dapat menambah pengetahuan baru bagi peneliti, dapat menambah wawasan baru peneliti tentang hubungan kualitas tidur dengan kejadian hipertensi di desa Yordan dan Kanaan Kelurahan Airmadidi bawah dan sebagai salah satu

(20)

Cakupan dan Batasan

Cakupan pada penelitian ini adalah masyarakat yang memiliki riwayat hipertensi >120/80 mmHg, yang tinggal di desa Yordan baik laki-laki maupun perempuan yang berusia 18-65 tahun, memiliki riwayat hipertensi, serta bersedia menandatangani surat persetujuan (informed consent) oleh responden yang bersedia untuk bekerja sama dengan peneliti dalam mengikuti penelitian ini.

Batasan dalam penelitian ini adalah masyarakat yang tidak memiliki riwayat hipertensi, tekanan darah <120/80 mmHg, yang tinggal di luar desa Yordan, berusia <18 tahun dan >65 tahun, serta yang tidak bersedia menandatangani surat

persetujuan (informed consent).

Definisi Operasional yang Digunakan Dalam Penelitian Kualitas tidur

Kualitas tidur dalam penelitian ini adalah kepuasan, kesegaran, dan kebugaran seseorang terhadap tidur ketika terbangun, dan tidak menunjukkan adanya rasa mengantuk, tidak bersemangat, sehingga tidak mengganggu aktivitas sehari-hari.

Hipertensi

(21)

Desa Yordan

Desa Yordan adalah salah satu desa di Kecamatan Airmadidi Kelurahan Airmadidi Bawah Kabupaten Minahasa Utara yang memiliki jumlah populasi 449 jiwa, dengan jumlah laki-laki 221 jiwa dan perempuan 228 jiwa. Desa Yordan berdampingan dengan Desa Tumaluntung.

Kelurahan Airmadidi Bawah

Kelurahan Airmadidi Bawah adalah wilayah bagian dari Kecamatan Airmadidi yang terletak di Kabupaten Minahasa Utara Sulawesi Utara, Indonesia yang terdiri dari Sembilan lingkungan dan Desa Yordan merupakan lingkungan VI. PSQI (Piitsburgh Sleep Quality Index)

(22)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Bab ini membahas mengenai teori dan konsep dalam masalah penelitian, sintesa penelitian, kerangka konseptual dan hipotesis.

Hipertensi

Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan gangguan pada sistem peredaran darah yang dapat menyebabkan kenaikan tekanan darah di atas normal yaitu melebihi 140/90 mmHg. Hipertensi dalam bahasa inggrisnya adalah

hypertension. Hypertension berasal dari dua kata yaitu hyper yang berarti tinggi, dan

tension yang berarti tegangan. Ketika dilakukan pemeriksaan tekanan darah

menghasilkan dua angka, yaitu angka yang lebih tinggi dan angka yang lebih rendah. Angka yang lebih tinggi didapat ketika jantung berkontraksi (sistolik), sedangkan angka yang lebih rendah didapatkan ketika jantung berelaksasi (diastolik). Tekanan darah kurang dari 120/80 mmHg dapat diartikan normal. Ketika terjadi tekanan darah tinggi, umumnya terjadi kenaikan tekanan sistolik dan diastolik. Hipertensi umumnya terjadi ketika tekanan darah mencapai 140/90 mmHg atau lebih

(Ridwanaz, 2012).

(23)

untuk dirasakan secara langsung oleh tubuh seseorang. Penyakit ini tidak memiliki gejala awal, tetapi dapat menyebabkan rasa sakit dalam jangka panjang serta komplikasi yang berakibat fatal. Satu-satunya cara untuk mengetahui atau mendeteksi penyakit ini adalah dengan mengukur tekanan darah secara teratur (Yulianto, 2015).

Hipertensi adalah penyakit yang timbul akibat adanya interaksi dari faktor resiko yang dimiliki seseorang. Ada berbagai macam faktor pemicu hipertensi yang dibedakan menjadi faktor tidak dapat dikontrol seperti riwayat keluarga, jenis kelamin, usia, serta faktor yang dapat dikontrol seperti obesitas, kurangnya aktivitas fisik, perilaku merokok, pola konsumsi makanan yang mengandung natrium dan lemak jenuh (Anggraini dkk, 2009).

Penyebab Hipertensi

(24)

Klasifikasi Hipertensi

Hipertensi secara umum terbagi menjadi dua bagian yaitu hipertensi primer dan hipertensi sekunder. Menurut Ridawanaz (2012) hipertensi esensial (hipertensi primer) merupakan jenis hipertensi terbanyak bagi orang dewasa, disebut primer atau esensial atau idiopatik karena penyebabnya tidak diketahui dan hipertensi jenis ini cenderung terjadi secara bertahap selama bertahun-tahun. Hipertensi sekunder merupakan tekanan darah tinggi yang disebabkan oleh kondisi atau penyakit. Hipertensi sekunder cenderung muncul tiba-tiba dan menyebabkan tekanan darah tinggi. Berbagai kondsi penyakit dan obat-obatan yang dapat menyebabkan

hipertensi sekunder diantaranya adalah penyakit ginjal, tumor kelenjar adrenal, cacat pada pembuluh darah sejak lahir (bawaan), obat-obat tertentu seperti pil KB, obat flu, dekongestan, penghilang rasa sakit serta obat-obatan terlarang seperti kokain dan amfetamin.

The Joint National Committee (JNC VII) dalam tabel 2.1 mengklasifikasikan tekanan darah menjadi empat kategori yaitu: normal, prehipertensi, hipertensi derajat I, dan hipertensi derajat II dalam satuan mmHg (Kuswardhani, 2006).

Tabel 2.1 Klasifikasi Tekanan Darah

Kategori Tekanan Tekanan Darah Sistolik

(25)

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Hipertensi

Faktor-faktor yang mempengaruhi hipertensi dibagi menjadi dua faktor yaitu faktor yang tidak dapat dikontrol dan faktor yang dapat dikontrol (Dalimartha, Purnama, Sutarina, Mahendra, & Darmawan, 2008). Faktor yang tidak dapat dikontrol yaitu:

1. Usia

Semakin tua usia seseorang, semakin tinggi peluang untuk hipertensi.

Pertambahan usia mengakibatkan berbagai macam perubahan fisiologis dalam tubuh seperti penebalan dinding arteri akibat penumpukan zat kolagen pada lapisan otot sehingga pembuluh darah berangsur menyempit dan menjadi kaku yang dimulai pada usia 45 tahun (Syukraini, 2009).

2. Jenis kelamin

Pria memiliki resiko lebih besar terkena hipertensi dibandingkan wanita, karena sebelum menopause wanita terlindung dari penyakit kardiovaskular. Wanita yang belum menopause dilindungi oleh hormon estrogen yang berperan dalam meningkatkan kadar High Density Lipoprotein (HDL). Kadar HDL yang tinggi merupakan faktor pelindung dalam mencegah terjadinya proses aterosklerosis. Saat menopause, kadar hormon estrogen mulai berkurang secara alami yang pada umumnya pada wanita usia 46-55 tahun (Anggraini dkk, 2009).

3. Genetik

Tekanan darah tinggi yang disebabkan oleh faktor keturunan dapat

(26)

memiliki riwayat darah tinggi, maka pemeliharaan kesehatan harus lebih

diperhatikan (Husnantiya, 2013). Individu dengan orang tua yang memiliki riwayat hipertensi mempunyai risiko dua kali lebih besar untuk menderita hipertensi daripada individu yang tidak memiliki riwayat hipertensi dalam keluarga (Rohaendi, 2008).

Sedangkan faktor-faktor yang tidak dapat dikontrol yaitu: 1. Obesitas

Berat badan ekstra atau obesitas adalah salah satu penyebab utama tingginya tekanan darah, tetapi risikonya bervariasi antara satu orang dengan yang lainnya. Orang yang memiliki lemak disekitar perut, pinggul, dan paha juga beresiko memiliki tekanan darah tinggi. Kadar lemak yang tinggi dapat menyebabkan penyumbatan pembuluh darah sehingga memacu jantung untuk memompa darah lebih kuat sehingga memicu kenaikan tekanan darah (Rawasiah, Wahiduddin, Rismayanti (2014). Upaya hidup sehat untuk mempertahankan berat badan yang berada dalam taraf normal agar tetap sehat dan menarik sangat diperlukan (Husnantiya, 2013).

2. Konsumsi garam

(27)

3. Konsumsi alkohol

Mengkonsumsi alkohol yang berlebihan akan berdampak buruk bagi tubuh dan kesehatan. Untuk menjaga tekanan darah agar tetap normal , hindarilah alkohol (Husnantiya, 2013). Konsumsi alkohol dapat meningkatkan tekanan darah sistolik maupun diastolik sebanyak 5 – 10 mmHg (Joewana, 2005).

4. Kurang olahraga

Pada umumnya orang yang kurang aktif berolahraga cenderung mengalami kegemukan. Olahraga dapat mencegah obesitas serta mengurangi asupan garam ke dalam tubuh karena saat berolahraga garam akan keluar dari dalam tubuh bersama dengan keringat. Dengan olahraga yang teratur dapat memperlancar peredaran darah sehingga menurunkan tekanan darah (Dalimartha dkk, 2008).

5. Merokok

Dalam sebatang rokok terkandung nikotin dan karbonmonoksida. Zat tersebut alan masuk kedalam aliran darah dan mencapai otak. Otak akan memberikan sinyal ke kelenjar adrenal untuk melepaskan hormon adrenalin. Hormon adrenalin akan menyempitkan pembuluh darah sehingga tekanan akan menjadi lebih tinggi. Gas karbonmonoksida dapat menyebabkan pembuluh darah tegang dan kejang pada otot sehingga tekanan darah akan naik (Rita, 2010). Nikotin meningkatkan penggumpalan dalam pembuluh darah (Dalimartha dkk, 2008).

6. Kafein

(28)

konsumsi kafein yang berlebihan dari batas normal yaitu 400 mg per hari dapat mempengaruhi tekanan darah (Apriyanti, 2012).

7. Kualitas tidur

Kualitas tidur dulunya belum dikenal sebagai penyebab hipertensi karena kebanyakan orang hanya menganggap enteng hal tersebut. Mekanisme biologis yang berperan ialah meningkatnya aktivitas sistem saraf simpatis saat tidur akibat

penurunan kadar oksigen dan episode bangun singkat. Hal ini mengakibatkan rusaknya pembuluh darah serta meningkatnya tekanan pada aliran darah sehingga menyebabkan hipertensi (Candra, 2012). Javaheri dkk (2008) mengatakan bahwa pencegahan hipertensi harus diberi perhatian khusus terhadap kualitas tidur yaitu dengan mengoptimalisasi waktu tidur juga sangat penting selain memodifikasi gaya hidup, berolahraga, dan pengaturan diet akan mengurangi resiko hipertensi dan meningkatkan kesehatan masyarakat.

Tanda dan Gejala

Hipertensi tidak memberikan gejala yang khas, sebagian gejala klinis timbul setelah bertahun-tahun mengalami hipertensi. Gejala yang dapat dirasakan penderita yaitu nyeri kepala, kadang disertai mual muntah akibat peningkatan tekanan

(29)

Patofisiologi

Mekanisme terjadinya hipertensi ialah melalui renin yang diproduksi di ginjal. Renin disekresikan ke pembuluh darah yang fungsinya untuk mengaktifkan zat yang dihasilkan oleh hati yaitu Angiotensinogen menjadi Angiotensin I. Angiotensin I akan diubah menjadi Angiotensin II oleh suatu enzim yaitu Angiotensin Converting Enzym

(ACE) yang dihasilkan di paru-paru.

Angiotensin II memiliki peranan kunci dalam menaikkan tekanan darah melalui dua aksi. Aksi pertama yang dapat meningkatkan tekanan darah yaitu dengan

Vasokonstriksi pembuluh darah. Aksi yang kedua yaitu dengan cara meningkatkan sekresi Aldosteron oleh korteks adrenal (zona glomerulosa) yang berfungsi

meningkatkan retensi (penarikan) air di ginjal, menarik natrium, mensekresi kalium sehingga dapat meningkatkan tekanan darah (Anggraini dkk, 2009).

Komplikasi Hipertensi

(30)

Kualitas Tidur

Kualitas tidur adalah suatu keadaan dimana tidur yang dijalani seorang individu menghasilkan kesegaran dan kebugaran ketika terbangun. Kualitas tidur mencakup aspek kuantitatif seperti durasi tidur, latensi tidur, serta aspek subjektif seperti tidur dan istirahat (Siregar, 2011). Meski tidur merupakan kegiatan yang menyenangkan bagi kebanyakan orang, ada orang yang merasa sulit tidur saat malam hari, walau berniat untuk tidur, tapi mata tidak bisa terpejam dan tidak ada rasa kantuk. Masalah tidur tidak senantiasa merujuk pada situasi seseorang itu susah untuk tidur, tetapi juga merasa mengantuk walaupun tidur selama 8 jam atau lebih, sering terjaga terlalu awal, sering terkantuk-kantuk walaupun berada dalam

lingkungan ramai. Kurang tidur dapat mengakibatkan pengaruh negatif pada tubuh. Kualitas tidur yang kurang baik juga bisa berpengaruh pada psikologis dan fisik atau gabungan keduanya (Bank & Dinges, 2007).

Kualitas tidur seseorang dikatakan baik apabila tidak menunjukan tanda-tanda kekurangan tidur dan tidak mengalami masalah dalam tidurnya. Tanda-tanda

kekurangan tidur dapat dibedakan menjadi tanda fisik dan tanda psikologis. Tanda-tanda fisik akibat kekurangan tidur antara lain ekspresi wajah (area gelap disekitar mata, bengkak di kelopak mata, konjungtiva kemerahan dan mata terlihat cekung), kantuk yang berlebihan, tidak mampu berkonsentrasi, terlihat tanda-tanda keletihan. Sedangkan tanda-tanda psikologis antara lain menarik diri, apatis, merasa tidak enak badan, malas, daya ingat menurun, bingung, halusinasi, ilusi penglihatan dan

(31)

kualitas tidur secara keselurahan dapat dinilai melalui kuantitas dan proses selama tidur dan dapat dilihat melalui tujuh komponen yaitu:

1. Subjektif tidur yaitu penilaian subjektif diri sendiri terhadap kualitas tidur yang

dimiliki, adanya perasaan terganggu dan tidak nyaman pada diri sendiri yang berperan terhadap penilaian kualitas tidur.

2. Latensi tidur yaitu berapa waktu yang dibutuhkan sehingga dapat tertidur. 3. Efisiensi tidur yaitu presentase kebutuhan tidur manusia, dengan menilai jam

tidur dan durasi tidur.

4. Penggunaan obat tidur dapat menandakan seberapa berat gangguan tidur yang dialaminya, karena penggunaan obat tidur diindikasikan apabila seseorang sudah sangat terganggu pola tidurnya dan penggunaan obat tidur diperlukan untuk membantu tidur.

5. Gangguan tidur seperti mengorok (mendengkur), gangguan pergerakan, sering

terbangun untuk ke kamar mandi, dan mimpi buruk. Hal itu dapat mengganggu proses tidur manusia.

6. Daytime disfunction atau adanya gangguan pada kegiatan sehari-hari yang diakibatkan oleh perasaan mengantuk.

7. Durasi tidur dapat dinilai dari waktu memulai tidur sampai waktu bangun tidur.

(32)

Kualitas tidur yang baik dapat mencegah kejadian hipertensi. Menurut penelitian Gangwisch dkk (2006) “Short Sleep Duration as a Risk Factor for

Hypertension” menyatakan bahwa apabila terjadi kekurangan waktu untuk tidur akan

secara akut menaikan tekanan darah dan mengaktivasi sistem saraf simpatis yang dalam jangka waktu lama hal tersebut akan memicu terjadinya hipertensi.

Tidur

Tidur adalah hal yang penting dan merupakan kebutuhan bagi semua orang. Tidur merupakan suatu keadaan yang ditandai dengan penurunan kesadaran, berkurangnya aktivitas pada otot rangka dan penurunan metabolisme (Harkreader, Hogan, & Thobaben, 2007).

Tidur memungkinkan tubuh manusia untuk memperbaharui diri. Produk-produk sampah dibuang, kemudian mengalami perbaikan, semua enzim dilengkapi kembali dan energy dipulihkan. Tidur juga membantu dalam penyembuhan dari luka, infeksi dan serangan lain pada tubuh, termasuk stress dan tekanan emosional serta memperkuat sistem pertahanan tubuh dan melindungi tubuh dari penyakit dan istirahat yang benar dapat menambah panjangnya kehidupan (Ludington & Diehl, 2011).

Fisiologi Tidur

(33)

seluruh tingkatan kegiatan susunan saraf pusat, termasuk pengaturan kewaspadaan dan tidur (Hidayat, 2008).

Pusat pengaturan aktivasi kewaspadaan dan tidur terletak dalam mesensefalon dan bagian atas pons. Dalam keadaan sadar, neuron dalam RAS (Reticular Activating System) akan melepas katekolamin seperti norepineprin. Selain itu, RAS yang dapat memberikan rangsangan visual, pendengaran, nyeri, dan perabaan, juga dapat

menerima stimulasi dari korteks serebri termasuk rangsangan emosi dan proses pikir. Saat tidur terdapat pelepasan serum serotonin dari sel khusus yang berada di pons dan batang otak tengah, yaitu BSR (Bulbar Synchronizing Regional). Sedangkan pada saat bangun bergantung dari keseimbangan impuls yang diterima di pusat otak dan sistem limbic. Dengan demikian, sistem pada batang otak yang mengatur siklus atau perubahan dalam tidur adalah RAS dan BSR (Hidayat, 2008).

Potter &Perry (2005) menjelaskan bahwa seseorang dapat tetap terjaga atau tertidur sepanjang malam tergantung pada keseimbangan impuls yang diterima dari pusat lebih tinggi seperti pikiran, reseptor sensori perifer seperti stimulus bunyi atau cahaya, dan sistem limbik seperti emosi. Ketika seseorang yang mencoba tertidur maka stimulus ke RAS akan menurun dan dengan suasana ruangan yang gelap dan tenang maka aktivasi RAS akan menurun, BSR mengambil alih kemudian seseorang bisa tertidur.

Irama Sirkadian dan Kelenjar Pineal

Dalam proses tidur seseorang terdapat hormon melatonin yang berfungsi menjaga irama sirkadian. Menurut Fitri (2013), kelenjar pineal berfungsi

(34)

sesuai siklus terang gelap. Jam biologis utama akan diatur oleh nukleus supramatikus (SCN) yang akan membentuk siklus dan menyeimbangkan antara sinyal eksternal dan internal tubuh manusia. Ketidakrelevannya jam internal dan lingkungan luar

akan mengakibatkan ‘jet lag’ ketika iramanya tidak teratur.

Makhluk hidup memiliki bioritme (jam biologis) yang berbeda. Bioritme pada manusia dikontrol oleh tubuh dan disesuaikan dengan faktor lingkungan (misalnya: cahaya, kegelapan, gravitasi, dan stimulus elekromagnetik). Bentuk bioritme yang paling umum adalah ritme sirkadian yang melengkapi siklus selama 24 jam. Fluktuasi denyut jantung, tekanan darah, temperatur, sekresi hormon,

metabolisme, dan penampilan serta perasaan individu bergantung pada ritme sirkadiannya (Fitri, 2013).

Irama sirkadian, termasuk siklus tidur-bangun harian yang dipengaruhi oleh cahaya dan suhu serta faktor-faktor eksternal seperti aktivitas sosial dan rutinitas pekerjaan (Potter & Perry, 2005). Tidur adalah salah satu irama biologis tubuh yang sangat kompleks. Sinkronasi sirkadian terjadi jika individu memiliki pola tidur bangun mengikuti jam biologisnya. Individu akan bangun saat ritme fisiologisnya paling tinggi atau paling aktif dan akan tidur saat ritme tersebut paling rendah (Annisa, 2013). Jika siklus tidur-bangun seseorang berubah secara bermakna, maka akan menghasilkan kualitas tidur yang buruk (Potter & Perry, 2005).

(35)

tidak terdeteksi. Selama jam ketiga dan kelima waktu tidur, terjadi peningkatan sekresi kortisol, tetapi waktu sekresi maksimal dimulai pada masa tidur jam keenam sampai jam kedelapan dan kemudian mulai menurun setelah bangun tidur. Sekitar setengah dari keluarnya kortisol harian disekresikan pada saat ini (Fitri, 2013).

Tahapan Tidur

Menurut Patlak (2005), tidur dibagi menjadi dua fase yaitu REM (Rapid Eye Movement) atau pergerakan mata yang cepat dan NREM (Non-Rapid Eye

Movement) atau pergerakan mata yang tidak cepat. Tidur diawali dengan fase NREM yang terdiri dari empat stadium, yaitu tidur stadium satu, tidur stasium dua, tidur stadium tiga dan tidur stadium empat, lalu diikuti oleh fase REM. Fase NREM dan REM terjadi secara bergantian sekitar 4-6 siklus dalam semalam tergantung pada jumlah waktu yang digunakan orang tersebut untuk tertidur (Potter & Perry, 2005).

1. Tidur stadium satu

Pada tahap ini seseorang akan mengalami tidur yang dangkal dan dapat terbangun dengan mudah oleh karena suara atau gangguan lain. Selama tahap pertama tidur, mata akan bergerak perlahan-lahan, dan aktivitas otot melambat (Patlak, 2005).

2. Tidur stadium dua

(36)

3. Tidur stadium tiga

Tahap ini lebih dalam dari tahap sebelumnya. Pada tahap ini individu sulit untuk dibangunkan, dan jika terbangun, individu sulit untuk menyesuaikan diri dan sering merasa bingung selama beberapa menit (Smith & Segal, 2010).

4. Tidur stadium empat

Tahap ini merupakan tahap tidur yang paling dalam. Gelombang otak sangat lambat. Aliran darah diarahkan jauh dari otak dan menuju otot, untuk memulihkan energi fisik (Smith & Segal, 2010).

Tahap tiga dan empat dianggap sebagai tidur dalam atau deep sleep, dan tahap ini adalah bagian dari tidur yang diperlukan untuk merasa cukup istirahat dan energik di siang hari (Patlak, 2005).

Rapid Eye Movement (REM) adalah tahap tidur yang melibatkan gerakan mata yang cepat dan yang paling erat terkait dengan periode bermimpi. Karakteristik tidur REM meliputi matanya akan terbuka dan tertutup, kejang pada otot kecil dan otot besar imobilisasi, pernapasan tidak teratur dengan baik, nadinya lebih cepat dan tidak teratur, tekanan darah meningkat, suhu tubuh meningkat dan sulit untuk dibangunkan. Hal itu berlangsung sekitar 10 menit pada tahap pertama dan tahap terakhir berlangsung sekitar 1 jam (Alimul, 2009).

Kebutuhan Tidur Manusia

(37)

Tabel 2.2 Kebutuhan tidur manusia

Usia Tingkat Perkembangan Jumlah Kebutuhan

0-1 bulan

Masa muda paruh baya Masa dewasa tua

Ada banyak hal yang dapat mengganggu tidur seseorang yang membuat kualitas tidur seseorang menjadi buruk dan hal tersebut disebut gangguan tidur. Gangguan tidur tersebut yaitu:

1. Insomnia

Gangguan tidur yang satu ini sudah sering muncul dikalangan orang banyak. Insomnia adalah gangguan tidur dimana seseorang sangat sulit untuk tidur dan ketika terbangun dimalam hari sulit untuk memulai tidur kembali sekalipun mempunyai kesempatan untuk tidur. Hal ini menyebabkan tidur tidak berkualitas (American Pillo, 2015 & Nadzifah, 2014). Penderita insomnia akan mengeluhkan rasa kantuk yang berlebihan disiang hari dan kuantitas serta kualitas tidur tidak cukup (Potter & Perry, 2005).

2. Parasomnia

(38)

3. Apnea tidur

Apnea tidur adalah gangguan tidur yang dicirikan dengan kurangnya aliran udara melalui hidung dan mulut selama periode 10 detik. Bentuk apnea tidur yang sering terjadi ialah apnea tidur obstruktif (obstructive sleep apnea, OSA) (Potter & Perry, 2005). Kapa, Kuniyoshi, & Somers (2008) mengatakan bahwa apnea tidur ada hubungannya dengan hipertensi.

4. Narkolepsi

Narkolepsi dikenal juga sebagai serangan tidur karena bila seseorang mengalami gangguan tidur ini, mereka akan sulit untuk mempertahankan keadaan sadar. Narkolepsi merupakan dorongan tidur yang sangat besar (Ginintasasi, 2010).

Hubungan Kualitas Tidur dengan Kejadian Hipertensi

Kualitas tidur dapat mempengaruhi kesehatan seseorang. Akan ada berbagai penyakit yang disebabkan karena tidak memiliki tidur yang berkualitas. Kualitas tidur dapat dilihat melalui tujuh komponen yaitu: subyektif tidur, latensi tidur, efisiensi tidur, pengguaan obat tidur, gangguan tidur, daytime disfunction, dan durasi tidur (Fitri, 2013). Salah satu aspek yang mempengaruhi kualitas tidur yaitu kurang tidur. Menurut Apiin (2012), kurang tidur dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan seperti hipertensi, stroke ,dan diabetes. Kualitas tidur yang buruk akan meningkatkan hormon kortisol.

(39)

mempengaruhi metabolisme karbohidrat, protein, dan lemak; sebagai anti inflamasi; mempertahankan tekanan darah; memperlambat kerja insulin dan memicu terjadinya glikogenesis di hati (Biomedika, 2012).

Ketika kualitas tidur buruk, sistem tidur dan bangun akan terganggu sehingga terjadi ketidakseimbangan dan peningkatan hormon kortisol sehingga memicu terjadinya peningkatan tekanan darah melalui dua aksi. Redline & Foody (2008) mengatakan bahwa kualitas dan kuantitas tidur dapat mempengaruhi proses hemostasis dan bila proses ini terganggu, dapat menjadi salah satu faktor meningkatnya resiko penyakit kardiovaskular. Aksi yang pertama hormon kortisol akan memicu hormon katekolamin yang terdiri dari epinefrin dan norepinefrin yang berfungsi untuk

merangsang sistem saraf simpatis yang mengontrol hampir sebagian pembuluh darah dalam tubuh sehingga terjadi vasokonstriksi yang menyebabkan tekanan darah

meningkat. Aksi yang kedua hormon kortisol memicu hormon mineralokortikoid yaitu aldosteron yang akan mempengaruhi aktivasi renin yang akan mengaktivasi sistem renin angiotensin aldosteron (SRAA) sehingga terjadi peningkatan tekanan darah (Fitri, 2013).

Dalam penelitian yang dilakukan oleh Fitri (2013), didapati bahwa ada hubungan yang signifikan kualitas tidur dengan kejadian hipertensi (0.003 < 0.05). Tetapi menurut penelitian yang dilakukan oleh Pitaloka, Utami, dan Novayelinda (2015) menyatakan bahwa kualitas tidur dengan kejadian hipertensi tidak memiliki hubungan yang signifikan yang menjelaskan bahwa penyebab tidak adanya hubungan karena ada faktor lain seperti gaya hidup, kecemasan, stres, dan kebiasaan merokok.

(40)

Usia

Seiring bertambahnya usia seseorang mengakibatkan berbagai perubahan fisiologis dalam tubuh karena semakin berkurangnya elastisitas arteri yang menjadi lebih keras dan kaku (Kadulli, 2011). Usia juga dapat mempengaruhi kualitas tidur seseorang yang disebabkan karena berbagai hal, salah satu faktor penyebabnya ialah gangguan tidur (JPNN, 2015).

Prevalensi hipertensi semakin meningkat pada usia lanjut yaitu sekitar 40 % dengan kematian 50 % diatas usia 60 tahun. Pertambahan usia mengakibatkan arteri kehilangan elastisitas atau kelenturan serta tekanan darah meningkat. Sebenarnya wajar bila tekanan darah sedikit meningkat dengan bertambahnya usia. Hal ini disebabkan oleh perubahan alami jantung, pembuluh darah dan hormon. Tetapi bila perubahan tersebut disertai dengan faktor-faktor lain maka bisa memicu terjadinya hipertensi (Izzo, Joseph, Sica, Domenic, & Black, 2008).

Tabel 2.3 Kategori umur atau usia

Tingkat perkembangan Usia

Masa balita Sumber: Depkes RI (Hardiwinoto, 2011).

(41)

fungsi kardiovaskuler. Seiring bertambahnya usia ventrikel kiri dan katub jantung menebal serta elastisitas pembuluh darah menurun (Mauk, 2006).

Dalam penelitian Syukraini (2009) menunjukkan dalam hasil bivariat dengan

Chi-Squaretest antara variabel usia dengan kondisi tekanan darah menunjukkan keduanya bermakna secara statistik (0.000 < 0.05), sehingga dapat disimpulkan bahwa faktor usia berhubungan dengan kejadian hipertensi. Hal ini juga berarti bahwa seiring bertambahnya usia berisiko untuk hipertensi. Tetapi menurut

penelitian yang dilakukan oleh Noegroho, Suriadi, & Nurfianti (2014) menyatakan bahwa usia dengan kejadian hipertensi tidak memiliki hubungan yang signifikan.

Jenis Kelamin

Hipertensi banyak ditemukan pada laki-laki dewasa muda dan paru baya. Sebaliknya, hipertensi sering terjadi pada sebagian besar wanita setelah berusia 55 tahun atau yang mengalami menopause (Sutomo, 2009).

Prevalensi terjadinya hipertensi pada pria hampir sama dengan wanita. Namun wanita terlindung dari penyakit kardiovaskular sebelum menopause. Wanita yang belum mengalami menopause dilindungi oleh hormon estrogen yang berperan dalam meningkatkan kadar High Density Lipoprotein, kadar HDL yang tinggi

(42)

Dalam penelitian dengan judul “Gender-Specific Associations of Short Sleep

Duration With Prevalent and Incident Hypertension” yang dilakukan oleh

Cappucino dkk (2007) yang dipublikasikan pada AHA Journal, didapati bahwa terdapat hubungan yang spesifik kualitas tidur dengan kejadian hipertensi dilihat dari faktor jenis kelamin. Dijelaskan bahwa terjadi resiko yang lebih besar pada wanita dalam keadaan menopause. Tetapi menurut penelitian yang dilakukan oleh Haendra, Anggara, & Prayitno (2013) menunjukan bahwa jenis kelamin tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian hipertensi.

Sintesis Penelitian

Hipertensi atau yang lebih sering dikenal dengan tekanan darah tinggi merupakan kenaikan tekanan darah dalam diatas normal yaitu melebihi 140/90 mmHg. Faktor-faktor yang menyebabkan hipertensi dibagi menjadi dua bagian yaitu faktor yang tidak dapat dikontrol dan faktor yang tidak dapat dikontrol.

Seiring bertambahnya usia seseorang mengakibatkan berbagai perubahan fisiologis dalam tubuh karena semakin berkurangnya elastisitas arteri sehingga menjadi lebih keras dan kaku. Usia juga dapat mempengaruhi kualitas tidur seseorang yang disebabkan karena berbagai hal, salah satunya gangguan tidur.

Prevalensi hipertensi pada pria hampir sama dengan wanita. Sebelum menopause wanita dilindungi oleh hormon estrogen yang berperan dalam

meningkatkan kadar High Density Lipoprotein (HDL) untuk mencegah terjadinya proses arterosklerosis sehingga wanita terlindung dari penyakit kardiovaskuler.

(43)

seseorang dikatakan baik apabila tidak menunjukan tanda-tanda kekurangan tidur dan tidak mengalami masalah dalam tidurnya. Kualitas tidur dapat dilihat melalui tujuh komponen yaitu subjektif tidur, latensi tidur, efisiensi tidur, penggunaan obat tidur, gangguan tidur, daytime disfunction, dan durasi tidur.

Ketika kualitas tidur buruk, sistem tidur dan bangun akan terganggu sehingga terjadi ketidakseimbangan dan peningkatan hormon kortisol sehingga memicu terjadinya peningkatan tekanan darah melalui dua aksi. Aksi yang pertama hormon kortisol akan memicu hormon katekolamin yang terdiri dari epinefrin dan norepinefrin yang berfungsi untuk merangsang sistem saraf simpatis yang

(44)

Kerangka Konseptual Dalam penelitian ini variabel-variabel yang diteliti adalah: 1. Variabel Independen Kualitas Tidur

Kualitas tidur adalah karakter tidur yang penting yang diperlihatkan oleh individu. Kualitas tidur merupakan penilaian individu mengenai kenyenyakan tidur dan persepsi tentang pergerakan selama tidur (Sahara, 2016).

2. Variabel Dependen Hipertensi

Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah suatu gangguan pada pembuluh darah yang mengakibatkan suplai oksigen dan nutrisi yang dibawa oleh darah terhambat sampai ke jaringan tubuh yang membutuhkannya, sehingga tubuh akan bereaksi lapar yang mengakibatkan jantung harus bekerja lebih keras untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Bila kondisi tersebut berlangsung lama dan menetap, maka dapat menyebabkan gejala yang disebut dengan tekanan darah tinggi (Solung, 2012).

3. Variabel moderator Usia dan Jenis Kelamin

Resiko tekanan darah tinggi atau hipertensi meningkat sesuai pertambahan usia. Pada usia 45 tahun, tekanan darah tinggi lebih sering terjadi pada laki-laki. Pada wanita resiko lebih tinggi pada usia > 65 tahun (Mayo Clinic, 2015).

(45)

Berdasarkan konsep-konsep yang ada maka kerangka konseptual dalam penelitian ini adalah:

Independen variable Dependen variable

Moderator variable

Gambar 3.1 Kerangka konseptual

Pernyataan Hipotesa

Ho1: Tidak ada hubungan yang signifikan kualitas tidur dengan kejadian hipertensi di Desa Yordan Kelurahan Airmadidi Bawah

Ho2: Tidak ada hubungan yang signifikan kualitas tidur dengan kejadian hipertensi di Desa Yordan Kelurahan Airmadidi Bawah bila faktor usia diikutsertakan.

Ho3: Tidak ada hubungan yang signifikan kualitas tidur dengan kejadian hipertensi di Desa Yordan Kelurahan Airmadidi Bawah bila faktor jenis kelamin

diikutsertakan.

Kualitas tidur Kejadian hipertensi

A. Usia

(46)

BAB III

METODE PENELITIAN

Dalam bab ini dibahas tentang desain penelitian, subjek dan partisipan dalam penelitian, sampling dan subjek lokasi, instrument penelitian, penggunaan statistik dan analisa data, lokasi pengumpulan data, pertimbangan etika dalam penelitian, prosedur pengumpulan data dan alur perencanaan pengumpulan data.

Desain Penelitian

Desain penelitian merupakan bentuk rancangan yang digunakan dalam pelaksanaan prosedur penelitian (Hidayat, 2008). Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini ialah deskriptif korelasi dengan pendekatan studi potong lintang

(Cross-sectional). Penelitian korelasional bertujuan untuk mendapatkan gambaran tentang hubungan antara dua atau lebih variabel penelitian di mana peneliti dapat menarik kesimpulan dari permasalahan yang diteliti apakah ada hubungan yang signifikan atau tidak signifikan. Desain deskriptif korelasi adalah desain penelitian yang bertujuan untuk mengetahui hubungan yang terjadi sesaat, tanpa perlu

kelompok kontrol atau uji coba (Suyanto, 2011).

Pendekatan penelitian ini adalah studi potong lintang (Cross-sectional) yaitu studi di mana peneliti hanya melakukan observasi dan pengukuran variabel pada satu saat tertentu saja tanpa dilakukan tindak lanjut atau pengulangan pengukuran

(47)

Menurut Setiadi (2013) variabel adalah karakteristik yang diamati yang mempunyai variasi nilai dan merupakan operasionalisasi dari suatu konsep agar dapat diteliti secara empiris atau ditentukan tingkatannya. Variabel dalam penelitian ini dibagi tiga yaitu variabel terikat (dependent variable), variabel bebas

(independent variable), variabel perantara (moderate variable). Variabel bebas dalam penelitian ini yaitu kualitas tidur, variabel terikat yaitu kejadian hipertensi, dan variabel perantara yaitu usia dan jenis kelamin.

Sampling dan Subyek Alokasi

Sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling, yaitu teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu sesuai yang

dikehendaki peneliti (Setiadi, 2013). Yang menjadi sampel dalam penelitian ini adalah individu yang tinggal di Desa Yordan Kelurahan Airmadidi Bawah dengan jumlah populasi individu yang memiliki riwayat hipertensi 173 jiwa. Perhitungan besar sampel yang akan digunakan pada penelitian ini dihitung berdasarkan rumus dalam Nursalam (2008).

𝑛 = N. z² p. q

d² (N − 1) + z². p. q

𝑛 =(0.05) (173 − 1) + (1.96)173 (1.96)2 . 0.5 . 0.52 . 0.5 . 0.5

= 53 𝑟𝑒𝑠𝑝𝑜𝑛𝑑𝑒𝑛 Keterangan:

n = Perkiraan besar sampel N = Perkiraan besar populasi

(48)

p = Perkiraan proporsi, jika tidak diketahui dianggap 50% q = 1 – p (100% - p)

d = Tingkat kesalahan yang dipilih (d = 0.05)

Subyek dan Responden dalam Penelitian

Subyek dan responden dalam penelitian merupakan suatu populasi yang menunjuk kepada sekelompok subyek yang menjadi objek atau sasaran dalam penelitian (Lumentut, Purnawinadi, Tambaru, Tallupadang, & Lumataw 2010). Jumlah responden dalam penelitian ini ialah 53 responden dan yang menjadi subyek dalam hal ini meliputi:

Inklusi

Dalam hal ini individu yang tinggal di Desa Yordan Kelurahan Airmadidi Bawah dengan kriteria: memiliki riwayat hipertensi >120/80 mmHg, berusia 18-65 tahun, jenis kelamin laki-laki dan perempuan, memiliki riwayat hipertensi, serta individu yang bersedia menandatangani surat persetujuan (informed consent). Ekslusi

(49)

Instrumen Penelitian

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah sphygmomanometer dan stetoskop untuk mengukur tekanan darah serta kuesioner untuk mengetahui kualitas tidur responden. Kuesioner yang digunakan oleh peneliti dalam

pengumpulan data diadopsi dari kuesioner Pittsburgh University yaitu kuesioner The Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI).

Pittsburgh Sleep Quality Index merupakan kuesioner yang efektif digunakan untuk mengukur kualitas tidur pada orang dewasa. Kuesioner ini terbagi 2 bagian yaitu yang pertama merupakan data responden dan hasil pengukuran tekanan darah dan kedua adalah kuesioner PSQI untuk mengetahui kualitas tidur responden. Kuesioner PSQI mengukur tujuh komponen kualitas tidur yaitu kualitas tidur

subyektif, latensi tidur, durasi tidur, efisiensi tidur, gangguan tidur, penggunaan obat tidur serta aktifitas sehari-hari yang terkait dengan tidur. Penilaian jawaban

berdasarkan skala likert dari 0-3, dimana skor 3 menggambarkan hal negatif. Pengkategorian kualitas tidur terbagi menjadi 2 bagian, yaitu kualitas tidur baik dan kualitas tidur buruk. Rentang jumlah skor PSQI adalah 0-21 dari ketujuh

komponennya. Kualitas tidur dikatakan baik apabila jumlah skor penilaian ≤ 5, sedangkan kualitas tidur dikatakan buruk apabila jumlah skor penilaian > 5

(Lukitaningtyas, 2015). Kuesioner PSQI telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia serta telah diuji validitas dan reliabilitasnya oleh para ahli dengan hasil Alpha

Cronbach’s 0.753 (Safitrie & Ardani, 2013).

(50)

pengukuran dikategorikan hipertensi bila tekanan darah ≥140/≥90 mmHg,

prehipertensi 130-139/>80-89 mmHg.

Tabel 2.5 Skala Likert dalam penilaian kualitas tidur

No Interval persentase Kriteria

0

Penggunaan Statistik dalam Proses Analisa Data

Analisis data dalam penelitian ini terbagi dua yaitu analisis univariat dan analisis bivariat. Menurut Fitri (2013), analisis univariat dilakukan untuk melihat gambaran distribusi frekuensi pada variabel independen (variabel bebas) dan variabel dependen (variabel terikat) yang diteliti. Variabel independen adalah kualitas tidur, sedangkan variabel dependen yaitu kejadian hipertensi. Sedangkan analisis bivariat dilakukan untuk melihat adanya hubungan antara variabel bebas (variabel

independen) dengan variabel terikat (variabel dependen) dan untuk melihat kemaknaan antara variabel. Uji statistik yang digunakan adalah Chi-Square yang diolah menggunakan Statistic Product and Service Solution (SPSS) dengan memenuhi syarat uji Chi-Squareyaitu menggunakan derajat kemaknaan α = 0.05

(derajat kepercayaan 95 %). Bila didapatkan pvalue ≤ 0.05 maka hasil uji statistik

(51)

Untuk menjawab penyataan masalah pertama dan kedua tentang bagaimana kualitas tidur serta bagaimana kejadian hipertensi di Desa Yordan Kelurahan Airmadidi Bawah, peneliti menggunakan perhitungan persentase statistik yaitu berapa persen (%) masyarakat yang memiliki kualitas tidur baik dan kualitas tidur yang buruk serta berapa persen (%) masyarakat yang hipertensi dan prehipertensi dengan rumus:

𝑃 =𝑁 𝑥 100%𝑓

Keterangan:

P : Persentase

f : Frekuensi

N : Responden

Untuk menjawab masalah penelitian H01, H02, dan H03 yaitu untuk

mengetahui adanya hubungan yang signifikan antara kualitas tidur dengan kejadian hipertensi maka peneliti menggunakan rumus Chi Square (X2), dimana uji ini dapat dipakai untuk tingkatan pengukuran nominal dan digunakan untuk menyampaikan adanya atau tidak adanya hubungan antara variabel yang diteliti (Hidayat, 2013).

Chi Square (X2)

𝑥² = ∑ ∑(𝑛𝑖𝑗− 𝐸𝑖𝑗)²𝐸𝑖𝑗 𝑘

𝑗=𝑙 𝑏

(52)

nij = Jumlah observasi untuk kasus-kasus yang dikategorikan dalam baris ke-I dan kolom ke-j.

Eij = Banyak kasus yang diharapkan untuk dikategorikan dalam baris ke-I dan kolom ke-j.

Dalam taraf nyata α = 0.05 derajat kebebasan untuk distribusi Chi Square

adalah (b-1)(k-1), maka tolak H0 bila angka signifikan < 0,05.

Adapun setelah penggunaan uji statistik Chi Square maka kemudian

dilakukan uji statistik Contingency Coefficient untuk mengetahui kadar asosiasi atau relasi antara dua perangkat atribut. Apakah berlaku pada populasinya (Hidayat, 2013), dimana rumusnya adalah:

Contingency Coefficient

𝐶 = √𝑋²ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 + 𝑁𝑋²ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔

Keterangan:

C = Contingency Coefficient

X2 = Hasil perhitungan Chi Square

N = Banyak data

Untuk mengetahui keeratan hubungan, digunakan ketentuan-ketentuan Sujarweni (2014):

1. 1 berarti keeratan sempurna

(53)

4. 0.41-0.70 berarti keeratan kuat 5. 0.21-0.40 berarti keertan lemah

6. 0.00-0.20 berarti keeratan sangat lemah

Proses Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini berupa pemberian kuesioner untuk diisi oleh responden berupa daftar pertanyaan yang telah disusun untuk memperoleh data sesuai yang diinginkan peneliti. Selain memberikan kuesioner, peneliti juga melakukan observasi tekanan darah responden.

Langkah-langkah pengumpulan data dimulai dengan menyusun materi yang telah disiapkan, kemudian peneliti menyiapkan surat permohonan izin dari Dekan Fakultas Ilmu Keperawatan kepada Kepala Kelurahan Airmadidi Bawah untuk izin melaksanakan penelitian dan melakukan studi pendahuluan. Setelah itu dilakukan proses pengumpulan data dimulai dengan peneliti mencari responden melalui kepala lingkungan Desa Yordan Kelurahan Airmadidi Bawah, kemudian peneliti melakukan kunjungan ke rumah responden dan memperkenalkan diri, menjelaskan prosedur dan tujuan penelitian. Kunjungan dilakukan mulai pukul 07.00 sampai 10.00. Pengukuran tekanan darah yang pertama dilakukan pada tanggal 28, 29 & 31 Januari dan tanggal 1, 2, 3 Februari 2016. Kemudian pengukuran tekanan darah yang kedua pada

responden yang sama dilakukan pada tanggal 4 & 5 Februari dan tanggal 7, 8, & 9 Februari 2016. Dalam satu hari peneliti mengukur tekanan darah dan membagikan kuesioner pada 12 responden.

Setelah bertemu dengan responden peneliti meminta persetujuan dari

(54)

keikutsertaan responden dalam proses penelitian. Setelah responden mengisi lembar

informed consent, peneliti mengukur tekanan darah responden kemudian dilanjutkan dengan memberikan kuesioner untuk mengkaji kualitas tidur yang akan diisi oleh responden. Setelah pengumpulan data terakhir, peneliti mengucapkan terima kasih kepada responden yang telah bersedia menjadi subyek dalam pengumpulan data.

Lokasi dan Waktu Penelitian

Lokasi atau tempat yang dipilih peneliti untuk diteliti adalah Desa Yordan Kelurahan Airmadidi Bawah yang berada di Kabupaten Minahasa Utara. Penelitian ini dilakukan selama 1 bulan dimulai pada akhir bulan Januari 2016 sampai awal Februari 2016.

Pertimbangan Etika Dalam Penelitian

Dalam melakukan sebuah penelitian harus mempertimbangkan etika, guna menghormati harkat kemanusiaan, privasi dan hak objek penelitian tersebut.

Pertimbangan etika dalam penelitian ini adalah dengan memperoleh surat pengantar dari Dekan Fakultas Ilmu Keperawatan lalu diteruskan kepada Kepala Kelurahan Airmadidi Bawah.

(55)

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pada bab ini membahas tentang hasil dari analisa data penelitian tentang hubungan kualitas tidur dengan kejadian hipertensi di Desa Yordan Kelurahan Airmadidi Bawah dan membahas tentang uji hipotesa dengan interpretasi data yang telah diolah melalui program statistik untuk menjawab pernyataan masalah.

Karakteristik Demografi Responden

Bagian ini membahas tentang profil responden serta distribusi grafik usia dan jenis kelamin.

Usia

Responden dalam penelitian ini berusia 18-65 tahun yang tinggal di Desa Yordan Kelurahan Airmadidi Bawah dengan usia rata-rata 36-45 tahun. Gambar 4.1 menunjukan bahwa terdapat 8 responden yang berusia 18-25 tahun (15.1 %), 9

(56)

Gambar 4.1 Presentase Usia

Jenis Kelamin

Dalam kategori jenis kelamin, dari total 53 responden, terdapat 27 (50.9 %) responden laki-laki dan 26 (49.1 %) responden perempuan.

Gambar 4.2 Presentase Jenis Kelamin

15.1% 18-25 tahun

17% 26-35 tahun

30.2% 36-45 tahun 17 %

46-55 tahun 20.8 %

56-65 tahun 18-25 tahun

26-35 tahun

36-45 tahun

46-55 tahun

56-65 tahun

50.9% 49.1%

Laki-laki

(57)

Kualitas Tidur Individu di Desa Yordan Kelurahan Airmadidi Bawah

Gambar 4.3 Distribusi Responden Menurut Kualitas Tidur Pada gambar 4.3 menunjukan bahwa dari 53 responden, yang paling banyak ialah responden yang memiliki kualitas tidur buruk yaitu 37 orang (69.8%)

dibandingkan dengan responden yang memiliki kualitas tidur baik yaitu 16 orang (30.2%). Hal ini mengindikasikan bahwa mayoritas responden yang ada di Desa Yordan Kelurahan Airmadidi Bawah memiliki kualitas tidur yang buruk. Kualitas tidur buruk lebih banyak karena didapati individu di Desa Yordan Kelurahan

Airmadidi Bawah sebagian besar mengeluh tidur kurang dari 7 jam, sering terbangun ditengah malam dan sulit untuk memulai tidur kembali, terbangun ditengah malam untuk ke kamar mandi, nyeri kepala, dan mengantuk disiang hari.

Kualitas tidur yang buruk dicirikan dengan kurang tidur serta adanya gangguan tidur ataupun hal-hal yang dapat mengganggu tidur. Kualitas tidur dikatakan buruk ketika bangun dari tidur tapi tetap saja merasa mengantuk, tidak bersemangat, sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari (Nadzifah, 2014).

30.2%

69.8%

Kualitas tidur baik

(58)

Kejadian Hipertensi pada Individu di Desa Yordan Kelurahan Airmadidi Bawah

Gambar 4.4 Distribusi Responden Menurut Tekanan Darah Berdasarkan gambar 4.4 dapat dilihat bahwa dari 53 responden penelitian, yang paling banyak ialah responden yang hipertensi 37 orang ( 69.8%),

dibandingkan dengan responden yang prehipertensi 16 orang (30.2%) diantaranya usia 18-25 tahun prehipertensi 5 orang dan hipertensi 3 orang, usia 26-35 tahun prehipertensi 3 orang dan hipertensi 7 orang, usia 36-45 tahun prehipertensi 4 orang dan hipertensi 12 orang, usia 45-55 tahun prehipertensi dan 3 orang hipertensi 5 orang, dan usia 56-65 tahun prehipertensi 2 orang dan hipertensi 10 orang. Dalam penelitian ini didomininasi oleh responden dengan tekanan darah tinggi atau

hipertensi. Hasil yang didapatkan ini sesuai dengan penelitian Kemenkes RI (2013) yang menyatakan bahwa di Provinsi Sulawesi Utara memiliki prevalensi hipertensi tertinggi untuk usia > 18 tahun yaitu 15.2 %. Dinas Kesehatan Minahasa Utara pada tahun (2011) menyatakan bahwa hipertensi menempati posisi kedua dalam 10 besar penyakit yang menonjol di Minahasa Utara dengan jumlah kasus 14.949.

69.80% 30.20%

Hipertensi

(59)

Hubungan Antara Kualitas Tidur dengan Kejadian Hipertensi

Untuk menjawab pernyataan masalah pertama yaitu untuk mengetahui apakah apakah ada hubungan yang signifikan kualitas tidur dengan kejadian hipertensi di Desa Yordan Kelurahan Airmadidi Bawah, peneliti menggunakan program SPSS dengan uji statistik Chi-Square dan Coefficient Contingency.

Tabel 4.1 Hasil Analisa Chi-Square, Coefficient Contingency dari Variabel Kualitas Tidur dengan Kejadian Hipertensi

Kualitas Tidur

Hipertensi Prehipertensi Sig Contingency Coeficient

Berdasarkan hasil analisis data pada tabel 4.1 antara variabel kualitas tidur dan kejadian hipertensi diperoleh nilai signifikan p = 0.912 yang menunjukan bahwa H01 yaitu tidak ada hubungan yang signifikan antara kualitas tidur dengan kejadian hipertensi diterima. Diperoleh juga nilai Coefficient Contingency sebesar 0.015 yang menunjukan variabel kualitas tidur dengan kejadian hipertensi memiliki tingkat keeratan sangat lemah. Hasil analisis ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Pitaloka, Utami, dan Novayelinda (2015) bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara kualitas tidur dengan kejadian hipertensi yang menjelaskan bahwa penyebab tidak adanya hubungan karena ada faktor lain seperti keturunan, gaya hidup, kecemasan, stres, dan kebiasaan merokok.

(60)

mengaktivasi sistem saraf simpatis yang dalam jangka waktu lama hal tersebut akan memicu terjadinya hipertensi. Kualitas tidur yang buruk akan meningkatkan

hormon kortisol yang salah satu fungsinya ialah untuk mempertahankan tekanan darah (Biomedika, 2012). Redline & Foody (2008) mengatakan bahwa kualitas dan kuantitas tidur dapat mempengaruhi proses hemostasis dan bila proses ini

terganggu, dapat menjadi salah satu faktor meningkatnya resiko penyakit kardiovaskular.

Hasil penelitian ini bertentangan dengan teori yang menurut asumsi peneliti bahwa hasil yang berbeda ini disebabkan karena terdapat faktor lain yang dapat mempengaruhi tekanan darah seperti gaya hidup dalam hal ini kebiasaan makan makanan berlemak, konsumsi garam yang tinggi, kecemasan, dan stres yang tidak dapat diteliti dalam penelitian ini. Kadar lemak yang tinggi dapat menyebabkan penyumbatan pembuluh darah sehingga memacu jantung untuk memompa darah lebih kuat sehingga memicu kenaikan tekanan darah (Rawasiah, Wahiduddin, Rismayanti, 2014). Sedangkan stres dan kecemasan dapat memicu hormon stres yaitu hormon kortisol yang dapat meningkatkan efek

(61)

Hubungan Usia dengan Kejadian Hipertensi

Untuk menjawab pernyataan masalah kedua yaitu untuk mengetahui apakah apakah ada hubungan yang signifikan kualitas tidur dengan kejadian hipertensi di Desa Yordan Kelurahan Airmadidi Bawah bila faktor usia diikutsertakan, peneliti menggunakan program SPSS dengan uji statistik Chi-Square dan Coefficient Contingency.

Tabel 4.2 Hasil Analisa Chi-Square dan Coefficient Contingency dari Variabel Usia dengan Kejadian Hipertensi

Usia Sig Coefficient

Contingent

Berdasarkan analisis data pada tabel 4.2 maka diperoleh hasil sebagai berikut. Usia 18-25 tahun p = 0.465 > 0.05 dengan nilai C = 0.250 yang menunjukan tingkat keeratan lemah, usia 26-35 tahun p = 0.858 > 0.05 dengan nilai C = 0.060 yang menunjukan tingkat keeratan sangat lemah, usia 36-45 tahun p = 0.267 > 0.05 dengan nilai C = 0.267 yang menunjukan tingkat keeratan sangat lemah, usia 46-55 tahun p = 0.571 > 0.05 dengan nilai C = 0.186 yang menunjukan tingkat keeratan sangat lemah, dan usia 56-65 tahun p = 0.461 > 0.05 dengan nilai C = 0.217 yang menunjukan tingkat keeratan sangat lemah. Hal ini menunjukan bahwa H02 yaitu tidak ada hubungan yang signifikan antara kualitas tidur dengan kejadian

(62)

sejalan dengan penelitian yang dilakukan Noegroho, Suriadi, & Nurfianti (2014) bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara usia dengan kejadian hipertensi.

Pertambahan usia mengakibatkan arteri kehilangan elastisitas atau kelenturan serta tekanan darah meningkat. Sebenarnya wajar bila tekanan darah sedikit

meningkat dengan bertambahnya usia. Hal ini disebabkan oleh perubahan alami jantung, pembuluh darah dan hormon. Tetapi bila perubahan tersebut disertai dengan faktor-faktor lain maka bisa memicu terjadinya hipertensi (Izzo, Joseph, Sica,

Domenic, & Black, 2008). Peningkatan kejadian hipertensi yang dipengaruhi oleh usia terjadi secara alami sebagai proses penuaan. Hal ini berkaitan dengan perubahan struktur dan fungsi kardiovaskuler. Seiring bertambahnya usia ventrikel kiri dan katub jantung menebal serta elastisitas pembuluh darah menurun (Mauk, 2006).

(63)

Hubungan Jenis kelamin dengan Kejadian Hipertensi

Untuk menjawab pernyataan masalah ketiga yaitu untuk mengetahui apakah apakah ada hubungan yang signifikan kualitas tidur dengan kejadian hipertensi di Desa Yordan Kelurahan Airmadidi Bawah bila faktor jenis kelamin diikutsertakan, peneliti menggunakan program SPSS dengan uji statistik Chi-Square dan Coefficient Contingency.

Tabel 4.3 Hasil Analisa Chi-Square dan Coefficient Contingency dari Variabel Jenis Kelamin dengan Kejadian Hipertensi

Jenis Kelamin Sig Coefficient

Contingent

Laki-laki .573 .108

Perempuan .518 .126

Berdasarkan analisis data pada tabel 4.3maka diperoleh hasil untuk variabel independen jenis kelamin laki-laki p = 0.573 dan diperoleh juga nilai Coefficient Contingency 0.108 yang menunjukan bahwa variabel jenis kelamin dengan kejadian hipertensi memiliki keeratan sangat lemah. Hal serupa juga ditunjukan pada jenis kelamin perempuan p = 0.518 dan diperoleh juga nilai Coefficient Contingency

0.126 yang menunjukan bahwa variabel jenis kelamin dengan kejadian hipertensi memiliki keeratan sangat lemah. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa H03

yaitu tidak ada hubungan yang signifikan antara kualitas tidur dengan kejadian hipertensi bila faktor jenis kelamin diikutsertakan diterima.

(64)

dilakukan oleh Widiastuti (2006) yang menunjukan bahwa tidak ada hubungan jenis kelamin dengan kejadian hipertensi.

Prevalensi terjadinya hipertensi pada pria hampir sama dengan wanita. Namun wanita terlindung dari penyakit kardiovaskular sebelum menopause. Wanita yang belum mengalami menopause dilindungi oleh hormon estrogen yang berperan dalam meningkatkan kadar High Density Lipoprotein, kadar HDL yang tinggi

merupakan faktor pelindung dalam mencegah terjadinya arterosklerosis. Namun pada masa premenopause wanita mulai kehilangan hormon estrogen sehingga pada usia 45-55 tahun prevalensi hipertensi pada wanita menjadi lebih tinggi (Kumar, Abbas & Fausto, 2005). Menurut penelitian yang dilakukan oleh National Academy on Aging Society (2005) menjelaskan bahwa dan pria dan wanita nyaris mempunyai angka kejadian hipertensi yang sama.

(65)

BAB V

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

Bab ini membahas tentang kesimpulan dari penelitian yang sudah dilakukan serta rekomendasi bagi penelitian selanjutnya dari penelitian yang berjudul

“Hubungan Kualitas Tidur dengan Kejadian Hipertensi di Desa Yordan Kelurahan

Airmadidi Bawah”.

Kesimpulan

1. Kualitas tidur responden di Desa Yordan Kelurahan Airmadidi Bawah dari 53

responden, kualitas tidur buruk 37 orang (69.8 %) dan kualitas tidur baik 16 orang (30.2 %).

2. Kejadian hipertensi di Desa Yordan Kelurahan Airmadidi Bawah dari 53 responden, hipertensi 37 orang (69.8 %) dan prehipertensi 16 orang (30.2 %). 3. Tidak ada hubungan yang signifikan kualitas tidur dengan kejadian hipertensi di

Desa Yordan Kelurahan Airmadidi Bawah diperoleh nilai signifikan p = 0.912 > 0.05 serta nilai Coefficient Contingency 0.015 yang menunjukan variabel kualitas tidur dengan kejadian hipertensi memiliki tingkat keeratan sangat lemah.

(66)

diperoleh nilai signifikan usia 18-25 tahun p = 0.465 > 0.05 dengan nilai C = 0.250 yang menunjukan tingkat keeratan lemah, usia 26-35 tahun p = 0.858 > 0.05 dengan nilai C = 0.060 yang menunjukan tingkat keeratan sangat lemah, usia 36-45 tahun p = 0.267 > 0.05 dengan nilai C = 0.267 yang menunjukan tingkat keeratan sangat lemah, usia 46-55 tahun p = 0.571 > 0.05 dengan nilai C = 0.186 yang menunjukan tingkat keeratan sangat lemah, dan usia 56-65 tahun p = 0.461 > 0.05 dengan nilai C = 0.217 yang menujukan tingkat keeratan sangat lemah. 5. Tidak ada hubungan yang signifikan kualitas tidur dengan kejadian hipertensi di

Desa Yordan Kelurahan Airmadidi Bawah bila faktor jenis kelamin

diikutsertakan diperoleh nilai signifikan jenis kelamin laki-laki p = 0.573 > 0.05 dengan nilai C = 0.108 yang menunjukan tingkat keeratan sangat lemah dan jenis kelamin perempuan nilai p = 0.518 > 0.05 dengan nilai C = 0.126 yang

menunjukan tingkat keeratan sangat lemah.

Rekomendasi

Hasil penelitian ini memberikan petunjuk kepada peneliti untuk rekomendasi sebagai berikut:

Bagi Masyarakat

Bagi masyarakat diharapkan dapat menjadi informasi dan tetap menjaga kesehatan walaupun penelitian ini hasil secara statistik menujukkan tidak adanya hubungan, tetapi secara klinis kualitas tidur mempengaruhi hipertensi. Kualitas tidur yang buruk juga tidak hanya menyebabkan hipertensi tetapi dapat

Gambar

Gambar 3.1 Kerangka Konseptual  .............................................................
Gambar 3.1 Kerangka konseptual
Gambar 4.1 Presentase Usia
Gambar 4.3 Distribusi Responden Menurut Kualitas Tidur
+2

Referensi

Dokumen terkait

Kesimpulan: adalah ada hubungan aktivitas fisik berhubungan signifikan dengan kualitas tidur subyek di posyandu di kelurahan Gonilan.. Subyek yang aktif dalam

Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara kualitas tidur dengan kualitas hidup dan tingkat ketegangan yang artinya bahwa kualitas

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Aji (2016) dengan judul Hubungan Kualitas Tidur Pasien Dengan Hipertensi pada Usia Lanjut di Posyandu

Kesimpulan: Tidak ditemukan hubungan antara kualitas tidur dengan fungsi kognitif, namun terdapat hubungan yang signifikan dan korelasi lemah antara kelompok

Hasil penelitian tentang hubungan kualitas tidur dan kuantitas tidur dengan prestasi belajar mahasiswa, diketahui bahwa responden memiliki kualitas tidur yang baik

Dari hasil penelitian tiga variabel, seperti status gizi, pola tidur dan tingkat kecemasan mempunyai hubungan yang signifikan terhadap angka kejadian hipertensi dalam

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan kualitas tidur dengan kejadian temper tantrum pada anak usia toddler di Kelurahan Banyumanik Kecamatan Banyumanik

viii HUBUNGAN ANTARA KUALITAS TIDUR DENGAN TENSION TYPE HEADACHE DAN TINJAUANNYA MENURUT PANDANGAN ISLAM Handis Fajar Ramadhan1, Aryenti2, Arsyad3 Abstrak Latar Belakang: