PEMBAHASAN A. LUPA
Definisi Lupa
Lupa merupakan peristiwa yang memilukan dan menyeret anak didik ke jurang kemalangan nasib. Dalam belajar, lupa kerap kali dialami dalam bidang belajar kognitif,dimana anak didik harus “belajar verbal”,yaitu belajar menggunakan bahasa.
1. Lupa Versus Hilang
Lupa bukan berarti hilang.Sesuatu yang terlupakan tentu saja masih dimiliki dn tersimpan dialam bawah sadar,sedangkan sesuatu yang hilang tentu saja tidak tersimpan di alam bawah sadar.
Lupa adalah fenomena psikologis, suatu proses yang terjadi di dalam kehidupan mental. Hilangnya informasi di jangka pendek di sebabkan oleh dua hal, yaitu karena gangguan dan waktu. Pada waktu tertentu,kemampun ingatan jangka pendek yang terbatas itu penuh dengan informasi-informasi baru,sehingga hilangkah ingatan jangka pendek karena usangnya waktu.Informasi yang tersimpan dalam jangka panjang tidak pernah hilang dan selalu dapat di ingat kembali asalkan kondisinya tepat. Freud pernah mengatakan bahwa kadang-kadang secara sengaja kita melupakan atau menekan informasi atau pengetahuan tertentu yang tidak di inginkan untuk di ingat-ingat.
2. Lupa-Lupa Ingat
Lupa-lupa ingat berlainan dengan lupa-lupaan, dan tidak sama dengan melupakan.Lupa-lupaan berarti pura-pura lupa.Melupakan berarti melalaikan atau tidak mengindahkan.Baik lupa maupun melupakan mengandung unsur kesengajaan.Sedangkan lupa-lupa ingat berarti tidak lupa,tetapi tidak ingat benar atau agak lupa.Pengorganisasian struktur kognitif yang kurang baik dan sistematik berpotensi ke arah lupa-lupa ingat.
3. Faktor-Faktor Penyebab Lupa
Menurut Ngalim Purwanto(1955:112) ada beberapa hal yang menyebabkan seseorang lupa terhadap sesuatu yang pernah di alami,yaitu:
Lupa juga dapat disebabkan oleh adanya hambatan-hambatan yang terjadi karena gejala-gejala atau isi jiwa yang lain.
Lupa di sebabkan oleh represi atau tekanan.
Menurut Muhibbin Syah faktor-faktor yang menyebabkan lupa, yaitu: 1. Lupa karena perubahan lingkungan
Dapat terjadi pada anak didik karena perubahan situasi lingkungan antara waktu belajar di sekolah dengan di luar sekolah.
2. Lupa karena perubahan sikap dan minat
Dapat terjadi pada anak didik karena perubahan sikap dan minat terhadap proses dan situasi belajar tertentu.
3. Lupa karena perubahan urat saraf otak
Anak didik yang terserang penyakit tertentu akan kehilangan ingatan atas informasi berupa kesan-kesan yang ada dalam memori otaknya.
4. Lupa karena kerusakan informasi sebelum masuk ke memori
Informasi yang diserap tidak hilang dan tetap di proses oleh sistem memori otak anak didik,tetapi lemah untuk direproduksi kembali.
KIAT MENGURANGI LUPA
Pada prinsipnya, lupa dapat di cegah sekecil mungkin bila materi pelajaran yang guru sajikan kepada anak didik dapat “diserap”, “diproses”, dan “disimpan” dengan baik oleh sistem memori anak didik.Menurut Barlow(1985), Reber(1988), dan Anderson(1990), seperti dikutip Muhibbin Syah (1999:156) berikut:
a. Overlearning
Upaya belajar yang melebihi penguasaan dasar atas materi pelajaran tertentu. b. Extra Study Time
c. Mnemonic Device
Muslihat yang dapat membantu ingatan.Muslihat mnemonik banyak ragamnya yaitu:
Rima
Sajak yang dibuat sedemikian rupa yang isinya terdiri atas kata dan istilah yang harus di ingat oleh anak didik.
Singkatan
Yaitu terdiri atas huruf-huruf awal nama atau istilah yang harus di ingat anak didik.
Sistem Kata Pasak
Sejenis sistem mnemonik yang menggunakan komponen-komponen yang sebelumnya telah di kuasai sebagai pasak pengait memori baru.
Metode Losal
Kiat mnemonik yang menggunakan tempat-tempat khusus dan terkenal sebagai sarana penempatan kata dan istilah tertentu yang harus di ingat anak didik.
Sistem Kata Kunci
Biasanya di rekayasa secara khusus untuk mempelajari kata dan istilah asing. d. Pengelompokan
Menata ulang setiap materi menjadi kelompok-kelompok kecil yang dianggap lebih logis. e. Latihan Terbagi
Latihan terkumpul yang sudah di anggap tidak atau kurang efektif karena melakukan belajar tergesa-gesa.
W.S.Winkel (1989:299) mengemukakan usaha-usaha mengurangi lupa yang dapat di lakukan oleh anak didik dan guru,yaitu:
Motivasi belajar yang kuat di pihak anak didik.
Memancing perhatian anak didik merupakan pintu gerbang yang mengantarkan anak didik pada konsentrasi terhadap pelajaran yang di berikan
Informasi yang tersimpan terlalu lama dan tidak pernah di gali cenderung terlupakan dan sangat sulit untuk di gali kembali.
Penggunaan kunci yang tepat akan dapat membantu anak didik membuka ingatannya.
PERISTIWA JENUH DALAM BELAJAR
Definisi Jenuh
Secara harfiah, arti jenuh ialah padat atau penuh sehingga tidak lagi memuat apapun. Selain itu, jenuh juga dapat berarti jemu atau bosan. Dalam belajar, disamping siswa sering mengalami kelupaan, ia juga terkadang mengalami peristiwa negatif lainnya yang disebut jenuh belajar , dalam bahasa psikologi lazim disebut learning plateau. Peristiwa jenuh ini jika dialami seorang siswa yang sedang dalam proses belajar dapat membuat siswa tersebut merasa telah memubazirkan usahanya.
Kejenuhan belajar ialah rentang waktu tertentu yang digunakan untuk belajar, tetapi tidak mendatangkan hasil (Reber, 1988). Seorang siswa yang mengalami kejenuhan belajar merasa seakan-akan pengetahuan dan kecakapan yang diperoleh dari belajar tidak ada kemajuan. Tidak adanya kemajuan hasil belajar ini pada umumnya tidak berlangsung selamanya, tetapi dalam rentang waktu tertentu saja, misalnya seminggu. Namun tidak sedikit siswa yang mengalami rentang waktu membawa kejenuhan itu berkali-kali dalam suatu periode belajar tertentu.
Seorang siswa yang sedang dalam keadaan jenuh, system akalnya tidak bekerja normal untuk memproses item-item informasi yang baru, sehingga kemajuan belajarnya itu seakan-akan jalan di tempat. Kejenuhan belajar dapat melanda seorang siswa yang kehilangan motiovasi dan konsolidasi salah satu tingkat keterampilan tertentu sebelum sampai pada tingkat keterampilan berikutnya.(Chaplin, 1972)
Faktor Penyebab dan Cara Mengatasi Kejenuhan Belajar
Kejenuhan dapat terjadi karena proses belajar siswa telah sampai pada batas kemampuan jasmaniyahnya karena bosan (boring) dan keletihan (fatigue). Namun, penyebab kejenuhan yang umum adalah keletihan yang melanda siswa, karena keletihan menyebabkan munculnya rasa bosan pada siswa.
1. Keletihan indera siswa 2. Keletihan fisik siswa 3. Keletihan mental siswa
Keletihan fisik dan keletihan indera dalam hal ini mata dan telinga pada umumnya dapat dikurangi atau dihilangkan lebih mudah setelah siswa beristirahat cukup, terutama tidur nyenyak dan mengkonsumsi makanan dan minuman yang cukup bergizi. Sebaliknya, keletihan mental tak dapat diatasi dengan cara yang sederhana, itu sebabnya keletihan mental sebagai faktor utama kejenuhan belajar.
Empat factor penyebab keletihan mental :
1. Kecemasan siswa terhadap dampak negatif yang ditimbulkan oleh keletihan itu sendiri.
2. Kecemasan siswa terhadap standar/patokan keberhasilan bidang studi tertentu yang dianggap terlalu tinggi terutama ketika siswa tersebut sedang merasa bosan mempelajari bidang studi tersebut.
3. Siswa berada di tengah-tengah situasi kompetitif yang ketat dan menuntut lebih banyak kerja intelek yang berat.
4. Siswa mempelajari konsep kinerja akademik yang optimum, sedangkan dia sendiri menilai belajarnya sendiri hanya berdasarkan ketentuan yang dia buat sendiri (self-imposed) dianggap lebih memungkinkan siswa belajar lebih giat.
c. Pengubaha atau penataan kembali lingkungan belajar siswa yang meliputi pengubahan posisi meja tulis, lemari, rak buku, alat-alat perlengkapan belajar lainnya, sampai memungkinkan siswa merasa berada di sebuah kamar baru yang lebih menyenangkan untuk belajar.
e. Siswa harus berbuat nyata (tidak menyerah atau tinggal diam) dengan cara mencoba belajar dan belajar lagi.
KESULTAN BELAJAR
Pengertian Kesulitan Belajar
Suatu pendapat yang keliru yang mengatakan bahwa kesulitan belajar anak didik di sebabkan rendahnya inteligensi karena dalam kenyataannya cukup banyak yang memiliki inteligensi yang tinggi, tetapi hasil belajarnya rendah. dan masih banyak anak didik dengan inteligensi yang rata-rata normal tetpi dapat meraih hasil prestasi yang tinggi melibihi kepandaian anak didik yang intelegensinya tinggi. Tetapi juga tidak di sangkal bahwa inteligensi yang tinggi memberi peluang yang besar bagi anak didik untuk meraih hasil belajar yang tinggi. Oleh karena itu, selain faktor intelegensi faktor non-intelegensi juga di ketahui dapat menjadi penyebab kesulitan belajar bagi anak didik.
Kesulitan belajar yang di rasakan oleh anak didik di kelompokan menjadi empat macam yaitu:
1. Di lihat dari jenis kesulitan belajar Ada yang berat
Ada yang sedang
2. Di lihat dari mata pelajaran yang di pelajari Ada yang sebagian mata pelajaran Ada yang sifatnya sementara 3. Di lihat dari sifat kesulitannya
Ada sifatnya menetap
Ada yang sifatnya sementara 4. Di lihat dari segi faktor penyebabnya
Ada yang karena faktor inteligensi Ada yang karena faktor non-inteligensi
Akhirnya dapat di simpulkan bahwa kesulitan belajar adalah suatu kondisi di mana anak didik tidak dapat belajar secara wajar, di sebabkan adanya ancaman, hambatan ataupun gangguan dalam belajar.
Fakktor Penyebab Kesulitan Belajar
Penomena kesulitan belajar seorang siswa biasanya tampak jelas dari menurunnya kinerja akademik atau prestasi belajarnya. Namun kesulitan belajar juga dapat di buktikan dengan munculnya kelainan perilaku (misbehaviror) siswa seperti kesukaan berteriak-teriak di dalam kelas, mengusik teman, berkelahi, sering tidak masuk sekolah, dan sering minggat dari sekolah.
Secara garis besar, faktor-faktor penyebab timbulnya kesulitan belajar terdiri atas dua macam, yakni:
a. Faktor intern siswa
Faktor intern siswa meliputi gangguan atau kekurang mampuan psiko-fisik siswa. Yakni:
1. Bersifat kognitif (ranah cipta), antara lain seperti rendahnya kapasitas intelektual atau inteligensi siswa
2. Bersifat afektif ( ranah rasa), antara lain seperti labilnya emosi dan sikap
3. Bersifat psikomotor ( ranah karsa ), antara lain seperti terganggunya alat-alat indera penglihat dan pendengar ( mata dan telinga ).
b. Faktor Ekstern Siswa
Faktor ekstern siswa meliputi semua situasi dan kondisi lingkungan sekitar yang mendukung aktifitas belajar siswa. Faktor lingkungan ini meliputi:
1. Lingkungan keluarga, contohnya: ketidakharmonisan hubungan antara ayah dengan ibu, dan rendahnya kehidupan ekonomi keluarga.
2. Lingkungan perkampungan/masyarakat, contohnya: wilayah perkampungan kumuh (slum area), dan teman sepermainan ( peer group )yang nakal.
1. Dileksia (dylexia), yakni ketidakmampuan belajar membaca 2. Disgrafia (dysgrphia), yakni ketidakmampuan belajar menulis
3. Diskalkulia (dyscalculia), yakni ketidakmampuan belajar matematika
Siswa yang mengalami sindrom-sindrom di atas secara umum sebenarnya memiliki potensi IQ yang normal bahkan diantaranya ada yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Oleh karenanya, kesulitan belajar siswa yang menderita sindrom-sindrom tadi mungkin hanya di sebabkan oleh adanya minimal brain dysfunction, yaitu gangguan rigan pada otak (Lask, 1985: Reber, 1988).
Jika sudut pandang diarahkan pada aspek lainnya, maka faktor-faktor penyebab kesulitan belajar anak didik dapat dibagi menjadi faktor anak didik, sekolah, keluarga, dan masyarakat sekitar.
Usaha Mengatasi Kesulitan Belajar
Secara garis besar, langkah-langkah yang perlu ditenpuh dala rangka usaha mengatasi kesulitan belajar anak didik, dapat dilakukan melalui enam tahap, yaitu pengumpulan data, pengolahan data, diagnosis, prognosis, treatment, dan evaluasi.
1. Pengumpulan Data
Usaha pengumpulan data bisa dilakukan dengan cara observasi, interview (wawancara) ataupun teknik dokumentasi. Ketiga cara ini saling melengkapi untuk mendapatkan data yang akurat. Adapun cara lain yaitu :
a. Kunjungan rumah b. Case study
c. Case history d. Daftar pribadi
e. Meneliti pekerjaan anak f. Meneliti tugas kelompok
g. Melaksanakan tes, baik tes IQ maupun prestasi
2. Pengolahan Data
a. Keputusan mengenai jenis kesulitan belajar
b. Keputusan mengenai faktor penyebab kesulitan belajar c. Keputusan mengenai faktor utama penyebab kesulitan belajar
4. Prognosis
Keputusan yang diambil berdasarkan hasil diagnosis dilakukan kegiatan penyusunan program dan penetapan ramalan mengenai bantuan yang harus diberikan kepada anak untuk membantunya keluar dari masalah kesulitan belajar.
Dalam membantu peserta didik dalam kesulitan belajar dalam diajukan pertanyan-pertanyaan dengan menggunakan rumus 5W+IH.
a. Who : siapakah yang memberikan bantuan kepada anak ? b. What : materi apa yang diperlukan ?
c. When : kapan bantuan itu ke anak dilakukan ? d. Where : dimana pemberian itu diberikan ?
e. Which : anak didik mana yang harus mendapat bantuan ? f. How : bagaimana bantuan itu dilakukan ?
5. Treatmen
Treatment adalah perlakuan. Perlakuan disini adalah pemberian bantuan kepada anak didik yang mengalami kesulitan belajar sesuai dengan program yang telah disusun pada tahap prognosis. Bentuk treatment yang diberikan adalah :
b. Melalui bimbingan belajar kelompok c. Melalui remedial teaching
d. Melalui bimbingan orang tua
e. Pemberian bimbingan pribadi untuk mengatasi masalah psikologis f. Pemberian bimbingan mengenai cara belajar yang baik
6. Evaluasi
Evaluasi dimaksudkan untuk mengetahui apakah treatment yang dilkukan berhasil. Untuk melakukan evaluasi tersebut maka yang kita lakukan adalah mengecek kembali yaitu :
a. Re-ceking data b. Re-diagnosis c. Re-prognosis d. Re-treatment e. Re-evaluasi
Ketika treatment yang dilkukan itu gagal, maka treatment kedua harus diulangi dengan treatmen berikutnya. Begitulah selanjutnya sampai bisa mengeluarkan anak didik dari kesulitan belajar.
Lupa adalah fenomena psikologis, suatu proses yang terjadi di dalam kehidupan mental. Hilangnya informasi di jangka pendek di sebabkan oleh dua hal, yaitu karena gangguan dan waktu. Dalam belajar, disamping siswa sering mengalami kelupaan, ia juga terkadang mengalami peristiwa negatif lainnya yang disebut jenuh belajar , dalam bahasa psikologi lazim disebut learning plateau. Peristiwa jenuh ini jika dialami seorang siswa yang sedang dalam proses belajar dapat membuat siswa tersebut merasa telah memubazirkan usahanya. Kesulitan belajar adalah suatu kondisi di mana anak didik tidak dapat belajar secara wajar, di sebabkan adanya ancaman, hambatan ataupun gangguan dalam belajar.
Djamarah, Syaiful Bahri. 2008. Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta Syah, Muhibbin. 2013. Psikologi Belajar. Jakarta: Rajawali
Slameto. 1991. Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta