• Tidak ada hasil yang ditemukan

Teknologi dalam Refleksi Filosofis Heide

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Teknologi dalam Refleksi Filosofis Heide"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

Teknologi dalam Pemikiran Heidegger

Oleh: Joan Damaiko Udu Pengantar

Heidegger (1889-1976) adalah filsuf dan fenomenolog yang memberikan penjelasan menarik mengenai (filsafat) teknologi. Ia mengelaborasi fenomena teknologi sebagai suatu realitas yang dimaknai secara esensial. Heidegger merefleksikan teknologi dari perspektif eksistensi manusia yang secara konkret dapat dilihat dalam fenomena kehidupannya sehari-hari. Dengan demikian, Heidegger melihat teknologi tidak hanya secara teoritis, tetapi juga secara praktis, sebagai hasil perkembangan atau evolusi pengetahuan manusia—sebagai manifestasi eksistensi dan fenomenologi tentang manusia.

Tulisan ini akan memberikan penjelasan tentang gagasan-gagasan pokok Heidegger mengenai esensi teknologi dengan bertolak dari teks “Technology”, yang ditulis oleh Albert Borgmann. Akan tetapi, dalam tulisan ini, saya tidak akan menguraikan teks tersebut menurut detail-detailnya. Teks tersebut hanya akan dilihat secara global dengan memberikan penekanan utama pada gagasan-gagasan pokok Heidegger tentang teknologi.

Saya juga akan menggunakan sejumlah sumber sekunder yang sekiranya dapat membantu untuk menjelaskan pokok refleksi Heidegger tentang teknologi. Tulisan ini akan diawali dengan sebuah elaborasi mengenai pengertian teknologi menurut Heidegger. Kemudian akan dilanjutkan dengan pembahasan mengenai teknologi sebagai penyingkapan kebenaran, korelasi antara esensi teknologi dan penyingkapan kebenaran, teknologi dan sains, dan akan ditutup dengan sebuah kesimpulan dan tanggapan kritis.

Pengertian Teknologi Menurut Heidegger

Dalam pandangan Heidegger, teknologi lebih dari sekadar aktivitas penggunaan alat-alat teknologis.1 Dengan kata lain, esensi teknologi tidaklah bersifat teknologis. Hal yang

fundamental, menurut Heidegger, bukanlah teknologi itu sendiri ataupun bentuk-bentuk teknologi, melainkan orientasi kita terhadap teknologi.2

1 Terkait hal tersebut, Albert Borgmann antara lain menulis, “[…] Heidegger did not think of technology as the use of tools that is as old and universal as the human race […]. Bdk. Albert Borgmann, “Technology”, 420.

(2)

Pada tataran ini, esensi teknologi lebih dipahami secara eksistensial karena berkaitan dengan cara manusia memandang dunianya. Esensi teknologi merujuk pada suatu cara pandang dan pangalaman yang membentuk dan membingkai cara bertindak kita, cara bagaimana kita menggunakan alat-alat, dan cara bagaimana kita berhubungan dengan dunia kehidupan (lebenswelt). Oleh karena itu, konsep teknologi yang instrumental (sebagai sarana) dan antropologis (sebagai aktivitas manusia) ditolak oleh Heidegger.

“[…] More important still, Heidegger denied that technology is a value-neutral instrument, but thought of it as a radically fundamental and comprehensive phenomenon, something like the innermost character of modern culture and reality. Eventually, Heidegger came to call the two senses of technology he rejected the anthropological and the instrumental senses.”3

Kedua model konsep tersebut dianggap tidak memadai, dangkal, dan berpotensi mereduksi teknologi sebagai sekadar alat bagi sains. Selain itu, kedua model konsep tersebut juga dapat membuat orang jatuh pada pemahaman parsial bahwa teknologi hanyalah ciptaan subjek dan berfungsi sebagai instrumen yang netral.

Menurut Heidegger, kedua model konsep tersebut (instrumental dan antropologis) de facto memang betul (correct), tetapi belum benar (true).4 Sesuatu yang betul dapat benar hanya

dalam arti tertentu saja, yakni benar dalam bagian tertentu saja atau sebagian dari keseluruhan atau benar dalam arti yang terbatas. Dengan kata lain, sesuatu yang ‘betul’ belum berarti ‘benar’. Akan tetapi, sesuatu yang ‘betul’ tidak dapat dikatakan ‘tidak benar’. ‘Betul’ berarti ‘benar secara terbatas’ atau ‘tidak mencukupi’ dan dapat dikatakan sebagai ‘kebenaran yang parsial’.

Dalam konteks ini, kebenaran, menurut Heidegger, adalah ketidaktersembunyian (aletheia) yang dimunculkan lewat penerangan (on illuminating) atau penyingkapan.5 Kebenaran

semacam inilah yang menjadi esensi teknologi. Hal ini hendak menunjukkan bahwa dalam pemikiran Heidegger, teknologi bukanlah suatu persoalan ontis (persoalan antropologis dan instrumental), melainkan suatu persoalan ontologis. Dalam hal ini, teknologi, dalam arti ontologis, merupakan suatu cara kebenaran menyingkapkan dirinya atau suatu landasan di mana Ada atau peristiwa mengungkapkan diri dengan cara tertentu.6 Komponen-konponen dalam

3 Albert Borgmann, “Technology”, 420. 4 Albert Borgmann, “Technology”, 428. 5 Albert Borgmann, “Technology”, 420-421.

(3)

teknologi (instrumen-instrumen dan aktivitas subjek yang mengerjakannya) muncul dalam suatu struktur atau landasan yang mendasarinya.

Teknologi, dalam pengertian ontologis, tidak hanya merujuk pada instrumen atau aktivitas penggunaan alat-alat teknologis, tetapi juga pada suatu cara (techne) pengungkapan kebenaran atau suatu wilayah di mana entitas dan aktivitas muncul seperti adanya.7 Teknologi

muncul dalam wilayah di mana penyingkapan dan ketidaktersembunyian berlangsung—di mana kebenaran (aletheia) terjadi. Kebenaran tersebut dicapai dengan melampaui apa yang ‘betul’ karena apa yang betul selalu didasarkan pada suatu struktur ketersingkapan yang menentukan apa yang betul. Entitas selalu muncul dengan cara tertentu, tergantung pada struktur ketersingkapan di mana entitas itu berada. Struktur tersebut selalu terberi (given).8 Lebih lanjut,

ciri struktur ini adalah ketersingkapan sekaligus ketersembunyian. Struktur ini kemudian dinamakan Heidegger sebagai sejarah Ada (epoch of Being).9

Sejarah Ada tersebut, menurut Heidegger, mempunyai tujuan atau arah, yaitu ‘nasib’ (destiny).10 Akan tetapi, harus dipahami bahwa nasib pada tataran ini bukan merujuk pada

sesuatu yang sudah ditentukan. Nasib lebih berarti tujuan atau arah maju maupun mundur di mana kita diarahkan oleh sejarah Ada. Teknologi merupakan sejarah Ada yang berlaku sekarang dan dalam hal ini, pemahaman mengenai esensi teknologi menjadi penting supaya kita dapat menanggapinya dengan cara yang sesuai.

Teknologi sebagai Penyingkapan Kebenaran

Sebagaimana dielaborasi sebelumnya, Heidegger memulai pembahasannya dengan merujuk pada hal-hal yang ontis, di mana dalam kehidupan sehari-hari teknologi dipahami atau dilihat dari sudut pandang instrumental. Hal ini hendak menunjukkan bahwa kita mempertanyakan dalam kondisi apa sesuatu itu menjadi sarana dan tujuan. Dalam hal ini, jelas bahwa sarana merupakan suatu cara yang melaluinya sesuatu dipengaruhi dan dicapai. Segala sesuatu yang memiliki efek sebagai konsekuensinya disebut ‘sebab’. Oleh karena itu, jika teknologi dipandang sebagai intrumen, kita dapat membahas tentang dialektika sebab-akibat.

7 Albert Borgmann, “Technology”, 420-421 dan Francis Lim, Filsafat Teknologi: Don Ihde tentang Dunia, Manusia, dan Alat, 43-51.

8 Albert Borgmann, “Technology”, 424 424 dan Francis Lim, Filsafat Teknologi: Don Ihde tentang Dunia, Manusia, dan Alat, 45.

(4)

Pada aras ini, persoalan sebab-akibat tersebut diuraikan Heidegger dengan mengacu pada empat ‘sebab’ Aristotelian, yakni sebab material (causa materialis), sebab formal (causa formalis), sebab final (causa finalis), dan sebab efisien (causa efficiens).11 Heidegger, secara

sederhana, menjelaskan empat ‘sebab’ tersebut dengan mengambil contoh piala perak. Dalam contoh tersebut, sebab material adalah bahan perak yang digunakan untuk membuat piala perak; Sebab formal adalah kepialaan piala untuk mengisi suatu cairan, misalnya air anggur; Sebab finalnya adalah piala dibuat untuk digunakan dalam perayaan ekaristi; Kemudian yang menjadi sebab efisien adalah tukang piala. Keempat ‘sebab’ ini tentu berbeda, tetapi secara serentak ada bersama.

Menurut Heidegger, arti semula empat ‘sebab’ tersebut dalam pemikiran Yunani kuno tidak lain dari sebuah cara yang bertanggung jawab untuk mengemukakan (bringing forth) apa yang sebelumnya belum ada menjadi ada.12 ‘Akibat’, pada tataran ini, merupakan benda buatan

manusia, dan barang yang dibuat oleh manusia ini (‘akibat’) berhutang kepada empat ‘sebab’ yang membuat barang itu, dan dengan demikian, (empat) ‘sebab’ yang membuat barang itu bertanggung jawab dalam memungkinkan ‘akibat’ terjadi atau dibuat.13

Heidegger kemudian memperkenalkan kata poiesis yang bermakna mengemukakan apa yang sebelumnya belum ada menjadi ada.14Atau membawa apa yang tersembunyi ke

ketidaktersembunyian. Ini adalah aletheia, yakni ketidaktersembunyian atau penyingkapan kebenaran.

Korelasi antara Esensi Teknologi dan Penyingkapan Kebenaran

Dalam pandangan Heidegger, kaitan antara esensi teknologi dan penyingkapan kebenaran menyangkut segala-galanya karena setiap “mengemukakan-ke-hadapan” didasarkan pada penyingkapan.15 Menurut Heidegger, kata teknologi berasal dari kata Yunani, techne, yang tidak

hanya menyangkut aktivitas atau keahlian menukang dengan tangan, tetapi juga seni pikiran (the art of the mind) dan seni halus (fine arts).16 Techne melibatkan pengetahuan praktis dan

pengetahuan ini membawa suatu penyingkapan atau penarangan. Dalam hal ini, techne 11 Albert Borgmann, “Technology”, 428.

12 Albert Borgmann, “Technology”, 428-429.

13 Martin Heidegger, The Question Concerning Technology and Other Essays (New York: Harper & Row, 1977), 7. 14 Francis Lim,Filsafat Teknologi: Don Ihde tentang Dunia, Manusia, dan Alat, 49.

15 Martin Heidegger, The Question Concerning Technology, 12.

(5)

merupakan suatu cara penyingkapan. Techne menjadi suatu cara di mana benda-benda dibantu untuk muncul atau disingkapkan. Techne tergolong dalam poiesis yang lebih luas. Pada titik ini, dapat dilihat suatu dimensi praksis dari fenomenologi Heidegger.

Dalam kaitan dengan hal tersebut, teknologi modern bukanlah seni tangan (work of craftsmanship), melainkan suatu penyingkapan.17 Hal yang membedakan teknologi modern dari

teknologi kuno terletak pada fakta bahwa teknologi modern tidak melibatkan suatu “mengemukakan-ke-hadapan” dalam arti poiesis (perbuatan demi suatu hasil yang bernilai di luar perbuatan itu sendiri, seperti membuat puisi), sedangkan teknologi kuno mempunyai sifat-sifat mencipta yang puitis. Penyingkapan yang dominan dalam teknologi modern adalah challenging forth (herausforden).18 Cara penyingkapan ini menuntut alam secara berlebihan

untuk menyumbangkan energinya supaya manusia dapat menyimpan dan menggunakannya. Alam dan bumi dilihat sebagai persediaan (“standing reserve”/Bestand) yang dapat diambil, disimpan, dan digunakan.19

Cara menyingkap ketidaktersembunyian alam dan cara memandang alam semacam itu di dalam teknologi modern dinama Heidegger sebagai “enframing” (das Gestell), yaitu membingkai.20 Dalam hal ini, teknologi sebagai penyingkapan muncul dalam proses

membingkai. Membingkai menjadi suatu cara sistemik yang membatasi dalam memandang dunia. Dengan membingkai, seluruh bumi dilihat sebagai “standing-reserve”, di mana alam dipandang sebagai sumber energi untuk kegunaan instrumental manusia. Implikasi dari pandangan ini adalah bumi semata-mata dilihat sebagai sumber energi. Dalam pembingkaian, ketidaktersembunyian disingkapkan, di mana teknologi modern menyingkapkan yang real sebagai persediaan (standing-reserve ). 21

Heidegger kemudian menegaskan konsep awalnya bahwa esensi teknologi sendiri tidaklah berciri teknologis; Esensi teknologi terletak pada pembingkaian, yakni pada cara orientasi kita terhadap alam. Pembingkaian, dalam pandangan Heidegger, merupakan cara penyingkapan yang mendominasi esensi teknologi modern dan pada dirinya sendiri tidak teknologis.22 Esensi teknologi lebih bersifat eksistensial karena berkaitan dengan cara manusia

17 Albert Borgmann, “Technology”, 423. 18 Albert Borgmann, “Technology”, 428-429. 19 Albert Borgmann, “Technology”, 428. 20 Albert Borgmann, “Technology”, 428. 21Albert Borgmann, “Technology”, 428.

(6)

memandang dunianya. Oleh karena itu, pengertian teknologi yang antropologis dan instrumental dinilai tidak adekuat dan bahkan ditolak oleh Heidegger. Definisi teknologi yang benar dan memadai adalah definisi ontologis.

Teknologi Mendahului Sains

Secara historis dan ontologis, demikian Heidegger, teknologi mendahului sains.23 Namun,

secara kronologis, teknologi muncul setelah sains. Hal itu terjadi karena secara kronologis, ilmu fisika modern muncul pada abad ke-17, sementara teknologi berkekuatan mesin baru berkembang setelah pertengahan abad ke-18. Namun, jika dilihat dari esensi yang mendominasi teknologi modern tersebut, dapat dikatakan bahwa teknologi modern, secara historis, mendahului sains.

Heidegger berpandangan demikian karena teknologi sebagai das Gestell merupakan syarat kemungkinan bagi sains modern. Dengan kata lain, teknologi merupakan sumber sains. Teknologi, sebagai das Gestell yang menjadi asal bagi pandangan saintifik terhadap dunia sebagai persediaan (standing-reserve), justru menentukan arah gerak perkembangan sains.

Dalam arti tersebut, Heidegger ingin menunjukkan bahwa pandangan dunia sebagai persediaan (standing-reserve) sudah ada sebelum teknologi muncul dalam bentuk mesin. Pandangan bumi sebagai persediaan menentukan arah sains dalam menciptakan alat-alat untuk menggarap bumi. Dalam konteks inilah teknologi mendahului sains. Sains pun mewujudkan diri secara teknologis dalam bentuk alat.

Kesimpulan dan Tanggapan Kritis

Pertama, berdasarkan penjelasan sebelumnya, saya melihat bahwa pandangan mengenai dunia sebagai persediaan (standing-reserve) mengandung sebuah risiko. Risiko atau bahaya tersebut merujuk pada kekeliruan dalam menginterpretasikan ketidaktersembunyian, yakni kekeliruan dalam menganggap yang ‘betul’ sebagai yang ‘benar’ dan kesalahan menganggap bagian-bagian sama dengan keseluruhan. Selain itu, manusia juga dapat saja dilihat sebagai persediaan belaka. Hal itu terjadi persis ketika manusia memandang dunia seluruhnya sebagai

and universal as the human race; He instead used technology in the sense of modern technology […].”Albert Borgmann, “Technology”, 420.

(7)

persediaan, dan dalam hal itu, ada kemungkinan bahwa manusia pun melihat dirinya sebagai persediaan. Tatkala manusia memandang dirinya sebagai persediaan, ia juga dapat menganggap dirinya sebagai tuan atas segala-galanya—tuan yang merasa perlu menggarap atau mengeksploitasi “persediaan-persediaan” lain. Padahal, de facto, manusia sesungguhnya tidak memahami dirinya sendiri secara integral ataupun memahami dunianya dengan baik.

Dalam hal ini, cara pandang “enframing” (das Gestell) berpotensi menyembunyikan esensi pengada yang sebenarnya karena “enframing” (das Gestell) bersifat parsial dan tidak utuh —hanya berdasarkan pertimbangan instrumental. Cara pandang membingkai (enfarming) yang instrumental membahayakan manusia karena dalam cara pandang itu, manusia dan dunia dilihat sebagai persediaan (standing-reserve) yang perlu digarap.

Akan tetapi, di pihak lain, saya melihat bahwa cara pandang “membingkai” (enframing) semacam itu sebenarnya juga dapat berdampak positif bagi manusia, di mana cara pandang itu dapat menjadi suatu cara pandang (membingkai) yang lebih keratif dan luas, tidak melulu instrumental. Namun, harus dikatakan bahwa pandangan tersebut tetap mengandung bahaya. Berhadapan dengan hal itu, kita perlu jujur bahwa Heidegger tampaknya tidak banyak mengelaborasi perihal bagaimana menghadapi pandangan atau bahaya tersebut.

Kedua, dengan bertitik tolak dari tanggapan pertama, saya melihat bahwa pertanyaan kritis terhadap teknologi untuk menyadari ketersembunyian dan penyingkapan kebenaran dapat membatasi pandangan yang melihat dunia seluruhnya hanya sebagai persediaan ( standing-reserve). Heidegger mengajak kita untuk mempertanyakan teknologi secara kritis agar dapat menembus batas-batas “membingkai” yang instrumental dan membuka kemungkinan-kemungkinan yang lebih kreatif dalam mengalami dunia.

Ketiga, pandangan alternatif dari “membingkai” dilakukan dengan menghidupkan kembali techne sebagai seni yang dapat membendung pemahaman tentang dunia sebagai persediaan belaka. Seni sebagai techne, menurut Heidegger, bersifat teknologis. Cara penyingkapannya membuka cara baru untuk menyingkap Ada yang berbeda dari pemikiran kalkulatif dan eksploitatif dalam “membingkai” (enframing). Cara-cara baru ini adalah cara memandang dunia dengan perspektiff seni.24 Seni membiarkan Ada menyingkapkan dirinya

sendiri, tanpa melalui perantaraan manusia. Melalui seni, Ada keluar dari ketersembunyian ke ketidaktersembunyian.

(8)

Daftar Pustaka Sumber Utama:

Albert Borgmann, “Technology”, 420-432.

Sumber Pendukung:

Fadhilah, “Hakikat dan Makna Teknologi bagi Keberadaan Manusia dalam Perspektif Heidegger”, dalam

Madani, edisi 1/Mei (2006): 31-38.

Heidegger, Martin. The Question Concerning Technology and Other Essays. New York: Harper & Row, 1977.

Lim, Francis. Filsafat Teknologi: Don Ihde tentang Dunia, Manusia, dan Alat. Yogyakarta: Kanisius, 2008.

Referensi

Dokumen terkait

Perspektif amanah ini dijadikan alat analisis untuk membingkai kinerja manajemen perbankan syariah yang didasarkan pada fenomena yang ada pada situs penelitian, dan

Selain itu peneliti dapat melihat cara pandang kedua media dalam menuliskan isi berita terkait suporter terbaik piala presiden 2018 tersebut yang dilihat dari

Hal semacam ini jika di temukan dikalangan siswa memang sudah biasa namun juga berdampak kepada hasil belajar siswa nantinya, untuk itu peran guru sangat dibutuhkan agar

Bepikir positif merupakan cara pandang seseorang terhadap berbagai masalah dengan melihat hal-hal yang positif sehingga akan menghasilkan sesuatu yang positif juga. Sekretaris

Tindakan Notaris tersebut sebenarnya tidak dapat dibenarkan, untuk membuatkan surat semacam itu,tapi yang dibenarkan adalah melegalisasi atau membukukan surat tersebut, agar

1) Kerukunan intern umat beragama ialah perbedaan cara pandang di dalam satu agama dapat melahirkan sebuah konflik pada agama itu sendiri. Cara pandang dalam ajaran agama

Analisis framing juga dapat dilakukan untuk melihat sejauh mana media online Islam membingkai kasus yang berkaitan dengan terorisme...

Pelaksanaan hasil konsensus yang dicapai melalui mekanisme semacam itu bersifat mengikat terhadap seluruh partisipan diskursus, karena mereka terlibat aktif di