DI MALUKU UTARA
Oleh:
SOFWAN NOERWIDI
98/123259/SA/11180
FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
DENGAN PROSES MIGRASI-KOLONISASI MANUSIA
DI MALUKU UTARA
Oleh:
SOFWAN NOERWIDI
98/123259/SA/11180
Skripsi ini diajukan kepada panitia ujian pada Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada
Yogyakarta sebagai salah satu syarat memperoleh gelar sarjana
__________________________________ Ketua
__________________________________ Sekretaris
__________________________________ Anggota
__________________________________ Anggota
Puja Bakti Teruntuk Mereka,
Leluhurku Orang Austronesia,
Segala puji dan sukur hanya bagi Allah SWT, sesembahan sekalian alam. Dzat yang suci, sempurna, dan tidak pernah berakhir. Pemilik alam semesta serta penguasa segala yang terhampar di dalamnya. Dengan perantara kalam-Nya, manusia dapat mempelajari apa yang tidak diketahui. Maha suci Allah, Tuhan yang bertahta di Alam Transenden, yang membantu manusia merenungi dan memikirkan, serta memberi inspirasi mengenai semua tanda tanya yang ada di bumi-Nya. Disadari atau tidak, tanpa sentuhan tangan-tangan magis-Nya, niscaya karya sederhana ini tidak akan terselesaikan.
Secara pribadi, karya tulis ini merupakan salah satu bentuk penghargaan penulis kepada nenek moyang bangsa Indonesia, orang Austronesia dan Non-Austronesia. Dapat disadari bahwa tanpa kehadiran mereka, mustahil pula keberadaan kita saat ini dan perlu disadari bahwa, kita hanyalah salah satu mata rantai dari keturunan mereka yang meneruskan regenerasi mereka pada anak cucu kita. Karya tulis ini mengetengahkan bahasan mengenai awal kehadiran orang Austronesia di Kepulauan Indonesia (khususnya di Kepulauan Maluku Utara), meliputi kapan, bagaimana, dari dan ke arah mana mereka bermigrasi, serta interaksi mereka dengan komunitas Non-Austronesia yang telah mendiami kawasan ini sejak masa jauh sebelumnya. Walau demikian, juga disinggung sedikit mengenai penghunian pada masa pra-Austronesia.
Indonesia. Dalam kesempatan ini, penulis berusaha ikut menyumbangkan sedikit suara, menurut sudut pandang dan pola pemikiran yang penulis miliki. Dalam proses penulisannya, penulis telah berusaha untuk memberikan yang terbaik, namun perlu disadari bahwa karya ini juga memiliki keterbatasan, kelemahan, kekurangan, dan tidak mustahil berbagai kesalahan. “Archaeology just find the fact not the true” (Indiana Jones, and the Last Crusader). Penulis sangat mengharapkan saran dan kritik, agar dapat saling memberikan masukan dalam meningkatkan pemahaman mengenai kehidupan sejarah dan budaya nenek moyang bangsa kita. Besar harapan penulis, bahwa di masa yang akan datang, akan lebih banyak lagi tulisan dengan tema sejenis, yang tentunya lebih baik dari karya ini.
Dalam kesempatan ini, penulis juga ingin mengucapkan beribu terima kasih kepada berbagai pihak yang turut memperlancar proses penulisan karya ini. Adapun berbagai pihak tersebut adalah:
1. Ketua Jurusan, seluruh staf pengajar jurusan, staf laboratorium dan perpustakaan jurusan Arkeologi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
2. Dra. Mahirta, M.A. selaku dosen pembimbing skripsi atas dorongan dan pandangan yang berharga, baik dalam bidang arkeologi pada khususnya maupun keilmuan secara umum.
4. Bapak Madiyono sekeluarga dan adikku Isnielma Nur Wulan Nugraheni di Tangerang, keluarga tercinta, yang telah memberikan segalanya.
5. Dr. Daud Aris Tanudirjo, M.A., Dr. P.M. Laksono, M.A, dan Dr. Goenadi Nitihaminoto, orang-orang yang berpengaruh sangat besar dalam kesuksesan karya ini.
6. Peter Bellwood di Australian Nasional University, Canberra, atas data serta pandangan mengenai prasejarah khususnya migrasi-kolonisasi.
7. Orang-orang yang mempengaruhiku lewat karyanya: Cak Nun, Pramoedya Ananta Toer, R. Mangun Wijaya, Abdul Munir Mulkan, Kuntowijoyo, Kahlil Gibran, Lewis Binford, Ian Hodder, Matthew Spriggs, Danys Lombard, T. Jakob, Sjafri Sairin, Padi, dan Kurt D. Cobain.
8. HIMA periode 2000-2001 dan periode 2001-2002, artefak periode 1998-2000, serta angkatan ‘98 tercinta atas suasana kekeluargaan dan kebersamaan yang tercipta dalam suka dan duka belajar ilmu arkeologi.
9. Arupadhatu Indonesia dengan Widex beserta staf, atas pengalamannya dalam aksi mengenai konservasi budaya.
10.Evi Novita, belahan jiwa, inspirasi tak terhingga, atas semuanya yang tidak hanya cukup diungkapkan dengan kata-kata.
11.My Brotherhood, Triyono “Katruk” Wibowo, Dimas “Mbeling” Susilohadi, nahkoda yang hebat dilahirkan oleh badai yang dahsyat,
vi
“Nank Q” Adi Brata dan keluarga Suranto.
12.Teman diskusiku: Rachmat NH (atas printer dan cd encarta-nya), Anang “Ngeni” Cristiana (atas mesin scanner-nya), Stevanus “Ambon” Reawaru. Teman berpetualangku: Sigit, Dias, dan Didit. Dispereet niet broer…
13.Kawan-kawanku di kost “tungku” Kenanga III no. 78 dan 70, yang panas, khususnya Cak Endro DS atas printernya dan Mando P.
14.Semua pihak yang telah membantu baik langsung maupun tidak langsung, yang tidak dapat disebutkan satu persatu.
Atas semua bantuan yang telah diberikan oleh semua pihak tersebut, sekali lagi penulis mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya. Semoga Tuhan berkenan melimpahkan rahmat dan hidayah kepada mereka, atas semua kebaikan yang telah diberikan kepada penulis.
Karya ini mungkin hanyalah tugas akhir yang wajib dilewati dari masa studi yang telah penulis tempuh, tetapi semoga dapat menjadi sebuah awal yang baik bagi penulis.
“The first duty an archaeologist owes to his or her profession and to the descendants of the people whose remains he / she is studying is to try and get the story right” (Matthew Spriggs, June 1999).
Yogyakarta, Juli 2003
hlm. A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Rumusan Masalah dan Tujuan Penelitian ... 12
C. Landasan Teori ... 13
D. Metode dan Strategi Penelitian ... 19
BAB II. TINJAUAN UMUM A. Kondisi Lingkungan Kawasan Maluku Utara ... 27
1. Geomorfologi ... 27
2. Iklim dan Musim ... 30
3. Flora dan Fauna ... 31
4. Catatan Etnografi ... 35
B. Kondisi Lingkungan Pulau Kayoa ... 38
1. Gambaran Umum ... 38
2. Kondisi Fisik ... 40
3. Manusia dan Bahasa ... 41
BAB III. DESKRIPSI DAN ANALISIS DATA ARKEOLOGI A. Situs Ceruk Uattamdi ... 43
1. Situs Uattamdi I ... 43
2. Situs Uattamdi II ... 46
viii
1. Stratigrafi ... 47
2. Data Artefaktual ... 51
3. Data Non-Artefaktual ... 70
4. Distribusi Vertikal Data Arkeologi Situs Uattamdi ... 71
C. Kronologi Penghunian Situs Ceruk Uattamdi ... 73
D. Kajian Data Arkeologi Situs Ceruk Uattamdi, Dalam Perspektif Regional ... 78
1. Aspek Budaya Fase I ... 79
2. Aspek Budaya Fase II ... 98
3. Kronologi Budaya Situs Ceruk Uattamdi ... 108
BAB IV. PROSES MIGRASI-KOLONISASI MANUSIA DI MALUKU UTARA A. Intepretasi Migrasi-Kolonisasi Non-Austronesia di Maluku Utara ... 110
1. Awal Penghunian Maluku Utara ... 110
2. Faktor Penyebab Migrasi ... 114
3. Proses Migrasi ... 115
4. Tahap Kolonisasi ... 121
B. Intepretasi Migrasi-Kolonisasi Austronesia di Maluku Utara ... 124
1. Faktor Penyebab Migrasi ... 125
2. Proses Migrasi ... 130
3. Tahap Kolonisasi ... 135
C. Implikasi Kasus Migrasi-Kolonisasi Austronesia di Maluku Utara ... 141
1. Interaksi Austronesia Dengan Non-Austronesia ... 142
2. Ideologi Cikal Bakal ... 151
3. Integrasi Budaya Austronesia dan Non-Austronesia ... 155
BAB V. PENUTUP ... 157
Gambar 3.1. : Keberadaan kotak ekskavasi pada Situs Ceruk Uattamdi...…….45
Gambar 3.2. : Gambar penampang stratigrafi Situs Ceruk Uattamdi...……… .48
Gambar 3.3. : Beliung dari Situs Ceruk Uattamdi………..53
Gambar 3.4. : Serpih dari Situs Ceruk Uattamdi ………...54
Gambar 3.5. : Tatal dari Situs Ceruk Uattamdi ………..54
Gambar 3.6. : Lancipan Tulang dari Situs Ceruk Uattamdi ………...56
Gambar 3.7. : Gerabah slip merah dari lapisan C dan D………64
Gambar 3.8. : Gerabah slip merah dari lapisan C dan D………65
Gambar 3.9. : Gambar tempayan kubur dari lapisan A dan B………66
Gambar 3.10. : Gambar tempayan kubur dari lapisan A dan B ………...67
Gambar 3.11. : Kumpulan artefak dari situs Ceruk Uattamdi………..69
Gambar 3.12. : Gerabah neolitik Madai………81
Gambar 3.13. : Gerabah neolitik Leang Tuwo Mane’e ….………..82
Gambar 3.14. : Gerabah neolitik Bukit Tengkorak………...82
Gambar 3.15. : Lancipan tulang dari situs Daeo 2………85
Gambar 3.16. : Lancipan tulang dari situs Siti Nafisah………85
Gambar 3.17. : Lancipan tulang dari situs Golo………...86
Gambar 3.18. : Beliung kerang Hippopus dan Tridacna dari Pulau Gebe…...87
Gambar 3.19. : Beliung kerang Tridacna dari Gua Dunyong………...88
Gambar 3.20. : Beliung kerang Hippopus dari Mikronesia………..89
Gambar 3.21. : Beliung kerang Cassis dari Mikronesia………...…89
Gambar 3.22. : Manik-manik dari Leang Buidane, Talaud………102
Gambar 3.23. : Gerabah masa logam dari Leang Buidane……….104
Gambar 3.24. : Gerabah masa logam dari Agop Atas………104
Gambar 3.25. : Gerabah masa logam dari Madai………...104
Keterangan hlm.
Peta 1.1. : Persebaran rumpun bahasa Austronesia……….4
Peta 2.1. : Kedudukan Maluku Utara dalam Kepulauan Indonesia………..26
Peta 2.2. : Fisiografi Maluku Utara………...29
Peta 2.3. : Batas Biogeografi di Kawasan Wallacea………...32
Peta 2.4. : Peta bahasa di Halmahera dan pulau-pulau sekitarnya…………36
Peta 2.5. : Pulau Kayoa dan pulau-pulau lainnya di Laut Maluku…………39
Peta 2.6. : Kondisi Geologis Pulau Kayoa………...………...40
Peta 3.1. : Keletakan situs Ceruk Uattamdi, Pulau Kayoa, Maluku Utara…44 Peta 3.2. : Persebaran situs-situs di kawasan Asia Tenggara Kepulauan bagian timur………..……….79
Peta 4.1. : Jalur migrasi menuju Daratan Sahul, seperti yang disarankan oleh Birdsell……….111
Peta 4.2. : Model migrasi Non-Austronesia di Maluku Utara………119
Peta 4.3. : Model migrasi Austronesia menuju Maluku Utara………138
Peta 4.4. : Model migrasi Austronesia di Maluku Utara……….139
Tabel 3.1. : Pertanggalan dari situs Uattamdi……….51 Tabel 3.2. : Jenis temuan secara umum dari Situs Uattamdi ……….72 Tabel 3.3. : Distribusi deposit budaya secara vertikal di Situs Uattamdi,
Pulau Kayoa……….……….74 Tabel 3.4. : Kronologi budaya situs Uattamdi………. ..75
Keterangan hlm Bagan 4.1. : Model migrasi-kolonisasi Austronesia di Maluku Utara ……..140
ANU : Australian National University API : Asosiasi Prehistorisi Indonesia
Bakorsurtanal : Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional Balar : Balai Arkeologi
Depdikbud : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan DIY : Daerah Istimewa Yogyakarta ed./eds. : editor/editors
Fak. : Fakultas
hlm. : halaman
HIMA : Himpunan Mahasiswa Arkeologi ibid : ibidem
IAAI : Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia Inc. : Incorporation
Ina. : Indonesia
IPPA : Indo-Pacific Prehistory Association
xiv
PMP : Proto Malayan-Polynesian POC : Proto Oceanic
PSAP : Pusat Studi Asia Pasifik
PSHWNG : Proto South Halmahera-West New Guinea Puslitarkenas : Pusat Penelitian Arkeologi Nasional
RSPAS-ANU : Research School of Pacific and Asian Studies-Australian Nasional University
SM : Sebelum Masehi
UGM : Universitas Gadjah Mada
Univ. : Universitas
A. LATAR BELAKANG MASALAH
Penelitian tentang keberadaan manusia di Indonesia telah dimulai sejak Eugene Dubois menemukan fosil atap tengkorak dan tulang paha Pithecantropus erectus (Homo erectus erectus) di Trinil pada tahun 1891.1 Hingga kini penelitian mengenai hal tersebut telah banyak mengalami kemajuan. Berdasarkan bukti paleoantropologi, populasi makhluk manusia yang pertama kali mendiami kawasan Indonesia adalah Homo erectus. Jenis tersebut diperkirakan berevolusi menjadi jenis yang progresif, yaitu Pithecanthropus (Homo erectus) soloensis atau Solo Man, tetapi kemudian mengalami kepunahan pada 40.000 BP.2
Populasi manusia yang dianggap modern secara anatomi, yang paling awal masuk ke kawasan Kepulauan Indo-Malaysia adalah Homo (sapiens) wajakensis yang ditemukan di Wajak (Tulung Agung) dan berumur sekitar 50.000 BP.3 Beberapa sisa tinggalan lainnya yang sejenis dari kawasan ini antara lain adalah,
1
R.P Soejono, Sejarah Nasional Indonesia I, (Jakarta: Balai Pustaka, 1975), hlm. 61.
2
Peter Bellwood, Man’s Conquest of the Pacific, (Auckland: Collins, 1975), hlm. 38.
3
tengkorak dalam dari gua Niah (Serawak) berumur sekitar 35.000-40.000 BP dan sebuah lagi tengkorak dari Tabon (Palawan) berumur sekitar 24.000 BP.4
Saat ini populasi Homo sapiens sapiens yang mendiami kawasan Indonesia terdiri dari dua ras yaitu Australo-Melanesid dan Mongoloid.5 Manusia dengan ciri ras Australo-Melanesid diantaranya adalah orang Papua di Papua dan Nugini, orang Halmahera Utara dan Morotai, beberapa komunitas di Timor bagian tengah dan timur dan beberapa pulau kecil (Alor dan Pantar) di kawasan Indonesia bagian Timur. Di lain pihak, ras Mongoloid (selatan) yang menggunakan rumpun bahasa Austronesia secara mayoritas mendiami kawasan Indonesia barat, seperti etnis Melayu dan beberapa etnis kerabatnya, Jawa, Dayak, Sulawesi dan etnis di beberapa bagian Indonesia Timur, seperti di Halmahera Selatan.6
Sebelum kedatangan orang Austronesia, wilayah Indonesia secara mayoritas telah dihuni oleh populasi Australo-Melanesid. W.W. Howells7 seorang ahli antropologi ragawi telah menyusun analisis multivarian berdasarkan atas studi antropometrik dan kranial yang kemudian sampai pada kesimpulan bahwa pada masa lampau terdapat suatu kawasan yang disebut Melanesia Lama yang meliputi
4
Periksa: Sandra Bowdler, “Sunda and Sahul: A 30 KYR BP Culture Area?”, dalam Smith. MA; Springgs.M and Fankhain, Sahul in Review, (Canbera: RPAS, ANU, 1993), hlm. 64-65. dan Robert B. Fox, The Tabon
Caves, Archaeological Explorations and Excavations on Palawan Island, Philippines (Manila: National Museum, 1970), hlm. 40.
5
Peter Bellwood, op.cit.,2000, hlm. 99. 6
Ibid., hlm. 144.
7
Dalam Peter Bellwood, The Colonization of the Pacific: Some Current
Daratan Sunda, Daratan Sahul, dan Kawasan Wallacea. Selain itu hasil analisisnya menyebutkan bahwa, di Asia Tenggara daratan (termasuk Sumatra bagian utara) juga terdapat kawasan budaya Hoabinhian. Menurut Howells, kedua kawasan tersebut dikoloni oleh manusia dengan ciri ras Australo-Melanesid. Tengkorak Wajak, Niah dan Tabon dianggap merupakan nenek moyang Australo-Melanesid, yang telah muncul di wilayah kepulauan ini setidaknya sejak 50.000.8
Di kawasan Maluku Utara, bukti awal mengenai kedatangan spesies manusia modern muncul sejak Kala Plestosen Akhir dan Awal Holosen, yang ditemukan di gua pantai Golo (32.000 BP), Um Kapat Papo (7000 BP) dan Buwawansi (9000 BP) di Pulau Gebe, selain itu juga Daeo 2 (15000 BP) dan Tanjung Pinang (9000 BP) di Pulau Morotai, dan Gua Siti Nafisah (5.500 BP) di Pulau Halmahera.9 Tinggalan dari fase budaya tersebut juga merupakan jejak keberadaan populasi Australo-Melanesid (pra-Austronesia) di Maluku Utara.
Pada masa neolitik, bersamaan dengan munculnya pola subsistensi bercocok tanam, populasi di wilayah Indonesia bagian barat mulai digantikan oleh populasi Mongoloid selatan (Austronesia). Sementara itu, populasi Australo-Melanesid berangsur-angsur terdesak ke arah timur, dan wilayah yang didiaminya kemudian dinamakan Melanesia baru.10
8
Peter Bellwood, op.cit., 2000, hlm. 128-129.
9
Peter Bellwood, Goenadi Nitihaminoto, Gunadi, Agus Waluyo, Geoffrey Irwin, “The Northern Molluccas as A Crossroads between Indonesia and the Pacific”, dalam Sudaryanto dan Alex Horo Rambadeta (eds), Antar Hubungan
Bahasa dan Budaya di Kawasan Non-Austronesia, (Yogyakarta: PSAP-UGM,
2000), hlm. 233-234.
Austronesia adalah istilah yang diberikan oleh ahli linguistik, untuk menyebut suatu rumpun bahasa yang hampir secara mayoritas dituturkan oleh orang di kepulauan Indo-Malaysia dan Oseania. Pada akhirnya istilah Austronesia juga digunakan untuk menyebut seluruh komunitas yang berbudaya dan menggunakan rumpun bahasa Austronesia. Rumpun bahasa ini terdiri atas 1.200 bahasa dan digunakan oleh kira-kira 270 juta penutur. Persebaran bahasa ini telah mencapai lebih dari separuh belahan dunia sebelum masa kolonialisme bangsa Eropa.11 Banyak ahli yang berpendapat bahwa persebaran rumpun bahasa Austronesia yang luas disebabkan oleh proses ekspansi komunitas penutur rumpun bahasa tersebut ke luar dari daerah asalnya.
Peta 1.1. Persebaran rumpun bahasa Austronesia.
Sumber: Peter Bellwood, (1975), dengan modifikasi. Keterangan: Batas persebaran rumpun bahasa Austronesia.
Peta tanpa skala
11
Beberapa kelompok yang terbesar adalah: Melayu, Tagalog dan Jawa. Darrel Tryon, “Proto-Austronesian and the Major Austronesian Subgroup” dalam Peter Bellwood, James J. Fox, Darrell Tryon (eds), The Austronesians: Historical
Sudah banyak para ahli yang mengajukan model migrasi untuk kasus persebaran orang Austronesia. R. Von Heine Geldern adalah ahli yang pertama menyodorkan konsep tentang budaya Austronesia. Ia berpendapat bahwa luas persebaran budaya Austronesia ditunjukkan dengan persebaran kompleks budaya Vierkantbeil adze. Ciri-ciri utama dari kompleks budaya Vierkantbeil adze adalah kehadiran beliung persegi. Menurut Geldern, kompleks budaya ini berasal dari budaya neolitik Skandinavia, di daerah Danau Baikal dan Baltik (Eropa). Kemudian budaya ini menyebar melalui sepanjang wilayah pantai Arktik Eurasia menuju Pasifik Utara, hingga akhirnya secara mayoritas distribusinya meliputi wilayah Pasifik, Asia Tenggara, dan Polynesia. Selain itu, bentuk beliung dari Asia Timur Laut juga berhubungan erat dengan beliung dari Amerika Barat Laut.12 Teori ini telah kadaluarsa, karena hanya didasarkan pada persamaan tipologi beliung persegi saja dan secara logika terdapat kesenjangan alur pemikiran. Selain pandangannya yang Eropa sentris, data yang digunakan hanya berasal dari kumpulan hasil survey permukaan yang konteksnya tidak jelas dan miskin dokumentasi. Berdasarkan penelitian terbaru dengan berbagai data, teori yang diajukan oleh Geldern tersebut tidak dapat diterima.
Roger Duff13 mengajukan teori bahwa, arah persebaran bangsa Austronesia yang didukung oleh pola subsistensi bercocok tanam tercermin dari persebaran suatu jenis tipologi beliung persegi dari kawasan Asia Tenggara
12
Roger Duff, Stone Adze of Southeast Asia, (New Zealand: Centerbury Museum, 1970), hlm. 8.
13
Daratan. Teori tersebut berpijak pada hasil klasifikasi typologi beliung persegi bardasarkan bentuk irisan, bentuk tajaman, dan bentuk pangkal. Roger Duff sampai pada kesimpulan bahwa pusat asal penyebaran beliung persegi yang tersebar di kawasan kepulauan Indonesia kecuali Nugini berasal dari semenanjung Malaya bagian selatan. Ciri-ciri budaya Austronesia ditandai dengan beliung paruh (Malayan Beacked Adze)14 dan belincung (Indonesian Pick Adze)15. Beliung paruh menyebar dari Malaysia ke Sumatra dan Jawa, tetapi belincung yang tersebar di Indonesia tidak ditemukan di Malaysia. Beliau mengutip pendapat H.R Van Heekern bahwa, belincung berasal dari Sumatra dan Jawa, yang kemudian menyebar ke Bali, menuju Kepulauan Sunda Kecil dan Sulawesi sampai Minahasa. Sementara itu, beliung di Borneo Barat berasal dari Sumatra lewat Bangka.16 Teori ini memang merupakan penajaman dari teori yang di bangun oleh Geldern, tetapi juga perlu direvisi dengan adanya berbagai penemuan dari penelitian terbaru.
Thor Heyerdahl,17 mengajukan hipotesis bahwa orang Austronesia yang mendiami kepulauan Pasifik bermigrasi dari pantai barat Amerika Selatan. Berdasarkan pada kajian navigasi, ia mengajukan teori bahwa orang Austronesia bermigrasi dari Indonesia mengikuti “Great circle route” menuju Jepang, Alaska,
14
Type 7, variasi D dan E menurut klasifikasi Duff.
15
Type 7, variasi A, B dan C menurut klasifikasi Duff.
16
Roger Duff, op.cit., 1970, hlm. 14.
17
Ia mengadakan studi mengenai pelayaran tradisional dari Ekuador menuju Kepulauan Tuamotu dengan menggunakan Kon Tiki, perahu tradisional etnis di Amerika selatan. Lihat: Irving Rouse, Migrations In Prehistory,
Inferring Population Movement From Cultural Remains (New Haven: Yale
pesisir Pasifik Utara, kemudian menuju Polynesia dari timur ke barat. Model migrasi yang diajukannya adalah jalur utara dari Pesisir Pasifik utara menuju kepulauan Hawaii, dan jalur selatan dari Bolivia dan Peru menuju Pulau Easter. Model yang diajukannya didukung oleh perbandingan ciri rasial dan beberapa item budaya material. Menurut Irving Rouse, teori ini memiliki banyak kelemahan baik dari sudut pandang arkeologi dan genetik. Selain itu, juga kurang memperhatikan fakta yang berasal dari data linguistik.
Ahli lainnya adalah Wilhelm G. Solheim II18 yang mengajukan teori bahwa wilayah geografis persebaran gerabah Sa-Huynh-Kalanay di Asia Tenggara dan Lapita di Melanesia barat memiliki hubungan dengan persebaran orang Austronesia. Teorinya berangkat dari hasil rekonstruksi linguistik Isodore Dyne mengenai bahasa Proto Melayu-Polynesia yang diperkirakan berkembang di kepulauan Melanesia Barat. Solheim berpendapat bahwa daerah asal komunitas Austronesia adalah dari kawasan di sekitar Palawan-Serawak-Sulu-Sulawesi. Walaupun demikian, kawasan ini diperkirakan hanya merupakan daerah tahap kedua ketika komunitas ini mulai mengembangkan diri, dan bukan merupakan tempat asal awal perkembangan Austronesia. Menurutnya, data yang tersedia masih belum cukup untuk menentukan daerah asal komunitas Austronesia. Data tersebut dapat digunakan untuk mendukung berbagai hipotesis mengenai daerah
18
asal orang Austronesia. Selain itu, Solheim mengajukan istilah Nusantau19 untuk menyebut kelompok manusia dan budayanya tersebut.
Indah Asikin Nurani dalam tulisannya yang berjudul “Persebaran Tradisi Beliung Persegi dan Kapak Lonjong, Perpaduan di Kalumpang” (1993) dan “Sulawesi Sebagai Pusat Migrasi bangsa Austronesia” (1996) sampai pada kesimpulan bahwa daerah Indonesia timur bagian utara (khususnya Sulawesi) adalah daerah pusat migrasi orang Austronesia. Ia berpendapat bahwa gerabah Kalumpang yang sangat mirip dengan gerabah Kalanay, serta variasi temuan beliung persegi dan kapak lonjong, mengindikasikan bahwa Kalumpang adalah daerah asal persebaran orang Austronesia. Dari daerah ini beliung persegi menyebar ke arah Indonesia Barat dan Asia Tenggara Daratan, sedangkan kapak lonjong menyebar ke arah timur menuju Kepulauan Melanesia. Walaupun demikian, hipotesis yang dihasilkan dari kedua tulisan tersebut kurang signifikan dengan data dari hasil penelitian terbaru. Selain itu, tulisan tersebut juga belum memperhatikan data linguistik dan catatan etnografi.
Peter Bellwood20, dengan bukti yang lebih kompleks berhasil mengajukan teori yang lebih valid. Bertolak dari bukti arkeologis dan linguistik, beliau mengajukan teori bahwa daerah asal orang Austronesia adalah Taiwan dan Pantai Cina bagian selatan. Kawasan tersebut oleh berberapa ahli linguistik dianggap
19
Nusantau, dari kata Nusa: pulau dan tau: orang, lihat: ibid.
20
sebagai tempat asal bahasa proto-Austronesia. Disamping itu, secara arkeologis daerah tersebut menghasilkan bukti pola subsistensi bercocok tanam dan aspek budaya Austronesia lainnya yang paling tua di kawasan ini berupa beliung persegi dan gerabah, seperti yang ditemukan di situs Hemudu di Teluk Hangzou, Propinsi Zhejiang yang berumur 7000 tahun.
Sangat mengagumkan melihat persebaran bahasa Austronesia yang dituturkan hampir di seluruh kawasan kepulauan Indo-Pasfik. Berdasarkan analisis linguistik, Robert Blust21 mengajukan pendapat bahwa sub-kelompok bahasa Proto Melayu-Polynesia Timur (PEMP) yang dituturkan di area Teluk Cendrawasih (Papua), telah berkembang dan menurunkan dua anak bahasa yaitu bahasa Proto Halmahera Selatan-Nugini Barat (PSHWNG) dan Proto Oceanik (POC). PSHWNG dituturkan di daerah yang sama dengan PEMP dan menyebar ke barat sampai Halmahera Selatan dan pesisir utara Papua di timur. Di lain pihak, POC dituturkan di pantai utara Nugini yang berhadapan dengan Laut Bismark dan Kepulauan Admiralty (kawasan Kepulauan Bismark). Agaknya, orang Austronesia harus melewati Halmahera sebelum mencapai Pasifik. Berdasarkan analisis linguistik tersebut, dapat diperkirakan bahwa keletakan kawasan Maluku Utara yang sangat strategis memiliki arti penting bagi kajian migrasi-kolonisasi Austronesia.
Berdasarkan penelitian baru-baru ini oleh Peter Bellwood pada tahun 1991 dan 1994, dari kawasan Maluku Utara diperoleh catatan prasejarah yang rinci dan
21
Robert Blust, “The Austronesian Homeland: A Linguistic Perspective”,
panjang meliputi lebih dari 32.000 tahun.22 Kawasan tersebut memiliki banyak situs yang berpotensi untuk mengungkapkan berbagai masalah yang berkaitan dengan migrasi Austronesia. Salah satu situs tersebut adalah situs Ceruk Uattamdi di Pulau Kayoa, Maluku Utara. Berdasarkan analisis Peter Bellwood23, data arkeologi yang dihasilkan di situs tersebut (3300 BP) berhubungan erat dengan tinggalan dari Filipina dan Lapita di Melanesia Barat yang memiliki pertanggalan sezaman. Selain itu, data arkeologi yang dihasilkan situs tersebut mengindikasikan adanya kolonisasi orang Austronesia di kawasan tersebut.
Saat ini, terdapat beberapa tulisan mengenai migrasi-kolonisasi manusia di wilayah Indonesia, misalnya: Daud Aris Tanudirdjo24 yang berjudul “Proses Awal Penghunian Paparan Sahul Utara dan Kepulauan Melanesia” (1991) dan “Pleistocene Colonization in the Indo-Pacific: The models and the Data” (2000). Kedua tulisan tersebut membahas beberapa kemungkinan mengenai proses kolonisasi di Indonesia pada Kala Plestosen (pra-Austronesia) berdasarkan model pengambilan keputusan dengan data yang tersedia. Selain itu, beliau juga menulis disertasi yang berjudul “Islands in Between, Prehistory of the Northeastern Indonesian Archipelago“ (2002) yang membahas migrasi dan kolonisasi manusia
22
Peter Bellwood, Goenadi Nitihaminoto, Gunadi, Agus Waluyo, Geoffrey Irwin, op.cit., 2000, hlm. 195.
23
Ibid., hlm. 219
24
Daud Aris Tanudirjo, “Proses Awal Penghunian Paparan Sahul Utara dan Kepulauan Melanesia”, makalah disampaikan dalam kegiatan ilmiah IAAI Komda Yogyakarta-Jawa Tengah, (tidak diterbitkan, 1991) dan “Pleistocene Colonization in the Indo-Pacific: The models and the Data”, dalam Sudaryanto dan Alex Horo Rambadeta (eds), Antar Hubungan Bahasa dan Budaya di
di kepulauan Indonesia Timur bagian utara. Hannibal Hutagalung25 menulis mengenai keterkaitan antara situs Gua Golo dengan situs-situs lain yang relatif sezaman di Asia Tenggara dengan perspektif proses migrasi Homo sapiens (pra-Austronesia). Peter Veth, dkk26 dalam tulisannya “Bridging Sunda and Sahul: The Archaeological Significance of the Aru Island, Maluku” (2000) memberikan kesimpulan, berdasarkan survey arkeologi dan geomorfologi, bahwa Pulau Aru berpotensi sebagai objek kaji untuk menguji hipotesis mengenai migrasi yang diajukan dengan berbagai cara, khususnya model yang diajukan oleh Birdsell.
Peter Bellwood, dkk27 dalam tulisannya, “35,000 Years of Prehistory in the Northern Moluccas” (1998) dan “The Northern Molluccas as A Crossroads between Indonesia and the Pacific” (2000), membahas tentang kolonisasi kala Plestosen, kontak antar pulau, data baru mengenai pertanian, dan hubungan antara rumpun bahasa Austronesia dengan rumpun bahasa Papua. Selain itu, dalam tulisan tersebut dikemukakan bahwa di situs Uattamdi, Pulau Kayoa, terdapat dua
25
Hannibal Hutagalung, “Pemanfaatan Situs Gua Golo, Pulau Gebe (Maluku) Sebagai Hunian Kala Pleistosen Akhir-Holosen”, Skripsi Sarjana, (Yogyakarta: Fak. Sastra Univ. Gadjah Mada, 1999).
26
Peter Veth, Matthew Spriggs, Jatmiko, Susan O’Connor, “Bridging Sunda and Sahul: The Archaeological Significance of the Aru Island, Maluku, dalam Sudaryanto dan Alex Horo Rambadeta (eds), Antar Hubungan Bahasa
dan Budaya di Kawasan Non-Austronesia, (Yogyakarta :PSAP-UGM, 2000),
hlm. 91-118.
27
Peter Bellwood, Goenadi Nitihaminoto, Gunadi, Agus Waluyo, Geoffrey Irwin, & Daud Aris Tanudirjo, “35,000 Years of Prehistoriy in the Northern Moluccas”, dalam Gert-Jan Bartstra ed., Bird’s Heads Approaches, (Rotterdam: Balkema, 1998), hal. 233-275. dan Peter Bellwood, Goenadi Nitihaminoto, Gunadi, Agus Waluyo, Geoffrey Irwin, “The Northern Molluccas as A Crossroads between Indonesia and the Pacific”, dalam Sudaryanto dan Alex Horo Rambadeta (eds), Antar Hubungan Bahasa dan Budaya di Kawasan
fase budaya, yaitu fase neolitik dan logam awal. Walaupun kawasan yang dikaji dalam tulisan Bellwood juga Maluku Utara, tetapi tulisan tersebut belum membahas bagaimana kelompok manusia Austronesia dan Non-Austronesia dapat sampai di Kepulauan Maluku Utara dan implikasi mengenai kedua proses migrasi-kolonisasi kedua kelompok manusia tersebut, seperti aspek interaksi antara komunitas pendatang dengan komunitas setempat yang telah datang di kawasan tersebut sejak masa sebelumnya. Penelitian ini bersifat meneruskan dan melengkapi berbagai penelitian yang telah dilakukan, karena data yang ada masih mampu untuk mengungkapkan hal lain yang belum dibahas peneliti terdahulu khususnya mengenai proses migrasi-kolonisasi manusia.
B. RUMUSAN MASALAH DAN TUJUAN PENELITIAN
Berdasarkan pada latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka dapat disusun rumusan permasalahan sebagai berikut:
1. Bagaimanakah kronologi budaya situs Ceruk Uattamdi, Pulau Kayoa ? 2. Bagaimanakah proses migrasi-kolonisasi manusia di kawasan Maluku
Utara ?
3. Bagaimanakah implikasi dari proses migrasi-kolonisasi tersebut bagi perkembangan budaya Austronesia ?
untuk membantu mengintepretasikan proses migrasi-kolonisasi manusia di kawasan Maluku Utara. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk mengetahui implikasi yang berkaitan dengan proses migrasi-kolonisasi manusia di Maluku Utara bagi perkembangan budaya Austronesia, baik yang tampak melalui data arkeologi, etnografi, dan linguistik. Manfaat lain yang lebih jauh adalah untuk mengembangkan kerangka pikir dalam mengkaji kasus penghunian suatu wilayah yang sebelumnya telah dihuni oleh komunitas manusia lainnya.
C. LANDASAN TEORI28
Dalam ilmu demografi, migrasi merupakan salah satu komponen yang dikaji selain kelahiran (fertilitas) dan kematian (mortalitas). Migrasi adalah mobilitas penduduk yang melintasi batas wilayah tertentu menuju wilayah lain dalam periode waktu tertentu.29 Kolonisasi berarti proses penghunian suatu wilayah oleh suatu komunitas tertentu. Proses penghunian yang dimaksud
28Penelitian ini berangkat dari data, walaupun demikian penelitian ini tetap membutuhkan perangkat teori. Kedudukan teori dalam penelitian ini bukan sebagai penghasil hipotesis yang akan diujikan dalam penelitian, melainkan sebagai landasan bagi arah penelitian. Selain itu, kedudukan teori dalam penelitian ini adalah untuk membatasi dan mengarahkan pembahasan data, sehingga analisis yang dilakukan tidak bersifat liar. Walaupun demikian, sifat data masih dapat berbicara bebas. Jika terdapat ketidaksesuaian antara teori dengan data yang ada, maka hal tersebut akan dijelaskan, melalui proses dialogis antara data arkeologi di Maluku Utara dengan fenomena migrasi-kolonisasi manusia secara keseluruhan. Sintesis yang dihasilkan dalam penelitian ini hendaklah tidak dipandang sebagai suatu kesimpulan akhir, namun harus dilihat sebagai salah satu cara pencarian penjelasan. Sehingga hasil penelitian ini masih dapat diuji validitasnya melalui penelitian berikutnya dengan metode dan teknik yang berbeda.
29
meliputi: penghunian, perkembangan, dan kejenuhan penduduk. Jika suatu komunitas sudah mengalami kejenuhan penduduk, maka terdapat kemungkinan sebagian dari komunitas tersebut akan, memisahkan diri dari komunitas intinya. Oleh karena itu, kajian migrasi berhubungan erat dengan kolonisasi.
Dalam kajian migrasi, terdapat dua aliran pemikiran yang mendasarinya kajian tersebut, yaitu: Teori Kebetulan (accidental theory) dan Teori Pengambilan Keputusan (decision-making theory). Teori kebetulan menyatakan bahwa kolonisasi daerah-daerah baru oleh manusia pada masa prasejarah dilakukan secara tidak sengaja. Di lain pihak, teori pengambilan keputusan menyatakan bahwa proses perpindahan manusia dilakukan secara terencana dan dikelola dengan baik, sehingga bukan merupakan suatu kebetulan belaka.
Dalam proses pengambilan keputusan untuk menentukan migrasi dan kolonisasi daerah baru, manusia akan mempertimbangkan setiap kemungkinan akibat dari tindakan yang terbuka baginya. Dalam kehidupan manusia, hal tersebut tercermin dalam dua variabel, yaitu: biaya (cost) dan keuntungan (benefit). Biaya adalah sesuatu yang harus dikeluarkan untuk mencapai target, sedangkan keuntungan adalah sesuatu yang diperoleh setelah mencapai target.30
Dalam hal ini, kemungkinan biaya yang dipertimbangkan adalah biaya transportasi, konflik dengan komunitas lain di daerah asing, dan adaptasi budaya di daerah baru dengan lingkungan yang kemungkinan berbeda. Di sisi lain, keuntungan yang mungkin menjadi pertimbangan adalah daerah baru yang
30
memiliki sumberdaya dan sumber penghidupan baru, serta kehidupan baru dengan harapan akan masa depan yang lebih baik. Lebih jauh, dapat dikatakan secara umum bahwa migrasi akan terjadi apabila terdapat perbedaan nilai kefaedahan di antara dua wilayah.
Teori lain yang digunakan dalam kajian migrasi adalah teori kebutuhan dan tekanan (need and stress theory), yang menjelaskan mengapa suatu komunitas mengambil keputusan untuk melakukan migrasi. Teori tersebut menyatakan bahwa tiap manusia memiliki kebutuhan yang perlu untuk dipenuhi, antara lain adalah kebutuhan ekonomi, sosial, dan psikologis. Apabila tidak terjadi pemenuhan salah satu atau beberapa kebutuhan tersebut, maka akan terjadi tekanan atau stress.31 Terdapat dua akibat yang ditimbulkan dari tekanan tersebut. Pertama, jika tekanan tidak terlalu besar atau masih dalam batas toleransi, maka komunitas tersebut tidak akan pindah. Mereka akan tetap tinggal di daerah asal dan melakukan adaptasi budaya guna memenuhi kebutuhannya dengan memanfaatkan sumberdaya yang ada. Kedua, jika tekanan yang dialami melampaui batas toleransi, maka komunitas tersebut cenderung melakukan migrasi ke tempat lain agar kebutuhannya dapat terpenuhi.
Banyak sekali faktor yang menyebabkan migrasi manusia. Akan tetapi, sangat sulit mengidentifikasi faktor khusus yang menyebabkan migrasi tanpa bantuan dokumentasi data yang lengkap. Di sisi lain, lebih mudah mengidentifikasikan struktur kondisi umum yang menyebabkan terjadinya migrasi. Pada umumnya terdapat dua faktor penyebab migrasi yang dibedakan
31
berdasarkan tempatnya, yaitu faktor pendorong dan penarik. Walaupun kedua faktor tersebut merupakan faktor utama, tetapi sifatnya tidak mutlak menjadi penyebab terjadinya migrasi. Faktor pendorong adalah tekanan yang terjadi di daerah asal, sedangkan faktor penarik adalah hasil atau keuntungan di daerah baru (tujuan).32 Beberapa faktor penyebab migrasi yang telah disebutkan tersebut akan dibahas dalam penelitian mengenai migrasi-kolonisasi manusia ini.
Menurut MacArthur dan Wilson33 yang membangun “The Theory of Island Biogeography”, aspek lingkungan yang berpengaruh dalam proses kolonisasi di daerah kepulauan adalah jarak antar pulau, konfigurasi bentang lahan, dan luas area. Teori ini menitikberatkan pada aspek lingkungan, sehingga pendekatannya lebih bersifat materialistis. Padahal, dalam kasus migrasi-kolonisasi manusia pada daerah baru juga dipengaruhi oleh faktor-faktor non-material, sehingga pendekatan lingkungan tidak dapat menjangkau sampai pada faktor non-material tersebut. Meskipun demikian, teori ini masih berguna untuk mengarahkan penjelasan migrasi manusia, khususnya dari sudut pandang
a. Jarak
lingkungan alam.
Antar Pulau
Aspek jarak berakibat pada pemilihan target kolonisasi, semakin dekat jarak daerah yang memiliki sumberdaya maka semakin besar kemungkinannya
32
David W. Anthony, “Migration in Archaeology: The Baby and the Bathwater”, American Anthropologist 92, (1990), hlm. 899.
33
untuk dipilih sebagai daerah target kolonisasi, dan begitu juga sebaliknya. Pulau yang minim sumberdaya tanpa pulau-pulau pendukung di sekitarnya akan lebih
kolonisasi.
b. Kon
igurasi bentang lahan adalah us laut, dan bahaya (misalnya badai).
c. Luas
sumberdaya, dan dapat mendukung perkembangan populasi yang lebih b
kecil kemungkinannya untuk di
figurasi Bentang Lahan
Konfigurasi bentang lahan yang terdiri atas kepulauan menyebabkan migrasi steping stone dari pulau yang satu ke pulau yang lain, dengan sejumlah pulau sebagai batu loncatan. Pulau-pulau yang saling terlihat dan berhubungan, lebih besar kemungkinannya dipilih sebagai target kolonisasi. Variabel yang berpengaruh pada aspek jarak antar pulau dan konf
angin, pola ar
Area
Aspek luas area adalah besar kecilnya luas pulau yang menjadi target kolonisasi yang dipertimbangkan. Pulau yang lebih besar cenderung dipilih dari pada pulau yang lebih kecil, karena lebih mudah diakses, lebih banyak mengandung
esar.
Menurut Anthony34, terdapat dua tipe utama migrasi yang dibedakan berdasarkan cakupan keruangannya, yaitu migrasi jarak dekat dan migrasi jarak jauh. Migrasi jarak dekat biasanya memiliki frekuensi lebih tinggi tetapi dalam jarak yang tidak terlalu jauh, sebaliknya migrasi jarak jauh frekuensinya rendah tetapi dapat menembus cakupan geografis yang sangat luas, melewati suatu relung
34
ekologi dan budaya tertentu. Walaupun demikian, migrasi jarak jauh dapat merupakan implikasi dari proses migrasi jarak dekat yang berkelanjutan. Pada migrasi jarak jauh, terdapat beberapa pola, antara lain adalah migrasi lompat katak, migrasi arus, migrasi balik, migrasi frekuensi, dan migrasi demografi. Pendekatan migrasi jarak jauh sangat tepat untuk menjelaskan migrasi manusia di kepulauan Asia tenggara. Pendekatan semacam ini pernah digunakan oleh Matthe
w Spriggs35 untuk menjelaskan migrasi Lapita di kawasan Pasifik Barat.
Menurut Keegan dan Diamond36, dalam kasus kolonisasi kawasan baru terdapat tiga tahapan yang akan dilalui oleh para kolonis. Pertama adalah tahap adaptasi dengan lingkungan baru, lingkungan tersebut dapat sama atau berbeda sama sekali dengan lingkungan asalnya. Kedua adalah tahap beachhead bottle neck, yaitu tahap seleksi alam (survival of the fittes), dengan resiko punah ketika harus beradaptasi dengan lingkungan yang berbeda dengan daerah asalnya. Selain itu, mereka juga harus mengatur sistem budaya mereka agar mampu bertahan. Tahap ketiga, jika suatu kelompok masyarakat dapat melewati kedua tahap tersebut, maka mereka akan terus berkembang sampai terjadi kejenuhan penduduk. Jika mereka sampai pada tahap kejenuhan penduduk, padahal sumber daya lingkungan sudah tidak mendukung, maka akan terjadi degradasi lingkungan. Salah satu pilihan bagi mereka dalam menghadapi keadaan ini adalah
35 Periksa: Matthew Spriggs, “The Lapita Culture and Austronesian Prehistory in Oceania”, dalam Peter Bellwood, James J. Fox, Darrell Tryon (eds),
The Austronesians: Historical and Comparative Perspectives, (Canberra: ANU,
1995), hlm. 112-133.
36
mencari dan me uatu komunitas masyar
, dalam penelitian ini juga akan digunakan pendek
nelitian yang digunakan dalam penelitian ini, maka d
ngkoloni daerah-daerah baru. Kemampuan alami s
akat untuk selalu melanjutkan kolonisasi daerah baru disebut autocatalysis.
D. METODE DAN STRATEGI PENELITIAN
Berdasarkan tujuan penelitian yang hendak dicapai, maka penelitian ini bersifat eksplikatif. Penelitian ini akan memberikan gambaran atau deskripsi yang sistematik tentang data atau fakta. Dalam penelitian ini akan diuraikan keseluruhan data atau fakta menjadi bagian-bagian dan akan ditunjukkan hubungan-hubungan diantaranya.37 Dalam penelitian ini fakta yang berasal dari data arkeologi (artefaktual, ekofak, konteks, stratigrafi serta pertanggalannya), data etnografi dan data linguistik akan diuraikan secara keseluruhan dan dijelaskan hubungannya, sehingga dapat diketahui jawaban mengenai tujuan penelitian yang akan dicapai. Jadi berdasarkan sifat penalarannya, penelitian ini mengutamakan pengkajian berbagai informasi sebagai pangkal tolak dalam penarikan kesimpulan. Selain itu
atan kualitatif. Pendekatan ini digunakan untuk mengungkapkan makna yang melekat pada data arkeologi.
Berdasarkan pada metode pe
apat disusun tahap-tahap penelitian yang akan dilakukan sebagai berikut:
1. Tahap pengumpulan data
37
Daud Aris Tanudirjo, “Ragam Metode Penelitian Arkeologi Dalam Skripsi Karya Mahasiswa Arkeologi Universitas Gadjah Mada”, Laporan
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data hasil penelitian yang dilakukan oleh Peter Bellwood pada tahun 1994-1996 di kawasan Maluku Utara, khususnya Situs Ceruk Uattamdi, Pulau Kayoa, Maluku Utara. Pertanggalan dan pendokumentasian data arkeologi yang cukup baik merupakan alasan dipilihnya data dari situs tersebut. Data yang dimaksud terdiri atas berbagai hasil analisis yang pernah dilakukan terhadap data artefaktual, ekofak, tulang manusia (sisa penguburan), dan pertanggalan. Data yang dapat akses dan dianalisis langsung adalah
. Daud Aris fragmen gerabah dari situs Uattamdi. Selain itu, juga digunakan data hasil penelitian dari berbagai situs di kawasan Maluku Utara dan sekitarnya yang relevan dalam penelitian ini.
Tanudi
lainnya, yaitu linguistik dan etnografi sebagai data genetik tidak digunakan dalam penelitian ini karena
rjo juga telah menulis untuk disertasi dengan judul “Islands in Between, Prehistory of the Northeastern Indonesian Archipelago“ yang membahas migrasi dan kolonisasi manusia di kepulauan Indonesia Timur bagian utara.
Peter Bellwood 38 dalam tulisannya ”Crossing the Wallacea Line-With Style” menyarankan bahwa, dengan bukti arkeologi saja tidak cukup untuk merekonstruksi migrasi dan kolonisasi pada masa prasejarah. Oleh karena itu, juga harus memperhatikan catatan etnografi, bukti linguistik, dan genetik. Pada dasarnya kelemahan data arkeologi adalah sifatnya yang terbatas dan fragmentaris. Kadang kala data arkeologi tidak dapat menunjukkan aspek dinamis dari suatu budaya.39 Hal ini disebabkan karena berbagai aspek, seperti misalnya proses tafonomis dan bias-bias yang ditimbulkan. Maka, dalam penelitian ini, selain digunakan data yang berupa hasil analisis arkeologi, juga akan digunakan data dari beberapa ilmu bantu
pendukung. Sementara itu data
kelangkaan data tersebut. Akan tetapi tidak menutup kemungkinan tetap digunakannya data tersebut.
2. Tahap Pengkajian data
Pada tahap analisis akan dipaparkan hasil analisis terhadap data arkeologi yang pernah dilakukan sebelumnya. Pada tahap ini, juga akan dilakukan
38
Peter Bellwood, ”Crossing the Wallacea Line-With Style”, dalam Matthew Spriggs, dkk (eds), A Community of Culture, The People and
Prehistory of the Pacific, No. 21, (Canberra: ANU, 1993), hlm. 155-156.
39
pembahasan terhadap hasil analsis yang telah dilakukan oleh beberapa peneliti sebelumnya terhadap data arkeologi situs Uattamdi, sehingga hasil analisis tersebut menjadi lebih valid dan relevan untuk menjawab permasalahan dalam penelit
engan penyebaran budaya. Setelah dapat direkonstruksi lapisan-lapisan
uwo ian ini. Pembahasan hasil analisis tersebut dilakukan dengan cara membandingkan antara hasil analisis tersebut hasil penelitian lainnya dan dengan menganalisis beberapa data yang dapat diakses langsung.
Untuk menjawab permasalahan pertama mengenai kronologi budaya yang tercermin pada data arkeologi di Situs Ceruk Uattamdi, maka hal pertama yang akan dilakukan adalah merekonstruksi aspek budaya melalui data arkeologi yang ditinggalkan dari tiap lapisan budaya. Kemudian, dilakukan pengamatan pada tiap lapisan budaya untuk mengetahui dinamika data arkeologi yang ada. Proses tersebut berguna untuk mengetahui perubahan-perubahan budaya yang berhubungan d
budaya manusia pendukung situs tersebut pada tiap masanya, maka akan diketahui urutan penghunian oleh masing-masing kelompok manusia pendukung situs tersebut.
Mane’e (Talaud), Bukit Tengkorak (Serawak), Madai dan Baturong (Sabah), serta situs-si
proses migrasi-kolonisasi Austronesia di kawasan Maluku Utara. Setelah
tus lain di Filipina Selatan dan Melanesia Barat. Situs-situs tersebut akan dikaitkan antara satu dengan yang lain dalam perspektif migrasi-kolonisasi.
3. Tahap Intepretasi
Tujuan dari permasalahan kedua adalah untuk merekontruksi proses migrasi-kolonisasi Austronesia di Maluku Utara berdasarkan data yang tersedia hingga saat ini. Untuk menjawab permasalahan tersebut, akan digunakan beberapa teori, baik teori khusus mengenai migrasi-kolonisasi manusia maupun teori mengenai perubahan budaya secara umum. Teori migrasi-kolonisasi yang digunakan adalah yang bersumber pada pemikiran mengenai model pengambilan keputusan (decision making theory). Dengan asumsi bahwa kasus migrasi-kolonisasi Austronesia merupakan sebuah proses perpindahan manusia yang terencana dan dimanajemen dengan baik, dan bukanlah suatu kebetulan belaka. Hasil yang diharapkan berdasarkan tahap sintesis ini adalah suatu model mengenai
proses migrasi-kolonisasi Austronesia dapat direkonstruksi, maka sintesis ini juga akan diarahkan untuk mengetahui implikasi dari proses migrasi-kolonisasi tersebut.
a bermanfaat untuk mendukung hasil tesis tersebut akan dihasilkan gambaran mengenai proses migrasi-kolonisasi Austronesia di kawasan Maluku Utara serta implikasinya, secara lebih komprehensif.
Dalam tahapan ini diharapkan dapat dirumuskan pokok-pokok gambaran mengenai proses migrasi-kolonisasi manusia di Kawasan Maluku Utara, serta implikasinya bagi perkembangan budaya Austronesia.
yang dihasilkan oleh penelitian ini. Jadi penelitian terhadap situs Uattamdi ini juga didukung oleh data linguistik, misalnya mengenai persamaan kosa kata dan peta persebaran etnolinguistik di daerah tersebut yang masih berkembang. Seperti peran data linguistik, data etnografi jug
penelitian ini, sehingga dari tahap sin
Istilah Maluku Utara merupakan penyebutan bagi kawasan Kepulauan Maluku bagian utara dari sudut pandang geografis. Secara administratif kawasan Maluku Utara meliputi beberapa Daerah Tingkat II di Propinsi Maluku Utara. Secara astronomis, kawasan tersebut berada pada koordinat 124º – 129º BT dan 3º LU – 3º LS.1 Kawasan Maluku Utara merupakan daerah kepulauan yang meliliki potensi strategis dari sudut pandang keletakannya. Kawasan ini terletak di simpang empat yang menghubungkan kawasan Filipina di utara, New Guinea serta pasifik di Timur, Kepulauan Timor di selatan, dan Sulawesi serta kawasan Indonesia barat lainnya di sebelah baratnya.2
1
D.D. Bintarti, J.R. Indraningsih, S.A. Kosasih, Laporan Hasil
Kepurbakalaan di Daerah Maluku Tengah (Pulau Ambon, Seram, dan Sekitarnya) No. 8 (Jakarta: Puslitarkenas, 1977), hal. 3. dan Bahar Andili, “Profil
Daerah Maluku Utara”, dalam E.K.M Masinambouw ed., Majalah Ilmu-Ilmu
Sastra Indonesia, Jilid VIII No. 1 Nomor Istimewa (III) Halmahera dan Raja Ampat, (Jakarta: Depdikbud, 1980), hal. 3.
2
U
1000 km
Peta 2.1. Kedudukan Maluku Utara dalam Kepulauan Indonesia
Keletakannya yang berada di zona perantara (Wallacea)3 membuat kawasan ini sangat baik untuk mengamati keragaman manusia dan budayanya dan endemisme berbagai jenis flora dan fauna, baik yang disebabkan oleh pola perpindahan maupun evolusi setempat. Untuk mengidentifikasi masalah perpindahan manusia, dalam bagian ini akan dipaparkan latar belakang lingkungan biotik dan abiotik di kawasan Maluku Utara.
A. KONDISI LINGKUNGAN KAWASAN MALUKU UTARA
1. Geomorfologi
Kawasan Maluku Utara adalah kawasan yang didominasi oleh perairan, dengan perbandingan luas daratan dan laut adalah 1 : 3.4 Kawasan ini terdiri atas 353 pulau dengan luas kira-kira 32.000 km², yang tersebar di atas perairan seluas
3
Penyebutan nama Wallacea digunakan untuk menunjukkan pada kawasan di daerah Indonesia bagian tengah, yang terletak di antara paparan-paparan kontinental daratan Sunda dan Sahul. Kawasan ini meliputi kepulauan Sunda Kecil (Nusa Tenggara) dari Lombok ke timur, Sulawesi, kepulauan Maluku dan bahkan juga Filipina, tidak termasuk kepulauan Palawan. Kawasan Wallacea telah berevolusi sebagai zona ketidakstabilan lapisan luar yang dahsyat dan sekarang muncul sebagai sejumlah pulau yang dipisahkan oleh dua cekungan samudra yang dalam, terutama laut Sulu, laut Sulawesi dan Laut Banda. Seluruh kawasan ini terbentuk oleh proses-proses pengangkatan dan penurunan yang cepat. Oleh sebab itu, kawasan ini tidak pernah menjadi jembatan darat yang berkelanjutan antara Asia dan Australia dan semua penyebaran flora, fauna serta manusia yang melaluinya tentunya harus melewati air. Sumber: Peter Bellwood,
Prasejarah kepulauan Indo-Malaysia, edisi revisi, (Jakarta: PT.Gramedia
Pustaka Utama, 2000), hlm. 10. dan Cliff D. Ollier, “The Geological Background to Prehistory in Island Southeast Asia”, Modern Quaternary Research of
Southeast Asia, No. 9, (1985), hal. 35. Lihat peta 2.2.
4
107.381 km².5 Kawasan kepulauan ini berbatasan dengan Samudra Pasifik di utara, Samudra Indonesia dan Laut Arafura di selatan, Pulau Sulawesi di barat dan Pulau Irian di timur.6
Gugusan kepulauan di kawasan Maluku Utara terbentuk oleh relief-relief yang besar, Palung-palung Samudra, dan Punggung Pegunungan yang sangat mencolok saling bersambung silih berganti.7 Secara umum struktur fisiografi kawasan Maluku Utara terbentuk dari zona pertemuan dua sistem bentang alam. Kedua sistem bentang alam tersebut antara lain adalah Sistem Bentang Alam Sangihe dan Sistem Bentang Alam Ternate, dengan batasnya adalah Cekungan Celebes di barat dan Cekungan Halmahera di timur.
Pada kedua sistem bentang alam tersebut terdapat dua busur pegunungan yang bersifat vulkanik dan non vulkanik.8 Pada Sistem Bentang Alam Sangihe terdapat:
1. Busur dalam vulkanik : Busur kepulauan Sangihe 2. Busur luar non vulkanik : Busur kepulauan Talaud-Maju Sistem Bentang Alam Ternate terdiri dari:
1. Busur dalam vulkanik : Busur kepulauan Zona Ternate, Morotai-Bacan, termasuk bagian barat Pulau Halmahera utara 2. Busur luar non vulkanik : Busur kepulauan Sellius-Maju-Obi
Profil Propinsi Republik Indonesia: Maluku, op.cit., hlm. 17.
8
R.W. Van Bemmelen, The Geology of Indonesia, Volume IA: General
Geology of Indonesia and Adjacent Archipelagoes, ( The Hague: Martinus
Peta 2.2. Fisiografi Maluku Utara
Sumber: Van Bemmelen, (1977), dengan modifikasi.
sepanjang pantai barat Halmahera dan menghasilkan pulau-pulau lautan yang bersifat vulkanis, antara lain adalah: Ternate, Tidore, Makian dan Moti. Mare terbentuk dari material vulkanis yang terangkat, sedangkan Kayoa berasal dari terumbu karang yang terangkat. Mayu dan Tifore yang terletak di sepanjang gigir tengah Laut Maluku yang meninggi merupakan keping Melange aktif .9
Bentang lahan pada pulau-pulau di kawasan Maluku Utara mayoritas merupakan perbukitan dan pegunungan. Paparan dataran rendah yang tidak terlalu luas hanya dapat dijumpai di sepanjang pantai dan muara sungai. Pada beberapa barisan pegunungan terdapat puncak-puncak gunung berapi, dan beberapa diantaranya masih aktif. Gunung api yang paling aktif adalah Gunung Gamalama atau Gunung Tobona (Piek Van Ternate) di pulau Ternate dan Gunung Kie-Mutubu di Pulau Tidore, yang termasuk dalam Kepulauan busur vulkanik Zona Ternate.10
2. Iklim dan Musim
Kawasan Maluku Utara yang dilalui garis katulistiwa, memiliki iklim tropis musiman. Iklim di kawasan ini sangat dipengaruhi oleh angin muson yang berasal dari pemanasan yang terjadi pada massa daratan Asia dan Australia. Iklim di kawasan ini bersifat musiman dengan curah hujan yang rendah, kecepatan
9
Kathryn A. Monk, Yance De Fretes, Gayatri Reksodihardjo-Lilley, ”Ekologi Nusa Tenggara dan Maluku”, Seri Ekologi Indonesia, Buku V, (Jakarta: Prenhallindo, 2000), hlm. 44.
Keping Melange Aktif adalah kedudukan keping-keping batuan yang acak sehingga tidak dapat dibedakan stratifikasi umur berdasarkan urutan pembentukan batuan. Fenomena tersebut terjadi pada zona tumbukan antar lempeng benua yang masih aktif.
10
angin yang tinggi dan intensitas penyinaran yang tinggi. Hal tersebut membuat kawasan ini menjadi lebih kering, sedangkan iklim basah dengan curah hujan yang melebihi penguapan tidak terjadi di sini.11 Curah hujan di kawasan Maluku Utara rata-rata mencapai 3.000 mm per tahun, dengan jumlah hari hujan antara 153-266 hari per tahun. Suhu udara rata-rata 26,3º C, dengan suhu udara maksimum 30,1º C dan suhu minimum 23,5º C.12
Angin muson barat laut dimulai pada bulan Desember, bersifat basah sehingga menyebabkan musim penghujan. Curah hujan maksimum terjadi pada bulan Januari dan Februari. Peralihan musim terjadi pada bulan Maret dan April. Angin pasat tenggara dimulai pada bulan April, bersifat kering sehingga menyebabkan musim kemarau. Puncak musim kemarau terjadi pada bulan Juli sampai Agustus, dan kemudian diikuti dengan peralihan musim yang terjadi pada bulan September dan November.13
3. Flora dan Fauna
Persebaran flora dan fauna (biogeografis) secara alami sangat dipengaruhi oleh faktor geologis. Namun demikian, persebaran yang disebabkan oleh faktor manusia (translokasi) juga memiliki peranan yang sangat penting bagi biogeografis. Kawasan Maluku Utara secara biogeografis termasuk dalam kawasan Wallacea yang merupakan kawasan peralihan diantara dua wilayah besar
11
Kathryn A. Monk, Yance De Fretes, Gayatri Reksodihardjo-Lilley,
op.cit., hlm. 69.
12
Profil Propinsi Republik Indonesia: Maluku, op.cit., hlm. 34.
13
Kathryn A. Monk, Yance De Fretes, Gayatri Reksodihardjo-Lilley,
yaitu Oriental dan Australia.14 Proses endemisme15 yang sangat tinggi terjadi di kawasan ini dan masih berlangsung hingga saat ini, sehingga menimbulkan kerumitan bagi pemaparan asal-usul biogeografis di kawasan tersebut.
Peta 2.3. Batas
Berdasarkan penelitian baru-baru ini, Michaux berpendapat bahwa secara biogeografis, kawasan Maluku Utara lebih dekat kaitannya dengan Papua.16 Secara umum fauna mammalia asli Maluku terdiri dari marsupial (binatang
14 Kawasan Oriental meliputi: India, Srilanka, Indo-Cina, Sumatra, Jawa, Kalimantan, Formosa, dan Filipina. Biom utamanya adalah hutan tropik. Lihat peta 2.4.
Kawasan Australia meliputi: Australia, Tasmania, Irian, Papua, dan pulau-pulau di Pasifik Selatan. Biom utamanya adalah gurun, savana serta hutan tropik.
Sumber: Peter Farb, Ekologi, Pustaka Alam Time-Life Books Inc. (Jakarta: Tira Pustaka, 1981), hlm. 184-185.
15
Keberadaan organisme atau taksa yang distribusinya terbatas pada kawasan atau lokasi geografis tertentu, seperti pulau atau benua. Sumber: Abercrombie, M., M. Hickman, M.L. Johnson and H. Thain, Kamus Lengkap
Biologi, Edisi ke-8, Terjemahan, (Jakarta: Penerbit Erlangga, 1993), hlm. 203.
16
berkantung), tikus pengerat dan kelelawar. Fauna tersebut sama dengan fauna mamalia yang kini mendominasi kawasan Papua dan Australia. Jumlah mamalia darat di kawasan ini hanya 10 jenis, sedangkan spesies mamalia udara berjumlah 25 jenis.17 Di Maluku utara terdapat beberapa jenis kuskus (Phalangeridae) endemik, yaitu Phalanger pelengensis di Kepulauan Sula, Phalanger ornatus di Kep. Halmahera, Phalanger rothschildi di Pulau Obi dan Phalanger alexandrae di Pulau Gebe. Selain itu, Phalanger orientalis dan Spilocuscus maculatus kemungkinan didatangkan dari Papua.18 Kehadiran Phalanger orientalis dan bajing terbang (Petaurus breviceps) yang tersebar luas di kawasan ini kemungkinan besar diperkenalkan oleh manusia dari Papua.19
Menurut Flannery20, di Maluku Utara fauna tikus yang asli kawasan ini sangat langka dan berbeda dengan dua kawasan di sekitarnya, Sulawesi dan Papua. Rattus moroteiensis dan beberapa jenis endemik lainnya memiliki hubungan kekerabatan dengan jenis Melanesia, sedangkan Rattus elaphinus di Kepulauan Sula memiliki hubungan dengan Sulawesi. Satu-satunya tikus wirok yang masih bertahan hidup hingga kini adalah Rhynchomeles prattorum yang ada
17
Alfred Russel Wallace, Menjelajah Nusantara, Ekspedisi: Alfred
Russel Wallace abad ke-19, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2000), hlm. 217.
18
T.F. Flannery, “Mamalia Maluku”, dalam Kathryn A. Monk, Yance De Fretes, Gayatri Reksodihardjo-Lilley, ”Ekologi Nusa Tenggara dan Maluku”, Seri
Ekologi Indonesia, Buku V, (Jakarta: Prenhallindo, 2000), hlm. 370. dan T.F.
Flannery, P. Bellwood, J.P. White, T. Ennis, G. Irwin, K. Scubert, and K. Balasubramaniam, “Mammals from Holocene Archaeologycal Deposit on Gebe and Morotai Islans, Northern Moluccas, Indonesia”, Australian Mammalogy,
Vol. 20 Num. 3 (1998). Hlm.395.
19
Alfred Russel Wallace, op.cit., hlm. 217.
20
di Pulau Seram. Tikus wirok dan wallabi (Dorcopsis) diperkirakan mulai punah di Halmahera sejak 5.000 tahun yang lalu, dan tidak ada satu pun yang hidup sejak rusa (Cervidae), babi (Suidae), anjing (Canidae), luwak (Viverridae), dan celurut (Soricidae) diperkenalkan oleh manusia dari Asia.
Babun (Cynopthecus nigrescens) yang ada di pulau Bacan dan Jailolo diperkirakan didatangkan oleh manusia dari Sulawesi. Satu-satunya karnivora di kawasan ini adalah musang (Viverra tangalunga), yang ditemukan di pulau Bacan, Buru dan beberapa pulau kecil lainnya. Menurut Wallace, hewan ini didatangkan oleh manusia dari Filipina dan pulau besar lainnya di Indonesia barat.21 Selain itu, monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) dan rusa (Cervus timorensis) yang terdapat di kawasan tersebut juga didatangkan oleh manusia.22
Untuk mengetahui kondisi paleoekologi di kawasan Maluku Utara, telah didapat sampel pollen dari Laut Banda. Endapan pollen berasal dari akumulasi serbuk sari tumbuhan yang hidup pada masa lampau. Proses pembentukan endapan pollen di Laut Banda berkaitan erat dengan iklim muson dan pola sirkulasi arus laut yang terjadi di kawasan tersebut sehingga mengendapkan serbuk sari di Laut Banda. Berdasarkan faktor-faktor yang berpengaruh tersebut dapat diketahui bahwa sebagian besar sampel pollen tersebut berasal dari Sulawesi, Maluku dan Australia Utara.23 Sampel pollen yang berasal dari Kala
21
Alfred Russel Wallace, op.cit., hlm. 217-218.
22
Kathryn A. Monk, Yance De Fretes, Gayatri Reksodihardjo-Lilley,
ibid., hlm.319.
23
Holosen sebagian besar meliputi pollen tumbuhan jenis Macaranga, Mallotus, Nauclea, Moraceae, Urticaceae, dan Trema. Dari beberapa sempel tersebut dapat diketahui bahwa vegetasi yang mendominasi kawasan Indonesia Timur sejak Kala Holosen adalah vegetasi yang berasal dari hutan kayu dan padang rumput, dengan sedikit tanaman hutan hujan tropis.24
Pada saat ini, jenis-jenis tanaman yang telah dibudidayakan di Maluku Utara adalah jenis tanaman pangan, antara lain adalah: padi, jagung, kacang kedelai, kacang tanah, ubi kayu, ubi jalar, sayur mayur dan buah-buahan. Selain itu juga beberapa tanaman perkebunan, antara lain adalah: pala, kopi, cengkeh, kelapa, jambu mete, coklat, tebu dan karet. Hasil hutan dari kawasan tersebut antara lain adalah: sagu, bambu dan rotan.25
4. Catatan Etnografi
Menurut penelitian Martodirdjo26, di Maluku Utara, khususnya di Pulau Halmahera dan pulau-pulau di sekitarnya, berkembang dua kelompok rumpun bahasa yang berbeda, yaitu bahasa Austronesia di bagian selatan dan bahasa Non-Austronesia (Papua) di bagian Utara. Sejumlah 9 bahasa lokal di Halmahera
Sea, Indonesia: patterns of vegetation, climate and biomass burning in Indonesia and northern Australia”, Palaeogeography, Palaeoclimatology, Palaeoecology,
No. 155, (Elsevier Science, 2000), hlm. 141.
24
Ibid., hlm 149.
25
Profil Propinsi Republik Indonesia: Maluku, op.cit., hlm. 43.
26 Lihat: Haryo S. Martodirdjo, “Perkembangan Bahasa dan Budaya Daerah Perbatasan Rumpun Bahasa Austronesia dan Non-Austronesia di Halmahera”, dalam Sudaryanto dan Alex Horo Rambadeta (eds), Antar
Hubungan Bahasa dan Budaya di Kawasan Non-Austronesia, (Yogyakarta:
Selatan termasuk rumpun bahasa Austronesia yang memiliki persamaan genetik dengan kerabat bahasa Austronesia lainnya di Indonesia Timur dan 12 bahasa lokal di Halmahera Utara termasuk rumpun bahasa Papua yang berkerabat dengan bahasa Papua yang dituturkan di daerah Kepala Burung.27
Peta 2.4. Peta bahasa di Halmahera dan pulau-pulau sekitarnya
Sumber: Haryo S. Martodirdjo, (2000).
27
Adanya dua rumpun bahasa yang digunakan di Maluku Utara mengindikasikan adanya dua kelompok budaya yang berbeda. Pada kenyataannya masyarakat yang berbicara bahasa Austronesia biasanya tidak memahami pembicaran dalam bahasa Non-Austronesia (Papua), begitu juga sebaliknya. Hal ini seperti yang terjadi pada masyarakat Makian Barat dan Makian Timur, yang tinggal di pulau kecil Makian. Akibat dari gejala tersebut di Maluku Utara berkembang bahasa perantara (Lingua Franca) yang digunakan dalam pergaulan sehari-hari antarkelompok masyarakat yang saling berbeda bahasa dan budayanya. Bahasa tersebut adalah bahasa Melayu Pasar yang berlaku di seluruh Halmahera Selatan dan Utara. Bahasa tersebut merupakan bentuk lokal dari bahasa Melayu standar dengan 45% kosa katanya berasal dari bahasa Ternate yang termasuk dalam rumpun bahasa Non-Austronesia .28
Mahirta29 telah mendokumentasikan etnografi mengenai pelayaran antar pulau yang masih dapat dijumpai di kepulauan Maluku Utara. Pelayaran tersebut digunakan untuk mendistribusikan gerabah Mare, satu-satunya produsen gerabah di kepulauan Maluku Utara yang masih ada hingga saat ini, ke seluruh kawasan kepulauan tersebut. Sampai saat ini terdapat tiga rute utama yang masih dilakukan dalam pelayaran-perdagangan tersebut, yaitu: pelayaran di sepanjang pulau-pulau sebelah barat Halmahera, pelayaran sepanjang Pulau Halmahera-Morotai, dan pelayaran ke (Sorong) Kepala Burung dan berputar di sepanjang Teluk Weda.
28 Ibid., hlm. 70.
Walaupun dalam penelitian tersebut yang menjadi fokus kajian adalah pelayaran antar pulau sebagai media distribusi gerabah Mare, tetapi disamping itu juga berhasil diungkapkan pemerataan distribusi produk-produk ke seluruh kawasan kepulauan Maluku Utara yang penduduknya hanya berkonsentrasi pada sumber-sumber tertentu saja dari lingkungan sekitarnya. Seperti misalnya: penduduk Pulau Mare menghasilkan gerabah, Bacan menghasilkan ikan, Moti menghasilkan buah-buahan dan sayur mayur, Halmahera menghasilkan kerang yang berharga, seperti misalnya kapis-kapis (Pinctada sp.) dan bialola (Trocus sp.), tanduk rusa, dan taring hiu, Weda menghasilkan kopra, cengkeh, dan pala.
B. KONDISI LINGKUNGAN PULAU KAYOA
1. Gambaran Umum
Pulau Kayoa merupakan sebuah pulau koral di kawasan Maluku Utara dengan panjang 20 km, lebar 7 km, dan luas 150 km².30 Pulau ini berjarak 30 km di sebelah barat Pulau Halmahera, pulau terbesar di kawasan ini. Pulau Kayoa berada di antara Pulau Makian di sebelah utara dan Pulau Bacan di sebelah selatan.31 Pulau ini menghasilkan padi, jagung dan sedikit kapas, serta
30
D.D. Bintarti, J.R. Indraningsih, S.A. Kosasih, ibid., hlm. 20. dan Peter Bellwood, Excavations in Uattamdi Rockshelters, Kayoa Island, (Tidak dipublikasikan), hlm. 1.
31
buahan berupa pepaya dan nanas.32 Selain itu, pulau ini juga merupakan penghasil rempah-rempah utama selain Pulau Ternate, Tidore, Makian, dan Moti.33
Peta 2.5. Pulau Kayoa dan pulau-pulau lainnya di Laut Maluku
Sumber: Microsoft Encarta Reference Library (2003), dengan modifikasi
32
Alfred Russel Wallace, op.cit., hlm. 178.
33
2. Kondisi Fisik
Berdasarkan pada sejarah pembentukannya, Pulau Kayoa merupakan sebuah pulau atol yang berasal dari terumbu karang yang terangkat naik pada Periode Kuarter, kira-kira sejak dua juta tahun yang lalu.34 Bentuk lahan di pulau ini berupa pegunungan dengan tanahnya yang berbatu-batu.35 Secara geologis pulau ini termasuk dalam rangkaian busur dalam vulkanis Zona Ternate, yaitu jajaran kepulauan vulkan dari Morotai sampai Bacan termasuk Halmahera barat bagian Utara. Walaupun demikian pulau ini temasuk pulau vulkanik yang tidak aktif.
Titik tertinggi di pulau ini adalah Gunung Tigalalu dengan ketinggian 422 m, yang merupakan sebuah gunung api tua yang masih mempertahankan ciri gunung apinya dengan kerucut dalam dan lingkar luar kawahnya. Batuan vulkanik Tigalalu berumur Plestosen akhir, sedangkan bagian timur pulau ini terdiri dari batuan vulkanik dari Kala pra-Miosen. Selain itu, sepanjang pesisir barat pulau ini terbentuk dari terumbu karang yang terangkat naik pada Kala Pleistosen. Setidaknya ada tiga tingkatan koral yang terangkat naik, dengan tebing-tebing rendah. Bagian barat pulau ini merupakan pantai pasir koral dan tanjung koral, sedangkan sepanjang pesisir timur merupakan daerah rawa.36
34
Kathryn A. Monk, Yance De Fretes, Gayatri Reksodihardjo-Lilley,
ibid., hlm. 43. dan Van Bemmelen, op.cit., hlm. 384.
35
Alfred Russel Wallace, op.cit., hlm. 50-51.
36
Peta 2.6. Kondisi Geologi Pulau Kayoa
Sumber: Aswan Yasin, Peta Geologi Lembar Bacan, Maluku (1980), dengan
modifikasi.
5 km
Keterangan:
Tomb : Formasi Bacan, dengan komposisi: breksi gunung api, lava andesit, bersisipan dengan batu pasir dan batu lempung.
QI : Batu gamping, terumbu karang terangkat.
3. Manusia dan Bahasa
Ternate dan Jailolo. Mata pencaharian mereka sebagian besar adalah berladang dan membuat perahu.37
Berdasarkan hasil penelitian para ahli linguistik yang memetakan bahasa-bahasa di kawasan Maluku Utara, sampai saat ini penduduk Pulau Kayoa menggunakan bahasa Kayoa yang termasuk dalam sub-stratum bahasa Austronesia.38 Walaupun demikian bahasa Kayoa lebih khusus yang disebabkan oleh perbedaan dialek, interaksi dengan bahasa Non-Austronesia yang ada di Maluku Utara bagian utara, dan hasil perkembangan lokal.
37
Alfred Russel Wallace, op.cit., hlm. 178.
A. SITUS CERUK UATTAMDI
Penelitian Peter Bellwood pada tahun 1991 dan 1994 meliputi dua situs di Pulau Kayoa, Maluku Utara, yaitu Situs Ceruk Uattamdi I dan Situs Ceruk Uattamdi II. Dalam penelitian tersebut hanya Situs Ceruk Uattamdi I saja yang banyak menghasilkan data arkeologi yang akan dibahas dalam tulisan ilmiah ini.
1. Situs Uattamdi I
Situs Uattamdi I merupakan sebuah ceruk peneduh1 pada tebing koral setinggi 6 m di Tanjung Pompom, pantai barat Pulau Kayoa. Tepatnya di sebelah barat laut kampung Guruapin, ibu kota kecamatan Kayoa. Situs Uattamdi terletak pada koral terjal yang terangkat naik karena gerakan tektonik, dan berjarak 60 meter dari garis pantai saat ini. Dataran pesisir selebar 60 meter tersebut terbentuk oleh sedimentasi pelapukan hasil pembukaan lahan bagi pertanian kelapa pada masa baru-baru ini.2
1
Berbeda dengan gua, ceruk merupakan bentuk gua yang lebih sederhana. Biasanya tidak memiliki stalaktik dan stalakmit, keseluruhan bagian rongga mendapat sinar matahari, dan batas imajinernya hanya sampai batas yang temaram. Agung Wiratno, ”Perbedaan Bentuk Budaya Masyarakat Penghuni Gua-Gua Prasejarah Di Jawa Timur Dan Sulawesi Selatan”, Skripsi (Yogyakarta: Fak. Sastra UGM, 1998), hlm. 12-13.
2