BAB V. PENUTUP
Peta 4.1. Jalur migrasi menuju Daratan Sahul, seperti yang disarankan oleh
Sumber: J.B. Birdsell, 1977
2
Lihat: Daud Aris Tanudirjo (1991 dan 2000), “Proses Awal Penghunian Paparan Sahul Utara dan Kepulauan Melanesia” dan “Pleistocene Colonization in the Indo-Pacific: The Models and the Data”, untuk pembahasan mengenai berbagai model yang telah diajukan oleh berbagai ahli dengan berbagai pendekatan yang berbeda.
Menurut Butlin3 jalur selatan dari Timor menuju Australia lebih memungkinkan dari pada jalur utara dari Borneo menuju Nugini. Menurut beliau, pertama karena jarak jalur selatan lebih pendek dari pada jalur utara. Kedua, fluktuasi ketinggian muka air laut yang disebabkan oleh proses glasial- interglasialisasi tidak menyebabkan perubahan bentuk lahan dan garis pantai kepulauan di jalur utara tetapi tidak demikian dengan jalur selatan. Ketiga, banyak pulau dan daratan yang muncul pada Paparan Sahul bagian selatan akibat proses fluktuasi muka air laut sehingga dapat dijadikan batu loncatan dari Timor menuju Australia, bahkan Kepulauan Sunda Kecil disatukan oleh daratan. Keempat, konfigurasi kepulauan pada jalur utara yang relatif menyebar meyulitkan untuk diakses. Kelima, jalur utara lebih beresiko dari pada jalur selatan.
Sedangkan menurut Bellwood,4 pada jalur utara manusia akan berhadapan dengan hutan hujan tropis di Borneo tetapi berhadapan dengan hutan tropis musiman di Sulawesi. Di lain pihak dari Jawa bagian timur hingga Kepulauan Sunda Kecil manusia akan berhadapan dengan iklim yang relatif seragam yaitu hutan tropis musiman. Pada kondisi seperti ini, dari sudut pandang adaptasi budaya, maka jalur utara akan lebih membahayakan dan beresiko lebih besar dari pada jalur selatan.
3 Periksa: N.G. Butlin, “The Palaeoeconomic History of Aboriginal Migration”, hlm 3-57.
Pada Kala Pleistosen Akhir, manusia yang menghuni kepulauan Indonesia timur bagian utara adalah populasi Wajak-like.5 Ciri kelompok manusia tersebut mendekati ciri rasial yang dimiliki oleh populasi Australo-Melanesid. Ciri yang memiliki hubungan dekat dengan komunitas Papua yang masih bertahan di Melanesia hingga saat ini. Kemungkinan besar, rangka dari Golo (7500 BP)6 juga mengandung unsur rasial tersebut. Menurut Voorhoeve, berdasarkan data lingistik, bahasa-bahasa Halmahera Utara yang saat ini masih berkembang termasuk dalam Phylum Papua Barat.7 Walaupun demikian bahasa-bahasa tersebut telah memiliki tingkat diversitas yang tinggi dengan bahasa Papua dari daerah Kepala Burung, sehingga metode linguistik tidak dapat menjangkau masa penyebaran bahasa tersebut dari daerah asalnya.
Menurut Bellwood8 para penjelajah lautan yang paling awal di Pasifik bagian barat membuat alat-alat serpih seperti yang ada di situs-situs sejaman di Indonesia. Hal tersebut mengindikasikan bahwa terdapat hubungan secara kultural antara kedua kawasan tersebut. Adanya translokasi wallabi (Dorcopsis muelleri mysoliae) yang merupakan hewan asli Daratan Sahul pada situs-situs di
5 Daud Aris Tanudirjo, “Recent Archaeological Research in Northeastern Indonesia”, makalah disampaikan dalam IPPA Congres, Melaka, 1998, hal. 9.
6
Hannibal Hutagalung, “Pemanfaatan Situs Gua Golo, Pulau Gebe (Maluku) Sebagai Hunian Kala Pleistosen Akhir-Holosen”, Skripsi Sarjana, (Yogyakarta: Fak. Sastra UGM, 1999), hlm. 68.
7
Peter Bellwood, Goenadi Nitihaminoto, Gunadi, Agus Waluyo, Geoffrey Irwin, “The Northern Molluccas as A Crossroads between Indonesia and the Pacific”, dalam Sudaryanto dan Alex Horo Rambadeta (eds), Antar Hubungan
Bahasa dan Budaya di Kawasan Non-Austronesia, (Yogyakarta: PSAP-UGM,
2000), hlm. 221.
8
Peter Bellwood, Prasejarah kepulauan Indo-Malaysia, edisi revisi, (Jakarta: PT.Gramedia Pustaka Utama, 2000), hlm. 278.
Kepulauan Maluku Utara oleh manusia mengindikasikan bahwa, komunitas Non- Austronesia berasal dari Daratan Sahul. Berdasarkan beberapa hal tersebut dapat ditarik hipotesis bahwa, komunitas Non-Austronesia yang mengkoloni Maluku Utara datang dari Daratan Sahul setidaknya sejak 32.000 BP.
2. Faktor Penyebab Migrasi
Berdasarkan data arkeologi dapat diketahui bahwa, struktur masyarakat Non-Austronesia yang ada di kawasan Maluku Utara merupakan masyarakat pemburu-pengumpul yang menggantungkan hidupnya dari kemampuan daya dukung sumberdaya lingkungan. Dalam struktur masyarakat pemburu-pengumpul proses migrasi sangat dipengaruhi oleh pola cakupan situs dan kemampuan alami yang dimiliki oleh masyarakat tersebut, yang disebut autocatalysis. Pola cakupan situs membuka peluang bagi penjelajahan kawasan-kawasan baru oleh masyarakat pemburu-pengumpul yang dikenal memiliki kemampuan mobilitas tinggi. Selain faktor lingkungan, dalam konteks subsistensi pemburu-peramu, proses migrasi- kolonisasi juga dipengaruhi oleh manusia itu sendiri sebagai pembuat keputusan. Dalam proses pengambilan keputusan terdapat dua variabel, yaitu biaya (cost) dan keuntungan (benefit).9 Biaya adalah sesuatu yang harus dikeluarkan untuk mencapai target, sedangkan keuntungan adalah sesuatu yang diperoleh setelah mencapai target.
9
Periksa: Daud Aris Tanudirjo, “Proses Awal Penghunian Paparan Sahul Utara dan Kepulauan Melanesia”, makalah dalam Kongres IAAI, (Tidak dipublikasikan, 1991), hlm. 4.
Beberapa kemungkinan tersebut mungkin juga merupakan faktor penyebab terjadinya perpindahan manusia dan penghunian awal Maluku Utara, yang terjadi pada kala Plestosen Akhir. Pada masa tersebut kondisi iklim global masih belum stabil sehingga mengakibatkan terjadinya proses glasial-interglasialisasi. Proses tersebut menyebabkan perubahan lingkungan yang merupakan relung ekologi tempat tinggal manusia. Pada situasi ini manusia akan dihadapkan oleh dua pilihan yaitu tetap tinggal dengan menyusun sistem budayanya agar dapat survive atau pindah ke tempat lain yang lingkungan alamnya dapat mencukupi kebutuhan hidupnya. Mungkin sebagian dari kelompok manusia pada masa lampau yang dihadapkan pada situasi tersebut, ada yang memilih untuk pergi ke tempat lain sehingga menyebabkan terjadinya migrasi. Selain faktor yang bersifat materi, proses migrasi juga disebabkan oleh faktor non-materi. Keterbatasan data menyebabkan penelitian ini belum dapat mengungkapkan faktor non-materi tersebut.
3. Proses Migrasi
Menurut MacArthur dan Wilson10, aspek lingkungan yang berpengaruh dalam proses kolonisasi di daerah kepulauan adalah: jarak antar pulau, konfigurasi bentang lahan dan luas area. Berdasarkan sudut pandang georafisnya, kepulauan Maluku Utara memang letaknya sangat berdekatan dengan Daratan Sahul, maka tidak mengherankan jika kawasan ini menjadi target kolonisasi komunitas
10
Teori tersebut dikutip oleh William F. Keegan dan Jared M. Diamond dalam tulisannya “Colonization of Island by human: A Biogeographical Perspective”, Advances in Archaeological Method and Theory, No. 10, (1987), hlm. 49-92.
Australo-Melanesid dari Daratan Sahul. Dari Waigeo (Daratan Sahul) menuju Gebe hanya berjarak 26 km, dan dari Gebe menuju Halmahera hanya berjarak 30 km.11 Selain Misool dan Waigeo yang bergabung dengan Daratan Sahul, Morotai dan Bacan juga bergabung dengan Halmahera pada masa Glasial. Menurut Tanudirjo12, Situs-situs Kala Plestosen akhir di Paparan Sahul Utara dan Kepulauan Melanesia, dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu situs-situs pesisir dan situs-situs dataran tinggi. Kemungkinan besar proses migrasi menuju kepulauan Maluku Utara dilakukan oleh kelompok sempalan dari komunitas situs pesisir tersebut, karena secara kultural mereka sudah terbiasa beradaptasi dengan lingkungan pantai.
Pada kasus kolonisasi di Maluku Utara, juga terjadi penghunian pulau- pulau yang sumberdaya alamnya terbatas, seperti Gebe, Morotai dan Kayoa. Kemungkinan besar pulau tersebut dihuni justru karena memiliki pulau pendukung yang besar dan sumberdaya alamnya mencukupi, seperti Pulau Halmahera.13 Mungkin hal tersebut juga yang menjadi salah satu faktor terjadinya translokasi hewan dan pelayaran antar pulau di kawasan Maluku Utara jauh sebelum kedatangan orang Austronesia.
Konfigurasi kepulauan di Maluku Utara, antara pulau yang satu dengan yang lain dalam jarak tertentu dapat saling terlihat dan mudah dicapai hanya
11
J.B. Birdsell, “Recalibration of a Paradigm for the First peopling of Greater Australia”, dalam J. Allen, J. Golson, dan R. Jones ed., Sunda and Sahul:
Prehistoric Studies in South-East Asia, Melanesia and Australia, (London:
Academic Press, 1977), hal. 124.
12
Daud Aris Tanudirjo, op.cit., hlm. 6.
dengan bersampan. Bentuk konfigurasi Maluku Utara yang berkepulauan menyebabkan proses migrasi terjadi dari pulau yang satu ke pulau yang lain secara berurutan.
Berdasarkan data yang tersedia hingga saat ini dapat diintepretasikan bahwa ada tiga tahap migrasi yang dilakukan oleh komunitas Non-Austronesia di Maluku Utara.14 Pada tahap pertama, migrasi dilakukan dari Salawati (Sahul) langsung ke Gebe (Golo, 32.000 BP) lewat Waigeo. Pada saat terjadi proses glasial pada Kala Plestosen Akhir Waigeo dan Salawati merupakan bagian dari Daratan Sahul. Masa hunian awal Golo (32.000 BP) hanya meninggalkan sedikit data arkeologi saja, sedangkan indikasi mengenai kegiatan manusia yang intensif tercatat sejak 12.000 BP.15 Berdasarkan hal tersebut, ada kemungkinan bahwa situs Golo dikoloni relatif singkat dan tidak intensif pada masa awalnya, untuk kemudian komunitas pendukungnya melanjutkan migrasi ke sepanjang pantai timur Halmahera bagian utara, sampai menuju Morotai (Daeo, 15.000 BP). Hal ini didukung dengan temuan sisa Phalanger ornatus yang merupakan hewan asli Halmahera di situs Daeo (13.000 BP) di Morotai. Pertanggalan yang cukup muda yang dihasilkan Siti Nafisah (5500 BP) mengindikasikan bahwa pantai timur Halmahera hanya dilewati saja untuk kemudian menuju Morotai, dan baru pada masa kemudian pulau tersebut didatangi kembali dan dihuni.
Pada tahap kedua, terjadi migrasi balik dari Morotai ke sepanjang pantai timur Halmahera sampai bagian tengah pantai timur pulau tersebut dan kembali
14
Lihat peta 4.2.
15
mengkoloni Gebe, hal ini didukung dengan semakin intensifnya aktivitas hunian di situs Golo sejak 12.000 BP. Setelah menghuni Gebe kembali, nampaknya komunitas tersebut, mengadakan hubungan dengan Daratan Sahul. Intepretasi ini didukung dengan temuan sisa tulang wallabi (Dorcopsis muelleri mysoliae) yang merupakan fauna endemik Misool. Wallabi ditemukan di situs Golo (7400 BP), Um Kapat Papo (7000 BP) dan Wetef (8500 BP) di Pulau Gebe. Kemungkinan besar fauna ini didatangkan dari Misool (Sahul) lewat Waigeo. Di lain pihak, sisa fauna Phalanger (10.000 BP) dari Golo kemungkinan berasal dari jenis lokal yang hidup di pulau tersebut, yaitu Phalanger alexandrae.
Pada tahap ketiga, migrasi dilakukan dari Gebe menuju pantai timur Halmahera bagian selatan. Intepretasi ini didukung dengan temuan sisa tulang wallabi (Dorcopsis muelleri mysoliae) di situs Siti Nafisah (5000 BP) di pulau Halmahera. Kemudian komunitas tersebut menyeberang ke pantai barat Halmahera dan migrasi dilanjutkan menuju kepulauan Zona Ternate. Hal ini diketahui berdasarkan sisa temuan Phalanger ornatus yang merupakan hewan asli Halmahera dan lancipan yang terbuat dari bahan tibia wallabi (Dorcopsis muelleri mysoliae) di situs Uattamdi (3300 BP) di Kayoa.
Variabel yang berpengaruh pada aspek jarak antar pulau dan konfigurasi bentang lahan adalah: angin, pola arus laut dan bahaya (misalnya badai). Migrasi manusia di kawasan Maluku Utara mengkin memanfaatkan bergantian arah angin dan arus laut yang berubah setiap musim.16 Selain itu, badai tropis dan tsunami
16
Mengenai pergantian arah angin dan arus laut lihat Bab II mengenai kondisi lingkungan Maluku Utara.
yang kerap terjadi di perairan tropis merupakan faktor bahaya yang perlu diperhitungkan dalam proses perpindahan manusia di kawasan ini.
Peta 4.2. Model migrasi Non-Austronesia