• Tidak ada hasil yang ditemukan

Model migrasi Austronesia di Maluku Utara

Dalam dokumen Keterkaitan Kronologi Budaya Situs Ceruk (Halaman 155-185)

BAB V. PENUTUP

Peta 4.4. Model migrasi Austronesia di Maluku Utara

Keterangan:

: Arus migrasi kedatangan Austronesia dari Philipina

: Persebaran pertama menuju ke seluruh rangkaian busur kepulauan vulkanis Zona Ternate

: Persebaran kedua pada pesisir pantai timur Pulau Halmahera : Persebaran ketiga menuju Kepulauan Raja Empat.

Berdasarkan pada model migrasi-kolonisasi Austronesia yang telah direkonstruksi, maka dapat disusun alur proses migrasi-kolonisasi orang Austronesia, sebagai berikut:

Daerah asal:

Faktor Pendorong dan Penarik Biaya dan Keuntungan

Dalam batas toleransi Di luar batas toleransi

Penjelajah (scout): Migrasi Lompat Katak Komunitas inti: Tidak pindah Pindah: Arus Migrasi Ulang-alik Singgah Informasi: • Daerah tujuan • Transportasi Kolonisasi

Migrasi Balik: Proses Autocatalysis Jaringan

Perdagangan

Bagan 4.1. Model migrasi-kolonisasi Austronesia di Maluku Utara

C. IMPLIKASI KASUS MIGRASI-KOLONISASI AUSTRONESIA DI MALUKU UTARA

Pada saat orang Austronesia datang di Kepulauan Maluku Utara, kawasan tersebut bukanlah suatu daerah kosong tidak berpenghuni. Pada beberapa pulau di kawasan tersebut telah dihuni oleh komunitas Non-Austronesia. Pada kondisi seperti ini, terjadinya kontak antar budaya merupakan peluang yang sangat besar. Dalam bagian ini akan dibahas akibat interaksi tersebut yang tercermin pada teknologi alat kerang, teknologi pelayaran dan domestikasi hewan. Selain interaksi antar budaya, proses migrasi-kolonisasi Austronesia juga memunculkan ideologi cikal bakal pada masyarakat Austronesia. Hal tersebut masih dapat ditelusuri pada catatan etnografi yang masih ada hingga saat ini, baik pada masyarakat Austronesia di Maluku Utara maupun masyarakat Austronesia lain pada umumnya.

Tahapan interaksi antar budaya untuk kasus migrasi-kolonisasi Austronesia di Kepulauan Maluku Utara dapat dirangkum sebagai berikut: Intrusi budaya baru yang datang di Maluku utara di bawa oleh orang Austronesia. Akibat dari peristiwa tersebut, di kawasan Maluku Utara muncul budaya neolitik. Kemudian, setelah terjadi kolonisasi oleh orang Austronesia, budaya neolitik di Maluku Utara mengalami inovasi yang disebabkan oleh evolusi budaya dan interaksi antara komunitas pendatang Austronesia dengan komunitas Non- Austronesia yang telah menghuni kawasan tersebut sejak masa sebelumnya. Evolusi dan interaksi antar budaya yang intensif menyebabkan integrasi budaya Austronesia dan Non-Austronesia di Maluku Utara.

1. Interaksi Austronesia dengan Non Austronesia

Menurut Green47, sebelum kedatangan Austronesia, di kawasan Indo- Pasifik telah berkembang teknologi alat kerang dan tulang, pelayaran dan navigasi, serta domestikasi tanaman dan hewan. Pada saat orang Austronesia datang di kawasan tersebut, komunitas Non-Austronesia juga telah memiliki pengetahuan yang kurang lebih sama dalam beberapa hal di atas. Dalam bagian ini akan dibicarakan akibat dari interaksi antar budaya yang tercermin pada beberapa aspek budaya tersebut

a. Teknologi alat kerang

Teknologi alat kerang yang sumberdayanya sangat berlimpah di kawasan Maluku Utara, selain hasil adaptasi dan inovasi Austronesia di kawasan ini, mungkin juga dipelajari dari komunitas Non-Austronesia yang telah mengenal teknologi ini pada masa sebelumnya. Persebaran beliung kerang yang asalnya dari kawasan Maluku Utara, juga ditemukan sampai di Kepulauan Ryukyu (Jepang) di utara, dan di hampir seluruh kawasan Kepulauan Pasifik. Persebaran beliung kerang pada masa pra-neoitik sangat terbatas hanya meliputi kawasan kepulauan Maluku (Golo, 14.000 BP), Melanesia barat (Pamwak, 10.000 BP)dan Filipina (Duyong, 4500 BP).48 Tetapi setelah kedatangan bangsa Austronesia, wilayahnya persebarannya meluas sampai ke Jepang (Okinawa, 2500 BP), Polinesia

47

Matthew Spriggs, “What is Southeast Asian about Lapita?”, hlm. 325.

48

Rintaro Ono, A Typological Study of Micronesia Shell Adze: Their

Origin and Cultural-Historical Relationships in the Pacific and Southeast Asian World, (tidak dipublikasikan).

(Tongatapu dan Niuatotapu, 3000 BP) dan Micronesia (Guam, 2000 BP).49 Di Melanesia Barat, perkembangan teknologi beliung kerang semakin bervariasi pada konteks budaya Lapita.

b. Domestikasi Tanaman

Sudah banyak para ahli yang mengaitkan persebaran budaya neolitik di Asia Tenggara dan Pasifik dengan ekspansi orang Austronesia. Walaupun demikian, domestikasi tanaman telah berkembang secara mandiri di daratan Papua sejak masa yang cukup tua. Hasil penelitian Golson50 di Kuk (dataran tinggi bagian barat Nugini), telah menemukan indikasi perusakan vegetasi yang diakibatkan oleh aktivitas di tanah basah. Hal tersebut diasosiasikan adanya aktifitas pertanian sejak 9000 BP dengan memanfaatkan rawa. Bahkan sistem drainase telah dikenal di situs ini sejak 4000 BP, untuk mengendalikan ketinggian air rawa, mereka membuat parit dengan panjang 500 m, dalam 3 m, dan lebar 4,5 m. Kemudian pada 3000 BP terdapat indikasi pertanian intensif dengan pembukaan lahan. Tanaman yang didomestikasi di situs tersebut adalah ketela rambat. Sebelum kedatangan bangsa Austronesia, di kepulauan Filipina, Indonesia dan Melanesia telah muncul domestikasi tanaman tropis, seperti: keladi atau talas (Colocasia esculenta), ubi (Discorea sp), birah (Alocasia Microrhiza), sukun (Artocarpus altilis), tebu (Saccarum officinarium), sagu (Metroxylon sp.), kelapa

49

Lihat pembahasan perbandingan tipologi beliung kerang pada Bab sebelumnya.

50

Lihat: J. Golson, “No Room at the Top: Agriculture Intensification in New Guinea Highland”, dalam J. Allen, J. Golson, dan R. Jones ed., Sunda and

(Cocos nucifera) dan beberapa spesies pisang (Musa sapientum dan Musa traglogytarum).51

Berdasarkan kondisi lingkungan, kawasan Maluku Utara memiliki curah hujan rata-rata mencapai 3.000 mm per tahun, dengan jumlah hari hujan antara 153-266 hari per tahun, dan suhu udara rata-rata 26,3º C, dengan suhu udara maksimum 30,1º C dan suhu minimum 23,5º C, kondisi tersebut memang ideal bagi pertanian biji-bijian. Meskipun demikian, kecepatan angin yang tinggi dan intensitas penyinaran yang tinggi, membuat kawasan ini menjadi lebih kering, sedangkan iklim basah dengan curah hujan yang melebihi penguapan tidak terjadi di sini. Hal tersebut menyebabkan kegagalan dalam proses penyerbukan dan pembuahan.52 Berdasarkan bukti tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa kawasan tersebut kurang cocok untuk mengembangkan pertanian biji-bijian.

Berdasarkan data polen dari Teluk Kau di Pulau Halmahera, meningkatnyan polen palma terjadi di kawasan Maluku Utara pada 6000 BP. Hal tersebut merupakan indikasi adanya pertanian jenis tanaman palma tersebut. Kemungkinan besar, pertanian menyebar ke Maluku Utara dari kawasan Nugini, walaupun tidak dalam bentuk yang sepenuhnya sama.53 Berdasarkan bukti etnografi, sampai saat ini sagu yang merupakan salah satu jenis tanaman palma, masih merupakan makanan pokok yang di konsumsi pada masyarakat di Maluku

51

Periksa: Peter Bellwood, Man Conquest of the Pacific, (Auckland: Collins, 1975), hlm. 136-140.

52

Untuk persyraratan kondisi lingkungan yang ideal bagi pertanian biji- bijian, periksa: Wasita, “Faktor Pendukung Budidaya Padi Masa Prasejarah”,

Naditira Widya No. 03, (Banjarmasin: Balar, 1999), hlm. 61-69.

53

Utara, selain padi gogo dan umbi-umbian.54 Berdasarkan beberapa bukti tersebut ada kemungkinan bahwa komunitas pendukung budaya situs ceruk Uattamdi juga mengenal budidaya tanaman.

Pengetahuan mengenai domestikasi tanaman yang dimiliki oleh komunitas Non-Austronesia sebelum kedatangan orang Austronesia, berimplikasi pada interaksi antar budaya yang terjadi akibat datangnya budaya baru di kawasan yang telah memiliki latar belakang budaya. Kenyataannya di kawasan Pasifik, bangsa Austronesia mengganti pertanian biji-bijian seperti yang dibawa dari daerah subtropis dengan tanaman umbi-umbian yang banyak terdapat di kawasan Tropis. Padi (Oryza sativa) di kawasan timur Indonesia hanya sampai di Maluku.55 Berdasarkan pengamatan etnografis oleh Teljeur56, sampai saat ini masyarakat Maluku Utara mengembangkan pertanian campuran antara padi gogo, umbi- umbian, buah-buahan, dan sagu. Di Kepulauan Pasifik, pertanian orang Austronesia lebih didominasi dengan tanaman buah-buahan dan umbi-umbian tropis, tanpa pertanian biji-bijian.57

54

Santosa Soegondho, “Tradisi Neolitik di Halmahera: Bagian dari Budaya Pasifik”, dalam Sudaryanto dan Alex Horo Rambadeta (eds), Antar

Hubungan Bahasa dan Budaya di Kawasan Non-Austronesia, (Yogyakarta:

PSAP-UGM, 2000), hlm. 262-264.

55

Peter Bellwood, op.cit., (2000), hlm.358. 56

Dik Teljeur, “Masalah Praktis Dalam Penelitian Antropologi Budaya di Pulau Halmahera Selatan”, E.K.M Masinambouw ed., Majalah Ilmu-Ilmu Sastra

Indonesia, Jilid VIII No. 1 Nomor Istimewa (I) Halmahera dan Raja Ampat,

(Jakarta: Depdikbud, 1980), hal. 11.

57

Periksa: Patrick V. Kirch, “Subsistence and Ecology”, dalam The

Berdasarkan rekontruksi bukti linguistik, kata *pajei (Ina. Padi) ditemukan di Taiwan, Philipina dan Indonesia. Tetapi beberapa kosa kata yang menunjukkan umbi-ubian seperti *tales (Ina. Talas), *quBi (Ina. Ubi) dan *BiRaq (Ina. Birah) yang dibudidayakan di Kepulauan Pasifik hanya ditemukan di Indonesia dan di beberapa bagian Philipina. Selain itu, kata *nieur (Ina. Nyiur) di temukan di seluruh Asia Tenggara Kepulauan dan kepulauan Pasifik kecuali Taiwan.58 Hal tersebut jelas membuktikan bahwa, walaupun pertanian padi merupakan sistem pertanian yang dikembangkan nenek moyang Austronesia di Asia Tenggara Daratan dan Taiwan, tetapi mereka menanam beberapa jenis tanaman umbi- umbian sejak mereka mendiami Kepulauan Filipina bagian selatan, Indonesia bagian timur dan kepulauan Pasifik. Ada kemungkinan bahwa orang Austronesia yang datang di kepulauan Indonesia bagian timur dari Filipina mengadopsi sistim pertanian yang dimiliki oleh orang Non-Austronesia yang telah mendiami daerah ini sejak masa sebelumnya.

c. Domestikasi Hewan

Menurut Bulmer, berdasarkan temuan dari sebuah situs ceruk peneduh di dataran tinggi Nugini, kehadiran babi di Nugini sudah sejak 10.000 BP. Pertanggalan yang dihasilkan tersebut diragukan validitasnya, berdasarkan penelitian terbaru oleh Gorecki, dkk di Pantai Utara Nugini, keberadaan babi di

58

Robert Blust, “Austronesian Culture History: Some Linguistic Inferences and their Relations to the Archaeological Record”, dalan Peter Van de Velde, eds., Prehistoric Indonesia, (USA: Foris Publications, 1984), hlm. 220.

kawasan tersebut hanya 4000 SM.59 Babi bukan merupakan hewan asli kawasan ini, melainkan spesies dari kawasan oriental. Kemungkinan besar babi didatangkan oleh manusia dari kepulauan Asia Tenggara yang ada didekatnya. Spesies babi yang didomestikasi di Nugini merupakan hibridisasi60 antara spesies dari oriental dan spesies endemik kepulauan Indonesia yang liar, seperti yang terdapat di kepulauan Sulawesi, Roti, Flores, dan Halmahera. Keberadaan domestikasi babi di kepulauan Pasifik dijadikan indikasi bagi kedatangan Austronesia di kawasan tersebut.

Selain dari bukti arkeologis, bukti mengenai domestikasi hewan dapat diketahui dari rekontruksi kosa kata dalam bahasa proto-Austronesia. Kata *beRek (Ina. Domestikasi babi) dan *Wasu[ ] (Ina. Anjing) ditemukan sejak dari Taiwan sampai ke seluruh kawasan persebaran bangsa Austronesia, sedangkan kata *laluy (Ina. Ayam) juga ditemukan selain di Taiwan.61 Groves62 berpendapat bahwa domestikasi babi di Kepulauan Indonesia berasal dari spesies Sus scrofa vittatus yang hidup liar di kawasan barat Indonesia. Karakteristik yang sama juga ditemukan pada babi dari Andaman, Flores, Admiralty serta Vanuatu, dan bukan berasal dari jenis yang liar di Cina atau Asia Tenggara daratan. Hal ini

59

Periksa: Matthew Spriggs, “The Lapita Culture and Austronesian Prehistory in Oceania” dalam Peter Bellwood, James J Fox dan Darell Tryon, ed.,

The Austronesians: Historical and Comparative Perspective, (Canbera: ANU,

1995), hlm. 115.

60

Proses persilangan antara dua individu yang secara genetis tidak identik. Sumber: Abercrombie, M., M. Hickman, M.L. Johnson and H. Thain, Kamus

Lengkap Biologi, Edisi ke-8, Terjemahan, (Jakarta: Penerbit Erlangga, 1993),

hlm. 320.

61

Robert Blust, op.cit., hlm. 220.

62

membuktikan bahwa, walaupun bangsa Austronesia datang beserta budaya yang mereka bawa dari Asia Tenggara Daratan, tetapi mereka juga beradaptasi dengan lingkungan barunya. Babi yang mereka bawa dari Asia Tenggara Daratan kemungkinan besar tidak cocok hidup di daerah tropis.

Di Maluku Utara, translokasi fauna kuskus (Phalanger ornatus) dan wallabi (Dorcopsis muelleri mysoliae) antar pulau telah dikenal oleh komunitas Non-Austronesia sebelum kedatangan orang Austronesia. Di lain pihak berdasarkan data lingustik, kosa kata *kandoRa (kus-kus) dan *mansar (bandikoot) ditemukan pada bahasa PCEMP (Proto Melayu-Polinesia Tengah- Timur) yang dituturkan di kepulauan Maluku Utara, tetapi tidak pada bahasa PMP (Proto Melayu-Polinesia) yang dituturkan di Philipina dari masa sebelumnya.63 Hal ini mengindikasikan bahwa daerah Maluku Utara memiliki peranan penting pada strategi adaptasi orang Austronesia di kawasan tropis.

Keseluruhan data tersebut membuktikan bahwa manusia Non-Austronesia telah mengenal translokasi hewan antar pulau sejak masa yang cukup tua. Di Pasifik, orang Austronesia selain memelihara anjing, babi dan ayam, walabi dan kus-kus juga ikut diangkut dalam pertukaran atau barter antar pulau. Hal tersebut juga mengindikasikan bahwa pelayaran antar pulau telah berkembang sebelum kedatangan bangsa Austronesia di kawasan Maluku Utara dan semakin berkembang setelah kedatangan orang Austronesia.

63

Darrell Tryon, “Proto-Austronesian and the Major Austronesian Subgroup”, dalam Peter Bellwood, James J. Fox, Darrell Tryon (eds), The

Austronesians: Historical and Comparative Perspectives, (Canberra: ANU,

d. Pelayaran Antar Pulau

Nusantara64 telah melakukan korelasi antara data hasil ekskavasi dari Leang Burung 2 dengan lukisan gua yang ada di kompleks budaya Toala. Di Leang Burung 2 terdapat temuan berupa hematit yang pemanfaatannya untuk dijadikan bahan pewarna. Data tersebut berasal dari lapisan budaya Toala III (bawah) yang memiliki pertanggalan 32.160 ±330 BP sampai dengan 20.450 ±250 BP. Lukisan perahu yang ada di gua Bulumpong (Pangkep), juga menggunakan warna merah, sehingga ada kemungkinan bahwa pertanggalan lukisan perahu tersebut juga memiliki pertanggalan yang tidak jauh berbeda dengan kronologi lapisan budaya Toala III.

Di kepulauan Melanesia bukti pelayaran antar pulau sudah dimulai sejak Kala Pleistosen, dengan komoditi obsidian. Ada dua tempat yang merupakan sumber obsidian dengan mutu yang baik, yaitu di Lou Island (Kepulauan Admiralty) dan Talasea (New Britain). Pada 12.000 BP, obsidian tersebut telah didistribusikan sampai ke Matenkupkum di New Ireland dan di Matenbek sejak sebelum 5000 BP. Di situs Balof, obsidian didatangkan dari Talasea dan Lou Island pada 7000 BP. Bukti tersebut mengindikasikan adanya pelayaran antar pulau di Kepulauan Melanesia dengan jarak sampai sejauh 350 km.65 Pada masa pra-Lapita sebelum kedatangan bangsa Austronesia, obsidian Talasea hanya didistribusikan secara terbatas pada kepulauan Admiralti, New Guinea Daratan

64

Ariobimo Nusantara, “Kronologi Lukisan Dinding Gua di Kab. Maros dan Pangkep, Sulawesi Selatan, Tinjauan Berdasarkan Analisis Kontekstual”,

Skripsi, (Yogyakarta: Univ. Gadjah Mada, 1989), hlm. 59.

65

(Sepik-Ramu Basin), New Ireland, pulau Nissan, dan kepulauan antara New Ireland dan Kepulauan Solomon bagian utara. Tetapi, pada masa Lapita distribusinya meluas dari Bukit Tengkorak, Sabah (Borneo) di sebelah barat, sampai ke Kepulauan Fiji di sebelah timur sejauh 6500 km.66

Berdasarkan bukti linguistik, telah direkonstruksi kosa kata mengenai aspek-aspek teknologi pelayaran yang tersebar di kawasan Pasifik. Rekonstruksi kosa kata tersebut menunjuk pada bahasa Proto Melayu Polynesia yang berasal dari Filipina bagian selatan dan Sulawesi bagian utara. Kata *qaban (Ina. Perahu) tersebar mulai dari Taiwan, tetapi kata *(sc)a-R-man, (Ina. Cadik) *be-R-say (Ina. Dayung), *lane(nN) (Ina. Roda), *layaR (Ina. Layar), *limas (Ina. Timba), *qulin (Ina. Kemudi), dan *teken (Ina. Galah) hanya ditemukan di kawasan barat dan timur tidak di Taiwan.67 Padahal kosa kata tersebut mengindikasikan aspek-aspek teknologi navigasi yang lebih modern dari pada di Taiwan.

Ada kemungkinan bahwa pengetahuan orang Austronesia mengenai teknologi pelayaran semakin berkembang di daerah Asia Tenggara Kepulauan. Hal ini dapat diketahui dengan mengamati persamaan bentuk perahu yang digunakan di Kepulauan Solomon dan Botel Tobago (bernama Yamis) dengan yang terdapat di Maluku (bernama Orembai). Hal ini memperkuat dugaan bahwa Maluku merupakan daerah yang penting bagi perkembangan teknologi navigasi dalam hubungannya dengan persebaran orang Austronesia.

66

Matthew Spriggs, op.cit., (1995), hlm. 116.

67

Matthew Spriggs, op.cit., (2000), hlm. 63 dan Robert Blust, op.cit., hlm. 220.

2. Ideologi Cikal Bakal

Pada umumnya manusia yang melakukan mobilitas memiliki kebutuhan akan identitas. Hal tersebut akan muncul pada saat suatu komunitas migran berhadapan dengan orang asing yang tidak mengenal sistem budaya komunitas mereka dan ketika mereka memerlukan suatu perangkat identitas diri yang dapat dipergunakan untuk menunjukkan bahwa mereka bagian dari suatu kelompok tertentu.68 Inovasi di daerah baru memungkinkan para migran untuk menciptakan artefak penanda sebagai perangkat simbol untuk menunjukkan identitas kelompok mereka kepada komunitas lain.

Pada etnis Minang, Batak dan Badui dikenal adanya sistem kesatuan tiga. Dalam konsep tersebut masing-masing daerah merupakan kekuasaan yang independen, walaupun demikian satu sama lain dari mereka masih menganggap satu kesatuan. Berdasarkan pengamatan etnografi oleh Van Fraasen69 di Halmahera Utara terdapat perbedaan pengelompokan antara masyarakat pantai yang merupakan pendatang dengan komunitas pedalaman yang pada umumnya merupakan penduduk pribumi. Mereka menyebut Soa Siu bagi masyarakat pantai dan Soa Nyagimoi bagi komunitas pedalaman. Pembedaan penyebutan tersebut kemungkinan juga merupakan cara untuk menunjukkan identitas masing-masing kelompok. Walaupun demikian, karena keterbatasan penelitian mengenai migrasi-

68

Safri Sairin, op.cit., hlm. 116.

69

Ch. F. Van Freesen, “Types of Sociopolitical Structure in North Halmahera History”, dalam E.K.M Masinambouw ed., Majalah Ilmu-Ilmu

Sastra Indonesia, Jilid VIII No. 3 Nomor Istimewa (III) Halmahera dan Raja Ampat, (Jakarta: Depdikbud, 1980). hlm. 90.

kolonisasi Austronesia di Maluku Utara maka sampai saat ini belum diketahui budaya materi yang dapat menunjukkan ideologi cikal bakal tersebut.

Kemunculan gerabah Lapita yang khas di Kepulauan Melanesia pada 1600 BP, mengindikasikan adanya artefak ideologi cikal bakal tersebut. Tipologi gerabah dengan bentuk karinasi dan motif hias geometris, mengindikasikan bahwa pembuat gerabah tersebut memiliki hubungan secara kultural dengan komunitas neolitik dari Asia Tenggara Kepulauan. Di lain pihak, teknik hias tera cap bergerigi yang merupakan hasil inovasi mereka di Kepulauan Melanesia menjadi menciri khusus yang membedakan komunitas Austronesia di kawasan ini dengan saudara sepupu mereka di Asia Tenggara.70

Pada mulanya, ideologi cikal bakal mungkin merupakan implikasi dari proses migrasi-kolonisasi di daerah baru. Hal tersebut terjadi pada saat komunitas yang melakukan kolonisasi telah berkembang, dan kelompok keluarga yang pertama kali mendiami tempat tersebut (membuka lahan) akan menjadi keluarga terhormat dengan status khusus. Posisi penting yang dimiliki keluarga tersebut adalah hak penguasaan lahan, posisi tetua adat, dan hak menentukan persekutuan dengan kawan baru. Kemudian, setelah komunitas para kolonis tersebut semakin berkembang, pada masyarakat tersebut akan terbentuk suatu stratifikasi sosial tertentu. Berdasarkan analisis linguistik yang dilakukan oleh Supomo71, dapat

70

Daud Aris Tanudirjo, Arkeologi Indonesia Dalam Konteks Proses

Global, (makalah disampaikan dalam PIA IX dan Kongres IAAI 2002), hlm. 9.

71

Periksa: S. Supomo, “Indic Transformation: The Sanskritization Java and Javanizationof the Bharata”, dalam Peter Bellwood, James J. Fox, Darrell Tryon (eds), The Austronesians: Historical and Comparative Perspectives, (Canberra: ANU printing Service, 1995).

diketahui institusi kerajaan yang berdiri di Jawa pada masa kuno tersusun berdasarkan kekerabatan. Perlu dicatat bahwa, institusi politik lokal di Maluku Utara juga berhubungan erat dengan sistem kekerabatan antar kerajaan dan berkembang pada kawasan pantai dengan pola pemukiman dan klaster-klasternya yang memanjang pada bentang lahan tersebut.

Pada pengamatan etnografi oleh Koagou pada tahun 197872, masyarakat Modole di Halmahera Utara memiliki kepercayaan pada roh-roh orang mati yang dianggap nenek moyangnya. Dengan bantuan Gomatere (shaman), mereka dapat memanggil roh nenek moyang yang disebut Goma, Wongi, atau Wongemi. Pada etnis Jawa sampai saat ini masih dilaksanakan tradisi bersih dusun (Rasulan), dengan tujuan keselamatan bagi penduduk desa. Pada ritual ini, doa-doa ditujukan bagi para penguasa gaib (Dhanyang) dan tokoh-tokoh yang diperdewakan. Tokoh- tokoh tersebut merupakan orang terdahulu yang membuka dan membuat peraturan (adat istiadat) di desa yang bersangkutan.73 Pada masa yang lebih kemudian, ideologi cikal bakal justru menjadi salah satu faktor pendorong proses migrasi. Pada budaya masyarakat Austronesia, ideologi tersebut memacu mereka untuk menemukan daerah baru bagi masa depan keturunannya.

Selain berdasarkan data arkeologi, dari data linguistik dan jejak yang ditinggalkan pada catatan etnografi yang kini masih hidup, dapat diketahui

72

Lihat: P.H. Koagou, “Suatu Pendekatan Teoretis Mengenai Penelitian Shamanisme di Modole”, dalam E.K.M Masinambouw ed., Majalah Ilmu-Ilmu

Sastra Indonesia, Jilid VIII No. 3 Nomor Istimewa (III) Halmahera dan Raja Ampat, (Jakarta: Depdikbud, 1980), hlm. 325-336.

73

KRT. Partahadiningrat, Bersih Dhusun, Merti Dhusun, Merdi Dhusun

beberapa bukti yang mengisyaratkan adanya perpindahan nenek moyang Austronesia dan akibat yang terjadi. Mitos-mitos yang menyelimuti petunjuk mengenai kedatangan nenek moyang dari seberang lautan masih banyak dijumpai pada berbagai kelompok etnis Austronesia. Walaupun demikian, transformasi budaya yang terjadi pada tiap etnis yang bersangkutan menyebabkan mitos tersebut tereduksi pada bentuk yang lebih beragam.

Fox74, mencatat beberapa mitos tersebut, seperti: mitos Raja dan Ikan Hiu pada masyarakat Noikoro (Fiji), mitos Jaka Samodra di Gresik (Jawa) dan Brahmana Ida Dalam Ketut Kresna Kepakisan di Bali. Di Maluku Utara, terdapat mitos mengenai Bikoucigara dan Ular Naga yang bertelur empat. Dari keempat telur ini lahir anak-anaknya yang menetap di Loloda, Ternate, Todore dan Bacan.75 Masyarakat di Pulau Yamdena, Kepulauan Tanimbar, selain memiliki kepercayaan pada Ubila’a (Dewa Tertinggi) juga percaya pada Atuf, yaitu orang yang pertama kali datang di Pulau Yamdena. Kepercayaan tersebut dimanifestasikan dengan membangun Natar, yaitu monumen perahu batu yang

74

Untuk pembahasan mengenai mitos-mitos tersebut, lihat: James J. Fox, “ Austronesian Societies and Their Transformation”, dalam Peter Bellwood, James J. Fox, Darrell Tryon (eds), The Austronesians: Historical and Comparative

Perspectives, (Canberra: ANU printing Service, 1995).

75

Bikoucigara dalam bahasa Portugis, atau berarti Biksu Segara (?) menemukan empat telur naga yang kemudian lahir tiga putra yang menetap di Loloda (sebelah utara Jailolo), Ternate dan Tidore serta seorang putri yang kemudian menikah dengan orang Bacan. Bandingkan mitos ini dengan konsep Moluku Kie Raha. Sumber: Paramita R. Abdurrachman, “Kegunaan Sumber- Sumber Portugis dan Spanyol untuk Penulisan Sejarah Maluku Utara”, dalam E.K.M Masinambouw ed., Majalah Ilmu-Ilmu Sastra Indonesia, Jilid VIII No. 3

Nomor Istimewa (III) Halmahera dan Raja Ampat, (Jakarta: Depdikbud, 1980),

berada di tengah-tengah desa, sebagai pusat penyelenggaraan upacara.76 Dengan

Dalam dokumen Keterkaitan Kronologi Budaya Situs Ceruk (Halaman 155-185)