• Tidak ada hasil yang ditemukan

Model migrasi Non-Austronesia di Maluku Utara

Dalam dokumen Keterkaitan Kronologi Budaya Situs Ceruk (Halaman 135-154)

BAB V. PENUTUP

Peta 4.2. Model migrasi Non-Austronesia di Maluku Utara

Keterangan:

: jalur migrasi tahap I, dari Daratan Sahul melewati Waigeo, menggunakan Pulau Gebe sebagai batu loncatan untuk menuju pantai timur Halmahera bagian utara sampai Morotai.

: jalur migrasi tahap II, kembali ke Pulau Gebe melewati sepanjang pantai timur Halmahera bagian timur. Kemudian melakukan translokasi fauna dengan Daratan Sahul.

: jalur migrasi tahap III, dari Gebe menuju pantai timur Halmahera, memotong ke pantai barat Halmahera dan menuju kepulauan Zona Ternate.

Aspek luas area adalah besar kecilnya luas pulau yang menjadi pertimbangan kolonisasi. Pulau yang lebih besar cenderung akan dipilih dari pada

pulau yang lebih kecil, karena cenderung lebih mudah untuk diakses, lebih banyak mengandung sumberdaya, dan dapat mendukung perkembangan populasi yang lebih besar.17 Teori ini rupanya dapat menjelaskan kasus penghunian awal di Kepulauan Melanesia Barat, bahwa penghunian pulau-pulau kecil oleh komunitas Non-Austronesia nampaknya tidak pernah dilakukan sebelum kedatangan orang Austronesia. Penghunian awal di kepulauan tersebut hanya sebatas pulau-pulau besar saja seperti New Ireland (Matenkupkum 32.000 BP)18, New Britain (Yombon 35.000 BP)19 dan Solomon (Kilu 29.000 BP)20. Teori ini rupanya tidak berlaku di kepulauan Maluku utara, karena kolonisasi di kawasan tersebut juga terjadi di pulau-pulau kecil yang sumberdaya alamnya terbatas. Hal tersebut ditunjukan oleh adanya translokasi fauna antar pulau di Maluku Utara dengan Daratan Sahul yang diperkirakan bertujuan untuk mencukupi kebutuhan di pulau yang terbatas sumber faunanya tetapi memiliki sumberdaya lain selain fauna yang ditranslokasikan.

Dalam kasus perpindahan manusia perlu dipertimbangkan bahwa faktor benefit yang menjadi tujuan kolonisasi daerah baru, tentunya tidak hanya bersifat material saja, seperti faktor ideologi misalnya. Hal tersebut juga memperkuat dugaan bahwa, rekonstruksi jalur migrasi-kolonisasi manusia tidaklah semudah

17William F. Keegan dan Jared M. Diamond, op.cit., hlm. 62.

18

Jim Allen, Chris Gosden dan Peter White, op.cit., hlm. 551. 19

Christina Pavlides dan Chris Gosden, “35,000 BP-years-old sites in the rainforests of West New Britain, Papua New Guinea”, Antiquity 68 (1994), hlm. 604.

20

P. V. Kirch dan M.I. Weisler, “Archaeology in the Pacific Island: An Appraisal of Recent Research”, Jurnal of Archaeological Research, Vol. 2, No.

membuat garis-garis terdekat antar pulau, karena meskipun dalam batas tertentu pulau-pulau kecil di kawasan Maluku Utara dapat saling terlihat, tetapi tidak seluruhnya didatangi dan dihuni oleh manusia. Penelitian ini belum dapat mengetahui faktor yang bersifat non-material, sebagai penyebab migrasi- kolonisasi komunitas Non-Austronesia. Kesempatan untuk menjawab pertanyaan tersebut mungkin dapat diperoleh dari studi etnoarkeologi terhadap masyarakat Non-Austronesia yang masih bertahan di kawasan Maluku utara.

4. Tahap Kolonisasi

Secara umum kondisi lingkungan kepulauan Maluku Utara lebih homogen, tetapi pada batas-batas tertentu, sumberdaya alam yang dimiliki oleh tiap-tiap pulau cenderung berbeda, yang disebabkan oleh keterpencilan di kawasan Wallacea yang dibatasi oleh laut-laut dalam. Dalam menghadapi kondisi ini, komunitas Non-Austronesia akan cenderung beradaptasi dalam hal teknologi eksploitasi sumberdaya, hal tersebut tercermin pada artefak-artefak yang dihasilkan. Di situs Siti Nafisah (Halmahera) artefak didominasi oleh lancipan tulang tanpa menghasilkan alat litik, sedangkan di Tanjung Pinang dan Daeo (Morotai) adaptasi ditunjukkan oleh peralatan yang dibuat dari batu kerakal vulkanis, yang dipangkas sederhana. Melihat konteksnya yang berhubungan dengan batu pelandas dan cangkang kerang, kemungkinan artefak tersebut digunakan untuk memecah cangkang kerang untuk dikonsumsi.21

21

Informasi dari Daud Aris Tanudirjo, staf pengajar Jurusan Arkeologi, UGM.

Translokasi hewan dari pulau kaya sumberdaya juga dilakukan guna menghindari degradasi lingkungan di pulau-pulau miskin, seperti Phalanger yang didatangkan di Kayoa dan Morotai serta Dorcopsis di Kayoa dan Gebe. Selain itu, karena kolonisasi tersebut dilakukan oleh komunitas pesisir yang sudah terbiasa dengan lingkungan pantai, maka perbedaan lingkungan yang menyebabkan adaptasi tidak merubah budaya komunitas tersebut secara radikal.22

Berdasarkan data arkeologi, pola subsistensi komunitas Non-Austronesia mengandalkan eksploitasi campuran darat dan marin. Batu pelandas (Canarium nut anvil) di situs Golo 30.000 BP dan Tanjung Pinang 5000 BP dan tulang mamalia darat mengindikasikan eksploitasi darat, sedangkan cangkang kerang dan tulang ikan mengindikasikan eksploitasi laut. Selain itu berdasarkan bukti polen, pada 6000 BP terdapat peningkatan polen tumbuhan palma di kawasan Maluku Utara. Berdasarkan bukti etnografi, sampai saat ini budidaya dan eksploitasi tanaman sagu yang merupakan salah satu tumbuhan palma masih dilakukan di Maluku Utara. Belum dapat diketahui apakah dengan pola subsistensi semacam itu komunitas Non-Austronesia pada masa lampau juga dapat mengalami kejenuhan penduduk dan degradasi lingkungan, sehingga menjadikan faktor pendorong bagi komunitas tersebut untuk melakukan ekspansi. Berdasarkan bukti yang ada, pada saat kedatangan orang Austronesia di kepulauan Maluku Utara, kawasan ini merupakan koridor budaya Non-Austronesia yang kuat dan tidak mudah untuk ditembus oleh orang Austronesia, bahkan hingga saat ini.

22Sampai saat ini sebagian besar situs-situs di Maluku Utara yang tersedia, berada di daerah pesisir pantai.

Menurut Binford23, dalam masyarakat sistem terbuka tipe donor, salah satu mekanisme untuk menciptakan keseimbangan dalam masyarakat adalah dengan jalan pengaturan angka kelahiran, kematian dan melepaskan diri dari kelompok inti, untuk membentuk komunitas baru. Kemungkinan besar kolonisasi daerah-daerah baru di Maluku Utara juga dilakukan oleh komunitas sempalan Non-Austronesia untuk menjaga keseimbangan masyarakat walaupun komunitas intinya belum mengalami kejenuhan penduduk dan degradasi lingkungan.

Berdasarkan berbagai hal tersebut maka dapat ditarik hipotesis bahwa hal inilah yang juga terjadi pada Fase I budaya Uattamdi. Meskipun Fase I situs Uattamdi mengandung unsur-unsur budaya Non-Austronesia dan Austronesia, tetapi dapat diintepretasikan bahwa situs tersebut merupakan situs hunian komunitas Non-Austronesia. Pertanggalan yang relatif muda (3300 BP) mengindikasikan bahwa, kolonisasi daerah-daerah baru masih terus dilakukan oleh komunitas Non-Austronesia bahkan sampai masa kedatangan orang Austronesia di kawasan Maluku Utara.

Keberadaan unsur-unsur budaya Austronesia pada Fase budaya tersebut menunjukan adanya interaksi antara komunitas Non-Austronesia dengan masyarakat Austronesia. Interaksi antar budaya merupakan salah satu akibat dari kasus penghunian oleh suatu komunitas di kawasan yang pada masa sebelumnya telah dihuni oleh komunitas lainnya. Pembahasan mengenai hal tersebut akan dilakukan pada bagian lain dalam tulisan ini.

23

Lewis R. Binford, “Post-Pleistocene Adaptations”, dalam Lewis R. Binford, ed., An Archaeological Perspective, (New York: Seminar Press., 1972), hlm. 437-438.

B. INTEPRETASI MODEL MIGRASI-KOLONISASI AUSTRONESIA DI MALUKU UTARA

Kajian mengenai prasejarah Austronesia telah banyak mengalami perkembangan yang cukup hebat, sejak 1932 ketika Von Heine Geldern mengajukan teori migrasi yang dibangun berdasarkan tipologi beliung persegi. Perubahan aliran pemikiran dan teknik penelitian ikut mewarnai perkembangan tersebut. Ada banyak model migrasi yang telah diajukan oleh berbagai ahli yang berbeda pula. Di antara berbagai model yang telah diajukan tersebut, terdapat dua arus pemikiran yang mendasari pembentukan model tersebut, yaitu: Teori Kebetulan (accidental theory) dan Teori Pengambilan Keputusan (decision- making theory).

Teori kebetulan menyatakan bahwa kolonisasi daerah-daerah baru oleh manusia pada masa prasejarah dilakukan secara tidak sengaja. Teori tersebut beranggapan bahwa kolonisasi daerah kepulauan dilakukan oleh suatu komunitas dengan teknologi sederhana pada saat sekelompok kecil dari mereka melakukan eksploitasi sumberdaya marin sepanjang pantai dengan perahu atau rakit sederhana karena ketidaksengajaan terseret ke lautan bebas dan terdampar di daerah baru.24 Lebih jauh, teori ini juga menyatakan bahwa kolonisasi tersebut terjadi pada masa glasial, ketika ketinggian air laut menurun sehingga menyebabkan jarak antar pulau semakin dekat dengan penghalang laut yang tidak terlalu lebar. Kondisi lingkungan tersebut mendukung para kolonis untuk

24

melewati lautan dengan bantuan pulau-pulau sebagai batu loncatan (steping stone).25

Di lain pihak, teori pengambilan keputusan menyatakan bahwa proses perpindahan manusia dilakukan dengan terencana dan dimanajeman dengan baik, serta bukanlah suatu kebetulan belaka. Untuk fenomena kasus persebaran budaya neolitik Kepulauan Asia Tenggara, dari daerah awal persebarannya di Taiwan dan hubungannya dengan persebaran budaya Lapita di Melanesia Barat, beberapa ahli seperti Bellwood dan Spriggs26, menyebutnya dengan istilah “express train”. Karena hanya dalam tempo 1000 tahun, budaya neolitik tersebut sudah mencakup radius 10.000 km sampai di Tonga, Samoa, kepulauan Polinesia Barat, dari asal persebarannya di Taiwan (4000 BP). Berdasarkan hal tersebut dapat diperkirakan bahwa persebaran budaya Austronesia tidak semata-mata hanya karena faktor kebetulan saja, tetapi lebih disebarkan oleh suatu pola mobilitas penduduk yang terencana, teratur dan dimanajeman dengan baik.

1. Faktor Penyebab Migrasi

Dalam kasus migrasi-kolonisasi komunitas Austronesia, faktor-faktor penyebab migrasi tersebut adalah:

25

Daud Aris Tanudirjo, “Pleistocene Colonization in the Indo-Pacific: The models and the Data”, dalam Sudaryanto dan Alex Horo Rambadeta (eds), Antar

Hubungan Bahasa dan Budaya di Kawasan Non-Austronesia, (Yogyakarta:

PSAP-UGM, 2000), hlm. 180.

26

Matthew Spiggs, “Out of Asia: The Spread of Southeast Asian Pleistocene and Neolithic maritime culture in Island southeast Asia and Western Pacific”, dalam Sue O’Connor dan Peter Veth eds., East of Wallace’s Line,

Studies of Past and Present maritime culture of the Indo-Pacific Region,

a. Faktor pendorong (push)

Menurut Bellwood27 terdapat beberapa faktor utama yang menyebabkan terjadinya migrasi-kolonisasi orang Austronesia, antara lain dapat diringkas sebagai berikut.

1. Pola subsistensi pertanian.

2. Berkembangnya teknologi pelayaran.

3. Adanya suatu konsep ideologi tertentu (cultural domain dan founding father ideology).

4. Hasrat untuk menemukan daerah baru.

Berdasarkan penelitian di situs Chisan (6000 SM) ditemukan lubang yang digunakan untuk menyimpan 100 ton jewawut (padi-padian liar) sedangkan di Hemudu (5000 SM) ditemukan 120 ton padi basah dalam bentuk gabah.28 Hal tersebut mengindikasikan bahwa pola ekonomi produksi pangan dapat menyebabkan meningkatnya jumlah penduduk (ledakan penduduk) yang berlangsung dari generasi ke generasi. Pola subsistensi pertanian yang intensif juga membutuhkan lahan pertanian yang semakin meningkat, sehingga memunculkan keluarga-keluarga baru yang menduduki daerah baru pula. Hal ini sesuai dengan teori Malthus bahwa laju pertumbuhan penduduk lebih cepat dari pada laju pertumbuhan sumberdaya, sehingga sewaktu-waktu sumberdaya

27

Peter Bellwood, “Austronesian Prehistory in Southeast Asia: Homeland, Expansion and Transformation”, dalam Peter Bellwood, James J. Fox, Darrell Tryon (eds), The Austronesians: Historical and Comparative Perspectives, (Canberra: ANU Printing Service, 1995), hlm. 101-103.

28

tersebut akan habis. Selain itu, faktor transportabilitas dan reproduksibilitas pada pola subsistensi pertanian juga mendorong terjadinya kolonisasi dan mempercepat proses autocatalysis terutama pada pulau kecil yang sumberdaya alamnya terbatas.

Eksplorasi di daerah pesisir berguna untuk mencari daerah yang cocok sebagai tempat singgah dan potensial untuk mengeksploitasi hasil laut. Pada kasus ini, orang Austronesia akan memiliki kesempatan untuk mengembangkan teknologi, baik teknologi eksploitasi hasil laut maupun teknologi navigasi. Hal tersebut didukung dengan ditemukannya bandul jaring di situs Pa-chia-t’sun (T’ainan), pada 4300 SM.29 Walaupun pada awal proses migrasi orang Austronesia tentunya telah memiliki teknologi navigasi, tetapi berdasarkan bukti linguistik perkembangan yang cukup signifikan pada teknologi tersebut terjadi di kawasan dituturkannya bahasa Proto Melayu Polinesia, yaitu di daerah Kepulauan Filipina bagian selatan dan Kepulauan Indonesia Timur bagian utara.

Menurut Sjafri Sairin30, analisis mengenai perpindaham manusia seharusnya tidak hanya ditekankan pada faktor lingkungan saja. Menurutnya salah satu faktor penting yang mempengaruhi manusia untuk mengambil keputusan untuk bermigrasi ke suatu wilayah tertentu berkaitan dengan pandangan dan kesan suatu masyarakat mengenai ranah budaya (cultural domain). Terdapat

29

Peter Bellwood, op.cit., 2000, hlm. 313.

30

Cultural domain adalah wilayah yang secara kultural dipandang sebagai milik dari masyarakat suatu pendukung kebudayaan dan wilayah yang berada diluar itu dipandang sebagai wilayah luar. Sumber: Sjafri Sairin, Perubahan

Sosial Masyarakat Indonesia, Perspektif Antropologi, (Yogyakarta: Pustaka

kecenderungan bahwa kelompok masyarakat yang memiliki pandangan negatif terhadap wilayah di luar ranah budayanya akan cenderung sulit melakukan migrasi, dan begitu juga sebaliknya.

Berdasarkan pengamatan etnografi oleh Danys Lombard31 dapat diketahui bahwa kebanyakan kelompok etnis di Kepulauan Indonesia memiliki pandangan yang terbuka pada wilayah budaya di luar mereka. Pada etnis Bugis terdapat karya sastra La Galigo (cerita tokoh Sawerigading) dan orang Melayu memiliki Hikayat Hang Tuah, yang keduanya merupakan nyanyian petualangan laut yang sifatnya heroik. Sebaliknya pada etnis Jawa, Kidung Panji, Serat Kanda dan cerita Bima Suci menceritakan petualangan laut mistis dengan tokoh-tokoh seberang laut yang jahat dan buruk rupa. Hal tersebut mengisyaratkan bahwa etnis Jawa memiliki kecenderungan memandang daerah di luar wilayah budaya mereka dengan image negatif. Dari Maluku Utara, kisah-kisah petualangan Robodoi, seorang Tobelo sebagai bajak laut yang berpengaruh di perairan Nusantara akhirnya terdokumentasikan pada catatan Belanda dari jaman kolonial.32 Kisah tersebut dapat dijadikan referensi untuk menyajikan gambaran yang baik mengenai motivasi mobilitas orang Tobelo.

Founding father ideology pada kebudayaan Austronesia memacu mereka untuk menemukan daerah baru bagi masa depan keturunannya. Pada mulanya

31

Danys Lombard, Nusa Jawa Silang Budaya, Bagian II: Jaringan Asia, (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2000), hlm. 92-93.

32

Periksa: A.B. Lapian, “Beberapa Pokok Penelitian Sejarah Daerah Maluku Utara”, dalam E.K.M Masinambouw ed., Majalah Ilmu-Ilmu Sastra

Indonesia, Jilid VIII No. 3 Nomor Istimewa (III) Halmahera dan Raja Ampat,

ideologi ini mungkin merupakan implikasi dari proses migrasi-kolonisasi di daerah baru, tetapi pada masa selanjutnya hal tersebut juga menjadi faktor pendorong proses migrasi.

b. Faktor penarik (pull)

Salah satu faktor penarik migrasi orang Austronesia adalah hasrat untuk menemukan daerah baru sebagai daerah untuk mencari sumber barang berharga dan daerah jaringan pertukaran. Mungkin bukanlah suatu kebetulan bahwa situs- situs yang mengindikasikan awal keberadaan orang Austronesia di kepulauan Indonesia Timur terdapat di dua jajaran kepulauan busur dalam yang bersifat vulkanik, yaitu: situs Uattamdi (Pulau Kayoa) di busur Zona Ternate dan situs- situs Talaud di busur Kepulauan Sangihe. Kedua busur kepulauan vulkanis tersebut tentunya menyediakan tanah yang subur bagi lahan pertanian. Hal tersebut menyiratkan adanya korelasi antara kondisi lingkungan situs-situs tersebut dengan tujuan pencarian daerah baru guna memenuhi kebutuhan lahan pertanian.33

Ada indikasi bahwa hal tersebut sedikit berubah dan semakin berkembang setelah muncul tradisi penguburan dalam tempayan di kepulauan Indonesia yang menyertakan bekal kubur berupa barang-barang bernilai prestise yang sulit didapatkan. Bekal kubur tersebut kebanyakan berupa barang-barang bernilai yang berasal dari kawasan tertentu yang sulit didapatkan, seperti manik-manik dan

33

aksesoris kerang. Menurut Kirch34, setelah kedatangan Austronesia, berbagai macam aksesoris kerang menjadi benda bernilai prestise yang menjadi komoditi pertukaran antar kawasan. Bentang alam Kepulauan Maluku Utara yang memiliki perairan dangkal selain perairan dalam, merupakan kawasan yang kaya akan sumberdaya laut. Beberapa spesies kerang yang dihasilkan dari perairan tersebut, selain dikonsumsi juga merupakan barang-barang yang memiliki nilai prestis. Maluku Utara memang kaya akan sumber laut terutama berbagai spesies kerang, bahkan sampai saat ini Pulau Halmahera terkenal dengan hasil kerang kapis-kapis dan bialola.

2. Proses Migrasi

Melihat cakupan keruangannya yang sangat luas dan kondisi geografis kepulauan, maka untuk menjelaskan migrasi Austronesia akan digunakan model migrasi jarak jauh seperti yang disarankan oleh Anthony35. Pada migrasi jarak jauh terdapat beberapa pola, antara lain adalah: migrasi lompat katak, migrasi arus, dan migrasi balik.

Pada kasus persebaran orang Austronesia, kecepatan persebaran dalam waktu yang relatif singkat mengindikasikan adanya proses migrasi jarak jauh, yang dilakukan dengan perencanaan dan diatur dengan baik. Keberhasilan migrasi jarak jauh sangat tergantung pada penyebaran informasi mengenai daerah tujuan yang kaya akan sumberdaya serta meliputi teknologi dan rute transportasi.

34

Periksa: Patrick Vinton Kirch, The Lapita Peoples, Ancestors of the

Oceanic World, (Cambridge: Blackwell Publisers, 1997), hlm. 227-255.

35

Periksa: David W. Anthony, “Migration in Archaeology: The Baby and the Bathwater”, American Anthropologist 92, (1990).

Biasanya, jika suatu komunitas telah memasuki tahap kejenuhan penduduk dan degradasi lingkungan, maka untuk memperoleh berbagai informasi mengenai sumberdaya di daerah lain, komunitas tersebut akan mengirimkan anggota kelompoknya untuk melakukan penjajakan ke daerah tujuan.

Proses penjajakan kelompok Austronesia di kawasan kepulauan mungkin dilakukan seperti lompat katak dengan memanfaatkan pulau-pulau sebagai steping stone. Pola migrasi lompat katak dapat berupa singgah (transit) atau ulang alik (commuter) Selain itu, pola aliran arus laut dan angin di kawasan perairan tropis yang berganti tiap setengah tahun dimanfaatkan guna mencapai daerah tujuan dan kembali ke tanah asal. Pengetahuan astronomi tradisional mungkin juga dimanfaatkan sebagai penunjuk arah dalam perjalanan mereka. Sampai saat ini pelayaran tradisional dengan memanfaatkan kondisi tersebut masih banyak dilakukan di Maluku Utara.36

Dari data linguistik, hipotesis mengenai kedatangan penutur bahasa Melayu-Polinesia Timur-Tengah (PCMP) yang merupakan sub stratum bahasa Austronesia, di Maluku Utara terjadi pada 2000 SM.37 Di lain pihak berdasarkan data arkeologi, sampai saat ini indikasi mengenai awal kolonisasi orang Austronesia di Maluku Utara terjadi pada 3300 BP pada situs Uattamdi.

36

Periksa: Mahirta, “The Development of Mare Pottery in the Northern Moluccas Context and its Recent Trading Network”, Thesis, (Canberra: ANU, 1996), untuk catatan etnografi mengenai pelayaran tradisional di Kepulauan Maluku Utara-Kepala Burung.

37

Robert Blust, “The Austronesian Homeland: A Linguistic Perspevtive”,

Asian Perspectives 26 (1), (1984/85), hlm. 57. Pertanggalan ini mungkin sedikit

Berdasarkan hal tersebut, maka dapat diperkirakan bahwa penjajakan yang dilakukan oleh kelompok penjelajah Austronesia terjadi tidak jauh pada masa sebelum kolonisasi awal komunitas tersebut di Maluku Utara.

Berdasarkan data arkeologi, benda-benda neolitik juga digunakan oleh komunitas pemburu-pengumpul pra-neolitik, seperti di situs: Duyong di Palawan (3000 SM), Edjek di Negros, Batungan (900 SM) dan Bagumbayan (2000 SM) di Masbate, serta Balobok (Sangasanga) di Kepulauan Sulu. Kemungkinan besar benda-benda neolitik tersebut berasal dari para penjelajah Austronesia yang melakukan penjajakan di kepulauan terebut dan melakukan pertukaran dengan komunitas setempat. Berdasarkan karakteristik konteks data arkeologi, kemungkinan hal yang sama juga dapat terjadi di situs Leang Tuwo Mane’e di Talaud dan Uattamdi di Maluku Utara.

Di situs gua Duyong (Tabon), sebuah beliung persegi yang ditemukan dengan konteks penguburan terlipat pra neolitik pada 4500 BP mengindikasikan bahwa pada masa tersebut beliung persegi didistribusikan oleh para penjelajah kepada komunitas pemburu-pengumpul setempat.38 Kemungkinan besar, kelompok Austronesia yang melakukan penjajakan awal ke daerah-daerah baru bukan berasal dari komunitas petani sendiri, tetapi mungkin para pedagang, petualang, dan pelaut. Setelah seluruh informasi mengenai daerah baru dapat dikumpulkan, para komunitas penjelajah yang melakukan penjajakan akan kembali ke tanah asal mereka untuk menyebarluaskan informasi tersebut.

Pada saat komunitas inti yang berada di daerah asal mengalami tekanan yang sudah tidak dapat ditoleransi, informasi mengenai daerah baru yang telah dikumpulkan oleh para penjelajah akan dimanfaatkan untuk menuntun komunitas tersebut ke daerah baru (tujuan). Berdasarkan bukti linguistik, bahasa Melayu- Polinesia Barat (WMP) yang dituturkan di Indonesia bagian barat dan bahasa Melayu-Polinesia Tengah-Timur (CEMP) yang dituturkan di Indonesia Timur berasal dari bahasa Proto Melayu-Polinesia yang berada di Luzon (Filipina) pada 3500 SM. Berdasarkan bukti arkeologis, situs-situs yang mengindikasikan kolonisasi Austronesia cukup padat ditemukan di lembah sungai Cagayan (Luzon Utara), seperti: Dimolit (2500 SM), Rabel dan Laurente (2800 SM), Arku dan Musang (1500 SM) serta Lal-lo dan Magapit (2000 SM).39 Data arkeologi dari situs-situs tersebut memiliki banyak persamaan dengan tinggalan budaya neolitik dari Maluku Utara, khususnya gerabah slip merah.40 Berdasarkan kedua data tersebut dapat ditarik hipotesis bahwa arus migrasi orang Austronesia yang berada di kepulauan Indonesia Timur bagian utara berasal dari daerah Filipina.

Setelah informasi yang didapatkan mengenai daerah tujuan dan rute yang harus dilewati sudah jelas, maka komunitas Austronesia akan mulai dengan arus migrasi. Secara arkeologis, bukti mengenai kolonisasi orang Austronesia dapat dilihat berdasarkan persebaran karakteristik data yang dihasilkannya. Di Maluku Utara, data arkeologi yang merepresentasikan awal kolonisasi orang Austronesia di kawasan tersebut dihasilkan oleh Fase I situs Uattamdi (3300 BP). Pertanggalan

39

Periksa: Ibid., hlm. 322-328.

40 Lihat pembahasan persamaan gerabah Maluku Utara dengan kawasan lainnya pada Bab III.

yang dihasilkan situs tersebut sampai saat ini merupakan yang tertua di kawasan Maluku Utara. Hal ini mengindikasikan bahwa daerah tersebut merupakan daerah tujuan awal migrasi Austronesia di Maluku Utara. Keberadaan Pulau Kayoa dalam rangkaian kepulauan busur vulkanis Zona Ternate menjadikan kepulauan tersebut merupakan daerah yang kaya sumberdaya alam.41 Sifat vulkanis menyebabkan jenis tanahnya subur, di lain pihak perairan dangkalnya kaya akan sumberdaya laut. Tanah yang subur dan hasil laut merupakan faktor penarik bagi tujuan migrasi orang Austronesia.

Setelah menghuni bagian tengah Zona Ternate, kemungkinan besar

Dalam dokumen Keterkaitan Kronologi Budaya Situs Ceruk (Halaman 135-154)