Apresiasi Sastra dan Bahasa Indonesia Pendidikan Multikultural di Indonesia
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Apresiasi Sastra dan Bahasa Indonesia
Oleh:
Hanna Larasati 1815163367
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA 2018
Abstrak
Pendidikan merupakan media yang tepat untuk mengenalkan multikultural. Inti dari keberhasilan multicultural adalah keinginan untuk menerima budaya kelompok lain, etnik, gender, bahasa dan keberanekaan agama sebagai suatu bentuk keseimbangan dan membentuk satu kesatuan. Pendidikan multikultural harus didekati dengan strategi pembelajaran dan kurikulum yang mengarahkan kepada proses pembelajarannya. Hal penting yang dibutuhkan adalah mendesain beberapa isi materi kurikulum pendidikan bagi para siswa agar dapat menerima orang lain secara sama dan menghormati agama mereka, budaya, dan perbedaan etnik. Oleh karenanya model kurikulum dengan beraneka ragam tema adalah suatu model kurikulum yang sangat dianjurkan.
Pendahuluan
Tuhan menciptakan manusia di muka bumi ini dalam ragam bentuk, ras, suku maupun bangsa. Ini berarti Tuhan sengaja mendesain manusia dalam berbagai ragam budaya (multicultural) yang tidak tunggal. Jika demikian, hal tersebut merupakan sunnatullah. Kehidupan multikultural manusia merupakan potensi konflik dalam berbagai hal, baik antar individu maupun antar kelompok, sebagai akibat dari adanya perbedaan perspektif, kepentingan, dan tujuan hidup di antara mereka
Konsep kesedarajatan harus dipandang sebagai adanya penghargaan terhadap derajat sesama warga negara sekalipun berbeda suku, adat istiadat, bahasa, ras, agama dan budayanya. Pendidikan merupakan
bagian dari kegiatan kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. Oleh sebab itu kegiatan pendidikan merupakan perwujudan dari cita-cita bangsa. Dengan demikian kegiatan pendidikan nasional perlu diorganisasikan dan dikelola sedemikian rupa supaya pendidikan nasional sebagai suatu organisasi dapat menjadi sarana untuk mewujudkan cita-cita nasional.
Pendidikan merupakan media yang tepat untuk mengenalkan multicultural
dan merupakan proses
sebagai konsekwensi dari tujuan pendidikan yaitu mengasah rasa, karsa dan karya
Pendidikan multikultural dapat dirumuskan sebagai wujud kesadaran tentang keanekaragaman kultural, hak-hak asasi manusia serta pengurangan atau penghapusan jenis prasangka atau prejudice untuk suatu kehidupan masyarakat yang adil dan maju. Konsep multikulturalisme menunjuk pada pluralitas kebudayaan, sikap dan pemahaman untuk meresponnya.
Pendidikan multikultural sebagai basis pendidikan yang menghargai kemajemukan budaya sedangkan pendidikan agama sebagai basis pendidikan yang bersumberkan pada nilai-nilai keagamaan untuk melahirkan manusia-manusia religius. Keragaman ini menarik diteliti lebih lanjut untuk mengetahui proses pembinaan sikap tasāmuh dalam pendidikan multikultural.
Pendidikan multikultural bertujuan pada alasan gagasan bahwa sistem pendidikan gagal untuk mengurangi konflik antara kelompok dan masyarakat dan sebagai suatu upaya untuk membangun tatanan kehidupan yang lebih harmoni, yang dilandasi
rasa saling hormat menghormati,
mengakui keragaman dan
KONSEP
Multikulturalisme adalah “konsep pembudayaan, dan oleh karena proses pendidikan adalah proses pembudayaan, maka masyarakat multikultural dapat diciptakan melalui proses pendidikan”. Pendidikan multikultural dapat dilihat dalam tiga hal yaitu Pendidikan multikultural sebagai sebuah konsep atau idea, pendidikan mutikultural sebagai suatu gerakan, dan pendidikan multikultural sebagai sebuah proses.
Pendidikan multikultural tepat untuk diterapkan pada masyarakat Indonesia yang memiliki keragaman budaya, karena pendidikan multikultural dalam kerangka transformatif, dirancang untuk mendukung perkembangan
keragaman murni dengan
memodifikasi kurikulum bidang studi, baik melalui proses penyusunan, pengembangan, maupun pengayaan, yang kesemuanya itu untuk membantu peserta didik dalam memahami sejarah dan kebudayaan bangsa. Pendidikan multikultural mengandung dua dimensi: pembelajaran (kelas) dan kelembagaan (sekolah) dan antara keduaanya tidak bisa dipisahkan, tetapi justru harus ditangani lewat reformasi yang komprehensif
Tiga status pendidikan multikultural (yang saling berhubungan secara fungsional) yang harus terus
dikembangkan jika akan
diimplementasikan di Indonesia seusai dengan “kultur” Indonesia. Artinya, jika didudukkan sebagai falsafah pendidikan,maka harus dianalisis secara filosofis hakekatnya sebagai apa. Jika sebagai bidang kajian (disiplin ilmu dalam Ilmu Pendidikan) juga harus dipertegas dari sudut filsafat ilmunya. Jika dipandang sebagai pendekatan, maka harus jelas apa yang didekati dan bagaimana melakukan pendekatannya secara ilmiah, sesuai, dan benar.
Dalam perspektif agama,
multikulturalisme sebagai basic dari
pengembangan pendidikan
TUJUAN
Tujuan utama pendidikan multicultural (yang boleh disebut sebagai sasaran instrumental dan terminal), yaitu meniadakan diskriminasi pendidikan, memberi peluang sama bagi setiap anak untuk mengembangkan potensinya (tujuan instrumental); menjadikan anak bisa mencapai prestasi akademik sesuai potensinya (tujuan terminal internal), menjadikan anak sadar sosial dan aktif sebagai warga masyarakat lokal, nasional, dan global (tujuan terminal akhir eksternal). Pendidikan multikultural dalam kerangka fokus pada pelestarian budaya dan partisipasi budaya dalam mengembangkan sikap dan perilaku peserta didik dalam menghadapi kelompoknya di dalam masyarakat, sehingga peserta didik di sekolah dan di luar sekolah, baik dalam keluarga
maupun masyarakat dapat
membentuk dan mengembangkan kehidupan yang harmonis, saling menghargai dan menghormati adanya perbedaan multikultural sebagai satu kekuatan dan mengembangkan kehidupan masyarakat yang damai, didik. Untuk itu guru harus mempunyai pemahaman yang memadai mengenai konsep dan paradigma pendidikan multikultural.
Pembelajaran dengan diskusi ini dapat bertukar pikiran bahwa semua orang dalam realita kehidupan masyarakat kultural.
Peran Guru Dalam Kelas
2. Perluas pengetahuan guru tentang kehidupan masyarakat lain yang berbeda latar belakang etnis, agama, jenis kelamin, dan status sosial
5. Gunakan buku, film, video, CD, dan rekaman untuk melengkapi buku teks. 7. Gunakan teknik belajar kooperatif dan kerja kelompok untuk meningkatkan integrasi sosial di kelas
Peran Universitas
Universitas mempunyai tanggung jawab dan peran penting untuk memelihara dan usaha terus menerus mendidik mahasiswa dan masyarakat untuk mampu hidup bersama dalam keanekaragaman, tanpa masing masing identitas budayanya namun sekaligus juga mampu memberi jaminan hidup budaya orang lain. Yang lebih penting bagaimana dalam
praktek kehidupan perguruan tinggi memberikan kesempatan yang sama kepada seluruh warga negara untuk mengembangkan budaya mereka, dan juga adanaya upaya perguruan tinggi untuk menanamkan rasa saling menghormati dan menghargai budaya yang ada di wilayah nusantara ini. Fungsi dan peran pergurun tinggi sangat strategis dan krusial. Fungsi dan peran perguruan tinggi sebagai institusi pendidikan tidak saja terfokus hanya pada aspek ekonomi atau politik saja, tetapi tidak kalah pentingnya adalah peran sosio-kulturalnya. Menurut Husin, perguruan tinggi dituntut tanggung jawab untuk menjalankan peran sebagai agen integrasi sosial, yaitu menciptakan identitas budaya bersama, mengarahkan secara bersamasama individu-individu di kampus dari berbagai kelas sosial, etnik, budaya,
kepercayaan, agama dan
menghubungkannya ke dalam masyarakat yang lebih luas. Perguruan tinggi harus dapat menjadi perekat bangsa, apalagi dalam suasana ketidakpastian sekarang ini.
Dalam proses pembelajaran PKN,
sebagaimana halnya pada
pembelajaran umumnya diarahkan pada aktivitas yang terpusat pada yang sangat dominan di kelas, siswa bebas mengeluarkan pendapatnya,
serta adanya pembahasan
controversial issues yaitu isu dan masalah yang terjadi di masyarakat. Dalam pembelajaran PKN yang terkait dengan materi pendidikan multikultural dapat dilakukan melalui dua strategi, yaitu pertama multikultutralisme sebagai substansi dan sumber belajar, dan kedua multikulturalisme sebagai stategi perekat persatuan dan
kesatuan bangsa dengan
menempatkan kesederajatan sebagai persamaan hak.
1. Persatuan dan kesatuan. 2. Cinta tanah air.
3. Persamaan derajat.
4. Persamaan hak dan kewajiban. 5. Kerukunan.
6. Gotong Royong
PERAN SEKOLAH
Sekolah harus dipandang sebagai suatu masyarakat, masyarakat kecil; artinya, apa yang ada di masyarakat harus ada pula di sekolah. Perspektif sekolah sebagai suatu masyarakat kecil ini memiliki implikasi bahwa siswa dipandang sebagai suatu individu yang memiliki karakteristik yang terwujud dalam bakat dan minat serta aspirasi yang menjadi hak siswa.
Pada level sekolah, dengan adanya berbagai perbedaan yang dimiliki masing-masing individu, maka sekolah harus memperhatikan setiap siswa memiliki kebutuhan perkembangan yang berbeda-beda, termasuk kebutuhan personal dan sosial, kebutuhan vokasi dan karier,
kebutuhan psikologi dan
perkembangan moral spiritual.
keragaman etnik, mengembangkan kohesivitas berdasarkan partisipasi bersama dari beberapa kelompok budaya, memberi kesempatan maksimal untuk seluruh individu dan kelompok, memfasilitasi perubahan konstruktif yang dapat meningkatkan martabat dan cita-cita demokrasi.
Strategi sekolah dalam
mengembangkan pendidikan multikultural dapat dilakukan dengan berbagai ragam cara antara lain proses pendidikan di sekolah diusahakan menerapakan manajemen sekolah berbasis multikultural oleh pihak-pihak yang terkait dengan sekolah, mengembangkan suasana yang kondusif di sekolah, mengembangkan kebijakan/peraturan sekolah yang menghindarkan sifat diskriminatif terhadap salah satu kelompok multikultural atau lebih yang ada di sekolah, mengembangkan komunikasi dan interkasi yang efektif antar warga sekolah.
Peran Religius
Pendidikan Multikultural-Religius Istilah pendidikan multikultural-religius mengandung dua konsep pendidikan yang dipadukan, yaitu antara pendidikan multikultural dan pendidikan agama. Pendidikan
sebagai basis nilai moral-spiritual harus dapat menjadi solusi terhadap munculnya dampak globalisasi. Konsep pendidikan multikultural-religius merupakan perpaduan antara konsep pendidikan multikultural yang menekankan sikap penghargaan terhadap keberagaman dengan konsep pendidikan agama yang
Ada beberapa bentuk tasāmuh dalam pendidikan multikultural, yaitu sikap tolong-menolong, bertanggung jawab, bekerjasama, saling pengertian, saling menghargai, saling menghormati, komunikatif, kepedulian terhadap orang lain, tidak saling menyalahkan, tidak egois, dan sikap inklusif. Pendidikan multikultural dalam sistem pendidikan Islam dilaksanakan, bukan hanya sekedar kebutuhan peserta didik atau kondisi sosial masyarakat yang multikultural, melainkan lebih karena ajaran Islam yang mengandung ajaran tentang
multikultural, sehingga
sebagai upaya pengamalan ajaran Meskipun konflik merupakan akibat dari persoalan yang terjadi sebelumnya, namun konflik juga dapat mengakibatkan permasalahan lainnya dari mulai yang paling sederhana sampai dengan dengan yang paling kompleks. oritas untuk segera diwujudkan di setiap satuan pendidikan mengingat peranan pendidikan multikultural yang diharapkan dapat memper-siapkan peserta didik untuk memiliki kemampuan dalam menangani konflik. Keunikan faktor-faktor geografis, demografi, sejarah, dan kemajuan sosial ekonomi dapat memicu munculnya problema pendidikan multikultural di Indonesia, antara lain sebagai berikut:
1. Keanekaan Budaya Etnik
2. Pergeseran Paradigma
Kekuasaan: Desentralisasi
3. Rapuhnya Ruang Kebangsaan Kita persoalan laten yang banyak memicu terjadinya konflik di tengah masyarakat yang plural, oleh karenanya perlu mengantisipasi dengan penanaman nilai yang mampu menempatkan perbedaan pada kesederaajatan.
KESIMPULAN
Pendidikan Multikultural adalah
merupakan suatu gerakan
di kelas. Implementasi pendidikan multikultur pada jenjang pendidikan dasar dan menengah, dapat dilakukan secara komprehensif melalui pendidikan kewargaan dan melalui Pendidikan Agama, dapat dilakukan melalui pemberdayaan slotslot kurikulum atau penambahan atau perluasan kompetensi hasil belajar dalam konteks pembinaan akhlak mulia, memiliki intensitas untuk
membina dan mengembangkan kerukunan hidup.
Membangun multikulturalisme pada prinsipnya adalah membangun dirinya, bangsa dan tanah air tanpa
merasakan sebagai beban dan hambatan, namun didasarkan pada ikatan persatuan, kesatuan dan kebersamaan serta saling bekerja sama dalam membangun Indonesia yang maju, aman dan sejahtera.
Referensi
2. PENDIDIKAN MULTIKULTURAL: SUATU KONSEP, PENDEKATAN DAN SOLUSI, Kuswaya Wihardit
3. IMPLEMENTASI PENDIDIKAN MULTIKULTURAL DALAM PRAKSIS PENDIDIKAN DI INDONESIA, Akhmad Hidayatullah, Al Arifin Madrasah Tsanawiyah Negeri Sleman
4. STRATEGI SEKOLAH DALAM PENDIDIKAN MULTIKULTURAL, Agus Munadlir, Fakultas Ilmu Pendidikan IKIP PGRI Wates Yogyakarta
5. IMPLEMENTASI PENDEKATAN PENDIDIKAN MULTIKULTURAL
KONTEKSTUAL BERBASIS KEARIFAN LOKAL DI INDONESIA, Tatang M. Amirin, Fakultas Ilmu Pendidikan Unversitas Negeri Yogyakarta
6. REVITALISASI PENDIDIKAN MULTIKULTURAL DALAM PEMBELAJARAN Sudrajat, Fakultas Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta
7. PENDIDIKAN MULTIKULTURAL DAN DINAMIKA RUANG KEBANGSAAN Muh. Sain Hanafy, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Alauddin Makassar 8. PENDIDIKAN MULTIKULTURAL DAN NASIONALISME INDONESIA, Tukiran,
Universitas Muhammadiyah Purwokerto
9. MULTIKULTURALISME DALAM PENDIDIKAN ISLAM, Lasijan
10.PENDIDIKAN MULTIKULTURALISME (Studi Pada SMA dan Madrasah Aliyah di Kalimantan Timur) Fachrul Ghazi, Subhan, Ahmad Muthohar, Wahdatunnisa, Ida Farida dan Siti Khadijah STAIN Samarinda
11.PENDIDIKAN MULTIKULTURAL UNTUK MENATA KEHIDUPAN BERSAMA, Syafri Fadillah Marpaung
12.PENDIDIKAN MULTIKULTURAL (STUDI KASUS DI SEKOLAH LANJUTAN TINGKAT PERTAMA (SLTP) DI TULUNGAGUNG), Wenni, Wahyuandari Desi, Rahmawati, Fakultas Ekonomi
14.PENDIDIKAN MULTIKULTURAL DI SEKOLAH MELALUI PENDIDIKAN SENI TRADISI, Sri Ambarwangi, SMK Negeri 1 Pringapus, Jalan Raya Jatirungga Ungaran
15.NILAI-NILAI PENDIDIKAN MULTIKULTURAL DALAM BERBAGAI KEGIATAN SEKOLAH DI SMAN 2 SLEMAN, Oleh Mira Khaorunisak
16.KURIKULUM PENDIDIKAN BERBASIS MULTIKULTURAL Oleh: Suniti, Jurusan Tadris IPS IAIN Syekh Nurjati Cirebon
17.Konflik dalam Perspektif Pendidikan Multikultural Hermana Somantrie
18.STRATEGI SEKOLAH DALAM PENDIDIKAN MULTIKULTURAL Agus Munadlir Fakultas Ilmu Pendidikan IKIP PGRI Wates Yogyakarta
19.PENDIDIKAN MULTIKULTURAL: Pengertian, Prinsip, dan Relevansinya dengan Tujuan Pendidikan Islam Rustam Ibrahim Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta, Jawa Tengah, Indonesia
20.Pendidikan Multikultural-Religius untuk Mewujudkan Karakter Peserta Didik yang Humanis-Religius Zainal Arifin Prodi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga
21.SIKAP TASĀMUH DALAM PENDIDIKAN MULTIKULTURAL Rahma Maulida Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Model Banda Aceh
22.PENTINGNYA KONSEPSI PENDIDIKAN MULTIKULTURAL DI SEKOLAH PASCA KONFLIK SOSIAL DI TERNATE Umar M. Sadjim Dosen FIP-PGSD Universitas Muhammadiyah Maluku Utara
23.PENDIDIKAN MULTIKULTURAL (STUDI KASUS DI SEKOLAH LANJUTAN TINGKAT PERTAMA (SLTP) DI TULUNGAGUNG) Wenni Wahyuandari Desi Rahmawati Fakultas Ekonomi
24.PENDIDIKAN MULTIKULTURAL DALAM SISTEM PENDIDIKAN ISLAM Studi Di Pesantren Modern di Banten Oleh: H. Hafid Rustiawan Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan IAIN SMH Banten
26.MODEL PENGEMBANGAN PENDIDIKAN ISLAM BERBASIS MULTIKULTURAL Ahmad Afif Sekolah Tinggi Agama Islam at-Taqwa Bondowoso
27.Penanaman Nilai-Nilai Multikulturalisme Melalui Pendidikan Untuk Menyiasati Masalah Multikultur Di Indonesia& Malaysia Firdaus1 , Faishal Yasin2 & Dian Kurnia Anggreta3 1,2,3 Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) PGRI Sumatera Barat, INDONESIA
28.PENGEMBANGAN STANDAR KOMPETENSI PADA PENDIDIKAN MULTIKULTURAL di SEKOLAH Oleh Dr Purwo Susongko, MPd
29.PENDIDIKAN MULTIKULTURAL UNTUK MEMPERKUAT KOHESIFITAS PERSATUAN DAN KESATUAN BANGSA, Charles