TUGAS PERKULIAHAN
PEMBELAJARAN SASTRA ANAK DI SEKOLAH DASAR
Disusun untuk memenuhi tugas Mata Kuliah
Pengembangan Pembelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar Pengampu : Prof. Dr. St.Y. Slamet, M.Pd.
Disusun Oleh:
ANNISA IMSAWATI SUGIYANTO NIM S032302002
PROGRAM MAGISTER PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA
2023
1. Apa yang dimaksud dengan pembelajaran apresiasi sastra di Sekolah Dasar?
Pembelajaran apresiasi sastra pada hakikatnya merupakan upaya untuk menanamkan rasa peka kepada siswa terhadap cita rasa sastra. Seharusnya pengajaran apresiasi sastra yang disampaikan guru kepada siswa mampu mengubah sikap siswa dari acuh tak acuh menjadi lebih bersimpati terhadap sastra. Karena materi sastra yang disuguhkan tidak sekadar representation of life (Imitation of life) melainkan interpretation of life.
(Suwardi Endraswara, 2002: 7). Dengan demikian, karya sastra harus dipahami sebagai fenomena yang tidak hanya sekedar memuaskan emosi melainkan memercikkan ide-ide dan pikiran. Karya sastra sebagai salah satu kebutuhan manusia menawarkan kisi-kisi kemanusian yang indah menuju kesempurnaan hidup. Kompetensi apresiasi adalah kemampuan menikmati dan menghargai karya sastra. Dalam hal ini siswa diajak untuk lansung membaca, memahami, menganalisis, dan menikmati karya sastra secara langsung. Siswa tidak harus menghafal mulai dari nama- nama judul karya sastra atau sinopsisnya, tetapi langsung berhadapan dengan karya sastranya (Wahyudi, 2008: 168-169). Sedangkan menurut Panuti Sudjiman (1990) menyebutkan bahwa apresiasi sastra sebagai bentuk penghargaan terhadap karya sastra yang didasarkan atas pemahaman.
2. Apresiasi sastra anak itu apa ?
Santoso (2003: 8.15) memberikan tiga rumusan apresiai sastra anak sebagai berikut:
a. Apresiasi sastra anak adalah penghargaan (terhadap karya sastra anak) yang didasarkan pada pemahaman.
b. Apresiasi sastra anak adalah penghargaan atas karya sastra anak sebagai hasil pengenalan, pemahaman, penafsiran, penghayatan, dan penikmatanyang didukung oleh kepekaan batin terhadap nilai-nilai yang terkandung dalam karya sastra anak.
c. Apresiasi sastra anak adalah kegiatan menggauli cipta sastra anak dengan sungguh-sungguh hingga tumbuh pengertian, penghargaan, serta kepekaan pikiran kritis dan kepekaan perasaan yang baik terhadap cipta karya sastra anak.
3. Apa saja bentuk apresiasi sastra untuk anak di SD?
Menurut Hartanti (2016) menyebutkan beberapa bentuk apresiasi sastra
anak di sekolah dasar:
a. Membacakan Cerita: Guru dan orang tua dapat membacakan cerita- cerita pendek, dongeng, atau buku anak kepada anak-anak. Ini membantu anak-anak mengembangkan keterampilan mendengarkan dan mengapresiasi narasi.
b. Diskusi: Setelah membaca cerita, guru dan orang tua dapat melakukan diskusi tentang cerita tersebut. Anak-anak dapat diminta untuk berbicara tentang karakter, alur cerita, pesan moral, dan perasaan mereka terhadap cerita itu.
c. Kegiatan Kreatif: Mengadakan kegiatan kreatif seperti menggambar, mewarnai, atau membuat cerita pendek berdasarkan cerita yang telah mereka dengar atau baca. Ini membantu anak-anak untuk mengungkapkan pemahaman mereka tentang cerita dan mengembangkan keterampilan kreatif mereka.
d. Pertunjukan Drama: Mengajak anak-anak untuk berpartisipasi dalam pertunjukan drama sederhana berdasarkan cerita-cerita yang mereka baca. Ini membantu mereka memahami lebih dalam karakter dan alur cerita.
e. Membaca dan Menulis Puisi: Mengenalkan anak-anak pada puisi dan membantu mereka menulis puisi sederhana. Membaca puisi dan menciptakannya dapat meningkatkan apresiasi mereka terhadap bahasa dan ekspresi emosional.
f. Kunjungan ke Perpustakaan: Mengajak anak-anak untuk mengunjungi perpustakaan dan memilih buku-buku yang mereka sukai. Ini membantu mereka merasa terlibat dalam proses pemilihan bacaan mereka sendiri.
g. Proyek Sastra: Mengadakan proyek-proyek sastra kecil di kelas, seperti membuat buku mini atau membuat pameran buku di sekolah.
h. Mengundang Penulis Anak-Anak: Mendatangkan penulis anak-anak yang dapat berbicara kepada anak-anak tentang proses menulis dan mengilhami mereka untuk mengejar minat sastra mereka.
i. Membacakan Buku Berbahasa Asing: Mengenalkan buku berbahasa asing atau terjemahan cerita-cerita terkenal kepada anak-anak untuk memperluas pemahaman budaya dan bahasa.
j. Membuat Klub Baca: Membentuk klub baca di sekolah dasar, di mana anak-anak dapat berkumpul dan berbicara tentang buku-buku yang mereka baca, serta saling merekomendasikan bacaan.
4. Apakah yang dimaksud dengan apresiasi sastra ? Apresiasi sastra menurut beberapa ahli yakni : a. T. Suparman Natawidaja (1981)
Menurut Suparman, apresiasi sastra adalah pemahaman dan penghargaan terhadap sebuah karya seni ataupun budaya yang telah tercipta.
b. Panuti Sudjiman (1990)
Tidak jauh berbeda dengan pendapat Sudjiman tentang apresiasi sastra.
Dirinya juga mendefinisikan apresiasi sastra sebagai bentuk penghargaan terhadap karya sastra yang didasarkan atas pemahaman.
c. Tarigan (1984)
Sementara apresiasi sastra menurut Tarigan dijelaskan lebih spesifik.
Jadi apresiasi sastra merupakan penaksiran kualitas karya sastra dan pemberian nilai secara wajar berdasarkan dari hasil pengamatan dan pengalaman yang dilakukan secara sadar dan kritis.
d. Effensi (1982)
Berbeda dengan pendapat Effendi yang mendefinisikan apresiasi sastra adalah kegiatan menggauli ciptaan sastra secara sungguh-sungguh, sehingga menimbulkan penghargaan, pengertian, kepekaan perasaan dan pikiran kritis terhadap sebuah karya cipta sastra.
5. Mengapa perlu ada pembelajaran apresiasi sastra di sekolah dasar ? Melalui sastra guru dapat mengembangkan siswa dalam hal keseimbangan antara spiritual, emosional, etika, estetika, logika dan kinestika, pengembangan kecakapan hidup, belajar sepanjang hayat, serta pendidikan kemenyeluruhan dan kemitraan (Wahyudi, 2008: 171). Selain itu manfaat pendidikan sastra melalui proses pembelajaran yang diberikan di sekolah setidaknya dapat membantu pendidikan secara utuh bagi siswa, (B.Rahmanto. 1989:15-24), yaitu:
a. Membantu keterampilan berbahasa, b. Meningkatkan pengetahuan budaya c. Mengembangkan cipta dan rasa, dan
d. Menunjang pembentukan watak. Keempat manfaat yang ditawarkan tersebut setidaknya dapat mengasah kemampuan apresiasi sastra secara menyeluruh.
6. Bagaimana peran guru dalam pembelajaran sastra anak di sekolah dasar ?
Menurut Khushartanti (2014) peran guru yang sangat penting dalam proses kegiatan pembelajaran sastra, yaitu :
a. Peran guru sebagai informator, guru harus dapat memberikan informasi atau pengetahuan dengan informatif. Materi yang disampaikan harus disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing siswa berkesulitan membaca dan menulis.
b. Peran guru sebagai organisator atau administrator, cara guru dalam mengorganisasi media dan metode dalam menyampaikan materi membaca dan menulis.
c. Peran guru sebagai motivator, dalam memberikan nasehat yang membangun semangat belajar siswa.
d. Peran guru sebagai inovator, guru mampu membuat inovasi pembelajaran agar kegiatan belajar mengajar di kelas mampu menarik minat siswa.
e. Peran guru sebagai pengarah atau direktor, kegiatan guru dalam mengatur jalannya proses pembelajaran di kelas agar dapat berjalan dengan kondusif.
f. Peran guru sebagai fasilitator, pengadaan dan penggunaan alat penunjang pembelajaran oleh guru.
g. Peran guru sebagai evaluator, dalam memberikan hasil akhir pembelajaran baik secara tertulis,lisan, atau sikap.
7. Apa sajakah kegiatan yang dapat dilakukan dalam mengapresiasi kaarya sastra anak?
Kegiatan mengapresiasi sastra anak dapat dilakukan melalui kegiatan sebagai berikut (Rosdiana, dkk. 2008: 5.10) :
a. Kegiatan Apresiasi Langsung Adalah kegiatan yang dilakukan secara sadar untuk memperoleh nilai kenikmatan dan kekhidmatan dari karya sastra anak yang diapresiasi. Kegiatan apresiasi langsung meliputi kegiatan sebagai berikut.
1) Membaca sastra anak
2) Mendengar sastra anak ketika dibacakan atau dideklamasikan 3) Menonton pertunjukan sastra anak ketika karya sastra anak itu
dipentaskan.
b. Kegiatan Apresiasi tak Langsung Adalah suatu kegiatan apresiasi yang menunjang pemahaman terhadap karya sastra anak. Cara tidak langsung ini meliputi 3 kegiatan pokok, yaitu
1) mempelajari teori sastra
2) mempelajari kritik dan esai sastra, dan 3) mempelajari sejarah sastra.
c. Pendokumentasian Karya Sastra Usaha pendokumentasian karya sastra juga termasuk bentuk apresiasi sastra yang secara nyata ikut melestarikan keberadaan karya sastra. Bentuk apresiasi atau
penghargaan terhadap karya sastra dengan cara mendokumentasikan karya sastra ini dilihat dari segi fisiknya ikut memlihara
8. Apa sajakah metode pembelajaran sastra di SD?
Menurut Slamet Riyadi, Dhanu Priyo dan Prapti Rahayu (2010) metode- metode dalam pembelajaran sastra SD yakni :
a. Metode Ceramah
Di (tingkat) sekolah dasar, metode ceramah amat dominan da Jam pengajaran sastra, apalagi di kelas permulaan ( di kelas I dan II).
Dengan metode itu, guru dapat menjelaskan berbagai cara mengapresiasi sastra, antara lain dengan memberikan contoh cara membaca puisi (yang baik), cara memerankan adegan dalam drama, dan cara membacakan dialog dalam cerita pendek, agar siswa yang mende ngarkan dapat tem1otivasi untuk mempraktikannya.
b. Metode Penugasan
Dalam metode penugasan ada beberapa teknik yang dapat dilakukan.
Misalnya, siswa diberi tugas untuk membaca, berbicara, menyimak, dan menulis. Dalam tugas membaca, misalnya, siswa ditugasi untuk membaca puisi, sedangkan siswa lainnya dianjurkan untuk menyimak karena di antara mereka akan mendapat gil iran untuk membaca atau mengomentarinya. Sementara itu, dalam tugas menulis, siswa dapat diberi peketjaan rurnah, misalnya untuk membuat puisi atau membuat ringkasan cerita pendek.
c. Metode Diskusi
Metode diskusi bertujuan untuk melatih siswa berani dan bebas mengemukakan pendapat terkait dengan materi diskusi yang telah disiapkan sebelurnnya. Di (tingkat) sekolah dasar, guru masih diperlukan perannya sebagai pemandu sehingga ia harus arif dan bijaksana dalam pengatur, mengarahkan, dan memotivasi siswanya.
Dalam suasana yang menyenangkan, siswa akan tergugah dan bergairah untuk mengemukakan pendapatnya. Metode diskusi itu dapat diterapkan.
Sedangkan menurut Alfandi (2022 :45) ada beberapa metode masa kini yang dapat diterapkan dalam pembelajaran sastra disekolah dasar yaitu :
a. Metode audio visual
Metode audio visual adalah suatu media audio visual digunakan dalam bentuk video pembelajaran yang berisi teori puisi untuk membantu pemahaman siswa terhadap sastra dan memperlihatkan video pembacaan puisi disertai dengan klip puisi dan rekaman suara. Tujuan penyajiannya digunakan untuk merangsang siswa mengembangkan pemikirannya dalam memahami dan menafsirkan puisi dengan kata-
kata sendiri. Menurut Riyana (2007) media video pembelajaran adalah media yang berisi konsep, prinsip, prosedur, teori aplikasi untuk membantu pemahaman terhadap suatu materi pembelajaran.
b. Metode analisis
Metode analisis isi digunakan untuk menganalisis sastra agar dapat memberi penguatan kepada siswa untuk mengakrabi karya sastra berdasarkan jenisnya sehingga isi pesan dan nilai-nilai karya sastra dapat dipahami secara utuh. Dasar pelaksanaan metode analisis isi adalah penafsiran yang memberikan perhatian pada isi pesan puisi.
Berdasarkan kebutuhan akan kemampuan mengapresiasi sastra, maka metode analisis isi dianggap sangat sesuai untuk memaksimalkan kemampuan siswa dalam memahami sastra
9. Bagaimanakah cara menciptakan pembelajaran sastra yang menyenangkan untuk anak?
Menurut Yoga Putra (2020) ada beberapa cara untuk menciptakan pembelajaran sastra yang menyenangkan yakni
a. Membacakan Cerita: Guru dan orang tua dapat membacakan cerita- cerita pendek, dongeng, atau buku anak kepada anak-anak. Ini membantu anak-anak mengembangkan keterampilan mendengarkan dan mengapresiasi narasi.
b. Diskusi: Setelah membaca cerita, guru dan orang tua dapat melakukan diskusi tentang cerita tersebut. Anak-anak dapat diminta untuk berbicara tentang karakter, alur cerita, pesan moral, dan perasaan mereka terhadap cerita itu.
c. Kegiatan Kreatif: Mengadakan kegiatan kreatif seperti menggambar, mewarnai, atau membuat cerita pendek berdasarkan cerita yang telah mereka dengar atau baca. Ini membantu anak-anak untuk mengungkapkan pemahaman mereka tentang cerita dan mengembangkan keterampilan kreatif mereka.
d. Pertunjukan Drama: Mengajak anak-anak untuk berpartisipasi dalam pertunjukan drama sederhana berdasarkan cerita-cerita yang mereka baca. Ini membantu mereka memahami lebih dalam karakter dan alur cerita.
e. Membaca dan Menulis Puisi: Mengenalkan anak-anak pada puisi dan membantu mereka menulis puisi sederhana. Membaca puisi dan menciptakannya dapat meningkatkan apresiasi mereka terhadap bahasa dan ekspresi emosional.
f. Kunjungan ke Perpustakaan: Mengajak anak-anak untuk mengunjungi perpustakaan dan memilih buku-buku yang mereka sukai. Ini membantu mereka merasa terlibat dalam proses pemilihan bacaan mereka sendiri.
g. Proyek Sastra: Mengadakan proyek-proyek sastra kecil di kelas, seperti membuat buku mini atau membuat pameran buku di sekolah.
h. Mengundang Penulis Anak-Anak: Mendatangkan penulis anak-anak
yang dapat berbicara kepada anak-anak tentang proses menulis dan mengilhami mereka untuk mengejar minat sastra mereka.
i. Membacakan Buku Berbahasa Asing: Mengenalkan buku berbahasa asing atau terjemahan cerita-cerita terkenal kepada anak-anak untuk memperluas pemahaman budaya dan bahasa.
j. Membuat Klub Baca: Membentuk klub baca di sekolah dasar, di mana anak-anak dapat berkumpul dan berbicara tentang buku-buku yang mereka baca, serta saling merekomendasikan bacaan.
10. Mengapa pembelajaran sastra itu penting untuk anak SD?
Pembelajaran sastra sangat penting dalam perkembangan manusia, bukan hanya penting sebagai sesuatu yang “terbaca” melainkan juga sebagai sesuatu yang memotivasi seseorang untuk berbuat. Memasukkan materi pembelajaran sastra di sekolah menjadi sesuatu yang penting, karena pada dasarnya sastra itu sendiri mampu menjembatani hubungan antara realita dan fiksi. Pada dasarnya sastra anak memberikan nilai-nilai yang penting bagi perkembangan anak, yaitu nilai intrinsik dan nilai ekstrinsik (Tarigan, 1995:9-10). Nilai intrinsik meliputi :
a. memberi kesenangan, kegembiraan dan kenikmatan b. memupuk mengembangkan imajinasi;
c. memberikan pengalaman-pengalaman baru;
d. memberikan wawasan menjadi prilaku insani, e. memperkenalkan kesemestaan pengalaman,
f. menyampaikan penyebaran sastra dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Sedangkan nilai secara ekstrinsik meliputi:
a. memupuk perkembangan bahasa;
b. merangsang perkembangan kognitif atau penalaran anak-anak;
c. memupuk perkembangan kepribadian;
d. memupuk perkembangan sosial (sosialisasi).