• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pesantren umat kyai dan tarekat yang ber

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Pesantren umat kyai dan tarekat yang ber"

Copied!
31
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH

Pesantren, Umat, Kiayi, dan Tarekat yang Berkembang di Indonesia

Disusun guna memenuh tugas individu

Dosen pengampuh :

Moh. Idris Tunru M.Ag

Di susun oleh :

Andi Reynaldi

PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH (PGMI)

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI MANADO

(2)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang

Dalam khazanah pemikiran Islam telah dikenal secara luas istilah ulama yang

dalam perkembangannya diadaptasi oleh beberapa kalangan muslim di Indonesia

dengan nama dan sebutan berbeda seperti syeikh, kiai, ajengan, intelektual muslim,

cendekiawan muslim, dan beberapa sebutan lain yang dianggap sepadan dengan

pengertian ulama.

Pesantren atau pondok adalah lembaga yang bisa dikatakan merupakan wujud

proses wajar perkembangan sistem pendidikan nasional. Perkataan pesantren berasal

dari kata santri, dengan awalan pe dan akhiran –an yang berarti tempat tinggal santri.

dengan nada yang sama Soegarda Poerbakawatja menjelaskan pesantren asal katanya

adalah santri yaitu seseorang yang belajar agama Islam, sehingga dengan demikian,

pesantren mempunyai arti tempat orang berkumpul untuk belajar agama Islam. Di

Jawa termasuk Sunda dan Madura, umumnya digunakan istilah pesantren atau

pondok pesantren sedangkan di Aceh digunakan istilah dayah atau rangkang atau

meunasah, dan di Minangkabau dikenal dengan istilah surau.

Berbicara tentang perkembangan tarekat di Indonesia tentu tidak akan bisa

lepas dari agama Islam berasal. Islam berasal dari jazirah Arab dibawa oleh

Rasulullah, kemudian diteruskan masa Khulafa ar-Rasyidin ini mengalami

perkembangan yang pesat.Penyebarluasan Islam ini bergerak ke seluruh penjuru

dunia.Islam datang membawa rahmat bagi seluruh umat manusia.Tarekat berasal dari

bahasa Arab : tarekaq, jamaknya tara’iq. Secara etimologi berarti : (1) jalan, cara (al -kaifiyyah); (2) metode, sistem (al-uslub); (3) mazhab, aliran, haluan (al-mazhab)

Menurut istilah, tarekat berarti perjalanan seorang saleh (pengikut tarekat) menuju

Tuhan dengan cara menyucikan diri atau perjalanan yang harus ditempuh oleh

(3)

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana perkembangan Pesantren di Indonesia?

2. Bagaimana perkembangan Kiyai di Indonesia?

3. Bagaimana perkembangan Tarekat di Indonesia?

(4)

BAB II

PEMBAHASAN

A. Perkembangan Pesantren Di Indonesia

Mengenai asal-usul dan latar belakang pesantren di Indonesia terjadi

perbedaan pendapat di kalangan para ahli sejarah. Pendapat prtama, menyatakan

bahwa kehadiran pesantren di Indonesia diilhami oleh lembaga pendidikan “ kuttab”,

yakni lembaga pendidikan pada masa kerajaan bani Umayyah. Pada tahap berikutnya

lembaga ini mengalami perkembangan pesat, karena didukung oleh masyarakat serta

adanya rencana-rencana yang harus dipatuhi oleh pendidik dan anak didik. Pendapat

kedua, pesantren yang ada sekarang merupakan pengambil alihan dari sistem

pesantren orang-orang Hindu di Nusantara pada masa sebelum Islam. Lembaga ini

dimaksudkan sebagai tempat mengajarkan ajaran-ajaran agama Hindu serta tempat

membina kader-kader penyebar agama tersebut. Pesantren merupakan kreasi sejarah

anak bangsa setelah mengalami persentuhan budaya dengan budaya pra-Islam.

Pesantren merupakan sistem pendidikan Islam yang memiliki kesamaan dengan

sistem pendidikan Hindu, Budha. Pesantren disamakan dengan mandala dan asrama

dalam khazanah lembaga pendidikan pra-Islam.

Hasil penelusuran sejarah menunjukkan bahwa cikal bakal pendirian

pesantren pada awal ini terdapat di daerah -daerah sepanjang pantai utara Jawa,

seperti Giri (Gresik), Ampel Denta (Surabaya), Bonang (Tuban), Kudus, Lasem, dan

Cirebon. Kota-kota tersebut pada waktu itu merupakan kota kosmopolitan yang

menjadi jalur penghubung perdagangan dunia, sekaligus tempat persinggahan para

pedagang dan mubalig Islam yang datang dari Jazirah Arab seperti Persia dan Irak.1

(5)

Pesantren di Indonesia tumbuh dan berkembang sangat pesat. Sepanjang abad

ke- 18 sampai dengan abad ke -20, pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam

semakin dirasakan keberadaannya oleh masyarakat secara luas, sehingga kemunculan

pesantren di tengah masyarakat selalu direspons positif oleh masyarakat.2

Di antara elemen-elemen pokok atau unsur pesantren yaitu, kiai, pondok

(asrama), masjid, santri, pengajaran kitab kuning.

Secara faktual ada beberapa tipe pondok pesantren yang berkembang dalam

masyarakat :

a. Pondok Pesantren Tradisional, pondok pesantren ini masih mempertahankan

bentuk aslinya dengan semata-mata mengajarkan kitab yang ditulis oleh

Ulama’ abad 15 dengan menggunakan bahasa Arab.

b. Pondok Pesantren Modern, pondok pesantren ini merupakan pengembangan

tipe pesantren. Penerapan sistem modern ini nampak pada penggunaan

kelas-kelas seperti dalam bentuk sekolah, perbedaan dengan sekolah terletak pada

pendidikan agama dan bahasa Arab yang lebih menonjol.

c. Pondok Pesantren Komprehensif, pondok pesantren ini disebut komprehensif

karena sistem pendidikan dan pengajaran gabungan antara tradisional dan

modern. Selain diterapkan pengajaran kitab kuning, sistem persekolahan terus

dikembangkan. Bahkan pendidikan keterampilan juga diberikan pada santri.3

Besarnya arti pesantren dalam perjalanan bangsa Indonesia, khususnya Jawa,

tidak berlebihan jika pesantren dianggap sebagai bagian historis bangsa Indonesia

yang harus dipertahankan.4

2 Zuhairini, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1992), h. 212.

3 M. Bahri Ghazali, Pendidikan Pesantren Berwawasan Lingkungan, (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 2001), h. 14-15

(6)

B. Perkembangan Kyai di Indonesia

Indonesia merupakan sebuah negara dengan penduduknya yang multikultural

dan plural, yang terdiri dari bermacam-macam suku, agama, ras dan antar golongan.

Berdasar atas pluralitas keislaman di Indonesia, maka dapat menjadikan setiap

kelompok keagamaan dalam Islam dapat dimanfaatkan sebagai basis pendukung

setiap kepentingan politik. Hal ini ditandai dengan pesatnya pertumbuhan

partai-partai politik Islam secara kuantitatif untuk memperebutkan pengaruh pada lahan

politik yang sama. Keterwakilan umat Islam bukan lagi dalam kapasitas.

Saat mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia, para kiai pesantren

memahami dan menerapkan betul kalimat “Hubbul wathan minal iman”, cinta tanah

air adalah sebagian dari iman. Sehingga apapun akan mereka lakukan untuk

mempertahankan kemerdekaan tersebut. Meski harus mengkorbankan nyawa

sekalipun.

Fatwa Resolusi Jihad yang dikeluarkan oleh PBNU menjadi titik tolak

perjuangan para kiai – tentu, beserta santri-santrinya -. Pada 21-22 Oktober, NU

mengumpulkan semua kiai dan konsul NU se-Jawa Madura untuk memusyawarahkan

tentang sikap yang akan diambil terkait masuknya kembali pasukan Belanda dan

sekutu ke Indonesia. Dari pertemuan tersebut, KH. Hasyim Asyari mengeluarkan

fatwa fardlu ain bagi umat Islam untuk memerangi orang kafir yang merintangi

kemerdekaan Indonesia.

Sontak saja, Resolusi Jihad tersebut segera disambut angkat senjata oleh

segenap warga nahdliyin, baik kiai, santri maupun simpatisannya. Tak terkecuali di

Banyuwangi. Menyambut seruan tersebut, para kiai kembali mengorganisir para

laskar, baik yang tergabung dalam pasukan Hisbullah, Sabilillah, maupun

(7)

Di Banyuwangi Kota muncul beberapa nama Kiai yang terlibat dalam

mengorganisir massa untuk menghadapi gempuran NICA, baik di pertempuran 10

November di Surabaya maupun pertempuran-pertempuran lain di Banyuwangi. Nama

Kiai Saleh Lateng terdengar nyaring dalam perjuangan mempertahankan

kemerdekaan. Selain melakukan tirakat (riyadlah) demi mewujudkan kemerdekaan

bangsa, Kiai Saleh menjadi tempat jujukan para santri dan pejuang lainnya untuk

meminta nasehat dan doa. Kiai Saleh juga mengirimkan para santrinya untuk ikut

perang di Surabaya. Bahkan, pada peperangan yang kelak dikenal sebagai hari

pahlawan tersebut, beliau tampak ikut bertempur di medan laga. Kiai Syamsuri

Singonegaran dan Kiai Abdul Wahab Penataban juga merupakan punggawa pasukan

Sabilillah Banyuwangi. Kedua orang tersebut merupakan sahabat karib dan

seperjuangan Kiai Saleh. Masjid Riyadus Sholihin Singonegaran yang didirikan oleh

Kiai Syamsuri kerap menjadi jujukan para laskar Hisbullah. Konon, ada beberapa

anggota laskar yang terluka dan dibawa kesana, lalu akhirnya meninggal dan

dimakamkan tak jauh dari sana. Sedangkan Kiai Wahab sendiri memiliki kemampuan

kanuragan yang luar biasa. Bom-bom yang berjatuhan dari pesawat tempur Belanda,

tak satu pun yang meledak. Mungkin hal ini terdengar mustahil, namun hal ini nyata

adanya. Surat kabar “Kedaulatan Rakjat” tertanggal 26-11-1945, mengkonfirmasi hal

tersebut. “Kesaktian kijai2 di medan pertempoeran, ternyata boekan hanja berita lagi,

tapi kita saksikan sendiri. Banjak mortier jang melempem, bom tidak meledak dsbnja

lagi.”

Selain nama-nama di atas, juga muncul seorang kiai muda asal Tukangkayu,

Kiai Harun. Pendiri PP Darunnajah yang juga menjadi ketua cabang NU Banyuwangi

ini menjadi semacam kordinator penggerak santri dan laskar ke medan tempur.

Pesantrennya yang tak jauh dari stasiun Banyuwangi Lama (Pasar Karangrejo)

menjadi meeting point sebelum berangkat ke Surabaya. Konon, ada dua rombongan

dari Banyuwangi, ada yang turun di stasiun Gedangan, Surabaya lalu langsung

(8)

memohon barakah bambu runcing ke Kiai Subkhi. Geser ke Selatan, ada nama Kiai

Abdullah Faqih di Cemoro, Songgon. Sebagai salah satu kiai sepuh, Kiai Faqih juga

menjadi bagian dari pasukan Sabilillah yang bagian mendoakan dan berperang

dengan mendayagunakan kekuatan spritualnya. Kisah yang beredar turun temurun,

Kiai Faqih memimpin beberapa peperangan di Banyuwangi, baik perang Bedewang

maupub perang Laban hanya dengan memendam dirinya disebuah bukit di desa

Parangharjo, Songgon. Tak hanya Kiai Faqih, putra-putra dan para santrinya pun ikut

serta dalam pertempuran. Dengan nama Laskar Santri Cemoro dibawah pimpinan

Gus Sholeh dan Gus Idris, segenap jiwa raga mereka persembahkan untuk ibu pertiwi

Indonesia. Bahkan, Gus Idris syahid di tengah medan tempur. Di Srono adapula kiai

kharismatik yang menggerakkan masyarakat dan santrinya untuk berjuang. Kiai

Dimyati Syafi’i namanya. Rois Syuriah NU Blambangan ini tanpa ragu

memfatwakan warga nahdliyin untuk ikut berjihad sebagaimana instruksi dari PBNU

kala itu. Tak ayal, ketika perjuangan beliau terendus Belanda, seketika langsung

dibumi hanguskan pesantrennya, PP. Nahdlatut Thullab, Kepundungan, Srono. Tak

jauh dari Srono, di Muncar muncul dua kiai pejuang asal satu desa yang sama,

Sumberberas. Yaitu duet Kiai Askandar (Mambaul Ulum) dan Kiai Abdul Manan

(Minhajut Thullab). Waktu pengepungan Belanda ke pesantren, Kiai Abdul Manan

berhasil lolos dengan bersembunyi di rumah salah satu warga. Beranjak ke daerah

Pesanggaran juga muncul nama Kiai Muhammad dan Kiai Musaddad yang

memimpin Front Kayangan Alaspurwo dan Sukomade. Di pasukan yang senantiasa

bergerilya inilah, Kiai Mukhtar Syafaat (PP. Darussalam, Blokagung) muda ikut

bergabung. Di sisi barat Banyuwangi, muncul nama Kiai Junaidi Genteng. Pengasuh

PP. Bustanul Makmur ini kerap kali mengajak para santrinya untuk bergerilya. Atas

perjuangannya inilah, kerap pula pasukan Belanda melakukan razia. Tak jauh dari

situ, ada pula kiai sepuh yang juga menjadi jujukan para santri dan pejuang untuk

memohon doa dan karomah. Kiai Abbas Hasan, Sempu namanya. Mortir-mortir

Belanda yang dijatuhkan di pesantrennya – PP. Al-Azhar – tak ada yang meledak.

(9)

dalam laskar Hisbullah, Kiai Abdul Latif Syuja. Tak hanya didaerah Banyuwangi,

Kiai Abdul Latif bergerak pula hingga ke wilayah Keresidenan Basuki lainnya. Saat

itu, dibawah komando KHR. As’ad Syamsul Arifin, Situbondo.

Selain nama-nama di atas, juga masih banyak kiai-kiai lain yang ikut serta

berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia di ujung timur pulau Jawa.

Mereka berjuang tanpa pamrih. Semata-mata untuk mengharap ridlo Allah dalam

menegakkan Agama dan sejahteranya tanah air. Hanya dengan pekik “Allahu Akbar” dan “Indonesia Merdeka” mereka berjuang hingga titik darah penghabisan.

C. Perkembangan Tarekat di Indonesia

1. Periodisasi sejarah perkembangan tarekat di Indonesia

Kekurangan informasi yang bersumber dari fakta peninggalan agama Islam.

Para kiayi dan ulama kurang dan bahkan dapat dikatakan tidak memiliki pengertian

perlunya penulisan sejarah. Tidaklah mengherankan bila hal ini menjadi salah satu

sebab sulitnya menemukan fakta tentang masa lampau Islam di Indonesia. Islam di

Indonesia tidak sepenuhnya seperti yang digariskan Al-Qur’an dan Sunnah saja,

pendapat ini didasarkan pada kenyataan bahwa kitab-kitab Fiqih itu dijadikan

referensi dalam memahami ajaran Islam di perbagai pesantren, bahkan dijadikan

rujukan oleh para hakim dalam memutuskan perkara di pengadilan pengadilan

agama.5 Islam di Asia Tenggara mengalami tiga tahap :

Pertama, Islam disebarkan oleh para pedagang yang berasal dari Arab, India,

dan Persia disekitar pelabuhan (Terbatas). Kedua, datang dan berkuasanya Belanda di

Indonesia, Inggris di semenanjung Malaya, dan Spanyol di Fhilipina, sampai abad

XIX M. Ketiga, Tahap liberalisasi kebijakan pemerintah Kolonial, terutama Belanda

di Indonesia.

(10)

Indonesia yang terletak di antara dua benua dan dua samudra, yang

memungkinkan terjadinya perubahan sejarah yang sangat cepat.Keterbukaan

menjadikan pengaruh luar tidak dapat dihindari. Pengaruh yang diserap dan kemudian

disesuaikan dengan budaya yang dimilikinyam, maka lahirlah dalam bentuk baru

yang khas Indonesia. Misalnya: Lahirnya tarekat Qadiriyah Wa Naqsabandiyah, dua

tarekat yang disatukan oleh Syaikh Ahmad Khatib As-Sambasy dari berbagai

pengaruh budaya yang mencoba memasuki relung hati bangsa Indonesia, kiranya

Islam sebagai agama wahyu berhasil memberikan bentukan jati diri yang mendasar.

Islam berhasil tetap eksis di tengah keberadaan dan dapat dijadikan symbol

kesatuan.Berbagai agama lainnya hanya mendapatkan tempat disebagian kecil rakyat

Indonesia. Keberadaan Islam di hati rakyat Indonesia dihantarkan dengan penuh

kelembutan oleh para sufi melalui kelembagaan tarekatnya, yang diterima oleh rakyat

sebagai ajaran baru yang sejalan dengan tuntutan nuraninya.

2. Macam-macam Tarekat

Setidaknya ada ratusan tarekat yang telah berkembang di Dunia.Tentu untuk

menjelaskan kesemua tarekat tersebut tidak cukup memuat di lembaran makalah yang

hanya beberapa lembar ini.Untuk itu penulis hanya mengangkat beberapa tarekat saja

yang paling tidak bisa memberikan pengetahuan dan pemahaman kepada kita tentang

Tarekat tersebut termasuk ajaran-ajarannya.

a. Tarekat Syaziiliyah

Pendirinya yaitu Abu al-Hasan al-Syadzili. Nama legkapnya adalah Ali ibn

Abdullah bin Abd Jabbar Abu al Hasan al-syadziili. Beliau dilahirkan di desa

Ghumarra. Terekat ini berkembang pesat antara lain di Tunisia, Mesir, Sudan, suriah

dan semenanjung Arabiyah, masuk Indonesia khususnya di Wilayah Jawa tengah dan

Jawa Timur. Adapun pemikiran pemikiran terkat al-Syaziliyah antara lain : Pertama,

Tidak menganjurkan kepada muridnya untuk meninggalkan profesi dunia.

(11)

syukur kepada Allah SWT. Meninggalkannya yang berlebihan akan menimbulkan

hilangnya rasa syukur, dan berlebihan dalam memanfaatkan dunia akan membawa

kepada kezaliman.Kedua, Tidak mengabaikan dalam menjalankan syariat

Islam. Ketiga, Zuhud tidak berarti harus menjauhi dunia karena pada dasarnya zuhud

adalah mengosongkan hati dari selain Tuhan.. Keempat, Tidak ada larangan bagi

kaum salik untuk menjadi Miliuner yang kaya raya, asalkan hatinya tidak tergantung

pada harta yang dimilikinya.Seorang boleh saja mencari harta, namun jangan menjadi

hamba dunia. Kelima, Berusaha merespon apa yang sedang mengancam kehidupan

umat , berusaha menjembatani antara kekeringan spiritual yang dialami oleh banyak

orang yang hanya sibuk dengan urusan duniawi. Menurut ajaran tarekat Syaziliyah

mudah dalam perkara ilmu dan akal.Ajaran serta latihan–latihan penyucian dirinya

tidak rumit dan tidak berbelit-belit.Yang dituntut dari para pengikutnya adalah

meninggalkan maksiat, harus memelihara segala yang diwajibkan oleh Allah SWT

dan mengerjakan ibadah-ibadah yang disunnahkan sebatas kemampuan tanpa

paksaan.Bila telah mencapai tingkat yang lebih tinggi, maka wajib melakukan

zikrullah sekurang-kurangnya seribu kali dalam sehari semalam dan juga harus

beristigfar sebanyak seratus kali dan membaca shalawat terhadap nabi Muhammad

SAW sekurang kurangnya seratus kali sehari semalam.6

b. Tarekat Naqsyabandiyah

Pendiri tarekat ini adalah Muhammad bin Muhammad Bah al-Din al-Uwaisi

al-Bukhari Naqsyabandi. Lahir di Qashrul Arifah.7 Ia mendapat gelar Syah yang

menunjukkan posisinya yang penting sebagai pemimpin spiritual. Ia belajar Ilmu

Tarekat pada Amir Sayyid Kulal al-Bukhari. Dari sinilah ia pertama belajar tarekat.

Pada dasarnya tarekat ini bersumber dari Abu Ya’qub Yusuf al-Hamdani, seorang

sufi yang hidup sezaman dengan Abdul Qadir Jailani. Pusat perkembangan Tarekat

6 Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam. h. 3

(12)

Tarekat Naqsyabandiyah adalah di Asia Tengah, ke Turki, India, Mekkah termasuk

ke Indonesia, melalui Jemaah Haji yang pulang ke Indonesia. Dalam

perkembangannya mengalami pasang surut. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor,

antara lain : Gerakan Pembaharuan dan politik. Penaklukan Makkah oleh Abd al-Aziz

bin Saud berakibat besar terhambatnya perkembangan tarekat Naqsabandiyah. Karena

sejak saat itu kepemimpinan di Makkah diperintah oleh kaum Wahaby yang

mempunyai pandangan buruk terhadap tarekat.

Sejak itu tertutuplah kemungkinan untuk mengajarkan tarekat ini di Makkah

bagi Jamaah haji khususnya dari Indonesia yang setiap dari generasi banyak dari

mereka masuk tarekat. Tarekat Naqsabandiyah mempunyai beberapa tata cara

peribadatan, teknik spiritual dan ritual tersendiri, antara lain adalah : Pertama, Husy

dar dam , Suatu latihan konsentrasi dimana seorang harus menjaga diri dari

kehkilafan dan kealpaan ketika keluar masuk nafas, supaya hati selalu merasakan

kehadiran Allah SWT . Kedua, Nazhar bar Qadam, “Menjaga langkah”. Seorang

murid yang sedang menjalani khalwat suluk, bila berjalan harus menundukkan kepala

, melihat kearah kaki. Dan apabila duduk, tidak memandang ke kiri atau ke

kanan. Ketiga, Safar dar wathan.”Melakukan perjalan di tanah kelahirannya”.

Maknanya melakukan perjalanan bathin dengan meninggalkan segala bentuk

ketidaksempurnaannya sebagai manusia menuju kesadaran akan hakikatnya sebagai

mahluk yang mulia. Keempat, Khalwat dari anjuman, ” Sepi di tengah

keramaian”.Kelima, Yad krad, ” Ingat atau menyebut”. Berzikir terus menerus

mengingat Allah, baik zikir Ism al-Dzat(menyebut nama Allah)maupun zikir naïf

Itsbat ( Menyebut La Ilaha Illa Allah )

c. Tarekat Khalwatiyah.

Nama tersebut diambil dari nama seorang sufi ulama dan pejuang Makassar

(13)

al-Makassary.8 Sekarang terdapat dua cabang terpisah dari tarekat ini yang hadir

bersama kita. Keduanya dikenal dengan nama Tarekat Khalwatiyah Yusuf dan

Khalwatiyah Samman.Tarekat Khalwatiyah ini hanya menyebar dikalangan orang

Makassar dan sedikit orang bugis.Para khalifah yang diangkat terdiri dari orang

Makassar sehingga secara etnis tarekat ini dikaitkan dengan suku tersebut. Beliau

yang pertama kali menyebarkan tarekat ini ke Indonesia. Guru beliau Syaikh Abu al-

Baraqah Ayyub al-Kahlwati al-Quraisy. Bergelar ” Taj al- Khalwaty” sehingga

namanya menjadi Syaikh Yusuf Taj al-Khalwaty. Al-Makassary dibaiat menjadi

penganut Tarekat Khalwatiyah di Damaskus Ada indikasi bahwa tarekat yang

dijarkan merupakan penggabungan dari beberapa tarekat yang pernah ia pelajari,

walaupun Tarekat Khalwatiyah tetap yang paling dominan.Adapun dasar ajaran

Tarekat khalwatiyah adalah : Pertama, Yaqza maksudnya kesadaran akan dirinya

sebagai makhluk yang hina di hadapan Allah SWT. Yang maha Agung. Kedua,

Taubah Mohon ampun atas segala dosa. Ketiga, Muhasabah, menghitung-hitung atao

introspeksi diri. Keempat, Inabah, berhasrat kembali kepada Allah. Kelima, Tafakkur

Merenung tentang kebesaran Allah. Keenam, I’tisam selalu bertindak sebagai

Khalifah Allah di bumi. Ketujuh, Firar Lari dari kehidupan jahat dan keduniawian

yang tidak berguna. Kedelapan, Riyadah melatih diri dengan beramal

sebanyak-banyaknya. Kesembilan, Tasyakur, selalu bersyukur kepada Allah dengan mengabdi

dan memujinya. Kesepuluh, Sima’ mengkonsentrasikan seluruh anggota tubuh dan

mengikuti perintah-perintah Allah terutama pendengaran.9

d. Tarekat Sammaniyah.

8 Azyumard Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII: Melacak Akar-Akar Pembaruan Pemikiran Islam di Indonesia, (Bandung:Mizan, 1998).h. 212

(14)

Didirikan oleh Muhammad bin Abdul Karim al-Madani al-Syafi’i al-samman, lahir di Madinah dari keluarga Quraisy. Di kalangan muridnya ia lebih di kenal

dengan nama al-Sammany atau Muhammad Samman. Beliau banyak menghabiskan

hidupnya di Madinah dan tinggal di rumah bersejarah milik Abu Bakar

As-siddiq. Guru – guru beliau Muhammad Hayyat seorang muhaddits di Haramain

sebagai penganut tarekat Naqsyabandiyah, Muhammad bin Abdul Wahhab, seorang

penentang bid’ah dan praktik-praktik syirik serta pendiri Wahabiyah. Muhammad Sulaiman Al-Qurdi, Abu Thahir Al-Qur ani, Abdul Allah Al-Basri, dan Mustafa bin

Kamal Al-Din Al-Bakri. Mustafa bin kamal Al-Din al-Bakri (Mustafa Al-Bakri)

adalah guru bidang tasauf dan tauhid dan merupakan Syaikh Tarekat Khalwatiyah

yang menetap di Madinah. Samman membuka cabang tarekat

Al-Muhammadiyah. Samman belajar tarekat Khalwatiyah, Naqshabandiyah, Qadiriyah,

Syadziliyah. Dengan masuk menjadi murid tarekat Qadiriyah ia dikenal dengan nama

Muhammad Bin Abdul Karim Al-Qadiri Al-Samman dalam perjalanan belajarnya itu

ternyata tarekat Naqsabandiyah juga banyak mempengaruhinya, sementara itu tarekat

Syadziliyah juga dipelajari oleh Samman sebagai Tarekat yang mewakili tradisi

tasauf Maghribi. Dari beberapa ajaran tarekat yang dipelajarinya, Samman akhirnya

meracik tarekat tersebut, termasuk memadukan tekhnik-tekhnik zikir, bacaan bacaan,

dan ajaran mistis lainnya, sehingga menjadi satu nama tarekat yaitu tarekat

Sammaniyah. Tarekat Sammaniyah ini juga berkembang di Nusantara, menurut

keterangan dari Snouck Haugronje selama tinggal di Aceh, ia menyaksikan tarekat ini

telah dipakai oleh masyarakat setempat.10 selain itu Tarekat ini juga banyak

berkembang di daerah lain terutama di Sulawesi selatan. Dan menurut keterangan Sri

Muliyati bahwa dapat dipastikan bahwa di daerah Sulawesi Selatanlah Tarekat

Sammaniyah yang terbanyak pengikutnya hingga kini.

Ajaran-ajaran pokok yang terdapat Tarekat ini adalah :

(15)

Tawassul, Memohon berkah kepada pihak-pihak tertentu yang dijaadikan

wasilah(perantara) agar maksud bisa tercapai. Obyek tawasul tarekat ini adalah Nabi

Muhammad, keluarganya, para sahabatnya, asma-asma Allah, para Auliya, para

ulama Fiqih, para ahli Tarekat, para ahli Makrifat, kedua orang tua

Wahdat al-Wujud, merupakan tujuan akhir yang mau di capai oleh para sufi dalam

mujahadahnya.Wahdatul wujud merupakan tahapan dimana ia menyatu dengan

hakikat alam yaitu Hakikat Muhammad atau nur Muhammad

Nur Muhammad .Nur Muhammad merupakan salah satu rahasia Allah yang

kemudian diberinya maqam. Nur Muhammad adalah pangkal terbentuknya alam

semesta dan dari wujudnya terbentuk segala makhluk

Insan Kamil, dari segi syariat Wujud Insan kamil adalah Muhammad dan sedang dari

segi hakekat adalah Nur Muhammad atau hakekat Muhammad, Orang Islam yang

berminat menuju Tuhan sampai bertemu sampai bertemu denganya harus melewati

koridor ini yaitu mengikuti jejak langkah Muhammad.

e. Tarekat Tijaniyah

Didirkan oleh syaikh Ahmad bin Muhammad al-Tijani, lahir di ‘Ain Madi,

Aljazair Selatan, dan meninggal di Fez, Maroko. Syaikh Ahmad Tijani diyakini

sebagai wali agung yang memiliki derajat tertinggi, dan memiliki banyak

keramat,11 menurut pengakuannya, Ahmad Tijani memiliki Nasab sampai kepada

Nabi Muhammad . Silsilah dan garis nasabnya adalah Sayyid Ahmad bin Muhammad

bin Salim bin al-Idl bin salim bin Ahmad bin Ishaq bin Zain al Abidin bin Ahmad bin

Abi Thalib, dari garis sitti Fatimah al-Zahra binti Muhammad Rasulullah SAW.

Ahmad Tijani lahir dan di besarkan dalam lingkungan tradisi keluarga yang taat

beragama. Beliau memperdalam ilmu kepada para wali besar di berbagai Negara

(16)

seperti Tunis, Mesir, Makkah, Medinah, Maroko. Kunjungan itu untuk mecari

ilmu-ilmu kewalian secara lebih luas, sehingga ia berhasil mencapai derajat kewalian yang

sangat tinggi. Selanjutnya tarekat ini berkembang di Negara Afrika seperti Sinegal,

Mauritania, Guinea, Nigeria, dan Gambia, bahkan sampai ke luar Afrika termasuk

Saudi Arabia dan Indonesia.

Tarekat Tijaniah masuk ke Indonesia tidak diketahui secara pasti, tetapi ada

fenomena yang menunjukkan gerakan awal Tarekat Tijaniyah yaitu : Kehadiran

Syaikh Ali bin Abd Allah al-Thayyib dan adanya pengajaran Tarekat Tijaniyah di

Pesantren Buntet Cirebon. Kehadiran Syaikh Ali bin Abd Allah al-Thayyib tidak

diketahui secara pasti tahunnya. Menurut penjelasan GF. Pijper dalam buku

Fragmenta Islamica: Beberapa tentang Studi tentang Islam di Indonesia abad 20

sebagaimana yang di kutip oleh Sri Muliyati bahwa Syaikh Ali bin Abd Allah

al-Thayyib datang pertama kali ke Indonesia, saat menyebarkan Tarekat Tijaniyah ini di

Tasikmalaya.12

Berdarkan kehadiran Syaikh Ali bin Abd Allah al-Thayyib ke pulau Jawa,

maka Tarekat Tijaniyah ini diperkirakan datang ke Indonesia pada awal abad ke 20

M. namun menurut Pijper, sebelum tahun 1928 Tarekat Tijaniyah belum mempunyai

pengikut di pulau jawa. Pijper menjelaskan bawha Cirebon merupakan tempat

pertama diketahui adanya gerakan tarekat Tijaniyah. Pada bulan Maret 1928

pemerintah Kolonial mendapat laporan bahwa ada gerakan keagamaan yang dibawa

oleh guru agama ( Kiyai) yag membawa ajaran Tarekat baru yaitu Tijaniyah.

Dari Cirebon ini kemudian menyebar secara luas ke daerah-daerah di pulau

Jawa melalui murid-murid pesantren Buntet ini.Perkembanga tarekat ini pada

akhirnya bukan hanya dari pesantren Buntet di Cirebon tetapi juga dari luar Cirebon.

Seperti Tasikmalaya, Brebes dan Ciamis. Selanjutnya Mengenai ajaran ajaran Tarekat

(17)

ini, pada dasarnya hamper sama dengan tarekat-tarekat yang telah berkembang

sebelumnya pendekatan kepada Allah melalui Dzikir. Ajaran Tarekat ini cukup

sederhana , yaitu perlu adanya perantara ( wasilah) antar manusia dan Tuhan .

Perantara itu adalah dirinya sendiri dan para pengganti/wakil/naibnya.

Pengikut-pengikutnya dilarang keras mengikuti guru-guru lain yang manapun , bahkan ia

dilarang pula untuk memohon kepada wali dimanapun selain diriya. Secara umum

amalan zikir (wirid) dalam Tarekat Tijaniyah terdiri dari tiga unsur pokok yaitu,

Istigfar, Shalawat, dan Hailalah. Inti ajaran zikir dalam Tarekat Tijaniyah adalah

sebagai upaya mengosongkan jiwa dari sifat-sifat lupa terhadap Allah dan mengisinya

secara terus menerus dengan menghadirkan jiwa kepada Allah SWT melalui zikir

terhadap zat, sifat-sifat, hukum-hukum dan perbuatan Allah.Zikir tersebut mencakup

dua bentuk, yaitu zikir bil al-Lisan dan zikir bi al-Qalb. Adapun bentuk amalan wirid

Tarekat Tijaniyah terdiri dari dua jenis yaitu, Wirid Wajibah dan wirid Ikhtiyaariyah,

Wirid Wajibah yakni wirid yang wajib diamalkan oleh setiap murid Tijaniyah, tidak

boleh tidak dan menjadi ukuran sah atau tidaknya menjadi murid Tijaniyah. Wirid

Ikhtiyariyah yakni Wirid yang tidak mempunyai ketentuan kewajiban untuk

mengamalkannya, dan tidak menjadi ukuran syarat sah atau tidaknya menjadi murid

Tijaniyah. Wirid Wajibah ini terbagi lagi menjadi tiga yaitu (1)Wirid Lazimah,

(2)Wirid Wadzifah, (3)Wirid hailalah.

f. Tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah

Tarekat ini adalah merupakan tarekat gabungan dari tarekat Qadiriyah dan

Tarekat Naqsyabandiyah (TQN).Tarekat Qadiriyah Naqsyabandiyah yang terdapat di

Indonesia bukanlah hanya merupakan suatu penggabungan dari dua tarekat yang

berbeda yang diamalkan bersama-sama.Tarekat ini lebih merupakan sebuah tarekat

yang baru dan berdiri yang di dalamnya unsur-unsur pilihan dari Qadiriyah dan juga

Naqsyabandiyah telah dipadukan menjadi sesuatu yang baru.Tarekat ini didirikan

(18)

bermukim dan mengajar di Makkah pada pertengahan abad kesembilan belas.13 Bila

dilihat dari perkembangannya Tarekat ini bisa juga disebut “Tarekat Sambasiyah”

Tapi Nampaknya Syaikh al-Khatib tidak menamakan tarekatnya dengan namanya

sendiri. berbeda dengan guru-gurunya yang lain yang memberikan nama tarekatnya

sesuai dengan nama pengembangnya. Sebagaimana kebiasaan ulama-ulama

sebelumnya untuk memperdalam ilmu agama, kiranya mereka berangkat ke Makkah

untuk memperdalam ilmu yang mereka miliki. Demikian pula halnya dengan Ahmad

Khatib, ia berangkat ke Makkah untuk belajar Ilmu-ilmu Islam termasuk tasawuf dan

mencapai posisi yang sangat di hargai diantara teman-temannya dan kemudian

menjadi seorang tokoh yang berpengaruh di seluruh Indonesia. Diantara gurunya

adalah Syaikh Daud bin Abd Allah bin Idris al Fatani, Syaikh Muhammad Shalih

Rays, selain itu ia juga banyak mengikuti dan menghadiri kuliah-kuliah yang

diberikan oleh Syaikh Bishry al-Jabaty, Sayyid ahmad al-Marzuki, Sayyid abd Allah

ibn Muhammad al- Mirghany.

Sebagaimana di singgung sebelumnya bahwa tarekat ini mengambil dua nama

tarekat yang telah berkembang sebelumnya yaitu Qadiriyah dan Naqsabandiyah.

Tarekat Qadariyah sendiri dibangun oleh Abd Qadir Jilai yang mengacu pada tradisi

Mazhab Iraqy yang dikembangkan oleh al-Junaid, sedangkan Tarekat

Naqsyabandiyah dibangun oleh Muhammad bin Muhammad Bah Din Uwaisi

al-Bukhari Naqsyabandi yang didasarkan kepada tradisi al-Khurasany yang dipelopori

oleh al-Bisthami. Di samping itu keduanya juga mempunyai cara-cara yang berbeda

terutama dalam menerapkan cara dan teknik berzikir. Qadiriyah lebih mengutamakan

pada penggunaan cara-cara zikir keras dan jelas ( dzikr Jahr ), dalam menyebutkan

Nafy dan Itsbath, yakni Kalimat La Ilaaha Illa Allah. Sementara Naqsyabandiyah

lebih suka memilih dzikir dengan cara yang lembut dan samar ( Dzikr Khafy), pada

(19)

pelafalan Ism al-Dzat,Yakni Allah-Allah-Allah. Tarekat ini mengajarkan tiga syarat

yang harus dipenuhi orang yang sedang berjalan menuju Allah, yaitu zikir diam

dalam mengingat , merasa selalu diawasi oleh Allah di dalam hatinya dan pengabdian

kepada Syaikh. Aturan dzikir yang telah diformulasikan oleh Syaikh Ahmad Khatib

pada Tarekat Qadiriyah-Naqsabandiyah dalam bentuk Nafyi wa Itsbat atau

dengan Ism al-Dza, merupaka satu bentuk bimbingan praktis yang didorong dan

didasari ayat-ayat Al-Qur’an. Sehingga Thariqah, jalan spritualnya diformulasikan

sedemikian rupa sehingga berzikir (mengingat Allah) menjadi lebih efektif, mudah

dirasakan dan diresapkan dalam hati orang yang melakukannya, baik dalam bentuk

dzikir Jahr maupun dalam bentuk Sirr. Secara rinci Syaikh Ahmad Khatib

merumuskan cara-cara meresapi zikir kepada Allah agar sampai pada tingkat hakikat

atau kesempurnaan, yaitu Pertama, Salik hendaklah berkonsentrasi dan

membersihkan hatinya dari segala cela sehingga dalam hati dan fikirannya tidak ada

sesuatu pun selain Zat Allah, Kemudian meminta limpahan karunia dan kasih

sayangnya serta pengenalan yang sempurna melalui perantaraan Mursyid

(Syaikh). Kaduaketika mengucapkan lafal-lafal dzikir terutama Nafyi wa Itsbat La

Ilaaha Illa Allah, hendaknya salik menarik gerakan melalui suatu trayek dibadannya,

dari pusat perut sampai ke otak kepalanya. Kemudian ditarik kearah bahu kanan dan

dari sana dipukulkan dengan keras ke jantung. Disini kepala juga ikut bergerak sesuai

dengan trayek zikir. Dari bawah ke atas ditarik kata” La ” dengan ukuran tujuh mad,

kemudian kata ilaha ditarik ke bahu kanan dengan ukuran yang sama dan akhirnya

kata ” illallah ” dipukulkan ke jantung dengan ukuran yang lebih lama sekitar tiga

mad. Dan yang ketiga dengan memusatkan zikir pada titik-titik halus (Lathaif) dalam

anggota badan. Titik-titik halus semacam Lathifah al-Qalb terletak di bawah susu kiri

berukuran dua jari. Lathifah ar-Ruh terletak di bawah susu kanan berukuran dua jari.

Lathifah as-Sirr terletak bertepatan dengan susu kiri berukuran dua jari. Lathifah

al-Khafy letaknya bertepatan dengan susu kanan berukuran dua jari. Lathifah al-akhfa

letaknya di tengah dada dan Lathifah an-Nafs letaknya dalam dahi dan seluruh

(20)

anggota badan harus merasakan zikir dan merasakan hakikatnya.Maka di sinilah

seluruh anggota badan dituntut untuk menyempurnakan dan melengkapi dalam

membantu gerak zikir Lathaif.tadi.14

D. Perkembangan Umat di Indonesia

Saat islam untuk pertama kalinya datang ke Indonesia, pada waktu itu

berbagai kepercayaan dan agama seperti Budha, Hindu, dinamisme dan anisme sudah

banyak dianut oleh bangsa Indonesia. Bahkan disebagai besar wilayah Indonesia

sudah berdiri kerajaan-kerajaan yang menganut agama Budha dan Hindu. Contohnya,

kerajaan Sriwijaya di Sumatera, kerajaan Kutai di Kalimantan Timur, Kerajaan

Taruma Negara di Jawa Barat dan masih banyak kerajaan yang lainnya. Akan tetapi,

Islam datang ke wilayah-wilayah itu bisa diterima dengan baik, sebab Islam datang

dengan cara yang baik pula, mereka pembawa ajaran Islam datang dengan

prinsipi-prinsip persamaan antar manusia, perdamaian, ketentraman, serta menghilangkan

kasta dan perbudakan yang sebelumnya sering terjadi di wilayah itu. Sehingga, tidak

ada paksaan dari masyarakat di sana saat diajak untuk mengucapkan dua kalimah

syahadat, mereka melakukannya dengan senang hati.15

Kalau bicara tentang kapan islam mulai datang dan masuk ke Indonesia,

menurut para ahli sejarah, islam masuk k Indonesia pada abad ke tujuh masehi atau

abad pertama hijriyah. Namun dari sumber lain, ada yang menyebutkan bahwa Islam

sudah mulai masuk ke Indonesia saat para pedagang dari Arab mulai singgah dan

memasuki wilatyah Indonesa. Waktu itu saat masih pemerintahan sahabat nabi,

Khulafaur Rasyidin.

Proses Masuknya Islam di Indonesia. Berbeda dengan agama lain yang datang ke

Indonesia dengan cara penindasan, peperangan dan pemaksaan. Islam masuk ke

14Ajid Thohir, Gerakan Politik Kaum Tarekat: Telaah Historis Gerakan Politik

Antikolonialisme Tarekat Qadiriyah-Naqsyabandiyah di Pulau Jawa,(Bandung, Pustaka Hidayah, Cet I, 2002), h 75

(21)

Indonesia dengan cara perdamaian, para pembawa ajaran agama Islam pada waktu itu

dengan sabar dan gigih menjelaskan tentang ajaran Islam pada penduduk setempat.16

Mereka pun tidak memaksa penduduk setempat untuk memeluk agama Islam.

Karena, dalam ajaran islam itu tidak ada paksaan, Para ulama berpegang teguh pada

prinsip salah satu ayat Al-Quran pada surat Al-Baqarah ayat 256.

Adapaun cara dan proses masuknya islam di Indonesia melalui beberapa cara,

antara lain sebagai berikut.

1. Perdagangan

Islam masuk ke Indonesia salah satunya lewat dengan cara perdagangan. Hal

ini bisa terjadi, karena orang-orang Melayu yang ada di Indonesia pada waktu itu

berhubungan dengan orang arab dalam hal perdagangan. Mereka sudah sangat dekat

antara satu sama lain. Jadi, saat pedagang arab mulai menyebarkan pemahaman

agama Islam, para orang melayu pun mudah untuk menerimanya.

Lambat tapi pasti, orang Melayu mulai banyak masuk ajaran Islam. Pengaruh

Islam semakin kuat pada waktu itu setelah berdirinya kerajaan Islam Malaka dan

kerajaan Samudra Pasai di Aceh. Maka makin ramailah para pedangang Arab serta

ulama yang datang ke Indonesia. Disamping mereka berdagang untuk mencari

keuntungan duniawi, mereka juga sambil berdakwah untuk menambah amal mereka.

Berbisnis sambil berdakwah, dunia dapat akhirat juga dapat.

2. Kultural

Maksud dengan kultural ini, penyebaran pemahaman Islam di Indonesia

menggunakan media kebudayaan. Contohnya yang dilakukan oleh para wali songo di

pulau Jawa. Sunan Kali Jaga pada waktu itu berdakwah dengan mengembangkan

kesenian wayang kulit, dia mengisi pementasan wayang yang biasanya isinya itu

(22)

bertema ajaran Hindu, dia ganti dengan ajaran Islam. Kemudian ada juga Sunan

Muria berdakwah dengan mengembangkan Gamelannya. Sedangkan Sunan Giri

berdakwah dengan cara membuat banyak sekali mainan anak-anak seperti cublak

Suweng, Jalungan, Jamuran dan lain sebagainya. Para Sunan ini cerdik sekali, mereka

membawa pemahaman ajaran Islam dengan menggunakan bahasa yang sering

digunakan oleh kaumnya. Kebetulan pada waktu itu masyarakat Indonesia khususnya

Jawa, mereka sangat menyukai kesenian-kesenian itu.

3. Pendidikan

Salah satu cara efketif memasukan pemahaman ajaran Islam pada waktu itu

dengan melalui pendidikan, dan pesantren adalah lembaga pendidikan yang paling

strategis untuk melakukannya. Kebanyakan para da’i dan mubalig dalam

menyebarkan Islam ke seluruh penjuru Indonesia, mereka it keluaran dari pesantren.

Contohnya Datuk Ribandang yang merupakan keluaran dari pesantrn milik Sunan

Giri, dia adalah seorang yang mengislamkan kerajaan Gowa Tolla di Kalimantan

timur. Selain Datuk Ribandang, banyak santri-santri Sunan Giri yang menyebar ke

pulau-pulau yang ada di Indonesia seperti Kangan, Haruku, Madura, Bawean hingga

Nusa Tenggara. Sampai saat ini, pesantren masih menjadi strategi yang efektif untuk

menyebarkan ajaran Islam ke seluruh indonesia.

4. Kekuasaan Politik

Penyebaran Islam di Indonesia juga tidak terlepas dari dukungan para Sultan.

Contohnya di pulau Jawa, Kesultanan Demak merupakan pusat dakwah dan menjadi

pelindung penyebaran agama Islam. Ada juga di pulau Sulawesi yaitu Raja

Gowa-Tolla yang menjadi pelindung bagi para da’i menyebarkan ajaran Islam di sana. Para

Sultan dan Raja saling berkomunikasi, tolong menolong dalam melindungi

perkembangan dakwah Islam di Indonesia. Kekompakkan para sultan ini juga

(23)

Perkembangan Islam di Beberapa Wilayah di Indonesia

1. Perkembangan Islam di Sumatera

Perkembangan Islam di wilayah Indonesia di awali dengan dimasukinya

pemahaman ajaran islam daerah Pasai di Aceh Utara dan pantai barat Sumatera, di

kedua wilayah tersebut masing-masing berdiri Kerajaan Islam pertama di Indonesia,

yaitu Kerajaan Islam Perak dan Samudera Pasai.

2. Perkembangan Islam di Jawa

Menurut Prof. Dr. Buya Hamka dalam bukunya yaitu Sejarah Umat Islam,

cikal kedatangan Islam ke pulau Jawa sebenarnya sudah dimulai pada tahun ke tujuh

masehi atau abad pertama Hijriyah yaitu pada tahun 674 M – 675 M. Salah satu

sahabat nabi, Muawiyah bin Abi Sufyan yang pernah singgah di Kerajaan Kalingga

di Jawa. Waktu itu dia menyamar sebagai pedagang. Mungkin pada waktu itu

Muawiyah baru penjajakan saja, namun proses dakwahnya tetap berlangsung dan

diteruskan oleh para da’i yang berasal dari Kerajaan Pasai dan Malaka. Karena pada waktu itu jalur perhungan antara Pasai dengan Jawa begitu pesat.

3. Perkembangan Islam di Kalimantan

Borneo adalah sebutan nama lain Kalimantan. Pada waktu itu Islam masuk ke

sana melalui tiga jalur. Jalur yang pertama adalah melalui Kerajaan Islam Pasai dan

Perlak. Jalur kedua Islam disebarkan oleh para da’i dari tanah jawa. Mereka

melakukan ekspedisi ke pulau Kalimantan sejak Kerajaan Demak berdiri. Pada waktu

itu, Kerajaan Demak mengirimkan banyak sekali da’i ke luar pulau Jawa, salah

satunya ke pulau Kalimantan. Jalur ketiga melalu kedatangan para da’i yang berasal dari tanah Sulawesi. Salah satu da’i yang terkenal pada waktu itu adalah Datuk Ri

Bandang dan Tuan Tunggang Parangan.

(24)

Kepulauan Maluku terkenal sebagai penghasil rempah-rempah. Tak ayal hal

ini menjadi daya tarik sendiri para pedagang asing, salah satunya pedagang mulim

dari Jawa, Malaka, Sumatera dan Manca Negara. Dengan kedatangan para pedagang

muslim ini, menyebabkan perkembangan Islam di Kepulauan Maluku ini menyebar

dengan cepat. tepatnya sekitar pertengahan abad ke 15 atau tahun 1440 Islam mulai

masuk ke Maluku.

Pada tahun 1460 M, raja Ternate yaitu Vongi Tidore masuk Islam. Namun

menurut sejarawan Belanda yaitu h.J De Graaft, raja Ternate yang benar-benar

muslim adalah Zaenal Abidin. Setelah raja Ternate masuk Islam, hal ini semakin

mempercepat perkembangan Islam di Maluku dan mempengaruhi kerajaan-kerajaan

lain di Maluku yang mulai menerima paham ajaran Islam. Namun dari sekian

kerajaan Islam yang ada di Maluku, yang paling terkenal adalah Kerajaan Ternate dan

Tidore.

Setelah Islam masuk dan berkembang cepat di Maluku, Islam juga mulai

masuk ke Irian. Para raja-raja Islam dari Maluku, da’i dan pedagang yang menyiarkan

ajaran Islam ke Irian. Wilayah-wilayah di Irian Jaya yang dimasuki Islam yaitu:

Jalawati, Musi, Pulau Gebi dan Pulau Waigio.

Teori Masuknya Islam ke Indonesia

Ada beberapa teori masuknya islam ke Indonesia. Berikut teori-teorinya.

a. Teori Mekah

Dalam teori ini, dikatakan bahwa proses masuknya Islam ke Indonesia adalah

langsung dari Arab atau Mekah yang berlangsung pada abad pertama tahun hijriyah

atau ke 7 M. Haji Abdul Karim Amrullah (Hamka) adalah tokoh yang

memperknalkan teori ini. Beliau merupakan ulama sekaligus sastrawan Indonesia.

Beliau melontarkan pendapatnya ini pada tahun 1958 ketika menyampaikan orasi di

(25)

pendapat yang menyatakan bahwa Islam mulai masuk ke Indonesia secara tidak

langsung melalui Arab. Beliau bercerita bahan argumentasinya yang dijadikan bahan

rujukannnya berasal dari sumber Arab dan sumber lokal Indonesia. Menurutnya,

motivasi awal kedatangan bangsa Arab dilandasi oleh motivasi semangat

menyebarkan agama Islam, bukan dilandasi faktor ekonomi. Menurut pandangannya

pula, jalur perdagangan antara Arab dengan Indonesia suda ada dan brlangsung jauh

sebelum tarik masehi.

Dalam hal ini, teori HAMKA merupakan penolakan terhadap Teori Gujarat

yang dia anggap banyak kelemahannya. Dia malah curiga terhadap penulis teori

Gujarat yang berasal dari barat, mereka cenderung memojokkan Islam di Indonesia.

HAMKA berpendapat, penulis barat melakukan upaya yang sangat sistematik untuk

menghilangkan dan meniadakan keyakinan negeri-negeri Melayu tentang hubungan

rohani yang akur dan erat antara mereka dengan bangsa Arab. Dalam pandangannya

juga, HAMKA berpendapat sebenarnya orang-orang Islam di Indonesia memeluk

islam berkat orang Arab, bukan hanya lewat perdagangan saja. Pandangan dan

pendapat HAMKA ini hampir sama dengan Teori Sufi yang dikeluarkan oleh A.H

Johns yang menyatakan bahwa para pengembara lah (musafir) yang pertama kali

melakukan penyebaran ajaran Islam di Indonesia. Biasanya kaum sufi mengembara

dari satu tempat ke tempat lainnya untuk mendirikan perguruan tarekat.

b. Teori Gujarat

Teori Gujarat berpendapat bahwa proses kedatangan Islam ke Indonesia

terjadi pada abad ke 13 M atau abad ke 7 H dan berasal dari Gujarat. Tokoh yang

memperkenalkan teori ini kebanyakan sarjana yang berasal dari belanda. Seorang

Sarjana belanda yang pertama megeluarkan teori ini bernama J. Pijnapel dari

Universitas Leiden. Dalam pandangannya, bangsa Arab yang bermazhab Syafie

sudah tinggal di Gijarat dan Malabar sejak awal tahun Hijriyah. Akan tetapi, yang

(26)

bangsa Arab, melainkan para pedangang Gujarat yang sudah memeluk Islam terlebih

dahulu. Para pedagang islam itu berdagang ke arah timur, salah satunya Indonesia.

Dalam perkembangannya, teori Gujarat ini diyakini dan disebarkan oleh seorang

tokoh terkemuka Belanda, yaitu Snouck Hurgronje. Dalam pendapatnya, Islam lebih

dahulu menyebar dan berkembang di kota-kota India. Selanjutnya, orang-orang

Gujarat yang lebih dahulu membuka hubungan perdagangan dengan orang Indonesia

dibanding pedagang Arab.

Kemudian teori Gujarat juga lebih dikembangkan oleh J.P. Moquetta pada

tahun 1912. Dia memberikan alasan dengan batu nisan Sultan Malik Al-Saleh yang

meninggal pada tanggal 17 Dzulhijjah 831 H atau sekitar tahun 1297 M di Pasai,

Aceh. Menurut dia, makam Maualan Malik Ibrahim yang meninggal pada tahun 1419

di Gresik dan batu nisam di pasai, semuanya mempunyai bentuk yang sama dengan

nisan yang ada di Kambay, Gujarat. Akhirnya Moquetta berpendapat bahwa batu

nisan itu adalah hasil impor dari Gujarat, atau setidaknya dibuat oleh asli orang

gujarat yang berada di Indonesia, atau juga orang Indonesia yang sudah belajar

kaligrafi khas Gujarat. Argumentasi lainnya yaitu kesamaan mahzab Syafie yang

dipercayai oleh orang muslim di Indonesia dan Gujarat.

3. Teori Persia

Dalam teori ini berpendapat bahwa proses kedatangan Islam ke Indonesia

berasal dari persia (Sekatang Iran). Seorang sejarawan asal Banten yang bernama

Hosein Djajadiningrat adalah pencetus teori ini. Dalam paparannya, dia lebih

menitikberatkan analisisnya pada kesamaan tradisi dan budaya yang berkembang

antara masyarakat Indonesia dan Persia. Budaya dan tradisi itu diantaranya tradisi

merayakan tanggal 10 Muharram atau sering disebut hari Asyuro. Hari ini merupakan

hari suci kaum syiah yang mayoritas berada di iran. Tradisi ini juga berkembang di

daerah Pariaman, Sumatera Barat. Selanjutnya tradisi lainnya adalah ajaran mistik

(27)

Indonesia banyak yang menganut mazhab Syafie, sama seperti kebanyakan muslim

yang ada di Iran. Namun, teori ini oleh banyak orang masih dianggap lemah karena

kurang bisa meyakinkan.

c. Teori Cina

Dalam teori ini berpendapat bahwa proses kedatangan Islam untuk pertama

kalinya ke Indonesia (Khususnya Jawa) itu berasal dari perantau Cina. Melalui

perdagangan, orang cina sudah berhubungan dengan penduduk Indonesia jauh

sebelum Islam dikenal di Indonesia. ketika masa Hindu – Budha, orang-orang cina ini

sudah membaur dengan masyarakat Indonesia. Dalam bukunya Arus

Cina-Islam Sumanto Al-Qurtuby mengatakan, menurut catatan masa Dinasti Tang pada

tahun 618-960 M di daerah Quanzhou, Zhang-zhao, Kanton dan pesisir cina bagian

selatan, di sana sudah terdapat sejumlah pemukimaan orang-orang Islam.

Bila dilihat dari beberapa catatan sumber dari dalam Indonesia maupun luar

Indonesia, memang teori Cina ini bisa diterima. Dalam beberapa sumber lokal ditulis

bahwa raja pertama Islam di jawa, yaitu Raden Patah dari Dmak, adalah seorang

keturunan Cina. disebutkan Ibu sang raja berasal dari daerah Campa, yakni Cina

bagian selatan (Kini Vietnam). Hal ini diperkuat oleh Hkayat Hasannudin dan Sejarah

Banten, dimana nama dan gelar raja-raja demak itu ditulis dengan memakai istilah

Cina, seperti “Jin bun”,“Cek Ko po“,“Cu-cu’‘,“Cun Ch”, serta“Cek Ban Cun”.

Bukti-bukti lainnya bisa dilihat dari masjid-masjid tua yang mengandung nilai

arsitektur Tiongkok yang dibangun oleh bangsa Cina di berbagai wilayah di pulau

(28)

BAB III

PRNUTUP

A. Kesimpulan

Hasil penelusuran sejarah menunjukkan bahwa cikal bakal pendirian

pesantren pada awal ini terdapat di daerah -daerah sepanjang pantai utara Jawa,

seperti Giri (Gresik), Ampel Denta (Surabaya), Bonang (Tuban), Kudus, Lasem, dan

Cirebon. Kota-kota tersebut pada waktu itu merupakan kota kosmopolitan yang

menjadi jalur penghubung perdagangan dunia, sekaligus tempat persinggahan para

pedagang dan mubalig Islam yang datang dari Jazirah Arab seperti Persia dan Irak.

Pesantren di Indonesia tumbuh dan berkembang sangat pesat. Sepanjang abad ke- 18

sampai dengan abad ke -20, pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam semakin

dirasakan keberadaannya oleh masyarakat secara luas, sehingga kemunculan

pesantren di tengah masyarakat selalu direspons positif oleh masyarakat.

Saat mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia, para kiai pesantren

memahami dan menerapkan betul kalimat “Hubbul wathan minal iman”, cinta tanah

air adalah sebagian dari iman. Sehingga apapun akan mereka lakukan untuk

mempertahankan kemerdekaan tersebut. Meski harus mengkorbankan nyawa

sekalipun.

Indonesia yang terletak di antara dua benua dan dua samudra, yang

memungkinkan terjadinya perubahan sejarah yang sangat cepat.Keterbukaan

menjadikan pengaruh luar tidak dapat dihindari. Pengaruh yang diserap dan kemudian

(29)

yang khas Indonesia. Misalnya: Lahirnya tarekat Qadiriyah Wa Naqsabandiyah, dua

tarekat yang disatukan oleh Syaikh Ahmad Khatib As-Sambasy dari berbagai

pengaruh budaya yang mencoba memasuki relung hati bangsa Indonesia, kiranya

Islam sebagai agama wahyu berhasil memberikan bentukan jati diri yang mendasar.

Islam berhasil tetap eksis di tengah keberadaan dan dapat dijadikan symbol

kesatuan.Berbagai agama lainnya hanya mendapatkan tempat disebagian kecil rakyat

Indonesia. Keberadaan Islam di hati rakyat Indonesia dihantarkan dengan penuh

kelembutan oleh para sufi melalui kelembagaan tarekatnya, yang diterima oleh rakyat

sebagai ajaran baru yang sejalan dengan tuntutan nuraninya.

Saat islam untuk pertama kalinya datang ke Indonesia, pada waktu itu

berbagai kepercayaan dan agama seperti Budha, Hindu, dinamisme dan anisme sudah

banyak dianut oleh bangsa Indonesia. Bahkan disebagai besar wilayah Indonesia

sudah berdiri kerajaan-kerajaan yang menganut agama Budha dan Hindu. Contohnya,

kerajaan Sriwijaya di Sumatera, kerajaan Kutai di Kalimantan Timur, Kerajaan

Taruma Negara di Jawa Barat dan masih banyak kerajaan yang lainnya. Akan tetapi,

Islam datang ke wilayah-wilayah itu bisa diterima dengan baik, sebab Islam datang

dengan cara yang baik pula, mereka pembawa ajaran Islam datang dengan

prinsipi-prinsip persamaan antar manusia, perdamaian, ketentraman, serta menghilangkan

kasta dan perbudakan yang sebelumnya sering terjadi di wilayah itu. Sehingga, tidak

ada paksaan dari masyarakat di sana saat diajak untuk mengucapkan dua kalimah

syahadat, mereka melakukannya dengan senang hati.17

(30)

DAFTAR PUSTAKA

Mas’ud, Abdurrachman Mas’ud, Dinamika Pesantren dan Madrasah, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002,

Zuhairini, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara, 1992,

Ghazali, M. Bahri Pendidikan Pesantren Berwawasan Lingkungan, Jakarta: Pedoman

Ilmu Jaya, 2001,

Ashorah, Hanun Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999,

Thohir, Ajid Perkembangan Peradaban di Kawasan Dunia Islam, Jakarta:Rajawali

Press, Cet I 2004,

Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam.

Said, Fuad Hakekat Tarekat Naqsyabandiyah, Jakarta : Al-Husna Zikra, 1996,

Azra, Azyumard Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad

XVII dan XVIII: Melacak Akar-Akar Pembaruan Pemikiran Islam di

Indonesia, Bandung:Mizan, 1998,

Hamid, Abu Syeikh Yusuf Tajul Khalwat; Suatu Kajian Antropologi Agama, Ujung

Pandang, Disertasi Ph.D Universitas Hasanuddin, 1990,

Hurgronje, Snouck Aceh : Rakyat dan Adat Istiadatnya, Jakarta : INIS, 1997,

Dewan Redaksi, Ensiklopedi Islam Jilid 5,

Pijper, GF. dalam buku Fragmenta Islamica: Beberapa tentang Studi tentang Islam di

Indonesia abad 20, terjemahan oleh Tudjiman, Jakarata: UI Press, 1987,

Van Bruinessen, Martin Tarekat Naqsyabandiyah di Indonesia, Bandung: Mizan Cet

(31)

Thohir, Ajid Gerakan Politik Kaum Tarekat: Telaah Historis Gerakan Politik

Antikolonialisme Tarekat Qadiriyah-Naqsyabandiyah di Pulau Jawa,

Bandung, Pustaka Hidayah,Cet I, 2002,

Supriadi Dedi, Sejarah peradaban islam, Bandung: Pustaka Setia,2008,

Badri, Yatim. Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyah II,Jakarta:Raja Grafindo

Persada, 2007,

Referensi

Dokumen terkait

Tarekat tidak pula ditujukan terhadap kelompok yang menjadi pengikut salah seorang guru, tetapi meliputi segala aspek ajaran yang ada di dalam agama Islam,

Tasawuf adalah aliran kerohanian mistik ( mystiek geestroming ) dalam agama Islam (C.B. Van Haeringen). Asal-usul ajaran sufi didasari pada sunnah Nabi Muhammad. Keharusan

Perjalanan lembaga pendidikan Islam (langgar) ini menjadi bukti pengaruh ajaran agama Islam bisa diterima dengan total oleh masyarakat lokal Madura.. Mereka

Pendidikan Agama Islam yang terintegrasi dengan spirit pendidikan multikultural perlu segera menampilkan ajaran-ajaran Islam yang toleran dengan menitikberatkan pada

Perjalanan lembaga pendidikan Islam (langgar) ini menjadi bukti pengaruh ajaran agama Islam bisa diterima dengan total oleh masyarakat lokal Madura.. Mereka

Agama Islam dijadikan sebagai ilmu yang objektif, sehingga ajaran agama yang terkandung dalam al-Quran dapat dirasakan manfaatnya bagi seluruh alam atau menjadi rahmatan

Sementara peran pendidikan pondok pesantren di bidang pengembangan ajaran Islam dimaksudkan semata-mata untuk membekali pengetahuan agama kepada santri agar pada

Masalah bangsa adalah masalah kita semua, bisa diselesaikan dengan Pancasila, karena Pancasila adalah ajaran yang universal yang dapat diterima oleh semua umat