BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Personal Adjustment
1. Definisi Personal Adjustment
Weiten & Lloyd (2006) menyebutkan bahwa personal adjustment adalah sebuah proses psikologis yang dijalani seseorang yang mengakibatkan orang tersebut berusaha untuk mengatasi demand dan tantangan dalam kehidupan sehari-hari. Proses tersebut berhubungan dengan bagaimana cara seseorang mengatasi permasalahan dan tekanan dari lingkungan. Sedangkan Arkoff (dalam Tuttle, 2004) mengatakan bahwa personal adjustment adalah sebuah proses dimana seseorang berusaha menyeimbangkan kondisi diri sendiri dengan kondisi yang diharapkan dari lingkungan. Ketika seseorang mengalami suatu permasalahan di dalam hidupnya, maka orang tersebut harus mencocokkan kondisi diri sendiri dengan apa yang ada di lingkungan sekitarnya. Hal ini bertujuan agar seseorang dapat melakukan proses personal adjustment dengan baik. Ward (2001) bersama rekannya yang lain mendefinisikan personal adjustment sebagai respon afektif yang memotivasi individu untuk lebih menyesuaiakan diri terhadap lingkungan dalam upaya untuk mencapai well – being.
sendiri dengan kondisi lingkungan tersebut dalam upaya untuk mencapai well-being.
2. Aspek Personal Adjustment
Personal Adjustment merupakan usaha untuk menyeimbangkan kondisi lingkungan dengan kondisi diri sendiri. Proses tersebut bermula dari bagaimana seorang individu mengidentifikasi diri sendiri, kemudian mengidentifikasi kondisi lingkungan, hingga akhirnya individu tersebut berusaha menyeimbangkan kedua hal tersebut. Ketiga hal tersebut melibatkan beberapa aspek di dalamnya. Weiten & Lloyd (2006) menjelaskan bahwa ada 3 aspek yang terlibat dalam proses personal adjustment, yaitu :
1. Stress and Coping Stress
2. Interpersonal Realm
3. Developmental Transition
Pada dasarnya ketika aspek tersebut saling mempengaruhi antara yang satu dengan yang lain. Kemunculan salah satu aspek dalam proses personal adjustment dapat disebabkan oleh aspek yang lain. Artinya, ketiga aspek tersebut saling berhubungan antara yang satu dengan yang lain. Hubungan ketiga aspek tersebut yang akhirnya membentuk personal adjustment.
adjustment tidak memiliki tahapan, melainkan sesuai dengan kondisi atau situasi yang sedang dihadapi.
2.1. Stress dan Coping Stress
Weiten & Lloyd (2006) mendefinisikan stress sebagai sebuah suatu hal yang dipersepsikan mengancam well being seseorang dan mengharuskan seseorang tersebut menggunakan kemampuan mereka dalam mengatasi stress tersebut. Sedangkan, Sarafino (2011) mendefinisikan stress sebagai suatu hal yang menimbulkan ketidakseimbangan antara demand dari lingkungan dengan sumber daya atau kemampuan yang dimiliki oleh seseorang.
Weiten & Lyod (2006) membagi sumber stress ke dalam 4 bagian utama, yaitu:
a. Frustation
Frustation dapat didefinisikan sebagai suatu keadaan yang dapat menimbulkan stress ketika seseorang tidak mampu mendapatkan apa yang diinginkan (Weiten & Lloyd, 2006). Ketika ada sebuah stimulus yang menghambat seseorang mencapai sebuah tujuan, maka pada saat itu seorang individu akan merasa frustasi.
b. Conflict
maka semaking tinggi pula resiko mengalami stress (Laura King & Robert Emmons, dalam Weiten & Lloyd, 2006).
c. Change
Weiten & Lloyd (2006) menjelaskan change sebagai segala bentuk perubahan yang terjadi dalam diri seorang individu yang mengharuskan individu tersebut untuk melakukan penyesuaian diri kembali. Change dapat bersumber dari lingkungan keluarga, lingkungan pekerjaan, dan lingkungan masyarakat secara umum. Perubahan-perubahan yang terjadi pada dasarnya akan menimbulkan stress bagi individu yang menghadapinya.
d. Pressure
Pressure merupakan sebuah kondisi yang meliputi demand terhadap seseorang untuk melakukan sesuatu. Pressure dapat dibagi menjadi dua bagian utama, yaitu pressure to perform dan pressure to conform. Perform dapat diartikan sebagai adanya tuntutan-tuntutan dari luar untuk melakukan suatu hal dalam upaya untuk mencapai suatu tujuan. Sedangkan Conform adalah tekanan yang datang dari lingkungan sekitar yang mengharuskan seseorang berprilaku sesuai dengan apa yang kebanyakan orang lakukan.
melihat sumber daya (resource) yang dimiliki seseorang dalam menghadapi demand dari situasi atau stimulus yang menimbulkan strees.
Ketika individu telah selesai melakukan penilaian terhadap situasi yang dianggap menimbulkan stress, maka oreng tersebut akan melakukan proses coping. Sarafino (2011) menjelasakan coping stress sebagai sebuah upaya untuk memanagemen ketidakseimbangan antara demand lingkungan dengan resource yang dimiliki. Lazarus (1999) membagi coping strategy menjadi dua bagian utama, yaitu :
a. Problem Focused Constructive Coping
Problem focus coping bertujuan untuk mengurangi demand dari lingkungan atau meningkatkan sumber daya yang dimiliki seseorang untuk menghadapi suatu situasi yang dapat menimbulkan stress (Lazarus, 1999). Ada banyak cara yang dapat dilakukan sesuai dengan stimulus yang dihadapi. Misalnya, ketika seseorang mengalami stress ketika ia tidak memiliki sumber ekonomi yang cukup, maka ia dapat mengatasi stimulus tersebut dengan cara bekerja. Artinya, cara yang dilakukan untuk mengubah stimulus yang mengakibatkan stress akan berbeda pada setiap orang tergantung pada sumber stress yang mereka hadapi.
b. Emotion Focused Constructive Coping
control emosi dapat dilakukan dengan cara berpikir positif mengenai permasalahan yang akan dihadapi. Ketika seseorang mampu berpikir positif, maka emosi yang dirasakan juga positif. Di dalam pendekatan behavior, seseorang dapat mengontrol emosi mereka dengan cara melakukan suatu kegiatan atau aktivitas yang dapat mengalihkan stress atau membantu mengurangi stress seperti mencari dukungan emosional dari orang lain.
Penggunaan emotion focused coping dapat juga mengarah kepada defense mechanism, yaitu bentuk pola pikir yang salah mengenai realita atau permasalahan yang dihadapi dalam upaya untuk mengurangi stress yang dihadapi. Hal ini dapat terjadi ketika seseorang merasa masalah atau stimulus yang dihadapi terlalu berat dan tidak mampu untuk menghadapi permasalahan tersebut. Bentuk defense mechanism yang sering digunakan adalah denial dan avoidance.
2.2. Interpersonal Realm
Weiten dan Lloyd (2006) mengungkapkan bahwa interpersonal realm adalah salah satu aspek personal adjustment dimana seseorang dalam proses penyesuaian dirinya berusaha untuk membangun hubungan social dengan lingkungan sekitar. Interpesonal realm mengacu pada hubungan yang dimiliki individu dengan individu yang lain. Beberapa hal yang termasuk ke dalam interpersonal realm diantaranya adalah :
a. Self Perception and Other Perception
akan menentukan bagaimana seseorang individu berinteraksi dengan orang lain dan terlebih lagi akan mempengaruhi proses penyesuaian diri yang dilakukan. Ada 4 komponen utama ketika mempersepsikan diri sendiri, diantaranya adalah : • Self – Concept, merupakan gambaran atau keyakinan mengenai diri sendiri.
Hal ini menunjukkan bahwa individu telah memiliki skema mengenai diri sendiri.
• Self- Esteem, merupakan penghargaan terhadap diri sendiri. Penghargaan
individu terhadap dirinya sendiri akan mempengaruhi cara yang dilakukannya dalam berinteraksi dengan lingkungan.
• Self – Regulation, menggambarkan cara yang dilakukan untuk mmengarahkan
dan memanagemen prilaku dan pikiran yang dimiliki.
• Self – Presentation, menjelaskan cara yang dilakukan individu untuk
menampilkan dirinya di dalam lingkungan social.
Other – Perception lebih mengarah kepada persepsi individu terhadap pemikiran orang lain mengenai dirinya. Ketika individu tersebut memiliki persepsi bahwa orang lain memandang dia buruk, maka dia akan berusaha menghindari hubungan social dan sebaliknya.
b. Interpersonal Communication and Friendship
interpersonal bertujuan untuk membentuk hubungan yang baru dengan orang lain, seperti pertemanan, rekan, dan sebagainya.
Friendship lebih mengarah kepada hubungan perteman antara satu orang dengan orang lain. Hubungan pertemanan sangat mempengaruhi hubungan social seorang individu serta sangat mempengaruhi proses personal adjustment. Dalam hal ini, individu yang melakukan proses penyesuaian diri sudah memiliki pihak yang dapat membantu mereka dalam upaya melakukan proses tersebut.
c. Social Pressure and Prejudice
Prejudice merupakan sikap negatif terhadap seseorang atau sekelompok orang tertentu. Seseorang yang yang menjadi target prejudice biasanya akan mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan, seperti ejekan, cemooh, bahkan beresiko didiskriminasi oleh orang lain. Orang yang terkena prejudice tidak mengalami penolakan dari masyarakat. Seseorang yang terkena stigma tersebut cenderung akan menerima tekanan secara social dari lingkungan tempat ia berada.
d. Love and Marriage
Bagian lain dari interpersonal realm adalah membangun hubungan intim atau hubungan romantis. Hal ini mencerminkan bahwa proses personal adjustment yang dilakukan seseorang sudah sampai ke tahap yang lebih tinggi.
2.3. Developmental Transition
Perubahan tersebut terjadi ketika seorang individu berhasil menyeimbangkan Perubahan-perubahan tersebut dapat dilihat pada beberapa hal, diantaranya adalah:
a. Perubahan dalam peran gender dan prilaku. Dalam proses personal adjustment, perubahan akan jelas tampak pada prilaku serta peran yang dijalankan dalam kehidupan sehari-hari. Akan ada perbedaan pada peran dan prilaku yang ditunjukkan sebelum dan sesudah seseorang berhasil melakukan proses penyesuaian diri tersebut.
b. Transisi dalam dunia pekerjaan, dimana akan ada perbedaan dalam menentukan pekerjaan sebelum dan sesudah seseorang dalam memlih pekerjaan. Transisi dalam perkerjaan mencerminkan apakah seseorang sudah berhasil melakukan personal adjustment atau tidak. Semakin baik pekerjaan yang berhasil diperoleh, maka semakin berhasil proses personal adjustment dan sebaliknya.
c. Perubahan dalam kehidupan seksual. Kehidupan seksual seseorang ditentukan pada upaya yang dilakukan individu tersebut selama melakukan penyesuaian diri. Kehidupan seksual yang baik mencerminkan personal adjustment yang baik, dan sebaliknya.
3. Faktor Yang Mempengaruhi Personal Adjustment
a. Perubahan kehidupan
Perubahan kehidupan meliputi lingkungan yang baru, budaya yang baru, kondisi yang baru termasuk ekonomi dan sosial. Ketika seseorang berada dalam satu lingkungan yang baru, maka proses adjustment akan menjadi lebih susah. Hal ini dikarenakan stimulus yang diterima oleh seseorang individu pada dasarnya berbeda antara satu lingkungan dengan lingkungan yang lain. Artinya, butuh kontribusi lebih sampai seseorang mampu menyesuaikan diri dengan baik terhadap lingkungannya.
b. Faktor kepribadian
Karakteristik individu menjadi faktor yang membedakan kemampuan penyesuaian diri antara individu. Tipe kepribadian seseorang sangat menentukan bagaimana cara yang mereka lakukan dalam melakukan penyesuaian diri.
c. Dukungan sosial
Dukungan sosial menjadi salah satu faktor yang memberikan kontribusi yang besar terhadap keberhasilan penyesuaian diri. Individu dengan individu yang tidak mendapatkan dukungan sosial. Individu tersebut tidak akan mampu untuk menyesuiakan diri dan membutuhkan waktu yang lebih lama jika dibandingkan dengan individu yang mendapatkan dukungan sosial. Dukungan sosial yang tinggi memiliki tingkat keberhasilan yang besar dalam proses penyesuaian diri. Hal ini sesuai jika dibandingkan dengan
a. Culture and Religion, dimana perbedaan budaya akan menentukan cara orang melakukan suatu hal, termasuk dalam melakukan penyesuaian diri.
b. Self – Esteem, semakin tinggi self – esteem seseorang, maka semakin besar kemungkinan dia berhasil dalam proses penyesuaian dirinya, dan sebaliknya. Self Esteem sangat mempengaruhi aspek Interpersonal Realm.
c. Social Activity, keterlibatan dalam aktivitas social akan mempengaruhi cara seseorang dalam melakukan penyesuian diri. Semakin sering seseorang terlibat dalam satu aktivitas social, maka semakin besar kemungkinan keberhasilan dalam proses penyesuaian diri.
Selain itu, kesehatan, pernikahan, pekerjaan, dan kepribadian juga mempengaruhi tercapainya tujuan dari penyesuaian diri tersebut.
B. Pekerja Seks Komersial (PSK)
Berdasarkan beberapa definisi diatas dapat disimpulkan bahwa PSK adalah seseorang yang berprofesi sebagai pemuas nasfsu orang lain dengan imbalan uang.
C. Mantan Pekerja Seks Komersial (PSK) 1. Definisi Mantan PSK
Mantan PSK adalah seseorang yang pernah berprofesi sebagai pekerja seks komersial dan telah meninggalkan pekerjaan tersebut. Penggunaan kata mantan untuk menekankan bahwa seseorang pernah menjalani kegiatan atau aktivitas tersebut. Artinya, orang yang pernah menjalani kegiatan tersebut sudah benar-benar meninggalkan pekerjaannya dan tidak kembali lagi ke dalam dunia tersebut.
Mantan PSK berbeda dengan masyarakat umum pada lainnya, karena mereka cenderung mendapat stigma negatif dari masyarakat secara umum. Rosenberg (2008) menjelaskan bahwa mantan PSK adalah orang yang dianggap sebagai sampah masyarakat yang tidak memiliki penghargaan dan cenderung mengalami penolakan. Sihombing (2009) mengatakan bahwa masyarakat akan memandang mereka negatif tanpa peduli apakah mereka sudah keluar atau belum dari prostitusi. Hal-hal tersebut membuat seorang mantan PSK akan mengalami kesulitan ketika mencoba masuk kembali ke dalam masyarakat.
tersebut. Dalam perubahan ekonomi, seorang mantan PSK tidak akan dapat memperoleh penghasilan sebanyak dan semudah pekerjaan sebelumnya. Hal tersebut kemudian mempengaruhi gaya hidup individu tersebut yaitu dimulai dari gaya hidup mewah berubah menjadi gaya hidup sederhana. Perubahan tersebut biasanya mengakibatkan seorang mantan PSK memiliki keraguan untuk kembali ke pekerjaan lama sebagai PSK atau tetap bertahan menjalani kehidupannya sebagai seorang mantan PSK. Dalam hal hubungan sosial biasanya seorang mantan PSK akan membatasi hubungan dengan orang lain. Hal ini terjadi karena mantan PSK mendapat penolakan dari masyarakat sehingga mantan PSK cenderung tidak memiliki keberanian dan malu berinteraksi dengan masyarakat umum. Hal tersebut sangat berbeda ketika mereka masih bekerja sebagai PSK, mereka tidak peduli bagaimana hubungan dengan orang lain.
2. Faktor yang Mendorong Keluar Dari Prostitusi
misalnya keluarga. Semakin tinggi dukungan yang diperoleh seseorang, maka semakin besar kemungkinan dia berhasil meninggalkan prostitusi.
Ajzen (1988) menejelaskan bahwa ada tiga hal yang dapat mendorong seseorang keluar dari prostitusi :
a. Sikap, yaitu bagaimana pandangan seorang mantan PSK untuk keluar dari prostitusi, dapat bersifat positif maupun negative. Sikap terhadap motivasi keluar dari prostitusi sangat dipengaruhi oleh belief system yang dimiliki oleh seorang mantan PSK.
b. Norma subjektif, berkaitan dengan orang-orang di sekitar subjek yang memiliki pengaruh dan dianggap signifikan bagi diri seorang mantan PSK. Dalam menghadapi kondisi-kondisi tertentu, subjek diasumsikan akan mempertimbangkan harapan dan keinginan orang-orang tersebut. Oleh karena itu, hal lain yang turut mempengaruhi pembentukan norma subjektif adalah motivasi subjek untuk mematuhi harapan dan keinginan orang-orang tersebut. c. Perceived behavioral control, berhubungan dengan persepsi subjek terhadap
kondisi yang memudahkan atau menyulitkan untuk berhenti menjadi wanita tuna susila.
3. Faktor yang Menghambat Keluar Dari Prostitusi
Koentjoro (2004) menjelaskan bahwa ada beberapa faktor yang menghambat seseorang keluar dari prostitusi. Faktor tersebut antara lain adalah :
b. Faktor kenyamanan, dimana seorang PSK yang sudah merasa nyaman di tempat dirinya bekerja cenderung membuat dia lebih senang berada di dalam prostitusi daripada keluar.
c. Faktor kecemasan. Individu dengan tingkat kecemasan tinggu akan masa depan cenderung bertahan di dalam prostitusi (Batubara, 2007).
Menurut Koentjoro (2004) faktor-faktor tersebut akan sangat mempengaruhi keputusan seseorang untuk keluar dari prostitusi. Ketika seorang individu merasa tidak sanggup menerima perubahan yang akan terjadi ketika dia keluar dari prostitusi, maka individu tersebut cenderung untuk bertahan dalam prostitusi.
D. Personal Adjustment Pada Mantan PSK
Personal adjustment adalah sebuah proses psikologis yang dijalani seseorang yang mengakibatkan orang tersebut berusaha untuk mengatasi demand dan tantangan dalam kehidupan sehari-hari (Weiten & Llyod, 2006). Proses adjustment tersebut memiliki 3 aspek utama, yaitu coping stress, interpersonal realm, dan developmental transition.
Hal tersebut pada dasarnya akan membuat seorang mantan PSK merasa tertekan dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Hal ini merupakan salah satu perbedaan mantan PSK dengan masyarakat umum yang lain. Dalam menjalani kehidupan sehari-hari mantan PSK memiliki suatu ketakutan tertentu. Artinya, dalam menjalani proses personal adjusttment, mantan PSK harus dapat mengatasi ketakutan tersebut. Hal tersebut menjadi tantangan bagi mantan PSK untuk kembali ke dalam masyarakat.
Tekanan dan tantangan yang dihadapi oleh seorang mantan PSK akan sangat mempengaruhi keputusan yang akan mereka ambil. Ketika mantan PSK merasa bahwa ia tidak sanggup menghadapi itu semua, maka besar kemungkinan ia akan memutuskan kembali ke dalam prostitusi, dan sebaliknya ketika ia memutuskan menghadapi tantangaan dan tekanan dari lingkungan tersebut, maka besar kemungkinan ia akan kembali ke masyarakat. Hal tersebut menunjukkan bahwa proses personal adjustment yang dilakukan oleh mantan PSK akan memiliki dua hasil yang berbeda. Kegagalan berarti kembali ke dalam prostitusi dan sebaliknya keberhasilan berarti masuk kembali ke dalam masyarakat.
E. Paradigma Teoritis
Weiten & Lloyd (2006)