1
Tulisan pendek ini sebagai pengantar untuk Seminar Fakultas Ushuluhudin dan Pe ikira Isla : Peso a Isla dala “i ergi Budaya Lokal , UIN “u a Kalijaga, 11 November 2014.PERAN LOKALISME DALAM KONTESTASI DAN NEGOSIASI BUDAYA
Oleh Aprinus Salam
Te a se i ar kali i i adalah Peso a Isla dala “i ergi Budaya Lokal .
Asumsinya, telah terjadi suatu sinergi antara Islam dan budaya lokal sehingga
memunculkan suatu pesona, pesona budaya. Pertanyaannya, mengapa hal itu
bisa terjadi?
Dalam kehidupan masyarakat Indonesia, paling tidak terdapat beberapa budaya
yang berkontestasi dan, sekaligus bernegosiasi. Budaya itu antara lain
modernisme (dan kapitalisme—bahkan sekarang posmodernisme), nasionalisme,
relijiusme, dan lokalisme. Mungkin terdapat beberapa budaya lain yang ikut
bersaing dan bernegosiasi, tetapi tampaknya tidak sedominan yang telah
disebutkan.
Di sini budaya, kebudayaan, diartikan sebagai suatu praktik kehidupan yang
meliputi sistem gagasan (terdapat di dalamnya sesuatu yang bersifat ideologis),
sisem simbolik, praktik2 kehidupan, dan hasil dari hal tersebut yang biasa disebut
artefak. Teori yang lebih mutakhir mengatakan kebudayaan juga sebagai aja g
ko testasi praktik-praktik budaya. Artinya, dalam setiap kebudayaan selalu ada
upaya u tuk ersai g da e guasai kehidupa teruta a politik da
ekonomi) agar menjadi lebih dominan dan bisa menguasai berbagai sumber.
Selain itu, dalam beberapa hal, di dalam kebudayaan ada hal-hal yang bersifat
u i ersal , tetapi dala e erapa hal terte tu ersifat sa gat spesifik. Biasanya keuniversalan menyangkut nilai-nilai kebajikan, seperti berbagai upaya
perjuangan agar hidup menjadi lebih baik. Sementara itu, hal-hal yang spesifik
keotentikan. Untuk keperluan pembicaraan kali ini saya ingin menekankan pada
aspek ideologi (gagasan) dan spesifikasi/keotentikan kebudayaan.
Pertama, saya ingin memulainya dari pertanyaan mengapa relijiusisme (Islam)
dan lokalisme bisa bertemu (bernegosiasi). Mengapa, misalnya, Islam dan
nasionalisme sulit betemu, dalam beberapa hal Islam dan modernisme juga sulit
bertemu (walaupun dalam beberapa hal, sekarang hal itu juga bisa bernegosiasi).
Sementara itu, modernisme atau atau nasionalisme bisa bertemu dengan
lokalisme. Artinya, lokalisme di sini diandaikan sesuatu yang adaptif, dia bisa
bergabung dan beradapdatsi dengan saja saja.
Kedua, kita tahu dalam praktik kehidupan sehari-hari, ada orang/masyarakat yang
mempraktikkan kehidupan dalam empat dimensi budaya di atas. Dia/mereka
seorang Islam, seorang modern, seorang lokal tertentu, dan sekaligus seorang
nasionalis. Berdasarkan pernyataan sebelumnya, apakah tidak ada kontrakdiksi di
dala ya, jika dikataka ah a kada g oder is e da asio alis e sulit
bertemu.
Saya ingin sedikit menyederhanakan persoalan dengan menyebutkan ada sebuah
janji budaya, atau janji ideologis budaya. Nasionalisme janjinya adalah persatuan
dan kesatuan bangsa dengan menegakkan rasa cinta kepada tanah air.
Modernisme (dan kapiltalisme) memberikan janji bagaimana mengupayakan
kesuksesan/kebahagiaan duniawi de ga ekerja da e geksplorasi dunia.
Relijiusisme menjanjikan kesuksesan/kebahagiaan duniawi dengan semaksimal
mungkin menjadi pemeluk yang baik di dunia. Sementara itu, lokalisme
menjanjikan kebersamaan, keharmonisan, dan kepantasan, dalam menjalankan
Dengan demikian, di sinilah lokalisme memainkan peranan penting dalam
mempertemukan berbagai kontestasi tersebut, dengan berperan sebagai
penjembatan kepantasan dan keharmonisan. Di arena tertentu ketika lokalisme
tidak cukup memainkan peranan penting, tidak jarang relijiusisme (Islam) akan
terlihat dan tampil kasar berhadapan dengan modernisme (kapitalisme).
Demikian juga kadang relijiusisme Islam akan berhadapan dengan nasionalisme
karena ada aspek dalam diri Islam yang bersifat internasional (eksklusif).
Memang, kemudian kita mempersoalkan bahwa itu tidak lebih bagian dari
gerakan Islam radikal.
Sementara itu, modernisme dan nasionalisme bisa bersinergi secara lebih
sepadan karena tidak ada aspek yang cukup bertentangan dalam dirinya.
Biasanya sinergi nasionalisme dan relijiusisme tampil dalam wajah sekularisme.
Dalam sejarah yang cukup panjang, di aras politik dan ekonomi, Indonesia
memilih sekularisme sebagai kinerja kebudayaannya. Tentu, selalu ada
perlawanan dari kelompok-kelompok Islam. Akan tetapi, kita tahu, dalam
sejarahnya pula, secara politik, Islam tidak menjadi pilihan utama masyarakat
Indonesia, walaupun katanya lebih dari 87% masyarakat Indonesia beragama
Islam. Di Indonesia, partai politik yang mengusung Islam sangat sulit
memenangkan pemilu.
Dari situ kita tahu bahwa aspek dan dimensi nasional dan lokal itu bukan lokal
menjadi bagian dari nasional, tetapi lokal dan nasional itu dua hal yang berbeda.
Wajah nasional lebih sebagai wajah perkotaan, modernitas, pertemuan dan
perlintasan banyak orang (heterogen). Desa lebih memperlihatkan sebagai wajah
lokal, tradisional, dan bukan perlintasan banyak orang (lebih homogen).
Memang, batas antara kota dan desa itu juga merupakan masalah tersendiri
memadai untuk menentukan mana kota mana desa. Jika asumsi yang dibangun
adalah kriteria modern-tradisi, heterogen-homogen, maka sangat mungkin ada
desa dalam perkotaan, atau sebaliknya ada kota dalam pedesaan. Sekarang,
batas-batas itu semakin mengabur dan tidak jelas
Persoalan berikutnya, apakah kemudian yang dibayangkan dan dianggap sebagai
peso a. “esuatu ya g ye i da i dah sehi gga e i ulka kekagu a ?
Atau suatu pu ak hasil udaya erupa pe getahua da te ua terte tu?
Saya membayangkan, misalnya, aktifitas budaya Sunan Kalijaga merupakan
sebuah pesona Islam bersinergi dan dalam budaya lokal (Jawa). Ada proses dan
pencanggihan yang dilakukan Sunan Kalijaga berupa cara, perangkat, dan
ko posisi keil ua ya g e gga u gka Isla sufis e de ga udaya Ja a,
dan menjadikan sesuatu yang sangat spesifik, suatu pesona.
Saya membayangkan hal itu bisa dilakukan Sunan Kalijaga dengan pilihan-pilihan
yang sangat terbatas, dengan kefokusan dan konsetrasi tinggi (karena jadwal
harian waktu itu belum sangat disibukkan berbagai acara), di antara pemeluk
yang masih sangat homogen (dalam pengertian suku dan lokalitas), dan tentu
kejeniusan Sunan Kalijaga itu sendiri. Hingga hari ini beberapa warisan pesona
Sunan Kalijaga masih kita nikmati.
Masalahnya sekarang, masih mungkinkah Islam bersinergi dalam budaya lokal, di
tengah kepungan modernisme (dan kapitalisme), dan dalam urgensi
nasionalisme. Mengingat kondisi-kondisi yang terjadi sekarang, tentu hal itu
menjadi sangat sulit dilakukan, dan bisa jadi menjadi sesuatu yang ahistoris.
Pertama, masih adakah sesuatu yang murni dianggap budaya lokal dan apa
indikator kemurnian tersebut. Mungkin sudah akan sangat sulit ditemukan.
Kedua, seperti tesis di atas, pada mulanya memang berkontestasi, tapi ujung dari
dalam kehidupan kita. Sementara itu, nasionalisme juga merupakan amanat
bersama yang harus kita junjung sebagai bagian dari warga NKRI.
Dalam konteks tersebutlah, saya mengira percobaan-percobaan yang dilakukan
Kiyai Kanjeng dengan arsiteknya Emha Ainun Nadjib mencoba menciptakan
pesona baru dengan menegosiasikan Islam dan budaya lokal (-lokal),
modernisme, dan bahkan dalam semangat nasionalisme. Kita tahu, dalam banyak
hal Kiyai Kanjeng cukup berhasil mensinergikan semua itu. Tampil dalam
instrumen-instrumen modern (dan tradisi), berpenampilan khas Jawa (Islam), dan
dalam substansi dan semangat nasionalisme. Kontrol utama yang dilakukan Emha
Ainun Nadjib (Cak Nun) adalah lokalisme. Dia selalu menyesuaikan setiap
substansi kinerja penampilannya yang berpijak pada di mana bumi dipijak di situ
langit dijunjung.
Artinya, yang perlu dipahami sekarang adalah bahwa pesona Islam dalam sinergi
budaya lokal tidak bisa lagi dipaksakan sebagai pesona yang kontekstual. Islam
selayaknya perlu mensinergikan diri dalam berbagai perubahan, kebutuhan, dan
semangat zaman. Pada tanggal 7 November malam, saya melihat acara Rising
Star di RCTI. Di situ ada seorang wanita berjilbab, nge-rap, dan memperlihatkan
kinerja berkesenian yang menarik perhatian. Rap pada mulanya adalah lokalitas
terte tu ya g sekara g telah e jadi ilik siapa saja . Walaupun fenomena tersebut bukan hal baru, hal yang penting ingin disampaikan adalah bahwa segala
sinergis semakin diterima dan selalu memberikan keunikan tersendiri. Hal itu
bergantung komposisi-komposisi apa saja yang dijadikan faktor senergis tersebut.
Apa hal penting dari fenomena tersebut? Bahwa lokalitas tidak juga perlu
dipandang sebagai sesuatu yang terpisah dan terlokalisir. Gamelan saat ini sudah
menjadi bagian dari kesenian dan milik dunia. Kalau kita bersholawat sambil
budaya lokal? Dengan demikian, sangat mungkin yang terjadi sekarang adalah
upaya mengembalikan atau paling tidak membangkitkan kembali hilangnya
pesona dunia, bukan saja harus berasal dari Islam, tetapi dari siapa saja, dari
masyarakat dan lokalitas mana saja, bersinergi dalam proses-proses yang semakin
menggelobal.
Nah, kemudian, dalam persoalan janji ideologis budaya, manakah kemudian yang
lebih dominan dan menjadi pegangan. Hal ini tentu saja menjadi sulit untuk
dideteksi mengingat semakin campur-barunya berbagai gagasan. Kita tidak bisa
mendeteksi mana gagasan tertentu berasal dari agama atau pengetahuan sekuler
tertentu. Simbol-simbol dan artefak juga semakin dikocok dan berwajah
beragam. Praktik-praktik kehidupan juga semakin dimensi dan
multi-kultural.
Apakah itu seperti memperlihatkan semakin menipisnya kesadaran terhadap janji
ideologis budaya? Apakah itu juga semakin memperlihatkan tipisnya pegangan
hidup di satu sisi, dan, kita tahu, ada rasa putus asa terhadap kehidupan kita
sendiri, terhadap masa depan kita? Dan itu sebabnya mengapa kemudian,
seolah-olah, pengajian di hotel-hotel dan televisi tak kalah maraknya? Apakah itu pula
yang memperlihatkan mengapa kemudian Kiyai Kanjeng masih laku untuk diminta
tampil di mana-mana?
Mari kita diskusikan, ke mana arah jalannya agama (Islam) dan kebudayaan di
Indonesia. Apakah lokalitas akan masih memainkan peranan penting? Bagaimana
wajah kita di masa depan? Saya tertarik dengan nyanyian (Princess) Syahrini yang
menyenangkan sekaligus menggelikan; maju cantik mundur cantik (bahkan duduk
cantik, bobok cantik, dan segala hal yang penting tampil cantik). Bisakah kita