• Tidak ada hasil yang ditemukan

Spiritualitas Gerakan Radikalisme Suprih pdf

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Spiritualitas Gerakan Radikalisme Suprih pdf"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

SPIRITUALITAS GERAKAN

RADIKALISME ISLAM DI INDONESIA

Suprihatiningsih

(Fakultas Dakwah IAIN Walisongo Semarang)

ABSTRACT

A. PENDAHULUAN

(2)

atau label. Ada Islam santri dan abangan1,Islam tradisonalis2, Islam modernis, Islam Skripturalis, Islam puritan, Islam subtantif, Islam militant, Islam nasionalis, Islam literal dan lain sebagainya.3 Adanya sekian banyak penyebutan Islam seperti di atas, menunjukan bahwa umat Islam di Indonesia memiliki pemahamn dan penghayatan yang beragam.

Islam yang beraneka warna mengalami peningkatan kegairahan hingga saat ini. Namun ada beberapa kelompok tertentu yang dalam praktek keagamaanya, menekankan ketaatan yang penuh kepada apa yang dipraktekkan nabi dan generasi sahabat. Mereka berupaya penuh untuk cara hidup Nabi, hingga hal-hal yang sekecil-kecilnya. Anjuran untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah dan Rasulnya berbanding lurus dengan anjuran untuk meninggalkan apa yang mereka anggap “TBC” (tahayul, bid’ah dan khurafat).

Di era reformasi yang memberi ruang keterbukaan dan kebebasan sekarang ini, dalam masyarakat Indonesia telah muncul berbagai gerakan Islam yang cukup radikal. Para pengikut gerakan ini melihat bahwa dalam kehidupan nyata di masyarakat telah terjadi jurang yang begitu dalam antara harapan seperti yang dikonsepsikan oleh agama mereka dengan kenyataan yang ada dihadapan mereka. Sementara itu, upaya untuk merealisir apa yang di idealkan agama tersebut tidak bisa tercapai tanpa memakai kekuatan karena elemen pendukung baik cultural maupun structural dianggap tidak kondusif bagi direalisasikannya harapan mereka.

Gerakan ini melihat bahwa dalam kehidupan nyata di masyarakat telah terjadi jurang yang yang begitu dalam antara harapan seperti yang dikonsepsikan agama mereka dengan kenyataan yang ada dihadapan mereka. Sementara itu, upaya untuk merealisisr yang diidealkan agama tersebut tidak bisa tercapai tanpa memakai kekuatan karena elemen pendukung baik kultural maupun structural dianggap tidak kondusif bagi direalisasikannya harapan mereka.

1Lihat: Mark R Woodward, Islam Jawa, Yogyakarta:LKis 1999. 2

Organisasi masyarakat yang sering diberi label tradisionali antara lain: nahdatul Ulama’, jami’at khoir dan al-washliyah. Sementara muhammadiyah dan Al-Irsyad disebut Islam Modern. Lihat ; Imdadun rahmat, Arus baru Islam Radikal Transmisi Islam Timur Tengah ke Indonesia, Jakarta: Erlangga, 2007

hal. 130.

3

(3)

Radikalisme keagamaan sebenarnya fenomena yang bisa muncul dalam agama apa saja. Radikalisme sangat berkaitan dengan fundamentalisme, yang ditandai oleh kembalinya masyarakat kepada dasar-dasar agama. Fundamentalisme akan diiringi oleh radikalisme dan kekerasan ketika kebebasan untuk kembali kepada agama dihalangi oleh situasi social politik yang mengelilingi masyarakat. Fenomena ini dapat menimbulkan konflik terbuka atau bahkan keekerasan antara dua kelompok yang berhadapan.4

Dalam konstelasi politik Indonesia, kelompok pendukung radikalisme Islam semakin membesar tetapi gerakan radikal tersebut tidak memiliki pola yang seragam. Ada yang sekedar memperjuangkan implementasi syari’at Islam tanpa keharusan

mendirikan “Negara Islam”, ada juga yang berusaha

memperjuangkan berdirinya “Negara Islam Indonesia” dan ada juga yang ingin memperjuangkan berdirnya “kekhalifan Islam”. Pola organisasinya juga beragam mulai dari gerakan moral ideology seperti MMI (Majelis Mujahidin Indonesia)5 dan HTI (Hizbut Tahrir Indonesia)6 sampai pada gaya militer seperti (LJ) Laskar Jihad7, Front Pembela Islam (FPI) dan Front Pembela Islam Surakarta (FPIS). Selain itu, ada juga kelompok mahasiswa fundamentalis, yang terorganisir dalam KAMMI dan mempunyai banyak cabang di banyak kampus di Indonesia.

4Endang turmudi dkk, Islam dan radikalisme di Indonesia, Jakarta: LIPI Press

, 2004. Hal. 5

5

Mempunyai milisi dengan nama Jundullah (tentara Allah). Kelompok ini mempunayi anggota yang lebih besar anggotanya dari berbagai wilayah di Indonesia dan berusaha mendekati berbagai organisasi Islam yang sudah ada seperti NU dan Muhammadiyah agar mereka mau menjadi pendukungnya.

6

Kelompok ini terinspirasi dari gerakan internasional dengan nama serupa. Kehadirannya sangat penting karena karena ia merupakan kelompok fundamentalis yang mempunyai konsep-konsep perjuangan yang jelas. HTI menggunakan media pendidikan dalam dalam perjuangan atau jihadnya. Mereka mensosialisasikan ide-ide mereka melalui media elektronika, seperti internet, media massa seperti artikel dan penerbitan bulletin. Vocal , sehingga upaya mereka untuk menerapkan syari’at Islam bisa diketahui oleh kalangan masyarakat luas.

7

(4)

Dalam kesempatan edisi kali ini penulis mencoba membahas tentang spiritualitas kaum radikalisme Islam di Indonesia yang pada masa akhir-akhir ini (pasca reformasi) geliat gerakan radikalisem marak dan bertebaran di wilayah Indonesia.

B. PENGERTIAN RADIKALISME DAN SEJARAH PERKEMBANGANNYA

Untuk memahami radikalisme Islam ini, mari kita melihatnya dengan kaca mata akdemis agar pemahaman kita tidak bias oleh hadirnya sikap memihak. Pada tataran teoritis, terdapat dua konsep penting yang dipunyai oleh agama yang bisa mempengaruhi hubungan di antara mereka, yaitu: fanatisme dan toleransi. Dua konsep ini pada prakteknya harus dilaksanakan dalam pola yang seimbang, sebab ketidak seimbangan antara keduanya akan menyebabkan ketidak setabilan antara pemeluk agama.

Kata radikal secara bahasa berarti mengakar. Perbahan radikal berarti perubahan fundamental karena hal itu menyangkut penggantian yang palig mendasar . Jadi gerakan keagamaan yang berciri fundamentalisme radiakal mempunyai pendirian untuk menggunkan agama sebagai dasar tingkah laku mereka.8

Menurut Mujahirin Thohir9, radikalisasi keagaman disebabkan oleh pemahaman agama yang diasosiasikan secara egoistis. Orang-orang yang memeluk agama lewat asosiasi keagamaan seperti ini, sulit mewujudkan sikap toleran, cenderung tidak terbuka dan cenderung, melihat kelompok (umat) lain yang berbeda sebagai orang lain yang berpotensi sebagai lawan yang mengancam.

Istilah yang paling umum digunakan untuk penyebutan radikal adalah Fundamentalisme. John L. Esposito10, menggunakan istilah revivalisme Islam/aktivisme Islam sinonim dengan fundamentalisme Islam yang memiliki cirikhas dan sifat kembali pada kepercayaan fundamental agama berdasarkan al-Qur’an dan Sunnah secara literal.

8Endang turmudi dkk, Op.cit, hal. 282. 9

Mujahirin Thohir, Deradikalisasi Keagamaan dalam Perspektif Sosial budaya,

Makalah seminar Nasional tgl 20 Juli 2011 di Semarang.

10

(5)

Adam Schwarz menggunakan istilah Islam Militan.11 Robert W Hefner, menggunakan istilah Islam anti liberal. Sedangkan R. Williyam Lidle, menggunakan istilah Islam skripturalis yang berorientasi pada syari’at.12Terminologi radikalisme beragam, namun secara esensial, radikalisme umumnya selalu dikaitkan dengan pertentangan secara tajam antara nilai-nilai yang diperjuangkan oleh kelompok agama tertentu dengan tatanan nilai yang berlaku atau dipandang mapan pada saat itu. Adanya pertentangn yang tajam sehingga konsep radikalisme selalu dikonotasikan dengan kekerasan secara fisik.13

Secara bahasa Radikal berasal dari bahasa latin radix yang artinya akar (pohon). Radikalisme berarti berfikir secara mendalam dalam menelusuri suatu akar masalah. Jadi pengertian radikal sebenarnya merujuk pada sesuatu yang positif (radic = akar), yaitu sesuatu yang mendasar (dalam terminologi Islam bisa berarti tauhid = dasar Islam). Sedangkan orang yang radikal (radical, adjective) sebenarnya adalah orang yang mengerti sebuah permasalahan sampai ke akar-akarnya, dan karena itu mereka lebih sering memegang teguh sebuah prinsip dibandingkan orang yang tidak mengerti akar masalah.Istilah radikal sinonim dengan istilah fundamentalis14, yaitu umat muslim yang menerima al-Qur’an dan Hadistr sebagai jalan hidup mereka.

Dalam mempelajari Islam, pemikiran radikal ini diperlukan agar kita dapat memahami hakekat dan kebenaran keIslaman.15Islam

11 G.H. Jansen, Islam Militan,Penrjemah. Armahedi MahzarBandung: Pustaka

1980., Khamami zada, Islam Radikal., Jakarta: teraju, 2002. Hal.14.

12

R. William Liddle, “Skripturalisme dalam Media Dakwah: Suatu Bentuk Pemikiran dan aksi politik Islam di Masa Orde Baru” dalam, Mark R. woodward, Jalan Baru Islam Memetakan Paradigma Mutahkir Islam Indonesia, Cet.I, Bandung: Mizan, 1999. Hal.304

13

Zainuddin Fanani, Radikalisme Keagamaan dan Perubahan Sosial,Surakarta: Unuversitas muhammadiyah Press, 2002, hal.5.

14

Dalam konteks religio politik di dunia Islam , julukan fundamentalis sering dilekatkan secara sinis dan dengan nada menghian, memusuhi serta merendahkan kepada nama-nama seperti hamas di Palestina(kawasan yang masih di jajah oleh kekuatan asing), Hizbullah di Libanon((Negara yang sangat heterogen, multi etnis, agama dan kultural), partai Refah di Turki ( Negara yang sangat menjunjung tinggi sekulerisme dan westernisme). Adapun cikal-bakal berbgai gerakan fundamentalis Islam adalah “Ikwanul Muslimin” yang didirikan di Ismai’iliyyah Mesir pada tahun 1928 oleh Hasan Al Bana.Kemunculan IM merupakan respon terhadap berbagai perkembangan yang terjadi di dunia slam (khususnya Timur Tengah) berkaitan dengan makin luasnya dominasi imperialis Barat. Lihat: Endang Turmudi, hal. 55-57.

15

(6)

Radikal adalah istilah yang diberikan kepada kelompok-kelompok yang beraliran keras dalam menuntut penegakan syari'at dengan jalan yang dianggap sebagai Jihad.16 Bisa dikatakan bahwa radikalisasi gerakan keagamaan adalah kelanjutan dari fundamentalisme yang menguat karena hadirnya tantangan dari luar yang juga menguat, yakni sikap yang memperlihatkan realisasi dari fanatisme yang dipunyai mereka. Sikap yang mencerminkan rasa kebersamaan dan solidaritas kelompok sebagai pemeluk suatu agama iniakhir bergeser ke dalam bentuk radikalisme dan militanisme ketika berhadapan dengan kelompok lain.

Dalam konteks sejarah Islam, radikalisasi agama telah tumbuh mengiringi perkembangan Islam itu sendiri. Terbunuhnya Ali bin Abi Thalib oleh Khawarij merupakan kenyataan sejarah yang banyak dirujuk para ahli sebagai bukti betapa radikalisasi agama telah mewarnai kehidupan umat Islam. Untuk mengidentifikasi faktor penyebab terjadinya radikalisasi tersebut tidaklah mudah. Apakah peristiwa tersebut didorong oleh factor pemahaman agama yang bersifat ideologis ataukah karena factor politik paska perang shiffin antara Ali dengan Mu’awiyah.17

Secara sederhana kemunculan radikalisme Islam di Indonesia di sebabkan oleh dua hal. Pertama, bibit gerakan Islam radikal mulai bersemi setelah masa kemerdekaan yang ditandai dengan munculnya gerakan DI/TII, gerakan Islam kontemporer secara organisatoris dapat dinaytakan mulai muncul kembali pada akhir 1970an. Kedua, gerakan Islam radikal sebagaimana kelompok-kelompok lainnya, mulai menjamur pada masa reformasi ketika kran kebebasan menyampaikan pendapat dan berasosiai mulai dibuka. Secara sosiologis ,beberapa kelompok keagamaan, khususnya Islam, yang selama rezim Orde Baru terpinggirkan, mulaikan mengekspresikan kekecewaan psikologis yang tersimpan cukup lama terhadap pemerintah yang dianggap tidak adil.

Dalam konteks Internasional, realitas politik standar ganda Amerika serikat (AS) dan sekutunya merupakan pemicu berkembangnya radikalisme Islam. Perkembangan ini kian menguat setelah terjadinya tragedi Word Trade Canter (WTC), pada 11 September 2001. Setelah peristiwa tersebut, AS dan sekutunya bukan hanya menuduh orang Islam sebagi pelakunya tetapi juga

16

http://buntetpesantren. Islam radikal antara pro dan kontra 17

(7)

melakukan operasi penumpasan terorisme yang melebar kebanyak gerakan Islam lain di beberapa negara, termasuk Indonesia.18

Berdasarkan pandangan dan kenyataan yang ada gerakan Islam radikal di Indonesia dibagi menjadi dua yaitu: gerakan yang beruapa aksi19 (radikal dalam gerakan) dan gerakan yang berupa pemikiran yang hanya dalam tataran wacana( radikal dalam pemikiran). Selain itu mereka juga dapat di pilah kedalam kelompok

yang menggunakan kekerasan dan kelompok yang tidak

menggunakan kekerasan dalam mencapai tujuan keagamaan mereka.

Di Indonesia Kelompok-kelompok yang mengusung ide radikalisme Islam ini cukup banyak antara lain:

1. LJ (Laskar Jihad). Gerakan ini bisa dikategorikan fundamentalis radikal bukan hanya karena mereka mempertahan islam dari ancaman para skuleralis dan non-Islam tetapi mereka juga mempunyai agenda politik untuk menegakkan norma-nora Islam daalam kehidupan masyarakat Indonesia.

2. FPI (Front Pembela Islam).

3. MMI (Majelis Mujahidin Indonesia) adalah organisasi atau kelompok Islam lain yang bisa diketegorikan fundamentalis radikal. Kehadirannya sangat penting sekali dalam memperkuat fundamentalisme dan radikalisme Islam di Indonesia.

4. FPIS (Front Pemuda Islam Surakarta. 5. Darul Islam (DI)

6. Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).20 Gerkan ini menggunakan pendidikan sebagai media perjuangan atau jihad. Mereka teah mensosialisasikan ide-ide mereka memalui beragai media seperti internet atau publikasi lain. Mereka juga lakukan demontrasi,

18

H.M.Nafis Deradikalisasi Agamamelalui Dakwah Islamiyah yang Rahmatal li’alamin dalam konteks KeIndonesiaan,Makalh Seminar Nasional Deradikalisasi Agama tanggal 20 Juni 2011

19

Gerakan Islam radikal yang berupa aksi adalah gerakan yang secara terang-terangan menggunakan kekerasan untuk meluruskan ajaran Islam di Indonesia,. Contohnya FPI (Front Pembela Islam), gerakan kelompok ini sudah terbukti melakukan beberapa tindakan dalam beberapa kasus. Semata-mata hanya untuk melurusakan agama Islam.misalnya setiap bulan Ramadhan kelompik ini selalu menertibkan warung-warung yang membuka dagangannya di siang hari. Beberapa ormas lainnya yang berbeda dengan FPI yang meluruskan ajaran Islam dengan tindakan (aksi) adalah kelompok-kelompok tarbiyah (yang kemudian menjadi partai Keadilan sejahtera)

20

(8)

karenanya juga mereka termasuk kalangan fundamentalis radikal yang vocal, sehingga upaya mereka untuk merapkan syari’at Islam atau mendirikan Khilafah Islam bisa diketahui oleh kalangan masyarakat luas21.

C. TIPOLOGI RADIKALISME ISLAM DI INDONESIA DAN KARAKTERISTIKNYA

1. Gerakan Islam radikal Kritis

Gerakan Islam radikal Kritis muncul bukan karena kesadaran ideologis pada nilai-nilai dan ajaran Islam, tetapi karena adanya tekanan social, kesewenang-wenangan dan ketidakadilan social yang dilakukan pemerintah colonial terhadap golongan pribumi. Contoh gerakan ini adalah pemberontakan petani Banten dan peristiwa Garut yang merupakan cerminan gerakan Islam radikal-kritis.22 Kedua peristiwa tersebut, menunjukan bahwa radikalisasi yang terjadi dikalangan umat Islam bukan karena dorongan ideology Islam dalam rangka menegakan Negara Islam, tetapi didorong oleh semangat perlawanan terhadap tatanan social yang tidak adil, yang secara langsung bersentuhan dengan kepentingan masyarakat muslim.

Ciri khas tipologi gerakan Islam kritis ini antara lain:

a. Tokoh dan institusi agama hanya menjadi symbol dan instrument untuk meningkatkan solidaritas dan kohesivitas social. Adapun inisiator,motor dan actor gerakan lebih banyak di lakukan oleh orang-orang dari luar komunitas agama atau orang yang dianggap awam agama, namun mendapat dukungan dari tokoh agama. b. Gerakan ini merupakan saluran ketidakpuasan dan frustasi atas

realitas social, ketidakadilan,kesewenag-wenangan dan penindasan. Di sini agama merupakan symbol dan identitas yang membedakan kelompok tertindas dan kelompok penindas.

c. Gerakan ini memberikan ruang pada tradisi dan kepercayaan local, tidak memperdulikan masalah pemahaman keIslaman, oleh karena itu gerakan ini bersifat sinkretis, mistik dan magis.

d. Meski menggunakan symbol Islam, gerakan ini tidak memiliki misi dan orientasi ideologis, seperti menegakkan ajaran Islam atau melakukan pemurnian ajaran Islam. Gerakan ini berorientasi pada realitas social yang adil

21

Endang turmudi dkk, Islam dan radikalisme di Indonesia, Jakarta: LIPI Press , 2004, hlm. 122

22

(9)

e. Bersifat local dan mandiri. Huubungan dengan jaringan pergerakan Islam di luar hanya dijadikan sebagi referensi dan inspirasi gerakannya.23

2. Gerakan Islam Radikal Fundamentalis

perbedakan gerakan ini dengan gerakan yang pertama adalah orientasi, misi dan pendekatan yang digunakan. Gerakan jenis keduan ini lebih mementingkan tertanamnya ideology Islam dalam struktur social dari pada memperhatian terwujudnya tatanan social yang adil melalui proses perubahan social. Contoh gerakan ini adalah kasus perang padri di sumatera yang menyerukan Islam yang murni dan orisinil. Dari situ kemudian muncul gerakan pembaharuan Islam atau gerakan purifikasi.24 Gerakan padri ini kemudian memicu konflik di masyarakat. Sebab gerakan ini menolak ide keselaran dan harmonisasi antara adat dan Islam. Kaum padri mendasarkan gerakannya pada Islam ad Din wa ad Daulah (Islam, agama dan negara). Menurut mereka antara Islam, agama dan Negara tidak bisa dipisahkan. Ciri khas gerakan tipe kedua ini antara lain:

a. Bersifat ideologis dalam arti berpretensi melakukan proses Islamisasi secara radikal dan tidak memiliki kepekaan terhadap tradisi local.Orientasinya adalah terlaksanakan syari’at Islam b. Tidak memberikan ruang pada tradisi dan nilai-nilai local karena

hal ini dianggap bid’ah.

c. Gerakan ini tidak hanya ditujukan kelompok di luar Islam tetapi juga sesama pemeluk Islam

d. Memiliki hubunagn dengan gerakan Islam Internasional.25 Beberapa karakteristik Islam radikal antara lain:

a. Masih menunjukkan mentalitas perang salib.Dalam konteks sekarang, hegemoni dunia Barat khususnya AS, terhadap bangsa lain dianggap sebagai salah satu bentuk penjajahan baru (neo colonialisme)

b. Memperjuangkan Islam secara Kaffah; syari’at Islam sebagai hokum Negara, Islam sebagai dasar Negara, sekaligus Islam sebagi system politik sehingga bukan demokrasi yang menjadi system politik.

c. Praktik keagamaannya berorientasi pada masa lalu(salafy26)

23

Ibid. Hal. 58.

24

Azzumardi Azzra, Islam Reformis: Dinamika Intelektual dan Gerakan , Jakarta: Rajdawali Press. Hal. 48

25

(10)

d. kecenderungan untuk melakukan perlawanan terhadap pemerintah kurang memeperhatikan penyakit social masyakat (maksiat dan kemungkaran).

e. Semangat untuk menegakan agama sebagai lambang supremasi kebenaran ajaran Tuhan di dunia dengan jalan jihad.27

D. SPIRITUALITAS GERAKAN RADIKALISME ISLAM DI

INDONESIA

Radikalisme Islam Indonesia lahir dari hasil persilangan Mesir dan Pakistan. Nama-nama seperti Hassan al-Banna, Sayyid Qutb dan al-Maududi terbukti sangat memengaruhi pelajar-pelajar Indonesia yang belajar di Mesir dan Pakistan. Pemikiran mereka membangun cara memahami Islam ala garis keras. Setiap Islam disuarakan, nama mereka semakin melekat dalam ingatan. Bahkan, sampai tahun 1970-1980-an ikut menyemangati perkembangan komunitas usroh di banyak kampus atau organisasi Islam.

Dalam konteks local Indonesia munculnya gerakan-gerakan radikalisme Islam mempunyai latar belakang yang berbeda-beda. Banyak hal yang menjadi factor munculnya radicalism, namun yang menjadi factor utama adalah politik local, ketidakpuasan politik, dan keterpinggiran politik. Agama pada tahap awal bukan factor pemicu namun demikian ketika kelompok telah terbentuk, agama menjadi factor legitimasi maupun perekat yang sangat penting. Berikut ini beberapa hal yang merupakan spirit gerakan radikalisme Islam di Indonesia:

1. Pengaruh Norma dan AjaranAjaran yang ada mempengaruhi tingkah laku dan tindakan seorang muslim yang berasal dari Qur’an dan Hadis. (mungkin juga Ijma). Ajaran ini diinterpretasikan dan diinternalisasi. Karena ajaran yang ada sangat umum, hal ini memungkinkan munculnya beberapa interpretasi. Hal ini juga dimungkinkan karena setiap anggota masyarakat muslim mengalami sosialisasi primer yang berbeda, disamping pengalaman, pendidikan dan tingkatan ekonomi mereka juga tidak sama. Dari hasil interpretasi ini memunculkan apa yang diidealkan berkaitan dengan kehidupan masyarakat Islam.

2. Pengaruh sikap atau pemahaman mengenai tiga isu utama, yaitu penerapan syariat Islam, bentuk negara Islam Indonesia dan

26

Khamdani Zada, Op Cit. hal.17

27

(11)

Khalifah Islamiyah. Sikap ini adalah kelanjutan dari penafsiran terhadap ajaran agama Islam. Diasumsikan bahwa ada beberapa sikap umum yang muncul setelah masyarakat menafsirkan ajaran Islam. Sikap ini tersimbolkan dalam penerapan pemahaman Muslim terhadap ajaran agama mereka.

3. Pengaruh sikap pada poin dua tersebut muncul ketika dihadapkan dengan kondisi sosial nyata dalam masyarakat. Hal ini termasuk di dalamnya adalah faktor-faktor domestik dan Internasional. Hegemoni politik oleh negara atau represi yang dilakukan oleh kelompok apapun terhadap umat Islam akan melahirkan respon yang berbeda dari berbagai kelompok yang ada.

Dari ketiga faktor tersebut, spirit yang paling berpengaruh terhadap tingkah laku umat Islam radikal adalah ajaran Islam sendiri. Ajaran ini diinterpretasi dan karena ajaran ini bersifat umum maka pemahaman yang muncul adalah bervariasi.28

Kalau pemahaman sebagai hasil interpretasi itu bervariasi, maka sikap dalam menindak lanjuti pemahaman itu juga berbeda – beda bahkan di antara kaum fundamentalis itu sendiri. Oleh karenanya, secara konseptual bisa dikatakan bahwa tindak lanjut gerakan radikal dari gerakan-gerakan islam yang ada Indonesia bisa bervariasi. Ada yang dalam tataran aksi (radikal dalam tindakan) dan ada yang radikal dalam sikap atau pemahaman saja.

Menurut Horace M Kallen,29 secara umum ada tiga kecenderungan yang menjadi spirit radikalisme. Pertama, radikalisme merupakan respons terhadap kondisi yang sedang berlangsung, biasanya respons tersebut muncul dalam bentuk evaluasi, penolakan atau bahkan perlawanan. Masalah-masalah yang ditolak dapat berupa asumsi, ide, lembaga atau nilai-nilai yang

28

Kebenaran absolute yang diajarkan agama dapat mendorong para pemeluknyan untuk cenderung menafikan agama lain atau juga melihat apa yang diajarkan agama lain sebagai ajaran yang salah. Dalam al-Qur’an nyata-nyata disebutkan bahwa “sesungguhnya agama yang diterima disisi Allah adalah Islam’ . dari sumber yang lain, dalam sebuah Hadits nabi dinyatakan “siapa saja yang melihat kemungkaran maka ubahlah ia dengan tangannya, jika tidak bisa maka ubah dengan lidahnya, jika itu juga tidak bisa maka ubahlah dengan hatinya. Tapi yang terakhir ini adalah tanda lemahnya iman” ajaran ini telah mendorong pemeluk agma yang taat untuk melakukan perintah agamanya secara maksimal. Dalam situasi tertentu ajaran sperti ini memunculkan sikap-sikap. Lihat: Endang Turmudzi, Islam dan Radikalisme di Indonesia, Jakarta: LIPI Press, 2004, hal.17

29

(12)

dipandang bertanggung jawab terhadap keberlangsungan kondisi yang ditolak.

Kedua, radikalisme tidak berhenti pada upaya penolakan, melainkan terus berupaya mengganti tatanan tersebut dengan bentuk tatanan lain. Kaum radikalis berupaya kuat untuk menjadikan tatanan tersebut sebagai ganti dari tatanan yang ada. Dengan demikian, sesuai dengan arti kata ‘radic’, sikap radikal mengandaikan keinginan untuk mengubah keadaan secara mendasar.

Ketiga adalah kuatnya keyakinan kaum radikalis akan kebenaran program atau ideologi yang mereka bawa. Sikap ini pada saat yang sama dibarengi dengan panafian kebenaran sistem lain yang akan diganti dalam gerakan sosial, keyakinan tentang kebenaran program atau filosofi sering dikombinasikan dengan cara-cara pencapaian yang mengatasnamakan nilai-nilai ideal seperti ‘kerakyatan’ atau kemanusiaan . Akan tetapi kuatnya keyakinan tersebut dapat mengakibatkan munculnya sikap emosional di kalangan kaum radikalis.

Keempat, pemahaman agama yang cendererung tektualis (memahami agma secar apa adanaya yang tertulias dalam teks-teks suci agama). Pemahaman tektualis ini mengabaikan factor konteks social sejarah, social dan poltik serta rasional yang melatar belakangi lahirnya sebuah doktrin atau keputusan agama.30

E. SIMPULAN

Radikalisme berarti berfikir secara mendalam dalam menelusuri suatu akar masalah. Jadi pengertian radikal sebenarnya merujuk pada sesuatu yang positif (radic = akar), yaitu sesuatu yang mendasar (dalam terminologi Islam bisa berarti tauhid = dasar Islam). Sedangkan orang yang radikal (radical, adjective) sebenarnya adalah orang yang mengerti sebuah permasalahan sampai ke akar-akarnya, dan karena itu mereka lebih sering memegang teguh sebuah prinsip dibandingkan orang yang tidak mengerti akar masalah.

Islam Radikal adalah istilah yang diberikan diberikan kepada kelompok-kelompok yang beraliran keras dalam menuntut penegakan syari'at dengan jalan yang dianggap sebagai Jihad. Dan gerakan radikalisme itu dibagi menjadi dua yaitu, gerakan yang bersifat aktif (aksi) dan gerakan yang memakai pemikiran dan paradigma. Suatu

30

(13)

gerakan pastinya memakai suatu metode dalam menyampaikan dakwahnya, metode dakwah yang digunakan adalah metode dengan perkataan (lisan),tangan (tindakan), serta dengan hatinya.

Ada dua tipologi gerakan Islam radikal, pertama gerakan Islam radikal Kritis muncul bukan karena kesadaran ideologis pada nilai-nilai dan ajaran Islam, tetapi karena adanya tekanan social, kesewenang-wenangan dan ketidakadilan social yang dilakukan pemerintah colonial terhadap golongan pribumi. Gerakan ini didorong oleh semangat perlawanan terhadap tatanan social yang tidak adil, yang secara langsung bersentuhan dengan kepentingan masyarakat muslim. Di sini agama merupakan symbol dan identitas yang membedakan kelompok tertindas dan kelompok penindas.Gerakan ini tidak memiliki misi dan orientasi ideologis, seperti menegakkan ajaran Islam atau melakukan pemurnian ajaran Islam. Gerakan ini berorientasi pada realitas social yang adil

Kedua, Gerakan Islam Radikal Fundamentalis. Gerakan jenis kedua ini lebih mementingkan tertanamnya ideology Islam dalam struktur social dari pada memperhatian terwujudnya tatanan social yang adil melalui proses perubahan social. Menurut mereka antara Islam, agama dan Negara tidak bisa dipisahkan. Cirikhas gerakan tipe kedua ini antara lain:

a. Bersifat ideologis, relatif tidak memiliki kepekaan terhadap tradisi local.Orientasinya adalah terlaksanakan syari’at Islam

b. Tidak memberikan ruang pada tradisi dan nilai-nilai local karena hal ini dianggap bid’ah.

c. Gerakan ini tidak hanya ditujukan kelompok di luar Islam tetapi juga sesama pemeluk Islam

d. Masih menunjukkan mentalitas perang salib. Dalam konteks sekarang, hegemoni dunia Barat khususnya AS, terhadap bangsa lain dianggap sebagai salah satu bentuk penjajahan baru (neo colonialisme)

e. Memperjuangkan Islam secara Kaffah; syari’at Islam sebagai hukum Negara, Islam sebagai dasar Negara, sekaligus Islam sebagi system politik sehingga bukan demokrasi yang menjadi system politik.

f. Praktik keagamaannya berorientasi pada masa lalu(salafy31)

g. Kecenderungan untuk melakukan perlawanan terhadap pemerintah kurang memeperhatikan penyakit social masyakat (maksiat dan kemungkaran).

31

(14)

DAFTAR PUSTAKA

Al-zastrow,Geraakan IslamSimbolik, yogayakarta: LKiS, 2006

Azzumardi Azzra, Islam Reformis: Dinamika Intelektual dan Gerakan , Jakarta: Rajdawali Press

Deliar Nur. Gerakan Islam Radikal di Indonesia. Oxford University Press:Jakarta:1980 .cet 1.

Endang turmudi dkk, Islam dan radikalisme di Indonesia, Jakarta: LIPI Press, 2005.

G.H. Jansen, Islam Militan,Penrjemah. Armahedi Mahzar, Bandung: Pustaka 1980, Khamami zada, Islam Radikal., Jakarta: teraju, 2002.

H.M.Nafis Deradikalisasi Agamamelalui Dakwah Islamiyah yang Rahmatal li’alamin dalam konteks KeIndonesiaan, Makalh Seminar Nasional Deradikalisasi Agama tanggal 20 Juni 2011

Hamdani Zada, Pergulatan Ormas-ormas Islam Garis Keras .Jakarta: Teraju, 2002.

Harun Nasution, Teologi Islam Aliran-Aliran Sejarah Analisa Perbandingan, Jakarta: UI press,1986,.

http://buntetpesantren.org/index.php?option=com_content&view=arti

cle&id=919:Islam-radikal-antara-pro-dan-kontra-&catid=37:nasehat-kyai&Itemid=79

Jamhari, Gerakan salafi Radikal di Indonesia, Jakarta: Raja Grafindo Persada Press, 2004

John L. Esposito, The Islamic Threat Myth or Reality, Oxford: Oxford Universiry Press

M Imdadun Rahmat, Arus baru Islam Radikal Transmisi Islam Timur Tengah ke Indonesia, Jakarta: Erlangga, 2007

M. Rusli Karim, Negara dan Peminggiran Islam Politik, Yogayakarta: Tiara wacana. 1999

Mark R Woodward, Islam Jawa, Yogyakarta:LKis 1999.

(15)

R. William Liddle, “Skripturalisme dalam Media Dakwah: Suatu Bentuk Pemikiran dan aksi politik Islam di Masa Orde Baru” dalam, Mark R. woodward, Jalan Baru Islam Memetakan Paradigma Mutahkir Islam Indonesia, Cet.I, Bandung: Mizan, 1999. Zainuddin fananie dkk, Radikalisme Keaagamaan dan perubahan

Sosial,Surakarta: Universitas Muhammadiyah Press, 2002 Zuli Qodir, Sosiologi Agama Esai-Esai Agama di Ruang

Referensi

Dokumen terkait

Dari hasil pemotongan citra, kemudian dilakukan proses grayscale dan histogram untuk mendapatkan nilai piksel pada udang sehat dan udang sakit yang ditunjukkan dalam Tabel 1

Kebutuhan akan Pengolahan Data dan Informasi tersebut pun semakin tinggi dengan adanya kebutuhan dari pasien untuk mendapatkan Informasi yang cepat dan tepat..

Penurunan volume pembengkakan kaki tikus diduga karena didalam ekstrak terkandung senyawa metabolit sekunder seperti alkaloid, flavonoid, tanin, saponin, dan glikosida yang

Meskipun substansinya tidak jauh berbeda dengan terma-terma lain, seperti Islam Inklusif, Islam Transformatif dan Islam Progresif (Progressive Islam) merupakan istilah baru

Berdasarkan perhitungan beban kerja yang telah dilakukan, beban kerja mental pada operator3 sebesar 62.Maka berdasarkan nilai tersebut, beban kerja mental yang dialami

wisata, merangkum mata pelejaran, membuat hasil karya di pajang di dalam kelas ataupun di mading, membuat kliping, belajar kelompok, kegiatan literasi (sebelum pembelajaran di mulai

Secara garis besar, kegiatan ini bertujuan (1) memperkenalkan seni lukis di tingkat pelajar SMA dan SMK sederajat baik secara teknik maupun wacana, (2) untuk

Penelitian ini bertujuan untuk: 1) mengetahui konsep pengembangan manajemen kurikulum dan prestasi belajar peserta didik, 2) mengetahui kondisi empiris