• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II LANDASAN TEORI"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Komunikasi Kelompok

Komunikasi kelompok merujuk pada komunikasi yang dilakukan kelompok, yang lebih sering dilakukan oleh kelompok kecil. Komunikasi kelompok dengan sendirinya melibatkan juga komunikasi antarpribadi. Faktor komunikasi didalam interaksi kelompok sangat berperan pada dinamika yang terjadi didalam kelompok. Karena didalam berkomunikasi adanya perpindahan pesan berupa ide dan gagasan yang akan diubah menjadi simbol oleh komunikator kepada komunikan melalui media (Huraerah dan Purwanto, 2006:34). Faktor komunikasi didalam kelompok merupakan hal yang sangat penting pada dinamika yang terjadi didalam kelompok. Dari komunikasi merupakan faktor penting ini, didalam komunikasi kelompok juga memiliki hambatan didalamnya. Hambatan yang ada seperti cara penyampaian simbol-simbol dan cara pengolahan simbol serta penggunaan media yang kurang tepat. Selain itu ada faktor-faktor yang perlu diperhatikan didalam berkomunikasi khususnya didalam komunikasi kelompok (Huraerah dan Purwanto, 2006: 38-39).

1. Tingkat Kecerdasan

Tingkat kecerdasan dapat berperan didalam mengolah dan mengubah ide ke dalam simbol yang dapat digunakan dalam situasi komunikasi yang sedang berlangsung.

2. Kepribadian

Kepribadian ini dapat dilihat seperti motivasi, emosi dan sebagainya. Hal itu turut pula mempengarungi dalam berkomunikasi, sehingga pengolahan terhadap ide dan pesan dapat pula sesuai dengan situasi komunikasi.

3. Latar belakang pendidikan

Pendidikan juga mempengaruhi bagaimana seseorang dapat mengolah simbol-simbol komunikasi. Tetapi juga kadangkala tidak linierberati tidak berati semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, maka ia akan lebih baik dalam menggunakan simbol didalam berkomunikasi.

(2)

Hal ini berperan pula dalam berkomunikasi, karena dengan pengalamannya ia dapat menggunakan simbol-simbol yang sesuai dalam berkomunikasi.

5. Sosial-budaya

Sosial-budaya mempengaruhi proses dan situasi komunikasi. Pada situasi tertentu ditentukan cara berkomunikasi didalam kelompok yang seharusnya dilakukan. Demikian hal ini menjadi norma dalam berkomunikasi pada masyarakat tersebut.

Menurut Adler dan Rodman, terdapat empat elemen komunikasi kelompok1, yaitu interaksi, waktu, ukuran dan tujuan.

1. Interaksi merupakan faktor yang paling penting dalam komunikasi kelompok. Karena melalui interaksi kita dapat melihat perbedaan antara kelompok dengan istilah yang disebut dengan coact yaitu sekumpulan orang yang secara bersama-sama memiliki aktivitas yang sama, namun tanpa komunikasi satu sama lain.

2. Waktu, sangat diperlukan seseorang untuk berinteraksi satu dengan yang lain. kelompok menghendaki interaksi dalam waktu yang lama, karena mampu mengenal karakteristik satu dengan yang lain.

3. Ukuran atau jumlah, ini berkaitan dengan jumlah anggota kelompok. Tidak ada ukuran yang pasti berapa jumlah anggota dalam satu kelompok. Berkisar 3-8 orang, 3-15 orang, dan 3-20 orang. Untuk membedakan perbedaan jumlah anggota tersebut, muncul konsep small-hess, yaitu kemampuan setiap anggota kelompok untuk dapat mengenal satu dengan yang lain dalam kelompok.

4. Tujuan, mengandung arti bahwa keanggotaan dalam satu kelompok akan membantu individu lain untuk dapat mewujudkan tujuan bersama.

2.2 Teori Kelompok Bungkam

Teori kelompok bungkam berasal dari pencetusnya yaitu Edwin dan Shirly Ardener yang merupakan para antropolog bergerak dibidang sosial, mereka tertarik dengan struktur dan

1

Di unduh http://ravii.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/54297/Teori+kom-kelompok.doc pada tanggal 1 Agustus pukul23.10 WIB

(3)

hierarki sosial yang ada di masyarakat (Richard West, 2010 : 197). Sebuah kelompok masyarakat tersusun dari bagian teratas hierarki sosial yang menentukan sistem komunikasi bagi suatu budaya masyarakat. Kelompok kekuasaan rendah seperti yang dianggap masyarakat yaitu wanita, kaum miskin dan orang kulit berwarna harus belajar keras dalam sebuah sistem komunikasi yang dikembangkan oleh kelompok dominan yaitu kelompok atas. Dari hal tersebut antropolog sosial mengkaji mengenai wanita didalam budaya dari pengalamannya wanita berkomunikasi dengan pria hampir secara eksklusif, yang menjadikan wanita menghadapi kesulitan memberikan suara. Kesulitan memberikan suara ini diakibatkan dari pengalaman mereka diwakilkan dari sudut pandang yang berbeda yaitu sudut pandang pria.

Penerapan teori kelompok bungkam sendiri berfokus pada wanita sebagai kelompok bisu, tetapi teori ini dapat digunakan pada kelompok manapun yang tidak dominan. Didalam teori bungkam kelompok dominanlah yang berkuasa diatas kelompok lainnya. Dalam meletakkan fokus terhadap permasalahan pria dan wanita yang perlu adanya klasifikasi istilah yaitu jenis kelamin dan gender. Karena didalam teori kelompok bungkam jenis kelamin dan gender berpengaruh pada pembagian struktur kekuasaan kelompok. Saat ini pengertian jenis kelamin dan gender kadang salah dimaknai sama, padahal jenis kelamin merupakan menunjuk kategori biologis yaitu laki-laki dan perempuan sedangkan gender merupakan definisi perilaku yaitu sifat manusia.

Cheris Kramarei (1981) membangun teori kelompok bungkam berfokus pada komunikasi, yang memiliki tujuan lebih terbatas ( Richard West, 2010 : 201 ). Terdapat 3 asumsi dalam teori kelompok bungkam yang dikemukakan Kramarei.

1) Wanita memersepsikan dunia secara berbeda dibandingkan pria karena pengalaman pria dan wanita yang berbeda serta adanya kegiatan-kegiatan yang berakar pada pembagian pekerjaan.

2) Karena dominasi politik mereka, sistem persepsi pria dominan menghambat ekspresi bebas dari model alternatif wanita mengenai dunia.

3) Agar dapat berpartisipasi di masyarakat, wanita harus mentransformasi model mereka sendiri sesuai dengan sistem ekspresi pria yang diterima.

(4)

Dalam buku yang berjudul “Representasi Sosial : Seksual, Kesehatan, dan Identitas”, menjelaskan representasi adalah sudut pandang dari sistem nilai, ide dan praktik yang membangun pemaknaan sosial (Ni Wayan W.A, 2010 : 44 dalam buku Representasi Sosial : Seksualitas, Kesehatan, dan Identitas, Kumpulan Penelitian Psikolog, 2010)2. Selain itu, representasi juga diartikan sebagai suatu hal yang mengarah pada proses realitas disampaikan lewat komunikasi, bunyi, kata-kata, atau kombinasi lainya3. Dengan kata lain representasi merupakan pemaknaan lewat bahasa (simbol, tanda dan gambar) dan dari situlah seseorang dapat menjelaskan konsep pikiranatau ide-ide tentang suatu hal.Representasi juga merupakan pandangan masyarakat tentang suatu hal atau objek, yang kemudian dibagikan kepada orang lain melalui komunikasi sehari-hari secara terus menerus dan akhirnya mempengaruhi perilaku seseorang itu sendiri4.

Terdapat dua tahapan pembentukan representasi (Nyoman Trisna, 2010 : 84)5, yaitu : 1. Anchoring adalah proses pengenalan atau pengkaitan suatu objek dalam pikiran

seseorang. Pada proses ini, informasi yang baru didapat dibaurkan kedalam sistem pikiran dan makna sebelumnya.

2. Objectification adalah proses penerjemahkan ide abstrak dari suatu objek ke dalam gambaran tertentu yang lebih konkrit. Proses ini dipengaruhi oleh sosial individu (norma, nilai, kode) yang merupakan bagian dari penataan representasi objek tersebut.

Konsep representasi bisa berubah-ubah karena selalu ada pemaknaan baru dari representasi yang sudah ada. Makna sendiri juga tidak pernah tetap, karena ada selalu ada proses negosiasi yang disesuaikan dengan keadaan yang baru6.Tujuan representasi adalah untuk menjelaskan proses terjadinya pemikiran sosial dengan kebiasaan yang baru, dan pemahaman tersebut berdasar dari pengalaman sosial yang berfungsi untuk mengarahkan kebiasaan, perilaku, dan berkomunikasi dalam lingkungan sosial (Irene Kusuma, 2010 : 126).Teori ini menekankan

2

Handayani, Christina Siwi.2010.Representasi Sosial : Seksualitas, Kesehatan, dan Identitas, Kumpulan Penelitian

Psikologi.Yogyakarta:Universitas Sanata Dharma. 3

Diunduh pada http://eprints.upnjatim.ac.id/4652/2/file2.pdf pada tanggal 20 Februari 2018 pukul 00.08 WIB.

4

Diunduh pada

http://repository.usu.ac.id/bitstream/handle/123456789/44806/Chapter%20II.pdf?sequence=4&isAllowed=y pada tanggal 20 Februari 2018 pukul 13.16 WIB

5

Handayani, Christina Siwi.2010.Representasi Sosial : Seksualitas, Kesehatan, dan Identitas, Kumpulan Penelitian

Psikologi.Yogyakarta:Universitas Sanata Dharma. 6

(5)

pada pentingnya pengalaman individu dan bagaimana pengalaman tersebut disampaikan dan dipahami oleh masyarakat. Segala macam ide, tanda, makna saling dikomunikasikan dalam masyarakat hingga menjadi sebuah representasi sosial.

2.4 Penelitian Terdahulu

Dalam penelitian ini, penulis memaparkan dua penelitian terdahulu yang relevan dengan topik yang akan diteliti yaitu tentang representasi masyarakat sebagai kelompok terbungkam untuk mempertahankan budaya pernikahan dini di Kecamatan Juwana Kabupaten Pati.

Susi Septi Harningrum dan Daru Purnomo (2014) dari Universitas Kristen Satya Wacana, dalam skripsinya yang berjudul “PERILAKU SEKS PRANIKAH DALAM BERPACARAN (Studi kasus Perilaku Seks Pranikah di Lingkungan Remaja di Kota Salatiga)”. Penelitian tersebut menggunakan teori Penyimpangan sosial, seks pranikah, konsep anomie dan penyimpangan perilaku, dengan metode deskriptif kualitatif. Hasil yang didapat dari penelitian ini adalah adanya perubahan nilai berpacaran yaitu yang dulu untuk mencari pasangan hidup yang nantinya diteruskan ke pernikahan, namun sekarang berubah menjadi hanya untuk status agar diakui oleh teman dan lingkungannya. Hal inilah yang akhirnya membuat para remaja merubah peran berpacaran menjadi peran suami istri dengan melakukan seks.Perilaku seks terjadi dalam berpacaran karena faktor rasa ingin tahu, pergaulan dan kurangnya pendidikan seks yang diberikan pada remaja. Rasa keingintahuan inilah yang akhirnya menyebabkan remaja mencari segala informasi tentang seks dari berbagai media yang ada. Dari faktor tersebut, kemudian muncul dampak yang terjadi terhadap kehidupan sosial remaja yang melakukan seks, diantaranya pertemanan, perilaku menyimpang dan pergeseran nilai dan norma budaya berpacaran.

Rani Fitrianingsih (2015) dari Universitas Jember, dalam skripsinya yang berjudul “FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB PERNIKAHAN USIA MUDA PEREMPUAN DESA SUMBERDANTI KECAMATAN SUKOWONO KABUPATEN JEMBER”.Penelitian ini mengunakan teori pernikahan muda dan metode penelitian kualitatif. Hasil dari penelitian ini adalah banyak faktor yang menyebabkan terjadinya pernikahan dini di Kabupaten Jember, diantaranya faktor tradisi, adat istiadat, rendahnya tingkat pendidikan dan tingkat ekonomi.

Penelitian dari Lia Margareth (2012) dari Universitas Kristen Satya Wacana, dengan judul skripsinya “STRATEGI KOMUNIKASI SRIKANDI MERAPI DALAM UPAYA MENGATASI TERJADINYA PERNIKAHAN USIA DINI DI KECAMATAN SELO”.

(6)

Penelitian ini menggunakan teori komunikasi, strategi komunikasi, komunikasi interpersonal, dan komunikasi massa. Metode penelitian yang digunakan yaitu pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif – eksplanatif. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah strategi komunikasi dari Srikandi Merapi adalah interpersonal, karena bentuk desa yang masih harmonis dan memiliki sikap kekeluargaan yang tinggi. Cara tersebut sangat efektif dalam melakukan pendekatan dan perkenalan dengan seluruh masyarakat. Selain itu penggunaan media sosial digunakan karena sasaran juga terdapat anak muda. Komunitas Srikandi Merapi menggunakan strategi komunikasi melalui media massa, sosialisasi, dan advokasi.

Dari ketiga penelitian diatas, penulis tidak menemukan judul yang sama. Penelitian Susi Septi H dan daru Purnomo. meneliti tentang perilaku seks yang menyimpang yang dilakukan oleh remaja saat berpacaran. Penelitian tersebut juga mengamati faktor dan dampak apa saja yang terjadi dari perilaku seks pranikah. Lalu penelitian Rani Fitrianingsih membahas tentang faktor apa saja yang menyebabkan pernikahan dini marak dilakukan oleh perempuan Jember. Sedangkan penelitian Lia Margareth lebih meneliti tentang bagaimana strategi komunikasi yang dilakukan oleh komunitas Srikandi Merapi untuk mengatasi terjadinya pernikahan dini. Dari ketiga penelitian terdahulu tersebut, penulis ingin menjadikan tambahan referensi dalam memperkaya bahan kajian dalam penelitian yang akan diteliti.

2.5 Kerangka Berpikir

Gambar 1.

Kerangka Pikir Penelitian

Tradisi Pernikahan Dini di Kecamatan Juwana Kabupaten Pati

Representasi Masyarakat di Kecamatan Juwanaterhadap pernikahan dini

(Tanda, Makna, Nilai)

Teori Kelompok Bungkam

Pernikahan dini masih dilakukan di Kecamatan Juwana untuk

(7)

Kuantitas data pernikahan di KUA Kecamatan Juwana tahun 2017 sebanyak 324 pasangan, dan sebanyak 30% perempuan diantaranya menikah dengan usia dibawah 20 tahun7. Hal tersebut memang beberapa terjadi karena hamil duluan, namun juga banyak dikarenakan orang tua yang malu anaknya dianggap perawan tua. Dalam budaya Jawa, perempuan dengan kata lain istri harus bisa tiga hal, yaitu “masak, macak, manak” yang berarti harus bisa memasak, berdandan, dan mengandung anak. Hal inilah yang masih dipercayai oleh masyarakat di Juwana.

Teori kelompok bungkam meletakkan fokus pada kelompok yang memiliki dominan dapat berkuasa terhadap kelompok yang tak dominan. Anak (perempuan) disini sebagai kelompok bisu atau tak dominan sedangkan orang tua menjadi kelompok dominan. Teori representasi ingin melihat proses komunikasi dalam pembentukan makna pernikahan dini yang masih menjadi tradisi di Juwana.

7

Referensi

Dokumen terkait

digunakan sebagai media komunikasi serial melalui USB dan muncul sebagai COM Port Virtual (pada Device komputer) untuk berkomunikasi dengan perangkat lunak pada

Sebagai contoh, itu mungkin dapat di katakan bahwa suatu sistem yang diberikan terdiri dari massa, pegas dan damper tersusun sebagi yang diperlihatkan dalam gambar

Ketersediaan sistem cluster memiliki pengertian bahwa sebuah sistem yang dibangun akan terus menjaga kontinyuitas sistemnya dengan cara melakukan backup sistem jaringan

Pada alat v piston magnetik, kita menggunakan konsep dari motor bakar dengan memanfaatkan putaran piston untuk menghasilkan putaran pada poros, berikut adalah

Dari sumber di atas didapat pengertian database adalah suatu sistem penyimpanan data yang tersusun atas sekumpulan data yang secara logika saling terkait yang

Logo jenis ini terdiri dari nama perusahaan atau produk dengan gaya tipografis yang berkarakter kuat, tersusun dari bentuk-bentuk grafis seperti oval, kotak, atau

“Bagan alir (flowchart) adalah bagan (chart) yang menunjukan alir (flow) di dalam program atau prosedur sistem secara logika.Bagan alir digunakan terutama untuk alat

Pengkodean merupakan teknik untuk merancang kode suatu program dimana kode yang yang dibuat tersusun dari aturan-aturan yang dirancang berdasarkan elemen-elemen tertentu