• Tidak ada hasil yang ditemukan

AUDIT JUDGMENT DALAM TEKANAN KETAATAN DAN KOMPLEKSITAS TUGAS. Oleh : Christina Dwi Cahyaningrum NIM :

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "AUDIT JUDGMENT DALAM TEKANAN KETAATAN DAN KOMPLEKSITAS TUGAS. Oleh : Christina Dwi Cahyaningrum NIM :"

Copied!
48
0
0

Teks penuh

(1)

AUDIT JUDGMENT DALAM TEKANAN KETAATAN DAN

KOMPLEKSITAS TUGAS

Oleh :

Christina Dwi Cahyaningrum

NIM : 232011139

KERTAS KERJA

Diajukan kepada Fakultas Ekonomika dan Bisnis

Guna Memenuhi Sebagian dari

Persyaratan-persyaratan untuk Mencapai

Gelar Sarjana Ekonomi

FAKULTAS

: EKONOMIKA DAN BISNIS

PROGRAM STUDI : AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMIKA DAN BISNIS

UNIVERSITAS KRISTEN SATYA WACANA

SALATIGA

2015

(2)
(3)
(4)
(5)

FAKULTAS EKONOMIKA DAN BISNIS UNIVERSITAS KRISTEN SATYA WACANA Jalan diponegoro 52-60 :(0298) 321212, 311881 Telex 322364 Salatiga 50711- Indonesia Fax. (0298) -321433 ii

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA TULIS SKRIPSI

Yang bertanda tangan di bawah ini :

Nama : Christina Dwi Cahyaningrum

NIM : 232011139

Program Studi : Akuntansi

Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga

menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi :

Judul : Audit Judgment Dalam Tekanan Ketaatan dan Kompleksitas Tugas

Pembimbing : Dr. Intiyas Utami, SE, MSi, Ak, CA Tanggal diuji :

adalah benar-benar karya Saya.

Di dalam skripsi ini tidak terdapat keseluruhan atau sebagian tulisan atau gagasan orang lain yang saya ambil dengan cara menyalin atau meniru dalam bentuk rangkaian kalimat atau simbol yang saya aku seolah-olah sebagai tulisan saya sendiri tanpa memberikan pengakuan pada penulis aslinya.

Apabila kemudian terbukti bahwa saya ternyata melakukan tindakan menyalin atau meniru tulisan orang lain seolah-olah hasil pemikiran saya sendiri, saya bersedia menerima sanksi sesuai peraturan yang berlaku di Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga, termasuk pencabutan gelar kesarjanaan yang telah saya peroleh.

Salatiga, 7 Januari 2015 Yang memberi pernyataan,

_______________________ Christina Dwi Cahyaningrum

(6)

iii AUDIT JUDGMENT DALAM TEKANAN KETAATAN DAN

KOMPLEKSITAS TUGAS

Oleh :

Christina Dwi Cahyaningrum NIM : 232011139

KERTAS KERJA

Diajukan kepada Fakultas Ekonomika dan Bisnis Guna Memenuhi Sebagian dari

Persyaratan-persyaratan untuk Mencapai Gelar Sarjana Ekonomi

FAKULTAS : EKONOMIKA DAN BISNIS

PROGRAM STUDI : AKUNTANSI

Disetujui oleh :

Dr. Intiyas Utami, SE, MSi, Ak, CA Pembimbing Utama

FAKULTAS EKONOMIKA DAN BISNIS UNIVERSITAS KRISTEN SATYA WACANA

SALATIGA 2015

(7)

iv

SARIPATI

Tekanan dari berbagai pihak berkepentingan diperkirakan mempengaruhi auditor dalam membuat keputusan. Tugas yang rumit dan saling terkait juga diperkirakan menghambat auditor dalam memperoleh informasi, memproses dan menentukan audit judgment. Penelitian ini bertujuan untuk meneliti keakuratan audit judgment yang dibuat oleh auditor yunior apabila berhadapan dengan kondisi tekanan ketaatan dan kompleksitas tugas. Penelitian ini dilakukan di Universitas Kristen Satya Wacana dengan partisipan mahasiswa S1 akuntansi Fakultas Ekonomika dan Bisnis.

Penelitian ini menguji keakuratan audit judgment yang diberikan oleh auditor yunior dalam keadaan tekanan ketaatan dan kompleksitas tugas. Penelitian ini menggunakan desain eksperimental 2x2x2 beetwen subject dengan total 114 partisipan mahasiswa yang berperan sebagai auditor yunior menghasilkan 80 data siap olah. Perlakuan diberikan dalam bentuk tekanan ketaatan (tinggi dan rendah) dan kompleksitas tugas (tinggi dan rendah). Hasil penelitian menunjukkan bahwa grup yang mendapatkan perlakuan tekanan ketaatan rendah dan kompleksitas tugas yang rendah pula akan menghasilkan audit judgment dengan keakuratan yang tinggi.

(8)

v

ABSTRACT

Pressure from other parties may impact the auditor's decision. Its complex and interconnected assignments can also inhibit auditor to obtain the information and process it to determine the audit judgment. This study aims to investigate the accuracy of audit judgment. This research was conducted in Satya Wacana Christian University's bachelor degree students of Accounting Department.

This study examined the accuracy of the audit judgment given by a junior auditor in a state of obedience pressure and the task complexity. This study used an experimental design 2x2x2 between subject with participants from 114 bachelor degree students of accounting role played as a junior auditor, generated 80 data ready to be analyzed. The treatment is given in the form of obedience pressure (high and low) and the complexity of the task (high and low). The results showed that the group who received lower obedience pressure and lower task complexity will generate audit judgment with a higher accuracy.

(9)

vi

KATA PENGANTAR

Fresh graduated S1 Akuntansi yang bekerja pada sebuah kantor akuntan publik tentunya telah memiliki bekal secara teori mengenai ilmu pengauditan, namun tanpa disadari lulusan yang telah berpindah peran sebagai auditor yunior akan menemui hal-hal yang belum tentu ditemui selama menjalani masa perkuliahan. Tekanan yang berasal dari senior atau klien dan kompleksnya tugas yang harus diselesaikan diduga mampu mempengaruhi auditor yunior dalam menentukan audit judgment.

Tugas akhir ini merupakan hasil penelitian yang dilaksanakan melalui studi eksperimen terhadap mahasiswa sebagai penyulih auditor. Variabel tekanan ketaatan, kompleksitas tugas dan audit judgment dibahas dalam telaah pustaka dan pengembangan hipotesis. Metoda penelitian disajikan dengan memuat desain penelitian eksperimen. Hasil dari analisis disajikan sebagai hasil pengujian hipotesis. Penelitian ini diakhiri dengan simpulan, implikasi dan keterbatasan penelitian.

Salatiga, 7 Januari 2015

(10)

vii

UCAPAN TERIMA KASIH

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yesus yang karena anugerah-Nya kertas kerja ini dapat terselesaikan dengan baik. Tidak lupa penulis juga mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah berperan selama penelitian berlangsung hingga tugas akhir ini dapat penulis selesaikan dengan baik. Secara khusus ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada:

1. Yang terkasih papa, mama, dan Yurina. Terima kasih atas perhatian dan doa kepada penulis sekaligus menjadi penyemangat penulis dalam menyelesaikan tugas akhir.

2. Ibu Dr. Intiyas Utami, SE, M.Si, Ak, CA selaku dosen pembimbing yang telah memberikan inspirasi, waktu, arahan dan bimbingan selama menyelesaikan kertas kerja.

3. Sdr. David A. Pesudo, SE, M.Ak yang telah memberikan kesempatan bagi penulis untuk melaksanakan laboratorium eksperimen dalam kelas Pengauditan yang beliau ampu.

4. Sdri. Giovania, Ine dan Tri Ika yang telah banyak mendukung dan ikut bekerja keras selama pelaksanaan laboratorium eksperimen penelitian.

5. Sdr. Isser Alberto Papilaya melalui keterampilannya membantu penulis dalam menyelesaikan video karakteristik perusahaan sebagai instrument penelitian.

6. Mahasiswa mata kuliah Pengauditan semester ganjil tahun ajaran 2014-2015 yang telah bersedia menjadi partisipan selama laboratorium eksperimen berlangsung.

Serta pihak-pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu yang telah mendukung dalam penyelesaian tugas akhir ini.

Salatiga, 7 Januari 2015 Penulis

(11)

viii

DAFTAR ISI

AUDIT JUDGMENT DALAM TEKANAN KETAATAN DAN KOMPLEKSITAS

TUGAS ... i

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA TULIS SKRIPSI ... ii

LEMBAR PERSETUJUAN PENGUJIAN ... iii

SARIPATI ... iv

ABSTRACT ... v

KATA PENGANTAR ... vi

UCAPAN TERIMA KASIH ... vii

DAFTAR ISI ... viii

DAFTAR TABEL ... x

DAFTAR BAGAN ... xi

DAFTAR GAMBAR ... xii

DAFTAR LAMPIRAN ... xiii

PENDAHULUAN ... 1

TELAAH PUSTAKA DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS ... 6

Tekanan Ketaatan ... 6

Kompleksitas Tugas ... 7

Audit Judgment ... 8

Hubungan Tekanan Ketaatan dengan Audit Judgment ... 10

Hubungan Kompleksitas Tugas dengan Audit Judgment ... 12

Interaksi Tekanan Ketaatan, Kompleksitas Tugas dengan Audit Judgment .. 13

METODA PENELITIAN ... 14

Rancangan Penelitian ... 14

Teknik Analisis ... 16

Tugas dan Prosedur Analisis ... 16

HASIL PENELITIAN ... 18

(12)

ix Manipulation Check ... 19 Pengujian Randomisasi ... 20 Uji Hipotesis 1 ... 21 Uji Hipotesis 2 ... 22 Uji Hipotesis 3 ... 24 PENUTUP ... 27 Kesimpulan ... 27 Implikasi Penelitian ... 28 Keterbatasan Penelitian ... 29 DAFTAR PUSTAKA ... 30 LAMPIRAN ... 31

(13)

x

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Matriks Eksperimen Penelitian ... 15

Tabel 2. Profil Partisipan ... 17

Tabel 3. Manipulation Check pada Setiap Perlakuan ... 19

Tabel 4. Hasil Uji One Way Anova ... 20

Tabel 5. Hasil Pengujian Hipotesis 1 ... 21

Tabel 6. Hasil Pengujian Hipotesis 2 ... 22

Tabel 7. Test of Between Subjects Effects pada Data Hipotesis 3 ... 24

(14)

xi

DAFTAR BAGAN

(15)

xii

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Diagram Plot atas Interaksi Tekanan Ketaatan dan Kompleksitas Tugas ... 25

(16)

xiii

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Modul Penugasan Audit Grup 1 ... 32

Lampiran 2. Modul Penugasan Audit Grup 2 ... 46

Lampiran 3. Modul Penugasan Audit Grup 3 ... 60

(17)

1

AUDIT JUDGMENT DALAM TEKANAN KETAATAN DAN

KOMPLEKSITAS TUGAS

Christina Dwi Cahyaningrum

Univesitas Kristen Satya Wacana Salatiga [email protected]

PENDAHULUAN

Sejarah mencatat kasus Phar Mor Inc. sebagai kasus fraud yang melibatkan auditor. Eksekutif di Phar Mor secara sengaja melakukan fraud untuk mendapatkan keuntungan financial. Dalam melakukan fraud, top manajemen Phar Mor membuat laporan ganda, yaitu laporan persediaan yang tidak sama dengan laporan bulanan keuangan (monthly financial report). Dalam mempersiapkan laporan-laporan tersebut, manajemen Phar Mor sengaja merekrut staf dari Kantor Akuntan Publik (KAP) Cooper & Lybrand. Staf-staf tersebut yang kemudian dipromosikan menjadi vice president bidang financial dan controler, yang kemudian terbukti turut terlibat aktif dalam fraud tersebut (academia.edu).

Fraud seperti yang terjadi dalam kasus Phar Mor terjadi akibat tiga hal yaitu insentive/pressure, opportunity dan rationalization/attitude. Ketiga kondisi atau hal ini sesuai dengan yang dijelaskan dalam SAS 99 (AU316) mengenai fraud yang timbul atas kecurangan laporan keuangan dan penyelewengan aktiva tetap. Insentive/pressure adalah kondisi ketika manajemen atau karyawan mendapat insentive atau tekanan (pressure) yang menyebabkan mereka terdorong untuk melakukan fraud. Opportunity adalah peluang terjadinya fraud akibat lemahnya atau tidak efektifnya kontrol sehingga membuka peluang terjadinya fraud. Sedangkan rationalization/attitude menjelaskan teori yang menyatakan bahwa fraud terjadi karena kondisi nilai-nilai etika lokal yang memperbolehkan terjadinya fraud. Dalam kasus Phar Mor, setidak-tidaknya top manajemen telah membuktikan satu dari tiga penyusun triangle fraud, yaitu top manajemen telah melakukan pressure atau tekanan terhadap auditor (Pearson 2010).

(18)

2

Rochman (2014) dalam penelitiannya menyatakan bahwa kompetensi, tekanan ketaatan, pengalaman auditor berpengaruh terhadap pendeteksian temuan berindikasi fraud secara tidak langsung, melalui independensi sebagai variabel intervening. Profesi auditor baik sebagai auditor keuangan pemerintah maupun auditor keuangan swasta memiliki kode etik profesi akuntan. Di dalam standar profesi tersebut terdapat independensi, integritas dan obyektifitas merupakan syarat mutlak yang harus dimiliki oleh profesi akuntansi. Berdasarkan yang tertera di dalam Standar Profesional Akuntan Publik tentang Aturan Etika Kompartemen, auditor diharapkan mampu memenuhi standar tersebut dalam melaksanakan profesinya.

Sesuai yang tercantum dalam Akuntan Publik Pasal 101 mengenai independensi, dalam menjalani tugasnya, anggota KAP harus selalu mempertahankan sikap mental independen selama memberikan jasa profesional sebagaimana diatur dalam Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP) yang ditetapkan oleh IAI. Sikap mental independen tersebut harus meliputi independen secara fakta (in fact) maupun secara penampilan (in appearance).

Begitupula yang tercantum dalam Akuntan Publik Pasal 102 mengenai integritas dan obyektivitas, dalam menjalankan tugasnya, anggota KAP harus mempertahankan integritas dan obyektivitas, harus bebas benturan kepentingan (conflict of interest) dan tidak boleh membiarkan faktor salah saji material (material misstatement) yang diketahuinya atau mengalihkan pertimbangannya kepada pihak lain. Dalam kenyataannya, meski terdapat aturan jelas yang mengenai independensi, integritas dan obyektivitas auditor kerap berhadapan dengan berbagai tekananan yang mungkin akan mempengaruhi kemampuannya dalam mengatasi situasi dilematis.

Pemeriksaan laporan keuangan yang dilakukan oleh auditor memberikan opini dengan judgment yang didasari oleh pertimbangan terhadap perusahaan mengenai tidak adanya keraguan dalam kelangsungan hidup perusahaan. Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP) pada seksi 341 menyebutkan bahwa auditor bertanggung jawab untuk mengevaluasi apakah terdapat kesangsian besar terhadap kemampuan entitas dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya dalam periode waktu pantas, tidak lebih dari satu tahun sejak tanggal laporan

(19)

3

keuangan yang sedang diaudit selanjutnya periode tersebut akan disebut dengan jangka waktu pantas (Institut Akuntan Publik Indonesia 2011).

Audit judgment suatu pertimbangan yang dibuat oleh auditor yang dinilai dapat mempengaruhi dokumentasi bukti dan keputusan pendapat. Dalam pembuatan judgment, auditor memiliki kesadaran bahwa pertanggung jawaban merupakan faktor yang cukup penting karena penilaiannya akan ditinjau dan dimintai keterangan. Judgment mengacu pada aspek kognitif dalam proses pengambilan keputusan dan mencerminkan perubahan dalam evaluasi, opini dan sikap. Kualitas judgment menunjukkan seberapa baik kinerja seorang auditor dalam melaksanakan tugasnya.

Faktor eksternal mempengaruhi auditor dalam membuat keputusan. Faktor eksternal datang dari dalam perusahaan yaitu obedience pressure (tekanan ketaatan) dan comformity pressure (tekanan kesesuaian), yang dapat memberikan pengaruh langsung terhadap keputusan auditor (Faisal 2007). Selain itu banyak faktor yang mempengaruhi kinerja seorang auditor dalam pembuatan audit judgment, baik yang bersifat teknis maupun non teknis. Salah satu contoh faktor teknis yaitu adanya pembatasan lingkup atau waktu audit, sedangkan faktor non teknis seperti aspek-aspek perilaku individu yang dinilai dapat mempengaruhi audit judgment yaitu: gender, tekanan ketaatan, kompleksitas tugas, pengalaman auditor, pengetahuan dan sebagainya.

Auditor mungkin akan merasa berada dalam tekanan ketaatan ketika mendapatkan perintah dari atasan maupun permintaan dari klien untuk melakukan apa yang mereka inginkan dan mungkin bertentangan dengan standar dan etika profesi auditor. Tekanan ketaatan dari atasan menjadi hal yang cukup ditakutkan oleh seorang auditor karena tekanan atasan menimbulkan konsekuensi yang memerlukan biaya, seperti halnya tuntutan hukum, hilangnya profesionalisme dan hilangnya kepercayaan publik dan kredibilitas sosial (DeZoort dan Lord 1994). Individu yang memiliki kekuasaan dapat mempengaruhi perilaku orang lain melalui perintah yang diberikan. Dengan kata lain, auditor yang merasa dibawah tekanan akan menunjukkan perilaku dysfunctional dengan menyetujui melakukan kesalahan ataupun pelanggaran etika, termasuk dalam pembuatan judgment. Hal

(20)

4

ini menunjukkan bahwa tekanan yang diterima oleh auditor akan mempengaruhi baik atau buruknya kualitas suatu pengauditan.

Jamilah dkk (2007) melakukan penelitian terhadap auditor yang bekerja pada Kantor Akuntan Publik di Jawa Timur mengemukakan bahwa tekanan ketaatan berpengaruh secara signifikan terhadap audit judgment. Auditor yang berada dalam tekanan dan mendapati perintah dari atasan maupun klien untuk melakukan perilaku yang menyimpang dari standar profesional. Auditor yunior cenderung untuk mentaati perintah tersebut, hal ini menunjukkan bahwa auditor yunior tidak memiliki keberanian untuk tidak mentaati perintah atasan maupun klien, walaupun instruksi tersebut tidak tepat. Auditor yunior cenderung untuk tidak mengambil resiko untuk mencari pekerjaan lain atau kehilangan klien sebagai konsekuensi menentang perintah atasan maupun klien yang dianggap menyimpang dari standar profesional.

Terdapat beberapa penelitian berkenaan dengan variabel yang mempengaruhi audit judgment, terkhusus yang menggunakan variabel tekanan ketaatan dan kompleksitas tugas. Penelitian-penelitian tersebut telah memunculkan sintesis yang berhubungan dengan variabel independen tekanan ketaatan dan kompleksitas tugas terhadap variabel audit judgment. Sehingga memotivasi penelitian dengan variabel tekanan ketaatan dan kompleksitas tugas terhadap audit judgment kembali dilakukan dengan terdapat perbedaan insentif perlakuan selama penilitian.

Auditor merupakan profesi yang erat kaitannya dengan kondisi stres, hal ini disebabkan karena auditor tidak hanya harus menghadapi konflik peran tetapi juga tingkat kompleksitas tugas yang tinggi dari pekerjaan audit yang dihadapi. Selain itu auditor menghadapi tekanan pekerjaan yang dibawa oleh tuntutan presisi tinggi dan skeptisisme profesional tanggung jawab mereka untuk menghasilkan laporan audit yang berkualitas tinggi. Jones, Norman dan Wier (2010) menyatakan bahwa ada beberapa atribut yang berhubungan dengan karir auditor yang dapat menyebabkan situasi yang sulit yang menempatkan mereka dilingkungan kerja stres, yaitu ketika auditor berada di musim sibuk yang membuat mereka stress karena mereka harus bekerja selama lebih dari sepuluh jam per hari, dalam jangka waktu yang terbatas selama beberapa bulan.

(21)

5

Kompleksnya suatu pekerjaan juga dinilai dapat mempengaruhi seseorang dalam menjalankan tugasnya dan mempengaruhi kualitas pekerjaannya (Tan dan Alison 1999). Rumit dan kompleksnya suatu pekerjaan dapat mendorong seseorang untuk melakukan kesalahan-kesalahan selama pengerjaan tugas. Dalam bidang audit, kesalahan-kesalahan dapat terjadi pada saat mendapatkan, memproses dan mengevaluasi informasi. Kesalahan-kesalahan tersebut akan mengakibatkan tidak tepatnya keputusan maupun audit judgment. Auditor berpotensi menghadapi permasalahan yang kompleks dan beragam mengingat banyaknya bidang pekerjaan dan jasa yang dapat diberikan kepada klien.

Bonner (1994) mengemukakan terdapat tiga alasan pengujian terhadap kompleksitas tugas untuk sebuah situasi audit perlu dilakukan: 1) kompleksitas tugas diduga berpengaruh signifikan terhadap kinerja seorang auditor; 2) sarana dan teknik pembuatan keputusan dan latihan tertentu diduga telah dikondisikan sedemikian rupa ketika para peneliti memahami keganjilan pada kompleksitas audit; 3) pemahaman terhadap kompleksitas dari sebuah tugas dapat membantu tim manajemen audit perusahaan menemukan solusi terbaik bagi staf audit dan tugas audit.

Hasil penelitian Chung dan Monroe (2001), menyimpulkan bahwa kompleksitas tugas yang tinggi berpengaruh terhadap judgment yang diambil oleh auditor. Seperti halnya penelitian yang dilakukan oleh Abdolmohammadi dan Wright (1986), menyatakan bahwa terdapat perbedaan judgment yang diambil oleh auditor dalam kondisi tugas dengan tingkat kompleksitas tinggi dan kompleksitas rendah. Berbeda dengan penelitian yang dilaksanakan oleh Zulaikha (2002) yang meneliti mahasiswa S1 lulusan jurusan akuntansi yang sedang menempuh Program Pendidikan Akuntansi (PPA) dan Program Magister Sains Akuntansi (Maksi) menemukan bahwa kompleksitas tugas tidak berpengaruh signifikan terhadap audit judgment.

Dalam beberapa penelitian terdapat hasil research yang inkonkusif atau bertentangan satu dengan yang lain memotivasi riset penelitian pengaruh tekanan ketaatan dan kompleksitas tugas terhadap audit judgment yang dihasilkan oleh auditor yunior. Auditor yunior yang diperhadapkan dengan kondisi tekanan

(22)

6

ketaatan dan kompleksitas tugas dalam melaksanakan penugasan audit menghasilkan judgment yang berbeda.

Desain penelitian ini adalah eksperimen laboratorium dengan subjek mahasiswa S1 jurusan akuntansi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Kristen Satya Wacana (FEB UKSW) yang sedang menempuh mata kuliah Pengauditan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tekanan ketaatan dan kompleksitas tugas yang dikondisikan dengan perelakuan yang tinggi dan rendah akan mempengaruhi pengambilan keputusan audit judgment yang dilakukan oleh mahasiswa, dalam hal ini berperan sebagai auditor yunior. Manfaat penelitian ini secara teori, dapat memberikan kontribusi dalam menambah pengetahuan dalam bidang audit sehingga dapat menjadi acuan bagi penelitian selanjutnya. Sedangkan secara praktis, diharapkan mampu memberikan pengetahuan kepada auditor bahwa terdapat perbedaan keakuratan judgment dalam kondisi tekanan ketaatan dan kompleksitas tugas.

TELAAH PUSTAKA DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS

Tekanan Ketaatan

Tekanan ketaatan merupakan kondisi yang dialami seorang auditor apabila dihadapkan pada sebuah dilema penerapan standar profesi auditor (Jamilah dkk 2007). Pimpinan maupun klien dapat saja menekan auditor untuk melakukan perbuatan yang menyimpang dari standar profesi auditor. Hal ini tentunya menimbulkan tekanan pada diri auditor untuk menuruti atau tidak menuruti atas permintaan pimpinan atau klien yang menyimpang, sehingga seorang auditor sering kali diperhadapkan kepada situasi dilema penerapan standar profesi auditor dalam pengambilan keputusannya. Kekuasaan pimpinan dan klien menyebabkan auditor tidak lagi independen, karena ia menjadi tertekan dalam melakukan pekerjaannya.

Tekanan ketaatan timbul akibat kesenjangan ekspektasi antara entitas yang diperiksa dengan auditor yang menimbulkan konflik bagi auditor. Sesuai dengan standar audit umum (general audit), auditor dituntut untuk dapat memberikan

(23)

7

pendapat mengenai kewajaran laporan keuangan entitas. Pemberian opini wajar tanpa pengecualian yang tidak disertai bukti audit yang memadai dapat berubah dari masalah standar audit menjadi masalah kode etik. Apabila auditor memenuhi tuntutan entitas, hal tersebut dapat dikatakan sebagai pelanggaran atas standar profesi auditor. Ketika auditor menolak untuk memenuhi tuntutan atas keinginan pimpinan maupun klien, auditor dianggap berhasil dalam penerapan standar profesi audit.

Tekanan-tekanan dalam penugasan audit ini bisa dalam bentuk anggaran waktu, tenggat waktu, justifikasi maupun akuntabilitas dari pihak-pihak yang memiliki kekuasaan dan kepentingan seperti partner dan klien. Tekanan yang dianggap sebagai keterbatasan inilah yang membuat auditor mengambil tindakan yang melanggar standar pemeriksaan. Sebagai konsekuensinya, auditor tidak lagi dapat melaksanakan tugas audit dengan tidak independen dan melanggar standar yang ada bahkan auditor tidak lagi dapat melaksanakan tugasnya karena mendapatkan sanksi berupa pemberhentian penugasan dari klien. Pernyataan ini memungkinkan bahwa dalam pengambilan keputusannya auditor tidak lagi independen.

Berdasarkan penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa tekanan ketaatan auditor adalah tekanan yang diterima oleh auditor dalam menghadapi atasan dan klien untuk melakukan tindakan menyimpang dari standar profesi auditor. Tekanan ketaatan dapat diukur dengan keinginan untuk tidak memenuhi keinginan klien untuk berperilaku menyimpang dari standar profesional, akan menentang klien karena menegakkan profesionalisme dan akan menentang atasan jika dipaksa melakukan hal yang bertentangan dengan standar profesional dan moral (Jamilah dkk 2007).

Kompleksitas Tugas

Auditor selalu dihadapkan dengan tugas yang banyak, berbeda-beda dan saling terkait satu sama lainnya. Menurut Jamilah dkk (2007) kompleksitas merupakan sulitnya suatu tugas yang disebabkan oleh terbatasnya kapabilitas,

(24)

8

daya ingat serta kemampuan untuk mengintegrasikan masalah yang dimiliki oleh seorang pembuat keputusan. Dua aspek penyusun kompleksitas tugas yaitu tingkat kesulitan tugas dan struktur tugas. Tingkat kesulitan tugas dikaitkan dengan banyaknya informasi tentang tugas tersebut, sementara struktur terkait dengan kejelasan informasi (information clarity).

Beberapa tugas audit dipertimbangkan sebagai tugas dengan kompleksitas tinggi dan sulit, sementara yang lain mempersepsikannya sebagai tugas yang mudah. Persepsi ini menimbulkan kemungkinan bahwa suatu tugas audit sulit bagi seseorang, namun mungkin juga mudah bagi orang lain. Restuningdiah dan Indriantoro (2000), menyatakan bahwa kompleksitas muncul dari ambiguitas dan struktur yang lemah, baik dalam tugas-tugas utama maupun tugas-tugas lain. Pada tugas-tugas yang membingungkan (ambigous) dan tidak terstruktur, alternatif-alternatif yang ada tidak dapat diidentifikasi, sehingga data tidak dapat diperoleh dan hasilnya tidak dapat diprediksi.

Chung dan Monroe (2001) mengemukakan argumen yang sama, bahwa kompleksitas tugas dalam pengauditan dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu: 1) Banyaknya informasi yang tidak relevan dalam arti informasi tersebut tidak konsisten dengan kejadian yang diprediksikan; 2) Adanya ambiguitas yang tinggi, yaitu beragam outcome (hasil) yang diterapkan oleh klien dari kegiatan pengauditan.

Peningkatan kompleksitas dalam suatu tugas atau sistem, akan menurunkan tingkat keberhasilan tugas tersebut (Restuningdiah dan Indrianto 2000). Terkait dengan pengauditan, tingginya kompleksitas tugas dalam audit ini dapat mempengaruhi auditor untuk berperilaku dysfungtional dalam menentukan audit judgment.

Audit Judgment

Judgment auditor adalah pertimbangan auditor dalam menanggapi informasi yang ada yang akan mempengaruhi opini akhir dalam suatu pelaporan audit. Pertimbangan pribadi auditor tersebut dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya adalah faktor perilaku individu.

(25)

9

Menurut Mulyadi (2002) audit judgment adalah kebijakan auditor dalam menentukan pendapat mengenai hasil auditnya yang mengacu pada pembentukan suatu gagasan, pendapat atau perkiraan tentang suatu objek, peristiwa, status, atau jenis peristiwa lain. Proses audit atas laporan keuangan dilaksanakan oleh auditor melalui empat tahap utama yaitu: 1) perencanaan; 2) pemahaman; 3) pengujian struktur pengendalian intern; serta 4) penerbitan laporan audit.

Tanggungjawab yang besar seorang auditor yang sedang melaksanakan tugas audit terletak pada kemampuan mereka dalam membuat keputusan yang tepat berdasarkan pertimbangan atas keterangan dan bukti-bukti yang tersisa. Proses audit memerlukan penggunaan pertimbangan hampir pada setiap tahap audit. Pertimbangan-pertimbangan tersebut tidak hanya berpengaruh pada jenis opini yang diberikan auditor, tetapi juga berpengaruh dalam hal efisiensi pelaksanaan tugas audit (Jamilah dkk 2007). Dalam kaitannya dengan laporan keuangan, judgement yang diputuskan oleh auditor akan berpengaruh kepada opini auditor mengenai kewajaran laporan keuangan (Irwanti 2011).

Sebelum penelitian ini dibuat peneliti-peneliti terdahulu telah melakukan penelitian yang berkaitan dengan tekanan ketaatan, kompleksitas tugas dan audit judgment. Penelitian yang dilakukan oleh Zulaikha pada tahun 2006, menguji pengaruh interaksi gender, kompleksitas tugas dan pengalaman auditor dengan melakukan survey terhadap mahasiswa lulusan S1 jurusan akuntansi yang sedang menempuh Program Pendidikan Profesi Akuntan (PPA) dan Program Magister Sains Akuntansi (Maksi). Sebagai auditor, peran ganda perempuan ternyata tidak berpengaruh secara signifikan terhadap akuratnya informasi yang diproses dalam membuat judgment. Kompleksitas tugas tidak berpengaruh signifikan terhadap keakuratan judgment, demikian pula ketika kompleksitas berinteraksi (interaction effects) dengan peran gender, pengaruh tersebut juga tidak signifikan. Pengalaman sebagai auditor berpengaruh langsung terhadap judgment. Demikian pula ketika isu gender berinteraksi dengan pengalaman tugas sebagai auditor, maka interaksi tersebut berpengaruh secara signifikan terhadap judgment.

Penelitian mengenai pengaruh orientasi tujuan dan kompleksitas tugas pada kinerja audit judgment yang dilakukan oleh Sanusi dkk (2007) dengan melakukan survey terhadap auditor yang bekerja pada KAP di Malaysia

(26)

10

mengemukakan bahwa orientasi tujuan pembelajaran berhubungan positif dengan audit judgment performance. Orientasi tujuan penghindaran kinerja dan kompleksitas tugas berhubungan negatif dengan audit judgment performance. Orientasi tujuan pendekatan kinerja berinteraksi dengan kompleksitas tugas rendah berhubungan positif dengan audit judgment performance.

Jamilah dkk (2007) meneliti pengaruh gender, tekanan ketaatan dan kompleksitas tugas terhadap audit judgment melalui pengumpulan data berupa kuesioner dengan cara disampaikan langsung dan sebagian melalui mail survey ke KAP yang ada di Jawa Timur. Hasil penelitian menunjukkan gender tidak berpengaruh secara signifikan terhadap judgment, tekanan ketaatan berpengaruh secara signifikan terhadap audit judgment, kompleksitas tugas tidak berpengaruh secara signifikan terhadap audit judgment.

Hal tersebut sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Hartanto dan Indra (2001) mengenai analisis pengaruh tekanan ketaatan terhadap judgment auditor dengan menyebar distribusi kuesioner pada 280 mahasiswa jurusan akuntansi UGM, UII Yogyakarta, UNDIP dan UNS. Penelitian tersebut menyatakan bahwa tekanan ketaatan secara signifikan berpengaruh terhadap audit judgment. Autoritarianisme tidak berpengaruh secara signifikan terhadap judgment auditor yang mendapatkan tekanan ketaatan, dan gender tidak berpengaruh secara signifikan terhadap judgment auditor yang mendapatkan tekanan ketaatan.

Kualitas judgment yang dikeluarkan oleh auditor dihasilkan dari ketepatan auditor untuk melakukan audit judgment. Audit judgment yang dihasilkan auditor secara umum dipengaruhi oleh aspek-aspek individual yang meliputi antara lain tekanan ketaatan dan kompleksitas tugas. Aspek-aspek individual tersebut mempunyai pengaruh yang besar terhadap perilaku individu.

Hubungan Tekanan Ketaatan dengan Audit Judgment

Dalam penugasannya, auditor secara terus menerus berhadapan dengan dilema etika yang melibatkan pilihan antara nilai-nilai yang bertentangan (Jamilah dkk 2007). Semakin auditor mengalami tekanan dalam melaksanakan tugas

(27)

11

auditnya akan berpeluang besar terhadap dilema etika yang akan dialami oleh auditor, hal tersebut selanjutnya disebut sebagai tekanan ketaatan.

Tekanan ketaatan dapat berasal dari internal maupun eksternal. Tekanan dari internal auditor sendiri dapat berupa tekanan yang biasanya berkaitan dengan permasalahan keuangan akibat sifat serakah, kesadaran akan kebutuhan yang tinggi ataupun dalam kaitannya dengan job performance (perilaku takut kehilangan pekerjaan maupun keinginan untuk mendapatkan promosi). Tekanan dari eksternal dapat berasal dari pimpinan dan klien. Pada keadaan tersebut auditor diperhadapkan dengan berbagai instruksi, perintah, tekanan, standar audit atau etika profesi yang harus dipatuhi. Perintah atasan, keinginan klien ataupun individu yang memiliki otoritas dapat mempengaruhi proses pembuatan audit judgment yang tidak jarang perintah ataupun instruksi tersebut berindikasi untuk melanggar atau menyimpang dari prinsip etika profesi yang ada.

Tekanan yang diterima auditor dari klien menyebabkan auditor merasa dibawah tekanan dan cenderung berperilaku dysfunctional dengan menyetujui kesalahan, pelanggaran etika sampai proses pembuatan audit judgment yang mengakibatkan independensi auditor berkurang dan mempengaruhi kualitas judgment untuk memberikan opini atas laporan keuangan auditan sesuai yang diharapkan oleh klien. Hal ini sesuai dengan pemaparan Hartanto (2009) yang menyebutkan bahwa auditor yang mendapatkan perintah tidak tepat, baik dari atasan maupun klien cenderung akan berperilaku menyimpang dari standar profesional.

Jamilah dkk (2007) berkesimpulan bahwa tekanan ketaatan dapat diukur dengan keinginan untuk tidak memenuhi keinginan klien untuk berperilaku menyimpang dari standar profesional akan menentang klien karena menegakkan profesionalisme dan akan menentang atasan jika dipaksa melakukan hal yang bertentangan dengan standar profesional dan moral. Semakin tinggi auditor mendapatkan tekanan ketaatan, maka dimungkinkan auditor akan menunjukan perilaku yang menyimpang.

Penulis hendak meneliti dengan membandingkan dua kondisi tekanan ketaatan yang berbeda yaitu tekanan ketaatan yang diberikan dengan sangat

(28)

12

intensif (tinggi) dengan tekanan ketaatan yang tidak diberikan dengan intensif (rendah).

Berdasarkan argumentasi dan riset terdahulu, maka dapat dirumuskan hipotesis pertama sebagai berikut:

H1: Audit judgment dalam kondisi tekanan ketaatan tinggi menunjukkan keakuratan yang lebih rendah dibanding audit

judgment dalam kondisi tekanan ketaatan rendah.

Hubungan Kompleksitas Tugas dengan Audit Judgment

Kompleksitas tugas merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kinerja audit judgment. Pemahaman mengenai kompleksitas audit yang berbeda dapat membantu para manajer membuat tugas lebih baik dan pelatihan pengambilan keputusan (Bonner 2002). Tingkat sulitnya tugas selalu dikaitkan dengan banyaknya informasi tentang tugas tersebut, sementara struktur tugas terkait dengan kejelasan informasi (information clarity). Adanya kompleksitas tugas yang tinggi dapat mempengaruhi keakuaratan judgment yang dibuat oleh auditor.

Kompleksitas tugas diartikan sebagai kerumitan atas tugas yang beragam, terdiri dari bagian-bagian yang banyak, berbeda dan saling terkait satu dengan yang lain dan dapat pula dipengaruhi oleh kompleksitas tugas dari peran. Tingkat kerumitan yang dihadapi oleh auditor dapat mempengaruhi usaha yang dilakukan oleh auditor dalam memproses informasi yang kemudian dipakai dalam pengambilan keputusan audit atau audit judgment.

Kompleksitas dapat dijadikan alat dalam meningkatkan kualitas hasil pekerjaan (Libby 1995). Menurut penelitian Tan dan Alison (1999), kualitas hasil pekerjaan dibagi berdasarkan kompleksitasnya, yaitu hasil kerja dengan kompleksitas yang rendah, sedang dan tinggi serta penambahan variabel kemampuan pemecahan masalah sebagai salah satu variabel yang juga mempengaruhi interaksi akuntabilitas individu dengan hasil pekerjaannya dan

(29)

13

menyimpulkan bahwa akuntabilitas, pengetahuan dan kompleksitas kerja mempengaruhi kualitas hasil kerja.

Dalam kasus lingkungan audit, penting untuk mempelajari kompleksitas tugas karena kompleksitas tugas dapat berdampak pada kinerja audit judgment, dan pemahaman mengenai kompleksitas tugas audit yang berbeda yang dapat membantu para manajer membuat tugas lebih baik dan pelatihan pengambilan keputusan (Bonner 1994).

Hasil penelitian Chung dan Monroe (2001) menyatakan bahwa kompleksitas tugas yang tinggi berpengaruh terhadap judgment yang diambil oleh auditor. Auditor merasa bahwa tugas audit yang dihadapinya merupakan tugas yang kompleks sehingga auditor mengalami kesulitan dalam melakukan tugas dan tidak dapat membuat judgment profesional, akibatnya judgment yang dibuat tidak sesuai dengan bukti yang diperoleh.

Penulis hendak meneliti dengan membandingkan dua kondisi kompleksitas tugas yang berbeda yaitu kompleksitas tugas yang diberikan berupa tugas yang banyak, berbeda (beragam jenis), dan rumit (saling terkait satu dengan yang lain) dengan kompleksitas tugas yang diberikan berupa tugas yang sedikit dan terdiri dari satu jenis tugas audit.

Berdasarkan riset terdahulu dan argumentasi diatas, maka dapat dirumuskan hipotesis dua sebagai berikut:

H2: Audit judgment dalam kondisi kompleksitas tugas tinggi menunjukkan keakuratan yang lebih rendah dibanding audit

judgment dalam kompleksitas tugas rendah.

Interaksi Tekanan Ketaatan, Kompleksitas Tugas dengan Audit Judgment Hasil penelitian Jamilah dkk (2007) dan Hartanto dan Indra (2001) menunjukkan bahwa tekanan ketaatan berpengaruh signifikan terhadap audit judgment. Ketika auditor diperhadapkan dengan tekanan dari pimpinan maupun klien, akan mempengaruhi perilaku auditor dalam pengambilan keputusan.

(30)

14 Judgment yang diberikan auditor bisa jadi menyimpang dari standar profesi karena auditor mendapat tekanan untuk mengikuti keinginan pimpinan dan klien.

Semakin auditor merasa tertekan, akan mempengaruhi independensi auditor dalam memberikan judgment yang tentunya berpengaruh terhadap opini yang diberikan. Auditor yang tidak dalam keadaan tertekan dimungkinkan mampu memberikan judgment yang tidak menyimpang dari standar profesi akuntan.

Kompleksnya suatu tugas yang dikerjakan oleh auditor juga mampu auditor dalam memberikan judgment dalam penugasan audit. Semakin rumit, berbeda-beda dan saling terkait satu dengan yang lain mempengaruhi kinerja audit dalam mengambil sebuah keputusan. Auditor yang dihadapkan dengan tugas yang tidak begitu kompleks dimungkinkan mampu memberikan judgment dengan keakuratan yang baik dan tidak menyimpang dari standar profesi akuntan.

Berdasarkan uraian diatas, maka dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut:

H3: Dalam kondisi tekanan ketaatan rendah dan kompleksitas tugas rendah audit judgment menunjukkan keakuratan yang paling tinggi.

METODA PENELITIAN

Rancangan Penelitian

Desain penelitian ini menggunakan studi eksperimental 2 x 2 x 2 between-subject. Penelitian ini menggunakan variabel audit judgment sebagai variabel independen serta variabel tekanan ketaatan dan variabel kompleksitas tugas sebagai variabel dependen. Percobaan dilakukan di kelas dengan mahasiswa akuntansi yang sedang mengambil mata kuliah pengauditan sebagai subjek eksperimen. Dalam penugasan audit, auditor yunior diberi tugas yang bersifat teknis dan kompleks. Hasil dari penugasan yang diberikan ke auditor yunior dapat memberikan kontribusi terhadap auditor senior maupun rekan kerja dalam

(31)

15

memberikan opini audit. Pada awal percobaan, seluruh partisipan dibagi dalam empat kelompok secara acak dan masing-masing kelompok diberi perlakuan yang berbeda dalam tekanan ketaatan dan kompleksitas tugas.

Bagan 1 Alur Eksperimen

Pemilihan subjek dengan mahasiswa sebagai penyulih auditor yunior didasarkan pada asumsi bahwa mahasiswa telah lulus dari mata kuliah pengauditan dan bekerja di kantor akuntan sebagai auditor yunior. Pada umumnya auditor yunior sangat rentan atas pengaruh tekanan dari lingkungan yang memiliki otoritas lebih tinggi.

Mahasiswa yang berperan sebagai auditor yunior mempelajari karakteristik melalui video eksperimen yang telah disiapkan oleh peneliti. Dalam video tersebut berisikan profil KAP tempat auditor yunior bekerja, profil pimpinan KAP, profil klien yaitu perusahaan bidang otomotif, profil pimpinan klien serta cuplikan statement dari pimpinan KAP dan klien yang menunjukkan tinggi rendahnya tekanan yang diberikan kepada auditor yunior.

Dalam penugasannya, auditor yunior diminta menentukan tingkat potensi salah saji yang dilakukan oleh klien berdasarkan tingkat kompleksitas sebuah tugas yang telah disiapkan oleh peneliti sesuai dengan perbedaan perlakuan yang telah didesain oleh peneliti. Modul penugasan audit yang telah dibuat menyajikan skala likert 0 sampai 100, dengan angka nol menunjukkan potensi salah saji yang dilakukan oleh klien tidak material dan angka 100 menujukkan potensi salah saji yang dilakukan oleh klien material. Modul penugasan audit tersebut disusun berdasarkan adopsi dari penelitian eksperimen milik Intiyas dan Supriyadi pada tahun 2012. Pembagian Kelompok Eskperimen Distribusi Modul Penugasan Audit Pengerjaan Modul Penugasan Audit Pengumpulan Modul Penugasan Audit Debriefing

(32)

16

Teknik Analisis

Pengujian hipotesis penelitian ini diuji menggunakan uji independensi t-test pada hipotesis satu dan hipotesis dua. Pengujian hipotesis tiga menggunakan two way Anova untuk melihat adanya interaksi atau tidaknya antar dua variabel bebas.

Tugas dan Prosedur Analisis

Subjek dibagi dalam empat kelompok secara acak dengan perlakuan yang berbeda di setiap kelompoknya yaitu perlakuan tekanan ketaatan yang tinggi, tekanan ketaatan rendah, kompleksitas tugas yang tinggi dan kompleksitas tugas yang rendah. Matriks desain penelitian eksperimental dijelaskan ke dalam Tabel 1.

Tabel 1

Matriks Eksperimen Penelitian

Kompleksitas Tugas

Tinggi Rendah

Tekanan Ketaatan Tinggi Grup 1 Grup 2

Rendah Grup 3 Grup 4

Tabel 1 menunjukkan empat kelompok eksperimen, terdiri dari grup 1 (tekanan ketaatan tinggi – kompleksitas tugas tinggi), grup 2 (tekanan ketaatan tinggi – kompleksitas tugas rendah), grup 3 (tekanan ketaatan rendah – kompleksitas tugas tinggi) dan grup 4 (tekanan ketaatan rendah – kompleksitas tugas rendah).

Subjek dimanipulasi sesuai matriks eksperimen. Penulis telah menyiapkan modul yang berbeda untuk setiap kelompok eksperimen. Dalam pelaksanaannya, penulis membagi total partisipan ke dalam dua ruang yang berbeda perlakuannya. Ruang pertama dengan perlakuan tekanan ketaatan tinggi dengan pengerjaan modul kompleksitas tugas tinggi dan rendah, sementara ruang kedua dengan perlakuan tekanan ketaatan rendah.

(33)

17

Tahap pertama, partisipan mempelajari karakter klien melalui video yang telah dipersiapkan dengan jenis tekanan ketaatan yang berbeda. Dalam video tersebut menayangkan karakteristik bisnis klien dan kemudian terdapat tekanan yang diberikan oleh pimpinan KAP dan pimpinan klien. Grup 1 diberi modul berisikan penugasan audit dengan kompleksitas tugas yang tinggi bermula dari observasi persediaan di gudang, pengecekan atas piutang, pengecekan laporan atas persediaan di gudang dan rekonsiliasi bank. Penugasan yang berbeda-beda inilah yang membuat partisipan kesulitan dalam menentukan potensi salah saji. Selain itu partisipan diberikan perlakuan yang intensif sehingga memberikan tekanan untuk mengikuti kemauan atasan maupun klien. Sementara seorang auditor harus independen dalam mengerjakan penugasan audit termasuk dalam memberikan judgment, dalam kondisi inilah auditor merasa didalam tekanan ketaatan.

Grup 2 menerima perlakuan yang sama dengan grup 1 dalam hal tekanan ketaatan yang tinggi, sementara mendapatkan penugasan audit yang lebih sederhana yaitu penugasan dalam satu lingkup yang sama, yaitu pengecekan atas persediaan di gudang. Sementara di grup 3 menerima penugasan audit yang kompleks seperti hal nya grup 1 dan perlakuan tekanan ketaatan yang rendah, partisipan dalam grup 3 tidak menerima tekanan dari atasan maupun klien untuk mengikuti keinginannya sehingga independensi dari auditor yunior dalam grup 3 diprediksi tidak mengalami kegoyahan dalam memberikan audit judgment. Sementara grup 4 menerima perlakuan tekanan ketaatan yang rendah dan penugasan audit yang sederhana, hal ini memungkinkan auditor yunior akan menyelesaikan tugas audit dengan tepat waktu dan maksimal tanpa adanya ancaman independensi dalam pemberian audit judgment dari atasan maupun klien, sehingga dimungkinkan munculnya judgment terbaik yang dihasilkan oleh grup 4.

Pengerjaan modul penugasan audit berlangsung selama satu jam di setiap pertemuan kelompok. Selama waktu yang diberikan, partisipan diharapkan dapat menyelesaikan seluruh penugasan audit walaupun mengalami perlakuan yang berbeda di setiap kelompok eksperimen. Modul yang sudah dikerjakan kemudian dikumpulkan dan nantinya diolah oleh peneliti. Setelah eksperimen selesai dilakukan, peneliti mengembalikan suasana yang telah dimanipulasi (debriefing).

(34)

18

HASIL PENELITIAN

Gambaran Umum Partisipan (Subjek Penelitian)

Data penelitian dikumpulkan dengan melakukan eksperimen di Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Kristen Satya Wacana kepada mahasiswa kelas pengauditan. Partisipan yang telah lolos dari lima pertanyaan manipulasi sebanyak 100 dari total 114 mahasiswa, kemudian peneliti mengambil 80 data siap olah.

Adapun profil partisipan yang telah berpartisipasi dalam penelitian ini ditujukan dalam Tabel 2 sebagai berikut:

Tabel 2 Profil Partisipan

Keterangan Total Presentase

Jenis Kelamin: Pria 27 34% Wanita 53 66% Umur: 19 5 6% 20 58 73% 21 16 20% ≥ 22 1 1%

Indeks Prestasi Kumulatif (IPK):

2.01 - 2.99 26 33% 3.00 - 3.49 29 36% ≥ 3.50 25 31% Semester: 5 72 90% 7 8 10%

Sumber: Data Primer Diolah, 2014

Tabel 2 memberikan informasi bahwa partisipan pria berjumlah 27 orang (34%) dan partisipan wanita berjumlah 53 orang (66%). Mayoritas partisipan telah menempuh kuliah selama 2 tahun, yaitu sebanyak 72 partisipan sedang menempuh semester ganjil tahun ajaran 2014-2015 (semester 5) sedangkan sisanya sedang menempuh semester 7 (8 partisipan). Terhitung sebanyak 26 orang (33%) memiliki Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) dalam range 2.01-2.99; 29 orang (36%) dengan range IPK 3.00-3.49; dan 25 orang (31%) memiliki IPK ≥ 3.50.

(35)

19

Dalam penelitian ini, partisipan berperan sebagai auditor yunior yang bekerja pada Kantor Akuntan Publik (KAP). Tahap pertama, partisipan dibagi ke dalam 4 kelompok dengan perlakuan yang berbeda. Partisipan menerima penugasan audit dengan kompleksitas tugas yang berbeda di masing-masing kelompok sesuai dengan perlakuan tekanan ketaatan pada tiap kelompok. Pada awal penugasan, partisipan diberi kuesioner pengecekan manipulasi dengan memberikan penilaian terhadap kemungkinan munculnya tekanan negatif apabila partisipan mendapatkan tekanan ketaatan yang berasal dari pimpinan KAP dan pimpinan klien. Berikutnya partisipan diminta untuk mengerjakan penugasan audit yang disesuaikan dengan perlakuandi masing-masing kelompok. Pada akhir penugasan, partisipan diminta untuk mengisi judgment akhir.

Manipulation Check

Manipulation check atau pengecekan manipulasi dalam tekanan ketaatan maupun kompleksitas tugas memiliki rata-rata teoritis sebesar 55, menyimpulkan bahwa apabila partisipan dalam kondisi tekanan ketaatan tinggi maka akanmemberikan score lebih dari 55, sebaliknya apabila dalam kondisi tekanan ketaatan rendah akan memberikan score kurang dari 55.

Tabel 3

Manipulation Check pada Setiap Perlakuan

Variabel Teoritis Fakta

Range Mean Range Mean

Tekanan Ketaatan Tinggi 10 – 100 55 40 - 100 61.344 Rendah 10 – 100 55 10 - 80 53.875 Kompleksitas Tugas Tinggi 10 – 100 55 30 - 80 71.594 Rendah 10 – 100 55 20 - 80 43.625

Sumber: Data Primer Diolah, 2014

Tabel 3 menunjukkan partisipan mengalami tekanan ketaatan tinggi dengan range 40-100, rata-rata 61.344 yang melebihi rata-rata teoritis yaitu 55. Sedangkan dalam perlakuan yang berlawanan, partisipan mengalami tekanan

(36)

20

ketaatan rendah dengan range 10-80, score rata-rata 53.875 menunjukan dibawah score rata-rata teoritis yaitu 55. Partisipan menyelesaikan penugasan dengan tingkat kompleksitas tugas tinggi dengan range 30-100, rata-rata 53.875 yang melebihi rata-rata teoritis yaitu 55. Sedangkan dalam penugasan yang berbeda, partisipan menyelesaikan penugasan dengan tingkat kompleksitas tugas yang rendah dengan range 20-80, rata-rata 43.625 menunjukan dibawah score rata-rata teoritis yaitu 55.

Berdasarkan hasil manipulation check dapat disimpulkan bahwa seluruh partisipan telah menerima treatment manipulation yang sesuai atas tekanan ketaatan maupun kompleksitas tugas. Sehingga dapat dilanjutkan untuk melakukan pengujian berikutnya.

Pengujian Randomisasi

Sebelum melakukan pengujian terhadap hipotesis, dilakukan pengujian randomisasi atas demografi atas profil partisipan menggunakan Uji One Way Anova. Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui apakah faktor demografi mempengaruhi pengambilan keputusan.

Tabel 4

Hasil Uji One Way Anova

Mean Square Sig. Keterangan

Jenis Kelamin:

Between Groups 347.524 0.286 Tidak Berpengaruh

Within Groups 301.673

Usia:

Between Groups 438.139 0.702 Tidak Berpengaruh

Within Groups 23439.908

Indeks Prestasi Kumulatif (IPK):

Between Groups 1153.262 0.149 Tidak Berpengaruh

(37)

21 Semester:

Between Groups 185.035 0.437 Tidak Berpengaruh

Within Groups 23693.012

Sumber: Data Primer Diolah, 2014

Berdasarkan empat indikator yang telah ditentukan, keempatnya tidak memenuhi nilai significancy (Sig.) lebih kecil dari alpha (0.05), sehingga dapat disimpulkan bahwa keempat indikator tidak mempengaruhi penilaian atas audit judgment yang diberikan oleh auditor junior. Randomisasi dengan demikian dikatakan efektif karena hanya perlakuan yang mempengaruhi audit judgment subjek.

Uji Hipotesis 1

Hubungan Tekanan Ketaatan dengan Audit Judgment

Hipotesis 1 pada penelitian ini menyatakan bahwa audit judgment dalam kondisi tekanan ketaatan tinggi akan menunjukkan keakuratan yang lebih rendah dibanding audit judgment dalam kondisi tekanan ketaatan rendah. Pengujian dilakukan dengan Uji Sample T-test dengan dua populasi yang independen yaitu grup 1 yang mengalami perlakuan tekanan ketaatan tinggi dan grup 3 yang mengalami perlakuan tekanan ketaatan yang rendah.

Tabel 5

Hasil Pengujian Hipotesis 1

Mean Std. Deviation T Sig. (2-tailed)

Tekanan Ketaatan

Tinggi 75.25 4.860

2.858 0.007

Rendah 68.56 9.268

Sumber: Data Primer Diolah, 2014

Tabel 5 mengintepretasikan mean potensi salah saji pada perlakuan tekanan ketaatan tinggi adalah sebesar 75.25 sedangkan pada perlakuan tekanan ketaatan rendah adalah 68.56. Hal ini menggambarkan grup 1 yang mengalami perlakuan tekanan ketaatan tinggi dan grup 3 yang mengalami tekanan ketaatan

(38)

22

rendah keduanya memberikan score potensi salah saji yang dilakukan oleh klien mendekati range score material yaitu 100.

Hasil pengujian statistik mengintepretasikan nilai Sig. (2-tailed) equal variances assumed dalam t-test for Equality of Means adalah sebesar 0.007 lebih kecil dari alpha (0.05), sehingga disimpulkan bahwa terdapat perbedaan bermakna secara statistik atau signifikan pada probabilitas 5%. Hasil pengujian tersebut menerangkan bahwa audit judgment dalam kondisi tekanan ketaatan tinggi menunjukkan keakuratan yang lebih rendah dibanding audit judgment tekanan ketaatan rendah. Ketika auditor yunior mengalami tekanan ketaatan tinggi yang berasal dari pimpinan KAP dan klien, auditor yunior akan merasa tertekan dan berpengaruh dalam memberikan penilaian yang akurat atas potensi salah saji yang sesuai dengan keadaan lapangan atau mengikuti permintaan pimpinan dan klien untuk memberikan toleransi, akibat dari ancaman berupa teguran lisan bahkan kehilangan pekerjaan.

Hasil uji hipotesis ini sejalan dengan beberapa penelitian sebelumnya. Hartanto dan Indra (2001), dalam penelitiannya mengemukakan bahwa instruksi dari atasan dalam kantor audit akan memberikan tekanan ketaatan atas auditor bawahan (yunior) yang mempengaruhi judgment bawahan, meskipun instruksi tersebut jelas tidak tepat. Sedangkan penelitian milik Jamilah dkk (2007) juga membuktikan bahwa tekanan ketaatan berpengaruh signifikan terhadap audit judgment. Auditor yunior akan berperilaku menyimpang dari standar profesional karena cenderung akan menaati perintah dari atasan dan tekanan dari klien. Selain itu auditor yunior tidak memiliki keberanian untuk mencari pekerjaan lain dan kehilangan klien sebagai konsekuensi menentang perintah atasan dan keinginan klien yang tidak tepat dan menyimpang dari standar profesi.

Uji Hipotesis 2

Hubungan Kompleksitas Tugas dengan Audit Judgment

Hipotesis 2 menduga audit judgment dalam kondisi kompleksitas tugas tinggi akan menunjukkan keakuratan yang lebih rendah dibanding audit judgment

(39)

23

kompleksitas tugas rendah. Pengujian dilakukan dengan Uji Sample T-test dengan dua populasi yang independen, yaitu grup 1 yang melakukan penugasan audit dengan kompleksitas tugas yang tinggi dan grup 2 yang melakukan penugasan audit dengan kompleksitas tugas yang rendah.

Tabel 6

Hasil Pengujian Hipotesis 2

Mean Std. Deviation T Sig. (2-tailed)

Kompleksitas Tugas

Tinggi 75.25 4.860

11.155 0.000

Rendah 49.63 9.051

Sumber: Data Primer Diolah, 2014

Tabel 6 mengintepretasikan rata-rata potensi salah saji pada penugasan audit dengan kompleksitas tugas yang tinggi adalah sebesar 75.25 sedangkan pada penugasan audit dengan kompleksitas tugas yang rendah adalah 49.63. Hasil ini menggambarkan grup 1 yang melakukan penugasan audit dengan kompleksitas tugas yang tinggi memberikan score potensi salah saji yang dilakukan oleh klien lebih material karena mendekati range score 100 dibanding dengan grup 2 yang melakukan penugasan audit dengan kompleksitas tugas yang rendah.

Hasil pengujian statistik mengintepretasikan nilai Sig. (2-tailed) equal variances assumed dalam t-test for Equality of Means adalah sebesar 0.000 yang menunjukkan hasil lebih kecil dari alpha (0.05). Disimpulkan bahwa terdapat perbedaan bermakna secara statistik atau signifikan pada probabilitas 0.05, artinya audit judgment yang dihasilkan dalam kondisi penugasan audit dengan kompleksitas tugas yang tinggi menunjukkan keakuratan yang lebih rendah dibanding audit judgment yang dihasilkan oleh penugasan audit dengan kompleksitas tugas rendah. Ketika auditor yunior diperhadapkan dengan penugasan audit yang kompleks, dalam penyelesaiannya auditor yunior akan merasa kesulitan bahkan melakukan ketidakakuratan dalam mendapatkan, memproses dan mengevaluasi informasi. Ketidakakuratan inilah yang mengakibatkan auditor yunior memberikan penilaian atas potensi salah saji yang kurang tepat, dengan demikian dapat mempengaruhi judgment yang akan diberikan kepada klien.

(40)

24

Hasil uji hipotesis ini sejalan dengan beberapa penelitian sebelumnya milik Chung dan Monroe pada tahun 2001 yang menyimpulkan bahwa kompleksitas tugas yang tinggi berpengaruh terhadap judgment yang diambil oleh auditor. Abdolmohammadi dan Wright (1986), menyatakan bahwa terdapat perbedaan judgment yang diambil oleh auditor pada kompleksitas tinggi dan kompleksitas yang rendah. Penelitian yang bertentangan dengan hasil penelitian ini antara lain, penelitian Jamilah dkk (2007) yang menyatakan bahwa kompleksitas tugas tidak berpengaruh secara signifikan terhadap judgment yang diberikan oleh auditor dalam menentukan pendapat hasil auditannya.

Uji Hipotesis 3

Interaksi Tekanan Ketaatan, Kompleksitas Tugas dengan Audit Judgment Hasil dari uji hipotesis 1 dan 2 menyatakan kedua variabel bebas yaitu tekanan ketaatan dan kompleksitas tugas menunjukkan signifikansi dalam mempengaruhi audit judgment. Hipotesis 3 memprediksi adanya interaksi antara dua variabel bebas yaitu tekanan ketaatan dan kompleksitas tugas terhadap audit judgment, untuk mengujinya digunakan pengujian Two Way Anova yaitu dengan membandingkan perbedaan mean (rata-rata) antara kelompok yang telah dibagi pada dua variabel bebas.

Tabel 7

Test of Between-Subjects Effects pada data Hipotesis 3

Source Mean Square Sig.

Corrected Model 6572.630 0.000

Intercept 261918.828 0.000

Tekanan Ketaatan 2178.828 0.000

Kompleksitas Tugas 17257.813 0.000

Tekanan Ketaatan*Kompleksitas Tugas 281.250 0.026

Sumber: Data Primer Diolah, 2014

Berdasarkan Tabel 7 diperoleh nilai Sig.Corrected Model sebesar 0.000 lebih kecil dari alpha (0.05) yang bermakna semua variabel independen yaitu

(41)

25

tekanan ketaatan (TK), kompleksitas tugas (KT) serta interaksi tekanan ketaatan dan kompleksitas tugas (TK*KT) secara bersama-sama berpengaruh secara signifikan terhadap variabel dependen, sehingga model ini dinyatakan valid. Intercept Model menunjukkan nilai Sig. 0.000 lebih kecil dari alpha (0.05) yang berarti nilai perubahan variabel dependen tanpa perlu dipengaruhi oleh keberadaan variabel independen, sehingga tanpa ada pengaruh variabel independen, variabel dependen dapat berubah nilainya.

Variabel tekanan ketaatan dan kompleksitas tugas mengintepretasikan pengaruh secara signifikan terhadap audit judgment di dalam model. Keduanya menunjukkan Sig. 0.000 dimana lebih kecil dari alpha (0.05), begitupula dengan interaksi tekanan ketaatan dan kompleksitas tugas menunjukkan nilai Sig. 0.026 lebih kecil dari alpha (0.05) sehingga disimpulkan bahwa interaksi ketaatan dan kompleksitas tugas dalam model ini berpengaruh secara signifikan terhadap audit judgment. Interaksi tekanan ketaatan dan kompleksitas tugas digambarkan dalam Gambar 1.

Gambar 1

Diagram Plot atas Interaksi Tekanan Ketaatan dan Kompleksitas Tugas Sumber: Data Primer Diolah, 2014

(42)

26

Semakin auditor merasa tertekan, akan mempengaruhi independensi auditor dalam memberikan judgment yang tentunya berpengaruh terhadap opini yang diberikan. Kompleksnya suatu tugas yang dikerjakan oleh auditor juga mampu auditor dalam memberikan judgment dalam penugasan audit. Auditor yang dihadapkan dengan tugas yang tidak begitu kompleks cenderung mampu memberikan judgment yang akurat dan tidak menyimpang dari standar profesi akuntan.

Pelaksanaan pengujian hipotesis 3 didukung dengan hasil hipotesis 1 dan hipotesis 2. Berdasarkan matriks eksperimen kondisi tekanan ketaatan yang rendah dan kompleksitas rendah diduga mampu memberikan judgment terbaik yang tidak berindikasi terhadap penyimpangan standar profesi akuntan.

Tabel 8

Estimated Marginal Means pada data Hipotesis 3 Mean Std. Error

Tekanan Ketaatan Tinggi

Kompleksitas Tugas Tinggi 75.250 1.654

Kompleksitas Tugas Rendah 49.625 1.654

Tekanan Ketaatan Rendah

Kompleksitas Tugas Tinggi 68.563 1.654

Kompleksitas Tugas Rendah 35.438 1.654

Sumber: Data Primer Diolah, 2014

Grup 1 dengan perlakuan tekanan ketaatan tinggi (TKT) dan kompleksitas tugas tinggi (KTT) menunjukkan mean paling tinggi diantara empat grup yang lainnya yaitu sebesar 75.250, menunjukkan auditor yunior memberikan penilaian potensi salah saji yang dilakukan oleh klien mendekati score material (100).

Grup 2 dengan perlakuan tekanan ketaatan tinggi (TKT) dan kompleksitas tugas rendah (KTR) menunjukkan mean sebesar 49.625 menunjukkan auditor yunior memberikan penilaian potensi salah saji yang dilakukan oleh klien mendekati score tidak material (10).

Grup 3 dengan perlakuan tekanan ketaatan rendah (TKR) dan kompleksitas tugas tinggi (KTT) menunjukkan mean sebesar 68.563 menunjukkan auditor yunior memberikan penilaian potensi salah saji yang dilakukan oleh klien mendekati score material (100).

(43)

27

Grup 4 dengan perlakuan tekanan ketaatan rendah (TKR) dan kompleksitas tugas rendah (KTT) menunjukkan mean paling rendah diantara empat grup yang lainnya yaitu sebesar 35.438 menunjukkan auditor yunior memberikan penilaian potensi salah saji yang dilakukan oleh klien mendekati score tidak material (10).

Mean yang dihasilkan oleh grup 4 mendukung hipotesis 3 yang menduga audit judgment dalam kondisi tekanan ketaatan terendah dan kompleksitas tugas terendah akan menunjukkan keakuratan yang paling tinggi. Rata-rata potensi salah saji yang dilakukan oleh klien mendekati score 10 yang menunjukkan skala tidak material.

Auditor yunior yang diperhadapkan dengan kondisi tekanan ketaatan tinggi dan kompleksitas tugas yang tinggi menunjukkan keakuratan yang rendah dalam penentuan potensi salah saji atas klien yang nantinya berpengaruh terhadap keputusan audit. Sebaliknya, auditor yunior yang diperhadapkan dengan kondisi tekanan ketaatan dan kompleksitas tugas yang rendah akan menunjukkan keakuratan yang tinggi dalam penentuan potensi salah saji klien, sehingga memberikan keyakinan bahwa audit judgment yang diberikan oleh auditor yunior tersebut terjamin keakuratannya.

PENUTUP

Kesimpulan

Penelitian ini mengamati pengaruh tekanan ketaatan dan kompleksitas tugas terhadap audit judgment yang dibuat oleh auditor yunior melalui studi eksperimental. Simpulan penelitian menunjukkan bahwa pertama, tekanan ketaatan secara signifikan berpengaruh negatif terhadap audit judgment. Semakin auditor yunior dalam tekanan ketaatan yang berasal dari klien maupun atasan, akan memicu auditor yunior berperilaku dysfunctional dengan melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan standar profesional. Auditor yunior cenderung mengikuti permintaan klien maupun atasan untuk memberikan toleransi salah saji atas penugasan audit dalam perusahaan klien. Sedangkan auditor yunior yang tidak berada dalam kondisi tekanan ketaatan yang terlalu insentif, akan

(44)

28

memberikan judgment atas penugasan audit terhadap klien sesuai dengan fakta dan bukti yang ia temukan tanpa merisaukan ancaman-ancaman yang diberikan oleh klien dan atasan apabila bertindak tidak sesuai dengan keinginan mereka. Sehingga audit judgment yang dihasilkan oleh auditor yunior yang berada dalam kondisi tekanan ketaatan tinggi akan menunjukkan keakuratan lebih rendah dibandingkan dengan auditor yunior yang berada dalam kondisi tekanan ketaatan rendah.

Kedua, kompleksitas tugas secara signifikan berpengaruh negative terhadap audit judgment. Semakin rumit suatu penugasan audit yang diberikan kepada auditor yunior, akan menimbulkan keraguan oleh auditor yunior dalam menentukan potensi salah saji yang dilakukan oleh klien. Auditor yunior akan kesulitan dalam memperoleh bukti, memproses dan mengevaluasi informasi. Kesulitan yang dihadapi oleh auditor yunior memungkinkan kesalahan yang akan dilakukannya. Kesalahan tersebut mengakibatkan tidak tepatnya keputusan maupun audit judgment. Audit judgment dalam kondisi kompleksitas tugas yang tinggi akan menunjukkan keakuratan yang lebih rendah dibanding audit judgment kompleksitas tugas rendah.

Ketiga, interaksi tekanan ketaatan dan kompleksitas tugas berpengaruh secara signifikan terhadap audit judgment. Auditor yunior yang diperhadapkan dengan kondisi tekanan ketaatan tinggi dan kompleksitas tugas tinggi menunjukkan keakuratan yang rendah dalam penentuan potensi salah saji atas klien yang nantinya berpengaruh terhadap keputusan audit. Sebaliknya, auditor yunior yang diperhadapkan dengan kondisi tekanan ketaatan dan kompleksitas tugas yang rendah akan menunjukkan keakuratan yang tinggi dalam penentuan potensi salah saji klien, sehingga memberikan keyakinan bahwa audit judgment yang diberikan oleh auditor yunior tersebut terjamin keakuratannya.

Implikasi Penelitian

Hasil penelitian ini memiliki implikasi dalam beberapa hal, yaitu: 1) Berdasarkan hasil penelitian ini maka kantor akuntan publik dapat memberikan pelatihan kepada auditor baik yang pemula maupun senior untuk mendapatkan

(45)

29

kesepahaman mengenai perintah atasan maupun klien yang tidak bertentangan dengan norma atau standar profesional; 2) Ikatan Akuntan Indonesia dapat melakukan antisipasi terhadap tindakan auditor yang menyimpang dari standar profesional, misalnya dengan menerbitkan aturan yang memuat sanksi yang tegas terhadap auditor yang melakukan penyimpangan; 3) Kantor akuntan publik dapat memilah-milah penugasan audit yang akan diberikan kepada auditor dengan tingkat kompleksitas tugas yang tidak begitu tinggi, sehingga meminimalkan auditor dalam melakukan kesalahan-kesalahan yang memicu ketidaktepatan dalam menentukan audit judgment.

Keterbatasan Penelitian

Intepretasi hasil penelitian ini mengacu pada beberapa keterbatasan. Pertama, dalam penelitian ini tidak serta menguji karakter personal kepada responden eksperimen yaitu mahasiswa sebagai penyulih auditor yunior sehingga hal ini dapat sebagai pertimbangan apabila akan dilakukan penelitian berikutnya. Kedua, waktu pelaksanaan eksperimen dilakukan beberapa tahap dengan waktu yang berbeda sehingga dimungkinkan terjadi perembesan informasi dari subjek dari satu kelas subjek kelas berikutnya. Namun hal ini sudah diantisipasi bahwa jeda waktu tidak terlalu panjang. Pemberian manipulasi juga diberikan dalam situasi dan suasana yang diupayakan tidak berbeda antar kelas. Ketiga, pengambilan keputusan dilakukan secara individu padahal dalam praktik banyak keputusan audit dilakukan secara kelompok, sehingga sangat diusulkan bagi penelitian berikutnya untuk menyajikan penyelesaian penugasan secara kelompok, tidak lagi secara individu.

Gambar

Gambar 1. Diagram Plot atas Interaksi Tekanan Ketaatan dan Kompleksitas Tugas  ............................................................................................................................
Tabel 2  Profil Partisipan

Referensi

Dokumen terkait

2. .HSDOD VHNRODK PHQJJXQDNDQ WHNQLN VXSHUYLVL LQGLYLGXDO \DLWX NXQMXQJDQ NHODV REVHUYDVL NHODV GDQ SHUFDNDSDQ SULEDGL 7HNQLN LQL GLSLOLK GHQJDQ WXMXDQ XQWXN GDSDW PHOLKDW

Berikut adalah penjabaran analisis dari uji parsial kesadaran merek, asosiasi merek, persepsi kualitas dan loyalitas merek terhadap keputusan pembelian jasa di Hotel

Gambar 3.1 Tahap umum penelitian produksi metil ester (biodiesel) dengan bahan baku biji saga pohon.. Penjelasan yang lebih lengkap untuk tiap tahapan penelitian

Salah satu hal yang perlu mendapat tekanan di sini adalah mengenai keterbaruan referensi , yang mana dalam penelitian usahakan selalu menggunakan jurnal ilmiah

Bu çalışmada, akraba ve bitişen diller arasında bilgisayarlı çeviri için geliştirilen kar- ma model üzerine, belirsizlik giderme yönteminin eklenmesi ile Uygurcadan

MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS PADA PEMBELAJARAN IPA SD MELALUI PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH.. Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

Lebih lanjut, selisih rataan bobot badan induk laktasi antara penimbangan hari ke-3 dengan hari ke-6, hari ke-6 dengan hari ke-9, hari ke-9 dengan hari ke-12, hari ke-12 dengan

Pembahasan terhadap temuan- temuan dalam penelitian yang diuraikan di bab IV dengan menunjukkan tujuan penelitian yang dicapai, menafsirkan data temuan penting