RINGKASAN PERBAIKAN PERMOHONAN Nomor 33/PUU-XIII/2015
Ketentuan Tidak Memiliki Konflik Kepentingan Dengan Petahana dan Keharusan Memberitahukan Pencalonannya Kepada Pimpinan Dewan Bagi Anggota DPR, DPD, dan DPRD dalam Persyaratan Menjadi Calon Gubernur dan Wakil Gubernur,
Calon Bupati dan Wakil Bupati, serta Calon Walikota dan Wakil Walikota I. PEMOHON
Adnan Purichta Ichsan Kuasa Hukum
Heru Widodo, S.H., M.Hum., Supriyadi Adi, S.H., Novitriana Arozal, S.H., Dhimas Pradana, S.H., Aan Sukirman, S.H., Mappinawang, S.H., Sofyan Sinte, S.H. dan Mursalin Jalil, S.H., M.H., berdasarkan Surat Kuasa Khusus tanggal 18 Februari 2015
II. OBJEK PERMOHONAN
Pengujian Materiil Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2015 tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2015 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2014 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Walikota Menjadi Undang-Undang.
III. KEWENANGAN MAHKAMAH KONSTITUSI
Pemohon menjelaskan kewenangan Mahkamah Konstitusi untuk menguji Undang-Undang adalah:
- Pasal 24C ayat (1) UUD 1945 menyebutkan bahwa salah satu kewenangan Mahkamah Konstitusi adalah melakukan pengujian Undang-Undang terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD 1945); - Pasal 10 ayat (1) huruf a Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2011 tentang
Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi menyatakan bahwa Mahkamah Konstitusi berwenang menguji Undang-Undang terhadap UUD 1945;
- Pasal 29 ayat (1) huruf a Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman menyatakan, “Mahkamah Konstitusi berwenang
mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang putusannya bersifat final untuk: a. Menguji Undang-Undang terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945”;
- Pasal 9 ayat (1) Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan menyatakan, “Dalam hal
suatu Undang-Undang bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945, pengujiannya dilakukan oleh Mahkamah Konstitusi”.
IV. KEDUDUKAN HUKUM PEMOHON (LEGAL STANDING)
Pemohon adalah perorangan warga negara Indonesia yang pekerjaan/jabatannya sebagai Anggota DPRD Provinsi Sulawesi Selatan serta sebagai anak Bupati Gowa petahana, menganggap hak konstitusionalnya dirugikan atau setidaknya berpotensi dilanggar hak konstitusionalnya dengan berlakunya Pasal 7 huruf r dan huruf s, serta Penjelasan Pasal 7 huruf r UU 8/2015 tentang persyaratan bagi warga negara Indonesia yang dapat menjadi Calon Gubernur dan Calon Wakil Gubernur, Calon Bupati dan Calon Wakil Bupati, serta Calon Walikota dan Calon Wakil Walikota. Ketentuan pasal a quo menyebabkan Pemohon merasa kehilangan hak konstitusionalnya untuk dapat mencalonkan atuapun dicalonkan dalam Pemilukada Kabupaten Gowa Tahun 2015.
V. NORMA YANG DIMOHONKAN PENGUJIAN DAN NORMA UUD 1945 A. NORMA YANG DIMOHONKAN PENGUJIAN
Norma materiil yaitu:
- Pasal 7 huruf r dan huruf s UU 8/2015
“Warga negara Indonesia yang dapat menjadi Calon Gubernur dan Calon Wakil Gubernur, Calon Bupati dan Calon Wakil Bupati, serta Calon Walikota dan Calon Wakil Walikota adalah yang memenuhi persyaratan sebagai berikut:
....
s. memberitahukan pencalonannya sebagai Gubernur, Wakil Gubernur, Bupati, Wakil Bupati, Walikota, dan Wakil Walikota kepada Pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat bagi anggota Dewan Perwakilan Rakyat, kepada Pimpinan Dewan Perwakilan Daerah bagi anggota Dewan Perwakilan Daerah, atau kepada Pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah bagi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah;
....”
- Penjelasan Pasal 7 huruf r UU 8/2015
“r. Yang dimaksud dengan “tidak memiliki konflik kepentingan dengan
petahana” adalah tidak memiliki hubungan darah, ikatan perkawinan dan/atau garis keturunan 1 (satu) tingkat lurus ke atas, ke bawah, ke samping dengan petahana yaitu ayah, ibu, mertua, paman, bibi, kakak, adik, ipar, anak, menantu kecuali telah melewati jeda 1 (satu) kali masa jabatan”.
B. NORMA UNDANG-UNDANG DASAR 1945. Pasal 27 ayat (1) UUD 1945
(1) Segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya;
Pasal 28D ayat (1) UUD 1945
(1) Setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama di hadapan hukum;
Pasal 28D ayat (3) UUD 1945
(3) Setiap warga negara berhak memperoleh kesempatan yang sama dalam pemerintahan;
Pasal 28I ayat (2) UUD 1945
(2) Setiap orang bebas dari perlakuan yang bersifat diskriminatif atas dasar apapun dan berhak mendapatkan perlindungan terhadap perlakuan yang bersifat diskriminatif itu;
Pasal 28J UUD 1945
(1) Setiap orang wajib menghormati hak asasi manusia orang lain dalam tertib kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
(2) Dalam menjalankan hak dan kebebasannya, setiap orang wajib tunduk kepada pembatasan yang ditetapkan dengan undang-undang dengan maksud semata-mata untuk menjamin pengakuan serta penghormatan atas hak dan kebebasan orang lain dan untuk memenuhi tuntutan yang adil sesuai dengan pertimbangan moral, nilai-nilai agama, keamanan, dan ketertiban umum dalam suatu masyarakat demokratis
VI. ALASAN PERMOHONAN
1. Partisipasi masyarakat merupakan aspek penting dalam suatu proses demokrasi untuk pengisian jabatan publik melalui pemilihan, oleh karena itu kesempatan tersebut haruslah dibuka seluas-luasnya karena partisipasi masyarakat merupakan bagian dari hak asasi manusia dan hak konstitusional warga negara yang berlaku universal sebagaimana dijamin UUD 1945, Deklarasi Umum Hak Asasi Manusia Tahun 1948, dan Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia;
2. Pasal 7 huruf r dan Penjelasannya dalam UU 8/2015 memuat norma hukum yang tidak jelas, bias, dan multitafsir karena menimbulkan ketidakjelasan, perlakuan yang tidak adil, perlakuan yang berbeda di hadapan hukum, dan perlakuan diskriminatif. Padahal seharusnya pembentukan suatu peraturan perundang-undangan menyesuaikan asas pembentukan peraturan perundang-undangan yang baik;
3. Menyandang status keluarga petahana merupakan suatu hal yang alami dan tidak melanggar kesusilaan, ketertiban umum, agama, maupun aturan yang ada, serta tidak mengganggu hak dan kebebasan orang lain;
4. Adanya persyaratan dalam Pasal 7 huruf r dan Penjelasannya tidak menjamin dihasilkannya calon yang lebih berkualitas dan berintegritas dibandingkan dengan calon yang bukan keluarga petahana;
5. Pasal 7 huruf r dan Penjelasannya UU 8/2015 merupakan bentuk tidak konsistennya pembentuk Undang-Undang dalam menerapkan persyaratan untuk suatu jabatan publik karena dalam UU Pilpres dan UU Pemilu Legislatif
yang tidak mengatur larangan bagi keluarga petahana untuk mencalonkan dan dicalonkan;
6. Penjelasan Pasal 7 huruf r UU 8/2015 memuat norma baru yang berbeda dengan norma pasalnya, yakni mengenai makna “konflik kepentingan”;
7. Ketentuan Pasal 7 huruf s UU 8/2015 memberikan perlakuan diskriminatif dan berbeda antara calon yang berkedudukan sebagai anggota DPR, DPD, dan DPRD dengan calon kepala daerah dan wakil kepala daerah yang berlatar belakang pejabat atau pegawai pemerintahan lainnya seperti penjabat petahana, anggota TNI, Polri, PNS, atau pejabat BUMN/BUMD; 8. Khusus bagi anggota DPR, DPD, dan DPRD apabila hendak mencalonkan
diri atau dicalonkan dalam Pemilukada cukup hanya memberitahukan pencalonannya kepada pimpinan masing-masing, sedangkan bagi calon
incumbent dan calon yang berstatus anggota TNI, Polri, PNS, atau pejabat
BUMN/BUMD harus mengundurkan diri. Seharusnya anggota DPR, DPD, dan DPRD juga harus mengundurkan diri sejak ditetapkan sebagai calon kepala daerah atau wakil kepala daerah sebagaimana anggota TNI, Polri, PNS karena sama-sama sebagai pejabat publik dan agar tidak terjadi konflik kepentingan;
9. Pasal 7 huruf s UU 8/2015 dapat menimbulkan sikap oportunis karena seorang anggota DPR, DPD, atau DPRD dapat mencalonkan dirinya menjadi kepala daerah atau wakil kepala daerah sembari tetap menjadi anggota legislatif. Padahal seseorang seharusnya dapat memilih apakah berkarier politik di lembaga eksekutif ataukah di lembaga legislatif;
VII. PETITUM
Dalam Permohonan Prioritas:
Mengabulkan permohonan Pemohon untuk memproiritaskan pemeriksaan perkara a quo, dan menjatuhkan putusan sebelum dimulainya tahapan pendaftaran bakal pasangan calon dalam pemilukada serentak tahun 2015. Dalam Pokok Permohonan:
1. Mengabulkan permohonan Pemohon untuk seluruhnya;
Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2014 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Walikota Menjadi Undang-Undang Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 57, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5678) beserta Penjelasannya, bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
3. Menyatakan Pasal 7 huruf r Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2015 tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2015 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2014 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Walikota Menjadi Undang-Undang Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 57, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5678) beserta Penjelasannya, tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat dengan segala akibat hukumnya; 4. Menyatakan Pasal 7 huruf s Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2015 tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2015 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2014 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Walikota Menjadi Undang-Undang Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 57, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5678) bertentangan dengan UUD 1945 dan dinyatakan tidak berlaku sepanjang tidak dimaknai “memberitahukan pengunduran diri karena pencalonannya sebagai
Gubernur, Wakil Gubernur, Bupati, Wakil Bupati, Walikota, dan Wakil Walikota kepada Pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat bagi anggota Dewan Perwakilan Rakyat, kepada Pimpinan Dewan Perwakilan Daerah bagi anggota Dewan Perwakilan Daerah, atau kepada Pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah bagi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah sejak ditetapkan sebagai calon”;
5. Memerintahkan pemuatan putusan ini dalam Berita Negara Republik Indonesia sebagaimana mestinya.
Atau apabila Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi berpendapat lain, mohon putusan yang seadil-adilnya (ex aequo et bono)