• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODOLOGI PENELITIAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "METODOLOGI PENELITIAN"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

METODOLOGI PENELITIAN

Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian dilaksanakan di perairan Sulamadaha, Kota Ternate, Propinsi Maluku Utara. Lokasi ini dipilih dengan pertimbangan bahwa pada lokasi ini sebagian besar perairannya memiliki ekosistem terumbu karang dan hidup berbagai jenis ikan karang dianta.ranya ikan kerapu macan (Epinephelus Jirscogurtatus). Secara

umum

kondisi terumbu karang yang ada di daerah ini

masih tergolong baik karena memiliki tutupan 56,s % berdasarkan survei yang dilakukan (Ahmad 2004). Lokasi penelitian di plot menjadi 3 stasiun pengamatan dengan pembagian pada bagian dalam teluk (Gambar 5). Penetuan stasiun penelitian didasarkan pada hasil observasi awal yang mana pada ketiga daerah tersebut memiliki tutupan terumbu karang, sehingga dengan penempatan stasiun pada area tersebut maka penentuan kondisi terumbu karang baik keanekaragaman, keseragarnan dan persen tutupan karang dapat tenvakili.

mber : BAPPEDA K d a Ternatc (2006)

(2)

Penelitian ini dilaksanakan dari Mei 2007 sampai dengan Agustus 2008

dalam tiga tahap : (1) survei awal, bertujuan untuk memperoleh data sekunder,

(2) pengumpulan data primer, pada kegiatan ini terdiri dari pengumpulan data

kondisi tenunbu karang, kondisi ikan kerapu macan dan parameter lingkungan, (3) analisis data dan penulisan laporan.

Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian ini dilakukan di daerah ekosistem terumbu karang, ada beberapa

aspek yang dimati yaitu kondisi terumbu karang, kondisi ikan kerapu dan kondisi parameter lingkungan. Berdasarkan hasil pengamatan kemudian dilakuStan analisis penetuan nilai daya dukung terumbu karang terhadap ikan kerapu macan, penetuan nilai daya dukung terumbu karang difokuskan pada kondisi luasan terumbu karang yang dikaitkan dengan kandungan biomasa dan stok ikan kerapu macan, dengan pengertian bahwa dalam 1 ha luasan terumbu karang dapat menarnpung berapa biomasa (kg) ikan kerapu macan, begitu juga pada luasan total daerah terumbu karang dapat menghasilkan biomasa ikan kerapu macan.

Dari h a i l tersebut merupakan salah satu variabel dalam hal mengestimasi daya dukung terumbu karang dan dijadikan sebagai data dasar dalam menentukan

arah

pengelolaan, sehingga diharapkan saran pengelolaan yang dikeluarkan dapat

dipertimbangkan sebagai bagian dari bentuk pencegahan terjadinya degradasi baik

terumbu karang maupun ikan kerapu macan serta terjadi keseimbangan antara

pemenfaatan dan kelestarian ekosistem.

Pengumpulan Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer meliputi kondisi terumbu karang, yaitu data jenis terumbu karang, persentase tutupan, keanekaragaman dan keseragaman. Data kondisi ikan kerapu macan meliputi data kelimpahan, hubungan panjang-berat, hubungan panjang-tinggi, hubungan panjang-bukaan mulut, koefisien makanan, dan tingkat kematangan gonad. Data parameter lingkungan meliputi suhu, salinitas, kecepatan arus, sedimentasi dan kecerahan. Pengumpulan data kondisi terumbu karang dan kelimpahan ikan kerapu macan dilakukan bersamaan yaitu sebanyak 9 (sembilan) kali penyelaman, tiap stasiun dilakukan 3 kali

(3)

penyelaman, selang waktu penyelaman pada masing-masing stasiun adalah 2 hari sekali. Luas daerah pengambilan data adalah 400 m2 pada tiap stasiun dengan luas daerah terumbu karang sekitar 8.300 m2 (0,83 ha), luas total perairannya adalah 28.500 m2 (2,85 ha).

Data sekunder diperoleh pada instansi terkait. Data sekunder meliputi data pasang surut dan data monografi desa.

a) Kondisi Terumbu Karang

Metode yang digunakan untuk penentuan kondisi terumbu karang adalah Metode Transek Kuadrat dengan menentukan luasan areal pengamatan secara

permanen yaitu 20 m x 20 m (Gambar 6).

Gambar 6 Plot areal pengamatan secara permanen.

Kemudian pada petakan tersebut diletakkan kuadrat

ukuran

1 x 1

m

secara sejajar

luas areal. Pengamatan didukung dengan pengambilan underwater photo sesuai

dengan ukuran kuadrat yang ditetapkan. Hasil yang dapat diperoleh dengan metoda

ini adalah persentase tutupan, keanekaragaman jenis

dan

keseragaman (English et

al. 1994). Selain itu, dari metode ini juga dapat ditentukan hubungan dengan kondisi ikan kerapu macan guna estimasi dasar nilai daya dukung (carrying capacity) terumbu karang.

b) Ikan Kerapu Macan

Metode yang digunakan untuk melihat jumlah ikan kerapu macan (Epinephelus fiscoguttattu) adalah Metode Sensus Visual Ikan Karang (Coral

(4)

Reef Fish Visual Census) yang dikemukakan oleh English et al. (1994).

Metode ini didukung oleh metode transek kuadrat 20 x 20 m, setelah transek

diletakkan dibiarkan selama 25 - 30 menit kemudian dilanjutkan dengan

pendataan ikan kerapu. Untuk data kondisi biometri dilakukan dengan pengukuran panjang, berat, tinggi dan panjang rahang ikan kerapu macan. Data koefisien makanan dan Tingkat Kematangan Gonad di analisis di laboratorium. Sampel diperoleh dari hasil tangkapan nelayan di lokasi penelitian sebanyak 50 ekor ikan kerapu macan betina.

d) Parameter Lingkungan

Pengambilan data parameter lingkungan dilakukan secara insitu di lokasi penelitian, data parameter lingkungan yang di ukur adalah suhu dengan menggunakan thermometer, salinitas menggunakan refraktometer, kecepatan arus menggunakan floter, sedimentasi menggunakan sedimen trap dan kecerahan menggunakan secchi disk.

Analisis Data

a) Persentasi Penutupan Karang

Analisis parameter yang digunakan untuk penentuan kondisi terumbu karang dan kelimpahan ikan kerapu macan adalah persentasi penutupan karang,

keanekaragaman, indek keseragarnan atau equitabilitas clan kelimpahan.

Dari data yang diperoleh berdasarkan metode transek kuadrat dengan menggunakan kamera under water, kemudian dilakukan analisis persentase tutupan (menggunakan program analisis Image-J).

b) Keanekaragaman

Untuk menganalisis keanekaragaman jenis (Genus) mengikuti Formulasi

Shannon-Wiener (Odum, 1994) :

H'

= Indeks Keanekaragaman

N = Total jumlah individu

(5)

c) Indeks Keseragaman atau Equitabilitas

Indeks keseragaman atau equitabilitas merupakan persen penutupan karang yang digunakan untuk membandingkan nilai indeks keanekaragaman yang diamati dengan nilai indeks yang teramati untuk menduga penentuan dominasi pada bentuk

pertumbuhan karang. Persamaan indek keseragaman yang digunakan adalah :

dimana :

E

= Indeks keseragaman

H' = Indeks keanekaragaman

S = Jumlahjenis

d) Kelimpahan Ikan Kerapu Macan

Analisis kelimpahan ikan kerapu macan (Epinephelus Jirscoguftatus) yang berada di daerah terumbu karang dihitung dengan menggunakan rumus yang dikemukakan oleh Odum (1994) sebagai berikut:

dimana :

X = Kelimpahan ikan

Xi = Jumlah ikan pada stasiun pengamatan ke-i n = Luas terumbu karang yang diamati (m2)

e) Hubungan Panjang-Berat

Penentuan biometri ikan kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus) dilakukan dengan menghubungkan antara panjang ikan dengan beratnya atau panjang bagian tertentu dengan panjang bagian lainnya. Penentuan hubungan

panjang-berat menggunakan rumus (Romimohtarto dan Juwana 200 1) :

W = berat ikan

(gram)

L = panjang ikan (mm)

a = Konstanta yang menunjukkan berat jenis ikan

(6)

Arti nilai b adalah :

-

Bila b = 3,O berarti pertumbuhan bersifat isometrik atau baik, karena antara

pertumbuhan berat dan panjang sebanding atau kondisi ikan ideal.

-

Bila b > 3,O atau b < 3,O berarti pertumbuhan ikan bersifat alometrik atau

kurang baik karena pertumbuhan berat dan panjang tidak sebanding, artinya

kondisi ikan kurang baik. Alometrik ini dibagi menjadi 2 golongan yaitu :

-

Bila b < 3,O berarti perhunbuhan panjang lebih cepat dibandingkan

pertumbuhan berat sehingga ikan tampak kurus atau tidak normal karena terlihat terlalu panjang.

-

Bila b > 3,O berarti pertumbuhan berat lebih cepat dibandingkan

pertumbuhan panjang sehingga ikan tampak tidak normal karena terlalu gemuk.

f ) Hubungan Panjang-Tin@

Hubungan panjang-tinggi di hitung dengan rumus garis linear (Rornimohtarto

clan Juwana 200 1) sebagai berikut :

dirnana :

Y = panjang ikan

(mm)

x = tinggi tubuh ikan (mm)

a dan b = bilangan yang harus dicari

g) Hubungan Panjang-Bukaan Mulut

Hubungan panjang-bukaan mulut di hitung dengan nunus garis linear

(Jayadi et al. 2004) sebagai berikut :

y = a + b x x = 2 6 dirnana :

Y = panjang ikan (rnm)

x = lebar bukaan mulut (mm)

a dan b = bilangan yang hams dicari

Pr = panjang rahang (rnm)

h) Indeks Relatif Penting dan Koefisien Makanan

Makanan ikan dianalisis dengan cara, larnbung dibuka, isi lambung di timbang kemudian dipisahkan menurut jenisnya. Tiap jenis makanan ditirnbang

beratnya dan dicatat fiekuensi kejadiannya. Untuk mengetahui jenis utarna yang di

makan, digunakan metode Indeb Relatif Penting (IRP) YESAKI (Romimohtarto

(7)

dimana :

%W = persentase berat suatu jenis makanan terhadap berat seluruh

jenis makanan dalam satu lambung.

%F = persentase kejadian suatu jenis makanan terhadap semua

jenis yang terdapat dalam satu lambung.

Untuk mengetahui pentingnya kelompok makanan tertentu dengan memperhatikan jumlah, berat dan sekaligus fiekuensi dari kelompok makanan

digunakan koefisien makanan (Q) :

Q = C n x C p

dimana :

Q = koefisien makanan

Cn = persentase hubungan jumlah makanan dengan jumlah total

makanan dalam lambung

Cp = persentase hubungan berat makanan dengan berat total

makanan dalam lambung Dengan kriteria

Q > 200

(Rornimohtarto dm Juwana 2001) sebagai berikut :

: Makanan utama, makanan ini dianggap sebagai sumber energi

utama bagi kebutuhan ikan dan dapat dipakai untuk

menentukan makanan yang sebenamya.

20 < Q < 200 : Makanan kedua, kelompok makanan ini adalah sebagai makanan tambahan.

Q <20 : Makanan insidental atau makanan kadang kala, kelompok

makanan ini tidak mempunyai nilai energi bagi ikan. i) Tingkat Kematangan Gonad dan Indeks Gonad

Analisis Tingkat Kematangan Gonad (TKG) untuk ikan kerapu macan (Epinephelusjkscoguttatus) didasarkan pada lima tingkatan dengan kriteria-kriteria

yang tercantum pada Tabel 2.

Sedangkan untuk penentuan Indeks Gonad mengikuti rumus WILSON

(Romimohtarto dan Juwana 2001) adalah sebagai berikut :

dimana :

G I = indeks gonad

Wg = berat gonad (gram)

L = panjang ikan

(rnm)

Dengan kriteria klasifikasi Indeks Gonad ikan kerapu betina (Tan dan Tan, 1974) :

Kelas I, GI 5 1 ,O : Gonad tidak matang

Kelas 11, 1,O < GI 5 5,O : Gonad memasak

(8)

Kelas IV, 10,0 < GI 1 20,O : Gonad masak

Kelas V, GI > 20,O : Gonad masak

j) PengeIompokkan dan Hobungan Kondisi Terurnbu Karang dengan Kondisi Biologi Ikan Kerapu Macan

Analisis pengelompokkan kelimpahan, kondisi biometri, preferensi dan tingkat kematangan gonad ikan kerapu macan (Epinephelus jbcogultatus) pada masing-masing kondisi terumbu karang dapat dilakukan dengan menggunakan

Analisis Komponen Utama (Principial Component Analysis), dengan analisis ini

dapat dilihat ciri khas keberadaan masing-masing kriteria dari ikan kerapu macan

(Epinephelus&scoguttatus) di daerah terumbu karang (Bengen, 2000).

Analisis komponen utama memungkinkan adanya suatu reduksi terhadap dimensi dari ruang-ruang sehingga mudah dibaca dengan kehilangan informasi sedikit mungkin (Bengen, 2002). Selanjutnya dalarn menginterpretasi hasil yang diperoleh, maka hams menentukan jumlah sumber yang digunakan. Hal ini dapat

dilakukan dengan menetapkan suatu dasar persentase informasi untuk

diinterpretasikan yaitu minimum 70% dan beberapa pakar memberi batasan untuk memilih sumbu tidak lebih dari tiga.

Pereduksian adalah hasil bagi antara nilai parameter yang telah dipusatkan dengan nilai simpangan baku parameter tersebut:

Keterangan: R = Nilai reduksi

C = Nilai pusat

Sd = Nilai simpangan baku parameter

Hasil analisis ini merupakan realisasi dari indeks sintetik yang diperoleh

dari kombinasi linier nilai-nilai parameter inisial. Untuk menentukan hubungan antara dua parameter digunakan pendekatan matriks korelasi yang dihitung dari

indeks sintetik (Ludwig & Reynold, 1988).

Adapun persamaan jarak Euclidean adalah (Foncart, 1985):

Keterangan: Bij = Matriks korelasi, rd

Aij = Matriks indeks sintetik, Aij

(9)

Hasil analisis komponen utama yang dilakukan dengan matriks korelasi memunculkan sumbu-sumbu faktorial yang mengekstraksi secara maksimum dari variable-variabel asal. Faktor pertama (Fl) menjelaskan lebih baik variabilitas data asal. Faktor kedua (F2) menjelaskan lebih baik variabilitas residu yang tidak terambil atau tergambarkan pada faktor pertama (Fl) dan selanjutnya. Kualitas

informasi pada setiap sumbu diukur pada besarnya aka. ciri yang dihasilkan. Akar

cirri memungkinkan untuk mengevaluasi besarnya ragarn yang dijelaskan oleh setiap sumbu faktorial.

Dirnana:

d2 = jarak Euclidean

(i, j') = n stasiun (pada baris ke-i)

Xij = jumlah kolom i untuk semua baris j

Xoy = jumlah kolom i untuk semua kebalikan baris j

Analisis komponen utama menggunakan pengukuran jarak Euclidean

(jumlah kuadrat perbedaan antara stasiun untuk parameter variable yang

berkoresponden pada data). Semakin kecil jarak Euclidean antar stasiun, maka

semakin mirip karakteristik bio-fisika-kimia antar stasiun tersebut, begitu pula sebaliknya.

Analisis Komponen Utama juga dapat menggambarkan korelasi antara masing-masing kelompok yang dibentuk antara kondisi tenunbu k m g dengan kondisi ikan kerapu macan. Setelah terjadi pengelompokkan kemudian dilanjutkan

dengan analisis regresi. Data dianalisis menggunakan program XLSTAT 4.4.

k) Estimasi Daya Dukung (Carrying Capacity) Terumbu Karang Bagi Ikan Kerapu Macan

Analisis mengenai estimasi daya dukung terumbu karang ditentukan

berdasarkan nilai biomasa ikan kerapu macan yang diperoleh dari hasil pemantauan

ikan kerapu macan (kelimpahan) dengan hasil tangkapan nelayan yang

ada

di

daerah terumbu karang. Estimasi nilai daya dukung dilakukan dengan pendekatan

(10)

terumbu karang (Yeeting et. al. 2001). Hubungan ini di hitung dengan nunus

sebagai berikut :

dimana :

W = berat ikan

(gram)

L = panjang ikan (mm)

a = Konstanta yang menunjukkan berat jenis ikan

b = konstanta

...

In W =In a

+

b In L 2)

dimana :

B = biomasa (kgha)

D = densitas = jumlah ikan kerapu macan per 0,l ha

Berdasarkan nilai biomasa, maka dapat di duga (estimasi) nilai daya

dukung (carrying capacity) terumbu karang dengan rumus :

DD = Ba

dimana :

DD = daya dukung terumbu karang (kg)

B = Biomasa (kgha)

a = luas area terumbu karang (ha)

m) Skenario Perubahan Terumbu Karang dan Ikan Kerapu Macan

Untuk mengkaji perubahan terumbu karang dan ikan kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus) di perairan Sulamadaha, dilakukan berdasarkan hasil analisis penutupan terumbu karang dengan kondisi parameter ikan kerapu macan, kemudian dilihat seberapa besar kontribusi terumbu karang terhadap biomasa ikan kerapu dengan pembuatan skenario perubahan per tahun menggunakan program STELLA7r, sehingga dapat diperoleh perubahan baik terumbu karang maupun nilai biomasa dari ikan kerapu macan, perubahan- perubahan yang akan terjadi pada lokasi penelitian kemudian menjadi dasar untuk beberapa saran dalam penerapan pengelolaan terumbu karang dan ikan kerapu macan (Muhammadi et. al. 200 1).

Gambar

Gambar 5 Peta lokasi penelitian di perairan Sulamadaha.
Gambar 6 Plot  areal  pengamatan secara permanen.

Referensi

Dokumen terkait

Peraturan Pemerintah Nomor 54 Tahun 2005 tentang Pinjaman Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia.. Tahun 2005 Nomor 136, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia

Sedangkan untuk mengetahui manakah metode pembelajaran yang memberikan pengaruh lebih baik antara metode pembelajaran jigsaw dan metode pembelajaran diskusi

Berdasarkan hasil tes kosakata, ditemukan bahwa persentase skor dari penguasaan kosakata dengan menggunakan lagu tradisional pada siklus 2 yang mendapat 75 atau

Berdasarkan latar belakang permasalahan tersebut diatas, dirasa perlu dilakukan penelitian dengan menganalisa sistem pemilihan Rektor yang selama ini terjadi di

project-based learning, problem-based learning, dan discovery learning telah direkomendasikan oleh kurikulum 2013 sebagai strategi efektif dalam pembelajaran

Penelitian ini menghasilkan (LKS) Diskusi berorientasi Model Brainstorming untuk Melatih Keterampilan Penyelesaian Masalah Siswa Pada Materi Perubahan Lingkungan Kelas X

Dengan demikian penambahan LiClO4 tidak mempengaruhi proses pembuatan lembaran anoda grafit.. Bahan LiClO4 adalah bahan kimia

Jika input N maka akan mengalami perulangan GOTO ke awal 12. Jika input Y maka akan keluar