• Tidak ada hasil yang ditemukan

KUMPULAN KARYA TULIS ILMIAH Drh. Tatty Syafriati, MSc

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "KUMPULAN KARYA TULIS ILMIAH Drh. Tatty Syafriati, MSc"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

KUMPULAN KARYA TULIS ILMIAH

Drh. Tatty Syafriati, MSc

1998-2016

BALAI BESAR PENELITIAN VETERINER

JL. R.E. MARTADINATA NO.30

PO.BOX.151 BOGOR

2018

(2)

KUMPULAN KARYA TULIS ILMIAH

Drh. Tatty Syafriati, MSc

1998-2016

NO DATA BIBLIOGRAFI

1 mfn=002204

Nadeeka K. Wawegama; Tarigan, Simson; Indriani, Risa; Paul Selleck; Adjid, RM Abdul ; Tati Syafriati; HardimanPeter A. Durr; Jagoda Ignjatovic. Evaluation of a conserved HA274-288 epitope to detect antibodies to highly pathogenic avianinfluenza virus H5N1 in Indonesian commercial poultry. Avian Pathology

. 2016. VOL. 45, NO. 4, 478-492http://dx.doi.org/10.1080/03079457.2016.1167276.

Abstrak

A peptide enzyme linked immunosorbent assay (ELISA) based on an epitope in the haemagglutinin (HA) of avian influenza virus H5N1, amino acid positions 274–288 (HA274– 288) was evaluated for detection of H5N1-specific antibodies. An optimized ELISA based on thetetrameric form of the HA274–288 epitope designated MP15 gave low background with nonimmunechicken sera and detected vaccinated and infected birds. The HA274–288 epitope washighly conserved in Indonesian H5N1 strains and antibody responses were d etected in the majority of the vaccinated chickens regardless of the H5N1 strain used for vaccination. The HA274–288 epitope was also conserved in the majority of H5N1 strains from the neighbouring Asian region, and other H5 subtypes potentially allowing for a wider use of the MP15 ELISA in H5N1 vaccinated and infected flocks. The MP15 ELISA results correlated significantly with haemagglutination inhibition (HI) test results and test sensitivity and specificity were 87% and 92%, respectively. The MP15 ELISA titres were significantly higher than the HI titres in all immune sera allowing for sera to be tested at a single dilution of 1:400 which is of advantage in routine surveillance. The study indicated that the MP15 ELISA is potentially useful for serological detection of H5N1 vaccinated or infected poultry and to have some advantages over the standard HI test for routine monitoring of flocks’ immunity after vaccinatio.

2 mfn=001650

Sendow, Indrawati; Adjid, R.R. Abdul; Syafriati, Tatty(Balai Penelitian Veteriner, Bogor (Indonesia)Selleck, P.(CSIRO, Australian Animal Health Laboratory, Geelong). Studi etrospeksi infeksi Influenza A pada babi sebelum wabah Avian Influenza H5N1 pada unggas di Indonesia. Prosiding Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. Bogor. 3 - 4 Agustus, 2010. Bogor. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan. 2011. p.772-779.

Abstrak

Studi retrospektif telah dilakukan untuk mengetahui apakah virus Influenza A pada babi telah lebih dahulu ada sebelum terjadinya wabah Avian Influenza (AI) H5N1 pada tahun 2003 di Indonesia. Untuk itu maka sebanyak 982 serum babi yang tersimpan di bank serum Bbalitvet telah diuji terhadap adanya antibodi kelompok virus influenza A dengan menggunakan uji agar imunodifusi (AGID). Untuk konfirmasi maka serum yang bereaksi positif kemudian diuji dengan ELISA. Disamping itu sebanyak 134 sampel paru-paru babi asal rumah potong hewan (RPH) dikoleksi untuk isolasi virus Influenza A. Identifikasi virus dilakukan dengan uji aglutinasi darah dan ELISA. Hasil pengujian menunjukkan bahwa 0,04% serum babi memberikan reaksi positif pada uji AGID. Selanjutnya, serum hewan yang positif tadi ternyata bereaksi negatif terhadap influenza type A pada ELISA. Upaya isolasi virus yang dilakukan pada Telur Embrio Tertunas (TET) memperlihatkan ada virus yang diisolasi dengan sifat mengagglutinasi sel darah merah ayam dan angsa. Namun setelah diuji dengan ELISA untuk mendeteksi matrikss protein virus,ternyata seluruh isolat bukan virus Influneza A. Dari hasil penelitian ini dapat diketahui bahwa infeksi Influenza A pada babi belum pernah terjadi di lokasi penelitian sebelum terjadinya

(3)

wabah AI H5N1 pada tahun 2003. 3 mfn=001666

Bahri, Sjamsul(Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan) Syafriati, Tatty(Balai Besar Penelitian Veteriner, Bogor). Anticipating the Emerging of Some Strategical Infectious Animal Diseases in Indonesia Related to the Effect of Global Warming and Climate Change. Mewaspadai Munculnya Beberapa Penyakit Hewan Menular Strategis Di Indonesia Terkait Dengan Pemanasan Global Dan Perubahan Iklim.

Wartazoa (2011). Vol.21(1), p.25-39.

Abstrak

Dampak dari pemanasan global dan perubahan iklim akan menimbulkan gangguan musim, terjadinya banjir di satu tempat dan kekeringan di tempat lain, perubahan suhu dan kelembaban udara. Keadaan ini dapat memicu perubahan kehidupan biologis berbagai agen patogen (virus, bakteria, parasiter, dan lain sebagainya), berbagai spesies hewan dan berbagai vektor sebagai hospes antara yang berperan dalam menularkan penyakit ke berbagai spesies hewan. Dalam keadaan seperti ini dapat memicu berbagai penyakit hewan baru (emerging disease), atau penyakit yang sudah lama dapat muncul kembali (re-emerging disease). Tulisan ini mengulas tentang dampak pemanasan global dan perubahan iklim terhadap kemungkinan munculnya beberapa penyakit hewan tertentu di Indonesia seperti penyakit bluetongue (BT) dan penyakit zoonosis seperti Nipah, Japanese encephalitis (JE), West Nile (WN) dan Rift Valley fever (RVF). Perubahan iklim seperti meningkatnya suhu bumi dan curah hujan dapat memicu terjadinya ledakan populasi berbagai spesies vektor terutama yang berperan sebagai vektor virus Arbo seperti penyakit BT, JE, WN dan RVF, selain itu meningkatnya transportasi hewan dan migrasi burung antar negara atau wilayah yang disebabkan perubahan sistem ekologi membuka peluang menyebarnya penyakit. Oleh karena itu, kewaspadaan terhadap muncul dan mewabahnya penyakit BT, JE, WN dan RVF di Indonesia perlu ditingkatkan dengan melakukan surveilans dan deteksi dini terhadap penyakit tersebut. Sedangkan kemungkinan munculnya penyakit Nipah di Indonesia juga perlu diwaspadai karena keberadaan agen patogen dengan hewan reservoarnya (kalong Pteropus vampyrus) dan ternak babi sebagai hospes yang berperan sebagai pelipatganda virus. Penyakit lain seperti leptospirosis, anthrax dan penyakit avian influenza (H5N1) juga mempunyai potensi untuk menyebar lebih luas terkait dengan perubahan iklim terutama dengan meningkatnya curuh hujan di Indonesia.

Kata kunci: Pemanasan global, perubahan iklim, penyakit zoonosis 4 mfn=000734

Hernomoadi, Lies parede; Syafriati, Tatty; Noor, Susan Maphilindawati; Wahyuwardani, Sutiastuti(Balai Penelitian Veteriner, Bogor (Indonesia)). Isolasi avian reovirus dari kasus kekerdilan pada ayam pedaging. Prosiding Seminar Nasional Peternakan dan Veteriner. Bogor. 17 - 18 September 2001. p.687-694. Bogor. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan. (2010).

Abstrak

Avian Reovirus merupakan salah satu genus virus dengan bermacam manifestasi penyakit seperti radangsendi (viral arthritis/tenosynovitis), gejala kerdil (runting and stunting syndrome; IRSS), gangguan pernapasan,dan gangguan pencernaan, yang dikenal dengan malabsorption

syndrome (gangguan penyerapan makanan).Tulisan ini melaporkan isolasi Avian Reovirus

secara gambaran elektron mikroskopik dan re-isolasi sebagaiagen penyebab kekerdilan pada ayam broiler. Hasil serologi enam sampel yang diuji secara ELISA dan AGPmenunjukkan reaksi silang dengan antibodi positif Reovirus, dan dua Antibodi dari isolat lokal. Laju hambatpertumbuhan mencapai 23,4% sewaktu dilakukan infeksi buatan pada ayam pedaging. Kata kunci: Isolasi, Avian Reovirus, broiler, gejata kerdil IRSS, runting and stunting syndrome

(4)

5 mfn=001301

Sendow, Indrawati; Adjid, R.M. Abdul; Syafriati, Tatty; Darminto( Balai Besar Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia) Field, Hume (Department of Primary Industry, Australia) Morrissy, Chris; Daniels, Peter W. (Australian Animal Health Laboratory Australia). Seroepidemiologi Nipah virus pada kalong dan ternak babi di beberapa wilayah di Indonesia. Jurnal Biologi Indonesia. (2008). Vol.5(1) p.35-44.

Abstrak

Nipah Virus Seroepidemiology in Flying Fox and Pig Husbandry in Several Areas of Indonesia. Nipah is a dangerous zoonotic disease which was carried by flying fox. The disease han been occurred in Malaysia in 1999 and infect pigs and caused human death. Indonesia is adjacent country to Malaysia, hence, a serological study had been conducten on 156 flying fox (P.vampyrus) sera from North Sumatera,West Java, Central java and East Java. Besides that, 2740 pig sera was randomly collected in different provinces to detect Nipah infection. Both flying fox and pig sera were tested using ELISA test to detect the presence of Nipah antibody. The results indicated that 37 from 156 flying fox sera (23.7%)has antibodies against Nipah virus. Infection were occured in all sampling sites with the prevalence varied from 18% to 33%. Meanwhile, no pig sera tested (2740)had antibody against Nipah virus. Based on these results it can beconcluded that Nipah virus infections were occured in flying fox in some parts in Indonesia, but not in pigs. It was suggested that the presence of Nipah virus in indonesia should be anticipated. Hence the distribution of its infection in pigs and human must beanticipated. Monitoring of Nipah infection in areas adjacent to Malaysia must be increased to detect the entering of the disease in Indonesia.

Keywords: Nipah, pigs, flying fox, serology 6 mfn=001332

Syafriati, Tatty(Balai Besar Penelitian Veteriner). Infeksi Bovine herpes virus tipe 2 (BHV2) penyebab peradangan puting dan ambing pada sapi perah. Prosiding ' Prospek Industri Sapi Perah Menuju Perdagangan Bebas 2020'. Jakarta. 21 April 2008. p.378-383. Bogor. Pusat Penelitian dan pengembangan peternakan. (2008).

Abstrak

Bovine herpes virus tipe 2(BHV2) Sebagai salah satu agen virus penting yang menyebakan

peradangan puting dan kambing atau bovine ulcerrative pada sapi perah .kaitannya sangat erat deangan kepentingan ekonomi seperti penurunan produksi susu.serta penyakit pada mukosa kulit (psetudo lumpyskin).penyakit yang disebabkan BHV2 ,secara klinis terlihat hampir sama pada infeksi pseodocowpox,food and mouth diaese ,virus yang berasal dari sampel luka pada puting selama outbreak dapat didiagnosis dengan menggunakan mikrosop elektron .virus dapat mudah diisolasi dari kasus mammilitis atau penyakit kulit dengan menggunakan sel ginjal sapi bahkan bukan secra histopatologi terlihat dari juga dapat diuji dengan serum netralisi.desinfekstan seperti cairan lodorphor dan hypochlorite dapat digunakan untuk mencegah penularan ke sapi lainnya. Sampai saat ini penyakit BIIV2 didunia sudah dideteksi secara serologi maupusn isolasi. Tulisan ini mengulas tentang infeksi BHV2 pada sapi perah.

Kata kunci: Virus herpes, BHV2. Mammilitis, sapi perah 7 mfn=001112

Syafriati, Tatty(Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia). Mengenal penyakit influensa babi. Prosiding Lokakarya Nasional Penyakit Zoonosis. Bogor. 15 September 2005. p.102-109. Bogor. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan. (2005).

Abstrak

Influensa babi merupakan penyakit saluran pernafasan akut yang sangat menular, disebabkan oleh virusinfluensa tipe A yang termasuk dalam orthomyxovirus. Babi merupakan induk semang utama virus influensababi, namun demikian virus tersebut dapat juga menular pada manusia dan

(5)

bangsa burung atau sebaliknya.Infeksi virus influensa babi dapat menyebabkan batuk, demam, dispnu, kelemahan yang sangat, dengan cepatmenyebar pada sekelompok ternak babi dan dengan cepat pula sembuh. Pada kasus komplikasi, babi akanmengalami bronchopneumonia yang dapat berakhir dengan kematian. Penyakit influensa babi belum pernahada di Indonesia, tetapi penyakit ini harus selalu diwaspadai mengingat banyak penyakit babi baru-baru inididiagnosis di Indonesia. Paper ini menggambarkan sejarah penyakit, penyebab, patogenesis, gejala klinis,patologi, diagnosis, diagnose banding, pengobatan dan kontrol serta masalah penyakit influensa babi diIndonesia.

Kata kunci: Influensa babi, etiologi, gejala klinis, patologi, diagnosis, diagnosis banding, pengendalian

8 mfn=001162

Wahyuwardani, Sutiastuti; Syafriati, Tatty(Balai Penelitian Veteriner, Bogor donesia).

Infeksi chicken anaemia virus (CAV): etiologi, epidemiologi, gejala klinis, gambaran patologi dan pengendaliannya. Wartazoa. (2005). Vol.15(3) p.155-163.

Abstrak

Initially, Chicken anaemia virus (CAV) is known as CAA, which was first isolated by Yuasa in Japan in 1976 . CAVparticles are non enveloped with a diameter of 19 .1-20 .7nm, belonging to the family Circoviridae, genus Gyrovirus . CAVinfection was first appeared in Indonesia at the same time as the outbreak of stunting and runting syndrome in 1996 with amortality rate of 5-15% but it may reach to 60% . CAV can be transmitted vertically or horizontally . Chicken all ages issusceptible to infection . Infection of CAV occurred in young chicken flock at 2-3 weeks growth of age, causing clinical signswhile in old chicken flock which is sub clinical . The signs of infectious of CAV are retarded, anaemia, anorexia, pale of face andpial . The pathology anatomy changes are pale carcases, yellowish bone marrow, atrophy of thymus and bursa fabricius . Whereas,histophatological changes are thymic necrosis of cortex and medulla, lymphocyte depletion of thymus, bursa fabricius and bonemarrow. Diagnose of CAV is based on pathological changes and followed by the isolation of certain lymphoblastoid chicken cellMDCC-MSB I and then, is identified by virus neutralization . The presence of virus can also be identified by immunofluorescentand immunoperoxidase staining, in situ hybridization technique or PCR . For antibody detection, ELISA technique can be used .The syndromes of CAV infection are closely associated with those of osteopetrosis, reovirus, infectious bursal disease (IBD) and Marek. Vaccination programme in breeding farm is needed to induce maternal antibody . This paper describes the CAV diseaseand its occurrence in Indonesia .

Key word : Chicken anaemia virus, diagnose, pathology anatomy, histopathology, control 9 mfn=001241

Adjid, R.M. Abdul; Sarosa, Antonius; Syafriati, Tatty; Yuningsih (Balai Penelitian eriner Bogor). Penyakit rabies di Indonesia dan pengembangan teknik diagnosisnya. Wartazoa.(2005). V .15(4) p.165-172.

Abstrak

Penyakit rabies merupakan penyakit zoonosis yang sangat penting artinya bagi kesehatan masyarakat, karena dapatrengakibatkan kematian pada penderitanya . Penyakit rabies tersebar di berbagai negara termasuk Indonesia . Upayapemberantasan rabies yang dilakukan masih banyak mengalami kendala . Hasil-hasil penelitian yang dilakukan di Balai PenelitianVeteriner dapat menunjang pemberantasan rabies di Indonesia, terutama dalam hal teknik diagnosis . Berbagai aspek penelitianrabies yang dilakukan yaitu penggunaan zat pengawet spesimen, cara pengirimannya serta pengambilan otak anjing denganmetode straw ; penggunaan preparat sentuh kornea mata sebagai spesimen intro vitam ; teknik neutralization peroxidase linkedassay (NPLA) atau modifikasi uji fluorescent antibody vines neutralization test (FAVN) pada multispot slide, aplikasinya dilapangan; deteksi antigen dengan penggunaan rapid rabies nzyme immunodiagnostic (RREID) ; serta pembuatan konjugatfluorescent isotlriocyanate (FITC) . Uji

(6)

enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA) untuk deteksi antibodi rabies telahdikembangkan, namun masih dijumpai adanya reaksi tidak spesifik . Teknik reverse transcriptase polyinerase chain reaction(RT-PCR) telah diteliti, namun aplikasinya sulit dilaksanakan pada spesimen intra vitam . Demikian halnya dengan racun ekstrakbiji kemalakian dan ekstrak biji picung juga diteliti sebagai pengganti strychnine untuk eliminasi anjing di lapangan, namunmasih diperlukan penelitian lanjutan .

Kata kunci : Rabies . zoonosis, penelitian, diagnosis 10 mfn=001373

Indriani, Risa; Dharmayanti, N.L.P. Indi; Syafriati, Tatty; Wiyono, Agus; Adjid, R.M. Abdul(Balai Besar Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia). Pengembangan prototipe vaksin inaktif Avian Influenza (AI) H5N1 isolat lokal dan aplikasinya pada hewan coba di tingkat laboratorium. Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner. (2005). Vol.10(4) p.315-321.

Abstrak

Suatu studi awal yang berhubungan dengan aspek vaksin dan vaksinasi untuk mengendalikan penyakit Avian influenza (AI)subtipe H5N1 telah dilakukan di Laboratorium Virologi, Balai Penelitian Veteriner, Bogor. Prototipe vaksin inaktif AI subtipeH5N1 ini dibuat dari virus AI H5N1 isolat lokal dengan identitas A/Chicken/West Java/67-2/2003. Setelah vaksin dibuat, vaksintersebut diuji pada ayam petelur sebagai hewan coba. Parameter yang diamati, yaitu tingkat keamanan dan daya proteksi vaksin(respon antibodi, proteksi, dan ekskresi/shedding virus tantang). Hasil penelitian memperlihatkan bahwa vaksin yang dibuatbersifat aman dan protektif terhadap uji tantang virus AI virulen. Vaksinasi yang dilakukan pada ayam umur 3 minggu saatantibodi maternal sangat rendah menghasilkan respon antibodi tertinggi. Titer antibodi meningkat terus mencapai puncaknyapada saat 8 minggu setelah vaksinasi. Pada saat 4 dan 8 minggu setelah vaksinasi ayam memiliki proteksi (90%) terhadap infeksivirus AI virulen. Disamping itu lama sekresi virus tantang dari tubuh ayam menurun dan tidak terdeteksi lagi mulai hari ke-7setelah uji tantang. Berdasarkan studi di tingkat laboratorium ini disimpulkan bahwa prototipe vaksin AI yang dibuat hasilnyasangat baik.

Kata Kunci: Vaksin, Avian Influenza, H5N1, HPAI 11 mfn=001073

Sendow, Indrawati; Syafriati, Tatty; Damayanti, Rini(Balai Penelitian Veteriner, Bogor

Indonesia). Gambaran seroepidemiologi dan histopatologi infeksi virus parainfluenza tipe 3 pada sapi. Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner. (2004). V .9(2) p.115-121.

Abstrak

Suatu studi untuk mengetahui gambaran seroepidemiologi, pemeriksaan histopatologi dan upaya isolasi agen penyebab telahdilakukan terhadap infeksi virus parainfluenza tipe 3 (PI-3) pada sapi di Indonesia. Survei serologis dilakukan di beberapadaerah di Indonesia dan terhadap serum yang diperoleh dari Bank Serum untuk mengetahui penyebaran infeksi virusParainfluenza tipe 3 (PI-3) pada ternak ruminansia besar. Sebanyak 1334 serum telah diuji untuk pemeriksaan serologis denganuji serum netralisasi, hasil menunjukkan bahwa antibodi terhadap virus PI-3 bervariasi dari 0 hingga 60%. Prevalensi reaktortertinggi diperoleh dari serum yang berasal dari RPH Bogor, sebanyak 60%. Reaktor juga ditemukan di beberapa daerah sepertiJawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, NTT dan Papua. Hasil titrasi serum menunjukkan bahwa penyebaran titer tidak meratayaitu mulai titer 4 hingga 256, namun paling banyak ditemukan pada titer 8 hingga 32. Titer 128 hingga 256 hanya diperolehpada masing-masing 1 sampel serum saja. Isolasi virus telah dilakukan dari paru-paru yang mengalami pneumonia yang berasaldari RPH Bogor dan Jakarta. Hasil isolasi virus menunjukkan bahwa tidak satu isolatpun yang berhasil diperoleh dari 237sampel yang diproses. Pemeriksaan histopatologi menunjukkan bahwa lebih dari 60% paru-paru yang diproses menunjukkankelainan pneumonia interstitialis yang dapat disebabkan oleh infeksi virus. Hasil serologis ini menunjukkan bahwa infeksi virusPI-3 telah terdeteksi pada

(7)

ternak ruminansia besar di Indonesia.

Kata kunci: Virus Parainfluenza tipe 3, serologik, histopatologik 12 mfn=001086

Sendow, Indrawati; Syafriati, Tatty(Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia).

Seroepidemiologi infeksi Canine parvovirus pada anjing. Jurnal Ilmu Ternak Dan Veteriner. (2004). V .9(3) p.181-190.

Abstrak

Canine parvovirus merupakan penyakit virus yang berakibat akut dan fatal pada anak anjing.

Sebanyak 209 serum sampelanjing Lokal, Ras dan Bastar yang berasal dari Kodya Bogor, Kabupaten Bogor, Sukabumi, dan Jakarta, telah diuji dengan ujiHemaglutinasi Inhibisi dengan menggunakan sel darah merah babi. Selain serum anjing tersebut, 64 ekor anjing Ras dan Bastarlainnya asal Sukabumi dan Kodya Bogor, telah digunakan sebagai anjing sentinel untuk mempelajari epidemiologi infeksiCanine parvovirus (CPV) serta respon imunologis akibat vaksinasi. Hasil menunjukkan bahwa 78% (95) anjing Ras dan Bastar,dan 59% (51) anjing lokal mengandung antibodi terhadap CPV. Hasil sentinel anjing menunjukkkan bahwa anjing yang telahdivaksinasi menunjukkan adanya respon antibodi dengan variasi titer yang berbeda tergantung dari titer antibodi saat anjingtersebut divaksinasi. Dari 19 ekor anak anjing yang diamati, antibodi bawaan dapat terdeteksi hingga 5 minggu. Titer antibodiyang dihasilkan akibat infeksi alami, dapat bertahan lebih dari 2 tahun. Vaksinasi primer yang diberikan pada saat umur anjingkurang dari 3 bulan, mutlak diberikan vaksinasi ulang pada umur lebih dari 3 bulan. Vaksinasi yang diberikan pada saat titerantibodi telah mencapai batas proteksi, tidak menurunkan titer yang dihasilkan, meskipun dinilai tidak ekonomis. Data tersebutmenyimpulkan bahwa waktu dan kondisi anjing saat vaksinasi sangat berpengaruh pada pembentukan antibodi yang optimal.

Kata kunci: Canine parvovirus, hemaglutinasi inhibisi, isolasi 13 mfn=001098

Sendow, Indrawati; Syafriati, Tatty; Darminto(Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia)Morrissy, Chris; Daniels, Peter w.(Australian Animal Health Laboratory, Australia). Deteksi dini infeksi virus Nipah dengan uji Enzyme immunoassay pada babi di Indonesia. Jurnal Mikrobiologi Indonesia. (2004). V .9(2) p.73-75.

Abstak

Nipah is an exotic, zoonotic and contagios viral disease which infect pigs and humans. Using elisa TEST,serological survey was condueted to gain the information of the presence of Nipah infection in pig in indonesia. A total of 1471 pig sera collected from North Sumatera,Riau. North sulawesi and java were tested using inactivated Nipah antigen and the results indicated that no antibodies against Nipah virus was detected. In order to validate and to confirm the result recorded, 384 pig sera were send to Australian Animal Health Laboratory (AAHL)and were tested using serum neutralization test. Based on the same ELISA results and standardised ELISA teehniques in both laboratories, it was concluded that Nipah ELISA test can be done at Balitvet laboratory and applied in Indonesia. The test in needed as a part of technological transfer, as well as to support the Government policy in order to anticipate the entering of Nipah virus infection. Key words: nipah virus,serology, ELISA test,pigs

14 mfn=001313

Sarosa, Antonius; Sendow, Indrawati; Syafriati, Tatty(Balai Besar Penelitian Veteriner). Pengamatan status kekebalan terhadap penyakit Hog Cholera dengan teknik Neutralization peroxidase linked assay. Prosiding Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. Bogor. 4 - 5 Agustus 2004.p.749-753. (2004).

(8)

Abstrak]

Pengamatan status kekebalan terhadap penyakit hog cholera atau classical swine fever yang merupakanpenyakit menular pada babi yang disebabkan oleh virus dari genus Pestivirus, familia

Flaviviridae, telahdilakukan pada ternak babi yang berada di rumah pemotongan hewan (RPH)

Kapuk, Jakarta. Semua babitersebut berasal dari daerah Solo, Jawa Tengah. Uji serologik yang dipakai adalah neutralization peroxidaselinked assay (NPLA). Dari sampel serum babi sebanyak 448, ditemukan 142 sampel (31,7%) yangmengandung antibodi terhadap virus hog cholera dengan titer yang bervariasi dari titer rendah, sedang sampaitinggi. Terhadap sisanya sebanyak 306 sampel (68,3%) tidak terdeteksi adanya antibodi terhadap virus hogcholera. Dari hasil pengamatan ini dapat disimpulkan, bahwa masih ditemukan babi-babi yang tidakmempunyai kekebalan terhadap penyakit hog cholera.

Kata kunci: Hog cholera, babi, neutralization peroxidase linked assay (NPLA 15 mfn=001315

Syafriati, Tatty(Balai Besar Penelitian Veteriner). Deteksi antibodi penyakit feline anleukopenia pada kucing dengan menggunakan teknik ELISA. Prosiding Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. Bogor. 4 - 5 Agustus 2004. p.761-766.

(2004).

Abstrak

Pada tahun 2002 keberadaan penyakit Feline Panleukopenia (FPL) pada kucing di Indonesia sudah dapatdibuktikan secara serologik dengan uji hemagglutinasi (HI) dan uji neutralisasi (SNT). Tulisan inimenjabarkan deteksi antibodi terhadap 125 sampel serum kucing yang berasal dari daerah Jakarta dan Bogordengan menggunakan teknik ELISA. Hasil menunjukkan secara ELISA sera kucing positif sebanyak 97 dari125 sampel (77,6%) tidak berbeda dengan uji SN dimana sera positif 97 serum dari 132 sampel (73,48%)sehingga dapat disimpulkan teknik ELISA dalam uji serologik FPL dapat digunakan sebagai uji alternatifselain uji HI atau SN. Kata kunci: Feline Panleukopenia (FPL), kucing, uji serum netralisasi, enzyme linked-immunoassay (ELISA)

16 mfn=000669

Sendow, Indrawati; Syafriati, Tatty; Darminto(Balai Penelitian Veteriner, Bogor (Indonesia))Hadi, Upik Kesumawati; Malole, Martin(FKH IPB). Epidemiologi penyakit japanese-B-encephalitis pada babi di Propinsi Riau dan Sumatera Utara. Jurnal Ilmu Ternak Dan Veteriner. 2003 V .8(1) p.64-70.

Abstrak

Pencemaran lingkungan yang disebabkan oleh pestisida golongan organoklorin sifatnya persisten di alam, salah satu akibatnya dapat menyebabkan gangguan reproduksi pada bangsa burung yang hidup di lingkungan tersebut. Upaya untuk mengurangi terbentukltya residu endosulfan pada telur ayam telah dilakukan . Pada penelitian ini digunakan vitamin A, untuk dilihat sejauh mana dapat menunmkan terbenttilcnya residu pada telur ayam. Dalam penelitian inidigunakan 15 ekor ayam petelur (galur Rhode Island Red) yang telah berproduksi dibagi dalani 3 grup. Grup I diberikan dosis harian endosulfan (1 mg/kg bobot bahan) selama 15 hari dengan cara dicekok . Grup II diberi endosulfan dengan dosis dan cara yang sama ditambah vitamin A 12.000 IU setiap hari sampai 28 hari setelah pemberian endosulfan. Grup III sebagai hewan kontrol hanya mendapatkan cekokan air. Makanan clan minuman diberikan ad libitunt . Sampel benipa telur diambil pada hari ke-1, 3, 6, 10, 15, 21, dan 28 sesudah pemberian endosulfan. Sampel diekstrasi dengan pelarut organik dan residunya didekteksi dengan kromatografi gas . Hasil yang didapatmenunjukkan bahwa Grup II yang mendapat vitamin A, kadar residu endosulfan lebili rendah dibandingkan dengan Grup I. Residu endosulfan clan metabolitnya menurun pada hari ke-28 sudah tidak terdeteksi lagi pada Grup I, sedangkan pada Grup II residu sudah tidak terdeteksi pada hari ke-21 . Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa vitamin A

(9)

mempercepat perubalian endosulfan menjadi metabolitnya dan mempercepat eliminasinya sehingga dapat ntengurangi timbulnya residu pada telur.

Kata kunci : Vitamin A, residu endosulfan, telur ayam 17 mfn=000840

Syafriati, Tatty; Sendow, Indrawati(Balai Penelitian Veteriner, Bogor (Indonesia)). Peneguhan diagnosa serologi penyakit Bovine respiratory syncytial virus pada ternak sapi. Prosiding Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner.Bogor. 29 - 30 September 2003. p.185-191. Bogor. Pusat Penelitian dan Pengembangan Pertanian.

2003.

Abstrak

Bovine respiratory syncytial virus (BRSV) infection is one of respiratory diseases of cattle caused by virus belong to familyParamyxoviridae. BRSV is major infection in calves during the first year of life and cause mortality. In 1995, BRSV infection incalves had been suspected in Jakarta, however BRSV confirmation has not been proved. The study to know BRSV prevalence oncattle /and buffalo has been conducted. Serological surveys had been done in two slaughter houses and in the field, as many as400 sera has been collected to be tested against BRSV by using ELISA kit from oversea, the test has shown positive result toBRSV (43.25%). The collection of 237 lungs of cattle and buffaloes from slaughter house had been processed in Vero cells andBovine turbinate cells but failed to grow virus after three passages.

Key words: Bovine respiratory syncytial virus, cattle, ELISA 18 mfn=000845

Sendow, Indrawati; Syafriati, Tatty; Damayanti, Rini(Balai Penelitian Veteriner, Bogor (Indonesia)). Prevalensi reaktor infeksi virus parainfluenza tipe 3 pada ruminansia besar. Prosiding Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. Bogor. 29 - 30 September 2003. p.214-217. Bogor. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan. (2003).

Abstrak

Serological survey was conducted in different areas in Indonesia and serum Bank to gain the information on the distributionof parainfluenza type 3 (PI-3) in large ruminants. Serological test was done by serum neutralization, and the result indicated thatprevalence of reactors was varied from 0 to 60%. The highest prevalence was detected in sera from Bogor abbatoir, about 60%.Titration results indicated that the distribution of titre was varied from 4 to 256, and titre of 8 to 32 was the most common. Titreof 128 and 256 was only found in each of 1 sera only. This serological result indicated that PI-3 infection was detected inIndonesian large ruminants. Key words: Parainfluenza type 3, serum neutralization, titre antibody

19 mfn=000860

Sendow, Indrawati; Syafriati, Tatty(Balai Penelitian Veteriner, Bogor (Indonesia)).

Isolasi canine parvovirus pada anjing. Prosiding Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. Bogor. 29 - 30 September 2003. p.474-476.

Abstrak

Isolation of Canine Parvovirus(CPV),was conducted from dogs organ and feces which caused diarhoea and blood diarhoea.Organ and feces suspension was then inoculated in Feline Kidney (FK) cell lines and observed for cythopathic effect (CPE).Cells showing CPE indicated that there is isolate and continue to identification using Hemaglutination (HA) with pig red bloodcell (RBC). Sample which had agglutinated pig RBC, was tested against Hemagluitination Inhibition (HI) using antiserareference antisera to CPV. Isolation results indicated that from 57 samples processed, only 10 samples showed CPE in FK cellsand 6 of those produced agglutination with pig RBC using HA test and in HI reacted with refrence antisera CPV until titre 128.Those

(10)

isolates were from feces and mucose of guts from dogs which showed blood diarhoea. From this data, it can be concludedthat CPV can be isolated from feces dan mukose od guts.

Key words: Canine parvovirus, haemaglutination inhibition, isolation 20 mfn=000861

Syafriati, Tatty; Sendow, Indrawati(Balai Penelitian Veteriner, Bogor (Indonesia)).

Keberadaan penyakit feline panleukopenia pada kucing di Indonesia.Prosiding Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. Bogor. 29 - 30 September 2003. p.477-480.

Abstrak

Feline Panleukopenia ( FPL) is one of major infectious diseases of cat. The presence of the

disease in Indonesia is unknownThe aim of the study is to know the present of FPL status as serological evidence in the cat population in Indonesia. Theserological survey had been conducted in Jakarta and Bogor area and 120 sera had been collected. The study is based onserological finding by using HI and SN methods. The result shows positive against FPL as much as 95/120 (79.17%) by HImethods and 62/81 (76.54%) by using SN method. The presence of FPL as sero epidemiology in Indonesia expectedly has beenproved.

Key words: Feline Panleukopenia, cat, hemagglutination inhibition, serum neutralization 21 mfn=000648

Adjid, R.M. Abdul; Damayanti, Rini; Hamid, Helmy; Syafriati, Tatty; Darminto(Balai Penelitian Veteriner, Bogor (Indonesia)). Penyakit marek pada ayam: I. Etiologi, patogenesis dan

pengendalian penyakit. Wartazoa. 2002. Vol.12(2) p. 65-71.

Abstrak

Penyakit Marek adalah suatu penyakit neoplastik dan neuropatik pada unggas, terutama ayam, disebabkan oleh herpesviruscell-associated yang sangat infeksius. Penyakit ini termasuk penyakit yang sangat ditakuti oleh para peternak unggas. Sebelumdiketemukan vaksinnya kerugian akibat penyakit Marek sangat besar, seperti di Amerika Serikat kerugian per tahunnya sekitar150 juta dolar. Virus penyebab penyakit Marek relatif tahan terhadap pengaruh fisik maupun kimiawi. Pada kondisi dipeternakan ayam virus Marek tahan selama berbulan-bulan sehingga dapat merupakan sumber infeksi bagi populasi unggas dipeternakan tersebut. Patogenesis penyakit Marek tergolong rumit melibatkan berbagai target sel serta dipengaruhi oleh berbagaifaktor. Ada empat tahap patogenesisnya, yaitu infeksi sitolitik awal, infeksi laten, infeksi sitolitik akhir, serta infeksiproliferative. Pola patogenesis yang dipengaruhi oleh berbagai faktor ini dapat mengakibatkan keragaman gejala dan masainkubasi penyakit pada kondisi lapangan. Untuk keberhasilan pengendalian penyakit Marek, disamping penggunaan vaksin yang tepat sebagai upaya pencegahan primer, perlu didukung dengan upaya seleksi ras hewan resisten dan sistem manajemen. Adanyapatotipe yang lebih virulen merupakan ancaman baru bagi industri perunggasan, serta pengembangan strategi pengendalian yangetiologi, patogenesis, pengendalian lebih efektif sebaiknya diantisipasi.

Kata kunci: Marek, unggas, 22 mfn=000716

Syafriati, Tatty; Parede, Lies; Poeloengan, Masniari; Wahyuwardani, Sutiastuti; Sani, Yulvian(Balai Penelitian Veteriner, Bogor (Indonesia)). Sindroma kekerdilan pada ayam niaga pedaging. Prosiding Seminar Nasional Peternakan dan Veteriner. Bogor. 18 - 19 September 2000.p.512-519. Bogor. Pusat Penelitian dan pengembangan Peternakan. (2000).

Abstrak

Beberapa jenis ayam niaga pedaging telah diperiksa terhadap adanya sindroma kekerdilan (IRSS=infectious runting & stunting syndrome) ternyata bahwa sindroma kekerdilan menyerang

(11)

semua jenis ayamniaga. Sebanyak 370 sampel ayam niaga pedaging dari beberapa daerah di Jawa Barat. diperiksa pada periodetahun 1998/1999 . Pemeriksaan dilakukan tehadap kemungkinan disebabkan oleh agen infeksius, virus maupunbakteri . Pengamatan terhadap gangguan pertumbuhan bobot badan menunjukan laju pertumbuhan bobot badanterhambat, hanya mencapai 33% sampai dengan 68,4% dibanding bobot badan normal (stunting) atau bahkanmencapai 19% dibanding bobot standar normal (runting). Pada uji tular dilaboratorium menunjukkanpertumbuhan terlambat sampai mencapai 69,0% Hasil pemeriksaan sampel menunjukkan bahwa hampir semuaorgan dari ayam penderita kekerdilan terinfeksi bakteri dan berdasarkan isolasi pada telur ayam teztunas danserta dilintaskan pada sel primer chicken embryo fibroblast (CEF) diikuti dengan gambaran electronmicroscope (EM), didapat partikel enterovirus-like virus. Pemeriksaan serum menunjukkan titer antibodi yangbervariasi terhadap 1BD (infectious bursal disease) dan ND (Newcastle disease) .

Kata kunci: Kekerdilan, IRSS, runting, stunting, ayam pedaging 23 mfn=000717

Noor, Susan Maphilindawati; Poeloengan, Masniari; Andriani; Parede, Lies; Syafriati, Tatty; Wahyuwardani, Sutiastuti; Sani, Yulvian(Balai Penelitian Veteriner, Bogor (Indonesia)). Uji pertumbuhan Campylobacter spp dari kasus kekerdilan terhadap ayam pedaging. Prosiding Seminar Nasional Peternakan dan Veteriner. Bogor. 18 - 19 September 2000. p.520-524.Bogor. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan. (2000).

Abstrak

Salah satu agen penyebab kekerdilan yang infeksius pada ayam diduga oleh infeksi campuran virus danbakteri. Tujuan penelitian ini melihat peranan infeksi agen infeksius, Campylobacter spp. dan virus dalammenginduksi sindroma kekerdilan pada ayam pedaging . Tiga kelompok ayam pedaging umur 2 hsri (40 ekorper kelompok) diinfeksi secara dicekok . Kelompok I diinfeksi dengan isolat Campylobacter spp. dan virus A(98/620), kelompok II diinfeksi dengan isolat Campylobacter spp. dan virus B (99/457) dan Kelompok IIIsebagai kontrol normal. Hasil uji menunjukkan bahwa ratarata berat badan syam umur 35 hsri pada kelompokI dan II lebih rendah dibandingkan dengan kelompok kontrol (III), dengan laju hambatan pertumbuhanmencapai 11% (kelompok I) dan 16% (kelompok II). Prosentsse tertinggi ayam sakit setelah diinfeksi padasyam kelompok I dan II terjadi pada minggu pertama dan kedua, yaitu masing-masing 43,9 dan 37% yangkemudian mengalami penurunan sampai ayam umur 35 hsri. Prosentase gejala helikopter pada kelompok Imencapai 35,89% dan kelompok II mencapai 9,3%. Reisolasi bakteri Campylobacter spp.dari ayam kelompok 1tertinggi dicapai pada minggu pertama setelah infeksi sedangkan kelompok II psda minggu kedua.

Kats kunci: Sindroma kekerdilan, Campylobacter spp., ayam kerdil 24 mfn=000902

Syafriati, Tatty; Parede, Lies(Balai Penelitian Veteriner, Bogor (Indonesia)). ELISA technique to detect antibody against chicken anemia virus (CAV) infection on broiler. Teknik ELISA untuk pengujian serologi infeksi chicken anemia virus (CAV) pada ayam potong niaga. Prosiding Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. Ciawi-Bogor. 30 Sep. - 1 Okt. 2002. p.440-443.

Abstrak

Chicken anemia virus (CAV) infection are distributed worldwide including in Indonesia, and becomes one the causal agenfound on stunting of commercial broiler. Enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA) is developed to detect antibody againstCAV (reactor) and is established as a diagnostic tool. Field CAV antigen was identified and used for antigen . The test hasfrequently given reliable result when the positive and negative sera tested were diluted in PBST + 1% Casein, and the antigendilution of field CAV or CAV SPAFAS standard antigen used was 1 :16.000 which is equal with protein content of 1-2nanogram per 100 ul/ well, and

(12)

using 96 well polysorp Nunc immunoplate, Denmark.

Key words: Chicken anemia virus (CAV), Enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA), commercial broiler

25 mfn=000730

Sendow, Indrawati; Syafriati, Tatty; Wiedosari, Ening(Balai Penelitian Veteriner, Bogor (Indonesia))Selleck, Paul(Australian Animal Health Laboratory, Geelong Australia). Isolasi virus parainfluenza tipe 3 dari kasus pneumonia kambing dan domba. Prosiding Seminar Nasional Peternakan dan Veteriner.Bogor. 17 - 18 September 2001. p.503-508. Bogor. Pusat Penelitian dan Pengembangan peternakan.

(2001).

Abstrak

Sebanyak 345 sampel paru-paru kambing dan domba yang berasal Rumah Potong Hewan DKI Jaya telahdiproses untuk isolasi virus pada biakan jaringan Madin Darby Bovine Kidney (MDBK). Hasil isolasimenunjukkan satu 345 sampel paru-paru kambing dan domba yang diproses mengalami perubahan cytopathiceffects (CPE) pada biakan jaringan Madin Darby Bovine Kidney (MDBK) dan hasil identifikasi dengan ujiserum netralisasi (SN) menunjukkan adanya reaksi netralisasi dengan serum standar virus PI-3. Isolat virus PI-3 tersebut berasal dari paru-paru kambing yang secara histopatologi mengalami kelainan pneumoniaintertitialis/hiperplasia limfoid.

Kata kunci: Parainfluenza tipe 3 (PI-3), isolasi virus, pneumonia intertisialis 26 mfn=000739

Noor, Susan Maphilindawati; Poeloengan, Masniari; Parede, Lies; Syafriati, tatty; Wahyuwardani, Sutiastuti(Balai Penelitian Veteriner, Bogor (Indonesia)). Peranan ampylobacter jejuni sebagai bakteri penyebab kekerdilan pada ayam broiler. rosiding Seminar Nasional Peternakan dan Veteriner. Bogor. 17 - 18 September 2001. p.730-736. Bogor. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan. (2001).

Abstrak

Infectious runting and stunting syndrome (IRSS) adalah suatu sindroma kekerdilan pada ayam

pedagingyang ditandai dengan rendahnya berat badan ayam dan gangguan pertumbuhan bulu pada umur 2 minggu.Bakteri Campylobacter jejuni diketahui selalu banyak ditemukan pada ayam penderita kekerdilan. Ujipatogenitas C. jejuni pada ayam pedaging umur 2 hari menimbulkan diare pada anak ayam yang diinfeksi.Sebanyak 120 ekor DOC digunakan pada uji tular induksi kekerdilan dengan bakteri C. jejuni dan chickenanaemia virus (CAV). Kelompok I, ayam diinfeksi dengan C. jejuni dan virus CAV, kelompok II, ayam hanyadiinfeksi dengan C.

jejuni dan Kelompok III sebagai kontrol normal. Hasil uji tular menunjukkan bahwa

ratarataberat badan ayam percobaan umur 35 hari pada kelompok I dan II lebih rendah dibandingkan dengankelompok kontrol (III), dengan laju hambatan pertumbuhan mencapai 23,4% (kelompok I) dan 7,3%(kelompok II). Gejala klinis yang muncul setelah diinfeksi agen bakteri dan virus C. jejuni bersama denganvirus CAV adalah diare, kelainan pertumbuhan bulu seperti helikopter dan kaki pengkor. Reisolasi C. jejunimeningkat sejalan dengan bertambahnya umur ayam baik pada ayam kelompok I maupun II

Kata kunci: Sindroma kekerdilan, patogenitas, Campylobacter jejuni, induksi IRSS, ayam kerdil, CAV

27 mfn=000741

Syafriati, Tatty; Parede, Lies; Noor, Susan Maphilindawati; Wahyuwardani, Sutiastuti(Balai Penelitian Veteriner, Bogor (Indonesia)). Kasus sindrome kekerdilan pada ayam niaga pedaging

(13)

di Jawa Barat dan Daerah Istimewa Yogyakarta Tahun 1999-2000. Prosiding Seminar Nasional Peternakan dan Veteriner. Bogor. 17 - 18 September 2001. .737-746. Bogor. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan. (2001).

Abstrak

Pengamatan lapangan dilakukan di 16 peternakan, di 3 kabupaten di Jawa Barat dan 3 kabupaten di DIYogyakarta terhadap bobot badan secara acak pada sebanyak 122 ekor ayam yang kerdil dan normal.Persentase kekerdilan dimulai terlihat pada umur 13-29 hari adalah 19,1%-30,4% dari 186 g/975g sampai 86g/283g atau pertumbuhan terhambat 43,5%-80,9%. Hasil pengamatan dari DI Yogyakarta pada umur 12-21hari, terhambat 40,7% sampai dengan 80,9%. Persentase ayam kerdil dibanding dengan bobot badan standarayam mencapai 19,1% pada umur 21 hari, bervariasi berdasarkan umur dan jenis ayam yaitu dari 19,1%sampai 59,3%. Gejala kerdil ini terlihat pada berbagai jenis ayam. Isolat chicken anemia virus (CAV) dariayam kerdil lapangan diuji tularkan pada ayam di laboratorium, juga hasil bakteri umum pada 110 sampel dariJawa Barat dan 134 sampel dari DI Yogyakarta yang diperiksa terdiri dari grup bakteri umum seperti

E. coli,Staphylococcus sp., Streptococcus sp., S. aureus, S. epidermidis dan Klebsiella sp.

Sementara itu bakteriCampylobacter sp. yang mempunyai peranan juga terhadap proses kekerdilan ayam hanya dapat dilakukan dari30 sampel dan mendapat 9 isolat.

Kata kunci: Ayam kerdil, CAV, kekerdilan, ayam pedaging 28 mfn=000910

Sendow, Indrawati; Syafriati, Tatty; Darminto(Balai Penelitian Veteriner, Bogor (Indonesia)). Nipah : suatu kasus ensefalitis eksotik dan berbahaya bagi hewan dan manusia. Jurnal Penelitian Dan Pengembangan Pertanian. (2001). V .20(1) p.17-24.

Abstrak

Nipah adalah satu penyakit ensefialitis yang disebabkan oleh virus Nipah dari kelompok Morbilivirus. Famili paramyxoviridae. Virus tersebut dapat menyerang manusia yang ditularkan melalui babi. Pada babi, virus ini menyebabkan gangguan pernafasan, sedangkan pada manusia, menyebabkan gangguan syaraf yang dikenal dengan gejala ensefalitis. Pada manusia,virus Nipah lebih banyak menyerang orang dewasa melalu kontak langsung dengan bahan ekskresi cairah tubuh babi yang terinfeksi. Di indonesia, infeksi Nipah belum dilaporkan. Hasil pengujian serologis dengan menggunakan uji ELISA dipropinsi Riau dan Semuatera Utara menunjukan bahwa infeksi Nipah tidak terdapat di daerah tersebut. Dalam rangka mempertahankan status bebas terhadap penyakit Nipah, pengenalan tanda-tanda infeksi Nipah, pemahaman epidemiologi penyakit Nipah, serta monitoring secara berkala diperlukan agar kemungkinan masuknya infeksi Nipah ke wilayah indonesia dapat diidentifikasi secepatnya sehingga langkah-langkah penanggulangannya dapat dilaksanakan dengan tepat.

Kata kunci : Nipah , morbilivirus, ensefalitis eksos , epidemiologi,serologi 29 mfn=000572

Wahyuwardani, Sutiastuti; Sani, Yulvian; Parede, Lies; Syafriati, Tatty; Poeloengan, Masniari (Balai Penelitian Veteriner, Bogor (Indonesia)). Sindroma kekerdilan pada ayam pedaging dan gambaran patologinya. Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner. (2000). Vol.5(2) p.125-131.

Abstrak

Sindroma kekerdilan pada ayam pedagingdan gambaran patologinya. Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner 5(2): 125- I 31.Penyakit dengan gejala sindroma kekerdilan pada ayam pedaging diamati di 13 kabupaten di propinsi Jawa Barat dan Jawa Tengah. Sebanyak 37 peternak telah dikunjungi dan sebanyak 291 sampel ayam yang menderita sindroma kekerdilan dan ayamnormal sebagai kontrol telah dikoleksi untuk mempelajari perubahan patologis. Sampel darah dikoleksi dari ayam yang berada dipeternakan yang diambil secara acak untuk pemeriksaan packed cell volume (PCV). Ayam sampel kemudian dinekropsi untukmempelajari perubahan patologis anatomis sindroma kekerdilan. Organ hati, limpa, timus, proventrikulus,

(14)

ventrikulus, usushalus, caecum, pankreas, bursa fabricious dan jantung dikoleksi untuk pemeriksaan histopatologis. Pengamatan lapanganmenunjukkan tingkat kejadian sindroma kekerdilan pada ayam pedaging bervariasi dari satu peternakan ke peternakan yanglainnya yaitu berkisar antara 0,1% - 50%. Secara klinis ayam menunjukkan ukuran badan yang tidak seragam dalam satukelompok, pertambahan bobot badan terhambat dan atau terlambat dan bulu sayap terbalik dan menonjol keluar. Perubahanpatologi anatomi yang menonjol terdiri hiperemia timus, atropi timus, atropi pankreas dengan perubahan histopatologi yangdidominasi oleh pankreatitis, enteritis dengan dilatasi kripta usus, proventrikulitis dan atropi timus dengan jumlah yang bervariasi dari setiap daerah. Analisis PCV darah menunjukkan bahwa tidak ada hubungan langsung antara kandungan PCV dalam darah terhadap sindroma kekerdilan.

Kata kunci : Sindroma, kekerdilan, anatomi pathologi, histopathologi 30 mfn=000715

Wahyuwardani, Sutiastuti; Sani, Yulvian; Parede, Lies; Syafriati, Tatty; Poeloengan, Masniari(Balai Penelitian Veteriner, Bogor (Indonesia)). Gambaran patologi uji coba reinfeksi sindroma kekerdilan pada ayam pedaging. Prosiding Seminar Nasional Peternakan dan Veteriner. Bogor. 18 - 19 September 2000. p.504-511. Bogor. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan. (2000).

Abstrak

Uji coba reinfeksi sindroma kekerdilan telah dilakukan dengan cara 5 macam inokulum berasal dari ayampenderita sindroma kekerdilan dari lapangan yang diinokulasikan pada syam percobaan. Sebanyak 90 ekorDOC strain Hybro dibagi menjadi 6 kelompok, 5 kelompok ayam perlakuan yaitu, kelompok I (ISO), kelompokII (I-IV), kelompok 111 (674), kelompok IV (675) dan kelompok V (483). masing-masing terdiri dari 16 ekorDOC serta 1 kelompok kontrol yang terdiri dari 10 ekor DOC. Selama penelitian gejala klinis diamati dan padaakhir penelitian (hari 14 psska inokulasi) dilakukan penimbangan dan pengambilan darah untuk pemeriksaanPCV, sedangkan nekropsi dilakukan pada waktu ayam berumur 7 hari dan 14 hari paska inokulasi. Gejala klinisyang menyolok adalah hambatan pertumbuhan 13 .8-33,2% pada syam perlakuan, diare, bulu terbalik(helikopter) pada kelompok I (ISO) dan kelompok V (483). Hasil pemeriksaan kadar PCV ayam perlakuantidak berbeda dengan kadar PCV ayam perlakuan. Kelainan patologik yang utama dijumpai pada waktunekropsi adalah : timus hiperemi, omphalitis, kepucatan pada otot dada, hati, ginjal dan limpa. Selanjutnyakelainan yang konsisten dijumpai pada pemeriksaan histopatologi adalah pankreatitis dan enteritis dengantingkat keparahan yang bervariasi pada semua kelompok perlakuan.

Kata kunci : Sindroma, kekerdilan, patologi anatomi, histopatologi 31 mfn=000678

Sarosa, Antonius; Tarigan, Simson; Syafriati, Tatty; Bahri, Sjamsul(Balai Penelitian Veteriner, Bogor (Indonesia)). Isolasi dan identifikasi virus penyebab wabah penyakit hog cholera dari beberapa daerah di Indonesia 1995-1998. Prosiding Seminar Nasional Peternakan dan Veteriner. Bogor. 1 - 2 Desember 1998. p.896-903. Bogor. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan. (1999).

Abstrak

Virus Hog cholera telah berhasil diisolasi dari wabah penyakit yang mcnyerang babi 1 daerah Kapuk (DKI JAKARTA), Pontianak (Kalimantan Barat), Palopo dan Toraja (SulaweSelatan), Pekanbaru (Riau) dan Jambi . Identifikasi virus dilakukan dengan tekniimmunoperoxidase monolayer assay (IPMA) . Hasil isolasi dan Identifkasi juga didukung detekantigen dengan enzyme linked-itnrnunosorbent assay (ELISA), gejala klinis, perubalian patologiserta morbiditas dan mortalitas yang cukup tinggi .

Kata kunci : Hog cholera, immunoperoxidase monolayer assay (IPMA), enzyme linkedimmunosorbent assay (ELISA), babi

(15)

32 mfn=000470

Sendow, Indrawati; Syafriati, Tatty; Bahri, Sjamsul; Sarosa, Antonius(Balai Penelitian Veteriner, Bogor (Indonesia)). Uji serologis terhadap virus Transmissible Gastroenteritis (TGE) di beberapa daerah di Indonesia. Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner. (1998). Vol.3(3) p. 176-181.

Abstrak

Sebanyak 1.168 serum babi dan anjing yang berasal dari 8 propinsi di Indonesia telah dilakukan uji serologis terhadap antibodi transmissible gastroenteritis (TGE) dengan menggunakan uji netralisasi serum untuk mengetahui prevalensi reaktor TGE di Indonesia. Serum tersebut diambil dari koleksi bank serum yang ada di Balai Penelitian Veteriner, Bogor. Dalam uji serum yang berasal dari daerah sebelum tahun 1995 menunjukkan hasil negatif, sedangkan serum yang berasal dari daerah di 2 propinsi Sumatera Utara dan Sulawesi Utara yang diambil tahun 1996 menunjukkan hasil positif pada 8 dari 57 serum babi yang diuji (14,03%) dengan titer berkisar antara 8 dan 128.

Kata kunci: virus transmissible gastroenteritis, uji netralisasi serum 33 mfn=000677

Tarigan, Simson; Sarosa, Antonius; Syafriati, Tatty(Balai Penelitian Veteriner, Bogor (Indonesia)). Pengembangan Polymerase Chain Reaction (PCR) untuk diagnosa spesifik hog cholera. Prosiding Seminar Nasional Peternakan dan Veteriner. Bogor.1 - 2 Desember 1998. p.889-895.

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi teknik reverse transcription polyrnerase chain reaction (RT-PCR) sebagai diagnosa penyakit Hog cholera (HC). Isolasi RNA dan reversetranscription dilakukan dengan cepat dan praktis dengan menggunakan kit komersial . Reaksiamplifikasi dijalankan sebanyak 40 siklus dalam sebuah thermal cvcler yang setiap siklusnyaterdiri dari 30 detik denaturasi pada suhu 94°C, 60 detik anealing pada suhu 59°C, dan 120 detikperpanjangan DNA pada suhu 72°C. Sensitivitas dan spesivitas RT-PCR dianalisa terhadap virusHC benbagai isolat dan virus BVD yang dipropagasi dalam biakan sel lestari PK-15 atau Bovineturbinate . Teknik RT-PCR ini dapat mendeteksi keberadaan virus HC (RNA virus HC) dalam selPK-15 yang sebelumnya telah diinokulasi dengan virus HC. Sersitivitas RT-PCR tersebut sangattinggi karena dapat mendeteksi keberadaan RNA virus HC dalam total atau campuran RNA seldan virus yang sangat kecil (0,125 gg) . Bahkan sensitivitas deteksi dapat ditingkatkan menjadi0,0625 pg total RNA apabila amplifikasi dilakukan dua ronde. Selain itu RT-PCR tersebut dapatmendeteksi RNA dari semua isolat atau strain vines HC yang digunakan (isolat Man, isolat Kapuk,isolat Kalimantan dan strain vaksin Japanese GPE) . Spesifitas RT-PCR tersebut juga sangat tinggikarena selalu mernberikan hasil yang negatif terhadap RNA yang diisolasi dari sel yang tidakterinfeksi virus HC atau sel yang terinfeksi dengan virus BVD . Dari hasil penelitian inidisimpulkan bahwa RT-PCR sangat cocok untuk diagnosa HC karena sensitif dan spesifik danhasil dapat diperolah dengan cepat (1 hari).

Referensi

Dokumen terkait

Tahap ini dimulai saat penderita mengalami gejala awal penyakit, yang biasanya dikarenakan oleh adanya penurunan daya tahan tubuh, sehingga pada tahap ini terjadi kerusakan paru

Kesimpulan Pada penelitian ini, pemberian edukasi penyiapan susu formula yang aman pada ibu bekerja tidak berpengaruh secara signifikan terhadap penurunan

Dari hasil kesukaan panelis terhadap rasa, imbangan (75% : 25%) lebih banyak disukai panalis karena sari wortel yang ditambahkan yaitu 75% dan susu sapi 25%

Gambar 3.1 Kerangka konseptual tentang gambaran kadar kalsium pada daun kelor ( Moringa oleifera Lam.) dan susu sapi segar menggunakan metode AAS (Atomic

Dalam Karya Tulis Ilmiah yang berjudul “ KOMPARASI METODE PASTEURISASI TERHADAP KADAR PROTEIN PADA SUSU SAPI “ , Karya Tulis Ilmiah ini masih jauh dari kata sempurna