• Tidak ada hasil yang ditemukan

SKRIPSI. Oleh NURUL FATIKASARI NIM

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "SKRIPSI. Oleh NURUL FATIKASARI NIM"

Copied!
142
0
0

Teks penuh

(1)

i

PROFIL BERPIKIR KRITIS SISWA DALAM MENYELESAIKAN SOAL HOTS MATERI SISTEM PERSAMAAN LINEAR DUA VARIABEL

DITINJAU DARI KEMAMPUAN AWAL PADA KELAS VIII SMP NEGERI 3 PALLANGGA

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan pada Program Studi Pendidikan Matematika

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar

Oleh

NURUL FATIKASARI NIM 10536 1109616

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA 2020

(2)
(3)
(4)
(5)
(6)

vi

MOTTO DAN PERSEMBAHAN

Lakukan sekarang juga

Sebelum “nanti” berubah

Menjadi “tidak sama sekali”

Kupersembahkan karya ini untuk:

Allah SWT yang senantiasa melimpahkan rahmat dan karunia-Nya, baik

berupa mikmat kesehatan maupun kesempatan, serta dipermudah dalam setiap

urusan sehingga karya ini dapat terselesaikan. Selanjutnya kepada Ibu dan

bapak tercinta, atas doa, serta kasih sayang yang tidak henti-hentinya, yang

penuh kesabaran dalam mendidik dan membesarkanku, dan segala dukungan

yang menjadi motivasi untukku. Karya ini juga saya persembahkan kepada

teman-teman seperjuanganku serta almamaterku tercinta, Universitas

Muhammadiyah Makassar

(7)

vii ABSTRAK

Nurul Fatikasari. 2020. Profil Berpikir Kritis Siswa Dalam Menyelesaikan Soal HOTS Materi Sistem Persamaan Linear Dua Variabel Ditinjau Dari Kemampuan Awal Pada Kelas VIII SMP Negeri 3 Pallangga. Skripsi. Program Studi Pendidikan Matematika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Makassar. Pembimbing I Nurdin Arsyad Dan Pembimbing II Haerul Syam.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan kemampuan berpikir kritis siswa dalam menyelesaikan soal HOTS berdasarkan kemampuan awal siswa kelas VIII SMP Negeri 3 Pallangga yang berpikir kritis tinggi, sedang dan rendah. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang dirancang untuk mengetahui kemampuan berpikir kritis subjek dalam menyelesaikan soal HOTS berdasarkan kemampuan awal siswa. Data yang diolah adalah kemampuan berpikir kritis dalam menyelesaikan soal HOTS berdasarkan kemampuan awal siswa. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah pemberian tes dan wawancara. Soal yang digunakan dalam tes mengukur kemampuan berpikir kritis berupa soal essay berjumlah 3 nomor pada materi Sistem Persamaan Linear Dua Variabel. Wawancara bertujuan untuk mengetahui kemampuan berpikir kritis subjek dalam menyelesaikan soal HOTS berdasarkan tes kemampuan awal siswa terlebih dahulu. Berdasarkan olahan data tersebut, diperoleh bahwa subjek yang berpikir kritis tinggi adalah subjek yang mampu menguasai indikator FRISCO (focus, reason, inference, situation, clarity, dan overview). Subjek yang berpikir kritis sedang yaitu subjek yang hanya menguasai sebagian indikator FRISCO yaitu subjek tidak menjawab pertanyaan konteks permasalahan tetapi subjek dapat menjelaskan pada saat wawancara (focus), subjek tidak menuliskan pada saat tes terkait dengan indikator tersebut yaitu dapat memberikan alasan terkait fakta atau bukti yang relevan pada setiap langkah dalam membuat kesimpulan tetapi pada saat wawancara subjek dapat menjelaskannya (reason), subjek dapat membuat kesimpulan dengan tepat berdasarkan proses identifikasi pada langkah penyelesaian (inference), subjek mampu mengumpulkan informasi- informasi yang relevan dan menggunakan konsep-konsep matematika yang relevan untuk menjawab soal (situation), subjek dapat memberikan kejelasan simbol atau hal-hal yang belum jelas keterangannya (clarity) dan subjek tidak konsisten mengecek ulang pekerjaannya dari awal sampai akhir terlihat dari hasil wawancara (overview). Subjek yang berpikir kritis rendah, subjek tidak mampu memahami materi sistem persamaan linear dua variabel. Subjek sama sekali tidak mengerti cara penyelesaian dari awal sampai akhir dan tidak menguasai indikator FRISCO. Kata Kunci : Berpikir kritis, soal HOTS, kemampuan awal

(8)

viii

KATA PENGANTAR

Puji syukur senantiasa kita curahkan kepada sang pencipta atas segala karunia, nikmat yang berlimpah sehingga kita senantiasa dalam lindungan rahmat dan hidayahnya. Salam berserta shalwat senantiasa kita haturkan kepada baginda Rasulullah SAW yang telah menjadi suri tauladan bagi seluruh ummat di muka bumi ini.

Alhamdulillah atas karunia yang telah diberikan penulis mampu menyelesaikan skripsi ini yang berjudul “Profil Berpikir Kritis Siswa Dalam Menyelesaikan Soal HOTS Materi Sitem Persamaan Linear Ditinjau Dari Kamampuan Awal Pada Kelas VIII SMP Negeri 3 Pallangga“

Skripsi ini selesai tentunya berkat beberapa partisipasi, dukungan dan bimbingan dari sekitar, olehnya itu izinkan penulis menyampaikan banyak terimakasih kepada:

1. Kedua orang tua beserta keluarga yang senantiasa memberikan kasih dan sayangnya dalam menyelesiakan pendidikan.

2. Ayahanda Prof. Dr. H. Ambo Asse, M.Ag., selaku Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar.

3. Ayahanda Erwin Akib, M.Pd., Ph.D., selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar.

4. Ayahanda Mukhlis, S.Pd., M.Pd., selaku Ketua Program Studi Pendidikan Matematika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar.

(9)

ix

5. Ayahanda Ma‟rup, S.Pd., M.Pd., selaku Sekretaris Program Studi Pendidikan Matematika Fakultas keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar.

6. Ayahanda Prof. Dr. H. Nurdin Arsyad, M.Pd., dan Ayahanda Dr. Haerul Syam, M.Pd., selaku dosen pembimbing telah membimbing, mengarahkan dan memberikan motivasi dalam penulisan skripsi ini.

7. Ayahanda Ma‟rup, S.Pd., M.Pd., dan Ibunda Kristiawati, S.Pd., M.Pd., selaku validator yang telah memberikan arahan dan petunjuk terhadap instrumen penelitian.

8. Para Dosen Program Studi Pendidikan Matematika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar yang telah bersedia memberikan ilmunya dalam proses studi.

9. Para staf Program Studi Pendidikan Matematika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar yang memberikan arahan dalam proses perkuliahan dan akademik.

10. Kepala Sekolah SMP Negeri 3 Pallangga yang telah membantu penelitian dalam hal pemberi izin penelitian.

11. Guru Mata Pelajaran Matematika SMP Negeri 3 Pallamgga yang telah membantu peneliti selama proses penelitian.

12. Siswa-siswi kelas VIII.1 SMP Negeri 3 Pallangga yang telah bekerja sama dalam terlaksananya penelitian ini.

13. Teman-teman angkatan 2016 Pendidikan Matematika khususnya 2016 C dan Firmansyah yang senantiasa bersedia menemani peneliti selama proses

(10)

x

penelitian, untuk bantuannnya dalam memberikan ide dan motivasi selama penyusunan skripsi ini.

14. Seluruh pihak yang telah memberikan masukan, saran, motivasi dan supportnya dalam menyelesaikan tulisan ini yang peneliti tidak sempat tuangkan satu persatu dalam tulisan ini.

Akhirnya penulis mengharapkan skripsi ini dapat bermanfaat bagi rekan-rekan mahasiswa dan para pembaca. Semoga segala bentuk kebaikan senantiasa bernilai ibadah di sisi Allah SWT.

Makassar, Oktober 2020

(11)

xi DAFTAR ISI Halaman

HALAMAN JUDUL ... i

LEMBAR PENGESAHAN ... ii

LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iii

SURAT PERNYATAAN ... iv

SURAT PERJANJIAN ... v

MOTTO DAN PERSEMBAHAN ... vi

ABSTRAK ... vii

KATA PENGANTAR ... viii

DAFTAR ISI ... xi

DAFTAR TABEL... xiv

DAFTAR GAMBAR ... xv BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1 B. Rumusan Masalah ... 3 C. Tujuan Penelitian ... 4 D. Manfaat Penelitian ... 5 E. Batasan Istilah ... 5

BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Landasan Teori... 7

1. Profil ... 7

2. Berpikir Kritis ... 8

3. HOTS (Higher Older Thinking Skill) ... 10

4. Kemampuan Awal ... 14

5. Sistem Persamaan Linear Dua Variabel ... 17

(12)

xii

C. Kerangka Pikir ... 22

BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian... 24

B. Lokasi Penelitian ... 24

C. Subjek Penelitian ... 24

D. Prosedur Penelitian ... 25

E. Instrumen Penelitian ... 26

F. Teknik Pengumpulan Data ... 32

G. Rencana Pengujian Keabsahan Data ... 33

H. Teknik Analisis Data... 33

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Tes Pemilihan Subjek ... 35

B. Pengkodean Subjek Penelitian ... 37

C. Deskripsi Hasil Penelitian ... 37

D. Analisis dan Pembahasan Data ... 71

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ... 78

B. Saran ... 81

(13)

DAFTAR TABEL

Tabel , Halaman

2.1 Indikator Tahap Proses Berpikir Kreatif Berdasarkan Ennis ... 10

3.1 Kisi-kisi Tes Soal Kemampuan Awal Matematika ... 27

3.2 Penilaian Validator Soal Kemampuan Awal ... 28

3.3 Saran Revisi Validator Soal Kemampuan Awal ... 29

3.4 Kisi-kisi Tes soal HOTS ... 30

3.5 P enilaian Validator Soal HOTS ... 31

3.6 Saran Revisi Validator Soal HOTS ... 31

4.1 Hasil Tes Kemampuan Awal Subjek ... 36

(14)

xv

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

4.1 Hasil Kerja Nomor Satu Subjek yang Berprestasi Tinggi ... 38

4.2 Hasil Kerja Nomor Dua Subjek yang Berprestasi Tinggi ... 41

4.3 Hasil Kerja Nomor Tiga Subjek yang Berprestasi Tinggi ... 45

4.4 Hasil Kerja Nomor Satu Subjek yang Berprestasi Sedang ... 50

4.5 Hasil Kerja Nomor Dua Subjek yang Berprestasi Sedang ... 52

4.6 Hasil Kerja Nomor Tiga Subjek yang Berprestasi Sedang ... 56

4.7 Hasil Kerja Nomor Satu Subjek yang Berprestasi Rendah ... 61

4.8 Hasil Kerja Nomor Dua Subjek yang Berprestasi Rendah ... 64

(15)

1 BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Salah satu tujuan yang ingin dicapai pada kurikulum 2013 ialah kemampuan berpikir kritis siswa. Dalam pembelajaran matematika, berpikir kritis merupakan salah satu bagian terpenting dimana Soedjadi mengatakan bahwa kemampuan berpikir kritis dan belajar matematika adalah sesuatu yang tidak dapat terpisahkan karena berpikir kritis diasah dengan belajar matematika dan materi matematika dimengerti dengan berpikir kritis (Lambertus, 2009). Meneurut Ennis (2011): “Berpikir kritis adalah pemikiran masuk akal dan reflektif dengan berfokus untuk memutuskan apa yang mesti dipercaya atau dilakukan”.

Beberapa pendapat diatas dapat dipaparkan bahwa berpikir kritis merupakan sesuatu yang dipusatkan ke sebuah pengertian yaitu sesuatu yang dikerjakan dengan sadar dan terfokus ke sebuah tujuan. Adapun tujuan berpikir kritis ialah meninjau dan menilai informasi yang pada akhirnya menguatkan peneliti untuk pembuatan keputusan.

Adapun enam indikator atau tolak ukur berpikir kritis yang diungkapkan oleh Ennis yang disingkat menjadi FRISCO. Enam indikator FRISCO yaitu (a) Focus (fokus) yaitu siswa mampu menjawab pertanyaan sesuai dengan situasi

permasalahan yang ada, (b) Reason (alasan) yaitu siswa mampu menyampaikan alasan terikat dengan informasi ataupun fakta yang relevan pada langkah selanjutnya yaitu membuat kesimpulan, (c) Inference (kesimpulan) yaitu siswa mampu merancang kesimpulan dengan tepat sesuai

(16)

2

dengan langkah dan cara penyelesaiannya, (d) Situation (situasi) yaitu siswa dapat menyatukan fakta atau informasi yang relevan dengan memakai konsep-konsep matematika yang relevan untuk menjawab pertanyaan, (e) Clarity (kejelasan) yaitu siswa mampu menjelasakan sesuatu dengan jelas terkait hal ataupun simbol yang belum jelas keterangannya, (f) Overview (memeriksa kembali) yaitu siswa telah mengecek kembali hasil kerjanya dari awal hingga akhir.

Untuk mengerjakan soal matematika siswa dituntut untuk mampu berpikir dengan kritis, begitu juga dengan materi Sistem Persamaan Linear Dua Varibel. Materi sistem persamaan linear dua variabel dipelajari dikelas VIII semester ganjil. Menurut Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas No.24) menyatakan bahwa Kompetensi Inti (KI) dan Kompetensi Dasar (KD) dalam mempelajari materi sistem persamaan linear dua variabel yaitu mendeskripsikan dan menentukan penyelesaian sistem persamaan linear dua variabel menggunakan masalah kontekstual, serta keterkaitannya (Depdiknas, 2016).

Untuk mengetahui kemampuan berpikir kritis siswa dalam menyelesaikan soal dengan materi sistem persamaan linear dua varibel diberikan test kemampuan awal terlebih dahulu pada siswa kelas VIII.1 SMP Negeri 3 Pallangga agar dapat mengetahui sejauh mana pemahaman siswa terhadap materi sistem persamaan linear dua variabel. Adapun indikator atau kriteria yang digunakan untuk mengatui kemampuan berpikir kritis siswa adalah indikator yang diungkapkan oleh Ennis yaitu FRISCO.

(17)

melakukan sebuah pengembangan soal. Pengembangan soal yang digunakan peneliti disini yaitu dengan bentuk soal HOTS (Higher Order Thinking Skill). HOTS merupakan sebuah kemampuan berpikir tingkat tinggi yaitu kemampuan berpikir kritis, berpikir kreatif, metakognitif, logis dan reflektif.

Pada kurikulum 2013 pemerintah telah menetapkan pembelajaran dengan berbasis soal HOTS, tetapi masih banyak sekolah belum bisa memberikan soal HOTS ke siswanya begitu juga dengan SMP Negeri 3 Pallangga. Pada saat observasi, guru matematika SMP Negeri 3 Pallangga mengatakan bahwa sekolah tersebut belum pernah memberikan soal HOTS dikarenakan dalam pembuatan soal HOTS memakan waktu yang cukup lama karena harus menyesuaikan dengan indikator HOTS, kompetensi dasar materi dan juga kondisi siswa dikelas. Jadi, di SMP Negeri 3 Pallangga sendiri lebih mengutamakan memberikan soal-soal yang sudah lazim secara umum.

Dari beberapa uraian diatas, maka peneliti tertarik untuk menggambarkan kemampuan berpikir kritis dari siswa dalam menyelesaikan soal pada materi

sistem persamaan linear dua variabel di SMP Negeri 3 Pallangga, dikarenakan sekolah yang akan ditempati penelitian belum menggunakan soal HOTS dalam pembelajaran matematika. Sehingga peneliti tertarik untuk mengetahui kemampuan siswa terhadap materi sistem persamaan linear dua variabel di SMP Negeri 3 Pallangga dengan cara menggunakan soal HOTS sebagai tolak ukur dalam mengetahui kemampuan berpikir kritis siswa.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang di atas, dapat dilihat permasalahan yang dimiliki oleh peneliti yaitu:

(18)

4

1. Bagaimana kemampuan berpikir kritis tinggi siswa dalam menyelesaikan soal HOTS materi Sistem Persaman Linear dua Variabel yang ditinjau dari kemampuan awal pada kelas VIII.1 SMP Negeri 3 Pallangga?

2. Bagaimana kemampuan berpikir kritis sedang siswa dalam menyelesaikan soal HOTS materi Sistem Persaman Linear dua Variabel yang ditinjau dari kemampuan awal pada kelas VIII.1 SMP Negeri 3 Pallangga?

3. Bagaimana kemampuan berpikir kritis rendah siswa dalam menyelesaikan soal HOTS materi Sistem Persaman Linear dua Variabel yang ditinjau dari kemampuan awal pada kelas VIII.1 SMP Negeri 3 Pallangga?

C. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dilaksanakannya penelitian ini yaitu :

1. Untuk mengetahui kemampuan berpikir kritis tinggi siswa dalam menyelesaikan soal HOTS materi Sistem Persaman Linear dua Variabel yang ditinjau dari kemampuan awal pada kelas VIII.1 SMP Negeri 3 Pallangga.

2. Untuk mengetahui kemampuan berpikir kritis sedang siswa dalam menyelesaikan soal HOTS materi Sistem Persaman Linear dua Variabel yang ditinjau dari kemampuan awal pada kelas VIII.1 SMP Negeri 3 Pallangga.

3. Untuk mengetahui kemampuan berpikir kritis rendah siswa dalam menyelesaikan soal HOTS materi Sistem Persaman Linear dua Variabel yang ditinjau dari kemampuan awal pada kelas VIII.1 SMP Negeri 3 Pallangga.

(19)

Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut. 1. Manfaat Teoritis

Sebagai bahan referensi yang diinginkan mampu memberikan sumbangan pemikiran yang dapat menelaah kemampuan berpikir kritis siswa dalam menyelesaikan soal HOTS yang ditinjau dari kemampuan awal.

2. Manfaat Praktis

a. Bagi Siswa, dapat meningkatkan kreativitas dan daya pikir siswa dalam menyelesaikan soal-soal utamanya soal HOTS

b. Bagi Pendidik, Bahan pertimbangan untuk melihat sisi lain dari berbagai macam penyelesaian soal. Tidak hanya terfokus pada cara-cara penyelesaian soal yang sudah lazim secara-cara umum, melainkan adanya kreativitas baru dalam menyelesaikan soal

c. Bagi Sekolah, dapat memberikan masukan positif sehingga mampu meningkatkan kualitas sekolah sebagai lembaga pendidikan masyarakat.

d. Bagi Peneliti Selanjutnya, dapat dijadikan sebagai bahan pembanding dan sebagai referensi bagi penelitian yang relevan.

E. Batasan Istilah

1. Profil adalah gambaran yang lebih detail tentang bagaimana siswa berpikir kritis dalam menyelesaikan soal HOTS pada materi sistem persamaan linear dua variabel yang ditinjau dari kemampuan awal.

2. Berpikir kritis merupakan sesuatu yang dikerjakan dengan sadar dan terfokus ke sebuah tujuan. Adapun tujuan berpikir kritis ialah meninjau

(20)

6

dan menilai informasi yang pada akhirnya menguatkan peneliti untuk pembuatan keputusan.

3. Soal HOTS (Higher Order Thinking Skill) yaitu sebuah instrumen yang dapat digunakan dalam mengukur kemampuan berpikir tingkat tinggi yaitu kemampuan berpikir kritis, berpikir kreatif, metakognitif, logis dan reflektif.

4. Kemampuan awal siswa merupakan kemampuan yang sudah siswa miliki sebelum berlangsungnya proses belajar mengajar. Kemampuan awal juga biasa dijadikan syarat agar dapat mengikuti jalannya pembelajaran dan menjadi peran yang penting dalam proses belajar mengajar selanjutnya, begitu pula pada pembelajaran matematika pada materi sistem persamaan linear dua variabel.

5. Sistem Persamaan Linear Dua Variabel adalah sebuah persamaan dimana didalamnya terkandung dua variabel yang didalamnya adalah satu. Bentuk umum SPLDV:

{ Dengan dan disebut variabel

, disebut koefisien disebut konstanta

(21)

7 BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Landasan Teori 1. Profil

Ada beraneka ragam pendapat yang dikemukakan oleh para ahli tentang arti profil. Profil menurut Sri Mulyani (1983: 1) profil merupakan sebuah garis besar, pandangan sisi maupun biografi dari pribadi seseorang atau sekelompok yang mempunyai usia yang sama. Desi Susiani (2009: 41) juga menjelaskan tentang profil ialah sebuah tulisan, grafik maupun digram yang menerangkan suatu keadaan yang merujuk pada data orang ataupun sesuatu. Sedangkan profil menurut Hasan Alwi (2005 : 40) merupakan pandangan akan seseorang.

Dari berbagai pendapat dan pengertian yang dikemukakan oleh beberapa ahli tentang profil bisa dipahami bahwa pengertian dari pendapat tersebut hampir sama bahwa profil merupakan suatu paparan secara garis besar tergantung dari sudut mana kita melihatnya. Misalkan dilihat dari segi seni profil bisa dilihat sebagai sketsa atau gambar wajah seseorang yang dilihat dari sudut samping kiri maupun kanan. Sedangkan jika dipandang oleh segi statistik profil merupakan sebuah kumpulan data yang dapat menjelaskan suatu keadaan dalam bentuk tabel maupun grafik.

Dalam penelitian ini yang dimaksudkan dengan profil ialah gambaran tentang bagaimana siswa berfikir kritis dalam menyelesaikan soal HOTS pada materi sistem persamaan linear dua variabel.

(22)

8 2. Berpikir Kritis

Ada beberapa definisi berpikir kritis menurut beberapa ahli. Menurut Fisher (2011) berpikir kritis ialah bagaikan kemampuan untuk menginterpreitasikan, menganalisis, dan mengevaluasi ide maupun argumen. Saat ini kemampuan berpikir kritis telah dianggap sebagai kemampuan mendasar yang berperan sangat penting untuk dimiliki sama halnya dengan kemampuan menulis dan membaca. Pikket dan Foster (dalam Susiyati, 2014) mengungkapkan bahwa berpikir kritis merupakan jenis berpikir lebih tinggi dibandingkan dengan pemikiran biasa yang tidak hanya mampu mengingat materi namun pemakaian dan memanipulasikan sesuatu yang dipelajari dalam hal yang baru. Menurut Scrivan (Fisher, 2011) berpikir kritis sebagai aktivitas „keahlian‟ menginterpretasikan, mengevaluasi hasil pengamatan dan koneksi argumen. Sedangkan menurut Nugent dan Vitale (dalam Susiyati, 2014) berpikir kritis mengaitkan sebuah tujuan, tujuan langsung dari berpikir ke proses pembuatan keputusan didasari oleh bukti dan bukan hanya asal menebak dalam proses pemecahan masalah ilmiah tersebut. Berdasarkan dari beberapa definisi dapat disimpulkan bahwa berpikir kritis yaitu sesuatu yang dikerjakan dengan sadar dan terfokus ke sebuah tujuan. Adapun tujuan berpikir kritis ialah meninjau dan menilai informasi yang pada akhirnya menguatkan peneliti untuk pembuatan keputusan.

Berpikir kritis Menurut Glazer (2001) ialah kemampuan yang digabungkan dengan pengetahuan awal, sebuah kekampuan nalar matematika, dan cara psikologis untuk mengeneralisasikan, memberi

(23)

pembuktian, mengasah situasi matematik yang tidak umum secara introspektif. Berpikir kritis yang diungkapkan oleh Sumarmo (2012) Sama halnya dengan kemampuan berpikir tingkat tinggi karena berpikir kritis memenuhi semua unsur berpikir tingkat tinggi.

Berdasarkan Ennis (dalam Julita, 2014) ada enam kriteria atau indikator berpikir kritis yang diungkapkan adalah Ennis yaitu FRISCO (Focus, Reason, Inference, Situation, Clarity, dan Overview). Berikut

penjelasan FRISCO, yaitu:

1. Focus (fokus), yaitu pusat perhatian siswa terhadap pengambilan langkah dari masalahan yang ada.

2. Reason (alasan), yaitu dapat memeberikan alasan yang logis terhadap langkah yang diambil.

3. Inference (simpulan), yaitu dapt membuat kesimpulan berlandaskan fakta yang meyakinkan dengan cara mengidentifikasi berbagai argumen atau anggapan dan mencari alternatif pemecahan, serta tetap mempertimbangan situasi dan bukti yang ada.

4. Situation (situasi), memahami kunci dari permasalahan yang menyebabkan suatu keadaan atau situasi.

5. Clarity (kejelasan), yaitu dapat memberikan kejelasan tentang simbol, hal-hal dan istilah yang digunakan.

6. Overview (memeriksa kembali), yaitu memeriksa ulang secara menyeluruh untuk mengetahui kebenaran keputusan yang sudah diambil.

(24)

10 Tabel 2.1 Salah satu kriteria dan indikator berpikir kritis yang diungkapkan olrh Ennis yang disingkat menjadi FRISCO

KRITERIA BERPIKIR KRITIS

INDIKATOR

F (Fucos) - Siswa mampu menafsirkan persoalan pada pertanyaan yang diberikan.

R (Reason) - Siswa mampu menyampaikan alasan bersumber pada bukti atau fakta yang relevan untuk setiap langkah dalam mengerjakan keputusan maupun keisimpulan.

I (Inference) - Siswa memilah alasan yang benar untuk membuat kesimpulan yang telah dibikin.

S (Situation) - Siswa memanfaatkan informasi yang sesuai pada persoalan.

C (Clarity) - Siswa menyampaikan kejelasan yang lebih lanjut.

O (Overview) - Siswa meneliti atau memeriksa kembali dari awal sampai akhir secara menyeluruh.

3. HOTS (Higher Order Thinking Skill)

Soal HOTS (Higher Order Thinking Skill) yaitu sebuah instrumen yang dapat digunakan dalam mengukur kemampuan berpikir tingkat tinggi yaitu kemampuan berpikir kritis, berpikir kreatif, metakognitif, logis dan

(25)

reflektif, yaitu keterampilan berpikir yang tidak sekedar mengignat, menyatakan kembali, atau mreujuk tanpa melakukan pengolahan. Soal-soal HOTS pada kondisi asesmen menaksir kemampuan: a) mentransfer konsep, b) menjalankan dan diterapkannya informasi, c) mencari kaitan dari informasi yang berbeda, d) memanfaatkan informasi untuk penyelesaian masalah, dan e) mengkaji informasi dan ide dengan kritis.

HOTS memiliki ciri yang khas. “Level kemampuan HOTS mencakup kemampuan atau keterampilan siswa dalam menganalisis (analyze), mengevaluasi (evaluate), dan mencipta (create), indikator keterampilan menganalisis,mengevaluasi dan mencipta didasarkan pada teori yang dipaparkan dalam revisi Taksonomi Bloom.”

Indikator HOTS apabila disinergikan dengan Taksonomi Bloom, yaitu sebagai berikut:

1. Level Analisis

Menyusun sebuah bagian-bagian pemecah materi dan memutuskan hubungan antar bagian ataupun keseluruhannya. Berikut adalah level analisis, yaitu:

a. Menyeleksi

Pada suatu permasalahan disajikan berbagai data. Berlandaskan data tersebut, siswa diminta memilah data antara data yang berkorelasi dengan kesimpulan atau tidak berkolerasi dengan kesimpulan. Kapasitas data tidak akan selalu menjamin sebuah validnya kesimpulan.

b. Mengorganisasi

(26)

12 dikerjakan namun salah. Kemudian siswa diminta untuk mencari letak kesalahannya dengan pembuatan diagram. c. Mengatribusi

Siswa diminta untuk membandingkan dua data yang berbeda mengenai sebuah permasalahan ataupun fenomena. Dari data tersebut selanjutnya diminta untuk membuktikan yang mana yang tepat dan yang lain mengapa bisa tidak tepat.

2. Level Evaluasi

Level evaluasi ialah sebuah kemampuan untuk pengambilan keputusan yang berdasar pada sebuah kriteria, adapun level evaluasi sebagai berikut:

a. Pengecekan

Siswa diminta agar dapat mengukur dan mengambil data dari cara dan sudut pandang yang berbeda. Kemudian siswa tersebut diminta untuk membuat kesimpulan dari data yang telah ada. Dari data tesebut, beberapa siswa diminta utk mendiskusikan untuk pengecekan data, dan apakah semua data mendukung dalam pengambilan keputusan.

b. Mengkritisi

Siswa dapat diajak dengan mengevaluasi kegiatan PASKIBRA yang telah dilaksanakan bulan lalu. Kemudian, beberapa siswa diminta untuk melakukan sebuah program kerja baru PASKIBRA dengan didasari program yang pernah dilakukan. Dari masalah tersebut dapat membuat siswa menyusun sebuah proses dalam menghitung berapa anggaran biaya yang dikeluarkan.

(27)

3. Level Mencipta

Siswa mengumpulkan beberapa informasi dengan cara maupun strategi yang tidak biasa. Siswa dibimbing untuk menggabungkan suatu bagian untk membentuk sesuatu yg lebih asli dan terbaru. Didalam level mencipta membuat siswa untuk mampu berpikir yang lebih inovatif dan kreatif. Adapun level mencipta sebagai berikut: a. Merumuskan

Siswa diminta merumuskan suatu cara dengan perhitungan sebuah luas ataupun keliling sebuah bangun datar. Siswa dapat menghitung tanpa memakai rumus yang baku, tetapi menggunakan cara lain untuk menghitung sebuah luasa atau keliling daari bangun datar.

b. Merencanakan

Siswa diminta untuk membuat sebuah rencana untuk menjawab masalah matematika dengan kehidupan sehari-hari. Contuhnya, siswa diminta untuk bercerita tentang perjalanan yang siswa jalani dari rumah ke sekolah. Lalussiwa diminta untuk memberi penggambaran sesuatu dengan pembelajaran matematika.

c. Memproduksi

Siswa diminta untuk membuat penyelesaian masalah kontekstual matematika. Hasil dari masalah penyelesaian tersebut dengan memakai kajian karya ilmiah.

(28)

14

HOTS

Bagan tentang tata cara pembuatan soal hots:

4. Kemampuan Awal

Kemampuan awal sangat berpengaruh didalam pembelajaran dan apa yang sudah siswa ketahui kurang dan banyaknya sangat berpengaruh dengan apa yang telah dipelajari (Muhamad Nur, 2000). Kemampuan awal merupakan sebuah kererampilan maupun pengatuan yang siswa sudah miliki jadi siswa bisa ikut dalam proses belajar dengan baik (Atwi Suparman, 2001). Sedangkan menurut Sudjana (2005) kemampuan awal ialah sebuah kemampuan yang lebih dibawah

Menganalisis KD yang dapat dibuat soal-soal HOTS

Menyusun kisi-kisi soal

Memilih stimulus yang menarik dan kontekstual

Menulis butir pertanyaan sesuai dengan kisi-kisi soal

Membuat pedoman penskoran (rubrik) atau kunci jawaban

(29)

dari pengetahuan yang baru dipelajari. Jadi dapat disimpulkan, kemampuan awal merupakan sebuah hasil dari proses belajar mengajar yang ditemukan sebelum menemukan kemampuan yang lebih dari sebelumnya begitu pula pada pembelajaran matematika.

Prior Knowledge atau yang lebih umum disebut dengan kemampuan awal. Prior Knowledge atau disingkat dengan PK ialah sebuah langkah yang sangat penting di dalam pembelajaran, jadi setiap pendidik harus mengetahui tingkatan kemampuan awal yang dimiliki siswa. Didalam langkah untuk pemahaman, PK ialah sesuatu yang sanagt utama yang akan mempengaruhi kebiasaan belajar bagi para siswa. Dari beberapa penelitian diungkapkan bahwa lingkungan pembelajaran diperlukan suasana yang telah familiar, nyaman dan santai. Didalam konteks kemampuan awal lingkungan belajar harus dengan suasana yang dapat mendukung perasaan peserta didik, dimana semangat untuk menemukan sesuatu yang baru, penuh makna, dan tertantangnya siswa. Menciptakan sebuah hal yang menantang para siswa untuk belajar. Kemampuan awal juga merupakan dorongan yang murni. Dengan cara tersebut maka pengajar dapat mendorong pola pikir siswa, dari mengingat informasi yang telah siswa miliki akan menjadikan proses belajar mengajar dengan penuh arti dan memulai perjalanan untuk penggabungan berbagai jenis peristiwa atau kejadian dan tidak lagi mengingat pengalaman yang ada dengan terpisah. Dalam semua proses, kemampuan awal ialah sesuatu elemen esensial untuk menciptakan proses belajar agar menjadi lebih bermakna.

(30)

16 Dari beberapa pendapat tentang kemampuan awal bisa disimpulkan bahwa kemampuan awal siswa merupakan suatu kemampuan yang sudah siswa miliki sebelum berlangsungnya proses belajar mengajar. Kemampuan awal dijadikan sebagai prasyarat dalam mengikuti proses belajar mengajar dan membaawa peran yang penting didalam proses belajar mengajar yang akan datang. Kemampuan awal merupakan alah satu faktor internal yang dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa nantinya. Proses belajar mengajar berpengaruyh dengan bagaimana kemampuan awal. Karena kemampuan awal siswa dijadikan prasyarat awal yang siswa harus miliki agar proses belajar mengajar yang dilakukan berjalan secara baik.

Setiap siswa mempunyai kemampuana awal yang tidak sama. Jadi guru perlu memberi perhatian yang penting sebelum melaksanakan proses belajar mengajar, karena proses belajar mengajar kurang lebih terpengaruh oleh kemampuan awal yang telah siswa miliki. Secara tidak langsung kemampuan dapat diartikan dengan intelegensi yaitu merupakan sebuah kemampuan yang dibawah sejak lahir, seseorang dapat melakukannya dengan sesuatu cara tertentu. Antara masing-masing siswa terdapat perbedaan bisa mempengaruhi tingkatan sebuah penguasaan materi bahan pelajaran. Walaupun belum terjamin siswa dengan kemampuan awal yang tinggi, bisa mendapatkan prestasi yang lebih dari pada siswa yang lain.

(31)

5. Sistem Persamaan Linear Dua Variabel 5.1 Persamaan Linear Dua Variabel

Persamaan linear dua variabel ialah persamaan yang mengandung dua variabel dimana pangkat derajat tiap-tiap variabelnya sama dengan satu. Bentuk umum PLDV:

dan disebut variabel

, R , ≠ 0

5.2 Sistem Persamaan Linear Dua Variabel(SPLDV)

Menurut Sukino, Wilson Simangunsong (dalam Nugraheni, Agnesia Swara 2019 : 24) Sistem Persamaan Linear Dua Variabel adalah sebuah persamaan dimana didalamnya terkandung dua variabel yang didalamnya adalah satu.

Bentuk umum SPLDV:

{ Dengan dan disebut variabel

, disebut koefisien disebut konstanta

Berbeda dengan persamaan linear dua variabel, SPLDV memiliki penyelesaian atau himpunan yang harus memenuhi kedua persamaan dimana di dalamnya terkandung dua variabel tersebut: Contoh, SPLDV (1):

{

Penyelesaian dari sistem persamaan linear adalah mencari nilai-nilai dan yang dicari demikian sehingga memenuhi kedua persamaan linear.

(32)

18 5.3 Metode Penyelesaian Sistem Persamaan Linear Dua Variabel

Penyelesaian SPLDV dapat ditentukan dengan cara mencari nilai variabel yang memenuhi variabel persamaan linear dua variabel. Untuk menyelesaikan SPLDV dapat dilakukan dengan metode grafik, substitusi, eliminasi.

a. Metode Grafik

Grafik untuk persamaan linear dua variabel berbentuk garis lurus SPLDV terdiri dari dua buah persamaan dua variabel, berarti SPLDV digambarkan berupa dua buah garis lurus. Penyelesaian dapat ditentukan dengan menentukan titik potong kedua garis lurus tersebut. Untuk menyelesaikan SPLDV menggunakan grafik, langkah-langkah yang harus dilakukan adalah sebagai berikut:

1) Menggambaar grafik kedua persamaan dalam satu bidang koordinat.

1.) Memperkirakan titik perpotongan kedua grafik.

2.) Memeriksa titik poyong kedua grafik dengan menyubstitusikan nilai x dan y ke dalam setiap persamaan. b. Metode Substitusi

Substitusi artinya menggantikan, adapun langkah-langkahnya yaitu sebagai berikut:

1.) Menyatakan sebuah variabel dalam variabel yang lain, misalkan menyatakan variabel x dan y atau sebaliknya. 2.) Mensubstitusikan persamaan yang telah kita rubah pada

(33)

persamaan yang lain.

3.) Mensubstitusikan nilai yang telah ditemukan dari variabel x atau variabel y ke dalam salah satu persamaan.

Penggunaan metode substitusi untuk menyelesaikan SPLDV 4x + y = 6

2x + 3y = 8

a. Tuliskan persamaan ke dalam bentuk persamaan (1) dan persamaan (2)

4x + y = 6. . . (1) 2x + 3y = 8. . . (2)

b. Pilihlah salah satu persamaan, misalnya persamaan(1). Selanjutnya, nyatakan salah satu variabel dalam bentuk variabel yang lain:

4x + y = 6 y = 6 - 4x . . . (3)

c. Masukkan nilai variabel y pada persamaan (3) untukk mengganti variabel pada persamaan (2).

2x + 3y = 8 2x + 3(6 – 4x) = 8 2x + 18 – 12x = 8 2x – 12x= 6 – 18 -10x = -10 x = 1 . . . (4)

(34)

20 satu persamaan awal, contohnya persamaan (1)

4x + y = 6

4(1)+y = 6

4 + y = 6 y =6 – 4 y = 2

e. Menentukan himpunan penyelesaian Sistem Persamaan Linear Dua Variabel(SPLDV) tersebut. Dari uraian didapat nilai x = 1 dan nilai y = 2. Jadi, himpunan penyelesaian atau dapat dituliskan HP = { }

c. Metode Eliminasi

Tidak sama dengan metode substitusi yang caranya mengganti variabel, tetapi metode eliminasi malah menghilangkan salah satu variabel agar bisa mendapatkan nilai dari variabel yang lainnya. Jadi, koefisien dari salah satu variabel yang bisa dihilangkan atau akan dibuat sama.

Adapun langkahnya yaitu sebagai berikut:

1) Nyatakanlah ke dua persamaan ke dalam bentuk ax + by = c 2) Samakanlah koefisien dari variabel yang akan dihilangkan,

dengan cara mengalikan bilangan yang sudah sesuai (tanpa memperhatikan tanda kurang atau tambah)

3) Mengurangkan atau menjumlahkan kedua persamaan.

a) Jika koefien dari variabel bertanda sama (sama positif atau sama negatif), maka kurangkan kedua persamaan

(35)

b) Jika koefisien dari variabel yang dihilangkan tandanya berbeda (positif dan negatif), maka jumlahkan kedua persamaan.

B. Penelitian Yang Relevan

1. Penelitian yang dilakukan oleh Arifin, dkk (2018). Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan dari hasil analisis dan pembahasan yang telah dilakukannya, maka kesimpulannya adalah: Subjek yang berkemampuan tinggi dan sedang telah menggapai ranah HOTS, subjek dapat menggapai tahap menganalisis dan tahap mengevaluasi tetapi tidak menggapai pada tahap mencipta. Sedangkan subjek yang berkemampuan rendah belum menggapai ranah HOTS, subjek tidak mampu menggapai tahap menganalisis, tahap mengevaluasi, dan tahap mencipta.

2. Penelitian yang dilakukan oleh Siti Nurhalyzah (2018). Hasil penelitian mengarah bahwa subjek masih lemah dalam menggapai kemampuan berpikir kritis, subjek lebih mudah menyelesaikan soal yang telah dirumuskan dengan cara matematis dibandingkan dengan soal yang ada hubungannya dengan soal yang memerlukan berpikir tinggi seperti soal standar HOTS. Siswa lebih mudah dan biasa menjawab soal dengan pertanyaan seperti 1)apa, 2)tentukan, dan 3)sebutkan, dibandingkan dengan menjawab soal-soal dimana pertanyaannya berbentuk 1)bagaimana, 2)perkirakan, dan 3)tinjaulah.

3. Penelitian yang dilakukan oleh Zakkina Gais, dkk (2017). Subjek masuk kategori bisa dalam menyelesaikan soal HOTS. Untuk soal prasyaratnya ataupun kemampuan awalnya aspek analisis yang dimiliki ialah 77,78% dan

(36)

22 untuk aspek evaluasi yang dimiliki ialah 67,59% dan kedua kategori baik, sedangkan untuk aspek mencipta dimiliki ialah 45,37% dikategorikan cukup. Tetapi untuk soal post test aspek analisis mendapat rata-rata adalah 78,70% dan untuk aspek evaluasi yang dimiliki ialah77,64% keduanya kategori baik, sedangkan untuk aspek menciptanya adalah 60,83% dikategorikan cukup.

4. Penelitian yangg dilakukan oleh Erwinda Gracya Laman (2019). penulis mengidentifikasi siswa masih mengalami kesulitan dalam mengerjakan soal Matematika yang terkait dengan menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta. Hal tersebut ditunjukkan dengan seringnya siswa mengalami kesalahan pada saat mengerjakan soal tersebut yang menyebabkan nilai siswa kurang memuaskan.

5. Penelitian yang dilakukan oleh Zeni Ernaningsih, dkk (2016). Dari hasil analisis bisa diketahui dalam menyelesaikan soal no.1: kemampuan berpikir subjek dalam memecahkan masalah ini hanya sampai pada tahap remembering, tahap understanding, dan tahap applying karena subjek hanya mengingat, memahami dan mengerjakan operasi perkalian secara bersusun untuk mendapatkan solusi yang benar untuk penyelesaian soal.

C. Kerangka Pikir

Soal-soal Higher Order Thinking Skill (HOTS) merupakan instrumen pengukuran yang digunakan untuk mengukur kemampuan berpikir tingkat tinggi, yaitu kemampuan berpikir yang tidak sekadar mengingat (recall), menyatakan kembali (restate), atau merujuk tanpa melakukan pengolahan (recite). Untuk itu perlu dilakukan sebuah tes kemampuan awal untuk

(37)

mengetahui kemampuan berpikir siswa dan mendapatkan subjek yang diinginkan yaitu dengan kategori kemampuan tinggi, sedang dan rendah.

Setelah dikelempokkan tiga kategori tinggi, sedang dan rendah diberikan sebuah tes soal HOTS dengan materi sistem persamaan linear dua variabel yang secara umum dipelajari pada kelas VIII. Untuk melihat kemampuan berpikir kritis siswa digunakan indikator berpikir krtitis yang diungkapkan oleh Ennis yang disingkat dengan FRISCO, yaitu (1) Focus(fokus) artinya siswa mampu menjawab pertanyaan dengan konteks permasalahan yang benar, (2) Reason(alasan) artinya siswa bisa memberikan alasan terkait bukti maupuan fakta yang relevan untuk setiap langkah dalam pembuatan kesimpulan, (3) Inference(simpulan) artinya siswa mampu membuat kesimpulan dengan sesuai dengan proses identifikasi dalam langkah penyelesaiannya, (4) Situation(situasi) artinya siswa dapat mengumpulkan informasi yang relevan dengan memakai konsep-konsep matematika yang relevan untuk menjawab pertanyaan, (5) Clarity(kejelasan) artinya siswa mampu memberi kejelasan hal ataupun simbol yang tidak jelas keterangannya, (6) Overview(memeriksa kembali) artinya siswa sudah memeriksa kembali pekerjaannya dari awal hingga. Dengan indikator tersebut lebih mempermudah untuk mendeskripsikan kemampuan berpikir kritis siswa dalam menyelesaikan soal HOTS materi sistem persamaan linear dua variabel.

(38)

24 BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Penyusunan skripsi ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Penelitian ini menggambarkan data kualitatif dan selanjutnya dideskripsikan berupa kata-kata tertulis atau uraian dari subjek penelitian untuk menghasilkan gambaran yang mendalam serta terperinci mengenai Profil Berpikir Kritis Siswa dalam Menyelesaikan Soal HOTS Materi Sistem Persamaan Linear Dua Variabel Ditinjau dari Kemampuan Awal pada Kelas VIII SMP Negeri 3 Pallangga.

B. Lokasi Penelitian

Lokasi dalam penelitian ini adalah SMP Negeri 3 Pallangga, pada kelas VIII.1 Lokasi penelitian beralamatkan di Jl. Benteng Somba Opu No.221, Jenetallasa, Kecamatan Pallangga, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. C. Subjek Penelitian

Untuk menentukan subjek penelitian dilakukan dengan menggunakan teknik purposive sampling, yaitu teknik penentuan sampel dengan beberapa pertimbangan tertentu yang bertujuan agar data yang diperoleh nantinya bisa lebih representative (Sugiyono, 2018: 220).

Cara pemilihan subjek menggunakan test kemampuan awal pada siswa kelas VIII.1 SMP Negeri 3 Pallangga sebagai subjek awal dari penelitian. Tes pertama yaitu tes kemampuan awal yang terdiri dari 3 nomor dengan materi sistem persamaan linear dua variabel(SPLDV). Subjek yang mendapat nilai lebih atau sama dengan 80 maka subjek tersebut

(39)

dikategorikan tinggi, subjek yang mendapat nilai kurang dari 80 dan lebih dari 60 maka subjek tersebut dikategorikan sedang, dan subjek yang mendapat nilai kurang dari 20 maka subjek tersebut dikategorikan rendah. Selanjutnya masing-masing 1 subjek dengan kategori yang berprestasi tinggi, sedang, dan rendah diberikan tes kedua yaitu tes soal HOTS. Selanjutnya subjek yang telah ditentukan akan diwawancara dengan kesiapan subjek tersebut dan berdasarkan pertimbangan guru Matematika terkait.

D. Prosedur Penelitian 1. Tahap Persiapan

Sebelum melakukan penelitian, peneliti terlebih dahulu melakukan persiapan sebagai berikut:

a. Menyusun instrumen penelitian yang terdiri dari tes kemampuan awal, tes HOTS dan instrumen pedoman wawancara.

b. Melakukan validasi pada instrumen penelitian. c. Membuat surat izin penelitian.

d. Meminta izin kepada Kepala SMP Negeri 3 Pallangga untuk melakukan penelitian.

e. Membuat persetujuan dengan guru mata pelajaran matematika SMP Negeri 3 Pallangga tentang waktu yg digunkan dan kelas yang akan diberikan selama penelitian.

(40)

26 2. Tahap Pelaksanaan

Dalam tahap ini, peneliti melaksanakan penelitian sebagai berikut.

a. Memberikan tes kemampuan awal kepada semua siswa di kelas VIII.1 SMP Negeri 3 Pallangga.

b. Menganalisis hasil pengerjaan siswa pada tes kemampuan awal

c. Memilih masing-masing 1 subjek yang berpikir kritis tinggi, sedang, dan rendah

d. Memberikan tes HOTS masalah kepada 3 subjek yang berbentuk uraian. e. Melakukan wawancara kepada subjek penelitian.

3. Tahap Analisis

Setelah melakukan penelitian, selanjutnya semua data yang telah dikumpulkan dianalisis dengan menggunakan teknik analisis data kualitatif. Teknik analisis digunakan untuk mengetahui kemampuan berpikir kritis dalam menyelesaikan soal HOTS berdasarkan indikator FRISCO SMP Negeri 3 Pallangga.

E. Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian digunakan sebagai alat untuk mengukur. Ada dua instrumen yg dipakai yaitu instrumen utamanya dan instrumen pendukung. Instrumen utama pada penelitian ini yaitu peneliti sendiri. Sedangkan Instrumen pendukungnya yaitu berupa tes kemampuan awal agar mempermudah mendapatkan subjek penelitian, tes mengenai soal HOTS untuk menentukan kemampuan berpikir kritis siswa dan pedoman wawancara. Berikut adalah instrumennya, yaitu:

(41)

1. Tes Keampuan Awal

Tes kemampuan awal yaitu pemberian tes sebelum diberikan tes HOTS ini mempunyai tujuan yaitu untuk mengetahui seberapa kemampuan siswa sebelum diberikannya tes HOTS. Tes kemampuan awal juga disini bertujuan untuk mendapatkan subjek yang diinginkan yaitu dengan kemampuan berpikir tinggi, sedang dan rendah.

Bentuk soal yang diberikan berupa soal yang berbentuk uraian (essay) sebanyak 3 butir soal. Tujuan diberikannya soal uraian agar mengetahui cara kerja siswa tentang soal yang diberikan pada materi Sistem Persamaan Linear Dua Variabel(SPLDV) sekaligus melihat seberapa kemampuan siswa. Berikut adalah kisi-kisi dan indikator pembuatan kemampuan awal

Tabel 3.1 Tabel kisi-kisi Tes soal kemampuan awal matematika

NO. KOMPETENSI

DASAR MATERI INDIKATOR

JENIS SOAL N0 SOAL 1. 3.1Menyelesaika n sistem persamaan linear dua variabel Sistem Persamaan Linear Dua Variabel 3.1.1 Menentukan mana yang merupakan SPLDV dan mana y ang bukan SPLDV dari pernyataan-pernyataan bentuk aljabar Essay 1 (a,b,c) 3.1.2 Menentukan himpunan penyelesaian SPLDV dengan Essay 2

(42)

28 metode substitusi 3.1.2 Menentukan himpunan penyelesaian SPLDV dengan metode eliminasi Essay 3

1.1 Validasi Soal Kemampuan Awal

Validasi dengan pakar yaitu dengan cara peneliti memberikian instrumennya antaranya yaitu: kisi-kisi, soal tes 1, jawaban, dan pedoman penilaiannya kepada 2 validator yaitu dosen Pendidikan Matematika Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar ialah sebagai berikut:

Validator 1: Ma‟rup, S.Pd., M.Pd. Validator 2: Kristiawati, S.Pd., M.Pd.

Tabel 3.2 Penilaian Validator Soal Kemampuan Awal

Validator Penilaian

Validator1 Ada beberapa komponen soal yang harus direvisi

Validator2 Ada beberapa komponen soal yang harus direvisi

Berdasarkan Saran revisi validator terhadap instrumen yang meliputi kisi-kisi, soal tes 1, jawaban, dan pedoman penilaiannya dapat dilihat pada tabel 3.3 berikut.

(43)

Tabel 3.3 Saran Revisi oleh Validator Soal Kemampuan Awal

No.

Validator Instrumen Saran Revisi

1 Validator1

Kisi-kisi Tes Tambahkan kisi-kisi dengan cantumkan indikatator dari materi

Pedoman Penilaian

Skor penilainnya tidak harus sampai 100 jadi sesuaikan saja dengan jawaban dan proses cara kerja

2 Validator2 Soal Tes  Cara penulisan yang yang tidak sesuai

Berdasarkan tabel 3.3 saran dan komentar yang diberikan oleh validator dapat dijaadikan sebagai pertimbangan dalam merevisi instrumen tes kemampuan awal siswa.

2. Tes HOTS

Level kemampuan soal HOTS mencakup kemampuan atau keterampilan siswa dalam menganalisis (analyze), mengevaluasi (evaluate), dan mencipta (create). Keterampilan menganalisis, mengevaluasi dan mencipta didasarkan pada teori yang dipaparkan dalam revisi Taksonomi Bloom, sehingga soal yang akan dibuat harus memenuhi tiga level tersebut.

Bentuk tes yang diberikan yaitu tes soal HOTS dengan indikator berpikir kritis yang dipaparkan oleh ennis yang disingkat dengan FRISCO, siswa diberikan soal HOTS sebanyak 3 butir yang berbentuk uraian (essay). Berikut adalah kisi-kisi dan indikator pembuatan soal HOTS

(44)

30 Tabel 3.4 Tabel kisi-kisi Tes soal HOTS

KOMPETENSI

DASAR INDIKATOR RANAH KOGNITIF

N O SO AL 3.5. Menjelaskan sistem persamaan linear dua variabel (SPLDV) dan penyelesaianny a yang dihubungkan dengan masalah kontekstual Membuat model

matematika dari masalah sehari-hari yang

berkaitan dengan materi SPLDV C4 (Menganalisis) 1 4.5. Menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan persamaan linear dua variabael Menyelesaikan model matematika dari masalah sehari-hari yang berkaitan dengan SPLDV C5 (Mengevaluasi) 2 Memodelkan masalah sehari-hari yang berkaitan dengan SPLDV C6 (Mencipta/Mengkreasi) 3

2.1 Validasi Soal HOTS

Validasi dengan pakar yaitu dengan cara peneliti memberikian instrumennya antaranya yaitu: kisi-kisi, soal tes 2, jawaban, dan pedoman penilaiannya kepada 2 validator yaitu dosen Pendidikan Matematika Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar ialah sebagai berikut:

Validator 1: Ma‟rup, S.Pd., M.Pd. Validator 2: Kristiawati, S.Pd., M.Pd.

(45)

Tabel 3.5 Penilaian Validator soal HOTS

Validator Penilaian

Validator1 Ada beberapa komponen soal yang harus direvisi

Validator2 Ada beberapa komponen soal yang harus direvisi

Berdasarkan Saran revisi validator terhadap instrumen yang meliputi kisi-kisi, soal tes 1, jawaban, dan pedoman penilaiannya dapat dilihat pada pada tabel 3.6 berikut.

Tabel 3.6 Saran Revisi oleh Validator Soal HOTS

No.

Validator Instrumen Saran Revisi

1 Validator1

Kisi-kisi tes Tambahkan ranah kognitif HOTS Soal Tes Penggunaan Kata

Pedoman Penilaian Harus ada dasar teorinya

2 Validator2

Soal Tes  Cara penulisan yang tidak sesuai  Penggunaan kata

Berdasarkan tabel 3.6 saran dan komentar yang diberikan oleh validator dapat dijaadikan sebagai pertimbangan dalam merevisi instrumen tes soal HOTS.

3. Pedoman wawancara

Pedoman wawancara pada penelitian ini dipakai untuk membantu mendapatkan informasi lebih dalam tentang kemampuan berpikir kritis siswa dalam menyelesaikan soal HOTS. Pedoman wawancara yang digunakan hanya berupa garis-garis besar permasalahan yang

(46)

32 ditanyakan. Wawancara dilakukan setelah pemberian tes soal HOTS pada subjek.

Wawancara yang digunakan pada penelitian ini adalah wawancara tak berstruktur adalah pengambilan data dengan wawancara yang dilakukan peneliti bersifat terbuka, tidak terstruktur, tidak dalam suasana formal dan bisa dilakukan berulang pada objek yang sama.

 Langkah pelaksanaan :

1. Wawancara dilakukan secara face to face dan ada juga secara online dengan cara video call

2. Wawancara dilakukan setelah terjadi kesepakatan waktu dan tempat pelakssanaan wawancara antara peneliti dan informan. 3. Pertanyaan yang diberikan tidak harus sama, tetapi memuat

pokok permasalahan yang sama.

4. Apabila siswa mengalami kesulitan dengan pertanyaan tertentu, siswa akan diberikan pertanyaan yang lebih sederhana tanpa menghilangkan inti permasalahan.

 Indikator :

Proses berpikir kritis menurut Ennis yang disingkat menjadi FRISCO, yaitu :

1. Focus

Siswa menjawab pertanyaan konteks permasalahan. 2. Reason

Siswa dapat memberikan alasan terkait fakta atau bukti yang relevan pada setiap langkah dalam membuat kesimpulan. 3. Inference

siswa dapat membuat kesimpulan dengan tepat berdasarkan proses identifikasi pada langkah penyelesaian.

4. Situation

Siswa mampu mengumpulkan informasi- informasi yang relevan dan menggunakan konsep-konsep matematika yang relevan untuk menjawab soal.

5. Clarity

Siswa dapat memberikan kejelasan simbol atau hal-hal yang belum jelas keterangannya.

6. Overview

Siswa telah mengecek ulang pekerjaannya dari awal sampai akhir.

(47)

2.1 Validasi Tes Wawancara

Validasi dengan pakar yaitu dengan cara peneliti memberikian instrumennya antaranya yaitu: indikator berpikir kritis kepada 2 validator yaitu dosen Pendidikan Matematika Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar ialah sebagai berikut:

Validator 1: Ma‟rup, S.Pd., M.Pd. Validator 2: Kristiawati, S.Pd., M.Pd.

Tabel 3.5 Saran Revisi oleh Validator Tes Wawancara

Validator Penilaian

Validator1 Pertanyaan sesuaikan nanti dengan hasil dari tes soal HOTS subjek

Validator2 Gunakan bahasa dan kata yang mudah dipahami oleh subjek

F. Teknik Pengumpulan Data 1. Metode Tes

Tes yang dipakai pada penelitian ini adalah berbentuk uraian (essay) pada materi sistem persamaan linear dua variabel kelas VIII SMP Negeri 3 Pallangga. Untuk tes uraian (essay) digunakan untuk melihat kemampuan awal subjek dan tes soal HOTS subjek.

Pembuatan soal dalam bentuk uraian bertujuan untuk memudahkan mendeskripsikan profil berpikir kritis siswa dalam menyelesaikan soal HOTS. Aspek yang diamati dalam tes berpikir kritis siswa yaitu bagaimana siswa bisa fokus (fokus), reason (alasan), inference

(48)

34 (menyimpulkan), situation (situasi), clarity (kejelasan), and overview (pandangan menyeluruh).

2. Metode Wawancara

Wawancara yang digunakan pada penelitian ini adalah wawancara tak berstruktur agar dapat mendalami kemampuan berpikir kritis subjek. Wawancara dilaksanakan setelah diberikan tes kemampuan berpikir kritis siswa. Siswa yang akan diwawancarai ada 3 yaitu dengan yang berkemampuan tinggi, sedang dan rendah. Ini bertujuan untuk lebih mudah melihat gambaran siswa yang berkemampuan tinggi, sedang dan rendah.

G. Rencana Pengujian Keabsahan Data

Rencana pengujian keabsahan data yang akan dilakukan pada penelitian ini dengan memakai triangulasi teknik. Dimana triangulasi teknik adalah teknik pemeriksa kebenara dari data yang diperoleh yang menggunakan sesuatu yang beda diluar data tersebut sebagai bahan pengecekan atau pembanding terhadap data tersebut (Moleong, 2017). Dari hal ini teknik triangulasi yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah teknik triangulasi dengan metode yaitu tes tertulis dan wawancara. Dari hasil tes tertulis nantinya akan dicocokkan dengan data yang diperoleh dari hasil wawancara, kemudian dilihat apakah data hasil tes tertulis konsisten dengan data hasil wawancara. H. Teknik Analisis Data

Setelah dikumpulkannya data, dilakukan analisis data untuk memperoleh data yang tesusun secara sistematis dan mempermudah untuk ditafsirkan dan dipahami sehingga temuannya dapat diinformasikan kepada orang lain.

(49)

Teknik analisis data yang dipakai penulis pada penelitian ini yaitu dengan model Miles dan Huberman (Sugiono, 2018) yang dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:

1. Reduksi data

Reduksi data merupakan sesuatu bentuk analisis yang menajamkan, menggolongkan, mengarahkan, membuang data tidak perlu dan mengorganisasi data dengan cara sedemikian rupa sehingga memberikan gambaran yang jelas mengenai objek yang dianalisis dan memudahkan penelitian dalam pengumpulan data selanjutnya. Adapun tahap reduksi data yang digunakan pada penelitian ini adalah yaitu: 1) Memberikan soal tes kemampuan awal

2) Menganalisis hasil tes pekerjaan subjek

3) Menggolongkan subjek ke dalam 3 kategori subjek yang berpikir kritis rendah, sedang, dan tinggi berdasarkan hasil uraian jawaban subjek 4) Memberikan tes soal HOTS kepada subjek yang berprestasi rendah,

sedang, dan tinggi. 2. Penyajian data

Setelah data direduksi, langkah selanjutnya adalah penyajian data. Penyajian data disajikan dalam bentuk uraian deksriptif yang didukung grafik atau sejenisnya yang mendukung data yang disajikan. Dengan penyajian data, maka akan memudahkan untuk memahami apa yang terjadi, merencanakan kerja selanjutnya berdasarkan apa yang dipahami tersebut. Adapun tahapan penyajian datanya yaitu:

(50)

36 dijadikan sebagai bahan untuk wawancara.

2) Menampilkan hasil wawancara subjek untuk disusun dalam bentuk sebuah dialog.

3. Penarikan kesimpulan

Membuat kesimpulan merupakan analisis lanjutan dari reduksi data, dan penyajian data. Penarikan kesimpulan dalam penelitian ini dengan cara melihat perbedaan hasil pekerjaan pada saat tes subjek dan hasil wawancara. Berdasarkan dari hasil tes dan wawancara ini dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa bagaimana kemampuan berpikir kritis subjek yang diteliti dengan menggunakan soal HOTS.

(51)

37 BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Tes Pemilihan Subjek

Penelitian yang berjudul “Profil Berpikir Kritis Siswa Dalam Menyelesaikan Soal HOTS Pada Materi Sistem Persamaan Linear Dua Variabel Ditinjau dari kemampuan Awal pada Kelas VIII SMP Negeri 3 Pallangga” merupakan sebuah penelitian yang dilakukan di kabupaten Gowa yang bertujuan untuk mengetahui tingkat kemampuan berpikir kritis siswa dalam menyelesaikan soal HOTS pada materi sistem persamaan linear dua variabel dengan menggunakan indikator berpikir kritis yang dikemukakan oleh Ennis yaitu FRISCO. Tes I dilakukan dikelas VIII yang berjumlah 35 subjek, namun karena kondisi Covid 19 sehingga peneliti hanya diizinkan oleh sekolah sebanyak 12 subjek untuk diberikan test kemampuan awal.

Tahapan atau proses pelaksanaan penelitian ini diawali dengan melakukan observasi sekaligus meminta izin kepada kepala sekolah untuk melakukan penelitian di SMP Negeri 3 Pallangga pada tanggal 24 Agustus 2020 Peneliti mendapat izin dari pihak sekolah sekaligus mewawancarai guru mata pelajaran matematika. Pada tanggal 19 Oktober 2020 peneliti memberikan surat izin penelitian ke SMP Negeri 3 Pallangga untuk melakukan penelitian. Kemudian peneliti diarahkan untuk melakukan penelitian dikelas VIII.1, pada tanggal 27 Oktober peneliti memberikan tes kemampuan awal dikelas VIII.1. Adapun hasil tes kemampuan awal pada subjek dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

(52)

38 Tabel 4.1. Hasil Tes Kemampuan Awal Subjek

No. Nama Nilai 1. L 95,8 2. SFA 91 3. DRS 87,5 4. PAP 79 5. MIA 70,8 6. ASA 70,8 7. IRS 37,5 8. MAR 29 9. PA 20,8 10. ANM 20,8 11. MI 16,6 12. AP 16,6

Dari tabel 4.1 diperoleh subjek yang berprestasi tinggi, sedang dan rendah, Selanjutnya peneliti memberikan tes kedua untuk mengukur kemampuan berpikir kritis siswa dan selanjutnya subjek tersebut diwawancarai. Tes kedua merupakan tes soal HOTS.

(53)

B. Pengkodean Subjek Penelitian

Subjek penelitian dipilih berdasarkan hasil tes diagnostik yang masing-masing berpikir kritis tinggi, sedang dan rendah. Adapun pengkodean subjek penelitian sebagai berikut:

Tabel 4.2 Pengkodean Subjek Penelitian

No. Tipe Berprestasi Kode Subjek 1. Berpikir Kritis Tinggi BKT

2. Berpikir Kritis Sedang BKS 3. Berpikir Kritis Rendah BKR

Untuk memudahkan dalam menganalisis data pada bagian ini, maka setiap petikan dialog diberikan kode tertentu. Untuk petikan dialog pewawancara diberi kode “P” dan untuk petikan subjek yang berpikir kritis tinggi diberi kode “BKT” untuk petikan subjek yang berpikir kritis sedang diberi kode “BKS” dan untuk petikan subjek yang berpikir kritis rendah diberi kode“BKR”.

C. Paparan Data

Pada bagian ini akan dipaparkan data-data yang berkenaan dengan kegiatan penelitian dan subjek penelitian selama pelaksanaan penelitian. Ada dua bentuk data dalam kegiatan penelitian ini yaitu hasil tes tertulis dan hasil wawancara dengan subjek penelitian. Dua data tersebut akan jadi tolak ukur dalam menyimpulkan kemampuan berpikir kritis siswa dalam menyelesaikan soal HOTS materi sistem persamaan linear dua variabel yang ditinjau dari kemampuan awal siswa.

Berikut adalah uraian hasil tes dan wawancara yang telah dilakukan pada siswa kelas VIII SMP Negeri 3 Pallangga.

(54)

40 1. Subjek yang Berpikir Kritis Tinggi

a. Hasil Tes Kemampuan Berpikir Kritis Tinggi dan Wawancara Berikut adalah jawaban tertulis subjek BKT untuk soal nomor 1 disajikan pada gambar 4.1 sebagai berikut:

Gambar 4.1 Hasil Kerja Nomor 1 Subjek yang Berpikir Kritis Tinggi

Adapun hasil wawancara dengan subjek yang berpikir kritis tinggi berikut ini:

 Fokus

Pada subjek yang berpikir kritis tinggi menunjukkan pada tahap focus, subjek menjawab pertanyaan sesuai dengan konteks permasalahan (pada pengerjaan jawaban dituliskan ditulidkan diketahui dan ditanyakan secara lengkap dan tepat)). Berikut petikan wawancaranya:

Kode Uraian

P : Apakah pertanyaan itu benar atau salah?

BKT : Benar kak.

P : Kenapa bisa dikatakan benar?

BKT : Karena terdiri dari 2 persamaan linear dua variabel

focus

reason

(55)

P : Bagaimana carata dapat ide untuk menjawab seperti itu?

BKT : Karena saya tentukan dulu apa yang diketahui sama

ditanyakan itu soalnya kak.

P : Jadi apa yang diketahui dan ditanyakan pada soal?

BKT : Yang diketahui adalah 3 bilangan pertama ditambah 4

bilangan kedua adalah 36 dan 4 bilangan pertama dikuranfi 3 bilangan kedua adalah 13 dan yang ditanyakan adalah model matematikanya.

 Reason

Pada subjek yang berpikir kritis tinggi menunjukkan pada tahap reason, subjek dapat memberikan alasan terkait fakta atau bukti yang relevan pada setiap langkah dalam membuat kesimpulan (menuliskan jawaban dengan memberikan alasan yang tepat dan lengkap). Berikut petikan wawancaranya:

Kode Uraian

P : Apa langkah selanjutnya lagi dek setelah kita tuliskan

yang diketahui dan ditanyakan?

BKT : Saya misalkanki kak

P : Apa yang kita misalkan?

BKT : Saya misalkan yang diketahyui itu kak, yang bilangan

pertama saya misalakan jadi a dan yang bilangan kedua ssaya misalkan b.

P : Apa alasanta kenapa kita misalkanki?

BKT : Untuk napermudah nanti pada saat mau dituliskan model matematikanya kak.

 Inference

Pada subjek yang berpikir kritis tinggi menunjukkan pada tahap inference, subjek mampu menyimpulkan permasalahan dengan tepat(menuliskan jawaban dengan memberikan kesimpulan yang tepat dan lengkap). Berikut petikan wawancaranya:

(56)

42

Kode Uraian

P : Kan tadi kita sudah misalkan. Setelah dimisalkan diapakan

lagi dek?

BKT : Saya jawabmi pertanyaannya kak, yaitu menuliskan model

matematikanya

P : Bagaimana model matematikanya dek?

BKT : Kan tadi kumislkan bilangan pertama itu a dan bilangan kedua itu b toh kak, jadi model matematikanya itu 3a+4b=66 dan 4a-3b=13 kak.

 Overview

Pada subjek yang berpikir kritis tinggi menunjukkan pada tahap overview, subjek telah mengecek ulang pekerjaannya dari awal hingga akhir. Berikut petikan wawancaranya:

Kode Uraian

P : Jadi yakinki begitumi jawabannya?

BKT : Iya kak

P : Sudah dicek kembali pekerjaanta?

BKT : Sudahmi kak

P : Dicek satu persatu baru ditulis kembali atau selesai

semuapi baru dicek?

BKT : Kucek satu persatu kak kalau sudah kucek bisa kutau apa lagi langkah selanjutnya kak

P : Ohiya dek.

Berikut adalah jawaban tertulis subjek BKT untuk soal nomor 2 disajikan pada gambar 4.2 sebagai berikut:

(57)

Gambar 4.2 Hasil Kerja Nomor 2 Subjek yang Berpikir Kritis Tinggi Adapun hasil wawancara dengan subjek yang berpikir kritis tinggi berikut ini:

 Focus

Pada subjek yang berpikir kritis tinggi menunjukkan pada tahap focus, subjek menjawab pertanyaan sesuai dengan konteks permasalahan (pada pengerjaan jawaban dituliskan yang diketahui dan ditanyakan secara lengkap dan tepat). Berikut petikan wawancaranya:

Kode Uraian

P : Susah nomor 2 dek?

BKT : Iya kak karna banyak sekali yang diketahuinya

P : Apa saja yang diketahui dek?

BKT : Jumlah penonton 400 orang, harga tiket kelas eksekutif seharga Rp.70.000, harga tiket kelas biasa seharga

Rp.50.000,dan hasil penjualan tiket sebanyak

Rp.23.000.000.

P : Dan apa yang ditanyakan dek?

BKT : Jumlah orang yang membeli tiket dikelas eksekutif dan kelas biasa kak

focus

inference

situation clarity

(58)

44  Reason

Pada subjek yang berpikir kritis tinggi menunjukkan pada tahap reason, subjek mampu membuat alasan atas jawaban yang dikerjakan pada proses penyelesaian, tetapi pada saat tes subjek tidak menuliskan jawaban dan alasan. Berikut petikan wawancaranya:

Kode Uraian

P : Kenapa kita tidak tuliskan yang dimisalkan?

BKT : Yang dimisalkan a dan b kak?

P : Yah yg itu dek, coba kita jelaskan!

BKT : Peserta eksekutif a dan peserta biasa b jadi a+b=400 dan 70.000a+50.000b=23.000.000

 Inference

Pada subjek yang berpikir kritis tinggi menunjukkan pada tahap inference, subjek mampu menyimpulkan permasalahan sesuai dengan penyelesaian yang dikerjakan. Berikut petikan wawancaranya:

Kode Uraian

P : Kan tadi kita sudah tuliskan yang diketahui dan

ditanyakan toh dek, apalagi langkah selanjutnya?

BKT : Samaji nomor 1 kak yang dikasih simbol a dan b. Jadi model matematikanya a+b=400 adalah persamaan 1 dan 70.000a+50.000b=23.000.000.

P : Kenapa kita tidak tuliskan yang dimisalkan itu dek?

BKT : karena saya kirai tidak harusji kak, jadi langsung saja saya tuliskanmi model matematikanya kak

 Situation

Pada subjek yang berpikir kritis tinggi menunjukkan pada tahap situation, subjek dapat memperoleh informasi yang yang terkait dengan proses penyelesaian permasalahan yang ada serta mengetahui

Gambar

Grafik  untuk  persamaan  linear  dua  variabel  berbentuk  garis  lurus  SPLDV  terdiri  dari  dua  buah  persamaan  dua  variabel,  berarti  SPLDV  digambarkan  berupa  dua  buah  garis  lurus
Tabel 3.1 Tabel kisi-kisi Tes soal kemampuan awal matematika
Tabel 3.2 Penilaian Validator Soal Kemampuan Awal
Tabel 3.3 Saran Revisi oleh Validator Soal Kemampuan Awal
+7

Referensi

Dokumen terkait

individu sendiri. Faktor intrinsik tersebut yaitu berupa kecerdasan, perhatian,minat, bakat, motivasi, kematangan, dan kesiapan. Sedangkan faktor ekstrinsik

Jika jiwa dilandasi oleh nilai-nilai ketuhanan dan hidup dalam kerangka kerja yang berpusat pada Tuhan, maka di samping dapat mengurangi tekanan masalah ke-

1) Perencanaan pengajaran sebagai sebuah proses adalah pengembangan pengajaran secara sistematik yang menggunakan secara khusus teori-teori pembelajaran dan

Puji syukur kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, Karena atas berkat rahmat-Nya, Skripsi yang berjudul “Pengaruh Loan To Asset Ratio (LAR), Debt Equity Ratio

Analisis yang dilakukan pada penelitian ini adalah mengetahui bagaimana pengaruh metode oversampling yang digunakan terhadap akurasi prediksi data churn dengan melakukan

Peran lain dari area prefrontal yang berkaitan dengan memori adalah untuk memanggil ulang informasi (recall) lain dari daerah yang luas pada otak kemudian

Kembali kepada adanya pengetahuan deduktif dari ajaran agama tentang hukum-hukum ketentuan Tuhan atau sunnatullah untuk kehidupan sosial manusia dan pengetahuan induktif ten

Jadi dalam menghitung peluang suatu kejadian, faktor-faktor yang harus diketahui adalah eksperimen, outcome dari eksperimen, ruang sampel dan ukurannya N, kejadian se- bagai bagian