PERBANDINGAN ANGKA KEJADIAN BAKTERIURIA DAN LEUKOSITURIA ANTARA PERSALINAN ATERM DAN PRETERM
Studi kasus di RSUP Dr. Kariadi Periode 2013
JURNAL MEDIA MEDIKA MUDA KARYA TULIS ILMIAH
Disusun untuk memenuhi sebagian persyaratan guna mencapai derajat sarjana starata-1 kedokteran umum
ARTONO TRI PAMUNGKAS 22010110110049
PROGRAM PENDIDIKAN SARJANA KEDOKTERAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG 2014
PERBANDINGAN ANGKA KEJADIAN BAKTERIURIA DAN LEUKOSITURIA ANTARA PERSALINAN ATERM DAN PRETERM
Studi kasus di RSUP Dr. Kariadi Periode 2013 Artono Tri Pamungkas,1 Besari Adi Pramono2
1Mahasiswa program pendidikan S-1 Kedokteran Umum Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro
2Staf pengajar Bagian Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro
ABSTRAK
Latar Belakang: Infeksi saluran kemih menyumbang 30% kejadian prematuritas. Kultur urin merupakan gold standar dalam penegakan diagnosis ISK, namun kultur urin tidak umum dilakukan apabila tidak ada indikasi. Berkaitan dengan hal itu, dipilih pemeriksaan urinalisis sebagai preskrining ISK sebelum ditegakkan dengan kultur. Pada pemeriksaan urinalisis, dapat diketahui ada tidaknya bakteri dan leukosit pada urin.
Tujuan: Mengetahui angka kejadian bakteriuria dan leukosituria pada persalinan preterm dan aterm.
Metode: Penelitian ini merupakan penelitian analitik deskriptif dengan rancangan penelitian cross-sectional. Data diambil dari catatan medik ibu yang bersalin di RSUP Dr. Kariadi periode 1 Juli-31 Desember 2013 dan tercatat memiliki hasil pemeriksaan urinalisis bakteriuria dan leukosituria. Subjek dipilih secara consecutive sampling. Analisis menggunakan Chi-square.
Hasil: Angka kejadian bakteriuria pada ibu hamil sebesar 81,6%, sementara angka kejadian leukosituria sebesar 5,3%. Tidak ada perbedaan yang bermakna antara kejadian bakteriuria dengan persalinan (p=0,752). Namun, ditemukan perbedaan yang bermakna antara leukosituria dengan persalinan (p=0,008).
Kesimpulan: Terdapat perbedaan yang bermakna antara leukosituria dengan persalinan preterm dan aterm.
COMPARATION BETWEEN THE INCIDENCE OF BACTERIURIA AND LEUKOCYTURIA IN ATERM AND PRETERM LABOR
A case study in Dr. Kariadi General Hospital period 2013 Artono Tri Pamungkas,1 Besari Adi Pramono2
16WXGHQW %DFKHORU¶V GHJUHH )DFXOW\ RI 0HGLFLQH 8QLYHUVLW\ RI 'LSRQHJRUR Semarang)
2Lecturer (Department of Obstetry and Gynecology, Faculty of Medicine, University of Diponegoro, Semarang)
ABSTRACT
Background: Urinary Tract Infection (UTI) causing 30% of preterm labor. Urine cultures were the gold standard in diagnosis of UTI, however it was expensive, and its usage was uncommon without any medical indication. For that matter, urinalysis was chosen as a pre-screening of UTI before urine culture was done. In urinalysis we could notice, whether or not bacteria and leukocyte were found in the urine.
Aim: To determine incidence of bacteriuria and leukocyturia in preterm and aterm labor.
Methods: This research was an analytic descriptive study with a cross sectional design. The data was taken from medical record of women gave birth in Dr. Kariadi General Hospital among 1st July-31st December 2013 and had recorded a urinalysis test results of bacteriuria and leukocyturia. The subject was chosen with consecutive sampling. The data analyzed using Chi-square test.
Results: Incidence of bacteriuria among pregnancy was 81,6%, while the incidence of leukocyturia was 5,3%. There was no significant difference between the incidence of bacteriuria and labor. Meanwhile, there was a significant difference between the incidence of leukocyturia and labor.
Conclusion: There was a significant difference between the incidence of leukocyturia and labor.
PENDAHULUAN
Prematuritas ialah istilah yang digunakan untuk menggambarkan bayi yang lahir sebelum usia kehamilan mencapai 37 minggu. Insiden ini memiliki angka yang cukup tinggi di Indonesia. Hal ini mengkhawatirkan, karena angka kematian bayi prematur dan sangat prematur (usia gestasi <32 minggu) lebih tinggi 15 dan 75 kali lipat dibandingkan dengan bayi yang lahir aterm.1
Berbagai faktor berpengaruh terhadap kejadian prematur, seperti ketuban pecah dini (20-25%), infeksi (30%), dan persalinan preterm spontan (20,9%). Infeksi saluran kemih ( ISK ) merupakan salah satu penyulit dalam kehamilan, dimana 30% partus prematurus disebabkan oleh ISK.2
Kultur urin merupakan Gold Standart dalam mendiagnosa ISK. Namun, pemeriksaan dengan menggunakan kultur cukup mahal dan jarang dilakukan apabila tidak ada indikasi tertentu. Sementara sebanyak 2 ± 11% wanita hamil mengalami bakteriuria asimptomatik.3 Untuk itu perlu metode diagnostik yang lebih umum dan lebih murah sebagai tindakan preskrining sebelum dilakukan kultur. Pada urinalisis dapat ditemukan ada tidaknya bakteri dan leukosit didalam urin, dimana kedua unsur tersebut merupakan komponen yang berperan dalam timbulnya infeksi saluran kemih.4
Penelitian ini bertujuan mengkaji lebih lanjut mengenai kejadian bakteriuri dan leukosituri pada prematuritas, yakni dengan membandingkan angka kejadian bakteriuri dan leukosituri pada persalinan preterm dan aterm. Melalui penelitian ini, penulis berharap dapat digunakannya urinalisis sebagai tindakan preskrining ISK sebelum dilakukan penegakan diagnosis menggunakan kultur, sehingga kasus persalinan prematur akibat ISK dapat diturunkan.
METODE
Penelitian ini merupakan penelitian analitik deskripif dengan desain penelitian cross-sectional. Sampel dipilih dengan metode consecutive sampling yaitu data diambil dari semua pasien yang bersalin dan telah melakukan pemeriksaan urinalisis bakteriuri dan leukosituri di RSUP Dr. Kariadi Semarang periode Juli-Desember 2013 serta memenuhi kriteria inklusi.
Data dikumpulkan dengan melihat catatan medis pasien yang melahirkan dan memiliki hasil pemeriksaan bakteriuri dan leukosituri pada urinalisis di RSUP. Dr. Kariadi Semarang periode Juli - Desember 2013. Data kemudian dianalisa menggunakan analisis univariat dan bivariat dengan uji Chi-square atau uji Fisher.
HASIL PENELITIAN
Sebanyak 245 ibu yang melahirkan di RSUP Dr. Kariadi bulan Mei sampai Juni 2014 memenuhi kriteria inklusi. Rentan usia mulai dari 15-45 tahun, dengan usia ibu terbanyak ialah 27 tahun (7,3%).
Tabel 1. Karakteristik ibu
Karakteristik Frekuensi (n = 412) Presentase (%) Tempat tinggal
Luar Kodya Semarang 81 33,1
Kodya Semarang 164 66,9 Rujukan Ya 144 58.8 Tidak 101 41.2 Riwayat ANC <4 21 8.6 >4 224 91.4 Anemia Ya 129 52,7 Tidak 116 47,3 Paritas Primipara, Nullipara 156 63,7 Multipara 89 36,3
Tabel 2. Karakteristik berdasarkan persalinan
Persalinan Frekuensi Persentase (%)
Preterm 120 49
Aterm 125 51
Total 245 100
Tabel 3. Karakteristik berdasarkan bakteriuria
Bakteriuria Frekuensi (n=245) Persentase (%)
Ya 200 81,6
Tidak 45 18,4
Tabel 4. Karakteristik berdasarkan leukosituria
Leukosituria Frekuensi (n=245) Persentase (%)
Ya 12 5,3
Tidak 232 94,7
Tabel 5. Korelasi antara usia dengan persalinan
Usia p r
Ya 0,366 0,1
Tabel 6. Korelasi antara usia ibu dengan presalinan Usia r p 15 ± 20 0,1 0,366 21 -25 26 ± 30 31 ± 35 36 ± 40 41 - 45
Tabel 7. Korelasi antara karakteristik ibu dengan persalinan Karakteristik
r p
Tempat tinggal
0,117 0,024 Luar Kodya Semarang
Kodya Semarang Rujukan <0,001 0,703 Ya Tidak Anemia 0,158 0,006 Ya Tidak Pemeriksaan Kehamilan 0,158 <0,001 <4 >4 Paritas 0,2 0,025 Nullipara,Primipara Multipara
Tabel 8. Korelasi pendidikan ibu dengan persalinan Pendidikan r p Tidak Sekolah 0,042 0,413 SD SMP SMA D3,S1
Tabel . Korelasi antara leukosituria dengan persalinan
Leukosituria p OR (95% CI) Ya 0,008 6,206 (1,346 ± 28,62) Tidak
Tablel 6. Korelasi antara bakteriuria dengan persalinan
Bakteriuria p OR (95% CI)
Ya 0,752 0,901 (0,472 ± 1,720) Tidak
PEMBAHASAN
Preterm adalah keadaan dimana bayi lahir dalam waktu kurang dari 37 minggu dan lebih dari 20 minggu.5 Pretermitas merupakan suatu keadaan yang menyebabkan mortalitas janin terbanyak di dunia. Tepatnya 70% neonatus meninggal dan 36% bayi meninggal. Di Amerika, 12% dari 4 juta kelahiran adalah preterm dan angka ini mencapai 15,6% dari 58.000 kelahiran di Alabama.6 Sedangkan Indonesia berada di
peringkat ke- 9 pada data dari WHO pada tahun 2010 dengan angka 158 per 100 kelahiran.7
Pada penelitian ini dari 245 sampel yang didapatkan, 120 pasien dengan preterm dan 125 pasien dengan aterm. Karakteristik usia ibu didapatkan paling banyak 27 tahun yang melahirkan pada bulan juli hingga Desember 2013. Hal ini termasuk dalam usia reproduktif yaitu rentang usia 20 ± 34 tahun. Karakteristik berdasarkan alamat, didapatkan mayoritas ibu yang datang ke RSUP Dr. Kariadi berasal dari Kodya Semarang sebesar 66,9%. Data juga menunjukkan bahwa sebesar 58,8% pasien yang datang merupakan pasien rujukan.
Didapatkan hasil data mengenai riwayat pemeriksaan kehamilan, ibu yang telah memeriksakan kehamilannya lebih dari 4 kali (>4) sebanyak 91,4%. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa, ibu telah memiliki kesadaran akan pentinganya pemeriksaan kehamilan.
Karakteristik ibu yang memiliki anemia saat hamil terhitung tinggi. Didapatkan data sebesar 52,7% ibu mengalami anemia saat hamil. Dimana sebanyak 74 ibu mengalami anemia dan menghasilkan persalinan yang preterm, sementara ibu yang melahirkan janin yang aterm dan anemia sebanyak 55. Pada penelitian K.Kalaivani dari India, menyebutkan bahwa apabila ibu mengalami anemia saat hamil, maka akan meningkatkan kejadian preterm pada janin yang dikandungnya.8 Sementara karakteristik ibu berdasarkan paritas, pada penelitian ini didapatkan mayoritas ibu merupakan nullipara dan primipara dengan presentasi sebesar 63,7%.
Leukosituri adalah suatu keadaan dimana ditemukannya leukosit di dalam urin pada pemeriksaan urin rutin. Leukosit dikatakan bermakna apabila ditemukannya OHXNRVLW • /3% SDGD SHPHULNVDDQ XULQ UXWLQ PHVNLSXQ EHJLWX SHQLQJNDWDQ OHXNRVLW • /3% MXJD WHODK PHQXQMXNNDQ VXDWX DNWLYLWDV NH DUDK SDWRORJLV9,10,11 Pada
penelitian ini didapatkan sebanyak 11 ibu dengan persalinan preterm terdeteksi leukosituria positif, sementara pada persalinan aterm sebanyak 2 ibu terdeteksi leukosituria positif. Hasil analisis antara leukosituria dengan persalinan persalinan didapatkan hubungan yang bermakna (p = 0,008). Hal ini sesuai dengan penelitian 1XDGD \DQJ PHQ\HEXWNDQ EDKZD ZDQLWD KDPLO GHQJDQ OHXNRVLW • /3% EHULVLNR kali lebih besar mengalami partus pretermus imminens.9 Hal ini mungkin terjadi karena leukosit merupakan tanda adanya infeksi. Dimana dengan adanya leukosit akan memicu pengeluaran VLWRNLQ SURLQIODPDVL VHSHUWL ,/ ,/ ,/ GDQ 71).
Sitokin ± sitokin tersebut akan memicu pengeluaran prostaglandin dan memicu persalinan preterm. Selain itu sitokin ± sitokin tersebut juga akan merubah struktur serviks dan membran fetus, sehingga terjadi ketuban pecah dini.4
Berdasarkan pemeriksaan laboratorium ibu hamil yang memiliki bakteriuri, didapatkan data prevalensi bakteriuria pada penelitian ini sebesar 81,6%. Kejadian ini lebih tinggi dibandingkan dengan penelitian dari Amerika yang memiliki nilai prevalensi sebesar 45,3%.12 Dimana pada angka kejadian pada persalinan preterm sebanyak 97 ibu, sedangkan pada persalinan aterm sebanyak 103 ibu. Meskipun begitu tidak ditemukan perbedaan antara bakteriuria dengan persalinan. Hal ini berarti bakteriuria pada urinalisis bukan merupakan faktor risiko infeksi saluran kemih. Sehingga ada tidaknya bakteri di urin pada pemeriksaan urinalisis tidak dapat menjadi patokan untuk dilakukannya biakan urin atau kultur. Hal ini sesuai dengan penelitian Amirah, dimana disebutkan bahwa pemeriksaan urinalisis hanya memiliki sensitivitas sebesar 85% dan spesitifitas sebesar 26%. Selain itu disebutkan pula nilai duga positif (NDP) sebesar 50% dan nilai duga negatif (NDN) sebesar 67%.13 Sehingga dapat disimpulkan, akurasi pemeriksaan bakteriuri dengan urinalisis masih rendah. Hasil ini tidak sesuai dengan penelitian Kass et al yang menyebutkan, bahwa bakteriuria
asimptomatik dapat meningkatkan kejadian preterm 1,98 kali.10,14 Hal ini terjadi karena endotoksin dari bakteri yang merangsang pengeluaran prostaglandin sehingga menyebabkan terjadi miometrium dan juga oleh karena adanya respon infeksi yang mengakibatkan kerusakan struktur uterus dan pembuluh darah plasenta.4
Selain itu, adanya infeksi pada traktus urinarius akan mengakibatkan produksi SURWHDVH EDNWHUL \DQJ PHQJLQLVLDVL NDVNDGH LQIODPDVL ,/ ,/-6, IL- 71). \DQJ
mengakibatkan degradasi MMP dengan TMP (tissue inhibitor of matrix metalloproteinase). Protease apoptosis akan berjalan akibat teraktivasinya kaskade inflamasi ini, selain itu adanya protease bakteri akan meningkatkan produksi glukokortikoid yang menyebabkan penurunan kekuata kolagen selaput amnion. Ini semua akan menyababkan terjadinya KPD.11,15
Penelitian ini masih memiliki kekurangan. Kelemahan pada penelitian ini data yang diambil merupakan data sekunder, sehingga tidak didapatkan hasil yang pasti bakteri apa yang dapat menyebabkan bakteriuria. Selain itu kurangnya hasil laboratorium yang tercantum didalam rekam medis pasien menyebabkan banyak sampel yang di ekslusi dari penelitian.
Penelitian ini berbeda dengan penelitian sebelumnya sehingga peneliti mengharapkan penelitian lanjutan mengenai bakteriuria asimptomatik dengan metode yang berbeda agar mendapatkan hasil yang lebih baik. Peneliti juga mengharapkan penelitian ini memberikan informasi yang lebih mengenai resiko terjadinya preterm akibat bakteriuria asimptomatik. Diharapkan untuk instansi-instansi pelayanan medis untuk memperhatikan kejadian bakteriuria asimptomatik pada ibu hamil agar angka kejadian preterm menurun.
1. Dirjen Bina Pelayanan Medik Kementrian Kedehatan Republik Indonesia. Prediksi Persalinan Preterm. Health Technology Assesment Indonesia uy6[internet]. 2009
[cited 2013 Nov 7] ; 6 ; Available from:
EXN GHSNHV JR LG LQGH[ SKS"RSWLRQ FRPBGRFPDQ WDVN GRF
2. Arana DN, Suyono, Kusumawati E. Faktor Risiko Kejadian Persalinan Prematur. UNIMUS. Semarang: 2013 [cited 2014 Jul 16] ; Available from: http://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=4&cad=rja&ua ct=8&ved=0CCwQFjAD&url=http%3A%2F%2Fjurnal.unimus.ac.id%2Findex.php%2Fjur _bid%2Farticle%2Fview%2F555%2F605&ei=6PHEU6OnOYqVuASQ9ICIDw&usg=AFQjC NGU5N99-VUerw19O97gmOrzj_iDlw
3. Dielubanza EJ, Schaeffer, AJ. Urinary Tract Infections In Women. Med Clin North Am [internet]. 2011 [cited 2013 Nov 10]. 95 (1): 27-41 ; Available from : http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/21095409
4. Jenifer O. Fahey, CNM, MSN, MPH. Clinical Management of Intra-Amniotic Infection
and Chorioamnionitis: A Review of the Literature. J Midwifery Womens
Health ;53(3):227-235. Internet 2008 [ cited : 2014 Maret 09]. Available from : http://www.medscape.com/viewarticle/573988_2
5. Smail, Fiona. Asymptomatic bacteriuria in pregnancy. Best Practice & Research Clinical Obstetrics and Gynaecology Vol. 21, No. 3, pp. 439±450 [internet]. 2007
[cited 2014 Januari 18] ; Available from :
http://www.nacer.udea.edu.co/pdf/cocumentos/Rasymptomaticbacteriuria.pdf --> Asymptomatic bacteriuria in pregnancy Fiona Smaill* MB, ChB, MSc
6. Alabama Perinatal Exellence Collaborative. APEC Guideline Preterm Labor [internet]. 2013 [cited 2014 Januari 31] ; Availble from : http://medicaid.alabama.gov/documents/4.0_Programs/4.4_Medical_Services/4.4.7_M aternity_Care/4.4.7.5_APEC/4.4.7.5_APEC_Preterm_Labor_Guidelines_3-25-13.pdf 7. Boekitwetan P. Komplikasi Bakteriuria Pada Kehamilan. Jurnal Kedokteran Trisakti
Volume 19 [internet]. 2000 [cited 2014 Jul 16] ; Available from : http://www.univmed.org/wp-content/uploads/2011/02/Vol.19_no.3_1.
8. Kalaivani,K. Prevalence and Consequence Anemia In Pregnancy. Department of Reproductive Biomedicine, National Institute of Health & Family Welfare [internet]. 2009. [cited 2014 July 4]. Available from : icmr.nic.in/ijmr/2009/november/1125.pdf
9. Nuada IN, Karkata MK, Suastika K. Risiko Partus Prematurus pada Kehamilan dengan Infeksi Saluran Kemih. Cermin Dunia Kedokteran [internet]. 2004 [cited 2014
Jul 16]. Volume 145: 26-30 ; Available from:
http://www.scribd.com/doc/59919863/145RisikoPartusPrematurusIminen#download 10. Sinaga, Yanto H. Infeksi traktur urinarius pada wanita hamil di RSUP Dr. Kariadi
Semarang. Semarang : Bagian Obstetri Ginecologi Fakultas Kedokteran UNDIP ; 2003 11. 0HUFHU %ULDQ 0 &HDV\ DQG 5HVQLN¶V 0DWHUQDO-Fetal Medicine Chapter 31:
Premature Rupture of Membranes. Elsevier [internet]. 2010 [cited 2014 Mar 8] ;
Available from:
https://know.obgyn.wisc.edu/sites/mfm/fellowship/mfmfellowslecture/Documents/Doc uments/CR-6%20Chapter%2031.pd
12. Imade, Paul E. Izekor, Patirnce E. Egafona, Noshakare O. Enabulele, Onaiwu I. Ophori,E. Asymptomatic Bacteriuria Among Pregnant Women. North American Journal of Medical Sciences Volume 2. No. 6. [internet]. 2010 [cited 2014 July 06] ; Available From : www.najms.org
13. Amirah ZI, Amuas P, Rizananda M, Lillah. Uji Diagnostik Tiga Metode Pemeriksaan Urinalisis untuk Identifikasi Cepat Infeksi Saluran Kemih pada Anak. [internet]. 2011 [cited 2014 Jul 18] ; Available from: http://pasca.unand.ac.id/id/wp-content/uploads/2011/09/resume-penelitian.pdf
14. Schnarr, J., Smaill F. Asymptomatic bacteriuria and symptomatic urinary tract infections in pregnancy. European Journal of Clinical Investigation Vol 38 [internet].
2008 [cited 2014 Jan 18] ; Available from
http://fhs.mcmaster.ca/medicine/infectious_diseases/residents/docs/Asymptomatic-bacteriuria-in-pregnancy.pdf --> Asymptomatic bacteriuria and symptomatic urinary tract infections in pregnancy J. Schnarr and F. Smaill Faculty of Health Sciences, McMaster University, Hamilton, Canada
15. Sudiarta, I Gede. Bakteriuri Asimptomatis Meningkatkan Risiko Terjadinya Ketuban Pecah Dini Preterm. Tesis. Denpasar : Program Pasca Sarjana Universitas Udayana : 2014