• Tidak ada hasil yang ditemukan

(Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Volume 1, No.2, November 2019 (44-55) htttp://e-journal.sttaw.ac.id/index.php/kaluteros

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "(Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Volume 1, No.2, November 2019 (44-55) htttp://e-journal.sttaw.ac.id/index.php/kaluteros"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

Volume 1, No.2, November 2019 (44-55)

htttp://e-journal.sttaw.ac.id/index.php/kaluteros

KEPENUHAN HIDUP DALAM KRISTUS SUATU TAFSIRAN TERHADAP KOLOSE 2 : 6 – 15

Jefren A. Polly, M. Th STT SOE

[email protected]

Abstract

The research has a purpose to understand the heresy in Collosians and Paul give an advise to the Collosians congregation not to forget with Ephafras’s teaching about the Gospel of Christ however the must build and rooted in Christ and not influenced with the heresy in Collosians

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk memahami mengenai ajaran sesat di Kolose dan ajakan dari Paulus dalam menasehati jemaat di Kolose agar tidak melupakan ajaran yang telah mereka terima dari Epafras tentang Injil Kristus, tapi mereka harus berakar dan dibangun di dalam Dia,agar tidak mudah terpengaruh dengan ajaran sesat yang berkembang di sana

A. Pendahuluan

Paulus menuliskan surat kepada jemaat di Kolose didasarkan atas laporan bahwa berkembangnya ajaran sesat yang cukup mempengaruhi kehidupan jemaat di Kolose. Sehingga Surat Kolose bukanlah surat telaah teologi, melainkan sebuah jawaban konkret terhadap masalah yang terjadi dalam jemaat.

(2)

Apa yang disajikan dalam Surat Kolose bukanlah suatu ulangan, bukan pula sesuatu yang benar-benar baru melainkan sebuah wawasan tentang kedudukan dan peranan Yesus Kristus yang menjadi inti iman Kristen dalam kosmos, dalam hubungan antar manusia dan secara khusus dalam jemaat, kedudukan dan peranan Kristus yang direnungkan secara baru ini mempunyai implikasi yang luas bagi kehidupan pribadi, dalam iman maupun dalam kehidupan bersama.

Mengenai ajaran sesat yang berkembang di Kolose, Baxter menulis, “ Ajaran sesat yang mencampurkan teosofi, agama Yahudi dan asketisisme itu nampak bersifat rohani, tapi pada hakikatnya menjatuhkan Kristus dari jabatan-Nya sebagai Tuhan dan Juruselamat yang satu-satunya. Justru kekudukan Kristus inilah yang dibentangkan dalam Kolose, yaitu keutunggalan dan :maha sanggup-Nya” sebagai Juruselamat. “sebab dalam Dia-lah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allah-an” (2:9).1 Sinkritisme yang terjadi di Kolose juga memuat paham Gnostik. Kaum Gnostik mempunyai dasar pemikiran bahwa materi pada dasarnya adalah jahat dan roh pada dasarnya adalah baik serta materi itu bersifat kekal. Selain itu menurut mereka, dunia ini dijadikan dari materi yang jahat tersebut. Sehingga Allah yang adalah Roh tidak mungkin menajiskan diri-Nya dengan bersentuhan langsung dengan dunia ini. Untuk itu, menurut kaum Gnostik, Allah mengalirkan serangkaian emanasi (pancaran), yang makin lama makin jauh dari Allah sampai akhirnya ada yang paling jauh. Itulah yang dapat berhubungan dengan materi yang menciptakan dunia. Selanjutnya mereka juga berpendapat bahwa Yesus hanya salah satu dari sekian banyak emanasi itu.2

Kolose 2:6-15 merupakan nasehat dan juga peringatan yang disampaikan oleh Paulus kepada jemaat di Kolose berkaitan dengan ajaran sesat yang sedang berkembang di kota itu. Paulus

1

J. Sidlow Baxter, Menggali Isi Alkitab, (Jakarta : Yayasan Konunikasi Bina Kasih/OMF, 1999), hal.135-126.

2

William Barclay, Pemahaman Alkitab Sehari-hari: Surat Filipi, Kolose, 1 dan 2 Tesalonika, (Jakarta: Gunung Mulia, 1999), hal.173-174.

(3)

memberikan nasehat tentang cara yang ampuh bagi jemaat Kolose agar tidak mudah terpengaruh dengan ajaran sesat tersebut. Selain itu dalam bagian ini Paulus juga melawan ajaran-ajaran palsu yang berkembang di Kolose, khususnya yang berkaitan dengan filsafat-filsafat dan juga tentang sunat.

B. Tafsiran Kolose 2:6-15

Ayat 6 merupakan naeshat Paulus kepada jemaat di Kolose agar iman mereka tidak mudah tergoyahkan dengan ajaran sesat di sana. Paulus memulai bagian ini dengan ungkapan “Kamu telah menerima Kristus Yesus’. Kata yang digunakan di sini

paralambanō, bentuk AORIST ACTIVE INDICATIVE) yang memiliki dua pengertian yaitu “ menyambut seseorang” (lih. Mat 1:20; Yoh 1:11; 14:3), atau “penerimaan secara tradisi" (lih. I Kor 11:23; 15:1,3; Gal 1:9,12; Flp 4:9; I Tes 2:13; 4:1; II Tes 3:6).3 Hal ini berarti bahwa jemaat Kolose telah menerima Kristus dalam kehidupan mereka sebagai Tuhan melalui Injil yang mereka dengar melalui Epafras.4

James Strong,seperti yang dikutip dalam

www.preceptausin.org, menyatakan paralambanō berarti

menerima seseorang atau sesuatu yang dapat mempengaruhi atau mengimpartasi atau mengubahkan hidupnya.5 Jadi arti dari ungkapan ini adalah bahwa ,jemaat Kolose telah menerima Kristus yang telah mengimpartasi atau mengubahkan kehidupan mereka secara pribadi.

Selanjutnya dalam ayat ini Paulus melanjutkan, “Karena itu hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia”. Kata “hidupmu” dalam ayat ini dalam terjemahan King James Version menggunakan kata “walk” (berjalan). Biasanya kata ini sering

3

Bob Utley, Paulus Terbelenggu, Injil Tak Terbelenggu: Surat-surat dari Penjara (MARSHALL, TEXAS : BIBLE LESSON INTERNATIONAL, 2011), hal. 42

4 Epafras adalah orang yang memberitakan Injl di kota Kolose

(1:5-7)

5

www.preceptausin.org, Colossian Commentary : Colossian 2:6.

(4)

dipahami sebagai jalan atau gaya hidup sesesorang. Sehingga secara sederhana maksud dari bagian ini adalah gaya hidup seseorang yang telah menerima Kristtus sebagai Tuhannya harus selalu berada dalam Kristus, tidak boleh terpisah dari Kristus. Hal ini diperkuat dengan kata “tetap” dalam ayat ini yang mengandung ajakan untuk pantang mundur hidup bersama Tuhan di jalan-Nya, apapun yang terjadi, apapun yang dihadapi. Sebaga hidup di dalam Dia bukan hanya untuk tertentu saja tetapi untuk selama-lamanya.6 Hal ini sejalan dengan terjemahan New International Version “continue to live in Him”.

Dengan menghubungkan ayat ini dengan ayat 5, maka Wiersbe menyimpulkan ayat 6 ini dengan sederhana, yaitu “ Kamu telah memulai dengan Kristus dan kamu harus tetap di dalam Kristus.” Atau juga dapat dipahami sebagai, “ Kamu telah memulai dengan iman dan kamu harus tetap di dalam iman. Ini satu-satunya cara untuk maju secara rohani.”7

Paulus melanjutkan nasehatnya di ayat 7. Ia menggunakan dua istilah yang unik, yaitu berakar dan dibangun. “Berakar” adalah istilah pertanian. Pola kata kerja bahasa Yunaninya bermakna “berakar sekali untuk selamanya”. Artinya bahwa jemaat di Kolose tidak boleh menjadi tanaman yang tidak berakar kuat yang tumbang oleh “rupa-rupa angin pengajaran” (Ef.4:14). Jemaat Kolose juga bukan “tanaman cangkokan” yang dipindahkan berkali-kali. Akar berfungsi untuk menyerap makanan supaya pohon dapat tumbuh. Akar juga memberi kekuatan dan kemantapan agar pohon tidak mudah tumbang.8

Dibangun adalah istilah arsitektur. Bila seseorang hendak membangun rumah, ia harus terlebih dahulu menyiapkan fondasi atau dasar bangunan. Dalam hal ini, yang menjadi dasar bangunan rohani jemaat Kolose adalah Kristus. Kristus adalah dasar yang teguh yang tidak dapat terombang-ambingkan oleh

6 Doreen Widjana, Kupasan Firman Allah : Surat Kolose

(Bandung : Lembaga Literatus Baptis, 2002), hal. 63

7

Warren W. Wiersbe, Utuh di dalam Kristus: Pendalaman Perjanjian Baru-Kolose, (Bandung: Kalam Hidup, 2001), hal.65.

(5)

apapun. Sehingga setiap jemaat Kolose yang menjadikan Kristus sebagai dasar bangunan rohaninya, tidak mungkin terpengaruh dengan ajaran sesat yang berkembang di Kolose pada saat itu.9

Paulus melanjutkan nasehatnya yaitu agar jemaat di Kolose memiliki iman yang semakin hari semakin teguh, hal ini dibuktikan dengan penggunaan present passive yang menunjukkan proses yang berkelanjutan. Dasar iman yang telah mereka dengar dan terima dari Eprafas harusnya semakin bertambah teguh jika mereka terus berakar dan dibangun di dalam Dia.

Paulus mengakhiri ayat 7 dengan mengajak jemaat Kolose memiliki hati yang melimpah dengan syukur. Roh yang bersyukur adalah tanda kedewasaan rohani. Bila orang Kristen berlimpah dengan ucapan syukur, itu menunjukkan bahwa kehidupan rohaninya sedang bertumbuh untuk lebih menjadi dewasa. Kedewasaan rohani adalah cara yang ampuH menangkal ajaran-ajaran sesat.10

Ligthfoot seperti yang dikutip dalam www.preceptausin.org, membahasakan kembali ayat 7 ini sebagai berikut:

”Aku ingin kamu untuk berakar kuat,sekali untuk selamanya, di dalam Dia, Aku rindu untuk untuk melihatmu hari demi hari dibangun semakin tinggi di dalam Dia, melihatmu semakin kuat dan kuat melalui imanmu, saat kamuberpegang teguh pada ajaran tentang Kristus yang telah diajarkan kepadamu sebelumnya, dengan demikian kamu makin terikat dengan ajaran tersebut, dan ikatan itu membuat hatimu makin bersyukur kepada Tuhan, Pemberi segalanya.” (Terjemahan bebas penulis)11

Ayat 8 merupakan peringatan yang Paulus sampaikan kepada jemaat Kolose, hal ini terbukti dari frase “hati-hatilah”

9 Doreen Widjana, Op.Cit, hal. 63 10

Warren W. Wiersbe, Op.Cit, hal.66

11

www.preceptausin.org, Colossian Commentary : Colossian 2:7.

(6)

yang menjadi pembuka dari ayat 8 ini. Secara harafiah ungkapan selanjutnya dari ayat ini adalah “jangan ada yang membawamu sebagai seorang tawanan.” Wiersbe mengatakan bahwa guru-guru palsu tidak keluar dan mencari orang yang terhilang. Mereka “menculik” orang-orang yang telah bertobat di dalam gereja, khususnya mereka yang tidak mengetahui kebenaran firman Allah dengan benar.12

William Barclay juga menyatakan bahwa ayat ini berkaitandengan guru-guru palsu :

“Paulus mulai memberi suatu gambaran mengenai guru-guru palsu. Ia berbicara tentang seseorang yang akan menawan kamu. Kata aslinya

sulagogein dan dapat dipakai untuk seorang pedagang budak yang membawa orang-orang dari suatu bangsa yang ditaklukkan untuk dijadikan budak. Bagi Paulus itu merupakan hal yang luar bisa dan tragis bahwa manusia yang telah dimerdekakan (Kol.1:12-14) dapat berpikir untuk menyerahkan diri kembali kepada perbudakan yang membawa bencana.13

Mengapa Paulus menyuruh jemaat Kolose berhati-hati? Karena filsafat guru-guru palsu ini bersifat “kosong dan palsu”. Dikatakan kosong dan palsu karena ajaran tersebut adalah ajaran turun-temurun atau berdasarkan tradisi. Manusia bukan berdasarkan firman Allah yang telah didengar oleh jemaat Kolose dari Epafras.

Wiersbe mengatakan bahwa tradisi buatan manusia seringkali bertentangan dengan kebenaran Alkitab, sehingga orang Kristen tidak boleh mempertahankannya. Namun ia juga menyatakan bahwa tidak salah memiliki tradisi gereja yang mengingatkan setiap generasi yang baru akan warisan rohani mereka, namun perlu diperhatikan agar tidak menjadikan tradisi

12 Warren W. Wiersbe, Op.Cit, hal. 67 13

(7)

tersebut sejajar dengan firman Allah atau bahkan lebih tinggi dari firman Allah.14

Selain itu filsafat guru-guru palsu itu kosong dan palsu karena didasarkan pada “roh-roh dunia”. Kata yang digunakan Paulus di sini adalah “stoikheia”. William Barclay stoikheia

memiliki dua arti yaitu secara harafiah artinya adalah yang disusun dalam satu barisan atau instrusksi dasar tentang satu hal, Sehingga penggunaan kata ini dalam ayat 8 ini bisa berarti bahwa apa diajarkan guru-guru palsu tersebut sebenarnya hal-hal mendasar yang telah diketahui oleh jemaat di Kolose dan sudah tidak begitu penting lagi. Arti yang kedua adalah roh-roh dunia yang elemental, terutama roh-roh bintang dan planet. Kaum Gnostik mempercayai bahwa roh-roh bintang dan planet atau yang dikenal dengan zodiak, menjadi penentu hidup manusia.15

Ayat-ayat selanjutnya merupakan tanggapan dan ajaran Paulus untuk melawan apan yang diajarkan oleh guru-guru palsu tersebut. Paulus menegaskan alasan jemaat Kolose tidak boleh terpengaruh dengan ajaran-ajaran sesat itu dengan mengatakan bahwa Yesus adalah satu-satunya Pribadi yang diperlukan oleh jemaat Kolose sebab “Seluruh kepenuhan Allah ada di dalam Kristus dan kamu telah dipenuhi di dalam Dia” (ayat 9-10).

Kata “kepenuhan” menggunakan kata Yunani pleroma. Kata ini bermakna “seluruh keberadaan, hakekat dan sifat-sifat Allah”. Kata ini digunakan oleh kaum Gnostik sebagai sumber “semua jalan” yang olehnya manusia dapat datang kepada Allah. Puncak tertinggi dalam keagamaan Gnostik adalah mengalami

pleroma.16

Kata pleroma digunakan sebanyak 2 kali dalam surat Kolose,yaitu dalam 1:19, dan 2:9. Baxter mengatakan bahwa dalam 1:19 adalah kegemaran Allah untuk memberikan seluruh kepenuhan-Nya, yaitu seluruh keberadaaan, hakekat dan sifat Allah,untuk berdiam di dalam Kristus untuk selama-salamnya sesuai dengan rancangan perdamaian-Nya. Pleroma dalam 2:9

14

Warren W. Wiersbe, Op.Cit, hal. 67-68

15

William Barclay, Op.Cit, hal. 208-209

(8)

memiliki makna bahwa seluruh kepenuhan Allah itu hidup di dalam Kristus “secara jasmaniah” supaya manusia dapat menerimanya dengan perantaraan kasih Yesus, Allah yang menjadi manusia,Tuhan dan Penyelamat manusia. Melalui ayat-ayat ini Paulus mau mengatakan bahwa segala kepenuhan Allah ada di dalam Kristus dan segala kepenuhan Kristus tersedia bagi orang percaya.17

Hal ini dibuktikan dengan bagian awal dari ayat 10, “dan kamu telah dipenuhi di dalam Dia.” Ketika seseorang dilahirkan kembali ke dalam keluarga Allah, ia dilahirkan dengan kepenuhan di dalam Kristus. Pertumbuhan rohaninya bukan karena

penambahan,melainkan pemeliharaan. Ia bertumbuh dari dalam ke luar. Tidak ada yang perlu ditambahkan kepada Kristus karena Dia adalah kepenuhan Allah sendiri.18

Oleh karena Yesus adalah kepenuhan Allah,maka Yesus adalah kepala atau penguasa atas segala sesuatu, termasuk di dalamnya roh-roh dunia yang menjadi dasar pengajaran dari guru-guru palsu diKolose.

Ayat 11-12 Paulus mengungkapkan tentang sunat. Guru-guru palsu di Kolose rupanya mengharuskan orang-orang Kristen bukan Yahudi agar disunat, seperti orang-orang Yahudi. Sunat yang dilakukan oleh orang Yahudi adalah sunat secara jasmani, sehingga tidak penting bagi orang-orang bukan Yahudi untuk melakukannya. Jemaat Kolose telah menerima sunat secara rohani, oleh Yesus melalui kematian-Nya, yaitu melalui penebusan-Nya di atas kayu salib. Kematian Yesus telah menghapus dosa-dosa jemaat Kolose sehingga tidak diperlukan lagi sunat jasmaniah. Sunat rohani yang dilakukan oleh Yesus lebih tinggi dari sunat jasmani yang dilakukan oleh para imam Yahudi.

Dalam ayat 12 Paulus masih meneruskan alasan orang-orang Kristen bukan Yahudi tidak perlu melakukan sunat

17

J. Sidlow Baxter, Op.Cit, hal. 139-140

(9)

jasmani,yaitu karena mereka telah menerima baptisan. Mengenai hal ini Barclay menyatakan :

“Baptisan dalam masa Paulus mengandung tiga hal. Baptisan dewasa yang merupakan baptisan melalui pengajaran dan dilakukan secara

menyelamkan seluruhnya.perlambangan baptisan ini amat jelas. Sebagaimana air membenamkan seseorang hingga ke kepalanya, demikianlah seolah-olah orang itu telah mati; iakeluar dari dalam air, demikianlah seolah-olah ia bangkit dan memasuki hidup yang baru. Dirinya telah mati dan hilang untuk selamanya, ia mejadi manusia baru yang bangkit dan memasuki kehidupan yang baru.19

Baptisan hanya akan bermakna bagi yang melakukannya jika didasari oleh iman, hal ini diungkapkan Paulus dalam bagian selanjutnya dari ayat 12, “ oleh kepercayaanmu kepada kerja kuasa Allah.” Jemaat Kolose akan benar-benar mengalami “mati bersama Kristus, bangkit bersama Dia dan hidup bersama Dia” jika mereka percaya pada kerja kuasa Allah. Paulus menekankan bahwa persitiwa baptisan adalah peristiwa spiritual atau rohani, bukan jasmani.

Ayat 13 masih merupakan lanjutan dari ayat sebelumnya. "Kamu juga, meskipun dahulu mati" masih ditujukan kepada orang-orang Kristen bukan Yahudi. Hal ini diperjelas dalam frase selanjutnya “oleh karena pelanggaranmu dan oleh karena tidak disunat secara lahiriah.” Ini adalah ungkapan yang sering digunakan oleh orang-orang Yahudi kepada orang-orang bukan Yahudi. Orang-orang bukan Yahudi adalah orang-orang yang terbiasa hidup dalam berbagai pelanggaran, sehingga dianggap sebagai orang yang paling berdosa dan juga mereka tidak mengenal sunat. Sehingga yang dimaksudkan Paulus adalah bahwa orang-orang bukan Yahudi dulu, sebelum menerima Yesus,telah mati karena dosa-dosanya.

19

(10)

Bagian selanjutnya dari ayat ini berbunyi “ telah dihidupkan Allah bersama-sama dengan Dia, sesudah Ia mengampuni segala pelanggaran kita.” Seperti dalam ayat sebelumnya bahwa kerja kuasa Allah yang membangkitkanYesus dari kematian, kuasa yang sama jugalah yang menghidupkan orang yang percaya kepada-Nya. Saat seseorang menerima Yesus,ia percaya bahwa Yesus telah mati bagi dosa-dosanya. Kepercayaan itu menjadi dasar bagi orang percaya untuk menerima pengampunan dosa atas segala pelanggaran yang diperbuatnya.

Cara Allah mengampuni dosa-dosa orang percaya, dalam hal ini orang-orang bukan Yahudi, adalah “dengan menghapus surat hutang”. Surat hutang merupakan laporan keuangan yang pada zaman dulu sering disimpan dalam perkamen dan dapat dihapus.20

Dalam hal ini dosa dilambangkan sebagai hutang. Berdasarkan hukum,hutang itu harus dibayar, jika tidak sanggup dibayar maka ada hukuman yang siap menanti. Yang menjadi “ketentuan-ketentuan hukum yang mendakwa dan mengancam kita” adalah hukum-hukum Taurat yang dipegang erat oleh orang Yahudi. Semuanya itu telah dipakukan Yesus di atas kayu salib.

Mengenai bagian ini Wiersbe mengatakan bahwa hukum Taurat mengancam manusia karena tidak mungkin seorang manusia dapat melaksanakan tuntutan-tuntutan kudus hukum Taurat secara sempurna. Sehingga di kayu salib Yesus bukan hanya memikul dosa manusia (1Pet.2:24), Ia juga memikul hukum Taurat dan memakukannya di sana,meniadakannya untuk selama-lamanya. 21

Ayat 15 kembali menekankan tentang kedudukanYesus yang tertinggi seperti dalam ayat 10. Yesus bukan saja menang atas dosa di kayu salib tapi Ia juga menang terhadap kuasa si jahat,I “Ia melucuti mereka”. Kata yang dipakai di sini adalah kata untuk melucuti senjata dan perlengkapan perang dari musuh yang

20 Warren W. Wiersbe, Op.Cit, hal. 72-73 21Ibid, hal.72

(11)

telah kalah. Sekali dan untuk selamanya Yesus telah mematahkan kuasa mereka. Ia membuat merekamalu dan menjadikanmereka tawanan di dalam kemenangan-Nya.22

Mengenai ayat 15, Wiersbe menyatakan bahwa Yesus memiliki tiga kemenangan di atas kayu salib. Pertama, “melucuti pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa”. Melucuti seluruh perlengkapan senjata yang dimiliki Iblis dan tentaranya. Kedua, Yesus “menjadikan mereka tontonan umum”. Kematian, kebangkitan dan Kenaikan Yesus menelanjangi dusta dan kebohongan si Iblis, kebenaran Allahyang dinyatakan. Ketiga, terdapat dalam kata “kemenangan-Nya”. Yesus mendapatkan kemenangan penuh atas Iblis. Kemenangan besar seperti ini pada masa Romawi biasanya dirayakan dengan melakukan parade yang disebut “kemenangan Romawi”. Inilah gambaran yang dipakai Paulus, melalui parade kemenangan-Nya, musuh-musuhnya dipermalukan dan Yesus mendapat penghormatan dan kemuliaan.23

C. Kesimpulan dan Refleksi Teologis 1. Kesimpulan

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa dalam perikop ini Paulus sedang berbicara tentang bagaimana cara menangkal ajaran sesat dengan menerangkan kepenuhan orang percaya di dalam Kristus.

Ayat 6-7, Paulus menasehati jemaat di Kolose agar tidak melupakan ajaran yang telah mereka terima dari Epafras tentang Injil Kristus, tapi mereka harus berakar dan dibangun di dalam Dia,agar tidak mudah terpengaruh dengan ajaran sesat yang berkembang di sana.

Ayat 8-15 merupakan peringatan Paulus agar wasapada terhadap ajaran-ajaran sesat tersebut, serta ajaran Paulus untuk melawan ajaran sesat yang berkembang di Kolose.

22

William Barclay, Op.Cit, hal. 217

(12)

Dalam bagian ini,Paulus juga mengajarkan bahwa orang percaya tidak memerlukan ajaran dan pribadi yang lain untuk menyempurnakan iman mereka,karena :

a) Kristus adalah kepenuhan Allah sendiri.

b) Kristus telah menang atas dosa dan tuntutan hukum Taurat.

c) Kristus telah menang atas Iblis. 2. Refleksi Teologis

Sama seperti yang terjadi di Kolose, dewasa ini mulai berkembang ajaran-ajaran yang mulai melenceng dari kebenaran firman Allah yang dapat menawan pikiran-pikiran orang Kristen untuk terikat pada ajaran-ajaran tersebut dan meninggalkan iman yang benar kepada Yesus Kristus.oleh karena itu, melalui tulisan ini penulis mengharapkan agar setiap pembaca :

a) Mendasarkan iman kita kepada kebenaran firman Allah yang sejati, bukan pada ajaran-ajaran manusia ataupun tradisi-tradisi.

b) Terus berakar dan dibangun dalam iman yang kuat kepada Kristus, serta hidup di dalam Dia karena inilah cara terampuh dalam menghadapi berbagai ajaran sesat.

c) Memahami bahwa Kristus lebih dari cukup bagi kita, sehingga menyadari bahwa hanya Kristus satu-satunya Pribadi yang kita percayai dan butuhkan dalam kehidupan ini. Tidak ada sesuatu apapun atau seorangpun yang dapat menjamin keselamatan hidup kita serta menjamin kehidupan kita selama ada di dunia. Selain Kristus,tidak ada apapun yang dapat mempengaruhi jalan hidup kita.

d) Memahami bahwa kepenuhan Kristus yang tersedia bagi kita memampukan kita untuk dapat meraih kemenangan bersama-sama dengan Yesus atas dosa dan Iblis.

Referensi

Dokumen terkait

[r]

Fitri Hartanto,Hen driani Selina 3 Tahun: 2009 ( Paediatrica Indonesiana, vol.51,no.4 (suppl),Juli 2011) Siswa SMP di Kota Semarang Prevalensi Masalah Mental Emosional

Dari penelitian yang berjudul Penerapan Metode SMART Dalam Sistem Pendukung Keputusan Pemberian Kredit Usaha Rakyat Pada Bank SUMUT, adapun peneliti memberikan

Tingkat pendapatan rumahtangga (household income) merupakan indikator yang tidak bisa diandalkan untuk mengukur tinggi atau rendahnya kesejahteraan seseorang karena

Item-item pertanyaan Program Aplikasi Penggajian sebanyak 18 pertanyaan dan pengumpulan data dari 25 responden sehingga dapat diperoleh hasil analisis setiap item tersebut

Glaukoma dpt berkembang dari subakut atau dari glaukoma sudut tertutup primer yang tdk diobati, pengobatan tdk adekuat atau setelah iridektomi perifer / trabekulektomi

Namun sistem proporsional dengan daftar terbuka adalah lebih baik karena memberikan kewenangan yang lebih besar bagi para pemilih untuk menentukan sendiri para caleg yang akan

2) Konflik emosional yang dialami individu dan tidak terselesaikan dengan baik. Konflik antara id dan superego atau antara keinginan dan kenyataan dapat menimbulkan kecemasan