• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Memasuki Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), Indonesia sibuk melakukan perbaikan dari berbagai aspek dimulai dari infrastruktur sampai usaha kecil menengah. Lebih dari satu dekade, para pemimpin Asean sepakat membentuk pasar tunggal di kawasan Asia Tenggara pada akhir 2015. Dengan ini, perdagangan di Asia Tenggara dapat dengan mudah berjalan tanpa adanya syarat-syarat dan pungutan biaya yang sering kali menyulitkan. Hozelitz mengungkapkan bahwa tokoh pendiri industri pertama di Inggris, Perancis dan Jerman adalah orang-orang dengan ketrampilan mekanik dibanding orang-orang dengan ketrampilan pedagang. Tidak banyak dari mereka berangkat dari keluarga kelas menengah. Sebagian besar dari mereka justru berasal dari kelas rendah yang tidak punya apa-apa. Jhingan (2012 : 428)

Pengusaha atau entrepreneur di Indonesia rata-rata merupakan kelompok necessity entrepreneur. Artinya, minat kelompok ini untuk membangun usaha muncul karena faktor ekonomi keluarga. Kondisi ekonomi keluarga yang tidak stabil mengakibatkan usaha mereka bersifat individu dan kurang dalam menyerap tenaga kerja. Kelompok ini juga cenderung asal-asalan dalam melakukan manajemen usaha. Padahal sebenarnya banyak necessity entrepreneur yang memiliki kemampuan yang cukup untuk mengembangkan usaha lebih baik lagi. Pujoalwanto (2014 : 245 - 246)

Seorang ekonom mengatakan bahwa kekurangan wirausaha di Asia, termasuk di Indonesia terjadi bukan karena kekurangan modal atau sumber daya alam tetapi karena kekurangan orang-orang dengan pribadi yang memiliki sikap dan pandangan yang tepat.

Sistem bisnis di Indonesia menggunakan sistem ekonomi yang berbasis kekeluargaan. Bisa dilihat bahwa awalnya Indonesia sangat melihat kesejahteraan pelaku bisnis dalam negeri, terutama adalah wirausahawan. Sistem bisnisnya menggunakan cara perekonomian terencana memberikan hak kepada pemerintah untuk mengatur faktor – faktor dan lokasi hasil

(2)

produksi. Konsep bisnis di Indonesia cenderung kepada bagaimana menyejahterakan rakyat .

Sistem bisnis di luar negeri menghendaki adanya proses, yaitu sesuatu yang terjadi dengan cara tertentu dan memperoleh hasil yang di harapkan, sedikit dan lambat asal tetap maju. Bagi mereka lebih baik memberikan perhatian penuh pada satu jenis bisnis dan setelah berhasil baru mencoba bisnis yang lainnya. Sistem di luar negeri mempercayai hubungan baik dengan pelanggan sangat penting untuk menciptakan usaha yang maju. Pelanggan lama selalu diberikan kebebasan dan pelayanan yang istimewa , sedangkan pelanggan baru diberi potongan harga dan kemudahan kredit. Pelanggan puas bisnis pun semakin maju .

Keberadaan wirausaha mampu menyediakan lapangan kerja dan menyerap tenaga kerja. Dengan kata lain angka pengangguran dapat diminimalisasi. Semakin meningkatnya tingkat pengangguran di Indonesia membuat melambatnya roda perputaran ekonomi di negara ini. Pengangguran dari tiap tingkatan pendidikan juga semakin meningkat presentasenya. Di Indonesia, pengangguran tidak hanya tidak tertangani secara efektif, namun para pekerja juga berkekurangan. Hal ini berarti pendapatan yang mereka terima tidak cukup untuk hidup seperti layaknya seseorang hidup. Tantangan yang di hadapi negara terhadap pengangguran yaitu melambatnya tingkat pertumbuhan lapangan pekerjaan.

Untuk mengatasi hal tersebut, membentuk budaya kewirausahaan dalam lingkungan masyarakat sangatlah penting. Budaya kewirausahaan sendiri biasanya tumbuh secara alami dalam suatu keluarga atau kelompok masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa budaya kewirausahaan terbentuk karena keterbiasaan, lingkungan dan faktor dari diri pribadi yang melekat sejak mereka kecil ataupun saat mereka tumbuh besar nantinya sehingga mereka memiliki minat yang lebih.

Mengutip data survei tenaga kerja nasional tahun 2009 yang dikeluarkan oleh Badan Perencanaan Nasional (Bappenas), data tersebut mengungkapkan, dari 21,2 juta masyarakat Indonesia yang masuk dalam angkatan kerja, sebanyak 4,1 juta orang atau sekitar 22,2% adalah pengangguran. Lebih mengkhawatirkan lagi, tingkat pengangguran terbuka itu sebagian besar didominasi oleh lulusan diploma dan universitas dengan

(3)

kisaran angka di atas 2 juta orang. Merekalah yang kerap disebut dengan pengangguran akademik.

Tabel 1.1 Jumlah angkatan kerja, penduduk bekerja dan pengangguran tahun 2005-2013

Tahun Angkatan Kerja (Juta orang) Bekerja (juta orang) Pengangguran (Juta orang) 2005 105,86 93,96 11,90 2006 106,39 95,46 10,93 2007 109,94 99,93 10,01 2008 111,48 102,05 9,43 2009 113,83 104,87 8,96 2010 116,53 108,21 8,32 2011 117,37 109,67 7,70 2012 118,05 110,81 7,24 2013 118,19 110,80 7,39 Sumber : Sakernas, BPS

Dari data di atas menunjukkan bahwa sejak tahun 2005 hingga 2013 tingkat pengangguran semakin menurun. Salah satu penyebabnya adalah karena belakangan ini banyak wirausahawan mulai bermunculan. Dapat dilihat bahwa semakin banyaknya wirausaha maka semakin rendahnya tingkat pengangguran. Oleh karena itu, budaya Indonesia masih memiliki pandangan yang sangat kolonial bahwa status pekerjaan atau menjadi karyawan lebih terhormat daripada menjadi entrepreneur. Selain itu, orang sering menganggap bahwa gelar universitas jauh lebih baik dan lebih penting daripada kemampuan atau keterampilan seseorang. Bahkan, keterampilan yang sangat diperlukan untuk mendukung kehidupan seseorang secara ekonomi, bukannya mencari gelar universitas lalu kemudian mencari keterampilan atau kemampuan. Ini adalah salah satu fakta yang dihadapi bahwa kebanyakan dari mereka yang memiliki gelar sarjana tapi pengangguran.

(4)

Di Indonesia, jumlah pengangguran sarjana semakin tinggi karena kebanyakan dari mereka hanya mengandalkan lowongan pekerjaan, bukannya menjadi pencipta kerja. Tidak ada motivasi dari berbagai lingkungan seperti keluarga, teman, lembaga pendidikan, dll untuk membangun siswa yang kuat mental dengan kesadaran bisnis untuk menangani masalah kewirausahaan. Namun, ketika seseorang tertarik merintis bisnis baru, mereka sangat membutuhkan suatu dukungan.

Dukungan kewirausahaan biasanya berasal dari keluarga, pasangan, teman sebaya, dan lembaga pendidikan di mana mereka dapat mendiskusikan ide menjadi seorang pengusaha dan masalah kewirausahaan dan mendapatkan saran yang terbaik. Maka dari itu, sarjana - sarjana lulusan dari Universitas pun sebagai angkatan kerja baru harus bersaing dengan sangat ketat dalam mencari pekerjaan. Di sisi lain, sarjana – sarjana sebagai angkatan kerja baru dihadapkan pada sebuah dilema, bahwa banyak dari mereka belum mempunyai atau mendapatkan pengetahuan dan pengalaman yang cukup mengenai dunia kerja. Hal ini mengakibatkan daya saing yang lebih rendah sehingga mengakibatkan semakin sulit untuk mendapatkan pekerjaan yang baik.

Tantangan terbesar yang dihadapi mahasiswa saat ini dan ke depan adalah menghadapi persaingan di dunia kerja yang semakin tinggi. Dalam situasi yang seperti ini, para mahasiswa harus lebih kreatif dan merubah pendekatan dari menjadi sarjana yang mencari pekerjaan menjadi pembuat lapangan kerja sendiri (entrepreneur). Dalam hal ini, lingkungan keluarga mempunyai peran penting dalam mengembangkan minat berwirausaha anak-anaknya. Keinginan untuk ikut berpartisipasi dalam menurunkan tingkat pengangguran juga dapat ditanamkan mulai dari lingkungan keluarga dan bahkan mampu membuat lapangan pekerjaan bagi orang lain.

Banyak orang juga takut mengambil resiko jika mereka berwirausaha. Hal itu disebabkan karena kurangnya pengetahuan mereka dalam berwirausaha. Dalam setiap usaha yang kita lakukan resiko itu selalu ada. Jika usaha kita besar maka besarlah pula resikonya, dan jika usaha kita kecil maka kecillah resikonya. Setiap orang memandang resiko dengan cara yang berbeda karena pengetahuan tentang bisnis juga berbeda. Secara teori, pengetahuan berwirausaha itu sangatlah penting. Namun, jika kita memahami teori saja tapi tidak mempraktekan maka teori yang kita pelajari pun menjadi sia sia. Memiliki pengetahuan yang cukup dalam berwirausaha membuat kita dapat menghadapi resiko.

(5)

Peran kewirausahaan tidak hanya sebatas sebagai pembangun perekonomian bangsa. Tetapi juga sebagai pengerak, pengendali dan pemakai perekonomian suatu bangsa. Kewirausahaan juga berperan dalam mengurangi jumlah pengangguran di suatu negara. Bukan hanya itu saja, peran kewirausahaaan juga berpotensi mengurangi permasalahan sosial yang banyak terjadi seperti premanisme, narkoba, pergaulan bebas, dan lain sebagainya.

Salah satu manfaat dari kewirausahaan adalah dapat menambah daya tampung tenaga kerja sehingga dapat mengurangi pengangguran. Oleh karena itu, menjadi wirausahawan termasuk hal yang terpuji karena berpengaruh terhadap pembangunan bangsa yang sangat besar sekali, namun masih banyak juga orang yang kurang berminat untuk menekuni profesi tersebut. Penyebab dari kurangnya minat tersebut karena pandangan negatif dalam masyarakat terhadap profesi wirausaha bahwa kegiatan wirausaha banyak bergerak dibidang bisnis dan perdagangan.

Sikap (attitude) dan cara pandang seseorang sebagai hasil interaksi budaya masyarakat merupakan faktor utama yang menghambat perkembangan seseorang. Dalam berwirausaha sikap juga menjadi hal yang penting. Sikap yang harus dimiliki oleh seorang wirausaha salah satunya adalah sikap optimis. Banyak orang ketika setelah mereka terjun ke dunia bisnis atau wirausaha mereka pesimis terhadap usaha mereka. Sikap pesimis muncul ketika resiko dari usaha tersebut muncul lalu tidak tahu harus berbuat apa lagi. Banyak wirausahawan jatuh atau menutup usahanya karena sikap tersebut.

Seorang wirausahawan (entrepreneur) harus mempunyai mental yang kuat seperti baja. Dengan begitu, resiko apapun yang akan terjadi dalam usahanya bisa dihadapi dengan kepala dingin dan sikap yang optimis. Percaya diri merupakan salah satu variabel yang akan dibahas dalam penelitian ini. Kepercayaan diri sangat berpengaruh dalam menjalankan suatu usaha, tidak hanya itu, dalam kehidupan sehari hari sikap percaya diri sangat dibutuhkan.

Tabel 1.2 Perkembangan Data Usaha Mikro, Kecil, Menengah (UMKM)

Indikator Satuan

2012 2013

Perkembangan Tahun 2012-2013

Jumlah (%) Jumlah (%) Jumlah (%)

Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah • Usaha Mikro (UM)

(6)

• Usaha Kecil (UK) • Usaha Menengah (UM)

Unit Unit Unit 55.856.176 629.418 48.997 98,79 1,11 0,09 57.189.393 654.222 52.105 98,77 1,13 0,09 1.333.217 24.803 3.110 2,39 3,94 6,35 Sumber : http://www.depkop.go.id/

Dari data di atas dapat dilihat bahwa jumlah usaha mikro setiap tahunnya semakin meningkat. Namun meningkatnya usaha mikro masih belum terlalu signifikan dalam menurunkan tingkat pengangguran di Indonesia. Oleh sebab itu, usaha mikro sangat dibutuhkan di Indonesia untuk mengurangi tingkat pengangguran yang semakin meningkat.

Dalam penelitian ini penulis ingin mengetahui penyebab kurangnya minat berwirausaha anak muda khusus di daerah Tangerang Selatan.

1.2 Ruang Lingkup

Penulis melakukan penelitian pada anak muda pria maupun wanita diusia 19 – 25 tahun yang tidak pernah atau tidak sedang menjalankan bisnis atau usaha apapun. Penulis melakukan penelitian di beberapa pusat keramaian yang sering dikunjungi anak muda di area Tangerang Selatan yaitu Summarecon Mall Serpong, Mall Alam Sutera, dan ITC BSD.

1.3 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian diatas maka rumusan masalah penelitian ini adalah 1. Apakah sikap percaya diri mempengaruhi minat berwirausaha anak muda di

Tangerang Selatan?

2. Apakah pendidikan mempengaruhi minat berwirausaha anak muda di Tangerang Selatan?

3. Apakah lingkungan keluarga mempengaruhi minat berwirausaha anak muda di Tangerang Selatan?

4. Apakah sikap percaya diri dan pendidikan mempengaruhi minat berwirausaha anak muda di Tangerang Selatan?

5. Apakah sikap percaya diri dan lingkungan keluarga mempengaruhi minat berwirausaha anak muda di Tangerang Selatan?

(7)

6. Apakah pendidikan dan lingkungan keluarga mempengaruhi minat berwirausaha anak muda di Tangerang Selatan?

7. Apakah sikap percaya diri, pendidikan, dan lingkungan keluarga mempengaruhi minat berwirausaha anak muda di Tangerang Selatan?

1.4 Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui pengaruh sikap percaya diri terhadap minat berwirausaha anak muda di Tangerang Selatan

2. Untuk mengetahui pengaruh pendidikan terhadap minat berwirausaha anak muda di Tangerang Selatan

3. Untuk mengetahui pengaruh lingkungan keluarga terhadap minat berwirausaha anak muda di Tangerang Selatan

4. Untuk mengetahui pengaruh sikap percaya diri dan pendidikan terhadap minat berwirausaha anak muda di Tangerang Selatan

5. Untuk mengetahui pengaruh sikap percaya diri dan lingkungan keluarga terhadap minat berwirausaha anak muda di Tangerang Selatan

6. Untuk mengetahui pendidikan dan lingkungan keluarga terhadap minat berwirausaha anak muda di Tangerang Selatan.

7. Untuk mengetahui pengaruh sikap percaya diri, pendidikan, dan lingkungan keluarga terhadap minat berwirausaha anak muda di Tangerang Selatan.

1.5 Manfaat Penelitian

a. Bagi Peneliti

Manfaat penelitian ini bagi peneliti yaitu untuk menambah wawasan serta mengetahui latar belakang kurangnya minat anak muda di Tangerang Selatan untuk berwirausaha.

b. Bagi Mahasiswa

Dapat meningkatkan serta memotivasi mahasiswa untuk membangun bisnis sendiri. Dimana hal tersebut mampu meningkatkan perekonomian negara dan dirinya sendiri serta menyediakan wadah untuk orang lain dapat bekerja.

(8)

Dapat memotivasi universitas untuk mengadakan mata kuliah yang khusus mempelajari kewirausahaan dan memfasilitasi dengan kegiatan kewirausahaan. Jika universitas telah memiliki pembelajaran mengenai kewirausahaan dapat ditingkatkan lagi kualitas pembelajaran supaya dapat menciptakan mahasiswa yang siap dari segi pengetahuan setelah lulus nanti.

1.6 State of the Art

Tabel 1.3 State of the Art

Jurnal Metode Hasil Adaptasi Nama Jurnal :

Asian Social Science Judul :

Social Support System toward Entrepreneurial Desire Penulis : Sahban, M Amsal; Kumar, Dileep M; Ramalu, Subramaniam Sri Tahun : 2010

kualitatif Lingkungan sosial dibagi menjadi 2 faktor yaitu dukungan dari lingkungan keluarga dan dukungan dari lingkungan teman sebaya. Faktor ini menjadi pemisah supaya peneliti dapat mengidentifikasi faktor-faktor tersebut. Untuk mendapatkan data yang signifikan maka diperlukan penelitian dengan menggunakan metode kuantitatif. Lingkungan keluarga merupakan faktor pendukung paling penting dalam perkembangan seseorang.

Nama Jurnal : Gallup Judul :

Why High Confidence is Crucial for Entrepreneurs

kualitatif Ketika mengambilan keputusan dalam berbisnis kita memerlukan keyakinan yang tinggi terhadap keputusan itu. Kepercayaan diri yang terlalu besar terhadap

Kepercayaan diri merupakan sikap terpenting yang harus dimiliki oleh wirausahawan.

(9)

Author : Sangeeta Bharadwaj Badal, Ph.D Tahun : 2014 keyakinan kita mengambil suatu keputusan dalam berbisnis pun tidak terlalu bagus karena kita bisa melewatkan beberapa pertimbangan yang seharusnya kita pikirkan. Nama Jurnal : Elsevier Judul : The Impact of Educational Levels on Formal and Informal Entrepreneurship Author : Alfredo Jimenez Tahun : 2015

Kualitatif Penelitian ini menganalisa peran pendidikan terhadap tingkat kewirausahaan. Hasilnya hipotesis yang diajukan disetujui dan kedua pendidikan baik sekunder dan tersier memiliki efek yang berbeda, berdasarkan apakah penelitian kewirausahaan bersifat formal dan informal

Kewirausahaan formal terkait dengan pendidikan sekunder dan tersier sedangkan pendidikan tersier hanya berdampak

buruk pada kewirausahaan bersifat informal. Nama Jurnal : Jurnal Manajemen Judul : Faktor-faktor Penentu Minat Mahasiswa Manajemen Untuk Berwirausaha Penulis : Rano Aditia Putra Tahun :

2012

kuantitatif Penelitian ini menganalisa faktor-faktor apa saja yang menentukan minat mahasiswa manajemen untuk berwirausaha Faktor-faktor yang menentukan minat mahasiswa manajemen untuk berwirausaha ada 6 faktor, yaitu faktor lingkungan, faktor harga diri, faktor peluang, faktor kepribadian, faktor visi, faktor pendapatan dan percaya diri.

(10)

Nama Jurnal : Jurnal Pendidikan Vokasi Judul : Pengaruh Kepribadian Wirausaha, Pengetahuan ewirausahaan, dan Lingkungan Terhadap Minat Berwirausaha Siswa SMK Penulis : Eka Aprilianty Tahun : 2012

kuantitatif Potensi kepribadian wirausaha, pengetahuan kewirausahaan, dan lingkungan keluarga secara bersama-sama berpengaruh positif dan signifikan terhadap minat berwirausaha siswa SMK.

Penanaman nilai-nilai potensi kepribadian ditingkatkan dengan cara mengintergrasikan nilai-nilai percaya diri, kreativitas, keberanian mengambil resiko, berorientasi pada hasil, kepemimpinan, dan kerja keras.

(11)

Gambar

Tabel 1.1 Jumlah angkatan kerja, penduduk bekerja dan pengangguran   tahun 2005-2013
Tabel 1.2 Perkembangan Data Usaha Mikro, Kecil, Menengah (UMKM)
Tabel 1.3 State of the Art

Referensi

Dokumen terkait

Logo merupakan lambang yang dapat memasuki alam pikiran/suatu penerapan image yang secara tepat dipikiran pembaca ketika nama produk tersebut disebutkan (dibaca),

Seperti halnya dengan pengetahuan komunikasi terapeutik perawat, kemampuan perawat yang sebagian besar pada kategori cukup baik tersebut kemungkinan karena adanya

Penelitian yang dilakukan di TK AndiniSukarame Bandar Lampung betujuan meningkatkan kemampuan anak dalam mengenal konsep bilangan melalui media gambar pada usia

Ketersediaan informasi lokasi rumah sakit, fasilitas dan layanan yang tersedia di rumah sakit dan tempat kejadian dapat tersedia secara jelas dan terkini sehingga penentuan

Alhamdulillahirobbil’alamin segala puji syukur dan sembah sujud, penyusun panjatkan kehadirat Allah SWT, atas rahmat, hidayah, dan kasih sayang-Nya sehingga penyusun

H1: (1) Terdapat perbedaan produktivitas kerja antara karyawan yang diberi insentif dengan karyawan yang tidak diberi insentif (2) Terdapat perbedaan

7.4.4 Kepala LPPM menentukan tindakan perbaikan yang harus dilakukan pada periode Pelaporan Hasil Pengabdian kepada masyarakat berikutnya.. Bidang Pengabdian kepada masyarakat

Ketika orang-orang dari budaya yang berbeda mencoba untuk berkomunikasi, upaya terbaik mereka dapat digagalkan oleh kesalahpahaman dan konflik bahkan