• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tidak Menghadiri Kebatilan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Tidak Menghadiri Kebatilan"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu (atau menghadiri kebatilan), dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya (TQS al-Furqan [25]):

72

Ayat ini masih menambahkan sifat ‘ibâd al-Rahmân. Sebagaimana digambarkan ayat-ayat sebelumnya, sifat yang dimiliki para hamba tersebut adalah sifat yang terpuji. Kali ini, sifat yang digambarkan adalah ketegasan mereka dalam perkara yang terlarang. Mereka bukan saja tidak menegerjakan, namun mereka menjauhinya dan sama sekali tidak mau terlibat.

Tidak Menghadiri Kebatilan

Allah SWT berfirman: Wa al-ladzîna lâ yasyhadûna al-zûr. Kata al-ladzîna (orang-orang) dalam ayat ini menunjuk kepada

‘ibâd al-Ra hmân.

Sehingga, sebagaimana dikatakan Abu Hayyan al-Andalusi, ayat ini kembali menceritakan tentang sifat-sifat hamba tersebut.

(2)

Dijelaskan al-Syaukani, perngertian al-zûr adalah al-kadzib wa al-bâthil (kedustaan dan kebatilan). Al-Qurthubi mendefinisikannya sebagai

kullu bâthil zuwwira wa zukhrifa

(semua kebatilan yang dipalsukan). Diterangkan Ibnu Jarir al-Thabari, makna asal al-zûr

adalah menampakkan kebaikan sesuatu dan menggambarkannya secara bertentangan dengan sifat sebenarnya, sehingga membuat orang yang mendengar dan melihatnya memiliki

gambaran yang berbeda dengan faktanya. Kemusyrikan termasuk di dalamnya. Sebab, dia ditampakkan baik kepada penganutnya, hingga disangka sebagai kebenaran, padahal itu sesuatu yang batil.

Sedangkan kata yasyhadûna dalam ayat ini, terdapat perbedaan para ulama dalam

memahaminya. Pertama, bermakna syahâdah (kesaksian).

Ketika kata tersebut disandingkan dengan kata al-zûr,

maka yang dimaksudkan dengannya adalah syahâdah al-zûr

(kesaksian palsu). Dengan demikian, salah satu sifat

‘ibâd al-Ra hmân

adalah tidak memberikan kesaksian palsu. Di antara yang berpendapat demikian adalah Abu Hayyan al-Andalusi. Menurutnya, ini juga pendapat Ali ra dan al-Baqir.

Memberikan kesaksian palsu memang merupakan suatu perbuatan yang terlarang. Bahkan, dalam hadits Nabi SAW perbuatan tersebut dikategorikan min al-kabâir (termasuk dosa besar).

Rasululllah SAW bersabda:

Maukah aku beritahukan kepadamu sebesar-besar dosa yang paling besar?

Beliau kemudian bersabda:

qawl al-zûr

(perkataan dusta, palsu)

–atau beliau bersabda- syahâdah al-zûr

(kesaksian palsu). Syu’bah dan banyak lainnya menduga bahwa yang beliau katakan adalah syahâdah al-zûr

(kesaksian palsu).

(HR al-Bukhari dan Muslim).

Meskipun demikian, penafsiran ini tidak banyak dipilih. Pasalnya, dari susunan kalimatnya, yang disebutkan ayat ini adalah: lâ yasyhadûna al-zûr. Makna memberika

(3)

kesaksian palsu apabila susunannya:

lâ yasyhadûna bi al-zûr.

Di samping itu, jika dikaitkan dengan kalimat sesudahnya kurang relevan.

Kedua, bermakna al-syuhûd wa al-hudhûr (datang dan menghadiri). Sehingga ayat ini menggambarkan sifat mereka sebagai orang-orang yang tidak mau datang dan menghadiri al-zûr.

Menurut al-Syaukani, pendapat ini dipilih oleh jumhur.

Menurut Abu ‘Aliyah, Thawus, Ibnu Sirrin, al-Dhahhak, al-Rabi’ bin Anas, dan lain-lain –-sebagaimana dikutip Ibnu Katsir— yang dimaksud dengan al-zûr di sini adalah hari raya kaum musyrik. Penafsiran ini sejalan dengan penjelasan al-Zujjaj. Sebagaimana dikutip al-Syaukani, al-Zujjaj mengatakan bahwa secara bahasa bermakna

al-kadzib

(kedustaan). Tidak ada kedustaan yang melebihi syirk

(menyekutukan Allah). Ditegaskan juga oleh al-Wahidi bahwa menurut sebagian besar para mufassir, pengertian

al-zûr

di sini adalah syirk

(menyekutukan Allah).

Menurut Amru bin Qais, al-zûr dalam ayat ini berarti majelis-majelis yang buruk dan perkataan yang kotor. Al-Zuhri menafsirkannya sebagai minum khamr. Mereka tidak menghadirinya dan mnembencinya. Menurutnya, ini seperti yang dinyatakan dalam sabda Nabi SAW:

Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, maka janganlah dia duduk di meja yang dihidangkan khamr

(HR al-Tirmidzi).

Semua penafsiran tersebut masih dapat diterima. Sebab, sebagaimana dituturkan al-Syaukani, tidak ada takhshîsh yang mengkhususkan jenis al-zûr tertentu pada ayat ini. Oleh karena itu, ayat ini memberikan pengertian bahwa mereka tidak menghadiri semua majelis yang di dalamnya terdapat perkara yang termasuk dalam cakupan kata

al-zûr

, apa pun keadaannya.

(4)

Mengenai terlarangnya tindakan menghadiri kebatilan, kedustaan, dan kemaksiatan,

Fakhruddin al-Razi memberikan penjelasan tentang alasannya. Menurutnya, barangsiapa yang bercampur baur dengan pelaku kejahatan, melihat perilaku mereka, dan hadir bersama mereka, maka mereka telah bersekutu dalam kemaksiatan tersebut. Sebab, hadir dan melihatnya

merupakan bukti keridhaan terhadapnya, bahkan menjadi penyebab adanya dan semakin meningkat. Pasalnya, yang membuat mereka mengerjakan perbuatan buruk itu adalah sikap yang memandang baik terhadap perbuatan buruk itu dan rasa suka dalam melihatnya.

Berpaling dari Kemaksiatan dan Melaluinya dengan Cepat

Allah SWT berfirman: Wa idzâ marrû bi al-laghwi marrû kirâm[an] (dan apabila mereka bertemu dengan [orang-orang] yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui [saja] dengan menjaga kehormatan dirinya).

Frasa: Wa idzâ marrû berarti apabila mereka melalui jalan yang sama dengan al-laghw. Sedan

gkan a

l-laghw berarti

kullu sâqith min qawl aw fi’l

(semua ucapan dan perbuatan rendah dan hina). Demikian penjelasan al-Syaukani. Menurut Fakhruddin al-Razi,

al-laghw

berarti semua yang wajib dihilangkan dan ditinggalkan. Al-Hasan, sebagaimana dikutip al-Qurthubi, menafsirkannya sebagai

al-ma’âshî kulluhâ

(kemaksiatan secara keseluruhan).

Tatkala itu terjadi, yakni mereka melewati jalan yang sama dengan tempat berlangsungnya kemaksiatan, maka: marrû kirâm[an] (mereka menjaga kehormatan diri mereka). Menurut al-Razi, pengertian  memuliakan diri mereka dari keadaan

al-laghw

tersebut adalah dengan berpaling, mengingkari, dan tidak memberikan bantuan dan dukungan.

(5)

Menurut al-Biqa’i, mereka tidak hanya berpaling. Pengertian: Marrû kirâm[an] juga berarti memerintahkan yang ma’ruf dan melarang yang munkar, apabila bisa masih memungkinan diubah. Atau berpaling darinya jika tidak mampu memperbaikinya. Mereka tidak datang dan diam. Sebab, menonton semua perkara yang tidak dibenarkan syara’ berarti bersekutu dengan pelakunya dalam dosa. Alasannya, tindakan untuk hadir dan menonton merupakan bukti

keridhaan terhadapnya dan membuat kemaksiatan itu  kian meningkat.

Pengertian ini kian mengukuhkan penafsiran: lâ yasyhadûna al-zûr dengan lâ yahdhurûnahu (ti dak menghadirinya). Dikatakan Ibnu Katsir, apabila mereka melewati

al-zûr

(kebatilan), maka mereka tidak melaluinya dengan menjaga kemuliaan. Namun, jika mereka melewati jalan yang sama, maka mereka melaluinya dengan sama sekali tidak bercampur aduk dengannya. Oleh karena itu dikatakan:

marrû kirâ

(mereka melaluiya) dengan menjaga kehormatan.

Mengenai keharusan berpaling dari majelis maksiat, juga ditegaskan dalam beberapa nash lainnya. Di antaranya adalah firman Allah SWT: Dan apabila mereka mendengar perkataan yang tidak bermanfaat, mereka berpaling daripadanya dan mereka berkata: "Bagi kami

amal-amal kami dan bagimu amal-amalmu, kesejahteraan atas dirimu, kami tidak ingin bergaul

dengan orang-orang jahil." (TQS al-Qashash

[28]: 55).

Demikianlah. Para hamba Dzat Yang Maha Penyayang itu bukan saja tidak menyekutukan Allah SWT namun juga tidak mau menghadiri semua kegiatan yang di dalamnya terdapat kegiatan tersebut, seperti perayaan hari raya kaum kafir. Mereka tidak hanya meninggalkan perbuatan maksiat, namun mereka juga menolak untuk datang dan menghadirinya. Tatkala mereka harus melewati majelis dan kegiatan maksiat, mereka berupaya untuk melakukan amar ma’ruf nahi munkar. Jika tidak bisa mengubahnya, mereka pun berpaling darinyadan segera berlalu dengan cepat. Mereka sama sekali tidak mau terlibat dalam kegiatan maksiat tersebut.

Inilah salah sifat yang dimiliki oleh ‘ibâd al-Rahmân. Semoga kita termasuk di dalamnya. Wal-L âh a’lam bi al-shawâb.

Ikhtsar:

(6)

1. 1. Sifat lain ‘ibâd al-Rahmân adalah tidak mau menghadiri majelis yang di dalamnya

terdapat kekufuran, kemusyrikan, dan kemaksiatan

2. 2. Apabila mereka terpaksa menempuh jalan yang di dalamnya ada kemaksiatan, mereka melakukan amar ma’ruf nahi munkar, berpaling darinya, dan segera berlalu darinya.

Referensi

Dokumen terkait

Kunjungan ANC men- jadi salah satu faktor risiko yang mening- katkan kejadian perdarahan pasca persalin- an karena apabila ibu melakukan pelayanan ANC secara teratur

Sebagai bagian dari anak bangsa, Lembaga kajian Pelopor Maritim (PORMAR) Indonesia, adalah sebuah lembaga kajian di bidang maritim yang beranggotakan para pakar, praktisi,

Disimpulkan bahwa alasan Penuntut Umum atas pengajuan kasasi yang terdapat pada putusan Mahkamah Agung Nomor 1041K/Pid/2014 menurut KUHAP telah sesuai karena hakim

Saat ini kerap terjadi pelanggaran privasi di media sosial berbasis ojek online, timbulnya pelanggaran privasi pada ojek online ini karena aplikasi

Adalah fasilitas yang digunakan untuk pengamanan baik yang berfungsi sebagai alat bantu personil pengamanan bandara dalam melaksanakan pemeriksaan calon penumpang pesawat

Sebagian besar anak yang menderita TB paru adalah anak yang memiliki status gizi yang tidak normal dan terdapat pengaruh yang signifikan antara status gizi

(Harjadi,1986) Analisa titrimetri atau analisa volumetric adalah analisis kuantitatif dengan mereaksikan suatu zat yang dianalisis dengan larutan baku (standar) yang telah

• Menetapkan budaya/kondisi baru yang terjadi akibat perubahan perangkat lunak menjadi kondisi permanen, Penyusunan SOP sesuai dengan program kerja yang direncanakan dan