• Tidak ada hasil yang ditemukan

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI

KANTOR PENGAWASAN DAN PELAYANAN BEA DAN CUKAI TIPE MADYA PABEAN A

Standar Operasional Prosedur

Penerbitan Surat Permintaan Pembayaran (SPP) Perjalanan Dinas Mekanisme Langsung Setelah Perjalanan Dinas

No. SOP:

20/TMPA/2017

Tanggal Penetapan 19 Juni 2017

Tanggal Revisi Revisi ke-

1. Deskripsi:

a. SOP ini menjelaskan tentang proses Penerbitan SPP SPD dengan mekanisme LS setelah perjalanan dinas dilaksanakan yang dimulai sejak Pelaksana SPD menyerahkan SPD, Surat Tugas, Surat Pernyataan beserta bukti pendukung sampai dengan penerusan berkas SPP SPD LS ke Pejabat Penandatangan SPM (PPSPM) oleh Staff pengelola keuangan.

b. Pejabat Pembuat Komitmen yang selanjutnya disingkat PPK adalah pejabat yang diberi kewenangan oleh Pengguna Anggaran/KPA untuk mengambil keputusan dan/atau tindakan yang dapat mengakibatkan pengeluaran atas beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara.

c. Surat Perjalanan Dinas yang selanjutnya disingkat SPD adalah dokumen yang diterbitkan oleh Pejabat Pembuat Komitmen dalam rangka pelaksanaan Perjalanan Dinas bagi Pejabat Negara, Pegawai Negeri, Pegawai Tidak Tetap, dan Pihak Lain.

d. Pembayaran Langsung yang selanjutnya disebut Pembayaran LS adalah pembayaran yang dilakukan langsung kepada Bendahara Pengeluaran/penerima hak lainnya atas dasar perjanjian kerja, surat keputusan, surat tugas atau surat perintah kerja lainnya melalui penerbitan Surat Perintah Membayar Langsung.

e. Surat Permintaan Pembayaran yang selanjutnya disingkat SPP adalah dokumen yang diterbitkan oleh Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), yang berisi permintaan pembayaran tagihan kepada negara.

f. Surat Permintaan Pembayaran Langsung yang selanjutnya disebut SPP-LS adalah dokumen yang diterbitkan oleh PPK dalam rangka pembayaran tagihan kepada penerima hak/ Bendahara Pengeluaran.

g. Perjalanan Dinas Dalam Negeri yang selanjutnya disebut Perjalanan Dinas adalah perjalanan ke luar tempat kedudukan yang dilakukan dalam wilayah Republik Indonesia untuk kepentingan negara.

h. Perjalanan Dinas Jabatan adalah Perjalanan Dinas melewati batas Kota dan/atau dalam Kota dari tempat kedudukan ke tempat yang dituju, melaksanakan tugas, dan kembali ke tempat kedudukan semula di dalam negeri. Perjalanan dinas dilakukan dalam rangka:

1) Pelaksanaan tugas dan fungsi yang melekat pada jabatan;

2) Mengikuti rapat, seminar, dan sejenisnya;

3) Pengumandahan (Detasering);

4) Menempuh ujian dinas/ujian jabatan;

5) Menghadap Majelis Penguji Kesehatan Pegawai Negeri atau menghadap seorang dokter penguji kesehatan yang ditunjuk, untuk mendapatkan surat keterangan dokter tentang kesehatannya guna kepentingan jabatan;

6) Memperoleh pengobatan berdasarkan surat keterangan dokter karena mendapat cedera pada waktu/karena melakukan tugas;

(2)

7) Mendapatkan pengobatan berdasarkan keputusan Majelis Penguji Kesehatan Pegawai Negeri;

8) Mengikuti pendidikan setara Diploma/S1/S2/S3;

9) Mengikuti pendidikan dan pelatihan;

10) Menjemput/mengantarkan ke tempat pemakaman jenazah Pejabat Negara/Pegawai Negeri yang meninggal dunia dalam melakukan Perjalanan Dinas; atau

11) Menjemput/mengantarkan ke tempat pemakaman jenazah Pejabat Negara/Pegawai Negeri yang meninggal dunia dari Tempat Kedudukan yang terakhir ke Kota tempat pemakaman.

i. Prinsip Perjalanan Dinas:

1) Selektif, yaitu hanya untuk kepentingan yang sangat tinggi dan prioritas yang berkaitan dengan penyelenggaraan pemerintahan;

2) Ketersediaan anggaran dan kesesuaian dengan pencapaian kinerja Kementerian Negara/Lembaga;

3) Efisiensi penggunaan belanja negara; dan

4) Akuntabilitas pemberian perintah pelaksanaan Perjalanan Dinas dan pembebanan biaya Perjalanan Dinas.

j. Biaya Perjalanan Dinas tersebut dibayarkan yang biayanya dibebankan pada anggaran yang tersedia dalam Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) satker dalam waktu tidak bersamaan.

k. Unit pelaksana SOP ini adalah Pejabat Pembuat Komitmen.

2. Dasar Hukum:

a. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 Tentang Keuangan Negara.

b. Undang- Undang Nomor 1 Tahun 2004 Tentang Perbendaharaan Negara.

c. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 113/PMK.05/2012 tentang Perjalanan Dinas Dalam Negeri Bagi Pejabat Negara, Pegawai Negeri, dan Pegawai Tidak Tetap.

d. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 190/PMK.05/2012 tentang Tata Cara Pembayaran Dalam Rangka Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara.

e. Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor PER-22/PB/2013 tentang Ketentuan Lebih Lanjut Pelaksanaan Perjalanan Dinas Dalam Negeri Bagi Pejabat Negara, Pegawai Negeri dan Pegawai Tidak Tetap.

f. Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor PER-11/BC/2016 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengumandahan (Datasering) Pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai

g. Surat Edaran Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor SE-13/BC/2015 tentang Petunjuk Pelaksanaan Perjalanan Dinas.

3. Ketertautan:

SOP ini memiliki ketertautan dengan SOP Pencairan Biaya Perjalanan Dinas Mekanisme Pembayaran Langsung (LS) Setelah Perjalanan Dinas.

4. Pihak-Pihak yang Terlibat:

a. Pelaksana SPD.

b. Pejabat Pembuat Komitmen.

c. Staf Pengelola Keuangan.

d. Pejabat Penangatangan SPM.

(3)

5. Persyaratan dan Perlengkapan:

a. Menyerahkan berkas SPD dan bukti pendukung setelah perjalanan dinas dilakukan.

 Kelengkapan berkas SPD Jabatan terdiri atas: Lembar SPD yang sudah ditandatangan dan/atau distempel di tempat kegiatan, Surat Tugas, Surat Pernyataan dan Surat Kuasa, dan dokumen lainnya yang diperlukan (Tiket dan Asli boarding pass, Asli Bill Hotel, Daftar Pengeluaran Riil, dll).

 Kelengkapan berkas SPD Kumandah terdiri atas: Lembar SPD yang sudah ditandatangan dan/atau distempel di tempat kegiatan, Surat tugas pengumandahan, absensi selama periode pengumandahan, Surat pernyataan dan surat kuasa, bukti lainnya yang diperlukan (Tiket dan Asli boarding pass, Asli Bill Hotel, Daftar Pengeluaran Riil, dll).

b. Selambat-lambatnya 5 (lima) hari kerja setelah perjalanan dinas berakhir, Pelaksana SPD Jabatan menyerahkan SPD dan kelengkapannya kepada PPK.

c. Dalam hal penyerahan berkas SPD melewati batas waktu penyerahan, maka Pelaksana SPD menyerahkan berkas SPD yang disertai dengan Surat Pernyataan yang berisi alasan yang wajar dan diketahui oleh atasan langsung.

6. Keluaran (Output):

a. Surat Permintaan Pembayaran (SPP) LS.

b. Daftar Nominatif.

c. Surat Pernyataan Tanggung Jawab Belanja (SPTB).

d. Kuitansi/Rincian Perhitungan Biaya Perjalanan Dinas.

7. Jangka Waktu Penyelesaian:

Jangka Waktu Penyelesaian SOP ini adalah paling lama 5 (Lima) hari kerja yang dimulai sejak berkas SPD diterima lengkap sampai dengan penyampaian berkas SPP (SPP SPD LS, Daftar Nominatif, Kuitansi/Rincian Perhitungan Biaya Perjalanan Dinas, Lembar SPD yang sudah ditandatangan dan/atau distempel di tempat kegiatan, Copy surat tugas atau surat keputusan pindah, Bukti-bukti pengeluaran transportasi dan penginapan, Daftar Pengeluaran Riil, Surat Pernyataan Kebenaran Dokumen, dan Surat Kuasa jika perlu) yang telah disetujui PPK kepada PPSPM.

8. Perhatian:

Dalam pelaksanaan SOP ini, harus memperhatikan:

a. Standar Biaya Masukan yang berlaku.

b. Validitas bukti-bukti pengeluaran yang diajukan oleh pelaksana SPD.

c. Realisasi pelaksanaan perjalanan dinas.

9. Matriks RASCI

Penerbitan Surat Permintaan Pembayaran (SPP) Perjalanan Dinas

Mekanisme Langsung Setelah Perjalanan Dinas

Pelaksana

SPD PPK

Staf Pengelola Keuangan

PPSPM

Penerimaan dan Penelitian Berkas

SPD S R

Penerbitan SPP R/A S

Distribusi SPP R I

(4)

10. Prosedur Kerja

a. Staf Pengelola Keuangan menerima dan meneliti Lembar SPD, Surat Tugas, Surat Pernyataan, dan bukti pendukung (Tiket transportasi dan Asli Boarding Pass, Bukti Asli Tagihan Hotel, dan bukti lainnya dan Daftar Pengeluaran Riil) dari pelaksana SPD.

1) Dalam hal kurang lengkap, maka SPD dan bukti pendukungnya disampaikan dan/atau dikembalikan kepada Pelaksana SPD untuk dilengkapi.

2) Dalam hal lengkap, maka Staf Pengelola Keuangan memeriksa, meneliti, menghitung besarnya biaya perjalanan dinas, dan membuat kuitansi, konsep daftar nominatif, dan konsep SPP untuk selanjutnya diajukan ke PPK.

b. PPK meneliti dan menandatangani lembar II SPD, Daftar Nominatif, SPP dan Kuitansi kemudian menugaskan Staf Pengelola Keuangan untuk menyampaikan kepada Pejabat Penandatangan SPM.

c. Staf pengelola keuangan menyampaikan berkas SPP yang telah disetujui PPK ke Pejabat Penandatangan SPM.

(5)

11. Bagan Alir (flowchart)

SOP Penerbitan Surat Permintaan Pembayaran (SPP) Perjalanan Dinas Mekanisme Langsung Setelah Perjalanan Dinas

STAF PENGELOLA KEUANGAN PELAKSANA SPD PEJABAT PEMBUAT

KOMITMEN PPSPM

MULAI

MENERIMA, MEMBERI NOMOR,

DAN MENELITI SPD DAN BUKTI PENDUKUNGNYA

MENELITI, MENGHITUNG, DAN MEMBUAT KUITANSI

MENELITI DAN MENANDA-

TANGANI

MENYAMPAIKAN BERKAS SPP

SELESAI LENGKAP?

KONSEP DAFTAR NOMINATIF KONSEP SPTB KONSEP SPP

Y T

BUKTI PENDUKUNG SURAT TUGAS

KUITANSI DAFTAR NOMINATIF

SPTB SPP SURAT

PERNYATAAN SPD

KUITANSI DAFTAR NOMINATIF

SPTB SPP N

SOP Pencairan Biaya Perjalanan Dinas Mekanisme Pembayaran Langsung (LS) Sebelum Perjalanan

Dinas

Disahkan oleh:

Sekretaris Direktorat Jenderal ttd

Kushari Suprianto

NIP 19661002 199103 1 001

Referensi

Dokumen terkait

Penyedia barang/jasa tidak dapat menyediakan barang/jasa sesuai dengan jangka waktu yang telah ditetapkan setelah Pejabat Pembuat Komitmen (PPK)/Pejabat yang ditetapkan oleh

SPP Langsung yang selanjutnya disingkat SPP-LS adalah dokumen yang diajukan oleh bendahara pengeluaran untuk permintaan pembayaran Iangsung kepada pihak ketiga atas dasar

Setelah PENYEDIA JASA menandatangani kontrak tersebut di atas dengan PEJABAT PEMBUAT KOMITMEN, maka BANK wajib membayar sejumIah uang kepada PEJABAT PEMBUAT

adalah dokumen yang diterbitkan oleh Pejabat Pembuat Komitmen yang berisi permintaan kepada Pejabat Penandatanganan SPM untuk menerbitkan surat perintah membayar sejumlah uang

Surat Permintaan Pembayaran Langsung yang selanjutnya disebut SPP-LS adalah Dokumen yang dibuat dan/diterbitkan oleh pejabat yang bertanggung jawab untuk pembayaran uang

SPP Tambahan Uang Persediaan yang selanjutnya disingkat SPP-TU adalah dokumen yang diajukan oleh bendahara pengeluaran untuk permintaan tambahan uang persediaan

bahwa para pejabat sebagaimana tercantum dalam Lampiran Keputusan ini, memenuhi syarat untuk ditetapkan sebagai Kuasa Pengguna Anggaran (KPA), Pejabat Pembuat Komitmen

Kuasa Pengguna Anggaran, Pejabat Penguji Tagihan/Penandatangan Surat Perintah Membayar, Pejabat Pembuat Komitmen Program Dukungan Manajemen dan Pelaksana Tugas Teknis