• Tidak ada hasil yang ditemukan

MANAJEMEN MUTU TERPADU DI SMPN 2 PADANG GANTING SKRIPSI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "MANAJEMEN MUTU TERPADU DI SMPN 2 PADANG GANTING SKRIPSI"

Copied!
103
0
0

Teks penuh

(1)

i

MANAJEMEN MUTU TERPADU DI SMPN 2 PADANG GANTING

SKRIPSI

Ditulis Sebagai Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Jurusan Manajemen Pendidikan Islam

Oleh

WIDIA ARMELIZA NIM 14 131 060

JURUSAN MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) BATUSANGKAR

1442 H/ 2020

(2)
(3)

i

(4)
(5)

ABSTRAK

Widia Armeliza,NIM 14 131 060, Judul Skripsi” MANAJEMEN MUTU TERPADU DI SMPN 2 PADANG GANTING “ Jurusan Manajemen pendidikan Islam Fukultas Tarbiyah Dan Ilmu Keguruan Institut Agama Islam Negeri ( IAIN)Batusangkar.

Pokok permasalahan dari Penelitian ini adalah tentang Manajemen Mutu Terpadu.

Penelitian ini ditujukan kepada Kepala Sekolah,Guru dan lembaga terkait. Tujuan dari penelitian ini untuk mendeskripsikan tentang bagaimana Manajemen Mutu Terpadu di SMPN 2 Padang Ganting.

Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif dengan analisis kualitatif subjek penelitian ini adalah kepala Sekolah,Guru dan Lembaga terkait. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis data dengan cara reduksi data, penyajian data, dan menarik kesimpulan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan manajemen mutu terpadu di SMPN2 padang ganting belum sepenuhnya terlaksana secara maksimal. Hal ini dapat dilihat dari poin indikator jumlah siswa dari tahun ketahun menurun yang mana dilihat dari tahun ajaran 2017/2018 jumlah siswa kelas Vll berjumlah 80, kelas Vlll berjumlah 56, dan kelas lX berjumlah 56, dan jumlah total keseluruhan siswa tahun ajaran 2017/2018 berjumlah 192 siswa. Sedangkan tahun ajaran 2018/2019 jumlah siswa kelas Vll 58, kelas Vlll berjumlah 74, dan kelas lX berjumlah 50, jumah total keseluruhan pada tahun ajaran 2018/2019 berjumlah 182 siswa. dan kurang tenaga pendidik di SMPN 2 Padang Ganting.

(6)

ii

Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada penulis, sehingga dengan rahmat dan hidayah-Nya itu penulis telah dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Manajemen Mutu Terpadu di SMPN 2 Padang Ganting”

Selanjutnya shalawat beserta salam kita sampaikan buat junjungan kita yakninya Nabi Muhammad SAW yang telah meninggalkan dua pedoman hidup bagi umatnya yaitu Al- Qur’an dan Hadis. Dalam pembuatan skripsi ini penulis banyak mendapat bantuan, dorongan serta bimbingan dari berbagai pihak. untuk itu, pada kesempatan kali ini penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada kedua orang tua penulis Tembukhari Muslim (Ayah) dan Ratna wilis (Ibu) dan Sukri Almaizi (Adik) seluruh keluarga penulis yang telah memberikan dukungan baik moril maupun materil. Dan selanjutnya ucapan terima kasih penulis ucapkan kepada:

1. Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Batusangkar Bapak Dr. Marjoni Imamora.M.sc yang telah memberikan kesempatan bagi penulis untuk menyelesaikan perkulihan dan penyusun skripsi.

2. Bapak Dr. Adripen, M.Pd Sebagai Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu keguruan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Batusangkar.

3. Ibuk Yanti Elvita,S.Ag.M.Pd Sebagai Ketua Jurusan Manajemen Pendidikan Islam Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Batusangkar.

4. Ibuk Dra. Eliwatis Sebagai penasehat Akademik penulis yang telah memberikan motivasi dan meluangkan waktunya untuk penulis skripsi ini.

5. Bapak Dr. Adripen, M. Pd Sebagai Pembimbing I yang selalu menuntun penulis untuk menamatkan pendidikan cepat, tepat dan berkualitas untuk menamatkan pendidikan tepat waktu dan berkualitas dan Ibuk Dr. Hj.Demina, M.Pd Sebagai Pembimbing II yang membimbing dan mengarahkan segala upaya demi penulis cepat menamatkan pendidikan.

6. Bapak Dr.Asmendri, S.Ag. M.Pd dan selaku penguji yang banyak memberikan masukan kepada penulis untuk lebihnya skripsi ini.

7. Dosen Dan Karyawan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Batusangkar yang telah memberikan motivasi dan dukungan serta kemudahan administrasi dalam penyelesaian skripsi ini

8. Kepala SMPN 2 Padang Bapak Muhammad Tiwar S.Pd dan teristimewa kepada seluruh guru serta pegawai SMPN 2 Padang Ganting Kecamatan Padang Ganting Kabupaten Tanah Datar yang telah membantu dan berpartisipasi dalam penelitian skripsi yang penulis lakukan di SMPN 2 Padang Ganting

9. Orang tua tercinta dan seluruh keluarga besar yang senantiasa memberikan doa dan motivasi kepada penulis. Saudara tersayang, adikku Sukri Almaizi yang telah banyak memberikan dukungan dan motivasi kepada penulis.

10. Keluarga besar Manajemen Pendidikan Islam Khususnya teman-teman seperjuangan dan seangkatan 2014. Buat sahabat penulis Liza Maizona, Wahyumi Delvica,Refika

(7)

Hennisa,Rahmi dan teman-teman seangkatan yang tidak dapat disebutkan satu per

(8)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL

DAFTAR ISI... i

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Rumusan Masalah ... 3

C. Fokus Masalah ... 4

D. Tujuan Penelitian ... 4

E. Manfaat Penelitian ... 4

F. Definisi Operasional ... 4

BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Menejemen Mutu Terpadu ... 6

1. Pengertian Manajemen ... 6

2. Sejarah Manajemen Mutu Terpadu ... 6

3. Pengertian Manajenem Mutu Terpadu ... 8

4. Landasan Manajemen Mutu Terpadu ... 12

5. Prinsip-prinsipManajemen Mutu Terpadu... 13

6. Karakteristik Manajemen Mutu Terpadu ... 14

7. Karakteristik Manajemen Mutu Pendidikan Sekolah ... 17

8. Manfaat Manajemen Mutu Terpadu ... 18

9. Tujuan Manajemen Mutu Sekolah ... 19

10.Konsep Manajemen Mutu Terpadu ... 21

11. Manajemen Mutu Terpadu di Sekolah ... 22

12. Keberhasilan Manajemen Mutu Terpadu... 25

13. Ciri-ciri Sekolah Yang Bermutu ... 27

14. Tantangan Manajemen Mutu Terpadu ... 29

15. Elemen-elemen Pendukung Manajemen Mutu Terpedu ... 31

16. Pilar Manajemen Mutu Terpadu Dalam Pendidikan ... ... 33

B. PenelitianRelevan ... 34

(9)

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

A. JenisPenelitian... 38

B. Latar danWaktuPenelitian ... 38

C. Instrumen Penelitian ... 39

D. Informan Penelitian ... 40

E. TeknikPengumpulanData ... 40

F. TeknikAnalisis Data... 41

G. Teknik Penjaminan Keabsahan Data ... 43

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Temuan Umum ... 44

1. Profil Sekolah ... 44

2. Visi dan misi ... 45

B. Temuan Khusus... 46

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ... 65

B. Saran ... 65

DAFTAR PUSTAKA

(10)

1

PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Pendidikan merupakan proses budaya untuk meningkatkan harkat dan martabat manusia dan berlangsung sepanjang hayat, dilaksanakan dilingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat. Pendidikan merpakan tanggung jawab bersama antara keluarga, sekolah, dan pemerintah (M.Arifn, 2003, hal. 71).

Manajemen mutu dalam bidang pendidikan masih tergolong baru dibandingkan dengan manajemen mutu bidang ekonomi industri. Edward Sallis mengatakatan bahwa gerakan untuk menerapkan manajemen mutu dalam bidang pendidikan dimnulai sejak tahun 1980 an di Amerika Serikat terbatas dalam colleges dan pada tahun 1990 an di sekolah mulai pentingnya manajemen mutu.

Manajemen yang berfokus pada kebutuhan pelanggan dan perbaikan secara terus menerus adalah manajemen mutu terpadu. Dan dalam rangka untuk menghasilkan produk pendidikan yang bermutu salah satu upayanya ialah melaksanakan prinsip-prinsip manajemen seperti manajemen mutu. Menurut Creech mengemukakan 5 prinsip dalam manajemen mutu yaitu organisasi sebagai pusat pengembangan mutu, produk yang relevan dengan kebutuhan konsumen, proses yang diarahkan kepada produk yang bermutu sebagai mana yang diharapkan, adanya kepemimpinan yang kuat, dan akhirnya adanya komitmen dari sejumlah aktifitas di akademik dan seluruh pendidikan untuk mewujudkan visi misi pendidikan.

Teori manajemen mutu kemudian menjadi kebutuhan dalam mengelola lembaga-lembaga pendidikan hingga era persaingan merebut jaminan mutu.

pemerintah, masyarakat, dan pengguna jasa pendidikan sangat membutuhkan lembaga pendidikan yang bermutu.

Sekolah yang bermutu merupakan suatu lembaga pendidikan yang membangun kepercayaan masyarakat untuk memilih lembaga pendidikan tersebut sebagai tempat untuk menuntut ilmu bagi putra-putrinya. Oleh sebab itu, setiap lembaga pendidikan dituntut untuk selalu meningkatkan mutu pendidikannya. Sebab mengacu pada Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 Standar Nasional Pendidikan, Pasal 91 Ayat 1 dan 2 menyatakan bahwa:“Setiap satuan pendidikan pada jalur formal dan nonformal wajib melakukan penjaminan

(11)

mutu pendidikan. Penjaminan mutu pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertujuan untuk memenuhi atau melampaui Standar Nasional Pendidikan”.

Manajemen mutu kemudian menjadi kebutuhan dalam mengelola lembaga- lembaga pendidikan hingga era persaingan merebut jaminan mutu.

Pemerintah,masyarakat dan pengguna jasa pendidikan sangat membutuhkan lembaga pendidikan yang bermutu. Hal ini harus direspons oleh para pengelolan lembaga pendidikan yang di tingkat sekolah. Sikap demikian akan memberikan manfaat besar baik kepada internal maupun ekternal. Secara internal sekolah akan berkembang dan maju sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan dan tarap hidup yang lebih baik bagi semua anggota organisasi sekolah. Secara ekternal akan mendapatkan kepuasan layanan pendidikan sehingga mendukung program-program yang diterapkan sekolah.

Hubungan timbal balik antara internal–ekternal secara simultan akan mencerdaskan kehidupan yang bermatabat di mata dunia internasional. (Makbuloh, 2011, hal. 2).

Delapan dasar prinsip manajemen mutu tersebut merupakan penerapan sistem manajemen mutu dalam kelompok ISO 9000. Alasan penerapan sistem teresebut adalah untuk membantu organisasi dalam meningkatkan kepuasan kepada pelangan atas layanan produk dari organisasi. Karena pelanggan menghendaki produk sesuai dengan karakteristik yang dapat memuaskan kebutuhan dan harapan mereka.

Kebutuhan dan harapan dinyatakan dalam speksifikasi produk yang secara terpadu dinamakan persyaratan pelanggan. Pendekatan sistem manajemen mutu mengajak organisasi untuk menganalisis persyaratan pelanggan, menetapkan proses yang mampu memberi sumbangan bagi produk yang dapat diterima oleh pelanggan dan supaya konsisten dalam menjaga kualitas produk. Proses-proses tersebut harus terkendalikan.

Manajemen mutu terpadu merupakan suatu sistem pengendalian mutu untuk memenuhi kepuasan pelanggan dengan sebaik-baiknya. Konsep dalam manajemen mutu terpadu dalam pendidikan memandang bahwa lembaga pendidikan merupakan interasi jasa dan bukan sebaga proses produksi. Manajemen mutu terpadu dalam hal ini tidak membicarakan permasalahan masukan (peserta didik dan keluaran) tetapi mengenai pelanggan yang mempunyai kebutuhan dan cara memuaskan pelanggan tersebut supaya tercapainya manajemen mutu terpadu di SMPN 2 Padang Ganting.

Perkembangan pemikiran manajemen sekolah pada saat ini mengarah pada sistem manajemen yang disebut manajemen mutu terpadu yang merupakan suatu program

(12)

dalam memenuhi kebutuhan, keinginan, dan harapan para pelanggannya saat ini dan untuk masa yang akan datang.

Alasan penulis melakukan observasi di SMPN 2 Padang Ganting tersebut merupakan salah satu sekolah yang menerapkan manajemen mutu terpadu sebagai suatu langkah untuk meningkatkan kualitas pendidikan di SMPN 2 Padang Ganting.

Oleh karena itu, adanya penting observasi lebih lanjut berkenaan dengan manajemen mutu terpadu.

Berdasarkan hasil observasi penulis ketika mengadakan observasi di SMPN 2 Padang Ganting dan wawancara dengan bapak kepala sekolah SMPN 2 Padang Ganting didapatkan gambaran bahwa pelaksanaan manajemen mutu terpadu di SMPN 2 Padang Ganting Belum sepenuhnya terlaksana secara maksimal. Hal ini dapat dilihat dari beberapa poin indikator yang diantaranya seperti jumlah siswa dari tahun ketahun menurun dilihat dari tahun ajaran 2017/2018 jumlah siswa kelas Vll berjumlah 80, kelas Vlll berjumlah 56, dan kelas lX berjumlah 56, dan jumlah total keseluruhan siswa tahun ajaran 2017/2018 berjumlah 192 siswa. Sedangkan tahun ajaran 2018/2019 jumlah siswa kelas Vll 58, kelas Vlll berjumlah 74, dan kelas lX berjumlah 50, jumah total keseluruhan pada tahun ajaran 2018/2019 berjumlah 182 siswa. Kurangnya tenaga pendidik.

Manajemen mutu terpadu merupakan konsep yang mempunyai nilai-nilai yang baik untuk perkembangan organisasi disemua sektor kehidupan. Manajemen mutu terpadu telah banyak di adobsi kedalam berbagai bidang bisnis dan ekonomi. Tetapi manajemen mutu terpadu bukan saja terpaku untuk aspek bisnis dan ekonomi saja tetapi nilai-nilai yang ada dalam manajemen mutu terpadu juga dapat diterapkan didalam dunia pendidikan yaitu di sekolah.

Berdasarkan fenomena diatas penulis tertarik untuk mengakat judul “ MANAJEMEN MUTU TERPADU DI SMPN 2 PADANG GANTING KECAMATAN PADANG GANTING”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan fokus penelitian diatas maka peneliti ingin menjabarkan rumusan masalah pada penelitian ini yaitu:

1. Bagaimana kerja Sama Tim dan Komunikasi yang baik di SMPN 2 Padang Ganting

2. Bagaimana pendidikan dan latihan di SMPN 2 Padang Ganting

(13)

3. Bagaimana keterlibatan dan pemberdayaan pekerjaan di SMPN 2 Padang Ganting 4. Bagaimana budaya yang bermutu dan Lingkungan yang tertib di SMPN 2 Padang

Ganting.

5. Bagaimana Proses Belajar Mengajar di SMPN 2 Padang Ganting

C. Fokus Penelitian

Berdasarkan latar belakang di atas maka peneliti memfokuskan penelitian yaitu:

Manajemen Mutu Terpadu di SMPN 2 Padang Ganting

D. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah diatas maka tujuan penelitian sebagai berikut:

1. Untuk mendeskripsikan kerja sama tim dan komunikasi yang baik di SMPN 2 Padang Ganting

2. Untuk mendeskripsikan pendidikan pelatihan di SMPN 2 Padang Ganting

3. Untuk mendeskripsikan adanya keterlibatan dan pemberdayaan pekerjaan di SMPN 2 Padang Ganting

4. Untuk Mendeskripsikan budaya yang bermutu dan Lingkungan yang tertib di SMPN 2 Padang Ganting

5. Untuk Mendeskripsikan Proses Belajar Mengajar di SMPN 2 Padang Ganting

E. Manfaat dan Luaran Penelitian

Untuk menambah wawasan peneliti tentang Manajemen Mutu Terpadu Di SMPN 2 Padang Ganting Kecamatan Padang Ganting”. Adapun Luaran penelitian sebagai berikut:

1. Dapat dipublikasikan pada jurnal Kampus IAIN Batusangkar.

2. Materi ini dapat menjadi materi yang berguna dan dapat di manfaatkan oleh masyarakat.

3. Sebagai bahan bacaan diperpustakan jurusan Manajemen pendidikan Islam.

F. Defenisi Operasional

Menurut Edward Sallis (2010:73) Manajemen Mutu Terpadu adalah sebuah filosofi tentang perbaikan secara terus menerus, yang dapat memberikan seperangkat alat praktis kepada setiap institusi pendidikan dalam memenuhi kebutuhan, keinginan, dan harapan para pelanggannya, saat ini dan untuk masa yang akan datang. Dapat

(14)

disimpulkan manajemen mutu tepadu ialah kepuasan pada pelanggan, perbaikan terus menerus, dan menyeluruh disemua komponen organisasi.

Manajemen Mutu Terpadumerupakan suatu pendekatan dalam menjalankan usaha yang mencoba untuk memaksimumkan daya saing organisasi melalui perbaikan terus menerus atau produk, tenaga kerja, proses, dan lingkungannya

(15)

BAB II

LANDASAN TEORI A. Manajemen Mutu Terpadu

1. Sejarah Manajemen Mutu Terpadu

Manajemen mutu terpadu berkembang secara bertahap, tahap tersebut berasal dari inspeksi(inspection), pengendaian mutu (quality control) penjaminan mutu (quality assurance), manajemen mutu (quality management) manajemen mutu terpadu ,organisasi belajar dan organisasi kelas dunia.

a. Inpeksi

Pendekatan ini mulai diterapkan pada permula abad ke -19. Inpeksi terhadap output dilakukan langsung melalaui bantuan alat tertentu yang dirancang untuk mengukur output fisik dibandingkan dengan standar yang seragam. Sejak awak abad ke-20, kegiatan npeksi dikaitkan secara lebih formal dengan pengendalian mutu dan mutu itu sendiri dapat dipandang sebagai fungsi manajemen yang berbeda.

b. Pengendalian mutu

Pada tahun 1940-an kelompok inpeksi berkembang menjadi bagian pengendalian mutu. Tanggung jawab mutu dialihkan kebagian quality control quality control yang independen. Para pemeriksa mutu dibekali dengan keahlian statistik. Pengendalain mutu berkembang menjadi mutu.

Bagian penjaminan mutu difokuskan untuk memastikan proses dan mutu hasil melalui pelaksanan audit operasi, pelatihan analisis kinerja dan petunjuk operasi untuk peningkatan mutu. Era jaminan mutu ini dimulai pada sekitar tahun 1960-an yang menekankan pada koordinasi, pemecahan masalah secara proaktif. Pada era ini mulai dikenal adanya konsep total Quality Control (TQC) yang diperekenalkan oleh Armand F pada tahun 1950.Jaminan mutu merupakan seluruh perencanaan dan kegiatan sistimatik yang diperlukan untuk memberikan suatu keyakinan yang memadai bahwa suatu barang atau jasa dapat memenuhi persyaratan mutu. Jaminan mutu merupakan bagian dari manajemen mutu yang difokuskan pada peningkatan kemampuan untuk memenuhi persyaratan mutu.

Oleh karena itu jaminan mutu dilaksanakan secara berkesinambungan sistimatis, objektif dan terpadu dalam menetapkan masalah dan penyebab, masalah mutu pelayanan berdasarkan standar yang telah ditetpakan dan

6

(16)

selanjutnya menetapkan serta melaksanakan cara penyelesaian masalah sesuai dengan khemampuan yang tersedia, menilai hasil yang dicapai dan menyusun saran tindak lanjut untuk lebih meningkatkan mutu pelayanan.

Sejak era inilah peran manajemen mulai diperhitungkan untuk terlibat dalam penentuan dan penanganan mutu produk. Selain itu dalam era jaminan mutu ini pula mulai diterapkan bukan hanya pada industri manufaktur, tetapi juga pada industri jasa.

c. Penjamianan mutu

Pengendalain mutu berkembang menjadi mutu. Bagian penjaminan mutu difokuskan untuk memastikan proses dan mutu hasil melalui pelaksanan audit operasi, pelatihan analisis kinerja dan petunjuk operasi untuk peningkatan mutu.

d. Manajemen mutu strategi

Konsep ini menuntut kepada semua pihak dalam suatu institusi untuk mengelola mutu secara strategis. Dengan kata lain bagaimana suatu insitusi, baik perusahan maupun institusi pendidikan untuk memuaskan para pihak yang berkepentingan.

e. Manajemen mutu terpadu

Dalam perkembangaan manajemen mutu, bukan hanya fungsi hasil yang mempengaruhi kepauasan terhadap kualitas/mutu. Dalam hal ini tanggung jawab terhadap mutu tidak hanya dibebankan kepada suatu bagian tertentu, melainkan menjadi tanggung jawab bersama pada satuan pendidikan.

f. Organisasi belajar

Organisasi belajar ini merupakan kelanjutan dari filosofi total quality managementdan mulai dikembangakan pada tahun 1990 juga menggunakan filosofi dan menggunakan konsep manajemen pengetahuan , karena untuk memberikan yang terbaik bagi siswa, organisasi atau sekolah harus mampu mengelola pengetahuan yang dimilikinya.

g. Organisasi kelas dunia

Konsep ini berkembangkan mulai abad ke 20-an, dimana teknologi informasi dan komunikasi sudah dikenal luas, semua orang dapat akses kemana-mana tanpa mengeluarkan biaya yang berarti.

(17)

2. Pengertian Manajemen MutuTerpadu (total quality management)

Istilah Total Quality Management (TQM) atau Manajemen Mutu Terpadu (MMT) pertama kali lahir sebagai bentuk respon terhadap munculnya persoalan krisis produktifitas. Fenomena ini pertama kali mencuat di dunia industri yang melibatkan Negara industri terutama di Jepang dan Amerika pada tahun 1970- an dan 1980-an. Pada saat itu terjadi banjir barang buatan Jepang di pasar Amerika dan Kanada Sementara itu, di Amerika Utara berada dalam periode dengan inflasi tinggi dan pengangguran yang tinggi.Para analis menduga bahwa sumber terjadinya pengangguran yang tinggi adalah karena krisis produktifitas.Oleh karena itu, pemecahanya disarankan untuk meningkatkan produktifitas. Akan tetapi, persoalanya ternyata tidak sesederhana itu, karena unsur pembentuk produktifitas yang terdiri dari input dan output dari proses banyak jenisnya (Syilviana dan Rivai, 2010 : 477).

Menurut Edward Sallis (2010:73) TQM adalah sebuah filosofi tentang perbaikan secara terus menerus, yang dapat memberikan seperangkat alat praktis kepada setiap institusi pendidikan dalam memenuhi kebutuhan, keinginan, dan harapan para pelanggannya, saat ini dan untuk masa yang akan datang. TQM adalah suatu keinginan untuk selalu mencoba mengerjakan segala sesuatu dengan selalu baik sejak awal. Kata “total” (terpadu) dalam tqm menegaskan bahwa setiap orang yang berada 11 di dalam organisasi harus terlibat dalam upaya melakukanpeningkatan secara terus menerus.

Menurut Sallis (2011), konsep TQM menekankan pada pencarian secara konsisten terhadap perbaikan yang berkelanjutan untuk mencapai kebutuhan dan kepuasan pelanggan. Sementara Permadi menyebutkan bahwa dalam pendidikan, filosofi TQM berati bahwa untuk memenuhi kebutuhan pelanggan, budaya kerja yang mantap harus terbina dan berkembang dengan baik dengan diri seluruh karyawan yang terlibat dalam pendidikan. Motivasi, sikap, kemauan, dan dedikasi, untuk memenuhi kebutuhan pelanggan adalah bagian terpenting dari budaya kerja itu (Permadi, 1998).

Menurut Edward Sallis (1993) telah mencoba mengadopsi masalah mutu dalam dunia ekonomi dan bisnis kedalam pendidikan dengan melakukan penyesuaian-penyesuaian yang diperlukan sesuai dengan karakteristik yang dimiliki dunia pendidikan khususnya persekolahan. Insitusi yang efektif memerlukan strategi yang kuat dan maksud tertentu untuk menghadapi suasana

(18)

kompetitif dan orientasi dimasa sekarang, insitusi memerlukan proses pengembangan strategi kualitas, antara lain : (a) misi yang jelas dan tertentu, (b) menfokuskan kustomer secara jelas, (c) strategi untuk pencapaian misi, (d) melibatkan semua kostomer, baik internal maupun eksternal, didalam pengembangan strategi, (e) penguatan staf dengan menggerakkan penghalang dan bantuan untuk membuat konstribusi maksimal terhadap insitusi melalui pengembangan kelompok kerja yang efektif, (f) penilaian dan evaluasi keefektifan insitusi menghadapi tujuan yang diharapkan oleh kustomer.Menurut Bounds dalam Mulyadi,(1998:10), total qualitymanagement (TQM) adalah suatu sistem manajemen yang 12 berfokus pada kepada orang atau pelanggang yang bertujuan untuk meninggkatkan secara berkelanjutan kepuasan customers pada biaya sesungguhnya yang secara berkelanjutan terusmenerus. Dalam pendidikan, filosofi TQM bearti bahwa untuk memenuhi kebutuhan pelanggan, maka budaya kerja yang mantap harus terbina dan berkembang dengan baik dengan diri seluruh karyawan yang terlibat dalam pendidikan. Motivasi, sikap, kemauan dan dedikasi untuk memenuhi kebutuhan pelanggan adalah bagian terpenting dari budaya kerja itu.

Menurut Mulyasa (2012:177), Konsep total quality management dalam pendidikan memandang bahwa lembagapendidikan merupakan industri jasa dan bukan sebagai prosesproduksi. TQM dalam hal ini tidak membicarakan permasalahan masukkan (peserta didik) dan keluaran (lulusan), tetapi mengenai pelanggan yang mempunyai kebutuhan dan cara memuaskan pelanggan tersebut.

Sehingga dapat dikatakan bahwa TQM memandang produk usaha pendidikan sebagai jasa dalam bentuk pelayanan yang diberikan oleh pengelola pendidikan beserta seluruh karyawan kepada para pelanggan sesuai dengan standar mutu tertentu.

Adanya pendapat yang menyatakan lulusan merupakan produk pendidikan pada kenyataannya memiliki kelemahan-kelemahan yang mendasar.Memahami kutipan tersebut, dapat di kemukakan bahwa pendidikan yang bermutu tidak dapat hanya dilihat dari kualitas lulusanya, tetapi juga mencakup bagaimana lembaga pendidikan mampu memenuhi kebutuhan pelanggan sesuai dengan standar mutu yang berlaku. Pelanggan dalam hal ini adalah pelanggan internal (karyawan dan guru) serta pelanggan eksternal (siswa, orang tua siswa, masyarakat dan pengguna lulusan).

(19)

Menurut Goestsh dan Davis dalam Tjiptono, seperti dikutip oleh La Rajab (2004:66) mengemukakan bahawa total quality manajemen (TQM) dapat ditinjau dai 2 aspek yitu :

1) Total Quality Manajemen (TQM) didefinisikan sebagai suatu pendekatan dalam menjalankan usaha, dengan upaya memaksimalkan daya saing melalui penyempurnaan terus menerus atas prodak, jasa, manusia, proses dan lingkungan organisasi.

2) Menyangkut cara penyampaian, dan berkaitan dengan lingkungan, dan berkiatan dengan sepuluh karakteristik yang terdiri atas : (a), fokus pada pelanggan, (b), berobsesi tinggi pada kualitas, (c), menggunakan pendekatan ilmiah, (d), memiliki komitmen jangka panjang, (e), kerja sama tim, (f), menyempurnakan kualitas secara berkesimambungan, (g), menerapkan kebebesan secara terkendali, (h), memiliki kesatuan tujuan, (i), melibatkan dan memberdayakan

Menurut Mears ((2011: 91), TQM sebagai suatu sistem yang dilaksanakan dalam jangka panjang dan terus menerus untuk memuaskan konsumen dengan meningkatkan kualitas produk perusahaan. TQM memiliki tujuan perbaikan kualitas terus menerus disesuaikan dengan perubahan yang menyangkut kebutuhan, keingin dan selera konsumen.Menurut Lewis dan Smith (2011: 91- 92), terdapat empat pilar penerapan TQM yaitu :

a. Kepuasan konsumen

Untuk dapat memberikan kepuasan kepada konsumen, langkah awal yang harus dilakukan, yaitu mengidentifikasi siapa pelanggan perusahaan, apa kebutuhan, dan keinginan mereka.

b. Perbaikan terus menerus

Konsumen akan selalu mengalami dinamika seiring lingkungan bisnis yang terus mengalami perubahan harus mampu mengikuti gerak perubahan kebutuhan dan keinginan konsumen.

c. Hormat/ respek terhadap setiap orang

Setiap orang dalam organisasi merupakan induvidu yang memiliki kontribusi bagi pencapaian kualitas yang diharapkan, oleh karena itu setiap orang dalam organisasi harus diperlakukan dengan baik dan diberi kesempatan untuk berpartisipasi aktif dalam pengambila keputusan.

(20)

d. Manajemen berdasarkan fakta

Setiap keputusan yang diambil akan memberikan hasil yang memuaskan jika didasarkan pada data dan informasi yang objektif, lengkap, dan akurat.

Total Quality Management merupakan suatu pendekatan dalam menjalankan usaha yang mencoba untuk memaksimumkan daya saing organisasi melalui perbaikan terus menerus atau produk, tenaga kerja, proses, dan lingkungannya. Untuk mencapai usaha tersebut digunakan sepuluh unsur utama TQM yaitu, fokus pada pelanggan, obsesi pada kualitas, pendekatan ilmiah, komitmen jangka panjang, kerja sama tim, perbaikan berkesinambungan, pendidikan dan latihan, kebebesan yang terkendali, kesatuan tujuan dan keterlibatan serta pemberdayaan karyawan.Manajemen mutu terpadu merupakan suatu pendekatan dalam menjalakan usaha yang mencoba untuk memaksimumkan daya sain organisasi melaui perbaikan terus-menerus atas produk, jasa, manusia, proses, dan lingkungannya. Sauatu pendekatan.

Manajemen mutu terpadu memiliki sistem manajemen yang mampu mengangkat kualitas sebagai strategi usaha yang berorentasi pada kepuasaan pelanggan dengan cara melibatkan seluruh angggota organisasi atau institusi.

Menurut Tjiptono dan Dianan manajemen mutu terpadu didefenisikan sebagai suatu pendekatan dalam menjalankan usaha yang mencoba untuk memaksimumkan daya saing organiasasi melaui perbaikan terus-menerus atas produk,jasa, manusia, dan lingkungannya.

Menurut Suduyono manajemen mutu terpadu merupakan suatu sistem nilai yang mendasar dan komprehensif dalam mengelola organisasi dengan tujuan meningkatkan kinerja secara berkelanjutan dalam jangka panjang dengan memberikan perhatian secara khusus pada tercapainya kepuasan pelanggan dengan tetap memperhatikan secara memadai terhadap terpenuhnya kebutuhan seluruh organisasai yang bersangkutan.

Manajemen mutu terpadu suatu pendekatan dalam usaha memaksimalkan daya saing melalui perbaikan terus-menerus atas jasa, manusia, produk dan lingkungan. Di dalam manajemen mutu terpadu terdapat serangkaian usaha untuk memaksimalkan semua fungsi organisasi dalam falsafah holistis yang dibangun berdasarkan konsep mutu,kerja tim, efektivitas, dan prestasi serta kepuasan pelanggan. Ini menunjukkan bahwa manajemen mutu terpadu merupakan sistem

(21)

manajemen yang menyangkut mutu sebagai strategi usaha dan berorintasi pada kepuasan pelanggan dengan melibatkan seluruh anggota oraganisasi.

Di dalam manajemen mutu terpadu yang di utamakan adalah pertama, total. Total dalam manajemen mutu terpadu merupakan strategi organisasil menyeluruh yang melibatkan semua jenjang dan jajaran manajemen dan karyawan, bukan hanya pengguna akhir dan pembeli ekternal saja, melainkan pula pelanggan internal, pemasok, bahkan personalia pendukung. Kedua kualiatas lebih menekan pelayana kualiatas, bukan sekedar produk bebas cacat. Kualitas didefenisikana oleh pelanggan, ekspektasi pelanggsan bersifat individual, tergantung pada latar belakang sosial ekonomis dan karakteristik demografis.

Ketiga manajemen merupakan pendekatan manajemen,bukan pedekatan teknis pengendalian kualitas yang sempit (Irnawati, 2018, hal. 23-25).

Sedangkan menurut buku Animatul Zahroh Manajemen mutu terpadu ialah suatu pendekatan dalam usaha memaksimalkan daya saing melalui perbaikan terus menerus atas jasa, manusia, produk, dan lingkungan. Berdasarkan beberapa pengertian manajemen mutu terpadu diatas,dapat disimpulkan terdapat empat konsep manajemen mutu terpadu:quality, kepuasan pelanggan,perbaikan terus-menerus, dan menyeluruh disemua komponen organisasi (Zahroh, 2014, hal. 92-93).

3. Landasan Manajemen Mutu Terpadu a. Landasan teoritis

Istilah utama yang terkait dengan manajemen mutu terpadu yaitu perbaikan terus menerus sebagai suatu strategi manajemen , sprekyum aktivitas manajemen mutu terpadu berorintasi pada upaya untuk memperbaikan material dan jasa yang masukan organisasi dan memperbaikan upaya dalam memenuhi kebutuhan para pelanggan produk dan jasa pada masa kini dan waktu akan datang.

Manajemen mutu terpadu merupakan suatu teori ilmu manajemen yang mengarahkan pimpinan organisasi dan personelnya untuk melakukan program perbaikan mutu secara berkelanjutan yang terfokus pada pencapaian kepuasan para pelanggan.

(22)

b. Landasan filosofis

Suatu filosofis komprehensif tentang kehidupan dan kegiatan organisasi yang menekan perbaikan berkelanjutan sebagai tujuan fundmental untuk meningkatkan mutu, produktifitas dan mengurangi pembiayaan. Pendapat ini membuktikan bahwa manajemen mutu terpadu merupakan manajemen yang tidak hanya mementingkan produk tetapi lebih mementingkan proses. Produk yang bermutu, organisasi harus memiliki filosofi yang menyeluruh terhadap mutu yang dipahami oleh semua komponen organisasi.

Manajemen mutu terpadu adalah filosofi dan sistem untuk pengembangan secara terus menerus terhadap jasa atau produk untuk memenuhi kepuasan pelangan. (Mundir, 2019).

4. Prinsip-Prinsip Manajemen Mutu Terpadu

Menurut Hansler dan Brunell mengemukan empat prinsip utama dalam manajemen mutu terpadu sebagai berikut:

a. Kepuasan pelanggan

Termasuk kepuasan pelangan di sini baik pelanggan internal maupun pelanggan ekternal. Dalam hal ini kebutuhan pelanggan di usahakan untuk dipuasakan dalam berbagai aspek yang meliputi harga, keamanan, dan ketetapan waktu. Mutu yang dihasilkan sama halnya dengan nilai yang diberikan untuk meningkatkan kepada pelangggan, semakin besar pula kepuasannya.

.

b. Menaruh rasa hormat pada setiap orang

Enyadari bahwa setiap individu memiliki kreativitas yang unik, karyawan dianggap sebagai sumber daya organisasi yang paling bernilai.

Dengan demikian, setiap orang dalam organisasi diperlukan dengan baik dan diberi kesempatan untuk terlibat serta berpartisipasi dalam tim pengambilan keputusan.

c. Manajemen berdasarkan fakta

Setiapa keputusan selalu didasarkan pada fakta, bukan didasarkan pada intuisi.

(23)

d. Perbaikan berkesinambungan

Perbaikan yang berkesinambungan yang perlu dilakukan terdiri atas tahapan perncanaan, pelaksanan rencana, pemeriksaan hasil perencanaan, dan tindakan perbaikan terhadap hasil yang diperoleh.

Sementara itu Taylor (dalam Fitriani, 2008; 23) mengemukakan prinsip Total Quality Management antara lain;

a) Customer-oriented (fokus pada konsumen) b) Leadership (kepemimpinan)

c) Strategy planning (perencanaan strategi)

d) Employee responsibility (keterlibatan semua orang) e) Constinuous improvement (perbaikan terus menerus) f) Cooperation (kerjasama)

g) Statistical methods (penggunaan metode-metode statistik) h) Training and education (pendidikan dan latihan)

5. Karakteristik Manajemen Mutu Terpadu

Menurut ( Goetch dan Davis, 1994 ) mengungkapkan sepuluh unsur utama (karakteristik) total quality management sebagai berikut:

a. Fokus pada pelanggan

Dalam organisasi TQM, konsumen internal dan konsumen eksternal merupakan kekuatan pendorong aktivitas organisasi. Konsumen eksternal menentukan kualitas produk yang mereka terima, sedangkan konsumen internal berperan dalam menentukan kualitas SDM, proses, dan lingkungan yang berhubungan dengan produk yang dihasilkan.

b. Obsesi terhadap kualitas

Obsesi untuk memenuhi atau melebihi kualitas yang telah ditentukan konsumen, dengan melibatkan aktif semua pihak yang terlibat.

c. Pendekatan ilmiah

Segala aktivitas organisasi TQM terutama menyangkut desain pekerjaan, proses pengambilan keputusan, dan pemecahan masalah harus didasarkan pada akaidah ilmiah yang bisa dipertanggung jawab kan dan terima semua pihak yang terlibat.

(24)

d. Komitmen jangka panjang

Komitmen jangka panjang dari seluruh elemen organisasi sangat diperlukan untuk mengadakan perubahan budaya agar penerapan TQM bisa berjalan baik.Manajemen puncak merupakan pendorong proses pengembangan kualitas, penciptaan nilai, tujuan dan sistem

e. Kerja sama tim

Dalam organisasi TQM, keberhasilan hanya akan dicapai jika ada kerja sama antar elemen internal organisasi maupun dengan pihak eksternal organisasi.

f. Pendidikan dan latihan

Dalam persaingan global yang diwarnai berbaga iperubahan, kualitas total hanya bisa dicapai jika parapekerja memiliki keahlian dan keterampilan yang tinggi.Pelatiahan yang diberikan harus merupakan pelatihan yang bersifat dinamis, fleksibel, dan bisa mendorong kreativitas pekerja.

g. Kebebasan yang terkendali

Dalam organisasi TQM, para pekerja diberi kesempatan luas untuk turut serta dalam proses pengambilan keputusan dan pemecahan masalah.

h. Perbaikan sistem secara berkesinambungan

Setiap produk yang dihasilkan organisasi selalu melalui tahapan / proses tertentu di dalam suatu sistem /lingkungan, oleh karena itu sistem yang ada perlu terus diperbaiki agar selalu mendukung upaya pencapaian kualitas.

i. Kesatuan tujuan

Segala aktifitas seluruh elemen dalam organisasi TQM harus mengarah pada satu tujuan yang sama. Akantetapi, kesatuan tujuan ini bukan berarti harus selalu persetujuan / kesepakatan antara pihak manajemen dan pekerja mengenai upah dan kondisi kerja.

j. Adanya keterlibatan dan pemberdayaan pekerja

Para pekerja merupakan sumber daya sangatberharga bagi organisasi.

Pemberdayaan terhadap para pekerja dapat diartikan sebagai pemberian wewenang dan kekuasaan kepada mereka dalam pengambilan keputusan,kontrol terhadap pekerjaan mereka, dan kemudahan dalam memuaskan konsumen.

(25)

Manajemen mutu terpadu sebagai strategi pendekatan manajemen mutu total (total quality management strategy) dikembangkan oleh Juran dan Deming (1986:78). Konsep ini diterapkan di sekolah melalui sistem akreditasi (accreditationsystem). Sekolah menggunakan standar standar pelayanan minimal, sedangkan perguruan tinggi dikembangkan standar Reliability, assurance, tangibility, empathy, responsivenessatau RATER.

TQM menerapkan metode kuantitatif dan pengetahuan kemanusiaan yang berlandaskan pada pemikiran kesisteman, yaitu:

1). Memperbaiki material dan jasa yang menjadi masukan pada organisasi 2). Memperbaiki seluruh proses penting dalam organisasi

3). Memperbaiki upaya guna memenuhi kebutuhan parapemakai produk dan jasa (customer) pada masa kini dan waktu yang akan datang.

Menurut Creech (2011: 92-93)menyatakan bahwa agar penerapan TQM berhasil, empat kriteria berikut harus dipenuhi perusahaan yaitu :

(a) Harus didasarkan atas kesadaran terhadap pentingnya kualitas.

(b) Harus memiliki sifat kemanusian yang kuat yang tercerminkan pada cara pekerja diperlakukan, diikutsertakan dan diberi inspirasi.

(c) harus didasarkan pada pendekatan desntralisasi dengan memberikan pemberdayaan dan keterlibatan para pekerja pada semua level.

(d) Harus dilaksanakan secara menyeluruh yang melibatkan seluruh elemen perusahaan.

Adapun beberapa karakteristik manajemen mutu terpadu sebagai berikut:

1. Proses belajar mengajar mempunyai efektivitas yang tinggi.

2. Lingkungan yang aman dan tertib.

3. Memiliki budaya mutu.

4. Memiliki keterbukaan.

5. Memiliki komunukasi yang baik.

6. Memiliki akuntabilitas.

7. Memiliki kemampuan menjaga stain nabilitas

(26)

Karakteristik manajemen peningkatan mutu sekolah dapat diketahui dari bagaimana sekolah dapat mengoptimalkan kinerja organisasi sekolah, proses pembelajaran, pengelolaan sumberdaya manusia, serta pengelolaan sumberdaya dan administrasi(Mutohar, 2013, hal. 129).

Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa didalam manajemen mutu terpadu harus memiliki karakteristik karena dalam suatu aoganisasi atau sekolah harus memiliki komunikasi yang baik dengan organisasi lainnya supaya tercapainya tujuan untuk meningkatkan manajemen mutu terpadu di SMPN 2 Padang Ganting.

6. Karakteristik Manajemen Peningkatan Mutu Pendidikan Sekolah

Menurut Asmendri (2012:192) adapun karakteristik MPMBS (yang juga karakteristik sekolah efektif) dalam MPMBS, mendasarkan kepada input, proses dan output:

a. Output yang diharapkan

Output sekolah adalah prestasi sekolah yang dihasilkan oleh proses pembelajaran dan manajemen disekolah. Pada umumnya output dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu: output yang berupa prestasi akademik (academic achivement) dan output berupa prestasi non-akademik (non- academic achivement).

b. Proses

Sekolah yang efektif pada umunya memiliki sejumlah karakteristik proses sebagai berikut:

1) Proses belajar mengajar yang efektivitasnya tinggi 2) Kepemimpinan sekolah yang kuat

3) Lingkungan Sekolah/Madrasah yang aman dan tertib 4) Pengelolaan Tenaga Kependidikan yang efektif 5) Sekolah Memiliki Budaya Mutu

6) Sekolah memiliki Teamwork yang kompak, Cerdas dan Dinamis 7) Sekolah memiliki Kewenangan (kemandirian)

8) Partisipasi yang tinggi dari warga dan masyarakat

9) Sekolah memiliki keterbukaan (transparansi) manajemen

10) Sekolah memiliki kemauan untuk berubah (psikologis danfiisik) 11) Sekolah melakukan evaluasi dan perbaikan secara berkelanjutan

(27)

12) Sekolah responsi dan antisipatif terhadap kebutuhan 13) Memiliki komunikasi yang baik

14) Sekolah sudah memiliki akutabilitas

15) Sekolah memiliki kemampuan manajemen sustainabilitas.

c. Input pendidikan

1) Memiliki kebijakan, tujuan dan sasaran mutu yang jelas 2) Sumberdaya tersedia dan siap

3) Staf yang kompeten dan berdedikasi tinggi 4) Memiliki harapan prestasi yang tinggi 5) Fokos pada pelangan (khususnya siswa) 6) Input manajemen

Berdasarkan penjelasan diatas dapat penulis simpulkan bahwa peningkatan manajemen mutu terpadu sekolah ada yang harus diperhatikan untuk yaitu ouput yang diharapkan, proses dan input pendidikan, tercapai nya tiga karakteristik tersebut maka akan meningkat manajemen mutu terpadu yang akan diharapkan oleh SMPN 2 Padang Ganting.

7. Manfaat Manajemen Mutu Terpadu

Manfaat Total Quality Management adalah memperbaiki kinerja manjerial dalam menggelola perusahaan agar dapat meningkatkan penghasilan perusahaan.Ada beberapa keuntungan pengendalian Total Quality Management atau mutu yang digambarkan ishikawa (1992) dalam bukunya, antara lain Pengendalian muu memungkinkan untuk membangun mutu setiap langkah proses produksi demi menghasilakan produk yang 100℅ bebas cacat.

a. Pengendalian mutu memungkinkan perusahaan menemukan kesalahan atau kegagalan sebelum akhirnya berubah menjadi musibah bagi perusahaan.

b. Pengendalian mutu menungkinkan desain produk mengikuti keinginan pelanggan serta efisien sehingga produknya selalu dibuat sesuai pilihan pelanggan.

c. Pengendalian mutu dapat membantu perusahaan menetukan data-data produksi yang salah. Perbaikan kualitas yang dilakukan oleh perusahaan tidak lain bertujuan untuk meningkatkan penghasilan perusahaan dan tujuan akhirnya adalah untuk meningkatkan laba perusahaan agar perusahaan dapat berjalan

(28)

terus dan tetap hidup dalam persaingan perdagangan yang semakin ketat saat sekarang ini. Perbaikan kualitas juga dapat meningkatkan citra perusahaan dimata pelanggan.

Manajemen mutu terpadu sangat bermanfaat bagi pelanggan , institusi maupun organisasi, sebagai berikut:

a. Manfaat manajemen mutu terpadu bagi pelanggan

1) Sedikit atau bahkan tidak memiliki dengan produk atau pelayanan.

2) Kepedulian terhadap pelanggan lebih baik atau pelanggan lebih di perhatikan.

3) Kepuasan pelanggan terjamin.

b. Manfaat manajemen mutu terpadu bagi institisih

1) Terdapat perubahan kualitas produk dan pelayanan.

2) Staf lebih termotivasi.

3) Produktivitas meningkat.

4) Biaya turun.

5) Produk cacat berkurang.

6) Permasalahan dapat diselesaikan dengan cepat.

7) Manfaat manajemen mutu terpadu bagi organisasi 8) Pemberdayaan.

9) Lebih terlatih dan berkemampuan.

10) Lebih dihargai dan diakui.

Berdasarkan kesimpulan diatas manfaat manajemen mutu terpadu untuk organisasi atau sekolah yaitu pelayanan dilembaga pendidikan sesuai atau tidak dengan yang diharapkan oleh sekolah serta bagaimana produktivitas disekolah, dan semua masalah yang ada dilembaga selesai dengan yang diharapakan supaya tercapainya manfaat di sekolah tersebut.

8. Tujuan Manajemen Mutu Sekolah

Manajemen mutu sekolah perlu diterapakan untuk meningkatkan mutu pendidikan dan daya saing sekolah melalui pemberian kewenanagan dalam mengelola sekolah sesuai dengan core value yang dikembangkan oleh sekolah dan mendorong partisipasi warga sekolah dan masyarakat dalam meningkatkan

(29)

mutu pendidikannya. Implementasi MPMBM khus mempunyai tujuan sebagai berikut:

a. Meningkatkan mutu pendidikan melalui peningkatan kemandirian, fleksibilitas, partisipasi, keterbukaan, kerja sama, akuntabilitas, sustainnabilitas, dan inisiatif sekolah dalam mengelola, memanfaatkan, dan memberdayakan sumberdaya yang tersedia.

b. Meningkatkan kepedulian warga sekolah dan masyarakat dalam penyelengaraan pendidiikan melalui pengambilan keputusan bersama.

c. Meningkatkan tanggung jawab sekolah kepada orang tua, masyarakat dan pemerintah untuk meningkatkan mutu sekolah.

d. Meningkatkan kompetisi yang sehat antar sekolah dalam meningkatkan kualitas pendidikan.

Manajemen peningkatan mutu sekolah yang ditanda dengan adanya otonomi yang diberikan kepala sekolah dan adanya keterlibatan aktif masyarakat terhadap gejala-gejala yang muncul dalam kehidupan masyarakat. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan efisiensi, mutu, dan pemerataan pendidikan. Alasan diimplementasikan manajemen peningkatan mutu ini lebih lanjut dijelaskan oleh depdiknas (2002) sebagai berikut:

1. Pemberian otonomi yang yang lebih besar kepada sekolah. Sekolah akan lebih mempunyai inisiatif dan kreativitas dalam meningkatkan mutu sekolah.

2. Pemberian fleksibilitas keluwesan-keluwesan yang lebih besar kepada sekolah untuk mengelola sumber dayanya masa sekolah diharapkan lebih luas dan lincah dalam mengadakan dan memanfaatkan sumber daya yang dimiliki secara optimal dalam meningkatkan mutu sekolah.

3. Sekolah lebih mengetahui kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman bagi dirinya sehingga personel sekolah dapat mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya yang tersedia untuk memajukan sekolahnya.

4. Sekolah lebih mengetahui kebutuhan lembaganya, khususnya input pendidikan yang dikembangkan dan didaya gunakan dalam proses pendidikan sesuai dengan tingkat perkembangan dan kebutuhan peserta didik.

(30)

5. Pengambilan keputusan yang dilakukan oleh sekolah lebih cocok untuk memenuhi kebutuhan sekolah karena hanya pihak sekolah yang paling tahu apa yang terbaik bagi sekolahnya.

6. penggunaan sumber daya pendidikan lebih efisien dan efektif bila mana dikontrol oleh masyarakat setempat.

7. Keterlibatan semua warga sekolah dan masyarakat dalam pengambilan keputusan sekolah untuk menciptakan transparansi dan demokrasi yang sehat.

8. Sekolah dapat bertanggung jawab tentang mutu pendidikan masing-masing kepada pemerintah, orangtua peserta didik, dan masyarakat pada umumya sehingga diharapkan sekolah berupaya semaksimal mungkin melaksanakan dan mencapai sasaran mutu pendidikan yang telah direncanakan.

9. Sekolah dapat melakukan persaingan yang sehat dengan sekolah-sekolah lain untuk meningkatkan mutu pendidikan melalui upaya-upaya inovatif dengan dukungan orang tua peserta didik, masyarakat, dan pemerintah daerah setempat.

10. Sekolah dapat secara cepat merespons aspirasi masyarakat dan lingkungan yang berubah dengan cepat.(Mutohar, 2013, hal. 132-134).

Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan tujuan manajemen mutu terpadu yaitu pemberian kewenanagan dalam mengelola sekolah sesuai dengan core value yang dikembangkan oleh sekolah dan mendorong partisipasi warga sekolah dan masyarakat dalam meningkatkan mutu pendidikannya dan transparansi dan demokarasi yang sehat agar apa yang diingikan tercapai.

9. Konsep Manajemen Mutu Terpadu

Stuktur organisasi sekolah mampu melancarkan proses pengelolan mutu secara menyeluruh dan kondusi bagi perbaikan kualitas.

a. Struktur organisasi sekolah mampu mengutamakan kerja sama yang solid secara tim kerja.

b. Struktur organisasi sekolah mampu mengurangi fungsi kontrol yang tidak perlu.

c. Struktur organisasi sekolah mampu mereduksi pekerja-pekerja yang dilakukan secara tumpang-tindih akibat kesalahan struktur kerja.

(31)

d. Struktur organisai sekolah mampu membentuk tim yang stuktur dengan sistem manajemen yang sederhana.

e. Struktur organisasi sekolah mampu mengupayakan agar semua anggota tim memahami visi lembaga.

f. Struktur organisasi sekolah mampu mengupayakan agar semua anggota tim mampu memahami potensi lembaga.

g. Struktur organisasi sekolah mampu mengupayakan agar keseluruhan proses kerja berada dibawah satu komando yang hubungan kerja sederhana.

h. Struktur organisasi sekolah mampu melakukan penilaian untuk menentukan keberhasilan kerja sebah sekolah.

Dari penjelasan diatas penulis simpulkan dalam manajemen mutu terpadu harus ada konsep yang mana konsep manajemen mutu terpadu ini bisa mendeskripsikan struktur organisasi disekolah agar lebih mudah untuk mengetahui kinerjanya masing-masing tim dan biasa memahami visi misi lembaga itu sendiri.

10. Manajemen Mutu Terpadu di Sekolah

Manajemen mutu terpadu yang terjemah dari total quality management adalah suatu pendekatan mutu pendidikan melalui peningkatan mutu komponen terkait. M. Jusuf Hafiah mendefinsikan pengelolaan mutu. Adapun yang dimaksud dengan pengelolan mutu total pendidikan tinggi adalah cara menglola lembaga pendidikan berdasarkan filosofi bahwa meningkatakan mutu harus diadakan dan dilakukan oleh semua unsur lembaga sejak dini secara terpadu berkesinambungan sehingga pendidikan sebagai jelas yang berupa proses pembudayan sesuai. Dan terdapat komponen yang terkait dengan mutu pendidikan yang termuat dalam buku panduaan manajemen sekolah sebagai berikut:

a. Siswa: kesiapan dan motivasi belajarnya.

b. Guru : kamampuan profesional, moral kerjanya.

c. Kurikulum: relevansi konten dan operasionalisasi proses pembelajaran.

d. Sarana dan prasarana: kecukupan dan keefektifan dlama mendukung proses pembelajaran.

(32)

e. Masyarakat: (orangtua, pengguna lulusan dan perguruan tinggi) partisipasinya dalam pengembangan program-program pendidikan sekolah (dakir, 2016, hal. 105-106).

Sehingga pada tataran ini disekolah dalam me-menagepola organisasi dalam meningkatkan mutu pendidikan minimal delapan prinsip yang harus diterjemahkan dalam tataran paraksis anajerial sekolah yaitu:

1. Fokus pada pelanggan

Organisasi bergantungan pada pelanggan, oleh karenanya organisasi harus memahami kebutuhan masa kini dan masa mendatang dari pelanggannya, serta harus memenuhi dan berusaha melampaui harapan pelanggan. Kemampuan menarik perhatian, melayani dan memelihara pelanggan adalah tujuan tertinggi dari sekolah. Tanpa fokus dan keterlibatan pelanggan, tujuan manajemen mutu tidak berarti.

Organisasi yang berfokus pada orientasi pelayanan sebagai perangkat utama dalam melaksanakan misinya.

2. Kepemimpinan

Pemimpin menetapkan kesatuan tujuan dan arah organisasi . pemimpin puncak perlu menyusun visi sekolah dengan jelas dan dilengkapi dengan sasaran dan tujuan yang konsisten dan didukung pula dengan perencanaan taktis dan strategis.

3. Pelibatan anggota

Anggota pada semua tingkatan merupakan inti suatu organisasi, dan pelibatan penuh mereka memungkinkan kemampuan dipakai untuk memanfaat organisasi. Para karyawan harus melibatkan pada setiap proses untuk menyusun arah dan tujuan serta peralatan yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan mutu.

4. Pendekatan proses

Pendekatan proses ialah suatu pendekatan untuk perencanaan, pengendalian dan peningkatan proses- proses utama dalam sekolah (trilogi proses mutu). Dengan menekankan pada keinginan pelanggan dari pada keinginan fungsional. Orientasi proses ini memerlukan perubahan yang cukup signifikan, karena banyak manajemen yang berlebih berorintasi pada produk dari pada proses.

(33)

5. Pendekatan sistem pada manajemen

Sistem didefinisikan sebagai kumpulan dari berbagai bagian/komponen yang satu sama lain saling berhubungan dan saling tergantung untuk menuju tujuan. Pendekatan sistem memandangan suatu organisasi secara keseluruhan dari pada bagian-bagian, yang di ekspresikan sebagai holistik.

6. Perbaikan berkesinambungan

Perbaikan berkesinambungan berkaitan dengan komitmen ( continuous quality improvement atau CQI) dan proses (continuous process improvement). Komitmen terhadap kualitas dimulai dengan pertanyaan dedikasi pada misi dan visi bersama, serta pemberdayaan semua partisipasi untuk secara inkrmental mewujudkan visi tersebut.

7. Pendekatan fakta pada pengambilan keputusan

Keputusan yang efektif didasarkan pada analisis data dan informasi. Pengambilan keputusan yang dilakukan berdasarkan pendapat atau informasi. Manajemen hendaknya membangun kebiasan mengunakan fakta hasil analisis sebelum melakukan pengambilan keputusan.

8. Hubungan yang saling menguntungkan dengan pemasok

Hubungan anatra sekolah dan pemasoknya (masyarakat) yang saling bergantungan dan saling menguntungkan akan meningkatkan kemampuan keduanya untuk menciptakan.

(34)

Skema kualitas dalam manajemen mutu terpadu dalam pendidikan sebagai berikut:

11. Keberhasilan Manajemen Mutu Terpadu

Tolak ukur keberhasilan manajemen mutu terpadu pada bidang pendidikan tidaklah mudah, berbeda dengan organisasi profil yang diukuHr dan keberhasilan yang dapat diukur dari keberhasilan memasarkan produknya pada konsumen, yang diartikan dengan mampu merebut konsumen lebih baik persaingan memproduksi barang atau jasa yang sama atau sejenisnya.

Sedangakan keberhasilan manajemen mutu terpadu pada bidang pendidikan diukur dari banyaknya angggota masyarakat yang merasa puas atau sebaliknya

Komitmen Pada Kualitas

Perbaikan Kualitas Secara Berkelanjutan

Sumber-Sumber Kualiatas

Fungsi-Fungsi Manajemen :Perencanan, Perorganisasian, Pelaksanan, Penganggaran, Kontrol

Pelaksanaan Pekerjaan Secara Berkualitas

Hasil: Pelayanan Umum Dan Pembangunan Fisik/Nonfisik Memuaskan Masyarakat

TQM

(35)

semakin berkurang atau tidak ada keluhan masyarakat pada proses pemberian pelayanan dari hasil pembangunan fisik dan non fisik.

Bertolak dari urain diatas, bagi oraganisasi pendidikan adaptasi manajemen mutu terpadu dikatakan sukses, jika menunjukan gejala-gejala sebagai berikut:

1. Tingkat konsistensi produk dalam memberikan pelayanann umum dan pelaksanaan pembangunan terus meningkat.

Konsep manajemen mutu terpadu menekankan pada pencarian secara konsisten terhadap perbaikan yang berkelanjutan untuk mencapai kebutuhan dan kepuasan pelanggan. Oleh karena itu lembaga pendidikan harus melaksanakan tugas pokok dalam memberikan pelayanan umum dan pelaksanan pembangunan diantaranya:

a. Memperhatikan kebutuahn dan harapan masyarakat.

b. kenyamanan dan penanaganan keluhan yang memuaskan.

c. sarana dan prasarana yang dibangun memenuhi semua persyaratan dan berfungsi dengan baik dalam memenuhi kebutuhan masyarakat sebagai pelanggan pendidikan.

2. Kekeliruan dalam bekerja yang berdampak menimbulkan ketidak puas dan komplein masyarakat yang dilayani semakin berkurang. Dalam manajemen mutu terpadu pelanggan benar-benar dilindungi agar mereka merasa puas dengan pelayanan yang diberikan. Semua perangakat sekolah harus benar- benar memiliki kultur pelayaan terbaik terhadap siswa dan orang tua siswa, sehingga mereka puas tidak hanya diatur setelah putri-putranya lulus, tetapi sejak awal mereka masuk kehalaman sekolah.

3. Disiplin waktu dan disiplin kerja semakin meningkat

Organisasi yang baik berupaya menciptkan peraturan atau tata tertib yang akan menjadi rambu-rambu yang harus dipenuhi oleh seluruh pegawai dalam organisasi, karena disiplin merupakan faktor penting yang mempunyai peranan untuk membentuk seseorang mempunyai tanggung jawab dalam menjalankan kewajibannya, peraturan –peraturan yang berkaitan dengan disiplin antara lain:

a. Peraturan jam kerja.

b. Peraturan dasar tentang berpakaian,bertingkah laku daalm pekerjaan.

(36)

c. Peraturan cara-cara melakukan pekerjaan dan berhubungan dengan unit kerja lain..

4. Inventaris aset organisasi semakin sempurna, terkendalian dan tidak berkurang/hilang tanpa diketahui sebab-sebabnya.

5. Inventaris aset organisasai adalah pencacatan atau pendaftaran aset berupa barang- barang sekolah ke dalam suatu daftar invenatris barang secara tertib dan teratur menurut katentuan dan atas cara yang berlaku. Kegiatan inventarisasi meliputi kegiatan, yaitu:

a. Kegiatan yang berhubungan dengan pencatatan dan pembuatan kode barang.

b. Kegiatan yang berhubungan dengan pembuatan laporan.

6. Kontrol berlangsung efektifitas terutama dari atasan langsung mulai pegawasan melekat. Pegawasan melekat merupakan proses pemantauan, pemeriksaan dan evaluasi oleh pimpinan organisasi kerja terhadap semua fungsi komponen dalam melaksanakan pekerjaan dilingkungan suatu organisasi pendidikan.

7. Pemborosan dana dan waktu bekerja dapat dicegah

Dalam organisasi pendidikan pemborosan dana dan waktu dapat dicegah dengan memiliki rencana kegiatan dan anggaran sekolah yang jelas dan akurat sehingga dapatt memperhitungkan keseimbangannya dan penetapan prioritas sesuai kemampuan penyedian dananya.

8. Peningkatan keterampilan dan keahlian dalam bekerja terus dilaksanakan Peningkatan keterampilan dan keahlian dalam bekerja dapat dilaksanakan dengan mengekuti workshop,pelatihan komputer baik tingakat sekolah, kabupaten maupun provinsi.

12. Ciri-ciri Sekolah Yang Bermutu

Mutu itu relatif, ukuranya adalah tercapainya kebutuhan, keinginan, dan harapan pengguna. Untuk juga dapat dilihat dari kapasitas atau daya terap hasil karya atau memperoleh belajar. Mutu sering kali juga tidak menggambarkan sosok institusi secara keseluruhan. Sebuah universitas, misalnya ada kalanaya hanya bermutu untuk beberapa didan studi. Demikian juga SMA, adakalanya hanya bermutu untuk beberapa mata pelajaran. Pendapat Edward Salis (1993) berikut ini diharapkan pendapat gambaran ciri –ciri mengenai sekolah bermutu:

(37)

a) Berfokus pada pelanggan, baik pelanggan internal maupun eksternal. Pada sekolah yang bermutu totalitas perilaku staf, tenaga akademik, dan pemimpinan melakukan tugas pokok dan fungsi untuk memenuhi kebutuhan pelanggan menurut Wdward Salis (1993) pelanggan jasa pendidikan umumnya dan sekolah khususnya adalah semua pihak yang memerlukan, terlibat di dalam, dan berkepentingan terhadap jasa pendidikan itu. Pelanggan sekolah itu terdiri dari tiga komponen utama.

Pertama, pelangggan primer, yaitu siswa atau pihak-pihak yang menerima jasa pendidikan secara langsung. Kedua, pelanggan sekuder, yaitu pihak-pihak yang berkepentingan terhadapa mutu jasa pendidikan. Termasuk kategori pelanggan sekunder ini antara lain adalah orang tua siswa, instansi atau penyandang dana/beasiaswa, pemerintah yang menangung biaya pendidikan, pengelola pendidikan pada lembaga pendidikan yang bersangkutan, tenaga akademik dan tenaga administratif sekolah. Ketiga, pelanggan tersebut yaitu pelanggan yang tidak terkait langsung dengan pelanggan pendidikan, tetapi berkepentingan terhadap mutu jasa layanan kependidikan itu, karena mereka memanfaatkan hasil jasa layanan. Termasuk dalam kategori pelanggan tersier ini adalah masyarakat, dunia usaha dan pemerintah.

Disamping tiga kategori pelanggan diatas, pelanggan sekolah dapat dibedakan atas dasar status mereka sebaga pengelolana pendidikan atau bukan.

Dari persepektif ini, pelanggan internal, yaitu pengelolaan pendidikan yang bersifat cendurung permanen, yaitu terdiri dari : (1). Pimpinan lembaga Yaitu kepala sekolah dan pembantunya.(2). Tenaga akademik kependidikan atau guru.(3). Tenaga administratif kependidikan.

Yang kedua pelanggan ekternal, yaitu pihak- pihak yang berkepentingan terhadap jasa layanan sekolah, akan tetapi sifatnya tentatif.

Termasuk kategori pelanggan ekternal ini adalah siswa reguler dan non reguler, orang tua atau wali siswa, masyarakat, dunia usaha, dan pemerintah.

b) Berfokus pada upaya untuk mencegah masalah- masalah yang muncul, dalam makna ada komitmen untuk bekerja secara benar dari awal.

c) Invertasi pada sumber daya manusianya, yang komitmennya perlu terus dijaga jangan sampai mengalami “kerusakan” kareana” kerusakan psikologis” amat sulit memperbaikinya.

(38)

d) Memiliki strategi untuk mencapai kualiatas, baik tingkat pimpinan, tenaga akademik, maupun tenaga administratif.

e) Mengelola atau memperlukan keluhan sebagai umpan balik untuk mencapai kualitas dan memposisikan kesalahan sebagai intrumen untuk berbuat benar pada kerja berikutnya.

f) memiliki kebijakan dalam perencanann untuk mencapi kualitas, baik perencanann jangka pendek, jangka menengah, maupun jangka panjang.

g) Mengupayakan proses perbaikan dengan melibatkan semua orang sesuai dengan tugas pokok , fungsi dan tanggung jawabnya.

h) Mendorong orang yang dipandang memiliki kreativitas dan mampu menciptakan kualitas, serta merangsang yang lainnya agar dapat bekerja secara berkualitas.

i) Memperjelaskan dan tangung jawab setiap orang, termasuk kejelasan arah kerja secara vertikal dan horizontal.

j) Memiliki strategi dan kriteria evaluasi yang jelas.

k) Memandang atau menempatkan kualitas yang telah dicapai sebagai jalan untuk memperbaiki kualitas layanan lebih lanjut.

l) Memandang kualitas sebagai bagian integral dari budaya kerja.

m) Menempatkan peningkatan kualitas secara terus menerus sebagai suatu keharusan.(Danim, 2012, hal. 146-148).

Berdasarkan uraian diatas dapat simpulkan ciri-ciri sekolah yang bermutu yaitu dilihat dari pelanggan, baik pelanggan internal maupun eksternal supaya tidak ada masalah-masalah yang muncul, dan segala sesuatu yang ada dalam organisasi itu baik itu sarana maupun prasarana harus di inventariskan maka dikatakan lah sekolah yang bermutu.

13. Tantangan Manajemen Mutu Terpadu a. Dimensi kualitas

Sebagai salah satu bentuk jasa yang melibatkan interaksi yang tinggi antara penyedia dan pemakai jasa, terdapat dalam dimensi pokok yang menentukan kualitas penyelenggaraan pendidikan yaitu:

1. Keandalan yaitu memberikan pelayanan yang berjanjikan secara tepat waktu,akurat dan memuaskan. Contohnya pengembangan bahan pembelajaran sesuai dengan kebutuhan (misalnya tuntutan keterampilan

(39)

profesi dan dunia kerja) jadwal kegiatan pembelajaran dan ujian yang akurat, pembelajaran yang berlangsung lancar, dan bimbingan lancar dan cepat.

2. Daya tangkap yaitu kemauan para tenaga kependidikan untuk membantu para peserta didik dan memberikan pelayanan dengan tanggap.

3. Jaminan mencakup pengetahuan, kompetensi,kesopanan, respek terhadap pelanggan, dan sifat dapat dipercaya yang dimiliki para tenaga kependidikan: bebas dari bahaya, resiko atau keraguan-raguan.

4. Empati, meliputi kemudahan dalam melakukan hubungan, komunikasi yang baik, perhatian pribadi, dan memahami kebutuhan para pelanggan.

Misalnya, guru mengenal nama para peserta didik yang menempuh mata pelajaran yang dia ajar.

5. Bukti langsung, meliputi fasilitas fisik, perlengakapan , tenaga kependidikan, dan sarana komunikasi, misalnya berupa gedung, fasilitas komputer, falitas perpustaka, ruang kelas dan lain-lainya.

b. Fokus pada pelanggan

Kepuasan pelanggan merupakan faktor penting dalam tqm. Oleh sebab itu, indentifikas pelanggan pendidikan dan kebutuhan mereka merupakan aspek krusial. Ivancevich menyatakan bahwa langkah pertama dalam menerapakan manajemen mutu terpadu adalah memandang peserta didik sebagai pelanggan yang harus dilayani. Pandangan ini dikenal secara luas, tetapi tidak diterima universal.

c. Kepemimpinan

Dalam konteks manajemen mutu terpadu, kepala sekolah perlu memiliki karaktersitik pribadi yang mencakup: dorongan, motivasi untuk memimpin, kejujuran integritas, kepercayaan diri, inisiatif, kreativitas kemampuan kognitif, pengetahuan bisnis, dan kharisma. Kualiatas kepala sekolah tersebut daapt memberikan inspirasi pada semua jajaran manajemen agar memperagakan kualitas kepemimpinan yang sama diperlukan untuk mengembangkan budaya manajemen mutu terpadu.

d. Perbaikan berkesinambungan

Perbaikan berkesinambungan berkaitan dengan kualitas dan proses.

Komitmen terhadap kualitas dimulai dengan pernyataan dedikasi pada misi

(40)

dan visi bersama, serata pemberdaayan semua tenaga kependidikan untuk mewujudkan visi sekolah.

e. Manajemen SDM

Selain merupakan modal yang paling vital, SDM juga merupakan pelanggan internal yang menentukan kualitas akhir suatu produk dan organisasi. Oleh sebab itu, sukses tidaknya implementasi TQM di sekolah sangat ditentukan oleh kesiapan, kesediaan, dan kompetensi kepala sekolah dan tenaga pendidikan disekolah yang bersangkutan untuk sungguh- merealisasikannya.

f. Manajemen berdasar fakta

Pengambilan keputusan harus didasarkan pada fakta nyata tentang kualitas yang didapatkan dari beragam sumber di seluruh jajaran organisasi.

Jadi, tidak semata atas dasar intuisi, praduga, atau organisasi politik. Berbagi alat perlu dirancang fungsi dikembangkan untuk mendukung pengumpulan dan analisi data, serta pengambilan keputusan berdasarkan fakta. (Mulyasa, 2003, hal. 224-233).

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwasannya manajemen mutu terpadu juga memiliki tantangan salah satu tantangannya yaitu memiliki dimensi kualitas, yang mana kita harus melihat kualitas yang akan masuk kedalam sebuah organisasi yang akan masuk kedalam organisasi kita supaya tidak ada permasalahannya.

14. Elemen –Elemen Pendukung Manajemen Mutu Terpadu

Menurut Goetch dan Davis (1994-93) untuk mendukung penerpan manajemen mutu terpadu tersebut terdapat sepuluh elemen-elenmen pendukung yang harus diperhatikan perusahaan.

1). Fokus pada pelanggan

Dalam oerganisasai manajemen mutu terpadu, konsumen internal dan konsumen ekternal merupakan kekuatan pendorong Aktifitas organisasi.

Konsumen ekternal menentukan kualitas produk yang mereka terima, sedangkan konsumen internal berperan dalam menentukan kualitas SDM, proses dan lingkungan yang berhubungan dengan produk yang dihasilkan.

(41)

2). Obsesi terhadap kualitas

Obsesi untuk memenuhi atau melebihi kualitas yang telah di tentukan konsumen, dengan melibatkan aktif semua pihak yang teribat.

3). Pendekatan ilmiah

Segala aktivitas organisasi manajemen mutu terpadu terutama menyangkut desain, pekerjaan, proses pengambilan keputusan, dan pemecahan harus didasarkan pada kaidah ilmiah yang bisa di pertanggung jawabkan dan terima semua pihak yang terlibat.

4). Komitmen jangka panjang

Komitmen jangka panjang dari seluruh elemen organisasi sangat diperlukan untuk mengadakan perubahan budaya agar penerapan manajemen mutu terpadu bisa berjalan baik. Manajemen puncak merupakan pendorong proses pengembangan kualitas, penciptaan nilai, tujuan dan sistem.

5). Kerja sama tim

Dalam organisasi manajemen mutu terpadu keberhasilan hanya akan dicapai jika ada kerja sama antar elemen internal organisasi maupun dengan pihak ekternal organisasi.

6). Pendidikan dan latihan

Dalam persaingan global yang diwarnai berbagai perubahan, kualitas total hanya bisa di capai jika para pekerja memiliki keahlian dan ketermpilan yang tinggi. Pelatihan yang diberikan harus merupakan pelatihan yang bersifat dinamis, fleksibel dan bisa mendorong kreativitas pekerja.

7). Kebebasan yang terkendali

Dalam organisasi manajemen mutu terpadu para pekerja diberi kesempatan luas untuk turu serta dalam proses pengambilan keputusan dan pemecahan masalah.

8). Perbaikan sistem secara berkesinambungan

Setiap produk yang dihasilakan organisasi selalu melalui tahapan/ proses tertentu didalam suatu sistem lingkungan, oleh karena itu sistem yang ada perlu terus di perbaikan agar selalu mendukung upaya pencapaian kualitas.

9). Kesatuan tujuan

Segala aktifitas seluruh elemen organisasi manajemen mutu terpadu harus mengarah pada satu tujuan yang sama. Akan tetapi kesatuan tujuan ini bukan

Referensi

Dokumen terkait

Manajemen Mutu Terpadu adalah system Manajemen yang menempatkan kualitas sebagai strategi untuk meningktkan kinerja petugas dengan melibatkan setiap fungsi dan anggota

Manajemen Mutu Terpadu (MMT) merupakan suatu pendekatan yang dapat diterapkan dalam usaha untuk memaksimumkan daya saing organisasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui

Tujuan dari penelitian ini adalah: Untuk mendiskripsikan bagaimana implementasi nilai-nilai manajemen mutu terpadu melalui kepemimpinan kepala sekolah di SD

STRUKTUR ORGANISASI MANAJEMEN MUTU ISO 9001 – 2008 DI LINGKUNGAN BIRO PERENCANAAN BADAN METEOROLOGI, KLIMATOLOGI, DAN GEOFISIKA.

Abstrak : Integrated Quality Management Program ( IQMP ) berdasarkan konsepsi Hazard Analysis Control Point ( HACCP ) adalah suatu Program Manajemen Mutu Terpadu (PMMT)

Hasil dari observasi ditemukan penerapan Manajemen Mutu Terpadu di PKBM Intan Bandung sebagai berikut: terbangunnya komunikasi yang baik dengan berbagai pihak PKBM Intan

Kesimpulan Dari penelitian ini penulis menarik kesimpulan bahwa prinsip manajemen mutu terpadu ialah sebagai berikut: 1 fokus pada pelanggan artinya bahwa dilembaga pendidikan harus

Dokumen ini membahas tentang Pengendalian Mutu Terpadu (TQM) yang merupakan pendekatan komprehensif untuk manajemen mutu yang melibatkan semua anggota organisasi untuk terus-menerus meningkatkan kualitas produk dan