• Tidak ada hasil yang ditemukan

WALIKOTA BATAM PROPINSI KEPULAUAN RIAU

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "WALIKOTA BATAM PROPINSI KEPULAUAN RIAU"

Copied!
69
0
0

Teks penuh

(1)

WALIKOTA BATAM PROPINSI KEPULAUAN RIAU PERATURAN WALIKOTA BATAM

NOMOR 59 TAHUN 2019 TENTANG

PERUBAHAN ATAS PERATURAN WALIKOTA BATAM NOMOR 69 TAHUN 2017 TENTANG KEBIJAKAN AKUNTANSI PEMERINTAH KOTA BATAM

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA BATAM,

Menimbang : a. bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 9 Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 108 Tahun 2016 tentang Penggolongan dan Kodefikasi Barang Milik Daerah, disebutkan bahwa penggolongan kodefikasi Barang Milik Daerah dilakukan paling lambat 3 (tiga) tahun sejak Peraturan Menteri ini diundangkan;

b. bahwa Pemerintah Kota Batam telah menetapkan Peraturan Walikota Batam Nomor 69 Tahun 2017 tentang Kebijakan Akuntansi Pemerintah Kota Batam yang memuat antara lain umur ekonomis atau masa manfaat aset tetap sebagaimana tercantum dalam Lampiran III.1 Kebijakan Akuntansi Akun Aset;

c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf a dan huruf b, maka perlu menetapkan Peraturan Walikota tentang Perubahan atas Peraturan Walikota Batam Nomor 69 Tahun 2017 tentang Kebijakan Akuntansi Pemerintah Kota Batam;

Mengingat : 1. Pasal 18 ayat (6) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;

2. Undang-Undang Nomor 53 Tahun 1999 tentang

Pembentukan Kabupaten Pelalawan, Kabupaten

Rokan Hulu, Kabupaten Rokan Hilir, Kabupaten Siak,

Kabupaten Karimun, Kabupaten Natuna, Kabupaten

Kuantan Singingi dan Kota Batam (Lembaran Negara

Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 151,

Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia

Nomor 3902), sebagaimana telah diubah beberapa

kali terakhir dengan Undang-Undang Nomor 34

Tahun 2008 tentang Perubahan Ketiga Atas Undang-

Undang tentang Pembentukan Kabupaten Pelalawan,

Kabupaten Rokan Hulu, Kabupaten Rokan Hilir,

Kabupaten Siak, Kabupaten Karimun, Kabupaten

Natuna, Kabupaten Kuantan Singingi dan Kota Batam

(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008

SALINAN

(2)

Nomor 107, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4880);

3. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia tahun 2014 Nomor 244, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5587) sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2015 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 58 Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia 5679);

4. Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 5165, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5165);

5. Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 2019 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2019 Nomor 42 Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6322);

6. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 64 Tahun 2013 tentang Penerapan Standar Akuntansi Pemerintahan Berbasis Akrual Pada Pemerintah Daerah (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2013 Nomor 1425);

7. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 108 Tahun 2016 tentang Penggolongan dan Kodefikasi Barang Milik Daerah (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2016 Nomor 2083);

8. Peraturan Daerah Kota Batam Nomor 3 Tahun 2015 tentang Pokok-Pokok Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran Daerah Kota Batam Tahun 2015 Nomor 3, Tambahan Lembaran Daerah Kota Batam Nomor 100);

MEMUTUSKAN:

Menetapkan : PERATURAN WALIKOTA TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN WALIKOTA BATAM NOMOR 69 TAHUN 2017 TENTANG KEBIJAKAN AKUNTANSI PEMERINTAH KOTA BATAM.

PASAL 1

Peraturan Walikota Batam Nomor 69 Tahun 2017

tentang Kebijakan Akuntansi Pemerintah Kota Batam

(Berita Daerah Kota Batam Tahun 2017 Nomor 577)

diubah sebagai berikut:

(3)

1. Ketentuan Lampiran III.1 diubah sebagaimana tercantum dalam Lampiran Peraturan Walikota ini.

2. Ketentuan sebagaimana dimaksud pada angka 1 berlaku untuk penyusunan Laporan Keuangan Pemerintah Kota Batam Tahun 2019 dan selanjutnya.

Pasal II

Peraturan Walikota ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.

Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Walikota ini dengan menempatkannya dalam Berita Daerah Kota Batam.

Ditetapkan di Batam

pada tanggal 31 Desember 2019 WALIKOTABATAM,

dto

MUHAMMAD RUDI Diundangkan di Batam

pada tanggal 31 Desember 2019

SEKRETARIS DAERAH KOTA BATAM, dto

JEFRIDIN

BERITA DAERAH KOTA BATAM TAHUN 2019 NOMOR 708

Salinan sesuai dengan aslinya An. Sekretaris Daerah Kota Batam

Ub

Plh Kepala Bagian Hukum

Kasubbag Peraturan Perundang-undangan

SUTJAHJO HARI MURTI, S.Sos, SH

Penata TK I NIP. 19740723 200212 1 005

(4)

LAMPIRAN : PERATURAN WALIKOTA BATAM NOMOR : 59 TAHUN 2019

TENTANG : KEBIJAKAN AKUNTANSI PEMERINTAH KOTA BATAM

KEBIJAKAN AKUNTANSI AKUN ASET A. DEFINISI

Dalam Kebijakan Akuntansi Akun Aset, istilah-istilah yang digunakan didefinisikan seperti berikut:

1. Biaya investasi adalah seluruh biaya yang dikeluarkan oleh entitas investor dalam perolehan suatu investasi misalnya komisi broker, jasa bank, biaya legal dan pungutan lainnya dari pasar modal.

2. Investasi jangka pendek adalah Investasi yang dapat segera dicairkan dan dimaksudkan untuk dimiliki selama 12 (dua belas) bulan atau kurang.

3. Investasi jangka panjang adalah Investasi yang dimaksudkan untuk dimiliki lebih dari 12 (dua belas) bulan.

4. Investasi permanen adalah Investasi jangka panjang yang dimaksudkan untuk dimiliki secara berkelanjutan.

5. Investasi nonpermanen adalah Investasi jangka panjang yang tidak termasuk dalam investasi permanen.

6. Manfaat sosial adalah Manfaat yang tidak dapat diukur langsung dengan satuan uang namun berpengaruh pada peningkatan pelayanan pemerintah pada masyarakat luas maupun golongan masyarakat tertentu.

7. Metode biaya adalah Suatu metode akuntansi yang mencatat nilai investasi berdasarkan harga perolehan.

8. Metode Ekuitas adalah Suatu metode akuntansi yang mencatat nilai investasi awal berdasarkan harga perolehan. Nilai investasi tersebut kemudian disesuaikan dengan perubahan bagian investor atas kekayaan bersih/ekuitas dari badan usaha penerima investasi (investee) yang terjadi sesudah perolehan awal investasi.

9. Nilai historis adalah Jumlah kas atau ekuivalen kas yang dibayarkan/dikeluarkan atau nilai wajar berdasarkan pertimbangan tertentu untuk mendapatkan suatu aset investasi pada saat perolehannya.

10. Nilai nominal adalah Nilai yang tertera dalam surat berharga seperti nilai yang tertera dalam lembar saham dan obligasi.

11. Nilai Pasar adalah Jumlah yang dapat diperoleh dari penjualan suatu investasi dalam pasar yang aktif antara pihak-pihak yang independen.

12. Perusahaan Daerah adalah Badan usaha yang seluruh atau sebagian modalnya dimiliki oleh Pemerintah Kota Batam.

13. Biaya perolehan adalah Jumlah kas atau setara kas yang

dibayarkan atau nilai wajar imbalan lain yang diberikan untuk

memperoleh suatu aset pada saat perolehan atau konstruksi

sampai dengan aset tersebut dalam kondisi dan tempat yang siap

untuk dipergunakan.

(5)

14. Masa manfaat adalah:

a. Periode suatu aset diharapkan digunakan untuk aktivitas pemerintahan dan/atau pelayanan publik; atau

b. Jumlah produksi atau unit serupa yang diharapkan diperoleh dari aset untuk aktivitas pemerintahan dan/atau pemerintahan publik.

15. Nilai Sisa adalah Jumlah neto yang diharapkan dapat diperoleh pada akhir masa manfaat suatu aset setelah dikurangi taksiran biaya pelepasan. Nilai sisa aset sebesar Rp 0,00 (tanpa nilai residu).Nilai sisa aset sebesar Rp 0,00 (tanpa nilai residu).

16. Konstruksi dalam pengerjaan adalah Aset-aset yang sedang dalam proses pembangunan.

17. Kontrak konstruksi adalah Perikatan yang dilakukan secara khusus untuk konstruksi suatu aset atau suatu kombinasi yang berhubungan erat satu sama lain atau saling tergantung dalam hal rancangan, teknologi, dan fungsi atau tujuan atau penggunaan utama.

18. Kontraktor adalah Suatu entitas yang mengadakan kontrak untuk membangun aset atau memberikan jasa konstruksi untuk kepentingan entitas lain sesuai dengan spesifikasi yang ditetapkan dalam kontrak konstruksi.

19. Uang muka kerja Adalah jumlah yang diterima oleh kontraktor sebelum pekerjaan dilakukan dalam rangka kontrak konstruksi.

20. Klaim adalah Jumlah yang diminta kontraktor kepada pemberi kerja sebagai penggantian biaya-biaya yang tidak termasuk dalam nilai kontrak.

21. Pemberi kerja adalah Entitas yang mengadakan kontrak konstruksi dengan pihak ketiga untuk membangun atau memberikan jasa konstruksi.

22. Retensi adalah Jumlah termin (progress billing) yang belum dibayar hingga pemenuhan kondisi yang ditentukan dalam kontrak untuk pembayaran jumlah tersebut.

23. Termin (progress billing) adalah Jumlah yang ditagih untuk pekerjaan yang dilakukan dalam suatu kontrak baik yang telah dibayar ataupun yang belum dibayar oleh pemberi kerja.

B. KLASIFIKASI

Aset diklasifikasikan ke dalam:

1. Aset Lancar;dan 2. Aset Non Lancar .

Suatu aset diklasifikasikan sebagai aset lancar jika diharapkan segera dapat direalisasikan atau dimiliki untuk dipakai atau dijual dalam waktu 12 (dua belas) bulan sejak tanggal pelaporan. Aset yang tidak dapat dimasukkan dalam kriteria tersebut diklasifikasikan sebagai aset nonlancar.

Aset lancar meliputi Kas dan setara kas, investasi jangka pendek,

piutang, persediaan, beban dibayar dimuka dan bagian lancar

pinjaman. Sedangkan aset nonlancar mencakup aset yang bersifat

jangka panjang, dan aset tak berwujud yang digunakan baik langsung

(6)

maupun tidak langsung untuk kegiatan Pemerintah Kota Batam atau yang digunakan masyarakat umum. Aset nonlancar diklasifikasikan menjadi investasi jangka panjang, aset tetap, dana cadangan dan aset lainnya.

C. PENGAKUAN ASET

Aset diakui pada saat potensi manfaat ekonomi masa depan diperoleh oleh Pemerintah Kota Batam dan mempunyai nilai atau biaya yang dapat diukur dengan andal.

Aset dalam bentuk piutang atau beban dibayar dimuka diakui ketika hak klaim untuk mendapatkan arus kas masuk atau manfaat ekonomi lainnya dari entitas lain telah atau tetap masih terpenuhi, dan nilai klaim tersebut dapat diukur atau diestimasi.

Aset dalam bentuk kas yang diperoleh Pemerintah Kota Batam antara lain bersumber dari pajak, bea masuk, cukai, penerimaan bukan pajak, retribusi, pungutan hasil pemanfaatan kekayaan negara, transfer, setoran lain-lain dan penerimaan pembiayaan, seperti hasil pinjaman. Proses pemungutan setiap unsur penerimaan tersebut sangat beragam dan melibatkan banyak pihak atau instansi. Dengan demikian, titik pengakuan penerimaan kas oleh Pemerintah Kota Batam untuk mendapatkan pengakuan akuntansi memerlukan pengaturan yang lebih rinci, termasuk pengaturan mengenai batasan waktu sejak uang diterima sampai penyetorannya ke Rekening Kas Umum Daerah. Aset tidak diakui jika pengeluaran telah terjadi dan manfaat ekonominya dipandang tidak mungkin diperoleh Pemerintah Kota Batam setelah periode akuntansi berjalan.

Hal ini berarti Pemerintah Kota Batam mengakui aset dengan kriteria:

a. pada saat potensi manfaat ekonomi masa depan diperoleh oleh Pemerintah Kota Batam dan mempunyai nilai atau biaya yang dapat diukur dengan andal;dan

b. pada saat diterima atau kepemilikannya dan/atau kepenguasaannya berpindah.

D. ASET LANCAR

Suatu aset diklasifikasikan sebagai aset lancar jika diharapkan segera untuk dapat direalisasikan atau dimiliki untuk dipakai atau dijual dalam waktu 12 (dua belas) bulan sejak tanggal pelaporan.

Aset Lancar terdiri dari:

1. Kas dan setara kas;

2. Investasi Jangka Pendek;

3. Piutang Pajak/Bukan Pajak;

4. Persediaan;

5. Beban dibayar dimuka; dan

6. Beban lancar pinjaman.

(7)

1. Kas dan Setara Kas

Kas dan Setara kas adalah Uang tunai dan saldo simpanan di bank yang setiap saat dapat digunakan untuk membiayai kegiatan Pemerintah Kota Batam/investasi jangka pendek yang sangat likuid yang siap dicairkan menjadi kas serta bebas dari risiko perubahan nilai yang signifikan. Kas juga meliputi seluruh Uang yang harus dipertanggungjawabkan, Saldo simpanan di bank yang setiap saat dapat ditarik atau digunakan untuk melakukan pembayaran. Dalam pengertian kas ini juga termasuk setara kas yaitu investasi jangka pendek yang sangat likuid yang siap dicairkan menjadi kas yang mempunyai masa jatuh tempo yang pendek, yaitu 3 (tiga) bulan atau kurang dari tanggal perolehannya.

Kas terdiri dari:

a. Kas di Kas Daerah;

b. Kas di Bendahara Penerimaan; dan c. Kas di Bendahara Pengeluaran;

Setara kas terdiri dari:

a. Simpanan di bank dalam bentuk deposito kurang dari 3 (tiga) bulan;

b. Investasi jangka pendek lainnya yang sangat likuid atau kurang dari 3 (tiga) bulan.

Pengukuran Kas

Kas diukur dan dicatat sebesar nilai nominal. Nilai nominal artinya disajikan sebesar nilai rupiahnya. Apabila terdapat kas dalam bentuk valuta asing, dikonversi menjadi rupiah menggunakan kurs tengah bank sentral pada tanggal neraca.

2. Investasi Jangka Pendek

Investasi Jangka Pendek adalah investasi yang dapat segera diperjualbelikan/dicairkan, ditujukan dalam rangka manajemen kas dan beresiko rendah serta dimiliki selama kurang dari 12 (dua belas) bulan.

Investasi jangka pendek terdiri dari:

a. Deposito lebih dari 3 (tiga) bulan, kurang dari 12 (dua belas) bulan;

b. Surat Utang Negara (SUN);

c. Sertifikat Bank Indonesia (SBI); dan d. Surat Perbendaharaan Negara (SPN).

Pengakuan Investasi Jangka Pendek

Suatu pengeluaran kas atau aset dapat diakui sebagai investasi jangka pendek apabila memenuhi salah satu kriteria:

a. kemungkinan manfaat ekonomik dan manfaat sosial atau jasa

potensial di masa yang akan datang atas suatu investasi

tersebut dapat diperoleh Pemerintah Kota Batam;

(8)

b. nilai perolehan atau nilai wajar investasi dapat diukur secara memadai (reliable).

Pengeluaran untuk perolehan investasi jangka pendek merupakan reklasifikasi aset lancar dan tidak dilaporkan dalam laporan realisasi anggaran.

Pengakuan hasil Investasi

Hasil investasi yang diperoleh dari investasi jangka pendek, antara lain berupa bunga deposito, bunga obligasi dan dividen tunai (cash dividend) dicatat sebagai pendapatan.

Pengukuran Investasi Jangka Pendek

Untuk beberapa jenis investasi, terdapat pasar aktif yang dapat membentuk nilai pasar, dalam hal investasi yang demikian nilai pasar dipergunakan sebagai dasar penerapan nilai wajar.

Sedangkan untuk investasi yang tidak memiliki pasar yang aktif dapat dipergunakan nilai nominal, nilai tercatat, atau nilai wajar lainnya.

Investasi jangka pendek dalam bentuk surat berharga, misalnya saham dan obligasi jangka pendek, dicatat sebesar biaya perolehan. Biaya perolehan investasi meliputi harga transaksi investasi itu sendiri ditambah komisi perantara jual beli, jasa bank dan biaya lainnya yang timbul dalam rangka perolehan tersebut.

Apabila investasi dalam bentuk surat berharga diperoleh tanpa biaya perolehan, maka investasi dinilai berdasarkan nilai wajar investasi pada tanggal perolehannya yaitu sebesar harga pasar. Apabila tidak ada nilai wajar, biaya perolehan setara kas yang diserahkan atau nilai wajar aset lain yang diserahkan untuk memperoleh investasi tersebut.

Investasi jangka pendek dalam bentuk nonsaham, misalnya dalam bentuk deposito jangka pendek dicatat sebesar nilai nominal deposito tersebut.

Penilaian Investasi Jangka Pendek

Penilaian investasi Pemerintah Kota Batam dilakukan dengan metode biaya. Dengan menggunakan metode biaya, investasi dicatat sebesar biaya perolehan. Penghasilan atas investasi tersebut diakui sebesar bagian hasil yang diterima dan tidak mempengaruhi besarnya investasi pada badan usaha/badan hukum yang terkait.

Pelepasan dan Pemindahan Investasi Jangka Pendek

Pelepasan investasi Pemerintah Kota Batam dapat terjadi karena penjualan dan pelepasan hak karena peraturan Pemerintah Kota Batam dan lain sebagainya.

Penerimaan dari penjualan investasi jangka pendek diakui

sebagai penerimaan kas (reklasifikasi aset lancar) Pemerintah Kota

Batam dan tidak dilaporkan sebagai pendapatan dalam laporan

realisasi anggaran.

(9)

Pelepasan sebagian dari investasi tertentu yang dimiliki Pemerintah Kota Batam dinilai dengan menggunakan nilai rata-rata.

Nilai rata-rata diperoleh dengan cara membagi total nilai investasi terhadap jumlah saham yang dimiliki oleh Pemerintah Kota Batam.

Pemindahan pos investasi dapat berupa reklasifikasi investasi permanen menjadi investasi jangka pendek, aset tetap, aset lain-lain dan sebaliknya.

3. Piutang

Piutang adalah jumlah uang yang wajib dibayar kepada Pemerintah Kota Batam dan/atau hak Pemerintah Kota Batam yang dapat dinilai dengan uang sebagai akibat perjanjian atau akibat lainnya berdasarkan peraturan perundang-undangan atau akibat lainnya yang sah.

Piutang antara lain terdiri dari:

a. Piutang Pajak;

b. Piutang Retribusi;

c. Pemberian Pinjaman kepada pemda/institusi lainnya; dan d. Piutang Lain-Lain.

Piutang Lain-lain terdiri dari:

a. Piutang Denda;

b. Piutang Bagian Lancar Penjualan Angsuran;

c. Piutang Ganti Rugi atas Kekayaan Daerah;

d. Piutang Hasil Penjualan Barang Milik Daerah;

e. Piutang Dividen;

f. Piutang Bagi Hasil Laba Usaha Perusahaan Daerah;

g. Piutang Fasilitas Sosial dan Fasilitas Umum;

h. Piutang Bagi Hasil Pajak/Bukan Pajak;

Pengakuan Piutang

Secara garis besar, pengakuan piutang terjadi pada saat

penerbitan Surat Ketetapan tentang Piutang. Untuk Piutang Pajak

diakui saat diterbikannya Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar,

sedangkan untuk Piutang Retribusi diakui saat diterbikannya Surat

Ketetapan Retribusi Daerah. Untuk periode berikutnya, perlakuan

untuk Piutang Pajak dan atau Piutang Retribusi melalui mekanisme

transaksi antar elemen aktiva lancar yaitu akun kas dan akun

piutang.Perlakuan untuk piutang dari pemberian pinjaman kepada

Pemda/institusi lain diakui pada saat terjadinya, untuk periode

berikutnya melalui mekanisme pembiayaan. Perlakuan untuk

piutang lain-lain diakui pada saat terjadinya, untuk periode

berikutnya melalui mekanisme transaksi antar elemen aktiva lancar

yaitu akun kas dan akun piutang.

(10)

Pengukuran Piutang

Piutang dicatat sebesar nilai nominal, yaitu sebesar nilai rupiah piutang yang belum dilunasi.

Penilaian Piutang

Piutang disajikan sebesar nilai bersih yang dapat direalisasikan (net realizable value).

Piutang Tak Tertagih

Mengacu kepada kebijakan akuntansi tentang penilaian dan penyajian piutang yang mengharuskan piutang disajikan sebesar nilai bersih yang dapat direalisasikan (net realizable value), maka dalam penilaian piutang di laporan keuangan harus dikurangkan dengan nilai cadangan piutang tak tertagih (allowance for doubtful account).

Perhitungan cadangan kerugian piutang dapat dilakukan dengan metode umur piutang (aging method) atau penggolongan kualitas piutang atau persentase tertentu dari total saldo piutang yang ada.

Dengan metode umur piutang, maka yang menjadi dasar perhitungan adalah saldo Surat Ketetapan Pajak/Retribusi Daerah (SKP-D/SKR-D) yang belum dibayar oleh wajib pajak. Kemudian (SKP-D/SKR-D) tersebut diurutkan menurut jatuh temponya.

Dengan metode persentase tertentu dari total saldo piutang yang ada, Pemerintah Kota Batam menentukan persentase meneliti jatuh tempo umur piutang dan cadangan piutang tak tertagih sebagai berikut:

1. Piutang Pajak

Umur Piutang Penggolongan

Kualitas Penyisihan Kerugian Piutang

0– 1 tahun Kualitas Lancar 0,5%

1 – 2 tahun Kualitas Kurang

Lancar 10%

3 – 5 tahun Kualitas Diragukan 50%

Lebih dari 5 tahun Kualitas Macet 100%

2. Piutang Retribusi dn Piutang Lainnya

Umur Piutang Penggolongan Kualitas Penyisihan Kerugian Piutang

0 bulan – 1 bulan Kualitas Lancar 0,5%

1 bulan – 3 bulan Kualitas Kurang Lancar 10%

3 bulan – 12 bulan Kualitas Diragukan 50%

Lebih dari 12 bulan Kualitas Macet 100%

(11)

Penghapusan Piutang

Berikut ini adalah ketentuan tentang penghapusan piutang:

a. Piutang Daerah dapat dihapuskan secara bersyarat atau mutlak pembukuan Pemerintah Kota Batam, kecuali mengenai piutang daerah yang cara penyelesaiannya diatur tersendiri dalam undang- undang;

b. Penghapusan secara bersyarat dilakukan dengan menghapuskan piutang daerah dari pembukuan Pemerintah Kota Batam tanpa menghapuskan hak tagih daerah;

c. Penghapusan secara mutlak dilakukan dengan menghapuskan hak tagih negara/daerah;

d. Penghapusan piutang hanya dapat dilakukan setelah piutang daerah di urus secara optimal oleh instansi Pemerintah Kota Batam dan penyelesaiannya tidak mungkin lagi maka diserahkan kepada PUPN (Panitia Urusan Piutang Negara);

e. PSBDT (Piutang Sementara Belum Dapat Ditagih) ditetapkan dalam hal masih terdapat sisa piutang namun:

1. Penanggung utang tidak mempunyai kemampuan untuk menyelesaikannya;

2. Barang jaminan tidak ada, telah dicairkan, tidak lagi mempunyai nilai ekonomis atau bermasalah yang sulit di selesaikan.

f. Penghapusan secara bersyarat dan mutlak, sepanjang menyangkut piutang daerah ditetapkan oleh :

1. Walikota untuk jumlah sampai dengan Rp. 5.000.000.000,-

2. Walikota dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah untuk jumlah lebih dari Rp. 5.000.000.000,-.

g. Dalam hal piutang daerah dalam satuan mata uang asing, nilai piutang yang dihapuskan secara bersyarat dan mutlak adalah nilai yang setara dengan nilai pada point “f“ dengan kurs tengah Bank Indonesia yang berlaku pada 3 hari sebelum tanggal surat pengajuan usul penghapusan oleh pejabat pengelola keuangan daerah.

h. Piutang Daerah yang akan dihapuskan secara bersyarat dan mutlak diusulkan oleh pejabat pengelola keuangan daerah kepada Walikota setelah mendapat pertimbangan dari Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Piutang dan Lelang Negara yang wilayah kerjanya meliputi wilayah kerja Walikota yang bersangkutan.

i. Penghapusan secara bersyarat atas piutang daerah dari pembukuan dilaksanakan dengan ketentuan :

1. Dalam hal piutang adalah berupa tuntutan ganti rugi, setelah piutang ditetapkan sebagai PSBDT dan tertibnya rekomendasi penghapusan secara bersyarat dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) atau;

2. Dalam hal piutang adalah selain piutang ganti rugi, setelah ditetapkan dengan PSBDT.

j. Penghapusan secara mutlak atas piutang negara/daerah dari pembukuan dilaksanakan dengan ketentuan:

1. Diajukan setelah lewat 2 tahun sejak tanggal penetapan

penghapusan secara bersyarat piutang.

(12)

2. Penanggung utang tetap tidak mempunyai kemampuan untuk menyelesaikan sisa kewajibannya, yang dibuktikan dengan keterangan dari aparat, pejabat berwenang.

4. Persediaan

Persediaan adalah aset lancar dalam bentuk barang atau perlengkapan yang dimaksudkan untuk mendukung kegiatan operasional Pemerintah Kota Batam, dan barang-barang yang dimaksudkan untuk dijual dan/atau diserahkan dalam rangka pelayanan kepada masyarakat.

Persediaan merupakan aset yang berwujud:

a. barang atau perlengkapan (supplies) yang digunakan dalam rangka kegiatan operasional pemerintah;

b. bahan atau perlengkapan (supplies) yang digunakan dalam proses produksi;

c. barang dalam proses produksi yang dimaksudkan untuk dijual atau diserahkan kepada masyarakat;

d. barang yang disimpan untuk dijual atau diserahkan kepada masyarakat dalam rangka kegiatan pemerintah.

Persediaan mencakup barang atau perlengkapan yang dibeli dan disimpan untuk digunakan, misalnya barang habis pakai seperti alat tulis kantor, barang tak habis pakai seperti komponen peralatan dan pipa, dan barang bekas pakai seperti komponen bekas.

Dalam hal Pemerintah Kota Batam memproduksi sendiri, persediaan juga meliputi barang yang digunakan dalam proses produksi seperti bahan baku pembuatan alat-alat pertanian.

Barang hasil proses produksi yang belum selesai dicatat sebagai persediaan, contohnya alat-alat pertanian setengah jadi.

Dalam hal Pemerintah Kota Batam menyimpan barang untuk tujuan cadangan strategis seperti cadangan energi (misalnya minyak) atau untuk tujuan berjaga-jaga seperti cadangan pangan (misalnya beras), barang-barang dimaksud diakui sebagai persediaan.

Hewan dan tanaman untuk dijual atau diserahkan kepada masyarakat antara lain berupa sapi, kuda, ikan, benih padi, dan bibit tanaman.

Persediaan dengan kondisi rusak atau usang tidak dilaporkan dalam neraca, tetapi diungkapkan dalam Catatan atas Laporan Keuangan.

Persediaan bahan baku dan perlengkapan yang dimiliki proyek swakelola dan dibebankan ke suatu perkiraan aset untuk konstruksi dalam pengerjaan, tidak dimasukkan sebagai persediaan.

Persediaan antara lain terdiri dari:

a. Persediaan alat tulis kantor;

b. Persediaan alat listrik;

c. Persediaan Peralatan Kebersihan;

d. Persediaan material/bahan;

e. Persediaan benda pos;

(13)

f. Persediaan bahan bakar;

g. Persediaan bahan makanan pokok; dan h. Persediaan lainnya.

Pengakuan Persediaan

Persediaan diakui pada saat potensi manfaat ekonomi masa depan diperoleh Pemerintah Kota Batam dan mempunyai nilai atau biaya yang dapat diukur dengan andal dan pada saat diterima atau hak kepemilikannya dan/atau kepenguasaannya berpindah.

Pengakuan beban persediaan diakui dengan 2 (dua) metode pendekatan, yaitu metode pendekatan aset dan metode pendekatan beban.

Dalam pendekatan aset, pengakuan beban persediaan diakui ketika persediaan telah dipakai atau dikonsumsi. Pendekatan aset digunakan untuk persediaan-persediaan yang maksud penggunaannya untuk selama satu periode akuntansi atau untuk maksud berjaga-jaga. Contohnya antara lain adalah persediaan obat di rumah sakit, persediaan di sekretariat SKPD.

Dalam pendekatan beban, setiap pembelian persediaan akan langsung dicatat sebagai beban persediaan. Pendekatan beban digunakan untuk persediaan-persediaan yang maksud penggunaannya untuk waktu yang segera/tidak dimaksudkan untuk sepanjang satu periode. Contohnya adalah persediaan untuk suatu kegiatan.

Selisih persediaan

Sering kali terjadi selisih persediaan antara catatan persediaan menurut bendahara barang/pengurus barang atau catatan persediaan menurut fungsi akuntansi dengan hasil stock opname. Selisih persediaan dapat disebabkan karena persediaan hilang, usang, kadaluarsa atau rusak.

Jika selisih persediaan dipertimbangkan sebagai suatu jumlah yang normal, maka selisih persediaan ini diperlakukan sebagai beban.

Jika selisih persediaan dipertimbangkan sebagai suatu jumlah yang abnormal, maka selisih persediaan ini diperlakukan sebagai kerugian daerah.

Sistem Pencatatan Persediaan

Persediaan dicatat dengan metode perpetual/periodik, yaitu sbb:

a. Metode Perpetual

Dalam metode perpetual, fungsi akuntansi selalu mengkinikan nilai persediaan setiap ada persediaan yang masuk maupun yang keluar. Metode ini digunakan untuk jenis persediaan yang berkaitan dengan operasional utama di SKPD dan membukukan pengendalian yang kuat. Contohnya adalah persediaan obat-obatan di RSUD dan lain sebagainya.

Dalam metode perpetual, pengukuran pemakaian persediaan

dihitung berdasarkan catatan jumlah unit yang dipakai

dikalikan dengan nilai perunit sesuai metode penilaian yang

digunakan.

(14)

b. Metode Periodik

Dalam metode periodik, fungsi akuntansi tidak langsung mengkinikan nilai persediaan ketika terjadi pemakaian. Jumlah persediaan akhir diketahui dengan melakukan perhitungan fisik (stock opname) pada akhir periode. Pada akhir periode inilah dibuat jurnal penyesuaian untuk mengkinikan nilai persediaan.

Metode ini dapat digunakan untuk persediaan yang sifatnya sebagai pendukung kegiatan SKPD, contohnya adalah persediaan ATK di sekretariat SKPD. Dalam metode ini, pengukuran pemakaian persediaan dihitung berdasarkan inventarisasi fisik, yaitu dengan cara saldo awal persediaan ditambah pembelian atau perolehan persediaan dikurangi dengan saldo akhir persediaan dikalikan nilai perunit sesuai dengan metode penilaian yang digunakan.

Pada akhir periode akuntansi, persediaan dicatat berdasarkan hasil inventarisasi fisik (stock opname).

Pengukuran Persediaan

Persediaan disajikan sebesar:

1. biaya perolehan apabila diperoleh dengan pembelian;

2. biaya standar apabila diperoleh dengan memproduksi sendiri;

3. nilai wajar apabila diperoleh dengan cara lainnya seperti donasi/rampasan.

Biaya perolehan persediaan meliputi harga pembelian, biaya pengangkutan, biaya penanganan dan biaya lainnya yang secara langsung dapat dibebankan pada perolehan persediaan. Potongan harga, rabat, dan lainnya yang serupa mengurangi biaya perolehan.

Nilai pembelian yang digunakan adalah biaya perolehan persediaan yang terakhir diperoleh.

Barang persediaan yang memiliki nilai nominal yang dimaksudkan untuk dijual, seperti karcis peron, dinilai dengan biaya perolehan terakhir.

Biaya standar persediaan meliputi biaya langsung yang terkait dengan persediaan yang diproduksi dan biaya tidak langsung yang dialokasikan secara sistematis berdasarkan ukuran-ukuran yang digunakan pada saat penyusunan rencana kerja dan anggaran.

Persediaan hewan dan tanaman yang dikembangbiakkan dinilai dengan menggunakan nilai wajar. Harga/nilai wajar persediaan meliputi nilai tukar aset atau penyelesaian kewajiban antarpihak yang memahami dan berkeinginan melakukan transaksi wajar.

Pengungkapan Persediaan

Hal-hal yang perlu diungkapkan dalam laporan keuangan berkaitan dengan Persediaan adalah sebagai berikut :

1. kebijakan akuntansi yang digunakan dalam pengukuran persediaan;

2. penjelasan lebih lanjut persediaan seperti barang atau

perlengkapan yang digunakan dalam pelayanan masyarakat,

barang atau perlengkapan yang digunakan dalam proses

(15)

produksi, barang yang disimpan untuk dijual atau diserahkan kepada masyarakat, dan barang yang masih dalam proses produksi yang dimaksudkan untuk dijual atau diserahkan kepada masyarakat; dan

3. kondisi persediaan.

E. ASET NON LANCAR

1. INVESTASI JANGKA PANJANG

Investasi jangka panjang adalah investasi yang dimaksudkan untuk dimiliki selama lebih dari 12 (dua belas) bulan.

Investasi jangka panjang terdiri dari : 1. Investasi Non Permanen; dan 2. Investasi Permanen.

Pengakuan Investasi Jangka Panjang

Suatu pengeluaran kas atau aset dapat diakui sebagai investasi apabila memenuhi salah satu kriteria :

1. kemungkinan manfaat ekonomik dan manfaat sosial atau jasa potensial di masa yang akan datang atas suatu investasi tersebut dapat diperoleh pemerintah;

2. nilai perolehan atau nilai wajar investasi dapat diukur secara memadai (reliable).

Pengeluaran untuk memperoleh investasi jangka panjang diakui sebagai pengeluaran pembiayaan.

Pengukuran Investasi Jangka Panjang

Untuk beberapa jenis investasi, terdapat pasar aktif yang dapat membentuk nilai pasar, dalam hal investasi yang demikian nilai pasar dipergunakan sebagai dasar penerapan nilai wajar.

Sedangkan untuk investasi yang tidak memiliki pasar yang aktif dapat dipergunakan nilai nominal, nilai tercatat atau nilai wajar lainnya.

Apabila investasi jangka panjang diperoleh dari pertukaran aset Pemerintah Kota Batam, maka nilai investasi yang diperoleh Pemerintah Kota Batam adalah sebesar biaya perolehan, atau nilai wajar jika harga perolehan investasi tersebut tidak ada.

Penilaian Investasi Jangka Panjang

Penilaian investasi Pemerintah Kota Batam dilakukan dengan tiga metode, yaitu:

a. Metode Biaya

Dengan menggunakan metode biaya, investasi dicatat sebesar

biaya perolehan. Penghasilan atas investasi tersebut diakui

sebesar bagian hasil yang diterima dan tidak mempengaruhi

besarnya investasi pada badan usaha/badan hukum yang

terkait.

(16)

b. Metode Ekuitas

Dengan menggunakan metode ekuitas Pemerintah Kota Batam mencatat investasi awal sebesar biaya perolehan dan ditambah atau dikurangi sebesar bagian laba atau rugi Pemerintah Kota Batam setelah tanggal perolehan. Bagian laba kecuali dividen dalam bentuk saham yang diterima Pemerintah Kota Batam akan mengurangi nilai investasi Pemerintah Kota Batam dan tidak dilaporkan sebagai pendapatan. Penyesuaian terhadap nilai investasi juga diperlukan untuk mengubah porsi kepemilikan investasi pemerintah daerah, misalnya adanya perubahan yang timbul akibat pengaruh valuta asing serta revaluasi aset tetap.

c. Metode Nilai Bersih yang dapat Direalisasikan

Metode nilai bersih yang dapat direalisasikan digunakan terutama untuk kepemilikan yang akan dilepas/dijual dalam jangka waktu dekat.

Penggunaan metode di atas didasarkan pada kriteria sebagai berikut:

1. kepemilikan kurang dari 20% menggunakan metode biaya;

2. kepemilikan 20% sampai 50%, atau kepemilikan kurang dari 20% tetapi memiliki pengaruh yang signifikan menggunakan metode ekuitas;

3. kepemilikan lebih dari 50% menggunakan metode ekuitas;

4. kepemilikan bersifat nonpermanen menggunakan metode nilai bersih yang direalisasikan.

Investasi Pemerintah Kabupaten yang kepemilikannya di bawah 20% (dua puluh persen) atau tidak mempunyai kewenangan untuk mengangkat/memberhentikan direksi atau tidak dapat mengendalikan jalannya perusahaan dicatat dengan harga perolehan.

Investasi pada pemerintah daerah yang kepemilikannya lebih besar atau sama dengan 20% (dua puluh persen), mempunyai kewenangan untuk mengangkat/memberhentikan direksi, atau dapat mengendalikan jalannya perusahaan dicatat dengan menggunakan metode ekuitas. Pemerintah Daerah mengakui adanya kenaikan/penurunan nilai investasi sehubungan dengan adanya laba/rugi perusahaan secara proporsional sesuai dengan prosentase kepemilikan sahamnya. Penerimaan dividen saham dicatat sebagai pendapatan.

Dengan menggunakan metode ekuitas pemerintah mencatat

investasi awal sebesar biaya perolehan dan ditambah atau

dikurangi sebesar bagian laba atau rugi pemerintah setelah tanggal

perolehan. Bagian laba kecuali dividen dalam bentuk saham yang

diterima akan mengurangi nilai investasi pemerintah. Penyesuaian

terhadap nilai investasi juga diperlukan untuk mengubah porsi

kepemilikan investasi pemerintah, misalnya adanya perubahan

yang timbul akibat pengaruh valuta asing serta revaluasi aset tetap.

(17)

Pelepasan dan Pemindahan Investasi Jangka Panjang

Pelepasan investasi Pemerintah Kota Batam dapat terjadi karena penjualan, dan pelepasan hak karena Peraturan Pemerintah dan lain sebagainya. Penerimaan dari pelepasan investasi jangka panjang diakui sebagai penerimaan pembiayaan. Pelepasan sebagian dari investasi tertentu yang dimiliki Pemerintah Kota Batam dinilai dengan menggunakan nilai rata-rata. Nilai rata-rata diperoleh dengan cara membagi total nilai investasi terhadap jumlah saham yang dimiliki oleh Pemerintah Kota Batam. Pemindahan pos investasi dapat berupa reklasifikasi investasi permanen menjadi investasi jangka pendek, aset tetap, aset lain-lain dan sebaliknya.

A. Investasi Non Permanen

Investasi Non Permanen adalah investasi jangka panjang yang dimaksudkan untuk dimiliki secara tidak berkelanjutan.

Investasi non permanen terdiri dari:

1. Pembelian Surat Utang Negara;

2. Penanaman modal dalam proyek pembangunan yang dapat dialihkan kepada fihak ketiga;

3. Dana yang disisihkan pemerintah dalam rangka pelayanan masyarakat seperti bantuan modal kerja secara bergulir kepada kelompok masyarakat dan/atau Usaha Kecil Menengah.

4. Investasi non permanen lainnya, yang sifatnya tidak dimaksudkan untuk dimiliki pemerintah kota secara berkelanjutan, seperti penyertaan modal yang dimaksudkan untuk penyehatan/penyelamatan perekonomian.

Pengukuran Investasi Non Permanen

Investasi non permanen misalnya dalam bentuk pembelian obligasi jangka panjang dan investasi yang dimaksudkan tidak untuk dimiliki berkelanjutan, dinilai sebesar nilai perolehannya.

Sedangkan investasi dalam bentuk dana talangan untuk penyehatan perbankan yang akan segera dicairkan dinilai sebesar nilai bersih yang dapat direalisasikan.

Investasi non permanen dalam bentuk penanaman modal di proyek-proyek pembangunan pemerintah (seperti Proyek PIR) dinilai sebesar biaya pembangunan termasuk biaya yang dikeluarkan dalam rangka penyelesaian proyek sampai proyek tersebut diserahkan ke pihak ketiga. Investasi non permanen dalam bentuk dana bergulir dinilai sebesar penggolongan kualitas dana bergulir.

Penentuan kualitas dana bergulir diklasifikasikan atas:

a. Kualitas lancar;

b. Kualitas kurang lancar;

c. Kualitas diragukan;

d. Kualitas macet.

(18)

Penyajian piutang dana bergulir disajikan secara net realizable value (NRV) atau nilai bersih yang dapat direalisasikan.

Penggolongan Kriteria kualitas dana bergulir terdiri atas:

1. Dana bergulir dengan kelola sendiri:

a. Kualitas lancar dapat ditentukan dengan kriteria:

1) Umur dana bergulir sampai dengan 1 tahun; dan/atau 2) Masih dalam tenggang waktu jatuh tempo; dan/atau 3) Penerima dana menyetujui hasil pemeriksaan;

dan/atau

4) Penerima dana kooperatif.

b. Kualitas kurang lancar, dapat ditentukan dengan kriteria:

1) Umur dana bergulir lebih dari 1 tahun sampai dengan 3 tahun; dan/atau

2) Penerima dana dalam jangka waktu 1 bulan terhitung sejak tanggal Surat Tagihan Pertama belum melakukan pelunasan; dan/atau

3) Penerima dana kurang kooperatif dalam pemeriksaan;dan/atau

4) Penerima dana menyetujui sebagian hasil pemeriksaan.

c. Kualitas diragukan, dapat ditentukan dengan kriteria:

1) Umur dana bergulir lebih dari 3 sampai dengan 5 tahun; dan/atau

2) Penerima dana dalam jangka waktu 1 bulan terhitung sejak tanggal Surat Tagihan Kedua belum melakukan pelunasan; dan/atau

3) Penerima dana tidak kooperatif dalam pemeriksaan;

dan/atau

4) Penerima dana tidak menyetujui seluruh hasil pemeriksaan.

d. Kualitas macet, dapat ditentukan dengan kriteria:

1) Umur dana bergulir lebih dari 5 tahun dan/atau

2) Penerima dana dalam jangka waktu 1 bulan terhitung sejak tanggal Surat Tagihan Ketiga belum melakukan pelunasan; dan/atau

3) Penerima dana tidak diketahui keberadaannya;

dan/atau

4) Penerima dana mengalamai kesulitan bangkrut dan/atau meninggal dunia; dan/atau

5) Penerima dana mengalami musibah (force majeure).

2. Dana bergulir dengan executing agency;

a. Kualitas lancar, dapat ditentukan dengan kriteria:

(19)

1) Lembaga keuangan bank (LKB), lembaga keuangan bukan bank (LKBB), koperasi, modal ventura dan lembaga keuangan lainnya menyetorkan pengembalian dana bergulir sesuai dengan perjanjian dengan pemerintah daerah; dan/atau

2) Masih dalam tenggang waktu jatuh tempo.

b. Kualitas macet, dapat ditentukan dengan kriteria:

1) LKB, LKBB, koperasi, modal ventura dan Lembaga Keuangan lainnya dalam jangka waktu tertentu sesuai dengan perjanjian tidak melakukan pelunasan;

dan/atau

2) LKB, LKBB, koperasi, modal ventura dan Lembaga Keuangan lainnya tidak diketahui keberadaannya;

dan/atau

3) LKB, LKBB, koperasi, modal ventura dan lembaga lainnya bangkrut; dan/atau

4) LKB, LKBB, koperasi, modal ventura dan lembaga lainnya mengalami musibah (force majeure).

3. Dana bergulir dengan chanelling agency;

a. Kualitas lancar, dapat ditentukan dengan kriteria:

1) Umur dana bergulir sampai dengan 1 tahun; dan/atau 2) Masih dalam tenggang waktu jatuh tempo.

b) Kualitas kurang lancar, dapat ditentukan dengan kriteria:

1) Umur dana bergulir lebih dari 1 tahun sampai dengan 3 tahun; dan/atau

2) Apabila penerima dana bergulir dalam jangka waktu 1 (satu) bulan terhitung sejak tanggal Surat Tagihan Pertama belum melakukan pelunasan.

c. Kualitas diragukan, dapat ditentukan dengan kriteria:

1) Umur dana bergulir lebih dari 3 tahun sampai dengan 5 tahun; dan/atau

2) Apabila penerima dana bergulir dalam jangka waktu 1 (satu) bulan terhitung sejak tanggal Surat Tagihan Kedua belum melakukan pelunasan.

d. Kualitas macet, dapat ditentukan dengan kriteria:

1) Umur dana bergulir lebih dari 5 tahun; dan/atau 2) Apabila penerima dana bergulir dalam jangka waktu

1(satu) bulan terhitung sejak tanggal Surat Tagihan Ketiga belum melakukan pelunasan; dan/atau

3) Penerima dana bergulir tidak diketahui keberadaannya; dan/atau

4) Penerima dana bergulir bangkrut/meninggal dunia;

dan/atau

5) Penerima dana bergulir mengalami musibah (force

majeure).

(20)

Penentuan Besaran Penyisihan dana bergulir

Penentuan besaran penyisihan dana bergulir diklasifikasikan atas:

a. Kualitas lancar, sebesar 0,5% (nol koma lima persen) dari saldo dana bergulir dengan kualitas lancar;

b. Kualitas kurang lancar, sebesar 10% (sepuluh persen) dari saldo dana bergulir dengan kualitas kurang lancar;

c. Kualitas diragukan, sebesar 50% (lima puluh persen) dari saldo dana bergulir dengan kualitas diragukan setelah dikurangi dengan nilai agunan atau nilai barang sitaan (jika ada); dan

d. Kualitas macet, sebesar 100% (seratus persen) dari saldo dana bergulir dengan kualitas macet setelah dikurangi dengan nilai agunan atau nilai barang sitaan (jika ada).

Penghapusan Piutang Dana Bergulir

Penghapusan piutang dana bergulir antara lain:

a. Piutang dana bergulir dengan kualitas macet dapat dihapusbukukan dari neraca dan dipindah buku inventaris ekstrakomtable sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku dan tidak menghilangkan hak tagih Pemerintah Kota Batam;

b. Piutang dana bergulir dapat dihapustagihkan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan. Dilakukan penutupan buku inventaris ekstrakomtable dan tidak dilakukan perjurnalan, dilakukan pengungkapan dalam Catatan atas laporan keuangan secara memadai.

Investasi non permanen dalam bentuk dana bergulir dinilai sebesar penggolongan kualitas dana bergulir.

Penentuan kualitas dana bergulir diklasifikasikan atas:

a. Kualitas lancar;

b. Kualitas kurang lancar;

c. Kualitas diragukan;

d. Kualitas macet.

Penyajian piutang dana bergulir disajikan secara net realizable value (NRV) atau nilai bersih yang dapat direalisasikan.

Penggolongan Kriteria kualitas dana bergulir terdiri atas:

1. Dana bergulir dengan kelola sendiri:

a. Kualitas lancar dapat ditentukan dengan kriteria:

1) Umur dana bergulir sampai dengan 1 tahun;

dan/atau

2) Masih dalam tenggang waktu jatuh tempo; dan/atau 3) Penerima dana menyetujui hasil pemeriksaan;

dan/atau

(21)

4) Penerima dana kooperatif.

b. Kualitas kurang lancar, dapat ditentukan dengan kriteria:

1) Umur dana bergulir lebih dari 1 tahun sampai dengan 3 tahun; dan/atau

2) Penerima dana dalam jangka waktu 1 bulan terhitung

a. sejak tanggal Surat Tagihan Pertama belum melakukan

b. pelunasan; dan/atau

3) Penerima dana kurang kooperatif dalam pemeriksaan; dan/atau

4) Penerima dana menyetujui sebagian hasil pemeriksaan.

c. Kualitas diragukan, dapat ditentukan dengan kriteria:

1) Umur dana bergulir lebih dari 3 sampai dengan 5 tahun;

2) Penerima dana dalam jangka waktu 1 bulan terhitung sejak tanggal Surat Tagihan Kedua belum melakukan pelunasan; dan/atau

3) Penerima dana tidak kooperatif dalam pemeriksaan;

dan/atau

4) Penerima dana tidak menyetujui seluruh hasil pemeriksaan.

d. Kualitas macet, dapat ditentukan dengan kriteria:

1) Umur dana bergulir lebih dari 5 tahun dan/atau

2) Penerima dana dalam jangka waktu 1 bulan terhitungsejak tanggal Surat Tagihan Ketiga belum melakukanpelunasan; dan/atau

3) Penerima dana tidak diketahui keberadaannya;

dan/atau

4) Penerima dana mengalamai kesulitan bangkrut dan/atau meninggal dunia; dan/atau

5) Penerima dana mengalami musibah (force majeure).

2. Dana bergulir dengan executing agency;

a. Kualitas lancar, dapat ditentukan dengan kriteria:

1) Lembaga keuangan bank (LKB), lembaga keuangan bukan bank (LKBB), koperasi, modal ventura dan lembaga keuangan lainnya menyetorkan pengembalian dana bergulir sesuai dengan perjanjian dengan pemerintah daerah; dan/atau

2) Masih dalam tenggang waktu jatuh tempo.

b. Kualitas macet, dapat ditentukan dengan kriteria:

1) LKB, LKBB, koperasi, modal ventura dan Lembaga Keuangan lainnya dalam jangka waktu tertentu sesuai dengan perjanjian tidak melakukan pelunasan;

dan/atau

2) LKB, LKBB, koperasi, modal ventura dan Lembaga Keuangan lainnya tidak diketahui keberadaannya;

dan/atau

3) LKB, LKBB, koperasi, modal ventura dan lembaga

lainnya bangkrut; dan/atau

(22)

4) LKB, LKBB, koperasi, modal ventura dan lembaga lainnya mengalami musibah (force majeure).

c. Dana bergulir dengan chanelling agency;

1. Kualitas lancar, dapat ditentukan dengan kriteria:

a) Umur dana bergulir sampai dengan 1 tahun;

dan/atau

b) Masih dalam tenggang waktu jatuh tempo.

2. Kualitas kurang lancar, dapat ditentukan dengan kriteria:

a) Umur dana bergulir lebih dari 1 tahun sampai dengan 3 tahun; dan/atau

b) Apabila penerima dana bergulir dalam jangka waktu 1 (satu) bulan terhitung sejak tanggal Surat Tagihan Pertama belum melakukan pelunasan.

3. Kualitas diragukan, dapat ditentukan dengan kriteria:

a) Umur dana bergulir lebih dari 3 tahun sampai dengan 5 tahun; dan/atau

b) Apabila penerima dana bergulir dalam jangka waktu 1 (satu) bulan terhitung sejak tanggal Surat Tagihan Kedua belum melakukan pelunasan.

4. Kualitas macet, dapat ditentukan dengan kriteria:

a) Umur dana bergulir lebih dari 5 tahun; dan/atau b) Apabila penerima dana bergulir dalam jangka

waktu 1(satu) bulan terhitung sejak tanggal Surat Tagihan Ketiga belum melakukan pelunasan;

dan/atau

c) Penerima dana bergulir tidak diketahui keberadaannya; dan/atau

d) Penerima dana bergulir bangkrut/meninggal dunia; dan/atau

e) Penerima dana bergulir mengalami musibah (force majeure).

Penentuan Besaran Penyisihan dana bergulir

Penentuan besaran penyisihan dana bergulir diklasifikasikan atas:

a. Kualitas lancar, sebesar 0,5% (nol koma lima persen) dari saldo dana bergulir dengan kualitas lancar;

b. Kualitas kurang lancar, sebesar 10% (sepuluh persen) dari saldo dana bergulir dengan kualitas kurang lancar;

c. Kualitas diragukan, sebesar 50% (lima puluh persen) dari saldo dana bergulir dengan kualitas diragukan setelah dikurangi dengan nilai agunan atau nilai barang sitaan (jika ada); dan

d. Kualitas macet, sebesar 100% (seratus persen) dari saldo

dana bergulir dengan kualitas macet setelah dikurangi

dengan nilai agunan atau nilai barang sitaan (jika ada).

(23)

Penghapusan Piutang Dana Bergulir

Penghapusan piutang dana bergulir antara lain:

a. Piutang dana bergulir dengan kualitas macet dapat dihapusbukukan dari neraca dan dipindah buku inventaris ekstrakomtable sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku dan tidak menghilangkan hak tagih Pemerintah Kota Batam;

b. Piutang dana bergulir dapat dihapustagihkan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan. Dilakukan penutupan buku inventaris ekstrakomtable dan tidak dilakukan perjurnalan, dilakukan pengungkapan dalam Catatan atas laporan keuangan secara memadai.

B. Investasi Permanen

Investasi Permanen adalah investasi jangka panjang yang dimaksudkan untuk dimiliki secara berkelanjutan.

Investasi permanen terdiri dari:

a. Penyertaan Modal Pemerintah Kota Batam pada perusahaan Negara/perusahaan daerah, lembaga keuangan Negara, badan hukum milik Negara, badan internasional dan badan hukum lainnya bukan milik Negara;

b. Investasi permanen lainnya.

Pengukuran Investasi Permanen

Investasi jangka panjang yang bersifat permanen misalnya penyertaan modal Pemerintah Kota Batam, dicatat sebesar biaya perolehannya meliputi harga transaksi investasi itu sendiri ditambah biaya lain yang timbul dalam rangka perolehan investasi tersebut.

Pengakuan hasil Investasi

Hasil investasi berupa dividen tunai yang diperoleh dari penyertaan modal Pemerintah Kota Batam yang pencatatannya menggunakan metode biaya, dicatat sebagai pendapatan hasil investasi.

Sedangkan apabila menggunakan metode ekuitas, bagian laba yang diperoleh oleh Pemerintah Kota Batam akan dicatat mengurangi nilai investasi Pemerintah Kota Batam dan tidak dicatat sebagai pendapatan hasil investasi. Kecuali untuk dividen dalam bentuk saham yang diterima akan menambah nilai investasi Pemerintah Kota Batam dan ekuitas dana yang diinvestasikan dengan jumlah yang sama.

Pengungkapan Investasi

Hal-hal lain yang harus diungkapkan dalam laporan keuangan Pemerintah Kota Batam berkaitan dengan investasi Pemerintah Kota Batam, antara lain:

a. Jenis-jenis investasi, investasi permanen dan nonpermanen;

b. Perubahan harga pasar baik investasi jangka pendek maupun

investasi jangka panjang;

(24)

c. Penurunan nilai investasi yang signifikan dan penyebab penurunan tersebut;

d. Investasi yang dinilai dengan nilai wajar dan alasan penerapannya; dan

e. Perubahan pos investasi.

F. ASET TETAP

Aset Tetap adalah Aset berwujud yang mempunyai masa manfaat lebih dari 12 (dua belas) bulan untuk digunakan, atau dimaksudkan untuk digunakan, dalam kegiatan pemerintah daerah atau dimanfaatkan oleh masyarakat umum.

Aset Tetap terdiri dari:

1. Tanah;

2. Peralatan dan Mesin;

3. Gedung dan Bangunan;

4. Jalan, Irigasi dan Jaringan;

5. Aset Tetap Lainnya;

6. Konstruksi Dalam Pengerjaan;

7. Akumulasi Penyusutan.

Pengakuan Aset Tetap Untuk dapat diakui sebagai aset tetap, suatu aset harus berwujud dan memenuhi kriteria:

1. mempunyai masa manfaat lebih dari 12 (dua belas) bulan;

2. biaya perolehan aset dapat diukur secara andal;

3. tidak dimaksudkan untuk dijual dalam operasi normal entitas;

4. diperoleh atau dibangun dengan maksud untuk digunakan; dan 5. aset tersebut membutuhkan belanja pemeliharaan.

Tujuan utama dari perolehan aset tetap adalah untuk digunakan oleh Pemerintah Kota Batam dalam mendukung kegiatan operasionalnya dan bukan dimaksudkan untuk dijual. Pengakuan aset tetap akan sangat andal bila aset tetap telah diterima atau diserahkan hak kepemilikannya dan/atau pada saat penguasaannya berpindah.

Saat pengakuan aset akan lebih dapat diandalkan apabila terdapat bukti bahwa telah terjadi perpindahan hak kepemilikan dan/atau penguasaan secara hukum, misalnya sertifikat tanah dan bukti kepemilikan kendaraan bermotor. Apabila perolehan aset tetap belum didukung dengan bukti secara hukum dikarenakan masih adanya suatu proses administrasi yang diharuskan, seperti pembelian tanah yang masih harus diselesaikan proses jual beli (akta) dan sertifikat kepemilikannya di instansi berwenang, maka aset tetap tersebut harus diakui pada saat terdapat bukti bahwa penguasaan atas aset tetap tersebut telah berpindah, misalnya telah terjadi pembayaran dan penguasaan atas sertifikat tanah atas nama pemilik sebelumnya.

Untuk aset tetap yang telah dikuasai dan dimanfaatkan dalam

waktu lama, namun belum ada bukti kepemilikannya, maka dengan

menggunakan prinsip substansi mengungguli formalitas aset tetap

tersebut dicatat dalam neraca dan dijelaskan dalam catatan atas

(25)

laporan keuangan. Terhadap asset tetap tersebut harus segera diproses bukti kepemilikannya.

Aset tetap dalam sengketa atau sedang menunggu proses pengadilan, harus dijelaskan dalam catatan atas laporan keuangan.

Pengukuran Aset Tetap

Aset tetap dinilai dengan biaya perolehan. Apabila penilaian aset tetap dengan menggunakan biaya perolehan tidak memungkinkan maka nilai aset tetap didasarkan pada nilai wajar pada saat perolehan.

Biaya perolehan adalah jumlah kas atau setara kas yang dibayarkan atau nilai wajar imbalan lain yang diberikan untuk memperoleh suatu aset pada saat perolehan atau konstruksi sampai dengan aset tersebut dalam kondisi dan tempat yang siap untuk dipergunakan.

Biaya perolehan suatu aset tetap terdiri dari harga belinya atau konstruksinya, termasuk bea impor dan setiap biaya yang dapat diatribusikan secara langsung dalam membawa aset tersebut ke kondisi yang membuat aset tersebut dapat bekerja untuk penggunaan yang dimaksudkan.

Contoh biaya yang dapat diatribusikan secara langsung adalah:

1. biaya persiapan tempat;

2. biaya pengiriman awal (initial delivery) dan biaya simpan dan bongkar muat (handling cost);

3. biaya pemasangan (installation cost);

4. biaya profesional seperti arsitek dan insinyur;

5. biaya konstruksi; dan 6. biaya kepanitiaan.

Penilaian Awal Aset Tetap

Barang berwujud yang memenuhi kualifikasi untuk diakui sebagai suatu aset dan dikelompokkan sebagai aset tetap, pada awalnya harus diukur berdasarkan biaya perolehan. Bila aset tetap diperoleh dengan tanpa nilai, biaya aset tersebut adalah sebesar nilai wajar pada saat aset tersebut diperoleh.

Suatu aset tetap mungkin diterima Pemerintah Kota Batam sebagai hadiah atau donasi. Sebagai contoh, tanah mungkin dihadiahkan ke Pemerintah Kota Batam oleh pengembang (developer) dengan tanpa nilai yang memungkinkan Pemerintah Kota Batam untuk membangun tempat parkir, jalan, ataupun untuk tempat pejalan kaki. Suatu aset juga mungkin diperoleh tanpa nilai melalui pengimplementasian wewenang yang dimiliki pemerintah. Sebagai contoh, dikarenakan wewenang dan peraturan yang ada, Pemerintah Kota Batam melakukan penyitaan atas sebidang tanah dan bangunan yang kemudian akan digunakan sebagai tempat operasi pemerintahan.

Untuk kedua hal di atas aset tetap yang diperoleh harus dinilai berdasarkan nilai wajar pada saat diperoleh.

Perolehan Secara Gabungan

Biaya perolehan dari masing-masing aset tetap yang diperoleh

secara gabungan ditentukan dengan mengalokasikan harga gabungan

tersebut berdasarkan perbandingan nilai wajar masing-masing aset

yang bersangkutan.

(26)

Biaya perolehan dari masing-masing aset tetap yang diperoleh secara gabungan (penganggarannya dalam satu dokumen pelaksanaan anggaran kegiatan/rincian kegiatan) tidak akan dipisahkan harga perolehannya ke masing-masing aset tetap jika harga perolehan salah satu aset tetap tertentu yang diperoleh secara gabungan nilainya mencapai 80% (delapan puluh persen) dari keseluruhan nilai aset tetap yang diperoleh secara gabungan dan pengakuan aset tetap tersebut akan diperlakukan sebagai aset tetap yang nilainya mencapai 80% dari keseluruhan nilai perolehan gabungan.

Pertukaran Aset (Exchange of Assets)

Suatu aset tetap dapat diperoleh melalui pertukaran atau pertukaran sebagian aset tetap yang tidak serupa atau aset lainnya.

Biaya dari pos semacam itu diukur berdasarkan nilai wajar aset yang diperoleh, yaitu nilai ekuivalen atas nilai tercatat aset yang dilepas setelah disesuaikan dengan jumlah setiap kas atau setara kas yang ditransfer/diserahkan.

Suatu aset tetap dapat diperoleh melalui pertukaran atas suatu aset yang serupa yang memiliki manfaat yang serupa dan memiliki nilai wajar yang serupa. Suatu aset tetap juga dapat dilepas dalam pertukaran dengan kepemilikan aset yang serupa. Dalam keadaan tersebut tidak ada keuntungan dan kerugian yang diakui dalam transaksi ini. Biaya aset yang baru diperoleh dicatat sebesar nilai tercatat (carrying amount) atas aset yang dilepas.

Nilai wajar atas aset yang diterima tersebut dapat memberikan bukti adanya suatu pengurangan (impairment) nilai atas aset yang dilepas.

Dalam kondisi seperti ini, aset yang dilepas harus diturun-nilai- bukukan (written down) dan nilai setelah diturun-nilai-bukukan (written down) tersebut merupakan nilai aset yang diterima. Contoh dari pertukaran atas aset yang serupa termasuk pertukaran bangunan, mesin, peralatan khusus, dan kapal terbang. Apabila terdapat aset lainnya dalam pertukaran, misalnya kas, maka hal ini mengindikasikan bahwa pos yang dipertukarkan tidak mempunyai nilai yang sama.

Aset Donasi

Aset tetap yang diperoleh dari sumbangan (donasi) harus dicatat sebesar nilai wajar pada saat perolehan.

Sumbangan aset tetap didefinisikan sebagai transfer tanpa persyaratan suatu aset tetap ke suatu entitas, misalnya perusahaan nonpemerintah memberikan bangunan yang dimilikinya untuk digunakan oleh satu unit Pemerintah Kota Batam tanpa persyaratan apapun. Penyerahan aset tetap tersebut akan sangat andal bila didukung dengan bukti perpindahan kepemilikannya secara hukum, seperti adanya akta hibah.

Tidak termasuk aset donasi, apabila penyerahan aset tetap tersebut dihubungkan dengan kewajiban entitas lain kepada Pemerintah Kota Batam. Sebagai contoh, satu perusahaan swasta membangun aset tetap untuk Pemerintah Kota Batam dengan persyaratan kewajibannya kepada Pemerintah Kota Batam telah dianggap selesai.

Perolehan aset tetap tersebut harus diperlakukan seperti perolehan

aset tetap dengan pertukaran.

(27)

Apabila perolehan aset tetap memenuhi kriteria perolehan aset donasi, maka perolehan tersebut dapat diakui sebagai pendapatan Pemerintah Kota Batam dan jumlah yang sama juga diakui sebagai belanja modal dalam laporan realisasi anggaran; atau disajikan di Neraca sesuai dengan aset donasi yang diterima dengan penjelasan pada Catatan atas Laporan Keuangan.

Pengeluaran Setelah Perolehan (Subsequent Expenditures)

Pengeluaran setelah perolehan awal suatu aset tetap yang memperpanjang masa manfaat atau yang kemungkinan besar memberi manfaat ekonomik di masa yang akan datang dalam bentuk kapasitas, mutu produksi, atau peningkatan standar kinerja, harus ditambahkan pada nilai tercatat aset yang bersangkutan.

Biaya pemeliharaan (maintenance), penambahan (additions), penggantian (replacements) dan perbaikan (repairs).

1. Pengeluaran-pengeluaran untuk pemeliharaan, penambahan, penggantian,perbaikan aet tetap yang bersifat rutin dan perbaikan aset tetap untuk mengembalikan ke kondisi semula dan perbaikan aset tetap untuk mengembalikan ke kondisi semula tidak dapat dikapitalisasikan ke nilai buku aset tetap dan merupakan belanja saja, berapapun besaran nilainya.

2. Kriteria belanja pemeliharaan, penambahan, penggantian dan perbaikan agar dapat dikapitalisasi menjadi aset tetap adalah:

a. pengeluaran-pengeluaran tersebut tidak bersifat rutin dan dapat menambah efisiensi, menambah luas atau volume, memperkuat bangunan, memperpanjang umur aset dan meningkatkan kapasitas atau mutu produksi; dan

b. Memenuhi batas nilai minimal kapitalisasi asset tetap (minimum capitalization threshold).

3. Walikota dapat menunjuk tim ahli/tim teknis di lingkungan Pemerintah Kota Batam yang dipandang mampu untuk menetapkan bahwa pengeluaran-pengeluaran di atas dapat menambah efisiensi, memperpanjang umur aset, meningkatkan kapasitas atau mutu produksi dengan didukung oleh hasil pengujian/dan dasar pengetahuan teorinya.

4. Pengeluaran-pengeluaran yang tidak memenuhi criteria di atas berdasarkan pertimbangan tim ahli, harus dicatat sebagai belanja biasa/barang jasa.

Penambahan masa manfaat aset tetap karena adanya perbaikan

terhadap aset tetap baik berupa overhaul dan renovasi disajikan

pada tabel berikut.

(28)

URAIAN JENIS

Persentase Renovasi/

Restorasi/

overhaul dari Nilai Perolehan

(Diluar Penyusutan)

Penambahan Masa Manfaat

(Tahun)

Alat Besar

Alat Besar Darat Overhaul >0% s.d.30% 1

>30%s.d45% 3

>45%s.d65% 5 Alat Besar Apung Overhaul >0% s.d.30% 1

>30%s.d45% 2

>45%s.d65% 4 Alat Bantu Overhaul >0% s.d.30% 1

>30%s.d45% 2

>45%s.d65% 4 Alat Angkutan

Alat Angkutan Darat

Bermotor Overhaul >0% s.d.25% 1

>25%s.d50% 2

>50%s.d75% 3

>75%s.d.100% 4 Alat Angkutan Darat

Tak Bermotor Overhaul >0% s.d.25% 0

>25%s.d50% 1

>50%s.d75% 1

>75%s.d.100% 1 Alat Angkutan Apung

Bermotor Overhaul >0% s.d.25% 2

>25%s.d50% 3

>50%s.d75% 4

>75%s.d.100% 6 Alat Angkutan Apung

Tak Bermotor Renovasi >0% s.d.25% 1

>25%s.d50% 1

>50%s.d75% 1

>75%s.d.100% 2 Alat Angkutan

Bermotor Udara Overhaul >0% s.d.25% 3

>25%s.d50% 6

>50%s.d75% 9

>75%s.d.100% 12 Alat Bengkel dan

Alat Ukur Alat Bengkel

Bermesin Overhaul >0% s.d.25% 1

>25%s.d50% 2

>50%s.d75% 3

>75%s.d.100% 4

(29)

URAIAN JENIS

Persentase Renovasi/

Restorasi/

overhaul dari Nilai Perolehan

(Diluar Penyusutan)

Penambahan Masa Manfaat

(Tahun)

Alat Bengkel Tak

Bermesin Renovasi >0% s.d.25% 0

>25%s.d50% 0

>50%s.d75% 1

>75%s.d.100% 1

Alat Ukur Overhaul >0% s.d.25% 1

>25%s.d50% 2

>50%s.d75% 2

>75%s.d.100% 3 Alat Pertanian

Alat Pengolahan Overhaul >0% s.d.20% 1

>21% s.d40% 2

>51%s.d75% 5 Alat Kantor dan

Rumah Tangga >0% s.d.25% 0

Alat Kantor Overhaul >25%s.d50% 1

>50%s.d75% 2

>75%s.d.100% 3 Alat Rumah Tangga Overhaul >0% s.d.25% 0

>25%s.d50% 1

>50%s.d75% 2

>75%s.d.100% 3 Alat Studio,

Komunikasi dan

Pemancar Overhaul >0% s.d.25% 1

Alat Studio >25%s.d50% 1

>50%s.d75% 2

>75%s.d.100% 3 Alat Komunikasi Overhaul >0% s.d.25% 1

>25%s.d50% 1

>50%s.d75% 2

>75%s.d.100% 3 Peralatan Pemancar Overhaul >0% s.d.25% 2

>25%s.d50% 3

>50%s.d75% 4

>75%s.d.100% 5 Peralatan

Komunikasi Navigasi Overhaul >0% s.d.25% 2

>25%s.d50% 5

>50%s.d75% 7

>75%s.d.100% 9

Gambar

TABEL DAFTAR TARIF AMORTISASI

Referensi

Dokumen terkait

Dalam keadaan semacam itu, perolehan aset tetap semacam itu memenuhi kualifikasi untuk diakui sebagai aset karena aset tersebut aset tetap semacam itu memenuhi kualifikasi

21.Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 32 Tahun 2011 tentang Pedoman Pemberian Hibah dan Bantuan Sosial Yang Bersumber Dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah sebagaimana

Suatu aset tetap yang memenuhi kualifikasi p y g untuk diakui sebagai aset tetap pada awalnya harus diukur sebesar biaya perolehan.. Pengukuran Awal.. • Biaya perolehan aset

Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 63 ayat (2) Peraturan Daerah Kota Batam Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pajak Daerah, maka perlu menetapkan Peraturan

Beberapa ketentuan dalam Peraturan Daerah Kota Batam Nomor 8 Tahun 2013 tentang Retribusi Jasa Umum, Retribusi Jasa Usaha dan Retribusi Perizinan Tertentu (Lembaran

Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 77 Tahun 2014 tentang Pedoman Tata Cara Penghitungan, Penganggaran Dalam Anggaran Pendapatan Belanja Daerah dan Tertib

Aset tetap menggambarkan jumlah dan nilai perolehan aset tetap yang dimiliki/dikuasai oleh Pemerintah Daerah Kota Semarang per 31 Desember 2011 dan 2010. Perolehan aset tetap

1 ACTIVITY ON MALAY SQUARE’S OPEN SPACE AS A NODE OF TANJUNGPINANG CITY Septy Karmawan Dosen Tetap Prodi Teknik Arsitektur UNRIKA Batam CHAPTER I INTRODUCTION 1.1.Background